Anda di halaman 1dari 28

7

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Persediaan
Setiap perusahaan, apakah perusahaan itu perusahaan perdagangan ataupun
perusahaan pabrik serta perusahaan jasa selalu mengadakan persediaan. Tanpa
adanya persediaan, para pengusaha akan dihadapkan pada risiko bahwa
perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan yang
memerlukan atau meminta barang atau jasa yang dihasilkan. Hal ini mungkin terjadi,
karena tidak selamanya barang-barang atau jasa-jasa tersedia pada setiap saat, yang
berarti pula bahwa pengusaha akan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan
yang seharusnya ia dapatkan. Jadi persediaan sangat penting artinya untuk setiap
perusahaan baik perusahaan yang menghasilkan suatu barang atau jasa. Persediaan ini
diadakan apabila keuntungan yang diharapkan dari persediaan tersebut (terjadinya
kelancaran usaha) hendaknya lebih besar daripada biaya-biaya yang ditimbulkannya.
Pengertian persediaan menurut SoIjan Assauri,
' Persediaan adalah suatu aktiva vang meliputi barang-barang milik perusahaan
dengan maksud untuk difual dalam suatu periode usaha vang normal, atau
persediaan barang-barang vang masih dalam pengerfaan/proses produksi, ataupun
8
persediaan bahan baku vang menunggu penggunaannva dalam suatu proses
produksi`.
1)
Jadi persediaan merupakan sejumlah bahan-bahan, parts yang disediakan dan
bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi,
serta barang-barang jadi/produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan dari
komponen atau langganan setiap waktu.
Pada dasarnya persediaan mempermudah atau memperlancar jalannya operasi
perusahaan pabrik yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memprodusir
barang-barang serta selanjutnya menyampaikannya pada pelanggan atau konsumen.
Persediaan yang diadakan mulai dari yang bentuk bahan mentah sampai dengan
barang jadi antara lain berguna untuk dapat:
N Menghilangkan risiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan
yang dibutuhkan perusahaan.
N Menghilangkan risiko dari material yang dipesan tidak baik sehingga
harus dikembalikan.
N Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga
dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
N Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran
arus produksi.
N Mencapai penggunaan mesin yang optimal.
1)
SoIjan Assauri, Manajemen Produksi dan Operasi, EE UI, Jakarta, 1999, Hal. 169.
9
N Memberikan pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik-
baiknya dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi
atau memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi tersebut.
Ada beberapa pengertian persedian antara lain:
Menurut Miswanto dan Eko Widodo 'Persediaan adalah salah satu kekavaan vang
meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk difual atau sediaan
barang-barang vang masih dalam pengerfaan/proses produksi atau operasi, ataupun
sediaan bahan baku vang menunggu untuk digunakan dalam suatu proses produksi
atau operasi`.
2)
Menurut Ereddy Rangkuti
' Sefumlah bahan-bahan, bagian-bagian vang disediakan dan bahan-bahan dalam
proses vang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang
fadi/produk vang disediakan untuk memenuhi permintaan dari konsumen atau
langganan`.
3)
Dengan demikian jelaslah bahwa adanya persediaan dapat mempermudah atau
memperlancar jalannya operasi perusahaan pabrik, yang harus dilakukan secara
berturut-turut untuk memproduksi barang-barang, serta selanjutnya
menyampaikannya kepada para langganan atau konsumen.
2)
Miswanto dan Eko Widodo, Manajemen Keuangan I, Gunadarma, Jakarta, 1998, Hal. 169.
3)
Ereddy Rangkuti, Manajemen Persediaan, PT Raja GraIindo Persada, Jakarta, 1995, Hal. 1.
10
2.2 1enis-jenis Persediaan
Menurut SoIjan Assauri, jenis-jenis Persediaan Berdasarkan Eungsinya adalah:
a. Batch Stock/Lot Size Inventory
Yaitu persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-
bahan/barang-barang dalam jumlah yang lebih besar daripada jumlah yang
dibutuhkan pada saat itu. Persediaan ini timbul dimana bahan/barang yang
dibeli, dikerjakan/dibuat atau diangkut dalam jumlah yang besar(bulk),
sehingga barang-barang diperoleh leibh banyak dan cepat daripada
penggunaan atau pengeluarannya, dan untuk sementara tercipta suatu
persediaan. Perlu kita ketahui bahwa adalah relatiI lebih menguntungkan
apabila kita melakukan pembelian dalam jumlah yang besar, karena
kemungkinan untuk mendapatkan potongan harga pembelian, biaya
pengangkutan yang lebih murah per unitnya dan penghematan dalam biaya-
biaya lainnya yang mungkin diperoleh.
