Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai
perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya
menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan resiko terjadinya patah tulang (Suryati,
2006).

Osteoporosis tertinggi diderita oleh wanita usia lanjut, namun berdasarkan penelitian
ditemukan bahwa prevalensi kejadian osteoporosis pada pria meningkat dibandingkan sebelumnya.
Selain itu, diketahui bahwa osteoporosis kini diderita pada kelompok usia yang lebih muda (Ilyas,
2005). Osteoporosis merupakan kekurangan mineral dari tulang tanpa disadari, meninggalkan
lubang-lubang didalam tulang. Tulang pun menjadi lemah dan rapuh, mudah patah jika terkena
sedikit benturan, dan hal ini sama sekali tidak disadari.

Osteoporosis kini telah menjadi salah satu penyebab penderitaan dan cacat pada kaum lanjut
usia. Bila tidak ditangani, osteoporosis dapat mengakibatkan patah tualng, cacat tubuh, bahkan
timbul komplikasi hingga kematian. Resiko patah tulang bertambah dengan meningkatnya usia. Pada
usia 80 tahun, satu dari tiga wanita dan satu dari lima pria berisiko mengalami patah tulang panggul
atau tulang belakang. Sementara, mulai usia 50 tahun kemungkinan mengalami patah tulang pada
wanita adalah 40%, sedangkan pada pria 13% (Tandra, 2009).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, kami menyimpulkan rumuskan masalah dari makalah yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan osteoporosis?
2. Hubungan Nutrisi dengan Osteoporosis
3. Apa penyebab osteoporosis?
4. Bagaimana patofisiologi osteoporosis?
5. Apa tanda dan gejala osteoporosis?

2

C. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Gizi yang diberikan oleh dosen dan untuk
menambah wawasan ilmu bagi penulis, serta teman-teman yang membacanya.

b. Tujuan Khusus
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui pengertian osteoporosis.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui penyebab osteoporosis yang berhubungan
dengan gizi.
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi osteoporosis.
4. Agar mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala osteoporosis.

D. Manfaat Penulisan
a. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa.
b. Mendeteksi kemungkinan adanya osteoporosis

E. Metode Penulisan
Metode pengumpulan data yang kami gunakan yaitu dengan metode kepustakaan, yaitu
dengan membaca, dan mengutip dari beberapa buku serta, serta menggunakan media internet untuk
membandingkan materi yang ada di media internet dengan buku yang kami ambil dalam penyusunan
makalah ini sesuai dengan judul yang kami tulis.










3

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Osteoporosis

Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan porous artinya
berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit yang
mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-
arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang
(Tandra, 2009).
Menurut WHO pada International Consensus Development Conference (1992) osteoporosis
adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan
mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan
akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan resiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).
Menurut National Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis adalah kelainan kerangka,
ditandai dengan kekuatan tulang yang mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko
patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu densitas
tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007).
Pembentukan tulang paling cepat terjadi pada usia akil balig atau pubertas, ketika tulang
menjadi makin besar, makin panjang, makin tebal, dan makin padat yang akan mencapai puncaknya
pada usia sekitar 25-30 tahun. Berkurangnya massa tulang mulai terjadi setelah usia 30 tahun, yang
akan makin bertambah setelah diatas 40 tahun, dan akan berlangsung terus dengan bertambahnya
usia, sepanjang hidupnya. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya penurunan massa tulang yang
berakibat pada osteoporosis (Tandra, 2009).

