Anda di halaman 1dari 18

Dunia Pertanian Filosofis, praktis, dan

futuris
Cari Blog i

Beranda
Alamat kami
Penulis
Serba Serbi
Respons Tanaman terhadap Penggenangan
Optimasi Priming Benih dengan Boron untuk Meningkatkan Perkecambahan dan Pertumbuhan
Bibit Gandum
20 Apr
Kajian Pengaruh Salinitas terhadap Pertumbuhan,
Kandungan Polifenol, dan Respons Fotosintesis Pada
Tanaman Vetiveria zizanioides (L.) Nash
Posted April 20, 2013 by Muhammad Hatta in Metabolit sekunder, Stress. Ditandai:fotosintesis,
polifenol, salinitas, vetiveria. 2 Komentar
A.V. Mane
1
, G. D. Saratale
2,#,
B. A. Karadge
3
and J. S. Samant
4

1
Department of Environmental Sciences, Fergusson College, Pune, India;
2
Department of
Biotechnology, Fergusson College, Pune, India;
3
Department of Botany, Shivaji
University,Kolhapur, India;
4
Department of Environmental Sciences, Shivaji University,
Kolhapur, India;#Department of Biological Environment, College of Agriculture and Life
Sciences, Kangwon National University, Chuncheon, Gangwondo, 200-701, South Korea
Emir. J. Food Agric. 2011. 23 (1): 59-70
http://ejfa.info

