Anda di halaman 1dari 54

TUGAS GEOLOGI MI NYAK BUMI

NAMA : SEPTIWIANDARI
NIM:125090707111007





J URUSAN FISIKA
PROGRAM STUDI GEOFISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJ AYA
MALANG
2014
BAB 3
Cara Terdapatnya Minyak dan Gas Bumi
Pada prinsipnya minyak bumi terdapat dalam 2 cara utama, yaitu :
Pada permukaan bumi, terutama sebagai rembasan (seepages atau seeps), kadang-kadanag
juga sebagai suatu danau, sumber atau sebagai pasir yang dijenuhi minyak bumi.
Di dalam kerak bumi, sebagai suatu akumulasi, yaitu sebagai penjenuhan batuan yang
sebetulnya hanyalah satu-satunya cara terdapat yang mempunyai arti ekonomi.
Sebagai suatu penjenuhan batuan didalam kerak bumi, minyak bumi bisa terdapat :
a. Dalam jumlah kecil atau yang disebut juga sebagai tanda-tanda minyak (oil shows).
b. Dalam jumlah akumulasi yang komersiil, yaitu cukup besar untuk dapat diproduksi
secara umum.
Akumulasi komersiil, tergantung sekali pada jumlah pori batuan yang terdapat, besarnya dan
caranya pori dapat meluluskan minyak dan juga persentasi cairan yang menjenuhi batuan
tersebut.
3.1 Minyak Bumi Pada Permukaan
Di berbagai daerah minyak, termasuk juga di Indonesia, minyak bumi pada permukaan
ditemukan dalam bentuk yang dinamakan rembasan (seep). Berdasarkan gejala cara
timbulnya, minyak pada permukaan dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu :
1. Yang masih aktif, yaitu minyak keluar sebagai sumber bersama-sama dengan air,
keluar ataupun merembas secara perlahan-lahan untuk kemudian membentuk suatu
danau aspal, atau dapat pula keluar secara aktif dari suatu gunung api lumpur
(mudvolcano).
2. Yang telah mati atau tidak aktif lagi, dapat merupakan batu pasir yang dijenuhi oleh
bitumina, suatu zat semacam aspal, yang merupakan sisa atau residu penguapan fraksi
ringan dari suatu minyak bumi.
3.1.1 Rembasan Minyak Bumi
Link (1952) memberikan suatu klasifikasi berbagai macam rembasan yang dapat terjadi di
suatu daerah. Dibedakan olehnya lima jenis utama rembasan yang mula jadinya dapat
diterangkan sebagai berikut :
1. Rembasan yang keluar dari homoklin dimana ujungnya telah tererosi atau tersingkap,
akan tetapi lapisan minyaknya sendiri belum sampai pada permukaan.
2. Rembasan minyak yang berasosiasi dengan lapisan dan formasi tempat minyak
tersebut terbentuk. Biasanya lapisan serpih yang merupakan batuan induk minyak
bumi jika teretakkan dan terhancurkan akan membebaskan minyak dalam jumlah
kecil.
3. Rembasan minyak dan gas yang keluar dari akumulasi minyak yang besar dan telah
tersingkap oleh erosi atau reservoirnya telah dihancur-luluhkan oleh patahan dan
lipatan. Variasi cara keluarnya rembasan yaitu keluarnya minyak dari patahan normal
suatu lapisan homoklin ataupun akumulasi struktur yang kemudian keluar melalui
patahan.
4. Minyak merembas keluar pada permukaan sepanjang bidang ketidakselarasan. Untuk
mengetahui dari mana asalnya minyak bumi tersebut susah sekali, tetapi mungkin
minyak kea rah bawah dari kemiringan ketidakselarasan tersebut.
5. Rembasan yang berasosiasi dengan intrusi, seperti gunung api lumpur, intrusi batuan
beku atau penusukan oleh kubah garam.
Dapat disimpulkan bahwa adanya rembasan minyak pada permukaan bumi tidak usah selalu
diasosiasikan dengan adanya suatu reservoir minyak dibawahnya. Adanya rembasan harus
diperhatikan dari segi explorasi minyak dan gas bumi, karena :
a. Rembasan menunjukkan bahwa batuan sedimen di daerah tersebut mampu
membentuk minyak bumi.
b. Rembasan mungkin sekali berasosiasi dengan suatu reservoir minyak di bawahnya
yang mengalami kebocoran.
Secara tektonik rembasan minyak didapatkan dalam cekungan sedimen dengan struktur yang
kandungan minyaknya telah terasosiasikan atau telah dihancurkan sehingga lapisan minyak
tersebut keluar pada permukaan, pada pinggiran cekungan atau juga pada jalur dengan
ketidakselarasan sampai ke permukaan. Rembasan didefinisikan sebagai tempat pemunculan
gas dan cairan hidrokarbon pada permukaan bumi, yang dapat diamati. Seringkali keluarnya
minyak dari rembasan diikuti dengan gas dan biasanya berasosiasi dengan air asin.
3.1.2 Gunung Api Lumpur (mudvolcano)
Mudvolcano adalah setiap extrusi pada permukaan lempung atau lumpur yang secara
morfologi membentuk suatu kerucut yang diatasnya terdapat suatu telaga. Extrusi tersebut
dibarengi dengan keluarnya gas dan air (kadang-kadang juga minyak) secara kuat, bahkan
dengan ledakan. Menurut asalnya dapat dibedakan 2 macam gunung api lumpur, yaitu :
1. Gunung api lumpur jenis dangkal. J enis ini biasanya berasosiasi dengan minyak bumi
dan merupakan kerucut lumpur yang dihasilkan oleh extrusi lempung dan sedikit atau
banyak klastik.
2. Gunung api lumpur jenis dalam. J enis ini biasanya berasosiasi dengan suatu keadaan
geologi yang lapisan sedimennya belum terkompaksikan, mempunyai tekanan tinggi
dan mengakibatkan timbulnya diapir dari serpih ataupun penusukan oleh serpih.
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa berasosiasinya gunung api lumpur jenis dalam
ini dengan minyak bumi hanyalah secara kebetulan saja, karena intrusi diapir lumpur secara
kebetulan menerobos lapisan yang mengandung minyak sehingga mengeluarkan minyak
bumi pada waktu erupsi.

3.1.3 Telaga Aspal Buton
Telaga aspalyang terdapat di pulau Buton dapat diklasifikasikan sebagai suatu lapisan
homoklin yang tersingkap ke luar dan tererosikan. Minyak yang mengalir secara perlahan-
lahan membentuk suatu telaga pada tempat perembasan keluar dan fraksi ringannya telah
menguap. Lapisan yang mengandung aspal tersebut adalah gamping globigerina yang
berpori-pori dan gamping terumbu yang dinamakan formasi Sampolaksa. Formasi ini
mengandung batu pasir yang dijenuhi 10 sampai 20% bitumina, bahkan sampai 30%.
3.2 Minyak Bumi dalam Kerak Bumi
3.2.1 akumulasi lokal
Di dalam kerak bumi, minyak bumi selalu didapatkan dalam lapisan berpori. Dilihat dari segi
jumlahnya, maka minyak bumi dapat ditemukan sebagai :
1. J ejak-jejak (minor occurrences), yaitu dalam jumlah sedikit-sedikit saja.
2. Suatu akumulasi (terdapat dalam jumlah besar atau dari segi ekonomi terkumpul
secara menguntungkan)
Sebetulnya minyak bumi atau hidrokarbon didapatkan pada berbagai macam formasi atau
lapisan sebagai tanda-tanda minyak atau hidrokarbon dalam jumlah yang sedikit (minor
showing). Arti dari tanda-tanda tersebut ialah :
a. Bahwa lapisan tempat terdapatnya tanda-tanda itu sedikit banyak pernah mengandung
minyak.
b. Ada kemungkinan besar lubang bor yang menembus lapisan yang mengandung
minyak sedikit itu terdapat di dekat atau di pinggiran suatu akumulasi minyak yang
penting.
Dapat disimpulkan, bahwa sebetulnya hidrokarbon di dalam formasi itu merupakan
komponen yang biasa saja, namun karena terdapatnya tersebar dan dalam jumlah sedikit
mereka tidak mempunyai arti ekonomi.
3.2.1.1 Cara Mendeteksi
Adanya tanda-tanda minyak yang sedikit atau yang kemudian dapat menunjukkan adanya
akumulasi yang komersiil adalah :
1. Lumpur pemboran. Pada waktu pemboran, lumpur yang dipakai pelumas bercampur
dan melarutkan minyak yang terdapat dalam formasi yang sedang ditembus oleh mata
bor.
2. Serbuk pemboran. Keratan batuan yang didapatkan pada pemboran dibawa oleh
lumpur ke permukaan dan diperiksa oleh seorang ahli geologi yang menunggui sumur
tersebut.
Teknik penyelidikan adanya tanda-tanda minyak dalam serbuk pemboran atau lumpur
pemboran merupakan suatu teknik tersendiri dengan menggunakan sinar ultraviolet.
3.2.1.2 Akumulasi komersiil
Suatu lapisan reservoir yang mengandung minyak dapat disebut komersiil jika dari lapisan
tersebut minyak dapat diproduksi secara menguntungkan. Suatu akumulasi minyak dan gas
bumi dikatakan menguntungkan jika jumlah minyak yang dihasilkannya dapat
diperdagangkan dengan pendapatan yang dapat menutup biaya explorasi dan produksi serta
member laba. Beberapa factor terpenting diantaranya adalah :
1. Harga minyak di pasaran bebas
2. J umlah cadangan yang terdapat dalam akumulasi
3. Produktivitas reservoir sebagaimana dihasilkan oleh setiap sumur
4. Biaya produksi, exploitasi, explorasi yang sangat berbeda dari satu daerah ke daerah
lain.
5. Pajak dan biaya lainnya.
3.2.2 Pengertian reservoir, lapangan dan daerah minyak
3.2.2.1 Reservoir Minyak
Suatu reservoir adalah wadah tempat minyak terkumpul. Istilah lain untuk reservoir yang
bersifat batuan yang seluruhnya dijenuhi oleh minyak bumi adalah telaga minyak atau kolam
minyak, yang berarti satuan minyak terkecil yang mengisi reservoir itu sendiri yang berada
dalam suatu sistem tekanan yang sama.
3.2.1.1 Lapangan Minyak
Lapangan minyak atau lading minyak adalah daerah yang dibawahnya mempunyai akumulasi
minyak dalam beberapa telaga minyak dan terdapat dalam suatu gejala geologi yang sama.
Gejala tersebut dapat bersifat stratigafi ataupun struktur, yang keseluruhannya menjadi
kumpulan kolam minyak tersebut.
3.2.2.3 Lapangan minyak dan gas raksasa
Lapangan minyak dan gas raksasa adalah lapangan yang mempunyai cadangan minyak dan
gas bumi lebih dari 500 juta barrel (Halbouty,1970). Terkenal adalah lapangan minyak
Ghawar di Arab Saudi. Di Indonesia lapangan minyak Minas di Sumatra Tengah termasuk
lapangan raksasa.
3.2.2.4 Propinsi atau daerah minyak
Propinsi atau daerah minyak adalah daerah dimana sejumlah telaga dan lapangan minnyak
berkelompok dalam lingkungan geologi yang sama. Daerah minyak sering juga disebut
cekungan minyak dan biasanya merupakan cekungan sedimen.
3.2.3 Keadaan dan Cara Terdapatnya Minyak Bumi dalam Reservoir
3.2.3.1 Prinsip utama dalam reservoir
Suatu reservoir haruslah tertutup pada bagian atas dan pinggirnya oleh lapisan penutup dan
kemudian diberi untuk perangkap. Suatu perangkap sebetulnya tidak lain adalah suatu tempat
fluida. Wadah ini tidaklah terbuka ke atas tetapi haruslah terbuka ke bawah. Terbukanya ke
bawah dapat dengan berbagai macam cara :
1. Terbuka seluruhnya kebawah, sebagaimana didapatkan pada perangkap struktur.
Misalnya pada sumbu antiklin.
2. Setengah terbuka ke bawah, misalnya suatu pernagkap stratigrafi dimana hanya
sebagan saja dari bagian bawah perangkap tersebut terbuka.
3. Tertutup sama sekali, misalnya terdapat jika batuan reservoir sangat terbatas
penyebarannya sehingga berbentuk suatu lensa.
Selain beberapa factor geologi yang sangat menentukan ekonomis tidaknya suatu akumulasi
minyak bumi, antara lain :
1. Tebal lapisan reservoir
2. Tutupan (closure)
3. Penyebaran batuan reservoir
4. Porositas dan permeabilitas efektif

3.2.3.2 Cara terdapatnya fluida dalam reservoir
Keadaan dalam reservoir hanyalah dapat kita ketahui berdasarkan pada beberapa interpretasi
daripada :
1. Fluida yang didapatkan dari inti pengeboran
2. Contoh fluida yang diambil dari dasar pemboran
3. Contoh fluida yang diambil pada permukaan sumur yang sedang diproduksikan
4. Studi sejarah produksi satu atau lebih sumur, seperti penurunan tekanan reservoir,
peningkatan atau penurunan produksi.
Peranan air. Didalam kerak bumi, lapisan reservoir mau tidak mau selalu terisi oleh air dan
hampir tidak pernah ditemukan suatu lapisan reservoir tanpa air.
Dengan demikian minyak akan selalu mencari bagian tertinggi daripada suatu reservoir dan
akan dikepung oleh air dari bawah.
Sifat air formasi. Air yang terdapat dalam formasi selain dinamakan air formasi. Air ini
biasanya mengandunng berbagai macam garam. Akan tetapi kadang-kadang air formasi dapat
pula bersifat payau, atau asin sekali. Kadar garam tentunya sangat mempengaruhi berat jenis
air formasi.
Susunan kimia air formasi :
Semua anion adalah praktis klorida dan hanya terdapat jejak saja dari HCO3- dan SO4- ,
sedangkan kation sendiri dari Na+, Ca++dan Mg++
Asal air formasi :
Dapat diperkirakan bahwa air formasi berasal dari air laut yang ikut terendapkan dengan
sedimen sekelilingnya, jadi merupakan air laut fosil.
Penyebaran dari ketiga macam fasa dalam reservoir ditentukan oleh sifat fasa, antara lain :
1. Berat jenis
Berat jenis sangat dipengaruhi oleh kadar garam yang terlarut didalamnya. Berat jenis
minyak bumi dapat berkisar dari 0,6 sampai 1,0. Biasanya selalu kurang dari 1,0.
Berat jenis gas terhadap itu berkisar dari 0,061 sampai 0,965. Berat jenis gas jauh
lebih kecil daripada berat jenis minyak bumi.
2. Daya larut masing-masing fluida
Daya larut dalam minyakbumi lebih besar llagi dan biasanya berkisar dari beberapa
kaki kubik sampai ribuan kaki kubik untuk setiap barrel. Lebih besar tekanan lebih
besar pula daya larutnya, sampai dicapai suatu titik penjenuhan.
3. Kapilaritas
Dari ilmu fisika diketahuii bahwa di dalam lubang-lubang kecil terdapat 2 fasa cairan
yang tidak asing melarutkan. Hal ini disebut sebagai tekanan kapiler (Pc) yang
dinyatakan dalam dyne/cm2. Tekanan kapiler didapatkan jika 2 fluida tidak dapat
larut berada dalam persentuhan.
Pc=
2y .cos 0

Pc=tekanan kapiler
y=tekanan permukaan
0=sudut kontak permukaan air minyak
r=radius efektif pipa kapiler
levorsen dan Berry (1967) yang berarti bahwa fluida mempunyai tegangan antar muka
yang sama. Maka bagi batuan berbutir lebih halus serta porositas dan permeabilitas
yang lebih rendah, diperlukan tekanan kapiler lebih besar untuk dapat memasukkan
suatu fasa yang tidak membasahi ke dalam pori.
Dari pembahasan diatas jelaslah bahwa tekanan kapiler memegang peranan penting
pada batas antara minyak dan air ; halus kasarnya suatu batuan reservoir
mempengaruhi juga tinggi rendahnya berbagai macam batas air minyak.
4. Penjenuhan masing-masing fluida dalam batuan reservoir
Didalam suatu reservoir, jarang sekali minyak terdapat 100% menjenuhi lapisan
reservoir. Biasanya air terdapat sebagai interstitial water yang berkisar dari beberapa
persen sampai kadang-kadang lebih dari 50%, tetapi biasanya antara 10 sampai 30%.
Penjenuhan air dinyatakan sebagai Sw(water saturation), jika Sw lebih besar dari
50%, minyak masih dapat keluar; akan tetapi pada umunya harus lebih kecil 50%.
Sifat batas minyak, air, gas. Pertama-tama dalam keadaan hidrostatik maka gas selalu berada
paling atas, kemudian diikuti oleh minyak dibawahnya, dan yang paling bawah lagi adalah air
yang menerus dalam seluruh reservoir. Hal ini disebabkan karena perbedaan yang menyolok
diantara ketiga fluida tadi.