2.2 Jenis Osteoporosis
Bila disederhanakan, terdapat dua jenis osteoporosis, yaitu osteoporosis primer dan sekunder:
1. Osteoporosis primer adalah kehilangan massa tulang yang terjadi sesuai dengan proses
penuaan, sedangkan osteoporisis sekunder didefinisikan sebagai kehilangan massa tulang
4

akibat hal hal tertentu. Sampai saat ini osteoporosis primer masih menduduki tempat utama
karena lebih banyak ditemukan dibanding dengan osteoporosis sekunder. Proses ketuaan
pada wanita menopause dan usia lanjut merupakan contoh dari osteoporosis primer.
2. Osteoporisis sekunder mungkin berhubungan dengan kelainan patologis tertentu termasuk
kelainan endokrin, efek samping obat-obatan, immobilisasi, Pada osteoporosis sekunder,
terjadi penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk menimbulkan fraktur traumatik
akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan steroid, artritis reumatoid, kelainan hati/ginjal
kronis, sindrom malabsorbsi, mastositosis sistemik, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme,
varian status hipogonade, dan lain-lain.
2.3 Etiologi
Ada beberapa penyebab osteoporosis:
1. Osteoporosis Pascamenopause
Terjadi karena kurangnya hormon estrogen (hormon utama pada wanita), yang
membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tulang. Biasanya gejala timbul pada
perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih
lambat. Hormon estrogen produksinya mulai menurun 2-3 tahun sebelum menopause dan
terus berlangsung 3-4 tahun setelah menopause. Hal ini berakibat menurunnya massa tulang
sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause.

2. Osteoporosis Senilis
Kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan
usia dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan
tulang baru (osteoblas). Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut.
Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang berusia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering
menyerang wanita. Wanita sering kali menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause.

3. Osteoporosis Sekunder
Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang
disebabkan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal
ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) serta obat-obatan
5

(misalnya kortikosteroid, barbiturat, antikejang, dan hormon tiroid yang berlebihan).
Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok dapat memperburuk keadaan ini.

4. Osteoporosis juvenil idiopatik
Merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Hal ini terjadi pada
anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar
vitamin yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang ( Junaidi,
2007).

2.4 Hubungan Osteoporosis dengan Zat Gizi atau Nutrisi
Zat gizi ( Nutrients ) merupakan ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk
melakukan fungsinya ( menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta
mengatur proses-proses kehidupan ). Nutrisi atau gizi adalah subtansi organik yang dibutuhkan
organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pemeliharaan kesehatan ( id. Wikipedia ).
Pada dasarnya, nilai asupan nutrisi seseorang dengan kemungkinan untuk terjadinya
osteoporosis pada dirinya merupakan sesuatu yang memiliki ikatan yang sangat erat sekali.
Artinya, jika kita tidak memberi asupan nutrisi yang tepat baik dan tepat untuk mengatasi
masalah osteoporosis baik yang berbentuk makanan, minuman maupun siplemen,maka kita
tanpa sadar telah menempatkan diri kita pada suatu posisi yang beresiko besar untuk
mengalami osteoporosis.
Banyak zat gizi yang diperlukan tulang dalam rangka mencegah terjadinya keropos
tulang atau osteoporosis, diantaranya adalah:
Kalsium
Total rata-rata banyaknya kalsium pada tubuh manusia dewasa kurang lebih mencapai
1 kg, dimana 99% terdapat pada tulang dan gigi, lalu 1% sisanya ada pada cairan tubuh dan
aliran darah. Dengan total tersebut dan merupakan pembentuk utama tulang, kalsium sangat
dibutuhkan untuk mencegah terjadinya osteoporosis, yaitu untuk menjaga kepadatan dan massa
tulang.



6

Fosfor
Kurang lebih 85% fosfor di dalam tubuh terdapat sebagai garam kalsium fosfat, yaitu
bagian dari kristal hidroksiapatit di dalam tulang dan gigi yang tidak dapat larut. Hidroksipatit
memberi kekuatan dan kekakuan pada tulang. Fosfor di dalam tulang berada dalam
perbandingan 1:2 dengan kalsium. Oleh karena itulah, fosfor sangat penting untuk tulang.
Fosfor berungsi untuk klasifikasi tulang dan gigi yang diawali dengan pengendapan fosfor
pada matriks tulang. Kekurangan fosfor menyebabkan peningkatan enzim fosfatase yang
diperlukan untuk melepas fosfor dari jaringan tubuh ke dalam darah agar diperoleh
perbandingan kalsium terhadap fosfor yang sesuai untuk pertumbuhan tulang.

