Anda di halaman 1dari 71

STRUKTUR KAYU

BERDASARKAN STANDAR TATA CARA PERENCANAAN KONSTRUKSI KAYU UNTUK BANGUNAN GEDUNG (SNI KAYU) TAHUN 2002

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT KALIMANTAN SELATAN

Arie Febry Fardheny, MT afebry@teknikunlam.ac.id

SIPIL UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT KALIMANTAN SELATAN Arie Febry Fardheny, MT afebry@teknikunlam.ac.id SAMBUNGAN

SAMBUNGAN

PENAMPANG BERGANDA

PENAMPANG BERGANDA Terhadap Sumbu X – X A = (2b). H Ix = (1/12) (2b) h^3
PENAMPANG BERGANDA Terhadap Sumbu X – X A = (2b). H Ix = (1/12) (2b) h^3
PENAMPANG BERGANDA Terhadap Sumbu X – X A = (2b). H Ix = (1/12) (2b) h^3
PENAMPANG BERGANDA Terhadap Sumbu X – X A = (2b). H Ix = (1/12) (2b) h^3
PENAMPANG BERGANDA Terhadap Sumbu X – X A = (2b). H Ix = (1/12) (2b) h^3

Terhadap Sumbu X – X A = (2b). H Ix = (1/12) (2b) h^3

Terhadap Sumbu Y – Y A = (2b). H Ix = (1/12) (2b)^3

Terhadap Sumbu X – X A = (2b). H Ix = (1/12) (2b) h^3 Terhadap Sumbu
Terhadap Sumbu X – X A = (2b). H Ix = (1/12) (2b) h^3 Terhadap Sumbu

PENAMPANG BERGANDA

PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA

PENAMPANG BERGANDA

PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA

PENAMPANG BERGANDA

PENAMPANG BERGANDA A = 4 b. h Ix = 4 . (1/12) b. h^3 4 4
PENAMPANG BERGANDA A = 4 b. h Ix = 4 . (1/12) b. h^3 4 4
A = 4 b. h Ix = 4 . (1/12) b. h^3 4 4
A = 4 b. h
Ix = 4 . (1/12) b. h^3
4
4

PENAMPANG BERGANDA

PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA

PENAMPANG BERGANDA

PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
PENAMPANG BERGANDA
CONTOH 1

CONTOH 1

CONTOH 1
CONTOH 1
CONTOH SOAL (a)

CONTOH SOAL (a)

CONTOH SOAL (a)
CONTOH SOAL (a)
CONTOH SOAL (a)
CONTOH SOAL (b)

CONTOH SOAL (b)

CONTOH SOAL (b)
CONTOH SOAL (b)
CONTOH SOAL (b)

CONTOH 2

CONTOH 2
CONTOH 2
CONTOH 2
CONTOH 2
SAMBUNGAN Terdiri dari 2 Jenis yaitu : Sambungan Mekanis Sambungan yang hanya menggunakan material kayu.

SAMBUNGAN

SAMBUNGAN Terdiri dari 2 Jenis yaitu : Sambungan Mekanis Sambungan yang hanya menggunakan material kayu.

Terdiri dari 2 Jenis yaitu :

Sambungan Mekanis

Sambungan yang hanya menggunakan material kayu.

Sambungan Non Mekanis (Baut, Paku dan Pasak)

Sambungan yang menggunakan tambahan

SAMBUNGAN Tujuan Sambungan : Menyambung 2 Batang Kayu menjadi satu Memperbesar penampang kayu Estetika

SAMBUNGAN

SAMBUNGAN Tujuan Sambungan : Menyambung 2 Batang Kayu menjadi satu Memperbesar penampang kayu Estetika

Tujuan Sambungan :

Menyambung 2 Batang Kayu menjadi satu Memperbesar penampang kayu Estetika Kemudahan Pelaksanaan

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG
APLIKASI SAMBUNGAN PENAMPANG

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Menerus
SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Menerus
Sambungan Menerus
Sambungan Menerus

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Tegak Lurus
SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Tegak Lurus

Sambungan Tegak Lurus

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Tegak Lurus
SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Tegak Lurus

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Menyudut
SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Menyudut

Sambungan Menyudut

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Menyudut

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Kombinasi
SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Kombinasi

Sambungan Kombinasi

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Kombinasi
SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Kombinasi

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Tegak Lurus
SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Tegak Lurus

