Anda di halaman 1dari 13

Sifat Fisik dan Kimia dari Baja

serta Proses Pembuatannya


Pengetahuan Bahan
Disusun Oleh:
Suryadi Putra Siregar
130403062




DE PARTE MEN TE KNI K I NDUST RI
F A K U L T A S T E K N I K
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
M E D A N
2014
SIFAT FISIK DAN KIMIA DARI BAJA
Baja merupakan salah satu bahan yang sangat banyak dipakai di seluruh dunia untuk
keperluan kehidupan manusia, khususnya di dunia industri. Ditemukan buat pertama kali
oleh orang Mesir lebih dari 4000 tahun yang lalu untuk perhiasan dan alat rumah tangga
yang kemudian berkembang menjadi bahan berharga dan dimanfaatkan orang setiap hari
saat ini.Untuk menjadikan baja, banyak proses yang dilakukan, sehingga membutuhkan ilmu
pengetahuan dan teknologi agar dapat dipakai dalam berbagai keperluan.
Baja mempunyai sejumlah sifat yang membuatnya menjadi baqhan bangunan yang
sangat berharga. Beberapa sifat baja yang penting adalah: kekuatan, kelenturan, kealotan,
kekerasan danketaqhan terhadap korosi.

Sifat Fisika dari Baja
Berikut sifat fisik dari baja yaitu:
Rumus kimia : Fe
Fase : padat
Bentuk : butiran
Warna : metalik mengkilap keabu-abuan
Berat molekul : 55,845 g/mol
Massa jenis (suhu kamar) : 7,86 g/cm
3

Massa jenis cair pada titik lebur : 6,98 g/cm
3

Kalor peleburan : 13,81 kJ/mol
Kalor penguapan : 340 kJ/mol
Kapasitas kalor (25
o
C) : 25,10 J/mol K
Titik lebur : 1538
o
C
Titik didih : 2861
o
C

