Anda di halaman 1dari 40

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Praktek Kerja Lapangan (PKL) merupakan salah satu kegiatan
mahasiswa yang harus dilaksanakan dimana merupakan suatu bentuk kerja
nyata dalam memberikan Pelayanan Asuhan Kebidanan Komunitas. Bidan
memandang pasiennya sebagai makhluk sosial yang memiliki budaya tertentu
dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, politik, sosial budaya dan lingkungan
sekitarnya. Unsur-unsur yang tercakup dalam kebidanan komunitas adalah
bidan, pelayanan kebidanan, lingkungan, pengetahuan serta teknologi.
Pelayanan Komunitas yaitu dituntut untuk mengabdikan diri kepada
masyarakat dibina sepanjang proses pendidikan melalui berbagai bentuk
pengalaman belajar yang dilaksanakan dan dikembangkan dimasyarakat.
Oleh karena itu, sasaran pelayanan kebidanan komunitas adalah individu,
keluarga dan kelompok masyarakat (komuniti). Individu yang dilayani adalah
bagian dari keluarga atau komunitas. Pelayanan ini mencakup upaya
pencegahan penyakit, pemeliharaan dan peningkatan, penyembuhan serta
pemulihan kesehatan.
Praktek Kerja lapangan ini merupakan aplikasi dari teori yang kami
dapatkan dikampus terutama dibidang Kebidanan Komunitas, sehingga
nantinya dapat menghasilkan tenaga Bidan yang terampil, berkompeten
sesuai dengan tugas, peran dan tanggung jawab sebagai Bidan. Mutu
pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh kualitas sarana fisik, jenis
2

tenaga yang tersedia, obat, alat kesehatan dan sarana penunjang lainnya,
proses pemberian pelayanan, dan kompensasi yang diterima serta harapan
masyarakat pengguna (Syafrudin, 2007).
Perawatan kesehatan dan kebersihan adalah hal yang banyak dibicarakan
dalam masyarakat. Biasanya hal ini diajarkan oleh orangtua sejak kita masih
kecil. Tetapi karena orangtua sering kali tidak merasa nyaman membicarakan
masalah pendidikan seksual biasanya masalah kesehatan dan kebersihan
yang dibicarakan hanya menyangkut hal yang umum saja, sedangkan urusan
kesehatan organ reproduksi jarang kita dapatkan dari mereka. Menurut WHO
dan beberapa badan dunia lainnya tahun 1998, menghimbau semua Negara
Asia Tenggara agar memberikan komitmennya untuk memperhatikan dan
melindungi kebutuhan remaja akan informasi, keterampilan, pelayanan dan
lingkungan yang umum dan kesehatan reproduksi remaja
(http://mafhiasawah.blogspot.com/2010/12/gambaran-pengetahuan-remaja-
putri.html).
Di dunia, angka kejadian akibat infeksi alat reproduksi diperkirakan
sekitar 2,3 juta pertahun 1,2 juta diantaranya ditemukan dinegara
berkembang, sedangkan jumlah penderita baru sekitar 5 juta pertahun dan
terdapat di negara berkembang sekitar 3 juta. Kesehatan reproduksi
merupakan bagian paling penting dari program kesehatan, mengingat
pengaruhnya terhadap setiap orang dan mencakup banyak aspek kehidupan,
sejak dalam kandungan sampai usia lanjut.
(http://mafhiasawah.blogspot.com/2010/12/gambaran-pengetahuan-remaja-
putri.html).
3

Di Indonesia pelayanan kesehatan reproduksi mencakup 4 komponen
esensial yang mampu memberikan hasil yang efektif dan efisien. Adapun 4
komponen antara lain Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE)
yaitu Kesehatan Ibu dan Bayi Baru Lahir,Keluarga Berencana, Kesehatan
Reproduksi Remaja (KRR) dan pencegahan atau penanggulangan penyakit
menular seksual (PMS) temasuk HIV/AIDS. Beberapa penyakit ginekologi
dan gangguan kesehatan reproduksi perempuan merupakan suatu masalah
serius dalam masyarakat seperti kemandulan, keputihan, dan kanker rahim.
Di negara maju insiden terjadinya infeksi 87 per 100.000 angka kematiannya
kira kira 27 per 100.00. Data terbaru berdasarkan penelitian pada 13
laboratorium patologi anatomi di Indonesia menempatkan kanker serviks
diurutan pertama dengan perevaluasi 18,62 % disusul kanker payudara 11,22
% dan kanker kulit menurunkan resiko kehamilan dan pengguguran yang
tidak aman, menurunkan penularan IMS/HIVAIDS, memberikan informasi
kontrasepsi dan konseling untuk mengambil keputusan sendiri tentang
kesehatan reproduksi (http://mafhiasawah.blogspot.com/2010/12/gambaran-
pengetahuan-remaja-putri.html).
Masa remaja sering disebut masa transisi. Sebab, di masa ini seseorang
beralih dari masa anak-anak ke masa dewasa. Masa ini terjadi pada usia
belasan. Banyak sekali perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang
perubahan fisik. Remaja terlibat dalam jaringan teman sebaya yang sangat
kuat selama menggali jati diri mereka. Di masa ini, selain mengalami
perubahan pada diri seseorang yang menginjak remaja, juga terjadi
perkembangan-perkembangan terutama dari sisi psikologis. Pada, tahap
4

perkembangan remaja ini terdapat beberapa teori perkembangan remaja
termasuk konsep, tahap dan karakteristik remaja. Secara keseluruhan, teori-
teori ini membantu untuk melihat keseluruhan mengenai remaja
(http://ilmutentangbidan123.blogspot.com/2014/01/laporan-keluarga-binaan-
pada-remaja.html).
Kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan kesehatan yang sempurna
baik secara fisik, mental, dan sosial dan bukan semata-mata terbebas dari
penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem
reproduksi, fungsi serta prosesnya. Sedangkan kesehatan reproduksi menurut
WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya
bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan
dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Definisi kesehatan
reproduksi menurut hasil ICPD 1994 di Kairo adalah keadaan sempurna fisik,
mental dan kesejahteraan sosial dan tidak semata-mata ketiadaan penyakit
atau kelemahan, dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi
dan fungsi dan proses (http://belajarpsikologi.com/kesehatan-reproduksi-
remaja/).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan kebidanan komunitas kepada keluarga Tn.U
khususnya pada Nn.A dengan masalah utama yaitu tidak mengetahui cara
menjaga personal hygiene yang bertempat tinggal di Rt 03 Rw 05 Desa
Karang Mukti, Kecamatan Karang Bahagia Kabupaten Bekasi.
5

