Anda di halaman 1dari 18

RINITIS ALERGI

1. ANATOMI
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke
bawah :
1. Pangkal hidung (bridge)
2. Batang hidung (dorsum nasi)
3. Punak hidung (hip)
!. "la nasi
#. $olumela
%. &ubang hidung (nares anterior)
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang
dilapisi oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit dan
'aringan ikat dan beberapa otot keil yang ber(ungsi untuk melebarkan atau
menyempitkan lubang hidung . $erangka tulang terdiri dari :
1. tulang hidung (os nasal)
2. prosessus (rontalis os nasal
3. prosessus nasalis os (rontal
)edangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang
rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah
hidung * yaitu :
1. sepasang kartilago nasalis lateralis superior
2. sepasang kartilago lateralis in(erior (kartilago ala mayor)
3. tepi anterior kartilago septum
+ongga hidung atau ka,um nasi berbentuk terowongan dari depan ke
belakang dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya men'adi a,um nasi
kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk a,um nasi bagian depan disebut nares
anterior dan lubang belakang disebut nares posterior (koana) yang
menghubungkan a,um nasi dengan naso(aring.
Bagian dari a,um nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi* tepat di
belakang nares anterior disebut ,estibulum. -estibulum ini dilapisi oleh kulit
yang mempunyai banyak kelen'ar sebasea dan rambut-rambut pan'ang yang
disebut ,ibrise. .iap a,um nasi mempunyai ! buah dinding yaitu dinding medial*
lateral* in(erior dan superior.
/inding medial hidung adalah septum nasi. )eptum dibentuk oleh
tulang dan tulang rawan. Bagian tulang adalah :
1. lamina perpendikularis os etmoid
2. ,omer
3. $rista nasalis os maksilaris
!. $rista nasalis os palatine
Bagian tulang rawan adalah :
1. $artilago septum
2. kolumela
Pada dinding lateral terdapat ! buah konka. 0ang terbesar dan
letaknya paling bawah ialah konka in(erior* kemudian yang lebih keil adalh
konka media* lebih keil lagi ialah konka superior sedangkan yang terkeil adalah
konka suprema. $onka suprema ini biasanya rudimenter. $onka in(erior
merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin etmoid*
sedangkan konka media* superior dan suprema merupakan bagian dari labirin
etmoid.
/i antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga
sempit yang disebut meatus. Berdasarkan letaknya* ada 3 meatus* yaitu :
1. meatus in(erior* terletak di antara konka in(erior dengan dasar hidung dan
dinding lateral ronggga hidung. Pada meatus in(erior terdapat pula muara
(ostium) duktus nasolakrimalis.
2. meatus medius* terletak di antara konka media dan dinding lateral rongga
hidung. Pada meatus medius terdapat muara sinus (rontal* sinus maksila dan
sinus etmoid anterior.
3. meatus superior merupakan ruangan di antara konka superior dan konka media.
.erdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus s(enoid.
Batas rongga hidung :
1. dinding anterior merupakan dasar rongga hidung dan dibentuk oleh os maksila
dan os palatum
2. dinding superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk oleh lamina
kibri(ormis* yang memisahkan rongga tengkorak dari rongga hidung. &amina
kibri(ormis merupakan lempeng tulang berasal dari os etmoid* tulang ini
berlubang-lubang tempat masuknya serabut-serabut sara( ol(aktorius. /i bagian
posterior* atap hidung dibentuk oleh os s(enoid.
$ompleks osteomeatal ($12) merupakan elah pada dinding lateral
hidung yang dibatasi oleh konka media dan lamina papirasea. )truktur anatomi
penting yang membentuk $12 adalah prosesus uninatus* in(undibulum etmoid*
hiatus semilunaris* bula etmoid* agger nasi dan resessus (rontal. $12 merupakan
unit (ungsional yang merupakan tempat ,entilasi dan drainase dari sinus-sinus
yang letaknya di anterior yaitu sinus maksila* etmoid anterior dan (rontal. 3ika
ter'adi obstruksi pada elah yang sempit ini* maka akan ter'adi perubahan
patologis yang signi(ikan pada sinus-sinus yang terkait.