3.2.3.3 Tekanan Reservoir
Tekanan reservoir adalah tekanan yang diberikan oleh zat yang mengisi rongga
reservoir,baik gas, minyak ataupun air. Secara prinsipil tekanan formasi masih harus kurang
atau paling tidak sama dengan tekanan beban total. Timbulnya tekanan reservoir disebabkan
adanya :
1. Gradien hidrostatik, yang disebabkan karena tekanan kolom air yang ada dalam
formasi sampi ke permukaan ; biasanya kira-kira 66 meter dibawah permukaan.
2. Gradien hidrodinamika, yang merupakan komponen lateral dari perbedaan tinggi
kolom air di berbagai tempat.
3. Gradient hidrodinamika, yang merupakan komponen lateral dari perbedaan tinggi
kolom air di berbagai tempat.
4. Gradient geostatic, yang disebut juga sebagai tekanan beban total dan disebabkan
karena adanya beban material yang terdapat diatas suatu titik dalam kerak bumi.
Gradient geostatic dapat dibagi menjadi 2 komponen :
1. Gradient litostatik (vertical)(PLv)
2. Gradient hidrostatik (PH)
5. Gradient geodinamik, yang disebabkan karena gaya tektonik yang bekerja pada
batuan secara lateral.
Tekanan formasi yang abnormal. Yang dimaksud dengan formasi yang abnormal biasanya
adalah tekanan formasi yang lebih tinggi dari yang diperhitungkan dari gradient hidrostatik.
Tekanan formasi yang abnormal itu biasanya terjadi dalam cekungan sedimen dimana
kompaksi tidak berlangsung secara baik dan sering berasosiasi dengan diapir serpih dan
gunung api lumpur.
Tekanan formasi yang dibawah normal. Selain tekanan formasi yang tinggi, sekali-kali
ditemukan pula tekanan formasi yang sangat rendah dibawah tekanan hidrostatik.

3.2.3.4 Temperatur Reservoir
Temperature reservoir minyak dan gas bumi terutama ditentukan oleh
kedalamannya, makin dalam makin tinggi temperaturnya. Gradient panas bumi didefinisikan
sebagai berikut :

gradient panas bumi =temperatur formasi tempertur permukaan tahunan rata-rata
kedalaman (dalam kaki atau meter)
gradient panas bumi dinyatakan sebagai F/100 kaki atau C/100 meter atau dalam nilai
kebalikannya kaki/F. di Indonesia, tingginya gradient panas bumi di banyak daerah
menyebabkan kurangnya prospek dibawah kedalaman 4000 meter. Sumber panas dengan
temperature tinggi :
1. Radiasi dari inti bumi (sumber utama)
2. Aktivitas magma dan gunung api (terutama memberikan gradient yang abnormal
tinggi)
3. Lain-lain sumber, seperti efek gaya tektonik, daerah penekukan lempeng tektonik,
diapir serpih dan lain-lain.
3.3 Penyebaran Minyak dan Gas bumi di Dunia
3.3.1 Penyebaran Vertikal

Lapisan minyak berada diantara kedalaman 1000 sampai 3000 meter. Dengan
teknologi pemboran yang lebih maju, terutama pemboran di laut, mungkin angka-angka
tersebut telah sedikit berubah. Sebetulnya lebih banyak minyak bumi terdapat pada
kedalaman lebih dari 2000 sampai 3000 meter. Akan tetapi dari segi gradient panas bumi
serta teori degradasi termal dan pematangan minyak bumi, angka-angka memang sesuai.

3.3.2 Penyebaran Geografi
Minyak bumi didapatkan di daratan, di pegunungan ataupun di bawah lautan.
Secara umum boleh dikatakan bahwa terdapatnya minyak bumi adalah di daerah yang rendah
dan di paparan lautan (continental shelf) dan jarang sekali di pegunungan tinggi. Ternyata ada
dua daerah yang kaya akar minyak bumi ini yang selanjutnya disebut sebagai kutub minyak
bumi, adalah : 1. Timur tengah 2. Teluk mexico meliputi Venezuela dan Amerika serikat.





3.3.3 Penyebaran Di Daratan Dan Di Lepas Pantai
Pada permulaan tahun enam-puluhan orang telah menguasai teknik explorasi dan
pemboran di lautan. Explorasi lepas pantai besar-besaran dilaksanakan terutama di landasan
kontinen.

3.4 Kerangka Geologi Penyebaran Minyak Dan Gas Bumi
3.4.1 Kerangka umum-pengertian cekungan minyak
Minyak bumi ternyata selalu didapatkan dalam cekungan sedimen dan tidak
pernah didapatkan dalam cekungan sedimen dan tidak pernah didapatkan di daerah batuan
beku dan metamorf. Cekungan sedimen dibedakan secara klasik menjadi :
1. Geosinklin, suatu cekungan yang memanjang dimana lapisan sedimen yang sangat
tebal diendapkan secara cepat dan akhirnya menghasilkan struktur pelipatan yang
ketat dan rumit.
2. Daerah epi-kontinental, terletak antara geosinklin dengan perisai benua dan
merupakan juga daerah dimana sedimentasi tebal terjadi, tetapi kemudian tidak
terlipat secara kuat.
3. Daerah paparan kontinen, merupakan daerah dimana lapisan sedimen tidak terlalu
tebal. Dan juga merupakan daerah yang kaya akan minyak.
3.4.2 Penyebaran Cekungan Sedimen Ditinjau Dari Tektonik Lempeng
Klemme (1970) membagi cekungan sedimen berdasarkan kerangka tektonik
lempeng. Cekungan diatas kerak benua :
1. Cekungan pedalaman : berbentuk piring yang sederhana yang pada umunya tertutup
lapisan paleozoikum.
2. Lengkungan intra continental : biasanya bersiklus banyak, terdapat di bagian luar
daerah kraton benua, dan pada umumnya terdiri dari sedimen paleozoikum.
3. Cekungan graben atau setengah graben : terdapat di paaling luar kraton, dan sering
berhubungan dengan cekungan samudra pada zaman mesozoikum dan tersier.
Cekungan peralihan kerak benua-kerak samudera :
1. Cekungan extrakontinental : terjadi karena penekukan lempeng kea rah daerah
samudera, dapat terdiri dari satu atau lebih palung, dan membuka kea rah samudera.
Cekungan ini berbentuk lonjong dan sejajar dengan paparan atau kraton yang stabil.
2. Cekungan pantai stabil atau cekungan patahan-graben pantai : terdapat pada pantai
stabil dari benu, tepi benua depanjang samudera atlantik dan beberapa penarik-
pisahan yang dimulai dengan cekungan graben-setengah graben.
3. Cekungan intermontan : cekungan memanjang stadium kedua : terdapat pada
pinggiran benua dimana kerak benua berpapasan dengan kerak samudera.
4. Cekungan jurus intermontan : biasanya berasosiasi dengan permukaan kerak
samudera ke bawah kerak kontinen, seperti di Indonesia
5. Delat tersier : merupakan penimbunan berbentuk kipas yang tebal dan melintasi
pinggiran benua dimana sistem sungai besar bermuara.
3.4.3 Penyebaran Akumulasi Minyak Ditinjau Dari Segi Stratigrafi Dan Umur
Penyebaran akumulasi minyak bumi dari umur ke umur tidaklah merata dan
perioda tertentu menunjukkan cadangan yang sangat menonjol. Misalnya saja jaman tersier,
ternyata menghasilkan 58,1% dari produksi kumulatif seluruh dunia, jaman kapur 19,6%,
sedangkan trias-jura 4,3% dan paleozoikum 18% (data tahun 1947). Di Indonesia minyak
bumi hanya terdapat dalam umur tersier, terutama miosen. Akan tetapi umur miosen juga
penting di Timur Tengah ; formasi Asmari di Iran misalnya, adalah gamping berumur Miosen
dan merupakan reservoir yang penting. Tidak semua jaman geologi menghasilkan minyak
bumi, akan tetapi beberapa jaman telah menghasilkan minyak secara berkelebihan, sedangkan
zaman lainnya hanya sedikit saja.




















BAB 4
BATUAN RESERVOIR
Reservoir adalah bagian kerak bumi yang mengandung minyak dan gas bumi. Cara
terdapatnya minyak dan gas bumi dibawah permukaan haruslah memenuhi beberapa syarat,
yang merupakan unsure-unsur suatu reservoir minyak bumi. Unsure tersebut adalah :
1. Batuan reservoir, sebagai wadah yang diisi dan dijenuhi oleh minyak dan gas bumi.
2. Lapisan penutup (cap rock), yaitu suatu lapisan yang tidak permeabel atau lulus
minyak, yang terdapat diatas suatu reservoir dan menghalang-halangi minyak dan gas
yang akan keluar dari reservoir.
3. Perangkap reservoir, yaitu suatu unsure pembentuk reservoir yang bentuknya
sedemikian rupa sehingga lapisan beserta penutupnya merupakan bentuk konkav ke
bawah dan menyebabkan minyak dan gas bumi berada di bagian teratas reservoir.

4.1 Pengertian Batuan Reservoir, Porositas dan Permeabilitas
Batuan reservoir adalah wadah dibawah permukaan yang mengandung minyak dan
gas. Ruangan penyimpanan minyak dalam reservoir berupa rongga-rongga atau pori-pori
yang terdapat diantara butiran mineral atau dapat pula didalam rekahan batuan yang
mempunyai porositas rendah. Pada hakekatnya setiap batuan dapat bertindak sebagai batuan
reservoir asal mempunyai kemampuan untuk dapat menyimpan serta melepaskan minyak
bumi. Menurut Payne (1942), perbedaan antara porositas dan permeabilitas ialah, bahwa
porositas menentukan jumlah cairan yang terdapat sedangkan permeabilitas menentukan
jumlahnya yang dapat diproduksikan. J adi, reservoir merupakan bagian kecil daripada batuan
reservoir yang berada dalam keadaan sedemikian sehingga membentuk suatu perangkap.

4.2 Porositas
4.2.1 Pengertian Porositas
Porositas suatu medium adalah perbandingan volum rongga-rongga pori terhadap
volum total seluruh batuan. Perbandingan ini biasanya dinyatakan dalam persen dan disebut
porositas.
Rumus : Porositas = = volum pori-pori x 100%
Volum keseluruhan batuan
Porositas efektif yaitu apabila bagian rongga-rongga didalam batuan berhubungan, sehingga
dengan demikian porositas efektif biasanya lebih kecil daripada rongga pori-pori total yang
biasanya berkisar dari 10 sampai 15 persen.
4.2.2 Besaran Porositas
Porositas tentu dapat berkisar dari nol sampai besar sekali, namun bisanya
berkisar antara 5 sampai 40 persen, dan dalam prakteknya berkisar hanya dari 10 sampai 20
persen saja. Secara teoritis porositas tidak bisa lebih besar dari 47,6 persen. Besarnya
porositas itu ditentukan dengan berbagai cara, yaitu :
1. Di laboratorium, dengan porosimeter yang didasarkan hukum boyle: gas digunakan
sebagai pengganti cairan untuk menetukan volum pori tersebut.
2. Dari log listrik, log sonic dan log radioaktivitas.
3. Dari log kecepatan pemboran.
4. Dari pemeriksaan dan perkiraan secara mikroskopik.
5. Dari hilangnya inti pemboran.

4.2.3 Skala Visuil Pemerian Porositas
Di lapangan bisa kita dapatkan perkiraan secara visual dengan menggunakan
peraga visual. Penentuan ini bersifat semi-kuantitatif dan dipergunakan suatu skala sebagai
berikut :
0-5% dapat diabaikan (negligible)
5-10% buruk (poor)
10-15% cukup (fair)
15-20% baik (good)
20-25% sangat baik (very good)
>25% istimewa (excellent)
Pemeriksaan secara mikroskopi untuk jenis porositas dapat pula dilakukan secara kualitatif.
Antara lain ialah jenis :
1. Antar butir (intergranular), yang berarti bahwa pori-pori didapat diantara butir-butir.
2. Antar Kristal (interkristalin), dimana pori-pori berada diantara Kristal-kristal.
3. Celah dan rekah, yaitu rongga terdapat diantara celah-celah.
4. Bintik-bintik jarum (point-point porosity), berarti bahwa pori-pori merupakan bintik-
bintik terpisah-pisah, tanpa kelihatan bersambungan.
5. Ketat (tight), yang berarti butir-butir berdekatan dan kompak sehingga pori-pori kecil
sekali dan hamper tidak ada porositas.
6. Padat (dense), berarti batuan sangat kecil sehingga hampir tidak ada porositas.
7. Gerowong (vugular), yang berarti rongga-rongga besar berdiameter beberapa mili dan
kelihatan sekali bentuk-bentuknya tidak beraturan, sehingga porositas besar.
8. Bergua-gua (cavernous), yang berarti rongga-rongga besar sekali malahan benar-
benar merupakan gua-gua, sehingga porositas sangat besar.
4.3 Permeabilitas
4.3.1 Pengertian Permeabilitas
Permeabilitas adalah suatu sifat batuan reservoir untuk dapat meluluskan cairan
melalui pori-pori yang berhubungan, tanpa merusak partikel pembentukan atau kerangka
batuan tersebut. Definisi permeabilitas dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut
:
q =
k
m
.
dp
d
(Hukum Darcy)
Dimana q dinyatakan dalam cm/s, k dalam darcy (permeabilitas), viskositas m dinyatakan
dalam sentipoise, dan
dp
d
adalah gradient hidrolik yang dinyatakan dalam atmosfer per
sentimeter. Dengan demikian jelaslah bahwa permeabilitas adalah k yang dinyatakn dalam
darcy.

