Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

IRIGASI DAN DRAINASE


PENGUKURAN KECEPATAN INFILTRASI
PERMUKAAN LAHAN



NAMA :Hendra pangaribuan
NPM :E1J012075
Co-Ass : Riduan Hutabarat


Program Studi Agroekoteknologi
Jurusan Budidaya pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
2014
BAB I
PENDAHULUAN
I.1Dasar Teori
Air yang jatuh sebagai hujan tidak semuanya dapat mencapai permukaan tanah; sebagian
tanah oleh vegetasi dan bangunan, sebagian air yang mencapai permukaan tanah akan masuk
kedalam tanah dan manjadi air tanah melalui proses infiltrasi; sebagian lagi mengalir kebadan
air sebagai air permukaan. Masuk nya air kedalam tanah dibantu dengan gravitasi dalam
tanah, Laju infiltrasi air ke dalam tanah, berhubungan dengan pengisian kembali tanah oleh
air hujan atau oleh air irigasi, sangat penting khusus nya untuk tanaman pertanian. Karena
tanaman sangat memerlukan air untuk memecahkan zat-zat yang terkandung didalam tanah
sarta untuk kelembapan tanah itu sendiri.
Bumi terdiri atas daratan dan lautan. Air yang terdapat dalam permukaan bumi berputar
melalui siklus hidrologi. Dalam siklus hidrologi, ada beberapa tahapan, yaitu:
1. Evaporasi adalah penguapan oleh lautan, danau maupun sungai.
2. Traspirasi adalah penguapan oleh tumbuhan.
3. Kondensasi adalah pengendapan uap air yang menyublim di awan.
4. Presipitasi adalah turunnya air dari atmosfer ke permukaan bumi yang berupa hujan
salju, kabut, embun, dan hujan.
Saat terjadi presipitasi sebagaian air, terserap kedalam tanah, menjadi salju dan ada
juga yang jatuh kembali kelaut, danau maupun sungai. Infilrasi merupakan proses masuknya
air dari permuakan kedalam tanah. Infiltarasi berpengaruh terhadap saat mulai terjadinya
aliran permukaan atau run off. Infiltrasi dari segi hidrologi penting, karena hal ini menandai
peralihan air permukaan yang bergerak cepat ke air tanah yang bergerak lambat dari air
tanah.
Infiltrasi tanah meliputi infiltrasi kumulatif, laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi. Ada
berbagai macam model untuk menghitung infiltrasi diantaranya, Model Horton, Model Philip
Tanah Dua-Lapis dan lain sebagainya. Model Horton adalah salah satu model infiltrasi yang
terkenal dalam hidrologi.
Infiltrasi adalah proses masuknya air ke dalam tanah. Air yang telah ada di dalam tanah
kemudian akan bergerak ke bawah oleh gravitasi dan disebut dengan perkolasi. Laju infiltrasi
air ke dalam tanah, dalam hubungannya dengan pengisian kembali tanah oleh air hujan atau
oleh air irigasi, sangat penting. Apabila daya infiltrasi tanah besar, berarti air mudah meresap
kedalam tanah, sehingga aliran permukaan kecil. Akibat erosi yang terjadi juga kecil. Daya
infiltrasi tanah dipengaruhi oleh pororitas dan kemantapan struktur tanah. Karena bentuk
struktur tanah yang membulat (granuler, remah, gumpal membulat), menghasilkan tanah
dengan pororitas tinggi sehingga air mudah meresap kedalam tanah, dan aliran permukaan
menjadi kecil, sehingga erosi juga kecil. Demikian pula tanah-tanah yang mempunyai
struktur tanah yang mantap (kuat), yang berarti tidak mudah hancur oleh pukulan-pukulan air
hujan, akan tahan terhadap erosi. Sebaliknya struktur tanah yang tidak mantap, sangat mudah
hancur oleh pukulan air hujan, menjadi butiran-butiran halus sehingga menutup pori-pori
tanah. Akibatnya air infiltrasi terhambat dan aliran permukaan meningkat yang berarti erosi
juga akan meningkat.
Laju I nfiltrasi dan Kapasitas I nfiltrasi
Laju infiltrasi (infiltration rate) dan kapasitas infiltrasi (infiltration capacity) adalah
besaran kuantitas infiltrasi, dimana kapasitas infiltrasi adalah laju infiltrasi maksimum unruk
suatu jenis tanali tertentu sementara laju infiltrasi adalah laju infiltrasi yang nyata pada tanah
tersebut. Laju infiltrasi tergantung pada kondisi permukaan dan bawah permukaan tanah.
Faktor terpenting adalah stabilitas pori-pori pada permukaan tanali dan laju transmisi air
lewat tanah. Secara fisik, ada empat faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi dan kapasitas
infiltrasi tanah, yaitu: (1) Jenis tanah, (2) Kepadatan tanah, (3) Kelembapan Tanah, (4) Tutup
Tumbuhan. Namun Setiap Jenis tanah mempunyai laju infiltrasi karakteristik yang berbeda
dan bervariasi tergantung pada karakterisrik tanah tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah; kandungan air awal,
permeabilitas permukaan tanah, kondisi internal seperti ruang pori dan kemerekahan koloid
tanah, serta kandungan bahan organik tanah, juga lamanya air hujan atau pemberian air
irigasi. Dalam mengukur laju kecepatan infiltrasi tanah dilapangan dapat dinyatakan dengan:
w : Berat air/volume air.
V : Kecepatan air.
t : Waktu kecepatan resapan air. Hal tersebut dinyatakan dalam:
V= w
t





