Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG
A. Ekshumasi
Berasal dari bahasa Latin yaitu Ex yang berarti keluar dan Humus yang
berarti tanah.
Ada terdapat banyak alasan mengapa penggalian kuburan (ekshumasi)
dilakukan, namun sebelum ekshumasi dilakukan terlebih dahulu harus ada
permintaan dari penyidik. Beberapa alasan mengapa ekshumasi perlu dilakukan
antara lain kesalahan identifikasi mayat, studi toksikologi yang tidak lengkap,
jejak bukti hilang atau terabaikan sebelumnya, dan analisis luka yang tidak benar
atau tidak lengkap.

Pada kasus dimana penguburan baru dilakukan, maka periksaan harus
dilaksanakan segera, tetapi bila telah dikubur satu bulan atau lebih maka
penggalian mayat ditunda hingga ditentukan waktu yang tepat, sebab penundaan
tidak akan membawa pengaruh buruk terhadap pemeriksaan.

Mengenai ekshumasi penggalian mayat sebaiknya dilakukan pada pagi
hari untuk mendapatkan cahaya yang cukup terang, udara masih segar, matahari
belum terlalu terik dan terlebih penting untuk menghindari kerumunan
masyarakat yang akan mengganggu proses pemeriksaan. Bila tidak
memungkinkan dilaksanakan pada pagi hari maka pemeriksaan dapat juga
dilaksanakan pada siang hari dengan cuaca cerah, sedangkan pemeriksaan pada
sore hari sebaiknya dihindari karena bila berlangsung lama bias masuk ke
malam hariyang suasananya tidak nyaman karena kurang penerangan.

B. Toksikologi
Tosikologi forensik adalah salah satu cabang forensik sain, yang
menekunkan diri pada aplikasi atau pemanfaatan ilmu toksikologi dan kimia
analisis untuk kepentingan peradilan. Kerja utama dari toksikologi forensik
adalah melakukan analisis kualitatif maupun kuantitatif dari racun dari bukti
fisik dan menerjemahkan temuan analisisnya ke dalam ungkapan apakah ada
atau tidaknya racun yang terlibat dalam tindak kriminal, yang dituduhkan,
sebagai bukti dalam tindak kriminal (forensik) di pengadilan. Hasil analisis dan
interpretasi temuan analisisnya ini akan dimuat ke dalam suatu laporan yang
sesuai dengan hukum dan perundangan-undangan. Menurut Hukum Acara
Pidana (KUHAP), laporan ini dapat disebut dengan Surat Keterangan
Ahli atau Surat Keterangan.


2

C. Identifikasi Tulang
Dalam pelayanan kedokteran Forensik pemeriksaan identifikasi sangat
penting pada korban yang tak dikenal oleh penyidik, didalam visum ditulis
sebagai Mr.X. Pemeriksaan ini menjadi lebih berat bila mayat yang dikirim ke
rumah sakit atau puskesmas telah mengalami pembusukkan atau mengalami
kerusakan berat akibat kebakaran, ledakan kecelakaan atau hanya tinggal
sebagian jaringan tubuh, tinggal tulang belulang dan lain- lain.

Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup
maupun mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut.
Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang
yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan.

1.2 TUJUAN
A. Ekshumasi
Ekshumasi atau penggalian jenazah merupakan hal yang tidak asing di
Indonesia karena cukup sering dilakukan. Penggalian jenazah biasanya
dilakukan untuk kepentingan pengadilan guna mencari penyebab kematian serta
memutuskan seseorang bersalah atau tidak bersalah.
Selain alasan alasan di atas, ekshumasi juga dilakukan karena mayat
akan dipindahkan ke lokasi yang lain.Seperti pada kasus pemindahan mayat luka
bakar yang sekujur tubuhnya hancur dan pihak keluarga terlambat mengetahui
berita tersebut sehingga mayat telah dikubur. Namun beberapa kasus ekshumasi
lainnya dilakukan karena adanya permintaan dari pengadilan untuk mengulang
kembali otopsi guna menghasilkan bukti forensiK yang baru. Keperluan
melakukan ekshumasi bervariasi antar satu daerah dengan daerah lainnya. Untuk
melakukan suatu ekshumasi diperlukan izin dari pemegang otoritas setempat dan
juga persetujuan dari pihak keluarga.

B. Toksikologi
Secara umum tugas toksikolog forensik adalah membantu penegak
hukum khususnya dalam melakukan analisis racun baik kualitatif maupun
kuantitatif dan kemudian menerjemahkan hasil analisis ke dalam suatu laporan
(surat, surat keterangan ahli atau saksi ahli), sebagai bukti dalam tindak kriminal
(forensik) di pengadilan. Lebih jelasnya toksikologi forensik mencangkup
terapan ilmu alam dalam analisis racun sebagai bukti dalam tindak kriminal,
dengan tujuan mendeteksi dan mengidentifikasi konsentrasi dari zat racun dan
metabolitnya dari cairan biologis dan akhirnya menginterpretasikan temuan
analisis dalam suatu argumentasi tentang penyebab keracunan dari suatu kasus.

Menurut masyarakat toksikologi forensik amerika society of forensic
toxicologist, inc. SOFT bidang kerja toksikologi forensik meliputi:
- analisis dan mengevaluasi racun penyebab kematian
3

- analisis ada/tidaknya alkohol, obat terlarang di dalam cairan tubuh atau
napas, yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku (menurunnya kemampuan
mengendarai kendaraan bermotor dijalan raya, tindak kekerasan dan kejahatan,
penggunaan dopping).
- Analisis obat terlarang di darah dan urin pada kasus penyalahgunaan
narkotika, psikotropika dan obat terlarang lainnya.

Tujuan lain dari analisis toksikologi forensik adalah membuat suatu
rekaan rekonstruksi suatu peristiwa yang terjadi, sampai sejauh mana obat atau
racun tersebut dapat mengakibatkan perubahan perilaku (menurunnya
kemampuan mengendarai, yang dapat mengakibatkan kecelakaan fatal, atau
tindak kekerasan dan kejahatan).

C. Identifikasi Tulang
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah
tidak dikenal, jenazah yang telah membusuk, rusak, hangus terbakar dan pada
kecelakaan massal, bencana alam atau huru-hara yang mengakibatkan banyak
korban mati, serta potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu identifikasi
forensik juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi
yang tertukar atau diragukannya orang tuanya.

Identifikasi juga berperan pada pemeriksaan orang hidup yang berusaha
merubah identitas aslinya atau ketidak- tahuan akan identitasnya, misalnya pada:
Tentara yang melarikan diri dari kesatuannya
Penjahat, pembunuh, pelaku penganiyaan/ perkosaan.
Bayi tertukar di RS
Orang yang merubah wajah dengan operasi plastic
Jenis kelamin yang diragukan
Orang dewasa yang hilang ingatan
Anak hilang.











4

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Ekshumasi
Penggalian mayat ( exhumation) adalah pemeriksaan terhadap mayat yang sudah
dikuburkan dari dalam kuburannya yang telah disahkan oleh hukum untuk membantu
peradilan. Ex dalam bahasa latin berarti keluar dan humus berarti tanah. Pada umumnya,
penggalian mayat dilakukan kembali karena adanya kecurigaan bahwa mayat mati
secara tidak wajar, adanya laporan yang terlambat terhadap terjadinya pembunuhan
yang disampaikan kepada penyidik atau adanya anggapan bahwa pemeriksaan mayat
yang telah dilakukan sebelumnya tidak akurat.
Ekshumasi tidak hanya dilakukan pada penggalian kuburan personal namun juga
dapat dilakukan penggalian kuburan massal seperti penggalian kuburan massal di hutan
Situkup selama 3 hari. Penelitian massal ini bertujuan untuk mengungkapkan jumlah
korban pembunuhan, penahanan, penyiksaan, dan pelanggaraan HAM. Menurut
keterangan dr. Handoko (Tim Forensik), dari proyektil proyektil yang ditemukan pada
kerangka yang digali bisa ditarik kesimpulan bahwa pembunuhan ini dilakukan dengan
menggunakan senjata laras panjang maupun pendek yang diduga hanya dimiliki oleh
militer.
2.1.1 Indikasi Ekshumasi

Indikasi dilakukan penggalian mayat adalah sebagai berikut :
a. Terdakwa telah mengaku dia telah membunuh seseorang dan telah
menguburnya di suatu tempat.
b. Jenazah setelah dikubur beberapa hari baru kemudian ada kecurigaan bahwa
jenazah
c. meninggal secara tidak wajar.
d. Atas perintah hakim untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap jenazah
yang telah
e. dilakukan pemeriksaan dokter untuk membuat visum et repertum.

f. Penguburan mayat secara ilegal untuk menyembunyikan kematian
atau karena alasan kriminal.
g. Pada kasus dimana sebab kematian yang tertera dalam surat keterangan
kematian tidak jelas dan menimbulkan pertanyaan seperti keracunan dan
gantung diri.
1
Dalam pembongkaran dua kuburan seperti yang dilakukan
oleh aparat TNI/Polri di Kecamatan Kuta baro yang hanya ditemukan tulang
berulang korban. Melihat dari kondisi korban, korban ditembak di pelipisnya
dalam posisi jongkok di depan lubang yang telah disediakan dengan kedua
tangan dan kaki terikat, selanjutnya dilakukan pemeriksaan bagian rambut
dan gigi di lab forensik. Sedangkan satu kuburan lagi yang hanya ditemukan
tengkorak kepala bersama separuh rahang bawah kiri dan empat tulang rusuk
serta tulang tangan dan kaki tidak ditemukan. Proses penggalian tersebut
disaksikan oleh keuchik dan tokoh masyarakat.

5

h. Pada kasus dimana identitas mayat yang dikubur tidak jelas kebenarannya
atau diragukan.
i. Pada kasus criminal untuk menentukan penyebab kematian yang diragukan,
misalnya pada kasus pembunuhan, yang ditutupi seakan bunuh diri.
1


2.1.2 Hal Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Exhumasi

Untuk melaksanakan penggalian kuburan harus dilaksanakan hal- hal
sebagai berikut:
1. Persiapan penggalian kuburan,
- Dokter harus mendapat keterangan lengkap tentang peristiwa kematian
agar dapat memusatkan perhatian dan periksaan pada hal yang dicurigai.
- Jika pemeriksaan dilakukan lokasi penggalian harus disiapkan tenda
lengkap dengan dinding penutup, meja pemeriksaan, air wadah, dan
perlengkapan pengankatan mayat.
Peralatan yang yang diperlukan dalam penggalian kubur :
- Kendaraan
- Perlengkapan untuk melakukan penggalian misalnya cangkul, ganco,
linggis, sekrup.
- Perlengkapan untuk melakukan otopsi, yaitu pisau dapur, scalpel, gunting,
pinset, gergaji, jarum (jarum karung goni), benang, timbangan berat, gelas
pengukur,alat penggaris, ember, stoples berisi alkohol 95% ini bila ada
indikasi mati oleh keracunan dan stoples berisi formalin 10%.
1 dan 2 disediakan penyidik. Perlu membawa 1 atau 2 pembantu.
2. Waktu yang baik,
Waktu yang baik untuk melakukan ekshumasi adalah :
- Jika mayatnya masih baru maka di lakukan secepat mungkin sedangkan
jika mayatnya sudah lama atau lebih dari satu bulan dapat dicari waktu yang
tepat untuk penggalian.
- Penetapan batas waktu ekshumasi di India, Inggris dan Indonesia tidak
mempunyai batas waktu. Di Prancis sekitar 10 tahun, Skotlandia 20 tahun,
Jerman 30 tahun.
- Waktu penggalian dilakukan pada pagi hari untuk mendapatkan cahaya
yang cukup terang, udara masih segar, matahari belum terlalu terik dan
untuk menghindari kerumunan masyarakat yang sering mengganggu
pemeriksaan. Bila tidak memungkinkan dilakukan pada pagi hari,
pemeriksaan dilakukan pada siang hari dengan cuaca yang baik. Penggalian
mayat pada sore hari sebaiknya dihindari.
3. Kehadiran petugas
Pada saat pelaksanaan penggalian harus dihadiri oleh :
- Penyidik atau polisi beserta pihak keamanan
- Pemerintah setempat / pemuka masyarakat.
- Dokter beserta pembantunya
6

- Keluarga korban / ahli waris korban
- Petugas pengamanan/ penjaga kuburan.
- Penggali kuburan
Dalam penggalian kuburan, kewenangannya dimiliki oleh Tim Penyidik
sebagaimana yang dikatakan oleh Direktur I Keamanan Trans Nasional
Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Brigjen Pol Aryanto Sutadi bahwa
TNI tidak memiliki kewenagan untuk melakukan penggalian kuburan massal
di Aceh meskipun sedang diberlakukan darurat militer karena dapat merusak
barang bukti, akan tetapi penyidik memerlukan izin dari penguasa darurat
militer karena tugas PDM adalah mengamankan.

4. Keamanan, yaitu penyidik harus mengamankan tempat penggalian dari
kerumunan massa.

5. Proses penggalian kuburan

- Untuk menentukan lokasi, bila dikuburan umum, adalah keluarga atau juru
kunci kuburan. Bila letaknya tersembunyi maka tersangka yang
menunjukan.Kadang tersangka sulit menunjukkan letaknya secara pasti
sehingga penggalian dapat mengalami kegagalan.

- Saat peti diangkat ke atas, penutup peti sebaiknya dibuka sedikit dengan
membuka mur atau engsel peti agar gas-gas di dalamnya bias dikeluarkan ke
udara bebas. Selanjutnya peti dikirim ke kamar mayat, apabila terjadi
pembusukan maka ditempatkan potongan kayu atau kerangka fiberglass di
dasarnya. Tanah dan lumpur harus dipindahkan sebelum peti dikirim ke
kamar otopsi untuk menghindari pencemaran.

6. Pemeriksaan mayat

Pemeriksaan mayat mayat sebaiknya dilakukan ditempat penggalian agar
mempermudah penguburan kembali selain karena mengingat adanya
masalah transportasi dan waktu. Akan tetapi pemeriksaan dikamar mayat
lebih baik karena dapat dilakukan dengan tenang tanpa harus ditonton oleh
masyarakat banyak dan lebih teliti.

Sebelum ahli patologi melakukan pemeriksaan terhadap mayat, terlebih
dahulu dipastikan bahwa mayat yang akan diperiksa adalah benar.

Pada umumnya, kerabat atau teman dekat korban yang melihat wajah mayat
dan kemudian menyatakan secara verbal kepada polisi, petugas kamar mayat
atau dokter bahwa benar itu mayat yang dimaksud. Apabila mayat terbakar
dan tidak dapat dikenali, dimutilasi, maka identifikasi dilakukan dengan
cara menunjukkan dokumen atau benda- benda seperti pakaian dan
perhiasan milik mayat kepada kerabat.


7

Petugas pemeriksa mayat harus memakai sarung tangan dan masker yang
telah dicelupkan ke dalam larutan potassium permanganas. Bila mayat telah
mengalami pembusukan dan mengeluarkan cairan, maka kain pembungkus
mayat harus diambil juga untuk pemeriksaan laboratorium, setentang daerah
punggung mayat. Bila mayat telah hancur semuanya maka setiap organ yang
tinggal harus dilakukan pemeriksaan laboratorium. Jika organ dalam tidak
dijumpai lagi maka yang diperiksa adalah rambut, gigi, kuku, tulang dan
kulit korban.


