Anda di halaman 1dari 74

Yoyo dimainkan dengan mengaitkan ujung bebas

tali pada jari tengah. Pemain memegang yoyo dan


melemparkannya ke bawah dengan gerakan-gerakan
yang kreatif dan variatif, kemudian dengan cekatan
menangkapnya kembali.
Di tengah lingkungan usaha yang selalu berubah, BRI
terus mengembangkan produk dan ftur baru serta
menyempurnakan proses bisnis dan operasional untuk
dapat memenangkan persaingan.
Analisis dan Pembahasan Manajemen
Bab
3
Inovatif
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
74
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Tinjauan Umum
Pada tahun 2010, total aset BRI meningkat lebih tinggi
dibandingkan total aset perbankan nasional, sehingga BRI
berhasil memperbesar pangsa pasar dari sisi total aset.
BRI juga berhasil mempertahankan predikat sebagai bank
dengan perolehan laba bersih terbesar di Indonesia, sejak
tahun 2005. Dari sisi pinjaman BRI tetap sebagai bank
dengan penyaluran kredit terbesar.
Perbandingan kinerja keuangan BRI dan perbankan
nasional adalah sebagai berikut (data BRI merupakan
data di luar anak perusahaan, data perbankan nasional
merupakan data bank umum):
Total Aset
BRI
Total aset BRI tumbuh sebesar 26,58% selama tahun
2010, meningkat dari Rp314,75 triliun pada tahun 2009
menjadi Rp398,39 triliun pada tahun 2010. Sehingga
pangsa pasar aset BRI di tahun 2010 meningkat menjadi
13,14% dari 12,42% pada tahun sebelumnya.
Perbankan Nasional
Total aset perbankan nasional meningkat sebesar 18,73%
selama tahun 2010, dari Rp2.534,11 triliun pada tahun
2009 menjadi Rp3.008,85 triliun pada akhir tahun 2010.
Kredit
BRI
Kredit BRI tumbuh sebesar 20,16% selama tahun 2010
dari Rp205,52 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp246,96
triliun pada tahun 2010. Pertumbuhan kredit BRI pada
tahun 2010 lebih rendah dibandingkan pertumbuhan
kredit perbankan nasional karena upaya BRI untuk
menjaga kualitas kredit yang sehat.

Perbankan Nasional
Penyaluran kredit perbankan nasional mengalami kenaikan
22,80% selama tahun 2010, meningkat dari Rp1.437,93
triliun pada tahun 2009 menjadi Rp1.765,85 triliun pada
tahun 2010.
Total Aset
(Rp triliun)
BRI
Perbankan Nasional
% terhadap Perbankan Nasional
2
0
3
,
6
0
1
5
4
,
7
3
2
4
6
,
0
3
3
1
4
,
7
5
3
9
8
,
3
9
1
.
9
8
6
,
5
0
1
.
6
9
3
,
8
5
2
.
3
1
0
,
5
6
2
.
5
3
4
,
1
1
3
.
0
0
8
,
8
5
07 06 08 09 10
9
,
1
3
%
1
0
,
2
5
%
1
0
,
6
5
%
1
2
,
4
2
%
1
3
,
2
4
%
CAGR*: 26.67%
BRI
Perbankan Nasional
% terhadap Perbankan Nasional
Kredit
(Rp triliun)
1
1
3
,
8
5
9
0
,
2
8
1
6
1
,
0
6
2
0
5
,
5
2
2
4
6
,
9
6
1
.
0
0
2
,
0
1
7
9
2
,
3
0
1
.
3
0
7
,
6
9
1
.
4
3
7
,
9
3
1
.
7
6
5
,
8
5
07 06 08 09 10
1
1
,
4
0
%
1
1
,
3
6
%
1
2
,
3
2
%
1
4
,
2
9
%
1
3
,
9
9
%
CAGR* : 28,61%
sumber: BI-Statistik Perbankan Indonesia, Desember 2010;
Laporan Keuangan BRI
sumber: BI-Statistik Perbankan Indonesia, Desember 2010;
Laporan Keuangan BRI
*) CAGR (Compound Annual Growth Rate): Pertumbuhan Rata-rata per tahun
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
75
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Dana Pihak Ketiga (DPK)
BRI
DPK yang berhasil dihimpun BRI tumbuh secara signifikan
29,29%, dari Rp254,12 triliun pada tahun 2009 menjadi
Rp328,56 triliun pada tahun 2010. Pangsa pasar DPK BRI
berhasil meningkat dari 13.03% di tahun 2009 menjadi
14,05% di tahun 2010. Pertumbuhan DPK pada tahun
2010 bersumber dari dana murah baik yang berasal dari
nasabah ritel maupun nasabah institusi.
Perbankan Nasional
DPK perbankan nasional meningkat 19,90% pada tahun
2010, dari Rp1.950,71 triliun pada tahun 2009 menjadi
Rp2.338,82 triliun pada tahun 2010.
Rasio Kredit terhadap DPK
(Loan to Deposit Ratio/LDR)
BRI
LDR BRI mengalami penurunan dari 80,88% pada tahun
2009 menjadi 75,17% pada tahun 2010. Hal ini disebabkan
oleh tingkat pertumbuhan DPK yang melampaui tingkat
pertumbuhan kredit.
Perbankan Nasional
Tingkat LDR perbankan nasional mengalami kenaikan dari
72,88% pada tahun 2009 menjadi 75,21% pada tahun
2010.
BRI
Perbankan Nasional
% terhadap Perbankan Nasional
Dana Pihak Ketiga
(Rp triliun)
1
6
5
,
4
8
1
2
4
,
4
7
2
0
1
,
5
0
2
5
4
,
1
2
3
2
8
,
5
6
1
.
5
1
0
,
8
3
1
.
2
8
7
,
1
0
1
.
7
5
3
,
2
9
1
.
9
5
0
,
7
1
2
.
3
3
8
,
8
2
07 06 08 09 10
9
,
6
7
%
1
0
,
9
5
%
1
1
,
4
9
%
1
3
,
0
3
%
1
4
,
0
5
%
CAGR* : 27.46%
Loan to Deposit Ratio
72,54%
68,80%
79,93% 80,88%
75,21%
75,17%
72,88%
74,58%
66,92%
61,56%
2006 2007 2008 2009 2010
BRI Perbankan Nasional
sumber: BI-Statistik Perbankan Indonesia, Desember 2010;
Laporan Keuangan BRI
sumber: BI-Statistik Perbankan Indonesia, Desember 2010;
Laporan Keuangan BRI
*) CAGR (Compound Annual Growth Rate): Pertumbuhan Rata-rata per tahun
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
76
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Return on Assets (ROA)
BRI
ROA BRI tahun 2010 sebesar 4,64 % meningkat dari 3,73% pada tahun 2009 seiring dengan peningkatan laba bersih yang
signifikan. ROA BRI lebih tinggi dibanding rata-rata ROA perbankan nasional sebesar 2,86% dan telah memenuhi dibanding
persyaratan minimum ROA yang ditetapkan oleh BI sebesar 1,5%.
Perbankan Nasional
ROA perbankan nasional meningkat dari 2,60% pada tahun 2009 menjadi 2,86% pada tahun 2010.
Net Interest Margin (NIM)
BRI
Selama 6 tahun terakhir, BRI mampu menjaga NIM di atas rata-rata perbankan nasional. NIM BRI ditahun 2010 adalah 10,77%
sedikit meningkat dibandingkan tahun 2009 sebesar 9,14%. Hal ini sejalan dengan meningkatnya produktifitas pinjaman dan
juga pengaruh penerapan PSAK 50/55, dimana perhitungan pendapatan bunga pinjaman dengan suku bunga flat dikonfersi
menggunakan suku bunga efektif.
Perbankan Nasional
NIM perbankan nasional cukup stabil dari tahun ke tahun, dan sedikit meningkat pada tahun 2010 menjadi sebesar 5,73%.
Net Interest Margin
11,16%
10,86%
5,80%
5,70% 5,66% 5,56%
5,73%
10,18%
9,14%
10,77%
2006 2007 2008 2009 2010
BRI Perbankan Nasional
Return on Assets
2006 2007 2008 2009 2010
4,36%
2,64%
2,78%
2,33%
2,60%
2,86%
4,61%
4,18%
3,73%
4,64%
BRI Perbankan Nasional
sumber: BI-Statistik Perbankan Indonesia, Desember 2010;
Laporan Keuangan BRI
sumber: BI-Statistik Perbankan Indonesia, Desember 2010;
Laporan Keuangan BRI
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
77
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR)
BRI
CAR BRI pada tahun 2010 sebesar 13,76% mengalami peningkatan dari 13,20% pada tahun 2009. Kenaikan ini disebabkan oleh
meningkatnya laba bersih yang signifikan pada tahun 2010 hingga memperkuat permodalan BRI.
Perbankan Nasional
Sejalan dengan tingginya pertumbuhan kredit, CAR perbankan nasional mengalami penurunan dari 17,42% pada tahun 2009
menjadi 17,18% pada tahun 2010.
Capital Adequacy Ratio
21,27%
19,30%
16,76%
17,42%
17,18%
18,82%
15,84%
13,18% 13,20%
13,76%
2006 2007 2008 2009 2010
BRI Perbankan Nasional
sumber: BI-Statistik Perbankan Indonesia, Desember 2010;
Laporan Keuangan BRI
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
78
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Tinjauan Keuangan
2006 2007 2008 2009 2010
(Rp miliar)
Pendapatan Bunga 21.070,54 23.240,63 28.096,63 35.334,13 44.615,16
Beban Bunga (7.281,49) (6.544,06) (8.445,58) (12.284,64) (11.726,56)
Pendapatan Bunga Bersih 13.789,05 16.696,57 19.651,05 23.049,50 32.888,60
Pendapatan Operasional Lainnya 1.509,05 1.821,70 2.535,24 3.269,59 5.544,53
Beban Operasional lainnya (7.665,65) (9.019,61) (10.996,55) (11.959,52) (16.113,69)
Beban Penyisihan Kerugian Penurunan Nilai (1.848,00) (1.942,66) (2.843,63) (5.798,92) (7.917,44)
Pendapatan/Beban Non Operasional 122,10 224,07 475,90 1.330,57 506,23
Laba Sebelum Pajak dan Minority Interest 5.906,55 7.780,07 8.822,01 9.891,23 14.908,23
Laba Bersih 4.257,57 4.838,00 5.958,37 7.308,29 11.472,39
BRI berhasil mencatat kinerja yang memuaskan di tahun 2010 didukung oleh kemampuan BRI dalam mempertahankan
pertumbuhan bisnis yang berkesinambungan serta peningkatan fundamental keuangan. Perolehan laba BRI setelah pajak
mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 56,98%. Pada tahun 2010
laba bersih Bank BRI tercatat sebesar Rp11,47 triliun. Peningkatan laba tersebut didukung oleh aset BRI yang berhasil
tumbuh secara signifikan sebesar 27,56%, yaitu dari Rp316,95 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 404,29 triliun pada
tahun 2010.
sebagai dampak dari penerapan PSAK 50&55.
Kontribusi pendapatan bunga pinjaman terhadap
total pendapatan bunga adalah 88,73% dari total
pendapatan bunga, mengalami peningkatan dari
tahun 2009 yang tercatat sebesar 82,90% dari
total pendapatan bunga. Secara nominal total
pendapatan bunga kredit meningkat 35,15% dari
Rp29,29 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp39,59
triliun pada tahun 2010.
Pendapatan bunga dari obligasi pemerintah
sebesar Rp1,51 triliun, menurun 16,58% dari
tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp1,81
triliun. Penurunan tersebut disebabkan oleh adanya
Obligasi Rekapitalisasi Pemerintah yang jatuh tempo
pada tahun 2010 sebesar Rp1,4 triliun. Penurunan
tersebut diikuti dengan turunnya porsi pendapatan
bunga dari obligasi pemerintah, dimana porsi
pendapatan bunga dari obligasi pemerintah tahun
2009 sebesar 5,11% menjadi 3,38% dari total
pendapatan bunga pada tahun 2010.
Perubahan Kebijakan Akuntansi
BRI telah menerapkan PSAK 50 dan 55 pada
Laporan Keuangan Tahun Buku 2010. Penerapan ini
antara lain berdampak pada perhitungan pendapatan
bunga, pencatatan nilai buku dari pinjaman serta
pembentukan penyisihan kerugian penurunan nilai
dari aset (CKPN). Pembahasan lebih lengkap dapat
ditemukan pada bagian-bagian selanjutnya pada
bab ini.