b. Eluctuation Stock
Persediaan yang diadakan untuk menghadapi Iluktuasi permintaan konsumen
yang tidak dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan
persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen, apabila tingkat
permintaan menunjukkan keadaanyang tidak beraturan atau tidak tetap dan
Iluktuasi permintaan tidak dapat diramalkan lebih dahulu. Jadi apabila
11
terdapat Iluktuasi permintaan yang sangat besar, maka persediaan ini
dibutuhkan sangat besar pula untuk menjaga kemungkinan naik turunnya
permintaan tersebut.
c. Anticipation Stock
Persediaan yang diadakan untuk menghadapi Iluktuasi permintaan yang dapat
diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan
untuk menghadapi penggunaan atau penjualan atau permintaan yang
meningkat. Disamping itu anticipation stock dimaksudkan pula untuk menjaga
kemungkinan sukarnya diperoleh bahan-bahan sehingga tidak mengganggu
jalannya produksi atau menghindari kemacetan produksi.
4)
Menurut SoIjan Assauri, jenis-jenis persediaan Iisik adalah:
1. Persediaan bahan baku (Raw Materials Stock)
Yaitu persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses
produksi, barang mana dapat diperoleh dari sumber-sumber alam ataupun
dibeli dari suplier atau perusahaan yang menghsilkan bahan baku bagi
perusahaan pabrik yang menggunakannya. Bahan baku diperlukan oleh pabrik
untuk diolah, yang setelah melalui beberapa proses diharapkan menjadi
barang jadi.
4)
SoIjan Assauri, Manajemen Produksi dan Operasi, Op. Cit., Hal 170.
12
2. Persediaan bagian produk atau parts yang dibeli (purchased parts/components
stock)
yaitu persediaan barang-barang yang terdiri dari parts yang diterima dari
perusahaan lain, yang dapat secara langsung diassembling dengan parts lain,
tanpa melaui proses produksi sebelumnya. Jadi bentuk barang yang
merupakan parts ini tidak mengalami perubahan dalam operasi.
3. Persediaan bahan-bahan pembantu atau barang-barang perlengkapan (supplies
stock)
yaitu persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam
proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang
dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan, tetapi tidak merupakan
bagian atau komponen dari barang jadi.
4. Persediaan barang setengah jadi atau barang dalam proses (work in
process/progress stock)
Yaitu persediaan barang-barang yang keluar dari tiap-tiap bagian dalam satu
pabrik atau bahan-bahan yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi lebih
perlu diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi. Tetapi mungkin
saja barang setengah jadi bagi suatu pabrik, merupakan barang jadi bagi
pabrik lain karena proses produksinya memang hanya sampai disitu saja.
13
Mungkin pula barang setengah jadi itu merupakan bahan baku bagi
perusahaan lainnya yang akan memprosesnya menjadi barang jadi.
5. Persedian barang jadi (finished goods) yaitu persediaan barang-barang yang
telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada
pelanggan atau perusahaan lain. Jadi barang jadi ini adalah merupakan produk
selesai dan telah siap untuk dijual. Biaya-biaya yang meliputi pembuatan
produk selesai terdiri dari biaya bahan baku, upah buruh langsung, serta biaya
overhead yang berhubungan dengan produk tersebut.
5)
Menurut Yulian Yamit, tipe persediaan adalah:
- Persediaan alat-alat kantor adalah persediaan yang diperlukan dalam
menjalankan Iungsi organisasi dan tidak menjadi bagian dari produk akhir.
- Persediaan bahan baku adalah item yang dibeli dari para supplier untuk
digunakan sebagai input dalam proses produksi. Bahan baku ini akan
ditransIormasikan menjadi barang akhir.
- Persediaan barang dalam proses adalah bagian dari produk akhir tetapi masih
dalam proses pengerjaan, karena masih menunggu item yang lain untuk
diproses.
5)
SoIjan Assauri, Manajemen Produksi dan Operasi, Ibid, Hal. 171.
14
- Persediaan barang jadi adalah persediaan produk akhir yang siap untuk dijual,
didstribusikan atau disimpan.
6)
2.3 Fungsi Persediaan
Menurut Yulian Yamit, Iungsi Persediaan adalah:
Persediaan timbul disebabkan oleh tidak sinkronnya permintaan dengan penyediaan
dan waktu yang digunakan untuk memproses bahan baku. Untuk menjaga
keseimbangan permintaan dengan penyediaan bahan baku dan waktu proses
persediaan. Oleh karena ada beberapa Iaktor yang dijadikan Iungsi persediaan:
N Eaktor waktu menyangkut lamanya proses produksi dan distribusi sebelum
barang jadi sampai kepada konsumen. Waktu diperlukan untuk membuat
skedul produksi, memotong bahan baku, pengiriman barang jadi ke pedagang
bisar atau konsumen.Persediaan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan selama
waktu tunggu.