4.3.2 Besara Permeabilitas
Biasanya permeabilitas dinyatakan dalam darcy, yaitu untuk menghormati
DARCY yang memproklamasikan pertama kalinya hukum aliran dalam medium yang
berpori. Pada hakekatnya permeabilitas suatu batuan biasanya kurang dari 1 darcy dan oleh
karenanya dalam praktek permeabilitas dinyatakan dalam milidarcy (1 md =0,001 darcy).
Cara penentuan permeabilitas adalah :
1. Dengan permeameter, suatu alat pengukur yang mempergunakan gas.
2. Dengan penaaksiran kehilangan sirkulasi dalam pemboran.
3. Dari kecepatan pemboran.
4. Berdasarkan test produksi terhadap penurunan tekanan dasar lubang.

4.3.4 Permeabilitas Relatif dan Efektif
Permeabilitas tergantung sekali pada ada tidaknya cairan ataupun gas didalam
rongga yang sama. Penjenuhan air diperlihatkan pada absis dan dinyatakan dalam persen air,
koordinat menunjukkan fraksi permeabilitas daripada fluida yang bersangkutan terhadap
keadaan jika seluruh batuan tersebut dijenuhi oleh cairan tersebut saja. Secara berangsur-
angsur permeabilitas meningkat walaupun secara relative sangat lambat yaitu sampai 100%
dijenuhi minyak.

4.4 Hakekat Rongga Pori
4.4.1 Klasifikasi Rongga Pori
Dilihat dari segi asal terjadinya, rongga-rongga pori dapat dibagi menjadi 2 jenis
yaitu :
1. Pori primer (rongga primer), atau disebut juga antar-butir (intergranular).
2. Pori sekunder atau pori yang dibentuk kemudian. Pori sekunder disebut juga pori
terinduksikan, yang berarti porositasnya dibentuk oleh beberapa gejala dari luar,
seperti gejala tektonik dan pelarutan.
Pada umumnya porositas antar butiran atau primer merupakan sifat porositas batuan pasir
atau klastik, sedangkan jenis yang kedua terutama merupakan sifat batuan karbonat.
1. J enis porositas yang memilih kemas (fabric-selective) adalah :
a. Antar-partikel. Pori-pori terdapat diantara partikel atau intergranular; berlaku
terutama untuk batupasir dan juga untuk batuan karbonat.
b. Intra-partikel. Pori-pori terdapat didalam butirannya sendiri.
c. Antar-kristal. Pori-pori terdapat antara Kristal-kristal.
d. Cetakan (moldic). Suatu rongga terjadi karena terdapatnya suatu fosil dalam
lumpur karbonat.
e. Fenestral. Beberapa butir pembentuk batuan hilang sama sekali sehingga
membentuk rongga-rongga yang sangat besar.
f. Perlindungan (shelter). Rongga telah dilindungan misalnya oleh fosil, dan
sebagainya, sehingga tidak diisi oleh batuan sedimen.
g. Kerangka pertumbuhan (growth framework). Pertumbuhan kerangka, missal
kerangka binatang koral yang mengakibatkan rongga yang diisi oleh binatang
tersebut menjadi rongga terbuka.
2. Porositas yang tidak memilih kemas ada 4 macam, yaitu :
a. Rekahan (fracture). Rongga-rongga yang terjadi karena tekanan luar
menyebabkan terjadinya celah-celah dalam batuan.
b. Saluran (channel). Pelarutan dan sebagainya menyebabkan terjadinya saluran
antar rongga-rongga.
c. Gerowong (vug). Lubang-lubang besar terjadi biasanya karena pelarutan.
d. Gua-gua (cavern). Pelarutan lubang-lubang yang seringkali terjadi sehingga
membesar menjadi rongga yang dapat dimasuki orang.
3. Porositas yang memilih kemas atau tidak ada 4 macam :
a. Retakan (breksi). Karena pematahan atau retakan, maka batuan hancur menjadi
bongkah-bongkah kecil dan terjadilah rongga-rongga diantaranya.
b. Pemboran batuan. Rongga-rongga terjadi karena suatu kerangka ataupun batuan
yang telah keras mengalami pemboran oleh hewan.
c. Bioturbasi (burrow). Batuan yang yang baru saja diendapkan mengalami berbagai
penggalian oleh binatang sehingga timbul rongga-rongga.
d. Penciutan. Sedimen yang telah diendapkan menjadi kering dan menciut, sehingga
terjadi berbagai retakan yang dapat menimbulkan pori-pori.
4.4.2 Rongga Pori Primer
Rongga-rongga primer dalam hal pori-pori antar butir terjadi pada waktu batuan
tersebut terbentuk. Berbagai factor yang mempengaruhi besar kecilnya pori-pori adalah :
1. Besar butir. Besar butir mempengaruhi ukuran pori-pori, tetapi sama sekali tidak
mempengaruhi porositas total daripada batuan, setidaknya tidak untuk pasir kasar
ataupun halus.
2. Pemilahan (sorting), adalah cara penyebaran berbagai macam besar butir.
3. Bentuk dan kebundaran butir. Bentuk suatu butiran klastik didefinisikan sebagai
hubungan terhadap suatu bola yang dipakai sebagai standar, sedangkan kebundaran
didasarkan atas ketajaman atau penyudutan daripada pinggiran butir.
4. Penyusunan butir, adalah pengaturan kepadatan daripada susunan bola butir satu
terhadap yang lainnya.
5. Kompaksi dan sedimentasi. J uga mempengaruhi besar kecilnya rongga-rongga yang
ada, dan pada umumnya memperkecil atau menyusutkan pori-pori yang telah ada.
Penyebaran butir dalam reservoir sangat tergantung pada tekstur batuan dan tekstur erat
sekali hubungannya dengan mekanika pengendapannya.
Pembesaran dan penyusutan pori-pori :
Rongga-rongga yang telah terbentuk dapat mengalami pembesaran ataupun penyusutan
karena beberapa proses tertentu. Penyusutan biasanya terjadi karena kompaksi dan
penyemenan, sedangkan pembesaran biasanya dibentuk karena pelarutan.

4.4.3 Rongga Pori sekunder
Porositas sekunder terjadi karena diinduksikan. Proses pembentukan pori-pori
sekunder adalah sebagai berikut :
1. Pori-pori pelarutan. Proses ini terutama terjadi dalam batuan karbonat. Selain
merupakan proses utama dalam menambah porositas merupakan pula proses
pembesaran rongga-rongga pori yang telah ada.
2. Pori-pori retakan atau rekah-rekah. Rongga-rongga jenis ini terutama didapatkan
dalam batuan yang pegas, missal batuan karbonat, serpih dan rijang.

Patahan. Lapisan batuan yang mengalami pematahan dapat retak-retak dan rekah-rekah
sepanjang bidang pematahan ataupun dapat menutup, terutama dalam keadaan penyobekan
(shearing). Tertutupnya atau ternukanya sobekan yang terjadi tergantung dari kompetensi
batuan, dimana terutama sudut gesekan dalam memegang peranan. Contoh : lapangan minyak
tanjung di Kalimantan dan mungkin juga lapangan minyak jatibarang di jawa barat.
Pelipatan. Pada pelipatan konsentris, terjadilah tegangan atau gaya tarikan pada puncak-
puncak antiklin dan lembah sinklin sehingga menimbulkan retakan. Contoh dari gejala ini :
lapangan minyak Kirkuk di irak dimana gamping dari formasi asmari retak pada puncak
antiklin.
a. Pengembangan batuan pada penghilangan beban yang berada di atasnya. Dalam
keadaan terpendam, lapisan baatuan terdapat dalam kompresi. Pengangkataan serta
erosi menghilangkan beban ini dapat mengakibatkan dilatansi atau perekahan.
b. Reduksi volum karena kompaksi. Pengendapan lempung biasanya disertai kadar air
yang tinggi. Kompaksi mengakibatkan keluarnya air tersebut dan redukssi volum
terjadi karena kompaksi yang dikompensasi oleh adanya rekahn-rekahan.
Menurut Waldschmidt, Fitzgerald dan Lunsford (1956), rekahan dapat dibagi menjadi 4
golongan besar :
1. Terbuka, dengan pemisahan dinding rekahan yang jelas.
2. Sebagian terisi, dengan dinding rekahan yang jelas.
3. Terisi, dengan rekahan seluruhnya diisi oleh Kristal.
4. Tertutup, tidak kelihatan adanya pemisahan dinding rekahan.
Pada suatu batuan reservoir bisa didapatkan 2 jenis permeabilitas oleh karena retakan ini :
1. Permeabilitas dan porositas rendah didalam bongkahan diantara retakan.
2. Permeabilitas dan porositas tinggi didalam rekahannya sendiri.

4.5 Batuan Reservoir Klastik Detritus-Batupasir
Dua macam batuan yang penting untuk bertindak sebagai reservoir adalah batu pasir
dan gamping atau karbonat. Namun dewasa ini batu gamping memegang peranan besar sekali
dan pada suatu ketika akan merupakan batuan yang jauh lebih penting daripada batu pasir.

4.5.1 J enis-jenis Klastik Detritus
4.5.1.1 Batu pasir
Batu pasir termasuk golongan batuan klastik detritus dan sebetulnya yang
dimaksud batu pasir disinni adalah batuan detritus pada umumnya yang berkisar dari lanau
sampai konglomerat. Batu pasir merupakan reservoir yang paling penting dan yang paling
banyak di dunia ini, 60% daripada semua batuan reservoir adalah batu pasir. Batupasir
terutama terdiri dari mineral kuarsa dan dapat dibagi atas 3 jenis, yaitu :
1. Batupasir kuarsa. Batuan ini sangat penting dan kebanyakan reservoir
batupasir adalah pasir kuarsa.
2. Batupasir greywacke. Biasanya terdiri dari fragmen berbagai macam batuan
seperti rijang, batuan beku seperti basalt, feldspar dan juga mineral mafik serta
mineral lainnya.
3. Batupasir arkose. Terutama terdiri dari kuarsa dan feldspar. Biasanya cukup
bersih tetapi kebundaran daripada butirannya tidak terlalu baik karena
bersudut-sudut dan juga pemilahan tidak terlalu baik.
4.5.1.2 Konglomerat dan detritus kasar
Konglomerat dan detritus kasar dapat juga bertindak sebagai batuan reservoir.
Misalnya saja, pada formasi talang akar di sumatera selatan terdapat apa yang dinamakan
Gritsand member yang merupakan juga suatu reservoir didalam batuan tersebut.
4.5.1.3 Batu lanau
Batu lanau kadang-kadang juga dapat bertindak sebagai batuan reservoir, tetapi
karena besar butirnya yang halus maka permeabilitas batu lanau ini kurang begitu baik.

4.5.2 Fasies, Bentuk dan Ukuran Tubuh Batu pasir
Fasies, geometri dan penyebaran batuan reservoir detritus. Ketiga factor ini salng
erat hubungannya. Pada umunyaa kita dapaat mendaptkan 3 macam fasies :
1. Batu pasir yang diendapkan sebagai endapan sungai, misalnya formasi tulng
akar bagian bawah, the gritsand member dan formasi tanjung.
2. Batu pasir yang diendapkan dalam lingkungan campuran ataau dekat pantai.
3. Batu pasir marin yaitu batu pasir yang diendapkan dalam laut, misalnya saja
baatu pasir paparaan (shelf-land), lensa pasir neritik dan turbidit.
Ukuran dan bentuk : ukuran suatu lapisan reservoir dapat dinyatakaan dalam tebal dan luas.
Tebal suatu lapisan reservoir, baik lapisan itu batu pasir maupun batu gamping, dapat
berkisar dari 1,5 sampai 500 meter. Di Amerika Serikat ketebalan rata-ratanya adalah 13 m
(39 kaki). Penggolongan Krynine (1940) didasarkan atas perbandingan lebaar atau luas
terhadap tebal atau kira-kira luas berbanding volum. Klasifikasinya sebagai berikut :
1. Pasir lapisan selimut, jika perkiraan luas (lebar) lapisan reservoir terhadap volum
(tebal) lebih besar dari 100:1.
2. Tabular, jika perkiraan luas (lebar) terhadap volum (tebal) berbanding 1000:1 sampai
50:1.
3. Prisma, jika perkiraan luas (lebar) terhadap volum (tebal) diantara 50:1 sampai 5:1.
4. Tali-sepatu, jika lebar terhadap tebal adalah 5:1 atau lebih kecil lagi.
Dalam praktek sangatlah sulit untuk mengklasifikasikan jenis lapisan pasir menurut cara
kesatu Krynine, yaitu penggolongan pasir selimut.
Klasifikasi yang berikutnya adalah oleh Rich (1923) dan Potter (1962), kedua penulis ini
membedakan :
1. Tubuh batupasir yang sama sisi.
2. Tubuh batupasir memanjang.

4.5.2.1 Tubuh batupasir sama sisi
Menurut McGugan, untuk dapat dikatakan blanket sand harus dipenuhi factor
396x10
6
; atau menurut Krynine, perbandingan lebar terhadap tebal harus minimal 1000:1.
Untuk hal yang disebut terkahir, maka tentu suatu lensa dapat dikatakan terhadap suatu
lapisan pasir yang lebarnya 1000 meter dengan ketebalaan 1 m atau yang lebaarnya 1 km
dengan ketebalan 10 m. Lensa pasir. Lensa terjadi dengan berbagai macam cara :
1. Pembentukan didarat, yaitu dalam endapn fluvial sebagai suatu gosong tanjung (point
bar).
2. Lensa juga dapat terbentuk dalam pengendapan suatu delta, terutama dalam suatu
delta yang dangkal. Didalam delta terdapat saluran penyebar (distributary cahnnels)
yang pada dasarnya terendapkan lapisan pasir.
Perbendaan lensa delta dan gosong taanjung. Dalam lensa pasir yang dibentuk oleh suatu
delta, maka pasirnya bergradasi secara lateral terhadap lanau dan serpih. Lain halnya dengan
tubuh pasir didalam endapan meander, yang memperlihatkan suatu kontak erosi yang tajam
dengan dasarnya dan juga secara lateral sedangkan keatas bergradasi ke lapisan endapan
alluvial yang halus. Lensa yang diendapkan oleh suatu gosong tanjung biasanya membentuk
suatu sistem yang memanjang dan tegak lurus terhadap pinggiran daripada cekungan
terhadap mana sungai mengalir.

