Anda di halaman 1dari 19

Sejarah olahraga

SEJARAH OLAHRAGA (History of Sport)

Sejarah olahraga dapat mengajarkan kepada kita arti mengenai perubahan masyarakat dan mengenai olahraga itu
sendiri.

Olahraga sepertinya melibatkan kemampuan dasar manusia yang dikembangkan dan dilatih untuk kepentingannya
sendiri, yang sejalan dengan dilatih demi kegunaannya. Ini menunjukkan bahwa olahraga itu mungkin sama tuanya
dengan keberadaan manusia itu sendiri, yang memiliki tujuan, dan adalah cara yang berguna untuk meningkatkan
kemampuan mereka dalam menaklukkan alam dan lingkungan.

Namun, jika kita melihat jauh ke belakang bukti-bukti yang makin sedikit kurang mendukung.

Isi [tutup] 1. Pra-Sejarah 2. Cina Kuno 3. Mesir Kuno 4. Yunani Kuno 5. Eropa dan perkembangan global

Prasejarah

Banyak penemuan modern di Perancis, Afrika dan Australia pada lukisan gua (lihat seperti Lascaux) dari jaman
prasejarah yang memberikan bukti kebiasaan upacara ritual. Beberapa dari bukti ini berasal dari 30.000 tahun yang
lampau, berdasarkan perhitungan penanggalan karbon. Lukisan/Gambar-gambar jaman batu ditemukan di padang
pasir Libya menampilkan beberapa aktivitas, renang dan memanah. [1] (http://www.fjexpeditions.com/) Seni lukis
itu sendiri adalah merupakan bukti pada ketertarikan pada keahlian yang tidak ada hubungannya dengan
kemampuan untuk bertahan hidup, dan adalah bukti bahwa ada waktu luang untuk dinikmati. Ini juga membuktikan
aktivitas non-fungsi lain seperti ritual dan sebagainya. Jadi, meskipun sedikit bukti yang secara langsung mengenai
olahraga dari sumber-sumber ini, cukup beralasan untuk menyimpulkan bahwa ada beberapa aktivitas pada waktu
itu yang berkenaan dengan olahraga.

Kapten Cook, saat ia pertama kali datang ke Kepulauan Hawaii, pada tahun 1778, melaporkan bahwa penduduk asli
berselancar. Masyarakat Indian Amerika asli bergabung dalam permainan-permainan dan olahraga sebelum
kedatangan orang-orang Eropa, seperti lacrosse, beberapa jenis permainan bola, lari, dan aktivitas atletik lainnya.
Suku Maya dan Aztec yang berbudaya memainkan permainan bola dengan serius. Lapangan yang digunakan dahulu
masih digunakan sampai sekarang.

Cukup beralasan untuk menyimpulkan dari sini dan sumber-sumber bersejarah lainnya bahwa olahraga memiliki
akar yang bersumber dari kemanusiaan itu sendiri.

Cina Kuno

Terdapat artefak dan bangunan-bangunan yang menunjukkan bahwa orang Cina berhubungan dengan kegiatan yang
kita definisikan sebagai olahraga di awal tahun 4000 SM. Awal dan perkembangan dari kegiatan olahraga di Cina
sepertinya berhubungan dekat dengan produksi, kerja, perang, dan hiburan pada waktu itu.

Senam sepertinya merupakan olahraga yang populer di Cina zaman dulu. Tentunya sekarang juga, seperti keahlian
orang Cina dalam akrobat yang terkenal secara internasional.

Cina memiliki Museum Beijing yang didedikasikan untuk subjek-subjek tentang olahraga di Cina dan sejarahnya.
(Lihat Olahraga Cina, Museum )

Mesir Kuno
Monumen untuk Faraoh menunjukkan bahwa beberapa cabang olahraga diperhatikan perkembangannya dan
dipertandingkan secara berkala beberapa ribu tahun yang lampau, termasuk renang dan memancing. Ini tidaklah
mengejutkan mengingat pentingnya Sungai Nil bagi kehidupan orang Mesir. Olahraga yang lain termasuk lempar
lembing, loncat tinggi, dan gulat. (Lihat referensi Olahraga Mesir Kuno)
(http://www.us.sis.gov.eg/egyptinf/history/html/hisfrm.htm).) Lagi, keberadaan olahraga yang populer menunjukkan
kedekatan dengan kegiatan non-olahraga sehari-hari.

Yunani Kuno

Banyaknya cabang olahraga sudah ada sejak jaman Kerajaan Yunani Kuno. Gulat, Lari, Tinju, lempar lembing dan
lempar cakram, dan balap kereta kuda adalah olahraga yang umum. Ini menunjukkan bahwa Kebudayaan militer
Yunani berpengaruh pada perkembangan olahraga mereka.

Pertandingan Olimpiade diadakan setiap empat tahun sekali di Yunani. Pertandingan tidaklah diadakan hanya
sebagai even olahraga saja, tetapi juga sebagai perayaan untuk kemegahan individu, kebudayaan, dan macam-
macam kesenian dan juga tempat untuk menunjukkan inovasi di bidang arsitektur dan patung. Pada dasarnya, even
ini adalah waktu untuk bersyukur dan menyembah para Dewa-Dewa kepercayaan Yunani. Nama even ini diambil
dari Gunung Olympus, tempat suci yang dianggap tempat hidupnya para dewa. Gencatan senjata dinyatakan selama
Pertandingan Olimpiade, seperti aksi militer dan eksekusi untuk publik ditangguhkan. Ini dilakukan agar orang-
orang dapat merayakan dengan damai dan berkompetisi dalam suasana yang berbudaya dan saling menghargai.

Eropa dan Perkembangan Global

Beberapa ahli sejarah- tercatat Bernard Lewis- Menyatakan bahwa olahraga beregu adalah penemuan Kebudayaan
Barat. Olahraga individu, seperti gulat dan panahan, sudah dipraktekkan di seluruh dunia. Tetapi tradisi olahraga
beregu, menurut para penulis ini, berasal dari Eropa, khususnya Inggris. (Ada catatan yang berlawanan- termasuk
Kabaddi di India dan beberapa permainan bola Mesoamerica.) Olahraga mulai diatur dan diadakan secara berkala
sejak Olimpiade Kuno sampai pada abad ini. Aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan
makanan menjadi aktivitas yang diatur dan dilakukan untuk kesenangan atau kompetisi dalam skala yang
meningkat, seperti berburu, memancing, hortikultur. Revolusi Industri dan Produksi massa menambahkan waktu
luang, yang membolehkan meningkatnya penonton olahraga, berkurangnya elitisme dalam olahraga, dan akses yang
lebih besar. Trend ini dilanjutkan dengan perjalanan media massa dan komunikasi global. Profesionalisme menjadi
umum, lebih jauh meningkatkan popularitas olahraga. Ini mungkin kontras dengan ide murni orang Yunani, dimana
kemenangan pada pertandingan dihargai dengan sangat sederhana, dan dihargai dengan daun zaitun. (Mungkin tidak
hanya mahkota daun zaitun, beberapa penulis mencatat.)

