Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

Daun telinga merupakan organ yang letaknya yang berada dipermukaan, dan hanya terdiri dari kulit dan tulang rawan, tanpa ada lapisan subkutaneus yang melindungi tulang rawan di bawahnya 1,2,3 . Hal ini menyebabkan daun telinga sangat rentan terhadap traunia. Trauma yang terjadi dapat meluas menjadi infeksi tulang rawan pada telinga (kondritis). 2,3 Trauma yang sering terjadi pada daun telinga yaitu luka bakar, dan tindik telinga dengan higienitas yang kurang, Sebuah retrospektif studi yang dilakukan pada Royal Rehabilitation Center at King Hussein Medical Center, selama Januari 2000 hingga Desember 2005 menyebutkan bahwa luka bakar yang sering menyebabkan kondritis adalah luka bakar api sebesar 71%, luka bakar akibat air panas sebesar 25,8% dan luka bakar listrik sebesar 3.2%. Selain itu, pada tahun 2003 dilaporkan terjadi ledakan kasus kondritis telinga akibat tindik telinga di Pakistan. 4,6,7 Selain hal diatas, kondritis juga dapat terjadi akibat trauma pada saat pertandingan gulat atau tinju, tindakan akupunktur, pembedahan pada telinga, komplikasi dari infeksi perikondrium (perikondritis) yang menyebar lebih dalam sehingga ke kondrium, dan juga komplikasi dari infeksi meatus akustikus eksternum seperti otitis eksterna maligna. 2,4,5,6,7 Kondritis telinga dapat menimbulkan komplikasi seperti berubahnya warna daun telinga, jaringan hipertropik akibat proses penyembuhan dan bahkan bisa menyebabkan tulang rawan hancur dan menciut serta keriput, sehingga terjadi telinga lisut (cauliflower ear), yang sangat mempengaruhi kosmetik seseorang. 2,5 Adapun tujuan pembuatan dari karya tulis ini adalah untuk membantu kita dalam mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan kondritis telinga, mendiagnosa dan mencari terapi yang tepat agar komplikasi yang ditimbulkan sangat minimal.

  • 2.1 DEF1NISI

BAB II PEMBAHASAN

Kondritis merupakan inflamasi pada tulang rawan (kartilago). Kondritis dapat terjadi pada daerah yang memiliki tulang rawan seperti telinga, Mdung, laring, trakea,dan juga daerah persendian. 3 Kondritis mengenai daerah yang bertulang rawan, dan infeksinya disebut sesuai organ yang terkena, seperti kondritis telinga, kondritis hidung, kondritis laring, kostokondritis (pada hubungan kosta dengan sternum), osteokondritis (pada persendian tulang), dan polikondritis berulang (gangguan tulang rawan generalisata). 3 Kondritis pada telinga adalah radang pada tulang rawan daun telinga yang menyebabkan efusi serum atau pus di antara lapisan perikondrium dan kartilago telinga luar. 4 Kartilago merupakan suatu jaringan ikat padat yang dibentuk oleh serat kolagen dan/atau elastin. Ada tiga jenis kartilago, yaitu elastin, hyalin, fibrosa, masing-masing dengan karakter yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya. Kartilago elastin ditemukan pada pinna aurikula, tuba eustachius dan laring terutama epiglitis. Kartilago hyalin terdapat pada hidung, tiroid, dan menghubungkan kosta pada sternum. Kartilago fibrosa terdapat diantara tulang-tulang vertebra kolumna spinalis. 3

  • 2.2 ANATOMI TELINGA

Telinga dibagi atas telinga luar,telinga tengah,dan telinga dalam.

  • 1. Telinga luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani.Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastis dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertida bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5-3 cm. 2,9

Gambar 1.Anatomi telinga luar 2. Telinga tengah Telinga tengah berbentuk kubus dengan : 2 Batas luar

Gambar 1.Anatomi telinga luar

  • 2. Telinga tengah

Telinga tengah berbentuk kubus dengan :

2

Batas luar

:

Membran timpani

 

Batas depan

:

tuba eustachius

Batas bawah

:

bulbus jugularis)

Batas belakang

:

aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis

Batas atas

:

tegmen timpani (meningen/otak)

 

Batas dalam

:

bertunrt-turut

dari

atas

kebawah

kanalis

 

semisirkularis

horizontal,kana!is

fasialis,tingkap

lonjong

(oval window), tingkapbundar (round window), dan

promontorium.

