Anda di halaman 1dari 3

Ahmad Faizal Amin

13/348538/TK/40963
Geologi Regional Zona Kendeng
1. Geomorfologi Regional
Pegunungan ini tersusun oleh batuan sedimen laut dalam dan telah mengalami deformasi intensif
membentuk suatu antiklinorium. Pegunungan ini mempunyai panjang 250 km dan lebar maksimum 40 km (de
Genevraye & Samuel, 1972). Pegunungan ini membentang dari ungaran di barat hingga daerah Mojokerto di ujung
timur. Di bawah permukaan, kelanjutan zona ini masih dapat diikuti hingga di bawah selatan Madura.
Zona Kendeng dicirikan oleh jajaran perbukitan rendah dengan morfologi bergelombang, jajaran perbukitan
ini mempunyai elevasi 50-200 meter. Di daerah ini banyak terdapat perlipatan dan sesar naik dengan arah barat-
tiumur. Intensitas perlipatan dan anjakan yang sangat kuat di bagian barat dan berangsur melemah di bagian timur.
Akibat anjakan tersebut, batas dari satuan batuan yang bersebelahan sering merupakan batas sesar. Lipatan dan
anjakan yang disebabkan oleh gaya kompresi juga berakibat terbentuknya rekahan, sesar dan zona lemah yang lain
pada arah tenggara-barat laut, barat daya-timur laut dan utara-selatan.
Pada daerah ini proses erosi berjalan sangat intensif karena sebagian besar litologi penyusun Mandala
Kendeng adalah batulempung-napal-batupasir yang mempunyai kompaksitas rendah sehingga mudah tererosi.
Karena proses tektonik yang terus berjalan mulai dari zaman Tersier hingga sekarang, banyak dijumpai adanya
teras-teras sungai yang menunjukkan adanya perubahan dasar sedimentasi berupa pengangkatan pada Mandala
Kendeng tersebut.
Sungai utama yang mengalir di atas Mandala Kendeng tersebut adalah Bengawan Solo yang mengalir dari
Sragen hingga Ngawi, membelk ke utara menuju Cepu dan membelok ke arah timur hingga bermuara di Ujung
Pangkah, utara Gresik.

2. Stratigrafi Regional

Stratigrafi penyusun Zona Kendeng merupakan endapan laut dalam di bagian bawah yang semakin ke atas berubah
menjadi endapan laut dangkal dan akhirnya menjadi endapan non laut. Endapan di Zona Kendeng merupakan
endapan turbidit klastik, karbonat dan vulkaniklastik. Stratigrafi Zona Kendeng terdiri atas 7 formasi batuan, urut dari
tua ke muda sebagai berikut (Harsono, 1983 dalam Rahardjo 2004) :

1. Formasi Pelang
Merupakan formasi tertua yang tersingkap di Mandala Kendeng. Formasi ini tersingkap di Desa Pelang, Selatan
Juwangi. Dari bagian yang tersingkap tebal terukurnya berkisar antara 85 meter hingga 125 meter (de Genevraye &
Samuel, 1972 dalam Rahardjo, 2004). Litologi berupa napal dan napal lempungan dengan lensa kalkarenit bioklastik
yang banyak mengandung fosil foraminifera besar.

2. Formasi Kerek
Formasi Kerek ini berupa perselang-selingan antara lempung, napal, batupasir tuf gampingan dan batupasir tufaan.
Lokasinya berada di Desa Kerek, tepi sungai Bengawan Solo, 8 km ke utara Ngawi. Di daerah sekitar lokasi tipe
formasi ini terbagi menjadi tiga anggota (de Genevraye & Samuel, 1972 dalam Rahardjo, 2004), dari tua ke muda
masing-masing :

a. Banyuurip Beds
Tersusun oleh perselingan antara napal lempungan, lempung dengan batupasir tuf gampingan dan batupasir tufaan
dengan total ketebalan 270 meter. Di tengahnya dijumpai sisipan batupasir gampingan dan tufaan setebal 5 meter,
sedangkan bagian atasnya ditandai dengan adanya perlapisan kalkarenit pasiran setebal 5 meter dengan sisipan tuf
halus. Anggota ini berumur N10 N15 (Miosen tengah bagian tengah atas).
b. Sentul Bedas
Ahmad Faizal Amin
13/348538/TK/40963
Anggota Sentul tersusun atas perulangan yang hampir sama dengan anggota Banyuurip, tetapi lapisan yang bertuf
menjadi lebih tebal. Ketebalan anggota Sentul mencapai 500 meter. Anggota Sentul berumur N16 (Miosen atas
bagian bawah).
c. Batugamping Kerek
Merupakan anggota teratas dari formasi Kerek, tersusun oleh perselingan antara batugamping tufaan dengan
perlapisan lempung dan tuf. Ketebalan anggota ini mencapai 150 meter. Umur batugamping kerek ini adalah N17
(Miosen atas bagian tengah).

