Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan
memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering
kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia
merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan
budaya.

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kita pungkiri bahwa kebudayaan daerah
merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan yang lebih global, yang biasa kita
sebut dengan kebudayaan nasional. Maka atas dasar itulah segala bentuk
kebudayaan daerah akan sangat berpengaruk terhadap budaya nasional, begitu
pula sebaliknya kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah,
akan sangat berpebgaruh pula terhadap kebudayaan daerah / kebudayaan lokal.
Kebudayaan merupakan suatau kekayaan yang sangat benilai karena selain
merupakan ciri khas dari suatu daerah juga mejadi lambang dari kepribadian
suatu bangsa atau daerah.

Karena kebudayaan merupakan kekayaan serta ciri khas suatu daerah, maka
menjaga, kebudayaan merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan
oleh setiap su ku bangsa.

12 Tujuan dan Manfaat Penulisan
1.2.1 Tujuan
Tujuan saya dalam penyusunan makalah ini Insya Allah dapat membuat
pembaca mengetahui betapa pentingnya peranan budaya lokal dalam
memperkokoh ketahanan budaya bangsa yang akhir-akhir ini sering dilupakan
oleh masyarakat Indonesia sehingga budaya Indonesia banyak diakui oleh bangsa
dan negara lain.
Memperkokoh budaya bangsa maksudnya adalah Insya Allah masyarakat
Indonesia dapat melestarikan dan mempertahankan budayanya sendiri agar tidak
mudah diakui oleh bangsa dan negara lain, bukan hanya tugas masyarakat
Indonesia saja tetapi Presiden Indonesia dan pemerintah juga harus bertindak
tegas bila ada negara lain yang mencoba mengakui budaya Indonesia.

Oleh karena itu, Insya Allah bangsa Indonesia dapat mempertahankan
dan melestarikan budaya Indonesia. Disamping itu, penyusunan makalah ini Insya
Allah dapat membuat generasi muda khususnya Mahasiswa untuk mengetahui
budaya lokal bangsa Indonesia yang mungkin sering dilupakan oleh generasi
muda. Contohnya generasi muda mungkin ada yang lupa kebudayaan bangsa
Indonesia. Untuk itu Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia juga
harus mengenalkan budaya Indonesia ke generasi muda seperti pelajar dan
mahasiswa sedini mungkin agar generasi muda dapat lebih mengenali budaya
bangsa Indonesia. Namun bukan itu saja, diperlukan juga kesadaran generasi
muda untuk mengenal budaya bangsanya sendiri, Insya Allah budaya Indonesia
dapat mudah dilestarikan dari satu generasi ke generasi berikutnya bila generasi
muda sadar arti pentingnya mempertahankan dan melestarikan budaya bangsa
Indonesia.

Jadi kesimpulannya bukan hanya generasi muda yang harus
mempertahankan budaya bangsa Indonesia tetapi ini merupakan tugas masyarakat
Indonesia dalam mempertahankan budaya bangsa Indonesia dan Insya Allah
dapat dilakukan oleh bangsaIndonesia.


1.2.2Manfaat

Sasaran saya dalam penyusunan makalah ini Insya Allah dapat membuat
pembaca umumnya masyarakat Indonesia dan khususnya Mahasiswa untuk
mengetahui peranan budaya lokal dalam mempertahankan dalam memperkokoh
ketahanan budaya bangsa. Insya Allah makalah ini dapat berguna bagi masyarakat
dan mahasiswa dalam melestarikan budaya bangsa bangsa Indonesia.

Karena akhir-akhir ini budaya bangsa Indonesia banyak diakui oleh bangsa dan
negara lain, Insya Allah masyarakat Indonesia sadar dalam mempertahankan
budayanya sendiri. Dan masyarakat Indonesia juga harus melestarikan budayanya
dan memperkenalkan budayanya sendiri agar tidak mudah diakui oleh negara lain.
Alhamdulillah beberapa hari yang lalu Batik yang merupakan pakaian tradisional
bangsa Indonesia dapat dicatat di Unesco sebagai warisan budaya Indonesia.

Namun bukan hanya batik, Insya Allah tarian tradisional, wayang golek, wayang
kulit,dan kesenian Indonesialainnya dapat diakui juga.
kesimpulannya agar bangsa Indonesia bangga akan budayanya sendiri dan dapat
melestarikan warisan budaya bangsa Indonesia dengan mewariskan budayanya
ke generasi selanjutnya. Insya Allah peranan budaya lokal dalam memperkokoh
ketahanan budaya bangsa dapat terwujud





