Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU FAAL

TEKANAN DARAH DAN DENYUT NADI





Disusun Oleh :
1.
Nabila Rahmi R. (051211132048)
2.
Amani Syarahil (051211132067)
3.
Melani Anggraeni (051211132080)
4.
Rizky Amalia Adlina A. (051211132081)
5.
Ariani Rahayu S. (051211132082)
6.
Fitri Rachmawati (051211132083)
7.
Yulianita (051211132084)
8.
Laily Sofia Adiba (051211132086)
9.
Kresma Oky Kurniawan (051211132111)
10.
Alfin Laila Najiha (051211133002)
11.
Mahardhika Anggoro W. (051211133008)

Kelompok III

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2013

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Teoritis
Denyut nadi dan tekanan darah merupakan hal yang amat penting dalam bidang
kesehatan pemeriksaan khususnya di bidang kedokteran, karena denyut nadi maupun tekanan
darah merupakan faktor-faktor yang dipakai sebagai indikator untuk menilai sistem
kardiovaskuler seseorang.
Denyut nadi (pressure pulse) menggambarkan frekuensi kontraksi jantung seseorang.
Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap satuan luas dinding
pembuluh darah (arteri). Tekanan ini harus adekuat, yaitu cukup tinggi untuk menghasilkan
daya dorong terhadap darah dan tidak boleh terlalu tinggi yang dapat menimbulkan beban
kerja tambahan bagi jantung. Tekanan sistol adalah tekanan puncak yang ditimbulkan di arteri
sewaktu darah dipompa kedalam pembuluh tersebut selama kontraksi ventrikel. Sedangkan
tekanan diastol adalah tekanan terendah yang terjadi di arteri sewaktu darah mengalir keluar
ke pembuluh-pembuluh hilir sewaktu relaksasi ventrikel. Denyut nadi dan tekanan darah
seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya perubahan posisi tubuh dan aktifitas
fisik.
Dengan mengamati serta mempelajari perubahan posisi tubuh dan aktifitas fisik
terhadap denyut nadi dan tekanan darah, kita akan memperoleh sebagian gambaran mengenai
sistem kardiovaskular seseorang.

1.2. Masalah
1.2.1. Apakah pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan tekanan darah?
1.2.2. Apakah pengaruh latihan fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah?

1.3. Tujuan
1.3.1. Mengetahui pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan tekanan darah
1.3.2. Mengetahui pengaruh latihan fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah


II. METODE KERJA
2.1. Alat
2.1.1. Meja periksa / tempat tidur.
2.1.2. Stopwatch / arloji (jam)
2.1.3. Sphygmanometer (tensimeter), terdiri dari :
- manometer air raksa + klep pembuka penutup.
- manset udara.
- selang udara.
- pompa udara dari karet + sekrup pembuka penutup.
2.1.4. Stethoscope.
2.1.5. Bangku (17 inch dan 19 inch)
2.1.6. Metronom
2.2 Bahan
-
2.3 Tata Kerja
MENGAMATI DAN MEMPELAJARI PENGARUH POSISI TUBUH
TERHADAP DENYUT NADI DAN TEKANAN DARAH.
1. a. Pilih satu mahasiswa coba (MC1)
b. Pilih satu mahasiswa yang bertugas memeriksa denyut nadi MC1 pada arteri radialis
sinistra selama praktikum ini
c. Pilih satu mahasiswa yang bertugas mengukur tekanan darah MC1 pada lengan kanan
secara auskultasi selama praktikum ini
d. Pilih salah satu mahasiswa untuk mencatat data.
2. MC1 berbaring terlentang selama 2-3 menit, kemudian :
Tentukan frekuensi dan irama denyut arteri radialis sinistra dan tekanan darah pada lengan
kanan secara palpasi dan auskultasi (masing-masing diukur 3 kali berturut-turut)
selanjutnya dihitung nilai rata-ratanya.
3. MC1 duduk tenang selama 2-3 menit, kemudian:
Tentukan frekuensi dan irama denyut arteri radialis sinistra dan tekanan darah pada lengan
kanan secara auskultasi (masing-masing diukur tiga kali berturut-turut) selanjutnya dihitung
nilai rata-ratanya.
4. MC1 berdiri tenang dengan sikap anatomis selama selama 2-3 menit, kemudian :
Tentukan frekuensi, irama denyut arteri radialis sinistra dan tekanan darah pada lengan
kanan secara auskultasi, masing-masing diukur tiga kali berturut-turut serta dihitung nilai
rata-ratanya.
5. Catat data sesuai format (Tabel.1)
CATATAN :
Bila dalam tiga kali pengukuran secara berturut-turut terdapat perbedaan yang besar
digunakan interval waktu 2 menit.