3. Formasi Kalibeng
Formasi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu bagian bawah dan bagian atas. Bagian bawah tersusun atas napal
massif setebal 600 meter dengan warna putih kekuning-kuningan sampai abu-abu kebiru-biruan, kaya akan
kanndungan foraminifera plangtonik.

a. Formasi Kalibeng bagian bawah
Formasi Kalibeng bagian bawah ini terdapat beberapa perlapisan tipis batupasir yang ke arah Kendeng bagian barat
berkembang menjadi suatu endapan aliran rombakan, yang disebut sebagai Formasi Banyak (Harsono, 1983 dalam
Rahardjo, 2004) atau anggota Banyak ke arah Jawa Timur, yaitu di sekitar Gunung Pandan, Gunung Antasangin dan
Gunung Soko, bagian atas formasi ini berkembang sebagai endapan vulkanik laut yang menunjukkan struktur
turbidit. Fasies tersebut disebut sebagai anggota Antasangin (Harsono, 1983 dalam Rahardjo, 2004).

b. Formasi Kalibeng bagian atas
Bagian atas dari formasi ini oleh Harsono (1983) disebut sebagai Formasi Sonde, yang tersusun mula-mula oleh
anggota Klitik yaitu kalkarenit putih kekuning-kuningan, lunak, mengandung foraminifera plangtonik maupun besar,
moluska, koral, algae dan bersifat napalan atau pasiran dengan berlapis baik.
Bagian paling atas tersusun atas breksi dengan fragmen gamping berukuran kerikil dan semen karbonat. Kemudian
disusul endapan napal pasiran, semakin keatas napalnya bersifat semakin bersifat lempungan. Bagian teratas
ditempati oleh lempung berwarna hijau kebiru-biruan. Formasi Sonde ini ditemukan sepanjang sayap lipatan bagian
selatan antiklinorium Kendeng dengan ketebalan berkisar 27 589 meter dan berumur Pliosen (N19 N21).

4. Formasi Pucangan
Formasi Pucangan ini mempunyai penyebaran yang cukup luas. Di Kendeng bagian barat satuan ini tersingkap luas
antara Trinil dan Ngawi. Di Mandala Kendeng yaitu daerah Sangiran, Formasi Pucangan berkembang sebagai fasies
vulkanik dan fasies lempung hitam. Fasies vulkaniknya berkembang sebagai endapan lahar yang menumpang diatas
formasi Kalibeng. Fasies lempung hitamnya berkembang dari fasies laut, air payau hingga air tawar. Di bagian
bawah dari lempung hitam ini sering dijumpai adanya fosil diatomae dengan sisipan lapisan tipis yang mengandung
foraminifera bentonik penciri laut dangkal. Semakin ke atas akan menunjukkan kondisi pengendapan air tawar yang
dicirikan dengan adanya fosil moluska penciri air tawar.

5. Formasi Kabuh
Formasi ini mempunyai lokasi tipe di desa Kabuh, Kec. Kabuh, Jombang. Formasi ini tersusun oleh batupasir dengan
material non vulkanik antara lain kuarsa, berstruktur silang siur dengan sisipan konglomerat, mengandung moluska
air tawar dan fosil-fosil vertebrata. Formasi ini mempunyai penyebaran geografis yang luas. Di daerah Kendeng barat
formasi ini tersingkap di kubah Sangiran sebagai batupasir silang siur dengan sisipan konglomerat dan tuf setebal
100 meter. Batuan ini diendapkan fluvial dimana terdapat struktur silang siur, maupun merupakan endapan danau
karena terdpaat moluska air tawar seperti yang dijumpai di Trinil.

6. Formasi Notopuro
Formasi ini mempunyai lokasi tipe di desa Notopuro, Timur Laut Saradan, Madiun yang saat ini telah dijadikan
Ahmad Faizal Amin
13/348538/TK/40963
waduk. Formasi ini terdiri atas batuan tuf berselingan dengan batupasir tufaan, breksi lahar dan konglomerat
vulkanik. Makin keatas sisipan batupasir tufaan semakin banyak. Sisipan atau lensa-lensa breksi volkanik dengan
fragmen kerakal terdiri dari andesit dan batuapung juga ditemukan yang merupakan cirri formasi Notopuro. Formasi
ini terendapkan secara selaras diatas formasi Kabuh, tersebar sepanjang Pegunungan Kendeng dengan ketebalan
lebih dari 240 meter. Umur dari formasi ini adalah Plistosen akhir dan merupakan endapan lahar di daratan.

7. Endapan Bengawan Solo
Endapan ini terdiri dari konglomerat polimik dengan fragmen napal dan andesit disamping endapan batupasir yang
mengandung fosil-fosil vertebrata. di daerah Brangkal dan Sangiran, endapan undak tersingkap baik sebagai
konglomerat dan batupasir andesit yang agak terkonsolidasi dan menumpang di atas bidang erosi pada Formasi
Kabuh maupun Notopuro.

3. Struktur Geologi Regional

Secara umum struktur struktur yang ada di Zona Kendeng berupa :
1. Lipatan Lipatan yang ada pada daerah Kendeng sebagian besar berupa lipatan asimetri bahkan beberapa ada
yang berupa lipatan overturned. Lipatan lipatan di daerah ini ada yang memiliki pola en echelon fold dan ada yang
berupa lipatan lipatan menunjam. Secara umum lipatan di daerah Kendeng berarah barat timur.

2. Sesar Naik Sesar naik ini biasa terjadi pada lipatan yang banyak dijumpai di Zona Kendeng, dan biasanya
merupakan kontak antar formasi atau anggota formasi.

3. Sesar Geser Sesar geser pada Zona Kendeng biasanya berarah timur laut- barat daya dan tenggara -barat laut.

4. Struktur Kubah Struktur Kubah yang ada di Zona Kendeng biasanya terdapat di daerah Sangiran pada satuan
batuan berumur Kuarter. Bukti tersebut menunjukkan bahwa struktur kubah pada daerah ini dihasilkan oleh
deformasi yang kedua, yaitu pada Kala Plistosen.


Pustaka:
Rahardjo, Wartono. 2004. Buku Panduan Ekskursi Geologi Regional Pegunungan Selatan dan Zona Kendeng.
Jurusan Teknik Geologi. Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.