Laporan Laba / Rugi
Pendapatan Bunga
Pendapatan Bunga selama tahun 2010 tercatat
sebesar Rp44,62 triliun atau meningkat 26,27% dari
tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp35,33
triliun. Pertumbuhan Pendapatan Bunga antara lain
berasal dari meningkatnya jumlah penyaluran kredit
sebesar Rp44,37 triliun dari Desember 2009 atau
sebesar 21,32% dengan rasio NPL yang terjaga di
level 2,78% serta dari pendapatan bunga pinjaman
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
79
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Pendapatan bunga dari aktiva produktif selain kredit dan obligasi pemerintah tercatat sebesar Rp3,52 triliun,
mengalami penurunan 16,88% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp4,24 triliun, sehingga proporsinya
juga menurun dibandingkan tahun sebelumnya dari 11,99% menjadi 7,89% dari total pendapatan bunga.
Mengacu pada ketentuan PSAK 50 & 55 (R.2006), pendapatan bunga diakui dengan menggunakan
metode suku bunga efektif (effective interest rate), yakni suku bunga yang mendiskontokan estimasi
penerimaan kas di masa datang untuk memperoleh nilai tercatat bersih saat pengakuan awal (initial
measurement). Seperti halnya dengan PSAK sebelumnya, pendapatan provisi dan komisi yang jumlahnya
tidak material diperhitungkan secara langsung di dalam Laporan Laba Rugi sebagai pendapatan pada
periode yang bersangkutan, sedangkan yang jumlahnya material pengakuan dicatat terlebih dulu sebagai
pendapatan yang ditangguhkan untuk selanjutnya di amortisasi selama jangka waktunya. Jika di dalam
PSAK sebelumnya (PSAK 31), amortisasi dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus, maka
sesuai PSAK 50 & 55 (R.2006) yang saat ini berlaku, pendapatan provisi dan komisi yang jumlahnya
material dan berkaitan langsung dengan kegiatan pinjaman, diamortisasi sesuai dengan jangka waktu
kontrak menggunakan suku bunga efektif dan diklasikasikan sebagai bagian dari pendapatan bunga.
Komposisi Pendapatan Bunga BRI
Pendapatan Bunga Kredit
Pendapatan Bunga dari Aktiva Produktif Lainnya
Pendapatan Bunga Obligasi Pemerintah
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
80
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Pendapatan Bunga
Dalam miliar Rupiah
06 07 08 09 10
21.071
15.763
2.968 3.264 3.823 4.237
3.522
2.339 2.020 1.930 1.806 1.506
17.957
22.343
29.292
39.587
23.241
28.097
35.334
44.615
Pendapatan Bunga Obligasi pemerintah
Pendapatan Bunga Kredit
Pendapatan Bunga dari Aktiva Produktif Lainnya
Total Pendapatan Bunga
Beban Bunga
Beban bunga mengalami penurunan sebesar 4,54% dari Rp12,29 triliun pada tahun
2009 menjadi Rp11,73 triliun pada tahun 2010. Penurunan beban bunga disebabkan
karena penurunan suku bunga simpanan, khususnya suku bunga deposito berjangka.
2009 2010
Komposisi Beban Bunga
Tabungan Deposito Giro Lainnya
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
81
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Pendapatan Bunga Bersih
Per 31 Desember 2010, pendapatan bunga bersih BRI tercatat sebesar Rp32,89
triliun, meningkat 42,69% dari Rp23,05 triliun pada tahun 2009. Peningkatan ini antara
lain disumbang oleh peningkatan outstanding kredit karena ekspansi yang dilakukan,
membaiknya kualitas kredit serta adanya penerapan PSAK 50 dan 55 (R.2006) yang
menyesuaikan pengakuan pendapatan bunga kredit dengan suku bunga at. Marjin
bunga meningkat ke level 10,77% dari 9,14% di tahun 2009.
Pendapatan Bunga Bersih (NII)
07 06 08 09 10
1
3
,
7
8
9
1
6
,
6
9
7
1
9
,
6
5
1
2
3
,
0
4
93
2
,
8
8
9
1
0
,
8
6
%
1
1
,
1
6
%
1
0
,
1
8
%
9
,
1
4
%
1
0
,
7
7
%
2
1
,
0
7
1
2
3
,
2
4
1
2
8
,
0
9
7
3
5
,
3
3
4
4
4
,
6
1
5
7
,
2
8
1
6
,
5
4
4
8
,
4
4
6
1
2
,
2
8
5
1
1
,
7
2
7
Total Pendapatan Bunga
Total Beban Bunga
NII
NIM
Pendapatan Operasional Lainnya
Pendapatan operasional lainnya pada tahun 2010 meningkat dari sebesar Rp3,27
triliun pada tahun 2009 menjadi sebesar Rp5,54 triliun. Fee-based income memberikan
kontribusi terbesar, yaitu 50,73% dari total pendapatan operasional lainnya.
Fee-based income per 31 Desember 2010 tercatat sebesar Rp2,81 triliun, mengalami
peningkatan 32,81% dari Rp2,12 triliun pada tahun 2009. Fee-based income terdiri
dari jasa simpanan, jasa ATM, jasa perkreditan, jasa trade nance, jasa kartu kredit, jasa
treasury, jasa management pembayaran, jasa kerjasama asuransi, jasa pengawasan,
jasa penjaminan, dan jasa sewa deposit box. Kenaikan sebesar 32,79% itu antara lain
berasal dari peningkatan jasa simpanan sebesar 38,41%, jasa trade nance ekspor
naik sebesar 69,02%, jasa ATM meningkat 101,67%, dan jasa sindikasi meningkat
228%.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
82
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Sesuai dengan PSAK 50 dan 55 (R.2006), pada tahun 2010 BRI mencatat penerimaan
kembali asset yang telah dihapusbukukan sebagai pendapatan operasional lainnya
sebesar Rp1,53 triliun. Keuntungan untuk pengakuan atas marked to market dari
posisi surat berharga sebesar Rp156,21 miliar, sedikit menurun dari tahun sebelumnya
yang sebesar Rp270,15 miliar. Pendapatan dari transaksi valas tercatat sebesar
Rp773,02 miliar, mengalami kenaikan sebesar Rp59,59 miliar dari tahun sebelumnya
yang sebesar Rp713,43 miliar yang disebabkan karena perubahan nilai tukar.
Sedangkan pendapatan lain-lain yang terdiri dari pendapatan denda, pendapatan
pelunasan maju kredit, penerimaan biaya tolakan kliring dll tercatat sebesar Rp277,65
miliar pada Desember 2010, meningkat 65,01% dari tahun sebelumnya yang sebesar
Rp168,26 miliar.
2006 2007 2008 2009 2010
Fee Based Income 838 1.456 1.767 2.118 2.813
Penerimaan kembali aset yang telah dihapusbukukan 0 1.525
Keuntungan Marked to market 484 48 51 270 156
Keuntungan selisih kurs - bersih 0 176 614 713 773
Lain-lain 187 142 103 168 278
Total Pendapatan Operasional Lainnya 1.509 1.822 2.535 3.270 5.545
Beban Operasional Lainnya
Beban operasional lainnya meningkat sebesar 34,74% dari Rp11,96 triliun pada
tahun 2009 menjadi sebesar Rp16,11 triliun pada tahun 2010. Kenaikan biaya ini
dapat ditutupi oleh kenaikan pendapatan sehingga BRI dapat menjaga rasio CER
(Cost Effeciency Ratio) pada level 42,23%.
Beban tenaga kerja dan tunjangan meningkat signikan 29,96% dari Rp6,68 triliun
pada tahun 2009 menjadi Rp8,68 triliun pada tahun 2010, hal ini disebabkan antara
lain karena peningkatan jumlah SDM di tahun 2010 sebagai konsekuensi dari ekspansi
jaringan kerja yang dilakukan BRI.
Demikian juga dengan biaya umum dan administrasi, dengan bertambahnya jumlah
jaringan dan layanan (unit kerja operasional, outlet dan e-channel) biaya umum dan
administrasi ini juga meningkat dari Rp3,72 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp4,71
triliun di tahun 2010. BRI terus menerus mengoptimalkan pengembangan, perluasan,
dan kualitas jaringan kantor cabang, KCP, unit, ATM, dan electronic delivery channel
lainnya. Sepanjang tahun 2010, BRI menambah 1 kantor wilayah, 4 kantor cabang,
36 KCP, 94 kantor kas, 111 BRI unit, 400 Teras, 2.307 ATM, dan 7.233 EDC baru.
2006 2007 2008 2009 2010
Tenaga kerja dan tunjangan 4.831 5.274 6.329 6.676 8.676
Umum dan administrasi 2.054 2.405 3.088 3.718 4.711
Provisi dan komisi lainnya 3 3 1 0 0
Kerugian dari penurunan/penjualan nilai efek & obligasi
rekap
0 46 150 0 0
Premi Program Penjaminan Pemerintah 206 267 349 424 524
Kerugian selisih kurs - bersih 5 0 0 0 0
Lain-lain 567 1.024 1.079 1.142 2.203
Total Beban Operasional Lainnya 7.666 9.020 10.997 11.960 16.114
(Rp miliar)
(Rp miliar)
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
83
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Beban Penyisihan Kerugian Penurunan
Nilai
Selama tahun 2010, jumlah beban penyisihan
penghapusan aktiva produktif mengalami
peningkatan sebesar 36,53% dari Rp5,79 triliun
pada tahun 2009 menjadi Rp7,92 triliun pada
tahun 2010. Peningkatan pembentukan beban
penyisihan tersebut antara lain untuk mengantisipasi
meningkatnya risiko kredit macet sejalan dengan
kenaikan outstanding kredit serta antisipasi dampak
dan potensi bencana alam di beberapa daerah di
Indonesia.
Beban Pajak Penghasilan
Salah satu kontribusi yang diberikan BRI kepada
pemerintah selain pemberian dividen adalah pajak.
Pajak penghasilan yang dibayarkan BRI meningkat
48,91% dari Rp2,63 triliun di tahun 2009 menjadi
sebesar Rp3,92 triliun di tahun 2010, kontribusi
pajak tersebut telah memperhitungkan manfaat
pajak tangguhan sebesar Rp486,20 miliar.
Beban Operasional Lainnya
Dalam triliun Rupiah
06 07 08 09 10
7.666
9.020
10.997
11.960
16.114
Umum dan Administrasi
Kerugian dan Penurunan atau Penjualan Nilai Efek dan Obligasi Rekap
Kerugian Selisih Kurs -Bersih
Total Beban Operasional Lainnya
Tenaga Kerja dan Tunjangan
Provisi dan Komisi Lainnya
Premi Program Penjaminan Pemerintah
Lain-Lain
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
84
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Neraca Keuangan
Di tengah kondisi makro ekonomi dan perbankan nasional yang masih dihadapkan pada beberapa tantangan, BRI
mengambil langkah cermat dalam pengelolaan asset dan liabilities sehingga mampu mempertahankan kinerja keuangan
dan tetap menekankan pada kebijakan pengembangan aktiva produktif yang berkesinambungan.
Ringkasan Neraca
2006 2007 2008 2009 2010
Rp miliar
Total Aktiva 154.725 203.735 246.077 316.947 404.286
Kas 3.459 5.041 6.750 8.139 9.976
Giro pada Bank Indonesia 14.021 31.048 9.946 12.893 19.990
Giro & Penempatan pd bank lain - netto 13.796 15.543 25.622 49.485 88.930
Surat Berharga yang dimiliki - netto 16.044 20.482 24.322 25.528 23.750
Obligasi Rekapitalisasi Pemerintah 18.445 18.223 16.352 15.027 13.626
Kredit yang Diberikan 90.283 113.973 161.108 208.123 252.489
CKPN -/- (6.718) (6.958) (8.005) (11.368) (14.103)
Penyertaan - netto 69 77 90 111,46 133,89
Asset tetap - netto 1.822 1.644 1.350 1.366 1.569
Aktiva lain-lain 3.505 4.663 8.542 7.642 7.924
Tagihan Derivatif - netto 11 24 0 143 88
Tagihan Akseptasi - netto 323 654 479 348 660
Aktiva Pajak Tangguhan 865 1.270 2.000 1.915 2.295
Aktiva lain 2.306 2.714 6.063 5.235 4.881
Total Pasiva 154.725 203.735 246.077 316.947 404.286
Kewajiban 137.847 184.297 223.720 289.690 367.612
Simpanan nasabah 124.468 165.600 201.537 255.928 333.652
Giro 27.864 37.162 39.923 50.094 77.364
Tabungan 58.308 72.300 88.077 104.463 125.990
Deposito 38.297 56.138 73.538 101.371 130.298
Kewajiban segera 2.357 3.956 5.621 4.333 4.124
Simpanan dari bank lain 1.868 1.611 3.428 4.450 5.160
Efek yang dijual dengan janji dibeli kembali 103 103 103 544 526
Pinjaman diterima 1.765 2.382 3.356 13.611 9.455
Pinjaman Subordinasi 2.231 2.140 711 2.678 2.156
Kewajiban Lainnya 5.055 8.505 8.964 8.144 12.539
Ekuitas 16.879 19.438 22.357 27.257 36.673
Modal disetor 6.143 6.159 6.163 6.165 6.167
Modal lainnya 3.296 3.301 2.869 3.258 3.383
Laba Rugi Ditahan 7.439 9.978 13.325 17.835 27.123
Posisi Keuangan
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
85
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
bencana alam, total CKPN yang dibentuk per 31
Desember 2010 adalah sebesar Rp14,12 triliun.
Jumlah ini meningkat 21,05% dari posisi Desember
2009 yang sebesar Rp11,67 triliun.
Kas dan Giro pada BI
Posisi kas per 31 Desember mengalami kenaikan
22,56% dari Rp8,14 triliun pada Desember 2009
menjadi sebesar Rp9,98 triliun pada Desember
2010. Giro pada BI juga mengalami peningkatan
55,04% dari Rp12,89 triliun pada tahun 2009
menjadi Rp19,99 triliun pada tahun 2010, kenaikan
tersebut terutama disebabkan adanya peraturan
BI mengenai kenaikan Giro Wajib Minimum, jumlah
tersebut merepresentasikan GWM untuk Rupiah
BRI yang tercatat di Bank Indonesia adalah sebesar
8,05%.
Giro dan Penempatan pada Bank Lain
Giro dan Penempatan pada bank lain mengalami
kenaikan sebesar 79,71% dari Rp49,49 triliun pada
tahun 2009 menjadi Rp88,93 triliun pada Desember
2010. Peningkatan tersebut merupakan salah satu
strategi untuk mengoptimalkan penerimaan atas
kenaikan dana pada akhir tahun.
Efek-efek
Efek-efek mengalami penurunan sebesar 6,96%
dari Rp25,53 triliun pada 31 Desember 2009
menjadi sebesar Rp23,75 triliun pada 31 Desember
2010.
Obligasi Rekap Pemerintah
Per 31 Desember 2010 BRI memiliki Obligasi Rekap
Pemerintah sebesar Rp13,63 triliun mengalami
penurunan 9,32% dari tahun 2009 yang sebesar
Rp15,03 triliun. Penurunan ini disebabkan terdapat
obligasi rekap pemerintah yang telah jatuh tempo
pada tahun 2010 sebesar Rp1,4 triliun sehingga
menyebabkan kontribusi obligasi rekap pemerintah
terhadap total asset mengalami penurunan dari
4,74% menjadi 3,40%.
Aktiva
Total aktiva BRI per 31 Desember 2010 mengalami
kenaikan sebesar 27,56% dari Rp316,95 triliun pada
Desember 2009 menjadi sebesar Rp404,29 triliun
pada Desember 2010, penyumbang terbesar dari
kenaikan aset berasal dari aktiva produktif dimana
selama 2010 mengalami peningkatan Rp80,63 triliun
dari Rp299,06 triliun pada Desember 2009 menjadi
Rp379,70 triliun pada Desember 2010.
Komposisi Aktiva Produktif pada Desember 2010
sebesar Rp379,70 triliun masih didominasi oleh
Kredit dan piutang sebesar Rp 252,49 triliun atau
66,50% dari Total Aktiva Produktif. Komposisi
obligasi rekap pemerintah sebesar 3,59% dan aktiva
produktif lainnya termasuk SBI dan efek-efek lainnya
sebesar 29,91% dari total aktiva produktif.
Mulai tahun buku 2010, yakni awal penerapan
PSAK 50 & 55 (R.2006), perhitungan pencadangan
atas aset keuangan tidak lagi menggunakan pola
PPAP berdasarkan matriks perhitungan sesuai
kolektibilitas. Perhitungan pencadangan selanjutnya
menggunakan dasar penurunan nilai (impairment)
yang diases secara individual atau secara kolektif.
Aset keuangan tersebut mengalami penurunan
nilai jika bukti obyektif menunjukkan bahwa terjadi
peristiwa merugikan setelah pengakuan awal
aset keuangan dan peristiwa merugikan tersebut
berdampak pada pembayaran debitur di masa
yang akan datang. Secara indvidu, debitur diases
kemampuan bayarnya setelah diidentikasi terdapat
bukti obyektif adanya penurunan nilai dan besarnya
nilai CKPN adalah sebesar selisih kurang dari nilai
kini estimasi jumlah pembayaran debitur terhadap
nilai tercatat pada tanggal laporan. Untuk CKPN
secara kolektif, maka untuk tahun 2010, perhitungan
masih mengacu pada ketentuan transisi yakni
menggunakan dasar kolektibilitas.
Seiring dengan pertumbuhan aktiva produktif dan
dalam beberapa kondisi terdapat bukti obyektif
adanya penurunan nilai akibat kondisi usaha debitur
yang menurun yang antara lain karena dampak dari
Komposisi Obligasi Rekap Pemerintah (Rp miliar)
Jenis Suku Bunga 2006 2007 2008 2009 2010
Suku Bunga Tetap 11.906 11.683 11.083 11.427 10.026
Suku Bunga Mengambang 6.539 6.539 5.270 3.600 3.600
Total 18.445 18.223 16.352 15.027 13.626
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
86
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Kredit
Pada tahun 2010 BRI berhasil meningkatkan jumlah
kredit dan pembiayaan syariah yang diberikan dari
Rp208,12 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp252,49
triliun pada tahun 2010 atau meningkat 21,32%.
Sebagai bank yang memiliki fokus bisnis pada Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), BRI memiliki
proporsi Kredit kepada UMKM yang dominan yaitu
82,24% dari total portofolio kredit. Sisanya sebesar
17,76% disalurkan pada sektor korporasi yang
meliputi BUMN maupun diluar BUMN. Peningkatan
penyaluran kredit terbesar berasal dari penyaluran
kredit mikro yang tumbuh sebesar 39,78%.
Berbeda dengan tahun 2009 (sesuai PSAK 31)
dimana kredit dicatat sebesar harga pokoknya, maka
di tahun 2010, pencatatan kredit harus mengikuti
PSAK 50/55 (Revisi 2006). Dalam hal ini, Kredit Yang
Diberikan pada awalnya diukur pada nilai wajar yaitu
sebesar harga transaksi dan selanjutnya dicatat
sebesar nilai tercatat (amortised cost) yakni sisa
pokok setelah diperhitungkan dengan amortisasi
atas Provisi dan Biaya Transaksi (beban BRI) selama
biaya transaksi tersebut dapat diatribusikan secara
langsung dan merupakan biaya tambahan untuk
merealisasi kredit tersebut. Amortisasi tersebut
menggunakan metode suku bunga efektif (effective
interest rate).
Kualitas Kredit
Kredit BRI dengan kualitas lancar meningkat 22,91%
dari Rp189,53 triliun pada Desember 2009 menjadi
Rp232,95 triliun pada Desember 2010. Kredit
dengan kolektibilitas Dalam Perhatian Khusus sedikit
meningkat dari Rp11,08 triliun pada Desember 2009
menjadi Rp12,32 triliun pada Desember 2010.
Sedangkan non performing loan gross (NPL gross)
BRI mengalami perbaikan, yaitu dari sebesar Rp7,31
triliun pada Desember 2009 menjadi Rp7,04 triliun
pada Desember 2010, sehingga rasio NPL gross
BRI pada Desember 2010 menjadi sebesar 2,79%
membaik dari tahun 2009 yang sebesar 3,51%.
Perbaikan kualitas kredit tersebut didukung oleh
perbaikan NPL di segmen mikro yang turun dari
1,40% pada Desember 2009 menjadi 1,22%
pada Desember 2010, NPL menengah mengalami
perbaikan dari sebesar 12,31% menjadi 6,84%
Kredit yang diberikan
Dalam miliar Rupiah
dan NPL korporasi turun dari 4,38% menjadi
2,43%. Sedangkan NPL ritel sedikit meningkat dari
3,02% pada Desember 2009 menjadi 3,45% pada
Desember 2010.
NPL nett juga mengalami perbaikan dari 1,08% pada
Desember 2009 menjadi 0,74% pada Desember
2010.
Penghapusbukuan Kredit
Pada tahun 2010, BRI menghapusbukukan kredit
yang diberikan sebesar Rp4,96 triliun dan menerima
kembali kredit yang telah dihapusbukukan sebesar
Rp1,14 triliun. Peningkatan penghapusbukuan di
tahun 2010 antara lain disebabkan kredit macet
pada segmen ritel akibat faktor bencana alam yang
terjadi di beberapa wilayah di Indonesia dan segmen
menengah akibat krisis ekonomi global.
06 07 08 09 10
90.283
11.999
19.809
30.800
38.295
44.850
7.424
8.352
12.453
14.908
13.957
43.576
53.210
75.099
100.843
118.097
27.284
32.602 42.756 54.076 75.585
113.973
161.108
208.120
252.490
Total Mikro Ritel Menengah Korporasi
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
87
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Penghapusbukuan Kredit
2009 2010
(Rp miliar)
Penghapusbukuan kredit 2.506,10 4.964,08
Penerimaan kembali kredit yang telah dihapusbuku 771,74 1.136,73
Penyertaan Saham
Penyertaan Saham BRI per 31 Desember 2010 (nett) adalah sebesar Rp133,89
miliar, meningkat 20,12% dari Desember 2009 yang sebesar Rp111,46
miliar.Peningkatan ini disebabkan adanya keuntungan dari penyertaan yang
ditanamkan kembali sebagai penyertaan pada perusahaan tersebut.
Rincian penyertaan yang telah dimiliki BRI per 31 Desember 2010 adalah
sebagai berikut:
a. PT.BTMU-BRI Finance (dahulu PT UFJ BRI Finance) : Rp134,13 miliar
b. PT.Kustodian Sentral Efek Indonesia : Rp900 juta
c. PT.Sarana Bersama Pembiayaan Indonesia : Rp536 juta
d. PT.Pemeringkat Efek Indonesia : Rp210 juta
Aktiva Tetap dan Belanja Modal
Seiring dengan ekspansi jaringan kerja BRI, terdapat kenaikan investasi aktiva
tetap di tahun 2010. Posisi aktiva tetap tercatat sebesar Rp5,41 triliun, naik
9,30% dari tahun 2009 yang sebesar Rp4,95 triliun.
Aktiva Tetap
2006 2007 2008 2009 2010
(Rp miliar)
Tanah & Bangunan 1.223 1.340 1.436 1.582 1.811
Meubelair & Inventaris 528 627 635 665 754
Kendaraan 255 306 500 536 550
Komputer dan perangkat lunak 1.939 1.884 2.025 2.159 2.289
Leasing 384 328 59 3 1
Total 4.330 4.486 4.655 4.945 5.405
Aktiva Lain-Lain
Pada 31 Desember 2010, aktiva lain-lain tercatat sebesar Rp7,92 triliun
meningkat 3,69% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp7,64 triliun. Pos
ini terdiri dari tagihan derivatif, tagihan akseptasi, aktiva pajak tangguhan dan
aktiva lainnya.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
88
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Kewajiban
Posisi kewajiban BRI per 31 Desember 2010
mengalami kenaikan 26,90% dari Rp289,69 triliun
pada Desember 2009 menjadi Rp367,61 triliun.
Penyumbang terbesar kenaikan pos kewajiban
(liabilities) berasal dari pos Dana Pihak Ketiga yang
mengalami peningkatan 30,37% dibanding tahun
2009. Kenaikan yang signikan ini merupakan bukti
keberhasilan strategi pemasaran BRI, semakin
luasnya jaringan kerja BRI, serta meningkatnya
kepercayaan masyarakat dan investor kepada BRI.
Dana Pihak Ketiga (DPK)
DPK merupakan dana yang dihimpun dari pihak
ketiga dalam bentuk giro, tabungan dan deposito
termasuk produk syariah seperti Giro wadiah,
Tabungan Mudharabah, dan Deposito Berjangka
Mudharabah.
Pada tahun 2010 BRI berhasil meningkatkan DPK
secara signikan yaitu dari Rp255,93 triliun pada
tahun 2009 menjadi sebesar Rp333,65 triliun atau
naik 30,37% dengan perbandingan komposisi dana
murah dan dana mahal yang terjaga pada level 61%:
39%. Kontribusi DPK terhadap total kewajiban BRI
mencapai 90,76%.
Posisi tabungan pada Desember 2010 mencapai
sebesar Rp125,99 triliun, naik 20,61% dari tahun
2009 yang tercatat sebesar Rp104,46 triliun.
Komposisi tabungan terhadap total Dana Pihak
Ketiga mencapai 37,76%. Peningkatan posisi
tabungan ini merupakan dampak dari keberhasilan
sejumlah program promosi tabungan serta
semakin beragam dan berkembangnya tur-tur
produk tabungan yang menarik masyarakat untuk
menabung di Bank BRI.
Deposito pada posisi 2010 tercatat sebesar
Rp130,30 triliun, mengalami kenaikan 28,54%
dibanding tahun 2009 yang sebesar Rp101,37
triliun. Peningkatan Deposito antara lain berasal
dari beberapa institusi pemerintah dan perusahaan
asuransi.
Giro BRI mengalami pertumbuhan tertinggi
dibanding dengan komponen DPK lainnya. Pada
tahun 2010 Giro naik 54,44% dari Rp50,09 triliun
pada Desember 2009 menjadi Rp77,36 triliun pada
Desember 2010. Pertumbuhan tersebut antara
lain disebabkan karena keberhasilan BRI dalam
menjalin kerjasama dengan institusi pemerintah
maupun swasta serta masuknya dana Treasury
Single Account (TSA) pada akhir tahun 2010 yang
merupakan salah satu cara optimalisasi peran BRI
dalam pelaksanaan TSA.
Kewajiban Segera
Pos ini merupakan kewajiban BRI kepada pihak
lain yang harus segera dibayarkan sesuai perintah
pemberi amanat perjanjian yang telah ditetapkan
sebelumnya. Beberapa transaksi yang masuk ke
dalam pos ini adalah titipan pengiriman uang, titipan
setoran pajak, titipan ATM dan kartu kredit, titipan
setoran kliring dan titipan advance payment.
Per 31 Desember 2010, BRI mencatat kewajiban
segera sebesar Rp4,12 triliun, turun 4,84% dibanding
posisi Desember 2009 yang sebesar Rp4,33 triliun.
Simpanan dari bank lain dan lembaga lainnya
Simpanan dari bank lain dan lembaga lainnya terdiri
dari giro, tabungan, deposito, interbank call money
maupun deposit on call. Pos ini digunakan untuk
transaksi antar bank dalam rangka operasional
dan manajemen likuiditas. Posisi simpanan dari
bank lain dan lembaga lainnya pada tahun 2010
Dana Pihak Ketiga BRI
Dalam miliar Rupiah
06 07 08 09 10
124.469
36.297
56.136
73.538
101.351
130.296
58.306
72.300
88.077
104.463
125.990
27.864
37.162 39.923 50.094 77.364
165.600
201.537
255.928
333.652
Total DPK Giro Tabungan Deposito
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
89
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
peningkatan cadangan jasa produksi (bonus),
seiring dengan peningkatan jumlah SDM di BRI.
Ekuitas
Total ekuitas mengalami peningkatan 34,54% dari
Rp27,26 triliun pada Desember 2009 menjadi
Rp36,67 triliun pada Desember 2010.
Kenaikan ini terutama disebabkan kenaikan saldo
laba dari Rp17,83 triliun menjadi Rp27,12 triliun
pada 31 Desember 2010 karena adanya penurunan
dividen payout ratio untuk tahun buku 2009 menjadi
sebesar 30%. Secara rinci, pembagian laba bersih
tahun buku 2009 yang dilaksanakan di tahun 2010
adalah 30% untuk pembayaran dividen, 13%
untuk cadangan umum dan 3% untuk dana PKBL
(Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) serta
sisanya 54% untuk memperkuat modal BRI.
tercatat sebesar Rp5,16 triliun, meningkat Rp710,41
miliar dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar
Rp4,45 triliun.
Pinjaman yang diterima
Pinjaman yang diterima antara lain digunakan untuk
membiayai kegiatan umum BRI dan kebutuhan
trade nance. Pos ini terdiri atas pinjaman dari Bank
Indonesia (pinjaman likuiditas dan pinjaman untuk
investasi aktiva tetap), pinjaman dari pemerintah
Republik Indonesia, pinjaman bilateral dan pinjaman
lainnya. Total pinjaman yang diterima pada 31
Desember 2010 tercatat sebesar Rp9,46 triliun
mengalami penurunan Rp4,16 triliun dibanding
posisi 31 Desember 2009 yang sebesar Rp13,61
triliun. Penurunan pinjaman diterima terutama
disebabkan karena penurunan pinjaman bankers
acceptance dan karena jatuh temponya pinjaman
bilateral yang digunakan untuk membiayai kegiatan
umum BRI dan kebutuhan trade nance.
Pinjaman Subordinasi
Pada 31 Desember 2010, pinjaman Subordinasi
BRI terdiri dari Obligasi Subordinasi II sebesar
Rp2 triliun dan pinjaman subordinasi lainnya
sebesar Rp155,21 miliar. BRI menerbitkan Obligasi
Subordinasi II yang terdaftar di BEI pada tanggal
22 Desember 2009 dengan jangka waktu 5 tahun
dan bunga tetap sebesar 10,95%. Penerimaan
bersih dari penerbitan obligasi tersebut seluruhnya
akan diperlakukan sebagai modal pelengkap (tier II
capital) sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia
yang akan dimanfaatkan seluruhnya untuk ekspansi
kredit sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Jika
dibandingkan dengan tahun 2009, pinjaman
subordinasi mengalami penurunan sebesar
Rp522,24 miliar yang disebabkan BRI melakukan
buy back atas Obligasi Subordinasi I senilai Rp500
miliar pada tanggal 9 Januari 2010 dan juga terdapat
pembayaran cicilan atas pinjaman Two Step Loan
selama tahun 2010.
Kewajiban Lainnya
Kewajiban ini antara lain terdiri dari kewajiban
derivatif dan kewajiban akseptasi. Per 31 Desember
2010 kewajiban lainnya tercatat sebesar Rp12,54
triliun atau meningkat 53,97% dibandingkan
tahun sebelumnya yang sebesar Rp8,14 triliun.
Peningkatan ini antara lain disebabkan karena
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
90
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Informasi Arus Kas
Jumlah kas dan setara kas pada akhir tahun 2010
tercatat sebesar Rp118,89 triliun, meningkat 45,57%
dari Rp81,67 triliun pada tahun 2009. Selama tahun
2010 BRI mencatat penambahan kas dari kegiatan
operasional sebesar Rp46,52 triliun, pengeluaran
kas bersih untuk kegiatan investasi Rp2,19 triliun
dan kas bersih yang digunakan untuk kegiatan
pendanaan sebesar Rp7,07 triliun.
ARUS KAS
2009 2010
(Rp miliar)
Kas Bersih yang Diperoleh
dari Kegiatan Operasi
20.774 46.518
Kas Bersih yang Digunakan
untuk Kegiatan Investasi
(637) (2.192)
Kas Bersih yang
(Digunakan unuk) Diperoleh
dari Kegiatan Pendanaan
9.376 (7.068)
Arus Kas dari Kegiatan Operasi
Arus kas bersih yang diperoleh dari kegiatan operasi
adalah sebesar Rp46,52 triliun. Arus kas tersebut
berasal dari penerimaan bunga, hasil investasi,
provisi dan komisi serta pendapatan syariah sebesar
Rp46,64 triliun. Arus kas bersih juga berasal dari
kenaikan kewajiban operasi BRI dan BRI Syariah
yaitu kenaikan giro, tabungan dan deposito
berjangka, masing-masing sebesar Rp27,27 triliun,
Rp21,53 triliun dan Rp28,93 triliun.
Arus kas keluar untuk kegiatan operasi berasal dari
pembayaran bunga, beban syariah dan pembiayaan
lainnya sebesar Rp11,72 triliun, beban operasional
lainnya Rp25,25 triliun serta kenaikan pada asset
operasi BRI seperti penempatan pada BI dan bank
lain sebesar Rp816,71 miliar serta jumlah kredit
dan pembiayaan syariah yang diberikan sejumlah
Rp44,37 triliun.
Pada tahun 2009, arus kas bersih yang diperoleh
dari kegiatan operasi sebesar Rp20,77 triliun,
arus kas keluar berasal dari pembayaran bunga,
beban syariah dan pembiayaan lainnya sebesar
Rp12,30 triliun, beban operasional lainnya Rp17,45
triliun serta kenaikan serta jumlah kredit, piutang
dan pembiayaan syariah yang diberikan sejumlah
Rp47,01 triliun.
Arus Kas dari Kegiatan Investasi
Arus kas bersih yang digunakan untuk kegiatan
investasi di tahun 2010 sebesar Rp2,19 triliun
digunakan untuk memperoleh aktiva tetap.
Sementara di tahun 2009, arus kas bersih yang
digunakan untuk kegiatan investasi sebesar
Rp637,40 miliar digunakan untuk investasi
aktiva tetap serta penambahan efek dan obligasi
pemerintah.
Arus Kas dari Kegiatan Pendanaan
Selama tahun 2010, arus kas bersih yang digunakan
untuk kegiatan pendanaan adalah Rp7,07 triliun,
yang digunakan untuk pembayaran pinjaman yang
diterima sebesar Rp4,16 triliun serta pembagian
laba untuk dividen dan Program Kemitraan dan Bina
Lingkungan (PKBL) total Rp2,41 triliun.
Sedangkan di tahun 2009, arus kas bersih dari
kegiatan pendanaan sebesar Rp9,38 triliun, yang
berasal dari penerimaan pinjaman yang diterima
sebesar Rp10,25 triliun serta penerimaan pinjaman
subordinasi Rp1,97 triliun. Sedangkan arus kas
keluar untuk kegiatan pendanaan adalah pembagian
laba & PKBL sebesar Rp2,80 triliun.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
91
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Rasio Keuangan yang Berkaitan dengan Transparansi
URAIAN 2009 2010
Rasio Kinerja
1. Kewajiban Penyedian Modal Minimum (KPMM) 13,20% 13,76%
2. Aset produktif bermasalah dan aset non produktif bermasalah terhadap
total aset produktif dan aset non produktif
2,59% 2,19%
3. Aset produktif bermasalah terhadap total aset produktif 2,68% 2,24%
4. Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) aset keuangan terhadap aset
produktif
4,29% 4,58%
5. NPL gross 3,52% 2,78%
6. NPL net 1,08% 0,74%
7. Return on Asset (ROA) 3,73% 4,64%
8. Return on Equity (ROE) 35,22% 43,83%
9. Net Interset Margin (NIM) 9,14% 10,77%
10. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) 77,66% 70,86%
11. Loan to Deposit Ratio (LDR) 80,88% 75,17%
Kepatuhan (Complience)
1. a. Persentase pelanggaran BMPK
i. Pihak terkait 0,00% 0,00%
ii. Pihak tidak terkait 0,00% 0,00%
b. Persentase pelampauan BMPK
i. Pihak terkait 0,00% 0,00%
ii. Pihak tidak terkait 0,00% 0,00%
2. Giro Wajib Minimum
a. GWM Utama Rupiah 5,90% 8,05%
b. GWM Valuta Asing 1,00% 1,00%
3. Posisi Devisa Neto (PDN) secara keseluruhan 5,22% 4,45%
Kecukupan Modal
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 10/15/PBI/2008 tanggal 24 September
2008, Bank wajib menghitung rasio Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum/
Capital Adequacy Ratio (CAR) dengan memperhitungkan risiko kredit, pasar dan
operasional. CAR BRI untuk risiko kredit dan pasar adalah sebesar 15,71% di tahun
2010, mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 13,20%
Peningkatan ini disebabkan karena kebijakan manajemen BRI yang cermat dalam
pengelolaan modal dan kebijakan dalam melakukan ekspansi kredit yang diberikan
kepada kredit yang memiliki bobot risiko rendah. Sedangkan CAR untuk risiko kredit,
pasar dan operasional pada Desember 2010 tercatat sebesar 13,76%.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
92
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Posisi kecukupan modal BRI dapat dilihat dalam
tabel berikut :
URAIAN
2006 2007 2008 2009 2010
Rp miliar
Modal Inti 13.104 15.448 17.796 20.846 27.673
Modal Pelengkap 1.881 1.819 1.945 1.993 4.037
Penyertaan 70 209 553 - -
Total Modal Tersedia 14.915 17.059 19.188 22.839 31.711
Total ATMR kredit dan pasar 79.261 107.711 145.581 171.737 201.883
Total ATMR kredit dan operasional - 27.131
Total ATMR kredit, pasar dan operasional 1.331 1.433
Rasio Kecukupan Modal untuk risiko kredit dan risiko pasar 18,82% 15,84% 13,18% 13,20% 15,71%
Rasio Kecukupan Modal untuk risiko kredit dan risiko
operasional
13,85%
Rasio Kecukupan Modal untuk risiko kredit, risiko pasar dan
ririko operasional
13,76%
Imbal Hasil
Imbal hasil terhadap ekuitas (Return on Equity)
yang merupakan cerminan dari imbal hasil kepada
pemegang saham mengalami peningkatan dari
35,22% pada tahun 2009 menjadi 43,83% pada
tahun 2010. Imbal hasil terhadap aktiva sebelum
pajak (Return on Asset before tax) mengalami
kenaikan dari 3,73% pada Desember 2009 menjadi
sebesar 4,64% pada Desember 2010. Kedua rasio
tersebut masih diatas rata-rata industri, yang pada
tahun 2009 dan 2010 masing-masing tercatat
sebesar 2,60% dan 2,86%.
Giro Wajib Minimum
Berdasarkan kebijakan Bank Indonesia, Bank BRI
wajib memelihara Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah
dan GWM valas. Pada Desember 2010 posisi GWM
rupiah BRI adalah sebesar 8,05% dan posisi GWM
valas sebesar 1%.
Posisi Devisa Neto
Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia, Posisi
Devisa Neto (PDN) secara keseluruhan merupakan
penjumlahan nilai absolut atas selisih bersih aktiva
dan kewajiban dan selisih bersih atas tagihan dan
kewajiban rekening administratif dari masing-masing
mata uang asing yang dinyatakan dalam mata uang
Rupiah.
Pada tanggal 1 Juli 2010, Bank Indonesia
mengeluarkan peraturan No. 12/10/PBI/2010
tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Bank
Indonesia No. 5/13/PBI/2003 tentang Posisi Devisa
Neto Bank Umum. Berdasarkan peraturan tersebut,
BRI wajib memelihara Posisi Devisa Neto secara
keseluruhan setinggi-tingginya 20% dari modal.
Pada tahun 2010, rasio PDN BRI adalah sebesar
4,45%, lebih rendah dibanding rasio PDN pada
tahun 2009 yang sebesar 5,22%.
Pada tanggal 31 Desember 2010, BRI telah
memenuhi seluruh rasio wajib (statutory ratio)
yang ditentukan oleh Bank Indonesia maupun oleh
perundang-undangan dan peraturan yang berlaku.
Selain itu, sebagian besar dari rasio-rasio keuangan
penting yang disajikan dalam tabel di atas,
menunjukkan landasan atau fundamental keuangan
Bank BRI yang kokoh, kinerja Bank BRI yang patut
dibanggakan, dan fungsi intermediasi perbankan
yang benar-benar dilakukan oleh Bank BRI secara
professional, transparan dan bertanggung jawab.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
93
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Kebijakan Pembayaran Dividen
Besarnya dividen yang dibayarkan setiap tahunnya diputuskan oleh Rapat Umum
Pemegang Saham BRI. Pada tanggal 23 Juli 2004, BRI membagikan dividen untuk
pertama kalinya yaitu sebesar Rp990,47 miliar atau Rp84,19 per lembar saham dengan
rasio pembayaran (dividend pay out ratio) dividen sebesar 75,01%. Untuk Tahun Buku
2009, BRI telah membayarkan dividen sebesar Rp2,19 triliun atau Rp132,08 per lembar
saham pada tanggal 1 Juli 2010 dengan dividend pay out ratio sebesar 30%. Hal ini
menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun, besarnya dividend pay out ratio yang dibayarkan
BRI mengalami penurunan. Dengan semakin menurunnya dividend pay out ratio yang harus
dibayarkan, BRI dapat lebih ekspansif dalam mengembangkan bisnisnya.
Tahun
Dividen
Laba Bersih
(Rp Miliar)
Dividen
(Rp miliar)
Dividen per
Lembar Saham
(Rp)
Rasio
Pembayaran
Dividen (%)
Tanggal
Pembayaran
2003 2.579 990,47 84,19 75,01 23 Juli 2004
2004 3.633 1.816,61 152,93 50,00 5 Juli 2005
2005 3.608 1.904,29 156,18 50,00 10 Juli 2006
2006 4.257 2.128,78 173,04 50,00 2 Juli 2007
2007 4.838 2.419,00 196,34 50,00 7 Juli 2008
2008 5.958 2.085,43 168,82 35,00 3 Juli 2009
2009 7.308 2.192,48 132,08 30,00 1 Juli 2010
Kejadian Luar Biasa
Tidak terdapat informasi keuangan yang telah dilaporkan yang mengandung kejadian
bersifat luar biasa dan jarang terjadi selama tahun 2010.
Informasi Mengenai Investasi/Divestasi
BRI melakukan tambahan penyertaan modal sebesar Rp500 miliar ke BRISyariah (Anak
Perusahaan) untuk mendukung ekspansi usahanya pada bulan September 2010.
Penggunaan Dana Initial Public Offering (IPO)
Sampai dengan akhir Desember 2009, seluruh dana hasi IPO tersebut telah dimanfaatkan
sesuai rencana penggunaan dana dengan rincian sebagai berikut:
No Rencana Penggunaan
Anggaran
Penggunaan
Realisasi
Penggunaan
Pencapaian
Rp miliar
1.
Up-grade sistem pelaporan
informasi dan penerapan sistem
perbankan inti (60%)
883,27 883,27 100%
2.
Memperluas jaringan kantor
cabang dan unit (30%)
147,21 147,21 100%
3.
Mendanai pertumbuhan,
penelitian, dan pengembangan,
pemberian kredit dan
pembiayaan lainnya (10%)
441,63 441,63 100%
TOTAL 3.982 3.982 100%
Informasi Keuangan Lainnya
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
94
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Penggunaan Dana Penerbitan Obligasi Sub Ordinasi Rupiah II
Pada tanggal 22 Desember 2009, BRI telah menerbitkan Obligasi Subordinasi II Bank
BRI Tahun 2009 sebesar Rp2 triliun, dengan jangka waktu 5 tahun dan suku bunga tetap
10,95%. Sesuai dengan Prospektus penerbitan Obligasi Subordinasi tersebut, maka dana
yang diperoleh dari penerbitan obligasi tersebut seluruhnya akan diperlakukan sebagai
modal pelengkap sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia yang akan dimanfaatkan
seluruhnya untuk ekspansi kredit sesuai dengan prinsip kehati-hatian.
BRI telah mempergunakan seluruh dana Obligasi Subordinasi II Bank BRI Tahun 2009
untuk ekspansi kredit. Hal ini berdasarkan data posisi 31 Maret 2010, jumlah total
penyaluran kredit BRI telah mencapai Rp208.691.268.354.650, dan bila dibandingkan
dengan pencapaian realisasi kredit Desember 2009 maka pertumbuhan kredit BRI telah
melebihi jumlah penerbitan Obligasi Subordinasi II Bank BRI Tahun 2009 yakni sebesar
Rp3.168.874.741.123.51.
Prospek Usaha
Sejalan dengan pemulihan ekonomi global, pertumbuhan PDB Indonsia yang mencapai 6.1%
diproyeksikan akan terus menguat di tahun 2011. Indikator-indikator makro ekonomi lainnya seperti
inasi, nilai tukar, cadangan devisa juga menunjukkan perkembangan positif. BI memproyeksikan
pertumbuhan kredit dapat mencapai 24% pada tahun 2011. Berbagai hal tersebut secara umum
mencerminkan semakin membaiknya prospek usaha BRI di masa yang akan datang, mengingat
model bisnis BRI yang fokus pada pembiayaan UMKM sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan
perekonomian nasional.
Aspek Pemasaran
Untuk terus meningkatkan pangsa pasar, BRI melakukan berbagai upaya baik dari sisi penyediaan
infrastrukturseperti pembukaan unit kerja baru, penambahan SDM khususnya dibidang
pemasaranseperti perekrutan account ofcer, funding ofcer, mantri BRI Unit, dan peningkatan
kualitas layanan dan produk.
Komunikasi pemasaran untuk setiap produk dan jasa dilakukan untuk meningkatkan corporate
image dan brand awarness serta dilakukan secara terintegrasi, seperti Untung Beliung Britama dan
Pesta Rakyat Simpedes. Uraian lebih lengkap mengenai komunikasi pemasaran dapat dilihat pada
Bab Tinjauan Usaha bagian Bisnis KonsumerMarketing Communication, Hal 111.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
95
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Kejadian Sesudah Tanggal
Laporan Keuangan
Pemecahan Nilai Nominal Saham
Menindaklanjuti amanat pemegang saham BRI pada Rapat Umum Pemegang Saham
Luar Biasa yang dilaksanakan pada tanggal 24 November 2010, maka pada tanggal
11 Januari 2011, BRI telah melaksanakan pemecahan nilai nominal saham (stock split)
dengan perbandingan 1:2 sehingga 1 lembar saham yang semula bernilai nominal
Rp500,- dipecah menjadi 2 lembar saham dengan nilai nominal masing-masing
Rp250,-.
Pemecahan nilai nominal saham ini tidak mengakibatkan perubahan pada nilai saham
yang ditempatkan dan disetorkan penuh BRI, sehingga total saham yang ditempatkan
dan disetorkan penuh BRI adalah:
Keterangan
Sebelum Stock Split Sesudah Stock Split
Jumlah Nominal Jumlah Nominal
Negara Republik Indonesia 7.000.000.000 3.500.000.000.000 14.000.000.000 3.500.000.000.000
Saham Seri A Dwiwarna 1 500 1 250
Saham Seri B 6.999.999.999 3.499.999.999.500 13.999.999.999 3.499.999.999.750
Masyarakat 5.334.581.000 2.667.290.500.000 10.669.162.000 2.667.290.500.000
Saham Seri B 5.334.581.000 2.667.290.500.000 10.669.162.000 2.667.290.500.000
Saham dalam Portepel 17.664.419.000 8.832.709.500.000 35.330.838.000 8.832.709.500.000
Total 30.000.0000 15.000.000.000.000 60.000.000.000 15.000.000.000.000
Tujuan Pemecahan Nilai Nominal Saham adalah untuk meningkatkan likuiditas
perdagangan saham dan memperluas penyebaran kepemilikan serta distribusi saham
Perseroan di Bursa Efek Indonesia.
Akuisisi Bank Agro
Pada tanggal 3 Maret 2011, telah dilakukan penandatanganan akta akuisisi saham
PT Bank Agroniaga Tbk. (Bank Agro) antara BRI dengan Dana Pensiun Perkebunan
(Dapenbun) atas 3.030.239.023 saham Bank Agro atau 88,65% dari seluruh modal
yang telah ditempatkan dan disetor penuh sesuai dengan Akta Pernyataan Keputusan
Rapat Bank Agro No. 38 tanggal 29 Desember 2009 yang ditandatangani dihadapan
Notaris Rusnaldy, SH di Jakarta dengan harga Rp 109 per saham. Sejak tanggal 3
Maret 2011 tersebut, BRI secara efektif telah menjadi Pemegang Saham Pengendali
Bank Agro. Pembelian saham Bank Agro sebesar 3.030.239.023 saham dilakukan
dengan mempertimbangkan pelaksanaan Waran Seri I, pengalihan kembali saham
Bank Agro terkait pelaksanaan penawaran tender dan pemenuhan persentase minimal
kepemilikan saham publik. Sehingga apabila keseluruhan proses akuisisi saham Bank
Agro telah selesai, maka kepemilikan BRI minimal akan menjadi 76%, Dapenbun 14%
dan masyarakat 10%.
BRI juga telah melakukan pra-notikasi kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha
pada tanggal 3 Oktober 2010. Hal ini untuk memenuhi ketentuan PP No. 57 Tahun
2010 mengenai Penggabungan/Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
96
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktek Monopoli Dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat dan KPPU telah memberikan rekomendasi bahwa tindakan
pengambilalihan ini tidak akan menimbulkan monopoli di industri Perbankan.
Penandatanganan akta akuisisi ini, merupakan kelanjutan dari penandatanganan Perjanjian
Pengikatan Jual Beli (PPJB) saham Bank Agro antara BRI dan Dapenbun yang telah
dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 2010 dan tindak lanjut dari keputusan pemegang
saham BRI pada RUPSLB tanggal 24 November 2010. Bank Indonesia telah menyetujui
proses akuisisi ini melalui surat Bank Indonesia tanggal 16 Februari 2011.
Dengan melihat potensi pertumbuhan sektor agribisnis masih sangat besar di Indonesia,
BRI meyakini bahwa pengambilalihan Bank Agro dapat menciptakan sinergi yang
berujung pada peningkatan shareholders value. Pengambilalihan Bank Agro dimaksudkan
untuk memperkuat posisi BRI di sektor agribisnis. Fokus bisnis Bank Agro di sektor
agribisnis dan dukungan para stakeholders Bank Agro diharapkan mampu mempercepat
penetrasi Bank BRI ke sektor Agribisnis. Hal ini sebagai bukti keberpihakan BRI pada
pengembangan sektor pertanian dalam arti luas yang pada gilirannya akan memperkuat
posisi BRI di segmen UMKM khususnya sektor ekonomi pertanian.

