Anda di halaman 1dari 27

Prissilma Tania Jonardi

1102010221
Skenario 2 Respirologi : Batuk berdarah

1. Mm anatomi dan mikroskopik saluran napas bawah

1. Batang Tenggorokan (Trakea)
Tenggorokan berupa pipa yang panjangnya 10 cm, terletak sebagian di leher dan
sebagian di rongga dada/torak ( dari leher hingga incisura jugularis).Dinding tenggorokan
tipis dan kaku, dikelilingi oleh cincin tulang rawan, dan pada bagian dalam rongga
bersilia. Silia-silia ini berfungsi menyaring benda-benda asing yang masuk ke saluran
pernapasan.
Batang tenggorok (trakea) terletak di sebelah depan kerongkongan. Di dalam rongga
dada, batang tenggorok bercabang menjadi dua cabang tenggorok (bronkus). Di dalam
paru-paru, cabang tenggorok bercabang-cabang lagi menjadi saluran yang sangat kecil
disebut bronkiolus. Ujung bronkiolus berupa gelembung kecil yang disebut gelembung
paru-paru (alveolus)

Panjang trakea (10-12) cm, pria 12 cm dan wanita 10 cm yang terdiri dari 16-20 cincin
yang berbentuk lingkaran,berhubungan dengan daerah larynx melalui cartilago cricoid
dengan ligamentum cricotrachealis. Diantara tulang rawan terdapat jaringan ikat
ligamentum intertrachealis/anulare (penghubung cincin trakhea)



2. Bronchus
Percabangan trachea setinggi batas vertebrae th IVV yang dikenal dengan
bifurcation trachea dan memberi cabang 2 bronkus yaitu bronkus dekstra dan bronkus
sinistra, keduanya yang disebut sebagai bronkus primarius.
Dinding bronkus terdiri dari cincin tulang rawan tapi dibagian posterior berbentuk
membran. Bronkus dekstra lebih sering terkena infeksi bila dibandingkan dengan
bronkus sinistra karena :
1. Lumen yang broncus dextra lebih luas dibandingkan dengan lumen broncus
sinistra
2. Bronkus dextra lebih pendek dengan panjang 2,5 cm dan sebanyak 6-8 buah
cincin dan broncus sinistra dengan panjang 5 cm dengan 9-12 buah cincin
3. Bronchus dextra membentuk sudut 25 derajat dengan garis tengah, sedangkan
broncus sinistra 45 derajat. Jadi posisi broncus yang kanan lebih curam dari yang
kiri.
Broncus dalam paru memberikan cabang cabang ke setiap lobus paru disebut broncus
secunderius yaitu: pada paru kanan terdapat 3 buah cabang bronchus ( bronchus
lobaris superior, media, inferior) sesuai dengan lobus paru pada paru kiri mempunyai
2 buah cabang bronchus (bronchus superior dan inferior)
Setiap lobus tersebut akan membentuk bronchus segmentalis
Pada bronchus dextra bercabang sebagai berikut :
1. Lobus superior mempunyai 3 buah bps yaitu : segmen apical,posterior,anterior
2. Lobus media yaitu: segmen lateral dan medial
3. Lobus inferior ada 5 buah yaitu: segmen superior,medial,lateral,anterior,dan
posterior
Pada bronchus sinistra yaitu:
1. Lobus superior mempunyai 4 buah semen yaitu: apica posterior dan anterior
cabang bawah dikenal dengan segmen lingual 2 yaitu segmen superior dan
inferior
2. Lobus inferior mempunyai 5 buah segmen yaitu: segmen
superior,mediabasal,laterobasal,anterobasal, posterobasal

3.Pulmo (paru)
Adalah organ utama yang berbentuk kerucut, dimana bagian apex terdapat di bagian
atas dan bagian basal dibawah terletak dalam cavum torax yang mengisi ruangan
dibagian lateral dan mediastinum
Pulmo terbungkus oleh jaringan ikat kuat yaitu pleura. Lapisan terluar yang melapisi
dinding dada dinamakan pleura parietalis dan bagian yang melekat ke jaringan paru
disebut pleura visceralis. Diantara kedua lapisan tersebut terdapat ruangan yaitu
cavum pleura
cavum pleura mengandung sedikit cairan pleura yang dihasilkan oleh lapisan pleura
parietalis yang berfungsi sebagai pelumas untuk mengurangi friksi antara kedua
pleura.
Pleura parietalis berdasarkan letaknya terbagi atas :
a. Pleura costalis : melapisi iga
b. Pleura diafragmatica : melapisi diafragma
c. Pleura mediastinalis : melapisi mediastinum
d. Pleura cervicalis (cupula pleura) : melapisi apex paru

Recessus pleura adalah kantong pleura yang terdapat pada lipatan pleura parietalis
disebabkan paru tidak sepenuhnya mengisi cavum pleura. Fungsi recessus ini adalah
waktu inspirasi paru akan mengembang akan mengisi recessus tersebut.
Pleura parietalis sensitive terhadap nyeri dan raba melalui nervus intercostalis dan
nervus phrenicus, sedangkan pleura visceralis sensitive terhadap regangan melalui
serabut afferent otonom plexus pulmonalis (n vagus). Peradangan pleura disebut
pleuritis. Akibat dari infeksi pada jaringan paru dapat menghasilkan pus yang disebut
empiema.

Pada hilus kedua paru, kedua lapisan pleura berhubungan dan bergantung longgar
diatas hilus yang disebut dengan ligamentum pulmunole yang berfungsi untuk
mengatur pergerakan alat dalam hilus selama proses respirasi.
Antara lobus superior dan media terdapat fisura horizontal dan antara lobus media
dengan inferior terdapat fisura oblique
Alat alat penting yang keluar masuk paru dalam Hilus pulmonalis adalah :
1. Alat yang masuk pada hilus pulmonalis adalah bronchus primer, arteri pulmonali,
arteri bronchialis
2. Alat yang keluar pada hilus pulmonalis adalah vena pulmonalis,vena bronchialis,
dan vasa limfatisi



Pendarahan dinding torax berasal dari pembuluh darah sebagai berikut
1. Aorta thoracalis yang mempercabangkan sebagai berikut
a. A. intercostalis bagian anterior dan bagian posterior
b. A bronchialis : cabang visceralis setinggi bifurcation trachea untuk
pendarahan jaringan paru
c. A. Subcostalis
2. Arteri Thoracica interna : A mamaria interna mempercabangkan sebagai
berikut
A. a. pericardiacophrenicus : untuk pericardium
B. a. musculophrenica : untuk diagfragma
3. aorta ascendens mempercabangkan a. coronaria dextra/sinistra untuk jantung

sistem vena pada thorax :
1. vena intercostalis posterior dan vena hemyazigos : bermuara ke dalam
vena azygos
2. vena brokhialis dextra bermuara ke vena azygos sedangkan yang kiri vena
intercostalis suprema atau langsung ke vena hemi azygos ke vena azygos