MENGAMATI DAN MEMPELAJARI PENGARUH AKTIVITAS FISIK
TERHADAP DENYUT NADI DAN TEKANAN DARAH
2. a. Pilih salah satu mahasiswa coba (MC2)
MC2 boleh sama dengan MC1 atau mahasiswa lain dalam kelompok yang bersangkutan.
b. Pilih satu mahasiswa yang bertugas memeriksa denyut nadi MC2 pada arteri radialis
sinistra selama praktikum ini.
c. Pilih satu mahasiswa yang bertugas mengukur tekanan darah MC2 pada lengan kanan
secara auskultasi selama praktikum ini.
d. Pilih satu mahasiswa untuk mencatat data.
2. MC2 duduk tenang selama 2-3 menit, kemudian:
Periksa denyut nadi arteri radialis sinistra serta tekanan darah pada lengan kanan secara
auskultasi ( masing-masing diperiksa tiga kali berturut-turut).
Catat frekuensi, irama denyut arteri radialis sinistra serta tekanan sistolik dan diastolik
selanjutnya hitung nilai rata-ratanya.
3. Dengan manset tetap terpasang pada lengan atas kanan (hubungan manchet dengan skala
manometer dilepas), MC2 melakukan latihan fisik dengan cara :
STEP TEST yaitu dengan NAIK-TURUN BANGKU 20 kali/menit selama dua menit dengan
dipandu oleh irama metronom yang disetting pada frekuensi 80 ketukan per menit.
4. Setelah step test terakhir, MC2 segera duduk, dan diukur frekuensi nadi serta tekanan
darahnya masing-masing satu kali.
Data ini diharapkan dapat dicatat satu menit setelah step test berakhir.
5. Teruskan pemeriksaan frekuensi nadi dan tekanan darah dengan interval 2 menit (menit ke
3.. menit ke 5..menit ke 7..dst.nya) sampai nilainya kembali seperti keadaan sebelum
latihan.
6. Catat data sesuai format (Tabel.2)
CATATAN :
Untuk setiap saat/interval, pengukuran frekuensi denyut arteri radialis sinistra dan tekanan
darah hanya diukur satu kali.


III. HASIL
Tabel 1. Data pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan tekanan darah

POSISI
TUBUH
DENYUT NADI
TEKANAN
SISTOLIK
auskultasi
(mmHg)
TEKANAN
DIASTOLIK
auskultasi
(mmHg)
BERBARING
TERLENTANG
1. 68
2. 72
3. 72
Rerata = 71
Palpasi/Auskultasi
1. 100/125
2. 100/120
3. 100/120
Rerata = 100/122
Auskultasi
1. 75
2. 78
3. 78
Rerata= 77
DUDUK
1. 72
2. 72
3. 76
Rerata = 73
1. 116
2. 116
3. 100
Rerata = 111
1. 86
2. 98
3. 96
Rerata = 90
BERDIRI
1. 88
2. 84
3. 84
Rerata = 85
1. 106
2. 106
3. 108
Rerata = 107
1. 86
2. 86
3. 88
Rerata = 87


Grafik 1. Data Pengaruh Posisi Tubuh terhadap Denyut Nadi

Grafik 2. Data Pengaruh Posisi Tubuh terhadap Tekanan Darah



Denyut nadi
(x/menit)
Tekanan darah
(mmHg)
Tabel 2. Data pengaruh aktifitas fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah

WAKTU
DENYUT NADI
(...x/menit)
TEKANAN SISTOLIK
auskultai
(mmHg)
TEKANAN DIASTOLIK
auskultasi
(mmHg)
PRA LATIHAN
1. 92
2.84
3.84
Rerata = 87
1. 120
2. 110
3. 110
Rerata = 113
1. 80
2. 80
3. 90
Rerata = 87
P
A
S
C
A

A
K
T
I
F
Menit
ke-1
100 100 100
Menit
ke-3
96 116 98
Menit
ke-5
96 100 86
Menit
ke-7
88 98 86