Bank BRI selaku pemegang saham pengendali akan mengarahkan Bank Agro menjadi
bank komersial terkemuka yang fokus pada sektor pertanian dalam mendukung
pengembangan agribisnis di Indonesia. Bank Agro pasca akuisisi diupayakan mampu
menyediakan produk dan jasa perbankan pada seluruh lapisan masyarakat dan
pembiayaan akan difokuskan pada segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM) khususnya
sektor agribisnis. Arah pengembangan Bank Agro pasca akuisisi tidak dapat dilepaskan
dari arah pengembangan Bank BRI secara keseluruhan.
Dalam pelaksanaan akusisi ini, BRI selalu mengikuti seluruh ketentuan yang terdapat
dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam rangka memenuhi Peraturan
Bapepam-LK No. IX.H.1, Peraturan Bapepam-LK No. IX.F.1 dan Peraturan Bapepam-LK
No. IX.F.2, maka BRI akan melaksanakan Penawaran Tender (Tender offer) atas saham
Bank Agro yang dimiliki oleh para pemegang saham lainnya yang berhak.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
97
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
98
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Dalam rangka meningkatkan brand awareness di segmen
ritel dan menengah, BRI terus membuka Kantor Cabang,
Kantor Cabang Pembantu dan Kantor Kas di pusat-pusat
perekonomian di seluruh Indonesia sehingga BRI menjadi
semakin dekat dengan pelaku bisnis usaha kecil dan
menengah.
Sebagai upaya memenuhi kebutuhan dan aspirasi nasabah,
BRI secara aktif mengadakan business gathering dengan
beberapa asosiasi dan komunitas bisnis. BRI juga secara
berkala melakukan kegiatan akuisisi nasabah melalui
berbagai event dan pameran. Selain itu, BRI melakukan
kampanye yang bersifat masal melalui media komunikasi,
antara lain dalam bentuk brosur/flyer, x-banner, spanduk,
iklan advertorial, iklan display, print ad dan expomatic.
Seluruh kegiatan ini ditujukan agar nasabah dan calon
nasabah semakin mengenal produk dan jasa BRI.
Pengembangan produk dan fitur produk bisnis UMKM
yang ditawarkan BRI senantiasa disesuaikan dengan
kebutuhan bisnis nasabah. Hal ini ditujukan agar produk
dan jasa bisnis UMKM BRI tetap kompetitif serta memiliki
keunggulan dibandingkan dengan produk pesaing.
Selain pengembangan fitur produk, BRI selalu melakukan
pemantauan dan evaluasi terhadap produk unggulan
yang telah ada baik produk pinjaman seperti Kupedes,
kredit Briguna, kredit program, kredit ritel dan menengah
maupun produk simpanan seperti Simpedes, sehingga
kualitas produk-produk tersebut tetap terjaga.
Disamping fokus pada pengembangan bisnis UMKM, BRI
ditunjuk oleh Pemerintah sebagai salah satu bank untuk
menyalurkan kredit Program. Penunjukkan ini didasari oleh
pengalaman dan kemampuan BRI dalam menyalurkan
pinjaman di segmen mikro dan kecil dengan didukung
oleh jaringan kerja yang luas. BRI berkeyakinan bahwa
dengan berpartisipasi dalam penyaluran kredit program,
akan memberikan keuntungan antara lain: pertama,
melalui penyaluran kredit program, BRI akan memperoleh
pendapatan bunga kredit dan fee-based income atas
penyaluran kredit kelolaan; kedua, BRI dapat berfungsi
sebagai inkubator untuk mentransformasikan nasabah
kredit program menjadi nasabah kredit komersial.
BISNIS MIKRO, KECIL DAN MENENGAH
Sejak berdiri, BRI memiliki komitmen untuk
mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah
(UMKM) yang merupakan fokus bisnis BRI. Komitmen
tersebut diwujudkan dengan menyalurkan sebagian besar
portofolio pinjaman ke segmen UMKM serta menjaga
portofolio pinjaman ke segmen korporasi maksimal
sebesar 20%.
Strategi bisnis BRI di segmen UMKM adalah dengan
terus-menerus memperluas jangkauan pelayanan ke
seluruh pelosok Indonesia sekaligus melakukan penetrasi
yang lebih dalam ke daerah padat penduduk agar dapat
melayani hingga grass-root customers.
Optimalisasi pelayanan dan pengembangan bisnis serta
pembiayaan usaha mikro dilakukan melalui 4.649 BRI Unit
dan 617 Teras BRI yang jumlahnya akan terus bertambah
dan tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Sedangkan,
pembiayaan usaha kecil dan menengah dilayani melalui
Kantor Wilayah, Kantor Cabang, dan Kantor Cabang
Pembantu.
Segmen usaha mikro merupakan pilar perekonomian
nasional Indonesia. Segmen usaha ini terbukti lebih
resisten terhadap krisis atau gejolak ekonomi global
dibandingkan sektor lainnya. Hal ini merupakan salah satu
alasan bagi BRI untuk menjadikan segmen mikro sebagai
salah satu core business. Melalui pengembangan segmen
mikro tersebut, BRI diharapkan dapat berperan aktif
dalam menopang perekonomian nasional meskipun krisis
ekonomi global masih belum selesai.
Bisnis UMKM tidak semata-mata hanya
mempertimbangkan perolehan pendapatan bunga kredit
namun juga mempertimbangkan potensi perolehan fee-
based income yang bersumber dari produk dan jasa BRI.
Sebagai contoh, seiring dengan meningkatnya penyaluran
kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan
kredit bagi nasabah berpenghasilan tetap, perolehan fee-
based income juga mengalami peningkatan.
BRI terus berupaya mempertahankan posisinya sebagai
market leader di bisnis mikro yang diakui prestasinya di
tingkat internasional. Untuk mempertahankan posisinya,
BRI terus melakukan pengembangan dan inovasi produk
bisnis mikro serta melakukan ekspansi usaha melalui
pembukaan unit kerja baru yaitu BRI Unit dan Teras BRI,
yang didukung pula dengan keberadaan Teras Keliling.
Tinjauan Usaha
Bisnis Mikro, Kecil dan Menengah
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
99
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Produk & Kinerja Bisnis UMKM
Produk Kredit
Kupedes dan KUR Mikro
Produk pinjaman mikro BRI terdiri dari Kupedes dan Kredit
Usaha Rakyat (KUR) Mikro. Kupedes adalah kredit mikro
BRI dengan plafon pinjaman sampai dengan Rp100 juta
yang dilayani BRI Unit dan Teras BRI. Kupedes terbagi
atas kredit modal kerja, kredit investasi, dan Kupedes
untuk nasabah berpenghasilan tetap serta Kupedes untuk
berbagai tujuan lainnya. Perbaikan dan pengembangan
fitur produk Kupedes terus dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan nasabah. Saat ini fitur Kupedes semakin
berkembang sesuai dengan tuntutan pasar antara lain
Kupedes dengan fitur angsuran harian, Kupedes dengan
jaminan emas, Kupedes kepada individu yang terikat
dalam kelompok, serta Kupedes untuk berbagai tujuan
yang dapat digunakan antara lain untuk membangun atau
merenovasi rumah, membeli kendaraan, dan lain-lain.
Penyaluran Kupedes meningkat 39,78% dari Rp54,08
triliun pada tahun 2009 menjadi Rp75,58 triliun pada
tahun 2010.
KUR Mikro adalah kredit komersial yang diberikan kepada
mereka yang memiliki usaha mikro dan koperasi yang
memiliki kelayakan usaha (feasible) namun mempunyai
keterbatasan dalam memenuhi persyaratan yang
ditetapkan perbankan atau belum bankable.
Sampai dengan tahun 2010, total realisasi penyaluran
KUR Mikro BRI mencapai Rp16,23 triliun atau tumbuh
sebesar 72,48% dari Rp9,41 triliun pada tahun 2009,
dengan jumlah debitur sebanyak 2,3 juta pada tahun 2009
dan sebanyak 3,6 juta pada tahun 2010.
Kredit Ritel Komersial
Kredit ritel komersial yang dipasarkan oleh BRI berorientasi
pada pemenuhan kebutuhan pelaku bisnis usaha kecil
di semua sektor ekonomi. Selain produk kredit investasi
dan kredit modal kerja, BRI memiliki alternatif skema
kredit sesuai kebutuhan dan karakteristik usaha nasabah,
diantaranya adalah kredit waralaba, kredit SPBU (Stasiun
Pengisian Bahan Bakar Umum), kredit untuk PPTKIS
(Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta),
kredit untuk PIHK (Pemberangkatan Ibadah Haji Khusus),
Kredit Ekspres, Kredit Resi Gudang, Kredit dengan
Agunan Kas dan Kredit Konstruksi dan kredit kemitraan.
Terkait Kredit Konstruksi, BRI menawarkan beberapa
alternatif pilihan kredit seperti kredit modal kerja konstruksi
untuk kontraktor umum dan pengembang, kredit modal
kerja dengan sumber pembayaran proyek dari dana
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),
kredit pemilikan gudang di kawasan bisnis, serta kredit
konstruksi untuk BTS (Base Transceiver Station).
Dalam rangka memenuhi kebutuhan nasabah, selama
tahun 2010 BRI melakukan pengembangan skim kredit
antara lain pemberian kredit bagi Pegawai Negeri Sipil,
Anggota Polri dan TNI, Pegawai BUMN, Pegawai BUMD
dan Pegawai Perusahaan Swasta terkemuka, kredit
kepemilikan gudang, dan pola pembiayaan kredit modal
kerja berdasarkan tagihan piutang (invoice) khususnya
untuk vendor (kontraktor, sub-kontraktor dan supplier).
Kupedes
Total Penyaluran KUR Mikro
Dalam triliun Rupiah
CAGR: 29,02%
Dalam triliun Rupiah
06 07 08 09 10
7
5
,
5
8
5
4
,
0
8
4
7
,
2
5
3
2
,
6
2
7
,
2
8
08 09 10
1
6
,
2
3
9
,
4
1
6
,
5
3
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
100
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Kredit Ritel Komersial meningkat menjadi Rp57,85 triliun pada tahun 2010 atau tumbuh sebesar 5,76% dibandingkan tahun
2009. Konsolidasi di segmen ritel komersial di tahun 2010 menyebabkan pertumbuhan kredit melambat.
2006 2007 2008 2009 2010
Pertumbuhan
(yoy)
(Rp triliun)
Kredit Ritel
Komersial
24,42 30,85 42,12 54,70 57,85 5,76%
Kredit Briguna
Kredit Briguna adalah kredit yang diciptakan khusus untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan yang bersifat konsumtif bagi
pegawai atau pensiunan yang memiliki penghasilan tetap.
Kredit Briguna terus mengalami peningkatan baik karena akuisisi maupun peningkatan plafon kredit seiring dengan kenaikan gaji.
Total penyaluran kredit Briguna mencapai Rp39,09 triliun atau tumbuh 23,04% selama tahun 2010.
2006 2007 2008 2009 2010
Pertumbuhan
(yoy)
(Rp triliun)
Kredit Briguna 15,06 17,59 23,99 31,77 39,09 23,04%
Kredit Program
Kredit Program BRI dibedakan menjadi Kredit Program Komersial (Commercial Program Loan), Kredit Program Bersubsidi
(Subsidized Program Loan), dan Kredit Kelolaan (Channeling Loan). Kredit program komersial dan kredit program bersubsidi
dicatat secara on-balance sheet, sedangkan kredit channeling dicatat secara off-balance sheet karena BRI hanya memberikan
jasa sebagai penyalur kredit yang bersumber dari dana Pemerintah dan tidak memiliki risiko kredit.
Kredit Program Komersial ditujukan untuk debitur usaha mikro, kecil dan koperasi yang layak dibiayai (feasible) namun tidak bisa
mendapatkan pembiayaan skema kredit program bersubsidi atau kredit komersial (belum bankable). Salah satu Kredit Program
Komersial adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang mengalami pertumbuhan sangat pesat sejak pertama kali diluncurkan pada
November 2007.
2006 2007 2008 2009 Des 2010
Pertumbuhan
(yoy)
(Rp triliun)
Kredit Usaha
Rakyat (KUR)
- 0,28 9,58 13,59 22,72 67,13%
Selama tahun 2010, realisasi kumulatif KUR mengalami peningkatan 67,13% dari Rp13,60 triliun pada tahun 2009 menjadi
Rp22,72 triliun pada tahun 2010.
2006 2007 2008 2009 Des 2010
Pertumbuhan
(yoy)
(Rp triliun)
Kredit Usaha
Rakyat (KUR)
- 0,24 6,87 5,82 8,97 54,08%
Selama tahun 2010, outstanding KUR mengalami peningkatan 54,08% dari Rp5,82 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp8,97 triliun
pada tahun 2010.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
101
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Produk Simpanan
Simpedes
Produk simpanan utama yang dimiliki oleh BRI untuk
segmen mikro adalah Tabungan Simpedes. Target market
utama dari produk ini adalah kalangan menengah ke
bawah di wilayah pedesaan dan sub-urban. Tabungan
Simpedes telah diakui dunia sebagai pelopor tabungan di
sektor microfinance. Tabungan Simpedes memiliki posisi
yang vital bagi bisnis mikro, karena menjadi sumber dana
utama untuk penyaluran Kupedes.
BRI secara terus-menerus mengembangkan dan
melakukan inovasi terhadap produk Tabungan Simpedes,
salah satunya adalah melalui pemberian kartu Simpedes
kepada seluruh pemilik rekening Tabungan Simpedes
sehingga para nasabah dapat menikmati layanan
e-banking yang dimiliki oleh BRI.
Selama lima tahun terakhir, Simpedes tumbuh rata-rata
18,76% per tahun (CAGR), dari Rp 38,34 triliun pada tahun
2006 menjadi Rp76,26 triliun pada tahun 2010. Sampai
dengan tahun 2010, jumlah penabung Simpedes telah
mencapai lebih dari 22 juta nasabah. Jumlah nasabah
yang besar ini tentunya juga memberikan sumbangan fee-
based income yang signifikan bagi BRI.
Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada nasabah,
BRI mengaplikasikan real-time online system di seluruh
unit kerja BRI, termasuk BRI Unit dan Teras BRI, sehingga
dapat melayani lebih banyak produk dan jasa perbankan.
Dengan real-time online system ini, BRI Unit dan Teras BRI
mampu menghimpun lebih banyak dana dari masyarakat
melalui berbagai produk simpanan yang dimiliki oleh BRI,
seperti Deposito, Giro, Tabungan Haji, dan Britama.
Kredit Program Bersubsidi diberikan untuk mendukung program Pemerintah dalam bidang ketahanan pangan dan energi, serta
pengembangan energi nabati dan revitalisasi perkebunan. Kredit Program yang termasuk dalam kategori ini adalah skim Kredit
Ketahanan Pangan dan Energi (KKP-E) dan Kredit Pengembangan Energi Nabati-Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP) pola non
kemitraan.
Sampai tahun 2010, BRI tetap sebagai market leader dalam penyaluran KKP-E dengan market share mencapai 56% dari total
outstanding KKP-E di Indonesia.
Outstanding KKP-E BRI
2007 2008 2009 2010
Pertumbuhan
(yoy)
(Rp triliun)
KKP-E 0,58 0,90 1,21 1,53 26,58%
Selama tahun 2010, KKP-E mengalami peningkatan 26,58% menjadi Rp1,35 triliun dari tahun sebelumnya Rp1,21
triliun. Skim KKP-E terdiri dari KKP-E Tebu Rakyat, KKP-E Pengembangan Tanaman Pangan, KKP-E Peternakan,
KKP-E Pengadaan Pangan, KKP-E Pengembangan Tanaman Hortikultura, KKP-E Alat dan Mesin Pertanian serta
KKP-E Perikanan. Penyaluran KKP-E dilakukan melalui kelompok petani, pembudidaya, atau nelayan.
Simpedes
Dalam triliun Rupiah
06 07 08 09 10
7
6
,
2
6
6
4
,
3
9
5
5
,
1
4
4
5
,
9
7
3
8
,
3
4
CAGR: 18,76%
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
102
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Sahayak Foundation) Bangladesh, ACSI (Amhara Credit
and Savings Institution) Ethiopia, Postal Savings Bank of
China (PSBC), AMRET Cambodia, dan lain-lain.
Selain mengikuti Microfinance Training and Study Visit
(MTSV) melalui program IVP di BRI, sebagian dari mereka
juga meminta jasa technical assistance dan consultancy
dari BRI. Oleh karena itu, MIC BRI akan terus memperluas
kegiatannya dengan menyediakan consultancy service
di bidang microfinance kepada pihak-pihak yang
membutuhkan.
Rencana Pengembangan
Sumber Daya Manusia
Peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia
yang profesional dan handal akan dilakukan untuk
mendukung pertumbuhan bisnis mikro yang memfokuskan
pada pengembangan fitur produk sesuai dengan potensi
dan peluang pasar serta pengoptimalan jaringan layanan
BRI Unit dan Teras BRI yang telah ada.
Produk
Dari sisi pinjaman, produk dan fitur pinjaman mikro akan
dikembangkan agar lebih kompetitif dan sesuai dengan
kebutuhan pasar seperti Kupedes dengan Agunan Emas,
Kupedes dengan Bunga Harian, dan Kupedes dengan
Pengikatan Kelompok. Untuk lebih mendorong ekspansi
Kupedes, BRI akan melakukan kerja sama dengan institusi
lain baik Pemerintah maupun swasta.
Dari sisi simpanan, BRI akan berinovasi dalam
mengembangkan produk dan fitur Simpedes agar
semakin kompetitif di pasar seperti Simpedes Usaha dan
Simpedes Impian.
Pemasaran
Acara Mudik Bersama Kupedes Simpedes BRI sebagai
kegiatan dalam rangka promosi pemasaran produk
Kupedes dan Simpedes juga akan terus diadakan tiap
tahunnya. Acara ini selain merupakan bentuk apresiasi
BRI kepada debitur Kupedes dan nasabah Simpedes
yang selama ini loyal kepada BRI juga sebagai salah satu
kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) BRI.
Untuk mendukung pemasaran dan penambahan jumlah
nasabah Simpedes dan Kupedes serta KUR Mikro,
BRI mengadakan Pesta Rakyat Simpedes (PRS) dan
BRI Peduli Pasar Rakyat serta Program Panen Bulanan
Simpedes .
Microfinance International Cooperation
Kesuksesan BRI dalam mengembangkan commercial
microfinance telah mendapatkan banyak penghargaan
dan pengakuan secara internasional. Hingga saat ini
lebih dari 6.000 VVIP (Very Very Important Person) dari
55 negara telah berkunjung ke BRI dalam bentuk study
visit dan training di bidang microfinance. Mereka adalah
para VVIP yang terdiri dari policy makers, central bankers,
commercial bankers, donor agency, akademisi, maupun
praktisi microfinance.
Pembentukan BRI MIC (Microfinance International
Cooperation) adalah salah satu bentuk global corporate
social responsibility BRI dalam rangka mengembangkan
microfinance di dunia. Untuk itulah pada awal berdirinya
MIC yang sebelumnya dikenal sebagai International Visitor
Program (IVP) mendapat dukungan penuh dalam bentuk
grant dari USAID dan World Bank/CGAP (Consultative
Group to Assist the Poor).
Fungsi MIC bagi BRI selama ini selain sebagai public
relations dalam bidang microfinance, juga menjalankan
Microfinance Training and Study Visit (MTSV), business
captures, serta technical assistance di bidang
microfinance. Melalui MIC, BRI telah menjalin kerjasama
dengan Asia-Pacific Rural and Agricultural Credit
Association (APRACA), Microfinance Network (MFN),
Microcredit Summit, Banking With The Poor (BWTP),
Woman World Banking, APEC, dan lainnya.
Selama tahun 2010, BRI melalui MIC ikut berpartisipasi
dalam The Second Financial Inclusion Advisors Program
(Malaysia), 57th APRACA Executive Committee Meeting
(Thailand), Financial Inclusion Advisor Program (Uganda),
16th WSBI Asia Pacific Group Meeting (Indonesia),
World Saving Bank Conference (Indonesia), World Bank
Workshop on Access to Finance (Indonesia), 27th ASEAN
SME Working Group Meeting (Indonesia), Microfinance
Network 17th Annual Conference (Mexico), dan SECO-
SBV Bank Restructuring Workshop (Vietnam). Di tahun
2010, BRI juga ditunjuk oleh APRACA sebagai salah satu
APRACA Centers of Excellence (ACEs) khususnya di
bidang retail and unit banking (microfinance).
Di tahun 2010, sekurangnya 185 VVIP dari 23 institusi luar
negeri telah mengikuti kegiatan IVP yang dilaksanakan
oleh MIC BRI. Institusi tersebut antara lain Churchill
Foundation, Ford Foundation, ADB Consultant,
Yale University, National Bank of Ethiopia, Nigerian
Investment Promotion Commission, RUFIP (Rural Finance
Intermediation Program) Ethiopia, PKSF (Palli Karma
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
103
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Dalam rangka mendukung berbagai program pemasaran di atas serta memotivasi setiap
pekerja jajaran Bisnis Mikro untuk berprestasi dan memberikan hasil kerja terbaik bagi BRI,
manajemen BRI menetapkan reward program yang bernama Program Penghargaan BRI
Unit (PPBU). PPBU disusun agar pemberian penghargaan bersifat komprehensif dan dapat
mengakomodasi berbagai kategori yang akan dikembangkan dalam rangka pemberian
penghargaan tersebut, sehingga aktifitas bisnis dan operasional BRI Unit akan dapat
dikembangkan dengan baik dan berkelanjutan.
Saya pribadi sebagai nasabah Bank BRI mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan
yang diberikan Bank BRI dalam promosi usaha dengan mengajak saya untuk mengikuti
pameran di luar negeri. Hal tersebut memotivasi saya ke depannya menjadi yang lebih baik di
era global ini, dimana Bank BRI dengan motonya Melayani Dengan Setulus Hati sudah saya
rasakan dimana Bank BRI telah melayani saya dengan setulus hati, jaya terus Bank BRI,
terima kasih...
I Kadek Septariana, pengrajin perhiasan perak Metro Silver
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
104
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
BRI meraih Consumer Banking Excellence Award dalam 2
kategori produk simpanan, yaitu kategori The Best Saving
Account dan The Most Creative Consumer Banking
With Asset Up To 50 Trillion Rupiah dalam survey yang
diadakan oleh Majalah SWA & Synovate pada tahun 2010.
Tabungan BritAma Junio
BritAma Junio adalah tabungan yang memiliki target pasar
khusus anak-anak yang berusia 17 tahun ke bawah,
namun seiring dengan meningkatnya permintaan akan
BritAma Junio, nasabah yang berusia di atas 17 tahun
juga dapat memiliki produk ini. Tujuan dari tabungan ini
adalah untuk memperkenalkan perbankan sejak dini
dan menanamkan rasa gemar menabung kepada anak.
BritAma Junio sangat menarik karena nasabah diberikan
BRI Card Private Label Limited Edition bergambar
karakter tokoh kartun idola anak-anak, yaitu Superman,
Tweety dan Tom and Jerry. Selain itu, nasabah BritAma
Junio mendapatkan fasilitas asuransi kecelakaan diri dan
diikutsertakan dalam program undian Untung Beliung
BritAma.
Untung Beliung BritAma
Undian berhadiah Untung Beliung BritAma (UBB)
merupakan program customer retention/loyalty dan
acquisition Tabungan BritAma dalam rangka strategi
penghimpunan dana dan meningkatkan saldo Tabungan
BritAma. Program UBB ini telah dilaksanakan sebanyak
5 (lima) periode sejak tahun 2007 dan telah berhasil
meningkatkan awareness masyarakat terhadap produk
Tabungan BritAma.
Tabungan Haji
Tabungan Haji adalah produk tabungan khusus bagi
nasabah yang ingin melaksanakan ibadah haji. Produk
ini membantu nasabah dalam mempersiapkan Biaya
Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), baik BPIH biasa
maupun BPIH Khusus/Haji Plus. Berbagai keunggulan dari
BISNIS KONSUMER
BRI terus berinovasi dalam mengembangkan produk dan
jasa perbankan konsumer yang inovatif, kreatif, dan terkini
yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan perbankan
masyarakat khususnya di perkotaan yang dinamis
seperti: produk tabungan, giro, deposito, electronic
banking, layanan perbankan prioritas, kredit kepemilikan
rumah, kredit kendaraan bermotor, kredit multiguna dan
kartu kredit. Dengan produk perbankan yang menjawab
kebutuhan masyarakat modern, BRI dapat menyerap
dana murah dan mengoptimalkan pencapaian fee-based
income (FBI) serta meningkatkan pangsa pasar simpanan
ritel baik dari sisi jumlah rekening maupun volume
simpanan.
Tabungan BritAma
Tabungan BritAma merupakan produk unggulan untuk
merebut pasar dana pihak ketiga di perkotaan yang
menginginkan kemudahan dan kenyamanan dalam
melakukan transaksi perbankan. Tabungan BritAma
tersedia dalam mata uang Rupiah dan mata uang
asing. Fitur yang ditawarkan antara lain penyetoran dan
pengambilan yang dapat dilakukan setiap saat secara on-
line di lebih dari 7.000 unit kerja BRI yang tersebar luas di
seluruh Indonesia serta frekuensi pengambilan yang tidak
dibatasi sepanjang memenuhi syarat-syarat yang berlaku.
Pemegang rekening BritAma diberikan BRI Card yang
dapat digunakan untuk bertransaksi ATM dan belanja di
seluruh dunia serta mempermudah dalam mengakses
transaksi e-banking, transaksi on-line BRI, mendapatkan
gratis fasilitas asuransi kecelakaan diri, fasilitas transaksi
otomatis (automatic funds transfer, automatic grab fund,
account sweep) dan diikutsertakan dalam program undian
berhadiah Untung Beliung BritAma.
Pada tahun 2010 Tabungan BritAma mencapai Rp47,33
triliun, meningkat sebesar 22,94% dibandingkan tahun
2009 sebesar Rp38,45 triliun.
06 07 08 09 10
4
7
,
3
3
3
8
.
5
0
3
0
.
6
0
2
4
.
9
0
1
9
.
0
0
Tabungan Haji
Dalam miliar Rupiah
07 06 08 09 10
1
,
5
9
9
1
,
2
7
0
,
9
1
0
,
5
9
Bisnis Konsumer
Tabungan BritAma
Dalam triliun Rupiah
CAGR: 25,63%
0
,
4
4
CAGR: 38,06%
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
105
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Terima kasih buat Bank BRI, keramahan dan kemudahan bisa dirasakan sampai
ke dalam hati. Mudah-mudahan bisa menjadi silaturrahim yang baik, dunia dan akhirat.
Jefri UJ Al Buchori, Ustadz
produk ini adalah penyetoran yang dapat dilakukan secara
on-line di seluruh unit kerja BRI dan terkoneksi langsung
(host to host) melalui aplikasi switching dengan Siskohat
Kementerian Agama, bebas biaya administrasi, gratis
asuransi jiwa dan kecelakaan diri, dan diberikan souvenir
ketika nasabah melakukan pelunasan biaya haji.
Pada tahun 2010, Tabungan Haji mencapai Rp1,59 triliun
atau meningkat 25,80% dibandingkan tahun 2009 yaitu
sebesar Rp1,27 triliun.
GiroBRI
GiroBRI bertujuan untuk menghimpun dana murah dari
masyarakat. GiroBRI tersedia dalam berbagai pilihan
jenis mata uang, baik Rupiah maupun mata uang asing.
Nasabah dapat melakukan penarikan dan penyetoran
sewaktu-waktu tanpa batasan nominal. GiroBRI
dilengkapi dengan fasilitas BRIVA (BRI Virtual Account)
yang memberikan kemudahan kepada nasabah dalam
hal penyetoran dan pelaporan. Tahun 2010, dana murah
yang berhasil dihimpun melalui Giro BRI mencapai
Rp77,36 triliun, meningkat sebesar 54,44% dibandingkan
tahun 2009 sebesar Rp50,09 triliun.
DepoBRI
DepoBRI adalah simpanan berjangka yang penarikannya
hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu
sesuai perjanjian. Jangka waktu yang ditawarkan produk
ini adalah mulai dari 1 sampai 24 bulan. Keunggulan
DepoBRI diantaranya adalah suku bunga yang kompetitif,
tersedia dalam berbagai jenis pilihan mata uang, dapat
dicairkan di seluruh unit kerja BRI dan dapat dijadikan
sebagai agunan kredit (cash collateral). Pada tahun 2010
DepoBRI mencapai Rp130,30 triliun, meningkat 28,54%
dari Rp101,37 triliun pada tahun 2009.
GiroBRI
Dalam triliun Rupiah
06 07 08 09 10
7
7
,
3
6
5
0
,
0
9
3
9
,
9
2
3
7
,
1
6
2
7
,
8
6
DepoBRI
Dalam triliun Rupiah
06 07 08 09 10
1
3
0
,
3
0
1
0
1
,
3
7
7
3
,
5
4
5
6
,
1
4
3
8
,
3
0
CAGR: 29,09%
CAGR: 35,81%
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
106
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Pada Tahun 2010, dalam survey kepuasan pelanggan
yang diselenggarakan oleh Care of CCSL & Majalah
Marketing, BRI Prioritas meraih total nilai Indonesian
Service Satisfaction Index (ISSI) diatas nilai rata-rata
industri priority banking services, skala multinasional dan
domestik, sehingga BRI Prioritas mendapat penghargaan
Indonesia Service Quality Award kategori Diamond.
e-Banking
BRI menyediakan fasilitas e-banking untuk nasabah
simpanan sehingga dapat menikmati kemudahan,
kenyamanan, dan kecepatan bertransaksi perbankan.
Beberapa keunggulan produk e-banking BRI antara lain
terdapat banyak pilihan jenis e-channel, fitur yang beragam,
jaringan kerja & jaringan e-channel yang luas, real time on-
line serta tarif transaksi yang kompetitif. Pada tahun 2010
BRI memiliki 6.085 ATM BRI yang terkoneksi ke lebih dari
30.000 jaringan ATM berskala nasional dan internasional
seperti, jaringan ATM Link, PRIMA, ATM Bersama. Selain
itu ATM BRI juga terkoneksi ke ATM berskala internasional
yaitu Cirrus, dan Bankcard. Nasabah BRI juga dapat
melakukan transaksi perbankan melalui CDM, KiosK, mini
ATM, SMS Banking, Phone Banking dan Internet Banking
yang dapat diakses setiap harinya selama 24 jam. Pada
tahun 2010, telah tersedia berbagai layanan e-banking
terbaru dari Bank BRI, diantaranya adalah mobile services
(eBuzz), e-money (BRIZZI), mocash (mobile cash BRI)
mobile debit dan berbagai tambahan fitur/layanan baru
e-channel lainnya.
BRI Prioritas
BRI Prioritas merupakan kegiatan pelayanan dan jasa
perbankan yang diberikan secara eksklusif kepada
nasabah kalangan affluent dan high net worth individual,
meliputi pelayanan & jasa perbankan umum, jasa
konsultasi perencanaan keuangan dan investasi, asuransi
(bancassurance), maupun perencanaan pensiun.
Berbagai jenis layanan diberikan kepada nasabah
BRI Prioritas diantaranya adalah pelayanan yang
bersifat eksklusif dari Priority Banking Officer, layanan
pengantaran dan penjemputan uang, layanan transaksi
melalui telepon, fasilitas business & private mini lounge,
internet & e-banking corner, free meeting room, tempat
parkir khusus serta layanan Call Center 24 Jam. Selain
itu privileges yang diberikan kepada nasabah BRI
Prioritas diantaranya adalah travel privilege, lifestyle
privilege, concierge services serta privileges lain berskala
internasional bekerjasama dengan program Premium
Debit Mastercard.
Beberapa kegiatan telah dilaksanakan oleh BRI Prioritas
untuk nasabahnya yang bertujuan untuk meningkatkan
awareness, loyalty dan retention dengan tema intellectual,
lifestyle, heritage, dan seasonal event. BRI Prioritas
memiliki 8 Sentra Layanan BRI Prioritas dan priority lounge
yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.
"Sejak tahun 2003 saya menjadi nasabah BRI dan
menikmati layanan prima. bagi saya, BRI adalah Bank
yang menjadikan kepuasan nasabahnya sebagai kunci
keberhasilan. semoga bisa tetap seperti itu."
Ryaas Rasyid
Dewan Pertimbangan Presiden RI
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
107
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Kredit Konsumer
Sejak tahun 2007 tuntutan nasabah mengarahkan BRI
melakukan penetrasi ke pasar kredit konsumer. Hal
ini didukung oleh 60% PDB (Produk Domestik Bruto)
didominasi oleh kegiatan konsumsi rumah tangga dan
menjadi salah satu pemikiran bahwa potensi kredit
konsumer dapat terus dieksplorasi.
Sebagai langkah nyata BRI bergerak di bisnis konsumer
adalah dengan menggandeng beberapa developer besar
untuk menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan
Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) serta merangkul Agen
Tunggal Pemegang Merk (ATPM) kendaraan bermotor
untuk mendukung penyaluran kredit kendaraan bermotor
(KKB). Sedangkan dalam membentuk brand image, BRI
gencar melakukan promo di berbagai media dan ikut
aktif dalam berbagai pameran berskala nasional maupun
internasional.
Sejak tahun 2008, BRI membangun jaringan kerja
operasional yang fokus melayani kredit konsumer melalui
Sentra Kredit Konsumer (SKK) dan Point of Sales (POS).
Jumlah SKK & POS setiap tahun semakin bertambah
disesuaikan dengan daerah yang memiliki potensi bisnis
konsumer yang besar. Pengembangan SKK dan POS
pada tahun 2008 dan 2009 lebih difokuskan di 14 kota
besar dengan potensi kredit konsumer yang semakin
berkembang. Pada tahun 2010 BRI mengembangkan
jaringan kerja operasional kredit konsumer di kota-kota
2
nd
dan 3
rd
tier.
Selain dengan penambahan jaringan kerja operasional
kredit konsumer, BRI juga melakukan pembenahan dan
penyempurnaan teknologi untuk mewujudkan service level
agreement yang semakin memuaskan. BRI senantiasa
Jumlah SKK dan POS
1
3
2
0
4
0
1
4
2
2
8
8
08 09 10
SKK POS
memperkaya produk-produknya dengan fitur-fitur yang
memenuhi kebutuhan para nasabahnya.
Melalui langkah strategis tersebut pertumbuhan
kredit konsumer BRI mampu mencapai 53,22% atau
melampaui rata-rata pertumbuhan kredit perbankan
nasional sebesar 20-30%.
Kredit Pemilikan Rumah (KPR)
KPR BRI dengan berbagai kemudahannya diharapkan
semakin dapat memenuhi kebutuhan perumahan para
profesional, wiraswasta maupun para pegawai. Perjanjian
Kerja Sama (PKS) yang dijalin BRI dengan lebih dari 300
proyek perumahan di seluruh Indonesia dan berbagai
kemudahan yang ditawarkan seperti uang muka dan
jangka waktu kredit yang flexible, suku bunga yang
kompetitif, dokumen kepemilikan yang terjamin aman
dan kemudahan-kemudahan lainnya menjadi suatu nilai
tambah bagi calon debitur. Outstanding KPR sampai
dengan tahun 2010 telah mencapai Rp6,78 triliun atau
tumbuh 48,56% dibandingkan tahun 2009.
06 07 08 09 10
6
,
7
8
4
,
5
9
3
,
0
8
1
,
7
9
1
,
2
3
KPR
Dalam triliun Rupiah
CAGR: 53,23%
Outstanding Kredit Konsumser
06 07 08 09 10
9
,
6
5
6
,
3
0
3
,
9
5
2
,
1
5
2
,
0
5
CAGR:47,30%
Dalam triliun Rupiah
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
108
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Kredit MultiGuna (KMG)
KMG BRI diciptakan untuk memenuhi kebutuhan nasabah
yang tidak dapat dipenuhi melalui produk KPR maupun
KKB. Produk KMG sangat diminati oleh nasabah,
mengingat kemudahan dan kenyamanan yang diperoleh
melalui produk ini, antara lain jangka waktu yang relatif
panjang yaitu sampai dengan 10 tahun dengan plafond
kredit sampai dengan Rp1 miliar. Outstanding KMG sampai
dengan tahun 2010 telah mencapai Rp1,49 triliun atau
tumbuh 50,59% dibandingkan tahun 2009.
Jaringan kerja BRI yang sangat luas mulai dari perkotaan
hingga pelosok tanah air menjadikan target market
Kredit Konsumer BRI dimulai dari golongan masyarakat
menengah bawah sehingga hal ini sejalan dengan program
Pemerintah dalam hal kepemilikan rumah.
Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan yang optimal, di
tahun 2010 BRI telah memiliki 40 SKK dan 88 POS yang
fokus melayani produk-produk kredit konsumer, dan akan
memperluas jangkauan layanannya menjadi 45 SKK dan
100 POS di tahun 2011. Penambahan tenaga pemasar
kredit konsumer pun terus dilakukan, pada tahun 2010
terdapat 276 Account Officer (AO) Konsumer, meningkat
dibandingkan tahun 2009 sejumlah 182 AO Konsumer.
