Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN


1.1.Latar belakang

Dalam bidang konstruksi sifat material yang dapat terdefleksi
merupakan suatu hal yang sangat menakutkan karena bila saja hal tersebut
terjadi maka struktur yang dibangun baik itu struktur statis maupun
dinamis akan roboh atau mengalami kegagalan. Hal tersebut tentu saja
akan membahayakan jika itu merupakan alat yang berfungsi untuk
mengangkut orang atau ditempati banyak orang, oleh karena itu perlu
perencanaan yang sangat matang untuk membangun suatu struktur
tertentu. Begitu juga dengan poros, seperti poros turbin pada pembangkit
daya (power plant) pada saat operasi dengan putaran tertentu poros akan
terdefleksi akibat berat rotor ataupun berat dia sendiri. Defleksi yang
paling besar terjadi pada putaran operasi itulah yang disebut dengan
putaran kritis, yang dapat membuat struktur poros tersebut gagal sehingga
dalam operasi dihindari kecepatan putar yang demikian.Oleh karena itu
perlu pengetahuan yang dalam mengenai putaran kritis ini.

1.2.Tujuan
1. Untuk mengetahui karakteristik poros dengan membuat grafik yang
menyatakan hubungan defleksi yang terjadi dengan posisi rotor untuk
berbagai tegangan.
2. Untuk mencari fenomena yang terjadi dengan berputarnya poros pada
tegangan yang telah ditentukan.
3. Mencari putaran kritis yang terjadi dengan berputarnya poros pada
variasi tegangan.



1.3. Manfaat
Dengan adanya praktikum putaran kritis ini kita dapat melihat
fenomena yang terjadi pada putaran yang diberikan defleksi paling besar
dan mengetahui besarnya sehingga bisa dihindari dalam operasi suatu
system.




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1Teori Dasar

Suatu fenomena yang terjadi dengan berputarnya poros pada
kecepatan-kecepatan tertentu adalah getaran yang sangat besar, meskipun
poros dapat berputar dengan sangat mulus pada kecepatan-kecepatan
lainnya.Pada kecepatan-kecepatan semacam ini dimana getaran menjadi
sangat besar, dapat terjadi kegagalan diporos atau bantalan-bantalan.Atau
getaran dapat mengakibatkan kegagalan karena tidak bekerjanya komponen-
komponen sesuai dengan fungsinya, seperti yang terdapat pada sebuah
turbin uap dimana ruang bebas antara rotor dan rumah sangat kecil.
Getaran semacam ini dapat mengakibatkan apa yang disebut dengan
olakan poros atau mungkin mengakibatkan suatu osilasi puntir pada suatu
poros, atau kombinasi keduanya. Mungkin kedua peristiwa tersebut berbeda,
namun akan dapat ditunjukkan bahwa masing-masing dapat ditangani
dengan cara sama, dengan memperhatikan frekuensi-frekuensi pribadi dari
osilasi.
Karena poros-poros pada dasarnya elastic, dan menunjukkan
karakteristik-karakteristik pegas, maka untuk mengilustrasikan pendekatan
dan untuk menjelaskan konsep-konsep dari suku-suku dasar yang dipakai
dan digunakan analisa sebuah system massa dan pegas yang sederhana.

a. Massa bergerak di bidang horizontal
Gambar dibawah memperlihatkan suatu massa dengan berat W
pound yang diam atas suatu permukaan licin tanpa gesekan dan
diikatkan ke rangka stationer melalui sebuah pegas. Dalam analisa,
massa pegas akan diabaikan. Massa dipindahkan sejauh x dari posisi
keseimangannya, dan kemudian dilepaskan.Ingin ditentukan tipe dari
gerakan maa dapat menggunkan persamaan-persamaan Newton dengan
persamaan energi.






b. Massa bergetar di suatu bidang vertical
Gambar dibawah memperlihatkan massa yang digantung dengan
sebuah pegas vertical. Bobot menyebabkan pegas melendut sejauh x
o
.
Bayangkan massa ditarik kebawah pada suatu jarak x
o
dari posisi
keseimbangannya dan kemudian dilepaskan dan ingin diketahui
garaknya sebagai efek gravitasi.