Sifat Kimia dari Baja
Besi secara murni bersifat sangat reaktif dan mudah mengalami korosi, khususnya dalam
kondisi udara yang lembab. Besi bersifat keras, rapuh, dan umumnya mudah dicampur, dan
digunakan untuk menghasilkan alloy lainnya, termasuk baja.
Berikut adalah beberapa sifat mekanik yang penting untuk diketahui :
1. Kekuatan (strength), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan tanpa
menyebabkan bahan menjadi patah. Kekuatan ini ada beberapa macam, tergantung
pada jenis beban yang bekerja atau mengenainya. Baja mempunyai daya tarik,lengkung,
dan tekan yang sangat besar. Pada setiap partai baja, pabrikan baja menandai beberapa
besar daya kekuatan baja itu. Pabrikan baja misalnya,memasukan satu partai baja
batangan dan mencatumkan pada baja itu Fe 360. di sini Femenunjukan bahwa partai itu
menunjukkan daya kekuatan (minimum) tarikan atau daya tarik baja itu. Yang dimaksud
dengan istilah tersebut adalah gaya tarik N yang dapat dilakukan baja bergaris tengah 1
mm2 sebelum baja itu menjadi patah. Dalam hal ini daya tarik itu adalah 360 N/mm2.
dahulu kita mencantumkan daya tarik baja itu Fe 37, karena daya tariknya adalah
37kgf/mm2. karna smengandung sedikit kadar karbon, maka semua jenis baja
mempunyai dayatarik yang kuat. Oleh karna daya tarik baja yang kuat maka baja dapat
menahan berbagaitegangan, seperti tegangan lentur. Contoh kekuatan tarik, kekuatan
geser, kekuatan tekan, kekuatan torsi, dan kekuatan lengkung.
2. Kekerasan (hardness), dapat didefenisikan sebagai kemampuan suatu bahan untuk
tahan terhadap penggoresan, pengikisan (abrasi), identasi atau penetrasi. Sifat ini
berkaitan dengan sifat tahan aus (wear resistance). Kekerasan juga mempunya korelasi
dengan kekuatan.
3. Kekenyalan (elasticity), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan
tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang permanen setelah tegangan
dihilangkan. Bila suatu benda mengalami tegangan maka akan terjadi perubahan
bentuk. Apabila tegangan yang bekerja besarnya tidak melewati batas tertentu maka
perubahan bentuk yang terjadi hanya bersifat sementara, perubahan bentuk tersebut
akan hilang bersama dengan hilangnya tegangan yang diberikan. Akan tetapi apabila
tegangan yang bekerja telah melewati batas kemampuannya, maka sebagian dari
perubahan bentuk tersebut akan tetap ada walaupun tegangan yang diberikan telah
dihilangkan. Kekenyalan juga menyatakan seberapa banyak perubahan bentuk elastis
yang dapat terjadi sebelum perubahan bentuk yang permanen mulai terjadi, atau dapat
dikatakan dengan kata lain adalah kekenyalan menyatakan kemampuan bahan untuk
kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah menerima bebang yang menimbulkan
deformasi.
4. Kekakuan (stiffness), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan/beban
tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk (deformasi) atau defleksi. Dalam
beberapa hal kekakuan ini lebih penting daripada kekuatan.
5. Plastisitas (plasticity) menyatakan kemampuan bahan untuk mengalami sejumlah
deformasi plastik (permanen) tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Sifat ini
sangat diperlukan bagi bahan yang akan diproses dengan berbagai macam pembentukan
seperti forging, rolling, extruding dan lain sebagainya. Sifat ini juga sering disebut
sebagai keuletan (ductility). Bahan yang mampu mengalami deformasi plastik cukup
besar dikatakan sebagai bahan yang memiliki keuletan tinggi, bahan yang ulet (ductile).
Sebaliknya bahan yang tidak menunjukkan terjadinya deformasi plastik dikatakan
sebagai bahan yang mempunyai keuletan rendah atau getas (brittle).
6. Ketangguhan (toughness), menyatakan kemampuan bahan untuk menyerap sejumlah
energi tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Juga dapat dikatakan sebagai ukuran
banyaknya energi yang diperlukan untuk mematahkan suatu benda kerja, pada suatu
kondisi tertentu. Sifat ini dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga sifat ini sulit diukur.
7. Kelelahan (fatigue), merupakan kecendrungan dari logam untuk patah bila menerima
tegangan berulang ulang (cyclic stress) yang besarnya masih jauh dibawah batas
kekuatan elastiknya. Sebagian besar dari kerusakan yang terjadi pada komponen mesin
disebabkan oleh kelelahan ini. Karenanya kelelahan merupakan sifat yang sangat
penting, tetapi sifat ini juga sulit diukur karena sangat banyak faktor yang
mempengaruhinya.
8. Creep, atau bahasa lainnya merambat atau merangkak, merupakan kecenderungan
suatu logam untuk mengalami deformasi plastik yang besarnya berubah sesuai dengan
fungsi waktu, pada saat bahan atau komponen tersebut tadi menerima beban yang
besarnya relatif tetap.
9. Ketahanan terhadap Korosi, Tanpa perlindungan, baja sangat cepat berkarat. Untung saja
baja diberikan perlindungan yangsangat efektif dengan berbagai cara. Kekerasan yang
lebih besar adalah sangat penting untuk benda-benda tertentu yang dibuat dari baja.
Yang dimaksud dari kekerasan suatu bahan adalah ketahananannya terhadap bisa atau
tidak dimasuki oleh bahan lain. Untuk dapat mencapai kekerasan yang tinggi, maka
diperlukan sistim perawatan dengan panas khusus yang disebut pengerasan. Sebuah
benda baru dapat dikuatkansesudah benda itu diproduksikan.