Diterjemah dan Diinterpretasi oleh
Muhammad Hatta


ABSTRAK
Salinitas adalah salah satu cekaman abiotik utama yang berpengaruh buruk terhadap
produktivitas dan kualitas tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari perubahan
karakteristik pertumbuhan, pigmen fotosintesis dan kandungan polifenol Vetiveria zizanioides
(L.) di bawah pengaruh salinitas natrium klorida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang
tunas Vetiveria zizanioides mengalami peningkatan sebesar 18,6% pada konsentrasi NaCl 200
mM, sedangkan peningkatan panjang akar sekitar 24,8% diamati pada 50 mM NaCl. Rasio
tunas/akar berkurang menjadi 10,0% pada konsentrasi 50 mM, sedangkan pada salinitas NaCl
300 mM meningkat sebesar 39,09%. Selain itu, luas daun rata-rata juga meningkat pada kondisi
salin. Peningkatan pigmen fotosintetik pada kadar garam yang rendah menunjukkan adanya
mekanisme penyesuaian osmotik yang dikembangkan oleh spesies rumput ini untuk menghadapi
stres garam. Namun, berat kering dan berat segar biomassa tanaman kurang efektif di bawah
stres salinitas. Meningkatnya kandungan polifenol pada salinitas tinggi mungkin disebabkan oleh
akumulasi metabolit sekunder. Ada peningkatan konduktivitas listrik dan total padatan terlarut
tanah pada salinitas tinggi. Adanya peningkatan peubah pertumbuhan dan fotosintesis yang
diamati khususnya pada konsentrasi NaCl 100 mM menunjukkan bahwa rumput ini toleran dan
kami menyimpulkan bahwa V. zizanioides dapat ditanam pada daerah bergaram dengan
konsentrasi hingga 200 mM.
Kata kunci: Vetiveria zizanioides, pigmen fotosintesis, polifenol, salinitas, karakteristik
pertumbuhan, konduktivitas listrik
PENGANTAR
Tanah adalah sumber daya yang berharga terutama di bidang pertanian dan kehutanan, karena
tanah diperlukan untuk menghasilkan tanaman, sayuran, buah-buahan, kayu, dan kegitan
ekonomi penting lainnya (NEP, 2006). Untuk kesejahteraan generasi mendatang, pengelolaan
sumber daya tanah yang berkelanjutan menjadi isu utama di seluruh dunia (Munns, 2002). Sudah
diakui bersama bahwa cekaman abiotik termasuk angin kencang, suhu ekstrim, salinitas,
kekeringan, banjir dan bencana alam lainnya, seperti tornado dan kebakaran memiliki dampak
negatif terhadap organisme yang hidup di suatu lingkungan spesifik dan merupakan faktor yang
paling menghambat terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman di seluruh dunia (Mane et
al., 2010). Diantara faktor cekaman abiotik di atas, salinitas merupakan salah satu cekaman
abiotik utama yang berpengaruh buruk terhadap produktivitas dan kualitas tanaman dengan
peningkatan dampak pada aspek sosial ekonomi dan kesehatan, terutama pada masyarakat
petani. Salinitas adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan adanya
peningkatan kadar garam seperti natrium klorida, magnesium dan sulfat kalsium, dan bikarbonat
dalam tanah dan air (Ouda, 2008).
Survei literatur menunjukkan bahwa luasnya daerah yang terkena garam diperkirakan mendekati
satu miliar hektar, yakni sekitar 6% dari luas permukaan bumi (FAO, 1997). Di samping itu,
sekitar 77 juta hektar lahan telah tersalinasi oleh kegiatan manusia seperti, irigasi tanpa sistem
drainase yang tepat, industri limbah, penggunaan pupuk berlebihan, penghilangan tanaman
penutup tanah, banjir air asin, permukaan air tanah yang tinggi, dan penggunaan air tanah
berkualitas rendah (Parida dan Das, 2005). Lebih lanjut, Oldeman et al. (1991) memperkirakan
bahwa 76 juta hektar lahan menjadi salin, dengan 58% terkonsentrasi di daerah beririgasi.
Evaluasi terbaru yang dibuat oleh lembaga ini mengungkapkan bahwa hampir 6.730.000 hektar
wilayah di India terpengaruh garam (CSSRI, 2009). Ketika salinisasi tanah dinilai dari segi
ekonomi, maka alasan untuk khawatir tentang hal itu menjadi lebih jelas. Misalnya, kerusakan
ekonomi yang disebabkan oleh salinisasi sekunder diperkirakan mencapai US $ 750 juta per
tahun pada bantaran sungai Colorado di Amerika Serikat, sedangkan di timur laut benua Asia,
kerugian ditaksir sekitar US $ 300 juta per tahun dan US $ 208 juta per tahun di lembah Murry-
Darling di Australia (Ghassemi et al., 1995).
Secara fisiologis dan genetik, toleransi garam adalah sesuatu yang kompleks di antara varietas
tanaman dengan berbagai kemampuan adaptasi tanaman halofit dan tanaman yang kurang toleran
(Bunga, 2004). Analisis pertumbuhan merupakan elemen mendasar untuk mempelajari respons
tanaman terhadap cekaman lingkungan. Selain itu, fotosintesis merupakan salah satu lintasan
biokimia yang paling penting, dimana tanaman mempersiapkan sendiri bahan makanannya dan
bertumbuh (Kojo, 2004) sedangkan, konsentrasi polifenol dapat dijadikan sebagai indikator
kondisi cekaman (Kate, 2008). Pada konsentrasi natrium klorida yang tinggi, dilaporkan terjadi
penurunan pertumbuhan genus Populus L. (Sixto et al., 2005). Selain itu, klorofil dan kandungan
karotenoid merupakan indikator penting dari tanaman yang sehat dan pernah dilaporkan adanya
peningkatan kandungan klorofil pada lingkunan salin, tergantung pada kadar garam (Mane et al.,
2010). Beberapa peneliti melaporkan bahwa ada peningkatan kandungan polifenol pada tingkat
salinitas yang tinggi, yang menunjukkan bahwa induksi metabolisme sekunder adalah salah satu
mekanisme pertahanan yang digunakan oleh tanaman untuk menghadapi lingkungan salin (Kate,
2008).
Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari perubahan karakteristik pertumbuhan, pigmen
fotosintesis, dan polifenol Vetiveria zizanioides di bawah pengaruh salinitas natrium klorida.
Penelitian ini akan berguna untuk pengembangan spesies toleran garam untuk tujuan
fitoremediasi.
BAHAN DAN METODE
Bahan yang digunakan
Bibit Vetiveria zizanioides (L.) Nash diperoleh dari kebun bibit pemerintah, Kolhapur, India
(Gambar 1). Bibit dipotong secara seragam dengan panjang minimum (kira-kira 4 cm) yang
diperlukan untuk pertumbuhannya dan kemudian dipindahtanamkan ke dalam pot tanah (tinggi
30 cm dengan dasarnya menyempit). Pot tanah digunakan pada penelitian ini dengan tujuan
untuk melihat dampak dosis salinitas yang akurat yang diberikan pada medium perakaran. Untuk
bertumbuh dan berkembang pada kondisi normal, maka diberikan penyiraman secara teratur.
Setelah empat minggu, kemudian dipelajari pertumbuhan dalam keadaan tercekam. Tanaman
diperlakukan dengan konsentrasi garam natrium klorida yang meningkat, yaitu konsentrasi 25,
50, 100, 200, dan 300 mM. Setiap selang satu hari, tanaman disiram dengan volume ganda untuk
mempertahankan konsentrasi garam yang seragam dalam pot dan untuk mengatasi kehilangan air
akibat evapotranspirasi dari permukaan tanah dan transpirasi dari permukaan tanaman. Bahan
kimia yang digunakan memiliki kemurnian yang tertinggi yang tersedia dan lulus standar
analitis.

Gambar 1. Foto Vetiveria zizanioides (L.) Nash dengan sistem akar yang kompleks yang
memegang tanah yang terkontaminasi.
Kajian karakter pertumbuhan
Sepuluh tanaman V. zizanioides dari setiap pot perlakuan dengan hati-hati dibongkar akarnya dan
dicuci bersih dengan air untuk menghilangkan kotoran tanah dan partikel debu dari permukaan
bagian tanaman dan diresapkan pada permukaan yang kering. Tanaman diamati panjang akar,
panjang tunas, rasio tunas:akar, tinggi tanaman dan luas daun. Untuk peubah produksi biomassa,
berat basah dan berat kering, dan kandungan air diukur dari sepuluh daun random sampel.
Estimasi pigmen fotosintesis
Kandungan klorofil
Klorofil daun dewasa diestimasi dengan metode Armon (1990) dengan sedikit modifikasi. Bahan
tanaman segar (1g) digerus dalam morter pada suhu 2C dalam kondisi gelap dan ekstraksi
dilakukan dengan aceton 90%, dengan penambahan sedikit magnesium karbonat, untuk
melindungi dan menstabilkan klorofil. Ekstrak ini disaring dengan kertas saring Whatman No.1
dengan pengisapan menggunakan corong Buchner. Sisanya dibilas bersih 2-3 kali dengan aceton
90%, kumpulkan semua bilasan pada filtrat yang sama dan volume akhir dari filtrat dibuat
sampai 100 ml dengan aceton 90%. Serapan klorofil a dan b diukur dengan menggunakan
spektofotometer UV-Visible sinar ganda (Elico Sl-159, India), pada 663 dan 645 nm dengan
menggunakan aceton 90% sebagai blank. Formula berikut digunakan untuk menentukan
kandungan klorofil.
Klorofil a = X = 12.7 x A
663
2.69 x A
645