BABII
PEMBAHASAN


2.1.SejarahSongket

Palembang adalah ibukota provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Di daerah ini ada
sebuah kerajinan tenun yang biasa disebut Tenun/siwet Songket Palembang.
Songket adalah kain tenun yang dibuat dengan teknik menambah benang pakan
sebagai hiasan dengan menyisipkan benang perak, emas atau benang warna di atas
benang lungsin. Kata songket itu sendiri berasal dari kata tusuk dan cukit
yang diakronimkan menjadi sukit, kemudian berubah menjadi sungki, dan
akhirnya menjadi songket.
Dari segi sejarah, songket hanya dipakai golongan bangsawan hingga keluarga
kerabat diraja dan orang besar negeri. Kehalusan tenunan dan kerumitan motif
corak songket ketika itu menggambarkan pangkat dan kedudukan tinggi seseorang
pembesar. Ia telah terkenal di Malaysia dan Indonesia sejak abad ke-13 yang
lampau.
Songket punya nilai sejarah yang tinggi sebagai fabrik warisan agung. Selain
mengangkat martabat si pemakai, motif dan warna tenunan songket
melambangkan kedudukan seseorang.
Konon, tenunan dari daerah Palembang sudah ada sejak zaman Kerajaan
Sriwijaya. Teknologi pembuatannya sebenarnya bukan murni berasal dari daerah
tersebut, melainkan dari China, India dan Arab. Adanya perdagangan antara
bangsa-bangsa tersebut dengan Kerajaan Sriwijaya menyebabkan terjadinya
akulturasi, yaitu saling menyerap unsur-unsur kebudayaan yang satu dengan
lainnya. Dan, salah satu unsur kebudayaan dari bangsa-bangsa asing yang telah
diserap oleh masyarakat Palembang adalah teknologi pembuatan kain tenun yang
hingga kini masih dilakukan oleh sebagian masyarakatnya.
Kain tenun songket Palembang banyak dipakai oleh kaum perempuan dalam
upacara adat perkawinan, baik oleh mempelai perempuan, penari perempuan
maupun tamu undangan perempuan yang menghadirinya. Selain itu, songket juga
dipakai dalam acara-acara resmi penyambutan tamu (pejabat) dari luar maupun
dari Palembang sendiri. Pemakaian songket yang hanya terbatas pada peristiwa-
peristiwa atau kegiatan-kegiatan tertentu tersebut disebabkan karena songket
merupakan jenis pakaian yang tinggi nilainya, sangat dihargai oleh masyarakat
Palembang.
Pada zaman dahulu (Kerajaan Sriwijaya) kain tenun songket Palembang tidak
hanya diperdagangkan di daerah sekitarnya (di Pulau Sumatera saja), melainkan
juga ke luar negeri, seperti: Tiongkok, Siam, India dan Arab. Namun, pada saat
penjajahan Belanda dan Jepang, tenun songket tersebut mengalami kemunduran.
Bahkan, saat terjadinya Revolusi fisik (1945--1950) kerajinan tenun songket di
Palembang sempat terhenti karena tidak adanya bahan baku. Namun, di
permulaan tahun 1960-an tenun songket Palembang mengalami kemajuan yang
pesat karena pemerintah menyediakan dan mendatangkan bahan baku serta
membantu pemasarannya.
Pengerjaan kain tenun di Palembang umumnya dikerjakan secara sambilan oleh
gadis-gadis remaja yang menjelang berumah tangga dan ibu-ibu yang sudah lanjut
usia sambil menunggu waktu menunaikan ibadah sholat. Pada umumnya
pembuatan songket dikerjakan oleh kaum perempuan.
Dewasa ini pengrajin tenun songket Palembang tidak hanya memproduksi satu
jenis songket tertentu, seperti sarung dan atau kain. Akan tetapi, seiring dengan
perkembangan zaman, sudah merambah ke produk jenis lain, seperti: gambar
dinding, taplak meja, permadani bergambar, baju wanita, sprey, baju kursi, bantal
permadani, selendang, serber, kain lap dapur, sapu tangan, bahan kemeja, dan
tussor (bahan tenun diagonal).

2.2 Teknik Pembuatan Tenun Songket

Pembuatan tenun songket Palembang pada dasarnya dilakukan dalam dua tahap,
yaitu: tahap menenun kain dasar dengan konstruksi tenunan rata atau polos dan
tahap menenun bagian ragam hias yang merupakan bagian tambahan dari benang
pakan. Masyarakat Amerika dan Eropa menyebut cara menenun seperti ini
sebagai inlay weaving system.

a. Tahap Menenun Kain Dasar

Dalam tahap ini yang ingin dihasilkan adalah hasil tenunan yang rata dan polos.
Untuk itu, langkah pertama yang dilakukan adalah benang yang sudah dikani,
salah satu ujungnya direntangkan di atas meja. Sedangkan, ujung lainnya
dimasukkan kedalam lubang suri (sisir). Pengisian benang ini diatur sedemikian
rupa sehingga sekitar 25 buah lubang suri, setiap lubangnya dapat memuat 4 helai
benang. Hal ini dimaksudkan untuk membuat pinggiran kain. Sedangkan, lubang-
lubang yang lain, setiap lubangnya diisi dengan 2 helai benang.
Setelah benang dimasukkan ke dalam suri dan disusun sedemikian rupa (rata),
maka barulah benang digulung dengan boom yang terbuat dari kayu. Pekerjaan ini
dinamakan menyajin atau mensayin benang. Setelah itu, pemasangan dua buah
gun atau alat pengangkat benang yang tempatnya dekat dengan sisir. Sesuai
dengan apa yang dilakukan, pekerjaan ini disebut sebagai pemasangan gun
penyenyit. Selanjutnya, dengan posisi duduk, penenun mulai menggerakkan
dayan dengan menginjak salah satu pedal untuk memisahkan benang sedemikian
rupa, sehingga benang yang digulung dapat dimasukkan dengan mudah, baik dari
arah kiri ke kanan (melewati seluruh bidang dayan) maupun dari kanan ke kiri
(secara bergantian). Benang yang posisinya melintang itu ketika dirapatkan
dengan dayan yang ber-suri akan membentuk kain dasar.

b. Tahap Pembuatan Ragam Hias

Setelah kain dasar terwujud, maka tahap berikutnya (tahap yang kedua) adalah
pembuatan ragam hias. Dalam tahap ini kain dasar yang masih polos itu dihiasi
dengan benang emas atau sutera dengan teknik pakan tambahan atau
suplementary weft. Caranya agak rumit karena untuk memasukkannya ke dalam
kain dasar harus melalui perhitungan yang teliti. Dalam hal ini bagian-bagian kain
dipasangi gun kembang agar benang emas atau sutera dapat dimasukkan, sehingga
terbentuk sebuah motif. Konon, pekerjaan ini memakan waktu yang cukup lama
karena benang emas atau sutera itu harus dihitung satu-persatu dari pinggir kanan
kain hingga pinggir kiri menurut hitungan tertentu, sesuai dengan contoh motif
yang akan dibuat. Selanjutnya, benang tersebut dirapatkan satu demi satu,
sehingga membentuk ragam hias yang diinginkan.
Lama dan tidaknya pembuatan suatu tenun songket, selain bergantung pada jenis
tenunan yang dibuat dan ukurannya, juga kehalusan dan kerumitan motif
songketnya. Semakin halus dan rumit motif songketnya, akan semakin lama
pengerjaannya. Pembuatan sarung dan atau kain misalnya, bisa memerlukan
waktu kurang lebih dua hingga enam bulan. Bahkan, seringkali lebih dari enam
bulan karena setiap harinya seorang pengrajin rata-rata hanya dapat
menyelesaikan kain sepanjang 5--10 sentimeter.