PROSES PEMBUATAN BAJA
Baja merupakan salah satu bahan yang sangat banyak dipakai di seluruh dunia untuk
keperluan kehidupan manusia, khususnya di dunia industri. Ditemukan buat pertama kali
oleh orang Mesir lebih dari 4000 tahun yang lalu untuk perhiasan dan alat rumah tangga
yang kemudian berkembang menjadi bahan berharga dan dimanfaatkan orang setiap hari
saat ini.Untuk menjadikan baja, banyak proses yang dilakukan, sehingga membutuhkan ilmu
pengetahuan dan teknologi agar dapat dipakai dalam berbagai keperluan.
A. Pembuatan Besi Kasar
Besi kasar adalah hasil pengolahan dari bijih besi dengan melalui beberapa proses. Proses
awal adalah dengan mengurangi senyawa-senyawa dan zat-zat lain yang terkandung dalam
bijih besi dengan tahap sebagai berikut :
a. Dibersihkan.
b. Dipecah-pecah dan digiling sampai menjadi halus, sehingga partikel besi dapat
dipisahkan dari bahan yang tidak diperlukan dengan menggunakan magnit.
c. Dibentuk menjadi pellet (bulatan-bulatan kecil) dengan diameter + 14 mm.
Untuk memudahkan dalam pembentukan pellet maka ditambahkan tanah liat,
sehingga dapat dirol menjadi bentuk bulat. Setelah proses awal dilakukan, maka bijih besi
diproses pada dapur tinggi. Dapur tinggi mempunyai konstruksi yang cukup besar dengan
ketinggian mencapai 100 meter. Dinding luar terbuat dari baja dan bagian dalam dilapisi
batu tahan api yang mampu menahan temperatur tinggi.
Pada bagian atas dapur tinggi terdapat corong untuk memasukkan bahan baku, yaitu
bijih besi, kokas dan batu kapur. Kokas adalah batu bara yang telah diproses (disuling kering)
sehingga dapat menghasilkan panas yang tinggi. Batu kapur berfungsi untuk mengikat
bahan-bahan yang tidak diperlukan.
Proses pada dapur tinggi adalah dengan meniupkan udara panas ke dalam dapur
tinggi untuk membakar kokas dengan temperatur + 2000oC. Cairan besi dan terak akan
turun ke dasar dapur tinggi secara perlahan-lahan dan selanjutnya dituang ke kereta khusus.
Hasil ini disebut besi kasar, yang kemudian dapat diproses lebih lanjut menjadi baja.

B. Proses Pembuatan Baja
Besi kasar dari hasil proses dapur tinggi, kemudian diproses lanjut untuk dijadikan berbagai
jenis baja.
Ada beberapa proses yang dilakukan untuk merubah besi kasar menjadi baja :
1. Dapur Baja Oksigen (Proses Bassemer)
Pada dapur baja oksigen dilakukan proses lanjutan dari besi kasar menjadi baja,
yakni dengan membuang sebagian besar karbon dan kotoran-kotoran (menghilangkan
bahan-bahan yang tidak diperlukan) yang masih ada pada besi kasar. Ke dalam dapur
dimasukkan besi bekas, kemudian baru besi kasar, tapi sebagian fabrik baja banyak yang
langsung dari dapur tinggi, sehingga masih dalam keadaan cair langsung disalurkan ke dapur
Oksigen.
Kemudian, udara (oksigen) yang didinginkan dengan air dan kecepatan tinggi
ditiupkan ke cairan logam. Ini akan bereaksi dengan cepat antara karbon dan kotoran-
kotoran lain yang akan membentuk terak yang mengapung pada permukaan cairan. Dapur
dimiringkan, maka cairan logam akan keluar melalui saluran yang kemudian ditampung
dalam kereta-kereta tuang.
Untuk mendapatkan spesifikasi baja tertentu, maka ditambahkan campuran lain
sebagai bahan paduan. Hasil penuangan ini dapat langsung dilanjutkan dengan proses
pengerolan untuk mendapatkan bentuk/profil yang diinginkan.
2. Dapur Baja Terbuka (Siemens Martin)
Sama halnya dengan Dapur Baja Oksigen, maka dapur baja terbuka (Siemens Martin)
juga merupakan dapur yang digunakan untuk memproses besi kasar menjadi baja. Dapur ini
dapat menampung baja cair lebih dari 100 ton dengan proses mencapai temperatur +
1600oC; wadah besar serta berdinding yang sangat kuat dan landai.
Proses pembuatan dengan dapur ini adalah proses oksidasi kotoran yang terdapat pada bijih
besi sehingga menjadi terak yang mengapung pada permukaan baja cair. Oksigen langsung
disalurkan kedalam cairan logam melalui tutup atas. Apabila selesai tiap proses, maka tutup
atas dibuka dan cairan baja disalurkan untuk proses selanjutnya untuk dijadikan bermacam-
macam jenis baja.
3. Dapur Baja Listrik
Panas yang dibutuhkan untuk pencairan baja adalah berasal arus listrik yang
disalurkan dengan tiga buah elektroda karbon dan dimasukkan/diturunkan mendekati dasar
dapur. Penggunaan arus listrik untuk pemanasan tidak akan mempengaruhi atau
mengkontaminasi cairan logam, sehingga proses dengan dapur baja listrik merupakan salah
satu proses yang terbaik untuk menghasilkan baja berkualitas tinggi dan baja tahan karat
(stainless steel).
Dalam proses pembuatan, bahan-bahan yang dimasukkan adalah bahan-bahan yang
benar-benar diperlukan dan besi bekas. Setelah bahan-bahan dimasukkan, maka elektroda-
elektroda listrik akan memanaskan bahan dengan panas yang sangat tinggi (+ 7000oC),
sehingga besi bekas dan bahan-bahan lain yang dimasukkan dengan cepat dapat mencair.
Adapun campuran-campuran lain (misalnya untuk membuat baja tahan karat) dimasukkan
setelah bahan-bahan menjadi cair dan siap untuk dituang.