Klorofil b = Y = 22.9 x A
645
4.68 x A
663

Total klorofil (a + b) = Z = 8.02xA
663
+ 20.20 x A
645

Klorofil (a)(b)(total) (mg/daun segar) =
Kandungan karotenoid
Kandungan karotenoid daun ditentukan dari ekstrak yang sama dengan yang digunakan untuk
estimasi klorofil, dengan mengukur serapan pada 480 nm dengan menggunakan
spektrofotometer sinar ganda UV-VIS dengan meletakkan aceton 90% sebagai control.
Kandungan karotenoid dihitung dengan formula berikut (Kirk and Allen, 1965).
Karotenoid =
Kandungan polipenol
Kandungan polipenol daun diestimasi berdasarkan metode dari Folin dan Denis (1915). Dua ml
ekstraks aceton yang digunakan pada pengukuran klorofil dicampur dengan 10 ml natrium
karbonat 20% dan jadikan volumenya 35 ml dengan air distilasi dan tambahkan 2 ml reagen
Folin-Denis, aduk rata dan akhirnya jadikan volume 50 ml dengan air distilasi. Larutan asam
tannat standar (0,1 mg.ml
-1
) digunakan untuk persiapan kurva polipenol standar dengan
mengukur serapan pada 660 nm dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visible sinar ganda.
Daya hantar listrik dan total padatan terlarut
Daya hantar listrik (EC) dan total padatan terlarut (TDS) dari tanah ayak yang diperlakukan
ditentukan setelah selesainya percobaan (setelah minggu ke 10) dengan mempersiapkan suspensi
tanah dalam air 1:10. Suspensi ini dikocok kuat, biarkan selama 12 jam dan kemudian disaring
dengan kertas saring Whatman No.1 untuk analisis. Kedua peubah ditentukan dengan
menggunakan Elico EC-TDS meter (CM 183, Make-India) di mana elektrodanya direndam
langsung dalam larutan cawan untuk bacaan hasil langsung pada skala digital.
Analisis statistik
Data dianalisis dengan analisis varians satu faktor (ANOVA) dengan uji perbandingan berganda
Tukey-Kramer.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh salinitas terhadap panjang tunas V.zizanioides
Pada salinitas yang lebih tinggi, panjang tunas yang rendah dengan kandungan air yang rendah
telah dilaporkan (Parvaiz and Riffat, 2005). Khosravinejad et al. (2009) juga menemukan
penurunan yang nyata pada pemanjanagan tunas pada genotype barley dengan meningkatnya
perlakuan NaCl. Pada penelitian ini, panjang tunas V.zizanioides hanya distimulasi oleh taraf
salinitas yang lebih rendah. Panjang tunas V.zizanioides meningkat 18,60% pada konsentrasi 200
mM NaCl (Tabel 1.) Akan tetapi, panjang tunas dihambat oleh konsentrasi NaCl yang lebih
tinggi (300 mM) pada media perakaran. Ini menunjukkan bahwa spesies rumput-rumputan
toleran pada 200 mM NaCl bila dilihat dari pertumbuhan tanaman.
Pengaruh salinitas terhadap panjang akar V.zizanioides
Meningkatnya panjang akar dengan meningkatnya kadar garam telah diketahui pada Triticum
aestivum (Maghsoudi dan Maghsoudi, 2008). Pengaruh salinitas NaCl terhadap panjang akar
biasanya lebih besar daripada pengaruh salinitas terhadap tunas pada tingkat salinitas yang lebih
rendah (Pessarakli et al., 2004). Pada penelitian ini, akar V. zizanioides lebih panjang pada
konsentrasi NaCl 50 mM dengan kenaikan sebesar 24,81% (Tabel 1), tetapi pada konsentrasi
tertinggi (300 mM), panjang akar berkurang tajam sebesar 31,77% dibandingkan dengan
tanaman kontrol. Dari penelitian ini, jelas bahwa pertumbuhan akar spesies rumput yang diuji
lebih sensitif dan sangat dipengaruhi oleh tingkat salinitas yang tinggi. Hal ini mungkin karena
sifat NaCl yang beracun pada konsentrasi yang tinggi. Rasio tunas/akar pada spesies yang
dicobakan menurun menjadi 10,04% pada konsentrasi NaCl 50 mM tetapi kemudian meningkat
dengan meningkatkannya dosis salinitas (Tabel 1). Rasio tunas/akar meningkat tajam disebabkan
oleh salinitas NaCl, terutama tingkat salinitas yang tinggi. Ini mungkin disebabkan lebih
banyaknya alokasi asimilat dari akar ke tunas.
Pengaruh salinitas terhadap tinggi tanaman V. zizanioides
Hambatan pertumbuhan tanaman merupakan salah satu indeks pertanian yang paling penting dari
toleransi cekaman garam (Parida dan Das, 2005). Pengaruh langsung dari penambahan garam ke
media akar adalah menurunnya potensial air eksternal dan penurunan serapan air (Munns, 2002).
V. Zizanioides menunjukkan peningkatanan tinggi tanaman tertinggi sebesar 17,98% pada
konsentrasi NaCl 50 mM, namun ada kecenderungan penurunan tinggi tanaman pada konsentrasi
NaCl yang lebih tinggi dan perlakuan NaCl yang lebih lama.