N Eaktor ketidakpastian waktu datang dari suplier menyebabkan perusahaan
memerlukan persediaan, agar tidak menghambat proses produksi maupun
keterlambatan pengiriman kepada konsumen. Persediaan bahan baku terikat
pada suplier, persediaan barang dalam proses terikat pada departemen
produksi, dan persediaan barang jadi terikat pada konsumen. Ketidakpastian
6)
Yulian Yamit, Manajemen Persediaan, Ekonisia EE UII, Yogyakarta, 1999, Hal. 3.
15
waktu datang mengaharuskan perusahaan membuat skedul operasi lebih teliti
pada setiap level.
N Eaktor ketidakpastian penggunaan dari dalam perusahaan disebabkan oleh
kesalahan dalam peramalan permintaan, kerusakan mesin, keterlambatan
operasi, bahan cacat, dan berbagai kondisi lainnya.
N Eaktor ekonomis adalah adanya keinginan perusahaan untuk mendapatkan
alternatiI biaya rendah dalam memproduksi atau membeli item dengan
menentukan jumlah yang paling ekonomis.
7)
Eaktor-Iaktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku menurut Agus Ahyari:
Eaktor Iaktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku ini ada beberapa macam.
Dalam hal ini Iaktor-Iaktor tersebut akan saling berkaitan, sehingga secara bersama-
sama akan mempengaruhi persediaan bahan baku. Adapun Iaktor-Iaktor yang
dimaksud adalah:
Perkiraan Pemakaian
Sebelum kegiatan pembelian bahan baku dilaksanakan maka manajemen
harus dapat membuat perkiraan bahan baku yang akan dipergunakan di dalam
proses produksi pada suatu periode. Perkiraan kebutuhan bahan baku ini
7)
Yulian Yamit, Manajemen Persediaan, Ibid, Hal. 5.
16
merupakan perkiraan tentang berapa besar/jumlahnya bahan baku yang akan
dipergunakan oleh perusahaan untuk keperluan proses produksi pada periode
yang akan datang.
Harga dari Bahan
Harga daripada bahan baku yang akan dibeli menjadi salah satu Iaktor
penentu pula dalam kebijaksanaan persediaan bahan. Harga bahan baku ini
merupakan dasar penyusunan perhitungan berapa besar dana perusahaan yang
harus disediakan untuk investasi dalam persediaan bahan baku ini.
Biaya-biaya persediaan
Biaya-biaya untuk menyelenggarakan persediaan bahan baku ini sudah
selayaknya diperhitungkan pula di dalam penentuan besarnya persediaan
bahan baku. Di dalam perhitungan biaya persediaan ini dikenal adanya dua
type biaya, yaitu biaya-biaya yang semakin besar dengan semakin besarnya
rata-rata persediaan, serta biaya yang justru semakin kecil dengan semakin
besarnya rata-rata persediaan.
Kebijaksanaan pembelanjaan.
Seberapa besar persediaan bahan baku akan mendapatkan dana dari
perusahaan akan tergantung kepada kebijaksanaan pembelanjaan dari dalam
17
perusahaan tersebut. Apakah perusahaan akan memberikan Iasilitas yang
pertama, kedua atau justru yang terakhir untuk dana bagi persediaan bahan
baku ini. Di samping itu juga dilihat apakah dana yang disediakan tersebut
cukup untuk pembayaran semua bahan yang diperlukan perusahaan, ataukah
hanya sebagian saja.
Pemakaian senyatanya.
Pemakaian bahan baku senyatanya dari periode-periode yang lalu (actual
demand) merupakan salah satu Iaktor yang perlu diperhatikan. Seberapa besar
penyerapan bahan baku oleh proses produksi perusahaan serta bagaimana
hubungannya dengan perkiraan pemakaian yang sudah disusun harus
senantiasa dianalisa. Dengan demikian maka akan dapat disusun perkiraan
kebutuhan bahan baku mendekati kepada kenyataan.
Waktu tunggu.
Waktu tunggu (lead time) adalah merupakan tenggang waktu yang diperlukan
pada saat pemesanan bahan baku sampai datangnya bahan baku itu sendiri.
Waktu tunggu ini sangat perlu untuk diperhatikan oleh karena hal ini sangat
perlu untuk diperhatikan karena erat hubungannya dengan penentuan saat
pemasaran kembali (re order). Dengan diketahuinya waktu tunggu yang tepat
maka perusahaan akan dapat membeli pada saat yang tepat pula, sehingga
18
resiko penumpukan persediaan atau kekurangan persediaan dapat ditekan
seminimal mungkin.