Mungkin karena reaksi dari keinginan hidup kontemporer, terdapat perkembangan olahraga yang paling baik
dielaskan dengan post-modern: extreme ironing sebagai contohnya. Juga ada penemuan baru di bidang olahraga
petualangan dalam bentuk melepaskan diri dari rutinitas kehidupan sehari-hari, contohnya white water rafting,
canyoning, BASE jumping dan yang lebih sopan, orienteering.

Lihat juga Nasionalisme dan olahraga


Asal Usul Sepakbola

Asal usul sepak bola (Cu Ju) berasal dari Tiongkok

Bicara tentang sejarah, olah raga sepak bola modern terlahir pada pertengahan abad ke 19 di
Inggris. Akan tetapi, F.I.F.A.(Federation of International Football Association) pada tahun 2004
sudah secara resmi mengakui bahwa sepak bola paling awal sekali berasal dari Tiongkok, kala
itu disebut Cu Ju (baca: Ju Cü). Permainan sepak bola tertua ini, bisa ditelusuri hingga lebih dari
2400 tahun yang lalu pada masa Chun Qiu Zhan Guo ( Musim semi musim gugur negara-negara
berperang) dan telah melewati silih pergantian dinasti dan dalam jangka waktu lama tidak surut.
Yang lebih penting lagi ialah, orang Tiongkok kuno ternyata sudah sejak dini untuk jenis olah
raga sepak bola ini telah mengukuhkan semangat sportifitas dan standard etika yang ketat.

Cu Ju adalah kegiatan sepak bola terawal yang dicatat dalam notasi sejarah. Menurut catatan
Siasat negara berperang, pada zaman Chun Qiu (musim semi dan musim gugur, antara tahun 722
s/d 481 S.M.) ibu kota dari negara Qi: Lin Zi, Cu Ju sudah popular. Cu Ju kala itu disebut pula
“?? /Ta Ju, baca: Da cü”. Cu dan Ta, sama-sama berarti menendang, Ju bermakna : bola. Sesuai
kitab Tai Ping Qing Hua, bola pada zaman dinasti Han “Terbuat dari kulit sebagai bahan luarnya
dan membungkus bahan dalamnya yang berisi rambut”.
Liu Xiang dari zaman dinasti Han (tahun 206 S.M s/d 220 Masehi) mencatat di bukunya: Catatan
Lain bahwa: “Pemain Cu Ju / sepak bola, konon diciptakan oleh Huang Di (kaisar Kuning).
Disebutkan mulai zaman Zhan Guo (Negara saling berperang), Ta Ju identik dengan semangat
tempur prajurit. Maka dari itu menggembleng laskar, diketahui yang berkemampuan hal tersebut.
Selain suka permainannya juga menyatakan berlatih”. Tai Ping Qing Hua selain itu juga
mencatat: “Ta Ju bermula pada pasca Xuan (kaisar Huang Di). Permainan dari latihan seni bela
diri di dalam markas militer.” Dari situ bisa diketahui bahwa kegiatan persepak-bolaan di kala
zaman Han selain sejenis olahraga dan hiburan, juga adalah semacam pelatihan fisik dan mental
prajurit dan menyeleksi ketahanan fisik serta pelatihan militer yang menunjang semangat tempur.

Seorang bernama Li You dari dinasti Han pernah menulis tentang Ju Cheng Ming (Piagam kota
bola), telah mencatat perlengkapan lapangan sepak bola pada masa dinasti Han dan ringkasan
tentang kegiatan pertandingan, bahkan menjelaskan tentang persyaratan etika yang harus dimiliki
oleh wasit dan pemain. Piagam tersebut merefleksikan bahwa olahraga sepak bola ala Tiongkok
sudah semenjak zaman Han dibuatkan sebuah system yang cukup lengkap, seperti diungkapkan
sbb:

Di dalam piagam disebutkan Ju (bola) dan Ju Chang (lapangan bola), diartikan bola dan
lapangan bola melambangkan langit dan bumi, Yin dan Yang. Ketentuan pembuatan pintu bola,
yakni pada kedua ujung masing-masing dipasang 6 buah pintu bola berbentuk lobang model
Rembulan yang disebut Ju Shi (ruang bola), dijadikan sebagai target penyerangan, dalam
perlombaan masing-masing pihak ada 12 pemain. Kalimat ”(Jian Chang Li Ping, Qi Li You
Chang)” menjelaskan dalam perlombaan kedua pihak harus memilih kapten dan wasit.
Sedangkan pertandingan memiliki peraturan tanding yang stabil, ke 2 pihak harus
melaksanakannya sesuai peraturan.

Selanjutnya piagam menjelaskan, pada zaman Han olahraga sepak bola mensyaratkan wasit dan
pemain pertandingan harus memiliki etika bermain. ”(Bu Yi Qin Shu, Bu You A Si)” berarti
persyaratan kepada sang wasit. Wasit pada saat melaksanakan peraturan pertandingan harus adil
tidak memihak, tidak tunduk pada hubungan pribadi, tidak boleh condong kepada salah satu
pihak. ”(Duan Xin Ping Yi, Mo Yuan Qi Fei)”, bermakna persyaratan terhadap para pemain.
Pemain harus berkarakter lurus, tenang dan sabar, walau kalah bertanding, juga tidak
diperkenankan sembarangan mengomel dan menyalahkan pihak lain. ”(Ju Zheng You Ran,
Kuang Hu Zhi Ji)”, menunjukkan bahwa olahraga sepak bola saja harus memiliki standard etika
seperti ini, apalagi masalah pemerintahan sudah sepatutnya demikian
Dari Ju Cheng Ming bisa diketahui bahwa pada zaman Tiongkok kuno 2000 tahun lebih yang
lalu, orang-orang sudah jauh hari menegakkan etika olah raga yang positif, selain menuntut
semangat kompetisi yang adil sportif bahkan terhadap wasit dan pemain mensyaratkan moral
yang ketat dan standard karakter. Dewasa ini persepakbolaan Tiongkok menghadapi etika bobrok
kecurangan wasit dan main sabun, sehingga tidak bergairah dan lesu supporter, hal tersebut
diatas semestinya berefek sebagai peringatan dan panutan yang baik.