Akumulasi ion beracun, Na
+
dan Cl
-
, dalam tanaman sering disebut sebagai penyebab utama
penghambat pertumbuhan yang disebabkan oleh salinitas (Marosz dan Nowak, 2008). Jaleel et
al. (2008) menemukan bahwa pada cekaman 100 mM NaCl, tinggi tanaman Catharanthus roseus
mengalami penurunan sebesar 7% dan 34% pada salinitas rendah dan tinggi dibandingkan
dengan kontrol. Pertumbuhan tanaman terjadi terutama karena ekspansi ruang yang dimediasi
oleh peningkatan volume vakuola dan penyekatan ion Na+ dan Cl
-
yang memfasilitasi
penyesuaian osmotik yang penting terhadap perkembangan sel (Shuji et al., 2002). Dari hasil
penelitian ini, jelaslah bahwa tinggi rumput dipengaruhi secara terbalik oleh tingkat salinitas
yang tinggi yang kemungkinan disebabkan oleh rendahnya ketersediaan air dan toksisitas
natrium klorida (Gambar 3).
Pengaruh salinitas terhadap luas daun Vetiveria zizanioides
Ketika salinitas diaplikasikan pada media perakaran, pemanjangan daun seketika terhenti pada
jagung (Munns et al., 2000), tomat (Tantawy et al., 2009) and jowar (Stuart et al., 2000). Pada
penelitian ini, rata-rata luas daun meningkat pada kondisi salin. Persentase maksimum
peningkatannya tercatat 18,60% (200 mM) pada V. zizanioides (Tabel 1), sementara pada
300mM NaCl, tercatat berkurang sebesar 5,95% dibanding kontrol. Pada kondisi yang hampir
sama, Gilbert et al. (1998) menemukan penurunan sekitar 50% ukuran setiap daun Coleus blumei
Benth, tetapi itu tetap sedikit lebih tinggi dibanding dengan daun yang tercekam berat. Hal ini
diduga bahwa produksi spesies oksigen reaktif (ROS) pada kondisi cekaman air pada apoplas
daun merupakan alasan terhadap peningkatan luas daun pada rumput yang tercekam salinitas.
Pengaruh negatif dari salinitas pada tanaman dapat memprovokasi potensial osmotik, sehingga
sel akar tidak mendapat air yang diperlukan dari media yang berakibat terjadinya hambatan
terhadap penyerapan beberapa hara mineral yang menyebabkan perkembangan tanaman yang
buruk.

