Anda di halaman 1dari 26

http://pengertiandancontoh.blogspot.

com/
VALUTA ASING
A. Pengertian
Pertukaran valuta asing adalah suatu kegiatan memperdagangkan mata uang dari negara-negara yang
berbeda. Berbagai mata uang tersebut mengambil bentuk sebagai uang di dalam suatu negara. Uang
masing-masing negara memiliki harga yang diukur oleh uang negara lain. Hal inilah yang disebut nilai
tukar (exchange rate). Apabila sesuatu barang ditukar dengan barang lain, tentu di dalamnya terdapat
perbandingan nilai tukar antara keduanya. Nilai tukar ini merupakan harga di dalam pertukaran tersebut.
Semua transaksi valuta asing yang berlangsung seketika atau secara langsung, di mana kedua belah pihak
sepakat untuk saling menukarkan simpanan bank mereka serta melaksanakan secepatnya disebut dengan
kurs spot, sedangkan kesepakatannya disebut transaksi spot. Istilah seketika atau spot ini lazimnya baru
dilaksanakan sampai dua hari setelah tercapainya kesepakatan. Kelambatan ini terjadi karena kebanyakan
transaksi bank perlu waktu dua hari guna melaksanakan instrumen pembayaran (misalnya berupa cek).
Beberapa kesepakatan valuta asing secara khusus menetapkan suatu tanggal nilai lebih dari dua hari, bisa
30 hari, 90 hari, 180 hari, atau bahkan beberapa tahun. Kurs yang menjadi dasar transaksi semacam ini
disebut kurs berjangka (forward exchange rates). Dengan demikian transaksi ini dilakukan di pasar
berjangka, yaitu pasar di mana transaksi jual beli terjadi dengan harga yang disetujui pada saat transaksi
dilakukan, tetapi penyerahan barang dilakukan kemudian hari.

B. Fungsi Pasar Valuta Asing
Pasar valuta asing mempunyai beberapa fungsi pokok dalam membantu kelancaran lalu lintas pembayaran
internasional :
a). Mempermudah penukaran valuta asing serta pemindahan dana dari satu negara ke negara lain. Proses
penukaran atau pemindahan dana ini dapat dilakukan dengan sistem clearing. Pasar valuta asing
memberikan jasa kliring bagi para pengusaha atau individu. Para turis biasanya menemukan pasar ini di
banyak bandar udara., di mana tempat penukaran mata uang asing yang dilengkapi dengan papan petunjuk
tingkat nilai tukar yang sedang berlaku.
b). Memungkinkan dilakukannya hedging. Seorang pedagang melakukan hedging apabila ia pada saat
yang sama melalukan transaksi jual dan beli valuta asing di pasar yang berbeda, untuk
menghilangkan/mengurangi resiko kerugian akibat perubahan kurs. Hedging dapat dilakukan di pasar
berjangka (forward market). Sebagai contoh : seorang importir dari Indonesia membeli mobil dari USA
seharga US$7,000 dengan pembayaran 4 bulan yang akan datang. Kurs pada saat itu, misalnya US$ 1 =
Rp.9.000, sehingga harga mobil tersebut dalam mata uang rupiah adalah Rp.63.000.000. Apabila kurs
berubah menjadi US$ 1 = Rp.9.300, maka harga mobil menjadi Rp.65.100.000, dengan demikian importir
harus membayar lebih banyak. Untuk menghindari kerugian karena harga mobil yang meningkat, maka
importir dapat melakukan hedging di pasar berjangka. Caranya, importir menghubungi bank di Indonesia
untuk membeli mobil seharga US$7,000 dengan penyerahan 4 bulan yang akan datang dengan kurs yang
disetujui saat itu US$ 1 = Rp.9,000. Kurs tersebut disebut kurs berjangka (forward exchange rate).
Perbedaan kurs berjangka dengan kurs spot menggambarkan adanya perbedaan tingkat bunga di Indonesia
dan USA.
Selanjutnya bank di Indonesia yang dihubungi importir akan berusaha membeli US$ pada pasar
spot dan kemudian menyimpannya selama 4 bulan di USA. Atas tindakan bank tersebut, ia (bank di
Indonesia) akan memperoleh bunga dari bank di USA. Apabila tingkat bunga di USA lebih rendah dari
pada di Indonesia, importir harus membayar perbedaannya. Sebaliknya, apabila tingkat bunga di USA
lebih tinggi, maka perbedaannya oleh bank tersebut diberikan kepada importir. Misalnya, importir
memerlukan US$7,000 untuk 4 bulan dengan kurs spot US$ 1 = Rp.9.000. Jika tingkat bunga simpanan di
USA 4 % dan di Indonesia 5 %, maka bank di Indonesia yang menjual US$7,000 forward kepada importir
akan meminta Rp.63.000.000 (kurs spot) ditambah dengan 1 % kerugian tingkat bunga karena uang dollar
disimpan di USA. Total harga US$7,000 adalah Rp.63.000.000 + Rp.630.000 = Rp.63.630.000. Kurs
forwardnya menjadi US$ 1 = 63.630.000/7.000 = Rp.9.090, yakni 1 % discount terhadap kurs spot (US$ =
Rp.9.300).
Sebaliknya, apabila tingkat bunga di USA 4 % dan di Indonesia 3 %, maka harga total US$7,000
forward akan menjadi = Rp.63.000.000 Rp.630.000 = Rp.62.370.000. Kurs forwardnya menjadi US$ 1 =
62.370.000/7.000 = Rp.8.910, yakni 1 % premium terhadap kurs spot ( US$ 1 = Rp.9.300).
c). Dapat melakukan arbitrage. Ratio antara kurs forward dengan kurs spot menggambarkan perbedaan
dalam tingkat bunga. Apabila terdapat perbedaan, tindakan arbitrage (tindakan menjual/membeli valuta
asing di negara yang kursnya tinggi/rendah untuk memperoleh keuntungan karena perbedaan kurs di kedua
negara akan menghilangkan perbedaan tersebut. Tindakan arbitrage akan cenderung menyamakan kurs
valuta asing di berbagai negara. Tindakan arbitrage akan berhenti apabila keuntungan yang diperoleh
karena adanya perbedaan tingkat bunga diimbangi dengan kerugian yang sama dari pasar valuta asing
jangka (forward market). Hal ini biasa disebur dengan interest parity.

jika positif forward premium, dan jika negatif forwad discount
ra = kurs spot Rp/US$
rf = kurs forward Rp/US$
ia = tingkat bunga di USA 3 bulan
ie = tingkat bunga di Indonesia 3 bulan
Misalnya uang US$ 1 diinvestasikan di USA selama 3 bulan dengan tingkat bunga di USA 4 %
dan kurs US$ = Rp.9.000 akan menghasilkan :
US$1 (1 + ia) = US$1 (1.04) = US$1.04 dalam rupiah = Rp.9.360.
Seandainya uang tersebut diinvestasikan di Indonesia dengan tingkat bunga 5 % selama 3 bulan, maka
terlebih dahulu harus ditukar dengan rupiah di pasar spot, sehingga hasil yang akan diperoleh sebesar
Hasil tersebut terlebih dahulu ditukar dengan US$ di pasar jangka untuk membandingkan dengan hasil
investasi yang diperoleh di USA, yaitu dengan cara :maka modal jangka pendek akan mengalir dari USA
ke Indonesia.
Sebaliknya, apabila
maka modal jangka pendek akan mengalir dari Indonesia ke USA.
Keadaan keseimbangan akan tercapai apabila :

di mana p adalah forward premium (jika positif) dan forward discount (jika negatif), maka persamaan di
atas dapat dituliskan dengan :
Persamaan di atas dapat diringkas menjadi :
Tindakan arbitrage dapat digambarkan dengan lebih sederhana, yaitu misalnya harga dollar dalam rupiah
yang dinyatakan dengan kurs Rp/US$ adalah US$1 = Rp.9.000 yang sedang berlaku di Jakarta, sedangkan
kurs yang berlaku di New York misalnya US$1 = Rp.9.200, maka pelaku arbitrage akan membeli dollar di
Jakarta dengan kurs US1 = Rp.9.000 dan segera menjualnya kembali di New York dengan kurs US$1 =
Rp.9.200, sehingga dalam waktu singkat pelaku arbitrage memperoleh keuntungan sebesar Rp.200. Dalam
waktu bersamaan permintaan rupiah di New York meningkat, sehingga akan menguatkan nilai tukar mata
uang rupiah. Kegiatan arbitrage tersebut pada akhirnya akan menyamakan kurs di Jakarta dan New York.
Hal tersebut dapat terjadi karena karena kuatnya permintaan dollar USA di Jakarta, sehingga nilai tukar
rupiah/US$ akan naik di atas Rp.9.000, begitu pula permintaan rupiah yang menguat di New York akan
menguatkan rupiah di New York hingga di bawah Rp.9.200. Kondisi tersebut akhirnya akan menyamakan
kurs di kedua tempat. Jika kurs di kedua tempat sama, maka kegiatan arbitrage akan terhenti, karena
pelaku arbitrage tidak lagi memperoleh keuntungan atas tindakannya.