Sambungan Tegak Lurus

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Tegak Lurus

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Gigi Tunggal dan Ganda
SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Gigi Tunggal dan Ganda

Sambungan Gigi Tunggal dan Ganda

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Gigi Tunggal dan Ganda
SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan Gigi Tunggal dan Ganda

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan pada komponen struktur kayu atau dari satu komponen struktur kayu ke k omponen
SAMBUNGAN MEKANIS Sambungan pada komponen struktur kayu atau dari satu komponen struktur kayu ke k omponen

Sambungan pada komponen struktur kayu atau dari satu komponen struktur

kayu ke komponen struktur kau lainnya terdiri atas elemen penyambung (pelat buhul, pelat penyambung, pelat pengikat, siku dan pelat pendukung) dan alat sambung (cincin belah, pelat geser) atau alat pengencang (paku, jepretan, pasak, sekrup, baut, sekrup kunci, dan sistem alat pengencang sejenis). Sambungan harus direncanakan sedemikian sehingga:

Z

< λφ Z ’

 

u

z

dimana Z u adalah tahanan perlu sambungan, λ adalah faktor waktu yang berlaku sesuai dengan Tabel 6.3-2, φ z = 0,65 adalah faktor tahanan sambungan, dan Z’ adalah tahanan terkoreksi sambungan

Faktor Koreksi Sambungan

Faktor Koreksi Sambungan   Kondisi Kondisi FK Diafragma FK Aksi FK Geometri FK Kedalaman FK Serat
Faktor Koreksi Sambungan   Kondisi Kondisi FK Diafragma FK Aksi FK Geometri FK Kedalaman FK Serat
 

Kondisi

Kondisi

FK Diafragma

FK Aksi

FK Geometri

FK Kedalaman

FK Serat

FK Pelat

FK Paku

Terkoreksi =

Acuan x

Kelompok

Penetrasi

Ujung

Sisi

Miring

Z’ =

Z’

w =

Z

Z w

C

di

   

Paku,

pasak

C

d

C

og

C

 

C

m

C

m

Z’ =

Z’

w =

Z

Z w

     

Sekrup

C

d

eg

C

eg

   
         

Baut

         

Z’ =

Z

C

C

Δ

     

g

S

k

k

i

       

Z’ =

Z’

w =

Z

Z w

C

g

 

e

rup

pen

C

Δ

unc ,

C

d

C

eg

C

eg

       

Pelat geser,

       

Z’

// =

Z // =

C

g

cincin belah

C

d

C

st

Z

=

Z =

C

g

 

C

Δ

C

d

C

Δ

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Desain Sambungan Gigi Tunggal Pada sambungan gigi tunggal, dalamnya gigi, t m , tidak
SAMBUNGAN MEKANIS Desain Sambungan Gigi Tunggal Pada sambungan gigi tunggal, dalamnya gigi, t m , tidak

Desain Sambungan Gigi Tunggal

SAMBUNGAN MEKANIS Desain Sambungan Gigi Tunggal Pada sambungan gigi tunggal, dalamnya gigi, t m , tidak

Pada sambungan gigi tunggal, dalamnya gigi, t m , tidak boleh melebihi sesuatu batas, yaitu (lihat Gambar C1) t m < 1/3 h , yang mana h adalah tinggi komponen struktur mendatar. Panjang kayu muka l m harus memenuhi l m > 1,5 h , tetapi juga l m > 200 mm.

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Tahanan geser pada bagian kayu muka dapat dihitung sebagai berikut, N cos u α
SAMBUNGAN MEKANIS Tahanan geser pada bagian kayu muka dapat dihitung sebagai berikut, N cos u α

Tahanan geser pada bagian kayu muka dapat dihitung sebagai berikut,

N cos

u

α λφ

v

'

v

l bF

m

1 + 0 25

,

l

m

e m

N u

α φ v λ

l m

b

F

e

v

m

adalah gaya tekan terfaktor,

adalah sudut antara komponen struktur diagonal terhadap komponen struktur mendatar,

adalah faktor tahanan (lihat tabel di depan)

adalah faktor waktu (lihat tabel di depan)

adalah panjang kayu muka,

adalah lebar komponen struktur mendatar,

adalah kuat geser sejajar serat terkoreksi,

adalah eksentrisitas pada penampang neto akibat adanya coakan sambungan.