Persarafan paru : berasal dari truncus symphaticus (th 3,4,5) dan serabut
parasympaticus berasal dari nervus vagus
1. serabut symphatis : truncus sympaticus kanan dan kiri memberikan cabang
cabang pada paru membentuk plexus pulmonalis yang terletak di depan dan di
belakang bronchus primarius. Fungsi saraf symphatisnya untuk relaksasi
tunica muscularis dan menghmbat sekresi bronchus. Biasanya diberikan pada
penderita asthma bronchiale.
2. Serabut parasympatis : nervus vagus kanan dan kiri juga memberikan cabang
pada plexus pulmonalis ke depan dan belakang. Fungsi saraf parasympatis
untuk kontraksi tunica muscularis akibat lumen menyempit dan merangsang
sekresi bronchus
( raden, DR.H inmar. 2011.anatomi kedokteran sistem kardiovaskuler dan
sistem repiratorius.Jakarta: bagian anatomi FK Yarsi)
Mikroskopik saluran napas bawah :
Trakea
Permukaan trakea dilapisi oleh epitel respirasi. Terdapat kelenjar serosa pada
lamina propria dan tulang rawan hialin berbentuk C (tapal kuda), yang mana
ujung bebasnya berada di bagian posterior trakea. Cairan mukosa yang dihasilkan
oleh sel goblet dan sel kelenjar membentuk lapisan yang memungkinkan
pergerakan silia untuk mendorong partikel asing. Sedangkan tulang rawan hialin
berfungsi untuk menjaga lumen trakea tetap terbuka. Pada ujung terbuka (ujung
bebas) tulang rawan hialin yang berbentuk tapal kuda tersebut terdapat
ligamentum fibroelastis dan berkas otot polos yang memungkinkan pengaturan
lumen dan mencegah distensi berlebihan.
Bronkus
Mukosa bronkus secara struktural mirip dengan mukosa trakea, dengan lamina
propria yang mengandung kelenjar serosa , serat elastin, limfosit dan sel otot
polos. Tulang rawan pada bronkus lebih tidak teratur dibandingkan pada trakea;
pada bagian bronkus yang lebih besar, cincin tulang rawan mengelilingi seluruh
lumen, dan sejalan dengan mengecilnya garis tengah bronkus, cincin tulang rawan
digantikan oleh pulau-pulau tulang rawan hialin.
Bronkiolus
Bronkiolus tidak memiliki tulang rawan dan kelenjar pada mukosanya.
Lamina propria mengandung otot polos dan serat elastin. Pada segmen awal
hanya terdapat sebaran sel goblet dalam epitel. Pada bronkiolus yang lebih besar,
epitelnya adalah epitel bertingkat silindris bersilia, yang makin memendek dan
makin sederhana sampai menjadi epitel selapis silindris bersilia atau selapis
kuboid pada bronkiolus terminalis yang lebih kecil. Terdapat sel Clara pada
epitel bronkiolus terminalis, yaitu sel tidak bersilia yang memiliki granul
sekretori dan mensekresikan protein yang bersifat protektif. Terdapat juga badan
neuroepitel yang kemungkinan berfungsi sebagai kemoreseptor.
pitel bronkiolus terminalis, tidak ditemukan adanya tulang rawan dan kelenjar
campur pada lamina propria
Bronkiolus respiratorius
Mukosa bronkiolus respiratorius secara struktural identik dengan mukosa
bronkiolus terminalis, kecuali dindingnya yang diselingi dengan banyak
alveolus. Bagian bronkiolus respiratorius dilapisi oleh epitel kuboid bersilia dan
sel Clara, tetapi pada tepi muara alveolus, epitel bronkiolus menyatu dengan sel
alveolus tipe 1. Semakin ke distal alveolusnya semakin bertambah banyak dan
silia semakin jarang/tidak dijumpai. Terdapat otot polos dan jaringan ikat
elastis di bawah epitel bronkiolus respiratorius.
Duktus alveolaris
Semakin ke distal dari bronkiolus respiratorius maka semakin banyak terdapat
muara alveolus, hingga seluruhnya berupa muara alveolus yang disebut sebagai
duktus alveolaris. Terdapat anyaman sel otot polos pada lamina proprianya,
yang semakin sedikit pada segmen distal duktus alveolaris dan digantikan oleh
serat elastin dan kolagen. Duktus alveolaris bermuara ke atrium yang
berhubungan dengan sakus alveolaris. Adanya serat elastin dan retikulin yang
mengelilingi muara atrium, sakus alveolaris dan alveoli memungkinkan alveolus
mengembang sewaktu inspirasi, berkontraksi secara pasif pada waktu ekspirasi
secara normal, mencegah terjadinya pengembangan secara berlebihan dan
pengrusakan pada kapiler-kapiler halus dan septa alveolar yang tipis.
Bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorik, duktus alveolaris dan alveoli
Alveolus
Alveolus merupakan struktur berongga tempat pertukaran gas oksigen dan
karbondioksida antara udara dan darah. Septum interalveolar memisahkan dua
alveolus yang berdekatan, septum tersebut terdiri atas 2 lapis epitel gepeng tipis
dengan kapiler, fibroblas, serat elastin, retikulin, matriks dan sel jaringan ikat.
Terdapat sel alveolus tipe 1 yang melapisi 97% permukaan alveolus, fungsinya
untuk membentuk sawar dengan ketebalan yang dapat dilalui gas dengan mudah.
Sitoplasmanya mengandung banyak vesikel pinositotik yang berperan dalam
penggantian surfaktan (yang dihasilkan oleh sel alveolus tipe 2) dan pembuangan
partikel kontaminan kecil. Antara sel alveolus tipe 1 dihubungkan oleh desmosom
dan taut kedap yang mencegah perembesan cairan dari jaringan ke ruang udara.
Sel alveolus tipe 2 tersebar di antara sel alveolus tipe 1, keduanya saling melekat
melalui taut kedap dan desmosom. Sel tipe 2 tersebut berada di atas membran
basal, berbentuk kuboid dan dapat bermitosis untuk mengganti dirinya sendiri dan
sel tipe 1. Sel tipe 2 ini memiliki ciri mengandung badan lamela yang berfungsi
menghasilkan surfaktan paru yang menurunkan tegangan alveolus paru.
Septum interalveolar mengandung pori-pori yang menghubungkan alveoli yang
bersebelahan, fungsinya untuk menyeimbangkan tekanan udara dalam alveoli dan
memudahkan sirkulasi kolateral udara bila sebuah bronkiolus tersumbat.
alveolus
Sawar darah udara dibentuk dari lapisan permukaan dan sitoplasma sel
alveolus, lamina basalis, dan sitoplasma sel endothel.
sawar udara-kapiler
Pleura
Pleura merupakan lapisan yang memisahkan antara paru dan dinding toraks.
Pleura terdiri atas dua lapisan: pars parietal dan pars viseral. Kedua lapisan terdiri
dari sel-sel mesotel yang berada di atas serat kolagen dan elastin
2 MM fisiologi pernapasan