C. Sistem Kurs Valuta Asing
1. Sistem Kurs yang Berubah-ubah
Di dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi
permintaan dan penawaran valuta asing. Permintaan valuta asing diperlukan guna melakukan transaksi
pembayaran ke luar negeri (impor). Jadi permintaan valuta asing bersumber dari transaksi debet dalam
neraca pembayaran internasional. Penawaran valuta asing berasal dari eksportir, yakni dari transaksi kredit
neraca pembayaran internasional. Suatu mata uang dikatakan kuat apabila transaksi autonomous kredit
lebih besar dari pada transaksi autonomous debet (surplus neraca pembayaran). Transaksi autonomous
kredit dan debet dipengaruhi oleh faktor-faktor dari dalam maupun luar negeri, termasuk harga,
pendapatan dan tingkat bunga.
Makin tinggi tingkat pertumbuhan pendapatan (relatif terhadap negara lain) makin besar
kemungkinan untuk mengimpor, sehingga makin besar pula permintaan terhadap valuta asing yang
mengakibatkan naiknya kurs mata uang asing (mata uang domestik turun). Begitu pula dengan kenaikan
harga (inflasi) akan menyebabkan impor naik yang mengakibatkan naiknya kurs mata uang asing.
Kenaikan tingkat bunga dalam negeri cenderung menarik modal masuk dari luar negeri, sehingga kurs
valuta asing akan turun (mata uang domestik naik).
Berdasarkan uraian di atas, maka semua kebijakan pemerintah baik fiskal maupun moneter yang
berkaitan dengan pendapatan, harga, dan tingkat bunga secara tidak langsung akan mempengaruhi kurs.
Di samping faktor-faktor ekonomi tersebut di atas, faktor-faktor non ekonomi dapat pula
mempengaruhi kurs, seperti faktor politik dan psykologis. Misalnya, kepanikan yang terjadi di dalam
negeri akan menyebabkan larinya dana ke luar negeri, sehingga kurs valuta asing akan naik.
Semua faktor yang disebutkan di atas akan mempengaruhi pergeseran kurva permintaan dan
penawaran sebagaimana digambarkan berikut ini.
Gambar di atas memperlihatkan bahwa pada kurs US$1 = Rp.2000 permintaan terhadap US$
sebanyak E2, permintaan US$ menurun menjadi E1 pada kurs US$1 = Rp.6000 dan Eo pada kurs US$1 =
Rp.10000 (kondisi di mana terjadi pergerakan sepanjang kurva permintaan). Selanjutnya pergeseran kurav
permintaan dari Do ke D1 menunjukkan bahwa walaupun kurs meningkatkan jumlah permintaan US$
tetap mengalami peningkatan yang disebabkan misalnya oleh kenaikan pengeluaran pemerintah, kenaikan
jumlah uang beredar, aliran modal keluar karena adanya kepanikan di dalam negeri.

2. Sistem Kurs Stabil
Pada dasarnya kurs stabil dapat timbul secara :
a) Aktif : yakni pemerintah menyediakan dana untuk tujuan stabilisasi kurs (stablization funds).
b) Pasif : yakni di dalam suatu negara yang menggunakan sistem standar emas.

1). Stabilisasi Kurs
Kegiatan stabilisasi kurs dapat dijalankan dengan cara sebagai berikut : apabila ada tendensi kurs
valuta asing akan turun, maka pemerintah membeli valuta asing di pasar. Dengan adanya tambahan
permintaan valuta asing di pasar, maka tendensi turunya kurs valuta asing dapat dicegah. Sebaliknya, jika
kurs valuta asing bertendensi untuk naik, maka pemerintah menjual valutra asing di pasar, sehingga
penawaran valuta asing bertambah dan kenaikan kurs dapat dicegah. Misalnya, Bank Indonesia
menghendaki kurs stabil pada tingkat US$1 = Rp.8.000. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan gambar
berikut di bawah ini.

Pada gambar VI.2a dimisalkan ekspor meningkat, sehingga penwaran valuta asing (US$) bergeser
ke kanan dari S1 ke S2. Jika permintaan tetap pada D1, kurs cenderung menjadi US$1 = Rp.7.700. Untuk
mencegah turunnya kurs, pemerintah membeli US$ di pasar bebas, sehingga permintaan akan naik yang
ditunjukkan oleh pergeseran dari D1 ke D2. Tindakan pemerintah tersebut akan terus dilakukan hingga
kurs kembali ke US$1 = Rp.8.000.
Selanjutnya pada gambar VI.2b dimisalkan terjadi kenaikan pendapatan atau inflasi di dalam
negeri, di mana impor meningkat. Kenaikan impor tersebut mengakibatkan meningkatnya permintaan
valuta asing (ditunjukkan oleh pergeseran kurva permintaan dari D1 ke D2). Jika penawarannya tetap,
maka kurs akan naik menjadi US$1 = Rp.8.300. Untuk menurunkan kembali kurs pada tingkat US$1 =
Rp.8.000, maka pemerintah menjual US$ di pasar bebas. Penjualan ini akan terus dilakukan hingga kurva
penawaran bergeser dari S1 ke S2.

2). Standar Emas
Suatu negara dikatakan menganut standar emas apabila :
Nilai mata uangnya dijamin dengan nilai seberat emas tertentu
Setiap orang boleh membuat serta melebur uang emas.
Pemerintah sanggup membeli atau menjual emas dalam jumlah yang tidak terbatas pada harga tertentu
(yang sudah ditetapkan pemerintah).
Dalam sistem standar emas kurs mata uang suatu negara terhadap negara lain ditentukan dengan
dasar emas. Misalnya, USA menetapkan bahwa 1 gram emas = US$10, dan Indonesia menetapkan bahwa
1 gram emas = Rp.50.000, maka kurs antara US$ dan Rp adalah U$1 = Rp.5.000. Kurs ini akan stabil
selama syarat-syarat di atas dipenuhi dan lalu lintas emas berlangsung secara bebas.

3. Sistem Kurs Pengawasan Devisa (exchange Control)
Dalam sisitem ini pemerintah memonopoli seluruh transaksi valuta asing. Tujuannnya adalah
untuk mencegah adanya aliran modal keluar. Menghadapi jumlah valuta asing yang relatif sedikit
dibandingkan dengan permintaannya, pemerintah perlu mengadakan alokasi di dalam penggunaannya.
Sistem kurs ini dapat dijelaskan melalui gambar berikut.
Gambar VI.3 : Sistem Kurs dalam Pengawasan Devisa
Jika pasar valuta asing adalah bebas, maka kurs yang akan terjadi adalah US$1 = Rp.5.000, di
mana jumlah yang ditawarkan sama dengan jumlah yang diminta (0E1). Biasanya dalam sistem
pengawasan devisa kurs pasar bebas dianggap terlalu tinggi (over valued). Pada kurs US$1 = Rp.4.500
jumlah yang diminta sebesar 0E2, sedangkan jumlah yang tersedia hanya sebanyak 0Eo. Oleh karena itu
pemerintah perlu mengalokasikan jumlah yang tersedia tersebut dengan menggunakan kurs yang
ditetapkan. Kurs yang ditetapkan bisa satu (single exchange rate) atau lebih (multiple exchange rate).
Penggunaan multiplke exchange rate tergantung pada tujuan penggunaan, misalnya kurs US$1 =
Rp.4.500 dipergunakan untuk impor barang-barang esensial, seperti impor bahan baku yang akan
dipergunakan untuk menghasilkan barang-barang ekspor. Kemudian penggunaan kurs US$1 = Rp.5.000
atau di atas Rp.5.000 misalnya untuk mencegah impor barang konsumsi yang dapat mematikan produksi
industri domestik.
Di dalam mengadakan alokasi penggunaan devisa, pemerintah dapat menggunakan beberapa cara,
antara lain :
individual allocation : setiap pemohon devisa (importir) diadakan penelitian tentang penggunaannya.
Apabila disetujui lalu diberikan izin untuk membeli sejumlah tertentu devisa.
Exchange quota : untuk setiap kategori impor ditentukan jumlah devisanya berdasarkan devisa yang akan
diperoleh dari ekspor dalam waktu tertentu. Apabila devisa sudah tersedia, lalu dijual dengan prinsip yang
lebih dulu bermohon dilayani terlebih dahulu samlai jatah untuk kategori impor tersebut habis.
Waiting list : ini merupakan pelengkap cara (b) di atas. Setiap surat permohonan pembelian devisa
ditempatkan dalam daftar tunggu sampai devisa tersedia.