Massa yang bergetar secara vertical mempunyai frekuansi yang
sama seperti massa yang bergetar secara horizontal, dengan osilasi yang
terjadi disekitar posisi keseimbangan


c. Olakan Poros
Akan dibahas olakan poros untuk mengilustrasikan mengapa
poros-poros mebunjukkan lendutan yang sangat besar pada suatu
kecepatan dari operasi, meskipun poros dapat berputar secara mulus
pada kecepatan-kecepatan yang lebih rendah atau lebih tinggi.
Gambar dibawah menunjukkan sebuah poros dengan panjang L cm
ditumpu oleh bantalan pada ujung-ujungnya, sebuah piringan yang
dipandang sebagai sebuah massa terpusat dan beratnya W Newton, aksi
giroskop dari massa akan diabaikan, dan selanjutnya akan diasuksikan
poros bergerak melalui sebuah kopling yang bekerja tanpa menahan
lendutan poros. Poros dipandang vertical sehingga gravitasi dapat
diabaikan, meskipun hasil-hasil yang didapatkan akan sama apakah
poros vertikal atau horizontal.
Apabila titik berat dari massa ada disumbu puntir, maka tidak akan
ada ketakseimbangan apapun yang dapat menyebabkan poros berputar
disuatu sumbu lain diluar sumbu poros. Namun dalam prakteknya,
kondisi semacam ini tidak dapat dicapai, dan titik berat piringan berada
disuatu jarak e yang boleh dikatakan kecil, dari pusat geometri piringan.
Dengan titik berat yang diluar sumbu putar atau sumbu bantalan,
terdapat suatu gaya inersia yang mengakibatkan poros melendut, dimana
lendutan pusat poros dinyatakan dengan r pada gambar dibawah :


















Pusat geometri dari piringan , O adalah sama dengan pusat poros
pada piringan. Ketika poros berputar, titik tinggi T akan berputar
terhadap sumbu bantalan S. Gaya inersia piringan diseimbangkan oleh
apa yang dapat disebut dengan gaya pegas dari poros ketika poros
berputar. Gaya inersia, untuk sebuah massa yang berpuatr terhadap satu
pusat tetap, adalah :
2
) ( e e r
g
W
+
Gaya pegas dari poros dapat dinyatakan dengan Kr, dimana k
adalah laju pegas poros, yakni gaya yang diperlukan per cm lendutan
poros pada piringan. Dengan menyamakan jumlah gaya-gaya pada
gambar dengan nol, dengan termasuk gaya inersia, maka didapatkan
0 ) (
2
= + kr e r
g
W
e
Dengan menata kembali suku-sukunya
2
2
e
e
g
W
k
g
W
e
r

=
Kecepatan berbahaya dari operasi suatu poros tertentu dinyatakan
dengan kecepatan putaran kriyis atau kecepatan olakan, yakni kecepatan
dimana perbandingan r/e adalah tah hingga.Operasi pada suatu
kecepatan yang mendekati kecepatan kritis juga tak dikehendaki karena
besarnya perpindahan pusat piringan dari sumbu putar. Kecepatan kritis
dapat diperoleh untuk kondisi dimana persamaan diatas sama dengan nol
:
5 . 0 2
) / ( 0 W kg or
g
W
k = = e e
Konstanta k dapat dinyatakan dalam bermacam cara, misalnya
seperti konstanta yang diperoleh dari persamaan lendutan sebuah poros
dengan tumpuan sederhana dibawah aksi suatu beban P
) (
6
2 2 2
b a L
LEI
Pab
r =
Perbandingan P/r mendefinisikan laju pegas k menjadi
) (
6
2 2 2
b a L ab
PLEI
r
P
k

= =
Khusus untuk poros yang sedang dibahas ini, kecepatan kritis dapat
dinyatakan dengan
det / .
) (
6
2 2 2
rad
W
g
b a L ab
PLEI

= e
Sebuah metode alternative adalah dengan menulis laju pegas k
dalam suku-suku suatu beban spesifik dan lendutan spesifik, beban yang
sama dengan berat piringan, yaitu P=W. Lendutan resultane akan berupa
lendutan static dari poros horizontal, dibawah aksi beban piringan,
lendutan static tersebut dinamakan x
st-

Jadi,
st
x
W
r
P
k = = atau det / ) / ( ) / (
2
1
2
1
rad x g
W
g
x
W
W kg
st
st
=
(

= = e
d. Efek gesekan terhadap kecepatn kritis
Meskipun persamaan teoritik yang diturunkan sebelumnya
menunjukkan suatu putaran dengan jari-jari yang besarnya tak hingga
pada kecepatan kritis, namun kondisi semacam ini secara praktek tidak
mungkin. Menurut hasil-hasil yang diperoleh dari persamaan teoritik,
poros yang berputar pada putaran kritis tentu saja akan patah atau
terdistorsi. Tetapi, kita tahu bahwa poros-poros yang berjalan pada
kecepatan kritis tidak perlu patah, dan mungkin berjalan dengan sangat
kasar tetapi tanpa distorsi permanent.