Pemeriksaan mayat mencakup pemeriksaan luar dan dalam.
Pemeriksaan luar yaitu :
a. Label mayat
b. Tutup dan pengbungkus mayat
c. Pakaian
d. Perhiasan
e. Tanda tanda kematian
f. Identifikasi umum : usia, jenis kelamin, TB
g. Identifikasi khusus : tato, tahi lalat, kelainan bawaan\
h. Pemeriksaan local : kepala, rambut, mata, telinga, mulut, leher, dada,
perut, ekstremitas, alat kelamin, punggung dan dubur.
i. Pemeriksaan luka

Tahap pemeriksaan dalam yaitu:
a. Pembukaan jaringan kulit dan otot
b. Pembukaan rongga tubuh, dapat dilakukan dengan dua metode yaitu
insisi I dan insisi Y
c. Pengeluaran organ dalam tubuh, dapat dilakukan dengan teknik :
- Teknik Virchow, yang paling sering dilakukan dengan ketelitian
yang lebih rendah.
- Teknik Rokitansky
- Teknik Letulle
- Teknik Gohn

Teknik Letulle dan Gohn memiliki ketelitian yang lebih tinggi.
Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan untuk membuktikan
bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin,
perkiraan umur, tinggi badan, ciri ciri khusus, dan deformitas serta
tidak memungkinkan dilakukan rekonstruksi wajah. Dicari juga apakah
terdapat tanda tanda kekerasan pada tulang serta memperkirakan sebab
kematian. Perkiraan saat kematian ini dapat dilakukan dengan
memperhatikan kekeringan tulang. Bila terdapat dugaan bahwa itu
seseorang tertentu, maka identifikasi dilakukan dengan membandingkan
data antemortem orang tersebut. Dapat dilakukan identifikasi dengan
8

teknik superimposisi yaitu suatu system pemeriksaan untuk melakukan
jatidiri seseorang dengan membandingkan korban semasa hidup dengan
kerangka atau tengkorak yang ditemukan. Kesulitan kesulitan dalam
teknik imposisi adalah korban tidak pernah membuat foto semasa hidup,
foto korban harus baik kondisi dan kualitasnya, tengkorang yang
ditemukan sudah hancur dan tidak terbentuk lagi, dan kesulitan proses
kamar gelap yang butuh banyak biaya.

2.1.3 Prosedur Pengggalian Jenazah
Permintaan secara tertulis oleh penyidik, disertai permintaan untuk otopsi.
Penyidik harus memberikan keterangan tentang modus dan identitas
korban sehingga dokter dapat mempersiapkan diri. Misalnya korban
pencekikan maka pemeriksaan leher akan lebih berhati-hati. Korban
keracunan, maka dipersiapkan alkohol 95% untuk pengawet.
Yang harus diperhatikan dalam identitas korban adalah:
a. Jenis kelamin, laki-laki atau perempuan
b. Tinggi badan.
c. Umur korban.
d. Pakaian, perhiasan yang menempel pada tubuh korban.
e. Sidik jari. (dari Satlantas saat mengambil SIM).
f. Tanda-tanda yang ada pada tubuh korban :
- Warna dan bentuk rambut serta panjangnya.
- Bentuk dan susunan gigi. Memakai gigi palsu / tidak.
- Ada tato di kulit atau tidak. (bentuk dan lokasinya)
- Adanya cacat pada tubuh korban misalnya : Adanya luka perut, pada
kulit, penyakit - penyakit lainnya.
Label identitas diikat erat pada ibu jari atau gelang tangan dan kaki.

Pada kasus non kriminal, seperti mati mendadak ( sudden death),
kecelakaan, dan bunuh diri, maka identitas mayat disertakan dengan label oleh
polisi, perawat, atau petugas kamar mayat, yang berisi nama, alamat, nomor
seri dan detail lain yang relevan.


Ahli patologi harus mencocokkan dokumen resmi tentang label tersebut.
Bila ada ketidaksamaan maka otopsi tidak boleh dilakukan sampai didapatkan
identitas yang benar dari polisi.


Jika ada kecurigaan tertentu, sampel tanah harus diambil pada
permukaan kuburan, bagian di sekitar makam dan tanah di atas peti mayat. Saat
peti telah dipindahkan, ahli forensik akan mengambil sampel tanah dari pinggir
dan bawah peti mayat. Saat ada kecurigaan atau diduga tindak kriminal,
rekaman gambar pada setiap bagian identifikasi dimakamkan harus diambil
9

( biasa difoto oleh polisi) untuk menemukan bukti-bukti selama otopsi.

Jika dicurigai diracun, contoh dari kain kafan, pelengkapan peti mati dan
benda yang hilang seperti cairan harus dianalisis. Mayat dipindahkan dilucuti
pakaian dan dilakukan otopsi sesuai kondisi pada tubuh. Pembusukan, adiposere
dan mumifikasi merupakan penyulit pemeriksaan, kadang ketiganya berada
pada tubuh yang sama. Pada posisi yang tinggi akan membuat keadaan mayat
lebih baik daripada tanah yang berisi air ditempat penguburan.

Sebelum mayat dikubur kembali harus dipastikan apakah bahan bahan
yang diperlukan sudah cukup untuk menghindari penggalian ulang.

2.1.4 Aspek Hukum
Identifikasi kuburan harus dilakukan dengan perencanaan dan dicatat
segala sesuatunya atas ijin petugas pemakaman dan pihak yang berwenang.
Prosedur penggalian mayat di atur dalam KUHAP dan memerlukan surat
permintaan pemeriksaan dari penyidik. Di samping itu, masih diperlukan
persiapan lain yaitu koordinasi dengan pihak pemerintah daerah (Dinas
Pemakaman), untuk memperoleh bantuan penyediaan tenaga para penggali
kubur, juga perlu dipersiapkan kantong plastic besar untuk jenazah serta kantong
plastic untuk wadah /sample pemeriksaan laboratorium.

1. KUHAP Pasal 135
Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan perlu melakukan
penggalian mayat, dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam pasal 133 ayat 2 dan pasal 134 ayat 1 undang-undang ini.
Dalam penjelasan pasal 135 KUHAP ini lebih lanjut disebut : yang
dimaksud dengan penggalian mayat termasuk pengambilan mayat dari
semua jenis tempat dan penguburan.

2. KUHAP Pasal 133 ayat 2
Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk
pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah
mayat.

3. KUHAP Pasal 134 ayat 1
Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah
mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih
dahulu kepada keluarga korban.
Mengenai biaya untuk kepentingan penggalian mayat, bila merujuk ke dalam
ketentuan hukum KUHP dinyatakan ditangguang oleh Negara, walaupun
dalam pelaksanaannya ada ketegasan dan kejelasan.
10

4. KUHAP Pasal 136
Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pemeriksaan sebagaimana
dimaksud dalam bagian kedua BAB XIV ditanggunga oleh Negara.

5. KUHAP Pasal 7 ayat 1 h.
Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan
pemeriksaan perkara.

6. KUHAP Pasal 180
(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang
timbul di sidang pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli
dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
(2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat
hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
(3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan
penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2).
Bagi yang menghalang- halangi atau menolak bantuan pihak pengadilan
dapat dikenakan sanksi hokum seperti tercantum dalam pasal 222 KUHP.

7. KUHP pasal 222
Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalangi, atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan dihukum dengan penjara selama-
lamanya 9 bulan atau denda sebanyak- banyaknya tiga ratus ribu rupiah.
Profesionalisme kedokteran forensik di Indonesia dapat ditingkatkan apabila
didukung oleh undang undang yang memberinya kewenangan,
kelembagaaan dan dukungan financial yang memadai.

Tujuan utama penggalian jenazah : membantu mengumpulkan jejas-jejas
yang ada pada jenazah atau kelainan-kelainan yang ada pada jenazah atau
pakaiannya.

Bila mayat baru dikubur (beberapa hari) segera dilakukan penggalian kubur
(ekshumasi). Semakin ditunda maka mayat semakin busuk dan
dapat menghilangkan barang bukti. Apabila sudah sebulan atau lebih, maka
penggalian dapat ditunda dan disesuaikan dengan cuaca dan
keadaan. Setelah dilakukan penggalian mayat, maka segera otopsi di RS
terdekat atau di tempat penggalian.

Cara Mengambil Kesimpulan dari Hasil Pemeriksaan.
Pada penggalian ditemukan jenazah dalam keadaan membusuk.
- Pada otopsi ditemukan patah tulang kepala yang hampir separuh kepala.
11

- Patah tulang tersebut mempunyai tanda-tanda akibat persentuhan dengan
benda tajam.
- Kesimpulannya ialah :
Ditemukan patah tulang kepala akibat persentuhan dengan benda
tajam.Kekerasan oleh benda tajam pada kepala korban. tersebut dapat
menimbulkan kematian.

2.1.5 Aspek Budaya
Ditinjau dari aspek budaya, pelaksanaan ekshumasi (penggalian kubur)
seperti di India, Srilanka dan lain lain yang mayoritas penduduknya beragama
hindu jarang dilakukan ekshumasi karena jenazah yang sudah meninggal tidak
dikubur melainkan dibakar.

2.2 Toksikologi
Toksikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang mekanisme kerja
dan efek yang tidak diinginkan dari bahan kimia yang bersifat racun serta dosis
yang berbahaya terhadap tubuh manusia.

2.2.1 Macam-macam toksikologi
Toksikologi klinis adalah bidang ilmu kedokteran yang memberikan
perhatian terhadap penyakit yang disebabkan oleh bahan toksik atau
hubungan yang unik dan spesifik dari bahan toksik tersebut. Efek
merugikan/toksik pada sistem biologis dapat disebabkan oleh bahan
kimia yang mengalami biotransformasi dan dosis serta suasananya cocok
untuk menimbulkan keadaan toksik.
Efek toksisitas yang ditimbulkan oleh
keracunanmakanan/minuman dapat bersifat akut atau kronis. Keracunan
akut ditimbulkan oleh bahan-bahan beracun yang memiliki toksisitas
yang tinggi, dimana dengan kuantitas yang kecil sudah dapat
menimbulkan efek fisiologis yang berat. Jenis keracunan ini umumnya
mudah diidentifikasi danmenjadi perhatian masyarakat. Sebaliknya
keracunan yang bersifat kronis efek toksisitasnya baru dapat terlihat atau
teridentifikasi dalam waktu yang lama, umumnya tidak disadari dan tidak
mendapat perhatian. Peningkatan yang berarti
terhadap jumlah penderita penyakit yang dapat dipicu oleh pengaruh
bahan beracun seperti tumor (kanker), gangguan enzimatik, gangguan
metabolisme, gangguan sistem syaraf, mungkin saja merupakan akibat
dari penggunaan berbagai jenis bahan kimia yang bersifat toksis dalam
makanan yang dikonsumsi masyarakat.

Toksikologi lingkungan: mempelajari efek dari bahan polutan terhadap
kehidupan dan pengaruhnnya pada ekosistem, yang digunakan untuk
12

mengevaluasi kaitan antara manusia dengan polutan yang ada di
lingkungan.

Toksikologi forensik: mempelajari aspek medikolegal dari bahan kimia
yang mempunyai efek membahayakan manusia/hewan sehingga dapat
dipakai untuk membantu mencari/menjelaskan penyebab kematian pada
penyelidikan seperti kasus pembunuhan.

Menurut Taylor, racun adalah suatu zat yang dalam jumlah relatif
kecil (bukan minimal), yang jika masuk atau mengenai tubuh seseorang akan
menyebabkan timbulnya reaksi kimiawi (efek kimia) yang besar yang dapat
menyebabkan sakit, bahkan kematian. Menurut Gradwohl racun adalah
substansi yang tanpa kekuatan mekanis, yang bila mengenai tubuh seorang
(atau masuk), akan menyebabkan gangguan fungsi tubuh, kerugian, bahkan
kematian. Sehingga jika dua definisi di atas digabungkan, racun adalah
substansi kimia, yang dalam jumlah relatif kecil, tetapi dengan dosis toksis,
bila masuk atau mengenai tubuh, tanpa kekuatan mekanis, tetapi hanya
dengan kekuatan daya kimianya, akan menimbulkan efek yang besar, yang
dapat menyebabkan sakit, bahkan kematian.

2.2.2 Macam-Macam Dosis
Dosis pemakaian: dosis normal yang dipakai seseorang tetapi tujuannya
bukan untuk pengobatan. Misalnya untuk menjaga kesehatan tubuh.
Dosis terapi: dosis yang cukup memberikan daya penyembuhan yang
optimal
Dosis minimal: dosis terkecil yang masih dapat memberikan efek terapi
Dosis maksimal: dosis terbesar untuk sekali pemakaian atau untuk 24
jam tanpa memperlihatkan efek toksik
Dosis toksik: dosis yang sedemikian besarnya dapat menunjukkan efek
toksik
Dosis letal: dosis yang sedemikian besarnya dapat menyebabkan
kematian pada hewan percobaan.

2.2.3 Cara Masuk Racun ke Dalam Tubuh
Keracunan paling cepat terjadi jika masuknya racun secara inhalasi. Cara
masuk lain, berturut-turut ialah intravena, intramuskular, intraperitoneal,
subkutan, peroral dan paling lambat ialah bila melalui kulit yang sehat.

2.2.4 Cara Kerja Racun di Dalam Tubuh
Racun yang bekerja lokal
Misalnya:
a) Racun bersifat korosif: lisol, asam dan basa kuat
13

b) Racun bersifat iritan: arsen, HgCl
2

c) Racun bersifat anastetik: kokain, asam karbol.

Racun-racun yang bekerja secara setempat ini, biasanya akan
menimbulkan sensasi nyeri yang hebat, disertai dengan peradangan,
bahkan kematian yang dapat disebabkan oleh syok akibat nyerinya
tersebut atau karena peradangan sebagai kelanjutan dari perforasi yang
terjadi pada saluran pencernaan.

Racun yang bekerja sistemik
Walaupum kerjanya secara sistemik, racun-racun dalam golongan ini
biasanya memiliki akibat/afinitas pada salah satu sistem atau organ tubuh
yang lebih besar bila dibandingkan dengan sistem atau organ tubuh
lainnya.
Misalnya:
a) Narkotik, barbiturate, dan alkohol terutama berpengaruh pada susunan
syaraf pusat
b) Digitalis, asam oksalat terutama berpengaruh terhadap jantung
c) Strychine terutama berpengaruh terhadap sumsum tulang belakang
d) CO, dan HCN terutama berpengaruh terhadap darah dan enzim
pernafasan
e) Cantharides dan HgCl
2
terutama berpengaruh terhadap ginjal
f) Insektisida golongan hidrokarbon yang di-chlor-kan dan phosphorus
terutama berpengaruh terhadap hati
Racun yang bekerja lokal dan sistemik
Misalnya:
a) Asam oksalat
b) Asam karbol

Selain menimbulkan rasa nyeri (efek lokal) juga akan menimbulkan
depresi pada susunan syaraf pusat (efek sistemik). Hal ini dimungkinkan
karena sebagian dari asam karbol tersebut akan diserap dan berpengaruh
terhadap otak.
a) Arsen
b) Garam Pb.

2.2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Kerja Racun
Cara pemberian
Setiap racun baru akan menimbulkan efek yang maksimal pada tubuh
jika cara pemberiannya tepat. Misalnya jika racun-racun yang berbentuk
gas tertentu akan memberikan efek maksimal bila masuknya ke dalam
tubuh secara inhalasi. Jika racun tersebut masuk ke dalam tubuh secara
14

ingesti tentu tidak akan menimbulkan akibat yang sama hebatnya
walaupun dosis yang masuk ke dalam tubuh sama besarnya.

