Anda di halaman 1dari 8

KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA KELOMPOK KHUSUS

(TUNA RUNGU)
Minggu, April 03, 2011 No comments


A. Konsep Komunikasi Terapeutik
Seorang perawat tidak dapat memperoleh informasi tentang pasiennya, jika tidak ada kemampuan menghargai
keunikan yang ada pada pasiennya. Tanpa mengetahui kebutuhan untuk pasien, perawat juga tidak mampu
menolong kesulitan yang dihadapi pasien. Perlu dicari metode yang bisa mengakomodasi agar perawat mampu
memperoleh informasi tentang pasiennya. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan dapat menghadapi,
mempersepsikan, bereaksi, dan menghargai keunikan pasien.

1. Definisi
Komunikasi berasal dari bahasa Inggris ; communication yang berarti pemberitahuan dan atau pertukaran ide,
dengan pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya. Komunikasi adalah suatu
transaksi, proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan membangun
hubungan antar sesama manusia melalui pertukaran informasi untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang
lain serta mengubah sikap dan tingkah laku tersebut (Robbins dan Jones, 1982).
Sedangkan komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan
kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Indrawati, 2003 48). Komunikasi terapeutik termasuk
komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien.
Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan
merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan
pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani, 2003 50).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi terapeutik merupakan interaksi antara
perawat dan pasien yang berupa pembicaraan dan perbincangan tentang masalah klien dengan berlandaskan
etika dan moral keperawatan, ditujukan untuk kesembuhan klien.
2. Tujuan Komunikasi Terapeutik
Menurut Suryani (2005) komunikasi terapeutik bertujuan untuk mengembangkan pribadi klien kearah yang lebih
positif atau adaptif dan diarahkan pada pertumbuhan klien yang meliputi:
a. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan diri.
Melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan dalam diri klien. Klien yang menderita penyakit
kronis ataupun terminal umumnya mengalami perubahan dalam dirinya, ia tidak mampu menerima keberadaan
dirinya, mengalami gangguan gambaran diri, penurunan harga diri, merasa tidak berarti dan pada akhirnya
merasa putus asa dan depresi.
b. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan saling bergantung dengan orang lain.
Melalui komunikasi terapeutik, klien belajar bagaimana menerima dan diterima orang lain. Dengan komunikasi
yang terbuka, jujur dan menerima klien apa adanya, perawat akan dapat meningkatkan kemampuan klien dalam
membina hubungan saling percaya (Hibdon, 2000). Rogers (1974) dalam Abraham dan Shanley (1997)
mengemukakan bahwa hubungan mendalam yang digunakan dalam proses interaksi antara perawat dan klien
merupakan area untuk mengekspresikan kebutuhan, memecahkan masalah dan meningkatkan kemampuan
koping.
c. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan yang realistis.
Terkadang klien menetapkan ideal diri atau tujuan terlalu tinggi tanpa mengukur kemampuannya. Taylor, Lilis
dan La Mone (1997) mengemukakan bahwa individu yang merasa kenyataan dirinya mendekati ideal diri
mempunyai harga diri yang tinggi sedangkan individu yang merasa kenyataan hidupnya jauh dari ideal dirinya
akan merasa rendah diri.
d. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
Klien yang mengalami gangguan identitas personal biasanya tidak mempunyai rasa percaya diri dan mengalami
harga diri rendah. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan perawat dapat membantu klien meningkatkan
integritas dirinya dan identitas diri yang jelas.
Sedangkan tujuan komunikasi terapeutik menurut Effendy (2002) adalah sebagai berikut :
a. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghornmatan diri. Melalui komunikasi terapeutik diharapkan
terjadi perubahan pada diri klien.
b. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan saling bergantung dengan orang-
orang lain. Melalaui komunikasi terapeutik, pasien diharapkan mau menerima dan diterima oleh orang lain.
c. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan yang realistis.
Terkadang klien menetapkan ideal diri atau tujuan yang terlalu tinggi tanpa mengukur kemampuannya.
d. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri. identitas personal disini termasuk status,
peran, jenisdan jenis kelamin.
e. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil
tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
f. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan
egonya.
g. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.
Tujuan komunikasi terapeutik adalah untuk membina hubungan interpersonal antara perawat dan klien, dalam
membantu mengurangi beban perasaan dan pikiran yang diderita klien, demi kesembuhan klien itu sendiri.