SAMBUNGAN GIGI TUNGGAL

SAMBUNGAN GIGI TUNGGAL tm em Lm
SAMBUNGAN GIGI TUNGGAL tm em Lm

tm

em

Lm
Lm

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Langkah Perhitungan : 1. Tentukan tm (tm ≤ 1/3 h) ambil tm = 1/3
SAMBUNGAN MEKANIS Langkah Perhitungan : 1. Tentukan tm (tm ≤ 1/3 h) ambil tm = 1/3

Langkah Perhitungan :

1. Tentukan tm

(tm 1/3 h)

ambil tm = 1/3 h

2. Tentukan lm dengan syarat lm 1.5 h atau lm 200 mm (ambil yang terbesar )

3. Hitung Kekuatan Geser

N cos

u

αλ φ

v

'

v

l bF

m

1 + 0 25

,

l

m

e

m

Contoh Soal

Contoh Soal R encana kanlah Sambungan Gigi Tunggal dengan Sudut 40 derajat , Grade Kayu E
Contoh Soal R encana kanlah Sambungan Gigi Tunggal dengan Sudut 40 derajat , Grade Kayu E

Rencanakanlah Sambungan Gigi Tunggal dengan Sudut 40 derajat , Grade Kayu E 15 dengan ukuran Kayu yang akan menumpu berukuran :

H

= 120 mm

B

= 80 mm

Gaya Tekan = 40 KN

Jawab :

1.

Menentukan tm

tm = 1/3 h = 1/3 . 120 = 40 mm

2.

Menentukan lm

lm

= 1.5 h = 1.5 x 120 = 180 mm

lm = 200 mm diambil 200 mm

3

Cek Gaya Geser

Contoh Soal

Contoh Soal Data Grade E 15 Fv = 5.1 Mpa φ v (tekan ) = 0.9
Contoh Soal Data Grade E 15 Fv = 5.1 Mpa φ v (tekan ) = 0.9

Data Grade E 15

Fv = 5.1 Mpa

φv (tekan ) = 0.9

χ = 0.8 (ruang umum)

λφ

v

'

v

l bF

m

1 + 0, 25

l

m

e

m

= ( 0 . 8) x ( 0 . 9 )

x

200

.(80 ).(5 . 1)

1 + 0 . 25

200

40

= 26112

Nu cos > NOT OK

Perhitungan Geser :

Nu cos α = 40000 . Cos 40 = 30641 N

Menghitung em (eksentrisitas) em = ½ h – ½ tm = ½ .120 – ½. 40 = 40 mm

Contoh Soal

Contoh Soal Untuk itu lm akan direvisi Direvisi menjadi Lm = 300 mm λφ v '
Contoh Soal Untuk itu lm akan direvisi Direvisi menjadi Lm = 300 mm λφ v '

Untuk itu lm akan direvisi

Direvisi menjadi

Lm = 300 mm

λφ

v

'

v

l bF

m

1 + 0, 25

l

m

e

m

= ( 0 . 8) x ( 0 . 9 )

x

300

.(80 ).(5 . 1)

1 + 0 . 25

300

40

= 30653 . 2

Nu cos < OK

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Desain Sambungan Gigi Majemuk Pada sambungan gigi majemuk, terdapat dua gigi dan dua panjang
SAMBUNGAN MEKANIS Desain Sambungan Gigi Majemuk Pada sambungan gigi majemuk, terdapat dua gigi dan dua panjang

Desain Sambungan Gigi Majemuk

SAMBUNGAN MEKANIS Desain Sambungan Gigi Majemuk Pada sambungan gigi majemuk, terdapat dua gigi dan dua panjang

Pada sambungan gigi majemuk, terdapat dua gigi dan dua panjang muka yang masing-masing diatur sebagai berikut (lihat Gambar C2),

dalamnya gigi pertama, dalamnya gigi kedua,

panjang kayu muka pertama, l m 1 > 200 mm dan l m 1 > 4 t m 1 yang mana h adalah tinggi komponen struktur mendatar.

t m 1 > 30 mm t m 2 > t m 1 + 20mm, namun t m 2 < 1/3 h

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Tahanan geser pada bagian k dihitung sebagai berikut, k ayu mu a yang pertama
SAMBUNGAN MEKANIS Tahanan geser pada bagian k dihitung sebagai berikut, k ayu mu a yang pertama