Berdasarkan cara pemberian, maka umumnya racun akan paling
cepat bekerja pada tubuh jika masuk secara inhalasi, kemudian secara
injeksi (i.v, i.m, dan s.c), ingesti, absorbsi melalui mukosa, dan yang
paling lambat jika racun tersebut masuk ke dalam tubuh melalui kulit
yang sehat.
Keadaan tubuh
a) Umur
Pada umumnya anak-anak dan rang tua lebih sensitif terhadap racun
bila dibandingkan dengan orang dewasa. Tetapi pada beberapa jenis
racun seperti barbiturate dan belladonna, justru anak-anak akan lebih
tahan.
b) Kesehatan
Pada orang-orang yang menderita penyakit hati atau penyakit ginjal,
biasanya akan lebih mudah keracunan bila dibandingkan dengan
orang sehat, walaupun racun yang masuk ke dalam tubuhnya belum
mencapai dosis toksis. Hal ini dapat dimengerti karena pada orang-
orang tersebut, proses detoksikasi tidak berjalan dengan baik,
demikian halnya dengan ekskresinya. Pada mereka yang menderita
penyakit yang disertai dengan peningkatan suhu atau penyakit pada
saluran pencernaan, maka penyerapan racun pada umumnya jelek,
sehingga jika pada penderita tersebut terjadi kematian, kita tidak
boleh terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa kematian
seseorang karena penyakit tanpa penelitian yang teliti, misalnya pada
kasus keracunan arsen (tipe gastrointestinal) dimana disini gejala
keracunannya mirip dengan gejala gastrointeritis yang lumrah
dijumpai.
c) Kebiasaan
Faktor ini berpengaruh dalam hal besarnya dosis racun yang dapat
menimbulkan gejala-gejala keracunan atau kematian, yaitu karena
terjadinya toleransi. Tetapi perlu diingat bahwa toleransi itu tidak
selamanya menetap. Menurunnya toleransi sering terjadi misalnya
pada pecandu narkotik, yang dalam beberapa waktu tidak
menggunakan narkotik lagi. Menurunnya toleransi inilah yang dapat
menerangkan mengapa pada para pecandu tersebut bisa terjadi
kematian, walaupun dosis yang digunakan sama besarnya.
d) Hipersensitif (alergi idiosinkrasi)
Banyak preparat seperti vitamin B1, penisilin, streptomisin dan
preparat-preparat yang mengandung yodium menyebabkan kematian,
karena si korban sangat rentan terhadap preparat-preparat tersebut.
15

Dari segi ilmu kehakiman, keadaan tersebut tidak boleh dilupakan,
kita harus menentukan apakah kematian korban memang benar
disebabkan oleh karena hipersinsitif dan harus ditentukan pula
apakah pemberian preparat-preparat mempunyai indikasi. Ada
tidaknya indikasi pemberi preparat tersebut dapat mempengaruhi
berat-ringannya hukuman yang akan dikenakan pada pemberi
preparat tersebut.
Racunnya sendiri
a) Dosis
Besar kecilnya dosis racun akan menentukan berat-ringannya akibat
yang ditimbulkan. Dalam hal ini tidak boleh dilupakan akan adanya
faktor toleransi, dan intoleransi individual. Pada toleransi, gejala
keracunan akan tampak walaupun racun yang masuk ke dalam tubuh
belum mencapai level toksik. Keadaan intoleransi tersebut dapat
bersifat bawaan/kongenital atau toleransi yang didapat setelah
seseorang menderita penyakit yang mengakibatkan gangguan pada
organ yang berfungsi melakukan detoksifikasi dan ekskresi.
b) Konsentrasi
Untuk racun-racun yang kerjanya dalam tubuh secara lokal misalnya
zat-zat korosif, konsentrasi lebih penting bila dibandingkan dengan
dosis total. Keadaan tersebut berbeda dengan racun yang bekerja
secara sistemik, dimana dalam hal ini dosislah yang berperan dalam
menentukan berat-ringannya akibat yang ditimbulkan oleh racun
tersebut.
c) Bentuk dan kombinasi fisik
Racun yang berbentuk cair tentunya akan lebih cepat menimbulkan
efek bila dibandingkan dengan yang berbentuk padat. Seseorang yang
menelan racun dalam keadaan lambung kosong tentu akan lebih cepat
keracunan bila dibandingkan dengan orang yang menelan racun
dalam keadaan lambungnya berisi makanan.
d) Adiksi dan sinergisme
Barbiturate, misalnya jika diberikan bersama-sama dengan alkohol,
morfin, atau CO, dapat menyebabkan kematian, walaupun dosis letal.
Dari segi hukum kedokteran kehakiman, kemungkinan-kemungkinan
terjadinya hal seperti itu tidak boleh dilupakan, terutama jika
menghadapi kasus dimana kadar racun yang ditemukan rendah sekali,
dan dalam hal demikian harus dicari kemungkinan adanya racun lain
yang mempunyai sifat aditif (sinergitik dengan racun yang
ditemukan), sebelum kita tiba pada kesimpulan bahwa kematian
korban disebabkan karena anafilaksi yang fatal atau karena adanya
toleransi.
e) Susunan kimia
16

Ada beberap zat yang jika diberikan dalam susunan kimia tertentu
tidak akan menimbulkan gejala keracunan, tetapi bila diberikan
secara tersendiri terjadi hal yang sebaliknya.
f) Antagonisme
Kadang-kadang dijumpai kasus dimana seseorang memakan lebih
dari satu macam racun, tetapi tidak mengakibatkan apa-apa, oleh
karena reaksi-reaksi tersebut saling menetralisir satu sama lain.
Dalam klinik adanya sifat antagonis ini dimanfaatkan untuk
pengobatan, misalnya nalorfin dan kaloxone yang dipakai untuk
mengatasi depresi pernafasan dan oedema paru-paru yang terjadi
pada keracunan akut obat-obatan golongan narkotik (Santoso, 2005).

2.2.6 Motif Keracunan
Kecelakaan
Bunuh diri
Pembunuhan

2.2.7 Prinsip Pengobatan Pada Keracunan
1. Resusitasi (ABC)
2. Eliminasi
Tujuan menghambat penyerapan, kalau dapat menghilangkan bahan
racun/hasil metabolisme tubuh
Dapat dikerjakan dengan cara:
a) Emesis
Menggunakan sirup ipecac mengeluarkan sebagian isi
lambung jika diberikan dengan segera setelah keracunan, tapi
menghambat kerja karbon aktif, sekarang tidak dipakai lagi.
Indikasi: jarang.
Kontrindikasi: pasien pusing, tidak sadar, atau kejang atau
pada pasien keracunan kerosin atau hidrokarbon yang lain,
racun korosif, konfulsan kerja cepat (tricyclic anti depresan,
stricnin, kamper).
Tehnik: berikan 30 ml sirup diikuti dengan 8 gelas kecil
air/800cc, jika diperlukan ulani setiap 20 menit.
b) Katarsis (intestinal lavage)
Diberi laksans
Cara pemberian: magnesium sulfat 10% 2-3 ml/kg atau
sorbitol 70% 1-2 ml/kg
c) Kumbah lambung
Efektif pada racun yang berbentuk cair/pil yang kecil dan
sangat efektif jika dilakukan <1 jam setelah keracunan
17

Indikasi: pada keracunan yang dalam jumlah banyak untuk
mengidentifikasi jenis racun dan untuk pemberian carcoal dan
antidotum.
Kontraindikasi: tidak digunakan pada pasien dengan
penurunan kesadaran dan tidak ada reflek gag.
Cara melakukan: pada pasien dengan penurunan kesadaran
resiko pneumonia aspirasi dapat dikurangi dengan
membaringkan pasien dengan kepala dibawah, posisi lateral
kiri dikubitus, dan jika diperlukan dapat dilakukan intubasi
endotracheal untuk melindungi jalan nafas measukkan selang
yang sudah diberi anestesi lokal melalui mulut atau hidung ke
dalam lambung. Lakukan aspirasi kemudian lakukan lavage
berulang dengan 50-100 cc cairang hingga cairan yang
kembali jernih (gunakan air hangat/salin)
d) Karbon aktif
Dapat mengabsorbsi hampir semua jenis obat dan racun,
kecuali besi, lithium, Na, K, sianida, mineral asam dan
alkohol.
Indikasi: sebagai pilihan utama pada keracunan lewat
lambung dan usus
Kotraindikasi: pada pasien dengan penurunan
kesadaran/kejang kecuali jika diberikan melalui NGT dan
jalan nafas harus dilindungi dengan ETT. Pada pasien dengan
obstruksi ileus atau intestinal.
Cara pemberian: berikan 60-100 mg oral. Pengulangan dosis
dapat dilakukan untuk meningkatkan absorbsi racun.
e) Diuresis paksa
Pada dugaan racun berada dalam darah dan dapat dikeluarkan
melalui ginjal
f) Dialisis (Dialisis Peritoneal)
Pada keracunan bahan yang dapat didialisis
g) Mandi dan keramas
Pada keracunan bahan yang dapat lewat kulit
3. Terapi penyangga (suportif)
Mempertahankan fungsi alat vital tubuh
Memperhitungkan keseimbangan cairan, elektrolit, asam-basa, kalori
setiap hari
4. Antidotum
Hanya kurang dari 10% bahan kimia yang mempunyai antidotumnya
Beberapa contoh antidotum:
a) Nallorphine untuk keracunan morphine
b) Atrophine sulfat untuk keracunan fosfoat organik
18

c) Na-thiosulfate untuk keracunan sianida (Syaroni, 2012).

2.2.8 Cara Diagnosa Keracunan
Kriteria diagnostik pada keracunan adalah
Anamnesa kontak antara korban dengan racun
Adanya tanda-tanda serta gejala yang sesuai dengan tanda dan gejala
dari keracunan racun yang diduga
Dari sisa benda bukti, harus dapat dibuktikan bahwa benda bukti
tersebut, memang racun yang dimaksud
Dari bedah mayat dapat ditemukan adanya perubahan atau kelainan
yang sesuai dengan keracunan dari racun yang diduga; serta dari
bedah mayat tidak dapat ditemukan adanya penyebab kematian lain
Analisa kimia atau pemeriksaan toksikologi, harus dapat dibuktikan
adanya racun serta metabolitnya, dalam tubuh atau cairan tubuh
korban, secara sistemik

2.2.9 Bilamana Dibutuhkan Pemeriksaan Toksikologi
Bila dibandingkan dengan kelainan atau penyakit yang ditimbulkan oleh
bakteri, kuman, virus, atau pun trauma; maka keracunan kasusnya relatif sedikit,
sehingga tidak jarang terjadi kekeliruan dalam penanganan pasien; untuk itu
perlu diketahui pada keadaan apa saja pemeriksaan toksikologi perlu dilakukan.



Tabel 1. Kasus-kasus toksikologi forensik yang melibatkan
Jenis Kasus Pertanyaan yang muncul Litigasi
Kematian yang tidak
wajar (mendadak)
Apakah ada keterlibatan obat
atau racun sebagai penyebab
kematiannya?
Kriminal: Pembunuhan
Sipil: klaim tanggungan
asuransi, tuntunan kepada
pabrik farmasi atau kimia
Kematian di penjara Kecelakaan, pembunuhan yang
melibatkan racun atau obat
terlarang?
Kriminal: pembunuhan
Sipil: gugatan tanggungan dan
konpensasi terhadap
pemerintah
Kematian pada
kebakaran
Apakah ada unsur penghilangan
jejak pembunuhan?
Apa penyebab kematian: CO,
racun, kecelakaan, atau
pembunuhan?
Kriminal: pembunuhan
Sipil: klaim tanggungan
asuransi
Kematian atau
timbulnya efek samping
obat berbahaya akibat
Berapa konsentrasi dari obat dan
metabolitnya?
Apakah ada interaksi obat?
Malpraktek kedokteran,
gugatan terhadap fabrik
farmasi
19

salah pengobatan
Kematian yang tidak
wajar di rumah sakit
Apakah pengobatannya tepat?
Kesalahan terapi?
Klaim malpraktek, tindak
kriminal, pemeriksaan oleh
komite ikatan profesi
kedokteran (IDI)
Kecelakaan yang fatal
di tempat kerja, sakit
akibat tempat kerja,
pemecatan
Apakah ada keterlibatan racun,
alkohol, atau obat-obatan?
Apakah kematian
akibat human eror?
Apakah sakit tersebut
diakibatkan oleh senyawa kimia
di tempat kerja? Pemecatan
akibat terlibat penyalahgunaan
Narkoba?
Gugatan terhadap employer,
Memperkerjakan kembali
Kecelakan fatal dalam
menyemudi
Meyebabkan kematian?
Adakah keterlibatan alkohol,
obat-obatan atau Narkoba?
Kecelakaan, atau pembunuhan?
Kriminal: Pembunuhan,
kecelakaan bermotor
Sipil: klaim gugatan asuransi
Kecelakaan tidak fatal
atau mengemudi
dibawah pengaruh obat-
obatan
Apakah kesalahan pengemudi?
Mengemudi dibawah pengaruh
obat-obatan atau Narkoba?
Kriminal: Larangan
Mengemudi dibawah
pengaruh Obat-obatan atau
Narkona
Sipil: gugatan pencabutan atau
pengangguhan SIM
Penyalahgunaan
Narkoba
Penyalahgunaan atau pasient
yang sedang mengalami terapi
rehabilitasi narkoba
Kriminal:
Sipil: rehabilitasi
Farmaseutikal dan Obat
palsu, atau tidak
memenuhi syarat
standar Forensik
Farmasi
Identifikasi bentuk sediaan,
kandungan sediaan obat,
penggunaan obat palsu.
Kriminal: pengedaran obat
ilegal.
Sipil: tuntutan penggunan obat
palsu terhadap dokter atau
yang terkait


2.2.10 Pemeriksaan Toksikologi
Dari pemeriksaan pada kasus-kasus yang mati akibat racun umumnya
tidak akan di jumpai kelainan-kelainan yang khas yang dapat dijadikan
pegangan untuk menegakan diagnose atau menentukan sebab kematian karena
racun suatu zat. Jadi pemeriksaan toksikologi mutlak harus dilakukan untuk
menentukan adanya racun pada setian kasus keracunan atau yang diduga mati
akibat racun. Setelah mayat si korban dibedah oleh dokter kemudian diambil dan
dikumpulkan jaringan-jaringan atau organ-organ tubuh si korban untuk dijadikan
20

barang bukti dan bahan pemeriksaan toksikologi. Prinsip pengambilan sampel
pada keracunan adalah diambil sebanyak-banyaknya setelah disishkan untuk
cadangan dan untuk pemeriksaan histopatologis.

Secara umum sampel yang harus diambil adalah :
1. Lambung dengan isinya.
2. Seluruh usus dengan isinya dengan membuat sekat dengan ikatan-ikatan
pada usus setiap jarak sekitar 60cm.
3. Darah yang berasal dari sentral (jantung), dan yang berasal dari perifer
(v.jugularis, a. femoralis dan sebagainya) masing-masing 50ml dan dibagi 2
yang satu diberi bahan pengawet (NaF 1%), yang lain tidak diberi bahan
pengawet.
4. Hati sebagai tempat detoksifikasi, tidak boleh dilupakan, hati yang diambil
sebanyak 500gram.
5. Ginjal, diambil keduanya, yaitu pada kasus keracunan dengan logam berat
khususnya, dan bila urin tidak tersedia.
6. Otak diambil 500 gram, khusus untuk keracunan khloroform dan keracunan
sianida, hal tersebut dimungkinkan karena otak terdiri dari jaringan lipoid
yang mempunyai kemampuan untuk meretensi racun walaupun telah
mengalami pembusukan.
7. Urin diambil seluruhnya, penting oleh karena pada umumnya racun akan
dieksresikan melalui urin, khususnya untuk tes penyaring pada keracunan
narkotika, alcohol, dan stimulan.
8. Empedu sama halnya dengan urin diambil oleh karena tempat ekskesi
berbagai racun terutama narkotika.
9. Pada kasus khusus dapat diambil :
a. Jaringan sekitar suntikan dalam radius 5-10 sentimeter.
b. Jaringan otot, yaitu, dari tempat yang terhindar dari kontaminasi,
misalnya muskulus psoas sebanyak 200 gram.
c. Lemak di bawah kulit dinding perut sebanyak 200 gram.
d. Rambut yang dicabut sebanyak 10 gram.
e. Kuku yang dipotong sebanyak 10 gram, dan.
f. Cairan otak sebanyak-banyaknya.