2. Tujuan Khusus
Dapat melakukan manajemen Asuhan Kebidanan Sesuai dengan Teori
dari Hellen Varney yang dikenal dengan 7 langkah Varney yang
dituliskan dalam bentuk SOAP yaitu :
a) Mampu melakukan pengkajian atau pengumpulan data Asuhan
Kebidanan Komunitas pada Keluarga Binaan dengan masalah yang
ada pada keluarga Tn.U khususnya pada Nn.A
b) Mampu mengindentifikasi masalah Asuhan Kebidanan pada
keluarga binaan Tn.U khususnya pada Nn.A
c) Mampu menentukan masalah potensial kebidanan pada keluarga
binaan Tn.U khususnya pada Nn.A
d) Mampu mengindentifikasi dan mendiagnosa kebutuhan masalah
pada keluarga binaan Tn.U khususnya pada Nn.A
e) Mampu merencanakan asuhan kebidanan secara menyeluruh kepada
keluarga binaan Tn.U khususnya pada Nn.A
f) Mampu melaksanakan rencana asuhan kebidanan pada
keluarga binaan Tn.U khususnya pada Nn.A
g) Mampu mengevaluasi dan mendokumentasikan semua kegiatan
asuhan kebidanan komunitas dalam bentuk narasi.





6

C. Ruang Lingkup
Penulisan laporan kegiatan praktek kebidanan komunitas ini merupakan
suatu bentuk laporan pemberian asuhan kebidanan tentang pentingnya
mengetahui cara menjaga personal hygiene pada remaja pada Keluarga Tn.U
khususnya pada Nn.A yang dilaksanakan pada tanggal 21 04 2014 sampai
dengan 29 04 2014 di Desa Karang Mukti Kecamatan Karang Bahagia
Kabupaten Bekasi.

D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan adalah hasil dari pendekatan proses asuhan
kebidanan mulai dari wawancara, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi secara langsung yang dilakukan kepada kedua keluarga binaan.
Teknik yang digunakan pada saat pendataan adalah wawancara, observasi,
pemeriksaan fisik, diskusi, dan intervensi.

E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan kebidanan kepada keluarga binaan Tn. U
khususnya pada Nn.A yaitu :
1. BAB. I. PENDAHULUAN
Menguraikan tentang Latar belakang, Tujuan penulisan, Ruang lingkup,
Metode penulisan, Sistematika penulisan.
2. BAB. II. LANDASAN TEORI
Menguraikan tentang Konsep keluarga, Asuhan kebidanan remaja,
Asuhan kebidanan pada keluarga.
7

3. BAB. III. TINJAUAN KASUS
Menguraikan tentang Asuhan pada keluarga Tn.U Khususnya pada Nn.A
4. BAB. IV. PEMBAHASAN
Menguraikan tentang kesenjangan antara teori dengan praktik,
pemecahan masalahnya yang meliputi pengkajian, interpretasi data, skala
prioritas, potensial masalah, tindakan segera, intervensi, implementasi
serta evaluasi.
5. BAB V PENUTUP
Berisi tentang kesimpulan serta saran
6. DAFTAR PUSTAKA
7. LAMPIRAN














8

BAB II
LANDASAN TEORI

A. KONSEP KELUARGA
1. Definisi Keluarga
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan
kebersamaan dan keintiman (Friedman, 1998). Menurut Hitchack, (1996)
keluarga adalah lingkungan sosial dari dua orang atau lebih, yang
karateristik dengan saling memberikan kasih sayang, saling
memperhatikan, saling berkomitmen, saling bertanggung jawab dalam
pertumbuhan, hubungan yang saling mendorong dan mempertahankan
keutuhan dan sistem bila terjadi perubahan dalam individu, keluarga dan
sosial. Jadi keluarga adalah dua atau lebih dari individu yang berkaitan
oleh hubungan atau ikatan perkawinan, ikatan darah, dan mempunyai
kateristik saling memberi kasih sayang, berkomitmen, saling
ketergantungan satu sama lain serta mempunyai tujuan untuk mendorong
dalam seperti dalam hal kesehatan.
2. Tipe / Jenis Keluarga
Menurut Maruano dan Susman
a. Nuclear family: Keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan anak
anak
b. Extended Familly: Terdiri dari Nuclear Family ditambah orang lain
yang masih ikatan darah atau anak hasil adopsi
c. Binuclear family: adalah gabungan 2 keluarga ( dari 2 perceraian)
9

d. Single Parent Family: Satu orang dewasa dengan anak-anaknya
e. Kin Network: Jaringan Persaudaraan, dua atau lebih rumah tangga
yang diikat oleh persaudaraan atau pernikahan
3. Struktur Keluarga
Menurut Friedman (1998) Struktur keluarga berdasarkan kekuasaan
1. Patrikal: ayah sebagai pemegang kekuasaan yang dominan
2. Matrikal: Ibu sebagai pemnegang kekuasaan yang dominan
3. Equitarian: ibu dan ayah yang memegang kekuasaan yang paling
dominan
4. Peran Keluarga
Peran ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan
sebagai pencari nafkah, pendidikan, pelindung, dan pemberi rasa aman
sebagai kepala keluarga, sebagai anggota kelompok sosialnya serta
anggota masyarakat dari lingkungan.
Peran ibu sebagai Istri dari suami dari anak-anak, ibu mempunyai
peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengaruh dan pendidik
anak-anaknya sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu juga berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam
keluarga.
Peran anak-anak melaksanakan perananan psikososial sesuai
dengan perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual.
5. Fungsi Keluarga
Menurut Marsiono dan Susman ( 1991 ) Fungsi dasar Keluarga
adalah sebagai pemenuhan kebutuhan secara Psikologi antar anggota
10