Gambar 2. Pengaruh salinitas NaCl terhadap pertumbuhan Vetiveria zizanioides
Pengaruh salinitas terhadap biomassa berat basah Vetiveria zizanioides
Beberapa peneliti menemukan rendahnya berat berangkasan basah daun tanamn yang tumbuh
pada kondisi salin (Parvaiz and Riffat, 2005). Sebaliknya, Ceyhan and Ali (2002) menemukan
meningkatnya berat berangkasan basah tanaman sawi pada kondisi salin yang lebih tinggi.
Hampir sama dengan berat kering, berat basah tanaman tidak begitu sensitif terhadap cekaman
salinitas. Peningkatan berat basah tanaman pada taraf salinitas yang lebih rendah, seperti pada 25
sampai 100 mM mungkin karena peningkatan kandungan airnya (Tabel 1). Walaupun Vetiveria
menunjukkan peningkatan pada berat basahnya hingga konsentrasi 200 mM NaCl dibanding
control, namun, kondisinya terbalik pada konsentrasi yang lebih tinggi, 300 mM dan ada
penurunan dibanding dengan kontrol sebesar 12,44% (Tabel 1). Ada laporan yang menyatakan
bahwa terjadi penurunan berat basah tanaman tomat dan dua varietas gandum, yaitu Afzal and
EMB82-12 dengan peningkatan taraf salinitas (Tantawy et al., 2009). Penurunan berat basah
daun rumput mungkin disebabkan oleh cekaman kandungan air tanah yang terjadi pada kondisi
salin dan penghambatan pertumbuhan oleh cekaman salinitas selama tahap perkembangan awal
(Khosravinejad et al., 2009).
Berat Kering
Serupa dengan penurunan pada berat berangkasan basah daun, konsentrasi NaCl yang tinggi juga
menyebabkan penurunan berat berangkasan kering daun (Parvaiz dan Riffat, 2005). Berat
berangkasan kering Halosarcia pergranulata tertinggi dijumpai pada tanaman yang tumbuh pada
10 sampai 300 mol m
-3
NaCl tetapi menurun ketika tanaman diberikan konsentrasi NaCl 400 mol
m
-3
atau lebih tinggi (Digby dan Timotius, 1999). Berbeda dengan hal itu, Ceyhan dan Ali (2002)
melaporkan adanya peningkatan berat kering tanaman selada pada kondisi salin. Cicek dan
Cakirlar (2002) juga menemukan penurunan berat kering total pada tanaman jagung berumur 30
hari pada lingkungan salin. Hal ini membuktikan bahwa berat kering tanaman tidak sensitif pada
cekaman salinitas. Pada penelitian ini, berat kering V. zizanioides meningkat sebesar 33,60%
pada konsentrasi 100 mM NaCl. Vetiveria menunjukkan peningkatan berat kering yang terus
berlanjut sampai pada konsentrasi NaCl 200 mM dibanding kontrol, namun dipengaruhi secara
terbalik pada konsentrasi yang lebih tinggi, 300 mM (Tabel 1). Hasil tersebut di atas
menunjukkan bahwa berat kering daun tanaman meningkat akibat perlakuan salinitas dengan
penurunan yang tegas hanya pada konsentrasi NaCl 300 mM. Stimulasi seperti itu dalam
produksi bahan kering pada perlakuan salinitas mungkin disebabkan oleh akumulasi ion
anorganik dan senyawa organik bagi adaptasi osmotik, sementara penurunan berat kering daun
tanaman pada tingkat salinitas tertinggi mungkin disebabkan oleh terhambatnya hidrolisis
makanan cadangan dan translokasinya ke bagian titik tumbuh.
Pengaruh salinitas terhadap kadar air V. zizanioides
Tanaman telah mengevolusi mekanisme penyesuaian osmotik, yang mempertahankan
penyerapan air dan turgor dalam kondisi cekaman osmotik dan mensintesis senyawa organik
yang kompatibel seperti prolin, betaine, poliol, dan gula (Chinnusamy et al., 2005).
Meningkatnya kadar air pada lingkungan salin menunjukkan kadar air yang lebih tinggi per unit
luas daun, yang dapat mengencerkan garam terakumulasi dalam larutan sel (Marosz dan Nowak,
2008). Hal ini sangat jelas dari persentase kadar air daun yang meningkat karena salinitas NaCl,
tetapi ada penurunan drastis dari kandungan air daun pada tingkat konsentrasi NaCl 300 mM.
Kadar air daun V. zizanioides meningkat maksimal sebesar 21,33% pada 100 mM NaCl (Tabel
1). Demikian pula Rodriguez et al, 1997 mengamati penurunan cepat dari potensial air daun,
konduktansi stomata, dan kandungan air relatif daun pada tanaman tomat. Pada penelitian ini,
penurunan kadar air daun rumput pada tingkat cekaman salinitas yang tinggi mungkin
disebabkan oleh stres osmotik yang diinduksi oleh NaCl yang tidak dapat dinetralisir oleh
tanaman di bawah stres berat, sementara peningkatan pada konsentrasi rendah mungkin karena
daya adaptasi tanaman terhadap penyesuaian osmotik yang mempertahankan penyerapan air dan
turgor melalui akumulasi senyawa organik.
Pengaruh salinitas terhadap kinerja fotosintesis V. zizanioides
Kandungan Klorofil
Kandungan klorofil dalam tanaman secara langsung berkorelasi dengan kesehatan tanaman
(Zhang et al., 2005). Resistensi sistem fotosintesis terhadap salinitas terkait dengan kapasitas
tanaman secara efektif menyekap ion-ion dalam sitoplasma, vakuola dan kloroplas (Croser et al.,
2001). Rendahnya kandungan klorofil pada kondisi stres merupakan fenomena biasa dan
dilaporkan dalam banyak penelitian. Ini mungkin disebabkan oleh kerusakan membran
(Djanaguiraman et al., 2006). Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kandungan klorofil
Vetiveria tidak banyak terpengaruh oleh salinitas sampai pada konsentrasi NaCl 100 mM, tetapi
penurunan kandungan klorofil teramati pada konsentrasi NaCl yang melampaui 100 mM.
Konsekuensinya, rasio klorofil a : klorifil b meningkat jauh dalam daun Vetiveria zizanioides
yang tumbuh pada konsentrrasi Na Cl sampai dengan 100 mM (Tabel 2). Dengan demikian,
kiranya cukup jelas bahwa konsentrasi garam tinggi (300 mM) memiliki pengaruh negatif
terhadap rasio klorofil a : klorifil b, pada spesies rumput (Tabel 2). Selanjutnya, juga dapat
dilihat bahwa kandungan klorofil a dan klorofil b memiliki kecenderungan yang sama,
meningkat atau menurun. Namun demikian, kelihatannya klorofil a lebih sensitif terhadap
salinitas dibanding klorofil b.
Penurunan kandungan klorofil ditambah dengan peningkatan konsentrasi garam telah dilaporkan
pada Picea mariana, Picea glauca dan Pinus banksiana (Croser et al., 2001). Pada penelitia ini,
jelaslah bahwa kandungan klorofil total dalam daun Vetiveria zizanioides lebih tinggi pada
salinitas yang lebih rendah. Peningkatan kandungan klorofil yang demikian mungkin disebabkan
oleh mekanisme penyesuaian osmotik yang dikembangkan oleh tanaman, sementara penurunan
kandungan klorofil pada konsentrasi yang lebih tinggi (300 mM) mungkin terkait dengan
gangguan pada fungsi seluler dan kerusakan rantai transpor elektron fotosintesis karena
akumulasi ion. Penurunan drastis rasio klorofil a : klorifil b pada konsentrasi salinitas yang lebih
tinggi menunjukkan bahwa klorofil a bisa jadi digantikan oleh klorofil b.

