Anda di halaman 1dari 15

TUGAS

Agama Islam II
WAKAF






OLEH:
Praditya Yuharso : 421110307
Martha Dian Puta : 421110305

PROGRAM STUDI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SULTAN AGUNG
SEMARANG
2011

PENGERTIAN DAN HUKUM WAKAF
Pengertian wakaf menurut mazhab syafii dan hambali adalah
seseorang menahan hartanya untuk bisa dimanfaatkan di segala
bidang kemaslahatan dengan tetap melanggengkan harta
tersebut sebagai taqarrub kepada Allah taalaa.

Pengertian wakaf menurut mazhab hanafi adalah menahan
harta-benda sehingga menjadi hukum milik Allah taalaa, maka
seseorang yang mewakafkan sesuatu berarti ia melepaskan
kepemilikan harta tersebut dan memberikannya kepada Allah
untuk bisa memberikan manfaatnya kepada manusia secara
tetap dan kontinyu, tidak boleh dijual, dihibahkan, ataupun
diwariskan.

Pengertian wakaf menurut mazhab maliki adalah memberikan
sesuatu hasil manfaat dari harta, dimana harta pokoknya
tetap/lestari atas kepemilikan pemberi manfaat tersebut
walaupun sesaat.

SYARAT DAN RUKUN WAKAF
Syarat-syarat harta yang diwakafkan sebagai berikut:

1) Diwakafkan untuk selama-lamanya, tidak terbatas waktu tertentu (disebut
takbid).

2) Tunai tanpa menggantungkan pada suatu peristiwa di masa yang akan
datang. Misalnya, Saya wakafkan bila dapat keuntungan yang lebih besar
dari usaha yang akan datang. Hal ini disebut tanjiz

3) Jelas mauquf alaih nya (orang yang diberi wakaf) dan bisa dimiliki barang
yang diwakafkan (mauquf) itu


b. Rukun Wakaf

1) Orang yang berwakaf (wakif), syaratnya;

a. kehendak sendiri

b. berhak berbuat baik walaupun non Islam

2) sesuatu (harta) yang diwakafkan (mauquf), syartanya;

a. barang yang dimilki dapat dipindahkan dan tetap zaknya,
berfaedah saat diberikan maupun dikemudian hari

b. milki sendiri walaupun hanya sebagian yang diwakafkan atau
musya (bercampur dan tidak dapat dipindahkan dengan bagian
yang lain

3) Tempat berwakaf (yang berhaka menerima hasil wakaf itu), yakni
orang yang memilki sesuatu, anak dalam kandungan tidak syah.

4) Akad, misalnya: Saya wakafkan ini kepada masjid, sekolah
orang yang tidak mampu dan sebagainya tidak perlu qabul (jawab)
kecuali yang bersifat pribadi (bukan bersifat umum)
HARTA YANG DIWAKAFKAN
a. sebidang tanah

b. pepohonan untuk diambil manfaat atau hasilnya

c. bangunan masjid, madrasah, atau jembatan

Dalam Islam, pemberian semacam ini termasuk sedekah jariyah
atau amal jariyah, yaitu sedekah yang pahalanya akan terus
menerus mengalir kepada orang yang bersedekah. Bahkan
setelah meninggal sekalipun, selama harta yang diwakafkan itu
tetap bermanfaat. Hadits nabi SAW:


( )

Artinya: Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah
semua amalnya, kecuali tiga (macam), yaitu sedekah jariyah (yang
mengalir terus), ilmu yang dimanfaatkan, atu anak shaleh yang
mendoakannya. (HR Muslim)

PELAKSANAAN WAKAF DI INDONESIA
a. Landasan

1. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1977 tentang
Perwakafan Tanah Milik

2. Peraturan Menteri dalam Negeri No. 6 Tahun 1977
tentang Tata Cara Pendaftaran Tanah mengenai
Perwakafan Tanah Milik

3. Peraturan Menteri Agama No. 1 Tahun 1978 Tentang
Peraturan Pelasanaan Peraturan Pemerintah No. 28
Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik

4. Peraturan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat
Islam No. Kep/P/75/1978 tentang Formulir dan
Pedoman Peraturan-Peraturan tentang Perwakafan
Tanah Milik
Tata Cara Perwakafan Tanah Milik

1. Calon wakif dari pihak yang hendak mewakafkan tanah miliknya harus datang
dihadapan Pejabat Pembantu Akta Ikrar Wakaf (PPAIW) untuk melaksanakan
ikrar wakaf.

2. Untuk mewakafkan tanah miliknya, calon wakif harus mengikrarkan secara
lisan, jelas dan tegas kepada nadir yang telah disyahkan dihadapan PPAIW
yang mewilayahi tanah wakaf. Pengikraran tersebut harus dihadiri saksi-saksi
dan menuangkannya dalam bentuk tertulis atau surat

3. Calon wakif yang tidak dapat datang di hadapan PPAIW membuat ikrar wakaf
secara tertulis dengan persetujuan Kepala Kantor Departemen Agama
Kabupaten atau Kotamadya yang mewilayahi tanah wakaf. Ikrar ini dibacakan
kepada nadir dihadapan PPAIW yang mewilayahi tanah wakaf serta diketahui
saksi

4. Tanah yang diwakafkan baik sebagian atau seluruhnya harus merupakan
tanah milik. Tanah yang diwakafkan harus bebas dari bahan ikatan, jaminan,
sitaan atau sengketa

5. Saksi ikrar wakaf sekurang-kurangnya dua orang yang telah dewasa, dan
sehat akalnya. Segera setelah ikrar wakaf, PPAIW membuat Ata Ikrar Wakaf
Tanah

c. Surat yang Harus Dibawa dan Diserahkan oleh Wakif
kepada PPAIW sebelum Pelaksananaan Ikrar Wakaf

Calon wakif harus membawa serta dan menyerahkan
kepada PPAIW surat-surat berikut.