Perdarahan hidung* pada bagian atas rongga hidung mendapat
perdarahan a.Etmoid anterior dan posterior. Bagian bawah rongga hidung
mendapat perdarahan dari abang a.maksilaris interna. Bagian depan hidung
mendapat perdarahan dari abang-abang a.fasialis.
Persara(an hidung bagian depan dan atas rongga hdung mendapat
persara(an sensoris dari n.Etmoidalis anterior. +ongga hidung lainnya * sebagian
besar mendapat persara(an sensoris dari n.Maksilaris melaui ganglion
s(enopalatina. 4ungsi penghidu berasal dari n.Olfaktorius.
2. DEFINISI
+initis alergi adalah penyakit in(lamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan allergen yang sama
serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika ter'adi paparan ulangan dengan
allergen spesi(ik tersebut (-on Pir5uest* 167%).
/e(inisi menurut 8H1 "+9" ("llergi +hinitis and its impat on
"sthma) tahun 2::1 adalah kelainan pada hidung dengan ge'alabersin-bersin*
rinore* rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang
diperantarai oleh 9g;.
3. EPIDEMIOLOGI
2eskipun insiden rhinitis alergi yang tepat tidak diketahui* tampaknya
menyerang sekitar sekitar 1: < dari populasi umum. /apat timbul pada semua
golongan umur* terutam anak dan dewasa* namun berkurang berkurang dengan
bertambahnya umur. 4aktor herediter berperan* sedangkan 'enis kelamin*
golongan etnis dan ras tidak berpengaruh.
4. ETIOLOGI
Penyebab tersering adalah allergen inhalan (dewasa) dan allergen ingestan
(anak-anak). Pada anak-anak sering disertai ge'ala alergi lain* seperti urtikaria dan
gangguan penernaan. /ipeberat oleh (aktor non-spesi(ik* seperti asap rokok* bau
yang merangsang* perubahan uaa dan kelembapan yang tinggi. Berdasarkan
ara masuknya* allergen dibagi atas :
1. "lergen inhalan* yang masuk bersama dengan dengan udara perna(asan*
misalnya tungau debu rumah* serpihan epitel kulit binatang* rerumputan
serta 'amur.
2. "lerge ingestan yang masuk ke saluran erna* berupa makanan* misalnya
susu sapi* telur* oklat* ikan laut* udang* kepiting* dan kaang-kaangan.
3. "lergen in'ektan* yang masuk melalui suntikan atau tusukan* misalnya
penisilin dan sengatan lebah.
!. "lergen kontaktan* yang masuk melalui kontak kulit atau 'aringan
mukosa* misalnya bahan kosmetika* perhiasan dan lain-lain.
5. PATOFISIOLOGI
+initis alergika merupakan suatu penyakit in(lamasi ang diawali dengan
tahap sensitisasi dan diikuti dengan tahap pro,okasi= reaksi alergi. +eaksi laergi
terdiri dai 2 (ase yaitu 9mmediate Phase "llergi +eation atau +eaksi "lergi 4ase
>epat(+"4>) yang berlangsung se'ak kontak dengan allergen sampai 1 'am
setelahnya dan late Phase "llergi +eation atau +eaksi "lergi 4ase &ambat
(+"4&) yang berlansung 2-! 'am dengan punak %-7 'am ((ase hiper-reakti(itas)
setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 2!-!7 'am.
Pada kontak pertama dengan alergn atau tahap sensitisasi* makro(ag atau
monosit yang berperan sebagai sel penya'i ("ntigen Presenting >ell="P>) akan
menangkap allergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. )etelah dip
roses* antigen akan membentuk (ragmen pendek peptide dan bergabung dengan
molekul H&" kelas 99 membentuk kmpleks peptida 2> kelas 99 yang kmudian
dipresentasikan pada sel . helper (.h :). $emudian sel penya'i akan melepas
sitokin seperti 9& 9 yang akan mengakti(kan .h : untuk berproli(ersi men'adin.h
1 dan .h 2.