Jumlah bahan pengawet untuk sampel padat minimal 2x volume sampel tersebut,
bahan pengawet yang dianjurkan :
a. Alcohol absolute.
b. Larutan garam jenuh (untuk Indonesia paling ideal).

Kedua bahan di atas untuk sampel padat atau organ.
a. Natrium fluoride 1%
b. Natrium fluoride + Natrium sitrat (75mg + 50mg, untuk setiap 10ml
sampel)
21

Kedua bahan diatas untuk sampel cair adalah Natrium Benzoat dan phenyl
mercury nitrate khusus urin.

Cairan tubuh sebaiknya diperiksa dengan jarum suntik yang bersih/baru.
1. Darah seharusnya selalu diperiksa pada gelas kaca, jka pada gelas plastic
darah yang bersifat aak asam dapat melumerkan polimer plastic dari plastic itu
sendiri, karena dapat membuat keliru pada analisa gas kromatografi.
2. Pada pemeriksaan spesimen darah, selalu diberi label pada tabung sampel
darah:
a. Pembuluh darah femoral.
b. Jantung.

Pada kasus mayat yang tidak diotopsi :
1. Darah diambil dari vena femoral. Jika vena ini tidak berisi, dapat diambil dari
subclavia.
2. Pengambilan darah dengan cara jarum ditdarusuk pada trans-thoracic secara
acak, secara umum tidak bisa diterima, karena bila tidak berhatihati darah bisa
terkontaminasi dengan cairan dari esophagus, kantung pericardial, perut/cavitas
pleura.
3. Urine diambil dengan menggunakan jarum panjang yang dimasukan pada
bagian bawah dinding perut terus sampai pada tulang pubis.

Pada mayat yang diotopsi :
1. Darah diambil dari vena femoral.
2. Jika darah tidak dapat diambil dari vena femoral, dapat diambil dari: Vena
subklavia, Aorta, Arteri pulmonalis, Vena cava superior dan Jantung.
3. Darah seharusnya diberi label sesuai dengan tempat pengambilan.
4. Pada kejadian yang jarang terjadi biasanya berhubungan dengan trauma
massif, darah tidak dapat diambil dari pembuluh darah tetapi terdapat darah
bebas pada rongga badan.
a. Darah diambil dan diberi label sesuai dengan tempat pengambilan.
b. Jika dilakkukan tes untuk obat tersebut tidak dibawah efek obat pada saat
kematian.
c. Jika tes positif harus diperhitungkan kemungkinan kontaminsai.
d. Pada beberapa kasus bahan lain seperti vitreus/ otot dapat dianalisa untuk
mengevaluasi akurasi dari hasil tes dalam kavitas darah.

Prinsip pengambilan sample pada kasus keracunan adalah diambil
sebanyak-banyaknya setelah kita sisihkan untuk cadangan dan untuk
pemeriksaan histopatologik. Pengambilan sample untuk pemeriksaan toksikologi
adalah sebagai berikut :
1. Lambung dengan isinya.
2. Seluruh usus dengan isinya
22

3. Darah, yang berasal dari sentral (jantung), dan yang berasal dari perifer (v.
jugularis. A. femoralis dsb).
4. Hati.
5. Ginjal, diambil keduanya.
6. Otak.
7. Urin.
8. Empedu bersama-sama dengan kantung empedu.
9. Limpa.
10. Paru-paru
11. Lemak badan.

Bahan pengawet yang dipergunakan adalah :
1. Alcohol absolute.
2. Larutan garam jenuh.
3. Natrium fluoride 1%.
4. Natrium fuorida + natrium sitrat.
5. Natrium benzoate dan phenyl mercuric nitrate.
Alcohol dan larutan garan jenuh untuk sampel padat atau organ, sedangkan NaF
1% dan campuran NaF dengan Na sitrat untuk sample cair, sedangkan natrium
benzoate dan mercuric nitrat khusus untuk pengawetan urin.


1. Wadah Bahan Pemeriksaan Toksikologi.
Untuk wadah pemeriksaan toksikologi idealnya diperllukan minimal 9 wadah,
karena masing-masing bahan pemeriksaan ditempatkan secara tersendiri, tidak
boleh dicampur, yaitu :
a. 2 buah toples masing-masing 2 liter untuk hati dan usus.
b. 3 buah toples masing-masing 1 liter untuk lambung beserta isinya, otak dan
ginjal.
c. 4 buah botol masing-masing 25 ml untuk darah (2 buah) urine dan empedu.

Wadah harus dibersihkan terlebih dahulu dengan mencuci dengan asam
Kromat hangat lalu dibilas dengan Aquades dan dikkeringkan. Pemeriksaan
toksikologi yang dapat dilakukan selain penentuan kadar AchE dalam darah dan
plasma dapat juga dilakukan pemeriksaan.

a. Kristalografi.
Bahan yang dicurigai berupa sisa makanan/ minuman, muntahan, isi
lambung dimasukan ke dalam gelas beker, dipanasakan dalam pemanas air
sampai kering, kerimudian dilarutkan dalam aceton dan disaring dengan kertas
saring. Filtrate yang didapat, diteteskan di bawah mikroskop. Bila bentuk
Kristal-kristal seperti sapu, ini adalah golongan hidrokarbon terklorisasi.
b. Kromatografi lapisan tipis (TLC).
23

Kaca berukuran 20cmx20cm, dilapisi dengan absorben gel silikat atau
dengan alumunium oksida, lalu dipanaskan dalam oven 110 C selama 1 jam.
Filtrate yang akan diperiksa (hasil ekstraksi dari darah atau jaringan korban)
diteteskan dengan mikropipet pada kaca, disertai dengan tetesan lain yang telah
diketahui golongan dan jenis serta konsentrasinya sebagai pembanding. Ujung
kaca TLC dicelupkan ke dalam pelarut, biasanya n-Hexan. Celupan tidak boleh
mengenai tetesan tersebut diatas. Dengan daya kapilaritas maka pelarut akan
ditarik keatas sambil melarutkan filitrat-filitrat tadi. Setelah itu kaca TLC
dikeringkan lalu disemprot dengan reagensia Paladum klorida 0,5% dalam HCL
pekat, kemudian dengan Difenilamin 0,5% dalam alcohol. Interprestasi : warna
hitam (gelap) berarti golongan hidrokarbon terklorinasi sedangkan bila berwarna
hijau dengan dasar dadu berarti golongan organofosfat.Untuk menentukan jenis
dalam golongannya dapat dilakukan dengan menentukan Rf masing-masing
bercak. Angka yang didapat dicocokan dengan standar, maka jenisnya dapat
ditentukan dengan membandingkan besar bercak dan intensitas warnanya
dengan pembandingan, dapat diketahui konsentrasinya secara semikuantatif.

2. Cara pengiriman
Apabila pemeriksaan toksikologi dilakukan di institusi lain, maka pengiriman
bahan pemeriksaan harus memenuhi kriteria :
a. Satu tempat hanya berisi satu contoh bahan pemeriksaan.
b. Contoh bahan pengawet harus disertakan untuk control.
c. Tiap tempat yang telah terisi disegel dan diberi label yang memuat keterangan
mengenai tempat pengambilan bahan, nama korban, bahan pengawet dan
isinya.
d. Disertakan hasil pemeriksaan otopsi secara singkat jika mungkin disertakan
anamnesis dan gejala klinis.
e. Surat permintaan pemeriksaan dari penyidik harus disertakan dan memuat
identitas korban dengan lengkap dan dugaa racun apa yang menyebabkan
intoksikasi.
f. Hasil otopsi dikemas dalam kotak dan harus dijaga agar botol tertutup rapat
sehingga tidak ada kemungkinan tumpah atau pecah pada saat pengiriman.
Kotak diikat dengan tali yang setiap persilangannya diikat mati serta diberi
lak pengaman.
g. Penyegelan dilakukan oleh Polisi yang mana juga harus dabuat berita acara
penyegelan dan berita acara ini harus disertakan dalam pengiriman. Demikian
pula berita acara penyegelan barang bukti lain seperti barang bukti atau obat.
Dalam berita acara tersebut harus terdapat contoh kertas pembungkus, segel,
atau materi yang digunakan.
h. Pada pengambilan contoh bahan dari korban hidup, alcohol tidak dapat
dipakai untuk desinfektan local saat pengambilan darah, hal ini untuk
menghilangkan kesulitan dalam penarikan kesimpulan bila kasus menyangkut
24

alcohol. Sebagai gantinya dapat digunakan sublimate 1% atau mercuri klorida
1%.

Setelah semua proses pemeriksaan diatas dilakukan oleh ahli kedokteran
kehakiman maka hasil pemeriksaan tersebut dituangkan ke dalam sebuah surat
yaitu surat visum et repertum. Setelah dibuat berdasarkan aturan yang berlaku
maka surat tersebut sudah dapat digunakan sebagai alat bukti didalam proses
peradilan .

2.2.11 Dasar Hukum

1. KUHP Pidana Pasal 202 205
a. Pasal 202
(1) Barangsiapa memasukkan barang sesuatu ke dalam sumur, pompa,
sumber atau ke dalam perlengkapan air minum untuk umum atau untuk
dipakai oleh atau bersama-sama dengan orang lain, padahal diketahuinya
bahwa karena perbuatan itu air lalu berbahaya bagi nyawa atau kesehatan
orang, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan orang mati, yang ber- salah
diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama
waktu tertentu paling lama dua puluh tahun.

b. Pasal 203
(1) Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan
bahwa barang sesuatu dimasukkan ke dalam sumur, pompa, sumber atau
ke dalam perlengkapan air minum untuk umum atau untuk dipakai oleh,
atau bersama-sama dengan orang lain, sehingga karena perbuatan itu air
lalu berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang, diancam dengan pidana
penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama
enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan orang mati, yang bersalah diancam
dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana
kurungan paling lama satu tahun.

c. Pasal 204
(1) Barangsiapa menjual, menawarkan, menyerahkan atau membagi-
bagikan barang yang diketahuinya membahayakan nyawa atau kesehatan
orang, padahal sifat; berhahaya itu tidak diberi tahu, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakihatkan orang mati, yang bersalah diancam
dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu
tertentu paling lama dua puluh tahun.
25

d. Pasal 205
(1) Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan
barang-barang yang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang, dijual,
diserahkan atau di bagi-bagikan tanpa diketahui sifat berbahayanya oleh
yang membeli atau yang memperoleh, diancam dengan pidana penjara
paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam
bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan orang mati, yang bersalah diancam
dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana
kurungan paling lama satu tahun.
(3) Barang-barang itu dapat disita (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana,
2010).

2. Undang-undang RI No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika
Penyalahgunaan (pasal 59 ayat 1a)
Pengedar (pasal 59 ayat 1c)
Produsen (pasal 59 ayat 1 dan 2)

3. Undang-undang RI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika
4. Keppres RI No. 3 tahun 1997 tentang pengawasan dan pengendalian minuma
beralkohol
5. Pasal 133 ayat 1 KUHAP
Pasal 133
(1) dalam hal ini penyidik untuk kepentingan peradilan menangani
seorang koraban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena
peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya.

2.2.12 Keracunan Sianida
Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik, cara masuk ke dalam
tubuh dapat melalui :
inhalasi, misalnya gas HCN (gas penerangan, sisa pembakaran seluloid,
penyemprotan / fumigasi kapal)
oral, yaitu garam CN yang dipakai pada peyepuhan emas, pengelasan
besi dan baja, serta fotografi dan amigdalin yang didapat dari singkong,
ubi dan biji apel.

Setelah diabsorbsi, CN masuk ke dalam sirkulasi sebagai CN bebas dan
tidak dapat berikatan dengan Hb kecuali dalam bentuk methemoglobin akan
terbentuk sianmethemoglobin. CN akan menginaktifkan enzim oksidatif
beberapa jaringan secara radikal, terutama sitokrom oksidase juga merangsang
26

pernapasan bekerja pada ujung sensorik sinus (kemoreseptor) sehingga
pernapasan cepat. Dengan demikian proses oksidasi-reduksi dalam sel tidak
berlangsung dan oksihemoglobin tidak dapat berdisosiasi melepaskan O
2
ke sel
jaringan sehingga timbul anoksia jaringan. Hal ini merupakan keadaan
paradoksal karena korban meninggal akibat hipoksia tetapi darahnya kaya akan
O
2
.
Takaran toksik per oral untuk HCN adalah 60-90 mg, sedangkan KCN
atau NaCN adalah 200 mg. Gas CN 200-400 ppm akan menyebabkan kematian
dalam 30 menit sedangkan gas CN 20000 ppm akan menyebabkan meninggal
seketika.

2.2.13 Tanda dan Gejala Keracunan
Tanda dan gejala keracunan akut CN yang ditelan dapat dengan cepat
menyebabkan kegagalan pernafasan dan kematian dapat timbul dalam beberapa
menit. Dalam interval yang pendek antara menelan racun sampai kematian,
korban mengeluh merasa terbakar pada kerongkongan dan lidah, hipersalivasi,
mual, muntah, sakit kepala, vertigo, photophobia, tinitus, pusing, kelelahan dan
sesak napas. Dapat pula ditemukan sianosis pada muka, keluar busa dari mulut,
nadi cepat dan lemah, napas cepat dan kadang-kadang tidak teratur, refleks
melambat, udara pernapasan berbau amandel. Menjelang kematian, sianosis
tampak nyata dan timbul kedutan otot-otot yang berlanjut dengan kejang disertai
inkontinensia urin dan alvi. Racun yang diinhalasi menimbulkan palpitasi,
kesukaran bernapas, mual muntah sakit kepala, salivasi, lakrimasi, iritasi mulut
dan kerongkongan, pusing, kelemahan ekstremitas, kolaps, kejang, koma, dan
meninggal.