D. Kebijakan Devisa di Indonesia
Pada umumnya sistem devisa dapat dibagi dua, yaitu sistem devisa kontrol dan sistem
devisa bebas. Dalam sistem devisa kontrol, kegiatan transaksi devisa dibatasi oleh pemerintah. derajat
tingkat pembatasan berbeda-beda pada masing-negara tergantung pada ultimate target dari kebijakan
tersebut. Sementara pada sistem devisa bebas tidak ada pembatasan dalam melalukan transaksi devisa.

1. Sistem Devisa Kontrol
Indonesia menerapkan sistem devisa kontrol sesuai dengan Undang-undang Nomor 32
tahun 1964 tentang Peraturan lalu Lintas devisa yang berlangsung hingga tahun 1967. Dalam undang-
undang tersebut ditetapkan bahwa devisa yang berasal dari kekayaan alam dan usaha Indonesia dikuasai
oleh negara. Eksportir wajib menjual devisa hasil ekspor kepada bank devisa yang selanjutnya dijual
kembali kepada Bank Indonesia. Di samping itu, warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia
wajib mendaftar dan menyimpan surat berharga dalam valuta asing yang dimilikinya pada bank devisa
pemerintah.
Kebijakan devisa kontrol pada saat itu cukup berhasil dalam mengisolasikan
perekonomian Indonesia dari pengaruh eksternal. Namun, pada sisi lain kebijakan tersebut juga
memberikan dampak negatif, yaitu dengan terciptanya pasar gelap valuta asing, sehingga nilai tukar rupiah
di pasar valuta asing jauh di atas harga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

2. Sistem Devisa Bebas
Sejak dikeluarkannya Undang-undang Nomor 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing,
Indonesia menganut sistem devisa bebas. Undang-undang tersebut bertujuan untuk menarik masuknya
modal asing dalam rangka pembiayaan investasi di dalam negeri. Namun demikian, para investor asing
masih meragukan kemungkinan mereka tidak dapat mengirimkan keuntungan usaha yang diperoleh ke
negaranya (profit transfer). Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mengeluarkan Peraturan Nomor 16
tahun 1970 tentang penyempurnaan pelaksanaan ekspor, impor dan lalu lintas devisa. Dalam ketentuan itu
ditetapkan bahwa setiap orang dapat dengan bebas memperoleh dan menggunakan devisa umum.
Pada tahun 1982, Indnesia menerapkan sistem devisa bebas murni dengan dikeluarkannya
Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 1982 tentang penghapusan kewajiban penjualan devisa hasil ekspor
kepada bank Indonesia. Implikasi positif dari sistem devisa bebas murni adalah terjadinya aliran modal
masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk penanaman modal asing, pinjaman dan investasi portofoli di pasar
modal.
Implikasi negatif dari sistem devisa bebas, yaitu derasnya aliran modal masuk (khususnya
dana-dana jangka pendek dalam bentuk investasi portofolio) dapat menimbulkan kerawanan pada
perekonomian dalam negeri bila tidak diikuti sikap kehati-hatian para pelaku ekonomi. Kerawanan tersebut
timbul ketika aliran modal masuk berbalik menjadi lairan modal keluar. Krisis yang dialami negara
Amerika Latin, seperti Meksiko pada tahun 1994, negara-negara ASEAN termasuk Indonesia pada
pertengahan tahun 1997 merupakan bukti dampak negatif aliran modal masuk yang deras dan berbalik
menjadi aliran modal keluar.

E. Perkembangan Kebijakan Nilai Tukar di Indonesia
Sejak tahun 1970 sistem nilai tukar di Indonesia dalam perkembangannya sudah menganut tiga
sistem nilai tukar, yaitu sistem nilai tukar tetap, sistem nilai tukar mengambang terkendali dan terakhir
sistem nilai tukar mengambang bebas.



1. Sistem Nilai Tukar Tetap (fixed exchange rate)
Sistem nilai tukar tetap yang berlaku di Indonesia berdasarkan Undang-undang Nomor 32 tahun
1964 dengan nilai tukar resmi Rp. 250 per $ US, sementara nilai tukar rupiah terhadap mata uang lainnya
dihitung berdasarkan nilai tukar rupiah per $ US di bursa valuta asing Jakarta dan di pasar internasional.
Selama periode tersebut di atas, Indonesia menganut sistem kontrol devisa yang relatif ketat. Para
eksportir diwajibkan menjual hasil devisanya kepada Bank Indonesia. Dalam rezim ini tidak ada
pembatasan dalam hal pemilikan, penjualan maupun pembelian valuta asing. Sebagai konsekuensi
kewajiban penjualan devisa tersebut, maka Bank Indonesia harus dapat memenuhi semua kebutuhan valuta
asing bank komersial dalam rangka mememenuhi permintaan valuta asing oleh importir maupun
masyarakat. Berdasarkan sistem nilai tukar tetap ini, Bank Indonesia memiliki kewenangan penuh dalam
mengawasi transaksi devisa. Sementara untuk menjaga kestabilan nilai tukar pada tingkat yang telah
ditetapkan, Bank Indonesia melakukan intervensi aktif di pasar valuta asing.
Sistem nilai tukar tetap dengan sitem kontrol devisa pada awal tahun 1970-an masih
dimungkinkan dengan pertimbangan karena lembaga keuangan di Indonesia belum berkembang, volume
transaksi devisa masih relatif kecil, pasar valuta asing dan mata uang rupiah belum menjadi tradable good
serta belum adanya kegiatan spekulasi valuta asing. Di samping itu, pemerintah masih melakukan
pembatasan-pembatasan dalam hal melakukan pinjaman luar negeri, penanaman modal asing dan investasi
portofolio sehingga intervensi langsung yang dilakukan pemerintah dapat bekerja efektif.
Selama periode tahun 1970 hingga tahun 1978, Indonesia telah tiga kali melakukan
kebijakan devaluasi, masing-masing pada 17 April 1970 dengan kurs Rp. 378 per US $, tanggal 23
Agustus 1971 dengan kurs Rp. 415 per US $ dan pada tabggal 15 Nopember 1978 dengan kurs Rp. 625 per
US $. Kebijakan devaluasi tersebut dilakukan karena nilai tukar rupiah mengalami overvalued sehingga
dapat mengurangi daya saing produk-produk ekspor di pasar internasional.

2. Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali (managed floating exchange rate)
Sistem nilai tukar mengambang terkendali ditetapkan bersamaan dengan kebijakan devaluasi
rupiah pada tahun 1978 sebesar 33,6 persen. Pada sistem ini nilai tukar rupiah diambangkan terhadap
sekeranjang mata uang (basket currencies) negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Dengan sistem
tersebut, Bank Indonesia menetapkan kurs indikasi dan membiarkan kurs bergerak di pasar dengan spread
tertentu. Untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, maka Bank Indonesia melakukan intervensi bila
kurs bergejolak melebihi batas atas atau batas bawah spread.
Sesuai dengan karakteristiknya, sistem nilai tukar mengambang terkendali pada periode
tersebut dapat dibagi dalam tiga periode, yaitu managed floating I, managed floating II dan periode
crawling band. Periode managed floating I berlaku dari tahun 1978 1986, di mana dalam periode ini
unsur manajemennya lebih dominan dari floating. Pada kondisi tersebut nilai tukar nominal bergerak
relatif tetap dan perubahan relatif baru terjadi pada tahun-tahun tertentu, yaitu pada saat Bank Indonesia
melakukan devaluasi rupiah. Unsur manajemen yang cukup dominan, disesuaikan dengan kondisi
perekonomian yang relatif belum berkembang seperti saat ini, sehingga Bank Indonesia tidak kesulitan
dalam menyesuaikan nilai tukar sesuai dengan target yang diinginkan dalam rangka mengendalikan laju
inflasi dan menjaga daya saing produk-produk ekspor.
Perkembangan selanjutnya (periode managed floating II), dengan semakin terbukanya
perekonomian Indonesia terhadap perekonomian dunia, yang ditandai dengan semakin derasnya capital
inflow ke Indonesia, serta semakin pesatnya perkembangan sektor keuangan dan dunia usaha, maka
kebijakan nilai tukar managed floating lebih ditekankan pada unsur floating, yang berlaku sejak tahun
1987 1992. Dalam periode ini kekuatan pasar semakin besar, sehingga unsur floating semakin dirasakan
perlu mengingat manajemen yang terlalu dominan dapat berakibat missalignment pada nilai tukar riil.
Sejak Agustus 1992 hingga Agustus 1997, pemerintah menetapkan sistem crawling
band, yaitu fleksibilitas nilai tukar rupiah semakin ditingkatkan. Peningkatan fleksibilitas nilai tukar
rupiah telah mendorong perkembangan pasar valuta asing domestik, yang tercermin dengan semakin
berkurangnya ketergantungan bank-bank pada Bank Indonesia dalam melakukan transaksi devisa.
Kegiatan transaksi valuta asing yang sebelumnya dilakukan bank dengan Bank Indonesia hampir
seluruhnya mengalami pergeseran ke pasar valuta asing antar bank. Di samping itu jumlah pelaku
transaksi juga semakin meningkat dan produk pasar valuta asing semakin bervariasi. Pada sisi lain,
peningkatan fleksibilitas melalui pelebaran rentang intervensi juga telah memberikan keleluasaan Bank
Indonesia dalam melaksanakan kebijakan moneter sehingga dapat mempermudah perencanaan
pelaksanaan operasi pasar terbuka.

3. Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas (floating exchange rate)
Sejak pertengahan Juli 1997, nilai tukar rupiah mengalami tekanan yang mengakibatkan
semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar USA. Tekanan tersebut berawal dari currency
turmoil yang melanda Thailand dan segera menyebar ke negara-negara ASEAN termasuk Indonesia.
Untuk mengatasi tekanan tersebut, Bank Indonesia melakukan intervensi baik secara spot maupun forward
dan untuk sementara dapat menstabilkan nilai tukar rupiah. Namun untuk selanjutnya tekanan terhadap
depresiasi rupiah semakin meningkat. Oleh karena itu dalam rangka mengamankan cadangan devisa yang
terus berkurang, pada tanggal 14 Agustus 1997, Bank Indonesia memutuskan untuk menghapus rentang
intervensi

Rangkuman
1. Pertukaran valuta asing adalah suatu kegiatan memperdagangkan mata uang dari negara-negara
yang berbeda. Uang masing-masing negara memiliki harga yang diukur oleh uang negara lain. Hal inilah
yang disebut nilai tukar (exchange rate).
2. Transaksi valuta asing yang berlangsung seketika disebut dengan kurs spot, sedangkan kesepakatannya
disebut transaksi spot. Transaksi yang dilakukan di pasar berjangka, yaitu pasar di mana transaksi jual beli
terjadi dengan harga yang disetujui pada saat transaksi dilakukan, tetapi penyerahan barang dilakukan
kemudian hari.
3. Pasar valuta memiliki fungsi-fungsi dalam transaksi keuangan internasional : melakukan kliring,
hedging, arbitrage.
4. Sistem kurs valuta asing dapat digolongkan ke dalam : (1) sistem kurs berubah-ubah, (2) sistem kurs
stabil yang terdiri atas : (a) stabilisasi kurs, (b) standar emas; (3) sistem kurs pengawasan devisa.
5. Kebijakan devisa yang pernah berlaku di Indonesia adalah : (1) sistem devisa kontrol, (2) sistem devisa
bebas
6. Kebijakan nilai tukar mata uang yang pernah berlaku di Indonesia adalah : (1) sistem nilai tukar tetap,
(2) sistem nilai tukar mengambang terkendali, (3) sistem nilai tukar mengambang bebas.
Pengertian dan Contoh : http://pengertiandancontoh.blogspot.com/ Blog ini berisikan tentang
informasi pendidikan, kesehatan dan ekonomi bisnis yang bersifat membangun dan mendidik.
Terima kasih untuk kunjungan Anda, demi kemajuan blog ini, mohon tinggalkan komentar yang
bersifat positif dan membangun di tempat yang telah kami sediakan.
Posted by Hakim Simanjuntak on - Rating: 4.5



http://rgpnd.blogspot.com/
Pengertian Kurs atau Valuta Asing (Valas)
Valuta asing atau sering disebut Kurs (exchange rate) adalah tingkat harga yang disepakati penduduk
kedua negara untuk saling melakukan perdagangan. (Mankiw 2007;128). Kurs sering pula dikatakan
valas ataupun nilai tukar mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain.

Mata uang yang sering digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan hitung dalam transaksi
ekonomi dan keuangan internasional disebut sebagai hard currency, yaitu mata uang yang nilainya
relatif stabil dan kadang-kadang mengalami apresiasi atau kenaikan nilai dibandingkan dengan mata
uang lainnya.Total valas yang dimiliki oleh pemerintah dan swasta dari suatu negara yang pada
umumnya disebut juga sebagai cadangan devisa negara tersebut yang dapat diketahui dari posisi
Balance of Payment (BOP) atau neraca pembayaran internasionalnya.

Makin banyak valas atau devisa yang dimiliki oleh pemerintah dan penduduk suatu negara maka
berarti makin besar kemampuan negara tersebut melakukan transaksi ekonomi dan keuangan
internasional dan makin kuat pula nilai mata uang.

Kurs nominal (nominal exchange rate) adalah harga relatif dari mata uang dua negara. Sebagai
contoh, jika kurs antara dolar AS dan yen Jepang adalah 120 yen per dolar, maka anda bisa menukar
1 dolar untuk 120 yen di pasar dunia untuk mata uang asing. Orang Jepang yang ingin mendapatkan
dolar akan membayar 120 yen untuk setiap dolar yang dibelinya. Orang Amerika akan mendapatkan
120 yen untuk setiap dolar yang ia bayar. Ketika orang-orang mengacu pada kurs di antara kedua
negara, mereka biasanya mengartikan kurs nominal.

Kuras rill (real exchange rate) adalah harga relatif dari barang-barang kedua negara. Yaitu, kurs rill
menyatakan tingkat dimana kita bisa memperdagangkan barang-barang dari suatu negara untuk
barang-barang dari negara lain. Kurs rill kadang-kadang disebut terms of trade.







http://perpustakaancyber.blogspot.com/
Pengertian Kurs Valuta Asing, Fungsi,
Sistem, Permintaan dan Penawaran,
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Pengertian Kurs Valuta Asing, Fungsi, Sistem, Permintaan dan Penawaran, Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi - Pelajarilah uraian di bawah ini.

1. Pengertian Kurs Valuta Asing

Pertukaran barang yang terjadi dalam perdagangan internasional tidak akan terlepas
dari uang sebagai alat pembayarannya. Namun, masalah muncul jika uang yang
digunakan setiap negara berbeda. Oleh karena itu, perlu diadakan perbandingan antar
mata uang sehingga transaksi perdagangan dapat berjalan dengan baik. Valuta asing
atau mata uang asing adalah jenis-jenis mata uang yang digunakan di negara lain.
Misalnya, di Singapura (Dolar Singapura), Malaysia (Ringgit) dan Amerika Serikat (US
Dolar). Seseorang yang mengimpor barang dari Singapura harus membeli dolar
Singapura dan jika ingin membeli barang dari Malaysia, perlu mencari ringgit. Dengan
kata lain, untuk membiayai impor dan beberapa transaksi luar negeri lainnya diperlukan
mata uang asing sebagai alat pembayaran. Nilai valuta asing adalah suatu nilai yang
menunjukkan jumlah mata uang dalam negeri yang diperlukan untuk mendapat satu
unit mata uang asing.

Nilai berbagai mata uang asing yang berbeda akan mendorong orang untuk bertanya,
mengapa nilainya berbeda untuk setiap mata uang asing dan mengapa nilainya selalu
mengalami perubahan dari waktu ke waktu?

Untuk mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut akan diterangkan cara penentuan
nilai mata uang asing dan faktor-faktor yang mengakibatkan nilai pertukarannya
mengalami perubahan dalam jangka panjang.

Penentuan nilai mata uang asing dapat dibedakan menjadi dua pendekatan yaitu
permintaan dan penawaran valuta asing.

a. Permintaan Valuta Asing

Keinginan penduduk suatu negara untuk memperoleh suatu jenis mata uang asing dapat
dipandang sebagai permintaan valuta asing oleh penduduk negara itu. Keinginan
masyarakat yang bertambah besar untuk memperoleh barang dari suatu negara akan
menaikkan permintaan mata uang negara tersebut. Sebaliknya, jika tidak ada keinginan
untuk memperoleh barang dari suatu negara akan menurunkan permintaan mata uang
negara tersebut.

