Anda di halaman 1dari 26

Analisis Jurnal Ilmah

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Dengan Metode Eksperimen Pada
Materi Getaran Dan Gelombang Kelas VIII di SMP N 1 Bangsal Mojokerto
Nama Peneliti : Septina
Universitas : UNESA( Universitas Negeri Surabaya)
Fakultas : pendidikan Fisika

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jurnal yang dianalisis berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Dengan
Metode Eksperimen Pada Materi Getaran Dan Gelombang Kelas VIII di SMPN 1 Bangsal
Mojokerto . Model kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) ini merupakan
salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dimana siswa ditempat dalam
team belajar beranggotakan 4 orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya,
jenis kelamin, dan suku. (http: // tulisansingkatimal @blogspot.com).

Sehingga di dalam pemilihan STAD cocok untuk mengajarkan tujuan-tujuan yang terdefinisikan
dengan jelas seperti konsep-konsep sains dan juga ide utama dibalik STAD adalah untuk
memotivasi siswa saling memberi semangat dan membantu dalam menuntaskan keterampilan-
keterampilan yang diperesentasikan guru. Dan juga metode eksperimen adalah suatu cara
mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati
prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan
ke kelas dan dievalusi oleh guru.

Tercapainya skor lebih dari 3 pada tiap pertemuan yang termasuk dalam kategori baik pada
aspek penilaian, mengidentifikasikan bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran
kooperatif tipe STAD pada kelas eksperimen, replikasi, dan juga kelas kontrol mulai dari tahap
pendahuluan, kegatan inti, dan penutup dengan proses belajar mengajar yang terjadi di kelas
telah berlangsung dengan baik. Hal ini karena perangkat pembelajaran yang diterapkan peneliti
telah sesuai dengan terlaksana dengan baik pada setiap pertemuan. (jurnal halaman 5).

Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa penerapan model pembelajran kooperatif tipe STAD
dengan metode eksperimen berpotensi meningkatkan hasil belajar siswa. Kesimpulannya
adalah Judul dan isi ( hasil dan pembahasan) sudah tersinkronisasi dengan baik atau sudah
saling berhubungan. Model kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) ini
merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dimana siswa
ditempat dalam team belajar beranggotakan 4 orang yang merupakan campuran menurut
tingkat kinerjanya, jenis kelamin, dan suku. (http: // tulisansingkatimal @blogspot.com).

Sehingga di dalam pemilihan STAD cocok untuk mengajarkan tujuan-tujuan yang terdefinisikan
dengan jelas seperti konsep-konsep sains dan juga ide utama dibalik STAD adalah untuk
memotivasi siswa saling memberi semangat dan membantu dalam menuntaskan keterampilan-
keterampilan yang diperesentasikan guru. Dan juga metode eksperimen adalah suatu cara
mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati
prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan
ke kelas dan dievalusi oleh guru.

Tercapainya skor lebih dari 3 pada tiap pertemuan yang termasuk dalam kategori baik pada
aspek penilaian, mengidentifikasikan bahwa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran
kooperatif tipe STAD pada kelas eksperimen, replikasi, dan juga kelas kontrol mulai dari tahap
pendahuluan, kegatan inti, dan penutup dengan proses belajar mengajar yang terjadi di kelas
telah berlangsung dengan baik. Hal ini karena perangkat pembelajaran yang diterapkan peneliti
telah sesuai dengan terlaksana dengan baik pada setiap pertemuan. (jurnal halaman 5).

Berdasarkan uraian di atas nampak bahwa penerapan model pembelajran kooperatif tipe STAD
dengan metode eksperimen berpotensi meningkatkan hasil belajar siswa.


B. Rumusan Masalah

Secara khusus masalah penelitian ini dirumuskan ke dalam sub-sub masalah sebagai berikut ini
:

- Bagaimana hasil hasil belajar siswa kelas VIII di SMP N 1 Bangsal Mojokerto melalui
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen pada materi
getaran dan gelombang ?

- Bagaimana aktivitas siswa kelas VIII di SMP N 1 Bangsal Mojokerto melalui kegiatan kegiatan
belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen pada
materi getaran dan gelombang ?

- Bagaimana respon siswa kelas VIII di SMP N 1 Bangsal Mojokerto melalui kegiatan belajar
mengajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen pada
materi getaran dan gelombang ?


C. Tujuan

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan sebagai berikut:

- Mendeskripsikan hasil belajar siswa kelas VIII di SMP N 1 Bangsal Mojokerto melalui
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen pada materi
getaran dan gelombang,

- Mendeskripsikan aktivitas siswa kelas VIII di SMP N 1 Bangsal Mojokerto melalui kegiatan
kegiatan belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen
pada materi getaran dan gelombang,

- Mendeskripsikan respon siswa kelas VIII di SMP N 1 Bangsal Mojokerto melalui kegiatan
belajar mengajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode
eksperimen pada materi getaran dan gelombang.


D. Manfaat

Dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan psikomotorik maupun afektif
bukan hanya kognitifnya saja. Sesuai didalam kurikulum yang berlaku saat ini.