2.3 Corak dan motif

Corak dan motifnya memaparkan ciri-ciri unik identiti orang Melayu dan
sekaligus mencerminkan cita rasa budaya bangsa yang mekar dalam persekitaran
yang kaya dengan keindahan dan keunikan. Antara corak yang digunakan:
Susunan bunga penuh
Susunan bunga bertabur
Susunan bercorak
Motif yang digunakan adalah seperti:
Motif Tumbuh-tumbuhan
Motif Binatang
Motif Alam/Benda
Motif Kuih

2.4 Nilai Budaya

Tenun Songket Palembang, jika dicermati secara seksama, di dalamnya
mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam
kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain:
kesakralan, keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran.
Nilai kesakralan tercermin dari pemakaiannya yang umumnya hanya
mengenakannya pada peristiwa-peristiwa atau kegiatan-kegiatan yang ada
kaitannya dengan upacara, seperti perkawinan, upacara menjemput tamu dan lain
sebagainya. Nilai keindahan tercermin dari motif ragam hiasnya yang dibuat
sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan,
ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan
ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin
akan terwujud sebuah tenun songket yang indah dan sarat makna.

2.5 Tips Tips Merawat Songket

Harga Kain Songket Palembang agak tergolong mahal. Bahan baku pembuatan
Kain Songket Palembang hampir seluruhnya diimpor, hal ini membuat harga jenis
kain tergolong mahal. Benang sutra dan benang emas ini sejak dahulu diimpor
dari China, Jepang, dan Thailand. Namun benang sutra lokal dapat digunakan
tetapi agak susah ditenun.
Selain jenis Kain Tenun bahan baku yang dipakai, harga kain Tenun Songket juga
ditentukan oleh pola motif Songket penuh atau motif tabur pada kain. Makin
penuh bermotif tentu harganya makin mahal. Tingkat kerapatan tenunan songket
juga turut memengaruhi harga Perawatan Kain Songket harus dilakukan dengan
hati-hati. Kain Tenun Songket tidak bisa terkena panas atau disimpan di ruangan
yang sembarangan. Perawatannya harus benar-benar diperhatikan. Setelah dipakai
Kain Tradisional songket mesti diangin-anginkan terlebih dulu, kemudian
digulung dan setiap tiga bulan sekali harus dibuka (dijabarkan) untuk
menghilangkan bau yang mungkin ada di dalamnya ada beberapa cara yang dapat
dilakukan untuk itu :
1. Kain Songket sebaiknya digulung mengelilingi batang pralon atau karton
seperti menyimpan tekstil modern tetapi Kain Tenun Songket Palembang
hendaknya dilapisi dahulu dengan kertas minyak, kertas roti atau kertas kopi.
Jangan sekali-kali menggunakan kertas koran. Kemudian Kain Tradisional
dibungkus plastik disimpan dalam lemari dan diletakkan berdiri atau miring.
2. Lemari penyimpanan Songket di beri butir-butir lada atau cengkeh yang
ditakuti rayap.
3. Kain Songket Palembang tidak boleh di dry clean atau di laundry jadi hanya
diangin-anginkan

2.6 Jenis-jenis kain songket
Ada dua jenis kain tenun, yaitu tenun ikat dan tenun
songket. Perbedaan keduanya terletak pada bahan yang
digunakan dan teknik pembuatannya.
a. Tenun ikat
Tenun ikat adalah kain tenun yang pembentukan ragam hiasnya dibuat dengan cara
mengikat bagianbagian benangnya. Sejarah pembuatan tenun Nusantara
diawali dengan adanya tenun ikat lungsi yang sudah ada sejak zaman
prasejarah. Tenun ikat lungsi adalah tenun yang teknik pembentukan ragam hiasnya
dibuat dengan cara mengikat benang lungsinya, yaitu benang
yang vertikal. Persebaran tenun ikat lungsi, antara lain di Toraja, Sulawesi Selatan,
Minahasa (Sulawesi Utara), Batak (Sumatra Utara), Sumba (NTT), Flores, dan di
pedalaman Kalimantan. Pada perkembangan selanjutnya, dikenal pula pembuatan
tenun dengan teknik ikat pakan (jalur horizontal). Bahan-bahan yang digunakan
dalam tenun ikat adalah benang kapas, dapat juga menggunakan benang sutra alam,
seperti pada tenun ikat Nusapenida (Bali)
dan Padang. Tenun ikat ini oleh sebagian masyarakat lebih dikenal dengan sebutan
kain ulos.
b. Tenun songket
Tenun songket atau populer dengan sebutan kain songket adalah jenis kain tenun
yang penciptaannya dimulai setelah adanya tenun ikat. Teknik pembuatan tenun
songket sebenarnya sudah ada sejak zaman prasejarah
dengan adanya teknik pakan tambahan dan lungsi tambahan. Namun kain songket
yang menggunakan benang emas, benang perak, atau benang sutra mulai diterapkan
semenjak adanya hubungan perdagangan kerajaan di Sumatera dengan orang-orang
asing terutama dari Cina. Benang sutra yang didapatkan dari luar diterapkan dalam
kain tenun yang kemudian dikenal
dengan sebutan kain songket. Kain songket adalah kain tenun yang dibuat melalui
suatu teknik memberikan benang tambahan berupa benang emas, benang perak, atau
benang sutra dengan cara dicukit atau disongket.
Pembentukan corak pada tenunan sangat dipengaruhi oleh bahan-bahan yang
digunakan, yang membentuk desain itu sendiri. Ada desain benang sutra yang
ditempatkan di atas dasar benang kapas. Ada desain yang terbentuk dari jenis benang
yang sama, misalnya dari sesama benang kapas atau sesama benang sutra, atau dari
jenis benang lainnya. Daerah-daerah tertentu di Indonesia yang menjadi awal
pembuatan songket, antara lain Palembang (Sumsel), Donggala (Sulteng),