Disamping pengembangan produk, jaringan kerja dan
teknologi sistem informasi, BRI secara berkesinambungan
terus menyempurnakan organisasi dan proses bisnis
sesuai tuntutan industri maupun konsumen.
Kredit Kendaraan Bermotor (KKB)
KKB BRI memenuhi kebutuhan masyarakat akan
kendaraan bermotor. Program kerjasama yang telah
dilakukan dengan berbagai ATPM (Agen Tunggal
Pemegang Merk) maupun dealer menjadikan KKB
BRI mampu memberi layanan terbaik. Selain itu untuk
memenuhi kebutuhan nasabah, KKB BRI menyediakan
fitur tanpa down payment yaitu mengkombinasikan KKB
BRI dengan produk deposito. Program joint promotion
bersama ATPM dan dealer juga semakin meningkatkan
keunggulan KKB BRI yaitu suku bunga yang sangat
terjangkau.
Selain kepada masyarakat individual, KKB BRI
juga menjangkau lembaga keuangan multifinance
dengan produk KKB Kerjasama. Produk ini secara
berkesinambungan akan terus dikembangkan mengingat
potensi yang masih sangat terbuka. Outstanding KKB
sampai dengan tahun 2010 telah mencapai Rp1,47 triliun
atau tumbuh 115,20% dibandingkan tahun 2009.
KKB
06 07 08 09 10
1
,
4
7
0
,
7
2
0
,
4
5
0
,
3
5
0
,
8
2
KMG
07 08 09 10
1
,
4
9
0
,
9
9
0
,
4
2
0
,
1
1
Dalam triliun Rupiah
CAGR: 138,38%
Dalam triliun Rupiah
CAGR: 15,71%
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
109
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Menghadapi tahun 2011, BRI akan membangun beberapa
Regional Processing Center (RPC) untuk penyempurnaan
proses bisnis, meningkatkan Service Level Agreement
(SLA) serta meningkatkan ekspansi kredit baik secara
kuantitas maupun kualitas. Berbagai pengembangan
produk baik KPR, KKB maupun KMG dengan
menyandingkan produk simpanan akan memperkaya fitur
produk selain itu sistem angsuran yang lebih fleksibel
dan ketentuan-ketentuan lainnya menjadikan layanan
BRI semakin prima. Strategi penjualan akan diintensifkan
dengan memanfaatkan database, pihak ketiga (dealer/
developer), walk in customer maupun implant banking
melalui program Home Ownership Program (HOP)
dan Car Ownership Program (COP) dengan beberapa
perusahaan besar.
Kartu Kredit
Sejak diluncurkan pada tahun 2006, kartu kredit BRI
menjadi salah satu produk ikonik di bidang perbankan
konsumer. Dari tahun ke tahun, pengguna kartu kredit
BRI terus mengalami peningkatan. Sampai dengan tahun
2010, tercatat pengguna kartu kredit BRI mencapai
389.916 orang dengan volume transaksi mencapai
Rp2,38 triliun.
Kinerja Kartu Kredit BRI
Volume Transaksi
(Rp triliun)
Jumlah
Kartu
2006
0,17
0,59
1,12
2,07
2,38
64,464
2007 139,425
2008 245,078
2009 342,298
2010 389,190
Kartu Kredit BRI terafiliasi dengan jaringan
MasterCard, sehingga pemegang Kartu Kredit BRI
dapat bertransaksi di seluruh merchant yang berlogo
Mastercard Worldwide di seluruh dunia. Pemegang Kartu
Kredit BRI juga mendapatkan fasilitas executive lounge di
30 tempat di seluruh Indonesia (berlaku untuk kartu kredit
BRI Gold dan Platinum), suku bunga ringan, kemudahan
tarik tunai di ATM BRI maupun ATM lain yang berlogo
Mastercard Worldwide di seluruh dunia, fasilitas recurring
bill payment/autopayment untuk pembayaran PLN,
Telkom, fasilitas cicilan BRING (Belanja Ringan Dengan
Cicilan) dengan bunga ringan, serta fasilitas katalog
belanja dan newsletter.
Selain Kartu Kredit BRI Standard, Kartu Kredit BRI Gold,
dan Kartu Kredit BRI Platinum, BRI juga meluncurkan
Kartu Kredit BRI Corporate, Kartu Kredit BRI Bussines,
Kartu Kredit BRI Visa, dan Kartu Kredit BRI Hyundai.
Kartu Kredit BRI Coporate adalah Kartu Kredit BRI yang
dikembangkan untuk memberikan pelanyan khusus
kepada perusahaan-perusahaan korporasi mitra kerja
BRI. Tujuannya adalah agar dengan penggunaan Kartu
Kredit BRI Corporate bagi pejabat atau karyawan mitra
kerja dapat mengatur biaya pengeluaran travel dan
entertainment perusahaan dengan baik
Sementara Kartu Kredit BRI Bussines ditujukan untuk
para pebisnis atau anggota suatu komunitas yang
penggunaannya sama seperti kartu kredit pada umumnya
(individual liabilities), namun memiliki kelebihan, antara
lain kartu tersebut dapat digunakan sebagai identitas dari
komunitas tersebut.
Pemegang Kartu Kredit BRI
CAGR: 56,75%
06 07 08 09 10
6
4
,
4
6
4
1
3
9
,
4
2
5
2
4
5
,
0
7
8
3
4
2
,
2
9
8
3
8
9
,
1
9
0
Volume Transaksi
Kartu Kredit BRI
06 07 08 09 10
2
,
3
9
2
,
0
7
1
,
1
2
0
,
5
9
0
,
1
7
Dalam triliun Rupiah
CAGR: 92,87%
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
110
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
sebagai pelengkap bisnis namun menjadi salah satu
andalan bisnis BRI. Sebagai salah satu bukti, pada tahun
2010 BRI mendapat penghargaan sebagai Bank with
Fastest Credit Card Gowth Award dari Mastercard.
Target pengembangan Kartu Kredit BRI untuk tahun
2011, adalah jumlah kartu kredit mencapai 600.000 kartu
dengan penyebaran lebih ke 2
nd
city dan 3
rd
city di seluruh
wilayah kerja BRI dan dengan volume transaksi sebesar
Rp3,5 triliun.
Produk ini diharapkan mampu memberikan citra positif
kepada komunitas maupun mitra bisnis BRI sebagai
bentuk pelayanan prima kepada masyarakat.
Dalam rangka mendukung strategi penetrasi kartu
kredit BRI di Kantor Cabang BRI, maka BRI telah
mengembangkan strategi business acquiring yang
bertujuan untuk meningkatkan acceptance dari kartu kredit
BRI pada merchant-merchant yang tersebar di seluruh
Indonesia. Pengembangan bisnis ini tentunya sangat
memperhatikan keunggulan BRI yang memiliki jumlah unit
kerja yang banyak dan tersebar di seluruh Indonesia.
Semua strategi pengembangan bisnis kartu kredit tersebut
di atas ditujukan agar Kartu Kredit BRI dapat menjadi
kartu kredit pilihan utama dan kebanggaan masyarakat
Indonesia. BRI memasuki bisnis kartu kredit tidak hanya
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
111
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
MARKETING COMMUNICATION
Tujuan Marketing Communication adalah memberikan
kontribusi yang optimal kepada perusahaan melalui
kegiatan komunikasi pemasaran brand produk dan jasa
BRI serta komunikasi corporate brand (corporate as a
brand). Kegiatan tersebut bertujuan untuk membangun
awareness dan image terhadap brand produk dan jasa
BRI serta corporate brand. Untuk mengkomunikasikan fitur
dan manfaat produk dan jasa, BRI melakukan thematic
product communication campaign berupa kegiatan
komunikasi above the line (placement TV-Ad, Print-Ad
dan Radio-Ad) dan below the line (pemasangan out of
home media dan pop material) untuk produk Tabungan
BRI BritAma, Tabungan BRI BritAma Junio, Tabungan
Haji BRI, BRI Prioritas, Kredit UMKM, Tabungan BRI
Simpedes, trade finance, DPLK, ORI007.
Selama tahun 2010 BRI telah melakukan beberapa
kegiatan seperti penyusunan brand identity dan direction
untuk produk kartu kredit dengan target korporasi
yaitu BRI Corporate Card dan menyempurnakan
brand architecture, brand identity, brand direction dan
melakukan brand extention untuk product brand dan jasa
BRI serta corporate brand serta melakukan launching
communication campaign untuk produk baru seperti
BRIfast Remittance.
Rencana Pengembangan
Beberapa rencana pengembangan produk dan
penambahan fitur simpanan yang akan dilakukan antara
lain pembukaan rekening BritAma Joint Account, BritAma
Dollar yang dilengkapi ATM, giro badan usaha dengan
ATM/debit, BritAma Gold (untuk bisnis), dan penambahan
mata uang untuk BritAma Dollar, penambahan fitur di
e-channel dan penyempurnaan pola kerjasama BRILinks.
Dalam bidang simpanan akan diluncurkan produk
Tabungan Rencana yang di-bundling dengan asuransi
(BritAma Rencana), Giro Berkartu, e-money (BRIZZI) dan
beberapa fitur e-banking lainnya.
Rencana pengembangan BRI Prioritas berupa
pengembangan privileges dan berbagai program penjualan
yang bersifat akuisisi, retensi, dan loyalty. Selain itu, untuk
memperkuat jaringan layanan, BRI Prioritas menambah
outlet priority banking berupa Sentra Layanan BRI Prioritas
dan priority lounge di sejumlah kota besar di Indonesia.
Bank BRI buat keluarga kita adalah partner nancial! Bagaimana bisa mewujudkan semua
impian masa depan dapat terealisasi dengan proses yang cepat, mudah dan professional. Kita
menggunakan fasilitas KPR untuk rumah idaman kita, yang Alhamdulillah tanpa proses yang
berbelit-belit, kurang dari sebulan dana pun langsung cair seperti mimpi jadi kenyataan. Selain
itu Bank BRI ATM-nya tersebar dimana-mana, tanpa antri dan fasilitas Kartu Kredit Platinum
banyak promonya.
Over all, Bank BRI sudah menjadi partner back up nancial kita yang professional dan sangat
esien. Bangga bisa jadi nasabah Bank BRI. Semoga bisa dipertahankan dan semakin sukses,
yuk rame-rame nabung di Bank BRI ...!!!
Meisya Siregar, artis & model
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
112
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
kecil yakni sebesar 7% untuk komoditas kelapa sawit
dan kakao, serta 6% untuk komoditas karet. Sementara
diluar beban petani merupakan subsidi Pemerintah. Untuk
pinjaman bersubsidi selain KPEN-RP, BRI berkomitmen
menyalurkan kredit dengan pola lainnya melalui skim Kredit
Usaha Pembibitan Sapi (KUPS). KUPS merupakan fasilitas
kredit yang diberikan kepada pelaku usaha pembibitan
sapi, meliputi perusahaan pembibitan, koperasi, kelompok
atau gabungan kelompok peternak, yang melakukan
usaha pembibitan sapi dengan memperoleh subsidi
bunga dari Pemerintah. Saat ini suku bunga yang berlaku
untuk KUPS adalah sebesar LPS+6% dengan beban
bunga bagi peternak sebesar 5% dan sisanya merupakan
beban Pemerintah.
BRI menyalurkan kredit dengan skema komersial ke
sektor agribisnis antara lain pembiayaan kepada sektor
perkebunan kelapa sawit, karet, kakao beserta produk
derivatifnya, sektor peternakan meliputi peternakan
ayam potong, sapi perah dan sapi potong serta tambak
udang, sektor industri dan perdagangan meliputi industri
pestisida, industri oleokimia, industri pengolahan kelapa
dalam, industri pengolahan hasil hutan industri (HTI),
industri gula, industri pengolahan tepung ikan, industri
pengolahan beras, dan lain-lain.
BRI sangat serius untuk mengembangkan pertumbuhan
ekonomi melalui sektor agribisnis. Hal ini dibuktikan
dengan kinerja yang terus membaik selama 5 tahun
terakhir yang mencapai 45,58% (CAGR) dengan total
kredit yang telah disalurkan sebesar Rp5,526 triliun dari
total plafon Rp8,142 triliun di tahun 2006 menjadi Rp8,045
triliun dari total plafon Rp13,025 triliun di tahun 2010.
Untuk menghadapi tantangan persaingan ke depan, BRI
akan tetap menyalurkan kredit dengan pola revitalisasi
perkebunan, dengan tetap memperhatikan diversifikasi
atas komoditas yang dibiayai. Pada umumnya tantangan
cukup besar datang dari persaingan perbankan yang
semakin kompetitif, terutama suku bunga serta terbatasnya
dukungan dari instansi terkait. Untuk mengatasi tantangan
tersebut, BRI akan tetap memberikan kemudahan serta
kecepatan di dalam proses kredit serta melakukan
pendampingan dan pembinaan secara berkala. Hal itu
dilakukan dengan tetap berkoordinasi dengan instansi
terkait terutama Direktorat Jenderal Perkebunan
(Ditjenbun) dan Direktorat Jenderal Peternakan (Ditjennak),
sehingga ke depan komitmen penyaluran kredit dengan
pola revitalisasi perkebunan dan KUPS dapat terpenuhi.
DIVISI BISNIS KOMERSIAL
Fokus BRI dalam mengembangkan Bisnis Komersial
terletak pada bisnis korporasi yang memiliki jalinan
dengan bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan demikian penyaluran kredit ke segmen bisnis ini
dapat memberikan efek manfaat (trickle down effect)
kepada bisnis UMKM.
Pasar sasaran Bisnis Komersial adalah perusahaan swasta
atau non-BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dengan
besar pinjaman di atas Rp50 miliar sampai dengan Batas
Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). Bisnis ini terbagi
dalam dua segmen utama yakni Kredit Agribisnis dan
Kredit Bisnis Umum (Non Agribisnis).
Kredit Agribisnis
Kredit Agribisnis merupakan kredit yang diberikan kepada
individu atau perusahaan yang bergerak di bidang
pertanian dalam arti luas (agribisnis), baik untuk kegiatan
on-farm maupun off-farm dari hulu hingga hilir, seperti
bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan,
perikanan, perdagangan, penunjang dan jasa lainnya
yang terkait bidang agribisnis. Dalam penyaluran kredit
agribisnis ini, BRI memanfaatkan lebih dari 7.000 unit kerja
di seluruh Indonesia, mulai dari penyaluran kredit dengan
skala kecil (kurang dari Rp100 juta) melalui Kantor Unit,
skala ritel (sampai dengan Rp5 miliar) oleh Kantor Cabang,
skala menengah (Rp5 miliar sampai dengan Rp50 miliar)
oleh Kantor Wilayah dan skala korporasi (lebih dari Rp50
miliar) oleh Kantor Pusat BRI.
Visi BRI dalam mengembangkan agribisnis adalah untuk
melakukan ekspansi pembiayaan ke komoditas yang
memiliki competitive advantage dan agribisnis yang
memiliki multiplier effect kepada UMKM melalui penciptaan
one stop services, closed-system financing, risk-adjusting
mechanism dan peningkatan kualitas account officer
sebagai professional business advisor.
Kredit agribisnis yang masuk dalam bisnis komersial
adalah kredit di bidang agribisnis dalam skala besar
atau korporasi (lebih dari Rp50 miliar) baik dalam skema
komersial maupun pinjaman bersubsidi bunga dengan
mengoptimalkan produk Kredit Pengembangan Energi
Nabati dan Revitalisasi Perkebunan (KPEN-RP). KPEN-
RP merupakan penyaluran kredit kepada petani melalui
koperasi dan perusahaan inti (pola inti plasma) dengan
komoditas pilihan yakni kelapa sawit, kakao dan karet.
Saat ini suku bunga yang berlaku adalah suku bunga
penjaminan LPS + 5%, dengan beban petani yang lebih
Bisnis Komersial
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
113
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Kredit Bisnis Umum
Selain agribisnis, BRI juga menyalurkan kredit korporasi
di luar bidang agribisnis dan BUMN, yakni sektor industri,
perdagangan, pertambangan dan jasa dunia usaha.
Produk yang tersedia meliputi Kredit Modal Kerja (KMK),
Kredit Modal Kerja Ekspor (KMK-E), Kredit Investasi (KI),
Kredit Modal Kerja Impor (KMK-I), Kredit Modal Kerja
Konstruksi (KMK-K), Penangguhan Jaminan Impor (PJI),
Standby L/C (SBLC) dan Bank Garansi (BG).
Selama tahun 2010 kredit korporasi BRI tetap tumbuh
dengan memperhatikan reality enabler BRI yang fokus
pada pembiayaan UMKM dengan komposisi 80 : 20
masing-masing untuk segmen UMKM dan segmen
korporasi.
Rencana Pengembangan
BRI akan melakukan peningkatan ekspansi pinjaman
dengan memanfaatkan delivery channel yang luas sebagai
ujung tombak pemasaran. Strategi ini diharapkan akan
terus meningkatkan pembiayaan sektor usaha produktif,
seperti infrastruktur, telekomunikasi, energi dan sumber
daya mineral, serta jasa kontruksi untuk mendukung
percepatan pertumbuhan ekonomi dan memberikan efek
manfaat (trickle down effect) kepada sektor-sektor lainnya,
khususnya UMKM.
Strategi ekspansi pinjaman dengan prinsip kehati-hatian
akan diwujudkan melalui evaluasi proses pelayanan
kredit dengan menerapkan four eyes principles sebagai
implementasi manajemen risiko kredit dan pelayanan kredit
yang cepat dan efektif. BRI senantiasa akan meninjau
kembali berbagai prosedur kredit guna meningkatkan
kualitas pelayanan kredit sesuai tuntutan pasar dengan
menjunjung prinsip kehati-hatian.
Dalam rangka menangkap peluang yang ada BRI akan
melakukan pengembangan bisnis melalui peningkatan
kerjasama (strategic alliances) dengan perusahaan swasta
yang mempunyai kinerja bagus, baik dalam pembiayaan,
pengelolaan dana maupun peningkatan fee-based
income dengan tetap memperhatikan prinsip kelayakan
usaha sesuai ketentuan perbankan yang berlaku. BRI
akan melakukan peningkatan pembiayaan pada sektor-
sektor potensial dan/atau merupakan sektor andalan yang
ditetapkan Pemerintah dalam rencana pembangunan
perekonomian nasional, seperti sektor infrastruktur,
komunikasi dan telekomunikasi, kelistrikan, energi dan
sumber daya mineral (termasuk pertambangan, minyak
dan gas), jasa konstruksi, properti, industri manufaktur,
industri kertas, industri farmasi, perdagangan, jasa
transportasi, dan sebagainya.
Pengembangan bisnis ke perusahaan-perusahaan besar
yang memiliki jalur distribusi luas dan tersebar di seluruh
Indonesia dan pengembangan bisnis kepada komunitas
nasabah lama (backward/forward linkage) dilakukan
melalui pelaksanaan business gathering secara rutin yang
bertujuan agar sesama nasabah dapat saling menangkap
peluang bisnis yang ada dan meningkatkan loyalitas
existing customers.
Pelayanan dan proses kredit terus dikembangkan
sehingga lebih cepat dan lebih baik. Jumlah dan kualitas
account officer di jajaran bisnis korporasi akan ditingkatkan
sehingga dapat menangkap peluang bisnis baik dari sisi
asset (kredit) maupun sisi liabilities (dana), serta produk
dan jasa perbankan lainnya.
Pemantauan kualitas kredit korporasi BRI juga
menjadi perhatian penting agar aset produktif tersebut
mampu menghasilkan pendapatan yang optimal bagi
pertumbuhan bisnis BRI yang berkelanjutan. Penyaluran
kredit korporasi diarahkan untuk industri yang memiliki
tren pasar yang masih tumbuh dan prospektif. Credit
deployment segmen korporasi juga menjadi perhatian
BRI agar kredit yang dikucurkan tidak terkonsentrasi
pada suatu industri tertentu sehingga diharapkan kualitas
portofolio kredit tidak rentan apabila terjadi krisis pada
suatu industri tertentu.
Pengembangan ke sektor energi dan migas (minyak
dan gas) menjadi salah satu fokus penyaluran kredit
korporasi ke depan mengingat pasar industri energi dan
migas masih terus berkembang dan tumbuh dengan baik
antara lain infrastruktur hulu dan hilir migas, infrastruktur
energi seperti Independent Power Producer (IPP) yang
memiliki Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN
serta supply and chain yang menopang industri energi
dan migas dengan tetap mempertimbangkan tren dan
perkembangan pasar industri tersebut.
Skim kredit untuk produk baru terus dikembangkan
terutama skim kredit untuk migas untuk menindaklanjuti
dibukanya Desk Migas, unit kerja yang fokus melayani
bisnis yang berkaitan dengan minyak gas di BRI sehingga
peluang bisnis pembiayaan korporasi sektor ini dapat
ditangkap dengan baik.
Pemantauan kredit akan dikembangkan terintegrasi by
system menggunakan Loan Monitoring System agar
dapat mengantisipasi pemburukan kualitas portofolio
kredit sehingga tingkat NPL dapat ditekan dan lebih
terkendali dengan baik.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
114
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Pelayanan perbankan yang prima dan spesifik serta
menyeluruh (one stop service) menjadi andalan BRI di
dalam bekerja sama dengan institusi kelembagaan dan
financial company, yang pada akhirnya memberikan
imbal balik berupa pengembangan bisnis BRI baik di
sisi pendanaan, pembiayaan maupun sumber fee-based
Income.
Produk Pinjaman
Ragam produk pinjaman BRI kepada BUMN maupun
anak perusahaannya meliputi cash loan dalam bentuk
kredit modal kerja maupun kredit investasi dan non-cash
loan dalam bentuk L/C, bank garansi, SKBDN (Surat
Kredit Berdokumen Dalam Negeri) maupun Standby L/C.
Pembiayaan ini diberikan untuk berbagai sektor usaha
antara lain industri telekomunikasi, perkebunan, pupuk,
bahan bakar minyak, infrastruktur, maupun proyek-proyek
khusus seperti energi dan ketahanan pangan. Fasilitas
pembiayaan tersebut mampu menciptakan sinergi di
antara BUMN maupun instansi yang ada, yaitu BUMN
kekaryaan, industri perkebunan, dan proyek revitalisasi
industri gula nasional.
Produk Simpanan dan Jasa Perbankan
Jenis produk simpanan yang ditawarkan BRI kepada
institusi tersebut di atas umumnya berupa giro dan
deposito serta produk tabungan sebagai rekening
penampungan gaji. Disamping itu BRI juga melayani jasa
pengelolaan uang Negara dan institusi meliputi:
a. Treasury Single Account (TSA)
Treasury Single Account (TSA) mempunyai tujuan
pokok untuk menciptakan efisiensi pengelolaan
uang Negara dengan mekanisme sentralisasi saldo
kas pada satu rekening. BRI merupakan salah satu
Bank Umum yang ditunjuk untuk mengelola proyek
TSA mempunyai transformasi strategi pemenangan
fase TSA pertama 2007/2009 ke fase TSA kedua
2010/2012. Strategi BRI pada fase pertama adalah
mengakuisisi seluruh penyaluran dana, sedangkan
pada fase kedua strategi BRI fokus pada daerah yang
memiliki dana besar.
b. Modul Penerimaan Negara (MPN)
MPN PrimA adalah aplikasi terpadu yang ditujukan
untuk melakukan pembayaran setoran penerimaan
negara dari wajib setor kepada Direktorat Jenderal
Perbendaharaan. Transaksi MPN PrimA meliputi
BISNIS KELEMBAGAAN & BUMN
Bisnis Kelembagaan dan BUMN BRI ditujukan untuk
memanfaatkan secara optimal ceruk pasar yang
mempunyai potensi bagi pengembangan kinerja BRI.
Visi BRI atas Bisnis Kelembagaan dan BUMN adalah
untuk menjadikan BRI sebagai Bank Terkemuka dalam
mengarahkan dan mengkoordinasikan pembiayaan
BUMN maupun mobilisasi dana APBN/APBD serta dana
Lembaga Keuangan yang disalurkan melalui Kementerian/
Lembaga Tinggi Negara/Instansi, Pemerintah Provinsi/
Kota/Kabupaten, Lembaga Pendidikan dan Rumah Sakit
serta Lembaga Keuangan.
Pasar sasaran bisnis ini antara lain meliputi institusi baik
swasta maupun instansi pemerintah di tingkat pusat dan
daerah, lembaga pendidikan, Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) termasuk anak perusahaannya dan Badan
Usaha Milik Daerah (BUMD). Seluruh institusi tersebut
membutuhkan suatu layanan perbankan yang eksklusif,
customized, berkesinambungan serta dapat diakses
di seluruh Indonesia. Kelengkapan produk dan jasa
perbankan serta jaringan yang tersebar luas di seluruh
Indonesia membuat BRI senantiasa menjadi mitra terbaik
bagi seluruh institusi tersebut.
BRI terbukti selalu mendapatkan kepercayaan Pemerintah
dalam penyaluran, pembiayaan maupun pendanaan
atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Kepercayaan yang sama juga diberikan oleh lembaga-
lembaga keuangan dan dana pensiun. Dalam beberapa
tahun terakhir, BRI telah mengembangkan potensi bisnis
di BUMN termasuk anak perusahaannya serta BUMD
secara optimal. Pengembangan bisnis ini merupakan
salah satu upaya BRI dalam mendukung sektor bisnis
UMKM sehingga tercipta trickle down effect yang memberi
manfaat langsung maupun tidak langsung kepada bisnis
UMKM sebagai core business BRI dan upaya BRI untuk
meningkatkan fee-based income.
Untuk memenangkan persaingan dalam bisnis
kelembagaan dan BUMN, BRI telah menerapkan strategi
antara lain acquisition strategy, win back strategy dan
maintenance strategy. Seluruh strategi ini terbukti efektif
menguatkan eksistensi BRI sebagai satu-satunya bank di
Indonesia yang fokus melayani kelembagaan dan BUMN.
Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan BRI sebagai
one stop financial services bagi bisnis kelembagaan dan
BUMN, BRI terus melakukan pengembangan di bidang
sumber daya manusia, kebijakan, teknologi serta jaringan
kerja.
Bisnis Kelembagaan & BUMN
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
115
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
pembayaran Surat Setoran Pajak (SSP), Pajak Bumi
dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan (BPHTB), Surat Setoran Pengembalian
Belanja (SSPB), Surat Setoran Penerimaan Negara
Bukan Pajak (SSBP), Surat Setoran Pabean, Cukai
dan Pajak dalam rangka impor (SSPCP), Surat
Setoran Cukai atas Barang Kena Cukai dan PPN hasil
tembakau buatan dalam negeri (SSCP), dan Surat
Tanda Bukti Setoran/Pungutan Ekspor (STBS).
c. Treasury National Pooling (TNP)
Treasury National pooling (TNP) adalah sistem yang
digunakan untuk mengetahui posisi saldo konsolidasi
dari seluruh rekening Bendahara Pengeluaran yang
terdapat pada seluruh Kantor Cabang BRI tanpa
harus melakukan perpindahan dana antar rekening.
d. Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan
Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) On-
line
SPMB
Sistem pembayaran SPMB dapat mempermudah
mahasiswa untuk melakukan penyetoran uang
pendaftaran dan registrasi on-line di Universitas yang
dapat diakses di seluruh Unit Kerja BRI.
SPP On-line
SPP on-line membantu universitas dan mahasiswa
mempermudah penarikan dan pengelolaan setoran
kewajiban mahasiswa secara on-line melalui seluruh
jaringan BRI.
e. Salary Crediting atau pembayaran gaji
Salary crediting adalah fasilitas pengkreditan gaji
secara otomatis dari rekening individu atau perusahaan
ke rekening simpanan karyawannya sesuai tanggal
yang telah disepakati.
f. Layanan Pembayaran SSB
Dalam rangka mendukung program Quick Wins,
sebagai program Reformasi Birokrasi POLRI,
BRI ditunjuk sebagai bank yang melaksanakan
pengelolaan pembayaran PNBP (Penerimaan Negara
Bukan Pajak) POLRI yaitu SIM (Surat Izin Mengemudi),
STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan), BPKB (Buku
Pemilik Kendaraan Bermotor), TNKB (Tanda Nomor
Kendaraan Bermotor), STCK (Surat Tanda Coba
Kendaraan), Klipeng (Klinik Pengemudi) dan Senpi
(Senjata Api) melalui ATM, Electronic Data Capture
(EDC), dan Teller BRI.
g. SIM Smart BRI
SIM Smart adalah kartu berteknologi microchip yang
berfungsi ganda sebagai SIM juga sebagai alat bayar
titipan denda tilang dan dapat digunakan langsung di
lokasi pelaksanaan tilang.
h. Payment Point PLN
Payment Point PLN melayani penerimaan pembayaran
tagihan listrik dan tagihan PLN lainnya secara on-line.
i. Payment Point PDAM
Payment Point Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
memberikan layanan pengelolaan keuangan PDAM
dan penerimaan pembayaran tagihan pelanggan
PDAM.
j. Kartu Merah Putih
Kartu Merah Putih adalah kartu untuk anggota POLRI
dan anggota TNI serta berfungsi sebagai kartu ATM
BRI.
Tampilan Kartu Merah Putih:
k. Kartu PNS Elektronik (KPE)
KPE merupakan kartu identitas Pegawai Negeri Sipil
(PNS) yang memuat data PNS dan keluarganya secara
elektronik. KPE diberikan kepada setiap PNS dan tetap
berlaku setelah PNS yang bersangkutan pensiun. KPE
tambahan diberikan untuk suami/istri dan anak dari
penerima pensiun PNS. KPE berfungsi sebagai Kartu
Pegawai (Pengganti Karpeg), Kartu ASKES (Pengganti
Kartu Kuning), Kartu Pensiun (TASPEN) dan Kartu
Perumahan (Bapertarum).
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
116
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
oleh Menteri Hukum dan HAM RI sebagai tempat
masuk orang asing warga negara/wilayah tertentu ke
dalam wilayah RI.
o. ASABRI Santunan
Pembayaran manfaat santunan ASABRI dapat
dilakukan di Unit Kerja BRI, berdasarkan identitas
penerima yang data datanya telah terdapat di dalam
sumber data (data source) PT. ASABRI yang diakses
oleh unit kerja BRI.
Manfaat santunan ASABRI antara lain Manfaat
Santunan Asuransi (SA), Manfaat Santunan Nilai
Tunai Asuransi (SNTA), Manfaat Santunan Risiko
Kematian (SRK), Manfaat Santunan Risiko Kematian
Khusus (SRKK), Manfaat Santunan Cacat Karena
Dinas Operasi (SCKD), Manfaat Santunan Cacat
Bukan Karena Dinas Operasi (SCBKD), dan Manfaat
Santunan Biaya Pemakaman (SBP).
Pembayaran santunan tunai ASABRI kepada Penerima
Manfaat Santunan dilakukan dengan sistem on-line
terpadu antara ASABRI dengan BRI. Aplikasi yang
digunakan unit kerja BRI adalah Aplikasi Pembayaran
Manfaat Santunan Tunai ASABRI.
Layanan Cash Management
Semakin ketatnya persaingan di perbankan dan semakin
pesatnya perkembangan dunia bisnis menuntut BRI untuk
selalu dapat menyediakan fitur-fitur cash management
yang relevan dan menjadi solusi dari setiap permasalahan
yang dihadapi nasabah. Fitur-fitur New Cash Management
System BRI meliputi :
Account Information
Reporting
Transfer Antar Rekening BRI
Mass Fund Trasfer
Payroll
Transfer Antar Bank ( RTGS )
Bill Payment
Liquidity Management System (POOLING). Fitur
transfer otomatis pada beberapa rekening milik client
antara lain terdiri dari: fitur Fixed Balance Account, fitur
Range Balance Account, fitur Fill Defisit, fitur Value
Based Pooling, dan fitur Target Balance Account.
l. Kartu Perbankan (Pembayaran gaji, ATM)
Dengan adanya penggabungan berbagai macam
jenis kartu menjadi KPE tentu saja hal ini akan lebih
praktis dan memberikan nilai lebih bagi pemiliknya.
PNS akan mendapatkan kemudahan pelayanan
Kesehatan, TASPEN dan Bapertarum karena tidak
perlu lagi mempersiapkan dokumen bukti diri sebagai
PNS yang dipersyaratkan. Selain itu, PNS juga dapat
memanfaatkan anjungan KPE (e-Kios) yang tersedia di
kantor PNS untuk berbagai macam transaksi. Untuk
mengoptimalkan produk ini, maka KPE di-bundling
dengan tabungan BritAma. Tampilan KPE seperti
gambar berikut :
m. Bapertarum PNS
Bapertarum-PNS adalah Badan Pertimbangan
Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil yang
bertugas mengumpulkan tabungan perumahan
dari PNS dan menyalurkannya kembali kepada
PNS baik semasa aktif atau pensiun dalam bentuk
Bantuan Uang Muka (BUM), Bantuan Membangun
(BM), dan Pengembalian Tabungan (PT). Kerjasama
antara BRI dengan Bapertarum saat ini adalah untuk
Pengembalian Tabungan (PT), berupa pengembalian
seluruh tabungan perumahan selama menjadi PNS
aktif ditambah sejumlah bunga sesuai dengan
ketentuan Bapertarum.
n. Visa On Arrival (VOA) Imigrasi
BRI bekerja sama dengan Dirjen Imigrasi melayani
pembayaran VOA atau Visa Kunjungan Saat
Kedatangan melalui fasilitas perbankan BRI di seluruh
Tempat Pemeriksaan Imigrasi seperti pelabuhan,
bandar udara, darat atau tempat lain yang ditetapkan
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
117
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
KINERJA BISNIS KELEMBAGAAN DAN BUMN
Selama tahun 2010 penyaluran kredit ke BUMN mengalami peningkatan yang signifikan, tumbuh 18,88% dari Rp20,92 triliun di
tahun 2009 menjadi Rp24,87 triliun di tahun 2010. Komposisi kredit kepada BUMN terhadap total kredit korporasi meningkat dari
54,62% di tahun 2009 menjadi 55,45% di tahun 2010.
BRI telah melakukan Perjanjian Kerjasama Strategis dengan beberapa Kementerian, Pemerintah Provinsi / Kabupaten, Lembaga
Pendidikan (Universitas), Dana Pensiun dan Perusahaan Swasta dengan rincian sebagai berikut:
24 Perjanjian Kerjasama yang terdiri dari: 8 PKS dengan Instansi Pemerintah (Kementerian, Pemerintah Provinsi/Kabupaten),
6 PKS dengan BUMN, 3 PKS dengan Lembaga Pendidikan, dan 7 PKS dengan Perusahaan Swasta.
8 Memorandum of Understanding (MoU) yang terdiri dari: 3 MoU dengan Instansi Pemerintah (Kementerian, Pemerintah
Provinsi/Kabupaten), 1 MoU dengan BUMN, 1 MoU dengan Lembaga Pendidikan, dan 3 MoU dengan Perusahaan Swasta.
Sedangkan Dana Pihak Ketiga yang berhasil dihimpun meningkat 7,35% dari Rp58,5 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp62,8
triliun pada tahun 2010.
Komposisi Dana Pihak Ketiga Bisnis Kelembagaan
2008
1
6
.
4
2
0
3
0
.
6
6
6
1
6
6
2009
5
0
.
8
4
9
3
4
.
9
1
1
2
3
.
5
7
1
2010
3
5
.
9
9
3
2
6
.
5
3
1
2
8
8
Giro Deposito Tabungan
(Rp miliar)
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
118
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Sampai akhir tahun 2010, 414 perusahaan tercatat sebagai nasabah Cash Management BRI meliputi perusahaan ritel (322),
BUMN (36), korporasi/swasta nasional (22), Departemen/Lembaga Negara (21), dan Lembaga Pendidikan (13). Jumlah tersebut
mengalami peningkatan sebanyak 173 perusahaan sepanjang tahun 2010.
Jumlah rekening kelolaan Cash Management meningkat tajam sejak tahun 2009 dari sekitar 2.500 rekening meningkat menjadi
10.897 rekening pada akhir tahun 2010, atau meningkat 8.397 rekening sepanjang tahun 2010. Rekening tersebut antara lain
berasal dari lembaga-lembaga berikut: POLRI, Perum Pegadaian, POLDA METRO, Kementerian Keuangan, PLN, TASPEN, PT.
Pelindo, dan PT. Pupuk Sriwidjaja.
Produk simpanan yang dikelola Cash Management BRI meliputi Giro, Tabungan, dan Deposito dalam mata uang Rupiah, USD,
HKD, EUR, JPY, dan SGD. Total dana kelolaan Cash Management BRI mencapai lebih kurang Rp12,5 triliun pada akhir 2010.
Cash Management BRI menyumbangkan fee yang meningkat pesat dalam dua tahun terakhir. Seiring dengan meningkatnya
jumlah perusahaan pengguna Cash Management BRI, fee-based income yang terkait dengan Cash Management BRI mengalami
peningkatan 291,5% dari Rp864,18 juta pada tahun 2009 menjadi Rp3,38 miliar pada tahun 2010.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
119
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
RENCANA PENGEMBANGAN
Rencana pengembangan yang akan dilakukan berkaitan dengan bisnis kelembagaan dan BUMN pada tahun 2011 adalah
pengembangan Smart SIM, pengembangan sistem Prabayar Listrik PLN, penyempurnaan sistem Modul Penerimaan Negara
(MPN), peningkatan kerjasama dengan K3S BP MIGAS, pengembangan dan penerapan sistem pembayaran santunan dan