Zaman dinasti Tang (baca: Dang) adalah perkembangan Cu Ju Tiongkok yang paling berjaya.
Orang zaman Tang melakukan perombakan besar terhadap Ju (bola), yaitu bola dari berinti padat
dirubah berinti kosong, kantongan udara menggantikan material pengisi, disebut Qi Qiu (baca: Ji
Jiu = bola udara). Bola yang direvolusi bertambah daya pantulnya, sehingga dalam bidang teknik
dan strategi sepak bola memperoleh lonjakan besar, telah membuat sepak bola semakin
bervariatif. Orang Tang juga mengganti pintu bola dengan Ju Shi ( ruang bola), pada kedua
ujung lapangan didirikan tonggak yang dipasangi jala yang membentuk pintu bola / gawang.
zaman Tang tersebut.
Cu Ju Tiongkok juga menyebar ke Jepang pada saat

Pada zaman dinasti Song ditandai dengan pendirian tim Cu Ju dari kalangan rakyat,
Perkumpulan Qi Yun, Perkumpulan Yuan, dll adalah Perkumpulan Bola yang tersohor kala itu.
Perkumpulan-perkumpulan tersebut memiliki teknik yang handal dan tendangan beragam, selain
itu giat mempromosikan kegiatan Cu Ju dan pertandingannya. Buku (Hui Chen Hou Lu = >
Catatan akhir tentang Menebar Debu) dari Wang Mingqing mencatat sbb: Ketika itu seseorang
bernama Gao Qiu (baca: Kao Jiu) dari perkumpulan Yuan , karena memiliki teknik bola super,
sampai diangkat menjadi Komandan Depan Istana oleh sang kaisar, boleh dibilang ia adalah
bintang sepak bola pertama di dunia.

Yang patut disebut juga adalah pendiri dinasti Song / Song Tai Zu bernama Zhao Kuangyin,
sangat menggemari “Cu Ju”, konon seni bolanya juga termasuk hebat. Para pelukis dari dinasti
yang berlainan pernah membuat karya berthema Song Taizu bermain “Cu Ju”.

Namun Cu Ju sesampainya pada dinasti Ming mulai memudar. Pendiri dinasti Ming/ Ming Taizu
pernah memerintahkan pelarangan prajurit bermain Cu Ju, bahkan ada prajurit karena melanggar
larangan tersebut sehingga dipotong kaki kanannya. Dinasti Qing juga tidak melanjutkan
kegiatan Cu Ju, yang membuatnya menuju kepunahan.

betul atau tidaknya…


cuma mereka yang tau…

heheheheeeeeee……….

Sejarah Olahraga
sejarah olahraga(history of sport)
sejarah olahraga dapat mengajarkan kepada kita arti mengenai perubahan
masyarakat dan mengenai olahraga itu sendiri.
olahraga sepertinya melibatkan kemampuan manusia yang dikembangkan dan
dilatih untuk kepentingannya sendiri yang sejalan dilatih demi kegunaannya ini
menunjukan bahwa olahraga itu mungkin sama tuanya dengan keberadaan
manusianya sendiriyang memiliki tujuan dan adalah cara yang berguna untuk
meningkatkan kemampuan mereka dalam menaklukan alam dan lingkungan.

namunjika kita melihat jauh kebelakang bukit-bukti yang makin sedikit kurang
mendukung

Prasejarah
Banyak penemuan modern di Perancis, Afrika dan Australia pada lukisan gua (lihat seperti Lascaux) dari jaman
prasejarah yang memberikan bukti kebiasaan upacara ritual. Beberapa dari bukti ini berasal dari 30.000 tahun yang
lampau, berdasarkan perhitungan penanggalan karbon. Lukisan/Gambar-gambar jaman batu ditemukan di padang
pasir Libya menampilkan beberapa aktivitas, renang dan memanah. [1] (http://www.fjexpeditions.com/) Seni lukis
itu sendiri adalah merupakan bukti pada ketertarikan pada keahlian yang tidak ada hubungannya dengan
kemampuan untuk bertahan hidup, dan adalah bukti bahwa ada waktu luang untuk dinikmati. Ini juga membuktikan
aktivitas non-fungsi lain seperti ritual dan sebagainya. Jadi, meskipun sedikit bukti yang secara langsung mengenai
olahraga dari sumber-sumber ini, cukup beralasan untuk menyimpulkan bahwa ada beberapa aktivitas pada waktu
itu yang berkenaan dengan olahraga.

Kapten Cook, saat ia pertama kali datang ke Kepulauan Hawaii, pada tahun 1778, melaporkan bahwa penduduk asli
berselancar. Masyarakat Indian Amerika asli bergabung dalam permainan-permainan dan olahraga sebelum
kedatangan orang-orang Eropa, seperti lacrosse, beberapa jenis permainan bola, lari, dan aktivitas atletik lainnya.
Suku Maya dan Aztec yang berbudaya memainkan permainan bola dengan serius. Lapangan yang digunakan dahulu
masih digunakan sampai sekarang.

Cukup beralasan untuk menyimpulkan dari sini dan sumber-sumber bersejarah lainnya bahwa olahraga memiliki
akar yang bersumber dari kemanusiaan itu sendiri.

SEJARAH PSIKOLOGI OLAHRAGA


November 5, 2009, 12:53 pm
Filed under: materi kuliah

Psikologi olahraga pertama kali dikenalkan oleh Norman Triplett pada tahun 1898. Norman
Triplett menemukan bahwa waktu tempuh pembalap sepeda menjadi lebih cepat jika mereka
membalap di dalam sebuah tim atau berpasangan dibanding jika membalap sendiri. Baru tahun
1925 laboratorium psikologi olahraga pertama di Kawasan Amerika Utara berdiri. Pendirinya
adalah Coleman Griffith dari Universitas Illinois. Griffith tertarik pada pengaruh faktor-faktor
penampilan atletis seperti waktu reaksi, kesadaran mental, ketegangan dan relaksasi otot serta
kepribadian. Dia lalu menerbitkan dua buah buku, The Psychology of Coaching (1926)- buku
pertama di dunia Psikologi Olahraga-dan The Psychology of Athletes (1928).