Gambar 2. Anatomi telinga tuar,tengah dan dalam
Gambar 2. Anatomi telinga tuar,tengah dan dalam

Gambar 2. Anatomi telinga luar, tengah, dan dalam

  • 3. Telinga dalam

Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berada dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk Hngkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea,tampak skala vestibuli di sebelah atas,skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) di antaranya, Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (Reissner's membrane) sedangkan dasar skala median adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ Corti. 2 Aliran limfatik pada Hang telinga merupakan saluran yang penting untuk penyebaran infeksi.Aliran limfatik menuju anterior dan superior Hang telinga mengaiir ke limfatik preaurikular di kelenjar parotis dan nodus servikal superior bagian dalam. Bagian inferior dari aliran limfatik di Hang telinga mengaiir ke nodus infraaurikular dekat angulus mandibula.Di posterior,aliran limfatik masuk ke nodus postaaurikular dan nodus servikal superir bagian dalam. Aurikula dan meatus akustikus eksternus menerima suplai rteri dari cabang aurikula temporal superfisial dan pasterior dari arteri karotis eksterna. Aliran vena dari aurikula dan meatus akustikus eksternus melalui vena aurikularis temporal superfisial dan posterior. 2 Sensasi terhadap aurikula dan meatus akustikus eksternus dipersarafi oleh nervus kranialis dan nervus kutaneus,dengan bantuan dari cabang aurikulotemporal dari nervus trigeminus (V),fasialis (VII), glossofaringeus (IX),dan vagus (X). 2

2.3 EPIDEMIOLOGI

Dengan adanya perkembangan antibiotik antipseudomonal pada pasien luka bakar, insidensi kondritis sudah sangat menurun dalam beberapa dekade terakhir.

Baker dan Converse melaporkan penelitian retrospektif terhadap 292 persen (570 telinga) yang mengalami pembedahan otoplasti,di dapati insidensi komplikasi kondritis sebesar 0.7 %. 5

2.4 ETIOLOGI Kondritis dapat disebabkan oleh :

Trauma pada daun telinga (aurikula) akibat luka bakar, pembedahan, tindik telinga, trauma tumpul atau tajam (pada pertandingan gulat,akupuntur). 5,6,7,15 Luka akibat terbakar aurikula adalah faktor predisposisi yang paling sering, sehingga 25% dapat terjadi infeksi. Baru-baru ini juga didapatkan peningkatan infeksi yang disebabkan oleh tindik telinga. Karena menindik telinga sekarang sebagian dilakukan di pinna, suatu daerah yang melibatkan porsi kartilago dari aurikel, dapat memberi resiko yang besar untuk teriadinya perikondritis maupun kondritis. 7 Kondritis juga dapat terjadi sebagai komplikasi dari pembedahan seperti mastoidectomi. 2,5 Komplikasi dari infeksi perikondrium (perikondritis) yang menyebar lebih dalam sehingga ke kondrium. 2,4 Komplikasi dari infeksi meatus akustikus eksternum seperti otitis eksterna maligna yang merupakan suatu tipe khusus dari infeksi akut yang difus di liang telinga luar,dan peradangannya dapat meluas secara progresif ke lapisan subkutis dan ke organ sekitaraya. 2,4 Suatu furunkel yang tidak memadai pengobatannya merupakan sumber agen penyebab yang potensial, seperti mikrokokus jenis virulen (Stafilokokus), Streptokokus, atau Pseudomonas aeruginosa. Infeksi juga dapat dapat terjadi pada saat aspirasi dan insisi hematoma auris. 4