Gambar 4.8 proses pembentukan lensa dalam delta (diambil dari Coleman dan gagliano,
1964)
Dalam hal ini lensa yang demikian bergradasi secara lateral ataupun secara kebawah terhadap
lapisan yang lebih halus dari pro-delta dan kadang-kadang ditutupi dengan suatu
ketidakselarasan oleh suatu endapan delta halus lainnya.
Selimut pasir. Banyak lapisan pasir dinyatakan sebagai suatu shect atau blanket sand. Hal
ini memaang merupakan konsepsi yang ideal daripada suatu lapisan reservoir yang
diperlihatkan didalm diagram. Pembentukan lapisan pasir yang demikian mungkin terjadi
dilaut yang sangat dangkal dimana pengendapan terjadi diatas alas gelombang dan tersebar
sangat meluas.

4.5.2.2 Tubuh batupasir memanjang
Bentuk tubuh batupasir yang memanjang mungkin lebih baanyak terdapat
daripada yang berbentuk lensa ataupun yang berbentuk selimut. Pada umumnya dapaat dibagi
2 macam bentuk yang memanjang :
1. Tubuh pasir berbentuk tali-sepatu (shoe-string sand)
2. Tubuh batupasir gosong penghalang (bar-sand atau sand-bar)
Pasir tali-sepatu. Oleh Carell (1876,1886) di Amerika Serikat. Dari pengkajian ini, ternyata
lapisan minyak terjadi pada suatu garis lurus atau berbelok-belok di seluruh daerah. Car
terbentuknya dari lapisan ini dapat juga terjadi pada meander atau pada gosong tanjung
sungai yang terkoalesi ke hilir. Dengan demikian sebetulnya pasir tali-sepatu ini terdiri dari
lensa yang mengarah dan memberikan suatu bentuk yang lenggak-lenggok atau sinuous.

Gambar 4.9 contoh lapisan saluran (pengisian lembah) di Nebraska, Amerika Serikat
(Harms,1966)

Pasir pantai. Tubuh batupasir gosong sebetulnya terdiri dari berbagai macam, antara lain :
1. Pulau gosong atau barrier island
2. Batu pasir gosong lepas pantai (offshore bar)
3. Pasir pesisir (beach sand)
Bentuk tubuh batu pasir gosong lepas pantai biasanya berbentuk linear dan sejajar dengan
jurus pengendapan, sedangkan suatu pengendapan sungai biasanya tegak lurus atau
memotong jurus pengendapan dan mempunyai bentuk yang lenggak-lenggok.
Tubuh batupasir turbidit. Suatu hal yang penting daripada lapisan turbidit ialah adanya
lapisan pasir yang kasar yang berbentuk interkalasi dalam lapisan serpih yang diendapkan di
laut yang dalam. Bentuk lapisan turbidit itu tidak begitu jelas, tetapi dapat berupa bentuk
lensa, bentuk saluran ataupun bentuk kipas.

4.5.3 Kesimpulan mengenai tubuh batupasir
Dari pembahasan diatas jelaslah, bahwa lapisan pasir tidaklah seperti kue lapis
sebagaimana diharapkan oleh para ahli reservoir. Pada umunya lapisan pasir berbentuk lensa
atau memanjang yang terbatas, oleh karena itu proses regresi-transgresi, proses meander dan
proses-proses lainnya menyebabkan tubuh-tubuh yang terbatas ini merupakan suatu susunan
yang sangat kompleks dan ruwet.

Gambar 4.10 Lapisan pasir yang multi-lateral
Dari gambar diatas walaupun masing-masing lapisan kelihatannya dapat terkorelasikan, tetapi
pada dasarnya hal ini tidak dapt dilakukan karena memang diantaranya terhalang lapisan
serpih. Dengan demikian tidak terdapat kesinambungan dalam sifat reservoir dan tiap lensa
merupakan reservoir yang berdiri sendiri.
Dalam hal geometri batupasir, ada 3 masalah utama yaitu :
1. Merekonstruksikan geometri secara tepat;
2. Mengetahui apa artinya dari segi asal-mula jadi;
3. Mengetahui pola penyebaran lapisan sedimen dari asal-mula jadi tertentu dengan
suatu situasi pengendapan yang analog.
Beberapa gejala yang mencirikan berbagai macam tubuh batupasir: Shelton (1967)
memperlihatkan bahwa lingkungan batupasir dapat ditentukan dengan model stratigrafi.
Misalnya saja antara alluvial, gosong laut dan batu pasir turbidit, cirri dari setiap model dapat
ditentukan dari segi :
a. Geometri : posisi geografi dan arah (trend), posisi vertical, panjang,lebar,ketebalan
dan perbatasan.
b. Gejala-dalam (internal features) : struktur sedimen, tekstur, susunan butir.
Pada umunya lensa pasir dan tubuh pasir merupakan unsure utama dalam pembentukan
perangkap stratigrafi, namun selain itu diperlukan juga unsure pernagkap lainnya, seperti
unsure tektonik, pelengkungan ataupun kemiringan wilayah (millikan, 1940).

4.5.4 Berbagai contoh reservoir batupasir
Contoh batu pasir sebagai batuan reservoir, misalnya ialaha di Amerika Serikat,
didaerah Midcontinent yang berumur karbon dan ordovisium yang mempunyai porositas 15
sampi 25 % dan permeabilitas antara 25 sampai 400 milidarcy (millikan,1940). Contoh lain
adalah pasir yang berumur kapur dari Texas Timur dan Louisiana Utara dan Arkansas Selatan
dengan porositas berkisar dari 20 sampai 30 % sedangkan permabilitasberkisar 50 sampi
2000 milidarcy. Lapisan reservoir berumur tersier di Gulfcoast dan Texas Barat daya
mempunyai porositas 25 sampai 32 % dan permeabilitas berkisar dari 100 sampai 2000
milidarcy. Di California, lapisan pasir berumur tersier yang berbentuk lensa mempunyai
porositas berkisar dari 12 sampai 25 % dan permeabilitas dari 25 sampai 5000 milidarcy
(millikan,1940)

4.6 Batuan Reservoir Karbonat-Gamping
Batuan karbonat merupakan batuan reservoir penting untuk minyak dan gas bumi.
Dari 75% daratan yang dibawahi oleh batuan sedimen, kira-kira 1/5 dari masa sedimen ini
terdiri dari batuan karbonat (gamping dan dolomite). Menurut Knebel dan Rodriguez (1956)
59% lapangan minyak yang besar terdapat dalam batuan reservoir batupasir, tetapi 40%
terdapat dalam batuan karbonat. J adi keseluruhannya meliputi suatu cadangan 87,3 milyar
barrel. Dewasa ini batuan karbonat merupakan batuan reservoir yang cukup penting di
Indonesia dengan ditemukannya minyak di formasi baturaja di laut jawa, formasi kujung di
laut jawa timur dan juga dengan ditemukannya lapangan minyak dengan produksi yang besar
dari formasi kais dari irian jaya. Selain berbagai macam jenis porositas, juga struktur sangat
mempengaruhi porositas tersebut dan juga adanya dolomitisasi. Pada umunya batuan
karbonat dapat dibagi 4 macam, yaitu :
1. Batuan karbonat yang bersifat kerangka atau yang secara popular dikatakan sebagai
suatu terumbu (reef).
2. Batuan karbonat yang bersifat klastik.
3. Batuan karbonat yang bersifat afanitik atau batu gamping halus.
4. Batuan karbonat yang bersifat dolomite dan kristalin.
Perlu dicatat disini bahwa penyebaran porositas dan bentuk daripada batuan reservoir sangat
erat hubungannya dengan perangkap minyak atau yang disebut perangkap stratigrafi.

4.6.1 Terumbu Karbonat Sebagai Batuan reservoir
Pada umunya terumbu terdiri daripada suatu kerangka dari koral, ganggang, dan
Sebagainya yang tumbuh dalam laut yang bersih, berenergi gelombang tinggi dan mengalami
banyak pembersihan sehingga rongga-rongga antaranya khususnya menjadi sangat bersih.
Sering kali dalam reservoir didapatkan lubang-lubang atau gerowong, yang dalam pemboran
mengakibatkan hilangnya banyak lumpur pemboran sehingga pipa bor tiba-tiba jatuh.

4.6.1.1 Bentuk Reservoir Terumbu
Bentuk batuan reservoir kerangka terumbu ini terbatas sekali karena terumbu
koral yang juga diikat oleh ganging dan sebagainya hanya tumbuh pada beberapa keadaan
tertentu. Pada umumnya dapat dibedakan 2 macam reservoir terumbu, yaitu :
1. Terumbu yang bersifat fringing, atau merupakan suatu bentuk yang memanjang di
lepas pantai.
2. Terumbu yang bersifat terisoler di sana-sini, yang sering disebut sebagai suatu
pinnacle atau patch reef atau secara tepat dikatakan sebagai bioherm, yang
muncul disana-sini sebagai berbagai bentuk kecil secara tidak teratur.
Terumbu yang terbentuk linier, atau sebagai penghalang (barrier) biasanya bentuknya selain
memanjang juga seringkali cukup besar serta memperlihatkan suatu asimetris dan biasanya
terdapat pada pinggiran suatu cekungan. Seringkali terumbu jenis demikian terdpat pada
pinggiran suatu paparan, yaitu ditempat dimana suatu paparan yang landai dan berenergi
rendah tiba-tiba berubah menjadi sutau cekungan yang dalam, sehingga pada ujung paparan
ini terbentuk kompleks terumbu yang merupakan penghalang. Inti terumbu yang memanjang
merupakan suatu penghalang yang efektif sehingga dibelakangnya terjadi suatu laguna yang
airnya tenang. Laguna ini biasanya bisa merupakan daerah yang sangat luas dimana gamping
yang berenergi rendah terbentuk yang sebetulnya adalah gamping afanitik.

4.6.1.2 Terumbu Tiang
Lapangan yang bersifat terumbu tiang ditemukan di Libya yaitu lapangan idris
dalam cekungan sirte yang didapatkan dari suatu terumbu berumur Paleosen. Contoh yang
baik untuk terumbu tiang sebagai reservoir ialah yang didapatkan baru-baru ini di irian jaya,
yaitu lapangan minyak kasim dan jaya. Bentuk terumbu kasim jaya itu terdiri daripada batuan
karbonat berenergi tinggi yang panjangnya 7 km dan lebarnya 2,5 sampai 3,5 km dan
mempunyai ketinggian atau relief vertical 760 m diatas landasan tempat terumbu tersebut
tumbuh. Lapangan minyak jaya dan kasim merupakan terumbu yang bersifat pinnacle dan
bukan terumbu yang memanjang seperti di Leduc atau Golden Lane di Mexiko dan tidak pula
seperti yang terdapat di lapangan minyak Kirkuk. Dewasa ini terumbu yang bersifat pinnacle
ini menjadi penting sekali, jelas pula bahwa terumbu berasosiasi dengan dolomitisasi.

4.6.2 Gamping Klastik
Gamping klastik juga merupakan reservoir yang sangat baik, terutama dalam
asosiasinya dengan oolit, dan sering disebut sebagai kalkarenit. Batuan reservoir yang
terdapat didalam oolit itu merupakan pengendapan yang berenergi tinggi dan didapatkan
dalam jalur sepanjang pantai atau jalur dangkal dengan arus gelombang kuat. Batuan
reservoir oolit terdapat misalnya di cekungan illinnois (Amerika Serikat), dimana terdapat
oolit dalam gamping yang berumur karbonat. Contoh yang paling penting adalah di Saudi
Arabia yaitu dari formasi Arab berumur jura muda, terutama dari anggota D. formasi Arab ini
memeberikan hampir semua minyak yang diproduksikan di Saudi Arabia dan terdiri terutama
dari oolit yang telah terkristalisasi dan terdolomitisasi.

4.6.3 Dolomit
Dolomite merupakan batuan reservoir karbonat yang jauh lebih penting dari jenis
batuan karbonat lainnya. Kebanyakan dari batuan karbonat seperti terumbu ataupun oolit
sedikit banyak telah pula ikut didolomitisasikan. Porositas timbul karena dolomitisasi batuan
gamping sehingga molekul kalsit diganti oleh molekul dolomite, dan karena molekul
dolomite lebih kecil daripada molekul kalsit maka hasilnya akan merupakan pengecilan
volum sehingga timbullah rongga-rongga. Sering juga didalam dolomite ini terdapat porositas
yang bersifat gerowong yang mungkin disebabkan karena banyak kalsit yang belum diganti
oleh dolomite, dan berbentuk patches atau bentuk yang lebih besar daripada satu Kristal.
Ada dua macam dolomite yang terjad, yaitu :
1. Dolomite yang bersifat primer, terbentuk dalam suatu laguna atau laut tertutup yang
sangat luas, dengan temperature yang sangat tinggi.
2. Dolomite yang bersifat rubahan (replacement), terutama terjadi pada dolomitisasi
gamping yang bersifat terumbu.
Terumbu yang bersifat penghalang akan membentuk suatu laguna dibelakangnya. Laguna ini
hanya terisi air laut pada waktu-waktu badai, dan air laut yang terdapat di belakang terumbu
yang menghalangi itu menjadi sangat tinggi kegaramannya sehingga terjadi peningkatan
perbandingan Mg/Ca.

4.6.4 Gamping Afanitik
Batu gamping yang bersifat afanitik dapat pula bertindak sebagai batuan reservoir,
terutama kalau porositasnya didapatkan secara sekunder, misalnya karena peretakan ataupun
karena pelarutan dibawah suatu ketidakselarasan. Salah satu lapangannya adalah mesjidI
Sulaeman. Gamping itu sangat halus dan ketat dan tidak memperlihatkan adanya porositas,
tetapi lapangan minyak di formasi Asmari ini betul-betul berukuran raksasa dengan cadangan
lebih dari 1 milyar barrel. Seluruh porositasnya disini dibentuk dalam rekahan yang
disebabkan karena pelipatan. Lapangan tersebut terdapat dalam suatu daerah yang
stratigrafinya sangat konstan, tetapi terdapat dalam pelipatan dengan amplitude besar
sehingga menghasilkan perekahan dan pematahan yang sangat ekstensif di dalam lapisan
gamping yang sangat ketat ini.