2.7 asal- usul kain songket
Songket adalah jenis kain tenunan tradisional Melayu di Indonesia, Malaysia,
dan Brunei. Songket digolongkan dalam keluarga tenunan brokat. Songket
ditenun dengan tangan dengan benang emas dan perak dan pada umumnya
dikenakan pada acara-acara resmi. Benang logam metalik yang tertenun berlatar
kain menimbulkan efek kemilau cemerlang.
Kata songket berasal dari istilah sungkit dalam bahasa Melayu dan bahasa
Indonesia, yang berarti mengait atau mencungkil. Hal ini berkaitan dengan
metode pembuatannya; mengaitkan dan mengambil sejumput kain tenun, dan
kemudian menyelipkan benang emas. Selain itu, menurut sementara orang,
kata songket juga mungkin berasal dari katasongka, peci khas Palembang yang
dipercaya pertama kalinya kebiasaan menenun dengan benang emas dimulai.
Isitilah menyongket berarti menenun dengan benang emas dan perak. Songket
adalah kain tenun mewah yang biasanya dikenakan saat kenduri, perayaan atau
pesta. Songket dapat dikenakan melilit tubuh seperti sarung, disampirkan di bahu,
atau sebagai destar atau tanjak, hiasan ikat kepala. Tanjak adalah semacam topi
hiasan kepala yang terbuat dari kain songket yang lazim dipakai oleh sultan dan
pangeran serta bangsawan Kesultanan Melayu.Menurut tradisi, kain songket
hanya boleh ditenun oleh anak dara atau gadis remaja; akan tetapi kini kaum lelaki
pun turut menenun songket.Beberapa kain songket tradisional sumatra memiliki
pola yang mengandung makna tertentu.
Songket harus melalui delapan peringkat sebelum menjadi sepotong kain dan
masih ditenun secara tradisional. Karena penenun biasanya dari desa, tidak
mengherankan bahwa motif-motifnya pun dipolakan dengan flora dan fauna lokal.
Motif ini juga dinamai dengan kue lokal Melayu seperti seri kaya, wajik, dan
tepung talam, yang diduga merupakan favorit raja.
Menurut hikayat rakyat Palembang, asal mula kain songket adalah dari
perdagangan zaman dahulu di antara Tiongkok dan India. Orang Tionghoa
menyediakan benang sutera sedangkan orang India menyumbang benang emas
dan perak; maka, jadilah songket. Kain songket ditenun pada alat tenun bingkai
Melayu. Pola-pola rumit diciptakan dengan memperkenalkan benang-benang
emas atau perak ekstra dengan penggunaan sehelai jarum leper. Tidak diketahui
secara pasti dari manakah songket berasal, menurut tradisiKelantan teknik tenun
seperti ini berasal dari utara, yakni kawasan Kamboja dan Siam, yang kemudian
berkembang ke selatan di Pattani dan akhirnya mencapai Kelantan dan
Terengganu. Akan tetapi menurut penenun Terengganu, justru para pedagang
Indialah yang memperkenalkan teknik menenun ini pertama kali di Palembang
dan Jambi, yang mungkin telah berlaku sejak zaman Sriwijaya.
Menurut tradisi Indonesia sendiri, kain songket nan keemasan dikaitkan dengan
kegemilangan Sriwijaya, kemaharajaan niaga maritim nan makmur lagi kaya yang
bersemi pada abad ke-7 hingga ke-13 di Sumatera. Hal ini karena kenyataan
bahwa pusat kerajinan songket paling mahsyur di Indonesia adalah
kota Palembang. Songket adalah kain mewah yang aslinya memerlukan sejumlah
emas asli untuk dijadikan benang emas, kemudian ditenun tangan menjadi kain
yang cantik. Secara sejarah tambang emas di Sumatera terletak di pedalaman
Jambi dan dataran tinggi Minangkabau. Meskipun benang emas ditemukan di
reruntuhan situs Sriwijaya di Sumatera, bersama dengan batu mirah delimayang
belum diasah, serta potongan lempeng emas, hingga kini belum ada bukti pasti
bahwa penenun lokal telah menggunakan benang emas seawal tahun 600-an
hingga 700-an masehi.Songket mungkin dikembangkan pada kurun waktu yang
kemudian di Sumatera. Songket Palembang merupakan songket terbaik di
Indonesia baik diukur dari segi kualitasnya, yang berjuluk Ratu Segala Kain.
Songket eksklusif memerlukan di antara satu dan tiga bulan untuk
menyelesaikannya, sedangkan songket biasa hanya memerlukan waktu sekitar 3
hari. Mulanya kaum laki-laki menggunakan songket sebagai destar, tanjak atau
ikat kepala. Kemudian barulah kaum perempuan Melayu mulai memakai
songketsarung dengan baju kurung.
Keberadaan kain songket Palembang merupakan salah satu bukti peninggalan
kerajaan Sriwijaya yang mampu penguasai perdagangan di Selat Malaka pada
zamannya. Para ahli sejarah mengatakan bahwa kerajaan Sriwijaya sekitar abad
XI setelah runtuhnya kerajaan Melayu memegang hegemoni perdagangan laut
dengan luar negeri, diantara negara yang mempunyai hubungan dagang dengan
kerajaan Sriwijaya adalah India, Cina, Arab dll. Keberadaan hegemoni
perdagangan ini menunjukan sebuah kebesaran kerajaan maritim di nusantara
pada masa itu. Keadaan geografis yang berada di lalu lintas antara jalut
perdagangan Cina dan India membuat kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan
maritim dan perdagangan internasional.
Gemerlap warna dan kilauan emas yang terpancar pada kain tenun ini,
memberikan nilai tersendiri dan menunjukan sebuah kebesaran dari orang-orang
yang membuat kain songket. Apabila kita melihat rangkaian benang yang tersusun
dan teranyam rapih lewat pola simetris, menunjukan bahwa kain ini dibuat dengan
keterampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain
bermutu, yang sekaligus mampu menghias kain dengan beragam desain.
Kemampuan ini tidak semua orang mampu mengerjakannya, keahlian dan
ketelitian mutlak diperlukan untuk membuat sebuah kain songket. Pengetahuan ini
biasanya diperoleh dengan cara turun temurun dari generasi ke generasi
selanjutnya.
Menurut para ahli sejarah, seperti dikutip oleh Agung S dari Team Peneliti ITT
Bandung dalam bukunya yang berjudul Pengetahuan Barang Tekstil ( 1977:209
), mengatakan bahwa sejak zaman Neolithikum, di Indonesia sudah mengenal cara
membuat pakaian. Dari alat-alat peninggalan zaman Neolithikum tersebut dapat
diketahui bahwa kulit kayu merupakan pakaian manusia pada zaman prasejarah di
Indonesia. Alat yang digunakan adalah alat pemukul kulit kayu yang dibuat dari
batu,seperti yang terdapat pada koleksi Museum Pusat Jakarta. Disamping pakaian
dari kulit kayu, dikenal juga bahan pakaian dengan mengunakan kulit binatang
yang pada umumnya dipakai oleh lakilaki sebagai pakaian untuk upacara
ataupun pakaian untuk perang. Sejak zaman prasejarah nenek moyang bangsa
Indonesia juga sudah mengenal teknik menenun. Hal tersebut diperkuat dengan
adanya penemuan tembikar dari zaman prasejarah yang didalamnya terdapat
bentuk hiasan yang terbuat dari kain tenun kasar.
Kemakmuran dizaman itu terlihat dari adanya kerajaan Sriwijaya yang
menghasilkan berbagai kain songket, dimana pada masa itu diperkirakan gemerlap
warna kain songket untuk para pejabat kerajaan khususnya untuk raja di berikan
sulaman berbahan emas. Sebagai kerajaan yang kaya dengan emas dan berbagai
logam mulai lainnya, sebagian emas-emas tersebut dikirim kenegeri Siam
(Thailand) untuk dijadikan benang emas yang kemudian dikirim kembali
kekerajaan Sriwijaya, oleh para perajin benang emas tersebut ditenun dengan
menggunakan benang sutra berwarna yang pada masa itu diimpor dari Siam
(Thailand), India dan Tiongkok (Cina). Perdagangan internasional membawa
pengaruh besar dalam hal pengolahan kain songket terutama dalam memadukan
bahan yang akan digunakan sebagai kain songket. Kain Songket untuk Raja dan
kelurganya tentu memerlukan bahan dan pengerjaan yang lebih, benang sutra
yang dilapisi emas menjadi bahan yang menonjol dalam pembuatanya, sehingga
menghasilkan sebuah kain songket gemerlap, yang menunjukan sebuah kebesaran
dan kekayaan yang tidak terhingga
2.8 cara pembuatan kain songket
Songket adalah suatu buah karya yang memiliki citarasa seni yang
tinggi. Dalam proses pengerjaannya, songket harus dilakukan dengan
cermat. Sisir tenun dimasukkan benang lungsi sutera dan handle utama
pada jalinan kain akan diisi benang emas dan sutera dengan pola yang
simetris.
Songket Palembang ini dibentuk oleh bahan baku berbagai jenis benang
diantaranya benang kapas, benang sutera ataupun yang lebih lembut.
Bahan baku berupa benang putih biasanya di import dari cina, Thailand
ataupun india guna mendapatkan kain songket yang bagus. Selanjutnya
sebelum proses penenunan, benang diberi warna denga cara dicelup
dengan warna yang diinginkan. Biasanya songket Palembang didominasi
dengan warna merah, tapi pada saat ini warna merah tidak mutlak.
Pada zaman dahulu, zat pewarna khususnya yang berwarna merah
didapat dari alam dengan cara mengolah kayu sepang yang diambil
intinya dan direbus dengan campuran akar mengkudu.
Untuk warna kuning didapat dengan hasil pengolahan kunyit sedangkan
warna biru dengan indigo. Sedangkan warna-warna sekunder seperti
ungu, orange dan hijau didapat dengan cara mencampur warna-warna
primer yang tadi sudah didapat dan ditambahkan tawas agar warna tidak
menjadi pudar.
Penenunan dilakukan setelah proses pewarnaan benang. Benang pakan
ditempatkan secara melebar dan horizontal sedangkan benang lungsi
penempatannya secara horizontal atau memanjang. Benang-benang ini
penempatannya harus dihitung secara teliti dan cermat. Persilangan
kedua benang inilah yang nantinya akan menjadi kain songket.
Sedangkan motif didapatkan dengan cara menambahkan benang emas
yang diselipkan diantara tenunan tersebut.
Rumitnya cara pembuatan kain songket ini membuatnya lama baru bisa
menghasilkan kain songket yang baik. Hal ini juga disebabkan pada
masa lalu pembuatan kain songket hanya dikerjakan pada waktu luang
oleh para gadis remaja dan ibu-ibu selesai mereka beraktifitas dikebun
dan mengurus pekerjaan rumah.
Motif warna emas biasanya menjadi cirri khas tenun songket. Terdapat
tiga jenis benang emas yang dikenal dari segi pengerjaannya, yaitu
benang emas sartibi, benang emas Bangkok, dan benang emas cabutan.
Benang emas cabutan ini didapat dari kain songket yang sudah lama dan
sudah rusak yang diurai kembali dengan dengan cara mencabut benang
emasnya. Biasanya benang emas ini masih bagus dan masih kuat dan
dapat dipergunakan kembali dengan cara dicelupkan dengan cairan emas
24karatuntukperemajaan.
Hasil yang didapat dari peanfaatan benang emas songket yang sudah
lama dan rusak biasanya akan menghasilkan kain songket baru yang
yang antik. Jadi sangatlah wajar jika kain songket harganya sangat mahal
menilik dari proses pengerjaannya yang rumit dan telaten.
Benang emas yang juga biasa digunakan adalah benang emas sartibi.
Saya juga begitu kurang faham kenapa dinamakan benang emas sartibi,
mungkin ini terkait dengan orang yang pertama kali memakai jenis
benang emas ini. Benang emas ini merupakan benang emas sintetis yang
berasal dari pabrikan yang dari jepang. Adapun jenis benang ini halus
dan tidak begitu mengkilap dan juga ringan sehingga hasil tenunan
menjadi ringan. Sedangkan jenis benang emas Thailand karena dia
memang berasal dari Bangkok, Thailand dan biasanya mengkilap.
Adapun komponen pendukung pembuatan kain songket adalah: alat
tenun, benang merah, rungsen, benang emas, lidi, buluh, baliro, plenting
dan lain-lain.