Dari analisa didapatkan hubungan perbandingan maksimum dari
r/e tidak tak hingga apabila gesekan diperhitungkan.Tetapi terdapat satu
daerah pada suatu kecepatan yang tidak jauh dari kecepatan yang
dihitung dengan tanpa gesekan.Juga, harga r/e pada kecepatan-kecepatan
yang agak jauh dari kecepatan olakan tidak terlalu banyak berbeda
dengan atau tanpa gesekan.
Dalam praktek, biasanya gesekan diabaikan dan kecepatan olakan
dihitung dengan tanpa gesekan, dengan kesalahan yang sangat kecil.









2.2 Aplikasi
Adapun aplikasi dalam pengunaan putran kritis ini adalah:

1. Dalam bidang kostruksi.
2. Pembangkit daya (power plan)
3. Turbin pembangkit listrik tenaga gas (PLTG)
4. Dll.



BAB III
METODOLOGI

3.1 Peralatan

Adapun peralatan yang di gunakan dalam praktikum putaran kritis ini
adalah:
1.Seperangkat alat uji putaran kritis.
2. Beban.
3. Tachometer.
4. Mistar

3.2 Perosedur Percobaan
Pasanglah alat seperti gambar di bawah ini:





Pasang semua peralatan seperti pengatur putaran rotor, motor,
bantalan, dan peralatan lain dalam keadan baik.
Posisikan letak rotor.
Hidupkan motor dan atur tegangan dengan slide regulator.
Hitung putaran putaran rotor.
Ulangi percobaan di atas untuk posisi rotor yang berbeda.
Catatlah data hasil pengujian.

3.3 Asumsi asumsi.
1. Pertambahan putaran slide regulatordianggap constan.
2. Panjang batang poros tetap.
3. Patang penyanggah rotor tidak melendut.
BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data.


No L (mm) m (kg) a(mm) b(mm)
N
c
(rpm)
1 640 1,6
150 490 1168
200 440 1170
250 390 1172
2 640 1,6
150 150 1170
200 200 1171
250 250 1174


4.2 Perhitungan
1. Perhitungan untuk a = 150 mm b = 490 mm, rotor 1
putaran kritis teoritis untuk (N
c
) percobaan = 1168
n
c
=
m
k
t 2
60

F = m * g = 1.6 kg * 9.81 m/s
2
= 15,69N
I = 20 mm
4

=
L I E
b a p
* * * 6
* *
=
640 * 10 200 * 6
490 * 150 * 69 . 15
3
x
(640
2
-150
2
-490
2
) = 1.103 mm
k =
o
g m*
=
001103 . 0
81 . 9 * 6 . 1
= 14.230 N/m
Nc teoritis =
m
k
t 2
60

=
6 . 1
230 . 14
14 . 3 2
60


= 901 rpm
2. Perhitungan untuk a = 200 mm b = 440 mm, rotor 1
putaran kritis teoritis untuk (N
c
) percobaan = 1170
n
c
=
m
k
t 2
60

F = m * g = 1.6 kg * 9.81 m/s
2
= 15,69N
I = 20 mm
4

=
L I E
b a p
* * * 6
* *
=
640 * 10 200 * 6
440 * 200 * 69 . 15
3
x
(640
2
-200
2
-440
2
) = 1.409 mm
k =
o
g m*
=
001409 . 0
81 . 9 * 6 . 1
= 11.211N/m
Nc teoritis =
m
k
t 2
60

=
6 . 1
211 . 11
14 . 3 2
60


= 799rpm



3. Perhitungan untuk a = 250mm b = 4390 mm, rotor 1
putaran kritis teoritis untuk (N
c
) percobaan = 1172
n
c
=
m
k
t 2
60

F = m * g = 1.6 kg * 9.81 m/s
2
= 15,69N
I = 20 mm
4

=
L I E
b a p
* * * 6
* *
=
640 * 10 200 * 6
390 * 250 * 69 . 15
3
x
(640
2
-250
2
-390
2
) = 1.272 mm
k =
o
g m*
=
001272 . 0
81 . 9 * 6 . 1
= 12. 339 N/m
Nc teoritis =
m
k
t 2
60