keluarga dimana hal ini adalah hal yang penting dalam fungsi keluarga,
proses pembelajaran dalam hal beradaptasi dalam keluarga dan
komunitas atau masyarakat merupakan fungsi keluarga secara sosial,
sebagai fungsi keluarga dalam hal melanjutkan generasi adalah fungsi
dari reproduksi, untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan
keluarga menurut Marsiono dan Susman masuk dalam fungsi keluarga
dalam hal ekonomi, untuk peningkatan kesehatan, rekreasi, olahraga
merupakan fungsi keluarga dalam hal kesehatan.
6. Tugas Perkembangan Keluarga
Dalam hal kesehatan tugas keluarga adalah mengenal masalah
kesehatan, kemampuan dalam pengambilan keputusan, kemampuan
merawat anggota keluarga yang sakit, kemampuan memodifikasi
lingkungan serta memodifikasi fasilitas kesehatan.

B. KONSEP KASUS / MASALAH KESEHATAN
1. Definisi Remaja
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan
manusia. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa
kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologik,
perubahan psikologik, dan perubahan sosial. Di sebagian besar
masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada usia
10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun (Notoatdmojo, 2007).
Menurut Soetjiningsih (2004) Masa remaja merupakan masa peralihan
antara masa anak-anak yang dimulai saat terjadinya kematangan seksual
11

yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu masa
menjelang dewasa muda. Berdasarkan umur kronologis dan berbagai
kepentingan, terdapat defenisi tentang remaja yaitu:
a. Pada buku-buku pediatri, pada umumnya mendefenisikan remaja
adalah bila seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun dan
umur 12-20 tahun anak laki- laki.
b. Menurut undang-undang No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan
anak, remaja adalah yang belum mencapai 21 tahun dan belum
menikah.
c. Menurut undang-undang perburuhan, anak dianggap remaja apabila
telah mencapai umur 16-18 tahun atau sudah menikah dan
mempunyai tempat tinggal.
d. Menurut undang-undang perkawinan No.1 tahun 1979, anak
dianggap sudah remaja apabila cukup matang, yaitu umur 16 tahun
untuk perempuan dan 19 tahun untuk anak-anak laki-laki.
e. Menurut dinas kesehatan anak dianggap sudah remaja apabila anak
sudah berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus sekolah
menengah.
f. Menurut WHO, remaja bila anak telah mencapai umur 10-18 tahun.
(Soetjiningsih, 2004).




12

2. Tahap tahap Perkembangan Remaja
Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada 3 tahap
perkembangan remaja:
a. Remaja awal (early adolescent)
Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perubahan
- perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan -
dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mereka
mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan
jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang
bahunya saja oleh lawan jenis ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan
yang berlebih-lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali
terhadap ego menyebabkan para remaja awal ini sulit dimengerti dan
dimengerti orang dewasa.
b. Remaja madya (middle adolescent)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia
senang kalau banyak teman yang mengakuinya. Ada kecenderungan
narsistis yaitu mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman
yang sama dengan dirinya, selain itu, ia berada dalam kondisi
kebingungan karena tidak tahu memilih yang mana peka atau tidak
peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimistis atau pesimistis, idealis
atau materialis, dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan
diri dari oedipus complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada
masa anak-anak) dengan mempererat hubungan dengan kawan-
kawan.
13

c. Remaja akhir (late adolescent)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan
ditandai dengan pencapaian lima hal yaitu:
1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
2) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan or
3) ang-orang lain dan dalam pengalaman- pengalaman baru.
Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
4) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri)
diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri
dengan orang lain.
5) Tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya (private
self) dan masyarakat umum (Sarwono, 2010). Berkaitan dengan
kesehatan reproduksi remaja kita sangat perlu untuk mengenal
perkembangan remaja serta ciri-cirinya. Berdasarkan sifat atau
ciri perkembangannya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga
tahap yaitu:
a) Masa remaja awal
(1) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman
sebaya.
(2) Tampak dan merasa ingin bebas.
(3) Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan
keadaan tubuhnya dan mulai berpikir yang khayal
(abstrak).

14

b) Masa remaja tengah (13-15 tahun)
(1) Tampak dan ingin mencari identitas diri.
(2) Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada
lawan jenis.
(3) Timbul perasaan cinta yang mendalam.
c) Masa remaja akhir (16-19 tahun)
(1) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri.
(2) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif.
(3) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap
dirinya.
(4) Dapat mewujudkan perasaan cinta.
(5) Memiliki kemampuan berpikir khayal atau abstrak.
(Widyastuti dkk, 2009).
3. Tugas tugas Perkembangan Remaja
Terdapat perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya
meninggalkan sikap dan perilaku kekanak-kanakan untuk mencapai
kemampuan bersikap dan berperilaku dewasa. Adapun tugas-tugas
perkembangan masa remaja menurut Hurlock (1991) adalah sebagai
berikut:
a. Mampu menerima keadaan fisiknya.
b. Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
c. Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang
berlainan jenis.
d. Mencapai kemandirian emosional.
15

e. Mencapai kemandirian ekonomi.
f. Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat
diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat
g. Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan
orang tua.
h. Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan
untuk memasuki dunia dewasa.
i. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
j. Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan
keluarga.
Tugas-tugas perkembangan fase remaja ini amat berkaitan dengan
perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan
pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam
melaksanakan tugas-tugas perkembangannya itu dengan baik. Agar dapat
memenuhi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan, diperlukan
kemampuan kreatif remaja. Kemampuan kreatif ini banyak diwarnai oleh
perkembangan kognitifnya (Ali dan Asrori, 2009)
4. Perubahan Fisik Pada Remaja
a. Tanda seks primer
Tanda seks primer merupakan tanda yang menunjukkan alat
kelamin
Pada wanita
Alat kelamin wanita bagian luar terdiri dari:
1) Bibir luar (labia mayora)
16