Misal:
Kecepatan air meresap/laju infiltrasi air kedalam tanah 30 detik, dan volume air dalam
percobaan sebanyak 2 liter. Tentukan berapa kecepatan laju infiltrasi air kedalam tanah dalam
satuan Liter/menit.
Jawab: 2 liter = 4 liter/menit
0,5 menit 30 detik dijadikan menit menjadi 0,5 menit.

Semakin kecil laju infiltrasi maka semakin subur tanah tersebut karena banyak
mengandung unsur hara dan pori-pori yang baik untuk tanaman pertanian khusus nya.

I.2.Tujuan
Tujuan dari praktikum inio adalh menetukan laju infiltrasi suatu lahan menggunakan
single ring infiltrometer.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bahan sementasi dan hipa yang dihasilkan dari kegiatan mikroorgnisme menyebabkan
terjadinya agregasi tanah dan stabilitas agregat meningkat sehingga infiltrasi air lebih besar
dan limpasan permukaan, serta erosi dapat ditekan. Pori makro yang dihasikan aktivitas
cacing tanah, semut, dan rayap meningkatkan infiltrasi air dan menekan terjadinya air
limpasan dan erosi. (Smith, at aal. 1992).
Teori Infiltrasi tanah yang menekan kan bahwa perkolasi air melalui lapisan bawah
tanah (subsoil), dapat menghasilkan mata air; bukan hutan yang menghasilkan mata air
(Coster. 1938)
Dibawah zone transmisi, adalah zone pembasahan (wetting zone) dengan kadar air
tanali meningkat secara cepat, mengikuti lamanya waktu infiltrasi. Zone pembasahan ini
berakhir pada daerah basali. Dengan mempertimbangkan infiltrasi air ke arah honzontal dari
sebuah media yang berpori dengan permebilitas jenuh {saturated permeability) k dan
porositas rj, Brand (1982: 35) berdasarkan Lumb (1962).
Knapp (1978: 69) menyebutkan bahwa Hewlett dan Hibbert (1963) yang meneliti
infiltrasi dan redistribusi kadar kebasahan tanah pada lereng, telah menyimpulkan bahwa
sementara bagian atas lereng secara cepat berkurang kejenuhannya dan secara asimtot
mendekati keadaan keseimbangannya, bagian bawah segera mengembangkan kadar air yang
tetap stabil dengan nilai mendekati keadaan jenuh Percobaan ini dilakukan dengan model
berupa lempeng tanah yang seragam, dimana kadar kebasahan digabungkan dengan ketebalan
lempeng dan karena itu, tidak menggambarkan perbedaan kadar kebasahan yang tegak lurus
terhadap bidang miring lereng.
Produksi Polisakarida yang bersifat lekat sehingga membantu agregasi tanah
(meningkatkan porositas dan infiltrasi udara dan air, serta menurunkan kehilangan akibat
erosi. (Rachman Sutanto. 2003)
Infiltrasi didefinisikan sebagai proses masuknya air ke dalam tanah melalui
permukaan tanah. Umumnya, infiltrasi yang dimaksud adalah infiltrasi vertikal, yaitu
gerakan ke bawah dari permukaan tanah (Linsley et al, 1985). Infiltrasi tanah meliputi
infiltrasi kumulatif, laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi. Infiltrasi kumulatif adalah jumlah
air yang meresap ke dalam tanah pada suatu periode infiltrasi. Laju infiltrasi adalah jumlah
air yang meresap ke dalam tanah dalam waktu tertentu. Sedangkan kapasitas infiltrasi adalah
laju infiltrasi maksimum air meresap ke dalam tanah (Hardjowigeno, 2003).
Laju infiltrasi tertinggi dicapai saat air pertama kali masuk ke dalam tanah dan
menurun dengan bertambahnya waktu (Linsley et al, 1985).Pada awal infiltrasi, air yang
meresap ke dalam tanah mengisi kekurangan kadar air tanah. Setelah kadar air tanah
mencapai kadar air kapasitas lapang, maka kelebihan air akan mengalir ke bawah menjadi