Sabar, tekun dan ulet mutlak diperlukan dalam membuat kain songket.
Jika terburu-buru dan tidak sabaran maka hasil yang didapatkan akan
kurang bagus. Satu bulan biasanya waktu minimal yang paling cepat
yang dibutuhkan dalam pembuatan tenun songket belum ditambah
pembuatan motif yang biasanya memakn waktu kurangkebih setengah
bulan sehingga total waktu yang diperlukan adalah satu setengah bulan.
Berikut ini adalah tahapan-tahapan dalam pembuatan kain songket:
Pencelupan
Siapkan warna yang dikehendaki, kemudian benang sutera yang masih
berwarna putih dicelup. Setelah dicelup maka benang tadi dijemur
dibawah sinar matahari langsung dengan memakai bamboo sebagai
penyanggahnya.
Cabutan
Seperti telah dijelaskan diatas, maka proses ini adalah mencabut atau
memisahkan benang emas dari songket lama. Pada proses ini maka harus
dikerjakan dengan sangat hati-hati karena benang emas pada kain yang
sudah lama akan mudah rusak dan rontok. Setelah terpisah dari kain,
benang emas ini digulung sedemikian rupa agar tidak rusak. Jika terjadi
kerusakan pada benang emas, maka dilakukan proses perbaikan dengan
cara menyambung benang emas yang rusak tersebut, biasanya benang
tersebut putus dan dilakukan penyambungan, setelah itu benang emas
tersebut digulung dengan memakai planting yang terbuat dari bamboo
dan dimasukan teropong yang juga terbuat dari bamboo. Pada proses ini
memakan waktu kuranglebih delapan sampai dubelas hari.
Penenunan
Proses selanjutnya adalah penenunan. Proses penenunan ini yaitu dengan
cara memasukan benang emas dan benang sutera sesuai dengan motif
yang diinginkan. Motif desain dilakukan dengan cara mengcungkit
dengan menggunakan lidi untuk mendapatkan motif yang diinginkan.
Proses ini memerlukan waktu yang cukup lama, biasanya hingga dua
sampai tiga bulan.
Karena semua bahan baku hampir semuanya di import, maka
meyebabkan kain songket begitu mahal harganya. Turun temurun
benang ini, baik sutera ataupun emas di import dari cina, jepang dan
Thailand juga india. Untuk sutera local memang bisa digunakan tetapi
biasanya agak susah di tenun.
Harga songket dipengaruhi juga oleh motif atau pola yang benang emas
yang dipakai. Tentunya semakin penuh dan semakin rapat pola yang
terbentuk maka akan membuat harga sebuah kain songket menjadi lebih
mahal.
Perlakuan khusus untuk kain songket mutlak dilakukan. Kain songket
tidak bisa sembarangan didalam perawatannya. Kain songket tidak bisa
dicuci baik itu dengan dry cleaning ataupun wet cleaning. Lihat
cara perawatan songket palembang.