Tahanan geser pada bagian

k

dihitung sebagai berikut,

k

ayu mu a yang pertama

1 , 25 N cos

u

α

F

m 1

F

m

1

+

F

m

2

λφ

v

'

v

l bF

m

1

1 0 25

+

,

l

1

m

e

m 1

dan, tahanan geser pada bagian

ka u muka

an

y

g

kedua dihitun

g

y

berikut ini,

N cos

u

α λφ

v

'

v

l bF

m

2

1 + 0 ,25

l

m

e

m

N

u

α

φ v

λ

I

I

I

m

m1

m2

Fm

adalah gaya tekan terfaktor, adalah sudut antara komponen struktur diagonal terhadap komponen struktur mendatar, adalah faktor tahanan adalah faktor waktu adalah panjang kayu muka rerata, adalah panjang kayu muka yang pertama, adalah panjang kayu muka yang kedua, adalah luas bidang tumpu

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS e m adalah eksentrisitas rerata pada penampang neto akibat ad anya coa k an
SAMBUNGAN MEKANIS e m adalah eksentrisitas rerata pada penampang neto akibat ad anya coa k an

e m

adalah eksentrisitas rerata pada penampang neto akibat

adanya coakan sambungan,

e m 1

adalah eksentrisitas bagian kayu muka pertama pada

penampang neto akibat adanya coakan sambungan, adalah luas bidang tumpu bagian kayu yang pertama, adalah luas bidang tumpu bagian kayu yang kedua, adalah lebar komponen struktur mendatar,

m

m

1

2

F

F

b

F v

adalah kuat geser sejajar serat terkoreksi.

Sambungan gigi majemuk hanya dianjurkan digunakan bila α > 45°.

GIGI MAJEMUK

GIGI MAJEMUK tm1 tm2 em1 em lm2 lm1
GIGI MAJEMUK tm1 tm2 em1 em lm2 lm1

tm1

tm2

em1

em

lm2 lm1
lm2
lm1

SAMBUNGAN MEKANIS

SAMBUNGAN MEKANIS Lan g kah Perhitun gan : 1. Tentukan tm1 (tm1 ≥ 30 mm) 2.
SAMBUNGAN MEKANIS Lan g kah Perhitun gan : 1. Tentukan tm1 (tm1 ≥ 30 mm) 2.

Langkah Perhitungan :

1. Tentukan tm1

(tm1 30 mm)

2. Tentukan tm2 tm 2 tm2

ambil yang terkecil

3. Tentukan lm1 dengan syarat

tm1 + 20 1/3 h

Lm1 200 mm

lm1

4 tm

4. Tentukan lm2 lm 2 2. lm1

Hit

ung

G

eser

1 , 25 N cos

u

α

M k

u a

F

m

1

1

F

m

1

+

F

m

2

λφ

v

Dan Geser Muka 2

N cos

u

α λφ

v

'

v

l bF

m

2

1 + 0 ,25

l

m

e

m

'

v

l bF

m

1

1

+

0 25

,

l

m

1

e

m 1

Contoh Soal Rencanakanlah Sambun an Gi i g Tunggal dengan Sudut 60 derajat , Grade

Contoh Soal

Contoh Soal Rencanakanlah Sambun an Gi i g Tunggal dengan Sudut 60 derajat , Grade Kayu

Rencanakanlah Sambun an Gi i

g Tunggal dengan Sudut 60 derajat , Grade Kayu E 15 dengan ukuran Kayu yang akan menumpu berukuran :

H = 120 mm B = 80 mm

g

Gaya Tekan = 40 KN

1

M

t k

t

1 = 30

.

enen u an

 

m

mm

 

2.

Menentukan tm2

 

1.

Tm2 = 20 + 20 = 40 mm

2

.

Tm2 = 1/3 h = 1/3 Tm2 = 40 mm

.

120 = 40 mm

3.

Menentukan lm1

 

1.

Lm1 = 200 mm

 

2.

Lm1 = 4.40 = 160 mm

 

Lm1 = 300 mm

 

4.