Misalkan, permintaan orang Indonesia terhadap dolar untuk membeli komputer?
Katakanlah, harga komputer tersebut sebesar US$500. Berapakah nilainya dalam rupiah?
Hal ini, bergantung pada kurs dolar. Misalnya, ada tiga kurs, yaitu (i) satu dolar bernilai
Rp9.000,00; (ii) satu dolar bernilai Rp10.000,00; dan (iii) satu dolar bernilai Rp8.000,00.
Untuk kurs yang bernilai Rp9.000,00 harga komputer tersebut sebesar Rp4.500.000,00.
Namun, jika kursnya bernilai Rp10.000,00 harga komputer tersebut sebesar
Rp5.000.000,00 dan jika kurs Rp8.000,00 harga komputer tersebut Rp4.000.000,00.
Semakin murah nilai dolar, semakin murah harga barangnya, jika dinyatakan dalam mata
uang dalam negeri.

b. Penawaran Valuta Asing

Keinginan penduduk suatu negara untuk membeli uang rupiah merupakan penawaran
valuta asing. Keinginan itu menunjukkan banyaknya uang dolar yang akan digunakan
untuk membeli barang-barang buatan Indonesia. Misalnya, seorang Amerika ingin
membeli sepotong kemeja batik sutera seharga Rp360.000,00. Berapakah harganya
dalam dolar Amerika? Untuk kurs US$1= Rp9.000,00, harganya adalah US$40, untuk kurs
US$1= Rp10.000,00 harganya adalah US$36, dan jika kursnya adalah US$1= Rp12.000
kemeja batik tersebut harganya US$30. Semakin mahal harga mata uang dolar, makin
banyak penawarannya. Sebaliknya, jika harga dolar murah, penawarannya semakin
sedikit.

2. Fungsi Kurs Valuta Asing

Pasar valuta asing memiliki beberapa fungsi pokok dalam membantu kelancaran lalu
lintas pembayaran internasional, di antaranya sebagai berikut.

a. Mempermudah penukaran valuta asing serta pemindahan dana dari satu negara ke
negara lain. Proses penukaran atau pemindahan dana ini dapat dilakukan dengan sistem
clearing seperti halnya yang dilakukan oleh bank-bank dan pedagang.
b. Karena sering terdapat transaksi internasional yang tidak perlu segera diselesaikan
pembayaran dan penyerahan barangnya, pasar valuta asing memberikan kemudahan
untuk dilaksanakannya perjanjian atau kontrak jual beli secara kredit.
c. Memungkinkan dilakukannya hedging (penarikan dana). Seorang pedagang
melakukan hedging jika pada saat yang sama melakukan transaksi jual dan beli valuta
asing di pasar yang berbeda. Hal ini biasanya dilakukan untuk menghilangkan atau
mengurangi risiko kerugian akibat perubahan kurs. Hedging dapat dilakukan pada pasar
jangka (forward market). Pasar jangka adalah pasar tempat transaksi jual-beli terjadi
dengan harga yang disetujui pada saat transaksi dilakukan, tetapi penyerahan barangnya
dilakukan kemudian hari.

Hal ini, berbeda dengan spot market, yaitu transaksi dan penyerahan barang terjadi pada
saat yang bersamaan.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kurs Valuta Asing

Karena sifatnya yang selalu mengalami perubahan, ada beberapa faktor penting yang
memiliki pengaruh besar terhadap perubahan dalam kurs pertukaran, yaitu sebagai
berikut.

a. Perubahan dalam Citarasa Masyarakat

Perubahan ini akan memengaruhi permintaan. Jika penduduk suatu negara lebih
menyukai barang-barang dari negara lain, permintaan atas mata uang negara lain
tersebut bertambah. Perubahan seperti itu memiliki kecenderungan untuk menaikkan
nilai mata uang negara lain.

b. Perubahan Harga dari Barang-Barang Ekspor

Jika barang-barang ekspor mengalami kenaikan, kenaikan tersebut akan memengaruhi
permintaan barang ekspor dan kurs valuta asing sehingga akan menjatuhkan nilai uang
negara yang mengalami kenaikan barang ekspor.

c. Kenaikan Harga-Harga Umum (Inflasi)

Di satu pihak, kenaikan harga-harga akan menyebabkan penduduk negara tersebut
semakin banyak mengimpor dari negara lain. Oleh karena itu, permintaan atas valuta
asing akan bertambah. Di lain pihak, ekspor negara tersebut bertambah mahal dan akan
mengurangi permintaannya sehingga akan menurunkan penawaran valuta asing.

d. Perubahan dalam Tingkat Bunga dan Tingkat Pengembalian Investasi

Tingkat bunga dan tingkat pengembalian investasi sangat mempengaruhi jumlah serta
arah aliran modal jangka panjang dan jangka pendek. Tingkat pendapatan investasi yang
lebih menarik akan mendorong pemasukan modal ke negara tersebut sehingga
penawaran valuta asing yang bertambah akan menaikkan nilai mata uang negara yang
menerima modal tersebut.

e. Perkembangan Ekonomi

Jika valuta asing dipengaruhi oleh perkembangan ekspor, penawaran valuta asing akan
bertambah dan menaikkan nilai mata uang. Sebaliknya, jika dipengaruhi oleh hal-hal
di luar ekspor, akan menurunkan nilai mata uang asing.

4. Sistem Kurs Valuta Asing

Berdasarkan faktor-faktor yang memengaruhi perubahan kurs tersebut, diperlukan
adannya penetapan sistem kurs yang dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut.

a. Kurs Tetap (Fixed Exchange Rate)

Penentuan kurs mata uang dilakukan dengan jual beli valas. Jika valas banyak masuk ke
suatu negara, pemerintah melalui bank sentral harus membeli kelebihan valuta asing
tersebut. Kurs tetap, yaitu kurs mata uang yang ditetapkan oleh pemerintah dan tidak di
pengaruhi oleh fluktuasi ekonomi atau permintaan dan penawaran.

b. Kurs Mengambang (Floating Exchange Rate)

Kurs yang ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran atau oleh kekuatan pasar,
yang dibedakan atas clean float dan dirty float.

1) Clean float, adalah besar kecilnya kurs ditentukan oleh permintaan dan penawaran di
pasar dan pemerintah tidak ikut campur di dalamnya.
2) Dirty float, adalah kurs yang dibiarkan mengambang, tetapi masih ada campur tangan
dari pemerintah.

c. Kurs Stabil (Stable Exchange Rate)

Kurs yang ditentukan melalui kebijakan pemerintah untuk menstabilkannya. Kestabilan
kurs dapat dicapai dengan cara:

1) aktif, pemerintah menyediakan dana untuk stabilisasi kurs;
2) pasif, pemerintah menggunakan sistem standar emas.

d. Kurs Multiple

Kurs yang digunakan dalam jual beli valuta asing, meliputi kurs jual dan kurs beli.

1) Kurs jual, adalah nilai kurs yang ditentukan oleh bank pada saat menjual valuta asing.
2) Kurs beli, adalah nilai kurs yang ditentukan oleh bank pada saat membeli valuta asing.

Anda sekarang sudah mengetahui Kurs Valuta Asing. Terima kasih anda sudah
berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Widjajanta, B., A. Widyaningsih, dan H. Tanuatmojo. 2009. Mengasah Kemampuan
Ekonomi 2 : Untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/Mandrasah Aliyah Program Ilmu
Pengetahuan Sosial. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 146.


Sumber : http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/12/pengertian-kurs-valuta-
asing-fungsi-sistem.html#ixzz2vl0oGlbI







http://chakkirizki.blogspot.com/
1. Nona shinta mendapatkan uang dari ayahnya yang bekerja di perusahaan asing Amerika sebesar
US$2500. Selain itu nona shinta mendapatkan upah gajinya yang belum dibayar saat bekerja di
jepang sebesar US$1000. Kurs jual saat itu US$1 = Rp.9000 dan 1 = Rp.250 ,sedangkan kurs beli
US$1 = Rp.8.800 dan 1 = 260 . Berapa jumlah uang yang diterima oleh nona shinta

2. Jika tuan rizki mempunyai uang Rp.27.000.000 ,kemudian ia ingin menukarkan dengan dollar
(Amerika) atau yen ,berapa dollar dan berapa yen yang akan diterima oleh tuan rizki US$1 = 9.000
dan 1 = 300 ?