4.7 Batuan Reservoir Aneka Ragam
Berbagai macam batuan lainnya dapat pula bertindak sebagai batuan reservoir
walaupun tidak dalam jumlah cukup besar. Misalnya saja dalam serpih batu lanau ataupun
dalam batu rijang bisa terbentuk suatu reservoir disebabkan karena rekahan sehingga
merupakan suatu lapangan minyak. Batuan beku dan metamorf dapat pula bertindak sebagai
batuan reservoir jika terdapat dalam keadaan rekah-rekah. Menurut Landes (1960), minyak
bisa didapatkna dalam batuan dasar yang bersifat batuan beku atau metamorf seperti terdapat
di Venezuela, California, Kansas, maroko dan yang secara total telah memproduksikan minya
sebnayak 100 juta barrel. Batuan vulkanik, di Indonesia batuan ini mendapatkan perhatian
yang khusus karena didapatkannya minyak di J atibarang (jawa barat) yaitu dalam lava dan
tufa. Disini sebetulnya produksi didapatkan dari rekahan atau dari retakan-retakan yang
terjadi dalam batuan tersebut dan bukan daari porositas primer.
Batuan reservoir vulkanik atau batuan beku merupakan kekecualian daripada suatu
aturan umum. Hanya diberbagai tempat saja dimana secara kebetulan batuan dasar atau
batuan beku itu retak-retak karenapatahan, atau karena beberapa sebab tektonik lainnya
berada dekat dengan batuan sedimen yang mengandung minyak, maka mereka bertindak
sebagai batuan reservoir. Hal seperti itu sama sekali bukan merupakan suatu yang umum.











BAB 5
PERANGKAP RESERVOIR
Perangkap reservoir merupakan unsure paling penting dalam cara terdapatnya minyak
dan gas bumi. Bahkan eksplorasi atau pencarian minyak dan gas bumi sampai kini ditujukan
kepada pencarian perangkap. Istilah perangkap atau jebakan (trap), mengandung arti seolah-
olah minyak terjebak atau tersangkut dalam suatu keadaan sehingga tidak bisa lepas lagi. Hal
ini disebabkan karena walaupun minyak merupakan suatu fasa tersendiri, namun selalu
berada bersama-sama dengan air (air formasi).
Pengertian perangkap hidrostatik dan hidrodinamik-Teori potensial. Adanya
perbedaan fisik antara minyak dengan air yang tidak saling melarutkan dan terutama juga
perbedaan berat-jenis kedua zat itu, maka minyak akan selalu naik keatas dan menurut teori
akan mencari tempat dengan potensial yang paling rendah. Dalam keadaan hidrostatik, maka
satu-satunya gaya adalah gaya berat yang arahnya vertical. Karena sifat minyak yang lebih
ringan daripada air, maka gaya tersebut akan berarah ke atas. Dipandang dari segi sejarahnya,
teori perangkap dikemukakan oleh Sterry Hunt yang mengatakan, bahwa minyak bumi selalu
terdapat diatas atau di puncak suatu antiklin. Oleh karena itu kita bisa membagi perangkap
dalam 2 jenis :
1. Perangkap dalam keadaan hidrostatik
2. Perangkap dalam keadaan hidrodinamik.

5.1 Perangkap dalam Keadaan Hidrostatik-Klasifikasi Umum
Didalam perangkap yang berada dalam keadaan hidrostatik, tetes minyak akan selalu
Berusaha bergerak vertical keatas. Untuk ini harus terdapat suatu pembentuk dari lapisan
reservoir sedemikian rupa sehingga tetes-tetes ini tidak akan lari kemana-mana lagi.
Misalnya, suatu mangkok yang bisa diisi sampai pinggirannya. Dalam hal perangkap minyak
maka dapat dimisalkan mangkok ini dibalik, dan disini mangkoknya ialah lapisan penyekat.
Pembentukan lapisan penyekat dan lapisan reservoir pada umumnya dapat terjadi secara :
struktur, stratigrafi, dan kombinasi antara struktur dan stratigrafi.

5.2 Perangkap Struktur
Perangkap struktur merupakan perangkap paling orisinil dan sampai dewasa ini
merupakan perangkap yang paling penting. J elas disini berbagai unsur perangkap yang
membentuk lapisan penyekat dan lapisan reservoir sehingga dapat menangkap minyak,
disebabkan karena gejala tektonik atau struktur, misalnya pelipatan dan pematahan.
5.2.1 Perangkap Lipatan (Peta Struktur Berkontur Pengertian Tutupan)
Perangkap yang disebabkan pelipatan ini merupakan perangkap utama, perangkap
yang paling penting dan merupakan perangkap yang pertama kali dikenali dalam
pengusahaan minyak bumi. Minyak tidak bisa lari keatas karena terhalang oleh lapisan
penyekat, juga ke pinggir terhalang oleh lapisan penyekat yang melengkung ke daerah
pinggir, sedangkan kebawah terhalang oleh adanya batas air minyak atau bidang
ekuipotensial.
Peta struktur berkontur : cara menggambarkan keadaan yang demikian itu, selain dengan
penampang juga harus dinyatakan dalam 3 dimensi antara lain dengan adanya suatu denah
yang memperlihatkan lengkungan daripada bidang perlapisan tadi.

Gambar 5.2 prinsip penjebakan minyak dalam perangkap struktur
Untuk terdapatnya suatu perangkap bukan semata-mata struktur antiklin saja yang diperlukan
tetapi juga bentuk lapisan penyekat yang sedemikian rupa (missal disebabkan karena
struktur) sehingga karena pelengkungan ataupun karena patahan atau gejala struktur lainnya
penutupan penyekat lapisan reservoir terjadi dari semua arah kecuali dari bawah.
Pengertian tutupan (closure), batas bawah suatu akumulasi minyak ditentukan oleh batas air-
minyak yang disebut bidang ekipotensial. Titik tertinggi dimana bidang horizontal
menyinggung, lapisan penyekat merupakan bidang batas maksimal air-minyak, karena jika
batas ini lebih rendah, minyak akan melimpah keluar dari perangkap. Dengan demikian juga
sebagaimana wadah suatu cairan pada permukaan bumi, maka suatu perangkap mempunyai
titik limpah dan batas maksimal wadah dapat diisi oleh cairan disebut tutupan (closure).
Terdapatnya berbagai macam jenis lipatan tidaklah menjadi soal yang penting perangkap
harus tertutup dari segala arah.

Gambar 5.4 perangkap struktur memperlihatkan unsure titik limpah dan tutupan

Gambar 5.5 peta struktur berkontur lapangan minyak badak sebagi contoh perangkap lipatan
(Gwinn, Helmig dan kartadiputra, 1974)
Lipatan yang tertutup dan melengkung dari segla arah ini disebut juga suatu antiklin
yang menunjam ganda. J ika antiklin menunjam ganda dan sumbu panjangnya dibandingkan
terhadap sumbu pendeknya diantara 2/3 dan 1/3, maka pelipatan ini disebut suatu branchi-
antiklin.
Penilaian suatu perangkap lipatan. Suatu lipatan dapat saja terbentuk tanpa terjadinya
suatu tutupan sehingga tidak dapat disebut suatu perangkap. Selain itu juga ada tidaknya
tutupan sangat tergantung pada factor struktur dan posisinya kedalam. Menurut Levorsen
(1958) menghilangnya tutupan ini disebabkan factor bentuk lippatan serta pengaruhnya
kedalam, anatar lain ;
1. Bentuk lipatan, yaitu apakah lippatan sejajar atau sebangun.
2. Pelipatan bersifat diapir atau tak selaras, yaitu cara pelipatan diatas, dan dibawah
suatu lapisan tertentu yang tidak sama.
3. Pelipatan berulang, yaitu pelipatan yang terjadi pada waktu berlangsungnya
sedimentasi.
4. Ketidakselarasan
5. Lipatan asimetris, memberikan bidang sumbu yang miring, sehingga menentukan pola
lokasi daripada tutupan atau kulminasi.
6. Konvergensi lapisan, yaitu menipisnya lapisan ke suatu arah.
Dalam hal mengevaluasikan pelipatan sebagai perangkap selain dari adanya tutupan juga
harus dievaluasikan apakah tutupan tersebut terdapat pada lapisan reservoir.

5.2.2 Perangkap Patahan
Smith (1966) berpendapat bahwa persoalan patahan sebagai penyekat sebetulnya
tergantung dari tekanan kapiler. Pengkajian teoritis memperlihatkan bahwa patahan dalam
batuan yang basah air tergantung pada tekanan kapiler dari medium dalam jalur patahan
tersebut. Besar-kecilnya tekanan yang disebabkan karena pelampungan minyak atau kolom
minyak terhadap besarnya tekanan kapiler menentukan sekali apakah patahan itu bertindak
sebagai suatu penyalur atau penyekat. Ada beberapa unsure lain yang harus dipenuhi untuk
terjadinya suatu perangkap yang betul-betul hanya disebabkan karena patahan :
1. Adanya kemiringan wilayah
2. Harus ada paling sedikit dua patahan yang berpotongan
3. Adanya suatu pelengkungan lapisan atau suatu pelipatan
4. Pelengkungan daripada patahannya sendiri dan kemiringan wilayah.

5.2.2.1 patahan normal
Patahan normal biasa sekali terjadi sebagai suatu unsure perangkap. Biasanya
minyak lebih sering terdapat didalam hanging wall daripada didalam foot wall terutama
dalam kombinasi dengan adanya lipatan.
5.2.2.2 Patahan Naik
Patahan naik juga dapat bertindak sebagai suatu unsure perangkap dan biasanya
selalu berasosiasi dengan lipatan yang ketat ataupun asimetris. Patahan naik itu dapat dibagi
menjadi lagi dalam asosiasi :
1. Patahan naik dengan lipatan asimetris
2. Patahan naik yang membentuk suatu sesar sungkur atau suatu nappe

5.2.2.3 Patahan Tumbuh
Patahan tumbuh yaitu suatu patahan normal yang terjadi secara bersamaan dengan
akumulasi sedimen. Disatu pihak (footwall) sedimen tetap tipis sedangkan di hanging wall
selain terjadinya penurunan, sedimentasi berlangsung terus sehingga dengan demikian terjadi
suatu lapisan yang sangat tebal. Suatu roll over dalam patahan tumbuh sangat penting, karena
asosiasinya dengan terdapatnya minyakbumi.

5.2.2.4 Patahan Transversal
Patahan transversal dapat juga bertindak sebagai perangkap. Harding, 1974 ,
menekankan pentingnya unsure patahan transversal sebagai pelengkap perangkap struktur.
Pada umumnya perangkap patahan transversal merupakan pemancungan oleh penggeseran
patahan terhadap kulminasi setengah lipatan dan pelengkungan struktur pada bagian
penunjaman yang terbuka.

5.2.2.5 Perangkap kubah garam
Kubah garam merupakan salah satu perangkap yang penting untuk akumulasi
minyak bumi. Kubah garam merupakan semacam suatu pelipatan bersifat diapir. Suatu
lapisan garam yang terdapat pada kedalaman tertentu, karena sifat garam yang plastis dan
juga karena berat jenis yang rendah sering menusuk kedalam sedimen yang berada diatasnya
dan membentuk semacam suatu tiang atau suatu pilar dan menyundul sedimen yang ada
diatasnya sehingga berbentuk suatu kubah. Seringkali kubah garam itu keatas mengembang
berbentuk seperti jamur dan didapatkan perlapisan pasir yang membentuk perangkap itu
berada dibawah naungan payung garam tersebut. Diatas lapisan garam itu seringkali terjadi
lapisan gips, dan karena aktivitas bakteri gips ini diuraikan menjadi kalsium karobanat (batu
gamping) dan belerang sehingga sering merupakan suatu tambang belerang, istilah caprock
berasal dari perangkap kubah garam yang sebetulnya ialah gamping yang menutupi kubah
garam ini.
5.2.2.6 Tektonik dan Penjebakan Minyak
Dengan konsep tektonik lempeng dewasa ini, maka pada pinggiran pertemuan dua
lempeng (misalnya lempeng samudera dengan lempeng benua) terjadi berbagai gaya
kompresi yang menyebabkan terjadinya pelipatan yang ketat sekali. Namun dalam cekungan
sedimen, pelipatan yang ketat ini tidaklah terlalu baik untuk terbaknya minyak karena
struktur menjadi terlalu ruwet. Minyak bumi lebih banyak terjebak dalam struktur pelipatan
yang sangat landai, dan seringkali pelipatan ini berasosiasi dengan patahan normal.

5.3 Perangkap Stratigrafi
Menurut Levorsen (1958), perangkap stratigrafi adalah suatu istilah umum untuk
perangkap yang terjadi karena berbagai variasi lateral dalam litologi suatu lapisan reservoir
atau penghentian dalam kelanjutan penyaluran minyak dalam bumi.

5.3.1 Prinsip Perangkap Stratigrafi
Prinsip perangkap stratigrafi adalah bahwa minyak dan gas bumi terjebak dalam
perjalannya keatas terhalang dari segala arah terutama dari bagian atas dan pinggir, karena
batuan reservoir menghilang atau berubah fasies menjadi batuan lain atau batuan yang
karakteristik daripada reservoir menghilang sehingga merupakan penghalang permeabilitas.
Beberapa unsure utama perangkap stratigrafi, ialah :
1. Adanya perubahan sifat litologi dengan beberapa sifat reservoir, ke satu atau beberapa
arah sehingga merupakan penghalang permeabilitas.
2. Adanya lapisan penutup/penyekat yang menghimpit lapisan reservoir tersebut kearah
atas atau kepinggir.
3. Kedudukan struktur lapisan reservoir yang sedemikian rupa sehingga dapat menjebak
minyak yang naik.
Perubahan sifat litologi/sifat reservoir ke sesuatu arah daripada lapisan reservoir dapat
disebabkan :
a. Pembajian, dimana lapisan reservoir yang dihimpit diantara lapisan penyekat menipis
dan menghilang.
b. Penyerpihan, dimana ketebalan lapisan tetap, akan tetapi sifat litologi barubah.
c. Persentuhan dengan bidang erosi, dimana suatu lapisan reservoir dapat berakhir ke
suatu arah karena :
1. Terpancung oleh erosi
2. Lapisan reservoir terbatas oleh bidang erosi
Pada hakekatnya, perangkap stratigrafi didapatkan karena letak posisi struktur tubuh batuan
reservoir sedemikian sehingga batas lateral tubuh tersebut merupakan penghalang
permeabilitas kearah atau kepinggir. Perangkap tidak akan terjadi jika tubuh reservoir berada
dalam keadaan horizontal.

5.3.1.1 Pengutaraan perangkap stratigrafi
Perangkap stratigrafi dinyatakan dalam :
1. Penampang geologi. Gejala penyerpihan, pembajian dan sebagainya
diperlihatkan oleh bidang perlapisan yang nyata.
2. Bentuk peta reservoir. Mengingat unsure pembentukan perangkap maka peta
reservoir harus dinyatakan sebagai :
a. Peta struktur berkontur, yang memperlihatkan kedudukan lapisan reservoir
terutama kemiringan wilayah.
b. Peta fasies, yang memperlihatkan berbagai perubahan yang terjadi secara
lateral pada lapisan, yang dapat dinyatakan dalam :
1. Peta Isopach, yang memperlihatkan ketebalan lapisan reservoir.
2. Peta Isolith, yang seperti net-sand map, memperlihatkan ketebalan
bersih satu interval lapisan yang terdiri dari beberapa lapisan reservoir,
yang menghilang satu per satu ke suatu arah.
3. Peta perbandingan pasir-serpih, yang memperlihatkan dengan garis
kontur perbandingan jumlah ketebalan interkalasi pasir terhadap
sisipan serpih pada suatu interval lapisan.