=
6 . 1
339 . 12
14 . 3 2
60


= 839 rpm
1. Perhitungan untuk a = 150 mm b = 150 mm, rotor 2
putaran kritis teoritis untuk (N
c
) percobaan = 1170

EI
a l a p
2
) ( *
=
20 * 10 200 * 2
) 150 640 ( 150 * 96 . 15
3
x

= 0.14 mm
Ymax=
EI
a p
24
*
(3l
2
4l
2
)
=
20 * 10 200 * 24
150 * 96 . 15
3
x
(3(640)
2
4(150)
2
)
=
96000000
2394
(1228800 90000) = 28.39 mm
=0.028 m
k =
o
g m*
=
14 . 0
81 . 9 * ) 2 ( 6 . 1
=112.11 N/m
Nc teoritis =
m
k
t 2
60

=
6 . 1
112.11
14 . 3 2
60

= 79.97rpm
2. Perhitungan untuk a = 200 mm b = 200mm, rotor 2
putaran kritis teoritis untuk (N
c
) percobaan = 1171


EI
a l a p
2
) ( *
=
20 * 10 200 * 2
) 200 640 ( 200 * 96 . 15
3
x

= 2.81 mm
Ymax=
EI
a p
24
*
(3l
2
4l
2
)
=
20 * 10 200 * 24
200 * 96 . 15
3
x
(3(640)
2
4(200)
2
)
=
96000000
3192
(3(409600) 4(40000) = 35.53 mm
=0.035 m
k =
o
g m*
=
81 . 2
81 . 9 * ) 2 ( 6 . 1
=558,57N/m
Nc teoritis =
m
k
t 2
60

=
6 . 1
558.57
14 . 3 2
60

= 178,51rpm



3. Perhitungan untuk a = 250 mm b = 250mm, rotor 2
putaran kritis teoritis untuk (N
c
) percobaan = 1174


EI
a l a p
2
) ( *
=
20 * 10 200 * 2
) 250 640 ( 250 * 96 . 15
3
x

= 3.11 mm
Ymax=
EI
a p
24
*
(3l
2
4l
2
)
=
20 * 10 200 * 24
250 * 96 . 15
3
x
(3(640)
2
4(250)
2
)
=
96000000
3192
(3(409600) 4(62500) = 40.68 mm
=0.040 m
k =
o
g m*
=
31 . 3
81 . 9 * ) 2 ( 6 . 1
=504 N/m
Nc teoritis =
m
k
t 2
60

=
6 . 1
504
14 . 3 2
60

=169.56 rpm
- Tabel hasil perhitungan.







0
100
200
300
400
500
600
1168 1170 1171
Posisi Rotor b (mm)
Posisi Rotor a (mm)

Putaran percobaan (rpm)

p
o
s
i
s
i

r
o
t
o
r

(
m
m
)

posisi rotor 1 terhadap putaran percobaan
150
200
250
150
200
250
0
50
100
150
200
250
300
0
50
100
150
200
250
300
1168 1170 1171
posisi rotor a (mm)
Posisi Rotor b (mm)

Putaran percobaan (rpm)

p
o
s
i
s
i

r
o
t
o
r

(
m
m
)

posisi rotor 2 terhadap putaran percobaan
Grafik perhitungan.


























150
200
250
490
440
390
0
100
200
300
400
500
600
750 800 850 900 950
posisi rotor a (mm)
Posisi Rotor b (mm)

Putaran teoritik (rpm)

p
o
s
i
s
i

r
o
t
o
r

(
m
m
)

posisi rotor 1 terhadap putaran teoritik
150
200
250
150
200
250
0
50
100
150
200
250
300
750 800 850 900 950
posisi rotor a (mm)
Posisi Rotor b (mm)

Putaran teoritik (rpm)

p
o
s
i
s
i

r
o
t
o
r

(
m
m
)

posisi rotor 2 terhadap putaran teoritik


























150
200
250
490
440
390
0
100
200
300
400
500
600
0 500 1,000 1,500
posisi rotor a (mm)
posisi rotor b (mm)

defleksi (mm)

p
o
s
i
s
i

r
o
t
o
r

(
m
m
)

posisi rotor 1 terhadap defleksi (mm)
150
200
250
150
200
250
0
50
100
150
200
250
300
0 1 2 3 4
posisi rotor a (mm)
posisi rotor b (mm)