3. Tuan mubarak akan berjalan - jalan ke 5 (jerman ,inggris ,autralia ,singapura ,hongkong) negara
sekaligus dalam 1 bulan ,ia berencana untuk menukarkan uang nya yang berjumlah Rp. 150.000.000
(seratus lima puluh juta rupiah) kepada bursa valas yang berada tak jauh dari rumahnya. berapa
yang diterima tuan mubarak dari bursa valas jika kurs jual untuk : 1 = Rp.12.644 , 1 = Rp.14.868 ,
A$1 = Rp.10.210 ,$1 = Rp. 7.834 ,H$1 = Rp. 1.261

4. Bapak khoirul ingin membelanjakan sebuah barang yang ia temukan di salah satu toko yang
berada di Negara Singapura. uang yang saat itu ia miliki ia lah Rp.10.000.000 dan $ 5000. ia hanya
ingin menukarkan nilai mata uang rupiah ke singapura (HGD) dan dollar yang ia miliki ingin
ditukarkan ke Rp jika sudah pulang ke indonesia. berapakah uang yang diterima beliau jika hanya
ingin menukarkan Rp.7000.000 ? dan berapakah uang yang diterima jika beliau ingin menukarkan $
5000 ke rupiah ?
$1 = 7.834 dan Rp1 = 8.500

5. Sepulang dari lima negara tersebut, tuan mubarak memiliki sisa uang sebanyak 2000 untuk
masing-masing mata uang. Ia datang lagi ke bursa valas untuk menukarkan uang asing dengan uang
rupiah. Pada saat itu kurs yang berlaku di bursa sebagai berikut 1 = Rp.12.515 , 1 = Rp.14.716 ,
A$1 = Rp.10.105 ,$1 = Rp. 7.755 ,H$1 = Rp. 1.248


jawab :

1. Kurs Beli
(Dollar US) 8.800 x 2.500 = 22.000.000
(Yen Jepang) 260 x 1.000 = 260.000
Total uang yang diterima = 22.260.000

2. Kurs Jual
(Dollar USD) 27.000.000 : 9.000 = USD$ 3.000
(Yen) 27.000.000 : 300 = 90.000


3. Kurs Jual
(Euro) 150.000.000 : 12.644 = 119.000
(Gbp) 150.000.000 : 14.868 = 10.100
(Aud) 150.000.000 : 10.210 = A$14.800
(Sgd) 150.000.000 : 7.834 = $19147
(Hkd) 150.000.000 : 1.261 = H$118.953

4. Kurs Jual
(Sgd) 7000.000 : 7.834 = $1000 (Dollar Singapura)
Kurs Beli
(Idr) 5.000 x 8500 = Rp42.500.000 (Rupiah)

5. Kurs Beli
(Euro) 2.000 x 12.644 = 25.288.000
(Gbp) 2.000 x 14.716 = 29.432.000
(Aud) 2.000 x 10.105 = 20.210.000
(Sgd) 2.000 x 7.755 = 15.510.000
(Hkd) 2.000 x 1.248 = 2.496.000

http://dedysuarjaya.blogspot.com/
Akuntansi Dan Bisnis Internasional
Beberapa waktu yang lalu, akuntansi memperlihatkan kemampuannya untuk menarik
perhatian publik melalui akuntansi dan pengukuran sumber daya manusia, pelaporan dan audit atas
tanggungjawab sosial berbagai organisasi. Saat ini akuntansi beroperasi antara lain dalam lingkungan
perilaku, sektor publik dan Internasional.
Akuntansi menyediakan informasi bagi pasar modal-pasar modal besar, baik domestik
maupun internasional. Akuntansi telah meluas ke dalam area konsultasi manajemen dan melibatkan
lebih besar porsi teknologi informasi dalam sistem dan prosedurnya. Dengan demikian akuntansi
jelas tanggap terhadap stimulus lingkungan.
Menurut Choi dan Muller (1998; 1) bahwa ada tiga kekuatan utama yang mendorong bidang
akuntansi internasional kedalam dimensi internasional yang terus tumbuh, yaitu (1) faktor
lingkungan, (2) Internasionalisasi dari disiplin akuntansi, dan (3) Internasionalisasi dari profesi
akuntansi. Ketiga faktor tersebut dalam perjalanan/perkembangan akuntansi sangat berperan dan
menentukan arah dari teori akuntansi yang selama bertahun-tahun dan dekade banyak para ahli
mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mengembangkan teori akuntansi dan ternyata
mengalami kegagalan dan hal tersebut menyebabkan terjadinya evolusi dari theorizing ke
conceptualizing.

2. Perkembangan Akuntansi Internasional
Iqbal, Melcher dan Elmallah (1997:18) mendefinisikan akuntansi internasional sebagai
akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip akuntansi di negara-negara
yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi di seluruh dunia.
Akuntansi harus berkembang agar mampu memberikan informasi yang diperlukan dalam
pengambilan keputusan di perusahaan pada setiap perubahan lingkungan bisnis. Berikut ini
karakteristik era ekonomi global:
a. Bisnis internasional.
b. Hilangnya batasan-batasan antar negara era ekonomi global sering sulit untuk mengindentifikasi
negara asal suatu produk atau perusahaan, hal ini terjadi pada perusahaan multinasional.
c. Ketergantungan pada perdagangan internasional.




2.1. Sudut Pandang Sejarah
Awalnya, akuntansi dimulai dengan sistem pembukuan berpasangan
(double entry bookkeeping) di Italia pada abad ke 14 dan 15. Sistempembukuan
berpasangan (double entry bookkeeping), dianggap awal penciptaanakuntansi.
Akuntansi modern dimulai sejak double entry accounting ditemukandan
digunakan didalam kegiatan bisnis yaitu sistem pencatatan berganda (doubleentry bookkeeping)
yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli (th
1447). Luca Paciolilahir di Italia tahun 1447, dia bukan akuntan tetapi pendeta
yang ahli matematika,dan pengajar pada beberapa universitas terkemuka di Italia.
Lucalah orang yangpertama sekali mempublikasikan prinsip-prinsip dasar double
accounting systemdalam bukunya berjudul : Summa the arithmetica geometria
proportioni etproportionalita di tahun 1494. Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa prinsip
dasar double accounting system bukanlah ide murni Luca namun dia
hanyamerangkum praktek akuntansi yang berlangsung pada saat itu dan
mempublikasikannya. Hal ini diakui sendiri oleh Luca (Radebaugh, 1998) Pacioli did not claim that
his ideas were original, just that he was the one who was trying to
organize and publish them. He objective was to publish a popularbook that could
be used by all, following the influence of the venetianbusinessmen rather than bankers.
Praktek bisnis dengan metode venetian yang menjadi acuan Luca menulisbuku tersebut
telah menjadi metode yang diadopsi tidak hanya di Italia namun hampir disemua negara Eropa
seperti Jerman, Belanda, Inggris.
Luca memperkenalkan 3 (tiga ) catatan penting yang harus dilakukan:
a. Buku Memorandum, adalah buku catatan mengenai seluruh informasi transaksi bisnis.
b. Jurnal, dimana transaksi yang informasinya telah disimpan dalam buku memorandum
kemudian dicatat dalam jurnal.
c. Buku Besar, adalah suatu buku yang merangkum jurnal diatas. Buku besar merupakan centre of the
accounting system (Raddebaugh, 1996).
Perkembangan sistem akuntansi ini didorong oleh pertumbuhan
perdagangan internasional di Italia Utara selama masa akhir abad pertengahan
dankeinginan pemerintah untuk menemukan cara dalam mengenakan pajak terhadap
transaksi komersial.
Pembukuan ala Italia kemudian beralih ke Jermanuntuk membantu
parapedagang zaman Fugger dan kelompok Hanseatik. Pada saat bersamaan filsufbisnis Beland
a mempertajam cara menghitung pendapatan periodic dan
pemerintah Perancis menerapkan keseluruhan sistem dalam perencanaan dan akuntabilitas
pemerintah.
Tahun 1850-an double entry bookkeeping mencapai Kepulauan Inggris
yang menyebabkan tumbuhnya masyarakat akuntansi dan profesi akuntansi publik
yang terorganisasi di Skotlandia dan Inggris tahun 1870-an. Praktik akuntansi
Inggris menyebar ke seluruh Amerika Utara dan seluruh wilayah persemakmuran
Inggris. Selain itu model akuntansi Belanda diekspor antara lain ke Indonesia.
Sistem akuntansi Perancis di Polinesia dan wilayah-wilayah Afrika dibawah
pemerintahan Perancis. Kerangka pelaporan sistem Jerman berpengaruh diJepang, Swedia,
dan Kekaisaran Rusia.
Paruh Pertama abad 20, seiring tumbuhnya kekuatan ekonomi Amerika
Serikat, kerumitan masalah akuntansi muncul bersamaan. Kemudian Akuntansi
diakui sebagai suatu disiplin ilmu akademik tersendiri. Setelah Perang Dunia II,pengaruh
Akuntansi semakin terasa di Dunia
Barat. Bagi banyak negara,akuntansi merupakan masalah nasional dengan
standar dan praktik nasional yangmelekat erat dengan hukum nasional dan aturan profesional.

