Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Crustacea (baca: krustasea) adalah suatu kelompok besar dari arthropoda,
terdiri dari kurang lebih 52.000 spesies yang terdeskripsikan, dan biasanya
dianggap sebagai suatu subfilum Kelompok ini mencakup hewan-hewan yang
cukup dikenal seperti lobster, kepiting, udang, udang karang, serta teritip
]
.
Mayoritas merupakan hewan air, baik air tawar maupun laut, walaupun beberapa
kelompok telah beradaptasi dengan kehidupan darat, seperti kepiting darat
Kebanyakan anggotanya dapat bebas bergerak, walaupun beberapa takson bersifat
parasit dan hidup dengan menumpang pada inangnya.
Tubuh Crustacea terdiri atas dua bagian, yaitu kepala dada yang menyatu
(sefalotoraks) dan perut atau badan belakang (abdomen).

Bagian sefalotoraks
dilindungi oleh kulit keras yang disebut karapas dan 5 pasang kaki yang terdiri dari
1 pasang kaki capit (keliped) dan 4 pasang kaki jalan. Selain itu, di sefalotoraks
juga terdapat sepasang antena, rahang atas, dan rahang bawah. Sementara pada
bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan di bagian ujungnya terdapat
ekor. Pada udang betina, kaki di bagian abdomen juga berfungsi untuk menyimpan
telurnya. Sistem pencernaan Crustacea dimulai dari mulut, kerongkong, lambung,
usus, dan anus. Sisa metabolisme akan diekskresikan melalui sel api. Sistem saraf
Crustacea disebut sebagai sistem saraf tangga tali, dimana ganglion kepala (otak)
terhubung dengan antena (indra peraba), mata (indra penglihatan), dan statosista
(indra keseimbangan). Hewan-hewan Crustacea bernapas dengan insang yang
melekat pada anggota tubuhnya dan sistem peredaran darah yang dimilikinya
adalah sistem peredaran darah terbuka. O2 masuk dari air ke pembuluh insang,
sedangkan CO
2
berdifusi dengan arah berlawanan. O
2
ini akan diedarkan ke
seluruh tumbuh tanpa melalui pembuluh darah. Golongan hewan ini bersifat diesis
(ada jantan dan betina) dan pembuahan berlangsung di dalam tubuh betina
(fertilisasi internal). Untuk dapat menjadi dewasa, larva hewan akan mengalami
pergantian kulit (ekdisis) berkali-kali.



2

1.2 Rumusan Masalah
a. Apa definisi Phylum Crustacea?
b. Bagaimana morfologi Crustacea?
c. Bagaimana fisiologi Crustacea?
d. Bagaimana klasifikasi dari Crustacea a?
e. Bagaimana peranan Crustacea?

1.3 Tujuan Masalah
a. Agar mahasiswa mengetahui definisi Crustacea
b. Agar mahasiswa dapat mengetahui morfologi Crustacea
c. Agar mahasiswa dapat mengetahui fisiologi Crustacea
d. Agar mahasiswa mengetahui klasifikasi dari Crustacea
e. Agar mahasiswa mengetahui bagaimana peranan Crustacea




















3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Crustacea
Dalam bahasa Latin, crusta berarti cangkang. Sehingga Crustacea disebut
juga hewan bercangkang. Crustacea telah dikenal kurang lebih 26.000 jenis. Jenis
crustacea yang paling umum adalah udang dan kepiting. Habitatnya sebagian besar
di air tawar dan air laut, hanya sedikit yang hidup di darat. Filum crustacea adalah
suatu kelompok besar dari arthropoda, terdiri dari kurang lebih 52.000 spesies yang
terdeskripsikan, dan biasanya dianggap sebagai suatu subfilum. Kelompok ini
mencakup hewan-hewan yang cukup dikenal seperti lobster, kepiting, udang, udang
karang, serta teritip. Mayoritas merupakan hewan akuatik, hidup di air tawar atau
laut, walaupun beberapa kelompok telah beradaptasi dengan kehidupan darat,
seperti kepiting darat. Mayoritas crustacean dapat bebas bergerak, walaupun
beberapa takson bersifat parasit dan hidup dengan menumpang pada inangnya.
Crustacean yang hidup dilaut sebagian besar merupakan zooplankton ukuran tubuh
bervariasi, ada yang kecil (plankton sampai ukuran besar kepiting dan udang.
2.2 Morfologi Crustacea
2.2.1 Struktur Tubuh

Crustacea merupakan hewan yang memiliki anggota badan bersendi-
sendi sehingga ada yang menggolongkannya ke dalam filum artrhopoda (artrhos
=sambungan , podos = kaki) atau hewan yang memiliki kaki-kaki di bagian sendi-
sendi tubuhnya. Selain itu memiliki kulit yang keras (crusta= kulit keras). Ada juga
yang berkulit tebal dan berduri yang berfungsi untuk menghindari predator.
Crustacea memiliki tubuh bersegmen (beruas) dan terdiri dari
cephalotoraks (kepala dan dada menjadi satu) serta abdomen (perut).Pada bagian
anterior (ujung depan), Crustacea memiliki tubuh yang besar dan lebih lebar,
sedangkan pada bagian posterior (ujung belakang) memiliki tubuh yang kecil.
Crustacea merupakan hewan yang hidup di perairan baik di perairan darat maupun
perairan laut. Kebanyakan jenis dari Crustacea tingkat rendah didominasi oleh
plankton laut dan tawar. Copepoda, krill, dan rebon merupakan salah satu contoh
4

Crustacea yang memiliki peran penting dalam rantai makanan di perairan, yaitu
sebagai penghubung antara fitoplankton dengan predator.
Tubuh Crustacea dibagi ke dalam dua bagian, bagian depan
cephalotoraks dan bagian belakang abdomen yang bersendi-sendi. Tiap ruas tubuh
memiliki apendik (anggota badan) yang dalam pertumbuhannya akan mengalami
nerevolusi sesuai dengan fungsinya. Pada permukaan luar tubuhnya ditutupi oleh
cuticula yang terbuat dari chitin keras yang disebabkan impregnasi atau meresapnya
dengan garam-garam kapur. Pada bagian cephalotoraks biasanya tertutup oleh
karapak yang mengandung pigmen dan zat kapur dan menjulur hingga ke depan
diantara dua mata.
Pada bagian kepala Crustacea dewasa memiliki sepasang antena
pertama (antenula), sepasang antena kedua (antenna), sepasang mandibula, dan
dua pasang maksilla yang membantu proses makan. Pada bagian dada terdiri dari
delapan segmen dan memiliki tiga pasang maksiliped, sepasang cheliped, dan
empat pasang periopod (kaki jalan). Pada bagian abdomen terdiri dari enam segmen
dan memiliki lima pasang pleopod (kaki renang) dan sepasang uropod. Pada udang
jantan, pasangan pleopod 1 dan 2 bersatu (gonopod) yang berfungsi untuk
menyalurkan spermatozoa. Pada udang betina, di bagian segmen ke-11 terdapat
penebalan lubang kelamin yang disebut thelycum. Berikut adalah fungsi masing-
masing lima buah pleopod pada udang jantan dan betina:
Pleopod 1 : pada udang betina berfungsi untuk mereduksi, sedangkan pada
udang jantan berfungsi untuk memindahkan spermatophor kepada betina.
Pleopod 2 : pada udang betina berfungsi untuk melekatkan telur dan anak-
anaknya yang masih muda, sedangkan pada udang jantan berfungsi untuk
memindahkan spermatophor kepada yang betina.
Pleopod 3, 4, dan 5 : pada udang betina berfungsi untuk melekatkan telur dan
anak-anaknya yang masih muda, sedangkan pada udang jantan berfungsi untuk
menimbulkan aliran air .

5



Gambar 1. Struktur tubuh Crustacea

2.2.2 Organ dalam tubuh

Organ dalam Crustacea bisa dikatakan sudah lengkap. Di dalam tubuh
Crustacea terdapat sistem-sistem yang sudah kompleks. Sistem-sistem tersebut
adalah sistem pencernaan, sistem pernafasan, sistem ekskresi, sistem reproduksi,
dan sistem peredaran darah. Pada sistem pencernaan terdapat mulut, esofagus,
kelenjar pencernaan, usus halus, dan anus. Pada sistem pernafasan terdapat insang
atau seluruh permukaan tubuh. Pada sistem reproduksi terdapat testis atau ovarium
serta gonopod. Pada sistem peredaran darah terdapat jantung yang membentuk
sistem peredaran darah terbuka. Pada sistem syaraf terdapat ganglion dan otak
yang berfungsi mengatur seluruh sistem.