Menentukan lm2 lm2 = 2. 300 = 600 mm

Contoh Soal

Contoh Soal Cek Geser Muka 1 1 , 25 N cos u α F m 1
Contoh Soal Cek Geser Muka 1 1 , 25 N cos u α F m 1

Cek Geser Muka 1

1 , 25 N cos

u

α

F

m

1

F

m

1

+ F

m

2

λφ

v

'

v

l bF

m

1

1 +

0 , 25

l

m 1

e

m 1

Fm1 = b. tm1 = 80x30 =240

mm

Fm2 = b . Tm2 =

80x 40 = 320

em1 = 1/2h-1/2tm1 = 45 mm

em =1/2 h – ½ tm2 = 40

1, 25 N

u

cos

α

F

m

1

F

m1

+ F

m 2

=

(1 . 25) ( 40000 ). cos( 60 )

x

240

( 240 320 )

+

= 10714

λφ

v

'

v

l bF

m

1

1 + 0, 25

l

m

1

e

m

1

= ( 0 . 8)( 0 . 9 )

300 .80 .(5 .1)

1 + 0 . 25

300

45

= 33006

Cek Geser Muka 2

N cos

u

α

λ

φ

v

'

v

l bF

m

2

1 + 0, 25

l

m

e

m

N

u

cos α = 40000 . cos( 60 ) = 20000

λφ

v

'

v

l bF

m

2

1 + 0, 25

l

m

e

m

= ( 0 . 8).( 0 . 9 )

600

. 80 .(5 . 1)

1 + 0 . 25

600

40

OK

OK

= 37106

SAMBUNGAN NON MEKANIS

SAMBUNGAN NON MEKANIS SAMBUNGAN BAUT SAMBUNGAN PAKU SAM BUNGAN P ASA K Ketentuan berikut ini berlaku
SAMBUNGAN NON MEKANIS SAMBUNGAN BAUT SAMBUNGAN PAKU SAM BUNGAN P ASA K Ketentuan berikut ini berlaku

SAMBUNGAN BAUT SAMBUNGAN PAKU SAMBUNGAN PASAK

Ketentuan berikut ini berlaku untuk perencanaan sambungan menggunakan alat pengencang dari jenis pasak baja termasuk baut, sekrup kunci, pen, dan pasak berdiameter 6,3 mm < D < 25 mm

SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT Kel ema han B aut : Efisiensi Rendah Deformasi Besar
SAMBUNGAN BAUT Kel ema han B aut : Efisiensi Rendah Deformasi Besar
SAMBUNGAN BAUT Kel ema han B aut : Efisiensi Rendah Deformasi Besar

Kelemahan Baut :

Efisiensi Rendah Deformasi Besar
Efisiensi Rendah
Deformasi Besar
SAMBUNGAN BAUT Lub ang penun tun h arus dibuat dengan seksama. Untuk baut, lubang penuntun

SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT Lub ang penun tun h arus dibuat dengan seksama. Untuk baut, lubang penuntun tidak

Lubang penuntun harus dibuat dengan seksama. Untuk baut, lubang penuntun tidak d D + 0,8 mm bila D < 12,7 mm, D + 1,6 mm bila D > 12,7 mm. p dibuat antara D hingga (D – 0,8 mm), dimana D adalah diameter pen

Luban

b

l

o e

h l

b h b

e

i

d

esar

aripa a

enuntun untuk

en harus

g p

Lubang penuntun untuk sekrup kunci harus dibor dengan cara

seba ai berikut:

•Lubang untuk daerah tak berulir harus memiliki diameter yang sama dengan diameter batang tak- berulir dan kedalaman yang sama dengan daerah tak- berulir. •Lubang penuntun untuk daerah berulir harus memiliki panjang minimum sepanjang batang berulir dari sekrup kunci dan berdiameter sama dengan fraksi diameter batang berulir berikut ini:

g

G > 0,60

0,50 < G < 0,60

G < 0,50

= (0,65) D hingga (0,85) D = (0,60) D hingga (0,75) D

= (0,40) D hingga (0,70) D

dimana G adalah berat jenis kayu dan D adalah diameter batang berulir dari sekrup kunci.

SAMBUNGAN BAUT Bila baut atau kepala sekrup kunci atau mur menumpu pada material kayu atau

SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT Bila baut atau kepala sekrup kunci atau mur menumpu pada material kayu atau material

Bila baut atau kepala sekrup kunci atau mur menumpu pada material kayu atau material yang berasal dari kayu, maka harus dipasang ring standar, pelat baja, atau jenis ring baja lainya di antara material kayu tersebut dan kepala baut atau kepala sekrup kunci atau mur. Diameter luar minimum ring harus 2,5 kali diameter batang baut atau sekrup kunci. Ketebalan minimum ring adalah 3,2 mm.