5.3.2 Klasifikasi Perangkap Stratigrafi
Klasifikasi khas perangkap stratigrafi yang pertama tercerminkan dalam publikasi
seismograph service corporation sebagai berikut (Dott dan Reynolds,1969) :
a. Perubahan porositas atau permeabilitas
b. Penumpangan (overlap) lateral dan vertical
c. Perangsuran (gradation) dari fasies atau pelensaan
d. Pemancungan (truncation)
e. Ketidakselarasan
f. Keadaan lingkungan pengendapan

5.3.3 Perangkap Tubuh Batuan Reservoir Terbatas
5.3.3.1 Batuan Reservoir Klastik
Batuan reservoir klastik sering membentuk lensa-lensa ataupun juga tubuh-tubuh
yang memanjang tetapi terbatas penyebarannya, seperti point-bar sand , bar-finger sand, atau
epineritic lenticular sand. Tubuh batupasir tali-sepatu juga dapat seluruhnya diisi oleh minyak
dan gas bumi dan dengan demikian merupakan pula perangkap stratigrafi jenis ini. Beach
sand, bar sand dapat merupakan perangkap tersendiri. Channel sand dapat bertindak sebagai
perangkap. Terutama jika berasosiasi dengan lipatan landai. Dengan demikian minyak
sebagian terperangkap karena terbatasnya penyebaran batuan reservoir dan sebagian karena
letak ketinggian daripada penyebaran tersebut.

5.3.3.2 Batuan Reservoir Karbonat
Batuan reservoir karbonat secara mutlak diwakili oleh terumbu (reef) atau
bioherm yang secara tegas merupakan perangkap yang terjadi karena terbatasnya penyebaran
tubuh batuan reservoir.
Tabel 5-2 klasifikasi perangkap stratigrafi (Rittenhouse,1972)


5.3.3.3 Batuan reservoir lainnya
Tubuh batuan seperti basalt ataupun sepertin diintrusikan ke dalam formasi
penutupnya, dan batuan vulkanik tersebut retak-retak pada waktu pendinginan. J uga lensa-
lensa tuff dalam bentuk kerucut aslinya yang tertutup sedimen sebagai lapisan penyekat dapat
dimasukkan sebagai perangkap dalam kategori ini. Perangkap macam ini sangat jarang.

5.3.4.1 Reservoir Klastik Detrius
Reservoir jenis ini sering merupakan perangkap stratigrafi dalam kategori
ketidaklanjutan porositas atau sifat reservoir yang disebabkan pembajian ke atas atau
penyerpihan ke atas.
1. Pembajian keatas, biasanya berasosiasi dengan pasir pantai yang bersifat transgresif
pada suatu bidang ketidakselarasan yang bersifat penumpangan progresif. Dalam hal
ini bentuk lapisan reservoir adalah suatu prisam, akan tetapi hanya bagian yang
menaik ke atas saja yang bertindak sebagai perangkap.
2. Penyerapan keatas, biasanya berasosiasi dengan pasir pantai yang bersifat regresif dan
juga transgresif jika tidak berasosiasi dengan ketidakselarasan. Perangkap stratigrafi
hanya dapat terjadi jika kemiringan wilayah terbalik dengan kemiringan lereng
pengendapan aslinya.

Gambar 5.37 pembalikan kemiringan wilayah dari kemiringan aslinya menyebabkan
unsure perangkap oleh penyerpihan kearah laut.

Pembedaan antara pembajian dengan perubahan fasies sukar dilakukan dan pada
umumnya penghalang permeabilitas disebabkan karena perubahan fasies. Dalam hal terumbu
perangkap perubahan fasies dapat pula terjadi jika terumbu dalam keadaan transgresi atau
regresi (Link,1951) sehingga merupakan suatu kompleks terumbu.perubahan diagenesa
mungkin merupakan factor yang lebih penting daripada perubahan fasies pada perangkap
stratigrafi karbonat. Menurut Rittenhouse (1972) penghalang permebilitas dapat terjadi secara
lateral karena :
1. Suatu batuan non-reservoir telah dirubah kearah bawah kemiringan menjadi
batuan reservoir.
2. Suatu batuan reservoir sebagian telah diubah menjadi batuan non-reservoir dalam
kearah atas kemiringan dan bertindak sebagai penghalang permeabilitas.

5.3.5 Peranan Daerah Batuan Dasar Tinggi Dalam Pembentukan Stratigrafi
Daerah peninggian batuan dasar penting dalam pembentukan perangkap
stratigrafi. Daerah peninggian ini merupakan perbukitan atau paleotopografi. Pada waktu
transgresi , daerah tersebut merupakan pulau dari mana klastik detritus dierosi dan
diendapkan sebagai pantai sekelilingnya. Transgresi selanjutnya akan menenggelamkan pulau
tersebut dan serpih atau karbonat akan menutupinya, sehingga sekeliling daerah tinggi itu
terdapat pembajian lapisan pasir keatas kemiringan terhadap bukit-bukit terpendam tadi.

5.4 Perangkap Kombinasi Struktur dan Stratigrafi
Perangkap minyak bumi kebanyakan merupakan kombinasi perangkap struktur
dan stratigrafi, dimana setiap unsure stratigrafi dan unsur struktur merupakan factor bersama
dalam membatasi bergeraknya atau menjebak minyak bumi.

5.4.1 Kombinasi Lipatan-Pembajian
Kombinasi lipatan-pembajian dapat terjadi karena di salah satu pihak pasir
menghilang dan di lain pihak hidung antiklin menutup arah lainnya. Kombinasi lain adalah
antara perangkap stratigrafi yang berbentuk lensa dan pelipatan. Hal ini terjadi dalam
endapan delta, dimana sebetulnya unsur struktur hanya merupakan pelengkap saja, yaitu
tanda bahwa dengan adanya struktur akan terjadi akumulasi. Contoh lain kombinasi
pemabajian-lipatan ialah yang hanya terjadi pada suatu peninggian dasar (basement high)
sebagaimana telah dibahas sebelumnya, dimana kompaksi serpih akan mengakibatkan
pelipatan.


5.4.2 Kombinasi Patahan-pembajian
Kombinasi ini merupakan aspek penting pada perangkap stratigrafi. Pembajian
yang berkombinasi dengan patahan jauh lebih biasa daripada pembajian yang berdiri sendiri.
Misalnya di satu pihak terdapat suatu kemiringan wilayah yang membatasi geraknya minyak
ke suatu arah dan diarah lain ditahan oleh suatu patahan sedangkan di arah yang lainnya lagi
dibatasi oleh pembajian. Maka disini jelas suatu kemiringan wilayah adalah sangat penting.

5.5 Perangkap Ketidakselarasan dan Perangkap Sekunder
5.5.1 Perangkap paleomorfologi
Pada umunya yang dapat membentuk suatu perangkap ialah ketidakselarasan
bersudut, sedangkan untuk ketidakselarasan lainnya diperlukan juga unsur lain. Suatu
ketidakselarasan dapat menghilang ke suatu arah, bahkan dapat berpotongan atau
berkonvergensi menjadi satu. Pada suatu gejala ketidakselarasan, gejala stratigrafi dapat
terjadi selain dibawah bidang ketidakselarasan tersebut juga diatasnya dalam bentuk suatu
penjangkauan transgresi.

Gambar 5.43 hubungan ketidakselarasan denganperangkap diatas dan dibawahnya
(Martin,1966)

Dalam hal yang disebut terakhir, maka masing-masing lapisan pasir yang berada pada
urutan diatasnya akan berada jauh ke sesuatu arah daripada yang berada dibawahnya. Dengan
demikian hal ini member kesempatan akan adanya perangkap stratigrafi seperti suatu
pembajian. Selain itu juga lapisan yang berada dibawah ketidakselarasan itu mungkin sangat
peka terhadap pelapukan sehingga menimbulkan rongga-ronnga porositas yang baik.
Permukaan suatu ketidakselarasan tidaklah selalu rata, malahan seringkali terdapat bekas-
bekas bukit yang terpendam sebagi sisa daripada erosi.

5.5.2 Perangkap Penyumbatan Aspal
Perangkap jenis ini juga dapat dikatakan sebagai perangkap yang berhubungan
dengan bidang erosi atau disebut pula perangkap sekunder. Dalam rembasan ini seringkali
bagian cairan yang mudah menguap meninggalkan suatu residu yang kemudian menjadi
suatu sumbat bagi perembasan minyak selanjutnya. Dengan demikian terbentuklah suatu
perangkap minyak.
5.5.3 Perangkap Stratigrafi dalam 3 Dimensi
Untuk pencarian perangkap stratigrafi dan juga perangkap kombinasi stratigrafi
dan struktur dimintakan pengertian lebih mendalam mengenai stratigrafi dan juga dalam
metoda untuk memperlihatkan perubahan yang terjadi dalam lapisan atau yang juga disebut
sebagai perubahan fasies. Metoda seismic selain dapat memperlihatkan pembajian dan
sebagainya, juga dapat menginterpretasikan litologi dengan mempergunakan analisa
kecepatan, sehingga seringkali dapat dibuat peta perbandingan pasir serpih atau juga
perbandingan klastik karbonat.

5.6 Klasifikasi Perangkap De Sitter
Klasifikasi ini sebetulnya merupakan pengetahuan secara ikhtisar mengenai jenis
perangkap. Klasifikasi hanya sekedar merupakan suatu ikhtisar saja. Klasifikasi oleh de sitter
(1950) yang didasarkan atas dua unsur terpenting, yaitu unsure struktur (tektonik) dan unsur
stratigrafi.

Gambar 5.46 klasifikasi perangkap minyak menurut de sitter (1950)

A. Variasi lateral dalam permeabilitas :
a. Lensa-lensa pasir dan gamping, khususnya batupasir berbentuk tali-sepatu. Ini
merupakan saluran ataupun pantai yang telah menjadi fosil dan juga terumbu
koral yang fosil.
b. Berbagai variasi permeabilitas dan porositas local, primer ataupun sekunder dalam
batugamping.
c. Variasi lateral dalam permeabilitas pada batupasir.
d. Penyumbatan pori-pori oleh aspal dan gejala lain.
B. Ketidakselarasan :
a. Batuan reservoir adalah lebih muda atau berada diatas ketidakselarasan.
b. Batuan reservoir pasir, konglomerat dasar atau breksi dasar sebagai eluvial diatas
ketidakselarasan.
c. Batuan reservoir yang merupakan formasi yang terpancung.
C. Berbagai bentuk tektonik :
Dalam berbagai bentuk tektonik yang landai, perubahan variasi permeabilitas terjadi
secara primer, dimana besar butir memegang peranan penting. Dalam hal yang
terakhir ini kadang-kadang perbedaan dalam kompaksi juga memperlihatkan bentuk
yang menyerupai bentuk tektonik. Akumulasi tektonik adalah yang paling berbeda.
Pada golongan pertama pelipatan landai memperlihatkan perubahan dari golongan
ketidakselarasan menjadi golongan perubahan atau variasi dalam permeabilitas.
Dalam hal ini bentuk yang disebabkan karena kompaksi, oleh de sitter dimasukkan
sebagai tektonik, karena penggungan tempat sedimen diendapkan sebetulnya
mempunyai asal tektonik, dan kompaksi dari serpih yang berlebihan pada samping
punggungan itu sebetulnya justru hanya berfungsi untuk lebih menonjolkannya lagi.

5.7 Perangkap Dalam Keadaan Hidrodinamik
Dalam keadaan hidrodinamik minyak dapat terjebak selain dalam keadaan yang
telah dibahas diatas, juga dalam keadaan struktur dan stratigrafi lainnya, sehingga menambah
kemungkinan terdapatnya akumulasi minyak dan gas bumi. Gradient hidrodinamik
didapatkan jika lapisan rerservoir tersingkap pada permukaan dan menerima air, kemudian
mengalirkannya ke luar pada titik yang lebih rendah, sehingga timbul perebedaan potensial.
Dalam keadaan hidrodinamik, akumulasi dapat diterangkan oleh teori King Hubbert
(1953). Dalam teori ini diterangkan bahwa minyak dan gas (setelah berada dalam fasa
menerus) akan bergerak dan berkumpul pada bagian kerakbumi (perangkap) yang secara
local mempunyai potensial paling rendah. Tidak mungkin minyak dan gas bumi bergerak
menuju medan potensial yang lebih tinggi, walaupun dalam perjalanan ke potensial yang
lebih rendah. Dengan demikian bidang batas air-minyak akan selalu merupakan suatu bidang
ekipotensial.
A. Perbedaan berat jenis minyak dan gas dapat menimbulkan perbedaan kemiringan.
Dalam suatu lapisan reservoir yang tipis, dapat terjadi bahwa gas hanya terdapat di
satu sayap saja.
B. Keadaan hidrodinamik dapat menimbulkan perangkap baru, dengan konsepsi tutupan
yang berlainan.
J ika ada perbedaan permeabilitas dan arah gradient hidrodinamik kea rah bawah dari
kemiringan. Konsepsi hidrodinamik masih dalam taraf penelitian, dan belum dapat diterapkan
secara operasional.





