Kandungan karotenoid
Dalam proses fotosintesis, karotenoid melindungi kloroplas dari kerusakan foto-oksidatif. Selain
itu, karotenoid juga bertindak sebagai pigmen pemanen cahaya untuk menyerap energi cahaya di
kisaran 400-500 nm (biru), yang tidak dapat diserap oleh klorofil dan melewatkan energi eksitasi
kepada molekul klorofil (Kojo, 2004). Karotenoid juga merupakan salah satu antioksidan
nonenzimatik bersama dengan vitamin C, vitamin E, dan asam lipoat dan memainkan peran
penting dalam perlindungan terhadap stres oksidatif (Parida dan Das, 2005). Pada penelitan ini,
peningkatan maksimum kandungan karotenoid diamati sebesar 23.09% (pada 50 mM NaCl),
sementara penurunan drastis sebesar 83.69% (pada 300 mM NaCl) dibanding kontrol dalam
daun Vetiveria zizanioides (Tabel 3). Penurunan kandungan karotenoid karena stres salinitas
telah diamati pada Brassica juncea, murbei, dan Aegiceros corniculatum (Parida dan Das, 2005).
Dari hasil penelitian ini, penurunan kandungan karotenoid dalam daun Vetiveria menunjukkan
bahwa konsentrasi garam yang tinggi bertindak sebagai penghambat dan tidak mampu mencegah
kloroplas dari kerusakan foto-oksidatif. Sebaliknya pada konsentrasi yang lebih rendah,
karotenoid melaksanakan peran pelindungan bagi kloroplas dan bertindak sebagai pigmen.
Pengaruh cekaman salinitas terhadap kandungan polifenol
Perhatian pada pengaruh salinitas terhadap metabolisme polifenol pada tumbuhan sangat sedikit
diberikan. Pada penelitian ini, kandungan polifenol daun Vetiveria zizanioides menurun pada
tingkat salinitas yang lebih rendah, yaitu 25 dan 50 mM tetapi kemudian ada kenaikan
kandungan polifenol (Tabel 3). Peningkatan maksimum kandungan polifenol daun Vetiveria
diamati sebesar 37.58% (300 mM) (Tabel 3). Demikian pula, Parida dan Das (2005) mengamati
terjadinya akumulasi polifenol pada Bruguiera parviflora dengan peningkatan tingkat salinitas.
Menurut mereka, akumulasi polifenol memainkan peran kunci pada tumbuhan terhadap stres.
Peningkatan yang besar dari kandungan polifenol daun di bawah kondisi salinitas NaCl telah
diamati pada Brassica campastris (Singh dan Kumari, 2006). Peningkatan kandungan polifenol
pada kadar salinitas yang tinggi menginduksi akumulasi metabolit sekunder pada spesies yang
dicobakan agar dapat mentolerir tingkat stres salinitas yang lebih tinggi dan kondisi yang
merugikan.

Konduktivitas listrik (EC)
Konduktivitas adalah ekspresi numerik dari kemampuan air untuk membawa arus listrik yang
bervariasi, tergantung pada jumlah dan jenis ion dalam larutan. Pengaruh salinitas NaCl terhadap
EC tanah ditentukan dan digambarkan pada Gambar 2. Jelaslah bahwa EC tanah pot meningkat
dengan semakin tingginya tingkat NaCl. EC tanah meningkat maksimal sebesar 508,42% pada
tanah pot Vetiveria zizanioides pada konsentrasi NaCl 300 mM. Berbagai tingkat EC pada tanah
pot mungkin disebabkan oleh kapasitas pengikatan akar tanaman yang berbeda dan persaingan
akar untuk mendapatkan nutrisi dari tanah. Kenaikan serupa dalam konduktivitas listrik dari
tanah media perakaran karena penambahan NaCl telah dilaporkan sebelumnya (Gokhale et al.,
2008).