.h 2 akan menghasilkan berbagai sitokin sepertin 9& 3* 9& !* 9& #* dan 9&
13* 9& ! da 9& 13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel lim(osit B*
sehingga sel lim(osit B men'adi akti( dan akan memproduksi 9g ;. 9g ; di
sirkulasi darah akan masuk ke 'aringan dan diikat oleh reseptor 9g ; di permukaan
sel mastosit atau baso(il sehingga kedua sel ini men'adi akti(. Proses ini disebut
sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang
sudah tersensitisasi terpapar dengan allergen yang sama* maka kedua rantai 9g ;
akan mengikat allergen spesi(ik dan ter'adi degranulasi mastosit dan baso(il
dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk terutama
histamin. )elain histamin 'uga di keluarkan ?ewly 4ormed 2ediators antara lain
prostaglandin /2* &eukotrien >!* bradikinin* Platelet "ti,ating 4ator dan
berbagai sitokin (9&3*9& !* 9& #* 9& %* @2->)4) dan lainlain. 9nilah yang disebut
sebagai +eaksi "lergi 4ase >epat (+"4>).
Histamin akan merangsang reseptor 999 pada u'ung sara( ,idianus sehingga
menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin2. Histamin 'uga akan
menyebabkan kelen'ar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan
permeabilitas kapiler meningkat sehingga ter'adi rinore. @e'ala lain adalah hidung
tersumbat akibat ,asodilatasi sinusoid. )elain itu* histamine 'uga menyebabkan
rangsangan pada mukosa hidung sehingga ter'adi pengeluaran 9>"2 9.
Pada +"4>* sel mastosit 'uga akan melepaskan molekul kemotaktik yang
menyebabkan akumulasi sel eosini(il dan netro(il di 'aringan target. +espon ini
tidak berhenti sampai disini sa'a* tetapi ge'ala akan berlan'ut dan menapai
punak %-7 'am setelah pemaparan.Pada +"4& ini ditandai dengan penambahan
'enis dan 'umlah sel in(lamasi seperti eosino(il* lim(osit* netro(il* baso(il dan
mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti 9& 3* 9& !*9& # dan
@2->)4 dan 9>"2 9 pada seret hidung. .imbulnya ge'ala hiperakti( atau
responsi,e hidung adalah akibat peranan eosino(il dan mediator in(lamasi dari
granulnya seperti ;osinophili >ationi Protein (;>P)* ;osinohili /eri,ed
Protein (;/P)* 2a'or Basi Protein (2BP) dan ;osinophili PeroAidase (;P1).
Pada (ase ini* selain (aktor spesi(ik* iritasi oleh (aktor non spesi(ik dapat
memperberat ge'ala seperti asap rokok* bau yang merangsang* perubahan uaa
dan kelembapan udara yang tinggi.
6. GAMBARAN HISTOLOGIK
)eara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh darah (,asular bad)
dengan pembesaran sel goblet dan sel pembentuk muus. .erdapat 'uga
pembesaran ruang interseluler dan penebalan membrane basal* serta ditemukan
in(iltrasi sel-sel eosino(il pada 'aringan mukosa dan sub mukosa.
/i luar serangan* mukosa kembali normal. "kan tetapi serangan dapat
ter'adi persisten sepan'ang tahun* sehingga ter'adi perubahan irre,ersible* yaitu
ter'adi proli(erasi 'aringan ikat dan hiperplasia mukosa sehingga tampak mukosa
hidung menebal.
/engan masunya antigen asing ke dalam tubuh ter'adi reaksi berupa :
1. +espon primer* yaitu proses eliminasi dan (agositosis antigen ("g).
Bersi(at non spesi(ik dan dapat berakhir sampai disini. Bila "g tidak
berhasil selurunya dihilangkan* reaksi berlan'ut men'adi respon sekunder.