Respirasi dibagi menjadi 2 bagian , yaitu respirasi eksternal dimana proses
pertukaran O2 & CO2 ke dan dari paru ke dalam O2 masuk ke dalam darah
danCO2 + H2O masuk ke paru paru darah. kemudian dikeluarkan dari tubuh
danrespirasi internal/respirasi sel dimana proses pertukaran O2 & peristiwa CO2
ditingkat sel biokimiawi untuk proses kehidupan.


Proses pernafasan terdiri dari 2 bagian, yaitu sebagai berikut :
Ventilasi pulmonal yaitu masuk dan keluarnya aliran udara antara atmosfir
dan alveoli paru yang terjadi melalui proses bernafas (inspirasi
danekspirasi) sehingga terjadi disfusi gas (oksigen dan karbondioksida)
antaraalveoli dan kapiler pulmonal serta ransport O2 & CO2 melalui darah
ke dandari sel jaringan.
Mekanik pernafasan
Masuk dan keluarnya udara dari atmosfir ke dalam paru-paru
dimungkinkan oleh peristiwa mekanik pernafasan yaitu inspirasi dan
ekspirasi. Inspirasi(inhalasi) adalah masuknya O2 dari atmosfir & CO2 ke
dlm jalan nafas.Dalam inspirasi pernafasan perut, otot difragma akan
berkontraksi dan kubah difragma turun ( posisi diafragma datar ),
selanjutnya ruang otot intercostalis externa menarik dinding dada agak
keluar, sehingga volume paru-paru membesar, tekanan dalam paru-paru
akan menurun dan lebih rendah dari lingkungan luar sehingga udara dari
luar akan masuk ke dalam paru-paru. Ekspirasi (exhalasi) adalah
keluarnya CO2 dari paru ke atmosfir melalui jalan nafas. Apabila terjadi
pernafasan perut, otot difragma naik kembali ke posisi semula (
melengkung ) dan muskulus intercotalis interna relaksasi. Akibatnya
tekanan dan ruang didalam dada mengecil sehingga dinding dada masuk
ke dalam udara keluar dari paru-paru karena tekanan paru-paru meningkat.

Transportasi gas pernafasana.
a. Ventilasi
Selama inspirasi udara mengalir dari atmosfir ke alveoli. Selama
ekspirasi sebaliknya yaitu udara keluar dari paru-paru. Udara yg
masuk ke dalamalveoli mempunyai suhu dan kelembaban atmosfir.
Udara yg dihembuskan jenuh dengan uap air dan mempunyai suhu
sama dengan tubuh.
b. Difusi
Yaitu proses dimana terjadi pertukaran O2 dan CO2 pada
pertemuan udara dengan darah. Tempat difusi yg ideal yaitu di
membran alveolar-kapilar karena permukaannya luas dan tipis.
Pertukaran gas antara alveoli dan darah terjadi secara difusi.
Tekanan parsial O2 (PaO2) dalam alveolus lebih tinggi dari pada
dalam darah O2 dari alveolus ke dalam darah.Sebaliknya (PaCO2)
darah > (PaCO2) alveolus sehingga perpindahan gas tergantung
pada luas permukaan dan ketebalan dinding alveolus.Transportasi
gas dalam darah O2 perlu ditrasport dari paru-paru ke jaringandan
CO2 harus ditransport kembali dari jaringan ke paru-paru.
Beberapaf aktor yg mempengaruhi dari paru ke jaringan , yaitu:
Cardiac out put.
Jumlah eritrosit.
Exercise
Hematokrot darah, akan meningkatkan vikositas
darahmengurangi transport O2 menurunkan CO.

a. Perfusi pulmonal
Merupakan aliran darah aktual melalui sirkulasi pulmonal dimana
O2diangkut dalam darah membentuk ikatan (oksi Hb) / Oksihaemoglobin
(98,5%) sedangkan dalam eritrosit bergabung dgn Hb dalam plasma sbg
O2 yg larut dlm plasma (1,5%). CO2 dalam darah ditrasportasikan sebagai
bikarbonat, alam eritosit sebagai natrium bikarbonat, dalam plasma
sebagai kalium bikarbonat , dalam larutan bergabung dengan Hb dan
protein plasma. C02 larut dalam plasma sebesar 5 7 % , HbNHCO3
Carbamoni Hb (carbamate) sebesar 15 20 % , Hb +CO2 HbC0
bikarbonat sebesar 60 80%.

Pengukuran volume paru
Fungsi paru, yg mencerminkan mekanisme ventilasi disebut volume paru
dankapasitas paru. Volume paru dibagi menjadi :
Volume tidal (TV) yaitu volume udara yang dihirup dan dihembuskan
setiap kali bernafas.
Volume cadangan inspirasi (IRV) , yaitu volume udara maksimal yg
dapat dihirup setelah inhalasi normal.
Volume Cadangan Ekspirasi (ERV), volume udara maksimal yang dapat
dihembuskan dengan kuat setelah exhalasi normal.
Volume residual (RV) volume udara yg tersisa dalam paru-paru setelah
ekhalasi maksimal


bergabung dengan Hb dan protein plasma. C02 larut dalam plasma
sebesar 5 7 % , HbNHCO3 Carbamoni Hb (carbamate) sebesar 15 20
% , Hb +CO2 HbC0 bikarbonat sebesar 60 80% .