Vitamin D
Vitamin D merupakan prohormon steroid. Dalam sistem rangka, vitamin ini berguna
untuk metabolisme kalsium, yang menjadi komponen utama pembentuk tulang. Kalsium yang
diserap oleh usus, apabila tersedia di dalam jumlah yang banyak akan langsung diedarkan ke
pembuluh darah melalui proses difusi. Namun, apabila jumlah kalsium yang tersedia hanya
sedikit maka metabolisme kalsium akan dilakukan melalui proses transport aktif. Di dalam
proses transport aktif, kalsium harus dibantu oleh vitamin D. Itulah mengapa kita memerlukan
vitamin D untuk kesehatan tulang.

Vitamin K
Vitamin K dapat meningkatkan kepadatan tulang sehingga terbentuk struktur rangka
tubuh yang kuat. Vitamin K juga dapat menurunkan risiko terkena osteoporosis. Di dalam
tulang, vitamin K ini akan membantu senyawa osteokals yang berperan dalam penyerapan
mineral untuk membentuk stuktur tulang yang kuat. Osteoklas sendiri diproduksi oleh
osteoblas, kumpulan sel pembentuk tulang.

2.5 Faktor Resiko

Osteoporosis dapat menyerang setiap orang dengan faktor risiko yang berbeda. Faktor
risiko Osteoporosis dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang tidak dapat dikendalikan dan yang
dapat dikendalikan. Berikut ini faktor risiko osteoporosis yang tidak dapat dikendalikan:

7

1. Jenis kelamin
Kaum wanita mempunyai faktor risiko terkena osteoporosis lebih besar dibandingkan
kaum pria. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya
dalam tubuh sejak usia 35 tahun.
2. Usia
Semakin tua usia, risiko terkena osteoporosis semakin besar karena secara alamiah
tulang semakin rapuh sejalan dengan bertambahnya usia. Osteoporosis pada usia lanjut
terjadi karena berkurangnya massa tulang yang juga disebabkan menurunnya kemampuan
tubuh untuk menyerap kalsium.
3. Ras
Semakin terang kulit seseorang, semakin tinggi risiko terkena osteoporosis. Karena
itu, ras Eropa Utara (Swedia, Norwegia, Denmark) dan Asia berisiko lebih tinggi terkena
osteoporosis dibanding ras Afrika hitam. Ras Afrika memiliki massa tulang lebih padat
dibanding ras kulit putih Amerika. Mereka juga mempunyai otot yang lebih besar sehingga
tekanan pada tulang pun besar. Ditambah dengan kadar hormon estrogen yang lebih tinggi
pada ras Afrika.
4. Pigmentasi dan tempat tinggal
Mereka yang berkulit gelap dan tinggal di wilayah khatulistiwa, mempunyai risiko
terkena osteoporosis yang lebih rendah dibandingkan dengan ras kulit putih yang tinggal di
wilayah kutub seperti Norwegia dan Swedia.
5. Riwayat keluarga
Jika ada nenek atau ibu yang mengalami osteoporosis atau mempunyai massa tulang
yang rendah, maka keturunannya cenderung berisiko tinggi terkena osteoporosis.
6. Sosok tubuh
Semakin mungil seseorang, semakin berisiko tinggi terkena osteoporosis. Demikian
juga seseorang yang memiliki tubuh kurus lebih berisiko terkena osteoporosis dibanding
yang bertubuh besar.
7. Menopause
Wanita pada masa menopause kehilangan hormon estrogen karena tubuh tidak lagi
memproduksinya. Padahal hormon estrogen dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan
mempertahankan massa tulang. Semakin rendahnya hormon estrogen seiring dengan
8

bertambahnya usia, akan semakin berkurang kepadatan tulang sehingga terjadi pengeroposan
tulang, dan tulang mudah patah. Menopause dini bisa terjadi jika pengangkatan ovarium
terpaksa dilakukan disebabkan adanya penyakit kandungan seperti kanker, mioma dan
lainnya. Menopause dini juga berakibat meningkatnya risiko terkena osteoporosis.