Pada tahun yang sama, di Eropa sebenarnya juga berdiri sebuah laboratorium Psikologi Olahraga
yang didirikan oleh A.Z Puni di Institute of Physical Culture in Leningrad. Namun
Laboratorium Psikologi Olahraga pertama di dunia sebenarnya didirikan tahun 1920 oleh Carl
Diem di Deutsce Sporthochschule di Berlin, Jerman.

Setelah periode tersebut psikologi olahraga mengalami kemandekan. Baru pada tahun 1960-an
psikologi olahraga kembali mulai berkembang. Perkembangan ini ditandai dengan banyaknya
lembaga-lembaga pendidikan membuka konsentrasi pengajaran pada Psikologi Olahraga.
Puncaknya adalah pembentukan International Society of Sport Psychology (ISSP) oleh para
ilmuan dari penjuru Eropa. Kongres internasional pertama diadakan pada tahun yang sama di
Roma, Italia. Pada tahun 1966, sekelompok psikolog olahraga berkumpul di Chicago untuk
membicarakan pembentukan semacam ikatan psikologi olahraga. Mereka kemudian dikenal
dengan nama North American Society of Sport Psychology and Physical Activity (NASPSPA).

Journal Sekolah pertama yang dipersembahkan untuk psikologi olahraga keluar tahun 1970
dengan nama The International Journal of Sport Psychology. Kemudian diikuti oleh Journal of
Sport Psychology tahun 1979. Meningkatnya minat melakukan penelitian dalam bidang
psikologi olahraga di luar laboratorium memicu pembentukan Advancement of Applied Sport
Psychology (AAASP) pada tahun 1985 dan lebih berfokus secara langsung pada psikologi terapan
baik dalam bidang kesehatan maupun dalam konteks olahraga. Kini Psikologi Olahraga sudah
mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kongres International Society of Sport Psychology
Conference Di Yunani tahun 2000 telah dihadiri lebih dari 700 peserta yang berasal dari 70
negara. American Psychological Association pun telah memasukkan psikologi olahraga dalam
divisi mandiri yakni divisi 47

Penerbitan dan jurnal pun sudah sangat banyak. Beberapa penerbitan dan jurnal tersebut adalah
(a) International Journal of Sport Psychology (1970); (b) Journal of Sport Psychology (1979)
yang kemudian berubah nama menjadi 1988 Journal of Sport and Exercise Psychology;
NASPSPA pada tahun 1988. penerbitan lain adalah The Sport Psychologist (1987)—sekarang,
Journal of Applied Sport Psychology (1989)— sekarang, serta The Psychology of Sport and
Exercise.

Sumber: www.sejarah-singkat-psikologi-olahraga.html

GARUDA DI DADA KU,GARUDA KEBANGGAAN KU

KU YAKIN HARI INI PASTI


MENANG

CIPTAAN: BAND NETRAL

Begitulah lagu yang di ciptakan oleh BANd NETRAL. Lagu ini yang membuat saya terharu
akan nasib para pahlawan indonesia, baik yang telah pergi maupun yang masih berkobar sampai
sekarang. saya ingin bertanya kepada kalian semua yang membaca ini, DIMANA PARA
PAHLAWAN ITU PERGI? pahlawan olahraga dimana mereka??? lagu yang di ciptakan oleh
band NETRAL ini mencerminkan perjuangan,keyakinan,dan tekad bahwa indonesia bisa
berjaya, tetapi setelah lama mereka mengharumkan bangsa, mereka mulai hilang kabarnya. Aku
sedih, aku rindu akan mereka.

BAGAIMANA PERASAAN KALIAN SEMUA TERHADAP KONDISI, NASIB PARA


PAHLAWAN YANG TELAH BERJUANG DEMI BANGSANYA???

MENURUT KALIAN APA YANG BISA KITA LAKUKAN UNTUK MENGHORMATI


MEREKA???

SEJARAH OLAHRAGA
A.Pendidikan jasmani pada zaman prasejarah
Bangsa primitif yang hidup zaman prasejarah tidak meninggalkan bekas-bekas yang
tertulis atau terlukis.Namun secara tidak disadari mereka meninggalkan bekas-
bekas dan kehidupan sehari-hari yang terdapat pada lapisan stratigrafic dalam
tanah berupa bekas tongkat bata yang yang dipertajam, cawat dari kulit
binatang,dsb sehingga para ilmuan dapat menarik kesimpulan cara-cara hidup
mereka dan tingkat kebudayaannya.
Perkembangan sejarah menurut para ilmuan
1.Zaman Eoliticum (periode I)
manusia berbulu seluruh bagian badan manusia ditumbuhi bulu,bertelanjang bulat
berkeliaran bersama binatang-binatang,mencari makanan mentah,tidur tanpa
atap,menggunakan dahan kayu dan batu untuk melindungi mempertahankan diri
dan mereka selalu hidup dalam kecemasan akan keselamatan dirinya
2.zaman Paleolitikum ( periode II)
Terkenal dengan sebutan abad batu lama manusia masuh tetap berkeliaran tak
menentu mencari kebutuhan hidupnya tetapi sudah ada kemajuan antara lain,
a. sudah mencari tempat tinggal digua-gua atau tempat berlindung
b. menutup tubuhnya dengan kulit binatang yangtelha dikeringkan
c. menemukan api untuk memasak makanan
d. mulai membuat alat-alat sederhana
3. Zaman Neulitikum (periode III)
Terkenal dengan sebutan batu baru
a. Manusia mulai menggunakan alam untuk kehidupannya
b. Menyimpan bahan makanan untuk masa depan
c. Membuat panah untuk alat berburu dan mempertahankan diri
d. Mulai bercocok tanam dan memelihara ternak
e.mereka tidak berkeliaran lagi