3. Manfaat Komunikasi Terapeutik
Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan
pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Manfaat lain dari komunikasi terapeutik yaitu : mengidentifikasi,
mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat (Indrawati,
2003 ). Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan mengajarkan kerja sama antara perawat
dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi
dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan (Purwanto, 1994).
Sehingga dapat disimpulkan dari beberapa manfaat yang ditemukan bahwa komunikasi terapeutik merupakan
komunikasi yang dimanfaatkan untuk membina hubungan kerjasama dengan klien, yang difokuskan untuk rasa
nyaman deni kesembuhan klien.

B. Masalah Dalam Komunikasi Terapeutik
Masalah akan terjadi bila ada penyebab yang muncul. Jika tidak diatasi maka masalah itu akan menjadi semakin
parah.
Dikutip dari buku Komunikasi Interpersonal dalam Keperawatan (Roger B. Ellis, 2000), ada empat faktor utama
yang menyumbang terjadinya masalah komunikasi dalam keperawatan, yaitu:

1. Kurangnya kesadaran diri
Satu alasan mengapa komunikasi bisa tidak efektif karena kurangnya kesadaran akan aspek-aspek diri sendiri
yang akan sangat mempengaruhi interaksi dengan orang lain. Sisi-sisi seseorang yang berada di luar kesadaran
juga akan berada di luar kendali dan menjadi senjata yang tidak terkendali yang dapat menembak dan
menyakitkan meskipun dengan maksud yang baik. Kesadaran bahwa citra yang seseorang punyai terhadap
dirinya bisa sangat berlawanan dengan bagaimana ia dipersepsi oleh orang lain adalah suatu pelajaran yang
sangat berarti dan menjadi dasar untuk perkembangan diri menjadi seorang komunikator yang baik.
Sebuah karakteristik yang penting dari komunikasi manusia adalah bahwa tidak semua sinyal dan pesan terkirim
secara sengaja atau bahkan disadari. Seringkali terdapat ketidaksesuaian antara apa yang yang dipersepsikan
oleh seseorang selama komunikasi dan pemahaman dari orang lain. Komunikasi yang efektif membutuhkan
orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk memaksimalkan kesadaran diri, baik dalam hal bagaimana perilaku
dipersepsi oleh orang lain dan juga dalam pemahaman motivasi diri sendiri dan hal-hal yang tidak terlihat.

2. Kurangnya pelatihan keterampilan interpersonal yang sistematik
Penggunaan kata sistemik dan pelatihan sangatlah berarti dan controversial dalam konteks keterampilan
interpersonal. Komunikasi terdiri dari sekumpulan keterampilan. Tentu saja komunikasi adalah lebih dari sekedar
teknologi, tetapi pelatihan keterampilan yang sistematik mempunyai peran dalam proses menjadikan seorang
komunikator yang efektif. Ada keengganan untuk menerima pernyataan ini karena ada kekhawatiran bahwa
komunikasi akan direndahkan menjadi sebuah seri perilaku dan formula mekanis yang tidak menusiawi. Ini tidak
berlaku bagi aspek-aspek peran perawat lainnya, misalnya dalam melakukan prosedur klinik yang kompleks.
Pada aspek-aspek lainnya keterampilan ini akan dipraktikkan sampai kompetensi tercapai.
Kita dapat mengkritik tidak adanya pelatihan keterampilan interpersonal yang sistematik. Jika anak-anak
mendapatkan keterampilan secara kebetulan selama mereka tumbuh, maka mereka cenderung mempelajari
beberapa kebiasaan buruk dari model peran mereka dan kekurangan kesadaran yang diperlukan untuk
membedakan antara mana interaksi yang efektif dan mana yang tidak efektif. Konsekuensinya bagi bidang
keperawatan sangatlah menonjol. Egan (1990) memperhatikan bahwa mereka yang memasuki duni profesi
pengasuhan sering kali tidak memiliki keterampilan dasar untuk menolong.