Pengaturan pernafasan
Sistem kendali memiliki 2 mekanisme saraf yang terpisah yang mengatur
pernafasan. Satu system berperan mengatur pernafasan volunter dan
system yang lain berperan mengatur pernafasan otomatis

1.Pengendalian Oleh saraf Pusat ritminitas di medula oblongatal angsung
mengatur otot otot pernafasan. Aktivitas medulla dipengaruhi pusat
apneuistik dan pnemotaksis. Kesadaran bernafas dikontrol oleh korteks
serebri. Pusat Respirasi terdapat pada Medullary Rhythmicity Area yaitu
area inspirasi & ekspirasi,mengatur ritme dasar respirasi , Pneumotaxic
Area terletak di bagianatas pons dan berfungsi untuk membantu
koordinasi transisi antarainspirasi & ekspirasi, mengirim impuls inhibisi
ke area inspirasi paru-paru terlalu mengembang, dan Apneustic Area yang
berfungsi membantu koordinasi transisi antara inspirasi &ekspirasi dan
mengirim impuls ekshibisi ke area inspirasi.
2.Pengendalian secara kimia pernafasan dipengaruhi oleh : PaO2, pH,dan
PaCO2. Pusat khemoreseptor : medula, bersepon terhadap perubahan
kimia pd CSF akibat perub kimia dalam darah.Kemoreseptor perifer : pada
arkus aortik dan arteri karotis

3 Mm basil tahan asam

a. Morfologi dan identifikasi
Mikrobakterium adalah bakteri berbentuk batang aerob yang tidak membentuk
spora. Bakteri ini dapat menahan warnanya walaupun diberikan asam atau alcohol dan
oleh sebab itu dinamakan basil tahan asam
Pada jarigan, basil tuberculosis adalah bakteri batang tipis lurus, sedangkan pada
medium artrifisial, bentuk kokoid dan filamen terlihat dengan bentuk morfologi yang
bervariasi dari satu spesies ke spesies yang lainnya.Mikrobakterium tidak dapat
diklasifikasikan menjadi gram positif atau gram negatif.Sediaan apus sputum
mikrobakterium dapat ditunjukkan dengan florensi kuning oranye setelah pewarnaan
dengan florokrom.
b. Biakan
Harus meliputi medium nonselektif dan medium selektif. Medium selektif
mengandung antibiotic untuk mencegah pertumbuhan berlebihan bakteri yang
mengontaminasi dan fungi.
Medium agar semisintetik
Albumin menetralisir efek toksik dan efek inhibisi asam lemak dalam specimen
atau medium. Inokulum besar,medium ini mungkin kurang sensitif dibandingkan
dengan medium lainuntuk isolasi primer mikrobakterium.
Medium telur inspissated
Medium ini dengan penambahan antibiotic digunakan sebagai medium selektif
Medium kaldu
Proliferasi inokulum kecil.
c. Sifat pertumbuhan
Mikrobakterium adalah aerob obligat. Pertumbuhannya lebih lambat,
replikasi basilus tuberculosis sekitar 18 jam. Saprofitik cenderung untuk
tumbuh lebih cepat dan tidak terlalu bersifat tahan asam bila dibandingkan
dengan bentuk pathogen.

d. Reaksi terhadap bahan fisik dan kimia
Mikrobakterium cenderung lebih resisten terhadap bahan bahan kimia
daripada bakteri lainnya karena sifat hidrofobik permukaan selnya dan
pertumbuhannya yang berkelompok

Komponen basil tuberkel
a. Lipid
Kaya akan lipid yang terdiri dari asam mikolat(asam lemak rantai panjang
C78-C90), lilin, dan fosfat. Muramil dipeptida (dari peptidoglikan) yang
membuat kompleks dengan asam mikolat dapat menyebabkan
pembentukan granuloma, fosfolipid penginduksi nekrosis kaseosa.
Penghilangan lipid dengan menggunakan asam yang panas
menghancurkan sifat tahan asam bakteri ini. Sifat tahan asam juga dapat
dihilangkan setelah sonifikasi sel mikrobakterium.
b.protein
c. polisakarida

4 Mm Tuberkulosis Paru
Definisi:
Tuberculosis adalah penyakit infeksi paru yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis. Sebagian besar kuman TB mengenai paru dan tetapi dapat juga
menyerang organ tubuh lain.
Cara penularan :
1. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif
2. Pada waktu batuk dan bersin (droplet nuclei)
3. Umumnya penularan terjadi bila ada percikan pada ruangan. Ventilasi dapat
mengurangi jumlah percikan sedangkan sinar matahari langsung membunuh
kuman.
4. Daya penularan seseorang ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan
yaitu apabila semakin positif maka akan semakin menular orang tersebut
Faktor risiko adalah: orang orang dengan imunitas tubuh yang rendah misalnya
pada penderita HIV/AIDS dan malnutrisi

Epidemiologi:
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah
mencanangkan tuberkulosis sebagai Global Emergency . Laporan WHO tahun
2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun
2002, dimana 3,9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Sepertiga
penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO
jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus
TB di dunia, namun bila dilihat dari jumlah pendduduk terdapat 182 kasus per
100.000 penduduk. Di Afrika hampir 2 kali lebih besar dari Asia tenggara yaitu
350 per 100.000 pendduduk. Diperkirakan angka kematian akibat TB adalah 8000
setiap hari dan 2 - 3 juta setiap tahun. Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan
bahwa jumlah terbesar kematian akibat TB terdapat di Asia tenggara yaitu
625.000 orang atau angka mortaliti sebesar 39 orang per 100.000 penduduk.
Angka mortaliti tertinggi terdapat di Afrika yaitu 83 per100.000 penduduk,
dimana prevalensi HIV yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan cepat
kasus TB yang muncul.

Patogenesis :




Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di
jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumonik, yang
disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di
bagian mana saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang
primer akan kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus
(limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar
getah bening di hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama
dengan limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks
primer ini akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad
integrum)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon,
garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
3. Menyebar dengan cara :
Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnya
Salah satu contoh adalah epituberkulosis, yaitu suatu kejadian penekanan
bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus yang membesar
sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan, dengan
akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang bronkus
yang tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan
pada lobus yang atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai epituberkulosis.
Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru
sebelahnya atau tertelan.
Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini berkaitan
dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman. Sarang yang
ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetetapi bila tidak terdapat
imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup
gawat seperti tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa, typhobacillosis
Landouzy. Penyebaran ini juga dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat
tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia dan sebagainya.
Komplikasi dan penyebaran ini mungkin berakhir dengan :
- Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan
terbelakang pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis, tuberkuloma )
atau
- Meninggal. Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis primer.