2.2.14 Pemeriksaan Forensik
Pemeriksaan luar jenazah dapat tercium bau amandel yang merupakan
tanda patognomonik untuk keracunan CN, dengan cara menekan dada mayat
sehingga akan keluar gas dari mulut dan hidung. Selain itu didapatkan sianosis
pada wajah dan bibir, busa keluar dari mulut, dan lebam jenazah berwarna
merah terang, karena darah kaya akan oksi hemoglobin (karena jaringan dicegah
dari penggunaan oksigen) dan ditemukannya cyanmethemoglobin. Pemeriksaan
selanjutnya biasanya tidak memberikan gambaran yang khas.
Pada korban yang menelan garam alkali sianida, dapat ditemukan
kelainan pada mukosa lambung berupa korosi dan berwarna merah kecoklatan
karena terbentuk hematin alkali dan pada perabaan mukosa licin seperti sabun.
Korosi dapat mengakibatkan perforasi lambung yang dapat terjadi antemortal
dan postmortal.
Dari luar, ada banyak variasi dalam penampilanya. Yang klasik, lebam
mayat dikatakan menjadi berwarna merah bata, sesuai dengan kelebihan
oksihemoglobin (karena jaringan dicegah dari penggunaan oksigen) dan
ditemukannya cyanmethemoglobin. Banyak deskripsi lebam mayat yang
27

mengarah pada kulit yang berwarna merah muda gelap atau bahkan merah
terang, terutama bergantung pada daerahnya, yang mana dapat dibingungkan
dengan karboksi hemoglobin. Mungkin bau sianida ada pada tubuh dan dapat
dikenal, tapi perlu diketahui bahwa banyak orang tidak bisa mendeteksi bau ini,
kemampuan menciumnya berhubungan dengan genetic (bukan berdasarkan
pengalaman). Ini penting diketahui oleh ahli patologi dan pegawai kamar mayat,
bahwa keracunan sianida dapat membawa resiko. Para petugas terkait menjadi
sakit dan untuk sementara mengalami gangguan fungsi setelah mengautopsi
mayat bunuh diri yang telah menelan sejumlah besar kalium sianida.
Diasumsikan mungkin akibat menghirup hydrogen sianida dari isi perut mayat
ketika melakukan pemeriksaan organ dalam. Juga ditemukan tanda- tanda
asfiksia. Pemastian diagnosis keracunan CN dilakukan dengan pemeriksaan
toksikologis terhadap isi lambung dan darah.
Perut dapat berisi darah maupun rembesan darah akibat erosi maupun
pendarahan didinding perut. Jika sianida berada dalam larutan encer, mungkin
ada sedikit kerusakan pada perut, terpisah dari warna merah muda pada mukosa
dan mungkin beberapa pendarahan berupa petechiae. Mungkin juga sianida
tersebut menjadi kristal/ bubuk putih yang tidak dapat larut, dengan bau seperti
almond. Seperti kematian yang biasanya berlangsung cepat, sedikit bagian dari
sianida dapat sudah melewati masuk ke dalam sel cerna. Esofagus dapat
mengalami kerusakan terutama pada bagian mukosa esophagus yang ketiga yang
lebih bawah, yang bisa mengalami perubahan post- mortem dari regurgitasi isi
perut melalui relaksasi sphincter jantung setelah mati. Organ lain tidak
menunjukkan perubahan yang spesifik dandiagnosis dibuat berdasarkan
ceritanya, bau dan warna kemerahan pada jaringan dalam tubuh maupun kulit

2.2.15 Pemeriksaan Laboratorium
Darah, isi perut, urin dan muntahan harus diserahkan ke laboratorium,
membutuhkan perhatian khusus bahwa sampel terhindar dari resiko dalam
pengemasannya, transportasinya atau tidak dikemasnya sampel tersebut.
Pemeriksaan laboratorium harus dilakukan dan diperhatikan jika ada
kemungkinan terjadinya keracunan sianida.
Jika kematian mungkin disebabkan oleh inhalasi gas hidrogen sianida,
paru-parunya harus dikirim utuh, dibungkus dalam kantong yang terbuat dari
nilon (bukan polivinil klorida).
Penting untuk membawa sampel ke laboratorium sesegera mungkin (dala
m beberapa hari) untuk menghindari struktur sianida yang tidak seperti aslinya
lagi dalam sampel darah yang telah disimpan. Hal ini biasanya dapat terjadi
akibat suhu ruangannya, sehingga jika ada penundaan, adanya kulkas pendingin
menjadi penting.
Jika dibandingkan, beberapa sampel positif sesungguhnya dapat menurun
kualitasnya pada penyimpanan. Lebih dari 70% isi sianida dapat hilang setelah
beberapa minggu, akibat reaksi dengan komponen jaringan dan konversi
28

menjadi thiosianad. Dikatakan bahwa tidak ada struktur sianida yang tidak
seperti aslinya lagi, sianida yang ditemukan dalam jumlah cukup adalah bukti
bahwa sianida masuk dalam tubuh yang mana hal itu sendiri tidak normal dan
dikonfirmasi sebagai barang bukti dari terjadinya keracunan.

2.2.16 Penatalaksanaan
Prinsip pertama dari terapi ini adalah mengeliminasi sumber-sumber
yang terus-menerus mengeluarkan racun sianida. Pertolongan terhadap korban
keracunan sianida sangat tergantung dari tingkat dan jumlah paparan dengan
lamanya waktu paparan.
Segera menjauh dari tempat atau sumber paparan.
Jika korban berada di dalam ruangan maka segera keluar dari ruangan.
Jika tempat yang menjadi sumber, maka sebaiknya tetap berada di dalam
ruangan. Tutup pintu dan jendela, matikan pendingin ruangan, kipas
maupun pemanas ruangan sampai bantuan datang.
Cepat buka dan jauhkan semua pakaian yang mungkin telah
terkontaminasi oleh sianida. Letakkan pakaian itu di dalam kantong
plastik, ikat dengan kuat dan rapat. Jauhkan ke tempat aman yang jauh
dari manusia, terutama anak-anak.
Segera cuci sisa sianida yang masih melekat pada kulit dengan sabun dan
air yang banyak. Jangan gunakan pemutih untuk menghilangkan sianida.

Tindakan pertama adalah segera cari udara segar. Jika berada di dekat
balai pengobatan tertentu maka dapat diberikan oksigen murni. Berikan
antidotum seperti sodium nitrite dan sodium thiosulfat untuk mencegah
keracunan yang lebih serius. Bila korban dalam keadaan tidak sadar maka harus
segera ditatalaksana di rumah sakit karena bila terlambat dapat berakibat
kematian.
Penggunaan oksigen hiperbarik untuk mereka yang keracunan sianida
masih sering dipakai. Penambahan tingkat ventilasi oksigen ini akan
meningkatkan efek dari antidotum. Asidosis laktat yang berasal dari
metabolisme anaerobik dapat diterapi dengan memberikan sodium bikarbonat
secara intravena dan bila pendertia gelisah dapat diberikan obat-obat
antikonvulsan seperti diazepam. Perbaikan perfusi jaringan dan oksigenisasi
adalah tujuan utama dari terapi ini. Selain itu juga, perfusi jaringan dan tingkat
oksigenisasi sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan pemberian antidotum.
Obat vasopressor seperti epinefrin bila timbul hipotensi yang tidak memberi
respon setelah diberikan terapi cairan. Berikan obat anti aritmia bila terjadi
gangguan pada detak jantung. Setelah itu berikan sodium bikarbonat untuk
mengoreksi asidosis yang timbul.

2.2.17 Keracunan Karbonmonoksida
29

Karbonmonoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau
dan tidak merangsang selaput lendir. Gas CO dapat ditemukan pada hasil
pembakaran tidak sempurna dari karbon. Sumber terpenting adalah motor yang
menggunakan bahan bakar bensin. Sumber lain CO adalah gas arang batu yang
mengandung kira-kira 5% CO, alat pemanas berbahan bakar gas, lemari es gas
dan cerobong asap yang bekerja tidak baik. CO hanya diserap melalui paru dan
sebagian besar diikat oleh Hb secara reversibel, membentuk karboksi-
hemoglobin. Afinitas COHb 208-245 kali afinitas O
2
. Bila korban dipindahkan
ke udara bersih, kadar COHb berkurang 50% dalam waktu 4,5 jam dan setelah
6-8 jam darah tidak mengandung COHb lagi. Gejala keracunan CO berkaitan
dengan kadar COHb dalam darah.

2.2.18 Tanda dan Gejala Keracunan
Tabel Gejala yang ditimbulkan akibat keracunan CO
Saturasi COHb Gejala
10 % Tidak ada
10% - 20% Rasa berat pada kening, sakit kepala ringan
20% - 30% Sakit kepala, berdenyut pada pelipis
30% - 40% Sakit kepala keras, lemah, pusing,penglihatan buram,
mual dan muntah, kolaps
40% - 50% Sama dengan gejala di atas tetapi dengan
kemungkinan besar kolaps atau sinkop. Pernapasan
dan nadi cepat, ataksia.
50% - 60% Sinkop, pernapasan dan nadi bertambah cepat, koma
dengan kejang intermitten, pernapasan Cheyne-Stokes
60% - 70% Koma dengan kejang, depresi jantung dan pernapasan,
mungkin meninggal
70% - 80% Nadi lemah, pernapasan lambat, gagal napas dan
meninggal.

2.2.19 Pemeriksaan Forensik
Diagnosis keracunan CO pada korban hidup biasanya berdasarkan
anamnesis adanya kontak dan ditemukannya gejala keracunan CO.
Pada jenazah, dapat ditemukan warna lebam mayat yang berupa Cherry
Red pada kulit, otot, darah dan organ-organ interna, yang tampak jelas bila kadar
COHb mencapai 30% atau lebih. Akan tetapi pada orang yang anemik atau
mempunyai kelainan darah warna cherry red ini menjadi sulit dikenali.
Autopsi pada keracunan CO dapat memberikan petunjuk penyebab
kematian. Salah satu contoh keracunan CO mati didalam mobil dengan AC yang
dibiarkan tetap menyala, dengan gambaran patologi dari luar atau eksterna
langsung tertuju pada CO. Pada autopsi penampilan yang paling jelas adalah
warna pada kulit terutama pada post-mortem hipostasis. Pada autopsi biasanya
relatif mudah untuk menentukan korban yang meninggal pada keracunan CO
dengan melihat warna lebam mayat yang berupa cherryred pada kulit, otot, darah
dan organ-organ interna, akan tetapi pada orang yang anemik atau mempunyai
kelainan darah warna cherry red ini menjadi sulit dikenali. Warnaklasik Chery-
pink pada CO-Hb sebagai bukti jika saturasi darah kira-kira >30%.Dibawah ini
30

secara jelas <20%, tidak tampak adanya warna. Pada konsentrasi ini jarang
mengakibatkan kematian. Terkadang sianosis yang semakin gelap cenderung
menutupi warna kulit, tapi batas pasa hipostasis dan warna bagian dalam dapat
terbukti.
Pemeriksaan dalam untuk keracunan yang tidak lama terjadi ditemukan
jaringan otot, viscera dan darah yang berwarna merah terang. Kadang-kadang
ditemukan tanda-tanda asfiksia dan hiperemia viscera. Pada otak besar dapat
ditemukan petekie di substansia alba bila korban bertahan hidup lebih dari 30
menit.
Pada korban keracunan CO yang sempat mendapat pertolongan dan baru
meninggal beberapa saat (hari) kemudian, maka kadar COHb dalam darah sudah
kembali rendah dan lebam mayat tidak akan berwarna merah terang. Mekanisme
kematian pada kasus ini adalah anoksia jaringan otak, yang pada pemeriksaan
jenazah petekie pada substantia alba otak atau gambaran infark atau
ensephalomalacia yang simetris. Pada kondisi demikian, diagnosis kematian
akibat keracunan CO ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan di TKP atau
gambaran klinis saat korban baru dirawat.

2.2.20 Pemeriksaan Laboratorium
a. Uji Kualitatif
Menggunakan 2 cara:
Uji Dilusi Alkali
Ambil dua tabung reaksi, masukkan ke dalam tabung pertama 1-2
tetes darah korban. Tabung kedua 1-2 tetes darah kontrol. Encerkan
masing-masing darah dengan menambahkan 10ml air. Tambahkan
masing-masing tabung 5 tetes NaOH 10-20% lalu dikocok.

Uji Formalin
Darah yang diperiksa ditambahkan dengan larutan formalin 40%
sama banyak. Bila darah mengandung COHb dengan saturasi 25%,
maka akan terbentuk koagulat berwarna merah yang mengendap pada
dasar tabung reaksi. Pada darah normal. Terbentuk koagulat warna
coklat.

b. Uji Kuantitatif
Menggunakan cara Gettler-Freimuth dengan prinsip:
Darah + Kalium Ferisianida CO dibebaskan dari COHb
CO + PdCl2 + H2O Pd + CO2 + HCl
Paladium (Pd) ion akan diendapkan pada kertas saring berupa
endapan berwarna hitam.

Saran lain mengenai indikasi CO adalah ketika jaringan dimasukkan
dalam larutan garam untuk kepentingan histologis, mereka tidak terjadi
pewarnaan secara cepat sama seperti jaringan normal dan tetap merah muda
sepanjang periode. Jika keracunan CO dicurigai pada autopsi, test yang cepat
31

dengan menambah beberapa tetesdarah pada 10% cairan NaOH di kaca gelas
yang member latar putih. Darah normal akan segera menjadi hijau kecoklatan
tapi jika terdapat monoksida, warnanya akan menjadi merah muda, seperti tidak
ada met-Hb yang terbentuk. Bagaimanapun juga test kasar tidak disarankan
sebagai alternative yang digunakan.

2.2.21 Penatalaksanaan
1. Sesegera mungkin pindahkan dan jauhkan korban dari sumber pejanan
gas CO, kemudian longgarkan pakaian yang dikenakan korban supaya
korban lebih mudah bernapas.
2. Selain itu, pemberian oksigen 100% atau oksigen murni merupakan hal
yang mendasar dengan masker karet yang ketat atau menggunakan
endotracheal tube pada pekerja yang tidak sadar agar oksigen benar-
benar masuk, hal tersebut akan mengurangi waktu paruh (half life) ikatan
COHb (karboksihaemoglobin) secara perlahan-lahan sehingga
memperbaiki hipoksia jaringan. Pastikan korban harus istirahat, dalam
keadaan hangat dan usahakan tenang. Meningkatnya gerakan otot
menyebabkan meningkatnya kebutuhan oksigen, sehingga persediaan
oksigen untuk otak dapat berkurang.
3. Melakukan terapi hiperbarik, dengan menggunakan oksigen bertekanan 3
atmosfer yang akan cepat sekali memperpendek waktu paruh COHb.
Namun masih diperdebatkan mengenai bagaimana indikasinya.

Bila setelah melakukan semua petunjuk di atas tapi keadaan korban tidak
juga membaik, maka korban harus segera dirujuk ke rumah sakit.


2.2.22 Keracunan Insektisida
Insektisida merupakan bahan yang digunakan untuk membunuh serangga
dalam pertanian, perkebunan dan rumah tangga. Kasus kematian akibat
insektisida seringkali terjadi karena kecelakaan dan percobaan bunuh diri.
Insektisida yang sering digunakan, antara lain :
a. golongan fosfat organik : malation, paration, paraxon, diazinon
b. golongan karbamat : carbaryl, baygon
c. golongan hidrokarbon yang diklorkan : DDT, lindane
I. Golongan Inhibitor Kolinesterase
Berdasarkan cara kerjanya, golongan organofosfat dan karbamat
dikategorikan ke dalam antikolinesterase. Pada golongan organofosfat
inhibisinya bersifat irreversibel, sedangkan golongan karbamat bersifat
reversibel. Inhibisi mengakibatkan terjadinya akumulasi asetilkolin, rangsangan
pada saraf kolinergik diperpanjang. Kematian terjadi karena gagal napas dan
henti jantung.
I.I Tanda dan Gejala
32

Gejala klinis berupa gangguan penglihatan, sukar bernapas, saluran
pencernaan hiperaktif. Tanda dan gejala lain yang sering terjadi antara lain sakit
kepala, kelemahan otot, hiperhidrosis, lakrimasi, salivasi, miosis, sekresi saluran
napas, sianosis, papil edem, konvulsi, koma, dan hilangnya kontrol terhadap
sfingter.