3. Kurangnya kerangka konseptual
Perawat yang menunjukkan kompetensi dalam menerapan keterampilan interpersonal kadang-kadang dapat
menggunakannya secara khusus (Dunn 1991). Di butuhkan sebuah kerangka teoritis yang memberi informasi
pada komunikasi dan menyediakan sebuah struktur untuk analisis, refleksi, dan evaluasi interaksi. Karena
kompleksitas komunikasi, upaya untuk memahami komunikasi tanpa sebuah kerangka adalah hal yang
bermasalah. Adalah penting bagi perawat untuk mampu mengkonseptualisasikan apa yang sedang mereka
lakukan untuk memastikan bahwa keterampilan-keterampilan digunakan dengan cara koheren dan strategis.
Kerangka semacam ini akan menyediakan bahasa dan pengaturan untuk memahami interaksi, baik yang sudah
terjadi maupun pada saat mereka terjadi. Meskipun ada benyak teori dan model yang berbeda untuk
menjelaskan aspek-aspek yang berbeda dari peran perawat, misalnya model asuhan keperawatan, model
konseling, model manajemen, dan model pengawasan (supervise), tetapi hanya sedikit teori yang dirancang
untuk berfokus pada komunikasi.

4. Kurangnya kejelasan tujuan
Pada tingkat yang disadari, komunikasi melibatkan penentuan pilihan. Komunikator yang efektif akan mempunyai
angka keberhasilan yang tinggi dalam membuat pilihan yang benar pada situasi-situasi yang dihadapinya karena
ia mengetahui dengan jelas tentang tujuan dan maksud dari setiap interaksi (Heron 1990). Ini memungkinkan
komunikator yang efektif untuk membeda-bedakan pilihan alternatif, dan memilih pilihan yang cocok dengan
situasi tertentu.
Biasanya bukan perawat yang menentukan tujuan interaksi tetapi kebutuhan pasien. Proses ini membutuhkan
kepekaan dan empati agar perawat mampu membaca situasi secara tepat dan menilai apa yang diperlukan.
Misalnya, keterampilan komunikasi yang dibutuhkan dalam pemberian nasihat untuk subjek tertentu akan
berbeda dengan yang dibutuhkan untuk mendengar orang sedang merasa tertekan. Tanda komunikasi yang
efektif adalah mengembangkan kemampuan untuk membaca situasi, mengetahui tujuan dengan jelas, dan
melakukannya secara strategis.

C. Komunikasi Terapeutik Pada Kelompok Khusus (Tuna Rungu)
Komunikasi terapeutik sangat diperlukan apalagi pada pasien tuna rungu yang yang mengalami kesulitan dalam
menerima informasi.
1. Definisi Tuna Rungu
Tunarungu adalah seseorang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar baik
sebagian atau seluruhnya yang diakibatkan karena tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran.
Dalam perspektif patologis yang dianut oleh pakar medis, kedokteran, ahli pendidikan dan masyarakat umum
yang memandang bahwa ketunarunguan sebagai impairment atau kerusakan (gangguan). Menurut bukti hasil
penelitian antropologis atau linguistik pada orang tunarungu lebih dianggap sebagai orang yang cacat sehingga
perlu dinormalisasikan melalui lembaga pendidikan khusus maupun rehabilitasi selama beberapa dekade.
Mereka selalu berpikir orang tuna rungu harus bisa berbicara dan mendengar dengan menggunakan
kecanggihan teknologi alat bantu dengar dan cochlear implants karena mau tidak mau mereka hidup di tengah
dunia masyarakat. Ada upaya-upaya untuk menyembuhkan pendengaran mereka dengan teknologi kedokteran
dan dampak ketunarunguan mereka terhadap psikologisnya cenderung menjadi pedoman untuk menyatakan
bahwa mereka perlu diterapi untuk dapat melakukan adaptasi sosial di lingkungannya.

