Anda di halaman 1dari 27

PENATALAKSANAAN

RINITIS ALERGI
Muthmainnah Iqbal
2009730034
Pendahuluan
Alergi adalah respon jaringan yang berubah
terhadap antigen spesifik atau alergen.
Rinitis alergi adalah radang selaput hidung yag
dimediasi antigen IgE dan sel mast.
studi menunjukkan bahwa rinitis musiman
(hay fever) terjadi pada 10-30% dari
populasi.
3

Di Indonesia: 40 % anak-anak, 10-30 %
dewasa
penurunan kualitas hidup, emosional,
gangguan bekerja dan sekolah, gangguan
tidur, sakit kepala, lemah, malas, penurunan
kewaspadaan dan penampilan
DEFINISI
Rinitis alergi adalah radang selaput hidung
yag dimediasi antigen IgE dan sel mast.
Penyakit tersebut ditandai dengan bersin,
hidung tersumbat, rinore jernih dan gatal
hidung atau palatal. Penyakit ini juga dapat
terjadi bersamaan dengan konjungtivitis
alergi (ditandai dengan gatal dan mata
berair yang sering disertai kemerahan atau
bengkak).
ETIOLOGI
Rinitis alergi yang disebabkan
oleh alergen outdoor (jamur
atau pohon, rumput dan
serbuk sari) sering disebut
sebagai alergi musiman, atau
"hay fever".
Sedangkan rinitis alergi yang
dipicu oleh alergen indoor
(bulu binatang, jamur dalam
ruangan, atau tungau).


ALERGEN
Berdasar cara masuknya,
dibagi atas:
Alergen inhalan : debu rumah,
tungau, kapuk
Alergen ingestan : udang, telur, ikan,
coklat
Alergen injektan : penisilin, sengatan
lebah
Alergen kontaktan : bahan kosmetik,
perhiasan
Faktor non-spesifik : asap
rokok, bau yang merangsang,
polutan, bau parfum, bau
deodoran, perubahan cuaca,
kelembaban tinggi
Dahulu, menurut sifat
berlangsungnya :
Rinitis alergi musiman
(seasonal, hay fever)
Rinitis alergi sepanjang tahun
(perenial)
KLASIFIKASI RINITIS ALERGI
Klasifikasi rhinitis alergi menurut guideline
ARIA (2012)
o Anamnesis Gejala rinitis alergi :
o bersin-bersin (> 5 kali/serangan)
o rinore (ingus bening encer)
o hidung tersumbat (menetap/berganti-ganti)
o gatal di hidung, tenggorok, langit-langit atau telinga
o mata gatal, berair atau kemerahan
o hiposmia/anosmia
o sekret belakang hidung/post nasal drip atau batuk
kronik
o adakah variasi diurnal
o frekuensi serangan, beratnya penyakit, lama sakit
(intermiten atau persisten), usia timbulnya gejala,
o pengaruh terhadap kualitas hidup : ggn. aktifitas dan
tidur
o Gejala penyakit penyerta : sakit kepala, nyeri
wajah,sesak napas,gejala radang tenggorok,
mendengkur, penurunan konsentrasi, kelelahan
DIAGNOSIS
Cari kemungkinan
alergen penyebab
Keterangan
mengenai tempat
tinggal, lingkungan
dan pekerjaan
penderita
Riwayat pengobatan
Riwayat atopi pasien
dan keluarga : asma
bronkial, dermatitis
atopik, urtikaria,
alergi makanan
ANAMNESIS
Anak-anak : Allergic shiner,
Allergic Salute, Allergic
Crease, Allergic Facies
Rinoskopi anterior
Mukosa edema, basah, pucat-
kebiruan disertai adanya sekret
yang banyak, bening dan
encer,hipertrofi
Nasoendoskopi kelainan
yang tidak terlihat di
rinoskopi anterior
Cari kemungkinan
komplikasi: sinusitis, polip,
otitis media
PEMERIKSAAN FISIK
In vivo :
Tes kulit :
Tes cukit/tusuk (Prick test)
Intradermal
SET (skin end point titration)
Tes Provokasi
Sitologi hidung
In vitro :
IgE total
IgE spesifik
Radiologis (Foto SPN, CT-Scan, MRI) :
Tidak untuk diagnosis rinitis alergi
Indikasi : Untuk mencari komplikasi, tidak ada respon
terhadap terapi, direncanakan tindakan operatif
PEMERIKSAAN PENUNJANG
PRICK TEST
o Banyak dipakai sederhana, mudah,
murah, sensitivitas tinggi, cepat, cukup
aman
o Tes pilihan dan primer untuk
diagnostik dan riset
o Membuktikan telah terjadi fase
sensitisasi
o Tes (+) ada reaksi hipersensitivitas
tipe I atau telah terdapat kompleks Sel
Mast IgE pada epikutan
PERSIAPAN TES KULIT
o Jelaskan pada penderita dan tujuan pemeriksaan
o Pastikan penderita tidak mengkonsumsi obat/ makanan yang
mempunyai efek antialergi.
o antihsitamin minimal 3 kali periode washout ( 72 jam)
o steroid sistemik 2 minggu
o Periksa tekanan darah sebelum tes alergi untuk
membandingkan jika sewaktu-waktu terjadi reaksi sistemik
o Pastikan tidak mengalami serangan alergi berat 24 jam
sebelumnya ( asma bronkhial ).
o Sediakan semprit 1 cc dan epineprin ampul
o Jelaskan kemungkinan timbul tanda dan gejala reaksi alergi
sistemik dari ringan sampai yg berat selama tes alergi
o Tanda tangan informed consent
o Desinfeksi daerah lokasi tes kulit ( bag volar lengan bawah)

