Anda di halaman 1dari 5

EKSPLORASI TANAH

Beberapa cara di bawah ini dapat digunakan untuk menentukan daya dukung tiang
pancang. Cara-cara tersebut diantaranya adalah Cone Penetration Test (CPT) atau uji sondir dan
Standard Penetration Test (SPT).
A. STATI C CONE PENETRATI ON TEST (CPT) ATAU UJI SONDIR
1. Pendahuluan
Static cone penetration test disebut juga dengan Dutch cone penetration test. Metode ini
telah digunakan di banyak negara dan telah diperkenalkan lebih dari 50 tahun yang lalu. Salah
satu nilai lebih CPT adalah bahwa metode memiliki fungsi sebagai model skala untuk tes tiang
pancang. Korelasi empiris yang telah dilakukan selama bertahun-tahun telah memberikan
kemudahan untuk menghitung daya dukung tiang pancang secara langsung dari hasil CPT tanpa
menggunakan parameter-parameter tanah konvensional.
Metode CPT telah terbukti sangan berguna untuk menentukan profil tanah karena tipe
tanah dapat diidentifikasi dari kombinasi pengukuran tahanan ujung kerucut dan friksi selimut
jaket. Pengujian memberikkan turunan properti tanah normal seperti kepadatan, sudut friksi dan
kohesi. Beberapa teori telah dikembangkan untuk desain pondasi.
Popularitas CPT dapat dikelompokkan kedalam tiga faktor penting berikut :
a. Pengenalan umum penetrometer elektrik menmberikan pengukuran yang lebih presisi
dan perkembangan peralatan memberikan penetrasi yang lebih dalam.
b. Kebutuhan akan teknik pengujian in situ penetrometer pada investigasi pondasi lepas
pantai dalam hal tingkat kesulitan dalam mendapatkan kualitas sample yang
memadari pada lingkungan maritim.
c. Penambahan pengukuran simultan yang lain terhadap penetrometer friksi standar
seperti tekanan pori dan temperatur tanah.
Penetrometer
Terdapat beragam bentuk dan ukuran penetrometer yang digunakan. Salah satu yang
menjadi standar di beberapa negara adalah kerucut dengan sudut maksimal 60
0
dan luas dasar 10
cm
2
. Selimut (jaket) telah menjadi item standar untuk penetrometer pada banyak aplikasi. Pada
penetrometer kerucut 10 cm
2
selimut friksi harus memiliki luas daerah 150 cm
2
sebagai ukuran
standar. Rasio friksi samping dan tahanan dukung/rasio friksi memberikan identifikasi terhadap
tipe tanah (Schmermann, 1975) dan menyediakan informasi yang sangat berguna terutama ketika
tidak ada data lubang bor yang tersedia. Bahkan ketika pemboran dilakukan, rasio friksi tetap
memberikan pengecekan atas akurasi rekam bor.
Dua tipe penetrometer digunakan berdasarkan metode yang digunakan untuk mengukur
tahanan kerucut dan friksi yaitu :
a. Tipe mekanis
b. Tipe elektrik
Tahanan Kerucut q
c
dan friksi samping lokal f
c

Tahanan penetrasi kerucut q
c
diperoleh dengan membagi gaya total Q
c
yang bekerja pada
kerucut dengan luas dasar A
c
kerucut.

Dengan cara yang sama friksi lokal samping f
c
adalah

Rasio Friksi, R
f

Rasio friksi R
f
dituliskan sebagai

Dimana f
c
dan q
c
diukur pada kedalaman yang sama. R
f
ditulis dalam persen. Rasio friksi adalah
parameter yang penting dalam pengklasifikasian tanah.
2. Penentuan Kapasitas Dukung Tiang Berdasarkan Test CPT
Metode Penentuan Kapasitas Tiang
Test CPT dianggap sebagai test beban tiang dalam skala kecil.beragam metode
menggunakan CPT untuk mprediksi kapasitas vertikal tiang telah dikembangkan. Beberapa cara
diantaranya adalah :
a. Metode Vander Veen
b. Metode Schmertmann
Metode Vander Veen untuk Tanah Nonkohesif
Dalam metode Vander Veen tahanan ujung ultimet tiang diambil sama dengan tahanan
ujung kerucut. Untuk memberikan variasi tahanan kerucut yang biasanya terjadi, metode ini
mempertimbangkan tahanan kerucut rata-rata pada kedalaman tiga kali diameter tiang di atas
ujung bawah tiang dan satu diameter tiang dibawah ujung bawah tiang seperti ditunjukkan pada
gambar 1.