E. Ruang Lingkup Penelitian

1. Variable Penelitian

Sugiyono (2004:39) mengatakan, Variabel Penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai
dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

a. Variabel bebas

Menurut Sugiyono (2004:39) variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi
atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Variabel
bebas dalam peneilitian ini adalah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Dengan Metode Eksperimen.

b. Variabel Terikat

Menurut Sugiyono (2004:40) variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel
terikat adalah hasil belajar siswa pada materi Pada Materi Getaran Dan Gelombang Kelas VIII
di SMPN 1 Bangsal Mojokerto

2. Definisi Operasional

a. Model Pembelajaran Tipe STAD dengan metode eksperimen

Model Pembelajaran Tipe STAD (Student Team Achievement Divisions )adalah salah satu tipe
pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar
beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya, jenis
kelamin dan suku dengan cara memberikan kesempatan kepada anak didik perorangan atau
kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan.

b. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah ukuran tingkat keberhasilan siswa didalam mencapai ketuntasan materi
pelajaran berupa skor yang diperoleh dari tes mengenai sejumlah materi pelajaran yang
diajarkan. Hasil belajar yang dimaksud pada penelitan ini adalah skor yang diperoleh dalam
mengerjakan soal-soal penelitian yang diberikan sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran
dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen.

c. Aktivitas Siswa

Aktivitas siswa didalam penelitian ini ialah kegiatan belajar yang dilakukan siswa ketika
mengikuti proses pembelajaran dengan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dengan metode eksperimen.

d. Respon Siswa

Respon siswa pada penelitian in dimaksudkan adalah tanggapan siswa terhadap sejumlah
pertanyaan mengenai pembelajaran materi Getaran dan Gelombang dengan menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen dengan menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen Jawaban ini
berdasarkan pada pengamatan didalam proses pembelajaran.



F. HIPOTESIS

Hipotesis penelitian ini adalah hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran STAD
dengan metode eksperimen lebih baik dari pada hasil belajar siswa memalui penerapan model
pembelajaran model STAD dengan metode demonstrasi dengan aktivitas berdiskusi dengan
anggota kelompok dan siswa memberikan respon yang baik terhadap penerapan model
pembelajaran STAD dengan metode eksperimen.





BAB II

KAJIAN TEORI



A. MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama
diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri:

- Untuk memuntaskan materi belajarnya, siswa belajar dalam kelompok secara bekerja sama

- Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah

- Jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang heterogen ras, suku, budaya, dan jenis kelamin,
maka diupayakan agar tiap kelompok terdapat keheterogenan tersebut.

- Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.



1. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Hasil belajar akademik , yaitu untuk meningkatkan kinerja siswa dalm tugas-tugas akademik.
Pembelajaran model ini dianggap unggul dalam membantu siswa dalam memahami konsep-
konsep yang sulit.

Penerimaan terhadap keragaman, yaitu agar siswa menerima teman-temannya yang
mempunyai berbagai macam latar belakang.

Pengembangan keterampilan social, yaitu untuk mengembangkan keterampilan social siswa
diantaranya: berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman
untuk bertanya, mau mengungkapkan ide, dan bekerja dalam kelompok.







2. Fase-fase Model Pembelajaran Kooperatif :


Fase

Indikator

Aktivitas Guru


1

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan
memotivasi siswa


2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan


3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan transisi efisien


4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas


5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya


6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun
kelompok.




B. Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif di Kelas

Yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan model pembelajaran kooperatif di kelas,
diantaranya:

1. Pilih pendekatan apa yang akan digunakan, misal STAD, Jigsaw, Investigasi Kelompok, dll.

2. Pilih materi yang sesuai untuk model ini

3. Mempersiapkan kelompok yang heterogen

4. menyiapkan LKS atau panduan belajar siswa

5. merencanakan waktu, tempat duduk yang akan digunakan.

Beberapa pendekatan pada model pembelajaran kooperatif dan perbandingannya:


Pendekatan
Unsur

STAD

Jigsaw

Kelompok Penyelidikan

Pendekatan Struktur


Tujuan Kognitif

Informasi akademik sederhana

Informasi akademik sederhana

Informasi akademik tingkat tinggi dan keterampilan inkuiri

Informasi akademik sederhana


Tujuan Sosial

Kerjasama dalam kelompok

Kerjasama dalam kelompok

Kerjasama dalam kelompok kompleks

Keterampilan kelompok dan sosial


Struktur Kelompok

Kelompok heterogen dengan 4-5 orang

Kelompok heterogen dengan 5-6 orang dan menggunakan kelompok asal dan kelompok ahli

Kelompok homogen dengan 5-6 orang

Kelompok heterogen dengan 4-6 orang


Pemilihan topik

Oleh guru

Oleh guru

Oleh siswa

Oleh guru


Tugas utama

Menggunakan LKS dan saling membantu untuk menuntaskan materi

Mempelajari materi dalam kelompok ahli dan membantu kelompok asal mempelajari materi

menyelesaikan inkuiri kompleks

Mengerjakan tugas yang diberikan baik social maupun kognitif


Penilaian

Tes mingguan, jenis tes biasanya berupa kuis

Bervariasi, misal tes mingguan, jenis tes biasanya berupa kuis

Menyelesaikan proyek dan menulis laporan.




C. Pengertian Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didasarkan pada alasan bahwa manusia
sebagai makhluk individu yang berbeda satu sama lain sehingga konsekuensi logisnya manusia
harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesama (Nurhadi 2003: 60)

Abdurrahman dan Bintoro (2000) dalam Nurhadi 2003 : 61 menyatakan Pembelajaran
kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait.

Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya (1) saling
ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka, (3) akuntabilitas individual, dan (4)
keterampilan untuk menjalin hubungan antara pribadi atau keterampilan sosial yang secara
sengaja diajarkan. Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok
bisa dianggap coopartive learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model
pembelajaran gotong royong harus diterapkan :

1. Saling ketergantungan positif

2. Tanggungjawab perseorangan

3. Tatap Muka

4. Komunikasi antar anggota

5. Evaluasi proses kelompok (Anita Lie, 1999 : 30)

Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping
model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model
pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa (Usman,
2002 : 30).Jadi pola belajar kelompok dengan cara kerjasama antar siswa dapat mendorong
timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan meningkatkan kreativitas siswa, pembelajaran juga
dapat mempertahankan nilai sosial bangsa Indonesia yang perlu dipertahankan.
Ketergantungan timbal balik mereka memotivasi mereka untuk dapat bekerja lebih keras untuk
keberhasilan mereka, hubungan kooperatif juga mendorong siswa untuk menghargai gagasan
temannya bukan sebaliknya.

Adapun karakteristik pembelajaran kooperatif adalah :

Siswa bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajar

Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki keterampilan tinggi, sedang dan rendah.

Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang
berbeda.

Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu (Ibrahim. dkk, 2000 : 6)

Tujuan penting lain dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa
keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk dimiliki di dalam
masyarakat di mana banyak kerja orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi
yang saling bergantungan satu sama lain dan di mana masyarakat secara budaya semakin
beragam (Ibrahim, dkk, 2000 : 9). Sedangkan menurut Linda Lungren (1994 : 120) dalam
(Ibrahim, dkk. 2000 : 18) ada beberapa manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan
prestasi belajar yang rendah, yaitu:

1. Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas

2. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi

3. Memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah

4. Memperbaiki kehadiran

5. Angka putus sekolah menjadi rendah

6. Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar

7. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil

8. Konflik antar pribadi berkurang

9. Sikap apatis berkurang

10. Pemahaman yang lebih mendalam

11. Motivasi lebih besar

12. Hasil belajar lebih tinggi

13. Retensi lebih lama

14. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
Jadi, pembelajaran kooperatif mencerminkan pandangan bahwa manusia belajar dari
pengalaman mereka dan partisipasi aktif dalam kelompok kecil membantu siswa belajar
keterampilan sosial yang penting, sementara itu secara bersamaan mengembangkan sikap
demokrasi dan keterampilan berpikir logis.



D. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aronson dkk di Universitas Texas dan
kemudian diadaptasi oleh Slaven dkk di Universitas Jhon Hopkins. Dalam terapan tipe jigsaw,
siswa dibagi menjadi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok belajar
heterogen. Materi pelajaran diberikan pada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota
bertanggungjawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan. Anggota dari
kelompok yang lain mendapat tugas topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik
tersebut. Kelompok ini disebut dengan kelompok ahli (Ibrahim, dkk. 2000 : 52).

Langkah-langkah model jigsaw dibagi menjadi enam tahapan, yaitu :

Menyampaikan tujuan belajar dan membangkitkan motivasi

Menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi disertai penjelasan verbal, buku teks,
atau bentuk lain

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar

Mengelola dan membantu siswa dalam belajar kelompok dan kerja di tempat duduk masing-
masin

Mengetes penguasaan kelompok atas bahan ajar

Pemberian penghargaan atau pengakuan terhadap hasil belajar siswa (Nurhadi dan Agus
Gerrard, 2003 : 40)

Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa :

Menyiapkan tujuan belajar dan membangkitkan motivasi

Beberapa aspek dari tujuan dan motivasi siswa tidak berbeda untuk pembelajaran model
jigsaw. Guru yang berhasil memulai pelajaran dengan menelaah ulang, menjelaskan tujuan
mereka dengan bahasa yang mudah dipahami, dengan menunjukkan bagaimana pelajaran itu
terkait dengan pelajaran sebelumnya.

Menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi disertai penjelasan verbal, buku teks
atau bentuk-bentuk lain

Menyajikan informasi verbal secara jelas kepada siswa dan memberikan petunjuk bagaimana
melakukannya. Petunjuk itu tidak akan diulang di sini. Bagaimanapun juga, penting untuk
menggarisbawahi suatu perhatian singkat tentang penggunaan buku teks.

Pemberian penghargaan atau pengakuan terhadap hasil belajar siswa

Dalam pembelajaran kooperatif, guru harus hati-hati dengan cara menilai yang diterapkan di
luar sistem penilaian mingguan yang baru diuraikan di atas. Konsisten dengan konsep struktur
penghargaan kooperatif adalah penting bagi guru untuk menghargai hasil kelompok dua-
duanya hasil akhir dan perilaku kooperatif yang menghasilkan suatu solusi dilema ini dengan
memberikan dua evaluasi bagi siswa, satu untuk upaya kelompok dan satu untuk setiap
sumbangan seseorang individu.



Dalam pelaksanaannya, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki kelebihan dan
kekurangan, di antara kelebihannya, yaitu:

Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain

Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan

Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompoknya

Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif

Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain (Ibrahim, dkk. 2000 : 70).

Sedangkan kekurangannya, yaitu :

Membutuhkan waktu yang lama

Siswa cenderung tidak mau apabila disatukan dengan temannya yang kurang pandai apabila
ia sendiri yang pandai dan yang kurang pandaipun merasa minder apabila digabungkan dengan
temannya yang pandai walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya
(Ibrahim, 2000 : 71).



E. Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division (STAD)
Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division), tipe ini
dikembangkan pertama kali oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John
Hopkins dan merupakan model pembelajaran kooperatif paling sederhana (Ibrahim dkk, 2000 :
6). Masing-masing kelompok memiliki kemampuan akademik yang heterogen (Depelovment MA
Project, 2002 : 31), sehingga dalam satu kelompok akan terdapat satu siswa berkemampuan
tinggi, dua orang kemampuan sedang dan satu siswa lagi berkemampuan rendah. Para guru
pengguna metode STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap
minggu, baik melalui pengajian verbal maupun tertulis (Ibrahim, dkk, 2000 : 20).Kelebihan
dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah:

Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain

Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan

Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif

Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain (Ibrahim, dkk. 2000 : 72).

Sedangkan kekurangan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah:

Membutuhkan waktu yang lama

Siswa cenderung tidak mau apabila disatukan dengan temannya yang kurang pandai apabila
ia sendiri yang pandai dan yang kurang pandaipun merasa minder apabila digabungkan dengan
temannya yang pandai walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya
(Ibrahim, 2000 : 72).

Tes , Siswa diberikan kuis dan tes secara perorangan. Pada tahap ini setiap siswa harus
memperhatikan kemampuannya dan menunjukkan apa yang diperoleh pada kegiatan kelompok
dengan cara menjawab soal kuis atau tes sesuai dengan kemampuannya. Pada saat
mengerjakan kuias atau tes ini, setiap siswa bekerja sendiri bekerja sama dengan anggota
kelompoknya.

Penentuan Skor, Hasil kuis atau tes diperiksa oleh guru, setiap skor yang diperoleh siswa
masukkan dalam daftar skor individual, untuk melihat peningkatan kemampuan individual. Rata-
rata skor peningkatan individual merupakan sumbangan bagi kinerja percapaian hasil
kelompok.

Penghargaan terhadap kelompok, Berdasarkan skor peningkatan individu diperoleh skor
kelompok. Dengan demikian, skor kelompok sangat tergantung dari sumbangan skor individu.

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan system
pengelompokan/tim kecil,yaitu antara empat antara enam orang yang mempunyai latar
belakang kemampuan akademik,jenis kelamin,rasa tau suku yang berbeda.Sistem penilaian
dilakukan terhadap kelompok,setiap kelompok akan memperoleh penghargaan atau reward,jika
kelompok mampu menunjukkan prestasi yang dipersyaratkan. Dengan demikian setiap anggota
kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Ketergantungan semacam itulah yang
selanjutnya akan memunculkan tanggungjawab individu terhadap kelompok dan ketrampilan
interpersonal dari setiap anggota kelompok.

Strategi Pembelajaran Kooperatif bisa digunakan manakala :

- Guru menekankan pentingnya usaha kolektif,disamping usaha individual dalam belajar.

- Jika guru menghendaki selruh siswa untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar

- Jika guru ingin menanamkan,bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya.

- Jika guru menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai
bagian dari isi kurikulum.

- Jika guru menghendaki meningkatnya motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi
mereka

- Jika guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan
menemukan berbagai solusi pemecahan.

F. METODE EKSPERIMEN

Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau
kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Dengan metode ini anak didik
diharapkan sepenuhnya terlibat merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen,
menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan variabel, dan memecahkan masalah
yang dihadapinya secara nyata.

1. Kelebihan Metode Eksperimen

a. Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan
berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku;

b. Anak didik dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi)
tentang ilmu dan teknologi, suatu sikap yang dituntut dari seorang ilmuwan; dan

c. Dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru
dengan penemuan sebagai hasil percobaannya yang diharapkan dapat bermanfaat bagi
kesejahteraan hidup manusia.

2. Kekurangan Metode Eksperimen

a. Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan
eksperimen;

b. Jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, anak didik harus menanti untuk
melanjutkan pelajaran; serta

c. Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.

BAB III

PROSEUDUR PENELITIAN





A. Metode dan Bentuk Penelitian

1. Metode penelitian

Metode penelitian yang digunakan pada jurnal tersebut adalah penelitian eksperimen Menurut
Sugiyono (2008: 107), penelitian eksperimental dapat diartikan sebagai metode penelitian yang
digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang
terkendalikan. Berdasarkan pengertian tersebut dengan melihat hasil penelitian dan analisis
data yang digunakan pada jurnal ini dapat dikatakan bahwa penelitian ini sudah memenuhi
kriteria penggunaan metode penelitian eksperimen.

2. Bentuk Penelitian

Bentuk dari desain peneliti ini menggunakan True Eksperimental ( eksperimen betul-betul )yaitu
menggunakan randomized control group pretest posttest design dengan tiga kelas eksperimen
(VIIIA, VIIIC, VIIIF) dan satu kelas kontrol (VIIIG). Salah satu ciri dari true eksperimental adalah
bahwa sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok control yang
diambil secara random dari populasi tertentu. Atau dapat dikatakan adanya kelompok control
dan sampel dipilih secara acak / random. ( sugiyono 2008:112). Teknik random sampling
adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil
kepada setiap elemen populasi. Artinya jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan
dijadikan sampel adalah 25, maka setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100
untuk bisa dipilih menjadi sampel.