Gambar 2. bagian dalam tubuh Crustacea




6


2.3 Fisiologi Crustacea
2.3.1 Sistem Pencernaan
Crustacea memiliki alat pencernaan yang lengkap. Alat pencernaannya yaitu
mulut yang terletak di bagian anterior, esophagus, lambung, usus dan anus terletak
di bagian posterior. Hewan ini juga memiliki kelenjar pencernaan atau hati di bagian
chepalotoraks. Sisa hasil metabolisme dibuang melalui anus, selain itu juga dibuang
melalui alat ekskresi yang disebut kelenjar hijau yang terletak di dalam kepala.
Crustacea memiliki cara makan yang beraneka ragam yaitu dengan filter
feeder, pemakan bangkai, herbivora, karnivora, dan parasit. Filter feeder dalam
menyaring air untuk mendapatkan makanan hal ini menyebabkan mandibel (rahang)
dan antenna akan berubah (berevolusi) sesuai dengan fungsinya yaitu mulut untuk
menyring air dan antenna untuk melacak makanan pada air). Pada Crustacea
pemakan bangkai, herbivore, dan karnivora memiliki bagian tubuh yang berfungsi
untuk mencengkram atau mengambil makanan, misalya maksilla mandible yang
berfungsi untuk memegang, menggigit, dan menggiling makanan.
Biasanya Crustacea aktif di malam hari, pada waktu itu mereka
meninggalakan tempat persembunyiannya untuk mencari makanan. Jenis yang
hidup di perairan dangkal akan menuju terumbu karang, sedangkan yang hidup di
perairan agak dalam akan berkeliaran disekitar tempat persenmbunyiannya untuk
mencari makan.

2.3.2 Sistem Peredaran darah
Sistem peredaran darah pada Crustacea disebut sistem peredaran darah
terbuka (haemocoelic). Hal ini berarti bahwa darah beredar tanpa melalui pembuluh
darah, sehingga terjadi kontak langsung antara darah dan jaringan. Sistem
peredaran darah ini menyebabkan hilangnya rongga tubuh, karena darah memenuhi
celah antar jaringan dan organ tubuh yang disebut homocoel (rongga tubuh yang
dipenuhi darah). Rongga tubuhnya hanya pada rongga ekskresi dan organ
perkembangbiakan.
Letak jantung dari Crustacea biasanya terdapat di bagian dorsal toraks atau
di sepanjang badan. Darah keluar dari jantung melalui sebuah aorta anterior, arteri
abdomen posterior, beberapa arteri lateral dan sebuah arteri ventral. Beberapa
7

Crustacea tidak mempunyai sistem arteri. Pada kebanyakan Malakostraca terdapat
jantung tambahan (accessory heart) atau pompa darah untuk menaikan tekanan
darah.

2.3.3 Sistem Ekskresi
Organ ekskresi yang dimiliki oleh Crustacea berupa kelenjar antenna atau
kelenjar maksilla. Hasil buangannya berupa ammonia dan sedikit urea serta asam
urat selai itu terdapat banyak amina. Organ ekskresi Crustacea terdiri atas sebuah
kantong ujung dan saluran ekskresi yang berhubungan dengan bladder. Kelenjar
antenna dan kelenjar maksilla juga menjadi saluran pembuangan sisa metabolisme,
walaupun bukan sebagai saluran utama. Pada Crustacea insang memegang
peranan penting dalam menjaga keseimbangan kadar garam dalam tubuh. Insang
secara aktif mengarbsorbsi garam-garam dari lingkungannya. Pada sumbu insang
biasanya terdapat Mephrocyte atau sel yang mampu mengambil dan mengumpulkan
partikel buangan.

2.3.4 Sistem Reproduksi
Kebanyakan Crustacea memiliki alat reproduksi yang terpisah (dioceous) atau
terdapat individu jantan dan betina, namun pada Crustacea tingkat rendah ada yang
bersifat hermaphrodit. Alat kelamin betina terdapat pada pasangan kaki ketiga dan
alat kelamin jantan terdapat pada pasangan kaki kelima. Namun pada spesies
tertentu ada yang belum dapat diketahui perkembangbiakan dan perkelaminannya.
Gonad biasanya panjang dan sepasang terletak dibagian dorsal toraks dan
atau abdomen. Crustacea bereproduksi dengan mengadakan kopulasi
(pembuahan). Pada proses kopulasi tersebut individu jantan biasanya memiliki
apendiks yang dapat berfungsi untuk memegang betina. Individu jantan akan
meletakan massa spermatoforik di bagian sternum udang betina. Peletakan massa
spermatoforik tersebut berlangsung sebelum telur dikeluarkan. Pembuahan terjadi
saat telur yang dikeluarkan dari celah genital ditarik ke arah abdomen oleh
pasangan kaki kelima betina. Pada waktu telur tertarik ke abdomen, sperma keluar
dari massa spermatoforik yang tersobek sehingga terjadi pembuahan.
Pembuahan tersebut dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Hal ini
tergantung pada sifat dari spermatoforiknya. Jika spermatoforknya bersifat kental,
pembuahan terjadi secara eksternal. Sedangkan spermatoforik yang bersifat cair
8

memungkinkan untuk masuk ke dalam oviduct (saluran telur) sehingga terjadi secara
internal.
Telur yang sudah menetas akan menjadi nauplius yang planktonis. Naulius
tersebut mempunyai tiga pasang apendik yaitu antenna pertama, antenna kedua
dan mandibula; tubuh belum beruas-ruas; dibagian anterior terdapat mata nauplius.

2.3.5 Sistem Syaraf dan alat indra
Susunan saraf Crustacea adalah tangga tali. Ganglion otak berhubungan
dengan alat indera yaitu antena (alat peraba), statocyst (alat keseimbangan) dan
mata majemuk (facet) yang bertangkai.
Alat indra terdiri atas mata majemuk, bintik mata, statocyst, proproceptor, alat
peraba dan chemoreceptor. Mata majemuk terdapat pada hampir semua spesies
dewasa, biasanya terletak pada ujung tangkai yang dapat digerakkan tetapi
adakalanya sessil. Crustacea dengan mata majemuk yang berkembang baik
mempunyai kemampuan untuk membedakan ukuran dan bentuk tetapi ketajaman
penglihatannya kecil dan gambarnya kasar.
Bintik mata selalu terletak digaris menengah dan khusus terdapat pada
stadium larva nauplius; terdiri atas 3 sampai 4 ocelli berbentuk mangkuk pigmen;
berfungsi untuk mendeteksi cahaya. Bintik mata diperlukan hewan planktonik untuk
menentukan lokasi permukaan air, dan bagi hewan peliang untuk menentukan lokasi
permukaan substrat. Statocyst hanya terdapat pada beberapa kelompok
Malakostraca. Sepasang statocyst biasa terletak pada pangkaal antenul, uropod
atau telson. Propioreceptor merupakan alat indra otot, terdapat pada malacostraca
terutama decapoda. Tiap organ terdiri atas sejumlah sel otot yang mengalami
modifikasi spesial, berperan membantu mengatur kedudukan apendik, semacam
indra gerak yang dirangsang oleh peregangan diantara sel otot, kontraksi otot
diskitarnya. Alat peraba biasanya membentuk bulu-bulu dan tersebar di berbagai
tempat pada permukaan tubuh, terutama apendik. Chemoreceptor merupakn alat
indra untuk mendeteksi zat kimia, terdapat pada kedua pasang antena dan apendik
mulut . Esthetasc berbentuk bulu-bulu indra yang panjang dan lembut merupakan
chemoreseptor yang umum terdapat kebanyakan crustacea.



9

2.3.6 Sistem pernafasan
Pada umumnya Crustacea bernafas dengan insang. Kecuali Crustacea yang
bertubuh sangat kecil bernafas dengan seluruh permukaan tubuhnya. Letak insang
pada malacostraca biasanya terbatas pada apendik thorax. Aliran air kearah insang
umumnya dihasilkan dari gerakan teratur sejumlah apendik. Oksigen dalam
peredaran darah terdapat dalam bentuk larutan sederhana atau terikat pada
hemoglobin atau hemocyanin. Hemocyanin hanya trrdapat pada
malacostraca.Pigmen pernapasan larut dalam plasma, tetapi adakalanya
hemoglobin terdapat dalam otot dan jaringan saraf, bahkan dalam telur beberapa
jenis Crustacea.

2.4 Klasifikasi Crucstacea
2.4.1 Entomostraca (udang tingkat rendah)
Kelompok Entomostraca umumnya merupakan penyusun zooplankton.
Mereka juga dapat digunakan sebagai pakan ikan, seperti : Daphnia sp. sebagai
pakan ikan hias ; Copepoda sebagai pakan ikan laut. Entomostraca dapat dibagi
menjadi 4 ordo yaitu Branchiopoda, Ostracoda, Copepoda, dan Cirripedia.
a) Branchiopoda



Merupakan berbagai kelompok crustacean kecil yang umumnya berukuran
beberapa milliliter, terkecil 250 mikron dan terbesar 10 cm. Mudah dikenal dari
bentuk apendik badan yang lebar dan pipih berfungsi seperti insang sehingga
10

dinamakan brandchiopoda, disamping itu juga untuk menyaring makanan atau
sebagai alat renang. Kelas Branchiopoda dibagi menjadi 4 ordo yaitu Anostraca,
Notostraca, Conchostraca dan Cladocera atas dasar bentuk tubuh, karapas, mata
majemuk, ruas-ruas tubuh dengan apendiknya. Branchiopoda berbeda dengan
crustacean lain karena tidak mempunyai cephalothorax, artinya tidak ada ruas
badan yang tumbuh menyatu dengan kepala.