Berikut ini faktorfaktor resiko osteoporosis yang dapat dikendalikan. Faktor-faktor ini
biasanya berhubungan dengan kebiasaan dan pola hidup.
1. Aktivitas fisik
Seseorang yang kurang gerak, kurang beraktivitas, otot-ototnya tidak terlatih dan
menjadi kendor. Otot yang kendor akan mempercepat menurunnya kekuatan tulang. Untuk
menghindarinya, dianjurkan melakukan olahraga teratur minimal tiga kali dalam seminggu
(lebih baik dengan beban untuk membentuk dan memperkuat tulang).
2. Kurang kalsium
Kalsium penting bagi pembentukan tulang, jika kalsium tubuh kurang maka tubuh
akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk
yang ada di tulang. Kebutuhan akan kalsium harus disertai dengan asupan vitamin D yang
didapat dari sinar matahari pagi, tanpa vitamin D kalsium tidak mungkin diserap usus
(Suryati, 2006).
3. Merokok
Para perokok berisiko terkena osteoporosis lebih besar dibanding bukan perokok.
Telah diketahui bahwa wanita perokok mempunyai kadar estrogen lebih rendah dan
mengalami masa menopause 5 tahun lebih cepat dibanding wanita bukan perokok. Nikotin
yang terkandung dalam rokok berpengaruh buruk pada tubuh dalam hal penyerapan dan
penggunaan kalsium. Akibatnya, pengeroposan tulang/osteoporosis terjadi lebih cepat.
4. Minuman keras/beralkohol
Alkohol berlebihan dapat menyebabkan luka-luka kecil pada dinding lambung. Dan
ini menyebabkan perdarahan yang membuat tubuh kehilangan kalsium (yang ada dalam
darah) yang dapat menurunkan massa tulang dan pada gilirannya menyebabkan osteoporosis.
5. Minuman soda
Minuman bersoda (softdrink) mengandung fosfor dan kafein (caffein). Fosfor akan
mengikat kalsium dan membawa kalsium keluar dari tulang, sedangkan kafein meningkatkan
9

pembuangan kalsium lewat urin. Untuk menghindari bahaya osteoporosis, sebaiknya
konsumsi soft drink harus dibarengi dengan minum susu atau mengonsumsi kalsium ekstra
(Tandra, 2009).
6. Stres
Kondisi stres akan meningkatkan produksi hormon stres yaitu kortisol yang
diproduksi oleh kelenjar adrenal. Kadar hormon kortisol yang tinggi akan meningkatkan
pelepasan kalsium kedalam peredaran darah dan akan menyebabkan tulang menjadi rapuh
dan keropos sehingga meningkatkan terjadinya osteoporosis.
7. Bahan kimia
Bahan kimia seperti pestisida yang dapat ditemukan dalam bahan makanan (sayuran
dan buah-buahan), asap bahan bakar kendaraan bermotor, dan limbah industri seperti
organoklorida yang dibuang sembarangan di sungai dan tanah, dapat merusak sel-sel tubuh
termasuk tulang. Ini membuat daya tahan tubuh menurun dan membuat pengeroposan tulang
(Waluyo, 2009).

2.6 Tanda dan Gejala
Penyakit osteoporosis sering disebut sebagai silent disease karena proses kepadatan
tulang berkurang secara perlahan (terutama pada penderita osteoporosis senilis) dan
berlangsung secara progresif selama bertahun-tahun tanpa kita sadari dan tanpa disertai
adanya gejala.

Gejala-gejala baru timbul pada tahap osteoporosis lanjut, seperti:
a. Patah tulang
b. Punggung yang semakin membungkuk
c. Hilangnya tinggi badan
d. Nyeri punggung

Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi hancur, maka akan
timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Hancurnya tulang belakang menyebabkan nyeri
punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami hancur secara spontan atau
karena cedera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu
dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh,
10

daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara
bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan.
Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang
abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan ketegangan otot dan
sakit. Tulang lainnya bisa patah, yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau
karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Hal
yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya
dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Selain itu, pada penderita
osteoporosis, patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan.