Songket Palembang Peralatan dan bahan pembentuk
Ada dua peralatan dalam membuat kain tenun songket Palembang. Yang
pertama adalah peralatan pokok dan yang kedua adalah peralatan
tambahan. Kedua peralatan tersebut biasanya terbuat dari bamboo dan
kayu. Peralatan pokok terdiri dari alat tenun itu sendiri yang disebut
DAYAN. Alat ini berukuran 2 x 1.5 m dan terdiri dari gulungan yaitu
alat yang berguna untuk menggulung benang dasar tenunan. Komponen
lainnya adalah Penyicing yaitu alat untuk menyongket, Cahcah yaitu alat
yang digunakan untuk memasukan benang kedasar benang yang lain, dan
Gun yaitu alat untuk mengangkat benang.
Untuk peralatan tambahan yaitu Pelenting, Gala, Belero ragam,
Teropong palet. Pelenting digunakan untuk mengatur posisi benang
ketika ditenun. Semua peralatan tambahan tersebut diposisikan
sedemikian hingga mudah dicapai oleh si penenun.
Kain dasar pembentuk tenun songket biasanya disebut Lungsin atau
Lusi. Benang ini terbuat dari kapas, kulit kayu, serat pisang, serat nanas
dan daun palem. Untuk hiasan terbuat dari benang emas dan benang
sutera. Benang sutera ini didatangkan dari cina dan Taiwan, dan untuk
benang emas didatangkan dari jepang, india, Thailand, jerman dan
perancis. Untuk pewarna benang juga didatangkan dari jerman dan
inggris.
Membuat benang lungsin adalah dengan cara memutar pemberat dengan
jari tangan. Adapun bentuk pemberat tersebut seperti layaknya gasing
yang bahannya terbuat dari kayu. Di wilayah lain seperti sumatera barat,
jawa, bali dan Lombok pemberat tersebut diberi nama antih yaitu alat
yang terdiri dari roda yang bisa berputar beserta pengait untuk memutar
roda tersebut.
Benang biasanya direndam didalam air sabun dengan maksud untuk
meghilangkan zat minyaknya baru kemudian dicelup pada warna yang
diinginkan. Setelah kering baru benang tersebut digulung dan disiapkan
jumlah helai benang yang akan ditenun.
Dewasa ini banyak pengrajin yang memotong proses pewarnaan ini
dengan cara langsung membeli jenis benang yang sudah memiliki warna
langsung dari pabriknya baik itu diimport maupun membeli didalam
negeri.
Songket Palembang Teknik Pembuatan
Pada dasarnya songket Palembang dibuat dalam dua tahap. Tahap
pertama adalah menenun rata atau polos pada kain dasar. Tahap kedua
adalah menenun pola atau motif hiasan dengan benang pakan. Dieropa
model menenun seperti ini disebut Inlay Weaving system.