2. +espon sekunder* yaitu reaksi bersi(at spesi(ik. 0ang mempunyai 3
kemungkinan yaitu : system imunitas seluler atau humoral atau kedua-
duanya dibangkitkan. Bila "g dari sistem imunologik* maka reaksi
berlan'ut men'adi respon tertier.
3. +espon tertier* yaitu reaksi imunologik yang ter'adi yang tidak
menguntungkan tubuh. +eaksi ini dapat bersi(at sementara atau menetap*
tergantung dari daya eleminasi "g oleh tubuh.
@ell dan >oombs mengklasi(ikasikan reaksi ini atas ! tipe* yaitu :
1. .ipe 1 (reaksi ana(ilaksis=immediate hypersensiti(ity)
2. .ipe 2 (reaksi sitotoksik)
3. .ipe 3 (reaksi kompleks imun)
!. .ipe ! (delayed hypersensiti,ity).
7. KLASIFIKASI
Berdasarkan si(at berlangsungnya :
1. +initis alergi musiman (seasonal)* ter'adi pada ?egara dengan ! musim.
"lergen penyebabnya spesi(ik* yaitu tepung sari dan spora 'amur.
2. +initis alergi sepan'ang tahun (perennial)* timbul intermitten atau terus
menerus* tanpa ,ariasi musim* timbul sepan'ang tahun. Penyebab yang
paling sering adalah alergen inhalan. @angguan (isiologik pada golongan
perennial lebih ringan dibandingkan golongan musiman tetapi karena lebih
persisten maka komplikasinya lebih sering ditemukan.
$lasi(ikasi 8H1 :
1. 9ntermitten : bila ge'ala kurang dari ! hari= minggu.
2. Persisten : bila ge'ala lebih dari ! hari =minggu dan lebih dari ! minggu.
Berdasarkan berat ringannya penyakit :
1. +ingan* bila tidak ditemukan gangguan tidur* gangguan akti,itas harian*
bersantai* berolahraga* bela'ar* beker'a dan hal-hal lain yang mengganggu.
2. )edang-berat* bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas.
8. GEJALA KLINIK
1. )erangan bersin berulang lebih dari # kali dalam satu kali serangan.
2. +inore yang ener dan banyak* hidung tersumbat* hidung dan mata gatal*
kadang disertai lakrimasi.
3. @e'ala spesi(ik lain pada anak-anak bila penyakit berlangsung lama(lebih
dari 2 tahun) adalah bayangan gelap di daerah bawah mata (allergi
shiner) akibat stasis ,ena sekunder karena obstruksi hidung. "nak sering
menggosok-gosok hidung dengan punggung tangan (allergi salute).
&ama- lama akantimbul garis melintang di dorsum nasi seperti bawah
bawah (allergi rease).
!. )ering disertai penyakit alergi lainnya seperti asma* urtikaria* atau eksim.
9. DIAGNOSIS
/iagnosis rhinitis alergi ditegakkan berdasarkan :
1. "namnesis
@e'ala rhinitis alergi yang khas adalah terdapatnya serangan bersin
berulang* rinore yang ener dan banyak* hidung tersumbat* hidung dan
mata gatal yang kadang disertai dengan banyaknya air mata kelur
(lakrimasi).
2. Pemeriksaan 4isik
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema* basah* berwarna puat
atau li,id disertai adanya sekret ener yang banyak. Bila ge'ala persisten*
mukosa in(erior tampak hipertro(i. @e'ala spesi(ik lain pada anak adalah
allergi shiner* allergi salute* dan allergi rease* serta (aies adenoid.
/inding posterior (aring tampak granuler dan edema (obblestone
appearane)* serta dinding lateral (aring menebal. &idah tampak seperti
gambaran peta (geographi tongue).
3. Pemeriksaan Penun'ang
Hitung 'enis : peningkatan kadar 9g ;
+"). (+adio 9mmuno )orbent "ssay .est)
;&9)" (;nByme &inked 9mmuno )orbent "ssay .est)
Pemeriksaan stologi hidung
Prik test
)kin ;nd-point .itration();.)