TUBERKULOSIS PASCA-PRIMER
Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian tuberkulosis
post-primer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis post primer
mempunyai nama yang bermacam macam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa,
localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk
tuberkulosis inilah yang terutama menjadi problem kesehatan rakyat, karena dapat
menjadi sumber penularan. Tuberkulosis post-primer dimulai dengan sarang
dini, yang umumnya terletak di segmen apikal dari lobus superior maupun lobus
inferior. Sarang dini ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumonik kecil. Nasib
sarang pneumonik ini akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut :
1. Diresopsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan cacat
2. Sarang tadi mula mula meluas, tetapi segera terjadi proses penyembuhan
dengan penyebukan jaringan fibrosis.
Selanjutnya akan membungkus diri menjadi lebih keras, terjadi perkapuran, dan
akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang tersebut
menjadi aktif kembali, membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila
jaringan keju dibatukkan keluar.
3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kaviti
akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti awalnya
berdinding tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik).

Nasib kaviti ini :
Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru. Sarang
pneumonik ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang disebutkan diatas
Dapat pula memadat dan membungkus diri (encapsulated), dan disebut
tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tetapi mungkin pula
aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi Kaviti bisa pula menjadi bersih
dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti menyembuh dengan
membungkus diri, akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang
terbungkus, dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang (stellate shaped).

KLASIFIKASI TUBERKULOSIS
A. TUBERKULOSIS PARU
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak
termasuk pleura.
1. Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA)
TB paru dibagi atas:
a. Tuberkulosis paru BTA (+) adalah:
- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif
- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan
radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan
positif
b. Tuberkulosis paru BTA (-)
- Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinik dan
kelainan radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif
- Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M.
tuberculosis positif
2. Berdasarkan tipe pasien
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu :
a. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
b. Kasus kambuh (relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan
positif.
Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologik dicurigai lesi
aktif / perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa
kemungkinan :
- Infeksi non TB (pneumonia, bronkiektasis dll) Dalam hal ini berikan dahulu
antibiotik selama 2 minggu, kemudian dievaluasi.
- Infeksi jamur
- TB paru kambuh Bila meragukan harap konsul ke ahlinya.
c. Kasus defaulted atau drop out
Adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih
sebelum masa pengobatannya selesai.
d. Kasus gagal
- Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif
pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan)
- Adalah pasien dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi
BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan
e. Kasus kronik / persisten
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik

B. TUBERKULOSIS EKSTRA PARU
Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh
lain selain paru, misalnya pleura, kelenjar getah bening, selaput otak, perikard,
tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain.
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi. Untuk
kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka diperlukan
bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstra paru aktif.

F. DIAGNOSIS
A. GAMBARAN KLINIK
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan
fisik/jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan pemeriksaan penunjang
lainnya
Gejala klinik
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala lokal dan
gejala sistemik, bila organ yang terkena adalah paru maka gejala lokal ialah gejala
respiratorik (gejala lokal sesuai organ yang terlibat)
1. Gejala respiratorik
- batuk 2 minggu
- batuk darah
- sesak napas
- nyeri dada
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala
yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang pasien terdiagnosis pada saat
medical check up. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit, maka
pasien mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi
bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak ke luar.
2. Gejala sistemik
- Demam
- Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun
3. Gejala tuberkulosis ekstra paru
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada
imfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari
kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis,
sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala sesak napas & kadang nyeri
dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat cairan.
Pemeriksaan Jasmani
Pada pemeriksaan jasmani kelainan yang akan dijumpai tergantung dari organ
yang terlibat.
Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan
struktur paru. Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak
(atau sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di
daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen posterior (S1 & S2) ,
serta daerah apeks lobus inferior (S6). Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan
antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas
melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma & mediastinum.
Pada pleuritis tuberkulosa, kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari
banyaknya cairan di rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak, pada
auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang
terdapat cairan.
Pada limfadenitis tuberkulosa, terlihat pembesaran kelenjar getah bening,
tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadang-
kadang di daerah ketiak. Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi cold
abscess.
Pemeriksaan Bakteriologik
a. Bahan pemeriksasan
Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai
arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan
bakteriologik ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal,
bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar
lavage/BAL), urin, faeces dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH)
b. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan Cara pengambilan dahak 3 kali
(SPS):
- Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
- Pagi ( keesokan harinya )
- Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi)
atau setiap pagi 3 hari berturut-turut.
c. Cara pemeriksaan dahak dan bahan lain.
Pemeriksaan bakteriologik dari spesimen dahak dan bahan lain (cairan pleura,
liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar
/BAL, urin, faeces dan jaringan biopsi, termasuk BJH) dapat dilakukan dengan
cara
- Mikroskopik
- Biakan

Pemeriksaan mikroskopik:
Mikroskopik biasa : pewarnaan Ziehl-Nielsen
Mikroskopik fluoresens: pewarnaan auramin-rhodamin (khususnya untuk
screening)
lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan ialah bila :
3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negatif BTA positif
1 kali positif, 2 kali negatif ulang BTA 3 kali kecuali bila ada fasiliti foto
toraks, kemudian
bila 1 kali positif, 2 kali negatif BTA positif
bila 3 kali negatif BTA negatif
Interpretasi pemeriksaan mikroskopik dibaca dengan skala IUATLD
(rekomendasi WHO).
Skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) :
- Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif
- Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang
ditemukan
- Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (1+)
- Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ (2+)
- Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+)
Interpretasi hasil dapat juga dengan cara Bronkhorst
SkalaBronkhorst (BR) :
- BR I : ditemukan 3-40 batang selama 15 menit pemeriksaan
- BR II : ditemukan sampai 20 batang per 10 lapang pandang
- BR III : ditemukan 20-60 batang per 10 lapang pandang
- BR IV : ditemukan 60-120 batang per 10 lapang pandang
- BR V : ditemukan > 120 batang per 10 lapang pandang

Pemeriksaan biakan kuman:
Pemeriksaan biakan M.tuberculosis dengan metode konvensional ialah dengan
cara :
- Egg base media: Lowenstein-Jensen (dianjurkan), Ogawa, Kudoh
- Agar base media : Middle brook
Melakukan biakan dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosis pasti, dan dapat
mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dan juga Mycobacterium other than
tuberculosis (MOTT). Untuk mendeteksi MOTT dapat digunakan beberapa cara,
baik dengan melihat cepatnya pertumbuhan, menggunakan uji nikotinamid, uji
niasin maupun pencampuran dengan cyanogen bromide serta melihat pigmen
yang timbul.

Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi: foto
lateral, top-lordotik, oblik, CT-Scan.
Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-
macam bentuk (multiform).
Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif :
- Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan
segmen superior lobus bawah
- Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau
nodular
- Bayangan bercak milier
- Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)
Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif
- Fibrotik
- Kalsifikasi
- Schwarte atau penebalan pleura
- Luluh paru (destroyed Lung ) :
Gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat,
biasanya secara klinis disebut luluh paru . Gambaran radiologik luluh paru terdiri
dari atelektasis, ektasis/ multikaviti dan fibrosis parenkim paru. Sulit untuk
menilai aktiviti lesi atau penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologik
tersebut.
- Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikan aktiviti proses
penyakit
- Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat
dinyatakan sbb (terutama pada kasus BTA negatif) :
- Lesi minimal , bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan
luas tidak lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas
chondrostemal junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari vertebra
torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5), serta tidak dijumpai kaviti
- Lesi luas
Bila proses lebih luas dari lesi minimal.

Pemeriksaan khusus
Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalah lamanya waktu
yang dibutuhkan untuk pembiakan kuman tuberkulosis secara konvensional.
Dalam perkembangan kini ada beberapa teknik yang lebih baru yang dapat
mengidentifikasi kuman tuberkulosis secara lebih cepat.
1. Pemeriksaan BACTEC
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah metode
radiometrik. M tuberculosis memetabolisme asam lemak yang kemudian
menghasilkan CO2 yang akan dideteksi growth indexnya oleh mesin ini. Sistem
ini dapat menjadi salah satu alternatif pemeriksaan biakan secara cepat untuk
membantu menegakkan diagnosis dan melakukan uji kepekaan.
2. Polymerase chain reaction (PCR):
Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat mendeteksi DNA,
termasuk DNA M.tuberculosis. Salah satu masalah dalam pelaksanaan teknik ini
adalah kemungkinan kontaminasi. Cara pemeriksaan ini telah cukup banyak
dipakai, kendati masih memerlukan ketelitian dalam pelaksanaannya.
Hasil pemeriksaan PCR dapat membantu untuk menegakkan diagnosis sepanjang
pemeriksaan tersebut dikerjakan dengan cara yang benar dan sesuai standar
internasional.
Apabila hasil pemeriksaan PCR positif sedangkan data lain tidak ada yang
menunjang kearah diagnosis TB, maka hasil tersebut tidak dapat dipakai sebagai
pegangan untuk diagnosis TB
Pada pemeriksaan deteksi M.tb tersebut diatas, bahan / spesimen pemeriksaan
dapat berasal dari paru maupun ekstra paru sesuai dengan organ yang terlibat.
3. Pemeriksaan serologi, dengan berbagai metoda a.1:
a. Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)
Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yang dapat mendeteksi respon
humoral berupa proses antigenantibodi yang terjadi. Beberapa masalah dalam
teknik ini antara lain adalah kemungkinan antibodi menetap dalam waktu yang
cukup lama.
b. ICT
Uji Immunochromatographic tuberculosis (ICT tuberculosis) adalah uji serologik
untuk mendeteksi antibodi M.tuberculosis dalam serum. Uji ICT merupakan uji
diagnostik TB yang menggunakan 5 antigen spesifik yang berasal dari membran
sitoplasma M.tuberculosis, diantaranya antigen M.tb 38 kDa. Ke 5 antigen
tersebut diendapkan dalam bentuk 4 garis melintang pada membran
immunokromatografik (2 antigen diantaranya digabung dalam 1 garis) disamping
garis kontrol. Serum yang akan diperiksa sebanyak 30 ml diteteskan ke
bantalan warna biru, kemudian serum akan berdifusi melewati garis antigen.
Apabila serum mengandung antibodi IgG terhadap M.tuberculosis, maka antibodi
akan berikatan dengan antigen dan membentuk garis warna merah muda. Uji
dinyatakan positif bila setelah 15 menit terbentuk garis kontrol dan minimal satu
dari empat garis antigen pada membran.
c. Mycodot
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalam tubuh manusia. Uji ini
menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang direkatkan pada suatu alat
yang berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini kemudian dicelupkan ke dalam serum
pasien, dan bila di dalam serum tersebut terdapat antibodi spesifik anti LAM
dalam jumlah yang memadai sesuai dengan aktiviti penyakit, maka akan timbul
perubahan warna pada sisir dan dapat dideteksi dengan mudah
d. Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi serologi yang terjadi
dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan serologi yang diperoleh, para klinisi
harus hati hati karena banyak variabel yang mempengaruhi kadar antibodi yang
terdeteksi.

e. Uji serologi yang baru / IgG TB (dr. Erlina)
Saat ini pemeriksaan serologi belum dapat dipakai sebagai pegangan untuk
diagnosis.

Pemeriksaan lain
1. Analisis Cairan Pleura
Pemeriksaan analisis cairan pleura & uji Rivalta cairan pleura perlu dilakukan
pada pasien efusi pleura untuk membantu menegakkan diagnosis. Interpretasi
hasil analisis yang mendukung diagnosis tuberkulosis adalah uji Rivalta positif
dan kesan cairan eksudat, serta pada analisis cairan pleura terdapat sel limfosit
dominan dan glukosa rendah
2. Pemeriksaan histopatologi jaringan
Pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis TB.
Pemeriksaan yang dilakukan ialah pemeriksaan histologi. Bahan jaringan dapat
diperoleh melalui biopsi atau otopsi, yaitu :
Biopsi aspirasi dengan jarum halus (BJH) kelenjar getah bening (KGB)
Biopsi pleura (melalui torakoskopi atau dengan jarum abram, Cope dan Veen
Silverman)
Biopsi jaringan paru (trans bronchial lung biopsy/TBLB) dengan bronkoskopi,
trans thoracal biopsy/TTB, biopsi paru terbuka).
Otopsi
Pada pemeriksaan biopsi sebaiknya diambil 2 sediaan, satu sediaan dimasukkan
ke dalam larutan salin dan dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk dikultur
serta sediaan yang kedua difiksasi untuk pemeriksaan histologi.
3. Pemeriksaan darah
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk
tuberkulosis. Laju endap darah ( LED) jam pertama dan kedua dapat digunakan
sebagai indikator penyembuhan pasien. LED sering meningkat pada proses aktif,
tetapi laju endap darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis.
Limfositpun kurang spesifik.
4. Uji tuberkulin
Uji tuberkulin yang positif menunjukkan adanya infeksi tuberkulosis. Di
Indonesia dengan prevalensi tuberkulosis yang tinggi, uji tuberkulin sebagai alat
bantu diagnostik penyakit kurang berarti pada orang dewasa. Uji ini akan
mempunyai makna bila didapatkan konversi, bula atau apabila kepositifan dari uji
yang didapat besar sekali. Pada malnutrisi dan infeksi HIV uji tuberkulin dapat
memberikan hasil negatif.