PROSEDUR TES KULIT
o Teteskan lar kontrol positif ( HISTAMIN) dan
bufer fosfat atau kontrol negatif.
o Biasakan untuk histamin sebelah radial dan
bufer sisi ulnar dengan jarak minimal 2 jari.
o Tusuk dengan jarum disposibel steril ( no 26G)
/ lanset sedalam lapisan epikutan, dicukit tepat
ditempat tetesan , jangan sampai berdarah.
o Reaksi ditunggu selama 5-10 menit.
o Jika sudah terbentuk bentol merah minimal
diameter 3 mm pada tempat histamin dan
tidak terbentuk pada bufer atau maksimal
diameter bentol 1mm maka dilanjutkan
dengan penetesan alergen yang akan
diperiksa.
o Biasakan selalu mulai dari proksimal sisi radial
ke distal dengan jarak kurang-lebih 1 jari,
kemudian naik ke sisi ulnar. Reaksi tes kulit
dibaca 10-15 menit .

o Penilaian hasil dibandingkan dengan reaksi histamin pada
masing-masing penderita.
o Positip ( +++ ) : jika bentol diameternya minimal 3 mm
atau sama dengan reaksi histamin
o Positip (++) : lebih kecil dari histamin
o Positip (+) : diameter bentol kurang lebih 1 mm
o Hasil tes kulit dianggap positip jika terjadi bentol pada
alergen sedikitnya sama dengan bentol dari reaksi histamin.
o Jika gejala sangat mendukung tetapi tes kulit hasil lebih
kecil dari histamin atau diameter bentol < 3 mm dapat
diulang atau dilanjutkan dengan tes kulit intra kutan atau
pemeriksaan penunjang lain.seperti pemeriksaan IgE dan
eosinofil sekret hidung.

PERHATIKAN SELAMA TES KULIT
o kemungkinan terjadi reaksi alergi sistemik.
o Gejala : pasien mendadak mengeluh lemes,
mual, seperti mau pingsan, penderita tampak
pucat.
o Jika terdapat gejala tersebut : segera tidurkan
penderita tanpa bantal, periksa tensi dan nadi .
o Bila ada gejala shock : suntikan epineprin 0.2 cc
subkutan/ intramuskular.
o Amati nadi, tensi dan pernapasan dalam 5 menit.
Jika belum ada perbaikan dapat ulangi epineprin
setelah 10 menit diikuti pemberian steroid im,
pasang infus.