9ntrautaneus Pro,oati,e /ilutional 4ood .est (9P/4.)
/iet eliminasi dan pro,okasi (>hallenge .est)
10. DIAGNOSIS BANDING
1. +initis non alergi
2. +initis in(eksiosa
3. >ommon old
11. PENATALAKSANAAN
1. .erapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan
allergen penyebabnya.
2. 2edikamentosa
"ntihistamin* dian'urkan "H-1 karen a beker'a seara inhibitor
kompetiti( pada reseptor H-1 sl target. Pemberian dapat dalam
kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan seara
peroral.
Preparat simpatomimetik golongan agonis adrenergik al(a* dipakai
sebagai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi
dengan antihistamin atau topikal.
Preparat kortikosteroid* diberikan bila respon (ase lambat tidak
berhasil diatasi dengan pengobatan sebelumnya.
Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromide*
berman(aat untuk mengatasi rinore* karena akti(itas inhibisi
reseptor kolinergik pada permukaan sel e(ektor.
3. 1perati(
.idakan konkotomi parsial (pemotongan sebagian konka in(erior)*
konkoplasti atau multiple out(ratured* in(erior turbinoplasty perlu
dipikirkan bila konka in(erior hipertro(i berat dan tidak berhasil dikeilkan
dengan ara kauterisasi memakai "g?13 2# < atau triklor asetat.
!. 9munoterapi
>ara pengobatan ini dilakukan pada alergi inhalan dengan ge'ala yang
berat dan sudah berlangsung lama serta dengan pengobatan ara lain tidak
memberikan hasil yang memuaskan. .u'uan dari adalah pembentukan 9g@
boking antibody dan penurunan 9g;. "da 2 metode imunoterapi yang
umum dilakukan yaitu intradermal dan sub-lingual.
12. KOMPLIKASI
$omplikasi rhinitis alergi yang sering adalah :
1. Polip hidung
"lergi hidung merupakan salah satu (aktor penyebab terbentuknyapolip
hidung dan kekambuhan polip hidung.
2. 1titis media e(usi yang sering residi(* terutama pada anak-anak.
3. )inusitis Paranasal.

LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
?ama : ?n. @
Cmur : 1D tahun
3enis kelamin : Perempuan
Peker'aan : Pela'ar )2C
)uku bangsa : 2inang
"lamat : >endana 2ata "ir
ANAMNESIS
)eorang pasien wanita berumur 1D tahun datang ke Poliklinik .H. +)
/+.2 /'amil Padang tanggal 2# 1ktober 2::7 'am :6:3: dengan :
K!"#$% U&$'$ :
Bersin-bersin # 'am yang lalu
K!"#$% T$'($#$% :
Hidung sering gatal se'ak ! tahun yang lalu
R)*$+$& ,%+$-)& S-$.$%/ 0
Bersin-bersin # 'am yang lalu* keluhan ini sudah dirasakan pasien
se'ak ! tahun yang lalu. Bersin terus-menerus* selama lebih kurang 3 'am*
setiap serangan lebih dari # kali dan lebih dari ! hari dalam seminggu.
Bersin-bersin didahului oleh hidung gatal-gatal dan kemudian keluar ingus
ener dari hidung yang berwarna 'ernih* tidak berbau* tidak disertai darah
dan membasahi beberapa helai tissue* kadang-kadang disertai dengan
keluarnya air mata. $eluhan ini munul saat pagi hari* uaa dingin dan
terkena debu sewaktu membersihkan rumah.
2ata terasa gatal dan berair* sekitar bibir 'uga terasa gatal setiap
bersin.
)akit kepala dirasakan setiap bersin.