Gambar 1. Kapasitas tiang dengan menggunakan nilai CPT
Pengalaman menunjukkan bahwa jika faktor aman sebesar 2.5 diaplikasikan pada tahanan ujung
ultimet yang ditentukan dari tahanan kerucut, tiang cenderung untuk tidak turun lebih dari 15 mm di
bawah beban kerja (Tomlinson, 1986). Persamaan untuk kapasitas dukung ultimet dan beban ijin ditulis
sebagai
tahanan ujung tiang,
kapasitas ujung ultimet,

beban ujung ijin,
dimana, q
p
= tahanan kerucut rata-rata pada kedalaman 4d seperti pada gambar 1 dan F
s
= faktor aman
Friksi kulit pada selimut tiang di tanah non kohesif didapatkan dari hubungan yang dibuat oleh
Meyerhof (1956) sebagai berikut,
untuk tiang displacement,friksi kulit ultimet f
s
, ditulis sebagai

dimanan q
c
= tahanan kerucut rata-rata dalam kg/cm
2
terhadap panjang selimut tiang yang ditinjau.
Meyerhof menyatakan bahwa untuk tiang displacement satu sisi, friksi kulit unit ultimet,f
s
,
memiliki nilai maksimum 107 kPa. Beban kulit ultimet adalah

Kapasitas beban ultimet tiang adalah

Beban ijin adalah

Jika beban kerja Q
a
didapatkan untuk suatu posisi tertentu pada tiang pada gambar 1 kurang dari
kondisi pembebanan yang disyaratkan perencaana struktur, maka kedalaman tiang harus ditambah untuk
meningkatkatkan friksi kulit f
s
atau tahanan ujung q
b.

Metode Schmertmann untuk Tanah Kohesif dan Tanah Nonkohesif
Schmertmann (1978) merekomendasikan satu prosedur untuk semua jenis tanah untuk
menghitung kapasitas dukung tiang. Namun, untuk menghitung friksi samping, Schmermann memberikan
dua pendekatan yang berbeda, untuk pasis dan untuk tanah lempung.
Kapasitas Dukung Ujung Q
b
pada Semua Jenis Tanah
Metode yang disarankan oleh Schmertmann (1978) sama dengan prosedur yang dikembangkan
oleh De Ruiter dan Beringen (1979) untuk pasir. Prinsip metode ini berdasarkan pada metode yang
disarankan oleh Vander Veen (1975) seperti yang dijelaskan di atas. Prosedur yang digunakan dalam
kasus ini melibatkan penentuan nilai penetrasi ujung kerucut q
p
pada kedalaman antara 0.7 sampai 4d
dibawah ujung bawah tiang dan 8d di atas ujung bawah tiang seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.



Gambar 2. Kapasitas dukng tiang menggunakan CPT metode Schmertmann

Nilai q
p
dapat dituliskan sebagai

dimana q
c1
= tahanan kerucut rata-rata dibawah ujung tiang pada kedalaman yang bervariasi antara 0.7d
dan 4d dengan d adalah diameter tiang.
q
c2
= tahanan kerucut minimum yang diukur dibawah ujung tiang pada kedalaman 0.7 sampai 4d.
q
c3
= rataan daerah tahanan kerucut minimum yang diukur di atas ujung bawah tiang hingga
ketinggian 8d.
tahanan unit tiang q
b
adalah

Tahanan ujung ultimet tiang Q
f
adalah

Dan beban ujung ijin Q
a
adalah