1. Morfologi
Ruas badan (trunk) yang pertama adalah ruas yang mempunyai sepasang
kaki pertama. Secara morfologis semua ruas badan bentuknya sama. Batas antara
thorax dan abdomen tidak jelas, adakalanya letak gonopore digunakan sebagai
batas. Ruas-ruas di anterior gonopore adalah thorax dan yang di posteriornya
adalah abdomen. Hampir semua branchiopoda hidup diperairan tawar, dan hanya
beberapa spesies dari Cladocera terdapat di laut. Dari keempat ordo tersebut hanya
Cladocera yang penyebarannya luas, terdapat di sungai, kolam besar, dan danau.
Sedangkan anostraca dan notostraca merupakan organisme yang khas di
lingkungan perairan yang tidak lazim seperti kolam kecil, genangan air sementara
pada musim hujan dan danau garam. Hal ini disebabkan oleh kemampuan
organisme tersebut untuk menghasilkan telur dorman (resting eggs) yang
memerlukan waktu istirahat dan dapat bertahan pada suhu tinggi dan kekeringan
bahkan ada yang dapat bertahan sampai 10 tahun. Ordo Anostraca, Notostraca dan
Conchostraca acapkali dikelompokkan sebagai divisi Eubranchiopoda atau
Phyllopoda karena bentuk apendiknya yang lebar dan lembut. Semua anggotanya
mempunyai ruas-ruas tubuh yang jelas dengan jumlah apendik antara 10 sampai 71
pasang. Di ujung posterior terdapat sepasang cercopoda (caudal rami, furca). Dalam
lingkungan yang sesuai populasinya kebanyakan betina, jantan sedikit atau jarang.
Anostraca disebut juga huhurangan atau fairy shrimps mempunyai mata bertangkai;
biasanya terdapat 20 ruas badan atau lebih dengan 11 sampai 19 pasang kaki
renang; tidak mempunyai karapas; antena pertama kecil, uniramus dan tidak beruas-
ruas; antena kedua pada jantan besar dan berfungsi untuk memegang betina pada
waktu kopulasi. Notostraca mempunyai karapas lebar seperti tameng yang menutup
hampir seluruh tubuh, sehingga dari dorsal tampak seperti berudu katak sedangkan
dari ventral seperti udang, sehingga dinamakan tadpole shrimps. Notostraca
mempunyai 35 sampai 71 pasang kaki; mata majemuk sessile; jumlah ruas badan
11

dan jumlah kaki dalam satu spesies tidak tetap; antena kedua kecil sekali atau tidak
ada; pada satu atau dua pasang kaki pertama terdapat beberapa helai rami seperti
benang diduga sebagai alat peraba; kaki ke sebelas pada betina mengalami
modifikasi menjadi semacam kantung untuk mengerami telur. Conchostraca
mempunyai tubuh yang pipih secara leteral dan tertutupdua keping cangkang yang
terbuka dibagian ventral mirip kerang atau remis kecil sehingga disebut clam shrimp;
terdapat sepasang mata majumuk bertangkai; kaki 10 sampai 32 pasang; antenna;
antena kedua panjang, biramus dengan banyak setae; satu atau dua pasang kaki
pertama pada jantan berfungsi seperti tangan dan berkait; betina mengerami telur
dibagian dorsal antara tubuh dan karapas.

2. Fisiologi
Anostraca dan Notostraca berenang dengan lemah gemulai dan anggun,
lambat dan cepat, atau beristirahat di dasar perairan.Kaki yang banyak dan langsing
atau beristirahat di dasar perairan.Kaki yang banyak dan langsing merupakan alat
renang. Anostraca mempunyai kebiasaan berenang terbalik. Notostraca acapkali
merayap atau meliang pada permukaan subtract yang lembut. Pada Conchostraca,
antenna kedua merupakan alat renang utama, sedang kakikaki kurang berperan.
Conchostraca acapkali meliang atau merayap dengan kikuk di permukaan substrat.

a. Makanan dan Cara Makan
Makanan Eubranchiopoda terdiri atas ganggang, bakteri, protozoa, rotifera
danserpihan detritus. Makanan disaring dengan apendik tanpa diseleksi,
dikumpulkan dan digumpalkan dalam alur tengah ventral samping sepanjang badan,
kemudian dialirkan ke anterior terutama mengunakan gnthobase, yaitu bagian dari
pangkal kaki.

b. Reproduksi
Reproduksi aseksual tidak ada. Umumnya berkembang biak secara
parthenogenesis. Namun bagi spesies tertentu pada saat bersamaan terjadi baik
reproduksi secara parthenogenesis maupun singamik terjadi kopulasi dan
pembuahan di dalam. Telur yang telah dibuahi dan telur parthenogenesis dierami
oleh betina selama beberapa hari. Beberapa jenis phyllopoda menghasilkan dua
macam telur, bercangkang tipis yang secara meretas dan telur dorman bercangkang
12

tebal yang tahan panas, dingin maupun kekeringan. Kedua macam telur tersebut
dapat terjadi baik ada jantan maupun tanpa jantan dalam populasi. Perkembangan
embrio dalam telur mulai terjadi selama waktu pengeraman, kemudian dilepas ke air
kelompok demi kelompok dengan selang waktu 2 sampai 6 hari. Telur menetas
menjadi larva nauplius atau metanauplius tergantung spesiesnya.

3. Nilai Ekonomis
Musuh utama phyllopoda adalah amfibi dan beberapa jenis larva serangga air
dan karnivora. Di California pernah terjadi kerusakan tanaman padi oleh Apus (ordo
Notostraca), yang memakan daun padi muda dan terus menerus mengaduk Lumpur
sehingga air mengeruh dan menghalangi fotosintesa. Telur artemia dapat
diperdagangkan karena napliusnya merupakan makanan awal yang baik bagi anak
ikan atau udang dalam usaha pembenihan. Ordo Cladocera dinamakan juga water
flea merupakan satu-satunya ordo dalam divisi Oligobranchipoda. Artinya kaki yang
juga berfungsi seperti insang jumlahnya sedikit, hanya 5 sampai 6 pasang.
Kebanyakan cladocera berukuran 0,2 sampai 3 mm; ruas-ruas tubuh tidak jelas;
biasanya thorax dan abdomen tertutup kerapas yang tampak seperti 2 keping.
Sebenarnya kerapas tersebut bukan dua keeping tetapi hanya satu helai yang
melipat dan terbuka dibagian ventral; bagian ventral kepala tertutup rapat. Bentuk
cangkang dari lateral bervariasi dari bundar, oval, memanjang atau persegi.
Permukaan cangkang acapkali berukir seperti garis-garis, kotak-kotak atau bentuk
lain. Bentuk tubuh cladocera bervariasi selain dari bentuk cangkang atau karapas
yang berbeda, juga oleh perbedaan bentuk antenul, fornix dan ada tidaknya rostrum.
Pada kepala terdapat sebuah mata majemuk dan adakalanya sebuah ocellus,
keduanya berfungsi untuk menentukan arah terhadap sumber cahaya dan intensitas
cahaya. Antenna pertama (antenul) kecil tidak beruas-ruas dan terletak dibagian
ventral kepala, mengandung setae olfaktori (pencium). Antenna kedua besar,
sepasang, masing masing terdiri atas sebuah pangkal ruas yang kuat dan
bercabang dua menjadi sebuah ramus dorsal (ramus superior) dan sebuah ramus
ventral (ramus inferior). Pada setiap ramus terdapat setae berbulu. Formula
setaepada Daphnia ialah 0 0 1 3 / 1 1 3. artinya ramus dorsal terdiri atas 4
ruas, dimana berturut-turut dari ruas pertama sampai keempat terdapat 0, 0, 1 dan 3
helai setae. Ramus ventral ada 3 ruas, pada ruas pertama, kedua dan ketiga
masing-masing terdapat 1, 1, dan 3 helai setae. Antena kedua berfungsi sebagai
13