2.7 Manifestasi Klinis
Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Ciri-ciri khas nyeri akibat fraktur
kompressi pada vertebra adalah:
* Nyeri timbul mendadak
* Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yang terserang
* Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur
* Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan dan akan bertambah oleh karena melakukan
aktivitas
* Deformitas vertebra thorakalis terjadi penurunan tinggi badan

2.8 Patofisiologi
Penyebab pasti dari osteoporosis belum diketahui, kemungkinan pengaruh dari
pertumbuhan aktifitas osteoklas yang berfungsi bentuk tulang. Jika sudah mencapai umur 30
tahun struktur tulang sudah tidak terlindungi karena adanya penyerapan mineral tulang.
Dalam keadaan normal terjadi proses yang terus menerus dan terjadi secara seimbang yaitu
proses resorbsi dan proses pembentukan tulang (remodelling). Setiap ada perubahan dalam
keseimbangan ini, misalnya proses resorbsi lebih besar dari proses pembentukan, maka akan
terjadi penurunan massa tulang
Proses konsolidasi secara maksimal akan dicapai pada usia 30-35 tahun untuk tulang
bagian korteks dan lebih dini pada bagian trabekula. Pada usia 40-45 tahun, baik wanita
maupun pria akan mengalami penipisan tulang bagian korteks sebesar 0,3-0,5 %/tahun dan
bagian trabekula pada usia lebih muda.
11

Pada pria seusia wanita menopause mengalami penipisan tulang berkisar 20-30 % dan
pada wanita 40-50 %. Penurunan massa tulang lebih cepat pada bagian-bagian tubuh seperti
metakarpal, kolum femoris, dan korpus vertebra. Bagian-bagian tubuh yg sering fraktur
adalah vertebra, paha bagian proksimal dan radius bagian distal.

2.9 Penatalaksanaan
Pencegahan penyakit osteoporosis sebaiknya dilakukan pada usia muda maupun masa
reproduksi. Berikut ini hal-hal yang dapat mencegah osteoporosis, yaitu:
1. Asupan kalsium cukup
Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan dengan
mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum 2 gelas susu dan vitamin D setiap hari, bisa
meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumya tidak
mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya konsumsi kalsium setiap hari. Dosis yang dianjurkan
untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari, sedangkan untuk lansia 1200 mg per
hari. Kebutuhan kalsium dapat terpenuhi dari makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti
ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju dan kacang-kacangan.

2. Paparan sinar matahari
Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang
dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Berjemurlah dibawah sinar
matahari selama 20-30 menit, 3x/minggu. Sebaiknya berjemur dilakukan pada pagi hari
sebelum jam 9 dan sore hari sesudah jam 4. Sinar matahari membantu tubuh menghasilkan
vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang (Ernawati, 2008).

3. Melakukan olahraga dengan beban
Selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat berfungsi
sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olahraga beban misalnya senam
aerobik, berjalan dan menaiki tangga. Olahraga yang teratur merupakan upaya pencegahan
yang penting. Tinggalkan gaya hidup santai, mulailah berolahraga beban yang ringan,
kemudian tingkatkan intensitasnya. Yang penting adalah melakukannya dengan teratur dan
benar. Latihan fisik atau olahraga untuk penderita osteoporosis berbeda dengan olahraga
untuk mencegah osteoporosis.
12

Latihan yang tidak boleh dilakukan oleh penderita osteoporosis adalah sebagai berikut:
Latihan atau aktivitas fisik yang berisiko terjadi benturan dan pembebanan pada
tulang punggung. Hal ini akan menambah risiko patah tulang punggung karena ruas
tulang punggung yang lemah tidak mampu menahan beban tersebut. Hindari
latihan berupa lompatan, senam aerobik dan joging.
Latihan atau aktivitas fisik yang mengharuskan membungkuk kedepn dengan punggung
melengkung. Hal ini berbahaya karena dapat mengakibatkan cedera ruas tulang belakang.
Juga tidak boleh melakukan sit up, meraih jari kaki, dan lain-lain.
Latihan atau aktivitas fisik yang mengharuskan menggerakkan kaki kesamping atau
menyilangkan dengan badan, juga meningkatkan risiko patah tulang, karena tulang
panggul dalam kondisi lemah.