cadangan air tanah (ground water) (Linsley et al, 1985).
Infiltrasi merupakan bagian dari siklus hidrologi yang mempunyai peranan penting
dalam berbagai aspek kehidupan yang berkaitan dengan ketersediaan air. Pada tanah-tanah
yang memiliki kapasitas infiltrasi tanah yang rendah, sebagian besar curah hujan berubah
menjadi aliran permukaan dan hanya sebagian kecil air hujan yang masuk ke dalam tanah
melalui permukaan tanah. Akibatnya jumlah air yang menjadi simpanan air tanah menurun.
Infiltrasi juga dapat dimanfaatkan untuk pertimbangan perkiraan potensi kekeringan, aliran
permukaan, erosi dan pertimbangan kegiatan-kegiatan tertentu (Hardjowigeno, 2003).
Pengamatan infiltrasi di lapang dapat dilakukan dengan membuat simulasi
peresapan air oleh tanah. Simulasi ini dibantu dengan peralatan tertentu. Salah satu peralatan
yang dapat digunakan adalah double ring infiltrometer (infiltrometer cincin konsentrik)
(Seyhan, 1990). Alat tersebut terdiri dari dua metal silinder yang berbeda ukuran. Kedua
silinder dipasang pada tanah dan diisi dengan air untuk kemudian diamati penurunan tinggi
muka air pada tiap waktu tertentu (Rachman,2002).
Laju infiltrasi dipengaruhi oleh sifat-sifat tanah, jenis liat, tutupan taju vegetasi,
tindakan pengolahan tanah dan laju penyediaan air. Secara langsung, laju infiltrasi
dipengaruhi oleh kapasitas infiltrasi dan laju penyediaan. Kapasitas infiltrasi ditentukan
oleh struktur dan tekstur tanah. Unsur struktur tanah yang terpenting adalah ukuran, jumlah
dan distribusi pori, serta kemantapan agregat tanah (Arifin, 2001).
Menurut Asdak (1995), laju masuknya air ke dalam tanah terutama dipengaruhi oleh
ukuran dan kemantapan agregat. Pori tanah merupakan bagian tanah yang tidak terisi bahan
padat tanah. Pori-pori tanah dapat terbentuk akibat susunan agregat tanah, aktivitas akar,
cacing, dan aktivitas organisme tanah lainnya. Aktivitas perakaran tumbuhan tahunan,
sangat berperan dalam pembentukan saluran untuk pergerakan air dan udara. Saluran yang
terbentuk umumnya berbentuk pipa yang kontinu dengan panjang yang dapat mencapai satu
meter (Linsley et al, 1985).
Total ruang pori tanah yang merupakan volume relatif dari pori-pori tanah
dipengaruhi oleh susunan butiran padat tanah. Selain itu, total ruang pori tanah juga
dipengaruhi oleh kedalaman tanah. Umumnya, tanah pada lapisan bawah lebih padat
sehingga memiliki total ruang pori tanah yang lebih kecil dibandingkan total ruang pori
tanah lapisan atas (Suhardi, 1983).
Peran total ruang pori tanah berkaitan dengan pergerakan air dan udara serta
penyimpanannya berkaitan dengan akar tanaman, mikroorganisme dan fauna tanah (Linsley
et al, 1985).Berdasarkan Isyari (2005), laju infiltrasi pada penggunaan lahan hutan, tegalan,
dan semak lebih tinggi daripada laju infiltrasi penggunaan lahan pemukiman. Pemadatan
yang terjadi akibat aktivitas manusia menurunkan laju infiltrasi. Pengolahan tanah yang
dilakukan pada suatu lahan berpotensi untuk meningkatkan dan menurunkan laju infiltrasi
tanah. Aktivitas perakaran meningkatkan pori drainase dan berdampak pada peningkatan laju
infiltrasi.
Menurut Hefni (2003), laju infiltrasi tanah hutan lebih tinggi daripada laju infiltrasi
tanah pertanian (tegalan). Jenis tanaman semusim yang ditanam pada tanah pertanian
memiliki akar yang dangkal dengan penyerapan air yang sedikit sehingga kandungan air
tanah tinggi dan laju infiltrasi menjadi rendah.