pensiun ASABRI melalui Unit Kerja BRI secara real time on-line dan penyempurnaan sistem pembayaran PDAM, SPMB dan SPP
on-line BRI.
Rencana pengembangan Cash Management BRI tahun 2011 adalah menyempurnakan fitur-fitur, menyempurnakan Buku
Pedoman Operasional, melakukan sosialisasi dan evaluasi ke unit kerja BRI di seluruh Indonesia, sehingga menjadikan Cash
Management BRI sebagai salah satu layanan yang berperan aktif dalam mengembangkan bisnis BRI melalui mobilisasi dana
corporate, akuisisi nasabah corporate, dan peningkatan fee-based income.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
120
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Rencana ke depan, BRI akan terus mengembangkan
bisnis ekspor-impor dan jasa-jasa luar negeri yang dapat
memberikan kontribusi fee-based income sekaligus
mendorong peningkatan usaha mikro, kecil dan
menengah.
Pasar Sasaran
Bisnis internasional bersifat luas dan tidak membedakan
faktor demografis, sektor ekonomi maupun jenis lembaga.
Pasar sasaran bisnis internasional adalah setiap pelaku
usaha baik individu maupun badan usaha yang melakukan
transaksi trade finance atau membutuhkan pelayanan
trade finance dalam kegiatan bisnisnya.
Perkembangan Transaksi Trade Finance selama 2006-
2010
a. Perkembangan Transaksi Ekspor
Perkembangan transaksi ekspor mengalami
peningkatan cukup signifikan selama tahun 2010,
dari USD836 juta pada tahun 2009 menjadi USD1,19
miliar, atau tumbuh sebesar 41,74% .
Salah satu faktor pemicu peningkatan tersebut adalah
membaiknya kondisi perekonomian global yang
ditandai dengan meningkatnya permintaan dan daya
beli asing sehingga berdampak positif terhadap usaha
ekspor di Indonesia.
BISNIS INTERNASIONAL
BRI sebagai bank komersial terkemuka di Indonesia
menyediakan berbagai macam produk dan layanan untuk
dapat memenuhi kebutuhan nasabah, termasuk produk
dan layanan transaksi trade finance.
Dalam upaya mengembangkan transaksi trade finance,
BRI memiliki visi menjadi Bank Devisa Terkemuka yang
Mengutamakan Kepuasan Nasabah. Untuk mewujudkan
visi tersebut, BRI melakukan kegiatan perbankan terbaik
dengan mengembangkan dan memasarkan produk
trade finance dan remittance; memperluas hubungan
corespondent banking; dan meningkatkan pelayanan
trade finance kepada nasabah melalui sistem pembinaan
yang terpadu.
Transaksi trade finance memberikan kontribusi terhadap
bisnis BRI termasuk fee-based income. Trade finance
menciptakan dan membuka peluang bisnis melalui
pemberian funding kepada nasabah potensial yang
masih belum menjadi debitur BRI (loan expansion) serta
menciptakan peluang sumber dana jangka pendek
yang sangat berarti bagi BRI. Transaksi trade finance
merupakan salah satu sumber fee-based income yang
sangat mendukung upaya peningkatan pendapatan non
bunga dan dapat dijadikan sebagai alat promosi dalam
mempertahankan dan meningkatkan citra BRI sebagai
bank terbaik.
Trade finance yang ditawarkan BRI meliputi:
1. Opening Letter of Credit (L/C) maupun SKBDN
termasuk amandment kedua produk tersebut
2. Advising L/C maupun SKBDN (Surat Kredit
Berdokumen Dalam Negeri)
3. Postshipment Financing (Negosiasi dan Diskonto
Export Bill) L/C maupun SKBDN
4. Bill Purchase
5. Standby L/C, Guarantee, dan Counter Guarantee
6. Trust Receipt (TR)
7. Refinancing L/C (Sight/Usance/UPAS/Usance
Payable at Usance) dan Non-L/C
8. Money Changer
9. Inward/Outward Remittance
10. Inward/Outward Documentary Collection ( Document
Against Payment dan Document Agains Acceptance)
11. Inward/Outward Clean Collection
Perkembangan Transaksi Ekspor
Dalam miliar USD
06 07 08 09 10
1
,
1
9
0
,
8
8
0
,
7
8
0
,
7
8
0
,
8
4
Bisnis Internasional
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
121
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
b. Perkembangan Transaksi Impor
Perkembangan transaksi impor BRI selama kurun
waktu 5 tahun terakhir mengalami kenaikan dari tahun
2006 ke tahun 2007, dan agak menurun pada tahun
2008. Selama tahun 2010, jumlah transaksi impor
yang dilayani di BRI mencapai USD2,39 miliar atau
tumbuh 64,05%.
Untuk lebih memperkenalkan produk-produk
trade finance kepada nasabah dan calon nasabah,
BRI meningkatkan program pemasaran melalui
perluasan kerjasama dengan bank koresponden dan
lembaga keuangan, mengadakan kegiatan expo dan
sponsorship baik di dalam dan luar negeri, serta
terus membangun komunikasi aktif dengan mitra
bisnis melalui business gathering untuk mendapatkan
informasi yang up to date tentang kebutuhan bisnis
nasabah.
Perkembangan Produk Remittance
BRI fokus pada pengembangan bisnis pengiriman uang
dari dan ke luar negeri. Dengan dukungan kerjasama dari
counterparties baik bank maupun lembaga keuangan non-
bank yang memiliki jaringan luas di luar negeri, BRI mampu
memberikan layanan remittance individu secara real-time
sehingga beneficiary dapat menerima dana dalam waktu
cepat dengan biaya yang kompetitif.
a. Perkembangan Bisnis Remittance
Pencapaian remittance BRI selama tahun 2010
mengalami peningkatan dibanding tahun 2009. Posisi
Desember 2010, nilai outward remittance mencapai
USD15,12 miliar, naik 59,50% dibandingkan
Desember 2009 sebesar USD9,48 milyar. Sedangkan
total inward remittance pada Desember 2010 adalah
sebesar USD10,76 milyar atau tumbuh 30,29%
dibandingkan Desember 2009. Namun demikian,
jumlah transaksi remittance meningkat 90,56% pada
tahun 2010 menjadi 554.221 transaksi dibandingkan
tahun 2009.
Fee-based income dari bisnis remittance meningkat
sejalan dengan pertumbuhan bisnis remittance.
Sampai dengan Desember 2010, bisnis remittance
memberikan kontribusi fee-based income sebesar
Rp20,63 miliar, atau meningkat sebesar 46,68% dari
tahun 2009 sebesar Rp14,07 miliar.
Perkembangan Transaksi Impor BRI
Dalam miliar USD
06 07 08 09 10
2
,
3
9
1
,
2
9
1
,
8
0
1
,
4
2
1
,
4
6
Perkembangan Transaksi Remittance
Dalam miliar USD
06 07 08 09 10
2
,
5
8
3
,
4
0
4
,
4
5
8
,
2
6
1
0
,
7
6
6
,
2
0
7
,
3
0
1
1
,
0
6
9
,
4
8
1
5
,
1
2
Inward Remittance
Outward Remittance
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
122
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
BRI menyediakan fasilitas loan refinancing bagi nasabah
yang ingin memperoleh pinjaman valuta asing dengan
bunga yang kompetitif. Semua layanan tersebut di atas
tidak terlepas dari trade line facility dari berbagai bank
koresponden di luar negeri.
Dukungan bank koresponden tersebut juga termasuk
pemeliharaan rekening nostro, yaitu rekening BRI dalam
berbagai valuta asing di depository correspondent
bank yang dipergunakan untuk proses settlement
transaksi impor, menampung proceed ekspor dan untuk
kepentingan incoming/outgoing remittance. Saat ini BRI
telah aktif bertransaksi dalam beberapa valuta asing antara
lain USD, EUR, GBP, SGD, AUD, CAD, HKD, JPY, SEK,
SAR, AED, CHF dan RMB pada 26 rekening nostro di
beberapa depository correspondent bank.
Selain itu, BRI telah bekerja sama dengan bank koresponden
dan perusahaan money changer untuk penyetoran dan
penarikan bank notes, sehingga memungkinkan seluruh
unit kerja BRI yang memiliki potensi bisnis money changer
dapat bertindak sebagai money changer.
Selama tahun 2010 BRI menyediakan bank notes SAR
untuk biaya hidup jamaah haji di tiga embarkasi yaitu di
Jakarta, Surabaya dan Medan. BRI juga menyediakan
layanan money changer SAR dan USD pada musim haji,
dengan aktif membuka konter di setiap embarkasi haji di
seluruh Indonesia.
Tahun 2010 BRI menerima STP (Straight-Through
Process) Award dari Bank of New York Mellon, New York.
b. Inovasi BRIfast Remittance
BRIfast Remittance adalah layanan remittance dengan
menggunakan sistem aplikasi BRIfast Remittance
web system. Keunggulan BRIfast Remittance adalah
layanan pengiriman uang dari luar negeri dapat
diterima pihak penerima di Indonesia dalam hitungan
detik. BRIfast Remittance dapat diberikan baik
kepada nasabah pemegang rekening BRI maupun
walking customer dengan membawa official ID
dan PIN ke seluruh unit kerja BRI untuk pencairan
pengiriman uang dari luar negeri.
Perkembangan Kegiatan Correspondent Banking
BRI telah menjalin hubungan koresponden dengan kurang
lebih 1.100 bank koresponden yang tersebar di seluruh
dunia dalam bentuk Relationship Management Application
(RMA) untuk penggunaan SWIFT sebagai authenticated
international payment instruction dan penggunaan test
key arrangement, maupun hubungan koresponden yang
bersifat informal seperti courtesy visit maupun courtesy
call.
Dengan dukungan networking bank koresponden luar
negeri yang luas, BRI mampu memberikan layanan dan
produk trade finance terbaik bagi nasabah. Selain itu
dukungan komitmen bank-bank koresponden dalam
bentuk trade line facility kepada BRI terus meningkat
karena BRI dinilai mampu mempertahankan kinerja terbaik
sebagai The Most Profitable Bank di Indonesia.
Letter of Credit (L/C) refinancing (Sight/Usance/Usance
Payable At Sight (UPAS)/Usance Payable at Usance)
disediakan kepada nasabah untuk memenuhi kebutuhan
impor barang dengan biaya yang lebih kompetitif. Selain
itu refinancing dapat digunakan untuk produk non L/C
agar nasabah yang melaksanakan impor non L/C dapat
memenuhi kebutuhan impornya dengan biaya yang lebih
kompetitif.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
123
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Perkembangan Unit Kerja Luar Negeri (UKLN)
Layanan trade finance BRI diperkuat oleh Unit Kerja Luar
Negeri BRI yang saat ini terdiri dari BRI New York Agency,
BRI Cayman Island Branch dan Hongkong Representative
Office. Keberadaan UKLN tersebut tak lepas dari upaya
mengoptimalkan layanan kepada nasabah.
BRI New York Agency memberikan layanan trade finance
berupa funding untuk refinancing L/C serta melayani bill
rediscounting yaitu pengambilan wesel ekspor usance
untuk membantu cashflow nasabah. BRI New York saat ini
juga aktif memberikan loan untuk kebutuhan trade finance
maupun modal kerja nasabah. Selain itu BRI New York
melayani pula produk simpanan kepada bukan penduduk
lokal.
BRI Cayman Island Branch secara aktif telah menerbitkan
L/C impor yang dibuka oleh nasabah bukan penduduk
dan juga berperan sebagai booking office bagi nasabah
institusi yang menggunakan kredit ekspor.
BRI Hongkong Representative Office memiliki peranan
dalam mengkoordinasikan aktivitas bisnis serta
mengumpulkan informasi yang relevan yang menyangkut
investasi dan opportunity bisnis untuk mengembangkan
bilateral trade relations dan mempromosikan ekspor/impor
dari/ke Indonesia
Rencana Pengembangan Bisnis pada Tahun 2011
a. Pendirian Trade Processing Center (TPC) BRI.
Upaya peningkatan kualitas layanan produk trade
finance dilakukan dengan cara sentralisasi layanan
trade finance processing. Dalam jangka pendek
akan dilakukan pilot project sentralisasi dalam bentuk
pendirian Trade Processing Center.
b. Pengembangan Aplikasi SKBDN Net.
Aplikasi SKBDN Net merupakan aplikasi web-based
technology yang ditujukan untuk mengakomodasi
layanan nasabah yang terintegrasi (end-to-end
process).
c. Memperluas remittance business networking
BRI akan terus memperluas remittance business
networking di luar negeri bekerja sama dengan
bank koresponden/remittance company dan atau
membuka jaringan kerja baru di luar negeri.
d. Pengembangan innovative payment dan fitur produk
BRIFast Remittance.
e. Pilot project transaksi money changer
Melakukan pengembangan terhadap infrastruktur
dan aplikasi transaksi money changer yang pada
tahun ini sudah memasuki tahap pilot project.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
124
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Prestasi yang berhasil diraih oleh BRI adalah memperoleh
penghargaan sebagai Agen Penjual ORI007 terbaik ketiga
untuk kategori bank. Dengan strategi pemasaran ORI dan
Sukuk Ritel melalui seluruh Kantor Cabang dan Kantor
Cabang Pembantu BRI yang tersebar di Indonesia, BRI
berupaya selalu memperoleh kepercayaan dari Pemerintah
untuk dapat bertindak sebagai selling agent/sub-selling
agent di setiap penerbitan ORI dan Sukuk Ritel.
Jasa Kustodian
BRI telah menjadi Bank Kustodian sejak tahun 1996
dengan berbagai jenis kelolaan aset, antara lain instrumen
money market berupa deposito/deposito on call hingga
Sertifikat Bank Indonesia, instrumen fixed income berupa
obligasi dan berbagai jenis surat hutang baik government
bond maupun corporate bond, serta instrumen ekuitas
berupa saham. Jasa Kustodian yang diberikan oleh BRI
termasuk pengelolaan mutual fund, meliputi berbagai jenis
Reksa Dana dan Dana Pensiun Lembaga keuangan.
Dalam upaya menghadapi perkembangan bisnis,
Kustodian BRI terus berinovasi dengan mengembangkan
fitur produk dan jasanya untuk memenuhi kebutuhan
nasabah. Kustodian BRI menjadi Bank Kustodian yang
dipercaya untuk mengelola sekuritisasi aset yang pertama
di Indonesia yaitu KIK-EBA DSMF 01 dan KIK-EBA DSMF
02. Selain itu, Kustodian BRI mengelola aset Reksa Dana
Penyertaan Terbatas (RDPT) atas permintaan nasabah
institusi, menjadi agen pembayaran dalam mekanisme
surat hutang hingga berperan sebagai escrow agent.
Dalam setahun terakhir, aset yang dikelola Kustodian BRI
meningkat 11% menjadi Rp31,94 triliun pada Desember
2010 jika dibandingkan dengan asset pada Desember
2009 sebesar Rp28,80 triliun. Sejalan dengan kenaikan
asset kelolaan Kustodian BRI tersebut, fee-based income
yang diterima BRI pada tahun 2010 meningkat 22%
dibandingkan dengan fee-based income pada tahun 2009
yaitu dari Rp11,34 miliar menjadi Rp13,88 miliar.
Terkait dengan upaya peningkatan kualitas layanan,
Kustodian BRI terus mengembangkan sistem yang
digunakan termasuk client information module, informasi
berbasis web, sebagai sarana pengiriman instruksi
transaksi nasabah Kustodian BRI secara on-line.
Treasury
Aktivitas Treasury di BRI merupakan salah satu fungsi
yang sangat strategis dalam pengelolaan assets dan
liabilities Bank. Secara umum, pengelolaan assets dan
liabilities BRI bermuara pada tujuan untuk memastikan
bahwa perusahaan dapat memberikan nilai tambah (value
creation) bagi pemegang saham serta dapat melakukan
mitigasi risiko-risiko yang mungkin timbul.
Untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham,
BRI secara periodik mengamati dan menganalisa
pencapaian target-target perusahaan antara lain
mengantisipasi pertumbuhan pinjaman serta sumber dana,
memastikan kecukupan pendanaan bagi seluruh segmen
bisnis pada setiap siklus ekonomi, menjaga likuiditas
yang memadai, dan menjaga struktur biaya dana yang
kompetitif untuk mendukung pertumbuhan perusahaan.
BRI tetap fokus menjaga profitabilitas jangka panjang
yang stabil, mempertahankan struktur permodalan yang
kuat serta menjaga kualitas aktiva produktif.
Di samping itu, untuk melindungi risiko suku bunga dan nilai
tukar, BRI secara periodik mengamati dan menganalisa
perkembangan ekonomi nasional dan internasional untuk
dijadikan dasar dalam rangka mengoptimalkan setiap gap
yang terjadi melalui transaksi di pasar keuangan. Interest
rate gap, exchange rate gap, dan maturity gap yang timbul
dikelola untuk mencapai tujuan optimalisasi pendapatan
dan biaya bunga.
Jasa Penunjang Pasar Modal
Trust dan Selling Agent
Sebagai upaya memanfaatkan potensi fee-based
income, BRI memberikan jasa trust dan selling agent.
Melalui fungsi trust, BRI dapat bertindak sebagai wali
amanat, agen pembayar, maupun agen penjamin dalam
penerbitan surat berharga oleh emiten. Total penerbitan
surat berharga yang dikelola oleh BRI selaku wali amanat
sampai dengan 31 Desember 2010 adalah sebesar
Rp24,98 triliun. Dimasa yang akan datang, BRI akan terus
bekerjasama dengan pihak-pihak di Pasar Modal untuk
mengembangkan jasa trust.
Dalam fungsinya sebagai selling agent, BRI memasarkan
produk investasi antara lain reksa dana, ORI, dan Sukuk
Ritel. Bekerjasama dengan delapan Manajer Investasi,
saat ini BRI memasarkan 16 produk Reksa Dana, dengan
fokus utama pemasaran ditujukan kepada nasabah
BRI Prioritas. Selain itu, selama tahun 2010 BRI telah
ditunjuk oleh Pemerintah sebagai Selling Agent ORI007
dan sebagai Sub-Selling Agent Sukuk Ritel Seri SR002.
Treasury dan Jasa Penunjang Pasar Modal
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
125
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Dana Pensiun Lembaga Keuangan
Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI merupakan
lembaga pengelola Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP)
yang didirikan oleh Bank BRI sejak tanggal 9 Januari
2006. Produk DPLK BRI dikenal dengan nama Investasi
Rencana Pensiun BRI terbuka bagi masyarakat umum
baik peserta individu maupun kelompok dari pekerja
sektor formal maupun informal.
Sebagai pengelola dana pensiun, DPLK BRI memiliki
visi menjadi market leader dalam industri dana
pensiun yang mengutamakan kepuasan nasabah dan
memberikan kontribusi fee-based income bagi BRI. Untuk
mewujudkannya, DPLK BRI mengemban misi mengelola
long-term investment secara prudent yang memberikan
return optimal, mengelola investasi secara profesional dan
transparan, guna menata masa depan peserta DPLK BRI
menjadi lebih baik.
Investasi Rencana Pensiun BRI menawarkan 4 pilihan
investasi yaitu: Paket Investasi Pasar Uang, Paket
Investasi Pendapatan Tetap, Paket Investasi Saham
dan Paket Investasi Kombinasi. Keunggulan dari produk
Investasi Rencana Pensiun BRI adalah dikelola secara
modern dengan valuasi Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang
dipublikasikan setiap hari di surat kabar nasional, prosedur
pendaftaran dan setoran iuran yang mudah, jaringan
layanan terluas melalui seluruh kantor cabang dan kantor
cabang pembantu BRI, aman serta memberikan tingkat
imbal hasil yang sangat kompetitif. Kinerja DPLK BRI
selain diumumkan melalui surat kabar nasional, juga dapat
diakses langsung melalui website: www.investment.bri.
co.id.
Kinerja investasi DPLK BRI sampai dengan posisi
31 Desember 2010 memberikan hasil yang sangat
memuaskan. Imbal hasil yang diperoleh dari investasi
DPLK Pasar Uang adalah sebesar 9,54% (yoy) jauh lebih
tinggi dibandingkan rata-rata bunga deposito 1 bulan
sebesar 5,72%. Demikian pula dengan pencapaian hasil
investasi DPLK Pendapatan Tetap dan DPLK Saham.
Imbal hasil DPLK Pendapatan Tetap adalah sebesar
11,67% (yoy), lebih tinggi dari SBI dengan imbal hasil
rata-rata 8,11%. Sedangkan hasil DPLK Saham sebesar
57,05% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja
IHSG (yoy) sebesar 46,13%.
Kontribusi fee-based income DPLK BRI kepada Bank BRI
selaku pendiri sampai dengan posisi akhir tahun 2010
adalah sebesar Rp10,11 miliar, atau naik sebesar 20,40%
dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun
sebelumnya yaitu sebesar Rp8,39 miliar dengan total aset
kelolaan sebesar Rp1,40 triliun atau naik sebesar 19,15%
dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun
sebelumnya yaitu sebesar Rp1,18 triliun.
Keunggulan komparatif produk Investasi Rencana
Pensiun BRI dibandingkan kompetitornya adalah luasnya
jaringan pemasaran produk ini. Dengan memanfaatkan
luasnya jaringan kantor cabang dan kantor cabang
pembantu BRI yang tersebar di seluruh Indonesia,
diharapkan akan semakin banyak masyarakat Indonesia
yang sadar akan kesejahteraan masa tuanya dengan
mengikuti program pensiun.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
126
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Tinjauan Operasional
Sumber Daya Manusia
kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan
pembinaan dan pengembangan karier maupun
kesejahteraan pekerja sebagai bentuk retention
strategy bagi pekerja-pekerja yang berkinerja sangat
baik.
2. Pembinaan dan Pengembangan Pekerja
Pekerja diberi kesempatan yang sama untuk
mengembangkan karier. Beberapa kebijakan
mengenai pembinaan dan pengembangan karier
SDM BRI pada tahun 2010 adalah :
Talent Pool
Dimaksudkan untuk mengidentikasi dan
mempersiapkan pekerja dengan kinerja unggul
untuk menduduki jabatan-jabatan strategis.
Kebijakan ini selanjutnya akan dikembangkan
sebagai dasar penyusunan kebijakan talent
management.
Kesempatan karier untuk pekerja outsourcing.
Dimaksudkan untuk memberikan motivasi dan
kesempatan bagi pekerja outsourcing yang
berkinerja sangat baik untuk mengisi formasi
jabatan Pekerja tetap tertentu seperti tenaga
pemasar dan fungsi administrasi.
3. Kesejahteraan Pekerja
BRI memberikan kompensasi kepada pekerja
BRI dalam kerangka sistem yang adil, kompetitif,
mudah diadministrasikan, sesuai kebutuhan dan
kemampuan perusahaan. Besarnya kompensasi
pekerja BRI sesuai dengan bobot jabatan dan
prestasi pekerja pada tingkat yang kompetitif
terhadap pesaing.
BRI selalu memberikan dan menjaga tingkat upah
pada level yang kompetitif dengan cara mengikuti
survei upah yang dilakukan oleh konsultan
independen secara teratur. Dengan demikian, BRI
dapat mengupayakan sistem kompensasi yang
sederhana namun dinamis sesuai perkembangan
berbagai bidang bisnis BRI yang sangat pesat.
BRI memiliki jaringan kerja dengan sebaran geografis
yang luas dan memiliki tingkat biaya hidup yang
berbeda-beda. Hal ini menuntut sistem kompensasi
BRI dapat diadaptasikan dengan keadaan tersebut.
Untuk itu, BRI telah mengidentifikasi perbedaan
tingkat biaya hidup di masing-masing unit kerja yang
ada dan membaginya dalam beberapa zona yang
mempengaruhi jumlah kompensasi yang diterima
pekerja.
Pada tahun 2010 telah ditetapkan tema tahunan (theme
of the year) BRI yaitu Tahun Sumber Daya Manusia
(SDM) yang merupakan perwujudan untuk merealisasikan
salah satu visi BRI Memberikan pelayanan prima
kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar
luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang
profesional dengan melaksanakan praktik good corporate
governance.
Terkait dengan hal tersebut, maka pengelolaan SDM
dilaksanakan secara berkesinambungan melalui rangkaian
aktivitas yang terintegrasi dalam kerangka Arsitektur
SDM mulai dari aktivitas planning, acquiring, developing,
retaining and maintaining, performance management dan
terminating.
Melalui pengelolaan SDM tersebut dapat diciptakan
SDM yang profesional dalam jumlah yang memadai
berdasarkan keahlian yang dibutuhkan sesuai tuntutan
dinamika perkembangan dunia usaha sehingga tercapai
produktitas SDM yang optimal dalam mendukung
keberhasilan implementasi strategi yang telah ditetapkan.
1. Rekrutmen
Kegiatan rekrutmen pekerja BRI untuk memperoleh
pekerja yang berkompeten dilakukan melalui
beberapa kebijakan sebagai berikut :
Program Pengembangan Staf (PPS), untuk
dikader menjadi calon pemimpin BRI masa
depan yang bersumber dari Sarjana (fresh
graduate) berbagai disiplin ilmu beberapa
perguruan tinggi ternama;
Kontrak, untuk pekerjaan tertentu termasuk
tenaga pemasar;
Outsourcing, untuk fungsi pekerjaan penunjang
(non-core business); dan
Special hiring, untuk pekerjaan di bidang bisnis
yang baru dikembangkan dan belum ada
sumber pemenuhan internal.
Pemenuhan SDM tersebut diutamakan untuk
memperoleh kader pemimpin BRI dan tenaga kerja
di bidang pemasaran. Selama tahun 2010, BRI
telah merekrut 1.000 calon pekerja melalui Program
Pengembangan Staf, 1.673 calon pekerja untuk
tenaga pemasar, 9.298 pekerja outsourcing, dan 23
calon pekerja melalui special hiring.
Pertumbuhan jumlah SDM untuk mendukung
perkembangan bisnis disertai dengan upaya BRI
mempertahankan kualitas SDM yang handal dengan
senantiasa memperkini maupun menetapkan
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
127
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Guna mendorong dan memberikan apresiasi kepada
pekerja yang memiliki prestasi kerja optimal, BRI
memiliki program insentif dan bonus yang diberikan
kepada pekerja yang mencapai dan melampaui
target kinerja. Pemberian insentif dan bonus tersebut
bergantung pada pencapaian target laba perusahan
secara nasional maupun target unit kerja. Disamping
itu, kenaikan upah bagi pekerja BRI diberikan dengan
memperhatikan prestasi dan pencapaian target.
Penghargaan kepada pekerja merupakan salah satu
nilai dari budaya kerja BRI dan memacu pencapaian
kinerja yang lebih baik. BRI juga memberikan
penghargaan lain dalam bentuk finansial dan non
finansial.
4. Hubungan Industrial dan Budaya Kerja
Dalam rangka penegakan disiplin Pekerja dengan
menciptakan iklim kerja yang sehat dan kondusif, maka
BRI menerapkan kebijakan reward dan punishment
secara konsisten dan adil kepada seluruh Pekerja.
Kondisi tersebut dibangun melalui Budaya Kerja BRI
yang secara terus menerus diimplementasikan dan
dikembangkan melalui Program Peningkatan Kinerja
yang wajib dilaksanakan minimal satu kali setiap
tahun di setiap unit kerja.
Nilai-nilai Dasar Budaya Kerja BRI yang terdiri dari
Integritas, Kepuasan Nasabah, Keteladanan, dan
Penghargaan SDM harus dilaksanakan oleh setiap
jajaran di BRI dalam berperilaku kerja baik secara
profesional maupun pribadi.
BRI juga menjalin komunikasi yang harmonis dengan
Serikat Pekerja yang merupakan mitra strategis
dalam upaya pengembangan perusahaan dengan
komitmen melaksanakan hubungan ketenagakerjaan
sesuai dengan Undang-Undang RI No.13 tahun
2003 tentang Ketenagakerjaan.
5. Rencana Pengembangan
Penyempurnaan kebijakan SDM yang telah dilakukan
akan menjadi dasar pengelolaan SDM BRI yaitu
Developing Integrated Talent Management System.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat menciptakan
iklim yang kompetitif dan adil bagi seluruh Pekerja
sehingga dapat memberikan kontribusi berupa
kinerja terbaik bagi Perusahaan. Selaras dengan
hal tersebut, maka dikembangkan pula teknologi
informasi yang terintegrasi dengan kebijakan SDM .
6. Pendidikan dan Pelatihan
Sumber daya manusia bagi sebuah bank adalah
aset utama yang harus dikembangkan dan dibekali
dengan skill, knowledge dan attitude yang sesuai
dengan perkembangan perusahaan.
Pada tahun 2010, BRI terus berusaha untuk
mengembangkan program-program pendidikan
dan pelatihan yang link and match dengan
perkembangan bisnis BRI, efisiensi, efektifitas dan
relevansi pendidikan dan pelatihan yang dijalani
oleh Pekerja BRI. Setiap pelatihan dan pendidikan
yang dijalani oleh pekerja harus dapat memberikan
manfaat kepada perusahaan seoptimal mungkin
dengan cara yang efektif dan efisien mungkin.
Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan
diselenggarakan di Pusdiklat Jakarta maupun di 6
Sentra Pendidikan yang berlokasi di Padang, Jakarta,
Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Makasar.
Selama tahun 2010, BRI telah mengeluarkan biaya
pendidikan sebesar Rp327,97 miliar meningkat
48,90% dari tahun 2009 sebesar Rp250,45 miliar.
Program pendidikan dan pelatihan yang
diselenggarakan terdiri atas:
a. Pendidikan dan Pelatihan Pembekalan untuk
Pekerja Hasil Perekrutan
Pendidikan yang diberikan berupa pembekalan
pengetahuan dan ketrampilan dasar yang
diperlukan pada saat pekerja bersangkutan
menduduki jabatannya yang baru, sesuai
dengan yang direncanakan saat perekrutan
maupun jabatan yang dituju sesuai job opening.
Pendidikan Pengembangan Staf (PPS)/
Program Management Trainee
Selama tahun 2010, telah dilaksanakan
program Pendidikan Pengembangan
Staf (PPS) yang merupakan program
management trainee, menyiapkan
pesertanya menjadi kader-kader
pemimpin BRI masa depan dengan jumlah
peserta sampai dengan akhir tahun 2010
sebanyak 1.651 orang termasuk yang
sudah lulus dari pendidikan.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
128
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Selama dalam pendidikan para peserta
dibekali pengetahuan mengenai
perbankan dan BRI baik dibidang
operasional maupun bisnis dan harus
menjalani on the job trainee di kantor
cabang. Peserta dinyatakan lulus setelah
berhasil melalui ujian komprehensif
dihadapan Direksi dan Kepala Divisi.
Guna memperkuat jajaran Audit dan IT,
terdapat program PPS spesialis Audit dan
IT, yang dibekali pengetahuan yang lebih
mendalam dalam bidang Audit dan IT.
Pendidikan Pembekalan Lainnya
Selain PPS, BRI juga menyelenggarakan
pendidikan pembekalan bagi para ujung
tombak bisnis BRI yaitu para account
officer, funding Officer dan front liners
(customer service dan teller) dari hasil
perekrutan pekerja baru. Selama tahun
2010 telah dididik sebanyak 1.036 calon
account officer, 165 calon funding officer
dan 6.312 frontliners. Dari jajaran Audit,
sebanyak 125 associate auditor dan 259
resident auditor telah diberi pembekalan
pengetahuan dan ketrampilan dasar yang
diperlukan.
b. Pendidikan Pengembangan
Pendidikan pengembangan adalah pendidikan
yang diberikan kepada pekerja yang akan
atau sudah dipromosikan ke jenjang eselon
yang lebih tinggi dalam layer manajerial,
maupun berupa pendidikan S2 luar negeri
untuk para staf yang dinilai mempunyai
potensi untuk menjadi pimpinan yang tangguh
dimasa depan. Selama tahun 2010 BRI telah
mengirimkan 22 orang staf yang belajar di
berbagai universitas di Australia, Inggris dan
Amerika Serikat. Dengan tambahan selama
tahun 2010 tersebut maka total staf BRI yang
sedang belajar di luar negeri sampai dengan
Desember 2010 sebanyak 24 orang.
Pendidikan pengembangan juga dilaksanakan
untuk jajaran bisnis mikro. Selama tahun
2010 sebanyak 241 calon penilik, 500 calon
Kepala BRI Unit, dan 1.320 calon mantri telah
diberikan pendidikan pembekalan sesuai
dengan jabatan yang dituju.
c. Pendidikan Aplikasi
Pendidikan aplikasi bertujuan untuk
meningkatkan/memperdalam pengetahuan
dan keterampilan pekerja dalam mendukung
pekerjaannya sesuai jabatan yang diduduki saat
ini. Pendidikan aplikasi ini dilaksanakan baik
secara in-house maupun mengikutsertakan
pekerja ke dalam public course, baik di dalam
maupun di luar negeri. In house training yang
diselenggarakan termasuk workshop dan
benchmarking profil bisnis potensial yang
bertujuan memberikan peserta didik gambaran
mengenai pohon industri, disertai tips and
tricks dari pelaku bisnis terkait.
Workshop Profil Bisnis yang telah
diselenggarakan di tahun 2010 antara lain:
profil bisnis sapi (perah dan potong), tebu
dan industri gula, padi dan industri beras,
perkapalan, power plant, bank garansi dan
bisnis konstruksi serta minyak dan gas.
Selain sejumlah workshop tersebut, telah pula
dikembangkan modul-modul profil bisnis/buku
saku yang lebih bersifat retail/mikro untuk
para account officer di kantor cabang, kantor
cabang pembantu dan BRI Unit.
d. Blue Print Pendidikan untuk Jajaran Bisnis dan
Penunjang Bisnis
Guna mendapatkan sumber daya manusia
yang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan
yang terintegrasi sesuai dengan pengalaman
kerjanya, maka BRI juga telah mengembangkan
suatu matriks pendidikan dan pelatihan yang
tercakup dalam suatu blue print pendidikan.
Jenis pendidikan yang tercakup dalam blue
print ini adalah Pendidikan Pembekalan dan
Aplikasi.
Sebagai tahap awal, telah disusun blue print
pendidikan bagi jajaran bisnis dan penunjang
bisnis yang mempunyai lima pilar materi
pendidikan dan pelatihan, yaitu marketing,
service, sales, people skill dan banking
operation dengan tingkat kedalaman sesuai
dengan jabatan dan masa kerja peserta didik.
Guna mendapatkan desain dan kurikulum
pelatihan yang benar benar link and match
dengan kebutuhan bisnis BRI, telah diadakan
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
129
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
pilot class dengan kurikulum sesuai blue print,
bertujuan untuk mendapatkan masukan dari
Divisi/Uker user dan dari peserta didik.
Selama tahun 2010 telah diselenggarakan
pilot class yang diikuti dengan evaluasi dan
smoothing kurikulum, meliputi antara lain :
Kelas Pembekalan Pemimpin Cabang
Pembantu
Kelas Pendalaman Pemimpin Cabang
Pembantu,
Kelas Pembekalan Calon AO
Kelas Pendalaman AO
Kelas Pembekalan Kepala Unit, Mantri
dan Front Liners
Kelas Pembekalan Funding Officer
Kelas Pembekalan Pemimpin Cabang
dan Wakil Pemimpin Wilayah
Kelas Pembekalan jajaran Layanan
Kelas Refreshing AMBM (Asisten Manajer
Bisnis Mikro) dan MBM (Manajer Bisnis
MIkro)
Dan lain-lain
e. e-Learning
e-Learning sebagai salah satu metode delivery
training yang akan menjadi andalan BRI dalam
penyelenggaraan pendidikan di masa depan
terus dikembangkan selama tahun 2010,
melalui kegiatan sebagai berikut :
- IT & Security Awareness
- Pelatihan APU (Anti Pencurian Uang) &
PPT (Pencegahan Pendanaan Terorisme)
- Pengantar Perkreditan
- Product Knowledge
Seperti pada pembelajaran konvensional,
maka pada e-learning telah pula dilakukan
evaluasi yang bertujuan untuk mengatahui
kinerja LMS serta tanggapan peserta didik
terhadap materi e-learning.
Dengan semua kegiatan di atas, total jumlah
pekerja yang mengikuti pendidikan selama
tahun 2010 adalah sebanyak 168.471 orang
sehingga rata-rata per pekerja mengikuti
training sebanyak 3,3 kali dalam setahun