Berikut ini latihan olahraga yang boleh dilakukan oleh penderita osteoporosis :
Jalan kaki secara teratur, karena memungkinkan sekitar 4,5 km/jam selama 50 menit,
lima kali dalam seminggu. Ini diperlukan untuk mempertahankan kekuatan tulang. Jalan
kaki lebih cepat (6 km/jam) akan bermanfaat untuk jantung dan paru-paru.
Latihan beban untuk kekuatan otot, yaitu dengan mengangkat dumbble kecil untuk
menguatkan pinggul, paha, punggung, lengan dan bahu.
Latihan untuk meningkatkan keseimbangan dan kesigapan.
Latihan untuk melengkungkan punggung ke belakang, dapat dilakukan dengan duduk
dikursi, dengan atau tanpa penahan. Hal ini dapat menguatkan otot-otot yang menahan
punggung agar tetap tegak, mengurangi kemungkinan bengkok, sekaligus memperkuat
punggung.

Untuk pencegahan osteoporosis, latihan fisik yang dianjurkan adalah latihan fisik yang
bersifat pembebanan, terutama pada daerah yang mempunyai risiko tinggi terjadi
osteoporosis dan patah tulang. Jangan lakukan senam segera sesudah makan. Beri waktu
kira-kira 1 jam perut kosong sebelum mulai dan sesudah senam.Dianjurkan untuk berlatih
senam tiga kali seminggu, minimal 20 menit dan maksimal 60 menit. Sebaiknya senam
dikombinasikan dengan olahraga jalan secara bergantian, misalnya hari pertama senam, hari
13

kedua jalan kaki, hari ketiga senam, hari keempat jalan kaki, hari kelima senam, hari keenam
dan hari ketujuh istirahat.
Jalan kaki merupakan olahraga yang paling mudah, murah dan aman, serta sangat
bermanfaat. Gerakannya sangat mudah dilakukan, melangkahkan salah satu kaki kedepan
kaki yang lain secara bergantian. Lakukanlah jalan kaki 20-30 menit, paling sedikit tiga kali
seminggu.dianjurkan berjalan lebih cepat dari biasa, disertai ayunan lengan.

Setiap latihan fisik harus diawali dengan pemanasan untuk:
Menyiapkan otot dan urat agar meregang secara perlahan dan mantap sehingg mencegah
terjadinya cedera.
Meningkatkan denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh sedikit demi sedikit.
Menyelaraskan koordinasi gerakan tubuh dengan keseimbangan gerak dan
Menimbulkan rasa santai.

Lakukan selama 10 menit dengan jalan ditempat, gerakan kepala, bahu, siku dan
tangan, kaki, lutut dan pinggul. Kemudian lakukan peregangan selama kira-kira 5 menit.
Latihan peregangan akan menghasilkan selama kira-kira 5 menit. Latihan peregangan akan
menghasilkan kelenturan otot dan kemudahan gerakan sendi.
Latihan ini dilakukan secara berhati-hati dan bertahap, jangan sampai menyebabkan
cedera. Biasanya dimulai dengan peregangan otot-otot lengan, dada, punggung, tungkai atas
dan bawah, serta otot-otot kaki. Latihan inti, kira-kira 20 menit, merupakan kumpulan gerak
yang bersifat ritmis atau berirama agak cepat sehingga mempunyai nilai latihan yang
bermanfaat. Utamakan gerakan, tarikan dan tekanan pada daerah tulang yang sering
mengalami osteoporosis, yaitu tulang punggung, tulang paha, tulang panggul dan tulang
pergelangan tangan.
Kemudian lakukan juga latihan beban. Dapat dibantu dengan bantal pasir, dumbble,
atau apa saja yang dapat digenggam dengan berat 300-1000 gram untuk 1 tangan, mulai
dengan beban ringan untuk pemula, dan jangan melebihi 1000 gram. Beban untuk tulang
belakang dan tungkai sudah cukup memdai dengan beban dari tubuh itu sendiri.
Setelah latihan inti harus dilakukan pendinginan dengan memulai gerakan peregangan
seperti awal pemanasan dan lakukan gerakan menarik napas atau ambil napas dan buang
napas secara teratur. Jika masih memungkinkan. Lakukan senam lantai kira-kira 10 menit.
14