1. sertifikat hak milik atau sertifikat sementara pemilikan
tanah (model E)

2. Surat Keterangan Kepala Desa yang diperkuat oleh
camat setempat yang menerangkan kebenaran
pemilikan tanah dan tidak tersangkut suatu perkara dan
dapat diwakafkan

3. Izin dari Bupati atau Walikota c.q. Kepala Subdit
Agraria Setempat
Hak dan Kewajiban Nadir

Nadir adalah kelompok atau bandan hukum Indonesia yang diserahi tugas
pemeliharaan dan pengurusan benda wakaf

1. Hak Nadir

1. Nadir berhak menerima penghasilan dari hasil tanah wakaf yang biasanya
ditentukan oleh Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten atau Kotamadya.
Dengan ketentuan tidak melebihi dari 10 % ari hasil bersih tanah wakaf
2. Nadir dalam menunaikan tugasnya dapat menggunakan fasilitas yang jenis dan
jumlahnya ditetapkan oleh Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten atau
Kotamadya.

2. Kewajiban Nadir

Kewajiban nadir adalah mengurus dan mengawasi harta kekayaan wakaf dan
hasilnya, antara lain:

1. menyimpan dengan baik lembar kedua salinan Akta Ikrar Wakaf
2. memelihara dan memanfaatkan tanah wakaf serta berusaha meningkatkan
hasilnya
3. menggunakan hasil wakaf sesuai dengan ikrar wakafnya.

MENGGANTI BARANG WAKAF
Prinsip-prinsip wakaf diatas adalah pemilikan terhadap manfaat
suatu barang. Barang asalnya tetap, tidak boleh diberikan, dijual
atau dibagikan. Barang yang diwakafkan tidak boleh diganti atau
dijual. Persoalannya akan jadi lain jika barang wakaf itu sudah
tidak dapat dimanfaatkan, kecuali dengan memperhitungkan harga
atau nilai jual setelah barang tersebut dijual. Artinya, hasil jualnya
dibelikan gantinya. Dalam keadaan demikian , mengganti barang
wakaf dibolehkan. Sebab dengan cara demikian, barang yang
sudah rusak tadi tetap dapat dimanfaatkan dan tujuan wakaf
semula tetap dapat diteruskan, yaitu memanfaatkan barang yang
diwakafkan tadi.

Sayyidina Umar r.a. pernah memindahkan masjid wakah di Kuffah
ke tempat lain menjadi masjid yang baru dan lokasi bekas masjid
yang lama dijadikan pasar. Masjid yang baru tetap dapat
dimanfaatkan. Juga Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa tujuan
pokok wakaf adalah kemaslahatan. Maka mengganti barang wakaf
tanpa menghilangkan tujuannya tetap dapat dibenarkan menurut
inti dan tujuan hukumnya.
PENGATURAN WAKAF
Tujuan wakaf dapat tercapai dengan baik, apabila faktor-
faktor pendukungnya ada dan berjalan. Misalnya nadir atau
pemelihara barang wakaf. Wakaf yang diserahkan kepada
badan hukum biasanya tidak mengalami kesulitan. Karena
mekanisme kerja, susunan personalia, dan program kerja
telah disiapkan secara matang oleh yayasan penanggung
jawabnya.

Pengaturan wakaf ini sudah barang tentu berbeda-beda
antara masing-masing orang yang mewakafkannya meskipun
tujuan utamanya sama, yaitu demi kemaslahatan umum.
Penyerahan wakaf secara tertulis diatas materai atau denagn
akta notaris adalah cara yang terbaik pengaturan wakaf.
Dengan cara demikian, kemungkinan penyimpangan dan
penyelewengan dari tujuan wakaf semula mudah dikontrol
dan diselesaikan. Apalagi jika wakaf itu diterima dan dikelola
oleh yayasan-yayasan yang telah bonafide dan profesional,
kemungkinan penyelewengan akan lebih kecil.

HIKMAH WAKAF
Melaksanakan perintah Allah SWT untuk selalu berbuat
baik.
Memanfaatkan harta atau barang tempo yang tidak
terbatas. Kepentingan diri sendiri sebagai pahala
sedekah jariah dan untuk kepentingan masyarakat Islam
sebagai upaya dan tanggung jawab kaum muslimin.
Mengenai hal ini, rasulullad SAW bersabda dalam salah
satu haditsnya:

()

Artinya: Barangsiap yang tidak memperhatikan urusan
dan kepentingan kaum muslimin maka tidaklah ia dari
golonganku. (Al Hadits)


Mengutamakan kepentingan umum daripada
kepentingan pribadi

Wakaf biasanya diberikan kepada badan hukum yang
bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan. Hal ini
sesuai dengan kaidah usul fiqih berikut ini.



Artinya: Kemaslahatan umum harus didahulukan
daripada kemaslahatan yang khusus.
Adapun manfaat wakaf bagi orang yang menerima atau
masyarakat adalah:

1. dapat menghilangkan kebodohan
2. dapat menghilangkan atau mengurangi kemiskinan
3. dapat menghilangkan atau mengurangi kesenjangan
sosial
4. dapat memajukan atau menyejahterakan umat