Diameter luar minimum ring harus 2,5 kali diameter batang baut atau sekrup kunci. Ketebalan minimum ring
Diameter luar minimum ring harus 2,5 kali diameter batang baut atau sekrup kunci. Ketebalan minimum ring
SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT
SAMBUNGAN BAUT
SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT   Beban Sejajar Arah Serat Ketentuan Dimensi Minimum Jarak Tepi ( b o p
SAMBUNGAN BAUT   Beban Sejajar Arah Serat Ketentuan Dimensi Minimum Jarak Tepi ( b o p
 

Beban Sejajar Arah Serat

Ketentuan Dimensi Minimum

Jarak Tepi (b opt ) I m / D < 6 (lihat Catatan 1) I m / D > 6 Jarak Ujung (a opt ) Komponen Tarik Komponen Tekan Spasi (s opt ) Spasi dalam baris alat pengencang Jarak antar baris alat pengencang

1,5 D yang terbesar dari 1,5 D atau ½ jarak antar baris alat pengencang tegak lurus serat

7

D

4

D

D 1,5 D < 127 mm (lihat Catatan 2 dan 3)

4

Beban Tegak Lurus Arah Serat

Ketentuan Dimensi Minimum

Jarak Tepi (b opt ) Tepi yang dibebani Epi yang tidak dibebani Jarak Ujung (a opt ) Spasi (s opt )

4

D

1,5 D

D Lihat Catatan 3

4

Spasi dalam baris alat pengencang Jarak antar baris alat pengencang:

2,5 D (lihat Catatan 3) (5 I m + 10 D) / 8 (lihat Catatan 3)

I m / D

< 2

5

D (lihat Catatan 3)

2 < I m / D < 6

I m / D > 6

I

m

adalah panjang pasak pada

komponen utama pada suatu sambungan atau panjang total pasak pada komponen sekunder pada suatu sambungan.

Diperlukan spasi yang lebih besar

untuk sambungan yang menggunakan ring.

Untuk alat pengencang sejenis pasak, spasi tegak lurus arah serat antar alat-alat pengencang terluar pada suatu sambungan tidak boleh melebihi 127 mm, kecuali bila

digunakan pelat penyambung khusus atau bila ada ketentuan mengenai perubahan dimensi kayu

SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT
SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT

SAMBUNGAN BAUT
SAMBUNGAN BAUT
SAMBUNGAN BAUT
SAMBUNGAN BAUT
SAMBUNGAN BAUT
Contoh Soal D esa in lah jumlah B aut yang digunakan, diameter baut yang digu

Contoh Soal

Contoh Soal D esa in lah jumlah B aut yang digunakan, diameter baut yang digu nakan
Contoh Soal D esa in lah jumlah B aut yang digunakan, diameter baut yang digu nakan

Desain lah jumlah Baut yang digunakan, diameter baut yang digunakan adalah 27.9 mm atau 1.1”

Contoh Soal

Contoh Soal Diameter Baut = 27,9 mm λ b = b/d = 120/27.9 = 4.30 Lihat
Contoh Soal Diameter Baut = 27,9 mm λ b = b/d = 120/27.9 = 4.30 Lihat
Contoh Soal Diameter Baut = 27,9 mm λ b = b/d = 120/27.9 = 4.30 Lihat

Diameter Baut = 27,9 mm λb = b/d = 120/27.9 = 4.30 Lihat Tabel rumus terdekat λb =4.3

b/d = 120/27.9 = 4.30 Lihat Tabel rumus terdekat λ b =4.3 Sehingga Kekuatan Baut :

Sehingga Kekuatan Baut :

Sudut 0 derajat (Kg)

S

= 100 x 2.79 x 12 x (1-0.6 sin 0) = 3348

S

= 200 x 2.79 x 12 x (1-0.6 sin 0) = 6696

S

= 430 x 2.79^2 x (1-0.35 sin 0) = 3347

Ambil P reaksi Terbesar= 1326,57 Kg Ambil S Baut Terkecil = 3347 Kg

N = P/S = 1326.57 / 3347 = 0.39 buah Pakai 1 Buah Baut

Contoh Soal

Contoh Soal Sehingga Kekuatan Baut : Sudut 34.99 derajat (Kg) S = 100 x 2.79 x
Contoh Soal Sehingga Kekuatan Baut : Sudut 34.99 derajat (Kg) S = 100 x 2.79 x
Contoh Soal Sehingga Kekuatan Baut : Sudut 34.99 derajat (Kg) S = 100 x 2.79 x

Sehingga Kekuatan Baut :

Sudut 34.99 derajat (Kg)