2. Klasifikasi Ketunarunguan
pada umumnya klasifikasi anak tunarungu dibagi atas dua golongan atau kelompok besar yaitu tuli dan kurang
dengar.
a. Tuli
Orang tuli adalah seseorang yang mengalami kehilangan kemampuan mendengar sehingga membuat proses
informasi bahasa melalui pendengaran, baik itu memakai atau tidak memakai alat dengar .
b. Kurang dengar
Kurang dengar adalah seseorang yang mengalami kehilangan sebagian kemampuan mendengar, akan tetapi ia
masih mempunyai sisa pendengaran dan pemakaian alat bantu dengar memungkinkan keberhasilan serta
membantu proses informasi bahasa melalui pendengaran.

3. Karakteristik Tunarungu
Karakteristik individu yang mengalami tuna rungu adalah sebagai berikut :
a. Egosentrisme yang melebihi anak normal.
b. Mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas.
c. Ketergantungan terhadap orang lain
d. Perhatian mereka lebih sukar dialihkan.
e. Mereka umumnya memiliki sifat yang polos, sederhana dan tanpa banyak masalah.
f. Mereka lebih mudah marah dan cepat tersinggung.

4. Masalah Komunikasi Pada Pasien Tuna Rungu
Masalah komunikasi yang terjadi pada pasien tuna rungu :
a. Mengalami kesulitan dalam menerima dan memberikan informasi dalam interaksinya.
b. Mudah marah dan cepat tersinggung (apabila salah dalam mendengar)
c. Kurangnya kesadaran akan aspek-aspek diri sendiri yang akan sangat mempengaruhi interaksi dengan orang
lain.

5. Cara Penyelesaian Masalah Dalam Komunikasi Pada Tuna Rungu
Berikut merupakan cara penyelesaian masalah dalam komunikasi pada klien tuna rungu :
a. Menggunakan bahasa isyarat.
b. Libatkan keluarga dalam komunikasi dengan tuna rungu.
c. Gunakan alat bantu dengar.
d. Gunakan bahasa pantomin.
Tekhnik komunikasi pada klien tuna rungu :
a. Penekanan intonasi dan gerak bibir.
b. Menurunkan jarak.
c. Gunakan isyarat kata-kata atau bahasa yang berbentuk tindakan.
d. Pengulangan kata.
e. Menyentuh klien.
f. Menjaga kontak mata.
g. Jangan melakukan pembicaraan ketika sedang mengunyah.
h. Gunakan bahasa pantomin bila memungkinkan dengan gerak sederhana dan perlahan.
i. Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari jika bisa dan diperlukan
j. Jika ada sesuatu yang sulit dikomunikasikan coba sampaikan dalam bentuk tulisan, gambar atau simbol.
k. Gunakan bahasa, kalimat, kata-kata yang sederhana.

source: http://texbuk.blogspot.com/2011/04/komunikasi-terapeutik-pada-kelompok.html


