8)
2.4 Macam-macam Biaya dalam Persediaan
Berbagai biaya dalam persediaan Menurut Yulian Yamit adalah:
Biaya persediaan merupakan keseluruhan biaya operasi atas sistem persediaan.
- Biaya pembelian adalah harga per unit apabila item dibeli dari pihak luar, atau
biaya produksi per unit apabila diproduksi dalam perusahaan. Untuk
pembeliaan item dari luar, biaya per unit adalah harga beli ditambah biaya
pengangkutan.Sedangkan untuk item yang diproduksi di dalam perusahaan,
biaya per unit adalah termasuk biaya tenaga kerja, bahan baku dan biaya
overhead pabrik.
- Biaya pemesanan adalah biaya yang berasal dari pembelian pesanan dari
suplier atau biaya persiapan apabila item diproduksi di dalam perusahaan .
Biaya pemesanan dapat berupa: biaya membuat daItar permintaan,
menganalisis suplier, membuat pesanan pembelian, penerimaan bahan,
inspeksi bahan, dan pelaksanaan proses transaksi. Sedangkan biaya persiapan
dapat berupa biaya yang dikeluarkan akibat perubahan proses produksi,
pembuatan skedul kerja, persiapan sebelum produksi, dan pengecekan
kualitas.
8)
Agus Ahyari, Manajemen Produksi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1990, Hal. 4.
19
- Biaya simpan adalah biaya yang dikeluarkan atas investasi dalam persediaan
dan pemeliharaan maupun investasi sarana Iisik untuk menyimpan persediaan.
Biaya simpan dapat berupa: biaya modal, pajak, asuransi, pemindahan
persediaan, keusangan dan semua biaya yang dikeluarkan untuk memelihara
persediaan.
- Biaya kekurangan persediaan adalah konsekuensi ekonomis atas kekurangan
dari luar maupun dari dalam perusahaan. Kekurangan dari luar terjadi apabila
pesanan konsumen tidak dapat dipenuhi. Sedangakan kekurangan dari dalam
terjadi apabila departemen tidak dapat memenuhi kebutuhan departemen lain.
Biaya kekurangan persediaan dapat berupa biaya backorder, biaya kehilangan
kesempatan penjualan, dan biaya kehilangan kesempatan menerima
keuntungan. Biaya kekurangan dari dalam dapat berupa penundaan pengriman
maupun idle kapasitas.
9)
2.5 Pengertian Pengendalian Persediaan
Kegiatan pengendalian persediaan tidak terbatas pada perencanaan tingkat dan
susunan persediaan, tetapi juga pada pengaturan dan pengendalian atas pelaksanaan
pengadaan bahan-bahan skeduling (penjadualan) untuk pemesanan, pengaturan
penyimpanan dan lain-lain. Sangatlah penting bagi setiap perusahaan untuk
mengadakan pengendalian persediaan, karena ini dapat membantu tercapainya tingkat
eIisiensi penggunaan dana dalam persediaan. Tetapi, hal ini bukan berarti dapat
9)
Yulian Yamit, Manajemen Persediaan, Op. Cit., Hal. 8.
20
menghapus sama sekali risido yang timbul akibat adanya sediaan yang terlalu besar
atau terlalu kecil, melainkan pengendalian persediaan dapat membantu mengurangi
terjadinya risiko seminimal mungkin. Adapun kegiatan-kegiatan pengendalian
persediaan yang eIektiI menurut Miswanto dan Eko Widodo adalah:
1. Memperoleh bahan-bahan, yaitu menetapkan prosedur untuk memperoleh
suatu supply yang cukup dari bahan-bahan yang dibutuhkan baik kuantitas
maupun kualitas.
2. Menyimpan dan memelihara bahan-bahan dalam persediaan, yaitu
mengadakan suatu sistem penyimpanan untuk memelihara dan melindungi
bahan-bahan yang telah dimasukkan ke dalam persediaan.
3. Pengeluaran bahan-bahan , yaitu menetapkan suatu pengaturan atas
pengeluaran dan penyampaian bahan-bahan yang tepat pada saat, serta tempat
dimana dibutuhkan.
4. Meminimalisasi investasi dalam bentuk bahan atau barang (mempertahankan
persediaan dalam jumlah yang optimum setiap waktu).
10)
2.6 Tujuan pengendalian persediaan menurut Miswanto dan Eko Widodo
adalah:
1. Menjaga jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan sehingga dapat
mengakibatkan terhentinya kegiatan produksi.
10)
Miswanto dan Eko Widodo, Manajemen Keuangan I, Op. Cit., Hal. 174.
21
2. Menjaga agar supaya pembentukan persediaan oleh perusahaan tidak terlalu
besar atau berlebih-lebihan, sehingga biaya-biaya yang timbul dari persediaan
tidak terlalu besar.
3. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena ini akan
berakibat biaya pemesanan menjadi besar.
11)
2.7 Pengertian Proses Produksi
Menurut SoIjan Assauri, pengertian proses produksi adalah:
'Proses produksi adalah cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah
kegunaan suatu barang atau fasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga
kerfa, mesin, bahan-bahan dan dana) vang ada`.
12)
Jenis-jenis Proses Produksi
a. Proses produksi yang terus-menerus (continuous processes)
b. Proses produksi yang terputus-putus (intermittent processes)
Adapun siIat-siIat atau ciri-ciri proses produksi yang terus-menerus ialah:
a. Biasanya produk yang dihasilkan dalam jumlah yang besar (produksi massa)
dengan variasi yang sangat kecil dan sudah distandarisir.
11)
Miswanto dan Eko Widodo, Manajemen Keuangan I, Ibid, Hal. 174
12)
SoIjan Assauri, Manajemen Produksi dan Operasi, Op. Cit., Hal. 75.
22
b. Proses seperti ini biasanya menggunakan system atau cara penyusunan
peralatan berdasarkan urutan pengerjaan dari produk yang dihasilkan, yang
disebut product lav out atau departmentation bv product.
c. Mesin-mesin yang dipakai dalam proses produksi seperti ini adalah mesin-
mesin yang bersiIat khusus untuk menghasilkan produk tersebut, yang dikenal
dengan nama special purpose machines.
d. Oleh karena mesin-mesinnya bersiIat khusus dan biasanya agak otomatis,
maka pengaruh individual operator terhadap produk yang dihasilkan kecil
sekali, sehingga operatornya tidak perlu mempunyai keahlian atau skill yang
tinggi untuk pengerjaan produk tersebut.
e. Apabila terjadi salah satu mesin/peralatan terhenti atau rusak, maka seluruh
proses produksi akan terhenti.
I. Oleh karena mesin-mesinnya bersiIat khusus dan variasi dari produknya kecil
maka job structurenya sedikit dan jumlah tenaga kerjanya tidak perlu banyak.
g. Persediaan bahan mentah dan bahan dalam proses adalah lebih rendah
daripada intermittent process/manuIacturing.
h. Oleh karena mesin-mesin yang dipakai bersiIat khusus maka proses seperti ini
membutuhkan maintenance specialist yang mempunyai pengetahuan dan
pengalaman yang banyak.
23
Sedangkan siIat-siIat atau ciri-ciri dari proses produksi yang terputus-putus ialah:
a. Biasanya produk yang dihasilkan dalam jumlah yang sangat kecil dengan
variasi yang sangat besar dan didasarkan atas pesanan.
b. Proses seperti ini biasanya menggunakan system, atau cara penyusunan
peralatan berdasarkan atas Iungsi dalam proses produksi atau peralatan yagn
sama dikelompokkan pada tempat yang sama, yang disebut dengan process
lav out atau departmentation bv equipment.
c. Mesin-mesin yang dipakai dalam proses produksi seperti ini adalah mesin-
mesin yang bersiIat umum yang dapat digunakan untuk menghasilkan
bermacam-macam produk dengan variasi yagn hampir sama, mesin ini
dikenal dengan nama general purpose machines.
d. Oleh karena mesin-mesinnya bersiIat umum dan biasanya kurang otomatis,
maka pengaruh individual operator terhadap produk yang dihasilkan sangat
besar, sehingga operatornya perlu mempunyai keahlian atau skill yang tinggi
dalam pengerjaan produk tersebut.
e. Proses produksi tidak mudah/akan terhenti walaupun terjadi kerusakan atau
terhentinya salah satu mesin atau peralatan.
I. Oleh karena mesin-mesinnya bersiIat umum dan variasi dari produknya besar,
maka terhadap pekerjaan yang bermacam-macam menimbulkan pengawasan
yang lebih sukar.
g. Persediaan bahan mentah biasanya tinggi, karena tidak dapat ditentukan
pesanan apa yang akan dipesan oleh pembeli dan juga persediaan bahan dalam
24
proses lebih tinggi daripada continuous process karena prosesnya yang
terputus-putus.
h. Dalam proses seperti ini sering dilakukan pemindahan bahan yang bolak-balik
sehingga perlu adanya ruangan gerak yang besar dan ruangan tempat bahan-
bahan dalam proses yang besar.
2.8 Kekurangan dan Kebaikan Masing-masing 1enis Proses Produksi
Masing-masing jenis proses produksi yang telah di sebutkan mempunyai
beberapa kekurangan dan kelebihan /kebaikan. Kekurangan/kerugian proses produksi
yang terus menerus (continuous manufacturing) adalah :
1. Terdapat kesukaran untuk menghadapi perubahan produk yang di minta oleh
konsumen atau pelanggan. Jadi proses produksi seperti ini khusus untuk
menghasilkan produk-produk yang :
a. Permintaan (demand)nya besar dan stabil
b. Style produknya tidak mudah berubah.