  • 2.5 PATOFISIOLOGI

Aurikula sering mengalami trauma seperti luka bakar,trauma tajam, trauma tumpul,dan lain-lain. Karena aurikula hanya dilapisi kulit saja tanpa adanya jaringan subkutis, tidak ada perlindungan yang signifikan terhadap jaringan tulang rawan (kartilago). 6,7 Pada kondritis yang disebabkan oleh luka bakar,ada tiga teori yang menjelaskan tentang patofisiologi sebagai berikut : 6,7 Teori pertama menyebutkan bahwa kartilago tidak memiliki suplai darah intrinsik,sehingga trauma pada kulit dan perikondrium dapat mengenai kartilago dan beresiko terjadinya kondronekrosis dan infeksi sekunder. Teori kedua menyatakan bahwa edema akibat luka bakar akan menyebabkan trombosis pembuluh darah sentral. Teori ketiga menyebutkan bahwa kondritis dapat berkembang dari invasi bakteri melalui kulit yang rusak. Kondritis juga dapat terjadi akibat komplikasi dari pembedahan telinga atau otoplasti. Hematoma yang tak terdeteksi atau tidak dikeluarkan secara adekuat pada periode paskaoperasi dapat menyebabkan perikondritis. 4,5 Perikondrium merapakan penghalang yang sangat baik untuk mencegah penyebaran infeksi, tetapi jika terjadi penyebaran lebih dalam,maka dapat timbul kondritis. 5 Trauma pada aurikula dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih berat yang mengancam ketahanan kartilago di bawahnya akibat tidak adanya vaskularisasi langsung-Setelah trauma inisial pada aurikula, darah atau serum berkumpul di ruang potensial subperikondrial dan dapat timbul infeksi sekunder oleh bakteri S.aureus, P.aeruginosa,dan spesies Proteus. 4

  • 2.6 GEJALA KLINIS

Gejala klinis dari kondritis adalah : 1,2,4,6,7

  • - Nyeri

  • - Gatal di dalam liang telinga

  • - Pembengkakan daun telinga,rasa panas,eritema

  • - Peningkatan sudut aurikulosefalik.

  • - Kartilago yang terinfeksi dapat mengeluarkan cairan serous atau eksudat purulen

  • - Mungkin terjadi perubahan bentuk yang abnormal pada telinga.

- Pembengkakan daun telinga,rasa panas,eritema - Peningkatan sudut aurikulosefalik. - Kartilago yang terinfeksi dapat mengeluarkan cairan

Gambar 3. Telinga yang mengalami kondritis

- Pembengkakan daun telinga,rasa panas,eritema - Peningkatan sudut aurikulosefalik. - Kartilago yang terinfeksi dapat mengeluarkan cairan

Gambar 4. Telinga yang mengalami kondritis akut

  • 2.7 DIAGNOSIS Kondritis didiagnosa berdasarkan : 2,4,6,7

    • 1. Anamnesis Dijumpai riwayat trauma pada daun telinga, riwayat pembedahan pada daun telinga, yang keduanya merupakan hasil dari luka pada kartilago. Pasien mengeluhkan gejala-gejala dari kondritis seperti rasa nyeri, gatal, dan panas pada daun telinga.

    • 2. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan pembengkakan pada telinga, eritema, keluar cairan serous atau eksudat purulen dari kartilago yang terkena, dan peningkatan sudut aurikulosefalik.

    • 3. Pemeriksaan penunjang

      • - Kultur dan tes sensitivitas untuk mengetahui mikroorganisme penyebabnya

      • - Biopsi untuk membedakan kondritis dan perikondritis, pada kondritis ditemukan kartilago yang nekrosis

    • 2.8 DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding dari kondritis antara lain adalah:

Perikondritis

Perikondritis merupakan inflamasi pada perikondrium yang melapisi kartilago.Gejala klinis dari perikondritis sama dengan kondritis. Perikondritis dapat dibedakan dari kondritis melalui pemeriksaan biopsi di mana pada kondritis ditemukan kartilago yang nekrosis. 2,4 Otitis Eksterna

Otitis Eksterna adalah radang Hang telinga akut maupun kronis yang disebabkan oleh bakteri. 2,4 Polikondritis Berulang

Penyakit yang tidak diketahui etiologinya ini menyebabkan peradangan dan dekstrusi tukang rawan. Polikondritis berulang merupakan suatu gangguan tulang rawan generalisata, melibatkan Mdung dan telinga pada 80-90% kasus. Deformitas aurikula menyerupai perikondritis akut yang infeksius atau suatu telinga bunga kol (cauliflower ear) yang meradang. Hilangnya tulang rawan menyebabkan telinga menjadi "lemas" dan timbul deformitas hidung pelana. Peradangan yang bergantian pada kedua daun telinga (tanpa sebab predisposisi)

atau adanya demam memberi kesan gangguan ini. 1,4 Furunkulosis dan Karbunkulosis

Furunkulosis dan karbunkulosis adalah infeksi pada folikel rambut yang disebabkan oleh bakteri gram positif, biasanya stafilokokus. Lesi primer biasanya berupa pustul yang kecit berbentuk lingkaran yang dapat membesar menjadi furunkel atau karbunkel. Infeksi terjadi paling sering pada hubungan antara konka dan kulit dari liang telinga. 2,4 Dermatitis Eksematous Infeksiosa