Hambatan Komunikasi
HAMBATAN FISIK DALAM PROSES KOMUNIKASI
Merupakan jenis hambatan berupa fisik, misalnya cacat pendengaran (tuna rungu), tuna netra, tuna wicara. Maka dalam hal
ini baik komunikator maupun komunikan harus saling berkomunikasi secara maksimal. Bantuan panca indera juga berperan
penting dalam komunikasi ini.
Contoh: Apabila terdapat seorang perawat dengan pasien berusia lanjut. Dalam hal ini maka perawat harus bersikap lembut
dan sopan tapi bukan berarti tidak pada pasien lain. Perawat harus lebih memaksimalkan volume suaranya apabila ia
berbicara pada pasien tuna rungu. Begitu pula halnya dengan si pasien. Apabila si pasien menderita tuna wicara maka
sebaiknya ia mengoptimalkan panca inderanya (misal: gerakan tangan, gerakan mulut) agar si komunikan bisa menangkap
apa yang ia ucapkan. Atau si pasien tuna wicara isa membawa rekan untuk menerjemahkan pada si komunikan apa yang
sebetulnya ia ucapkan.
HAMBATAN SEMANTIK DALAM PROSES KOMUNIKASI
Semantik adalah pengetahuan tentang pengertian atau makna kata (denotatif). Jadi hambatan semantik adalah hambatan
mengenai bahasa, baik bahasa yang digunakan oleh komunikator, maupun komunikan.
Hambatan semantik dibagi menjadi 3, diantaranya:
1. Salah pengucapan kata atau istilah karena terlalu cepat berbicara.
contoh: partisipasi menjadi partisisapi
1. Adanya perbedaan makna dan pengertian pada kata-kata yang pengucapannya sama
Contoh: bujang (Sunda: sudah; Sumatera: anak laki-laki)
1. Adanya pengertian konotatif
Contoh: secara denotative, semua setuju bahwa anjing adalah binatang berbulu, berkaki empat. Sedangkan secara konotatif,
banyak orang menganggap anjing sebagai binatang piaraan yang setia, bersahabat dan panjang ingatan.
Jadi apabila ini disampaikan secara denotatif sedangkan komunikan menangkap secara konotatif maka komunikasi kita gagal.
HAMBATAN PSIKOLOGIS DALAM PROSES KOMUNIKASI
Disebut sebagai hambatan psikologis karena hambatan-hambatan tersebut merupakan unsur-unsur dari kegiatan psikis
manusia.
Hambatan psikologi dibagi menjadi 4 :
1. Perbedaan kepentingan atau interest
Kepentingan atau interst akan membuat seseorang selektif dalam menganggapi atau menghayati pesan. Orang hanya akan
memperhatikan perangsang (stimulus) yang ada hubungannya dengan kepentingannya. Effendi (1981: 43) mengemukakan
secara gamblang bahwa apabila kita tersesat dalam hutan dan beberapa hari tak menemui makanan sedikitpun, maka kita
akan lebih memperhatikan perangsang-perangsang yang mungkin dapat dimakan daripada yang lain. Andaikata dalam
situasi demikian kita dihadapkan pada pilihan antara makanan dan sekantong berlian, maka pastilah kita akan meilih
makanan. Berlian baru akan diperhatikan kemudian. Lebih jauh Effendi mengemukakan, kepentingan bukan hanya
mempengaruhi kita saja tetapi juga menentukan daya tanggap, perasaan, pikiran dan tingkah laku kita.
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, komunikan pada komunikasi massa bersifat heterogen. Heterogenitas itu meliputi
perbedaan usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan yang keseluruhannya akan menimbulkan adanya perbedaan
kepentingan. Kepentingan atau interest komunikan dalam suatu kegiatan komunikasi sangat ditentukan oleh manfaat atau
kegunaan pesan komunikasi itu bagi dirinya. Dengan demikian, komunikan melakukan seleksi terhadap pesan yang
diterimanya.
Kondisi komunikan seperti ini perlu dipahami oleh seorang komunikator. Masalahnya, apabila komunikator ingin agar
pesannya dapat diterima dan dianggap penting oleh komunikan, maka komunikator harus berusaha menyusun pesannya