Pemilihan teknik secara random dikarenakan peneliti menjadikan ukuran untuk
mengestimasikan populasi, atau istilahnya adalah melakukan generalisasi maka seharusnya
sampel representatif dan diambil secara acak. bisa dijadikan ukuran untuk mengestimasikan
populasi, atau istilahnya adalah melakukan generalisasi maka seharusnya sampel representatif
dan diambil secara acak.

Secara teori control group pretest posttest design mengambil sampel 2 kelas eksperimen dan 2
kelas control secara random berbeda dengan yang dilakukan oleh peneliti yang hanya
mengambil sampel untuk kelas control satu kelas sedangkan untuk kelas eksperimen 3 kelas.
Sehingga dapat dibedakan dengan mudah setelah diberikan perlakuan dengan menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Adapun desain penelitian ini adalah menggunakan
desain control group pre-test post test seperti pada gambar 3.1 berikut.





E 01 X 02

K 03 X 04











Gambar 3.1 Desain Penelitian Control Group pre-test and post-test



Keterangan :

E = kelas eksperimen (kelompok yang menggunakan pembelajaran koopertif model Treffinger)

K = kelas kontrol (kelompok yang menggunakan pembelajaran konvensinal)

01 = hasil pre-test kelas eksperimen

02 = hasil post-test kelas eksperimen

03 = hasil pre-test kelas kontrol

04 = hasil post-test kelas kontrol

X = perlakukan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol

(Arikunto, 2006:86)



B. Populasi dan sampel

1. Populasi

Secara sederhana, populasi diartikan sebagai keseluruhan subyek penelitian (Suharmi
Arikunto, 2006: 130). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah sebagai
keseluruhan objek penelitian sebagai sumber data yang akan diolah untuk mendapatkan suatu
kesimpulan. Untuk populasi dengan banyak elemen, pengukuran karakter populasi dilakukan
melalui sejumlah elemen yang dipilih dari populasi tersebut dengan suatu metode tertentu. Cara
pengambilan sejumlah elemen dari populasi ini disebut dengan sampling, dan elemen yang
dipilih melalui cara ini disebut sebagai sampel (sample). Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa-siswa kelas VIII SMPN 1 Bangsal Mojokerto.

2. Sampel

Sedangkan untuk Sampel yang diambil peneliti adalah kelas VIII A, VIII B , VIII F dan VIII G.
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling khususnya
cluster sampling. Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel
berdasarkan kelompok. Berbeda dengan teknik pemgambilan sampel acak yang
distratifikasikan, dimana setiap unusur dalam satu kelompok memiliki karakterisitik yang
homogen, maka dalam clusuter bisa saja terkandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda
atau hehterogen. Teknik cluster sampling dapat ditempuh melalui dua cara yaitu dengn satu
tahap atau dengan dua tahap. Jika semua kelompok yang ada dalam populasi diambil satu
sampel, maka pengambilan cluster sampling hanya satu tahap. Tapi jika tidak semua kelompok
pada populasi yang diambil, tapi hanya beberapa kelompok saja, maka prosedurnya
menggunakan cluster sampling dua tahap.

Tahapan dalam tekinik cluster sampling atau area sampling adalah

a. Tahapan pertama : dari semua kelompok anggota populasi hanya dipilih beberapa kelompok
sebagai sampel daerah secara acak.

b. Tahapan kedua : dari beberapa kelompok sampel daerah tersebut, tetapkan individu-individu
mana yang menjadi sampel (secara acak). Misalnya dibidang pendidikan, akan ditentukan
mana siswa kelas eksperimen dan siswa kelas control.

(http://www.buatskripsi.com/2011/02/langkah-cluster-sampling tahapan.html)

Dari penjelasan cluster random sampling tersebut, maka penelitian ini menggunakan teknik ini
dengan memilih sampel kelas eksperimen dan control dari populasi kelas VIII SMP N 1 Bangsal
Mojokerto. Yang mana tiga kelas diambil sebagai kelas eksperimen dan satu kelas sebagai
kelas control. Sampel kelas eksperimen terdiri atas kelas kelas VIII A, VIII B , VIII F sedangkan
untuk kelas control hanya terdiri dari satu kelas VIII G. Pemilihan teknik ini karena cluster
random sampling lebih menekankan kepada kelompok bukan individu yang sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh si peneliti.

C. Teknik dan alat pengumpul data

1. Teknik Pengumpul Data

Menurut Hadari Nawawi (2003:94-95), ada enam teknik pengumpulan data dalam suatu
penelitian yang terdiri dari :

a. Teknik observasi langsung

b. Teknik observasi tidak langsung

c. Teknik komunikasi langsung

d. Teknik komunikasi tidak langsung

e. Teknik pengukuran

f. Teknik studi dokumenter

Dari keenam teknik diatas, peneliti menggunakan teknik-teknik sebagai berikut :

a. Teknik observasi langsung

Yaitu cara mengumpulkan data yang dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-
gejala yang tampak pada objek penelitian yang pelaksanaannya langsung pada tempat dimana
suatu peristiwa, keadaan atau situasi sedang terjadi. Peneliti melakukan pengamatan langsung
terhadap proses belajar mengajar pada mata pelajaran IPA Terpadu di Kelas VIII di SMPN 1
Bangsal Mojokerto pada saat proses belajar mengajar dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen.

b. Teknik komunikasi langsung

Yaitu cara mengumpulkan data yang mengharuskan seorang peneliti mengadakan kontak
langsung secara lisan atau tatap muka (face to face) dengan guru dan siswa, baik dalam situasi
yang sebenarnya maupun dalam situasi yang sengaja dibuat untuk keperluan tersebut. Peneliti
mengadakan wawancara kepada guru mata pelajaran IPA Terpadu Kelas VIII di SMPN 1
Bangsal Mojokerto



c. Teknik komunikasi tidak langsung

Yaitu cara mengumpulkan data yang dilakukan dengan mengadakan hubungan tidak langsung
atau dengan perantaraan alat, baik berupa alat yang sudah tersedia maupun alat khusus yang
dibuat untuk keperluan itu. Dalam hal ini, peneliti menggunakan angket.