BAB III
METODEOLOGI
III.1.Alat Dan Bahan
- Literan yang dilubangi dua arah (atas dan bawah) yang berukuran 2 liter.
- Ember penampung air
- Gelas mili liter/ gelas piala 200 ml
- Air
- Gayung
- Stop Watch

III.2 Prosedur kerja
Dalam percobaan praktikum ini di awali dengan mencari lokasi mana yang akan diambil
untuk pengujian kecepatan laju infiltrasi tanah, diantara nya lokasi pada lahan Tanah olahan
(OT), dan lokasi pada lahan tanpa olah Tanah (TOT). sampel lahan tersebut diambil untuk
perbandingan kecepatan dan kesuburan tanah. Biasanya pada tanah Olahan laju infiltrasi
lebih cepat ketimbang pada lahan Tanpa olah tanah. Sebelum percobaan dimulai siapkan air
sebanyak 2 liter dan ditampung didalam ember penampung air. Selanjutnya percobaan
dimulai pada lahan olahan dengan cara Menancapkan Literan Besi kedalam tanah namun
diusahakan jangan sampai air yang akan dituangkan tidak bocor dan dalam
menancapkan jangan terlalu dalam kira-kira 1-2cm. Berikut gambar literan besi saat
ditancap kan ke dalam tanah.









Setelah Literan di tancapkan didalam tanah tuang air yang ada didalam ember penampung
secara perlahan dengan menggunakan Gelas mili liter/Gelas Piala 200ml, degan diukur
terlebih dahulu masa air yang dituangkan sebanyak 2 liter, dan tuang secara berangsur-angsur
sampai air memenuhi Literan besi.
Berikut Gambar cara menuangkan air kedalam literan besi.










Setelah literan terisi penuh, secara bersamaan hitung kecepatan resapan air yang
masuk dalam tanah (infiltrasi) dengan menggunakan Stop Watch, kemudian tunggu air yang
meresap tersebut sampai air benar-benar teresap semua kedalam tanah sambil memperhatikan
laju kecepatan air tersebut dengan Stop Watch. Setelah ai benar-benar telah habis teresap oleh
tanah maka dengan cara bersamaan pula Stop Watch di berhentikan. Kemudian Catat berapa
lama laju infiltrasi tanah tersebut kemudian hitung kecepatan nya dengan satuan Liter/menit.
Hal yang perlu diperhatikan: kebocoran pada literan sering terjadi apabila kita tidak teliti
dengan seksama karena dalam penghitungan kecepatan laju infiltrasi ini tidak dibenarkan
apabila literan tersebut bocor dan perlu pengulangan percobaan jika hal tersebut terjadi. Jika
terjadi kebocoran air biasa nya keluar sangat cepat dari sisi-sisi literan.





Berikut Gambar Literan yang telah dipenuhi air dan proses penungguan:









Setelah kita mengetahui hasil dari percobaan pertama pada lahan tanah Olahan (pohon
singkong), percobaan selanjutnya dilakukan pada lahan Tanpa olah tanah dengan cara metode
yang sama pada tanah olahan, setelah hasil keduanya didapat bandingkan dan perhatikan
dengan sesama faktor apa yang membedakan dari hasil keduanya. Maka dari itu di
pembahasan akan dijelas kan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan nya.









BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1.Hasil Pengamatan
1. Data Pengukuran Infiltrasi
Kedalaman = 10 cm
Lebar = 36
Volume air yang ditambahkan 500 ml
Sebelum penambahan air tinggi 3 cm
Setelah ditambahkan 3,5 cm

Waktu
(menit
)
Selisih
waktu
(jam)
Waktu
(jam)
Volume air
ditambahkan
(ml)
Kedalaman
Infiltrasi
(cm)
Infiltrasi
Kumulatif
(cm)
Laju
Infiltrasi
(cm/jam)
0 0 0 250 0.3 0.3 -
1 1 0.016 20 0.2 0.5 31.25
2 1 0.033 10 0.1 0.6 18.18
5 3 0.083 6 0 0.6 0,72
10 5 0.16 2 0 0.6 3,75
20 10 0.33 2 0 0.6 1,81

Infiltrasi kumulatif :
= kedalaman infiltrasi (cm) waktu pertama + kedalaman infiltrasi waktu selanjutnya
(cm) demikian halnya sama dengan yang selanjutnya.

Infiltrasi kumulatif :
Waktu 0 = kedalaman infiltrasi 0 = 0.3 cm
Waktu 1 = infiltrasi kumulatif waktu 0 + kedalaman infiltrasi waktu 1 = 0.3 + 0.2 =
0.5 cm
Waktu 2 = infiltrasi kumulatif waktu 1 + kedalaman infiltrasi waktu 2 = 0.5 + 0.1 =
0.6 cm
Waktu 5 = infiltrasi kumulatif waktu 2 + kedalaman infiltrasi waktu 5 = 0.6 + 0 = 0.6
cm
Waktu 10 = infiltrasi kumulatif waktu 5 + kedalam infiltrasi waktu 10 = 0.7 + 0 = 0.6
cm
Waktu 20 = infiltrasi kumulatif waktu 10 + kedalaman infiltrasi waktu 20 = 0.7 + 0 =
0.6 cm

Laju infiltrasi :
Infiltrasi kumulatif (cm)/waktu

Laju infiltrasi (cm/jam) :

Waktu 0 = infiltrasi kumulatif waktu 0 (cm)/waktu 0 (jam) = 0.3 cm / 0 jam = -
Waktu 1 = infiltrasi kumulatif waktu 1 (cm)/waktu 1 (jam) = 0.5 cm / 0.016 jam =
31.25 cm/jam
Waktu 2 = infiltrasi kumulatif waktu 2 (cm)/waktu 2 (jam) = 0.6 cm/0.033 jam =
18.18 cm/jam
Waktu 5 = infiltrasi kumulatif waktu 5 (cm)/waktu 5 (jam) = 0.6 cm/ 0.083 jam = 0,72
cm/jam
Waktu 10 = infiltrasi kumulatif waktu 10 (cm)/waktu 10 (jam) = 0.6 cm / 0.16 jam =
3,75cm/jam
Waktu 20 = infiltrasi kumulatif waktu 20 (cm)/waktu 20 (jam) = 0.6 cm/ 0.33 jam =
1,81 cm/jam