S

= 100 x 2.79 x 12 x (1-0.6 sin 34.99) = 2196

S

= 200 x 2.79 x 12 x (1-0.6 sin 34.99) = 4392

S

= 430 x 2.79^2 x (1-0.35 sin 34.99) =2675

Ambil P reaksi Terbesar= 1251.48 Kg Ambil S Baut Terkecil = 2196 Kg

N = P/S = 1251.48 / 2196 = 0.56 buah Pakai 1 Buah Baut

Contoh Soal

Contoh Soal Sehingga Kekuatan Baut : Sudut 90 derajat (Kg) S = 100 x 2.79 x
Contoh Soal Sehingga Kekuatan Baut : Sudut 90 derajat (Kg) S = 100 x 2.79 x
Contoh Soal Sehingga Kekuatan Baut : Sudut 90 derajat (Kg) S = 100 x 2.79 x

Sehingga Kekuatan Baut :

Sudut 90 derajat (Kg)

S

= 100 x 2.79 x 12 x (1-0.6 sin 90) = 1339.2

S

= 200 x 2.79 x 12 x (1-0.6 sin 90) = 2678.4

S

= 430 x 2.79^2 x (1-0.35 sin 90) =2175

Ambil P reaksi Terbesar= 1440.94 Kg Ambil S Baut Terkecil = 1339.2 Kg

N = P/S = 1440.94 / 1339.2 = 1.08 buah Pakai 2 Buah Baut

Contoh Soal

Contoh Soal

Contoh Soal
Contoh Soal
Contoh Soal

Contoh Soal

Contoh Soal
Contoh Soal
Contoh Soal

SAMBUNGAN PAKU

SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU Paku adalah logam keras berujung runcing, umumnya terbuat dari baja , y an

SAMBUNGAN PAKU

SAMBUNGAN PAKU Paku adalah logam keras berujung runcing, umumnya terbuat dari baja , y an g

Paku adalah logam keras berujung runcing, umumnya terbuat dari baja, yang digunakan untuk melekatkan dua bahan dengan menembus keduanya. Paku umumnya ditembuskan pada bahan dengan menggunakan palu atau nail gun yang digerakkan oleh udara bertekanan atau dorongan ledakan kecil. Pelekatan oleh paku terjadi dengan adanya gaya gesek pada arah vertikal dan gaya tegangan pada arah lateral. Ujung paku kadang ditekuk untuk mencegah paku keluar.

gaya gesek pada arah vertikal dan gaya tegangan pada arah lateral. Ujung paku kadang ditekuk untuk

SAMBUNGAN PAKU

SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU S =1/2 b d Fc untuk b ≤ 7d S =3.5d^2 Fc untuk

SAMBUNGAN PAKU

SAMBUNGAN PAKU S =1/2 b d Fc untuk b ≤ 7d S =3.5d^2 Fc untuk b
S =1/2 b d Fc untuk b ≤ 7d S =3.5d^2 Fc untuk b ≥
S
=1/2 b d Fc
untuk b ≤ 7d
S
=3.5d^2 Fc
untuk
b ≥ 7d
S = b d Fc untuk b ≤ 7d S =7d^2 Fc untuk b ≥
S
= b d Fc
untuk b ≤ 7d
S
=7d^2 Fc
untuk
b ≥ 7d

b

= tebal kayu

d

= diameter paku

Fc = Kuat Tekan Tegak Lurus Serat

SAMBUNGAN PAKU

SAMBUNGAN PAKU

SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU

SAMBUNGAN PAKU

SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU

SAMBUNGAN PAKU

SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU
SAMBUNGAN PAKU

Contoh Soal

Contoh Soal Tentukanlah Jumlah Paku yang digunakan untuk menyambung Kayu menjadi 1 sejajar. Grade Kayu E
Contoh Soal Tentukanlah Jumlah Paku yang digunakan untuk menyambung Kayu menjadi 1 sejajar. Grade Kayu E

Tentukanlah Jumlah Paku yang digunakan untuk menyambung Kayu menjadi 1 sejajar. Grade Kayu E 15 ukuran kayu 120 x 80 mm. Gaya Tekan yang terjadi : 10 KN. Paku yang ada berdiameter 3.4 mm

Tekan yang terjadi : 10 KN. Paku yang ada berdiameter 3.4 mm E 1 5 F

E 15 Fc = 13 Mpa

Jenis Tampang : Tampang 1

1. Cek Ketebalan B = 80 mm 7d = 7 x 3.4 = 23.8 mm

(b > 7d)