BAB 7
BATUAN INDUK, PEMATANGAN DAN MIGRASI SERTA AKUMULASI MINYAK
DAN GAS BUMI
Secara populer sering dikemukakan, bahwa pembentukan minyak bumi terjadi karena
pengonggokan zat organic terutama plankton, pada dasar laut, dan tertimbun dengan sedimen
halus dalam keadaan reduksi, sehingga terawetkan. Hal ini hanya terjadi di cekungan sedimen
dimana terdapat suatu ambang dari laut terbuka, sehingga terdapat suatu keadaan setengah
euxinic, dengan sedimentasi yang cepat, dibarengi dengan penurunan. Lama-lama kita
mendapatkan suatu urutan batuan serpih yang kaya akan zat organic dan berwarna hitam
yang disebut source rock atau batuan induk. Karena gradient panas bumi dan gaya tektonik
serta pembebanan, oleh temperature tinggi dan tekanan, zat organic tersebut diubah menjadi
minyak dan gas bumi dan dipperas ke luar untuk bermigrasi ke batuan reservoir. Konsepsi
populer ini menimbulkan suatu konsepsi mengenai batuan induk yang dicirikan oleh
beberapa sifat tertentu.
7.1 Konsepsi Batuan Induk
Beberapa penyelidikan (patnode,1941); (Hunt dan J ameson,1956) memperlihatkan
bahwa semua batuan sedimen mengandung zat organic, terutama dalam bentuk kerogen
walaupun hidrokarbon dan aspal ditemukan pula (Smith,1954). Selain kerogen, menurut
Philipi (1957) batuan induk mengandung 5 sampai 5000 ppm hidrokarbon pribumi
(indigenous). Baik tidaknya suatu batuan induk tergantung dari jumlah minyak bumi yang
pribumi ini. Minyak bumi yang telah bermigrasi keluar hanya merupakan fraksi kecil saja
bila dibandingkan dengan yang masih ketinggalan dalam batuan induk. Batuan innduk
dianggap baik, ditempat dimana hasil pengeplotan memperlihatkan jalur lurus (hubungan
linear) antara bahan organic dan karbon organic; dan diluar jalur ini batuan bukan bataun
induk, ataupun hidrokarbon nonpribumi. Selain serpih gamping pun dapat bertindak sebagai
batuan induk. Levorsen (1958) justru berpendapat, bahwa batuan induk yang baik justru
sedikit mengandung zat organic yang ketinggalan, karena sebagian besar telah
ditransformasikan menjadi minyak bumi.
7.2 Penetuan Batuan Induk
Menurut Haun(1977) kriteria-kriteria dibawah ini lazim dipakai sebagai standar untuk
identifikasi batuan induk.
1. TOC. (kadar) karbon organik total yaitu persentase berat dari karbon organik dalam
suatu contoh batuan. Yang dimaksud dengan karbon organic adalah zat karbon yang
berasal dari zat organic dan bukan berasal dari karbonat (gamping misalnya).
2. EOM. Zat organik yang dapat diextrasikan yang dimaksud adalah hidrokarbon dan
nonhidrokarbon yang dapat dilarutkan (dalam CS2 misalnya) atau bitumina. Pada
umumnya ekstrak dari batuan induk susunan kimianya harus mengandung susunan
utama dari minyak mentah (Erdman,1961).
3. CPI. Index preferensi karbon adalah perbandingan antara volum anggota n-parafin
yang bernomor ganjil terhadap yang bernomor genap dari kisaran C21-C37.
4. CIR. Perbandingan isotop karbon C13/C12 kisaran nilai CIR untuk minyak bumi
adalah 1% (0,0109-0,0110).
5. LOM tingkat pematangan termal. Teori degradasi termal pembentukan minyakbumi
menunjukkan bahwa minyak bumi hanya bisa terbentuk pada tingkatan pematangan
tertentu yaitu kombinasi antara temperature atau lamanya zat organic mengalami
temperature tersebut.
Sifat minyak yang berbeda-beda dalam lensa pasir yang berbeda-beda fasies (seperti di Red
Wash Field); Koesoemadinata,1970), menunjukkan bahwa yang telah bertindak sebagai
batuan induk adalah serpih yang menyekat batuan pasir di sekitarnya, sehingga tak
memerlukan adanya fasies reservoir yang terpisah dari fasies batuan induknya.
7.3 Waktu Pembentukan Minyak dan Gas Bumi
Konsepsi stadium-serpih. Waktu pembentukan minyak dan gas bumi sangat erta
hubungannya dengan mekanisme transformasi dan mekanisme migrasi. J uga hal ini sangat
erat hubungannya dengan terjadinya suatu akumulasi minyak, ada tidaknya suatu perangkap
pada waktu minyak dikeluarkan.
7.3.1 Anggapan Pembentukan Segera
Anggapan ini didasarkan pada banyak hal :
1. Terdapatnya hidrokarbon dalam sedimen resen. Minyak bumi terbentuk tal lama
setelah sedimentasi. Akumulasi dapat terjadi dalam waktu beberapa puluh ribu tahun
saja.
2. Kenyataan bahwa makin tertimbun sedimen, lempung dan serpih makin padat
sehingga makin sulit bagi cairan yang terbentuk didalamnya untuk bermigrasi.
Gussow (1955) dan Welte(1964) berpendapat bahwa migrasi primer justru bisa dimulai pada
kedalaman 500 meter, dan berakhir apabila porositas mendekati kisaran 5 sampai 10 persen,
kira-kira pada kedalaman 3000 samai 6000 meter.
7.3.2 Anggapan Pembentukan Lambat-stadium serpih
Batuan induk harus mengalami suatu stadium serpih (shale stage) dahulu sebelum
dapat menghasilkan minyak bumi. Berbagai fakta yang menunjukkan bahwa minyak bumi
dapat terbentuk segera setelah sedimentasi memperkuat adanya kemungkinan terbentuknya
minyak bumi sebelum diagenesa/litifikasi. Adanya perbedaan prinsipil antara hidrokarbon
yang terdapat di sedimen resend an yang terdapat dalam minyak bumi. Welte(1964)
mengemukakan teorinya mengenai hubungan antara batuan induk dan minyak bumi, dimana
batuan induk dapat beberapa kali menghasilkan minyak bumi dengan sifat kimia yang
berlainan dan mempunyai hubungan erat sekali dengan perkembangan cekungan sedimen. Ia
beranggapan, bahwa proses pembentukan minyak terutama disebabkan karena degradasi
termis; sedangkan peranan bakteri diragukan, atau paling-paling hanya pada pembusukan
atau persiapan untuk proses selanjutnya.
7.4 Pematangan Minyak Bumi
7.4.1 Pengertian Pematangan
Philipi(1965) berpendapat, bahwa proses pematangan terjadi dalam batuan induk,
dan yang bermigrasi adalah minyak bumi yang asli. Minyak bumi yang belum matang
sebagai zat transisi tidak ditemukan. Haeberle (1951) dan Hunt(1958) menunjukkan bahwa
fasies memegang peranan dalam menentukan jenis minyak bumi, seperti misalnya perbedaan
derajat API. Pengertian minyak muda dan matang : minyak bumi yang bersifat naften
atau aspal biasanya dianggap muda, mengandung lebih banyak senyawa hidrokarbon
dengan berat molekul tinggi, berat jenis tinggi (derajat API rendah), perbandingan atom
hydrogen terhadap karbon rendah, dan pada umumnya mengandung lebih banyak senyawa
yang mengandung belerang, nitrogen dan oksigen, serat kadar bensinnya rendah.
7.4.2 Proses Pematangan
Untuk proses pematangan ini diajukan berbagai macam hipotesa.
1. Teori perbandingan karbon dari white. White(1915) menghubungkan terjadinya
perubahan minyak bumi dengan metamorfisme regional, sebagaimana diperlihatkan
pada perubahan batubara. Berdasarkan penelitiannya di pegunungan Appalachia
disimpulkan bahwa minyak bumi yang bertingkat paling rendah ditemukan di daerah
dengan formasi yang mengandung endapan karbonan yang paling sedikit terubah.
2. Fraksinasi minyak dalam batuan (Day,1916)
Teori ini mengemukakan bahwa pendewasaan disebabkan karena fraksinasi minyak
bumi dalam serpih lempung/batuan induknya. Dengan demikian minyak bumi yang
bermigrasi akan lebih matang.
3. Hubungan berat jenis (derajat api) minyak bumi terhadap umur dan kedalaman.
Barton (1934) menemukan dari beberapa penelitiannya di daerah gulfooast, bahwa
untuk umur yang sama, makin dalam terdapatnya minyak bumi makin meningkatnya
kadar fraksi ringan dan derajat API nya.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah makin dalam terdapatnya minyak bumi dan makin tua
umurnya minyak bumi main meningkatlah perbandingan hydrogen/karbon.
Berbagai proses pendewasaan karena kedalaman dan umur yang telah diusulkan, yaitu :
a. Hidrogenasi dan metilisasi. Dalam proses ini hidrokarbon yang tidak jenuh dijenuhi
dengan hydrogen atau metil, dan merubah hidrokarbon siklis menjadi alifat.
b. Reaksi katalitis dan cracking. Peninggian temperature dan pengaktifan katalisator
aakan mematahkan hidrokarbon berat menjadi hidrokarbon ringan/paraffin.
c. Aromatisasi. Zat naften dan aromat akan ketinggalan, dan minyak yang bermigrasi
akan menjadi lebih bersifat paraffin. Pada proses ini atom hydrogen akan dilepaskan.
d. Migrasi pemisahan dari fasa (silverman,1965). Konsepsi ini meliputi pemisahan
secara fisik satu fasa dari sistem reservoir minyak bumi berfasa dua, yang kemudian
diikuti oleh migrasi dari fasa yang telah dipisahkan dari reservoir aslinya.
7.4.3 Pematangan Sebagai Konversi Geokimia Minyak bumi
Proses pematangan minyak bumi mungkin lebih diyakinkan oleh konsepsi
Andreev, Bogomolov, Dobryanski dan Kartsev (1958) proses ini didasarkan atas analisa
termodinamika yang menyatakan, bahwa zat organic yang terdiri dari beraneka unsure
mempunyai energy bebas lebih tinggi dan transformasi spontan senyawa organic akan selalu
terjadi dari energi bebas tinggi ke tingkatan energy bebas rendah. Perubahan susunan kimia
ini oleh ilmiawan Soviet dinamakan sebagai : konversi geokimia minyak bumi. Proses ini
meliputi 11 tahap :
1. Permulaan, zat organic yang telah dideoksigenasikan dalam bataun sedimen
(sapropel).
2. Zat resin sekunder, yang terbentuk dengan timbulnya hidrokarbon, termasuk senyawa
heterogen.
3. Zat resin primer, yang belum mempunyai sifat hidrokarbon.
4. Senyawa aromat yang berberat molekul tinggi, terdiri dari satu atau lebih cincin
sikloparafin-polisiklis.
5. Hidrokarbon aromat bisiklis dan monosiklis yang sederhana
6. Hidrokarbon sikloparafin-polisiklis
7. Sikloparafin monosiklis dan bisiklis
8. Hidrokarbon bersifat paraffin sebagai objek akhir dari semua.
9. Gas alam jenis paraffin
10. Senyawa yang benyak mnegandung karbon dengan berat molekul tinggi dan
berstruktur siklis
11. Tubuh grafit, merupakan hasil akhir pengkonversian minyak bumi atau sebagian
minyak bumi.
Disini secara tegas dinyatakan bahwa dimulai dengan zat organic, maka hidrokarbon
berevolusi ke dua arah : arah satu adalah pembentukan paraffin ringan dengan metan sebagai
hasil akhir, dan arah lain yaitu aromat dengan grafit sebagai hasil akhir melalui pirobitumina.
7.4.4 Konsepsi pematangan Phillipi (1965)
Phillipi (1965) berdasarkan pekerjaannya di Sumatera Selatan, Venezuela(1957)
dan cekungan ventura dan Los Angeles, menunjukkan bahwa pematangan (maturation)
minyak bumi yang berhubungan dengan pembentukannya sendiri terjadi dalam batuan induk.
Pendewasaan minyak bumi merupakan hasil degradasi termal zat organic, sehingga
merupakan fungsi gradient geothermal. Dalam analisanya dari jenis hidrokarbon dalam
batuan induk terhadap kedalaman didapatkan :
1. Kadar hidrokarbon bersama dengan perbandingan hdrokarbon/karbon non karbonat
meningkat kuat.
2. Peningkatan ini lambat pada permulaan, tetapi sangat menyolok dalam serpih miosen
atas (15 juta tahun).
3. Susunan secara keseluruhan daripada hidrokarbon dengan titik didih diatas 325C
tidak kelihatan berubah dalam proses pembentukan minyak bumi.
4. Konsentrasi total hidrokarbon dengan titik didih diatas 325C meningkat dengan
kedalaman dan umur.
Pendapat Phillipi (1965) ini menerangkan mengapa dalam lapisan semuda pliosen muda
seperti minyak yang didapatkan di California telah matang. Keberatan terhadap teori ini ialah,
bahwa minyak harus bermigrasi secara vertical melalui serpih tebal yang rapat.