I.II Pemeriksaan Forensik
Pada pemeriksaan dalam ditemukan tanda pembendungan pada alat
dalam. Di dalam lambung ditemukan cairan yang terdiri dari dua lapisan yaitu
lapisan cairan lambung dan lapisan larutan insektisida. Mukosa lambung dan
usus bagian atas tampak hiperemis dan mengalami perdarahan submukosa. Juga
dapat tercium bau pelarut insektisida. Limpa, otak dan paru tampak edem dan
kongesti. Kerusakan jaringan hati biasanya merupakan penyebab kematian pada
keracunan kronis

II. Golongan Hidrokarbon Terkhlornasi
Hidrokarbon terkhlorinasi adalah zat kimia sintetik yang stabil beberapa
minggu sampai beberapa bulan setelah penggunaannya. Termasuk golongan ini
adalah DDT, ALdrin, Dieldrin, Endrin, Chlordane, Lindane. DDT lambat
diabsorbsi melalui saluran cerna. Insektisida dalam bentuk bubuk tidak
diabsropsi melalui kulit, tetapi bila dilarutkan dalam solven organik mungkin
dapat diabsorbsi melalui kulit. DDT merupakan stimulator SSP yang kuat
dengan efek eksitasi langsung pada neuron, yang mengakibatkan kejang-kejang
dengan mekanisme yang belum jelas. Kematian terjadi akibat depresi pernafasan
atau akibat fibrilasi ventrikel.

II.I. Tanda dan Gejala Keracunan
Gejala keracunan ringan adalah merasa lelah, berat dan sakit pada
tungkai, sakit kepala, parestesia pada lidah, bibir, dan muka, gelisah, dan lesu.
Gejala keracunan berat adalah pusing, gangguan keseimbangan, bingung,
rasa tebal pada jari-jari, tremoe, mual, muntah, fasikulasi, midriasis, kejang tonik
dan klonik, kemudian koma.

II.II. Pemeriksaan Forensik
Pada keracunan kronik, dilakukan biopsy lemak tubuh yang diambil pada
perut setinggi garis pinggang minimal 50 gram dan dimasukkan ke dalam botol
bermulut lebar dengan penutuo dari gelas dan ditimbang dengan ketelitian
sampai 0,1 mg. pada keadaan normal, insektisida golongan ini dalam lemak
tubuh terdapat kurang dari 15 ppm.
Tanda-tanda congested/asfiksia tampak pada pemeriksaan luar. Hssil
pemeriksaan dalam memperlihatkan adanya hiperemi pada mukosa lambung
dan usus disertai perdarahan. Apabila keracunan kronik, dapat tercium bau zat
33

pelarut (minyak tanah) dan terdapat adanya organ-organ dalam yang congested,
nekrosis hati, serta edema paru.

2.2.23 Penatalaksanaan
Pertolongan Pertama
1. Mencegah/menghentikan penyerapan racun
Racun melalui mulut (ditelan / tertelan)
1) Encerkan racun yang ada di lambung dengan : air, susu, telor
mentah atau norit).
2) Kosongkan lambung (efektif bila racun tertelan sebelum 4 jam)
dengan cara :
a) Dimuntahkan :
Bisa dilakukan dengan cara mekanik (menekan reflek muntah
di tenggorokan), atau pemberian air garam atau sirup ipekak.
Kontraindikasi : cara ini tidak boleh dilakukan pada keracunan
zat korosif (asam/basa kuat, minyak tanah, bensin), kesadaran
menurun dan penderita kejang.
b) Bilas lambung :
Pasien telungkup, kepala dan bahu lebih rendah.
Pasang NGT dan bilas dengan : air, larutan norit, Natrium
bicarbonat 5 %, atau asam asetat 5 %.
Pembilasan sampai 20 X, rata-rata volume 250 cc.
Kontraindikasi : keracunan zat korosif & kejang.
c) Bilas Usus Besar : bilas dengan pencahar, klisma (air sabun
atau gliserin).
2. Mengeluarkan racun yang telah diserap
Dilakukan dengan cara :
a) Diuretic(Obat-obatan yang menyebabkan suatu keadaan
meningkatnya aliran urine): lasix, manitol
b) Dialisa
c) Transfusi exchange

3. Pengobatan simptomatis / mengatasi gejala
a) Gangguan sistem pernafasan dan sirkulasi : RJP
b) Gangguan sistem susunan saraf pusat :
1) Kejang : beri diazepam atau fenobarbital
2) Odem otak : beri manitol atau dexametason.

4. Pengobatan spesifik dan antidotum
a) Gejala : mual, muntah, nyeri perut, hipersalivasi, nyeri kepala,
mata miosis, kekacauan mental, bronchokonstriksi, hipotensi,
depresi pernafasan dan kejang.
34

b) Tindakan :
1) Atropin 2 mg tiap 15 menit sampai pupil melebar
Atropin berfungsi untuk menghentikan efek acetylcholine
pada reseptormuscarinik, tapi tidak bisa menghentikan efek
nikotinik.Pada usia < 12 th pemberian atropin diberikan dengan
dosis 0,05 mg/kg BBIV pelan-pelan dilanjutkan dengan 0,02 -
0,05mg/kg BB setiap 5 - 20 menit sampaiatropinisasi sudah
adekuat atau dihentikan bila :
Kulit sudah hangat, kering dan kemerahan
Pupil dilatasi (melebar)
Mukosa mulut kering
Heart rate meningkat Pada anak usia > 12 tahun diberikan 1 -
2 mg IV dan disesuaikan denganrespon penderita. Pengobatan
maintenance dilanjutkan sesuai keadaan
klinispenderita,atropin diteruskan selama 24 jam kemudian
diturunkan secarabertahap. Meskipun atropin sudah diberikan
masih bisa terjadi gagal nafaskarena atropin tidak mempunyai
pengaruh terhadap efek nikotinik (kelumpuhan otot )
organofosfat.
2) Antiemetik : zat-zat yang digunakan untuk menghambat
muntah.obat antiemetik adalah :
Antagonis reseptor 5-hydroxy-tryptamine yang menghambat
reseptor serotonin di Susunan Syaraf Pusat (SSP) dan saluran
cerna.. Obat ini dapat digunakan untuk pengobatan post-
operasi, dan gejala mual dan muntah akibat keracunan.
Beberapa contoh obat yang termasuk golongan ini adalah :
o Dolasetron
5. Pengobatan Supportif
Tujuan dari terapi suportif adalah adalah untuk mempertahankan
homeostasis fisiologis sampai terjadi detoksifikasi lengkap, dan untuk
mencegah serta mengobati komplikasi sekunder seperti aspirasi, ulkus
dekubitus, edema otak & paru, pneumonia, rhabdomiolisis, gagal ginjal,
sepsis, dan disfungsi organ menyeluruh akibat hipoksia atau syok
berkepanjangan.
Terapi:
a) Hipoglikemia : glukosa 0,5 - 1g /kg BB IV
b) Kejang : diazepam 0,2 - 0,3 mg/kgBB IV

2.2.24 Keracunan Arsen
As
2
O
3
atau arsen trioksida atau disebut juga acidum arsenicosum
merupakan senyawa yang sering dan penting artinya dalam hubungannya dengan
keracunan. As
2
O
3
ini berupa serbuk putih atau kadang kristal halus dengan
35

sedikit rasa (lemah) bahkan dapat dikatakan tidak berasa sama sekali dan tidak
berbau. Mudah larut dalam asam lambung, dalam bentuk gas biasanya berbau
bawang putih. Senyawa arsenik ini banyak ditemukan dalam bidang pertanian
(rodenticide), industri (sebagai pengotoran dari zat warna, mordant) maupun
dalam bidang pengobatan (sedian-sedian yang mengandung arsenikum baik
sebagai senyawa anorganik maupun organik). Bentuk lain dari arsenikum ini
adalah Arsine dan Ethylarsine dimana berada dalam bentuk gas.

2.2.25 Tanda dan Gejala Keracunan
Ada 4 tipe gejala keracunan:
1. Acute Paralytic
Timbul mendadak setelah korban keracunan dengan dosis besar
serta absorbsinya berjalan sangat cepat. Gejala yang menonjol adalah
akibat depresi susunan saraf pusat yang hebat khususnya pusat-pusat
vital dimedulla, antara lain:
Circulatory collapse dengan tekanan darah turun/rendah
Denyut nadi cepat dan lemah
Pernafasan sukar dan dalam
Stupor atau semicomatous
Kadang-kadang kejang dan adakalanya tampak/ tidak tampak gejala
iritasi gastrointestinal
Kematian terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam.
2. Gastrointestinal Type
Merupakan gejala yang paling utama dijumpai dan khas, akibat
lesi-lesi pada lambung, usus maupun organ-organ parenchym segera
setelah keracunan, timbul muntah dan diikuti diarrhea setelah 1-2 jam
kemudian.
Rasa sakit dan cramp pada perut
Rasa haus yang hebat, sakit tenggorokan
Mulut terasa kering
Muntah berkepanjangan, kadang-kadang bercampur darah
Profuse diarrhea dengan faeces bercampur darah.

Gejala klinis diatas sangat inddividual, dimana satu penderita
condong menunjukkan gejala profuse diarrhea sebagai gejala utama,
yang lain lebih condong menunjukkan gejala muntah atau kombinasi dari
gejala-gejala tersebut pada penderita lainnya.
Bila kasus keracunan lebih hebat maka timbul gejala seperti
muka kebiruan dan cemas, kulit pucat dan dingin, cramp pada kaki
bagian atas, delirium, albuminuria, retensi urin, serta dehidrasi akibat
hilangnya cairan tubuh.
Kematian terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari dan
apabila penderita dapat melewati serangan pertama, masih ada
kemungkinan untuk bertahan hidup.

3. Subacute Type
36

Timbul apabila senyawa arsenikum diberikan dalam dosis kecil
berulang kali dalam interval waktu tertentu, atau akibat pemberian dalam
dosis besar tetapi tidak segera menimbulkan kematian dan menimbulkan
efek keracunan selama dieksresikan (slow excretion).
Gejalanya:
Degenerasi toksik pada hepar yang kemudian berkembang menjadi
acute/subacuteyellow atrophy disertai toxic jaundice hebat.
Perdarahan multiple pada lapisan sub serosa jaringan
Traktus Gastrointestinal mengalami inflamasi dan kronis serta
diarhea berkepanjangan
Cramp dan dehidrasi
Ginjal mengalami nephrosis dengan albuminuria dan hematuria
Skin eruption, bengkak seluruh tubuh, beberapa kasus tampak
penderita mengalami keratosis kulit, berat badan menurun serta
keadaan umum korban makin buruk.
Kematian dapat terjadi beberapa hari kemudian.

4. Chronic Type
Type ini dapat berkembang/ terjadi setelah gejala akut mereda.
Tampak gejala-gejala:
Paralyse dan atrofi otot-otot tangan dan kaki sebagai akibat neuritis
kronis disertai dengan degenerasi saraf yang dimulai dari bagian
perifer dan berjalan ke arah sentral.
Anaesthesia
Rambut dan kuku rontok
Kadang tampak gastroentritis kronis disertai anoreksia, nausea, dan
diare
Kulit mengalami hiperkeratosis dan hiperpigmentasi
Mata mengalami hiperkeratosis, kelopak mata bengkak
Garis melintang pada kuku berwarna putih.
Hiperkeratosis terutama tampak jelas pada telapak tangan dan telapak
kaki

2.2.26 Pemeriksaan Forensik
Keracunan Akut :
Pemeriksaan luar ditemukan tanda-tanda dehidrasi
Pemeriksaan dalam ditemukan tanda iritasi lambung, mukosa
berwarna merah, kadang-kadang dengan perdarahan (fleas bitten
appearance)

Keracunan Kronik :
Pemeriksaan luar tampak keadaan gizi buruk. Pada kulit terdapat
pigmentasi coklat (melanosis arsenic), keratosis telapak tangan dan
kaki (keratosis arsenic). Kuku memperlihatkan garis-garis putih
(Mees lines) pada bagian kuku yang tumbuh dan dasar kuku.
Temuan pada pemeriksaan dalam tidak khas.

2.2.27 Timah
37

Plumbum atau timbel (timah hitam) terdapat dimana-mana, dalam
jumlah besar dalam badan accu / baterai. Pb terdapat pula pada pipa air zaman
dahulu, timah solder, bahan dasar cat, dempul meni, dan glasier dari benda-
benda keramik dan gelas (crystal lead). Pb juga terdapat pada bahan kosmetik
mata orang Indian yang disebut surma, demikian juga dapat ditemukan
pada eye-shadow, lipstick, dan blush-on.
Timbel di dalam tubuh terikat dalam gugus sulfhidril (-SH) dalam
molekul protein yang menyebabkan hambatan pada system kerja enzim. Dalam
darah enzim yang dihambat adalah enzim delta- aminolevulinik asid (delta-
ALA) yang berperan dalam sintesi hemoglobin.

2.2.28 Tanda dan Gejala Keracunan
Keracunan Akut :
Korban merasa sepat (rasa logam), muntah-muntah berwarna putih
Karena adanya Pb Klorida, dan juga diare dengan feses hitam akibat
adanya PbS. Kedua hal ini dapat menyebabkan dehidrasi.

Keracunan Kronik :
Korban tampak pucat yang tak sesuai dengan derajat anemi, karena
pucat timbul sebagai akibat spasme arteriol di bawah kulit. Rasa
logam pada mulut, anoreksia, obstipasi, kadang diare.

2.2.29 Pemeriksaan Forensik
Diagnosis pada orang hidup ditegakkan dengan melihat adanya gejala
keracunan dan pemeriksaan kadar Pb darah dan urin, Pada jenazah, dapat
ditemukan,
Keracunan Akut :
Tanda-tanda dehidrasi, lambung mengerut (spastic), hiperemi, isi
lambung warna putih. Usus spastic dan feses berwarna hitam.
Keracunan Kronik :
Tubuh sangat kurus, pucat terdapat garis Pb, ikterik, gastritis
kronikm dan pada usus nampak bercak-bercak hitam
Kadar tertinggi Pb terdapat dalam tulang, ginjal, jati dan otak, sehingga
bahan pemeriksaan diambil dari organ-organ tersebut.

2.2.30 Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis toksisitas Pb dilakukan berdasarkan gejala dan uji lab seperti
kadar Pb dalam darah, ulas darah untuk melihat sel stipel yang merupakan
keracunan khas pada Pb, dan protoporfirin eritrosir. Uji kadar Pd dalam urin,
enzim delta ALA dan koproporfirin III juga dapat dilakukan untuk diagnosis
toksisitas Pb.

2.2.31 Keracunan Narkoba
Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi
seperti perasaan, pikiran, suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh
manusia baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik, intravena, dan lain
sebagainya (Kurniawan, 2008)
Narkoba dibagi dalam 3 jenis :
38

I. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau
bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintesis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantungan ( Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun
2009).
Jenis narkotika di bagi atas 3 golongan :
a) Narkotika golongan I : adalah narkotika yang paling berbahaya, daya
adiktif sangat tinggi menyebabkan ketergantunggan. Tidak dapat
digunakan untuk kepentingan apapun, kecuali untuk penelitian atau
ilmu pengetahuan. Contoh : ganja, morphine, putauw adalah heroin
tidak murni berupa bubuk.
b) Narkotika golongan II : adalah narkotika yang memilki daya adiktif
kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contoh :
petidin dan turunannya, benzetidin, betametadol.
c) Narkotika golongan III : adalah narkotika yang memiliki daya adiktif
ringan, tetapi dapat bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian.
Contoh : codein dan turunannya.

Prekursor narkotika
UU 35/2009 PASAL 1 AYAT 2: Adalah zat atau bahan pemula atau
bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan narkotika.