3. Perbedaan Sistem Akuntansi
Pada dasarnya akuntansi itu sama yaitu sarana bagi manajemen untuk mengkomunikasikan
posisi keaungan, kinerja dan perubahan posisi keaungan kepada pihak yang berkepentingan. Namun,
di samping persamaan pengertian tersebut, akuntansi juga mempunyai perbedaan dalam
penerapannya. Perbedaan yang timbul disebabkan oleh: pertumbuhan ekonomi, inflasi, sistem
politik, pendidikan, profesi akuntan, peraturan perpajakan, pasar uang dan modal.

3.1. Harmonisasi Standar Akuntansi
Harmonisasi sejak lama keliru diasosiasikan dengan standardisasi secara penuh. Ini
sebenarnya berbeda dari standardisasi. Wilson menyajikan perbedaan yang bermanfaat berikut
Istilah harmonisasi sebagai kebalikan dari standardisasi memiliki arti sebuah rekonsiliasi atas
berbagai sudut pandang yang berbeda. Istilah ini lebih bersifat sebagai pendekatan praktis dan
mendamaikan daripada standardisasi, terutama jika standardisasi berarti prosedur-prosedur yang
dimiliki oleh satu negara hendaknya ditetapkan oleh semua negara yang lain.
Harmonisasi menjadi suatu bagian yang penting untuk menghasilkan komunikasi yang lebih
baik atas suatu informasi agar dapat diartikan dan dipahami secara internasional.

4. Evolusi Dan Peran Bisnis Internasional
Evolusi dan perkembangan bisnis internasional dapat dijabarkan menjadi empat tahap yaitu :
a. Zaman Pra Industrialisasi
Zaman pra industri ditandai dengan terjadinya sistem merkantilisme yang disertai dengan alasan
dominasi politik serta penjajahan yang terjadi pada abad ke-16 sampai abad ke-17.
b. Zaman Industrialisasi
Pada akhir abad 18 sampai dengan abad 20 perkembangan teknologi industri dan transportasi
meningkatkan arus barang dan jasa. Pada masa ini perkembangan bisnis sangatlah berkembang
pesat.
c. Zaman Setelah Perang Dunia II
Pada masa ini stabilitas politik dunia mulai tertata rapi. Pertumbuhan bisnis internasional bertumbuh
pesat. Permintaan barang dan jasa diimbangi dengan kemampuan produksi.
d. Era Multinasional
Pada masa ini aspek internasional fungsi-fungsi perusahaan semakin penting. Volume transaksi
perusahaan internasional menjadi penyangga utama bagi ekonomi suatu negara.

5. Aspek Akuntansi Dalam Bisnis Internasional
Dalam rangka bisnis internasional, perusahaan harus menyediakan informasi keungannya.
Oleh karena itu, perusahaan akan menemui berbagai kendala misalnya perbedaan bahasa, mata
uang dan standar akuntansi keuangan. Peran ahli akuntansi keuangan yang memahami berbagai
bahasa, mata uang asing dan standar akuntansi internasional sangat penting untuk mengatasi
masalah ini.

6. Bidang Akuntansi Internasional
Akuntansi internasional meliputi dua aspek bahasan utama yaitu deskripsi dan pembandingan
akuntansi dan dimensi akuntansi atas transaksi internasional. Pada aspek yang pertama, akuntansi
internasional membahas gambaran standar akuntansi dan praktek akuntansi pada berbagai negara
serta membandingkan standar dan praktek tersebut pada masing-masing negara yang dibahas.
Selain itu, aspek akuntansi internasional juga membahas mengenai pelaporan keuangan, valuta
asing, perpajakan, audit internasional serta manajemen untuk bisnis internasional.

7. Faktor Lingkungan Yang Berpengaruh Terhadap Pengembangan Akuntansi
Choi et. al (1998; 36) menjelaskan sejumlah faktor lingkungan yang diyakini memiliki pengaruh
langsung terhadap pengembangan akuntansi, antara lain :
a. Sistem Hukum
Kodifikasi standar-standar dan prosedur-prosedur akuntansi kelihatannya alami dan cocok dalam
negara-negara yang menganut code law. Sebaliknya, pembentukan kebijakan akuntansi yang non
legalistis oleh organisasi-organisasi professional yang berkecimpung dalam sektor swasta lebih
sesuai dengan sistem yang berlaku di negara-negara hukum umum (common law).
b. Sistem Politik
Sistem politik yang ada pada suatu negara pun ikut mewarnai akuntansi, karena sistem politik
tersebut mengimpor dan mengekspor standar-standar dan praktik-praktik akuntansi.
c. Sifat Kepemilikan Bisnis
Kepemilikan publik yang besar atas saham-saham perusahaan menyiratkan prinsip-prinsip pelaporan
dan pengungkapan akuntansi keuangan yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan yang
kepemilikannya didominasi oleh keluarga atau bank.
d. Perbedaan Besaran dan Kompleksitas Perusahaan-Perusahaan Bisnis
Perusahaan konglomerasi besar yang beroperasi dalam lini bisnis yang sangat beragam
membutuhkan teknik-teknik pelaporan keuangan yang berbeda dengan perusahaan kecil yang
menghasilkan produk tunggal. Perusahaan-perusahaan multinasional juga membuthkan sistem
akuntansi yang berbeda dengan sistem akuntansi perusahaan-perusahaan domestik.
e. Iklim Sosial
Iklim sosial turut memberikan sumbangan dalam pengembangan akuntansi di berbagai belahan
dunia.


f. Tingkat Kompetensi Manajemen Bisnis Dan Komunitas Keuangan
Kompetensi atau kemampuan manajemen bisnis dan pengguna dari output akuntansi akan sangat
menentukan perkembangan akuntansi.
g. Tingkat Campur Tangan Bisnis Legislatif
Regulasi mengenai perpajakan mungkin memerlukan prinsip-prinsip akuntansi tertentu.
h. Ada Legislasi Akuntansi tertentu
Dalam beberapa kasus, terdapat peraturan legislative khusus untuk aturan-aturan dan teknik-teknik
akuntansi tertentu.
i. Kecepatan Inovasi Bisnis
Semula, kegiatan merger dan akuisisi tidak diperhitungkan secara akuntansi, namun karena
penggabungan bisnis yang begitu popular di eropa memaksa akuntansi turut berkembang untuk
memenuhi kebutuhan dari mereka yang berkepentingan.
j. Tahap pembangunan Ekonomi
Negara yang masih mengandalkan ekonomi pertanian membutuhkan prinsip-prinsip akuntansi yang
berbeda dengan negara industri maju.
k. Pola pertumbuhan Ekonomi
Kondisi perekonomian yang stabil mendorong peningkatan persaingan memperebutkan pasar-pasar
yang ada sehingga memerlukan suatu pola akuntansi yang stabil dan akan jauh berbeda pada negara
yang kondisinya sedang mengalami perang berkepanjangan.
l. Status Pendidikan dan Organisasi Profesional
Karena ketiadaan profesionalisme akuntansi yang terorganisir dan sumber otoritas akuntansi local
suatu negara, standar-standar dari area lain atau negara lain mungkin digunakan untuk mengisi
kekosongan tersebut.

8. Kesimpulan
Akuntansi saat ini menyediakan informasi bagi pasar modal-pasar modal besar, baik domestik
maupun internasional. Akuntansi telah meluas ke dalam area konsultasi manajemen dan melibatkan
lebih besar porsi teknologi informasi dalam sistem dan prosedurnya. Dengan demikian akuntansi
jelas tanggap terhadap stimulus lingkungan.Standar akuntansi tidak dapat dilepaskan dari pengaruh
lingkungan dan kondisi hukum, sosial dan ekonomi suatu negara tertentu. Hal-hal
tersebut menyebabkan suatu standar akuntansi di suatu negara berbeda dengan di negara lain.
Globalisasi yang tampak antara lain dari kegiatan perdagangan antar negara serta munculnya
perusahaan multinasional mengakibatkan timbulnya kebutuhan akan suatu standar akuntansi yang
berlaku secara luas di seluruh dunia.