2) Labia minor (labia minora)
3) Klitoris, yaitu bagian penuh dengan ujung-ujung syaraf
sehinngga sangat peka terhadap rangsangan/sentuhan.
Sentuhan-sentuhan pada klitoris dapat menyebabkan terjadinya
orgasme (puncak kenikmatan seksual) pada wanita.
4) Uretra (liang saluran seni)
5) Liang senggama (vagina) berfungsi sebagai jalan keluar haid,
jalan masuk penis dalam senggama, dan jalan keluar bayi waktu
melahirkan.
Alat kelamin wanita bagian dalam terdiri dari:
1) Hymen (selaput dara)
2) Mulut rahim (serviks) yang menghubungkan vagina dengan
rahim
3) Rahim (uterus), yaitu jaringan sebesar telur ayam, tetapi punya
kemampuan melar yang sangat besar sekali dalam mengandung
bayi. Saluran telur (tuba palopii) disebelah kanan dan kiri rahim
Indung telur (ovarium) yang menghasilkan hormone-hormon
estrogen, progesterone dan sel telur.
b. Tanda seks sekunder
Tanda-tanda seks sekunder merupakan tanda-tanda badaniah yang
membedakan pria dan wanita. Pada wanita bisa ditandai antara lain:
pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota badan
menjadi panjang), pertumbuhan payudara, tumbuh bulu yang halus
dan lurus berwarna gelap dikemaluan, mencapai pertumbuhan
17

ketinggian badan setiap tahunnya, bulu kemaluan menjadi keriting,
haid, dan tumbuh bulu- bulu ketiak
(repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22771/4/Chapter%20II.p
df ).
2. Definisi Personal Hygiene
Personal hygiene berasal dari bahasa yunani yaitu: personal yang
artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan perorangan
adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan
seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis (Tarwoto & Wartonah,
2003). Pemeliharaan kebersihan diri berarti tindakan memelihara
kebersihan dan kesehatan diri sesorang untuk kesejahteraan fisik dan
psikisnya. Seseorang dikatakan memiliki kebersihan diri baik apabila,
orang tersebut dapat menjaga kebersihan tubuhnya yang meliputi
kebersihan kulit, tangan dan kuku,dan kebersihan genitalia (Badri, 2008).
Banyak manfaat yang dapat di petik dengan merawat kebersihan
diri, memperbaiki kebersihan diri, mencegah penyakit, meningkatkan
kepercayaan diri dan menciptakan keindahan (Wartonah, 2003). Menurut
Perry (2005), personal hygiene adalah suatu tindakan unutk memelihara
kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis,
kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu
melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya. Usaha kesehatan pribadi
adalah : daya upaya dari seorang demi seorang untuk memelihara dan
mempertinggi derajat kesehatannya sendiri ( Entjang, 2000). Usaha
usaha itu adalah :
18

a. Kebersihan Kulit
Kebersihan individu yang buruk atau bermasalah akan
mengakibatkan berbagai dampak baik fisik maupun psikososial.
Dampak fisik yang sering dialami seseorang tidak terjaga dengan
baik adalah gangguan integritas kulit (Wartonah, 2003) Kulit yang
pertama kali menerima rangsangan seperti rangsangan sentuhan, rasa
sakit, maupun pengaruh buruk dari luar. Kulit berfungsi untuk
melindungi permukaan tubuh, memelihara suhu tubuh dan
mengeluarkan kotoran-kotoran tertentu. Kulit juga penting bagi
produksi vitamin D oleh tubuh yang berasal dari sinar ultraviolet.
Mengingat pentingnya kulit sebagai pelindung organ-organ tubuh
didalammnya, maka kulit perlu dijaga kesehatannya. Penyakit kulit
dapat disebabkan oleh jamur, virus, kuman, parasit hewani dan lain-
lain. Salah satu penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit adalah
Skabies ( DJuanda, 2000). Sabun dan air adalah hal yang penting
untuk mempertahankan kebersihan Sabun dan air adalah hal yang
penting untuk mempertahankan kebersihan kulit. Mandi yang baik
adalah :
1) Satu sampai dua kali sehari, khususnya di daerah tropis.
2) Bagi yang terlibat dalam kegiatan olah raga atau pekerjaan lain
yang mengeluarkan banyak keringat dianjurkan untuk segera
mandi setelah selesai kegiatan tersebut.
3) Gunakan sabun yang lembut. Germicidal atau sabun antiseptik
tidak dianjurkan untuk mandi sehari-hari.
19

4) Bersihkan anus dan genitalia dengan baik karena pada kondisi
tidak bersih, sekresi normal dari anus dan genitalia akan
menyebabkan iritasi dan infeksi.
5) Bersihkan badan dengan air setelah memakai sabun dan handuk
yang tidak sama dengan orang lain (Webhealthcenter, 2006).
b. Kebersihan tangan dan kuku
Indonesia adalah negara yang sebagian besar masyarakatnya
menggunakan tangan untuk makan, mempersiapkan makanan,
bekerja dan lain sebagainya. Bagi penderita skabies akan sangat
mudah penyebaran penyakit ke wilayah tubuh yang lain. Oleh
karena itu, butuh perhatian ekstra untuk kebersihan tangan dan kuku
sebelum dan sesudah beraktivitas. Cuci tangan sebelum dan sesudah
makan, ebelum dan sesudah beraktivitas. Cuci tangan sebelum dan
sesudah makan, setelah ke kamar mandi dengan menggunakan
sabun. Menyabuni dan mencuci harus meliputi area antara jari
tangan, kuku dan punggung tangan. Handuk yang digunakan untuk
mengeringkan tangan sebaiknya dicuci dan diganti setiap hari.
Jangan menggaruk atau menyentuh bagian tubuh seperti telinga,
hidung, dan lain-lain saat menyiapkan makanan. Pelihara kuku agar
tetap pendek, jangan memotong kuku terlalu pendek sehingga
mengenai pinch kulit (Webhealthcenter, 2006).
c. Kebersihan Genitalia
Karena minimnya pengetahuan tentang kebersihan genitalia, banyak
kaum remaja putri maupun putra mengalami infeksi di alat
20