/emam tidak ada
8a'ah terasa penuh tidak ada
.elinga terasa penuh dan berair tidak ada
+iwayat sakit tenggorokan tidak ada
+asa menelan airan di tenggorokan tidak ada
"lergi makanan tidak ada
+iwayat gatal-gatal dan bentol pada kulit atau kaligata tidak ada
)esak napas atau napas berbunyi meniut tidak ada
Pasien pernah berobat ke dokter praktek lebih kurang 3 tahun yang
lalu* diberi obat makan namun pasien tidak tahu nama obatnya* setelah
minum obat ada perbaikan. )etelah itu pasien tidak pernah lagi berobat ke
dokter karena keadaan ini tidak mengganggu akti,itas sehari-hari dan
sekolahnya serta keluhan dapat hilang dengan sendirinya.
R)*$+$& ,%+$-)& 1$#"!"
Pasien menderita asma pada waktu masih anak-anak* namun sekarang tidak
pernah kambuh lagi
R)*$+$& P%+$-)& -!"$./$
"dik dari ayah (tante) pasien menderita penyakit dengan keluhan yang sama
R)*$+$& P-.2$$%3 S45)$! E-4%4')3 1$% K()$5$$%
Pasien seorang pela'ar )2"
-entilasi rumah ukup baik
.idak ada memelihara binatang peliharaan dirumah
.idak menggunakan karpet dan kasur kapuk.
PEMERIKSAAN FISIK
S&$&"5 G%.$!)5$&$
$eadaan Cmum : Baik
$esadaran : >2>
.ekanan /arah : 11:=7: mmHg
4rekuensi ?a(as : D7 A= menit
4rekuensi ?adi : 17 A=menit
)uhu : a(ebris
P'.)-5$$% S)5&')-
$epala : tidak ada kelainan
2ata : kon'ungti,a tidak anemis* sklera tidak ikterik
.horak : 3antung dan paru dalam batas normal
"bdomen : Hepar dan lien tidak teraba* bising usus (E)
normal* distensi tidak ada
;kstremitas : ;dema tidak ada* per(usi 'aringan baik
STATUS LOKALIS THT
T!)%/$
Pemeriksaan $elainan /ekstra )inistra
/aun telinga $el. >ongenital .idak ada .idak ada
.rauma .idak ada .idak ada
+adang .idak ada .idak ada
$el. 2etabolik .idak ada .idak ada
?yeri tarik .idak ada .idak ada
?yeri tekan tragus .idak ada .idak ada
/inding &iang
.elinga
>ukup lapang (?) >ukup lapang >ukup lapang
)empit - -
Hiperemis .idak ada .idak ada
;dema .idak ada .idak ada
2assa .idak ada .idak ada
)ekret=serumen Bau .idak berbau .idak berbau
8arna keoklatan $eoklatan
3umlah Banyak Banyak
3enis lunak $eras
2embrana .impani : sukar dinilai
2astoid .anda radang .idak ada .idak ada
4istel .idak ada .idak ada
)ikatrik .idak ada .idak ada
?yeri tekan .idak ada .idak ada
?yeri ketok .idak ada .idak ada
.es @arpu .ala +inne Positi( Positi(
)hwabah )ama dengan
pemeriksa
2eman'ang
8eber &ateralisasi ke kiri
$esimpulan .uli kondukti( auris sinistra
H)1"%/
Pemeriksaan $elainan /ekstra )inistra
Hidung luar /e(ormitas .idak ada .idak ada
$el. kongenital .idak ada .idak ada
.rauma .idak ada .idak ada
+adang .idak ada .idak ada
2assa .idak ada .idak ada
"llergi shiner E E
"llergi salute : tidak ada
)inus Paranasal
?yeri tekan .idak ada .idak ada
?yeri ketok .idak ada .idak ada
R#)45-4,) A%&.)4.