Angket disini bertujuan untuk mengetahui respon siswa terhadap keberhasilan dalam
menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD ( Student Teams
Achievement Divisions) dengan metode eksperimen. Respon siswa yang diharapkan adalah
model pembelajaran disukai, siswa lebih aktif, lebih mudah memahami materi fisika khususnya
getaran dan gelombang sehingga siswa dalam pengerjaan soal-soal yang diberikan dapat
dikerjaan dengan sangat baik.

d. Teknik pengukuran

Yaitu cara mengumpulkan data yang bersifat kuantitatif untuk mengetahui tingkat atau derajat
aspek tertentu dibandingkan dengan norma tertentu pula sebagai satuan ukur yang relevan.
Peneliti memberikan pertanyaan kepada siswa berupa evaluasi proses belajar pembelajaran
dengan pada saat proses belajar mengajar dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif
tipe STAD dengan metode eksperimen pada materi getaran dan gelombang Kelas VIII di SMPN
1 Bangsal Mojokerto.

e. Teknik studi dokumenter

Yaitu cara mengumpulkan data yang dilakukan dengan kategorisasi dan klasifikasi bahan-
bahan tertulis yang berhubungan dengan masalah penelitian, baik dari sumber dokumen yang
berhubungan dengan SMPN 1 Bangsal Mojokerto (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran).



2. Alat Pengumpul Data

a. Non Tes

1) Daftar cek yaitu pencatatan data yang dilakukan dengan menggunakan sebuah daftar yang
memuat apa-apa atau gejala-gejala yang akan diamati yang terjadi di SMPN 1 Bangsal
Mojokerto.

2) Pedoman interviu yaitu alat yang digunakan dalam pengumpulan data, dimana penulis akan
mengadakan kontak langsung dengan guru mata pelajaran fisika kelas VIII SMPN 1 Bangsal
Mojokerto. Penulis mengajukan sejumlah pertanyaan yang telah disusun secara lisan. Hasil
interviu ini dijadikan sebagai bahan penunjang dalam mengambil keputusan hasil penelitian.

3) Angket/kuisioner merupakan alat pengumpulan data dari teknik komunikasi tidak langsung.
Angket yaitu suatu alat pengumpulan data dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan-
pertanyaan tertulis kepada responden yaitu siswa kelas VIII di SMPN 1 Bangsal Mojokerto.
Angket ini bersifat terstruktur tertutup dan siswa hanya memilih salah satu alternatif jawaban
yang telah disediakan.

Alternaif jawaban terdiri dari 4 (empat) pilihan yaitu :

- Alternatif jawaban a dengan bobot nilai 4.

- Alternatif jawaban b dengan bobot nilai 3.

- Alternatif jawaban c dengan bobot nilai 2.

- Alternatif jawaban d dengan bobot nilai 1.

Respon siswa dapat dilihat dalam pengisian angket yang diberikan peneliti terhadap siswa.

b. Tes

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif dalam bentuk pilihan ganda Tes
tertulis ini bertujuan adalah untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa pada
materi getaran dan gelombang yang diberikan pada awal pembelajaran (pretest) dan akhir
pembelajaran (posttest). Soal untuk pretest dan posttest adalah sama.

Pretest dilakukan untuk dapat menganalisis kemampuan awal siswa sehingga dapat dilakukan
perlakuan agar kemampuan siswa lebih meningkat. Perlakuan yang dimaksud adalah
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen.



D. Analisis Data

Adapun teknik yang digunakan dalam rencana pengolahan data adalah melalui perhitungan
statistik inferensial. Statistik inferensial adalah teknik statistik yang digunakan untuk
menganalisis data sample dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Teknik pengambilan
sampel dari populasi dilakukan secara random. Statistik ini disebut juga sebagai statistik
probabilitas, karena kesimpulan yang diberlakukan untuk populasi berdasarkan data sampel
kebenaranya bersifat peluang dan memiliki taraf kesalahan tertentu. Peluang kesalahan dan
kebenaran (kepercayaan) dalam statistik ini disebut dengan taraf signifikasi (Sugiyono,
2009:151). Statisitik ini terdiri atas 2 jenis antar lain , statistic parametrik dan statistic non
parametrik. Metode statistik dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu statistik parametrik dan
statistik nonparametrik. Pengujian parametrik merupakan cara menguji hipotesis yang
didasarkan pada beberapa asumsi:

1. Observasi sampel harus dipilih dari populasi yang dianggap memiliki distribusi normal.
dalam kasus pengujian beda 2 parameter atau lebih, populasi-populasi tersebut bukan saja
dianggap memiliki distribusi normal tetapi juga memiliki varians yang sama (asumsi
homoskedastisitas).