2 PEMBAHASAN
Infiltrasi merupakan Peroses masuk nya air atau meresapnya air kedalam tanah
melalui pori-pori tanah. Laju gerak air menembus tanah atau konduktivitas hidrolik, dapat
berkurang dengan makin berkurangnya ruang pori. Gerak air menembus tanah pada status air
di atas kapasitas lapang terutama dikendalikan oleh potensial gravitasi, dan potensial matrik
pada status air di bawah kapasitas lapang. Konduktivitas hidraulik menurun dengan cepat,
dengan semakin menurunnya potensial air, sehingga gerak air sangat lambat pada tanah
kering dan praktis berhenti pada potensial air sekitar 15 bar. Pada tanah yang sangat kering,
air hanya bergerak sebagai uap. Perbedaan temperatur antara permukaan tanah dengan
horizon yang lebih dalam mampu menggerakkan air (uap) ke atas pada musim dingin dan ke
bawah pada musim panas. Bila dalamnya permukaan air tanah sekitar satu meter, gerak air ke
atas cukup memadai untuk kebanyakan tanaman. Kuantitas air yang mampu diserap oleh
tanah sangat tergantung pada kondisi fisik tanah misalnya, bobot isi (daya tanah melarutkan
air), infiltrasi (daya tanah meresap kan air), porositas (jumlah volume udara yang terkandung
dalam tanah), dan struktur tanah(bentukan hasil penyusunan butiran-butiran tanah). Sebelum
mencapai kejenuhan, air masih dapat diserap oleh tanah. Jika telah melebihi kejenuhan, air
hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan dialirkan sebagai limpasan permukaan (surface
run off), ke badan air. Air yang masuk kedalam tanah akan mencapai akifer. Air hujan yang
jatuh kebumi dan menjadi air permukaan memiliki kadar bahan-bahan terlarut atau unsur hara
yang sangat sedikit. Karena air hujan biasa nya asam, dengan Ph 4,2. Hal ini disebabkan air
hujan melarutkan gas-gas yang terdapat diatmosfer misalnya CO
2
, Sulfur (S), dan nitrogen
oksida (NO
2
). Yang dapat membentuk asam lemah (Novotny dan Olem , 1994). Setelah jatuh
kepermukaan bumi, air hujan mengalami kontak dengan tanah dan melarut kan bahan-bahan
yang terkandung didalam tanah.
Struktur tanah mempengaruhi laju infiltrasi air kedalam air. Daya penahan air adalah
banyaknya air yang di tahan oleh tanah kering yang halus. Hal ini dinyatakan dengan gr air
per 100gr tanah halus dan kering. Contoh:
- Tanah berpasir bisa menahan 18-19 gr air per 100gr tanah.
- Tanah yang baik rata-rata bisa menahan 27-29 gr per 100gr tanah
- Tanah berliat bisa menahan air sekitar 56-80gr per 100gr tanah
- Sedang tanah yang berhumus bisa menahan air lebih dari 100gr per 100gr tanah.
Maka dari itu daya tahan air pokoknya tergantung dari tekstur tanah. Jumlah total yang
dapat ditahan tergantung dari daya tahan dan dari dalam nya tanah. Maka permeabilitas
dinyatakandengan kecepatan air turun sampai kelapisan tanah yang terbawah, dan ini
tergantung dari;
o Tekstur tanah, ingat bahwa tanah liat kurang permeabilitas bila disbanding dengan tanah
pasir.
o Struktur tanah, ingat pada tanah yang padat kurang permeabel dari tanah yang gembur.
Sebagai contoh tanah berpasir yang sangat permeabel, turunnya air dengan kecepatan 50-
60 cm perjam, sedangkan pada tanah lempung berliat hanya 0,6 cm per jam.
Daya pengikat air dan permeabilitas adalah data-data yang sangat penting dalam soal irigasi
(maksudnya air siraman bukan sawah), karena daya pengikat air menentukan berapa
banyaknya air yang dibutuhkan, sedang permeabilitas menentukan kecepatan waktu dimana
air itu dibutuhkan.
Pada umumnya jenis tanah Iempung mempunyai Iaju infiltrasi yang rendah sedangkan
pada tanah berpasir laju infiltrasinya tinggi. Jenis tanah yang sama tetapi dengan kepadatan
yang berbeda akan mempunyai laju infiltrasi yang juga berbeda. Makin padat tanah tersebut,
semakin kecil laju infiltrasi yang terjadi Kelembaban tanah yang selalu berubah setiap saat
juga mempengaruhi laju infiltrasi yang terjadi. Makin tinggi kadar air di dalam tanah, laju
infiltrasi tanah tersebut makin kecil. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa semakin
lama, laju infiltrasi akan semakin kecil. Pengaruh tanaman di atas permukaan tanah ada dua,
yaitu yang berfungsi menghambat aliran air di atas permukaan sehingga kesempatan
berinfiltrasi lebih besar, dan tumbuhan dengan sistem akar-akaran yang dapat lebih
menggemburkan tanah, sehingga semakin baik tutup tanaman yang ada, makin tinggi laju
infiltrasi yang terjadi.
Air yang memasuki tanah yang kering berasal dari permukaan tanah,dengan jalan
masuk yang tetap yaitu pori-pori tanah. Meskipun jumlah pori-poridapat dianggap tetap,
tetapi volume pori dapat berubah-ubah. Pada tanah lempung, swelling akibat pembasahan
dapat mengurangi volume pori-pori tanah berukuran besar yang mempengaruhi laju infiltrasi
dan kapasitas infiltrasi.
Berikut Sekilas Proses Distribusi Air Selama Infiltrasi
Ketika air hujan jatuh kepermukaan tanah yang kering, tidak ada air yang masuk
lewat permukaan tanah sampai lapisan adsorbed film pada pemukaan tanah terbentuk. Hanya
setelah lapisan itu terbentuk air akan bergerak lewat tanah dengan gaya gravitasi. Karena
gaya-gaya pendorong yang merupakan gabungan dari defisiensi tekanan pori dan gaya