sedemikian rupa agar menimbulkan ketertarikan dari komunikan.
1. Prasangka
Menurut Sears, prasangka berkaitan dengan persepsi orang tentang seseorang atau kelompok lain, dan sikap serta
perilakunya terhadap mereka. Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai prasangka, maka sebaiknya kita bahas
terlebih dahulu pengertian persepsi.
Persepsi adalah pengalaman objek pribadi, peristiwa faktor dari hambatan : personal dan situasional.
Untuk mengatasi hambatan komunikasi yang berupa prasangka pada komunikan, maka komunikator yang akan
menyampaikan pesan melalui media massa sebaiknya komunikator yang netral, dalam arti ia bukan orang controversial,
reputasinya baik artinya ia tidak pernah terlibat dalam suatu peristiwa yang telah membuat luka hati komunikan. Dengan
kata lain komunikator itu harus acceptable. Disamping itu memiliki kredibilitas yang tinggi karena kemampuan dan
keahliannya.
1. Stereotip
Adalah gambaran atau tanggapan mengenai sifat atau watak bersifat negative (Gerungan,1983:169). Jadi stereotip itu
terbentuk pada dirinya berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang lengkap dan subjektif.
Contoh: Orang Batak itu berwatak keras sedangkan orang Jawa itu berwatak lembut.
Seandainya dalam proses komunikasi massa ada komunikan yang memiliki stereotip tertentu pada komunikatornya, maka
dapat dipastikan pesan apapun tidak dapat diterima oleh komunikan.
1. Motivasi
Merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia
yang menyebabkan manusia berbuat sesuatu (Gerungan 1983:142).
Motif adalah sesuatu yang mendasari motivasi karena motif memberi tujuan dan arah pada tingkah laku manusia. Tanggapan
seseorang terhadap pesan komunikasi pun berbeda sesuai dengan jenis motifnya.
Motif dibagi menjadi 2 macam, yaitu:
1. Motif Tunggal
Contoh: Motif seseorang menonton acara Seputar Indonesia yang disiarkan RCTI adalah untuk memperoleh informasi.
1. Motif Bergabung
Contoh: (kasus yang sama dengan motif tunggal) tetapi bagi orang lain motif menonton televisi adalah untuk memperolh
informasi sekaligus mengisi waktu luang.
UPAYA-UPAYA DALAM MENGATASI HAMBATAN BERKOMUNIKASI
Untuk mengetahui hambatan tersebut dapat ditanggulangi dengan cara sebagai berikut :
1. Mengecek arti atau maksud yang disampaikan
Bertanya lebih lanjut pada si komunikan apakah ia sudah mengerti apa yang si komunikator bicarakan.
Contoh: Perawat bertanya pada pasien Apakah sudah mengerti, Pak?
1. Meminta penjelasan lebih lanjut
Sama halnya dengan poin pertama hanya saja disini si komunikator lebih aktif berbicara untuk memastikan apakah ada hal
lain yang perlu ditanyakan lagi.
Contoh: Apa ada hal lain yang kurang jelas, Bu?
1. Mengecek umpan balik atau hasil
Memancing kembali si komunikator dengan mengajukan pertanyaan mengenai hal atau pesan yang telah disampaikan
kepada komunikan.
Contoh: Tadi obatnya sudah diminum , Pak? Sebelumnya si komunikator telah berpesan pada komunikan untuk meminum
obat.
1. Mengulangi pesan yang disampaikan memperkuat dengan bahasa isyarat
Contoh: Obatnya diminum 3 kali sehari ya sambil menggerakkan tangan.
1. Mengakrabkan antara pengirim dan penerima
Dalam hal ini komunikator lebih mendekatkan diri dengan berbincang mengenai hal-hal yang menyangkut keluarga,
keadaannya saat ini (keluhan tentang penyakitnya).
1. Membuat pesan secara singkat, jelas dan tepat
Si komunikator sebaiknya menyampaikan hanya hal-hal yang berhubungan pasien (atau yang ditanyakan pasien) sehingga
lebih efisien dan tidak membuang-buang waktu.


Source: http://hayyunaafy.wordpress.com/my-document/hambatan-komunikasi/

Anda mungkin juga menyukai