Putaran defleksi (mm)

p
o
s
i
s
i

r
o
t
o
r

(
m
m
)

posisi rotor 2 terhadap putaran teoritik


























4.3 Pembahasan.
Pada percobaan yang telah dilakukan dapat dilihat fenomena-
fenomena yang terjadi dengan berputarnya poros pada kecepatan
tertentu.Pada kecepatan mula-mula poros berputar dengan stabil dan
mengeluarkan getaran dan suara yang kecil. Setelah mencapai pada
kecepatan tertentu yaitu pada kecepatan 1100 rpm ke atas maka poros
menunjukan fenomena-fenomena yang terjadi, poros berputar secara tak
stabil dan menunjukan getaran yang hebat dan suara yang kencang maka
dapat disimpulkan bahwagetaran ini adalah getaran kritis. Adapun data-data
atau nilai-nilai pada peralatan percobaan adalah :
E steel = 200 x 10
3
N/mm
2
M = 1.6 kg
L = 640 mm
Beban 1.6 kg adalah rotor. Panjang poros adalah 640mm dengan
rotor yang bisa dipindah-pindahkan posisinya. Putaran kritis pada poros
tidak hanya dipengaruhi oleh kecepatan putarnya saja, tetapi juga
dipengaruhi oleh posisi rotor pada batang poros, ini dikarenakan rotor
memiliki beban yang mempengaruhi batang poros :
putaran kritis : N
c
=
m
k
t 2
60

nilai kekakuan dari k
k =
o
g m*

= defleksi
Dari rumus diatas dapat diketahui bahwa posisi rotor
mempengaruhi kekakuan poros yaitu posisi rotor dapat
mempengaruhidefleksi poros.Jadi untuk posisi rotor yang berbeda
memiliki nilai defleksi yang berbeda pula.


Pada percobaan ini diambil dua posisi rotor dan dicoba dua kali
percobaan untuk satu posisi.



Pada percobaan dilakukan didapat kecepatan untuk putaran kritis
maksimum adalah pada kecepatan 1174 rpm pada pembebanan 2 rotor dan
a= 250 mm b=250 mm. dan untuk putaran kritis minimum terjadi pada
pembebanan 1rotor adalah 1168 rpm pada a= 150 mm dan b= 490 mm.
sedangkan pada putaran kritis teoritis di dapat nilai sebagai berikut:
- Untuk a = 150 mm b = 490 mm
= 1.103 mm
N
c
teoritis = 901
- Untuk a = 250 mm b = 250 mm
= 40.68 mm
N
c
teoritis = 169
Pada putaran kritis teoritis didapatkan bahwa nilai kecepatan kritis
yang terbesar adalah pada a = 150 mm, b = 490 mm dan a = 250 mm, b =
390 mm. nilai kecepatan teoritis semakin besar bila posisi rotor semakin
jauh dari posisi tengahnya, ini disebabkan karena bila posisi rotor tidak
ditengah maka defleksi akan semakin besar dan putaran semakin tak
imbang.
Untuk lebih jelasnya, Pada grafik yang telah ditunjukan, kita dapat
mengambil analisa bahwa semakin jauh posisi rotor dari tumpuan maka
defleksi yang dihasilkan akan semakin besar.

a b
Rotor
L
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Putaran kritis teoritis maksimum terjadi pada saat rotor berada pada
posisi a = 150 b = 490
Putaran kritis teoritis minimum terjadi pada saat rotor berada pada
posisi a = 250 b = 250
Putaran kritis percobaanmaksimum terjadi pada saat rotor berada
pada posisi a = 250 b = 250
Putaran kritis percobaan minimum terjadi pada saat rotor berada
pada posisi a = 150 b = 490
Defleksi maksimum terjadi pada saat rotor berada pada a = 250 b =
250
5.2 Saran
Amati hasil yang ditunjukan oleh alat ukur dengan teliti sehingga
hasil yang diperoleh akurat
Lakukan perhitungan analisa dengan teliti agar asil yang di dapat
akurat.
Sebaiknya alat uji di kalibrasi ulang agar asil dari pengujian dapat
di pastikan akurat.
Sebaiknya ruangan pengujian di beri AC agar Praktikan tidak
kepanasan di dalam ruangan.






DAFTAR PUSTAKA

- Panduan Praktikum Fenomena Dasar Mesin Bid. Konstruksi Mesin.
Jurusan Mesin FT-UR :Riau
- William T. Thomsun. 1998. Thori of Vibration with Application Practice.
Hall int : London