gravitasi, infiltrasi dimulai dengan laju yang tinggi. Laju infiltrasi akan berkurang setelah
lapisan adsorbed film itu jenuh, dan akhimya bertahan pada laju konstan yang rendah jika
hujan tetap berlangsung dengan konstan, Bagian permukaan sekitar 1 cm berada dalam
keadaan jenuh yang disebut dengan zone jenuh, dan sweffing terjadi pada tanah lempung
yang mengakibatkan bertambahnya kadar air tanah pada lapisan ini. Di bawah lapisan ini,
kadar air menurun secara drastis ke 70-80% derajat kejenuhan, yang merupakan kadar air
yang berada antara jenuh dan kapasitas lapangan. Lapisan ini disebut zone transmisi dan
kadar airnya tetap konstan atau berkurang sedikit demi sedikit terhadap kedalaman seiring
dengan bertambahnya kedalaman pembasahan.
Teknik Pengukuran Kadar Air Tanah
Kemampuan mengukur mengendalikan suplai air tanah kepada tanaman merupakan
dasar untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, juga dasar untuk telaah lebih lanjut
mengenai hubungan antara air dan tanaman. Besaran terbaik untuk mengukur ketersediaan air
bagi tanaman adalah potensial air. Komponen utama dari potensial air tanah adalah potensial
matrik dan potensial zat terlarut. Di daerah humida potensial matrik merupakan komponen
utama, akan tetapi di daerah arid potensial zat terlarut atau potensial osmosis seringkali
merupakan komponen penting dalam total potensial air tanah. Pada saat curah hujan
mencapai permukaan tanah seluruh atau sebagian curah hujan akan diserap oleh tanah.
Bagian yang tidak diserap oleh tanah akan menjadi limpasan permukaan (mengalir menuju
sungai). Kapasitas infiltrasi setiap permukaan tanah berbeda-beda bergantung pada tekstur
dan struktur tanah. Sebelum air diloloskan (meresap) kedalam tanah, pada dasarnya ditahan
terlebih dahulu oleh butiran tanah hingga tanah menjadi lembab. Air didalam tanah ditahan
oleh gaya absorbsi permukaan butir-butir tanah dan tekanan antara molekul air.
Banyaknya air yang dapat dikandung oleh tanah disebut kapasitas menahan air. Jika
infiltrasi lebih besar dari kapasitas menahan air yang minimum maka air itu akan terus
kepermukaan air tanah (perkolasi). Akan tetapi jika infiltrasi itu lebih kecil, air akan tertahan
dalam tanah dan tidak terjadi perkolasi. Kapasitas menahan air yang minimum tersebut
disebut kapasitas menahan air normal.
Air yang dapat bergerak dalam tanah adalah air kapiler dan air gravitasi. Air gravitasi
bergerak dalam ruang tanah oleh karena gravitasi. Jika ruang-ruang itu telah jenuh dengan
air, air tersebut akan bergerak kebawah.
Factor-faktor yang mempengaruhi infiltrasi;
1. Tumbuh-tumbuhan. Jika permukaan tanah tertutup oleh pohon-pohon dan rumput,
infiltrasi dapat dipercepat.
2. Jumlah air yang teredia di permukaan tanah.
3. Sifat permukaan tanahtermasuk kelembapan tanah. Jika tanah belum lembap, infiltrasi
akan melembapkan dulu tanah dibagian atas.
Pemampatan oleh curah hujan. Gaya pukulan butir-butir hujan mengurangi kapasitas
infiltrasi karena akan memberi efek pemampatan pori tanah oleh butiran kecil yang terpencar
akibat pukulan butiran hujan.
Pada praktikum infiltrasi ini menggunakan single ring karena single ring merupakan cara
yang termudah dilakukan dimana selain pengukuran yang mudah dilakukan juga bahan untuk
membuat alatnya mudah dicari,inilah yang menjadi alasan mengapa cara ini paling sering
dilakukan.Pada hakekatnya pengukuran infiltrasi dilapangan untuk mengetahui kebutuhan air
pada tanah tersebut.
Kapasitas infiltrasi berkurang seiring dengan bertambahnya waktu hingga mendekati
nilai yang konstant. Faktor yang berperan untuk pengurangan laju infiltrasi seperti penutupan
retakan tanah oleh koloid tanah dan pembentukan kerak tanah, penghancuran struktur
permukaan lahan dan pengangkutan partikel halus dipermukaan tanah oleh tetesan air hujan.
Setelah mencapai limitnya, banyaknya infiltrasi akan berlangsung terus sesuai dengan
kecepatan absorbsi setiap tanah. Pada tanah yang sama kapasitas infiltrasinya berbeda- beda,
tergantung dari kondisi permukaan tanah, struktur tanah, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain. Di
samping intensitas curah hujan, infiltrasi berubah-ubah karena dipengaruhi oleh kelembaban
tanah dan udara yang terdapat dalam tanah Sebelum mencapai kejenuhan, air masih dapat
diserap oleh tanah.
Jika telah melebihi kejenuhan melebihi kejenuhan , air hujan jatuh ke
permukaan tanah akan dialirkan sebagai limpasan permukaan (surface run off), ke badan air.
Air yang masuk kedalam tanah akan mencapai akifer. Air hujan yang jatuh kebumi dan
menjadiair permukaan memiliki kadar bahan-bahan terlarut atau unsur hara yang sangat
sedikit.
Makin tinggi kadar air di dalam tanah, laju infiltrasi tanah tersebut makin kecil.
Dengan demikian dapat dimengerti bahwa semakin lama,laju infiltrasi akan semakin kecil.
Pengaruh tanaman di atas permukaan tanah ada dua, yaitu yang berfungsi menghambat aliran
air di atas permukaan sehingga kesempatan berinfiltrasi lebih besar, dan tumbuhan dengan
sistem akar-akaran yang dapat lebih menggemburkan tanah, sehingga semakin baik tutup
tanaman yang ada, makin tinggi laju infiltrasi yang terjadi.





BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Pengukuran debit aliran sangat penting untuk mencegah terjadinya banjir .
2. Debit dipengaruhi oleh dua faktor yaitu luas penampang sungai dan kecepatan aliran
sungai.
3. Pengukuran kecepatan aliran bertujuan untuk menentukan debit air yang masuk ke
lahan sawah
4. Makin tinggi kadar air di dalam tanah maka laju infiltrasi tanah akan semakin kecil.
5. Evapotranspirasi berpengaruh terhadap pemberian jumlah air irigasi ke tanaman

B. Saran
Sebaiknya sebelum praktikum sudah dibagi kelompok agar praktikan dapat lebih
tertib. Asisten sebaiknya lebih aktif dalam menjelaskan tata cara praktikum kepada praktikan.

















DAFTAR PUSTAKA
Arifin, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta. Kanisius Media.Effendi.
Asdak ,Chay .1995. Hidrologi dan Pengeloaan daerah Aliran Sungai. Yogyakarta. Gadjah
Mada Press.
Asdak. 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press
Brutseart W. 1982. Evaporation into the Atmosphere: Theory, History, and Applications.
Kluwer Academic Publishers, ISBN 90-277-1247-6, Dordrecht, Netherland
Hardjowigeno, H. Sarwono. 2003. ILMU TANAH. Jakarta: Akademika Pressindo.
Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta. Kanisius
Linsley Ray K., Joseph B. Franzini.1985. Teknik Sumber Daya Air.Jakarta. Erlangga
Rachman. 2002. Pertanian Organik. Yogyakarta. Kanisius.Media.
Raharja, B. 2011. Perhitungan Current Meter. (Online). (http://raharjabayu.
wordpress.com/2011/06/)
Seyhan, A. 1990. Aspek dan Simulasi Hidrologi. Yogyakarta. Kanisius Media
Suhardi. 1983. Dasar-Dasar Bercocok Tanam. Yogyakarta. Kanisius Media Sutanto.