Dermatitis eksematous infeksiosa terjadi akibat aliran dari material terkontaminasi atau purulen yang keluar dari telinga tengah ke telinga luar dan

mendekati kulit infraaurikular. Hal ini menyebabkan infeksi sekunder yang bermanifestasi dengan timbulnya krusta pada liang telinga. 2,4

2.9 PENATALAKSANAAN

Tujuan

pengobatan

pada

kondritis

adalah

eradikasi

infeksi

dan

mengoptimalkan hasil akhir kosmetik dari telinga pasien. 6,15,l7

 

Manajemen pengobatan

terdiri

dari

pemberian

antibiotik,

pembedahan

debridement berulang, dan perawatan luka lokal. Pemberian antibiotik diberikan

untuk bakteri gram negatif dan S.aureus. Antibiotik ini dapat terdiri dari

aminopenicillin antipseudomonal atau fluorokuinolon selama 2-4 minggu. 2 ,

4,6,7

Pada tahap ringan,cukup dilakukan debriment dan pengobatan dengan antibiotik oral dan topikal. Jika dengan terapi ini tidak berhasil, lakukan debridement dan kultur. Berikan pengobatan yang cocok sesuai dengan hasil kultur. Ciprofloxacin merupakan pilihan yang sesuai untuk tahap sedang, dikombinasi dengan obet tetes anti-Pseudomonas seperti gentamycin atau ciprofloxacin. 4,11,12 Jika sudah terjadi penyebaran infeksi ke jaringan lunak dan sistem limfatik regional, pasien harus dirawat dirumah sakit dan dapat diberikan pengobatan parenterai untuk mengatasi infeksi Pseudomonas. Dapat diberikan ciproplocacin atau ceftazidim intravena. Krusta pada aurikula dapat dibersihkan dengan hidrogen peroksida. 4,11 Tujuan dari pembedahan adalah untuk mengeleminasi jaringan kartilago yang nekrotik dan meminimalisasi deformitas yang dapat terjadi. Ahli bedah harus memahami embriologi dan anatomi dari aurikula agar dapat mereseksi kartilago yang terkena tanpa menyebabkan deformitas dari aurikula. Area yang terkena dibersihkan dan diberi anestesi lokal dan epinefrin. Jika keseluruhan dari aurikula sudah terlibat, dibenarkan untuk dilakukan pinnektomi total. Teknik pembedahan bervariasi mulai dari eksisi kartilago komplit sampai insisi bivalvula sepanjang sisi aurikula untuk memasukkan kateter multipel untuk irigasi antibiotik. Akan tetapi, hanya kasus yang terisolasi yang sesuai untuk teknik mi. Kateter dapat digunakan selama 1 bulan dengan irigasi antibiotik. Debriment dilakukan di ruang operasi, karena infeksi ini sangat sakit. 2,4,5,6,7

2.10 KOMPLIKASI Akibat kondritis dapat terjadi deformitas aurikula yang nyata, yaitu tulang rawan hancur dan menciut serta keriput, sehingga terjadi telinga lisut (cauliflower ear) 4 .

2.11 PROGNOSIS Jika diagnosa ditegakkan dini dan mulai diberikan antibiotik, diharapkan dapat sepenuhnya sembuh 2,4,6,7 . Pada kasus lanjut,beberapa bagian telinga mungkin mengalami nekrosis dan mesti dilakukan pembedahan. Akhirnya dibutuhkan bedah plastik untuk mengembalikan bentuk normal telinga. 5,13,15