-estibulum -ibrise .idak ada .idak ada
+adang .idak ada .idak ada
>a,um ?asi >ukup lapang (?) >ukup lapang >ukup lapang
)empit - -
&apang - -
)ekret &okasi 2eatus media 2eatus media
3enis )erous )erous
3umlah )edang )edikit
Bau .idak berbau .idak berbau
$onkha in(erior Ckuran ;utro(i ;utro(i
8arna &i,ide &i,ide
Permukaan &iin &iin
;dema .idak ada .idak ada
$onkha media Ckuran ;utro(i ;utro(i
8arna &i,ide &i,ide
Permukaan &iin &iin
;dema .idak ada .idak ada
)eptum >ukup
lurus=de,iasi
>ukup lurus >ukup lurus
Permukaan &iin &iin
8arna 2erah muda 2erah muda
)pina .idak ada .idak ada
$rista .idak ada .idak ada
"bses .idak ada .idak ada
Per(orasi .idak ada .idak ada
2assa : tidak ada
R#)%45-4,) P45&.)4. 6N$547$.)%/8
Pemeriksaan $elainan /ekstra )inistra
$oana >ukup lapang (?) >ukup lapang >ukup lapang
)empit - -
&apang - -
2ukosa 8arna 2erah muda 2erah muda
;dema .idak ada .idak ada
3aringan granulasi .idak ada .idak ada
$onkha in(erior Ckuran ;utro(i ;utro(i
8arna 2erah muda 2erah muda
Permukaan liin &iin
;dema .idak ada .idak ada
"denoid "da=tidak .idak ada .idak ada
2uara tuba
eustahius
.ertutup sekret tidak .idak
;dema mukosa .idak ada .idak ada
2assa : tidak ada
Post ?asal /rip "da=tidak .idak ada .idak ada
3enis - -
O.47$.)%/ 1$% M"!"&
Pemeriksaan $elainan /ekstra )inistra
Palatum 2ole E
"rus 4aring
)imetris=tidak simetris )imetris
8arna 2erah muda 2erah muda
;dema .idak ada .idak ada
Berak=eksudat .idak ada .idak ada
/inding 4aring 8arna 2erah muda 2erah muda
Permukaan bergranul Bergranul
.onsil Ckuran .1 .1
8arna 2erah muda 2erah muda
Permukaan +ata +ata
2uara kripti .idak melebar .idak melebar
/etritus .idak ada .idak ada
;ksudat .idak ada .idak ada
Perlengketan
dengan pilar
.idak ada .idak ada
Peritonsil 8arna 2erah muda 2erah muda
;dema .idak ada .idak ada
"bses .idak ada .idak ada
.umor : tidak ada
@igi : karies tidak ada
&idah 8arna 2erah muda 2erah muda
Bentuk normal ?ormal
/e,iasi .idak ada .idak ada
2assa .idak ada .idak ada
L$.)%/45-4,) I%1).-
Pemeriksaan $elainan /ekstra )inistra
;pilotis Bentuk ?ormal ?ormal
8arna 2erah muda 2erah muda
;dema .idak ada
Pinggir rata=tidak +ata +ata
2assa .idak ada .idak ada
"ritenoid 8arna 2erah muda 2erah muda
;dema .idak ada .idak ada
2assa .idak ada .idak ada
@erakan ?ormal ?ormal
-entrikular band 8arna 2erah muda 2erah muda
;dema .idak ada .idak ada
2assa .idak ada .idak ada
Plia ,okalis 8arna Putih Putih
@erakan ?ormal ?ormal
Pinggir medial ?ormal ?ormal
2assa .idak ada .idak ada
)ubglotis=trakeaa 2assa .idak ada .idak ada
)ekret ada=tidak .idak ada .idak ada
)inus piri(ormis 2assa .idak ada .idak ada
)ekret .idak ada .idak ada
-alekule 2assa .idak ada .idak ada
)ekret .idak ada .idak ada
P'.)-5$$% K!%2$. G&$# B%)%/ L#.
