Anda di halaman 1dari 2

Perancis dalam perkembangan sejarahnya , melahirkan bibit bibit pemikiran

kepada para Philusuf seperti montesque. Montesque mendaptkan teori


teorinya sebagai reaksi atas keputusan parlemen prancis pada zaman itu
yang tidak ada pembagian kekuasaan serta cendrung sewenang wenang.
Hakim pada zaman itu juga seringkali menyalahgunakan kekuasaannya
seperti memberikan kuasanya pada orang lain dan mewariskan
kekuasaannya secara sewenang wenang.
Oleh Karena itu timbulah teori montesque tentang pemisahan kekuasaan dan
juga tentang judicial review yang akan dibahas sebagai berikut.

Judicial Review (hak uji materil)
merupakan kewenangan lembaga peradilan
untuk menguji kesahihan dan daya laku produk-
produk hukum yang dihasilkan
oleh ekesekutif legislatif maupun yudikatif
di hadapan konstitusi yang berlaku.
Pengujian oleh hakim terhadap produk cabang kekuasaan legislatif
(legislative acts) dan cabang kekuasaan eksekutif (executive
acts) adalah konsekensi dari dianutnya
prinsip checks and balances berdasarkan
doktrin pemisahan kekuasaan (separation of
power)1. Karena itu kewenangan untuk melakukan judicial review
itu melekat pada fungsi hakim sebagai subjeknya, bukan
pada pejabat lain. Jika pengujian tidak
dilakukan oleh hakim, tetapi oleh lembaga
parlemen, maka pengujian seperti itu tidak
dapat disebut sebagai judicial review, melainkan legislative review.

Teori ini sampai sekarang masih dipakai karena sesuai dengan praktik
penegakan hukum modern untuk mencegah terjadinya suatu kesewenang
wenangan. teori ini didasarkan oleh pemikiran montesque tentang separation
of power.
Montesquieu membagi kekuasaan dalam tiga cabang atau yang terkenal
dengan Trias Politika yang menurutnya haruslah terpisah satu sama lain:
1. Kekuasaan legislatif (kekuasaan untuk membuat Undang-Undang),
2. Kekuasaan eksekutif (kekuasaan untuk melaksanakan Undang-Undang,
tetapi oleh Montesquieu diutamakan tindakan di bidang politik luar negeri),
3. Kekuasaan yudikatif (kekuasaan mengadili atas pelanggaran Undang-
Undang).
Dengan adanya pemisahan kekuasaan ini, akan terjamin kebebasan
pembuatan undang-undang oleh parlemen, pelaksanaan undang-undang
oleh lembaga peradilan, dan pelaksanaan pekerjaan negara sehari-hari oleh
pemerintah.
Untuk mencegah dari satu cabang menjadi besar, dan teknologi untuk bekerja
sama dengan kantor cabang, pemerintahan yang menerapkan sistem
pemisahan kekuasaan. Biasanya ini dicapai melalui suatu sistem "check and
balances", yang asal, seperti pemisahan kekuasaan itu sendiri, khususnya
untuk dijelaskan Montesquieu. Check and balances memungkinkan untuk
sebuah sistem berbasis aturan yang memungkinkan untuk membatasi satu
cabang lain, seperti kekuasaan Kongres untuk mengubah komposisi dan
yurisdiksi dari pengadilan federal.
Proses pemikiran mengenai sumber legitimasi negara, yaitu kedaulatan
rakyat, serta pelembagaannya inilah yang kemudian melahirkan konsep
demokrasi yang dikenal sekarang. Terlihat bahwa kedaulatan rakyat
merupakan argumentasi yang paling dapat diterima dalam gagasan mengenai
legitimasi negara. Konsep inilah yang merupakan pemikiran awal mengenai
demokrasi, yang kemudian berkembang hingga saat ini.
Kekayaan dan kekuasaan membuat perbedaan dalam masyarakat. Ini
menyebabkan adanya hak-hak istimewa yang diperoleh golongan tertentu.
Dan adanya hak-hak istimewa tersebut membuat kecenderungan terciptanya
kekuasaan tunggal. Oleh karena itu, manusia membuat kontrak sosial, yang
dibentuk oleh kehendak bebas dari semua. Jika dihubungkan dengan negara,
kekuasaan tunggal tersebut harus dipisah menjadi cabang-cabang lain agar
terjamin kebebasan pembuatan undang-undang oleh parlemen, pelaksanaan
undang-undang oleh lembaga peradilan, dan pelaksanaan pekerjaan negara
sehari-hari oleh pemerintah.