2. Proses produksi mudah terhenti, karena apabila terjadi kemacetan di suatu
tempat/tingkat proses (di awal,di tengah atau di belakang),maka kemungkinan
seluruh proses produksi akan terhenti yang di sebabkan adanya saling
hubungan dan urut-urutan antara masing-masing tingkat proses.
3. Terdapat kesukaran dalam menghadapi perubahan tingkat permintaan, karena
biasanya tingkat produksi (rate of production)nya telah tertentu ,sehingga
sangat kaku (rigid).
25
Sedangkan kebaikan/kelebihan proses produksi yang terus-menerus
(continuous manufacturing) adalah :
1. Dapat di perolehnya tingkat biaya produksi per unit (unit production cost)
yang rendah, apabila :
a. Dapat dihasilkannya produk dalam volume yang cukup besar,
b. Produk yang di hasilkan distandardisir.
2. Dapat dikuranginya pemborosan pemborosan dari pemakaian tenaga
manusia ,terutama karena system pemindahan bahan yang menggunakan
tenaga mesin/listrik.
3. Biaya tenaga kerja (labor cost)nya adalah rendah , karena jumlah tenaga
kerjanya yang sedikit dan tidak memerlukan tenaga yang ahli (cukup yang
setengah ahli) dalam pengerjaan produk yang dihasilkan.
3. Biaya pemindahan bahan didalam pabrik juga lebih rendah, karena jarak
antara mesin yang satu dengan mesin yang lain lebih pendek dan pemindahan
tersebut digerakkan dengan tenaga mesin (mekanisasi).
26
Kekurangan/kerugian proses produksi yang terputus-putus (intermittent
manufacturing)adalah:
1. Scheduling dan routing untuk pengerjaan produk yang akan dihasilkan sangat
sukar dilakukan karena kombinasi urut-urutan pekerjaan yang banyak sekali
didalam memprodusir satu macam produk , dan disamping itu di butuhkan
scheduling dan routing yang banyak sekali karena produknya yang berbeda
tergantung pemesannya.
2. Oleh karena pekerjaan routing dan scheduling banyak sekali dan sukar di lakukan
,maka pengawasan produksi (production control) dalam proses produksi seperti
ini sangat sukar dilakukan.
3. Dibutuhkannya investasi yang cukup besar dalam persediaan bahan mentah dan
bahan-bahan dalam proses ,karena prosesnya terputus-putus dan produk yang di
hasilkan tergantung dari pesanan.
4. Biaya tenaga kerja dan biaya pemindahan bahan sangat tinggi, karena banyak
dipergunakannya tenaga manusia dan tenaga yang di butuhkannya adalah tenaga
yang ahli dalam pengerjaan produk tersebut.
Sedangkan kebaikan/kelebihan dari proses produksi yang terputus-putus
(intermittent manufacturing ) adalah:
1. Mempunyai Ileksibilitas yang tinggi dalam menghadapi perubahan produk dengan
variasi yang cukup besar.Ileksibilitas ini diperoleh terutama dari:
27
a. Sistem penyusunan peralatan (lav out)nya yang berbentuk process lav
out.
b. Jenis/tipe mesin di gunakan dalam proses yang bersiIat umum(general
purpose machines).
c. Sistem pemindahan bahan yang tidak menggunakan tenaga mesin
tetapi tenaga manusia.
2. Oleh karena mesin-mesin yang di gunakan dalam proses bersiIat umum (general
purpose machines) maka biasanya dapat diperoleh penghematan uang dalam
investasi mesin-mesinnya, sebab harga mesin-mesin ini lebih murah dari pada
mesin-mesin yang khusus(special purpose machines).
3. Proses produksi tidak mudah terhenti akibat terjadinya kerusakan atau kemacetan
di suatu tempat/tingkat proses.
2.9 Peramalan
Peramalan menurut Yulian Yamit, merupakan alat bantu yang penting dalam
perencanaan yang eIektiI dan eIisien khususnya dalam bidang ekonomi. Dalam
organisasi modern mengetahui keadaan yang akan datang tidak saja penting untuk
melihat yang baik atau buruk tetapi juga bertujuan untuk melakukan persiapan
peramalan. Perencana organisasi sangat tertarik untuk mengetahui apakah keadaan
dan kejadian yang akan datang berpengaruh terhadap organisasi. Oleh karena itu
peramalan adalah pintu yang tepat untuk mengetahui keadaan yang akan datang.