Keabsahan asumsi tersebut menentukan sejauhmana hasil uji parametrik tersebut berarti atau
tidak. Sedangkan metode nonparametrik tidak pernah merumuskan asumsi mengenai populasi
darimana sampelnya dipilih. Metode statistik yang digunakan pada statistik nonparametrik
adalah yang berhubungan dengan data yang berbentuk ranking atau data kualitatif (skala
nominal atau ordinal) atau data kuantitatif yang tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu
statistik nonparametrik seringkali disebut dengan statistik bebas distribusi. Pada statistik
nonparametrik, kita akan menguji karakteristik populasi tanpa menggunakan spesifik parameter.
Oleh karena itu statistik uji ini disebut dengan statistik nonparametrik yaitu akan menguji apakah
lokasi populasi berbeda dari pada menguji apakah rata-rata populasi berbeda.
(http://digensia.wordpress.com/2012/02/23/pengertian-statistik-parametrik-dan nonparametrik/).

Dalam penelitian ini menggunakan uji parametrik karena didalam pengolahan data sampling
dibuktikan terdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan sampel dalam penelitian ini yang
mana kelas VIII A VIII B VIII F VIII G dianalisis hasil pre-test dengan menggunakan uji
normalitas dan homogenitas yang bertujuan untuk mengetahui apakah semua sampling
terdistribusi normal dan terbukti homogen sedangkan hasil posttest dianalisis dengan
menggunakan uji-t dua pihak dan satu pihak.

Uji normalitas berguna untuk menentukan data yang telah dikumpulkan berdistribusi normal
atau diambil dari populasi normal. Metode klasik dalam pengujian normalitas suatu data tidak
begitu rumit. Berdasarkan pengalaman empiris beberapa pakar statistik, data yang banyaknya
lebih dari 30 angka (n > 30), maka sudah dapat diasumsikan berdistribusi normal. Biasa
dikatakan sebagai sampel besar. uji statistik normalitas yang dapat digunakan diantaranya Chi-
Square.

Metode Chi Square

(Uji Goodness Of Fit Distribusi Normal)

Metode Chi-Square atau X2 untuk Uji Goodness of fit Distribusi Normal menggunakan
pendekatan penjumlahan penyimpangan data observasi tiap kelas dengan nilai yang
diharapkan

Keterangan :

X2 = Nilai X2

Oi = Nilai observasi

Ei = Nilai expected / harapan, luasan interval kelas berdasarkan tabel normal dikalikan N (total
frekuensi) (pi x N)

N = Banyaknya angka pada data (total frekuensi)

Persyaratan Metode Chi Square (Uji Goodness of fit Distribusi Normal)
a. Data tersusun berkelompok atau dikelompokkan dalam tabel distribus frekuensi.
b. Cocok untuk data dengan banyaknya angka besar ( n > 30 )
c. Setiap sel harus terisi, yang kurang dari 5 digabungkan.



Signifikansi:
Signifikansi uji, nilai X2 hitung dibandingkan dengan X2 tabel (Chi-Square).
Jika nilai X2 hitung < nilai X2 tabel, maka Ho diterima ; Ha ditolak.
Jika nilai X2 hitung > nilai X2 tabel, maka maka Ho ditolak ; Ha diterima.
(http://statistikian.blogspot.com/2013/01/uji-normalitas.html)

Pengujian homogenitas adalah pengujian mengenai sama tidaknya variansi-variansi dua buah
distribusi atau lebih. Uji homogenitas yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Uji
Homogenitas Variansi dan Uji Bartlett. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah
data dalam variabel X dan Y bersifat homogen atau tidak.
UJI HOMOGENITAS VARIANSI

Langkah-langkah menghitung uji homogenitas :

1. Mencari Varians/Standar deviasi Variabel X danY, dengan rumus :



2. Mencari F hitung dengan dari varians X danY, dengan rumus :



3. Membandingkan Fhitung dengan Ftabel pada tabel distribusi F, dengan

Untuk varians terbesar adalah dk pembilang n-1

Untuk varians terkecil adalah dk penyebut n-1

JikaFhitung < Ftabel, berarti homogeny

JikaFhitung > Ftabel, berarti tidak homogen

Dari hasil penelitian data terdisribusi normal dan terbukti homogen. Yang berarti



Untuk postestnya dianalisis dengan menggunakan uji t dua pihak dan satu pihak untuk
mengetahui bahwa hasil belajar siswa keals eksperimen lebih baik daripada kelas control. Uji
hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

Apabila data berdistribusi normal maka digunakan statistik parametris yaitu dengan
menggunakan test t. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

(1) Menghitung harga thitung menggunakan rumus:

thitung (Arikunto, 2010: 349)

Md = mean dari perbedaan pretest dengan posttest

xd = deviasi masing-masing subjek (d-Md)

X2d = jumlah kuadrat deviasi

N = subjek sampel deviasi

d.b. = ditentukan dengan N-1



(Arikunto, 2010: 350)

Keterangan:

- d merupakan gain

- N merupakan jumlah subjek

Untuk memperoleh dapat ditempuh dengan rumus berikut.