Menenun kain dasar
Pada fase ini prosesnya adalah benang yang di kani salah satu dari
ujungnya direntang diatas meja. Sedang ujung yang lainnya dimasukan
kedalam sisir atau suri. Sekitar duapuluhlima suri atau sisir diisi dengan
benang dan diatur sedekemikian rupa sehingga setiap lobang suri dapat
memuat empat helai benang. Ini nantinya digunakan untuk membentuk
tepi-tepi kain. Untuk lubang yang lainnya diisi dua helai benang disetiap
lubangnya. Setelah semua benang disusun sedememikian rupa didalam
suri, barulah kemudoan digulung menggunakan boom yang dibuat
dengan bahan kayu. Pekerjaan tersebut biasa disebut mensayin benang
atau menyajin. Setelah proses tersebut dilanjutkan dengan memasang
dua buah Gun yang ditempatkan didekat sisir. Pekerjaan ini sesuai
dengan namanya disebut pemasangan Gun Penyeyit. Dalam posisi
duduk, penenun menggerakkan dayan dengan cara menginjak pedal
untuk memisahkan benang sehingga benang bisa dimasukkan dengan
mudah melewati dayan dari arah kiri dan kanan secara bergantian. Posisi
benang yang melintang akan dirapatkan dengan dayan bersuri sehingga
akan membentuk kain dasar.
Membuat Hiasan
Pembuatan hiasan atau motif caranya agak rumit yaitu dengan cara
memasukan pakan tambahan kedalam kain dasar yang polos. Teknik ini
biasa di eropa disebut supplementary weft. Cara ini harus dilakukan
denga teliti dan melalui perhitungan yang cermat. Bagian kain dipasang
Gun kembang untuk memasukan benang emas atau sutera kedalam kain
dasar polos sehingga nantinya akan terbentuk sebuah pola atau motif
yangdiinginkan.
Pekerjaan membuat motif ini memerlukan waktu yang cukup lama, hal
ini dikarenakan benang emas dan sutera harus dihitung jumlahnya
menurut rumusan tertentu dan dirapatkan sedemikina hingga satu persatu
untuk mendapatkan hiasan atau motif yang ingin dibuat.
Waktu pengerjaan sebuah kain songket sangat tergantung dari jenis
tenunan dan ukuran kain, juga dari kerumitan motif atau pola yang akan
dibentuk dari kain songket itu sendiri. Jadi, untuk kain songket yang
halus dan rumit motifnya tentu saja memerlukan waktu pengerjaan yang
lama. Setiap hari, seorang penenun kain songket dapat menghasilkan
kain dengan panjang hanya lima sampai sepuluh sentimeter saja. Jadi,
untuk membuat kain songket berupa sarung misalnya, maka akan
menghabiskan waktu minimal dua bulan