Bangsa Primitif belummempunyai pandangan filosofis tentang hidupnya, sebab


segala aktivitasnya dicurahkan untuk mempertahankan hidupnya yaitu :
a. mencari makanan
b. mempertahankan diri
c. mempertahanakan jenis
Dalam ketiga faktor diatas mereka sangat tergantung efesiensi jasmaninya,
sehinnga pendidikan dan kebudayaan sangat dipengaruhi oleh kejasmaniannya.
Yang dimaksud dengan efisiensi jasmani adalah kekuatan serta keterampilannya
untuk mengatasi sesuatu,sehingga kedua hal inilah yang dipentingkan dalam
pendidikan jasmani
sebagai contoh
1. Upacara kedewasaan anak-anak dalam dalam bermain menirukan tingkah laku
orang tuanya sehari -hari dalam mempertahankan hidup
2. Masa percobaan Anak dilepas ke dalam hutan dan baru diperkenankan kembali
setelah hidup tanpa kawan dalam hutan selama 3 bulan atau bila telah membawa
kepada seekor binatang buas
3. Anak dilepas dengan perahu di daerah sungi aliran deras dan boleh pulang
apabila dapat menempuh aliran tersebut atau dapat menangkap sejenis atau
beberapa jenis ikan
4. Suku lain menganggap anaknya sudah dewasa, apabila dapat membawa
tengkorak dari suku lawannya untuk dipakai sebagia azimat
5. mengikuti orang tua/kakaknya untuk berburu,mencari ikan atau berperang
sebagai syarat masa percobaan
6. mempertinggi keterampilan dalam tari-tarian diberbagai upacar ritual rekreaul.
kesimpulan :
Pada bangsa primitif pendidikan jasmani dan olahraga memegang peranan yang
terpenting dalam kehidupan. Olahraga adalah hal yang utama pada bangsa primitif.

Diposkan oleh anton borneo penjas di 16:34

Label: sejarah olahraga

Sejarah Sepak Bola


By Yunan Shalimow on December 15, 2008

Asal muasal sejarah munculnya olahraga sepak bola masih mengundang perdebatan. Beberapa
dokumen menjelaskan bahwa sepak bola lahir sejak masa Romawi, sebagian lagi menjelaskan
sepak bola berasal dari tiongkok. FIFA sebagai badan sepak bola dunia secara resmi menyatakan
bahwa sepak bola lahir dari daratan Cina yaitu berawal dari permainan masyarakat Cina abad ke-
2 sampai dengan ke-3 SM. Olah raga ini saat itu dikenal dengan sebutan “tsu chu “.

Dalam salah satu dokumen militer menyebutkan, pada tahun 206 SM, pada masa pemerintahan
Dinasti Tsin dan Han, masyarakat Cina telah memainkan bola yang disebut tsu chu. Tsu sendiri
artinya “menerjang bola dengan kaki”. sedangkan chu, berarti “bola dari kulit dan ada isinya”.
Permainan bola saat itu menggunakan bola yang terbuat dari kulit binatang, dengan aturan
menendang dan menggiring dan memasukkanya ke sebuah jaring yang dibentangkan diantara
dua tiang.
Versi sejarah kuno tentang sepak bola yang lain datangnya dari negeri Jepang, sejak abad ke-8,
masyarakat disana telah mengenal permainan bola. Masyarakat disana menyebutnya dengan:
Kemari. Sedangkan bola yang dipergunakan adalah kulit kijang namun ditengahnya sudah
lubang dan berisi udara.

Menurut Bill Muray, salah seorang sejarahwan sepak bola, dalam bukunya The World Game: A
History of Soccer, permainan sepak bola sudah dikenal sejak awal Masehi. Pada saat itu,
masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal teknik membawa dan menendang bola yang terbuat dari
buntalan kain linen.

Sisi sejarah yang lain adalah di Yunani Purba juga mengenal sebuah permainan yang disebut
episcuro, tidak lain adalah permainan menggunakan bola. Bukti sejarah ini tergambar pada
relief-relief museum yang melukiskan anak muda memegang bola dan memainkannya dengan
pahanya.

Sejarah sepak bola modern dan telah mendapat pengakuan dari berbagai pihak, asal muasalnya
dari Inggris, yang dimainkan pada pertengahan abad ke-19 pada sekolah-sekolah. Tahun 1857
beridiri klub sepak bola pertama di dunia, yaitu: Sheffield Football Club. Klub ini adalah asosiasi
sekolah yang menekuni permainan sepak bola.

Pada tahun 1863, berdiri asosiasi sepak bola Inggris, yang bernama Football Association (FA).
Badan ini yang mengeluarkan peraturan permainan sepak bola, sehingga sepak bola menjadi
lebih teratur, terorganisir, dan enak untuk dinikmati penonton.

Selanjutnya tahun 1886 terbentuk lagi badan yang mengeluarkan peraturan sepak bola modern se
dunia, yaitu: International Football Association Board (IFAB). IFAB dibentuk oleh FA Inggris
dengan Scottish Football Association, Football Association of Wales, dan Irish Football
Association di Manchester, Inggris.

Sejarah sepak bola semakin teruji hingga saat ini IFAB merupakan badan yang mengeluarkan
berbagai peraturan pada permainan sepak bola, baik tentang teknik permainan, syarat dan tugas
wasit, bahkan sampai transfer perpindahan pemain.

Berkenan Baca Yang Lain, Silahkan!!

• Sepak Bola (23)


• Sejarah Peraturan Sepakbola (0)
• Kisah Dibalik Penciptaan Nabi Adam (17)
• Kloset (WC) Terbang Telah Ditemukan di Jepang (14)
• Wasit Sepak Bola (4)
• FIFA (0)
• Tim Sepak Bola (1)
• Bola Untuk Sepak Bola (1)

Posted in SEPAK BOLA | Tagged cina, jepang, romawi, sejarah, SEPAK BOLA, sepak bola
modern
Ruang Lingkup Psikologi Olahraga
Jump to Comments

Seiring dengan semakin besarnya industri olahraga, psikologi olahraga memegang peranan
yang cukup signifikan. Dalam olahraga prestasi, peran psikolog olahraga dominan dalam
mendongkrak prestasi para atlet. Misalnya dalam peningkatan motivasi, menghilangkan
kecemasan, stress. Selain itu, peran seperti proses penyembuhan emotional disorders yang
kerap di alami oleh para atlet profesional seperti anorexia, penggunaan obat terlarang,
agresifitas, persoalan atlet dengan lingkungan keluarga, penonton, fans. Lihat yang sudah
dilakukan oleh psikolog yang menangani Adriano, striker Inter Milan, dalam proses
pengembalian perfomanya.

Bidang lain yang menjadi wilayah kerja psikologi olahraga adalah dalam konteks pelatihan. Di
Eropa maupun Amerika, psikolog olahraga sudah terlibat dalam proses pelatihan para atlet.
Peran vital pun dimainkan disini. Seorang psikolog menjadi partner bagi para pelatih dalam
rangka menciptakan metode pelatihan yang efektif. Tentu saja dengan bekal ilmu psikologi.
Perpaduan ilmu fisik manusia dengan ilmu psikis membuat pemahaman terhadap manusia lebih
komplet. Banyak metode pelatihan yang merupakan sumbangan langsung dari dunia psikologi
olahraga.