Gambar 3. Pengaruh natrium klorida terhadap konduktivitas listrik dan total padatan terlarut.
Total Padatan Terlarut (TPT)
Total padatan terlarut secara sederhana adalah jumlah konsentrasi kation dan anion yang
dinyatakan dalam mg L
-1
. Pengaruh salinitas NaCl terhadap TPT tanah diteliti dan diilustrasikan
pada Gambar 3. Jelas terlihat bahwa TPT dalam tanah meningkat dengan semakin tingginya
tingkat NaCl. TPT meningkat secara maksimal sebesar 982,71% pada Vetiveria zizanioides pada
konsentrasi NaCl 300 mM yang ditambahkan ke dalam pot tanah. Pengamatan serupa ditemukan
oleh Gokhale et al. (2008) pada tanah media tumbuh akibat penambahan NaCl eksternal.
Berbagai tingkat TPT dalam media disebabkan oleh penambahan NaCl eksternal dan
interaksinya dengan akar dan ion organik-anoganik telah terjadi dalam tanah asal.
Kesimpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa panjang tunas dan akar Vetiveria zizanioides dirangsang
oleh konsentrasi salinitas yang lebih rendah, sebaliknya dihambat oleh konsentrasi salinitas yang
lebih tinggi. Menurunnya berat berangkasan basah daun Vetiveria mungkin disebabkan oleh stres
kadar air yang terjadi pada kondisi salin, sementara stimulasi produksi bahan kering karena
akumulasi ion anorganik dan senyawa organik terlarut. Penurunan drastis rasio klorofil a : b pada
tingkat salinitas yang lebih tinggi menunjukkan klorofil a mungkin digantikan oleh klorofil b.
Penurunan kandungan karotenoid dalam daun Vetiveria menunjukkan bahwa konsentrasi garam
yang tinggi merupakan penghambat dan tidak dapat mencegah kloroplas dari kerusakan
fotooksidatif. Akan tetapi, meningkatnya kadar polifenol pada konsentrasi salinitas yang tinggi
menunjukkan bahwa terjadi akumulasi metabolit sekunder untuk meningkatkan toleransi
terhadap stress garam yang tinggi. Hasil ini juga mengindikasikan bahwa Vetiveria zizanioides
memperlihatkan toleransi salinitas yang lebih baik bila dilihat dari pertumbuhan tanaman yang
linier. Spesies ini dapat digunakan untuk reklamasi daerah yang terkontaminasi oleh salinitas
tinggi melalui cara fitoremediasi, akan tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk
mempelajari mekanisme toleransi garam pada tanaman rumput tertentu.
Ucapan Terima Kasih
Penulis berterima kasih kepada Dr. P.D. Raut, Kepala, Departemen Ilmu Lingkungan,
Universitas Shivaji, Kolhapur, India atas penyediaan fasilitas yang diperlukan. Penulis juga ingin
berterima kasih atas bantuan dan dukungan dari Dr. R.G. Pardeshi, Kepala, Sekolah Tinggi
Fergusson, Pune. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. A.N. Sadale dan Dr. P.A. Banne
atas sarannya yang berharga untuk studi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Arnon, D. I. 1949. Copper enzyme in isolated chloroplasts: polyphenol oxidase in Beta vulgaris.
Plant Physiol. 24:1-15.
Ceyhan, T. and I. Ali. 2002. Changes induced by salinity, demarcating specific ion ratio (Na/Cl)
and osmolality in ion and proline accumulation, nitrate reductase activity and growth
performance of lettuce. J. Plant Nutr. 25:27-41.
Chinnusamy, V., J. Andre, and J. K. Zhu. 2005. Understanding and improving salt tolerance in
plants. Crop Sci. 45:437-448.
Cicek, N. and H. Cakirlar. 2002. The effect of salinity on some physiological parameters in two
maize cultivar. Bulg. J. Plant Physiol. 28:66-74.
Croser, C., S. Renault, J. Franklin, and J. Zwiazek. 2001. The effect of salinity on the emergence
and seedling growth of Picea mariana, Picea glauca and Pinus banksiana. Env. Pollution.
115:9-16.
CSSRI. 2009. Central Soil Salinity Research Institute, India. http://www.cssri.org/
Djanaguiraman, M., J. A. Sheeba, A. K. Shanker, D. Durgadevi and U. Bangarusamy. 2006. Rice
can acclimate to lethal level of salinity by pre-treatment with sub lethal level of salinity through
osmotic adjustment. Plant Soil. 284:363-373.
Digby, C. S. and D. C Timothy. 1999. Salt tolerance in the halophyte Halosarcia pergranulata
subsp. pergranulata, Ann.Bot. 83:207-213.
FAO. 1997. <http://www.fao.org/ag/agl/agll/spush/table3.htm&gt;.
Flowers, T. J. 2004. Salt tolerance is complex genetically and physiologically. J. Exp. Bot.
55:307-319.
Folin, O. and W. Denis. 1915. A calorimetric estimation of phenols and phenol derivatives in
urine. J. Biol. Chem. 22:305-308.
Ghassemi, F., A. J. Jakeman, and H. A. Nix. 1995. Salinisation of land and water resources:
human causes, extent, management and case studies. Australian National University, Canberra,
Australia and CAB International, Wallingford, Oxon, UK.
Gilbert, G. A., M. V. Gadush, C. Wilson, and M. A. Madore. 1998. Amino acid accumulation in
sink and source tissues of Coleus bumei benth. during salinity stress. J. Exp. Bot. 49:107-114.
Jaleel, C. A., S. Beemarao, S. Ramalingam, and P. Rajaram. 2008. Soil salinity alters growth,
chlorophyll content and secondary metabolite accumulation in Catharanthus roseus, Turk. J.
Biol. 32:79-83.
Kate, V. V. 2008. Physiological and biochemical studies in some medicinal plants: Tribulus
terrestris L. and Pedalium murex L. Ph. D. Thesis submitted to Shivaji University, Kolhapur,
Maharashtra, India.
Khosravinejad, F., R. Heydari, and T. Faboodnia. 2009. Effect of salinity on organic solutes
contents in barley. Pak. J. Biol. Sci. 12:158-162.
Kirk, J. O. T. and R. L. Allen. 1965. Dependence of salinity stress on the activity of glutamine
synthatase and glutamate dehydrogenase in triticale seedlings. Polish J. Env. Studies. 14:523-
530.
Kojo, S. 2004. Vitamin C: Basic metabolism and its function as an index of oxidative stress.
Curr. Med. Chem. 11:1041-1064.
Mane, A. V., B. A. Karadge and J. S. Samant, 2010. Salinity induced changes in photosynthetic
pigments and polyphenols of Cymbopogon nardus (L.) Rendle. J. Chem. Pharm. Res. 2:338-347.
Marosz, A. and J. S. Nowak. 2008. Effect of salinity stress on growth and macroelements uptake
of four tree species. Dendrobiol. 59:23-29.
Maghsoudi, A. M. and K. Maghsoudi. 2008. Salt stress effects on respiration and growth of
germinated seeds of different wheat (Triticum aestivum L.) Cultivars. World J. Agri. Sci. 4:351-
358.
Munns, R. 2002. Comparative physiology of salt and water stress. Plant Cell Environ. 25:239-
250
Munns, R., J.Guo, J. B. Passioura, and G. R. Cramer. 2000. Leaf water status controls day-time
but not daily rates of leaf expansion in salt-stressed barley. Aust. J. Plant. Physiol. 27:949-957.
NEP. 2006. National Environmental Policy of India by Ministry of Environment and Forest.
Oldeman, L. R., E. V. W. P. Van and J. H. M. Pulles. 1991. The extent of human induced soil
degradation. In: L. R. Oldeman, R. T. A. Hakkeling and W. G. Sombroek. (Eds.). World map of
the status of human-induced soil degradation: an explanatory note. International Soil Reference
and Information Centre (ISRIC), Wageningen, 37.
Ouda, S. A. E., S. G. Mohamed and F. A. Khalil. 2008. Modeling the effect of different stress
conditions on maize productivity using yield-stress model. Int. J. Nat. Engg. Sci. 2:57-62.
Parida, A. K. and A. B. Das. 2005. Salt tolerance and salinity effect on plants: A Review.
Ecotoxicol. Environ. Safety 60:324-349.
Parvaiz A. and J. Riffat. 2005. Effect of salt stress on growth and biochemical parameters of
Pisum sativum L. Arch. Agron. Soil. Sci. 51:665-672.
Pessarakli, M., K. B. Marcum, D. M. Kopec, and Y. L. Qian. 2004. Interactive effects of salinity
and primo on the growth of Kentucky bluegrass. The University of Arizona College of
Agriculture Turfgrass and Ornamental Research Report.
http://cals.arizona.edu/pubs/crops/az1359/
Rodriguez, P., J. Dellamico, D., Morales. M. J. Sa and N. Blanco. 1997. Effects of salinity on
growth, shoot water relations and root hydraulic conductivity in tomato plants. J. Agricultural
Sci. 128:439-444.
Shuji, Y., A. B. Ray, and M. H. Paul. 2002. Salt stress tolerance of plants. JIRCAS Working
Report: 25-33.
Singh, A. K. and B. Kumari. 2006. Physiological basis of salinity tolerance in rapeseed (Brassica
campestris. Var. Toria) during seedling growth. Physiol. Mol. Biol. Plants. 12:167-171.
Sixto, H., J. M Grau, N. Alba and R. Alia. 2005. Response to sodium chloride in different
species and clones of genus Populus L. Forestry 78:93-104.
Stuart, F. B., N. T. Phong, and K. S. Wendy. 2000. Effects of salinity on xylem structure and
water use in growing leaves of sorghum. New Phytol. 146:119-127.
Tantawy, A. S., A. M. R. Abdel-Mawgoud, M. A. and El-Nemr, Y. G. Chamoun. 2009.
Alleviation of salinity effects on tomato plants by application of amino acids and growth
regulators. Eur. J. Sci. Res. 30:484-494.
Gokhale M. V., S. V. Toro, S. C. Patil and N. S. Chavan 2008. Effect of vehicular pollution on
shoot height and leaf surface structure in Nerium indicum Mill. Bioinfolet, 5:143-144.
Zhang, M., Z. Qiu and X. Liu. 2005. Remote sensed spectral imagery to detect late blight in field
tomatoes. Precision Agric. 6:489-508
About these ads
Share this:
Share