2.9 teknik pembuatan kain songket
Kain songket merupakan mahkota seni penenunan yang bernilai tinggi. Teknik
pembuatannya memerlukan kecermatan tinggi. Benang lungsi sutera dimasukkan
melalui sisir tenun dan hendle utama pada rangkaian kain yang membentuk pola
simetris dan diisi oleh benang sutra dan benang emas.
Bahan baku kain songket Palembang ini adalah berbagai jenis benang, seperti
benang kapas atau dari bahan benang sutera. Untuk membuat kain songket yang
bagus digunakan bahan baku benang sutera berwarna putih yang diimpor
dari India, Cina atau Thailand. Sebelum ditenun, bahan bakudiberi warna dengan
jalan dicelup dengan warna yang dikehendaki. Warna dominan dari tenun
songket Palembang ini, merah. Namun, saat ini penenun dari Palembang sudah
menggunakan berbagai warna, yaitu warna yang biasa digunakan untuk tekstil.
Dahulu, kain songket tradisional dicelup dengan warna - warna yang didapat dari
alam. Teknik ini diteruskan ke anak cucu secara turun temurun. Biasanya warna
merah, didapat dari pengolahan kayu sepang dengan jalan mengambil inti
kayunya dan direbus, dan mengkudu, yang didapat dari akarnya. Warna biru
didapat dari indigo, warna kuning didapat dari dari kunyit. Untuk mendapatkan
warna sekunder seperti hijau, oranye dan ungu, dilakukan percampuran cat dari
warna primer merah,biru dan kuning. Sedangkan untuk mencegah agar warna
tidak luntur atau pudar pada waktu pencelupan ditambahkan tawas.
Setelah benang diberi warna, lalu ditenun dengan alat yang sederhana.
Penempatan benang-benang telah dihitung dengan teliti. Benang yang memanjang
atau vertikal disebut lungsi, benang yang ditempatkan melebar atau horizontal
disebut benang pakan. Hasil persilangan kedua jenis benang ini terangkai menjadi
kain. Karena rumitnya proses bertenun ini, sehelai kain dapat diselesaikan dalam
waktu ber bulan - bulan. Apalagi di masa lalu, menenun dikerjakan oleh para ibu
pada waktu senggang ketika pekerjaan mengurus rumah tangga atau bertani telah
selesai.
Tenun songket biasanya diberi motif berwarna emas. Benang emas yang dipakai
ada tiga jenis, yaitu benang emas cabutan, benang emas Sartibi dan benang
emas Bangkok. Untuk mendapatkan motif songket berbenang emas, ditambahkan
benang emas yang sudah dihitung kemudian ditenunkan di antara benang tadi.
Benang emas cabutan didapat dari kain songket antik yang sebagian kainnya
sudah rusak, yang diurai kembali. Benang emas cabutan masih kuat karena dibuat
dari benang katun yang dicelupkan ke dalam cairan emas 24 karat.
Pengerjaaan yang rumit dengan mengurai kembali benang yang sudah ditenun ini
menghasilkan kain songket yang baru yang berkesan antik. Dengan pembuatan
dan pengerjaan yang harus sangat telaten ini wajarlah harga kain songket bisa
berlipat ganda.
Jenis yang kedua, benang emas Sartibi. yaitu benang emas sintetis dari pabrik
benang di Jepang. Benang ini halus, dan tidak mengkilap, hasil tenunannya lebih
halus dan ringan. Jenis benang emas yang ketiga yaitu benang Bangkok yang
mengkilap dan memang didatangkan dari Bangkok.
Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat songket, antara lain seperti alat
tenun, rungsen, benang emas, benang merah, baliro, lidi, buluh, pleting dan lain
sebagainya. Dalam pembuatan songket diperlukan ketekunan, keuletan, dan
kesabaran. Kalau dilakukan terburu-buru hasilnya tidak bagus. Waktu yang
dibutuhkan untuk menenun satu songket biasanya paling cepat setengah bulan dan
paling lama satu bulan. Waktu tersebut belum termasuk membuat motif. Sehingga
untuk membuat satu songket waktu diperlukan bisa satu bulan setengah.
Proses pembuatan melalui beberapa tahapan, pertama yaitu pencelupan, Benang
Sutera yang masih putih dicelup sesuai warna yang dikehendaki, setelah itu
dijemur dengan bambu panjang di terik matahari untuk membuat kain dan
selendang (ukuran lebar kain 90 cm untuk selendang 60 cm, sedangkan
panjangnya 165 hingga 170). Setelah benang kering maka akan dilakukan proses
desain (pencukitan) dengan menggunakan lidi sesuai dengan motif yang
dikehendaki.
Setelah proses pencukitan selesai maka akan dilakukan proses penenunan yang
memerlukan waktu mulai 2 hingga 3 bulan. Didalam proses penenunan ini benang
lungsi sutera dimasukkan kealat tenun melalui sisir tenun dan henddle utama pada
rangkaian kain yang membentuk pola simetris dan diisi oleh benang sutra dan
benang emas tambahan. Alat yang digunakan untuk proses penenunan ini selain 1
(satu) set alat tenun, digunakan juga baliro yang digunakan untuk menyentak
benang di lungsi dengan benang pakan. Benang pakan dimasukkan dengan
menggunakan alat yang bernama peleting. Sedangkan untuk mempermudah
benang pakan yang ada di peleting masuk ke lungsi teropong didorong melewati
benang lungsi. Setelah benang di peleting lewat, baik benang sutera maupun
benang emas ataupun benang limar, maka dilakukan penenunan dengan
menyentak benang dengan beliro yang dibantu dengan sisir tenun. Proses
penenunan dimulai dari ujung kain, dilanjutkan sesuai dengan motif kain. Setiap
songket mempunyai tumpal kain. Tumpal kain biasanya diletakkan di bagian
depan ketika kain dipakai.
Selain songket yang dibuat dengan benang emas baru, songket juga dibuat dengan
benang emas cabutan. Benang emas cabutan didapat dari kain songket antik yang
sebagian kainnya sudah rusak, yang diurai kembali. Proses cabutan adalah proses
pemisahan benang Emas dari songket lama. Satu persatu benang emas dipilih dan
dipisahkan dari kain pakan dan lungsen lama yang akan diganti. Proses ini harus
dilakukan dengan hati-hati, karena benang emas yang sudah berumur tersebut bisa
mengalami pengelupasan (rontok). Setelah benang dipisah dari kain yang lama,
kemudian di rol dengan gulungan.
Biasanya, benang yang dipisahkan atau dicabut dari kain pakan dan lungsen
mengalami putus-putus menurut lekuk dari kain maka dilakukan proses
penyambungan. Setelah dilakukan penyambungan, benang emas digulung dengan
pleting yang dimasukkan ke dalam teropong (keduanya terbuat dari bambu) agar
saat ditenun benang emas tidak terputus. Proses-proses tersebut memakan waktu
hingga 10 hari. Setelah proses pencabutan dan penggulungan, benang emas mulai
ditenun, yaitu memasukkan benang emas dan benang sutera sesuai dengan motif.
Harga songket agak tergolong mahal. Bahan baku pembuatan songket hampir
seluruhnya diimpor, hal ini membuat harga jenis kain tergolong mahal. Benang
sutra dan benang emas ini sejak dahulu diimpor dari China, Jepang, dan Thailand.
Namun benang sutra lokal dapat digunakan tetapi agak susah ditenun. Selain jenis
bahan baku yang dipakai, harga kain songket juga ditentukan oleh pola motif
penuh atau motif tabur pada kain. Makin penuh bermotif tentu harganya makin
mahal. Tingkat kerapatan tenunan songket juga turut memengaruhi harga.
Perawatan kain songket harus dilakukan dengan hati-hati. Kain songket tidak bisa
terkena panas atau disimpan di ruangan yang sembarangan. Perawatannya harus
benar-benar diperhatikan. Setelah dipakai kain songket mesti diangin-anginkan
terlebih dulu, kemudian digulung dan setiap tiga bulan sekali harus dibuka
(dijabarkan) untuk menghilangkan bau atau ngengat yang mungkin ada di dalam
lipatannya.
Tips Untuk Memelihara Songket Palembang
1. Kain songket sebaiknya digulung mengelilingi batang pralon atau karton seperti
menyimpan tekstil modern tetapi kain songket hendaknya dilapisi dahulu dengan
kertas minyak, kertas roti atau kertas kopi. Jangan sekali-kali menggunakan kertas
koran.
2. Kemudian kain dibungkus plastik disimpan dalam lemari dan diletakkan berdiri
atau miring.
3. Lemari penyimpanan di beri butir-butir lada atau cengkeh yang ditakuti rayap
atau ngengat.
4. Kain tidak boleh di dry clean atau di laundry jadi hanya diangin-anginkan.
















2.10 Motif ragam hias tenun khas Palembang
Kekayaan alam yang ada di dunia sangat mempengaruhi tercipta nya ragam hias
adapum banyak macam kain tenu yang sering kita jumpai neiberbagai pelosok
penjuruh negar yang tersebar iseluruh nusantara






BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
Rekomendasi saya sebagai penyusun makalah ini adalah Insya Allah budaya
Indonesia dapat dipertahankan dan dilestarikan namun diperlukan kesadaran
masyarakat dalam memperkokoh ketahanan budaya bangsa.
Bukan hanya tugas masyarakat dalam mempertahankan dan melestarikan budaya
bangsa namun peran pemerintah, presiden, dan Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata juga diperlukan. Presiden dan pemerintah harus bertindak tegas bila
ada bangsa dan negara lain yang mengakui budaya Indonesia. Insya Allah budaya
bangsa Indonesia dapat dipertahankan dan dilestarikan.






Saran
Budaya nasional yang merupakan faktor penting dalam identitas nasional bangsa
Indonesia. Sebagai mahasiswa yang merupakan penerus bangsa hendaklah lebih
memberikan perhatian penting terhadap budaya nasioanl bangsa indonesia di
tengah berkembangnya budaya global sekarang ini. Jangan sampai identitas
tersebut malah melebur dalam budaya global. Mencintai dan melestariakan
budaya nasional bangsa Indonesia merupakan langkah awal proteksi terhadap
pengaruh negative budaya global saat ini. demi menjaga identitas nasional bangsa
Indonesia di tengah era globalisasi. Maka dari itu penting nya kita sebagai anak
bangsa ikut andil dalam melestarikan kain songket yang ada di Indonesia.