28
Peramalan adalah prediksi, proveksi atau estimasi tingkat kefadian vang
tidak pasti dimasa vang akan datang.
13)
Ketepatan secara mutlak dalam memperdiksi
peristiwa dan tingkat kegiatan yang akan datang adlah tidak mungkin dicapai, oleh
karena itu ketika perusahaan tidak dapat melihat kejadian yang akan datang secara
pasti, diperlukan waktu dan tenaga yang besar agar mereka dapat memiliki kekuatan
untuk menarik kesimpulan terhadap kejadian yang akan datang.
Kebanyakan organisasi tidak selalu menunggu pesanan datang untuk memulai
kegiatan perencanaan Iasilitas produksi, proses, peralatan, tenaga kerja dan kebutuhan
bahan baku. Organisasi yang berhasil dalam mengantisipasi permintaan produk yang
akan datang adalah ketepatan dalam mengantisipasi permintaan produk yang akan
datang adalah katepatan dalam menterjemahkan inIormasi ke dalam Iaktor input yang
dibutuhkan dalam peramalan permintaan.
Banyak Iaktor lingkungan yang mempengaruhi permintaan suatu organisasi
yang menghasilkan barang atau jasa, namun tidak mungkin mengidentiIikasi semua
Iaktor dan menghitung kemungkinan pengaruhnya terhadap organisasi. Beberapa
Iaktor umum lingkungan yang mempengaruhi peramalan, yaitu:
Kondisi umum bisnis dan ekonomi
Reaksi dan tindakan pesaing
Tindakan pemerintah
Kecenderungan pasar
1. Siklus kehidupan produk
13)
Yulian Yamit, Manajemen Persediaan, Op. Cit., Hal. 13.
29
2. Gaya dan mode
3. Perubahan permintaan konsumen
Inovasi teknologi
Peramalan menurut SoIjan Assauri :'Prakiraan atau peramalan merupakan seni dan
ilmu dalam memprediksikan kefadian vang mungkin dihadapi pada masa vang akan
datang'.
14)
2.10 Macam-macam metode peramalan.
Banyak jenis metode peramalan yang tersedia untuk manajemen. Namun yang
lebih penting bagi para praktisi adalah bagaimana memahami karakteristik suatu
metode peramalan agar cocok bagi situasi pengambilan keputusan tertentu. Secara
umum metode peramalan dapat diklasiIikasikan dalam dua dategori utama, yaitu
metode kuantitatiI dan metode kualitatiI. Metode kuantitatiI dapat dibagi ke dalam
deret berkala atau runtut waktu (time series), indikator ekonomi dan model
ekonometri. Sedangkan metode kualitatiI dapat berupa pengumpulan pendapat yang
dapat dibagi menjadi pengumpulan pendapat para ahli, survey pasar dan ada pula
yang mengelompokkan dalam metode eksploratoris dan normatiI.
Metode kuantitatiI sangat beragam dan setiap teknik memiliki siIat ketepatan
dan biaya yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode tertentu. Metode
kuantitatiI didasarkan atas prinsip-prinsip statistik yang memiliki tingkat ketepatan
tinggi atau dapat meminimumkan kesalahan (error), lebih sistematis, dan lebih
14)
SoIjan Assauri, Manajemen Produksi dan Operasi, Op. Cit., Hal. 13.
30
populer dalam penggunaannya. Untuk menggunakan metode kuantitatiI terdapat tiga
kondisi yang harus dipenuhi.
N Tersedia inIormasi tentang masa lalu
N InIormasi tersebut dapat dikuantitatiIkan dalam bentuk data numerik.
N Diasumsikan bahwa beberapa pola masa lalu akan terus berlanjut.
Metode peramalan dengan menggunakan gerakan trend yang dijelaskan oleh Yulian
Yamit ada tiga, yaitu:
a. Metode Setengah Rata-rata
Berdasarkan pada data penjualan, maka langkah-langkah perhitungan
dengan menggunakan metode setengah rata-rata adalah:
- Bagilah data deret waktu ke dalam dua kelompok dengan jumlah tahun
yang sama.
- Hitunglah semi total setiap kelompok.
- Carilah rata-rata hitung setiap kelompok untuk memperoleh setengan
rata-rata.
- Nilai setengah rata-rata pertama dapat dianggap sebagai nilai trend
periode dasar pertama, sedangkan nilai setengah rata-rata kedua dapat
dianggap sebagai nilai trend periode dasar kedua.