9nspeksi : .idak terlihat pembesaran kelen'ar getah bening
Palpasi : .idak teraba pembesaran kelen'ar getah bening
/iagnosis $er'a : 1.+initis "lergi persisten dera'at ringan
2..uli kondukti( auris sinistra
/iagnosis Banding : - +initis ,asomotor
- +hinitis in(eksi
Pemeriksaan "n'uran : .es "lergi
.erapi : - "ntihistamin : 2ethydrolin napadisylat 3 A #: mg
- 2etil prednisolon 3 A ! mg
- .etes telinga karbogliserin 1:<
.erapi "n'uran :
Prognosis : Fuo ad ,itam : bonam
Fuo ad sanam : bonam
?asihat : - Hindari (aktor-(aktor penetus alergi
- )aat membersihkan rumah* gunakan masker
- 2en'aga daya tahan tubuh seperti makan teratur dan ukup giBi*
istirahat yang ukup.
DISKUSI
.elah dilaporkan seorang wanita usia 1D tahun dengan diagnosis ker'a
+hinitis "lergi Persisten dera'at ringan. /iagnosis ditegakkan berdasarkan ge'ala
klinis yaitu seragan bersin berulang dengan keluarnya ingus yang ener dan
banyak* hidung dan mata gatal* kadang-kadang keluar air mata. $eluhan ini
timbul pada pagi hari* uaa dingin dan saat terkena debu. $eadaan ini timbul
karena histamin akan merangsang reseptor H1 pada u'ung sara( ,idianus sehingga
menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin.Histamin 'uga akan
menyebabakan kelen'ar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan
peningkatan permeabilitas kapiler sehingga ter'adi rinore (keluar ingus).
.imbulnya ge'ala hiperakti( atau hiperresponsi( hidung adalah akibat peranan
eosino(il dengan mediator in(lamasi dari granulnya seperti Eosinophilic Catonic
Protein (;>P), Eosinophilic Derivate Protein (;/P), Mayor Basic Protein
(2BP), Eosinophilic Peroxidase (;P).
4aktor risiko pada pasien ini adalah pasien mempunyai riwayat asma pada
saat anak-anak namun sekarang tidak pernah kambuh lagi. /ari riwayat penyakit
keluarga 'uga diketahui bahwa adik ayah pasien 'uga menderita penyakit dengan
ge'ala yang sama.
Berdasarkan klasi(ikasi rhinitis alergi menurut 8H1 tahun 2:::* pasien
digolongkan pada rinitis alergi persisten karena ge'ala yang timbul lebih dari !
hari=minggu* sedangkan untuk tingkat berat ringan penyakitnya digolongkan pada
dera'at ringan karena keadaan ini tidak mengganggu akti,itas harian* berolahraga*
sekolah* bela'ar dan hal-hal lain.
Pada pemeriksaan hidung luar* ditemukan allergic shiner* yaitu bayangan
gelap di daerah bawah mata yang ter'adi karena stasis,ena sekunder akibat
obstruksi hidung. Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior didapatkan konkha
in(erior dan media dekstra dan sinistra berwarna li,ide akan tetapi masih dalam
ukuran normal. /itemukan sekret pada meatus media dekstra dan sinistra
berwarna bening* ener.
Penatalaksanaan pada pasien ini adalah dengan memberikan antihistamin
H1* yang beker'a seara inhibitor kompetiti( pada reseptor H1 sel target.
"ntihistamin berguna untuk mengatasi ge'ala pada respon epat seperti rinore*
bersin dan gatal. )elain itu 'uga diberikan kortikosteroid untuk mengatasi
in(lamasi. )elain itu pasien disarankan untuk menghindari (aktor-(aktor penetus
dan men'aga daya tahan tubuh. Pasien dian'urkan untuk melakukan tes alergi
untuk mengetahui (aktor penyebab rhinitis alerginya sehingga penanganan pasien
dapat lebih terarah.
Pada pasien 'uga ditemukan serumen yang banyak dan keras di telinga
kiri. /ari tes dengan penala ditemukan +inne positi(* )hwabah meman'ang dan
8eber lateralisasi ke kiri. Berdasarkan pemeriksaan tersebut pasien didiagnosis
tuli kondukti( auris sinistra. +inne masih positi( 'ika tuli kondukti(G 3: dB.
Penatalaksanaan pada pasien ini adalah dengan memberikan tetes karbogliserin
3<.