Tujuan pengaturan prekusor Narkotik:
PASAL 48
a) melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan prekursor
narkotika
b) mencegah dan memberantas peredaran gelap prekursor narkotika
c) mencegah terjadinya kebocoran dan penyimpangan prekursor
narkotika

Golongan dan jenis prekusor narkotika:
TABEL I TABEL II
Acetic anhydride
N-Acetylanthranilic Acid
Ephedrine
Ergometrine
Ergotamine
Isosafrole
Acetone
Anthranilic acid
Ethyl ether
Hydrochloric acid
Methyl ethyl ketone
Phenylacetic acid
39

Lysergic acid
3,4-Methylenedioxyphenyl-2-
propanone
Norephedrine
1-Phenyl-2-Propanone
Piperonal
Potassium permananat
Pseudoephedrine
safrole
Piperidine
Sulphuric acid
Toluene

I.II. Tanda dan Gejala Keracunan
Keracunan dapat terjadi secara akut maupun kronik. Keracunan
akut biasanya terjadi akibat percobaan bunuh diri, tetapi dapat pula terjadi
pada kecelakaan dan pembunuhan.
Gejala keracunan diawali dengan eksitasi susuan saraf yang
kemudian disusul oleh narkosis. Penderita merasa ngantuk, yang makin
lama makin dalam dan berakhir dengan keadaan koma, terdapat relaksasi
otot-otot sehingga lidah dapat menutupi saluran nafas, nadi kecil dan
lemah, pernafasan sukar, irregular, pernafasan dangkal lambat, suhu
badan turun, muka pucat, pupil miosis (pin-head size) yang akan melebar
kenbali setelah terjadi anoksia, tekanan darah menurun hingga syok.

2.2.32 Pemeriksaan Forensik
Pada korban hidup perlu dilakukan pengambilan darah dan urin untuk
pemeriksaan laboratorium.
Pada pemeriksaan luar jenazah, dapat ditemukan adanya bekas suntikan,
pembesaran kelenjar getah bening setempat, lepuh kulit (skin blister), tanda
asfiksia (busa halus dari lubang hidung dan mulut), sianosis pada ujung jari dan
biir, perdarahan petekial pada konjungtiva dan pada pemakaian narkotika dengan
cara sniffing (menghirup), kadang dijumpai perforasi septum nasi.
Hasil pemeriksaan dalam menunjukkan darah berwarna gelap dan cair,
terdapat gumpalan masa coklat kehitaman pada lambung, trakea dan bronkus
kongesti dan berbusa, paru kongesti dan edema.

2.2.33 Pemeriksaan Laboratorium
Bahan terpenting yang harus diambil adalah urin, cairan empedu dan
jaringan sekitar suntikan. Untuk pemeriksaan toksikologi dilakukan dengan :
Uji Marquis : 40 tetes formaldehyde 40% dalam 60 ml asam sulfat pekat. Tes
ini cukup sensitive dengan sensitifitas berkisar antara 0,05 mikrogram 1
mikrogram. Hasil positif unutk opium, morfin, heroin, kodein adalah warna
merah-ungu.
40

Uji MIkrokristal : lebih sensitive dan lebih khas. Caranya 1 tetes larutan
narkotika ditambah dengan reagen dan dengan mikroskop dilihat Kristal apa
yang terbentuk. Untuk morfin berupa plates, heroin berupa fine dendrites
atau rosettes, kodein berupa gelatinous rosettes dan pethidin berupa feathery
rosettes.

2.2.34 Penatalaksanaan
1) Istirahat
Kontrol jalan napas
Oksigen
Kumbah lambung bila minum obat sebelum 6 jam.
2) Diet
3) Medikamentosa
Obat pertama :
Naloxone: 2mg/5 menit hingga respons yang di inginkan tercapai
(maksimal 10 mg).
Bila perolal tak ada respons dapat di berikan naloxone perinfus:
2mg naloxone dalam 500 ccNaCl 0,9%,lalu di berikan 50-
100cc/jam.
Naltrexon,terapi lanjutan setelah pemberian naloxone.Dosis awal
25mg,di ikuti 50mg/hari.Lalu 3x/minggu antara satu hari masing-
masing 100 (senin) , 100 (rabu) ,dan 150mg ( jumat)

2.2.35 Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis, bukan
narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan
syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan
prilaku, digunakan untuk mengobati gangguan jiwa (Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 5 tahun 1997)
Jenis psikotropika dibagi atas 4 golongan :
a. Golongan I : adalah psikotropika dengan daya adiktif yang sangat kuat
untuk menyebabkan ketergantungan, belum diketahui manfaatnya untuk
pengobatan, dan sedang diteliti khasiatnya seperti esktasi
(menthylendioxy menthaphetamine dalam bentuk tablet atau kapsul),
sabu-sabu (berbentuk kristal berisi zat menthaphetamin).
b. Golongan II : adalah psikotropika dengan daya aktif yang kuat untuk
menyebabkan Sindroma ketergantungan serta berguna untuk pengobatan
dan penelitian. Contoh : ampetamin dan metapetamin.
c. Golongan III : adalah psikotropika dengan daya adiktif yang sedang
berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: lumubal,
fleenitrazepam.
41

d. Golongan IV : adalah psikotropika dengan daya adiktif ringan berguna
untuk pengobatan dan penelitian. Contoh: nitra zepam, diazepam
(Martono, 2006)

2.2.36 Tanda dan Gejala Keracunan
Untuk barbiturat, gejala akutnya adalah ataksia, vertigo, pembicaraan
kacau, nyeri kepala, parestesi, halusinasi, gelisan dan delirium. Bila sudah kronis
(adiksi), dapat berupa kelainan psikiatrik seperti depresi melankolik, regresi
psikik, wajah kusut, emosi tidak stabil.

2.2.37 Pemeriksaan Forensik
Gambaran tidak khas. Pada pemeriksaan luar hanya tampak gambaran
asfiksia, berupa sianosis, keluarnya busa halus dari mulut, tardieau spoy, dapat
ditemukan vesikel atau bula pada kulit daerah yang tidak tertekan.
Pada pembedahan jenazah, mukosa saluran cerna dna seluruh organ
dalam menunjukkan tanda perbendungan. Esophagus menebal , berwarna merah
coklat gelap dan kongestif.

2.2.38 Zat Adiktif Lainnya
Zat adiktif lainnya adalah zat zat selain narkotika dan psikotropika
yang dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakainya, diantaranya adalah :
a. Rokok
b. Kelompok alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan
menimbulkan ketagihan.
c. Thiner dan zat lainnya, seperti lem kayu, penghapus cair dan aseton, cat,
bensin yang bila dihirup akan dapat memabukkan.

2.3 Indentifikasi Tulang
Identifikasi adalah usaha pengenalan terhadap seseorang baik masih
hidup dan utuh maupun telah meninggal dan tinggal sisa jaringan.
Data-data yang dapat diperoleh dari identifikasi antara lain
Jenis kelamin
bangsa
umur
perawakan
warna kulit
rambut
sidik jari dan telapak kaki
tanda-tanda tatoo
keadaan gizi
dan lain-lain

42

Identifikasi ini dapat dilakukan dari:
Karakteristik morfologi korban, meliputi: tinggi badan, berat badan, rambut,
warna kulit, pakaian, perhiasan, tatoo, dll..
Sidik jari korban
Gigi korban
Tulang-tulang

Pada saat petugas kepolisian membawa tulang untuk dilakukan
pemeriksaan medis, hal-hal yang biasanya dipertanyakan pihak kepolisian
kepada petugas medis antara lain:
1. Apakah tulang tersebut adalah tulang manusia atau bukan.
2. Jika ternyata tulang manusia, tulang dari laki-laki atau wanita.
3. Apakah tulang-tulang tersebut merupakan tulang dari satu individu atau
beberapa individu.
4. Umur dari pemilik tulang tersebut.
5. Waktu kematian.
6. Apakah tulang-tulang tersebut dipotong, dibakar atau digigit oleh binatang.
7. Kemungkinan penyebab kematian.

2.3.1 Untuk Membedakan Tulang Manusia dan Tulang Hewan
Hal ini merupakan tugas dokter karena pihak kepolisian dan rakyat biasa
sering acuh, sehingga pernah terjadi kekeliruan dengan tulang binatang,
terutama dengan tulang-tulang anjing, babi dan kambing. Pengetahuan mengenai
anatomi manusia, berperan penting untuk membedakannya. Jika tulang yang
dikirim utuh atau terdapat tulang skeletal akan sangat mudah untuk
membedakannya, tetapi akan menjadi sangat sulit bila hanya fragmen kecil
yang dikirim tanpa adanya penampakan yang khas.
Tes precipitin yang dikonduksi dengan serum anti-human dan ekstrak
dari fragmen juga dapat dipergunakan untuk mengetahui apakah tulang tersebut
tulang manusia. Tulang manusia dan binatang juga dapat dibedakan melalui
analisa kimia debu tulang.

2.3.2 Untuk Menentukan Jenis Kelamin
Sebelum masa dewasa, jenis kelamin tidak dapat ditentukan hanya
dengan tulang-tulang saja. Baru setelah masa puber hal-hal berikut dapat dipakai
sebagai pegangan:
Panggul pada wanita lebih lebar, khususnya tulang kemaluan (os pubis) dan
tulang usus (os oschii); sudut pada incisura ischiadica major lebih terbuka,
foramen orburatum mendekati bentuk segitiga. Sangat diagnostik adalah Arc
compose. Pada pria lengkung yang yag terbentuk oleh pinggir kranial ventral
facies auricularis, kl. Dapat dilanjutkan pada pinggir kranial dan ventral
incisura ischiadica major; pada wanita terbentuk dua lengkung terpisah. Di
43

samping itu pada wanita terdapat lengkung pada bagian ventral tulang
kemaluan, yang tidak kentara pada pria; pada wanita bagian subpubica dari
rasmus ischio-pubicus cekung, pada pria tulang ini cembung; dilihat dari sisi
ventral , pada wanita bagian yang sama agak tajam, pada pria lebih
membulat.

Tabel. Identifikasi jenis kelamin dari tulang panggul menurut acsadi &
Nemeskeri(1970) dan Ferembach (1979) bdk. Martin-Knussmann (1988)

Ciri Bobot
w
Hyperfeminim
-2
Feminim
-1
Netral
0
Maskulin
+1
Hypermaskulin
+2
Sulcus
Preauricularis
3

Mendalam Lebih
dangkal
Hanya
bekas
Hamper tak
kentara
Tidak ada
Incisura
ishiadica
mayor
3 Batasnya jelas Tepi jelas Bentuk
peralihan
Bentuk U Sempit, jelas
bentuk U
Angulus
suppubicus
2 Sangat terbuka
bentuk v
Terbuka
bentuk V
60-100 45-60 <45
Os Coxae 2 >100 90-100 Bentuk
peralihan
Cirri
maskulin
kurang jelas
Tinggi, sempit,
relief otot sangat
kentara
Arc Compose 2 Rendah, lebar,
sayap luas,
relief otot
kurang jelas
Cirri
feminism
kurang
jelas
Dua
lengkungan
Satu
lengkung
Satu lengkung
Foramen
Obturatum
2 Segi tiga sudut
runcing
Dua
lengkung
Bentuk
tidak jelas
oval Oval dengan
sudut
Corpus Ossis 2 Sangat sempit,
tuber
ischiadicus
kurang jelas
Segitiga Sedang Oval Bulat
Ischii 1 Bentuk s-nya
sangat dangkal
Sempit Sedang Lebar Sangat lebar
dengan tuber
ischiadikus
sangat kuat
Crista Illiaca 1 Sanga rendah
dan lebar
Bentuk s-
nya
dangkal
Tinggi dan
lebarnya
sedang
Jelas
berbentuk S
Sangat jelas
berbentuk S
Fossa Illiaca 1 Sangat lebar Rendah
dan lebar
sedang Tinggi dan
sempit
Sempit
Sangat tinggi
dan sempit
Pelvis Major 1 Sangat lebar Lebar Lebarnya
sedang
Sempit Sangat sempit
Pelvis Minor Sangat lebar
oval
Lebar oval bulat Sempit
berbentuk
harten
Sangat sempit
berbentuk harten

44

Tulang tengkorak. Besarnya tengkorak adalah salah satu ciri dimorfis
seksual. Tengkorak pria lebih besar, lebih berat dan tulangnya lebih
tebal.Seluruh rellef tengkorak (benjolan,tonjolan dsb.) lebih jelas pada pria.

Tulang dahi dipandang dari norma lateralis kelihatan lebih miring pada pria,
pada wanita hampir tegal lurus; benjolan dahi (tubera frontalla) lebih kentara
pada wanita, pada pria agak menghilang. Arci supercilliaris lebih kuat pada
laki-laki; sering hampir tidak kentara pada wanita; pinggir lekuk mata
(orbita) agak tajam/tipis pada wanita dan tumpul/tebal pada pria. Bentuk
orbita pada pria lebih bersegi empat (menyerupai layar TV dengan sudut
tumpul), pada wanita lebih oval membulat.

Pada tulang pelipis tahu mastoid (prossesus mastoideus) besar dan takiknya
(incisura mastoidea) lebih mendalam pada pria.

Tabel Identifikasi jenis kelamin dari tengkorak kepala

no Yang membedakan Laki- Laki Perempuan
1 Ukuran Kapasitas intra cranial
lebih besar 10% dari
perempuan
Kapasitas intra cranial
lebih kecil 10% dari laki-
laki
2 Glabella Kurang menonjol Lebih menonjol
3 Daerah Supra Orbita Lebih menonjol Kurang menonjol
4 Processus Mastoideus Lebih menonjol Kurang menonjol
5 Protuberantia Occipitalis Lebih menonjol Kurang menonjol
6 Arcus Zigomaticus Lebih menonjol Kurang tegas
7 Dahi Curam, agak datar Bulat/ bundar
8 Eminentiaa Frontalis Lebih menonjol Kurang menonjol
9 Orbita Letak lebih rendah,
relative lebih kecil, batas
agak bulat dan berbentuk
seperti persegi empat
Lebih tinggi, relative
lebih besar, batas tajam
dan berbentuk bulat
10 Nasion Angulasi Jelas Angulasi kurang
menonjol
11 Malar Prominence Lebih lengkung Lebih datar
12 Lobang Hidung Lebih tinggi dan sempit Lebih rendah dan luas
13 Eminentia Parietalis Kurang Lebih
14 Condilus Occipitalis Besar kecil
15 Condylar Facet Panjang dan sempit Pendek dan luas
16 Foramina Lebih besar Lebih kecil
17 Palatum Lebih besar dan berbentuk Lebih kecil dan parabolic
45

seperti huruf U
18 Digastric Groove Dalam Dangkal
19 Sinus Frontalis Lebih berkembang Kurang Berkembang
20 Gigi Lebih Besar Lebih Kecil
21 Permukaan Tulang Permukaan seluruhnya
kasar dengan tempat
perlekatan otot yang lebih
menonjol
Seluruhnya halus dengan
tempat perlengkatan otot
yang kurang menonjol

Mandibula. Sudut yang terbentuk oleh rasmus dan corpus mandibulae lebih
kecil pada pria (mendekati 90). Benjol dagu (protuberia mentalis) lebih
jelas/besar pada pria. Processus coronoideus lebih besar/panjang pada pria.