reproduksinya akibat garukan, apalagi seorang anak tersebut sudah
mengalami skabies diarea terterntu maka garukan di area genitalia
akan sangat mudah terserang penyakit kulit skabies, karena area
genitalia merupakan tempat yang lembab dan kurang sinar matahari.
Salah satu contoh pendidikan kesehatan di dalam keluarga, misalnya
bagaimana orang tua mengajarkan anak cebok secara benar. Seperti
penjelasan, bila ia hendak cebok harus dibasuh dengan air bersih.
Caranya menyiram dari depan ke belakang bukan belakang ke
depan. Apabila salah, pada alat genital anak perempuan akan lebih
mudah terkena infeksi. Penyebabnya karena kuman dari belakang
(dubur) akan masuk ke dalam alat genital. Jadi hal tersebut, harus
diberikan ilmunya sejak dini. Kebersihan genital lain, selain cebok,
yang harus diperhatikan yaitu pemakaian celana dalam. Apabila ia
mengenakan celana pun, pastikan celananya dalam keadaan kering.
Bila alat reproduksi lembab dan basah, maka keasaman akan
meningkat dan itu memudahkan pertumbuhan jamur. Oleh karena itu
seringlah menganti celana dalam (Safitri, 2008).
d. Kebutuhan Personal Hygiene
Dalam kehidupan sehari- hari kebersihan merupakan hal yang
sangat penting dalam dan harus diperhatikan karena kebersihan akan
mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu
sendiri sangat dipengaruhi oleh individu dan kebiasaan. Jika
seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang di perhatikan.
Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah
21

masalah sepele, padahal jika hal tersebut di biarkan terus dapat
mempengaruhi kesehatan secara umum ( Tarwoto & Wartonah,
2003).
e. Kebersihan diri
Kebersihan diri merupakan factor penting dalam usaha
pemeliharaan kesehatan, agar kita selalu dapat hidup sehat. Menjaga
kebersihan diri berarti juga menjaga kesehatan umum. Cara menjaga
kebersihan diri dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Mandi setiap hari minimal 2 kali sehari secara teratur dengan
menggunakan sabun, muka harus bersih, telinga juga harus
dibersihkan menggunakan sabun, muka harus bersih, telinga juga
harus dibersihkan serta bagian genitalia.
2) Tangan harus dicuci sebelum menyiapkan makanan dan
minuman, sebelum makan, sesudah buang air besar atau buang air
kecil.
3) Kuku digunting pendek dan bersih, agar tak melukai kulit atau
menjadi sumber infeksi.
4) Pakaian perlu diganti sehabis mandi dengan pakaian yang habis
dicuci bersih dengan sabun/ detergen, dijemur di bawah sinar
matahari dan di setrika
(repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/30846/4/Chapter%20I
I.pdf)


22

C. Konsep Asuhan Kebidanan dan Pendokumentasian
Asuhan kebidanan keluarga adalah merupakan faktor penting dalam
pemberian pelayanan atau asuhan pada keluarga. Asuhan kebidanan terdiri
dari tujuh langkah yang terdiri dari pengkajian, interpretasi data, identifikasi
masalah potensial, tindakan kebidanan, rencana (plan), pelaksanaan, dan
evaluasi. Ketujuh langkah ini adalah pusat untuk tindakan kebidanan dan
memberikan asuhan kebidanan dalam berbagai situasi.
Meskipun kita menggunakan istilah pengkajian, interpretasi data,
identifikasi masalah potensial, tindakan kebidanan, rencana (plan), pelaksanaan,
dan evaluasi secara terpisah pada kenyataan semua elemen ini saling
berhubungan. Kesemuanya membentuk siklus yang kontinyu tentang
pemikiran dari tindakan melalui kontak pada penerimaan asuhan dengan
sistem kesehatan. Pengkajian dibutuhkan pada area berikut ini : fisik,
sosiokultural, spiritual, kognitif, kemampuan fungsional. Pengkajian ini
digabungkan dengan hasil-hasil temuan medis, dan pemeriksaan diagnostik,
dicatat dalam satu dasar dan membentuk dasar yang kuat untuk
mengembangkan perencanaan.
Adapun tahap-tahap asuhan kebidanan yang dilakukan oleh penulis
dalam asuhan kebidanan keluarga binaan ini, yaitu :
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan sekumpulan tindakan yang dilakukan oleh
bidan dalam mengumpulkan, mengukur dan mencermati data atau keadaan
keluarga dengan individu di dalamnya dengan menggunakan kaidah-
kaidah yang berlaku, kesanggupan kemampuan keluarga dalam mengatasi
23

masalah kesehatan yang dihadapinya. Pengkajian dilakukan dengan
menggunakan pendekatan wawancara, pengamatan studi dokumentasi dan
untuk akurasi, maka dilakukan pemeriksaan fisik setiap anggota keluarga.
2. Interprestasi data dan skala prioritas
Pada tahap ini telah didapat data keluarga yang dimulai dari
identitas keluarga hingga ditemukannya masalah yang berhubungan
dengan kesehatan, yaitu keluarga dengan anggota keluarga yang
mengalami ketidaktahuan. Pada saat pengkajian didapat bahwa masalah
gizi ini timbul karena ekonomi, pengetahuan yang kurang. Menurut
keluarga penyakit ini sudah di bawa berobat ke rumah sakit. Penentuan
prioritas masalah ditentukan berdasarkan seorang yang terdiri dari kriteria
yang mencakup sifat masalah, kemungkinan untuk diubah, potensial untuk
dicegah, dan menonjolnya masalah, adanya bobot disertai juga dengan
pembenaran (Citra, 2002). Adapun dasar data pengkajian kebidanan pada
anggota keluarga yang mempunyai masalah-masalah, yaitu :Diagnosa
kesehatan
Diagnosa kesehatan keluarga merupakan respon atau pernyataan
yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi keluarga dengan disertai
faktor penyebab dan disertai data-data yang mendukung.
Adapun diagnosa kebidanan keluarga yang dipaparkan penulis
pada bahasan ini menggunakan single diagnosis, dimana yang dijadikan
masalah-masalah kesehatan atau penyakit yang dialami klien atau individu
yang merupakan bagian dari keluarga. Untuk menentukan penyebab atau
24