C. Proses Pembentukan dan Bentuk-bentuk Produk Baja
Pembentukan baja adalah tahap lanjutan dari proses pengolahan baja dengan
berbagai jenis dapurbaja.
Baja yang telah cair dan ditambah dengan campuran lain (sesuai dengan
kebutuhan/sifat-sifat baja yang diinginkan) dituang ke dalam cetakan yang berlubang dan
didinginkan sehingga menjadi padat. Batangan baja yang masih panas dan berwarna merah
dikeluarkan dari cetakan untuk disimpan sementara dalam dapur bentuk kotak serta dijaga
panasnya dengan temperatur 1100oC - 1300oC menggunakan bahan bakar gas atau minyak.
Penyimpanan tersebut adalah untuk meratakan suhu sebelum dilakukan proses
pembentukan atau pengerolan.
Proses pembentukan produk baja dilakukan dengan beberapa tahapan:
1. Proses Pengerolan Awal
Proses ini adalah dengan cara melewatkan baja batangan diantara rol-rol yang
berputar sehingga baja batangan tersebut menjadi lebih tipis dan memanjang.
Proses pengerolan awal ini dimaksudkan agar struktur logam (baja) menjadi merata, lebih
kuat dan liat, disamping membentuk sesuai ukuran yang diinginkan, seperti pelat tebal
(bloom), batangan (billet) atau pelat (slab).
2. Proses Pengerolan Lanjut
Proses ini adalah untuk merubah bentuk dasar pelat tebal, batangan menjadi bentuk
lembaran, besi konstruksi (profil), kanal ataupun rel.
Ada tiga jenis pengerolan lanjut :
Pengerolan bentuk struktur/konstruksi
Pengerolan bentuk besi beton, strip dan profil
Pengerolan bentuk (pelat).
a. Bentuk Struktur
Pengerolan bentuk struktur/profiil adalah lanjutan pengerjaan dari pelat lembaran
tebal (hasil pengerolan awal) yang kemudian secara paksa melewati beberapa tingkat
pengerolan untuk mendapatkan bentuk dan ukuran yang diperlukan.
b. Bentuk Strip, Besi Beton dan Profil
Proses pembentukan ini tidak dilakukan langsung dari pelat tebal, tetapi harus
dibentuk dulu menjadi batangan, kemudian dirol secara terus menerus dengan beberapa
tingkatan rol dalam satu arah. Adapun hasil pengerolan adalah berbagai bentuk, yaitu :
penampang bulat, bujur sangkar, segi-6, strip atau siku dan lain-lain sebagainya sesuai
dengan disain rolnya.
c. Bentuk Lembaran (Pelat)
Pengerolan bentuk pelat akan menghasilkan baja lembaran tipis dengan cara
memanaskan terlebih dahulu baja batangan kemudian didorong untuk melewati beberapa
tingkat rol sampai ukuran yang diinginkan tercapai.
2. Paduan Baja
Baja paduan adalah baja paduan dengan berbagai elemen dalam jumlah total antara
1,0% dan 50% berat untuk meningkatkan sifat mekanik. Baja Paduan dipecah menjadi dua
kelompok:

1. Baja paduan rendah (low alloy steel)
Baja paduan rendah biasanya digunakan untuk mencapai hardenability lebih baik,
yang pada gilirannya akan meningkatkan sifat mekanis lainnya. Mereka juga digunakan
untuk meningkatkan ketahanan korosi dalam kondisi lingkungan tertentu. Dengan
menengah ke tingkat karbon tinggi, baja paduan rendah sulit untuk las. Menurunkan
kandungan karbon pada kisaran 0,10% menjadi 0,30%, bersama dengan beberapa
pengurangan elemen paduan, meningkatkan weldability dan sifat mampu bentuk baja
dengan tetap menjaga kekuatannya. Seperti logam digolongkan sebagai baja paduan rendah
kekuatan tinggi.