Latihan ini merupakan gabungan peregangan, penguatan dan koordinasi. Lakukan dengan
lembut dan perlahan dalam posisi nyaman, rileks dan napas yang teratur (Santoso, 2009).

4. Hindari rokok dan minuman beralkohol
Menghentikan kebiasaan merokok merupakan upaya penting dalam mengurangi
faktor risiko terjadinya osteoporosis. Terlalu banyak minum alkohol juga bisa merusak
tulang.

5. Deteksi dini osteoporosis
Karena osteoporosis merupakan suatu penyakit yang biasanya tidak diawali dengan
gejala, maka langkah yang paling penting dalam mencegah dan mengobati osteoporosis
adalah pemeriksaan secara dini untuk mengetahui apakah kita sudah terkena osteoporosis
atau belum, sehingga dari pemeriksaan ini kita akan tahu langkah selanjutnya.
Teknik Mengukur Kepadatan Tulang :
Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengukur kepadatan mineral tulang adalah
sebagai berikut (Nissl, 2004) :
Dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA), Peripheral dual-energy X-ray absorptiometry
(P-DEXA), Dual photon absorptiometry (DPA), Ultrasounds, Quantitative computed
tomography (QCT).













15

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Osteoporosis adalah kelainan kerangka, ditandai dengan kekuatan tulang yang
mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko patah tulang. Sedangkan kekuatan
tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu densitas tulang dan kualitas tulang.

Pengurangan massa tulang yang berlangsung dalam jaringan sel tulang tentu tidak
dapat dilihat dengan mata telanjang, tentunya harus ada pemeriksaan sebagai penunjang untuk
mengetahui suatu penyakit melalui pemeriksaan radiology ataupun pemeriksaan dengan
menggunakan alat yang dinamakan Densitometri, kelainan ini akan terlihat jelas.

Proses penurunan massa tulang ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti: usia, ras,
berat badan, nutrisi, pola hidup, obat-obatan tertentu, penyakit tertentu, hormon dan genetik.
Akan tetapi yang paling sering dan paling banyak dijumpai adalah osteoporosis oleh karena
bertambahnya usia terutama pada wanita. Sampai saat ini pemeriksaan yang dapat
mendiagnosis pasti dengan akurasi yang tinggi adalah pemeriksaan Bone Densitomtry
misalnya DEXA.

3.2 Saran
Untuk lebih memahami semua materi tentang Hubungan Nutrisi dengan Osteoporosis
ini, disarankan para pembaca mencari referensi lain yang berkaitan dengan materi pada
makalah ini. Selain itu, diharapkan para pembaca dapat mengetahui dan mengerti pengertian
Osteoporosis dan Hubungannya denganNutrisi atau Gizi dalam olahraga sehingga para
pembaca diharapkan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan.




16

DAFTAR PUSTAKA


Brunner, Suddarth, (2001) Buku Ajar Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 3, EGC :
Jakarta.
Doenges, Marilynn E, dkk, (2000), Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan,
EGC: Jakarta.

http://wwwduniakeperawatan.blogspot.com/2013/01/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
www.google.com, diakses pada 28 Maret 2014 Pukul: 20:17:35

Anda mungkin juga menyukai