alat renang, dan cara berenang cladocera sangat khas yaitu tersendat-sendat
(intermittently), tidak mulus dan gemulai seperti branchipoda yang lain. Beberapa
spesies tidak dapat berenang, tetapi merayap karena mereka telah beradaptasi
untuk hidup dan serasah daun yang basah di naungan hutan tropis. Semua kaki
cladocera lebar dan pipih serta dilengkapi banyak rambut dan setae. Biasanya
pasangan kaki pertama dan kedua berfungsi seperti tangan, serta dapat digunakan
untuk berpegang pada substrat. Bentuk abdomen tidak jelas namun dibagian
posterior terdapat post-abdomen yang besar dan dilengkapi 2 helai setae abdominal.
Di ujung post-abdomen terdapat sepasang kuku (claw). Pada tepi kuku biasanya
terdapat sederetan gerigi, digunakan untuk identifikasi spesies. Post-abdomen
berfungsi untuk membersihkan sampah dan kotoran yang menempel pada kaki serta
membantu pergerakan. Spesies daerah limnetik biasanya tidak berwarna atau
merah muda, sedangkan yang didaerah litoral, kolam dangkal dan dasar perairan
berwarna lebih gelap bervariasi dari coklat kekuningan sampai coklat kemerahan,
kelabu bahkan hampir hitam. Pigmentasi terdapat baik pada karapas maupun
jaringan tubuh. Mulut cladocera terletak pada batas antara kepla dan badan.
Makanannya antara lain protozoa, ganggang, detritus organik dan bakteri. Yang
penting adalah ukuran partikel makanan. Makanan disaring dengan setae pada kaki
dan dialirkan ke mulut. Makanan yang ditolak atau ukurannya terlalu besar
disingkarkan dengan duri-duri pada pangkal kaki pertama, kemudian dibuang
menggunakan postabdomen. Beberapa genera seperti Polyphemus dan Leptodora
termasuk predator, kaki-kakinya termodifikasi untuk menagkap mangsa.
Polyphemus biasanya terdapat di danau, kolam dan rawa-rawa, sedangkan
Leptodora di daerah limnetik. Cladocera memegang peran penting dalam mata
rantai makanan di perairan tawar sebagai penghubung antara produsen primer
dengan anak ikan dan hewan air lain yang karnivor. Daphnia dan Moina banyak
dibudidayakan dan diperdagangkan sebahai pakan alami hidup untuk ikan hias dan
anak ikan dalam pembenihan. Selain nilai gizinya bagus, cladocera mudah
ditangkap anak ikan karena berenangnya lambat.

4. Sistem Peredaran Darah
Jantung terletak dibelakang kepala, pada bagian dorsal. Darah keluar dari
jantung melalui bukaan di bagian anterior menuju hemocoel, dan kembali ke jantung
melalui 2 buah ostia lateral. Jadi termasuk sistem peredaran darah terbuka. Plasma
14

darah biasanya tidak berwarna atau sedikit kekuning-kuningan dan berisi butir-butir
darah tidak berwarna. Beberapa spesies cladocera kadang-kadang berwarna
kemerahan karena adanya hemoglobin terlarut dalam plasma darah yang terbentuk
apabila kandungan oksigen terlarut dalam air rendah. Pertukaran gas terjadi secara
difusi melalui permukaan tubuh, terutama pada bagian ventral di antara karapas dan
pada permukaan kaki yang lebar dan pipih. Kelenjar cangkang yang terletak di
anterior karapas diduga juga berfungsi sebagai alat ekskresi. Sistem saraf terdiri
atas sepasang benang saraf ventral dengan sedikit ganglia dan sebuah otak yang
terletak tepat di anterior (dorsal) esofagus. Indera penciuman terdapat pada setae di
tepi cangkang, antenul dan daerah sekitar mulut. Indera peraba terutama pada setae
abdominal dan bulu-bulu pada pangkal ruas antena kedua. Mata dan ocellus
berfungsi sebagai fotoreseptor, bukan alat penglihatan.

5. Reproduksi
Reproduksi aseksual tidak ada. Cladocera dioecious, dalam lingkungan yang
baik sepanjang tahun berkembang biak secara partenogenesis, telur dierami dalam
kantung pengeraman, anak yang dihasilkan selalu betina. Tidak ada stadia larva.
Sekali bertelur antara 2 sampai 40 butir, tetapi umumnya antara 10 sampai 20 butir.
Biasanya sekelompok telur masuk ke kantung pengeraman terjadi setiap usai
pergantian kulit. Telur dierami sekitar 2 hari. Dengan mengerak-gerakkan post-
abdomen ke belakang, induk betina melepaskan anak-anaknya keluar sudah dalam
stadia juvenil pertama. Pertumbuhan paling cepat terjadi pada stadium juvernil ini,
dimana setiap kali setelah molting, ukuran tubuh menjadi hampir 2 kali lipat. Selama
juvernil terdapat sekitar 2 sampai 5 instar, dan dewas 10 sampai 25 instar
tergantung jenisnya. Umur cladocera sejak telur masuk ke kantung pengeraman,
menetas, juvernil, dewasa sampai mati bervariasi tergantung spesies dan
lingkungan. Panjang umur Daphnia longispina antara 28 sampai 33 hari. Menjelang
dan setelah molting pada cladocera terjadi 4 peristiwa yang berurutan dan
berlangsung dengan cepat, antara beberapa menit sampai beberapa jam, yaitu (1)
melepaskan anak-anaknya dari kantung pengeraman, (2) molting, (3) pertumbuhan
ukuran panjang, dan (4) mengeluarkan kelompok telur baru dari ovari ke kantung
pengeraman. Bila lingkungan memburuk, maka dalam populasi terdapat jantan
antara 5% sampai 50%. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya jantan antara
lain (1) populasi betina yang terlalu padat, (2) kekurangan makanan, (3) perubahan
15

suhu, terlalu rendah atau tinggi. Diduga faktor tersebut meningkatkan metabolisme
yang berpengaruh terhadap mekanisme kromosom sedemikian rupa sehingga
menghasilkan telur partenogenesis jantan dan bukan telur betina seperti biasanya.
Bentuk jantan hampir sama dengan yang betina, hanya berukuran lebih kecil,
antenul lebih besar, post-abdomen mengalami modifikasi dan kaki pertama
dilengkapi kait yang tebal untuk memegang betina. Lingkungan memburuk juga
memicu timbulnya betina yang mampu menghasilkan telur seksual. Artinya telur
haploid yang dapat dibuahi jantan, jumlahnya hanya satu atau dua butir. Telur
tersebut juga berada dalam kantung pengeraman dan dibungkus kapsul tebal dan
gelap yang disebut ephippium. Ephippia tahan terhadap kekeringan, panas dan
beku, mudah diterbangkan angin. Bila lingkungan sesuai, maka ephippium akan
menetas menjadi betinapartenogenesis. Pada cladocera terutama betina dari
spesies limnetik, cyclomorfosa merupakan peristiwa biasa, misalnya pada Daphnia
pulex. Cyclomorfosa ialah perubahan bentuk tubuh dalam suatu populasi
disebabkan oleh perubahan musim di daerah bermusim empat. D. carinata di Waduk
Jatiluhur, Jawa Barat juga mengalami perubahan bentuk kepala pada waktu stadia
juvenil, juvenil pertama mancung dan mulai membulat tiap kali molting.

b) Ostracoda
Ostracoda merupakan kelompok Crustacea yang terdapat di air tawar maupun
air asin. Ostracoda berperan dalam keseimbangan ekosistem sebagai: herbivora
dengan memakan ganggang; karnivora dengan memakan Crustacea kecil dan
Annelida; scavenger dengan memakan bangkai dan detritus.
Ostracoda memiliki ciri-ciri tubuh yang tidak tampak jelas. Pada tubuhnya,
Ostracoda mempunyai 6 sampai 7 apendik yang beruas-ruas, yaitu antena pertama,
antena kedua, maksila pertama, maksila kedua, apendik thorax dan caudal furca.
Pada bagian anteriornya, Ostracoda memiliki sebuah mata nauplius. Contoh dari
Ostracoda antara lain Cypris candida dan Codona suburdana.
16




c) Copepoda


Copepoda berasal dari bahasa Yunani yaitu Kope = "dayung" dan Podos = "kaki".
Oleh karena itu Copepod = berdayung kaki, yang mengacu pada sepasang kaki
yang sama yang bergerak bersama-sama. Copepoda merupakan kelompok
entomostraca dengan jumlah spesies terbesar, yaitu sekitar 12.000 spesies dan
sebagian besar hidup bebas dan sekitar 25%-nya sebagian ektoparasit. Kebanyakan
Copepoda terdapat di laut dan sebagian lagi di air tawar, baik sebagai plankton
maupun fauna interstisial. Beberapa spesies hidup dalam hamparan lumut dan
humus. Rata-rata ukurannya antara 0,5-15 mm tetapi ada yang dapat mencapai 25
cm yang biasanya sebagai parasit, misalnya Panella sebagai ektoparasit pada ikan
laut dan ikan hiu.
Tubuh kelompok ini berbuku-buku dengan bentuk pipih memanjang dan
berkaki pendek dimana anterior lebih lebar. Bentuk dewasa mempunyai sebuah alat
17

penginderaan pertama yaitu antena yang tersusun dari banyak segmen. Sedangkan
antena kedua berfungsi untuk memegang. Pada daerah oral tubuh, dari beberapa
kelompok yang termasuk parasit Copepoda termodifikasi sebagai mulut yang
berbentuk pipa (mouth-tube) yang berfungsi untuk menyedot makanan, dengan
mandibula berbentuk seperti parutan dibagian dalamnya.
Anatomi tubuh Copepoda:


Adaptasi secara morfologis yang terjadi pada parasit Copepoda berupa
tambahan Cephalothorax yang kompleks pipih memanjang dan bagian ventral
cembung dengan sebuah lempeng penghisap (sucking disc). Selain itu ada yang
mempunyai struktur seperti jangkar, berfungsi untuk menjaga parasit agar tetap
menempel pada hospes selama hidupnya. Contohnya pada Lernaecopodidae dan
bangsa Siphonostomatoida. Copepoda dewasa berukuran antara 1 dan 5 mm.
Bagian depan meliputi 2 bagian yakni cephalotoraks dan abdomen yang lebih kecil
dibandingkan cephalotoraks. Pada bagian kepala memiliki mata di bagian tengah
dan antenna yang pada umumnya sangat panjang. Copepoda yang bersifat
planktonik pada umumnya suspension feeders.
Copepod dibagi menjadi 10 ordo, yaitu: Calanoid, Harpacticoid, Cyclopoid,
Gelylloida, Harpacticoida, Misophrioida, Monstrilloida, Platycopioida,
Poecilostomatoida, Siphonostoida, dan Argulidae. Sebagian besar anggota dari
Copepoda adalah parasit pada invertebrata lain atau ikan. Kelompok-kelompok
parasit menunjukkan sejumlah besar keanekaragaman morfologi dan memiliki
spesialisasi yang luar biasa banyak untuk gaya hidup mereka parasit. Tiga kelompok
yang paling sering hidup bebas,yaitu Calanoida, Harpactacoida, dan Cyclopoida.
Para Harpactacoida bersifat bentik terbukti dengan berbentuk ulat mereka
18

(berbentuk cacing). Para Calanoida dan Cyclopoida bersifat planktonik dan
keduanya sangat penting dalam jaring makanan pada ekosistem.
Copepoda berenang menggunakan kaki renang dengan gerakan yang sangat
cepat dan menyentak-nyentak (jerky sudden motions). Bila gerakan kaki renang
berhenti, maka antena pertama (antenul) membuka ke arah lateral supaya tidak
tenggelam. Bila sedang berenang, antenul mengarah ke belakang.
Kebanyakan copepoda planktonik di luar terdapat pada lapisan permukaan
sampai kedalaman 50 m, namun banyak spesies dijumpai sampai 2.000 m, bahkan
beberapa spesies lebih dalam lagi. Banyak spesies copepoda melakukan migrasi
vertikal, dan dalam hal ini dipengaruhi cahaya. Harpacticoida dan cyclopoida
penghuni dasar perairan merayap atau meliang (burrow) dalam substrat
menggunakan kaki thorax dan gerak undulasi tubuh. Banyak harpacticoida hidup
sebagai fauna interstisial mempunyai tubuh langsing dan antenna yang pendek.
Copepoda planktonik umumnya bersifat filter feeder dan memakan plankton.
Banyak pula jenis yang menangkap organisme lebih besar disamping sebagai filter
feeder, bahkan beberapa spesies merupakan predator. Beberapa jenis Cyclopoida
seperti beberapa spesies Cyclops juga predator. Kebanyakan Harpaticoid benthic
memakan bakteri dan detritus. Cadangan makanan dalam bentuk butir-butir minyak
merupakan penyebab utama warna merah cerah pada beberapa spesies
Diaptomus.


Tubuh Copepoda dibagi menjadi dua daerah,yaitu prosomal dan urosomal.
Wilayah ini dipisahkan oleh artikulasi utama atau titik meregangkan dalam tubuh.
Kelompok copepoda yang berbeda memiliki nomor yang berbeda dari segmen
dalam prosome, sehingga generalisasi tidak dapat dibuat. Pada bagian prosomal
19

dibagi menjadi dua bagian yaitu cephalotoraks (kepala dengan toraks dan segmen
toraks ke enam) dan abdomen yang lebih kecil dibandingkan cephalotoraks,
sedangkan urosomal merupakan bagian segmen toraks ke-7 sampai ekor. Hampir
semua bagian tubuh ditemukan pada segmen prosomal kecuali untuk bagian spiney
pada segmen tubuh terakhir disebut caudal ramus.
Cephalotoraks mempunyai 5 pasang anggota tubuh yaitu antena pertama,
antena kedua, mandible, maxila pertama, maxilla kedua. Antena pertama berjumlah
25 segmen yang berfungsi sebagai alat sensor, gerak dan proses
pembuahan/copulasi (jantan) untuk menempel pada betina. Antena kedua lebih
pendek & berfungsi alat sensor jika ada mangsa atau saat terancam maka antenna
ini yang akan mengirim sensor ke otak. Mempunyai sebuah mata nauplius median
(di tengah) yang terdiri atas 3 buah ocelli yaitu 2 lateral dan sebuah median. Selain
itu juga terdapat sepasang maksilliped dan masing pasangan mempunyai kaki
renang yang biramus (3 segmen eksopod & 3 segmen endopod). Pada betina
memiliki egg sac atau kantung telur untuk menyimpan telur. Bagian abdomen juga
terdapat kaki renang yang biramus yang berjumlah lima pasang.
Habitat copepoda bermacam-macam, antara lain:
a) Habitat Laut
Meskipun copepoda dapat ditemukan hampir di mana air tersedia tetapi
sebagian besar yang dikenal hidup di laut. Karena mereka adalah biomassa terbesar
di lautan. Beberapa menyebut mereka serangga laut. Mereka berkeliaran bebas air,
liang melalui sedimen di dasar laut, ditemukan pada flat pasang surut dan dalam
parit laut dalam. Setidaknya sepertiga dari semua spesies hidup sebagai asosiasi,
commensals atau parasit pada invertebrata dan ikan. Salah satu hotspot
keanekaragaman spesies terumbu karang tropis di IndoPacific. Beberapa spesies
karang adalah host untuk sampai dengan 8 spesies copepoda. Seperti flat pasang
mangrove berkerumun dengan kehidupan copepoda .
b) Habitat Air Tawar
Spesies dari Calanoida, Cyclopoida dan Harpacticoida telah berhasil dijajah
semua jenis habitat air tawar dari sungai kecil untuk danau gletser tinggi di
Himalaya. Meskipun keanekaragaman jenis di air tawar tidak setinggi dalam
kelimpahan laut copepoda terkadang cukup besar untuk noda air. Bahkan di air
tanah copepoda khusus telah berevolusi. Beberapa spesies copepoda dapat
ditemukan pada musim gugur daun hutan basah atau di tumpukan kompos basah,
20

kadang-kadang dalam kepadatan cukup tinggi. Lainnya tinggal di lumut gambut atau
bahkan dalam phytothelmata (kolam kecil terbentuk di axils meninggalkan tanaman)
dari bromeliad dan tanaman lainnya.
Copepoda dapat bertahan hidup degan baik pada berbagai habitat karena
dapat bertahan pada perubahan kondisi lingkungan yang ekstrim. Hidup pada
salinitas 25 sampai 35 ppt dan pada suhu 17-30C pada PH 8.
Walaupun memiliki tubuh yang kecil tetapi Copepoda memliki banyak manfaat
yang sangat penting salah satunya memegang peranan penting dalam rantai
makanan pada suatu ekosistem perairan. Copepoda memiliki peran penting pada
rantai makanan di lautan karena peranannya sebagai sumber makanan utama bagi
karnivor, termasuk jenis-jenis ikan untuk kepentingan komersial. Dalam industri
pembenihan ikan laut saat ini, copepoda mulai banyak dimanfaatkan sebagai pakan
alami untuk larva ikan. Copepoda cocok sebagai pakan larva ikan karena selain
mempunyai nilai nutrisi yang tinggi juga karena ukuran tubuh yang bervariasi
sehingga sesuai tingkat perkembangan larva ikan. Hasil-hasil penelitian
menunjukkan bahwa copepoda dapat meningkatkan pertumbuhan larva ikan laut
yang lebih cepat dibandingkan Rotifer dan Artemia.
Copepoda memiliki kandungan protein yang tinggi (antara 44 dan 52%) dan
struktur asam amino yang baik kecuali metionin dan histidin. Komposisi asam lemak
dari copepoda bervariasi tergantung pakan yang diberikan selama kegiatan
budidaya.
Fase nauplius: 3,5% EPA; 9% DHA; 15% HUFA(n-3)
Fase dewasa: - Pakan Dunaliella(6% EPA; 17% DHA)
- Pakan Rhodomonas (18% EPA; 32% DHA)
Copepoda (copepodit dan copepoda dewasa) juga dipercaya memiliki level
enzim pencernaan yang lebih tinggi dan berperan penting untuk menunjang
kebutuhan nutrisi larva. Padahal pada fase awal dari larva ikan-ikan laut belum
memiliki perkembangan pada sistem pencernaan dan yang lebih dipercaya berperan
hanyalah cadangan makanan exogenous (pakan dari luar) sebagai cadangan
makanan alami untuk organisme. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Pederson
(1984 dalam Lavens dan Sorgeloos, 1996), yang menguji pencernaan pada awal
pemeliharaan larva, dan ditemukan bahwa copepoda lebih cepat tercerna dan cepat
melewati usus serta lebih bagus tercerna dibandingkan Artemia.
21