Baja paduan rendah dikelompokan menjadi 3 yaitu:
a. Baja Karbon Rendah (low carbon steel)
Baja ini dengan komposisi karbon kurang dari 2%. Fasa dan struktur mikronya adalah
ferrit dan perlit. Baja ini tidak bisa dikeraskan dengan cara perlakuan panas (martensit)
hanya bisa dengan pengerjaan dingin. Sifat mekaniknya lunak, lemah dan memiliki keuletan
dan ketangguhan yang baik. Serta mampu mesin (machinability) dan mampu las nya
(weldability) baik.
b. Baja Karbon Sedang ( medium carbon steel)
Baja Mil memiliki komposisi karbon antara 0,2%-0,5% C (berat). Dapat dikeraskan
dengan perlakuan panas dengan cara memanaskan hingga fasa austenit dan setelah ditahan
beberapa saat didinginkan dengan cepat ke dalam air atau sering disebut quenching untuk
memperoleh fasa ang keras yaitu martensit. Baja ini terdiri dari baja karbon sedang biasa
(plain) dan baja mampu keras. Kandungan karbon yang relatif tinggi itu dapat meningkatkan
kekerasannya. Namun tidak cocok untuk di las, dengan kata lain mampu las nya rendah.
Dengan penambahan unsur lain seperti Cr, Ni, dan Mo lebih meningkatkan mampu
kerasnya. Baja ini lebih kuat dari baja karbon rendah dan cocok untuk komponen mesin,
roda kereta api, roda gigi (gear), poros engkol (crankshaft) serta komponen struktur yang
memerlukan kekuatan tinggi, ketahanan aus, dan tangguh.
c. Baja Karbon Tinggi (high carbon steel)
Baja karbon tinggi memiliki komposisi antara 0,6- 1,4% C (berat). Kekerasan dan
kekuatannya sangat tinggi, namun keuletannya kurang. baja ini cocok untuk baja perkakas,
dies (cetakan), pegas, kawat kekuatan tinggi dan alat potong yang dapat dikeraskan dan
ditemper dengan baik. Baja ini terdiri dari baja karbon tinggi biasa dan baja perkakas.
Khusus untuk baja perkakas biasanya mengandung Cr, V, W, dan Mo. Dalam pemaduannya
unsur-unsur tersebut bersenyawa dengan karbon menjadi senyawa yang sangat keras
sehingga ketahanan aus sangat baik.
2. Baja Paduan Tinggi (high alloy steel)
Baja paduan tinggi terdiri dari baja tahan karat atau disebut dengan stainless steel
dan baja tahan panas. Baja ini memiliki ketahanan korosi yang baik, terutama pada kondisi
atmosfer. Unsur utama yang meningkatkan korosi adalah Cr dengan komposisi paling sedikit
11%(berat). Ketahanan korosi dapat juga ditingkatkan dengan penambahan unsur Ni dan
Mo. Baja tahan karat dibagi menjadi tiga kelas utama yaitu jenis martensitik, feritik, dan
austenitik. jenis martensitik dapat dikeraskan dengan menghasilkan fasa martensit. baja
tahan karat austenitik memiliki fasa y (austenit) FCC baik pada temperatur tinggi hingga
temperatur kamar. Sedangkan jenis feritik terdiri dari fasa ferrit (a) BCC. Untuk jenis
austenitik dan feritik dapat dikeraskan dengan pengerjaan dingin (cold working). Jenis
Feritik dan Martensitik bersifat magnetis sedangkan jenis austenitik tidak magnetis.

Berikut adalah beberapa jenis proses dalam pembuatan baja :
1. Proses Konvertor
Terdiri dari satu tabung yang berbentuk bulat lonjong dengan menghadap kesamping.
Sistem kerja :
Dipanaskan dengan kokas sampai 1500C,
Dimiringkan untuk memasukkan bahan baku baja. ( 1/8 dari volume konvertor)
Kembali ditegakkan.
Udara dengan tekanan 1,5 2 atm dihembuskan dari kompresor.
Setelah 20-25 menit konvertor dijungkirkan untuk mengelaurkan hasilnya.