o Tes intradermal :
Indikasi : tes cukit/tusuk
negatif
Alergen ( konsentrasi 1:100
w/v) disuntikkan hingga
membentuk bintul 3 mm
Hasil setelah 15-20 menit,
dengan sistem skoring 0 - +4
Sensitifitas > Prick test
Reaksi false (+) dan anafilaksis
> sering
o SET (Skin End-Point Titration)
Untuk alergen inhalan
Untuk penetapan dosis awal
imunoterapi
Merupakan pemeriksaan diagnostik lini 2 (sekunder) bila ada
ketidaksesuaian antara hasil pemeriksaan diagnostik primer dengan
gejala klinis
Bermanfaat untuk: rhinitis okupasional, penelitian
Dilakukan dengan memberikan alergen langsung ke mukosa hidung,
kemudian dinilai reaksi organ sasaran tersebut.
TES PROVOKASI HIDUNG
Tingkat respons yang terjadi terdiri dari atas: gradasi 1:
ada 2 gejala diatas yang terjadi, gradasi II: ada semua
gejala dan jumlah bersin 5 kali, gradasi III: ada semua
gejala dan jumlah bersin > 6 kali
TES PROVOKASI HIDUNG
Okuda: menggunakan cakram dengan diameter 3 mm yang berisi
ekstrak alergen 250 ug. ditempatkan padakonka inferior dalam satu sisi
hidung hasilnya ditunggu setelah 10 menit. Respons positif yang terlihat
yaitu bersin, adanya sekret hidung dan pembangkakan mukosa hidung.
Faktor yang mempengaruhi tes provakasi hidung sama dengan tes kulit-
kulit cukit dan tes inimempunyai korelasi baik dengan riwayat alergi, IgE
spesifik dan efek dari imunoterapi.
Sekret diambil dengan
kapas lidi pada konka media
dan konka inferior atau
dapat dengan kerokan
mukosa bagian lateral
hidung,kemudian ditaruh di
atas kaca dan difiksasi
dengan alkohol 95% serta
diwarnai secara Hansel atau
Giemsa.
Penilaian :
tidak ada eosinofil (-) : bila jumlah
< 5 %
eosinofilia ringan () : bila
jumlahnya 5-10%
eosinofilia sedang (+) : bila
jumlahnya 10-50%
eosinofil nya (++) : bila jumlahnya
> 50 %.
EUSINOFIL SEKRET HIDUNG
Serum total IgE biasanya diperiksa melalui radio atau
enzyme immuno assays
Kadar Ig E dalam serum tergantung dari umur (21 IU/ml
(bayi baru lahir)- 90 IU/ml (dewasa non atopi)
Kadar rendah pada individu N, me pada individu atopi tidak
selalu (60 %)
Kadar IgE total normal tidak menyingkirkan RA
Sebagai pemeriksaan penyaring, tidak untuk diagnostik
Kadar Ig E total serum darah
Alergen dapat ditentukan dengan menetapkan IgE spesifik menggunakan
metoda radio allergosorbent test (RAST) atau modifikasinya.
Pemeriksaan ini dapat memonitor imunoterapi dan cara pemeriksaannya
lebih mudah.
Kerugian dari pemeriksaan ini ialah biaya mahal, hasil pembacaan cukup
lama dan kurang sensitif bila dibandingkan dengan tes kulit tusuk
Efisiensi (spesifisitas dan sensitifitas) untuk diagnostik penyakit alergi >
85 %
Hasil baru bermakna bila ada korelasi dengan gejala klinik
Kadar Ig E spesifik
Faktor Mekanik :
deviasi septum,
abnormalitas kompleks
osteomeatal, polip
hidung, benda asing,
tumor hidung&sinus
Infeksi : sinusitis,
infeksi bakteri, infeksi
virus, imunodefisiensi
Lain-lain : rinitis
medikamentosa, rinitis
vasomotor
DIAGNOSIS DIFERENSIAL
Penghindaran allergen
(avoidance) dan
eliminasi
Medikamentosa/farmak
oterapi
Imunoterapi
Pembedahan (jika
perlu) untuk
mengatasi komplikasi
sinusitis dan polip
hidung
PENATALAKSANAAN