Selain dengan terjun langsung di lapangan, psikologi olahraga juga memberi sumbangan melalui
riset. Riset tentang hubungan antara gerak tubuh dan konsep mental memberikan masukan bagi
pengembangan teknik kepelatihan maupun pengembangan cabang olahraga itu sendiri.

Di awal kemunculannya, psikologi olahraga memang berperan untuk membantu menemukan


teknik pelatihan yang efektif dan efisien dalam mengembangkan kemampuan atletis para atlet.
Penelitian tentang waktu tempuh pembalap sepeda adalah tonggak sejarah munculnya psikologi
olahraga.

Bidang pendidikan juga tidak luput dari dunia psikologi olahraga. Para psikolog olahraga banyak
yang terjun langsung memberi pelatihan-pelatihan atau kursus-kursus bagi pelatih dalam konteks
pemahaman terhadap manusia untuk diimplementasikan dalam proses pencetakan para atlet.

Tidak hanya dalam konteks olahraga prestasi, psikologi olahraga juga berperan pengembangan
olahraga sebagai salah satu sarana mencapai psychological well being atau untuk mencapai
kesehatan mental bagi masyarakat. Karena terbukti bahwa olahraga merupakan salah satu sarana
yang efektif untuk menghilangkan stress maupun depresi.

Bisa dikatakan bahwa saat ini dunia olahraga profesional maupun amatir sudah sangat tergantung
pada kehadiran psikologi olahraga. Pengembangan cabang ilmu ini tentu akan memberi
kontribusi yang semakin besar pada peningkatan kualitas atlet maupun cabang olahraga itu
sendiri di masa depan.

Sayang memang, dunia olahraga Indonesia belum begitu memperhatikan aspek mental dalam
pengembangan atlet. Peran psikolog olahraga di Indonesia pun baru sebatas konsultan bagi tim
maupun atlet. Bidang garap dan ruang lingkup lain dari psikologi olahraga belum digarap dengan
maksimal. Namun, semua harus dilakukan dengan penuh optimisme bahwa psikologi olahraga di
Indonesia akan tumbuh berkembang dalam dunia olahraga Indonesia.

Psikologi Olahraga & Psikologi Latihan


Jump to Comments

Oleh:

Monty P.Satiadarma

Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Jakarta

Sekalipun Weinberg dan Gould (1995) memberikan pandangan yang hampir serupa
atas psikologi olahraga dan psikologi latihan (exercise psychology), karena banyak
kesamaan dalam pendekatannya, beberapa peneliti lain (Anshel, 1997; Seraganian,
1993; Willis & Campbell, 1992) secara lebih tegas membedakan psikologi olahraga
dengan psikologi latihan. Weinberg dan Gould, (1995) mengemukakan bahwa
psikologi olahraga dan psikologi latihan memiliki dua tujuan dasar:

1. mempelajari bagaimana faktor psikologi mempengaruhi performance fisik


individu

2. memahami bagaimana partisipasi dalam olahraga dan latihan mempengaruhi


perkembangan individu termasuk kesehatan dan kesejahteraan hidupnya

Di samping itu, mereka mengemukakan bahwa psikologi olahraga secara spesifik


diarahkan untuk:

1. membantu para professional dalam membantu atlet bintang mencapai prestasi


puncak

2. membantu anak-anak, penderita cacat dan orang tua untuk bisa hidup lebih
bugar

3. meneliti faktor psikologis dalam kegiatan latihan dan

4. memanfaatkan kegiatan latihan sebagai alat terapi, misalnya untuk terapi


depressi (Weinberg & Gould, 1995).
Sekalipun belum begitu jelas letak perbedaannya, Weiberg dan Gould (1995)
telah berupaya untuk menjelaskan bahwa psikologi olahraga tidak sama
dengan psikologi latihan. Namun dalam prakteknya biasanya memang
terjadi saling mengisi, dan kaitan keduanya demikian eratnya sehingga
menjadi sulit untuk dipisahkan. Tetapi Seraganian (1993) serta Willis dan
Campbell (1992) secara lebih tegas mengemukakan bahwa secara
tradisional penelitian dan praktik psikologi olahraga diarahkan pada
hubungan psikofisiologis misalnya responsi somatik mempengaruhi kognisi,
emosi dan performance. Sedangkan psikologi latihan diarahkan pada aspek
kognitif, situasional dan psikofisiologis yang mempengaruhi perilaku
pelakunya, bukan mengkaji performance olahraga seorang atlet. Adapun
topik dalam psikologi latihan misalnya mencakup dampak aktivitas fisik
terhadap emosi pelaku serta kecenderungan (disposisi) psikologi, alasan
untuk ikut serta atau menghentikan kegiatan latihan olahraga, perubahan
pribadi sebagai dampak perbaikan kondisi tubuh atas hasil latihan olahraga
dan lain sebagainya (Anshel, 1997).

Jelaslah kini bahwa psikologi olahraga lebih diarahkan para kemampuan


prestatif pelakunya yang bersifat kompetitif; artinya, pelaku olahraga, khususnya
atlet, mengarahkan kegiatannya olahraganya untuk mencapai prestasi tertentu
dalam berkompetisi, misalnya untuk menang. Sedangkan psikologi latihan lebih
terarah pada upaya membahas masalah-masalah dampak aktivitas latihan olahraga
terhadap kehidupan pribadi pelakunya. Dengan kata lain, psikologi olahraga lebih
terarah pada aspek sosial dengan keberadaan lawan tanding, sedangkan psikologi
latihan lebih terarah pada aspek individual dalam upaya memperbaiki
kesejahteraan psikofisik pelakunya.

Sekalipun demikian, kedua bidang ini demikian sulit untuk dipisahkan, karena
individu berada di dalam konteks sosial dan sosial terbentuk karena adanya
individu-individu. Di samping itu kedua bidang ini melibatkan aspek psikofisik
dengan aktivitas aktivitas yang serupa, dan mungkin hanya berbeda intensitasnya
saja karena adanya faktor kompetisi dalam olahraga.