G. PENGOBATAN TUBERKULOSIS
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan
fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat
utama dan tambahan.
A. OBAT ANTI TUBERKULOSIS (OAT)
Obat yang dipakai:
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah:
Rifampisin
INH
Pirazinamid
Streptomisin
Etambutol
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
Kanamisin
Amikasin
Kuinolon
Obat lain masih dalam penelitian ; makrolid, amoksilin + asam
klavulanat
Beberapa obat berikut ini belum tersedia di Indonesia antara lain :
o Kapreomisin
o Sikloserino PAS (dulu tersedia)
o Derivat rifampisin dan INH
o Thioamides (ethionamide dan prothionamide)

Efek Samping OAT :
Sebagian besar pasien TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek
samping. Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping, oleh
karena itu pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat
penting dilakukan selama pengobatan.
Efek samping yang terjadi dapat ringan atau berat (terlihat pada tabel 4 &
5), bila efek samping ringan dan dapat diatasi dengan obat simtomatik
maka pemberian OAT dapat dilanjutkan.
1. Isoniazid (INH)
Efek samping ringan dapat berupa tanda-tanda keracunan pada syaraf tepi,
kesemutan, rasa terbakar di kaki dan nyeri otot. Efek ini dapat dikurangi
dengan pemberian piridoksin dengan dosis 100 mg perhari atau dengan
vitamin B kompleks. Pada keadaan tersebut pengobatan dapat diteruskan.
Kelainan lain ialah menyerupai defisiensi piridoksin (syndrom pellagra)
Efek samping berat dapat berupa hepatitis imbas obat yang dapat timbul
pada kurang lebih 0,5% pasien. Bila terjadi hepatitis imbas obat atau
ikterik, hentikan OAT dan pengobatan sesuai dengan pedoman TB pada
keadaan khusus
2. Rifampisin
Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan
pengobatan simtomatik ialah :
- Sindrom flu berupa demam, menggigil dan nyeri tulang
- Sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak nafsu makan, muntah
kadang-kadang diare
- Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan
Efek samping yang berat tetapi jarang terjadi ialah :
- Hepatitis imbas obat atau ikterik, bila terjadi hal tersebut OAT harus
distop dulu dan penatalaksanaan sesuai pedoman TB pada keadaan khusus
- Purpura, anemia hemolitik yang akut, syok dan gagal ginjal. Bila salah
satu dari gejala ini terjadi, rifampisin harus segera dihentikan dan jangan
diberikan lagi walaupun gejalanya telah menghilang
- Sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak napas
Rifampisin dapat menyebabkan warna merah pada air seni, keringat, air
mata, air liur. Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolisme
obat dan tidak berbahaya. Hal ini harus diberitahukan kepada pasien agar
dimengerti dan tidak perlu khawatir.
3. Pirazinamid
Efek samping utama ialah hepatitis imbas obat (penatalaksanaan sesuai
pedoman TB pada keadaan khusus). Nyeri sendi juga dapat terjadi (beri
aspirin) dan kadang-kadang dapat menyebabkan serangan arthritis Gout,
hal ini kemungkinan disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan
asam urat. Kadang-kadang terjadi reaksi demam,mual, kemerahan dan
reaksi kulit yang lain.
4. Etambutol
Etambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa
berkurangnya ketajaman, buta warna untuk warna merah dan hijau.
Meskipun demikian keracunan okuler tersebut tergantung pada dosis yang
dipakai, jarang sekali terjadi bila dosisnya 15-25 mg/kg BB perhari atau
30 mg/kg BB yang diberikan 3 kali seminggu. Gangguan penglihatan akan
kembali normal dalam beberapa minggu setelah obat dihentikan.
Sebaiknya etambutol tidak diberikan pada anak karena risiko kerusakan
okuler sulit untuk dideteksi
5. Streptomisin
Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan
dengan keseimbangan dan pendengaran.
Risiko efek samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan
dosis yang digunakan dan umur pasien.
Risiko tersebut akan meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi
ekskresi ginjal. Gejala efek samping yang terlihat ialah telinga
mendenging (tinitus), pusing dan kehilangan keseimbangan. Keadaan ini
dapat dipulihkan bila obat segera dihentikan atau dosisnya dikurangi
0,25gr. Jika pengobatan diteruskan maka kerusakan alat keseimbangan
makin parah dan menetap (kehilangan keseimbangan dan tuli).
Reaksi hipersensitiviti kadang terjadi berupa demam yang timbul tiba-tiba
disertai sakit kepala, muntah dan eritema pada kulit. Efek samping
sementara dan ringan (jarang terjadi) seperti kesemutan sekitar mulut dan
telinga yang mendenging dapat terjadi segera setelah suntikan. Bila reaksi
ini mengganggu maka dosis dapat dikurangi 0,25gr
Streptomisin dapat menembus barrier plasenta sehingga tidak boleh
diberikan pada wanita hamil sebab dapat merusak syaraf pendengaran
janin.

Catatan : Penatalaksanaan efek samping obat:
Efek samping yang ringan seperti gangguan lambung yang dapat diatasi
secara simptomatik
Pasien dengan reaksi hipersensitif seperti timbulnya rash pada kulit,
umumnya disebabkan oleh INH dan rifampisin. Dalam hal ini dapat
dilakukan pemberian dosis rendah dan desensitsasi dengan pemberian
dosis yang ditingkatkan perlahan-lahan dengan pengawasan yang ketat.
Desensitisasi ini tidak bisa dilakukan terhadap obat lainnya
Kelainan yang harus dihentikan pengobatannya adalah trombositopenia,
syok atau gagal ginjal karena rifampisin, gangguan penglihatan karena
etambutol, gangguan nervus VIll karena streptomisin dan dermatitis
exfoliative dan agranulositosis karena thiacetazon
Bila suatu obat harus diganti, maka paduan obat harus diubah hingga
jangka waktu pengobatan perlu dipertimbangkan kembali dengan baik

2 PMO
Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek
dengan pengawasan langsung. Untuk menjamin keteraturan pengobatan
diperlukan seorang PMO.
a. Persyaratan PMO
Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan
maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien.
Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.
Bersedia membantu pasien dengan sukarela.
Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien

b. Siapa yang bisa jadi PMO
Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya Bidan di Desa, Perawat,
Pekarya, Sanitarian, Juru Immunisasi, dan lain lain. Bila tidak ada petugas
kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru,
anggota PPTI, PKK, atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga.