f. Rencana 2011: Pemanfaatan Teknologi secara
Optimal dan Continued Learning
Tahun 2011 lebih difokuskan pada
pengembangan training delivery dengan
memanfaatkan teknologi secara lebih optimal.
Hal ini sesuai dengan visi transformasi
pendidikan dan pelatihan BRI mendatang
yaitu dari penyelenggara training menjadi
knowledge center yang berbasis teknologi.
Sebagai langkah awal menuju visi tersebut
maka selama tahun 2011, penggunaan
e-learning dan metode distant learning lainnya
semakin dikembangkan, sehingga tercapai
suatu metode pembelajaran melalui blended
learning. Roll out Blue Print yang telah diuji-
cobakan juga akan dilakukan bersamaan
dengan pengembangan e-learning. Bersamaan
dengan hal tersebut, pada tahun 2010, akan
dilaksanakan reorganisasi dengan membentuk
bagian e-education.
Sebagai tambang pengetahuan,
perpustakaan yang ada di BRI akan dilakukan
digitalisasi sehingga penyebaran knowledge
dan informasi mengenai buku/artikel baru akan
lebih mudah dijangkau pekerja.
Selain itu, dalam tahun 2011 juga direncanakan
untuk dimulainya cascading learning sebagai
bentuk continued learning, yaitu suatu sistem
pembelajaran berkelanjutan dimana para
manajer lini diharapkan berpartisipasi dalam
pembinaan dan pengembangan pengetahuan,
ketrampilan dan attitude para pekerja
binaannya melalui coaching, mentoring dan
counseling.
BRI terus mengembangkan back office
automation, yang merupakan data warehouse
bagi pelaksanaan adminstrasi dan manajemen
pendidikan dan pelatihan. Semua itu dilakukan
demi tercapainya efisiensi efektifitas dan
pemerataan kegiatan pendidikan bagi seluruh
pekerja BRI.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
130
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Pembekalan Pendalaman Refreshings
Pembekalan Tahap I
(setelah rekrutmen/placement
- Hard Skill Kritikal
- Basic Marketing, Sales,
People Skill
Pembekalan Tahap II
Pendalaman Marketing, Sales,
Service dan Manager Skill
Workshop/seminar yang
meliputi hal-hal seperti :
- Prol Bisnis
- Experience Sharing
- Marketing/Sales/Business
Issue
- Leadership
- Motivation
- Forum per Jabatan
(Forum Pinca/FO/AO,)
Advance Marketing, Sales,
Service dan People Skills.
Managerial Skills sesuai
dengan kebutuhan jabatan.
Peserta :
Pekerja yang baru direkrut,
baik dari eksternal maupun
dari hasil job opening
Peserta :
Seluruh pemegang jabatan
existing terkait dengan materi
refreshments, diutamakan yang
telah menduduki jabatan diatas
2 tahun.
Peserta :
Pekerja yang telah menduduki
jabatannya 1-2 tahun (untuk
posisi-posisi dengan masa
jabatan relatif panjang seperti
Pemimpin Cabang dan
Acount Ofcer)
Matriks Pendidikan dalam Blue Print Pendidikan untuk Jajaran Bisnis dan Penunjang Bisnis.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
131
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Pada tahun 2009, telah dibuka Teras BRI sejumlah
217 dan pada tahun 2010 telah dibuka 400 Teras BRI,
sehingga total Teras BRI yang telah dibuka adalah 617.
Sejak November 2009 seluruh BRI Unit dan Teras BRI
telah terhubung secara real-time on line.
Pencapaian tahun 2010
BRI telah menetapkan beberapa langkah strategis selama
tahun 2010, antara lain sebagai berikut:
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan akses
perbankan, BRI membuka 105 BRI Unit dan 400
Teras BRI. Sampai dengan akhir Desember 2010,
telah dibuka 105 BRI Unit dan 400 Teras BRI.
BRI melakukan pembenahan tampilan kantor BRI
Unit.
Melakukan pelatihan bagi pekerja BRI Unit dan Teras
BRI agar dapat memberikan pelayanan yang lebih
efektif kepada nasabah mikro.
Rencana Pengembangan
Pada tahun 2011, BRI merencanakan program
pengembangan sebagai berikut:
Membuka lebih dari 100 BRI Unit baru, lebih dari 400
Teras BRI, dan 40 Teras BRI Mobile.
Meningkatkan utilisasi e-channel di BRI Unit dan
Teras BRI sehingga nasabah lebih mudah dalam
bertransaksi.
Mengembangkan aplikasi teknologi guna
mempercepat proses kredit yang diajukan nasabah
di BRI Unit dan Teras BRI.
Dengan terus mengembangkan dan mengoptimalkan
seluruh jaringan kerja bisnis mikro, diharapkan BRI dapat
melayani masyarakat mikro secara lebih baik.
BRI terus berupaya meningkatkan kualitas layanan dan
jaringan kerjanya di seluruh Indonesia. Hal ini dilakukan
untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas nasabah
sehingga pada akhirnya akan memberikan dampak positif
terhadap pertumbuhan bisnis BRI.
BRI memiliki jaringan kerja yang berjumlah lebih dari
7.000 yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Jaringan kerja tersebut telah terhubung secara real-time
on line. Dengan terhubungnya seluruh unit kerja dalam
satu jaringan maka BRI siap menjadi bank pembayaran
terbesar di Indonesia yang dapat melayani berbagai
macam transaksi perbankan.
Jaringan Kerja Bisnis Mikro
Sejalan dengan visi dan misi BRI, selama tahun 2010
dilakukan pengembangan pada jaringan kerja bisnis
mikro. Jaringan kerja ini meliputi pengembangan BRI Unit
dan Teras BRI.
Perkembangan BRI Unit
BRI merupakan Bank BUMN yang memfokuskan
usahanya di bisnis mikro. Dalam upaya meningkatkan
ekonomi masyarakat dan memudahkan aksesibilitas, BRI
terus melakukan pengembangan jaringan kerja bisnis
mikro hingga ke pelosok negeri.
Selama 5 tahun terakhir, BRI membuka jaringan kerja
di daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh bank lain.
Pada tahun 2005, jumlah jaringan kerja bisnis mikro BRI
sejumlah 4.112 BRI Unit dan 127 PPD. Agar lebih dekat
kepada nasabah, pada tahun 2006, BRI membuka 117
BRI Unit. Kemudian pada tahun 2007, membuka 75 BRI
Unit. Pada tahun 2008, membuka 115 BRI Unit, tahun
2009 membuka 114 BRI Unit dan tahun 2010 membuka
105 BRI Unit. Sampai dengan Desember 2010, jumlah
jaringan kerja bisnis mikro mencapai 4.649 BRI Unit.
Perkembangan Teras BRI
Untuk lebih memudahkan aksesibilitas dan memberikan
pelayanan lebih cepat kepada nasabah mikro, BRI
mengembangkan jaringan kerja baru berupa Teras BRI.
Letak Teras BRI yang berada di pusat kegiatan bisnis
nasabah memudahkan nasabah BRI untuk menabung,
mengajukan pinjaman, serta melakukan transaksi
perbankan lainnya, tanpa harus meninggalkan aktivitas
bisnisnya.
Jaringan Kerja dan Layanan
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
132
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Jaringan Kerja Bisnis Ritel
BRI terus berupaya memiliki jaringan kerja terluas yang dekat dengan nasabah, produktif serta dengan kualitas layanan terbaik.
Hal tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan jaringan Kantor Cabang, KCP, Kantor Kas, dan e-channel sehingga dapat
menjangkau seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan potensi bisnisnya. Kedua, meningkatkan kualitas layanan pada setiap
jaringan distribusinya untuk menjadi bank terbaik di Indonesia
Selama tahun 2010, jaringan unit kerja dan e-channel BRI terus dikembangkan. Ini bisa dilihat dari tabel di bawah ini:
Perkembangan Jumlah Unit Kerja
Unit Kerja
Tahun
2006 2007 2008 2009 2010
Kantor Wilayah 13 14 14 17 18
Kantor Cabang 334 344 376 406 413
Kantor Cabang Pembantu 202 230 337 434 470
Kantor Kas 0 24 179 728 822
Perkembangan Jumlah e-channel
Unit Kerja
Tahun
2006 2007 2008 2009 2010
ATM 1.278 1.576 1.834 3.734 6.085
CDM - - 1 20 71
KIOSK - 2 14 60 100
EDC - - - 6.398 13.631
Rencana Pengembangan
Pada tahun 2011, BRI merencanakan program pengembangan sebagai berikut:
Membuka unit kerja konvensional: 10 Kantor Cabang, 30 KCP, dan 50 Kantor Kas
Membuka Sentra BRI: 10 Sentra Layanan Prioritas, 40 Priority Lounge, 5 Sentra Kredit Konsumer, 9 Sentra
Pensiun
Pengadaan mobile service (e-buzz) sebanyak 18 unit
Penempatan e-channel: 4.000 unit ATM, 30.000 unit EDC dan 20 unit CDM
Standarisasi tampilan Unit Kerja Operasional dan e-channel
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
133
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
8. Penanganan pengaduan nasabah melalui satu pintu
oleh Layanan Contact Center (LCC) dan terbukanya
peluang nasabah untuk penyelesaian komplain
melalui Mediasi Perbankan Bank Indonesia.
9. Layanan weekend banking, untuk melayani kebutuhan
nasabah pada hari libur.
10. Layanan 24 jam di beberapa rumah sakit, untuk
melayani kebutuhan nasabah yang memerlukan jasa
perbankan selama 24 jam di rumah sakit.
Sebagai wujud kesungguhan BRI dalam meningkatkan
kualitas layanan kepada nasabah, di tahun 2010 BRI
kembali memperoleh penghargaan sebagai The Rising
Star Service Excellent dari majalah Infobank bekerja
sama dengan lembaga riset MRI (Marketing Research
Indonesia). Berdasarkan hasil riset MRI tersebut, BRI
menjadi satu-satunya bank yang nilai kualitas layanannya
mengalami kenaikan yang cukup signifikan dibanding tahun
sebelumnya, yaitu berhasil meningkatkan peringkatnya dari
sebelumnya peringkat 11 dengan nilai 78,14 di tahun 2009
menjadi peringkat 6 dengan nilai 81,94 (naik 5 peringkat
dari 11 menjadi 6 dengan peningkatan nilai 3 poin).
Dalam hal layanan contact center, di tahun 2010 Bank BRI
juga mendapat penghargaan dari beberapa institusi, yaitu
sebagai berikut:
1. Dari Centre for Customer Satisfaction and Loyality
(CARRE) yang mengadakah Call Centre Award 2010,
BRI meraih The Best Contact Center Indonesia 2010
untuk Service Excellence Call BRI dalam kategori
kartu kredit.
2. Dari Indonesia Contact Center Association (ICCA),
BRI meraih penghargaan Platinum untuk kategori
The Best Contact Center Operation, penghargaan
Gold untuk kategori Leader, penghargaan Bronze
untuk kategori The Best Back Office Operations,
penghargaan Silver untuk kategori Video Contact
Center, penghargaan Bronze untuk kategori The Best
Team Leader dan Excellence Performance BRI dalam
Contact Center Association Leader Expo.
Layanan
BRI saat ini dan ke depan terus berusaha meningkatkan
kualitas layanan kepada nasabah untuk meningkatkan
kepuasan dan loyalitas nasabah sehingga pada akhirnya
akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan
bisnis BRI.
Bentuk layanan yang dikembangkan selama tahun 2010
adalah:
1. Jaringan kerja yang berjumlah lebih dari 7.000
yang tersebar dari Sabang sampai Merauke
telah terhubung secara real-time on line. Dengan
terhubungnya seluruh unit kerja dalam satu jaringan
maka BRI siap menjadi bank pembayaran terbesar
di Indonesia yang dapat melayani berbagai macam
transaksi perbankan.
2. Layanan segmen mikro, yaitu pendirian Teras BRI di
pasar-pasar tradisional/wet market yang memberikan
pelayanan transaksi simpan pinjam.
3. Simplifikasi proses kerja layanan kepada nasabah
antara lain dengan membuat kartu ATM instant
dan proses penggantian PIN ATM secara cepat
dan mudah serta simplifikasi proses pembukaan
rekening .
4. Memperbanyak jaringan ATM BRI dan produk
e-banking lainnya, antara lain: mesin setoran tunai
(CDM), mini ATM (EDC), internet banking, sms/
mobile banking dan yang akan segera dipasarkan
adalah e-money.
5. Penempatan jaringan BRI di Kantor Kepolisian
Daerah untuk kemudahan pembayaran administrasi
SIM/STNK masyarakat.
6. Proses edukasi dan informasi yang berkesinambungan
kepada nasabah mengenai kemudahan penggunaan
e-banking.
7. Kemudahan akses layanan perbankan melalui call
center BRI.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
134
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Prosedur penanganan pengaduan nasabah:
Pengaduan
Nasabah
Customer
Respond
Center
Eskalasi
permasalahan
kepada unit kerja
terkait
Penyelesaian
Media yang digunakan :
Media massa
Website/Email
Melalui karyawan
Unit Kerja
Call Center
3. Dari Bank Indonesia (BI) mendapat penghargaan Kepedulian BRI terhadap
Penyelesaian Pengaduan Nasabah, antara lain melalui :
Satu pintu penerusan keluhan nasabah yang disampaikan oleh unit kerja
operasional (layanan penuh).
Standarisasi layanan BRI dan memastikan nasabah menerima berita hasil tindak
lanjut keluhan dengan melakukan sentralisasi korespondensi ke nasabah.
Memonitor keluhan nasabah melalui second level frontliner sebagai perantara
antara nasabah dan back office untuk menyelesaikan kasus dan keluhan
nasabah.
Untuk dapat tetap meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah, strategi yang
dilakukan adalah :
Meningkatkan image BRI dengan melakukan enhancement contact center.
Meningkatkan awareness dan semangat layanan dengan melakukan Service
Quality (SQ) awareness roadshow melalui beberapa program peningkatan
kualitas layanan.
Sosialisasi dan Implementasi Budaya Layanan.
Standarisasi layanan dan meningkatkan kepuasan nasabah dengan melakukan
SQ coaching, SQ monitoring serta kegiatan refreshing course product & policy
kepada jajaran frontliners di Kantor Cabang, KCP, KK dan BRI Unit.
Meningkatkan skill layanan dan service leadership dengan mengadakan training
kepada pekerja-pekerja terkait di Kantor Cabang Seluruh Indonesia.
Menentukan kantor cabang percontohan dalam hal kualitas layanan di masing-
masing Kanwil (Center of Excellence).
Menentukan unit kerja sebagai Layanan Pensiun dan Briguna di masing-masing
Kanwil.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
135
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Manajemen Informasi Sistem e-banking sebagai
informasi dalam pengambilan keputusan oleh
manajemen.
Melaksanakan fungsi response center yang
mengacu pada Service Level Agreement (SLA)
dengan cara meningkatkan infrastruktur help
desk seperti penambahan license Remedy dan
upgrade Remedy System menjadi Versi 7.5, roll
out Remedy System di unit kerja operasional
yang belum diimplementasi, penambahan
license Avaya System, pemenuhan voice
recording system, penambahan knowledge
management (database problem solving),
penambahan operator/agent help desk,
membuat implementasi problem report (IPR).
Meningkatkan skill dan knowledge para
operator help desk dengan :
- Mengadakan training baik secara
insidental maupun gradual
- On the job training di unit kerja operasional
bagi agent baru dan lama agar lebih
memahami kondisi operasional unit kerja .
- Penambahan team leader dari senior
agent/ best agent
- Pembentukan tim quality control
Meningkatkan motivasi kerja operator help
desk dengan :
- memberikan penghargaan Best Agent
setiap triwulan
- menyelenggarakan acara Service Quality
untuk help desk agent setahun sekali
- motivation bulding
Memonitor CIF ganda dan kelengkapan data
CIF.
Penyusunan Standar Layanan untuk sales team
(Account Officer, Funding
Officer dan Mantri Unit).
Standarisasi tampilan lay out kantor cabang,
tampilan frontliners, media promosi produk dan
meningkatkan awareness nasabah terhadap
produk BRI.
Meningkatkan motivasi kerja dengan
memberikan service award tingkat Kantor
Cabang, KCP, Unit, serta tingkat pekerja (MO,
AMO, Supervisor, Teller, CS, Satpam dan
Kepala BRI Unit).
Menyusun program percepatan perbaikan
kualitas layanan melalui program SQ Assurance
& Improvement.
Kompetisi product knowledge antar frontliners
Kantor Cabang dan KCP seluruh Indonesia
serta frontliners BRI Unit melalui program SQ
Vaganza.
Identifikasi kebutuhan nasabah melalui kegiatan
Focus Group Discussion dengan nasabah dan
melakukan customer satisfaction survey secara
berkala dan kepada nasabah Kantor Cabang,
KCP, dan BRI Unit baik nasabah simpanan
maupun Pinjaman.
Mengembangkan aplikasi host to host dan
BRIVA (BRI Virtual Account) dengan BUMN
(antara lain: PDAM, Bapeten, Pusri, PGN).
Menyusun BPO (Buku Pedoman Operasional)
mengenai Cash Management System (CMS),
Kantor Layanan Syariah (KLS), Dana Rencana,
Forex Line, review kebijakan operasional dalam
rangka business process re-engineering untuk
meningkatkan kepuasan nasabah.
Mengkoordinasikan dan memonitor penanganan
operasional dan layanan unit kerja di daerah
yang terkena bencana (sebagai koordinator Tim
Crisis Center Kantor Pusat).
Eskalasi dan memonitor penanganan operasional
layanan e-banking termasuk permasalahan
produk e-channel yaitu ATM, SMS banking,
phone banking, KiosK, EDC, CDM, internet
banking.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
136
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Perkembangan Sentra Operasi
Perkembangan Sentra Operasi pada dasarnya tidak dapat
dilepaskan dari perkembangan bisnis atau transaksi yang
dilakukan unit-unit bisnis yang ada di BRI.
Perkembangan Kartu Debit dan Transaksi e-Banking BRI
Perkembangan transaksi e-banking BRI meningkat
sangat signifikan di tahun 2010. Hal ini selaras dengan
peningkatan jumlah kartu yang beredar, sampai dengan
tahun 2010, tercatat 19,7 juta kartu, meningkat sebesar
53% dari posisi tahun 2009 sebesar 9,2 juta kartu.
Total transaksi berkartu tahun 2010 mencapai 332 juta
transaksi (rata-rata hampir 1,3 juta transaksi per hari) atau
naik 50,2% dari tahun 2009, dengan total nilai transaksi
Rp166,7 triliun atau meningkat 51,8% dari tahun 2009.
Dilihat dari jenis transaksi, transaksi e-banking terbesar
dilakukan melalui ATM. Sampai tahun 2010 telah
tercatat kurang lebih 305 juta transaksi atau mengalami
peningkatan sebesar 50% dari posisi tahun 2009 dengan
total nominal transaksi lebih dari Rp162 triliun atau
meningkat sebesar 51,5% dari posisi tahun 2009.
Perkembangan Transaksi RTGS, Kliring dan Treasury
Perkembangan transaksi RTGS BRI sampai dengan tahun
2010 menunjukkan progress yang cukup baik. Tercatat
total transaksi incoming RTGS BRI sebesar Rp3,43 triliun
dengan 965 ribu transaksi. Sedangkan transaksi outgoing
RTGS mencapai Rp3,44 triliun dengan 881 ribu transaksi.
Seperti halnya transaksi RTGS, transaksi kliring juga
memperlihatkan perkembangan yang cukup signifikan.
Untuk Kliring Penyerahan, total transaksi inward mencapai
Rp84 triliun dengan 3,4 juta transaksi, sedangkan transaksi
outward mencapai Rp20 triliun dengan 727 ribu transaksi.
Untuk kliring kredit, total transaksi inward mencapai
Rp33 triliun dengan 4,9 juta transaksi, sedangkan transaksi
outward mencapai Rp28 triliun dengan 2,7 juta transaksi.
SENTRA OPERASI
Selama tahun 2010, BRI secara konsisten melakukan
transformasi operasional di bidang proses bisnis
internal dari distributed banking operation menjadi
centralized banking operation dalam rangka peningkatan
efisiensi dan efektifitas operasional sesuai dengan best
practice perbankan nasional, yang pada akhirnya akan
meningkatkan kecepatan dan akurasi pelayanan kepada
nasabah.
Perkembangan dan perubahan bisnis yang semakin
cepat serta kompleks menuntut BRI dapat beradaptasi
dan melakukan perbaikan-perbaikan di bidang
operasional serta menuntut BRI untuk terus melakukan
pengembangan dan pengawasan yang dinamis untuk
memperkecil kemungkinan timbulnya kerugian karena
risiko operasional.
Penyempurnaan Proses Bisnis dan Efisiensi
Operasional
BRI telah melakukan sejumlah penyempurnaan dalam
bidang operasional untuk menghadapi tuntutan bisnis dan
mencapai sasaran kinerja tahun 2010, antara lain dalam
hal sentralisasi back office, evaluasi proses bisnis dan
perbaikan prosedur operasional.
Dalam mendukung peningkatan layanan perbankan, BRI
mengelola dan mengembangkan operasional back office
secara centralized sehingga dapat tercipta model sentra
operasi yang ideal, efektif dan efisien, antara lain berupa
diimplementasikannya sentralisasi warkat debet di Wilayah
Kliring Jakarta, Surabaya dan Bandung serta Sentralisasi
Rekonsiliasi dan Penyelesaian Selisih Kas ATM secara
terpusat di seluruh Kantor Wilayah BRI di Pulau Jawa dan
Kalimantan Barat.
Upaya untuk mengembangkan dan mengevaluasi
business process seluruh transaksi ditangani secara
konsisten antara lain dengan penyempurnaan aplikasi
remittance dan trade finance, sentralisasi kliring,
sentralisasi rekonsiliasi transaksi ATM, dan sebagainya
yang mengarah pada penciptaan Straight Through
Processing (STP) serta penyelesaian pos terbuka dan
selisih terkait dengan e-banking, kas ATM, kliring, RTGS,
dan nostro.
Sentra Operasi
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
137
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Untuk transaksi money market, pada tahun 2010 untuk
mata uang IDR, transaksi borrow sebesar Rp34,17 triliun
dengan 794 transaksi, sedangkan transaksi lend sebesar
Rp95,73 triliun dengan 1.372 transaksi. untuk mata
uang USD, transaksi borrow sebesar USD1,31 miliar
dengan 140 transaksi, transaksi lend sebesar USD5,025
Miliar dengan 306 transaksi. Untuk transaksi forex pada
tahun 2010, total transaksi purchase dalam equivalent
IDR sebesar Rp135,76 triliun dengan 9.076 transaksi,
sedangkan total transaksi sale dalam equivalent IDR
sebesar Rp94,13 triliun dengan 5.473 transaksi.
Pada tahun 2010 nominal transaksi purchase fixed income
dalam mata uang Rupiah sebesar Rp1,99 triliun dengan
1.726 transaksi, sedangkan transaksi sale sebesar
Rp33,99 triliun dengan 346 transaksi. Untuk mata uang
USD, transaksi purchase sebesar USD183 juta dengan 68
transaksi, transaksi sale sebesar USD20 juta dengan 2
transaksi. Total transaksi money market pada tahun 2010
berjumlah 3.142, dengan nominal sebesar Rp9,43 triliun
untuk mata uang Rupiah dan USD52 juta untuk mata
uang USD.
Perkembangan Transaksi Remittance
Sampai dengan tahun 2010, jumlah total Incoming
Remittance Kerjasama yang berasal dari 24 lembaga
kerjasama adalah 410.225 transaksi dengan nilai USD171
juta. Dibandingkan dengan tahun 2009 terjadi peningkatan
yang signifikan baik jumlah transaksi maupun nilai
transaksi. Jumlah transaksi mengalami peningkatan 52%,
yaitu dari 196.653 transaksi menjadi 410.225 transaksi
dengan peningkatan nilai transaksi sebesar 47%, yaitu
dari USD90,70 juta menjadi USD171 juta.
Dilihat dari jumlah transaksi, perkembangan Incoming
Remittance Non Kerjasama pada tahun 2010 sebanyak
80.933 transaksi, dengan nilai transaksi sebesar
USD10,5 miliar.
Jumlah dan nominal transaksi outgoing remittance pada
tahun 2010 mengalami kenaikan yang cukup signifikan
dibandingkan tahun 2009. Outgoing remittance pada
tahun 2009 sebanyak 22.954 transaksi dengan nilai
equivalent USD9,5 milliar meningkat menjadi 33.492
transaksi dengan nilai equivalent USD15 miliar pada
tahun 2010. Jumlah transaksi dan nilai transaksi outgoing
remittance mengalami peningkatan selama tahun 2010
masing-masing sebesar 31% dan 36%.
Rencana Pengembangan
Selaras dengan perkembangan bisnis yang makin inovatif
di tahun 2011, BRI telah menyiapkan beberapa rencana
strategis guna meningkatkan kinerja operasional, yaitu:
Membentuk Sentra Operasi Regional, untuk transaksi
kliring debet dan pergeseran kas, yang berkedudukan
di Kantor Wilayah BRI seluruh Indonesia.
Mengembangkan aplikasi Enterprise Reconciliation.
Mengembangkan Paperless e-banking Settlement.
Mempersiapkan langkah-langkah untuk Penerapan
Standar ISO 9001:2008-Quality Management
Systems.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
138
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
TEKNOLOGI DAN SISTEM INFORMASI
BRI berkomitmen untuk menjadi modern bank. Pencapaian tersebut diwujudkan melalui berbagai strategi
yang telah dan akan dilakukan secara bertahap sejak tahun 2008 sampai 2013. Strategi tersebut termuat
dalam Information Technology Strategic Plan (ITSP) BRI tahun 2008-2013, yaitu:
Penyediaan access channel yang luas dilengkapi dengan fitur standar, beragam, dan terintegrasi.
Adopsi leading-edge IT (Information Technology) tren dunia perbankan.
Penyediaan akses data yang lengkap secara real-time online.
Implementasi (near) zero downtime.
Penerapan teknologi sekuriti dan tata kelola proses IT.
Penggunaan multimedia dan paperless technology.
Core Banking System (CBS) BRINETS
Selama tahun 2010 BRI telah mencatat beberapa pencapaian penting terkait dengan implementasi secara
bertahap atas ITSP tersebut di atas. Sejumlah 7.012 unit kerja BRI terintegrasi dalam CBS BRINETS,
dan merupakan integrasi jumlah unit kerja terbesar pertama di Indonesia. Akses seluruh BRI Unit yang
berjumlah sekitar 4.500 kantor, ke host systems CBS BRINETS menggunakan sistem aplikasi BRINETS
Web (berbasis web).
Unit Kerja BRI yang saat ini masih menggunakan aplikasi BDS (Branch Delivery Systems), termasuk
Kantor Cabang dan Kantor Cabang Pembantu yang berjumlah hampir 1.000 kantor, akan menggunakan
BRINETS Web. Dengan demikian, perubahan aplikasi dan sistem dalam rangka memenuhi kebijakan
intern dan ketentuan ekstern dapat dilakukan secara tersentralisasi, sehingga lebih menghemat waktu
dan biaya, serta meminimalkan terjadinya risiko operasional.
Teknologi dan Sistem Informasi
Jumlah Unit Kerja BRINETS
2006 2007 2008 2009 2010
Jumlah Unit Kerja 4.789 4.924 5.335 6.854 7.004
Kantor Wilayah 13 14 14 17 18
Kantor Inspeksi 11 12 12 14 14
Kantor Cabang * 334 344 376 406 413
Kantor Cabang Pembantu 202 230 337 434 470
Kantor Kas 0 24 179 728 822
BRI Unit 4.229 4.300 4.417 4.538 4.649
Teras BRI 0 0 0 285 617
*)Termasuk Kantor Cabang Khusus dan 3 Kantor Cabang Luar Negeri
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
139
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Pengembangan Electronic Banking
Untuk melayani nasabah 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, BRI secara terus menerus
melakukan penyempurnaan dan pengembangan fitur electronic banking. Media
elektronik akan memudahkan nasabah dalam memperoleh informasi, berkomunikasi
dan melakukan transaksi perbankan melalui fasilitas ATM, EDC (Electronic Data
Capture), KIOSK, cash deposit machine, phone banking, electronic fund transfer,
SMS banking, dan internet banking.
BRI terus mengembangkan dan menyeragamkan tampilan fitur-fitur baru di setiap
channel access. Pada tahun 2010, BRI melakukan launching kartu pra-bayar
e-money yang diberi nama BRIZZI dengan mempertimbangkan besarnya potensi
micropayment dan peluang mengakuisisi pasar baik terhadap pemegang kartu
maupun merchant.
Pengembangan Kartu Kredit
Dalam rangka mendukung pengembangan produk VISA issuing dan acquiring, BRI
telah mempersiapkan infrastruktur IT data center dan koneksi EAS. Demikian juga
dengan proyek business acquiring, BRI telah mempersiapkan EDC beserta dukungan
infrastrukturnya.
Pengembangan Management Information System (MIS)
Pengembangan MIS dilaksanakan untuk menyempurnakan kelengkapan informasi,
keakuratan, dan ketepatan waktu dalam penyediaan dan integrasi data untuk
kebutuhan bisnis dan kepatuhan terhadap regulasi. Penggunaan teknologi multimedia
dan paperless menjadikan penyajian sistem informasi lebih komunikatif, efektif dan
efisien.
Beberapa pengembangan pada aplikasi MIS yang dilakukan pada tahun 2010
meliputi pengembangan aplikasi pelaporan Sistem Informasi Debitur (SID), perbaikan
time response dan validitas data terkait penyampaian Laporan Bank Umum (LBU)
Basel II kepada Bank Indonesia, dan sentralisasi rekonsiliasi ATM.
Jumlah e-channel
Tahun 2006 2007 2008 2009 2010
ATM 1.278 1.576 1.834 3.734 6.085
CDM - - 1 20 71
KIOSK - 2 14 60 100
EDC - - - 6.398 13.631
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
140
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
New Cash Management
Dalam rangka memaksimalkan fungsi layanan cash
management bagi nasabah institusi dan korporasi, BRI
melakukan pengembangan lebih lanjut atas aplikasi
layanan New Cash Management. Perbaikan tersebut
berupa penambahan fitur, availability, user friendliness,
kecepatan akses, sistem pengamanan, dan penanganan
yang cepat dalam mengatasi masalah. New Cash
Management dapat memberikan kenyamanan dan
kemudahan serta meningkatkan kepercayaan nasabah
sekaligus membuka peluang akuisisi nasabah baru.
Teknologi informasi BRI juga mendukung proses kerja
sama dengan beberapa lembaga diantaranya Bulog (host
to host pembayaran dengan pihak ketiga Bulog), PT Pusri
(host to host pembelian pupuk), Pertamina (new host to
host pembelian BBM), dan sejumlah Universitas (host to
host pembayaran uang kuliah dan biaya kewajiban kuliah).
Perencanaan Bisnis Berkelanjutan dan Pemulihan
Bencana
BRI telah mempersiapkan aplikasi Business Continuity and
Disaster Recovery Plan untuk menjaga kesinambungan
operasional bisnis sekaligus meningkatkan kepercayaan
nasabah dan memitigasi risiko operasional akibat
kegagalan infrastruktur sistem aplikasi dan teknologi
informasi. Sebagai bagian dari Business Continuity
Management, BRI telah mempersiapkan Pusat Pemulihan
Bencana atau Disaster Recovery Center (DRC) pada
lokasi berbeda dengan Data Center (DC) sebagai fasilitas
alternatif jika DC mengalami masalah. Untuk menjamin
kinerja sistem ini, BRI melakukan uji coba secara periodik
untuk memastikan sistem dan aplikasi ini tetap berjalan
ketika terjadi kerusakan atau bencana pada infrastruktur
teknologi informasi BRI di DC.
Ketersediaan Jaringan Komunikasi
Seiring perkembangan jaringan dan operasional BRI yang
sangat pesat dengan pertambahan unit kerja on-line yang
terus meningkat, BRI memelihara ketersediaan jaringan
komunikasi yang didukung oleh pengawasan secara
berkesinambungan melalui enterprise monitoring system
serta menggunakan media komunikasi yang redundant
dan berbeda seperti satelit dan fiber optic.
Security System dan Security Awareness
Infrastruktur teknologi informasi BRI dievaluasi dan diaudit
secara teratur dengan tujuan untuk memitigasi kelemahan
dan risiko vulnerability infrastruktur teknologi informasi.
Tindakan korektif diambil segera setelah kelemahan
sistem teridentifikasi, sesuai dengan standar dan prosedur
vulnerability management. Untuk menjaga sistem
pengamanan yang memadai, BRI juga mengadopsi dan
menerapkan sejumlah best practice sistem pengamanan
teknologi informasi.
Rencana Pengembangan
Teknologi Informasi BRI menghadapi tantangan yang tidak
ringan. Persaingan usaha dalam industri perbankan telah
meningkatkan kebutuhan perkembangan bisnis. Dengan
demikian, kehadiran infrastruktur teknologi informasi harus
dapat meningkatkan keunggulan BRI dalam persaingan
usaha.
Untuk menghadapi tantangan di tahun 2011 khususnya
dibidang teknologi informasi, mempersiapkan beberapa
rencana strategis, yaitu:
Melengkapi infrastruktur dan memperluas
implementasi e-channel untuk mendukung
kebutuhan dan daya saing bisnis serta kepatuhan
terhadap regulasi.
Membangun Data Center BRI baru di IT building
sebagai data center kedua untuk meningkatkan
availability dan business continuity.
Mengimplementasikan perangkat dan jaringan
komunikasi yang redundant di setiap unit kerja BRI.
Mengembangkan knowledge management
system dan document management system untuk
mendukung proses operasional perbankan yang
paperless.
Menambahkan perangkat perbankan elektronik
sampai dengan tahun 2013, dengan rincian sebagai
berikut:
- 4.000 unit Automatic Teller Machine
(ATM)
- 30.000 unit Electronic Data Capture
(EDC)
- 20 unit Cash Deposit Machine (CDM)

LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
141
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Proses pengadaan barang dan jasa sampai dengan
pengelolaannya sebagai aktiva tetap BRI perlu dilakukan
secara berkesinambungan. Untuk itu, BRI melakukan
penyempurnaan kebijakan pengelolaan aktiva tetap dan
riset terpadu untuk mendapatkan gambaran dan kondisi
riil aktiva tetap perseroan di lapangan. Perseroan juga
terus menerus melakukan penyempurnaan terhadap
kebijakan umum logistik perseroan untuk menyesuaikan
dengan perkembangan bisnis perseroan dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku bagi BUMN.
Penyempurnaan difokuskan pada aspek perencanaan
dan kontrol dalam proses pengadaan barang dan jasa
agar pemenuhan barang dan jasa dapat dilakukan sesuai
dengan kebutuhan bisnis, skala prioritas dan ketersediaan
anggaran. Untuk lebih menjamin kegiatan pengadaan
barang dan jasa dilakukan secara cepat, fleksibel, efisien
dan efektif maka perseroan menyusun Service Level
Agreement (SLA) kegiatan kelogistikan dengan tetap
memperhatikan prinsip GCG.
Dalam jangka panjang, Perseroan berencana untuk
mengimplementasikan office automation dengan
penerapan e-logistic dan e-procurement sebagai bagian
dari peningkatan kecepatan serta efektifitas dan efisiensi
pelayanan.
MANAJEMEN AKTIVA TETAP DAN
LOGISTIK
Searah dengan perkembangan bisnis dan perluasan
jaringan kerja, maka kebutuhan akan pengelolaan aktiva
tetap yang optimal dan tuntutan akan pemenuhan
kebutuhan logistik yang tepat waktu akan semakin
meningkat. Untuk itu, pemenuhan kebutuhan aktiva
tetap dan logistik harus dilakukan secara cepat, fleksibel,
efisien dan efektif dengan tetap memperhatikan kaidah
Good Corporate Governance (GCG) agar perseroan tidak
kehilangan momentum bisnisnya.
Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan logistik
perseroan yang semakin meningkat, Perseroan melakukan
serangkaian perubahan organisasi di tubuh unit kerja yang
melaksanakan fungsi manajemen aktiva tetap dan logistik.
Dengan organisasi baru diharapkan pengelolaan aktiva
tetap dan logistik perseroan dapat dilakukan secara lebih
efisien, profesional, fokus dan terarah dalam mendukung
bisnis perseroan.
Kebijakan perseroan di bidang logistik adalah penerapan
desentralisasi proses pengadaan barang dan jasa kepada
jajaran Pemimpin Wilayah dengan nilai kewenangan
yang memadai. Dengan demikian, kegiatan pemenuhan
kebutuhan barang dan jasa dapat dilakukan secara efektif
dan efisien sekaligus dapat mendukung peran Kantor
Wilayah dalam meningkatkan kinerja unit kerja binaannya.
BRI mengandalkan Sistem Informasi Manajemen Logistik
(SIM-AT) yang telah terintegrasi dalam mengelola aktiva
tetap di seluruh Indonesia antara lain untuk mencatat dan
membuku transaksi pengadaan, distribusi, pelimpahan
dan penghapusan data aktiva tetap secara sistem.
BRI secara terus menerus melakukan pengkajian dan
pengembangan terhadap SIM-AT dengan harapan BRI
selalu memiliki data aktiva tetap yang lengkap, akurat,
informatif dan up to date.
Manajemen Aktiva Tetap dan Logistik
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
142
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Implementasi Manajemen Risiko BRI
Dalam upaya mengimplementasikan manajemen risiko di
seluruh unit kerja, BRI telah menyusun target, strategi dan
program kerja untuk mendukung pencapaian tujuan yaitu:
a. Menciptakan Budaya Sadar Risiko.
BRI telah melakukan sosialisasi manajemen risiko
ke seluruh unit kerja BRI seluruh Indonesia melalui
training serta komunikasi melalui media cetak dan
elektronik (Memo Perisma dan portal Internal BRI).
b. Manajemen Kelangsungan Usaha (Business
Continuity Management)
Dalam lingkungan persaingan perbankan yang
semakin kompetitif, BRI harus selalu tanggap
terhadap gangguan dan sesegera mungkin
melakukan pemulihan operasional bank di saat atau
setelah terjadi gangguan/ bencana. Untuk menjaga
kelangsungan bisnis bank, baik dalam kondisi
normal maupun kondisi terjadinya bencana atau
gangguan, maka BRI mengembangkan kebijakan
dan prosedur Manajemen Kelangsungan Usaha
(Business Continuity Management) sehingga BRI
dapat mempertahankan kelangsungan proses bisnis
kritikal, menjaga aset BRI dan memiliki respon yang
memadai dalam situasi gangguan atau bencana.
c. Penilaian Risiko BRI secara Agregat melalui Proses
Self Assessment menghasilkan Profil Risiko.
Profil Risiko tersebut terdiri dari inherent risk (risiko
yang melekat pada aktivitas bank sebelum dilakukan
kontrol) dan risk control system (pengendalian
terhadap inherent risk) terhadap 8 (delapan) jenis
risiko pada 7 (tujuh) aktivitas fungsional BRI yaitu
aktivitas fungsional perkreditan, treasury, trade
finance, pendanaan, operasional dan jasa, IT system,
dan support.
Profil risiko BRI secara keseluruhan selama tahun
2010 masih berada pada kategori low to moderate
Risk dengan pencapaian skor 2,10 dengan tren
yang tetap. Secara composite, baik untuk inherent
risk maupun risk control system, masih berada
pada tingkat low to moderate. Dari sisi risk control
system, mendapatkan penilaian antara strong hingga
acceptable.
MANAJEMEN RISIKO
Penerapan sistem manajemen risiko yang terpadu
merupakan salah satu komitmen BRI untuk meminimalkan
potensi kerugian yang dihadapi BRI. Manajemen Risiko
memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas
pengelolaan risiko bank guna pencapaian tujuan
perusahaan melalui dua aspek, yaitu melindungi modal
dan mengoptimalkan hubungan risk dan return.
Pengelolaan manajemen risiko BRI diimplementasikan
dengan konsep tiga garis pertahanan (three lines of
defense), yaitu:
1. Garis pertahanan pertama (first line of defense)
adalah unit kerja bisnis/operasional, sebagai pihak
yang bertanggung jawab melaksanakan fungsi
pengendalian intern dan menjaga kualitas output dan
proses bisnis sesuai dengan kebijakan dan prosedur
yang telah ditetapkan.
2. Garis pertahanan kedua (second line of defense)
adalah unit kerja manajemen risiko yang memantau
pemenuhan manajemen risiko bank sesuai risk
appetite serta menetapkan kebijakan, pedoman
dan limit risiko unit kerja bisnis/operasional secara
independen, agar eksposur risiko secara keseluruhan
tidak melampaui kemampuan modal BRI.
3. Garis pertahanan ketiga (third line of defense)
adalah unit internal audit yang berfungsi melakukan
pengendalian melalui evaluasi kepada first dan
second line of defense serta memberikan laporan
kepada Direktur Utama dan Komisaris secara
independen.
Dalam penerapan manajemen risiko, Direksi dan
Komisaris memegang peranan penting dalam mendukung
dan mengawasi keberhasilan penerapannya di seluruh
unit kerja. Dalam melakukan pengelolaan eksposur risiko
bisnis dan penetapan Sistem Manajemen Risiko, Direksi
dibantu oleh Risk Management Committee (RMC) sebagai
badan tertinggi dalam sistem manajemen risiko BRI.
Rapat RMC dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali
dalam tiga bulan.
Selain RMC untuk membahas permasalahan yang spesifik
pada jenis risiko tertentu dan membutuhkan putusan
segera dapat dilakukan melalui rapat RMC yang bersifat
terbatas, atau disebut sub-RMC. Terdapat tiga sub-
RMC yaitu CRMC (Credit Risk Management Committee),
MRMC (Market Risk Management Committee), dan ORMC
(Operation Risk Management Committee), yang dibentuk
untuk membahas permasalahan-permasalahan yang
menyangkut risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional
dan risiko lainnya.
Manajemen Risiko
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
143
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Implementasi Manajemen Risiko Kredit
Risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan
pihak lawan (counterpart) memenuhi kewajibannya. Risiko
kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional
bank seperti perkreditan (penyediaan dana), treasury dan
investasi, dan pembiayaan perdagangan, yang tercatat
dalam banking book maupun trading book. Produk/
tagihan BRI yang mengandung eksposur risiko kredit
meliputi pinjaman maupun non pinjaman (penempatan,
penyertaan, dan tagihan/aktiva lainnya seperti piutang
intern/piutang ekstern).
Risiko kredit merupakan komponen terbesar dalam
portofolio risiko bisnis BRI. Sesuai Laporan Pemenuhan
Modal Minimum pada tahun 2010, perhitungan risiko
kredit dilakukan dengan menggunakan metode standar.
Dengan asumsi CAR 8%, modal yang dialokasikan untuk
menanggulangi risiko kredit sebesar Rp16,7 triliun atau
53,67% dari total modal.
Mengingat kompleksitas dan besarnya eksposur berisiko
kredit di BRI, pada tahun 2006 telah dibentuk Tim Project
Office Credit Risk Basel II yang bertanggung jawab
melakukan pengembangan dan implementasi manajemen
risiko kredit dengan pendekatan Standardized dan Internal
Rating Based Approach. Kegiatan penerapan manajemen
risiko kredit yang telah dilakukan BRI selama tahun 2010
adalah :
a. Melakukan penyusunan manual Standardized
Approach berdasarkan consultative paper BI,
simulasi pengukuran risiko kredit untuk Quantitative
Impact Study (QIS) BI sampai dengan mengajukan
draft PBI Standardized Approach ke BI.
b. Melakukan review atas kebijakan penggunaan CRR-
CRS (Credit Risk Rating-Credit Risk Scoring), Credit
Risk Modelling (PD/Probability of Default, LGD/
Loss Given Default dan EAD/Exposure at Default),
kebutuhan MIS dan sistem CRM (Credit Risk
Management) BRI.
c. Simulasi pengukuran risiko kredit dengan Internal
Rating Based Approach (IRBA) dan melakukan
review regrouping eksposur IRBA BASEL II.
d. Melakukan pengembangan aplikasi data agunan dan
recovery rate per debitur untuk menjadi bagian dari
modul LAS (Loan Approval System) dan reporting.
e. Melakukan analisis stress testing (dengan berbagai
skenario termasuk worst case scenario) secara
bottom up dengan menggunakan cash flow nasabah
bagi debitur korporasi dan dengan menggunakan
data past performance portofolio bagi debitur
UMKM, dengan mengacu pada kondisi eksternal
dan kondisi ekonomi makro tahun 2010.
Selain itu, BRI juga merupakan salah satu bank yang
telah melakukan presentasi analisis Stress Testing di
hadapan Bank Indonesia dan IMF/World Bank dalam
program Financial Sector Assessment Program (FSAP)
serta membuat estimasi Macro Credit Risk Stress Testing
berdasarkan data makro ekonomi dari Bank Indonesia
(baseline scenario) dan IMF (stress scenario).
Penerapan manajemen risiko kredit di BRI tidak hanya
ditujukan untuk menempatkan BRI sebagai bank yang
patuh terhadap regulasi, namun merupakan suatu tuntutan
manajemen untuk menerapkan sistem pengelolaan risiko
kredit yang baik dan sesuai dengan praktek terbaik di
perbankan, sehingga diharapkan mampu mendorong
kegiatan bisnis bank yang berorientasi pada optimalisasi
risk dan return serta kecukupan modal yang dimiliki oleh
bank untuk menyerap kerugian karena risiko kredit.
Dalam rangka menjaga kualitas portofolio perkreditan, BRI
senantiasa menerapkan prinsip kehati-hatian dalam proses
pemberian kredit. Prinsip utama dalam mengelola risiko
kredit antara lain adalah pemisahan pejabat kredit yaitu
Relationship Management dan Credit Risk Management,
penerapan four eyes principle, penerapan risk scoring
system, serta pemisahan pengelolaan kredit bermasalah.
Selain itu dalam proses pemberian kredit harus mengikuti
prosedur perkreditan yang sehat.
Untuk memastikan agar aktivitas perkreditan dilaksanakan
secara hati-hati, perlu ditetapkan limit risiko kredit
sehingga potensi kerugian risiko kredit yang timbul masih
dapat diserap oleh modal yang telah dialokasikan. Untuk
itu BRI telah melakukan kajian atas perhitungan limit risiko
kredit termasuk limit konsentrasi kredit dan secara rutin
melakukan pemantauan atas eksposur risiko kredit aktual
berdasarkan portofolio, per segmen bisnis dan per sektor
ekonomi.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
144
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Implementasi Manajemen Risiko Pasar
Pengukuran risiko pasar (risiko suku bunga dan risiko nilai tukar) saat ini dilakukan melalui
pendekatan standardized method sesuai ketentuan PBI No. 5/12/PBI/2003. Dengan
menggunakan pendekatan tersebut, modal yang dialokasikan pada tahun 2010 untuk meng-
cover risiko pasar sebesar Rp114.6 miliar atau 0.37% dari total modal.
BRI telah mengimplementasikan sistem aplikasi Treasury dan Market Risk (GUAVA), yaitu sistem
yang terintegrasi yang digunakan oleh fungsi front office (dealer), middle office dan back office.
Dalam aplikasi tersebut pengukuran risiko pasar telah menggunakan internal model (Value at
Risk). Diharapkan dengan aplikasi tersebut, BRI dapat memonitor eksposur risiko pasar secara
harian dengan lebih akurat (risk sensitive) dan tepat waktu.
Implementasi Manajemen Risiko Operasional
Pengukuran Risiko Operasional dilakukan dengan menggunakan Basic Indicator Approach (BIA).
Dengan menggunakan pendekatan tesebut, modal yang dialokasikan untuk menanggulangi
risiko operasional sebesar Rp2,2 triliun atau 6,96% dari total modal.
Sejalan dengan upaya menerapkan manajemen risiko operasional yang sesuai dengan
kebutuhan BRI dan ketentuan regulasi, pada tahun 2010 BRI telah melakukan hal-hal penting,
antara lain:
a. Melanjutkan pengembangan sistem pelaporan gross income sesuai dengan pemetaan
business line BRI dan Basel.
b. Review pengukuran risiko operasional dengan pendekatan BIA (Basic Indicator Approach)
dan TSA (The Standardized Approach).
c. Simulasi perhitungan risiko operasional dengan pendekatan The Standarized Approach
(TSA) dan Advanced Measurement Approach (AMA). Untuk mendukung penerapan
AMA dilakukan implementasi Risk and Control Self Assessment (RCSA), Indikator Risiko
Utama (IRU) Manajemen Insiden (MI) pada seluruh Unit Kerja Operasional (UKO), serta
menyempurnakan kebijakan dan prosedur perangkat MRO (Manajemen Risiko Operasional)
tersebut.
d. Penerapan Forum Manajemen Risiko (FMR) sebagai wadah atau forum pertemuan antara
pemimpin unit kerja dengan pekerjanya untuk membahas permasalahan-permasalahan
(risiko) yang melekat pada aktivitas bisnis atau operasional.
e. Review kebijakan dan penerapan Fungsi Manajemen Risiko pada setiap UKO dalam
pengelolaan dan pemantauan risiko. Fungsi ini melekat pada pejabat/supervisior di unit
kerja yang ditunjuk dan bertanggung jawab pada penerapan manajemen risiko dan
peningkatan budaya sadar risiko pekerja di unit kerjanya.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
145
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
Divisi Sekretariat Perusahaan berperan sebagai
koordinator pengelolaan risiko reputasi pada level
korporat. Secara periodik Divisi Sekretariat Perusahaan
mengidentifikasi dan melaporkan Profil Risiko Reputasi
kepada Direksi.
Risiko kepatuhan pada hakikatnya melekat pada seluruh
aktivitas bisnis dan operasional, terutama yang terkait
pada peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain
yang berlaku. Divisi Kepatuhan merupakan koordinator
risiko kepatuhan yang secara periodik melaporkan kepada
Direksi.
Rencana Kerja Penerapan Manajemen Risiko Tahun
2011
Program penerapan manajemen risiko yang akan
dilakukan BRI pada tahun 2011 antara lain:
1. Penyusunan kebijakan dan metodologi internal model
risiko pasar yang dikaitkan dengan implementasi
sistem aplikasi treasury and market risk.
2. Evaluasi dan pengkinian kebijakan manajemen risiko
likuiditas yang telah ditetapkan manajemen.
3. Pengembangan enterprise-wide risk management,
termasuk pengembangan pengukuran kinerja
berbasis risiko (risk-adjusted performance
measurement/ RAPM).
4. Melakukan simulasi dan review stress testing Risiko
Pasar dan Risiko Kredit.
5. Review pedoman pengukuran risiko kredit Basel II
dengan Standardized Approach (SA) dan Internal
Rating Based Approach (IRBA) sesuai regulasi yang
berlaku.
6. Review kebijakan dan metodologi Credit Risk Rating
(CRR) dan Credit Risk Scoring (CRS) sesuai ketentuan
yang berlaku serta melakukan pemantauan atas
penerapan dan implementasi CRR dan CRS hasil
redesign.
f. Melakukan pengembangan aplikasi (software)
perangkat MRO, yang dinamakan OPRA (Operational
Risk Assessor) yang meliputi RCSA, IRU, MI, Penilaian
Maturitas dan pelaporan pelaksanaan FMR. Aplikasi
OPRA memfasilitasi penerapan MRO dan sebagai
persiapan proses penghitungan capital charge
risiko operasional dengan menggunakan metode
Advanced Measurement Approach (AMA).
g. Melanjutkan pelaksanaan uji coba kesiapan BRI dalam
menghadapi bencana (Manajemen Kelangsungan
Usaha/MKU), yaitu dengan melakukan sosialisasi
bersamaan dengan pelatihan aplikasi OPRA di
beberapa Kanwil.
Di samping hal tersebut, BRI telah mengelola risiko
reputasi, risiko kepatuhan, risiko hukum dan risiko strategi,
sebagaimana ketentuan Bank Indonesia.
Risiko hukum dapat timbul dari setiap aktivitas bisnis
dan operasional di seluruh unit kerja, sehingga tanggung
jawab pengelolaan dan mitigasi risiko hukum dilakukan
oleh seluruh penanggung jawab risiko (risk owners).
Pada tingkat korporat risiko hukum dikelola oleh Divisi
Hukum. Untuk membantu penanggung jawab risiko
dalam mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan
dan memantau risiko hukum, dilakukan sosialisasi dan
pembinaan terhadap pejabat/pekerja di seluruh unit
kerja tentang aspek legal pada setiap aktivitas bisnis
dan operasional, sehingga risiko hukum dapat dimitigasi
dengan optimal.
Indikator risiko strategi merupakan kegagalan bank
dalam mencapai target akibat pengambilan keputusan
bisnis yang tidak tepat. Risiko strategi pada tingkat
korporat dikelola oleh Divisi Perencanaan Strategis dan
Pengembangan Bisnis (Renstra), karena Divisi Renstra
bertanggungjawab menetapkan rencana strategis
(corporate plan) dan rencana bisnis bank (business plan)
yang berjangka waktu sekurang-kurangnya 3 tahun serta
memantau dan mengevaluasi pelaksanaan tersebut.
LAPORAN TAHUNAN 2010 | PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) TBK.
146
P
R
A
K
A
T
A
P
R
O
F
I
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
T
A
T
A