Grafik 1. Data Pengaruh Aktifitas Fisik terhadap Denyut Nadi

Grafik 2. Data Pengaruh Aktifitas Fisik terhadap Tekanan Darah

Catatan : Waktu Pra-Latihan adalah menit ke-0
IV. PEMBAHASAN
1.1. Diskusi Hasil
Dari grafik yang kami buat berdasarkan hasil praktikum, dapat terlihat beberapa hal yang
berhubungan dengan praktikum yang telah kami lakukan:
Denyut Nadi
Denyut nadi saat berdiri lebih cepat daripada saat duduk dan berbaring. Hal ini sesuai
dengan teori.
Denyut nadi pada saat melakukan aktivitas lebih cepat daripada saat pra aktivitas, dan
beberapa menit pasca aktivitas frekuensinya akan menurun ke angka stabil (sebelum
melakukan aktivitas). Hal ini sesuai dengan teori.
Denyut nadi pasca aktif pada menit ke-1 naik dan pada menit selanjutnya turun dan
kembali ke nilai stabil. Hal ini sesuai dengan teori.
Tekanan Sistolik
Tekanan sistolik pada saat berbaring lebih tinggi daripada saat berdiri dan duduk.
Terdapat penyimpangan hasil pada praktikum bagian ini. Seharusnya tekanan sistolik
pada saat berdiri lebih besar daripada saat duduk dan berbaring
Tekanan sistolik pada menit ke-1 pasca aktif menurun lalu pada menit ke-3 naik dan
selanjutnya turun kembali. Terdapat penyimpangan hasil pada praktikum bagian ini.
Seharusnya tekanan sistolik meningkat pada menit ke-1 dan selanjutnya turun kembali.
Tekanan Diastolik
Tekanan diastolik saat berbaring lebih tinggi daripada saat berdiri dan duduk. Terdapat
penyimpangan hasil pada praktikum bagian ini. Seharusnya tekanan diastolik paling
tinggi pada saat berdiri.
Tekanan diastolik menit ke-1 pasca aktif lebih tinggi daripada pra latihan dan menit
selanjutnya. Saat menit ke-1 tekanan sistolik naik (lebih tinggi dari pra latihan) setelah itu
pada menit ke-3 tetap dan kembali normal pada menit ke-5.
Faktor Faktor Penyebab terjadinya Penyimpangan pada Hasil Praktikum
Pennyimpangan yang terjadi dalam praktikum kami disebabkan oleh kurang pekanya
pengamat dalam mendengar bunyi Korotkoff dan membaca skala pada tensimeter.
1.2. Diskusi Jawaban Pertanyaan
1. Pada pembuluh darah apa sajakah saudara dapat memeriksa denyut nadi?
Pemeriksaan denyut nadi dapat dilakukan pada pembuluh darah :
Arteri radialis
Arteri brachialis
Arteri carotis communis
Arteri femolaris
Arteri dorsalis pedis
Arteri poplitea

2. Sebutkan perbedaan antara pengukuran tekanan darah cara palpasi dan cara auskultasi!
(dari segi konsep teori, sarana, prosedur pengukuran, hasil)
Perbedaan antara pengukuran tekanan darah secara palpasi dan auskultasi:
Dari segi konsep teori:
Pada cara palpasi, saat tekanan manset melebihi tekanan sistole, aliran darah berhenti,
denyut arteri radialis hilang. Ketika tekanan manset diturunkan, mulai pada saat tekanannya
sama dengan tekanan sistole, aliran darah mengalir kembali dan denyut arteri radialis
teraba.
Pada cara auskultasi, pada waktu tekanan manset melebihi tekanan sistole, aliran darah
terhenti. Penurunan tekanan manset sampai sama dengan tekanan sistole menyebabkan
tekanan darah mulai ada. Adanya hambatan menyebabkan turbulensi aliran darah yang
menimbulkan suara Korotkoff yang terdengar melalui stetoskop. Apabila tekanan dalam
manset turun sampai sama dengan tekanan diastole, arteri tidak akan tersumbat lagi
sehingga tidak ada aliran turbulen. Suara bising mulai melemah dan akhirnya menghilang.
Dari segi sarana:
Pada pengukuran tekanan darah secara palpasi, arteri yang dipalpasi adalah arteri radialis
menggunakan sphygmomanometer, tanpa menggunakan stetoskop.
Pada pengukuran tekanan darah secara auskultasi, arteri yang digunakan adalah arteri
brachialis dextra dengan menggunakan sphigmomanometer dan stetoskop.

Dari segi prosedur:
Cara palpasi
Memompa udara ke dalam manset dan meraba arteri radialis sampai denyut arteri tidak
teraba. Pemompaan terus dilakukan sampai 30 mmHg di atas titik di mana arteri radialis
mulai tak teraba. Udara dalam manset dikeluarkan hingga arteri radialis teraba lagi.
Tekanan pada saat itu adalah tekanan sistole palpatoir.
Cara auskultasi
Stetoskop diletakkan di atas arteri brachialis dextra, kemudian udara dipompa ke dalam
manset sampai suara bising arteri brachialis dextra tidak terdengar lagi. Pemompaan terus
dilakukan sampai 30 mmHg di atas titik di mana suara bising tadi tidak terdengar. Kemudian
udara dikeluarkan dari manset sampai suara bising terdengar kembali. Pengeluaran udara
dari manset diteruskan sampai suara bising mulai melemah. Tekanan pada saat itu adalah
tekanan diastole.
Dari segi hasil:
Cara palpasi hanya didapatkan tekanan sistole, sedangkan cara auskultasi didapatkan
tekanan sistole dan tekanan diastole.