(Arikunto, 2010: 351)

(2) Mencari harga ttabel yang tercantum pada tabel nilai t dengan berpegang pada derajat
kebebasan (db) yang telah diperoleh , baik pada taraf signifikansi 1 % ataupun 5 %. Rumus
derajat kebebasan adalah db = N -1

Melakukan perbandingan antara thitung dan ttabel . Jika thitung lebih besar atau sama dengan
ttabel maka Ho ditolak, sebaliknya Ha diterima atau disetujui yang berarti terdapat peningkatan
pemahaman konsep secara signifikan. Jika thitung lebih kecil daripada ttabel maka Ho diterima
dan Ha ditolak yang berarti tidak terdapat peningkatan pemahaman konsep secara signifikan.
(Sudijono, 1999: 291) Uji-t menilai apakah mean (rata-rata) dan keragaman dari dua kelompok
berbeda secara statistik satu sama lain. Analisis ini digunakan apabila kita ingin
membandingkan mean dan keragaman dari dua kelompok data, dan cocok sebagai analisis dua
kelompok rancangan percobaan acak. Dimana jika thitung > ttabel Hi diterima (signifikan) dan
jika thitung < ttabel Ho diterima (tidak signifikan).uji t digunakan untuk membuat keputusan
apakah hipotesis terbukti atau tidak, dimana tingkat signifikan yang digunakan yaitu 5%. Hi
disini adalah hipotesis yang diajukan dapat diterima, untuk Ho hipotesis ditolak.

Penelitian ini menganalisis kognitif siswa dengan memberikan pretest dan postest. Yang mana
pretest di analisis dengan menggunakan uji normalitas dan uji homogenitas dan hasilnya
terbukti terdistribusi normal dan terbukti data bersifat homogen. Sedangkan untuk postest
dianalisis menggunakan uji t dua pihak dan satu pihak yang mana Uji satu pihak (uji 1-arah/one
tail) digunakan untuk melakukan uji hipotesis ketika peneliti memiliki asumsi tambahan
mengenai arah/kecenderungan dari suatu karakteristik. Namun, apabila peneliti tidak
mempertimbangkan mengenai arah/kecenderungan dari karakteristik, maka uji dua pihak (uji 2-
arah) sebaiknya digunakan. dan hasilnya rata-rata hasil belajar eksperimen lebih baik daripada
kelas kontrol. Kelas kontrol disini adalah diberi perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD dengan metode demonstrasi. Selain itu peneliti juga menganalisis aspek psikomotor dan
afektif siswa menggunakan analisis uji t satu pihak dan dua pihak.

Dari hasil penelitian ini didapat nilai nilai t hitung selalu lebih besar dari t tabel sehingga dapat
dikatakan penelitian dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student
Teams Achievement Divisions)dengan metode eksperimen dapat menngkatkan respon positif
siswa.



BAB IV

PEMBAHASAN

Peneliti ini menghasilkan beberapa temuan diantaranya mengenai respon siswa setelah
menerapkan salah satu model koperatif tipe STAD ( Student Teams Achievement Divisions ).
Respon siswa dapat diketahui dari pengisian lembar angket respon siswa terhadap model
pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan metode eksperimen sebagai berikut:

1. Pembelajaran denggan menggunakan model pembelajaran koopertif tipe STAD dengan
metode eksperimen sangat disukai

2. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran koopertaif tipe STAD dengan
metode eksperimen membuat lebih aktif dalam proses pembelajaran.

3. Pembelajaran dengan menggunkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD membuat
lebih mudah memahami materi fisika khusunya getaran dan gelombang

4. Kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode eksperimen membuat lebih mudah
dalam memahami materi fisika khususnya getaran dan gelombang

5. Eksperimen/percobaan sesuai dengan pelajaran yang daiajarkan

6. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan
metode eksperimen membuat lebih mudah dalam menyelesaikan soal-soal dan tugas-tugas
yang diberikan oleh guru .

7. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan metode
eksperimen membuat termotivasi untuk belajar dan berprestasi

8. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan
metode eksperimen membuat mudah dalam mengerjakan evaluasi pada materi getaran dan
gelombang

9. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
denganmetode eksperimen terus digunakan untuk pembelajaran pada materi yang selanjutnya.

Berdasarkan analisis data dan pembahasan terhadap jurnal ilmiah pendidikan fisika, diperoleh
bahwa pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran koopeartif tipe STAD dengan
metode eksperimen lebih baik dari dari pembelajaran koopertif tipe STAD dengan metode
demonstrasi.

BAB V

PENUTUP



1. KESIMPULAN

Hasil dari penelitian ini adalah hasil belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran STAD
dengan metode eksperimen lebih baik dari pada hasil belajar siswa memalui penerapan model
pembelajaran model STAD dengan metode demonstrasi dengan aktivitas berdiskusi dengan
anggota kelompok dan siswa memberikan respon yang baik terhadap penerapan model
pembelajaran STAD dengan metode eksperimen.

2. SARAN

Dalam pembuatan jurnal ini terdapat kekurangan diantaranya tidak berdasarkan dalam
penulisan menurut EYD misalnya dalam penulisan perkata, spasi kata hubung yang baik dan
benar, dan penyesuaian pemilihan desain pretest posttest control group tidak sesuai dengan
teori yang menyatakan bahwa sampel kelas eksperimen dan control dipilih masing-masing 2
kelas. Sehingga dapat dibandingkan hasil penelitian lebih akurat. Oleh Karena itu sebaiknya
peneliti lebih teliti dalam penulisan ataupun banyk membaca agar tidak terjadi kesalahan dalam
pembuatan jurnal ilmiah pendidikan fisik