Sejarah Psikologi Olahraga di Indonesia

Jadi, di satu pihak seorang praktisi psikolog yang memiliki ijin praktik belum
tentu memiliki cukup pengetahuan ilmu keolahragaan, di lain pihak, pakar
keolahragaan tidak dibekali pendidikan khusus psikoterapi dan konseling.
Akibatnya, sampai saat ini masih terjadi kerancuan akan siapa sesungguhnya yang
berhak memberikan pelayanan sosial dalam bidang psikologi olahraga. Idealnya
adalah seorang konsultan atau psikoterapis memperoleh pelatihan khusus dalam
bidang keolahragaan; sehingga sebagai seorang praktisi ia tetap berada di atas
landasan professinya dengan mengikuti panduan etika yang berlaku, dan di
samping itu pengetahuan keolahragaannya juga cukup mendukung latar belakang
pendidikan formalnya.
Dalam upaya mengatasi masalah ini IPO sebagai asosiasi psikologi olahraga
nasional tengah berupaya menyusun ketentuan tugas dan tanggung jawab
anggotanya. Di samping itu, IPO juga tengah berupaya menyusun kurikulum
tambahan untuk program sertifikasi bagi para psikolog praktisi yang ingin
memberikan pelayanan sosial dalam bidang psikologi olahraga. Kurikulum tersebut
merupakan bentuk spesialisasi psikologi olahraga yang meliputi: 1) Prinsip psikologi
olahraga, 2) Peningkatan performance dalam olahraga, 3) Psikologi olahraga
terapan, 4) Psikologi senam.

Masalah lain yang juga kerapkali timbul dalam penanganan aspek psikologi
olahraga adalah dalam menentukan klien utama. Sebagai contoh misalnya
pengguna jasa psikolog dapat seorang atlet, pelatih, atau pengurus. Kepada siapa
psikolog harus memberikan pelayanan utama jika terjadi kesenjangan misalnya
antara atlet dan pengurus, padahal psikolog dipekerjakan oleh pengurus untuk
menangani atlet, dan atlet pada saat tersebut adalah pengguna jasa psikologi. Di
satu pihak psikolog perlu menjaga kerahasiaan atlet, di lain pihak pengurus
mungkin mendesak psikolog untuk menjabarkan kepribadian atlet secara terbuka
demi kepentingan organisasi. Sachs (1993) menawarkan berbagai kemungkinan
seperti misalnya menerapkan perjanjian tertulis untuk memberikan keterangan;
namun demikian, jika atlet mengetahui bahwa pribadinya akan dijadikan bahan
pertimbangan organisasi, ia mungkin cenderung akan berperilaku defensif,
sehingga upaya untuk memperoleh informasi tentang dirinya akan mengalami
kegagalan. Karenanya, seorang psikolog harus dapat bertindak secara bijaksana
dalam menangani masalah ini, demikian pula, hendaknya seorang pelatih yang
kerapkali bertindak selaku konsultan bagi atletnya kerap kali harus mampu
melakukan pertimbangan untuk menghadapi masalah yang serupa.

Atlet, Pelatih, & Lingkungan

Atlet, pelatih dan lingkungan merupakan tiga aspek yang berkaitan satu
sama lain dalam membicarakan psikologi olahraga dan psikologi senam. Istilah atlet
tidak terbatas pada individu yang berprofesi sebagai olahragawan, tetapi juga
mencakup individu secara umum yang melakukan kegiatan olahraga. Pelatih harus
dibedakan dari sekedar instruktur, karena pelatih tidak hanya mengajarkan atlet
bagaimana melakukan gerakan-gerakan olahraga tertentu, tetapi juga mendidik
atlet untuk memberikan respon yang tepat dalam bertingkah laku di dalam dan di
luar gelanggang olahraga. Lingkungan tidak terbatas pada lingkungan fisik semata-
mata tetapi juga lingkungan sosial masyarakat, termasuk di dalamnya lingkungan
kehidupan tempat atlet tinggal.

Atlet, pelatih dan lingkungan adalah tiga aspek yang merupakan suatu
kesatuan yang menentukan athletic performance. Istilah atlethic performance agak
sulit untuk diterjemahkan karena merupakan suatu istilah spesifik yang tidak bisa
disamakan artinya dengan misalnya perilaku atletik.
Atlet

Seorang atlet adalah individu yang memiliki keunikan tersendiri. Ia memiliki


bakat tersendiri, pola perilaku dan kepribadian tersendiri serta latar belakang
kehidupan yang mempengaruhi secara spesifik pada dirinya. Sekalipun dalam
beberapa cabang olahraga atlet harus melakukannya secara berkelompok atau
beregu, pertimbangan bahwa seorang atlet sebagai individu yang unik perlu tetap
dijadikan landasan pemikiran. Karena, misalnya di dalam olahraga beregu,
kemampuan adaptif individu untuk melakukan kerjasama kelompok sangat
menentukan perannya kelak di dalam kelompoknya.

Adalah sesuatu hal yang mustahil untuk menyamaratakan kemampuan atlet satu
dengan lainnya, karena setiap individu memiliki bakat masing-masing. Bakat yang
dimiliki atlet secara individual ini lah yang sesungguhnya layak untuk memperoleh
perhatian secara khusus agar ia dapat memanfaatkan potensi-potensinya yang ada
secara maksimum.

Namun demikian, keunikan individu seorang atlet seringkali disalahartikan sebagai


perilaku menyimpang (Anshel, 1997). Sebagai contoh petenis John McEnroe
menggunakan perilaku marahnya untuk membangkitkan semangatnya. Namun bagi
mereka yang tidak memahami hal ini menganggap McEnroe memiliki
kecenderungan pemarah. Masalahnya adalah mungkin perilaku marahnya dapat
mengganggu lawan tandingnya sehingga hal ini dirasakan sebagai sesuatu yang
kurang sportif untuk menjatuhkan mental lawan tandingnya. Demikian pula Monica
Seles sering ditegur karena lenguhannya yang keras pada saat memukul bola,
namun sesungguhnya hal ini merupakan keunikan perilakunya, dan karena tidak
adanya aturan khusus untuk melarang hal tersebut, sebenarnya memang Seles
tidak melakukan pelanggaran apapun. Adalah juga keliru menganggap bahwa
setiap atlet membutuhkan masukan dari pelatihnya pada saat menjelang
pertandingan. Karena ada atlet-atlet yang lebih cendeung memilih untuk berada
sendiri daripada ditemani oleh orang lain. Jadi, setiap atlet memiliki ciri khas
masing-masing, dan tidak bisa dilakukan penyamarataan dalam melakukan
pendekatan terhadap atlet. Hal-hal seperti inilah yang perlu difahami oleh para
pembina dalam membina para atletnya. Karena justru keunikan merekalah yang
membuat mereka mampu berprestasi puncak. Sedangkan mereka yang tergolong
“normal” memang hanya memiliki prestasi normal-normal (biasa-biasa) saja.