etiologi dalam perumusan diagnosa kebidanan dengan model single
diagnosis diangkat dari 5 tugas perkembangan keluarga antara lain :
Ketidakmampuan keluarga masalah kesehatan, mengambil
keputusan untuk merawat, merawat anggota keluarga yang sakit,
memodifikasi lingkungan, memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada
(Citra, 2002).
3. Potensi Masalah dan Tindakan segera
Potensi masalah merupakan pengidentifikasian masalah
berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasikan, sehingga
mampu mengantisipasi masalah potensial yang akan terjadi dan
diantisipasi penangannya.
Tindakan segera itu menetapkan kebutuhan terhadap tindakan yang
sangat darurat berdasarkan kondisi klien sehingga segera dapat
direncanakan untuk melakukan tindakan, konsultasi, atau kolaborasi
dengan tenaga kesehatan lain ataupun merujuknya.
4. Perencanaan
Adalah suatu langkah dimana konsep dibuat terlebih dahulu
sebelum melakukan tindakan. Perencanaan ini dibuat berdasarkan
pengetahuan yang ada sesuai dengan teori.
5. Pelaksanaan
Adalah suatu tindakan yang dilakukan berdasarkan perencanaan
yang telah dibuat. Dalam hal ini berupa tindakan kebidanan.


25

6. Implementasi
Implementasi merupakan aktualisasi dari perencanaan yang telah
disusun sebelumnya. Prinsip yang mendasari implementasi antara lain:
implementasi yang mengacu pada rencana kebidanan yang dibuat,
implementasi yang dilakukan dengan tetap memperhatikan prioritas
kebutuhan keluarga. Kekuatan keluarga berupa financial, motivasi
sepatutnya menjadi perhatian bidan dalam melakukan implementasi.
Dengan demikian implementasi digunakan untuk menyelesaikan
permasalahan baik masih bersifat potensial, resiko tinggi, ataupun actual
(Citra, 2002)
7. Evaluasi
Pada tahap ini evaluasi terdapat catatan perkembangan kebidanan
keluarga melalui catatan perkembangan (SOAP) dan evaluasi secara
somatif, keefektifan didasarkan pada respon keluarga terhadap 5 tugas
keluarga, yaitu :
a. Apakah keluarga sanggup mengenal masalah
b. Apakah keluarga sanggup mengambil keputusan untuk melakukan
tindakan yang tepat bagi keluarga.
c. Apakah keluarga sanggup memberikan keperawatan anggotanya yang
sakit atau yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau
usianya yang terlalu muda.
d. Apakah keluarga mampu mempertahankan suasana di rumah yang
menguntungkan kesehatan.
26

e. Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan
lembaga kesehatan ( pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).
























27

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan Keluarga Binaan Pada Keluarga
Tn.U dengan Remaja tidak menjaga Personal Hygiene
Nama Mahasiswa : Reza Ananda Pertiwi
NPM : 11.156.02.11.164
Pengkajian Tanggal : 21 April 2014
Pukul : 14.00 WIB
1. Pengkajian
Tanggal: 21-04-2014 Jam: 14.00 WIB
a. Identitas Keluarga
1) Nama Kepala Keluarga : Tn.Ujang Wijaya
2) Umur : 35 tahun
3) Suku Bangsa : Sunda
4) Pendidikan : Tamat SD
5) Alamat : RT 03 RW 05
Desa Karang Mukti Kecamatan
Karang Bahagia Kabupaten Bekasi.



28



6) Anggota Keluarga :
Nama
Hubungan
Keluarga
JK Umur Pendidikan Pekerjaan Ket.
Ny. Roah Istri P 30 th Tamat SD IRT Sehat
Ayu
Lestari
Anak
Kandung
P 15 th Sekolah
SMP
Pelajar Sehat
Tri
Wulandari
Anak
Kandung
P 6 th Belum
Sekolah
- Sehat
Lidia
Maharani
Anak
Kandung
P 7 bln Belum
sekolah
- Sehat

Pengambilan keputusan dalam keluarga dilakukan oleh Tn.U
melalui musyawarah bersama istrinya. Status kesehatan keluarga
6 bulan terakhir tidak ada anggota keluarga yang sakit dan tidak
ada anggota keluarga yang meninggal. Penghasilan keluarga
perbulan Rp. 1.000.000 s/d Rp. 3.000.000 didapat dari
penghasilan suami.


29

b. Data Kesehatan Wanita
1) Subjektif
Penampilan Nn.A bersih,wajah segar, Nn.A mandi 2x sehari
dengan ganti celana dalam 1x dalam 2 hari dang anti pembalut
jika sudah terasa penuh Nn.A sedang mengalami nyeri haid.
2) Objektif
Dari hasil pemeriksaan keadaan umum baik, kesadaran
composmetis, kemudian dilakukan ttv : TD 110/90 mmhg, Nadi
78x/ menit, RR 20x/ menit, Suhu 36,5
o
c, berat badan 42 kg,
tinggi badan 155 cm. Rambut bersih, tidak rontok, telinga
simetris, bersih dan pendengaran baik, mata tidak ikterik dan
tidak pucat, reflek pupil positif pada kedua mata, hidung bersih,
mulut tidak ada caries, muka bersih.
c. Kesehatan Remaja
Nn.A bersekolah, Nn.A duduk di kelas 3 SMP, Nn. A tidak
merokok ataupun kebiasaan lain yang merugikan kesehatan. Tingkah
laku dan respon terhadap keluarga dan orang tua baik, tidak ada
kegiatan yang diikuti Nn.A di desa namun Nn.A turut serta dalam
kegiatan di sekolah seperti ekstrakulikuler pramuka dan pengajian
siang. Nn.A belum pernah mendapat pendidikan seksual, Nn.M
mengetahui tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.