Like this:
Related
Respons Tanaman terhadap Penggenangan
In "Stress"
Optimasi Priming Benih dengan Boron untuk Meningkatkan Perkecambahan dan
Pertumbuhan Bibit Gandum
In "Bibit"
DEHIDRIN DAN PERANNYA TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN
In "Metabolit sekunder"
2 tanggapan untuk posting ini.
1.
Posted by Hilda Farida on Mei 28, 2013 at 5:55 pm
WAHHH,,keren. Terima Kasih banyak ilmunya. ternyata hasil kita sama. jadi tenang,
paling tidak ada referensi pendukung :)
Balas
o
Posted by Muhammad Hatta on Mei 29, 2013 at 2:04 pm
O ya
Balas
Tinggalkan Balasan

Blog Stats
49,283 hits
Kategori
barang bekas
Bibit
Budidaya
Filsafat
Hortikultura
Kompos
Metabolit sekunder
Obat
Pangan
Perkebunan
Pertanian
Pupuk Hayati
Stress
Tanaman Hias
Teknologi
Arsip
April 2013
Januari 2013
April 2011
Desember 2010
September 2008
Agustus 2008
Juli 2008
Semboyan
Pertanian adalah kehidupan
Artikel pilihan
Budidaya Pertanian Stress
Muhammad Hatta
Muhammad Hatta
o Jumlah dan Mutu Produksi Tanaman
Serba Serbi
Ilmiah
Blog pada WordPress.com. Tema: Spring Loaded oleh the449.
Ikuti
Follow Dunia Pertanian
Get every new post delivered to your Inbox.
Bergabunglah dengan 316 pengikut lainnya.
Powered by WordPress.com