Perhitungan nilai trend pada tahun tertentu dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut Y` a bx
Dimana, Y` nilai trend periode tertentu
31
a nilai trend periode dasar
b tambahan trend tahunan yang dihitung dengan cara (x2-x1)/n
x2 setengah rata-rata kelompok kedua
x1 setengah rata-rata kelompok pertama
n jumlah periode antara x2 dan x1
x jumlah unit tahun yang dihitung dari periode dasar
b. Metode Bebas
Adalah metode yang paling sederhana dan paling mudah. Namun demikian
metode bebas lebih bersiIat subyektiI, karena gerakan trend dilakukan
dengan menarik garis melalui graIik data sedemikian rupa sehingga
menampakkan suatu gerakan jangka panjang. Cara menarik garis tersebut
hanya berdasarkan perasaan, karena itu sangat subyektiI.
c. Metode Least Square
Metode jumlah kuadrat terkecil (least square) untuk mencari garis trend
dimaksudkan suatu perkiraan atau taksiran mengenai nilai a dan b dari
persamaan Y a bx yang didasarkan atas data hasil observasi. Untuk
mengadakan perhitungan, maka diperlukan nilai tertentu pada variabel
waktu(X), sedemikian rupa, sehingga jumlah nilai variabel waktu adalah
nol (X0).
a Y b XY
n X
2
32
2.11 Metode EOQ (Economic Order Quantity)
Menurut Bambang Riyanto adalah:
'Economic Order Quantitv adalah fumlah kuantitas barang vang dapat diperolah
dengan biava vang minimal, atau sering dikatakan sebagai fumlah pembelian vang
optimal`.
16)
Dalam menentukan besarnya jumlah pembelian yang optimal ini kita
hanya memperhatikan biaya variabel dari penyediaan persediaan tersebut, baik biaya
variabel yang siIat perubahannya searah dengan perubahan jumlah persediaan yang
dibeli /disimpan maupun biaya variabel yang siIat perubahannya berlawanan dengan
perubahan jumlah inventory tersebut. Biaya variabel dari inventory pada prinsipnya
dapat digolongkan dalam :
1. Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan Irekuensi pesanan, yang kini
sering dinamakan ' procurement costs atau ' set-up costs. Misal , biaya
pengiriman pesanan, biaya penerimaan barang yang dipesan, dan sebagainya.
2. Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besarnya 'average inventorv
yang sering disebut ' carrving costs. Misal, biaya penggunaan/sewa gudang ,
biya asuransi, biaya pemeliharaan material, dan sebagainya.
Cara untuk menentukan besarnya EOQ
Besarnya EOQ dapat ditentukan dengan berbagai cara, dan antara lain yang
banyak digunakan ialah dengan penggunaan rumus sebagai berikut:
16)
Bambang Riayato, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Op. Cit., Hal. 78.
33
EOQ 2xRxS
PxI
Dimana,
R Jumlah (dalam unit) yang dibutuhkan selama satu periode tertentu, misalnya
1 tahun.
S Biaya pesanan setiap kali pesan.
P Harga pembelian
I Biaya penyimpanan dan pemeliharaan di gudang dinyatakan dalam persentase
dari nilai rata-rata dalam rupiah dari persediaan.
Model EOQ dapat dilakukan dengan menggunakan asumsi sebagai berikut:
1. Kebutuhan bahan baku dapat ditentukan, relatiI tetap, dan terus menerus.
2. Tenggang waktu pemesanan dapat ditentukan dan relatiI tetap.
3. Tidak diperkenankan adanya kekurangan persediaan artinya setelah kebutuhan
dan tenggang waktu dapat ditentukan secara pasti berarti kekurangan
persediaan dapat dihindari.
4. Pemesanan datang sekaligus dan akan menambah persediaan.
5. Struktur biaya tidak berubah; biaya pemesanan atau persiapan sama tanpa
memperhatikan jumlah yang dipesan, biaya simpan adalah berdasarkan Iungsi
linier terhadap rata-rata persediaan, dan harga beli atau biaya pembelian per
unit adalah konstan (tidak ada potongan).
6. Kapasitas gudang dan madal cukup untuk menampung dan membeli pesanan.
34
7. Pembelian adalah satu jenis item.
Meskipun terdapat berbagai macam asumsi yang harus dipenuhi dalam model EOQ,
bagaimanapun juga EOQ adalah model manajemen persediaan yang dapat
meminimumkan total biaya.
2.12 Reorder Point
Adalah saat atau titik dimana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga
kedatangan atau penerimaan material yang dipesan itu adalah tepat pada waktu
dimana persediaan di atas saIety stock sama dengan.
a. Jika tidak ada saIety stock
ROP (Lead Time x kebutuhan /hari)
b. Jika ada saIety stock
ROP (Lead Time x kebutuhan /hari) saIety stock
Lead Time adalah waktu dimana meliputi saat dimulainya pelaksanaan usaha-usaha
yang diperlukan untuk memesan barang, sampai barang/material tersebut diterima
dan ditempatkan dalam gudang perusahaan.