Pelatih

Pelatih, seperti telah disinggung di atas, bukan sekedar instruktur olahraga yang
memberitahukan atlet cara-cara untuk melakukan gerakan tertentu dalam
olahraga. Pelatih juga merupakan tokoh panutan, guru, pembimbing, pendidik,
pemimpin, bahkan tak jarang menjadi tokoh model bagi atletnya. Pelatih sendiri
juga mungkin meniru gaya pelatih lain atau pelatih senior yang melatih dirinya. Ada
pepatah asing yang mengatakan “monkey see, monkey do”, artinya apa yang
dilihat, itulah yang dikerjakan. Demikianlah hal yang harus disadari oleh pelatih
bahwa apa yang dilakukannya kelak akan dijadikan contoh oleh atletnya. Dengan
kata lain atlet cenderung untuk meniru hal-hal yang dikerjakan oleh pelatihnya.
Pelatih harus waspada akan hal-hal yang disampaikan pada atletnya, karena atlet
cenderung akan mencamkan yang diutarakan oleh pelatihnya. Hal yang diutarakan
pelatih pada atlet dipandang sebagai prinsip oleh atlet, dan atlet cendrung
berupaya untuk mentaatinya. Demikian pula ekspressi emosi pelatih terhadap
atletnya akan banyak berpengaruh terhadap perilaku atlet (Anshel, 1997).

Kecemasan pelatih menjelang pertandingan dapat mempengaruhi atlet untuk


menjadi makin cemas dalam bertanding. Lontaran ucapan pelatih yang kurang
layak dapat dirasakan sangat menyakitkan oleh atlet sehingga dapat memberikan
pengaruh negatif pada atlet dalam berlatih maupun bertanding. Demikian pula
penerapan disiplin yang tidak jelas, terlebih disertai dengan penguatan yang kurang
tepat akan memberikan dampak buruk bagi penampilan atlet. Adalah tugas pelatih
untuk memainkan peran penting dalam masalah-masalah psikologis seperti di
bawah ini :

* Memotivasi atlet sebelum, selama, dan setelah periode latihan maupun


pertandingan

* Memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan sikap atlet

* Memperbaiki citra diri dan keyakinan diri atlet

* Menjadi pimpinan yang baik untuk meningkatkan moral atlet

* Memahami dan memnuhi kebutuhan atlet

* Mengidentifikasi potensi dan mempromosikan perkembangan atlet

* Mempertahankan konsistensi performance atlet

* Membantu atlet mengatasi tekanan mental, kekecewaan, dan berbagai


permasalahan yang berpotensi mengganggu performancenya kelak

* Mempersiapkan atlet dengan memberikan bekal keterampilan dan strategi


bertanding.

Lingkungan

Lingkungan mencakup situasi, kondisi, interaksi atlet dengan atlet lain, dengan
pelatih, dengan lawan tanding, penonton, peliput olahraga, serta juga terkait
dengan kondisi fisik perlengkapan, fasilitas dan lain-lain. Dalam berbagai jenis
olahraga, lingkungan juga terkait dengan masalah cuaca dan medan pertandingan.
Di samping itu, lingkungan juga mencakup keutuhan kelompok, kebersamaan
kelompok, sifat saling membantu di antara anggota kelompok, perasaan bangga
dan lain-lain. Lingkungan memiliki aspek cakupan yang demikian luasnya,
karenanya sejumlah aspek yang menentukan seringkali luput dari pengamatan.

Adalah penting untuk ditelaah besarnya peran lingkungan terhadap


performance atlet, dan tangguh serta tanggapnya atlet terhadap kondisi
lingkungan. Atlet yang kurang tanggap terhadap kondisi lingkungan bisa
kehilangan kewaspadaan, atlet yang kurang tangguh bisa mudah
terpengaruh oleh kondisi lingkungan. Selanjutnya, dukungan lingkungan
yang besar mungkin dapat memberi dampak positif bagi performance atlet;
sebaliknya kondisi lingkungan yang terlalu menekan cenderung memberi
dampak negatif pada atlet.

Ketiga aspek yang tidak terpisahkan ini (atlet, pelatih dan lingkungan) memiliki
hubungan interaksi yang demikian kompleks sehingga memang tidak terlalu mudah
untuk mengkajinya. Namun demikian berbagai upaya harus terus dilakukan sebagai
usaha untuk terus mengembangkan potensi atlet secara maksimal. Kompleksitas
hubungan interaktif ketiga aspek ini seringkali kurang memperoleh perhatian
serius; sebaliknya sejumlah upaya yang dilakukan juga sering melupakan atau
memperkecil peran satu aspek dibandingkan aspek lainnya. Padahal, hambatan
yang terjadi pada salah satu aspek tertentu, betapapun kecil tampaknya bisa
memberi pengaruh yang besar pada performance atlet.

Kepustakaan

Anshel, M. H. (1997). Sport psychology: From theory to practice (3rd ed.).


Scottsdale, AZ: Gorsuch Scarisbrick.

Clarke, K. S. (1984). The USOC sports psychology registry: A clarification. Journal of


Sport Psychology, 6, 365-366.

Sachs, M. L. (1993). Professional ethics in sport psychology. In R. N. Singer, M.


Murphey, & L. K. Tennant (Ed.), Handbook of research in sport psychology (pp. 921-
932). New York: Maacmillan.

Seraganian, P. (Ed.). (1993). Exercise psychology: The influence of physical exercise


on psychological processes. New York: John Wiley & Sons.

Singer, R. N. (1993). Ethical issues in clinical services. Quest, 45, 88-105

Triplett, N. (1898). The dynamogenic factors in pacemaking and competition.


American Journal of Psychology, 9, 507-553.
Weinberg, R. S., & Gould, D. (1995). Foundations of sport and exercise psychology.
Champaign, IL: Human Kinetics

Wiffins, D. K. (1984). The history of sport psychology in North America. In J. M. Silva


& R. S. Weinberg (Eds.), Psychological foundations of sport (pp.9-22). Champaign,
IL: Human Kinetics.

Willis, J. D., & Campbell, L. F. (1992). Exercise psychology. Champaign, IL: Human
Kinetic.

Sumber: www.himpsi.org