Copepoda kaya akan protein, lemak, asam amino esensial yang dapat
mempercepat pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh serta mencerahkan
warna pada udang dan ikan. Keunggulan copepoda juga telah diakui oleh para
peneliti, karena kandungan DHA-nya yang tinggi, dapat menyokong perkembangan
mata dan meningkatkan derajat kelulushidupan larva. Copepoda juga mempunyai
kandungan lemak polar yang lebih tinggi dibandingkan dengan Artemia sehingga
dapat menghasilkan pigmentasi yang lebih baik bagi larva ikan. Perairan Indonesia
kaya akan kehadiran berbagai jenis copepoda, memiliki peluang besar untuk
memilih jenis pakan hidup yang unggul sebagai pakan alternatif atau pengganti
Artemia yang saat ini harganya kian melambung.
Selain itu, beberapa copepoda memiliki beberapa manfaat tambahan. Mereka
adalah "detritivores", yang berarti mereka akan mengais sisa-sisa makanan ikan,
kotoran ikan, dan bakteri di dalam ekosistem. Mereka dapat membantu mengontrol
kualitas air dengan memakan makanan yang tidak terpakai yang akhirnya dapat
menyebabkan overload bakteri dalam kolam ikan.
Pembudidayaan copepoda memiliki kelebihan dan kekurangan, antara lain:
a. Kelebihan Copepoda:
- Kandungan protein yang tinggi (44-52%)
- Kandungan asam amino yang tinggi : meningkatkan daya reproduksi
induk, mempercepat pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh
serta mencerahkan warna pada udang dan ikan.
- Kandungan EFA (Essential fatty acid), DHA , serta (n-3) HUFA (highly
unsaturated fatty acid) sangat tinggi pada tahap nauplius
- Lebih mudah untuk dicerna dibanding Artemia
- Dapat didistribusikan dalam berbagai tahap hidup (nauplii atau copepodit)
sesuai kebutuhan
b. Kekurangan Copepoda
- Sulit untuk diproduksi secara masal, terkait dengan siklus hidup
Copepoda betina mempunyai sebuah atau sepasang ovary dan sepasang
seminal receptacle. Copepoda jantan yang hidup bebas biasanya mempunyai
sebuah testes dan membentuk spermatofora. Pada waktu kopulasi, copepoda jantan
memegang yang betina dengan antena pertama atau kaki renang keempat atau
kelima yang berbentuk capit, dan melekatkan spermatofora pada betina pada
pembuahan seminal receptacle. Sekali kopulasi dapat digunakan untuk membuahi 7
22

sampai 13 kelompok telur. Telur yang telah dibuahi dierami dalam sebuah atau
sepasang kantung telur. Tiap kantung telur berisi antara 5 sampai 50 butir telur.
Copepoda betina mengerami telur sampai selama 12 jam sampai 5 hari, maka
kantung telur hancur dan keluarlah larva yang disebut nauplius. Kemudian copepoda
betina tersebut akan menghasilkan kantung baru dan kelompok telur baru.
Stadia nauplius sebnyak 5 atau 6 instar, kemudian menjadi copepodid
sebanyak 5 instar, dan akhirnya menjadi dewasa. Copepoda dewasa tidak
mengalami pergantian kulit. Perkembangan dari telur sampai dewasa memakan
waktu antara satu minggu sampai satu tahun. Copepoda hidup bebas berumur
antara 6 bulan sampai satu tahun lebih. Untuk mempertahankan diri terhadap
lingkungan buruk, beberapa caponoid dan harpaticoid air tawar menghasilkan telur
dengan cangkang tipis dan telur dorman dengan cangkang tebal. Jenis air tawar
yang lain, ada instar copepodid atau dewasa melakukan estivasi dengan
membungkus diri dengan selubung organic yang keras dan menjadi siste. Selain
untuk mempertahankan diri terhadap lingkungan buruk, telur dorman atau siste juga
merupakan sarana penyebaran keturunan.
Copepoda hidup bernafas dengan permukaan tubuh. Kelenjar makila
merupakan alat ekskresi. Tidak ada jantung ataupun pembuluh darah. Darah
beredar dalam hemocoel karena adanya gerakan otot, apendik saluran pencernaan.
Hanya calanoid yang mempunyai jantung semacam kantung. Susunan syaraf
terpusat, dan benang syaraf tidak melewati thorax. Copepoda yang hidup sebagai
parasit lebih dari 1000 spesies. Kebanyakan sebagai ektoparasit, namun banyak
juga sebagai endoparasit dalam tubuh polychaeta, usus leli laut, saluran pencernaan
tunica dan kerang, bahkan pada crustacea lain. Endoparasit acapkali tidak
mempunyai mulut, dan makanan diabsorbsi langsung dari inang.

d) Cirripedia
Cirripedia merupakan salah satu ordo yang termasuk dalam Entomostraca
atau Crustacea rendah. Tubuhnya terdiri dari kepala dan dada yang ditutupi
karapaks berbentuk cakram yang hidup melekat di laut. Cirripedia bersifat parasit
dengan cara hidupnya yang beranekaragam. Salahsatu diantaranya yaitu Teritip.


23



Teritip sering diabaikan karena kita lebih tertarik pada hewan-hewan laut yang
berwarna-warni. Teritip biasa dikenal dengan nama barnakel. Mereka dianggap
sebagai salah satu makhluk hidup tertua di bumi, karena diperkirakan hidup jutaan
tahun yang lalu. Teritip merupakan crustacea yang mirip dengan kepiting dan udang.
Mereka termasuk dalam kelas Cirripedia.
Teritip memiliki 6 tentakel yang digunakan untuk menangkap makanan yang
disebut dengan cirri. Enam tentakel tersebut dilengkapi dengan bulu-bulu yang
berfungsi untuk menarik air ke dalam cangkang, sehingga mereka bisa makan.
Teritip mengeluarkan tentakel dan memperluas bulu-bulunya ketika air laut pasang.
Bulu-bulu tersebut tersegmentasi untuk mengumpulkan plankton dari air. Setelah
mendapatkan makanan, tentakel membentuk seperti sendok dimana partikel-partikel
makanan yang didapatkan diteruskan ke mulut. Tentakel kedua digunakan untuk
menyaring kadar polusi dan mendeteksi perubahan kondisi air, sehingga mereka
bisa hidup meskipun kondisi air tidak baik.










24

Anatomi tubuh cirripedia:


Ada sekitar 1000 spesies teritip yang telah diketahui. Terkadang sulit
dibedakan dengan mollusca karena cangkang luarnya yang keras. Cangkang teritip
digunakan sebagai mantel untuk menutupi tubuhnya yang terbuat dari kalsit.
Teritip hidup sebagai sessile (menempel pada substrat). Hal tersebut
dikarenakan mereka memiliki lem dari kelenjar khusus yang mengandung protein,
dimana lem tersebut dapat mengeras dengan cepat di bawah air dan tekanan tinggi.
Lem tetap dapat melekat kuat meskipun teritip sudah mati. Mereka sering ditemukan
menempel di cangkang kepiting, ikan paus, batu, cangkang penyu, dan dinding
perahu. Kerak dari teritip dapat berkembang dengan cepat di dinding kapal. Hal ini
dapat mengurangi kecepatan kapal dan meningkatkan konsumsi bahan bakar
meskipun sudah dicegah dengan melapisi dinding kapal menggunakan cat beracun.
Namun, dengan cara tersebut teritip masih bisa hidup karena mereka dapat
mengakumulasi logam berat yang berguna sebagai bio-indikator untuk mengukur
polusi air. Meskipun beberapa spesies teritip bersifat parasit, namun sebagian besar
teritip tidak berbahaya. Hal tersebut dikarenakan teritip feeder filter. Teritip juga tidak
mengganggu dan tidak merugikan hewan lain.
Panjang tubuh teritip antara 1 sampai 7 cm. Rata-rata bisa hidup 5 hingga 10
tahun. Teritip merupakan hewan hermaprodit. Tetapi mereka tidak membuahi dirinya
sendiri. Mereka juga tidak melepaskan telur dan sperma ke dalam air pada saat
bersamaan. Setelah terjadi pembuahan silang, telur akan dierami pada kantung telur
yang terdapat dalam rongga mantel.
Telur akan menetas menjadi larva naupilus. Larva ini berenang bebas.
Ukurannya sekitar 500 mikron hingga 2mm. Pada sudut-sudut depan larva terdapat
25

duri seperti tanduk. Larva naupilus tidak makan. Ia memiliki antena dan satu buah
mata. Tubuhnya berbentuk perisai. Juga mengalami molting (pergantian kulit)
beberapa kali. Pada tahap ini, sistem sarafnya mulai berkembang, yang digunakan
untuk mendeteksi keberadaan mangsa.
Fase Nauplius:


Kemudian larva naupilus berkembang menjadi larva cyprid. Pada tahap ini,
larva mulai mencari dan menempel pada substrat yang cocok. Ketika menemukan
substrat yang cocok, ia akan mengeluarkan lem dari kelenjar khusus di antenanya
untuk menempelkan dirinya sebelum bermetamorfosis ke tahap dewasa. Setelah itu,
ia akan membentuk struktur yang keras seperti cangkang mollusca. Bersifat
fototropik negatif atau menjauhi cahaya. Larva ini menjelajahi permukaan substrat
dengan merayap. Otak larva cyprid cukup kompleks. Ia memiliki sistem sensori
ganda yang digunakan untuk mendeteksi tempat hidup yang sesuai.
Fase cyprid:

26


Setelah dewasa, tubuhnya bisa mencapai 7 cm. Untuk mencapai tahap
dewasa, larva teritip membutuhkan waktu lebih dari enam bulan. Karapaks sudah
menyatu dengan tubuhnya, sehingga hanya ada celah untuk jalan keluar masuk
tentakel agar tetap bisa makan serta celah untuk penis.
Fase dewasa:


Predator teritip sangat banyak, seperti: cacing, siput, bintang laut, dan ikan.
Selain itu, teririp tidak mampu bertahan hidup apabila ada limbah minyak. Mereka
juga saling bersaing mendapatkan habitat yang layak bagi dirinya.
Teritip mengandung protein yang tinggi sehingga ia bisa dijadikan sumber
makanan bagi ikan-ikan. Fosilnya juga dapat dijadikan sebagai tempat hidup hewan-
hewan kecil.