30

d. Gambaran Lokasi Rumah
Rumah yang sekarang ditempati Nn.A adalah milik Tn.U, struktur
rumah Tn.U bahan bangunannya dari tembok dan bilik. Lantai
rumah dari semen, beratap genteng, rumah tersebut memiliki 2
kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 dapur, dan 1 kamar mandi.
Kebersihan dan pencahayaan baik ada 4 ventilasi udara, batas
rumah Tn.U sebelah kiri rumah tetangga dan didepan rumah Tn.U
jalan setapak sebelah kanan rumah kebun kosong dan dibelakang
rumah tetangga. Sumber air rumah tangga berasal dari sumur seperti
air minum, mandi dan mencuci. Kondisi sumber air bersih dan
lancar, untuk saluran pembuaangan tinjanya ke sungai dan tidak ada
sampah berserakan di depan rumah.
DENAH RUMAH KELUARGA TN. U








Rumah Tetangga
Kamar Tidur
K
e
b
u
n

k
o
s
o
n
g

Jalan setapak


Dapur



Kamar tidur
Kamar
Mandi
Kamar Tidur
R
u
m
a
h

T
e
t
a
n
g
g
a

Ruang Tamu
31



e. Kebiasaan Hidup Keluarga
Proses pengelolahan bahan makanan dengan cara mencuci bahan
makanan dengan bersih menurut keterangan makanan Nn.A tidak
ada keluhan dalam makanan, kebiasaan hidup Nn.A sebelum makan
selalu mencuci tangan dan makan menggunakan sendok/ tangan
dalam posisi duduk dilantai. Jenis- jenis makanan dalam keluarga
setiap hari adalah nasi, sayur-sayuran hijau (sayur bayam, sayur
kangkung, sayur asem), lauk-pauk (tempe, tahu, telur, ikan asin dan
ayam).
f. Riwayat Sosial
Nn.A tidak ada keterlibatan kegiatan dalam masyarakat
g. Assesment
1) Diagnosa :
Nn.A 15 tahun dalam keadaan umum baik
2) Masalah :
a) Remaja belum mengetahui cara personal hygiene yang baik
dan benar
b) Remaja tidak mengetahui cara mengatasi nyeri haid
c) Remaja belum mengetahui tentang seks pranikah


32

PRIORITAS MASALAH DENGAN TEKHNIK SKORING
No
Prioritas
masalah
Jumlah
kasus
Tingkat
bahaya
Perhatian
keluarga
Kemungkinan
dikelola
Total
nilai
1. Nn.A tidak
personal
hygiene yang
baik dan
benar
+ +++ ++ ++ 8
2 Nn.A tidak
mengetahui
cara
mengatasi
nyeri haid
+ + ++ ++ 6
3 Nn.A tidak
tahu tentang
seks pranikah
+ ++ ++ + 6






33

2. Pelaksanaan / Planning
Hari/Tanggal: Senin, 21-04-2014 Pukul 14.15 WIB
NO Diagnosa/ masalah Pelaksanaan Evaluasi
1 Nn.A tidak personal
hygiene yang baik dan
benar
Memberitahukan dan menjelaskan
kepada remaja tentang personal
hygiene yang baik dan benar
Remaja mengerti cara
personal hygiene yang
baik dan benar
2 Nn.A tidak
mengetahui cara
mengatasi nyeri haid
Menjelaskan kepada remaja tentang
cara mengatasi nyeri haid
Remaja sudah mengerti
beberapa cara
mengatasi nyeri haid
3 Nn.A tidak tahu
tentang seks pranikah
Menjelaskan kepada remaja tentang
seks pranikah

Remaja mengetahui
tentang seks pranikah

Kunjungan II :
Hari Selasa, 22 04 2014 Pukul 10.05 WIB
a. Subjektif :
Nn.A mengatakan sudah mengganti celana dalam 2x sehari dan nyeri
haidnya berkurang
b. Objektif :
1) Keadaan umum baik
2) Kesadaran composmentis
3) TTV:
TD 110/70 mmHg,
34

Suhu 36,7
0
C,
Rr 20x/menit,
Nadi 78x/menit
c. Assesment : Nn.A 15 tahun dengan keadaan umum baik
NO Diagnosa/ masalah Pelaksanaan Evaluasi
1 Nn.A tidak personal
hygiene yang baik dan
benar tahu cara
Memberitahukan dan menjelaskan
kepada remaja tentang personal
hygiene yang baik dan benar
Remaja mengerti cara
personal hygiene yang
baik dan benar
2 Nn.M tidak
mengetahui cara
mengatasi nyeri haid
Menjelaskan kepada remaja tentang
cara mengatasi nyeri haid
Remaja sudah mengerti
beberapa cara
mengatasi nyeri haid
3 Nn.M belum paham
tentang dampak seks
pranikah
Menjelaskan kepada remaja tentang
dampak seks pranikah

Remaja mengetahui
tentang dampak seks
pranikah

Kunjungan III :
Hari / tanggal : Rabu, 23 04 2014 pukul 14.30 WIB
a. Subjektif :
Nn.A mengatakan sudah mengganti celana dalam 2x sehari dan
mencuci celana dalam nya setelah mandi karena persediaan celana
dalamnya sedikit serta Nn.A sudah tidak mengalami nyeri haid


35

b. Objektif :
1) Keadaan umum baik
2) Kesadaran Composmentis
3) TTV:
TD 110/70 mmHg,
suhu 36,5
0
C,
Rr 22x/menit,
Nadi 80x/menit
c. Assesment :
Nn.A 15 tahun dengan keadaan umum baik
NO Diagnosa/ masalah Pelaksanaan Evaluasi
1 Nn.A tidak personal
hygiene yang baik dan
benar
Mengevaluasi dan menjelaskan
kepada remaja tentang personal
hygiene yang baik dan benar
Remaja mengerti cara
personal hygiene yang
baik dan benar
2 Nn.A tidak
mengetahui cara
mengatasi nyeri haid
Mengevaluasi kepada remaja tentang
cara mengatasi nyeri haid
Remaja sudah mengerti
beberapa cara
mengatasi nyeri haid
3 Nn.A belum paham
tentang dampak seks
pranikah
Mengevaluasi kepada remaja tentang
dampak seks pranikah