c. Tugas seorang PMO
Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai
pengobatan.
Memberi dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.
Mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah
ditentukan.
Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB yang mempunyai gejala-
gejala mencurigakan TB untuk segera memeriksakan diri ke Unit Pelayanan
Kesehatan. Tugas seorang PMO bukanlah untuk mengganti kewajiban pasien
mengambil obat dari unit pelayanan kesehatan.

d. Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien
dan keluarganya:
TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan
TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur
Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya
Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan)
Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur
Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta
pertolongan ke UPK

LI.6. Etika Bersin dan Batuk dalam islam

Sesungguhnya Allah itu menyukai bersin dan membenci menguap. Apabila salah
seorang diantara kalian bersin dan memuji Allah, maka wajib bagi setiap muslim
yg mendengarnya untukmendoakannya (HR Bukhari)

Tidak Mendoakan Mereka yang Tidak Memuji Allah
Suatu hari, ada dua orang bersin dihadapan Rasulullah. Namun, hanya
seorang saja yg beliaudoakan. Maka berkatalah orang tersebut, Wahai
Rasulullah, engkau mendoakan dia, akan tetapiengkau tidak
mendoakanku. Rasulullah menjawab, Sesungguhnya orang ini memuji
Allahsetelah dia bersin, sedangkan kamu tidak. (HR Bukhari)

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda Jika salah seorang di antara
kalian bersin dan memuji Allah, maka doakanlah ia. Apabila dia tidak
memuji Allah, maka jangan doakan dia. (HR. Muslim)

Nyatanya, banyak orang yg merasa malu bila tidak mendoakan setiap orang yg
bersin, meskipun ygdidoakannya tidak memuji Allah. Semestinya kita
berpandangan bahwa sikap atau petunjuk ygdiberikan Rasulullah harus lebih
diutamakan dari pada prinsip-prinsip yg lainnya.Di sisi lain, ada sebagian ahli
agama menganjurkan untuk mendoakan orang yg bersin meskipun kita tidak
mendengar ucapan Alhamdulillah dari mulutnya. Tetapi, kita tahu pasti jika dia
termasuk orang yg selalu mengucapkan Alhamdulillah setelah bersin, atau
mulutnya komat-kamit setelah bersin, dan kita menyangka dia membaca
Alhamdulillah. Yg lebih utama adalah mengaplikasikan makna tekstualdari hadits
di atas; kalau tidak, bisa jadi setiap orang yg bersin mengaku bahwa dirinya
telahmengucapkan Alhamdulillah secara tersembunyi.

Oleh karena itu, siapa saja yg bersin kemudian menggerakkan bibirnya dengan
bacaan Alhamdulillah, sedangkan kita yakin dan tidak mendengarnya karena
pelannya suara orang yg bersin tersebut, maka ia wajib didoakan. Apabila kita
tidak begitu yakin, maka kita tetap harus mendoakannya, sebab bisa jadi dia lupa
untuk memuji Allah.

Mengingatkan Orang yang Lupa Memuji Allah Ketika Bersin
Suatu hari, Abdullah bin Mubarak melihat orang yang bersin, tetapi dia
tidak menucapkanAlhamdulillah, maka dia berkata kepadanya, Apa yg
diucapkan seorang muslim jika dia bersin? Orang itu menjawab, Orang
tersebut harus mengucapkan Alhamdulillah. Berkatalah
Mubarak,Yarhamukallah (Semoga Allah Merahmatimu)
Sewaktu kita bertemu dengan orang yg bersin, sementara dia tidak melafadzkan
kata Alhamdulillah, maka kita harus mengingatkannya karena ini merupakan
bagian dari upaya saling menasehati dalam kebenaran dan saling menganjurkan
kepada kebajikan.
Dalam memberi peringatan kepada orang lain kita pun harus memakai redaksi
kalimat yg indah dan santun. Bila orang yg terlupa memuji Allah itu adalah
seorang ulama atau lebih tua dari kita, maka sebaiknya kita menggunakan kalimat
dengan redaksi yg tidak langsung menunjuk kepadanya.

Tidak Mendoakan Setelah Bersin Tiga Kali
Rasulullah bersabda, Jika salah seorang di antara kalian bersin, maka orang
yang ada di dekatnya harus mendoakannya, namun apabila dia bersin lebih
dari tiga kali, maka orang tersebut terserang flu atau demam. Oleh karena
itu, orang yg didekatnya tidak usah mendoakannya setelah bersin yang
ketiga (HR Ibnu Al Sunni)

Dalam riwayat lain beliau juga bersabda,Doakanlah saudara kalian yg bersin tiga
kali, apabilasetelah itu dia masih bersin maka dia itu sakit flu atau demam. (HR
Abu Daud)

Dikisahkan juga bahwa ada orang yg bersin sewaktu Rasulullah berada di sisinya
dan berkatalah ia kepadanya,Yarhamukallah. Dia lalu bersin lagi, Rasulullah
pun bersabda,Orang ini sakit flu atau demam (HR Muslim)

Tidak Mendoakan Non Muslim yg Bersin dan Memuji Allah
Suatu ketika ada orang Yahudi yg sengaja bersin di hadapan Nabi, dengan
harapan Nabi akanberkata kepadanya Yarhamukallah. Akan tetapi, Nabi hanya
berkata kepada mereka, Yahdikumullah wa Yushlihu Balakum (HR Abu Daud)
Seseorang yang bersin dan memuji Allah setelahnya, maka orang tersebut
senantiasa merasakan betapa besarnya anugerah dannikmat yg Allah berikan.
Allah telah menjaganya dari marabahaya dan menjauhkan dirinya dari penyakit.
Sampai kapanpun juga kita tidak akan pernah mampu menyukuri setiap nikmat
Allah yg jumlahnya tidak terhitung.Sikap seperti inilah yg menimbulkan
ketundukan dan bersimpuhnya kita dihadapan Allah
.

Dafpus:
Raden,Dr.H inmar.2011.Anatomi kedokteran sistem repiratorius.jakarta: bagian
anatomi FK YARSI
Mikrobiologi jawetz.2011. Jakarta: EGC
Aru W Sudoyo dkk. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Jakarta: interna
publishing
Dr R Darmanto Djojodibroto. 2011.Respiratory medicine. Jakarta: EGC