Malakostraca (udang tingkat tinggi)
Kelompok ini merupakan kelompok Crustacea yang berukuran besar
dibandingkan dengan kelompok Entomostraca. Hewan ini terdapat di air laut
maupun air tawar. Malakostraca dan Entomostraca dapat dibedakan dengan melihat
ruas-ruas tubuh yang tampak jelas pada kelompok Malakostraca. Malakostraca
dibagi menjadi 3 ordo, yaitu Isopoda, Stomatopoda, dan Decapoda.

a) Isopoda
27

Isopoda (kutu kayu) merupakan kelompok Malakostraca yang hidup sebagai
parasit. Isopoda dikatakan sebagai kutu kayu karena mereka merupakan pengerek
lunas perahu-perahu nelayan. Selain sebagai pengerek kayu, Isopoda memakan
ganggang, jamur, lumut, dan hewan-hewan yang sudah membusuk. Contoh dari
Isopoda adalah Onicus asellus (kutu perahu) dan Limnoria lignorum.


Gambar 7. Kutu Perahu
b) Stomatopoda
Stomatopoda (udang belalang) merupakan kelompok Crustacea yang mirip
dengan belalang sembah. Mereka mempunyai warna yang mencolok pada
tubuhnya. Stomatopoda mempunyai mata bertangkai yang dapat bergerak naik
turun oleh tangkainya yang fleksibel dan merupakan mata yang unik dan menarik,
kemampuannya melebihi kemampuan mata manusia dan hewan lainnya. Mata
Stomatopoda ini bersifat trinocular vision yang sangat akurat dalam melihat
mangsanya meskipun dalam keadaan gelap. Contoh dari Stomatopoda adalah
Squilla empusa.


c) Decapoda (kaki sepuluh)
28

Kata Decapoda, berasal dari kata Yunani deka yang berarti 'sepuluh' dan
Pous ar t i nya ' kak i ' di gunakan unt uk mengel ompokkan ber bagai
akr ab hewan l aut seper t i udang, lobster, udang karang, kepiting .
Decapoda mempunyai morfologi yang tampak jelas. Mereka mempunyai 3 pasang
apendik thorax yang termodifikasi menjadi maksiliped dan 5 pasang apendik thorax
berikutnya sebagai kaki jalan atau periopod, sehingga Decapoda disebut juga
dengan kaki sepuluh. Decapods adal ah invertebrata bertel ur, dengan j eni s
kel ami n terpi sah. Perubahan seks sel ama hi dup i ndi vi du merupakan
kej adi an bi asa dal am beberapa Dendrobranchi ates. Decapods adalah
poligini dan seksual dimorfik. Laki-laki cenderung lebih besar secara fisik dan ini
memungkinkan kompetitif perilaku antara laki-laki untuk akses
perempuan.Wani ta di otherhand yang selektif dalam memilih pasangan
mereka dan mendasarkan keputusan mereka pada kemampuan l aki -l aki untuk
memperol eh sumber daya dan kemampuan l aki -l aki mendomi nasi l aki -
l aki l ai n. Decapoda mengal ami pembelahan holoblastic lengkap. Karena
spiral berkaki sepuluh holoblastic berlayar padanya dari sel , mereka memi l i ki
khas yai tu tel ur l ebi h besar dari pada Crustacea l ai n, bersama dengan
massa k u n i n g t e l u r y a n g l e b i h b e s a r , p e mb e l a h a n
i n t r a l e c i t h a l , b l a s t o d e r m p e mb e n t u k a n d a n pengembangan
kemudian epimorphic.

29



1. Makan dan Cara Makan
Kebanyakan decapoda adalah karnivora, namun beberapa jenis hidup sebagai omnivor,
herbivor atau pemakan sampah. Jenis herbivor termasuk yang diair tawar dan darat
juga memakan bangkai.Mangsa atau makanan ditangkap atau dipegang dengan
cheliped,kemudian dipindahkan ke maksiliped yang menyalurkan ke mulut. Mulut terletak agak ke
ventral dan dilengkapi (dilindungi, ditutupi) beberapa pasang apendik yang letaknya tumpang tindih.
Maksiliped ke-3 merupakan bagian terluar dan adakalanya menutup apendik-apendik yang lain.
Kepiting porselen, Petrolisthes eriomerus, beberapa jenis kelomang dan beberapa jenis
decapoda lainnya merupakan pemakan detritus-scavenger. Spesies penghuni lubang,
Callianassa penyaring plankton dan detritus dengan chalipedyang berbulu lebat. Ada
pula yang jenis filter feeder.
2. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan terdiri atas mulut, esofagus, lambung kardiak yang besar, lambung pilorik
yang kecil, usus yang panjang dan anus dibagian ventral telson.
30


1 = Cangkang kepala, 2 = Cucuk kepala, 3 = Mata, 4 = Sungut kecil (antennulus), 5
= Kepet kepala (sisik sungut), 6 = Sungut, 7 = Alat-alat pembantu rahang
(maxilipied), 8 = Kaki jalan (periopoda, 5 pasang), 9 = Kaki renang (pleopoda, 5
pasang), 10 = Ekor kipas (uropoda), 11 = Ujung ekor (telson), 12 = Kerongkongan,
13 = Perut, 14 = Hati, 15 = Usus, 16 = Dubur.


3. Sistem Pernapasan dan Peredaran Darah
Decapoda bernapas dengan insang yang terletak ditiap sisi ruas thorax.Pada
semua decapoda, air keluar melalui tepi karapas di anterior kepala, namun air
masuk sedikit bervariasi. Pada natantia, air masuk melalui berbagai sisi ventral dan
posterior tepi karapas. Pada udang karang, jenis Macrura, air masuk dari
tepi posterior tepi karapas dan sekitar pangkal kaki jalan karena tepi karapas
dibagianventral melekat lebih rapat daripada tepi karapas natantia. Pada jenis
31

kepiting air masuk terbatas dari sekitar pangkal karapas cheliped .Dalam tiap sumbu
insang terdapat saluran darah masuk dan saluran darah keluar. Darah dari saluran
darah masuk mengalir ketiap filamen atau lamella insang, dan kembali ke saluran
darah keluar. Pada jenis kepiting, darah dalam lamela mengalir melalui sinus darah yang
lembut. Darah decapoda mengandung pigmen pernapasan hemocyanin yang larut dalam
plasma darah. Pertukaran O2 dan CO2 terjadi saat air mengalir melalui filamen atau
lamela insang. Jantung berbentuk persegi terletak dibagian dorsal thorax dan
mempunyai 3 pasang ostia. Darah keluar dari jantung melalui 5 buah arteri anterior
dan sebuah arteri abdomen di posterior. Disamping itu terdapat sebuah arteri
sternum yang keluar dari posterior jantung atau dari pangkal arteri abdomen. Arteri
sternum turun ke ventral melalui salah satu sisi saluran pencernaan dan diantara
benang saraf ventral, kemudian terbagi 2 menjadi arteri subneuron anterior dan
arteri subneuron posterior. Masing-masing arteri tersebut memasok darah ke sinus
darah dalam berbagai organ tubuh. Selanjutnya darah dari sinus-sinus tersebut
dikumpulkan dalam sebuah sinus sternum yang besar dibagian ventral thorax,
kemudian darah mengalir ke insang melalui saluran darah masuk larnea insang
saluran darah keluar, kembali ke jantung melalui sinus perikardium dan ostia.