Remaja mengetahui
tentang dampak seks
pranikah



36

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada saat pengkajian penulis melakukan pendekatan dan menjalin
hubungan, keluarga menyambut penulis dengan baik dan mengatakan keluhan-
keluhannya menunjukan adanya rasa percaya kepada penulis, hal ini mendukung
penulis lebih memberikan asuhan yang komprehensif kepada Keluarga Tn.U
khususnya Nn.A mengenai masalah kesehatan yang ada serta memotivasi Nn.A
Setelah dirumuskan masalah yang tertinggi berdasarkan prioritas masalah
menggunakan teknik skoring maka masalah mengenai Nn.A yaitu masalah
menjaga personal hygiene yang tidak benar. Personal hygiene berasal dari bahasa
yunani yaitu: personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat.
Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan
kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis (Tarwoto & Wartonah,
2003). Pemeliharaan kebersihan diri berarti tindakan memelihara kebersihan dan
kesehatan diri sesorang untuk kesejahteraan fisik dan psikisnya. Seseorang
dikatakan memiliki kebersihan diri baik apabila, orang tersebut dapat menjaga
kebersihan tubuhnya yang meliputi kebersihan kulit, tangan dan kuku,dan
kebersihan genitalia (Badri, 2008).
Lalu penulis menyusun rencana tindakan kebidanan sebagai tindakan
mandiri seorang bidan, dan rencana yang akan dilakukan sesuai dengan prioritas
masalah yang telah ditentukan, dan rencana yang dibuat adalah memberikan
pernyuluhan mengenai cara menjaga personal hygiene yang benar, memberikan
37

pernyuluhan mengenai cara mengatasi nyeri haid, memberikan pernyuluhan
mengenai seks pranikah. Penulis dalam membuat perencanaan dan tindakan
kebidanan disusun berdasarkan kondisi dan kemampuan keluarga dan penulis.
Pada Tanggal 21 April 2014 Pukul 14.00 WIB penulis mulai
melaksanakan tindakan yaitu mengobservasi sejauh mana tingkat pengetahuan
keluarga terutama remaja tentang personal hygiene yang benar. Setelah itu
memberikan penyuluhan mengenai cara menjaga personal hygiene dengan benar
(menanyakan frekuensi ganti celana dalam) serta mengobserasi sejauhmana
pengetahuan remaja tentang cara mengatasi haid, dan mengobservasi sejauh mana
pengetahuan remaha tentang seks pranikah.
Pada hari Selasa 22 April 2014 pukul 10.00 WIB penulis berkunjung
kembali dan melakukan evaluasi mengenai penyuluhan yang diberikan pada hari
Senin 21 April 2014 kemarin, hasil yang didapat adalah remaja mengerti apa yang
sudah dijelaskan dan remaja menerapkan tentang menjaga personal hygiene yang
benar dengan cara yang benar seperti ganti celana dalam minimal 2 kali sehari,
dan penyuluhan diteruskan mengenai cara mengatasi nyeri haid dan meneruskan
penyuluhan mengenai seks pranikah diantaranya macam-macam seks, bahaya,
dampak serta penanggulangan seks pranikah.
Setelah memberikan penyuluhan penulis langsung melakukan evaluasi dan
hasilnya remaja mengatakan mengerti tentang penjelasan yang telah bidan
sampaikan, serta remaja dapat mengulangi penjelasan yang telah diberikan.
Pada hari Rabu tanggal 23 April 2014 pukul 14.30 WIB, penulis lalu
melakukan evaluasi kembali remaja mengatakan sudah mengganti celana dalam
38

2x sehari dan mencuci celana dalam nya setelah mandi karena persediaan celana
dalamnya sedikit serta remaja sudah tidak mengalami nyeri haid.
















39

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kelua rga Tn.U pertama kali bertemu memiliki potensi gangguan
kesehatan khususnya kepada remaja yang saat ini dalam masa transisi
perkembangan remaja, remaja tidak pernah mendapatkan informasi
kesehatan tentang personal hygiene yang benar, remaja tidak mengerti
bagaimana cara mengatasi nyeri haid, dan remaja tidak mengerti mengenai
seks pranikah, maka penulis memberikan beberapa masukan dalam keluarga
Tn.U khususnya pada Nn.A dan sambutan remaja sangat antusias terlihat
remaja banyak bertanya dan antusias menanyakan apabila remaja kurang
paham, setelah melaksanakan perencanaan yang telah dibuat.
Pengetahuan keluarga khususnya remaja bertambah dan potensial
tejadinya masalah kesehatan tidak terjadi, karena remaja sudah mengerti
merupakan kunci utama kesehatan berasal dari pencegahan setelah
berkunjung sebanyak 3 kali penulis memberikan pujian karena remaja paham
penyuluhan yang diberikan dan penulis meminta izin karena tugasnya sudah
selesai, keluarga banyak berterimakasih atas bantuannnya memberikan
pengetahuan bagi keluarganya.
Semakin rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan yang
mengharuskan tenaga kesehatan memberikan pengetahuannya untuk
peningkatan pengetahuan mengenai kesehatan, terutama mengenai
40

pentingnya menjaga personal hygiene yang benar, cara mengatasi nyeri haid,
pengetahuan tentang seks pranikah.

B. Saran
Dalam hal ini penulis memeberikan beberapa saran-saran yang mungkin
berguna bila menjadi perhatian bersama :
1. Keluarga diharapkan mampu mengenali kondisi kesehatan didalam
keluarganya, sehingga keluarga tidak menjadi salah-satu dari keluarga
yang tidak sehat, agar keluarga memperhatikan kesehatan remaja
sehingga remaja mau mencari informasi kesehatan tentang dirinya
ketenaga kesehatan sehingga dapat lebih dini menditeksi bahaya pada
masa remaja terutama tentang kesehatan reproduksi remaja.
2. Untuk Puskemas Desa Karang Mukti Kecamatan Karang Bahagia
Kabupaten Bekasi agar lebih bekerja keras dalam menjalankan tugasnya
membangun kesehatan yang optimal kepada masyarakat luas sehingga
indikator angka infeksi kesehatan reproduksi pada remaja
3. Untuk institusi STIKes Medistra Indonesia untuk lebih mempersiapkan
mahasiswa yang melakukan penerapan langsung mengenai asuhan
kebidanan kesehatan komunitas