3. Mengapa pemeriksaan tekanan darah dilakukan pada lengan atas kanan?
Pemeriksaan tekanan darah dilakukan pada lengan atas kanan, karena letak dari aorta yang
bersilangan menyebabkan lengan kiri memiliki potensi untuk terjadinya pembuntuan
(coarctarioaorta) sehingga tekanan darah pada lengan kiri bisa berubah-ubah, kurang valid
jika digunakan dalam pengukuran.

4. Apakah pemasangan manchet yang terlalu longgar atau terlalu ketat dapat
mempengaruhi hasil pengukuran tekanan darah?
Pemasangan manset yang terlalu longgar atau terlalu ketat dapat mempengaruhi hasil
pengukuran tekanan darah.
Pemasangan manset yang terlalu longgar, tekanan udara yang diberikan kepada manset
harus lebih tinggi lagi untuk menekan arteri brachialis sehingga hasil pengukuran pun lebih
tinggi.
Pemasangan manset yang terlalu ketat, manset akan memberikan tekanan tambahan pada
arteri sehingga tekanan udara yang diberikan manset juga lebih kecil, hal ini menyebabkan
hasil pemeriksaan juga lebih rendah dari tekanan sesungguhnya.

5. Jelaskan mengenai mekanisme yang mendasari suara-suara Korotkoff (Korotkoff
I,II,III,IV,V)!
Mekanisme yang menimbulkan timbulnya suara Korotkoff adalah:
Korotkoff I: saat milai terdengar suara bising karena arteri brachialis mulai terbuka seiring
dengan penurunan tekanan manset tepat di bawah sistole. Suara sinkron dengan denyut
jantung.
Korotkoff II dan III : bunyi yang berikutnya dengan kualitas yang berbeda mengikuti
perubahan diameter arteri brachialis yang makin terbuka.
Korotkoff IV : suara makin lemah dan menjauh seiring dengan makin turunnya tekanan
manset.
Korotkoff V : suara bising menghilang, aliran darah kembali menjadi stream line.

6. Apakah ada perbedaan antara atlet dan nonatlet dalam hal pemulihan denyut nadi dan
tekanan darah setelah melakukan aktivitas fisik (post exercise)? Jelaskan!
Ada, pada atlet fisiknya sudah terlatih secara kontinyu sehingga setelah melakukan aktivitas
fisik, denyut nadi dan tekanan darahnya dapat kembali normal dalam waktu yang relatif
singkat dibandingkan dengan nonatlet.

7. a. Secara teoretis, bagaimanakah pengaruh posisi tubuh dan latihan fisik terhadap
denyut nadi dan tekanan darah?
Perubahan posisi tubuh dari duduk menjadi berdiri akan menyebabkan adanya
penurunan tekanan arteri dikepala dan tubuh bagian atas sehingga mengakibatkan
tekanan baroreseptor menurun. Penurunan tekanan baroreseptor ini akan
menimbulkan rangsangan simpatis keseluruh tubuh termasuk jantung. Rangsangan
simpatis ini akan menyebabkan kontraksi jantung meningkat sehingga tekanan darah
dan denyut nadipun meningkat. Hal ini bertujuan untuk memperkecil penurunan
tekanan arteri ditubuh bagian atas.

b. Apakah hasil praktikum saudara sesuai dengan teori? Bila tidak mengapa?
Pada hasil praktikum kami, terdapat beberapa penyimpangan/ketidaksesuaian antara
hasil pengamatan dengan teori. Penyimpangan ini disebabkan oleh beberapa hal, antara
lain kurang pekanya pengamat dalam mendengar bunyi Korotkoff dan membaca skala
pada tensimeter, serta pemasangan manset yang terlalu ketat atau terlalu longgar.

V. DAFTAR PUSTAKA
Ganong, WF. 2005. Review of Medical Physiology. 22
th
Edition., Appleton & Lange A Simon
&Schuster Co., Los Altos, California.
Guyton,AC. And Hall, JE 2006. Textbook of Medical Physiology. 11
th
Edition., W.B. Saunders Co.,
Philadelphia.
Marieb, EN 2006. Human Anatomy and Physiology. 7
th
Edition., The Benjamin / Cummings
Publishing Co. Inc., California.