http://politik.kompasiana.com/
Dinamika Sistem Moneter Internasional
REP | 14 February 2014 | 09:32 Dibaca: 40 Komentar: 0 0
1. Kebijakan dan Penetapan Nilai Tukar Mata Uang
Penentuan nilai tukar mata uang yang terjadi di dalam sebuah mekanisme
pasar, ditetapkan di dalam pasar mata uang (foreign exchange market)
yang sistem operasinya sangat berbeda dengan pasar bursa saham atau
komoditi yang eksis dalam bentuk lembaga yang para pialang salaing
bertemu dan melakukan transaksi. Dalam pasar mata uang transaksi lebih
banyak dilakukan melalui telepon, faksimile dan internet. Kehadiran pasar
mata uang tidak mengenal batas-batas geografis karena dapat dilakukan di
seluruh dunia dengan cara akses telekomunikasi.
Para ekonom menganggap bahwa nilai tukar mata uang suatu negara
ditentukan oleh hukum pasar. Tinggi rendahnya suatu nilai mata uang
tertentu jika dikonversikan terhadap berbagai mata uang lain ditentukan
oleh besar kecilnya jumlah penawaran dan permintaan terhadap mata
uang tersebut. Penawaran biasanya ditentukan oleh jumlah uang yang
dimiliki oleh pemerintah suatu negara. Mencetak mata uang merupakan
suatu cara yang dilakukan pemerintah secara cepat untuk mendapatkan
dana, tetapi pencetakan dalam jumlah yang banyak akan menurunkan nilai
mata uang di pasar internasional karena jumlah penawaran akan melebihi
permintaan. Pada situasi domestik, peredaran uang yang terlampau
banyak dapat memacy inflasi karena pertambahan jumlah uang tidak diikuti
dengan pertambahan jumlah barang.
Teori Purchasing Power Parity
Teori ini menyatakan bahwa nilai tukar antar mata uang cenderung
mengarah pada suatu kondisi ekuilibrium apabila daya beli masyarakat di
suatu negara ekuivalen dengan daya beli masyarakat di negara lain.
Contoh, nilai tukar mata uang Rp 9.000 = US$1 akan mengalami
ekuilibrium apabila uang sejumlah Rp 9.000 di Indonesia dapat membeli
barang yang setara dengan barang senilai US$1 di AS.
Perbedaan daya beli masyarakat di tembat yang berbeda akan terus
menerus disertakan oleh fluktuasi nilai tukar mata uang antar negara. Akan
tetapi teori ini mulai diragukan oleh para pakar, karena gejolak moneter
yang dialami negara ternyata lebih disebabkan oleh banyak faktor
temporer, seperti inflasi, kebijakan pemerintah dan juga spekulasi. Yang
kenyataannya sangat menetukan perubahan nilai tukar mata uang. Bukan
merupakan hasil dari proses daya beli masyarakat sebagiamana yang
dikemukakan oleh Teori Purchasing Power Parity.
Jenis-Jenis Kebijakan Pertukaran Mata Uang
a. Kebijakan Nilai Tukar Mengambang / Fleksibel
Nilai tukar mata uang mengarah pada ekuilibrium sebagaimana
dikemukakan oleh teori Purchasing Power Parity. Suatu negara unyuk
mengambangkan nilai tukar mata uangnya daripada mematok pada harga
tertentu karena laju inflasi dan juga nilai tukar mata uang yang tepat.
Faktor-faktor temporer yang memacuu spekulasi tidak akan berdampak
besar bagi nilai tukar mata uang karena mekanisme pasar memiliki
kecenderungan dimana pelaku bisnis cenderung berperilaku rasional
dalam merespon situasi pasar. Contoh, ketika neraca pembayaran
menghadapi defisit yang berakibat pada depresiasi mata uang, para pelaku
bisnis dengan sendirinya akan mengurangi proporsi pinjaman dalam
bentuk mata uang asing secara signifikan sehingga meredam
kecenderunagn peningkatan dalam bentuk mata uang lokal yang gilirannya
dapat mengurangi tekanan depresiasi mata uang lokal.
Kebijakan nilai tukar mengambang menciptakan lembaga keuangan yang
independen, lembaga keuangan dapat menemtukan kebijakan moneter
yang mandiri dengan memegang pedoman pada neraca pembayaran dan
suplai mata uang asing serta lokal, tanpa harus mengaitkan
kepentingan politik. Menurut Moris Goldstein terdapat beberapa kelebihan
dan kekurangan kebijakan nilai tukar mengambang, yaitu:
Tidak mampu memberikan perlindungan maksimal bagi kondisi moneter
suatu negara terhadap berbagai pengaruh negatif gejolak eksternal.
Kebijakan ini memberikan otonomi penuh kepada para pelaku bisnis
untuk menciptakan ekuilibrium nilai tukar dengan cara berperilaku rasional
dalam merespon pasar.
Tidak mempunyai keterkaitan langsung dengan indikator ekonomi suatu
negara seperti inflasi, angka pengangguran dan pertumbuhan ekonomi.
Negara yang menerapkan kebijakan nilai tukar mengambang biasanya
lebih memiliki resistensi terhadap pengaruh gangguan moneter.
b. Kebijakan Nilai Tukar Terkait
Kebijakan ini merupakan kombinasi dari sistem nilai tukar mengambang
dan nilai tukar tetap yang dilakukan oleh negara sosialis. Suatu negara
mematok nilai tukar mata uangnya pada mata uang tertentu dalam periode
tertentu. Kebijakan ini populer digunakan oleh negara-negara
berkembang, dengan dasar pertimbangan untuk menerapkan sistem ini
adalah keinginan untuk mempertahankan stabilitas mata uang agar tidak
terpengaruh fluktuasi moneter dunia.
2. Pasar Mata Uang Dunia (Spot Rate dan Forward Rate)
- Perdagangan Normal, transaksi mata uang sebagai konsekuensi dari
perdagangan antar negara. Untuk membiayai impor, pelaku bisnis suatu
negara harus membeli mata uang asing.
- Hedging, transaksi antar negara, salah satu pihak biasanya ingin
mendapatkan keuntungan dari proses perubahan nilai tukar mata uang
tertentu.
- Abitrasi, dilakukan oleh pialng, yaitu suatu aktivasi membeli sejumlah
mata uang tertentu pada waktu dan tempat tertentu pula. dan menjualnya
pada waktu dan tempat berbeda dengan tujuan untuk memperoleh
keuntungan.
- Spekulasi, melakukan transaksi dengan memanfaatkan ketidakpastian
yang ada di dalam mekanisme pasar bebas.
3. Rezim-Rezim Moneter Dunia
Sejarah perubahan yang terjadi dan dialami oleh sistem moneter dunia
mengalami empat tahap yaitu:
- 1950, ditandai dengan pemberlakuan sistem konversi bebas bagi setiap
mata uang menggantikan sistem lama di bawah program Marshall Plan
dan European Payments Union, yang membatasi konversi mata uang
dunia pada mata uang tertentu.
- 1958, AS mempelpori sistem nilai tukar tetap yang dikombinasi dengan
penghapusan berbagai hambatan aliran modal antar negara dan pengaitan
nilai tukar Dollar AS dengan harga emas.
- 1971, AS tidak mampu untuk mempertahankan konversi Dollarnya
dengan harga emas, sejak saat itu nilai tukar mata uang kembali ke sistem
mengambang.
- 1999, munculnya Euro sebagai mata uang bersama negara-negara
anggota Uni Eropa (kecuali Inggris). Sistem nilai tukar yang berlaku pada
tahap ini mulai bergerak lagi kearah sistem mengambang dengan
mengandalkan mekanisme pasar.
4. Kebijakan Nilai Tukar dan Krisis Moneter Negara Berkembang
Negara yang sedang berkembang cenderung menggunakan mata uang
utama dunia (Dollar, Markm Yen) dalam melakukan aktivitas pertukaran
moneter internasionalnya daripadamata uang mereka sendiri. Akibatnya,
dalam menyusun kebijakan moneter negara berkembvang harus melihat
fluktuasi yang terjadi pada mata uang utama dunia sebagai suatu given
(tidak dapat diubah).
Dampak langsung situasi moneter negara berkembang saat ini rentan
terhadap gejolak yang terjadi di pasar mata uang dunia. Pelaku bisnis di
negara berkembang biasanya mengalami kesulitan untuk meminjam uang
dalam mata uang lokal, sedangkan investor asing biasanya enggan untuk
menaruh modal dalam bentuk mata uang lokal dalam jangka panjang.
Keterbatasan nilai tukar terkait dalam mengatasi banyaknya gejolak yang
timbul dari krisi moneter, adalah karena pemerintah negara berkembang
yang mengadopsi nilai tukar terkait pada umumnya dihadapkan pada posisi
sulit antara kebutuhan untuk mempertahankan nilaitukar, keterbatasan dan
cadangandan keengganan menikkan suku bunga semakin memperburuk
iklim investasi di dalam negeri. Hal tersebut mendorong pialang untuk
membeli mata uang asing dengan segera melarikan modal ke luar negeri.
Sementara pemerintah lokal tidak memiliki dana cadangan yang cukup
tidak bisa berbuat maksimal untuk menstabilkan nilai tukar, sehingga nilai
tukar menjadi makin tidak terkendali.
Tags:

Laporkan
Tanggapi
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana
menjadi tanggung jawab Penulis.