a. Proses Bessemer (Asam)
Lapisan bagian dalam terbuat dari batu tahan api yang mengandung kwarsa asam
atau aksid asam (SiO
2
), Bahan yang diolah besi kasar kelabu cair, CaO tidak ditambahkan
sebab dapat bereaksi dengan SiO2 dengan reaksi sebagai berikut :
SiO
2(s)
+ CaO
(s)
CaSiO
3(s)


b. Proses Thomas (Basa)
Lapisan dinding bagian dalam terbuat dari batu tahan api bisa atau dolomit [ kalsium
karbonat dan magnesium (CaCO
3
+ MgCO
3
)], besi yang diolah besi kasar putih yang
mengandung P antara 1,7 2 %, Mn 1 2 % dan Si 0,6-0,8 %. Setelah unsur Mn dan Si
terbakar, P membentuk oksida phospor (P
2
O
5
), untuk mengeluarkan besi cair ditambahkan
zat kapur (CaO), reaksi :
3 CaO + P
2
O
5
Ca
3
(PO
4
)
2
(terak cair)

2. Proses Siemens-Martin
Menggunakan sistem regenerator ( 3000
0
C), fungsi dari regenerator tersebut
adalah:
1. Memanaskan gas dan udara atau menambah temperatur dapur.
2. Sebagai fundamen/ landasan dapur.
3. Menghemat pemakaian tempat.
Pada proses ini dapat digunakan baik besi kelabu maupun putih :
Besi kelabu dinding dalamnya dilapisi batu silika (SiO
2
).
Besi putih dilapisi dengan batu dolomit (40 % MgCO
3
+ 60 % CaCO
3
).

3. Proses Basic Oxygen Furnace
Logam cair dimasukkan ke ruang bakar (dimiringkan lalu ditegakkan).
Oksigen ( 1000) ditiupkan lewat Oxygen Lance ke ruang bakar dengan kecepatan
tinggi. (55 m
3
(99,5 %O
2
) tiap satu ton muatan) dengan tekanan 1400 kN/m
2
.
Ditambahkan bubuk kapur (CaO) untuk menurunkan kadar P dan S.
Keuntungan dari Proses BOF adalah:
BOF menggunakan O
2
murni tanpa Nitrogen.
Proses hanya lebih-kurang 50 menit.
Tidak perlu tuyer di bagian bawah.
Phosphor dan Sulfur dapat terusir dulu daripada karbon.
Biaya operasi murah.



4. Proses Dapur Listrik
Merupakan proses temperatur tinggi dengan menggunkan busur cahaya elektroda
dan induksi listrik.
Keuntungan :
Mudah mencapai temperatur tinggi dalam waktu singkat.
Temperatur dapat diatur.
Efisiensi termis dapur tinggi.
Cairan besi terlindungi dari kotoran dan pengaruh lingkungan sehingga kualitasnya
baik.
Kerugian akibat penguapan sangat kecil.

5. Proses Dapur Kopel
Merupakan proses pengolahan besi kasar kelabu dan besi bekas menjadi baja atau
besi tuang.
Proses :
Pemanasan pendahuluan agar bebas dari uap cair.
Bahan bakar (arang kayu dan kokas) dinyalakan selama 15 jam.
Kokas dan udara dihembuskan dengan kecepatan rendah hingga kokas mencapai
700 800 mm dari dasar tungku.
Besi kasar dan baja bekas kira-kira 10 15 % ton/jam dimasukkan.
15 menit baja cair dikeluarkan dari lubang pengeluaran.
Untuk membentuk terak dan menurunkan kadar P dan S ditambahkan batu kapur
(CaCO
3
) dan akan terurai menjadi:
CaCO
3(s)
CaO
(s)
+ CO
2(s)

CO2 akan bereaksi dengan karbon:
CO
2(g)
+

C
(s)
2CO
(s)

Gas CO yang dikeluarkan melalui cerobong, panasnya dapat dimanfaatkan untuk
pembangkit mesin-mesin lain.

6. Proses Dapur Cawan
Proses kerja dapur cawan dimulai dengan memasukkan baja bekas dan besi kasar
dalam cawan.
Kemudian dapur ditutup rapat.
Kemudian dimasukkan gas-gas panas yang memanaskan sekeliling cawan dan
muatan dalam cawan akan mencair.
Baja cair tersebut siap dituang untuk dijadikan baja-baja istimewa dengan
menambahkan unsur-unsur paduan yang diperlukan.