Ket : merah : sistem peredaran darah
Hijau : sistem pencernaan
Kuning : sistem syaraf
Pink : sistem reproduksi
4. Sistem Saraf dan Alat Indera
32

Sistem saraf ganglia, terdiri atas supra esofagus (otak) di kepala
yang berhubungan dengan saraf ke mata, antena dan sepasang saraf
mengelilingiesofagus, dan selanjutnya berhubungan dengan benang saraf ventral.
Indera pada decapoda lebih sempurna dari pada crustacea lainnya, sehingga
memungkinkan decapoda untuk menjajaki keadaan lingkungannya secara
berkesinambungan,misalnya untuk menentukan tempat berlindung, mencari makan atau
pasangan,menghindar dari predator atau lingkungan yang tidak nyaman.Alat peraba yang peka
antara lain capit, bagian-bagian mulut, bagianventral abdomen dan tepi telson. Pada
tempat tersebut terdapat bulu-bulu perabayang halus yang berhubungan dengan
saraf indera di bawah kutikula. Indera perasa dan penciuman terdapat pada bulu-
bulu halus di antena pertama, ujunga antena ke-2, bagian-bagian mulut dan ujung
capit (chelae).Mata majemuk terdiri atas 2.500 facet mikroskopit, terdapat pada 2
sampai 3 ruas tungkai mata. Segala objek yang diterima mata, tampak seperti
gambar mozaik. Beberapa jenis decapoda buta terutama spesies laut dalam dan
spesies yang tinggal dalam gua bawah tanah.Luminescence terdapat pada beberapa
spesies dari 17 genera udang, antaralain Sergestes challengeri. Beberapa jenis
udang laut dalam mengeluarkan sekresi seperti kabut cahaya dalam air.




5. Reproduksi dan Perkembangan
33

Decapoda dioecious, terjadi kopulasi, beberapa jenis
membentuk spermatofora dan betina mempunyai seminal receptacle. Sepasang
testis atau ovari terletak dalam thorax, dan memanjang sampai bagian anterior
abdomen.Banyak decapoda memperlihatkan perbedaan jenis jantan dan betina,
misalnyahewan jantan lebih kecil daripada yang betina, atau salah satu capit pada
jantan besar sekali sedangkan pada betina capitnya kecil, atau jantan mempunyai
warna lebih indah.Pada beberapa jenis penaeid yang tidak mengerami telur dan
udang.Sergestes telur menetas menjadi larva nauplius, meta nauplius atau
protozoea. Namun pada kebanyakan decapoda laut, telur menetas menjadi
protozoea atauzoea. Tergantung habitatnya, reproduksi dan daur hidup decapoda
sangat beranekaragam. Berikut ini disajikan reproduksi daur hidup beberapa jenis
decapoda yang banyak dikenal. Jenis udang dari famili Penaeidae dalam daur
hidupnya melakukan migrasi. Udang dewasa bertelur di laut. Telur dilepas ke air dan
menjadi larva nauplius yang hidup sebagai plankton dan akan menuju tepi pantai.
Dalam perjalanannya menuju tepi pantai, nauplius mengalami metamorfosa menjadi protozoea,
zoea, mysis dan post larva.Pada musim tertentu, udang stadia mysis atau post larva
dalam jumlah sangat banyak bersama air pasang memasuki muara sungai, hutan
bakau dan tambak ikan atau tambak udang melalui pintu tambak. Daerah tersebu t
merupakan nursery ground bagi anak udang sampai stadia juvenil. Pada akhir stadia
juvenile atau menjelang dewasa, udang akan kembali ke laut untuk bertelur.Udang
galah,Macrobrachium rosen bergii dewasa mengerami telur pada pleopod. Sebelum telur
menetas, udang betina akan pergi ke muara sungai, tepi pantai dan perairan payau.
Telur menetas menjadi larva stadium mysis di air tawar atau air payau. Bila dalam
waktu 4-5 hari mysis tidak mencapai air payau, akan mati. Muara sungai, tepi pantai
dan perairan payau merupakan daerah pembesaran(nursey ground) bagi mysis
yang planktonik sampai mencapai stadium juvenilyang bersifat benthik. Stadium juvenil
akan melakukan migrasi ke hulu sungai, keair tawar dan tinggal di perairan tawar sampai
dewasa. Udang galah disebut juga giant river prawn. Jantan mencapai panjang 25 cm dan
betina 15 cm. Banyak terdapat di daerah tropis dan subtropis di wilayah Indo
Pasifik.Bentuk zoea kepiting mudah dikenal karena mempunyai duri rostrum yang sangat
panjang dan adakalanya terdapat sepasang duri lateral pada tepi posterior karapas.
Larva zoea sebanyak 4 instar kemudian menjadi larva megapola yang mempunyai
karapas lebar dan 5 pasang apendik thorax tetapi tidak mempunyaiduri panjang. Stadia zoea
menjadi megapola berenang bebas sebagai plankton,kemudian megapola akan turun ke
34

dasar perairan dan berganti kulit menjadi kepiting muda dengan bentuk karapas lebih besar
dan abdomen melipat kebawah thorax, dan menjadi benthos sperti yang dewasa.

6. Nilai Ekonomis
Berbagai jenis decapoda seperti udang, kepiting dan udang karang mempunyai nilai
niaga yang tinggi. Bahkan sejak tahun 1980 udang windu, Penaus monodon merupakan
komoditi ekspor Indonesia dan dibudidayakan dalam tambak. Udang ronggeng dan
kepiting kelapa juga digemari banyak orang dansudah masuk rumah makan. Udang
rebon, ordo Mysidacea, merupakan bahan baku pembuatan terasi, dan juga
diperdagangkan sebagai rebon kering asin.Semua ini memberi mata pencaharian bagi
nelayan, penangkap, pedagang pengumpul, pengangkutan dan rumah makan. Selain itu
decapoda juga ada yang merugikan seperti kepiting air tawar dari family Potamonidae
adapkali merusak benih padi di sawah.

5. 3 Peran Crustacea
Di alam, Crustacea mempunyai peran yang cukup penting. Sebagian
besar zooplankton di laut dan samudra adalah Crustacea. Hewan ini terdapat di laut
mulai dari pantai sampai laut yang dalam. Crustacea juga mempunyai nilai ekonomi
yang sangat penting, karena beberapa jenis tertentu merupakan bahan makanan
yang baik bagi manusia, yaitu mengandung banyak protein. Selain itu, juga banyak
yang hidup sebagai zooplankton yang menjadi sumber makanan bagi beberapa jenis
ikan. Hanya sedikit Crustacea yang bersifat merusak, misalnya ada yang biasa
membuat lubang pada kayu bagian luar dari perahu atau kapal.
35

Berikut Peran Crustacea yang menguntungkan manusia dalam
beberapa hal, antara lain:
1. Sebagai bahan makanan yang berprotein tinggi, misal udang, lobster
dan kepiting.
2. Dalam bidang ekologi, hewan yang tergolong zooplankton menjadi sumber
makanan ikan, misal anggota Branchiopoda, Ostracoda danCopepoda.
Sedangkan beberapa Crustacea yang merugikan antara lain:
1.Merusak galangan kapal (perahu) oleh anggota Isopoda.
2.Parasit pada ikan, kura-kura, misal oleh anggota Cirripedia dan Copepoda.
3.Merusak pematang sawah atau saluran irigasi misalnya ketam.





















36

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Crustacea adalah avertebrata air yang tergolong filum arthropoda dan memiliki
anggota badan atau ektremitas yang bersendi-sendi.
Klasifikasi Crustacea menurut Calman dibagi menjadi 5 sub kelas yakni
Branchiopoda, Ostracoda, Copecoda, Cirripedia, dan Malakostraca.
Cara makan pada Crustacea sangat beragam yaitu dapat sebagai filter feeder
(penyaring makanan), scavengers (pemakan bangkai), herbivora, karnivora,
simbion, epizon, dan parasit.
Crustacea mempunyai organ ekskresi, respirasi peredaran darah terbuka, sistem
syaraf dan sistem reproduksinya diocious tetapi pada Crustacea tingkat rendah
bersifat hermaprodit.
Crustacea dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan, penyeimbang ekosistem dan
berkomensalisme dengan spesies lain, namun Crustacea juga dapat bersifat
merugikan karena bersifat parasit.
3.2 Saran
Banyak hewan laut seperti kelas crustacean ini yang dapat kita pelajari,
dan menjadikannya ilmu yang bermanfaat.Dan untuk mencegah ilmu ilmu
tersebut yang berasal dari hewn hewan laut, maka kita harus menjaga hewn
hewan laut tersebut semampu kita.







37

DAFTAR PUSTAKA
Adi,bagus S.2011. Copepods (Copepoda) Ciri umum, Ciri khusus, Habitat, Penyakit.
http://www.sbg.ac.at, diakses pada tanggal 17 november 2013 pukul 06.00 WIB.

Lautku, Biru. 2011. Crustacea. http://fenomenadunia-
sony.blogspot.com/2011/06/crustacea-bab-i-ciri-ciri-i.html, diakses pada tanggal
17 november 2013 pukul 06.00 WIB.

Zaldi. 2010. Crustacea.
http://zaldibiaksambas.files.wordpress.com/2010/10/crustacea.pdf, diakses pada
tanggal 17 november 2013 pukul 06.00 WIB.