7.4.5 Evolusi Kerogen Menurut Tissot (1974)
Dalam hal ini Tissot (1974) menganggap kerogen sebagai zat asal dari
hidrokarbon. Struktur umum dari kerogen terdiri dari inti siklis yang berkondensasi secara
majemuk (polycondensed), yang mempunyai rantai-rantai alkil dan diikat oleh ikatan
heteroatom yang menyangkut oksigen khususnya. Diagram evolusi memperlihatkan bahwa
pada permulaan terjadi penurunan kadar oksigen, dan bergabung menjadi satu jalur dengan
O/C yang sangat rendah, dan hidrokarbon terbentuk (minyak dan gas bumi). Pembentukan
minyak bumi dengan jenis kerogen misalnya, jenis I menghasilkan banyak minyak bumi
(jalur evolusi tinggi) dan jenis III menghasilkan banyak CO2 dan H2O dan menghasilkan
metan pada kedalaman besar tetapi hampir tidak menghasilkan minyak bumi.
7.4.6 Hubungan Antara Pengubahan/Pematangan Teraml Zat Organik Dengan
Pembentukan Minyakk dan Gas Bumi
Landes (1967) dan Staplin (1969) menunjukkan adanya hubungan langsung antara
pengubahan termal zat organic yang terdapat dalam batuan sedimen dengan jenis minyak/gas
bumi yang terakumulasi diantaranya. Dalam hal ini harus dibedakan antara pengubahan yang
terjadi pada waktu diagenesa yang merupakan transformasi organic dengan perubahan termal.
7.4.6.1 Transformasi organic
Zat organic yang terkumpul dalam sedimen, pada waktu diagenesa mengalami
berbagai perubahan, yang merupakan transformasi organic. Perubahan terjadi pada waktu
transport, dengan adanya transformasi kimia, pelarutan, pemilahan fisika, pencernaan dan
pemrosesan oleh organism, dan mekanisme koagulasi dan presipitasi. Keadaan anaerob itu
adalah relatif, karena untuk reduksi selalu diperlakukan oksigen.
7.4.6.2 Pengubahan termal zat organic dan tingkat pematangan termal (LOM)
Perubahan termal zat organic mungkin dimulai dari temperature 100C.
perubahan temperatur yang dapat menyebabkan mulainya metamorfisme dan sangat
berpengaruh pada zat organic yang terkandung dalam sedimen oleh Landes (1967) disebut
eometamorfisme. Cara penentuan IOM adalah :
1. Index pengubahan termal: TAI (thermal alteration index) Staplin (1969), Evans dan
Staplin(1970). Metoda ini mempergunakan penentuan warna secara visual dari pollen
(serbuk kepala putik) dan zat organic lainnya, dari warna kuning, cokelat sampai
hitam.
2. Refleksitansi vitrinit. Metoda ini mempergunakan partikel-partikel batubara (vitrinit)
dalam batuan sedimen yang dipoles dan daya pemantulan cahaya diukur.
3. Perbandingan karbon terikat. Metoda ini mempergunakan lapisan-lapisan batubara
yang tersisip dalam batuan induk
4. Tingkatan batubara. Metoda ini mempergunakan lapisan-lapisan batubara yang
berasosiasi dengan batuan induk atau terdapat berdasarkan.
Selain itu dapat pula dipakai untuk mengukur eometamorfisme atau LOM dengan :
a. Menghilangnya porositas batuan reservoir yang disebabkan kedalaman pembebanan
dan gradient geothermal.
b. Pematangan minyak bumi oleh pemecahan termal, dari minyak bumi yang terdapat
dalam batuan induk tersebut.
Menurut Klemme (1972), kecepatan pembentukan minyak bumi dari pembebasan
asam lemak atau lipid dari kerogen merupakan suatu proses yang berhubungan dengan
temperatur yang bersifat eksponensial dan dimulai pada temperatur 93C. pembentukan dan
akumulasi minyak bumi dalam hal ini sangat tergantung dari gradient geothermal, terutama
jika dihubungkan dengan porositas dan migrasi.
7.5 Migrasi
Minyak yang terbentuk terdapat dalam bentuk tetes-tetes kecil atau mungkin sebagai
koloid, sehingga untuk terjadinya suatu akumulasi komersil perlu adanya pengkonsentrasian,
antara lain, keluarnya tetes-tetes tersebut ke dalam batuan reservoir, dan kemudian bergerak
ke perangkap. Migrasi sekunder adalah pergerakan fluida dalam lapisan penyalur untuk
menuju ke tempat akumulasi. Akumulasi adalah tetes-tetes atau gumpalan-gumpalan minyak
terperangkap dan berkumpul merupakan suatu akumulasi.
7.5.1 Sarat Fisika Untuk Migrasi
1. Perbedaan tetes dengan fasa kontinu : kapilaritas/tegangan permukaan menghalang-
halangi bergeraknya tetes.
2. Kapilaritas tetes dalam pori/konstriksi : dalam keadaan statis pada tiap tonjolan
terdapat keseimbangan tekanan sebelah-menyebelah selaput pemisah fasa.
Tekanan penggeseran yang diperlukan tergantung dari besar pori/besar butir dan tegangan
antar permukaan. Makin kecil besar butir, makin besar tekanan yang diperlukan, sebaliknya
begitupun dengan tegangan permukaan. Agar minyak dapat bermigrasi dalam pori-pori yang
berisikan air secara mekanik, diperlukan dulu suatu fasa kontinu.
7.5.2 Sumber tenaga untuk migrasi
Berbagai jenis sumber yang mungkin ialah :
1. Kompaksi
2. Tegangan permukaan
3. Gravitasi pelampungan
4. Tekanan hidrostatik
5. Tekanan gas
6. Sedimentasi
7. Gradient hidrodinamik
7.5.3 Mekanisme migrasi
Beberapa mekanisme itu ialah :
7.5.3.1 Dengan pertolongan air
Air mnyeret atau membawa minyak untuk bergerak :
1. Sebagai droplet, yaitu tetes-tetes kecil yang dibawa arus air.
2. Sebagai Micelle (baker,1962). Adanya gugusan hidroxil atau karboxil, pada ujung
suatu molekul yang bertindak hidrofil sedangkan ujung lainnya hidrofob, dapat
melarutkan hidrokarbon.
3. Pelarutan zat induk minyak (non hidrokarbon) dalam air (Hunt,1868) mengusulkan
kemungkinan bahwa migrasi terjadi bukan dalam bentuk hidrokarbon/minyak bumi
yang jelas mengalami kesulitan, tetapi dalam bentuk zat induknya (proto-petroleum),
seperti ketom asam dan ester yang mudah larut dalam air.
7.5.3.2 Tanpa pertolongan air
Gelembung/tetes minyak bergerak relatif terhadap air yang boleh dikatakan
statis.
1. Gerakan kapilaritas (Washburn,1915). Adanya perbedaan tegangan permukaan antara
air dengan minyak, menyebabkan air masuk ke pori-pori yang halus, sedangkan
minyak ke pori-pori yang kasar.
2. Pelarutan dalam gas dan ekspansi gas (Mills,1923). Minyak dapat larut dalam gas,
terutama pada temperatur dan tekanan tinggi. Mekanisme ini dapat terjadi pada
migrasi primer ataupun sekunder.
3. Teori pelampungan. Karena perbedaan berat jenis minyak bumi dan air, maka suatu
gumpalan minyak akan selalu melambung mencari tempat yang tinggi.
4. Teori gerakan hidrolik (Munn,1909). Gerakan hidrolik terjadi terutama karena adanya
air yang terperas ke luar oleh kompaksi, ataupun karena gradient hidrodinamik.
5. Teori pengaliran minyak bumi melalui matriks zat organik/kerogen
(Erdman,1965;McAuliffe,1979). Masalah kapilaritas sebagai penghalang utama untuk
migrasi adalah disebabkan bahwa batuan pada umumnya dan batuan induk bersifat
hidrofil atau aleofobe, tidak dibasahi minyak.
7.5.4 Migrasi Primer
Migrasi primer merupakan proses bergeraknya fluida dari batuan induk yang
berupa batuan klastik halus (serpih-lempung) dimana zat organik terkumpul dan kemudian
ditransformasi menjadi minyak bumi ke batuan yang lebih sarang atau yang disebut lapisan
penyalur.
7.5.4.1 Hubungan antara migrasi primer dengan kompaksi, diagenesa dan dehidrasi
Migrasi primer mau tidak mau berhubungan erat dengan kompaksi, litifikasi,
diagenesa dan dehidrasi, terutama dari endapan lempung dimana kebanyakan zat organic
terdapat dan dianggap sebagai batuan induk. Pembentukan minyak bumi mungkin terjadi
pada kedalaman yang cukup besar (dimana temperatur cukup tinggi), dan pada kedalaman ini
air pori dalam montmorillonit baru dapat diperas keluar karena untuk ini diperlukan lapisan
beban yang tebal. Untuk migrasi diperlukan air. Untuk migrasi primer ini proses dehidrasi
sangatlah penting. Dalam hubungan dengan migrasi minyak bumi, Burst (1969) mengusulkan
sebagai berikut :
Pada stadium III, hidrokarbon cairan tidak dapat bergerak pada kedalaman tingkat
penguburan, dan tak ada gerakan cairan dari jenis apa pun yang berarti.
Pada stadium II, terjadi suatu interval peralihan dimana hidrokarbon didesak keluar
oleh air formasi yang terbentuk oleh lempung.
Pada stadium I, terjadi pada interval yang relatif dangkal dimana hidrokarbon
direstribusikan dan cairan pada umumnya ditransport ke permukaan.
Setelah lempung tertimbun dan mnejadi serpih, sebagian air yang diperas, lebih kurang
sepertiganya (1,11 mil kubik), keluar secara lateral ke dalam batuan reservoir berpori yang
ada di dekatnya. Kapilaritas dengan imbibisi (McCoy,1919) rupanya juga merupakan
mekanisme utama setelah kompaksi selesai, tetapi pembentukan minyak bumi terus terjadi.
7.5.4.2 Kedalaman Permulaan migrasi primer (Coerdell,1972)
Cordell(1972), melakukan suatu studi yang mendalam mengenai hal ini dan
dengan mendasarkan pada pematangan organic dari teori degradasi termal pembentukan
minyak bumi berpendapat bahwa pembebanan sampai 50-65 meter air pori-pori terperaskan
ke permukaan, sehingga jika pun ada sedikit migrasi pada kedalaman ini hidrokarbonnya
akan hilang, malah kemungkinan minyak bermigrasi sebagai droplet kecil karena penarikan
kapilaritas.
7.5.4.3 Pengaruh gradient geothermal terhadap migrasi
1. Faktor temperatur. Menurut Levorsen(1958), panas mempunyai efek terhadap
migrasi, terutama dari segi viskositas hidrokarbon, volum, tekanan dan
kelarutan. Peningkatan temperatur akan menurunkan viskositas dan peningkatan
volum, tekanan dan kelarutan.
2. Faktor porositas dan kedalaman. Maxwell (Klemme,1972) menunjukkan
penurunan porositas batupasir secara linear menurut kedalamannya. Hal ini
dihubungan dengan kenaikan tekanan. Waktu juga memegang peranan yang
menentukan pengaruh kompaksi terhadap porositas. Gradient geothermal
memegang peranan penting, bukan saja dalam pembentukan minyak bumi
(Welte,1965), tetapi juga dalam migrasi primer maupun sekunder.
Temperature tinggi juga membantu pergerakan bentuk globul atau bentuk micelle
hidrokarbon dalam migrasi primer. Klemme (1974) berkesimpulan bahwa dalam cekungan
sedimen dengan gradient geothermal tinggi akan terjadi pula akumulasi minyak bumi yang
besar dan akan terdapat lapangan raksasa.
7.5.5 Migrasi Sekunder: Arah, jarak dan Mekanisme
Pergerakan minyak bumi kearah perangkap yang juga disebut longitudinal
migration, pada umumnya berlangsung sepanjang lapisan penyalur.
Banyak bukti menunjukkan bahwa migrasi minyak bumi berlangsung dalam jarak pendek
saja.
1. Minyak bumi terjadi dalam lensa-lensa reservoir, sehingga orang sukar
membayangkan migrasi dari jarak jauh.
2. Sukar bagi kita untuk dapat memahami bahwa tetes-tetes minyak dapat bergerak
secara ekstensif sepanjang kemiringan rendah.
3. J uga dalam produksi tak semua minyak dapat dikeluarkan apabila migrasi memang
dari jarak jauh, sebagian minyak pasti ada yang ketinggalan di sepanjang jalan yang
dilalui.
Ada pula pendapat yang membenarkanmigrasi jarak jauh. Hal ini diterangkan sebagai berikut
:
1. J ika minyak dapat bergerak dalam jarak pendek, maka jika diberi waktu cukup lama
ia dapat pula bergerak jarak jauh.
2. Bukti mengenai migrasi jarak pendek pada lensa-lensa tak kena, karena batuan
reservoir menerus, sehingga minyak dapat bermigrasi jauh.
3. Produksi minyakbumi bukan fungsi dari jarak sumur, tetapi diberi waktu minyak
bergerak ke suatu sumur tidak tergantung jaraknya.
4. Bentuk serta ekstensi suatu perangkap jarang tetap seperti terdapat sekarang, sehingga
minyak bumi dapat bergerak jauh untuk menyesuaikannya.
5. Banyak penyelidikan geokimia memperlihatkan bahwa batuan induk minyak bumi itu
terdapat jauh dari tempat akumulasi sekarang, bahkan harus mengarungi dan
menembus formasi (Barbat,1967).
Mekanisme dari migrasi sekunder dapat bermacam-macam, tetapi mengingat cara
terdapatnya dalam perangkap (teori akumulasi), kelihatannya terjadi tanpa pertolongan air
(secara buoyancy,hidrolis ataupun ekspansi gas).
7.6 Akumulasi Minyak dan Gas Bumi
7.6.1 Teori akumulasi Gussow
Dalam keadaan hidrostatik, akumulasi dapat diterangkan oleh teori
Gussow(1951). Gumpalan atau tetes-tetes minyak dan gas akan bergerak sepanjang bagian
atas lapisan penyalur keatas, terutama disebabkan pelampungan. Begitu sampai di suatu
perangkap (dalam hal ini perangkap struktur), minyak dan gas akan menambah kolom gas
dan mendesak minyak ke bawah yang juga bertambah tinggi kolomnya dan gilirannya
medesak air kebawah. Hal ini akan terus terjadi sampai batas minyak-air mencapai spill-
point. Mekanisme ini menyebabkan penyebaran akumulasi minyak dan gas pada sejumlah
perangkap yang berderetan dan pada ketinggian strukturil yang berbeda.
7.6.2 Teori akumulasi King Hubbert
King Hubbert (1953) meninjau prinsip akumulasi minyak bumi dari segi
kedudukan energy potensial, dan erat hubungannya dengan perangkap hidrodinamik
sebagaimana telah dibahas. Minyak dan gas bumi akan berakumulasi jika bidang ekipotensial
yang tegak lurus terhadap garis gaya resultan kedua gaya tadi, menutup seluruhnya dari
bawah suatu daerah potensial rendah lokasi terisolir, misalnya suatu antiklin, suatu
pelengkungan ataupun struktur lainnya dimana lapisan reservoir dan lapisan penyekat
diatasnya konkav kearah bawah. Akumulasi minyak dan gas bumi merupakan suatu
keseimbangan yang dinamis.
7.6.3 Waktu penjebakan
Suatu perangkap dapat terisi atau kosong tergantung dari waktu
pembentukannya ataupun kapan minyak itu terbentuk atau berada dalam keadaan dapat
dijebak oleh perangkap. Rittenhouse (1967), dalam Dott dan Reynolds(1969) memberikan
kriteria untuk mengetahui waktu akumulasi. Berbagai metodanya memberikan informasi hal-
hal sebagai berikut :
1. Waktu tercepat dapat dimulainya akumulasi.
2. Waktu tercepat dapat terselesaikannya akumulasi.
Hal-hal tersebut dapat dipertimbangkan dari beberapa faktor sebagai berikut :
1. Waktu pembentukan perangkap. Waktu pembentukan perangkap adalah waktu
tercepat minyak dapat berakumulasi.
2. Perangkap yang terisi dan yang kosong. Terdapat kemungkinan perangkap yang terisi
dibentuk terlebih dulu dan perangkap yang kosong terbentuk lebih kemudian, setelah
migrasi sekunder berhenti.
3. Ekspansi gas. Hal ini dikemukakan oleh Levorsen (1956) yang mendasakannya pada
hukum boyle dan Charles. Gas mengembang jika tekanan turun.
4. Minyak dibawah penjenuhan. Anggapan dasar dari kriteria ini adalah bahwa minyak
telah jenuh dengan gas pada waktu akumulasi telah selesai.
5. Topi gas yang berkelainan. Hal ini diberikan oleh Levorse (1950) untuk keadaan
special. Topi gas yang tinggi dalam blok yang tuturn dalam perangkap patahan
menunjukkan akumulasi gas sebelum pematahan.
6. Difusi gas dalam reservoir yang sebagian terpisah dan tak jenuh. (Zafferano,Capps
dan Fry,1963). Difusi gas akan terjadi diantara reservoir yang demikian, dari yang
jenuh ke yang kurang jenuh, dan waktu yang diperlukan untuk hubungan sekarang
dapat dihitung.
7. Metoda energy. Dasar metoda ini adalah pengukuran kehilangan nilai energy dari
minyak dalam reservoir sepanjang waktu.
8. Mineral diagenesa. Diagenesa akan menurunkan porositas karena sementasi dan
kompaksi.
9. Sementasi organik. Yang dimaksud disini terutama adalah sementasi. Waktu
akumulasi adalah sebelum pengerosian bidang ketidakselarasan.
Dapat disimpulkan bahwa minyak bumi tidak terjadi pada waktu tertentu didalam evolusi
minyak bumi. Setelah berakumulasi di suatu perangkap, minyak bumi dapat bermigrasi lagi
ke perangkap yang terbentuk kemudian.

Anda mungkin juga menyukai