2. Tentukan kuat 1 Paku

S =1/2 b d Fc = ½ . 80 . (3.4) . 13 = 1768 N 3. N paku = 10000/ 1768 =5.65 = 6 buah

Contoh Soal

Contoh Soal Tentukanlah Jumlah Paku yang digunakan untuk menyambung Kayu menjadi tampang 2 Grade Kayu E
Contoh Soal Tentukanlah Jumlah Paku yang digunakan untuk menyambung Kayu menjadi tampang 2 Grade Kayu E

Tentukanlah Jumlah Paku yang digunakan untuk menyambung Kayu menjadi tampang 2 Grade Kayu E 15 ukuran kayu 120 x 80 mm. Gaya Tekan yang terjadi : 10 KN. Paku yang ada berdiameter 3.4 mm

Tekan yang terjadi : 10 KN. Paku yang ada berdiameter 3.4 mm E 1 5 F

E 15 Fc = 13 Mpa

Jenis Tampang : Tampang 2

1. Cek Ketebalan B = 80 mm 7d = 7 x 3.4 = 23.8 mm

(b > 7d)

2. Tentukan kuat 1 Paku S =b d Fc = 80 . (3.4) . 13 = 3536 N

3. N paku = 10000/ 3536 =2.82 = 3 buah

BAUT ATAU PAKU ? Sekrup Bentuk ulir pada batangnya berfungsi untuk membentuk ikatan yang lebih

BAUT ATAU PAKU ?

BAUT ATAU PAKU ? Sekrup Bentuk ulir pada batangnya berfungsi untuk membentuk ikatan yang lebih kuat

Sekrup Bentuk ulir pada batangnya berfungsi untuk membentuk ikatan yang lebih kuat pada kayu. Untuk hasil terbaik, kayu induk harus dilubangi dengan ukuran sebesar diameter inti sekrup dan kayu tambahan dilubangi sebesar ukuran diameter sekrup bagian luar. Dengan adanya ulir tersebut, aplikasi sekrup membutuhkan waktu lebih lama daripada paku. yang harus diperhatikan pada aplikasi sekrup adalah lubang obeng kepala sekrup. Kepala sektup harus tetap utuh dan baik sehingga bisa dipakai pada waktu membuka atau menutup sekrup kembali.

Paku Hanya terdapat guratan pada leher paku dan penampang kepala paku. Guratan pada kepala paku berfungsi agar martil tidak tergelincir pada waktu memasukkan paku dan guratan pada leher paku berfungsi untuk menambah daya ikat paku ke dalam kayu setelah seluruh badan paku terbenam. Aplikasi paku jauh lebih cepat daripada sekrup dengan daya ikat yang lebih rendah. Dan dengan alat bantu tangan saat ini, dalam hitungan detik kita bisa membenamkan beberapa paku sekaligus. Tidak perlu dibuat lubang 'pre-drilling' karena paku lebih mudah dibenamkan.

Kekurangan paku berada pada daya ikatnya terhadap kayu. Ketika terjadi penyusutan kayu, ikatan antara paku dan kayu menjadi berkurang. Selain itu paku jarang bisa digunakan kembali ketika dicabut dari kayu karena bengkok atau permukaan kepala paku mnjadi lebih licin. Hal ini tidak terjadi pada sekrup.

Untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan kecepatan dan pekerjaan tersebut tidak akan ada perubahan, maka paku adalah alat pengikat yang paling tepat. Atau sebagai alat pengikat sementara, paku bekerja sangat baik dan praktis. Jika anda membutuhkan konstruksi yang membutuhkan daya ikat lebih baik maka sekrup adalah pilihan yang lebih baik daripada paku dengan konsekuensi waktu lebih lama. Kerapihan hasil kerja bisa dibilang sama karena jika melihat dari lubang yang dihasilkan paku justru lebih kecil dan lebih mudah ditutupi dengan wood filler. (tersadur dari Tentang Kayu)

SAMBUNGAN PASAK

SAMBUNGAN PASAK

SAMBUNGAN PASAK
SAMBUNGAN PASAK
SAMBUNGAN PASAK

SAMBUNGAN PASAK

SAMBUNGAN PASAK
SAMBUNGAN PASAK
SAMBUNGAN PASAK

SAMBUNGAN PASAK

SAMBUNGAN PASAK
SAMBUNGAN PASAK