K
E
L
O
L
A

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
T
A
N
G
G
U
N
G
J
A
W
A
B

S
O
S
I
A
L

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
A
N
A
K

P
E
R
U
S
A
H
A
A
N
B
R
I

2
0
1
1
L
A
P
O
R
A
N

K
E
U
A
N
G
A
N
A
N
A
L
I
S
I
S

D
A
N

P
E
M
B
A
H
A
S
A
N

M
A
N
A
J
E
M
E
N
7. Pengujian Probability of Default (PD), Loss Given
Default (LGD), dan Exposure at Default (EAD) setelah
implementasi LAS secara menyeluruh.
8. Evaluasi kebijakan, metodologi, dan rumusan limit
risiko kredit.
9. Persiapan penerapan Standardized Approach (SA)
dan Advance Measurement Approach (AMA)
10. Review efektivitas penerapan perangkat Manajemen
Risiko Operasional (RCSA, IRU, MI) dengan
menggunakan aplikasi OPRA.
11. Meningkatkan efektifitas penerapan Manajemen
Kelangsungan Usaha (MKU) dengan unit-unit kerja
terkait, termasuk didalamnya testing Call Tree dan
Switch Over DC-DRC (Data Center - Data Recovery
Center)
12. Uji kecukupan pegelolaan risiko pada Produk dan/
atau Aktivitas Baru (PAB)