BAB III KESEMPULAN

Kondritis adalah radang pada tulang rawan daun telinga yang terjadi apabila suatu trauma atau radang menyebabkan efusi serum atau pus di antara lapisan perikondrium dan kartilago telinga luar. Kondritis dapat disebabkan oleh luka bakar, trauma tajam maupun tumpul, tindik telinga, komplikasi dari infeksi perikondrium {perikondritis)yang meyebar lebih dalam hingga ke kondrium, komplikasi dari infeksi meatus akustikus eksternus, dan juga dapat terjadi akibat komplikasi dari pembedahan telinga atau otoplasti. Gejala klinis dari kondritis adalah nyeri, gatal di dalam Hang telinga, pembengkakan daun telinga, rasa panas, eritema, peningkatan sudut aurikulosefalik, dan kartilago yang terinfeksi dapat mengeluarkan cairan serous atau eksudat purulen, bahkan bisa terjadi deformitas pada telinga. Kondritis didiagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Diagnosis banding dari kondritis antara lain adalah :perikondritis, otitis eksterna, polikondritis berulang, fumnkulosis dan karbunkulosis, serta dermatitis eksematous infeksiosa.Tujuan pengobatan pada kondritis adalah eradikasi infeksi dan mengoptimalkan hasil akhir kosmetik dari telinga pasien. Manajemen pengobatan terdiri dari pemberian antibiotik, pembedahan debridement berulang,dan perawatan luka lokal.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Schechter GL,Crawford PA. 1993. Connevtive tissue disease,In : Bailey BJ.Head and neck Surgery-Otolaiyngology. Volume One. Philadelphia: J.B.Lippincott Company.p 163-168

  • 2. Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran dan Kelainan Telinga. In: Soepardi EA, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edesi Kelima. Jakarta: FKUI. 2001. p 9-15; 44-48.

  • 3. Anonim. 2011. Chondritis. Healt Grades. Inc. Diunduh dari

  • 4. Lee, KJ. 2003. Infection of The Ear. In : Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery, 8 th ed. New York : McGraw-Hill, p. 465-467.

  • 5. Encyclopedia Cartile. :http://www.nationmaster.com/encylocpedia/Cartilage

Available

from

  • 6. Penyaklit telinga luar. In: Adams GL,Boies LR,Higler PA.Boies: Buku ajar penyakit THT.Edisi 6Jakarta :penerbit buku Kedokteran EGC. 1 997.p 8 1 -84

  • 7. Haddad, S. Gahaleh, L. A. Abulail, A. 2009. Chondntis and Auricular Burn. Pakistan Armed Forces Medical Journal. Diunduh dari : http://www.pafinj.org/showdetail,php?id : =262&t ; =o

  • 8. Smith BJ, Mangat DS. Otoplasty. In: Paparella MM, Shumrick DA. OtolaringoJogy, Volume IV. Third Edition. Philadelphia: W. B Saunders Company. 1991. p 2717-2726.

  • 9. Early Management of the Burned Auricle.AnnaIs of Burns and fire Disasters- vol XVII.December2004.AvaiIable from: http:www/ medbc.com/ annals/review/vol_17/num4/tex/vol17n4p197.asp.chondritis1.

10. 10. Anonim. Chondntis. Inflammation of cartilage. Beltina Encyclopedia of Health. Di unduh dari http://www.beltina.com/health-dictionary/chondritis- inflammation-of-cartilage.htlm.

11.

Kelainan

Pada

Telinga

Luar.updated

18

juni

2008.

Available

from

:http://images.google.coJ d/imgres?imgurl=http://www.medicastore.conVimages/anatomijelinga

luar.ipg&imgrefiirl/20Q8/06/18/kelainan-pada-telinga-luar

  • 12. Pasbjerg. A. 2011.

How Do I Treat Cartilage Inflamation. Diunduh dari

:http://www.wisegeek.com/how-doi-treat-cartilage-inflamation.htttn

13.

Telinga

Manusia.

Available

from:

http://images.google.co.id/imgres?imeurl=http://mdidholpm.tripod.coni/artikel/t elinga.tml

  • 14. Ronald J. Walker B. S. Disease of The External Ear and Tympan^ Membran. In: ENT Secrets, 3 rd ed. Elvesier.

  • 15. Kerr, A.G. Disease of The External Ear. In : Scott-Brown's Otolaryngology, 6 ed. Butterworth-Heiement.

  • 16. Compton, N. Polichondritis. Medscape. Diunduh dari: http://emedicine.eom/article/3 31 475-ovgrview#showall

  • 17. Menner, A.L. 2003. Disorder of The External Ear. In: A Poket Guide to The Ear. New York: Thieme Stuttgart.