Tabel Identifikasi jenis kelamin dari mandibula

NO Yang membedakan Laki- laki Perempuan
1 Ukuran Lebih Besar Lebih kecil
2 Sudut anatomis Everted Inverted
3 Dagu Berbentuk persegi panjang Agak bulat
4 Bentuk Tulang Berbentuk seperti huruf V Berbentuk seperti
huruf U
5 Mental tuberkel Besar dan menojol Tidak signifikan
6 Myelohyoid Menonjol dan dalam Kurang menonjol dan
dangkal
7 Tinggi pada simphisis mentii Lebih Kurang
8 Ramus ascending Lebih lebar Lebih sempit
9 Condylar facet Lebih besar Lebih kecil
10 Berat dan permukaan Lebih berat,
permukaannya kasar
dengan tempat
perlengketan otot yang
menonjol
Lebih ringan dengan
permukaaan yang
halus
11 Gigi Lebih besar Lebih kecil

Tabel Identifikasi jenis kelamin dari tulang femur

No Yang membedakan Laki- laki Perempuan
1 caput Permukaan dan persendian
lebih dari 2/3 dari bulatan
Permukaan dan
persendian kurang
dari 2/3 dari bulatan
2 Collum dan corpus Membentuk sudut lancip Membentuk sudut
tumpul
3 Kecenderungan corpus bagian
bawah kearah dalam
Kurang Lebih
46

4 Kearah dalam Sekitar 4-5cm Sekitar 4.15 cm
5 Diameter vertical caput Sekitar 45cm Sekitar 39 cm
6 Panjang oblik trochanter Sekitar 14cm Sekitar 10 cm
7 Garis Popliteal Lebar bicondylar Sekitar 7-5 cm Sekitar 7 cm
8 Ciri- cir umum Berat, permukaan kasar
dengan perlekatan otot yang
menonjol
Ringan dengan
permukaan yang halus

2.3.3 Menentukan Tulang Dari Satu Individu Atau Beberapa Individu
Tulang-tulang yang dikirim untuk dilakukan pemeriksaan harus
dipisahkan berdasarkan sisi asalnya, dan selanjutnya dilakukan pencatatan jika
terdapat tulang yang berlebih dari yang sebenarnya , atau terdapat jenis tulang
yang sama dari sisi yang sama.

2.3.4 Menentukan Usia Dari Pemilik Tulang Tersebut
Pada pemeriksaan rahang bawah, bisa dibedakan rahang bayi, dewasa
dan orang tua. Rahang bayi corpusnya dangkal dan rasmusnya sangat pendek
dan membentuk sudut 140 dengan corpus dari rahan tersebut. Pada rahang
dewasa corpus menjadi tebal dan panjang dan susut antara rasmus dan corpus
mengarah 90. Pada orang tua batas dari prosessus alveolarismulai hilang dan
corpus akan menjadi tumpul. Pada anak kecil foramen mentalis terletak pada
pinggir bawahnya. Prossesus condyloideus hampir segaris dengan corpus dan
prosesus coronoideus project di atas condylus. Pada orang dewasa foramen
mentalis terletak di pertengahan batas atas dan bawah dari corpus condylus
panjang dan menonjol di atas prosessus coronoideus. Pada usia tua foramen
mentalis terletak dekat batas alveolus.
Pada pertemuan dari tulang rawan pada ephypisis dengan diaphysis pada
wanita lebih dahulu terjadi dari laki-laki. Sedangkan sutura pada cranium hilang
lebih dahulu pada laki-laki. Pada umur 18 tahun ephypisis dari phalanx,
metacarpal dan ujung bawah dari ulna dan radius mulai menutupi pusat
penulangan. Pada umur 19 tahun bagian tersebut sudah tertutup rapat. Pada
daerah tropis, pusat penulangan dan pertemuan (persatuan) dari ephypisis pada
tulang panjang lebih cepat 2 tahun pada laki-laki, sedangkan pada weanita 3
tahun lebih dahulu

2.3.5 Menentukan Waktu Kematian
Sangatlah susah untuk memperkirakan waktu kematian dari pemeriksaan
tulang, meskipun begitu dugaan-dugaan dapat dibuat dengan memperhatikan
adanya fraktur, aroma, dan kondisi jaringan lunak dan ligamen yang melekat
dengan pada tulang tersebut. Pada kasus-kasus fraktur, perkiraan waktu
kematian dapat diperkirakan dalam berbagai tingkatan ketepatan, dengan
pemeriksaan callus setelah dibedah sebelumnya secara longutidunal. Aroma
yang dikeluarkan tulang pada beberapa kematian sangat khas dan menyengat.
47

Harus diingat bahwa anjing, serigala dan pemakan daging lainnya akan
menggunduli tulang tanpa sedikit pun jaringan lunak dan ligamen, meskipun
dalam waktu yang sangat singkat, tetapi aroma yang ditinggalkanya masih
merupakan bukti dan tetap berbeda dari tulang yang telah mengalami penguraian
di tanah.
Setelah semua jaringan lunak menghilang, tulang-tulang mulai
mengalami penguraian selama tiga sampai sepuluh tahun, yang biasanya terjadi
dalam peti mati. Perubahan yang terjadi pada tulang diikuti dengan
berkurangnya berat dan bahan organik, seperti tulang menjadi lebih gelap atau
kecoklatan atau menjadi rapuh. Akan menjadi sangat susah untuk
memperkirakan jika perubahan warba terjadi, tetapi itu tergantung kepada
kemurnian tanah, model penguburan (dengan atau tanpa peti mati), dan usia dari
orang tersebut (lebih cepat pada usia muda).

2.3.6 Melihat Apakah Tulang Tersebut Dipotong, Dibakar, Atau Digigit
Binatang
Tulang, bagian ujung ujung dari tulang, harus diperiksa dengan sangat
teliti untuk mengetahui apakah tulang-tulang tersebut dipotong dengan benda
tajam, atau digerogoti binatang, atau medulanya telah dimakan. Terkadang
petugas kepolisian yang kurang berpengalaman salah mengira tulang yang
digerogoti binatang dan mengiranya dipotong dengan benda tajam, lalu berusaha
menerangkannya dengan berbagai teori yang tidak jelas. Saluran-saluran nutrisi
juga harus diperiksa untuk melihat ada atau tidaknya arsenic merah atau zat
pewarna lainnya untuk mengetahui dengan pasti apakah tulang tersebut berasal
dari ruang pemotongan.

2.3.7 Menentukan Kemungkinan Penyebab Kematian
Hampir tidak mungkin untuk menentukan penyebab kematian dari tulang,
kecuali jika didapati fraktur atau cedera, seperti fraktur pada tulang tengkorak
atau pada cervikal atas atau potongan yang dalam pada tulang yang
mengarahkan kepada penggunaan alat pemotong yang kuat. Penyakit-penyakit
pada tulang, seperti karies atau nekrosis, atau bekas cedera bakar.
Racun-racun metalik seperti arsenik, antimoni atau merkuri dapat
dideteksi melalui analisa kimia meskipun lama setelah kematian.





48

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
A. Ekshumasi
Penggalian mayat merupakan pemeriksaan terhadap mayat yang sudah
dikubur. Ada beberapa kemungkinan mengapa penggalian mayat harus
dilakukan. Biasanya berkenaan dengan tindak pidana, dimana diperlukan
keterangan mengenai penjelasan yang masih kabur bagi penyidik ataupun
pengadilan.
Prosedur penggalian mayat diatur dalam KUHAP, dalam pasal 135 dan
disini terkait pada pasal 133, 134, dan 136 KUHAP. Dan bagi yang menghalangi
atau menolak bantuan phak peradilan dapat dikenakan sanksi hukum seperti
tercantum dalam pasal 222 KUHP. Tidak Semua jenazah dimakamkan, namun
ada juga yang dikremasi. Untuk menghindari konflik kepentingan dalam sebuah
investigasi forensic perlu diupayakan agar penyelidikan dilakukan dengan
melibatkan para penyelidik yang netral dan pnting juga melibatka peran
masyarakat.

B. Toksikologi
1) Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Hidrogen sianida
adalah cairan tidak berwarna atau dapat juga berwarna biru pucat pada
suhu kamar. Bersifat volatile dan mudah terbakar.
Sianida ditemukan pada rokok, asap kendaraan bermotor, dan
makanan seperti bayam, bambu, kacang, tepung tapioka dan
singkong. Selain itu juga dapat ditemukan pada beberapa produk
sintetik
Gejala yang ditimbulkan oleh zat kimia sianida ini bermacam-
macam; mulai dari rasa nyeri pada kepala, mual muntah, sesak nafas,
dada berdebar, selalu berkeringat sampai korban tidak sadar
Korban dapat terpapar sianida secara inhalasi, kontak langsung
melalui kulit dan mata dan dengan menelan atau tertelan sianida.
Jumlah distribusi dari sianida berubah-ubah sesuai dengan kadar zat
kimia lainnya di dalam darah.
Konsentrasi sianida dalam darah sangat berhubungan dengan gejala
klinis yang akan ditimbulkannya.

2) Keracunan Insektisida
Insektisida merupakan obat yang digunakan untuk membasmi hama,
Seperti hewan serangga. Sifat dari Insektisida adalah sebagai
penghambat kholin esterase (cholinesterase inhibitor insecticide)
merupakan insektisida poten yang paling banyak digunakan dalam
49

pertanian dengan toksisitas yang tinggi. Dapat menembus kulit yang
normal, dapat diserap lewat paru dan saluran makanan, tidak
berakumulasi dalam jaringan tubuh seperti halnya golongan IHK.

3) Gas karbon monoksida (CO) sudah menjadi ancaman serius bagi
kesehatan masyarakat. Gas CO dapat menimbulkan dampak yang serius
bagi korbannya, bahkan dapat menyebabkan kematian. Namun, selama
ini gejala keracunan gas CO memang sulit ditentukan, mengingat gejala
yang ditimbulkan serupa dengan gejala flu pada umumnya. Karenanya
dituntut memiliki pengetahuan yang lebih akan hal itu. Selain itu juga
dapat dilakukan sejumlah tindakan preventif atau pencegahan agar tidak
timbul keracunan tersebut. Pengetahuan dalam hal penanganannya pun
tak kalah penting, terutama pengetahuan mengenai penanganan pertama
yang dapat dilakukan sesegera mungkin setelah mengetahui korban
keracunan gas CO.

4) Keracunan Narkoba
Bahwa Narkotika adalah obat terlarang sehingga siapapun yang
mengkonsumsi atau menjualnya akan dikenakan sanksi yang terdapat
pada UU No.07 Tahun 1997 tentang Narkotika. Dilarang keras untuk
mengkonsumsi dan menjualnya selain itu di dalam UU RI No.27 Tahun
1997 tentang Narkotika hanya dapat digunakan untuk kepentingan
pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan.

C. Identifikasi Tulang
Oleh karena tulang-tulang, teristimewa gigi-geligi tahan terhadap
pembusukan maka biasanya hanya bagian-bagian itulah yang dapat ditemukan
kembali dalam waktu cukup lama. Maka dari itu tulang dan gigi merupakan
sumber informasi yang penting dalam Kedokteran Kehakiman dan mempunyai
aspek medikolegal yang amat besar.
Untuk mempelajari dan menginterpretasi dengan tepat tulang-tulang
diperlukan banyak pengalaman serta pengetahuan yang luas tentang variasi-
variasi, aspek-aspek perbandingan dan prosedur teknik. Meskipun demikian
kekeliruan dalam identifikasi tulang masih sering terjadi.

50

DAFTAR PUSTAKA


1. Bernard Knight CBE. Simpsons Forensic Medicine. 11
th
ed. New York: Arnold
Publishers, 1997.
2. DR. dr. Ardiyan Boer, Sm.HK. Osteologi Umum. 10
th
ed. Padang: Percetakan
Angkasa Raya.
3. S. Keiser Nielsen. Person Identification by Means of the Teeth. Bristol: John Wright
& Sons Ltd, 1980.
4. C.A. Franklin, MD. Modis Textbook Medical Jurisprudence and Toxicology.
21
st
ed. Bombay: N.M. Tripathi Private Limited, 1988.
5. Apurba Nandy, MD. Principles of Forensic Medicine. 1
st
ed. Calcutta: New Central
Book Agency (P) Ltd., 1996.
6. Josef Glinka SVD. Antopometri & Antroskopi.3
rd
ed. Surabaya: 1990.
7. Dr. Amri Amir, DSF. Kapita Selekta Kedokteran Forensik. 1
st
ed. Medan: USU
Press, 2000.
8. Amir, A. 2007. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Kedua. Bagian
Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara.
9. Anonimous. 2010. Exhuming a Corpse For Forensic Analysis. (Online) (Available
at http://www.exploreforensics.co.uk/exhuming-a-corpse-for-forensic-analysis.html.
diakses 1 April 2010)
10. Solichin, S. 2008. Penggalian Jenazah. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga.
11. Amir, A. 2004. Autopsi Medikolegal Edisi Kedua. Medan: Percetakan Ramadan.
12. Alifia, U, 2008. Apa Itu Narkotika dan Napza. Semarang: PT Bengawan Ilmu.
13. Buchari. 2010. Toksikologi Industri.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1438/1/07002745.pdf, diakses
tanggal 20 Juni 2012.
14. Darmono, 2009. Farmasi Forensik dan Toksikologi. Jakarta: UI Press.
15. Emo. 2010. Mekanisme Racun Dalam Tubuh Manusia.
http://eemoo.wordpress.com/2010/10/05/mekanisme-racun-dalam-tubuh-manusia/.
Diakses tanggal 20 Juni 2012.
16. IGD RSUD BUOL. 2009. Toksikologi.
http://igdrsudbuol.blogspot.com/2009/03/toksikologi.html. Diakses tanggal 16 Juni
2012.
17. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek Van Strafrecht).
http://hukum.unsrat.ac.id/uu/kuhpidana.htm#b1_2. Diakses tanggal 21 Juni 2012.
18. Kurniawan, J, 2008. Arti Definisi & Pengertian Narkoba Dan Golongan/Jenis
Narkoba Sebagai Zat Terlarang. http://juliuskurnia.wordpress.com/2008/04/07/arti-
definisi-pengertian-narkoba-dan-golonganjenis-narkoba-sebagai-zat-terlarang.
Diakses tanggal 20 Juni 2012.
51

19. Martono, dkk, 2006. Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba
Berbasis Sekolah. Jakarta: Balai Pustaka.
20. Munim Idries, Abdul. 2008. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses
Penyidikan. Jakarta: Sagung Seto.
21. Munim Idries. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bina Rupa Aksara
22. Prasetya Putri, Indah. 2011. Toksikologi.
http://imindah.blogspot.com/2011/06/toksikologi.html. Diakses tanggal 20 Juni
2012.
23. Santoso, Jihad. 2005. Forensic Paper. http://forpapjs.blogspot.com/. Diakses tanggal
20 Juni 2012.
24. Sinaga, Edward J. 2010. Peranan Toksikologi Dalam Pembuatan Visum Et
Repertum Terhadap Pembuktian Tindak Pidana Pembunuhan Dengan Menggunakan
Racun. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20996/3/Chapter%20II.pdf.
Diakses tanggal 21 Juni 2012.
25. Syaroni, Akmal. 2012. Keracunan Akut Bahan Kimia.
http://www.scribd.com/doc/24225307/Keracunan-Bahan-Kimia-Ektasi-Opiat-
Makanan2. diakses tanggal 21 Juni 2012.
26. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
27. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.
28. Universitas Sumatera Utara. 2011. Toksikologi.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23334/4/Chapter%20II.pdf. Diakses
tanggal 20 Juni 2012.
29. Wirasuta, IMAG. 2007. Toksikologi Umum.
http://www.scribd.com/doc/27116301/Toksikologi-Umum. Diakses tanggal 20 Juni
2012.
30. Wirasuta, IMAG. 2009. Analisis Toksikologi Forensik. http://gelgel-
wirasuta.blogspot.com/2009/12/analisis-toksikologi-forensik.html#!. Diakses
tanggal 16 Juni 2012.

Anda mungkin juga menyukai