Anda di halaman 1dari 62

Blood Pressure

Blood Pressure
Systemic Vascular
Resistance
Cardiac Output
Cardiac:
Heart Rate
Status Inotropik
Neural
Humoral
Symphatetic Nervous
System:
adrenergic reseptor
(vasoconstrictor)
adrenergic reseptor
(vasodilator)
Humoral:
Vasoconstrictors
Angiotensin
Catecholamin
Renal:
Renin-angiotensin
Aldosteron
Atrial Natriuretik
factor
Local Regulation:
Vasodilators:
Prostaglandin
EDRF
Vasoconstrictors:
Endothelin
= x
HIPERTENSI (HT)
Penyakit kardiovaskular dan salah satu faktor
resiko utama gangguan jantung.
Adalah suatu peningkatan tekanan darah
di dalam arteri.
Hiper : Berlebihan
Tensi : Tekanan / tegangan
Hipertensi merupakan gangguan sistem
peredaran darah yang menyebabkan kenaikan
tekanan darah diatas nilai normal

Merupakan masalah kesehatan utama yang
dihubungkan dgn morbiditas & mortalitas yg
signifikan
Meningkatkan risiko terjadinya PJK >2x lipat
dan risiko gagal jantung kongestif >3x lipat
Tx HT pada & lanjut usia risiko gagal
jantung sampai 50% dibandingkan plasebo
(SHEP dan STOP hypertension)

Faktor Resiko
Yang dapat dimodifikasi
Merokok
Dislipidemia/hiperkolesterol
Diabetes Mellitus
Obesitas
Alkohol
Emosi: rangsangan SS Simpatis
Gaya hidup

Faktor Resiko
Yang tidak dapat dimodifikasi
Umur : > 50 thn
Sex : Wanita > pria
Genetik
Etnik

Beberapa Istilah Khusus
1. White coat hypertension
2. Persistent hypertension
3. Isolated systolic hypertension
4. Accelerated malignant hypertension (AMH)
Klasifikasi Penyebab
1. Hipertensi primer (esensial)
2. Hipertensi sekunder
Hipertensi Primer
Tidak diketahui penyebabnya
Biasanya dimulai sebagai proses intermitten pd
individu > 30 thn
Contributing factor meliputi peningkatan
aktifitas SS Simpatis, kelebihan produksi
hormon vasokonstriktor dan pengikat natrium,
intake natrium berlebihan, BB berlebih, DM dan
intake alkohol berlebihan

Hipertensi Sekunder
Gangguan ginjal
Gangguan endokrin
Exogenous medication and drugs
Kehamilan
Coarctation of the aorta
Gangguan neurologi
Faktor psikososial
Intravascular volume overload


Hipertensi merupakan The Sillent Killer
Gejala dari penyakit jantung hipertensi
bergantung dari durasi, keparahan dan tipe
dari penyakit. Bagaimanapun, penderita
hipertensi dapat atau tidak dapat mengetahui
bahwa ia menderita hipertensi

Manifestasi klinik
1. Asimptomatik, Kadang2 gejala timbul bila telah terjadi
komplikasi pada target organ: jantung, otak, ginjal,
vaskular, mata

2. Simptomatik :
Sakit kepala
Keletihan
Penurunan toleransi aktifitas
Palpitasi
Angina
Dyspnea
Perdarahan hidung/epistaksis
Pusing
Insomnia

Target Organ Damage
1. Jantung
2. Otak
3. Ginjal
4. Vaskular
5. Mata

Jantung
(Hipertensive Heart Disease)
Hipertrofi ventrikel kiri
Penyakit arteri koronaria dan
angina pektoris atau infark
miokard
Gagal jantung kiri

Otak
Stroke atau transient ischemic
attack
Hypertensive encephalopathy
Paralisis sementara pd satu sisi
(hemiplegia)

Ginjal
Nefrosklerosis
Nokturia
Azotemia
Insufisiensi ginjal
Penyakit ginjal kronis

Vaskular
Atherosclerosis
Aneurisme aorta
Peripheral vascular disease
Aortic dysection
Mata
Pandangan kabur
Perubahan pd retina spt
perdarahan, eksudat
Penyempitan pembuluh darah
Edema papil
Retinopati hipertensi

Mekanisme Patofisiologi dari
Hipertensi
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fundoskopi
Perhitungan BMI ( Body mass index)
Pemeriksaan abdominal
Pemeriksaan lengkap jantung dan paru-paru
Palpasi ekstremitas bawah unt melihat adanya edema dan denyut
nadi
Penilaian neurologis dan lain-lain


PENATALAKSANAAN HT
Non - Farmakologi
Modifikasi Gaya hidup
1. Penurunan Berat Badan
2. Memperbaiki Pola makan
3. Diet rendah sodium
4. Aktifitas fisik (aerobik)
5. Mengurangi konsumsi alkohol dan berhenti
merokok

terapi
Untuk menurunkan tekanan darah dapat ditinjau dari 3 faktor
fisiologis yaitu :
Menurunkan isi cairan intravaskuler dan Na darah dengan
diuretik
Menurunkan aktivitas susunan saraf simpatis dan respon
kardiovaskuler terhadap rangsangan adrenergic dengan obat
dari golongan anti simpatis.
Menurunkan tahanan perifer dengan obat vasodilator

Terapi
Farmakologi
Menurunkan tekanan darah menjadi normal, Sistolik 130-140
mmHG, dan diastolic 60-90 mmHg
Mengobati payah jantung karena hipertensi
Mengurangi morbiditas dan mortalitas terhadap penyakit
kardiovaskuler
Menurunkan faktor risiko terhadap penyakit kardiovaskuler
semaksimal mungkin.

Farmakologi
1. Diuretik ( Thiazid )
2. Penghambat adrenergik (alfa bolker, beta
bloker, alfa-beta bloker labetalol).
3. ACE inhibitor.
4. Antagonis kalsium
5. Vasodilator ( nitrogliserin, diazoxide dll)
OBAT-OBAT INI DAPAT DIBERIKAN SENDIRI
MAUPUN KOMBINASI



MODIFIKASI GAYA HIDUP
PILIHAN OBAT AWAL
TIDAK MENCAPAI TARGET TEKANAN DARAH
Tanpa Indikasi yang Memaksa Dengan Indikasi yang Memaksa
Tidak mencapai target tekanan darah (< 140/90 mmHg)
(<130/60 mmHg) untuk penderita DM atau PGK
Hipertensi Stage 2
(TDS 160 atau TDD 100
mmHg)

Kombinasi 2 obat untuk
sebagian besar kasus
(umumnya diuretika jenis
Thizide dan ACE-I, atau ARB,
atau B, atau CCB
Hipertensi Stage 1
(TDS 140-159 atau TDD 90-99
mmHg)

Diuretika jenis Thiazide
untuk sebagian besar kasus .
Dapat dipertimbangkan ACE-
I, ARB, B, CCB, atau
kombinasi.
Obat-obat untuk
indikasi yang memaksa

Obat antihipertensi
lain sesuai kebutuhan
(diuretika, ACE-I, ARB,
B, CCB)
Optimalkan dosis atau berikan tambahan obat sampai target tekanan
darah tercapai. Pertimbangkan konsultasi dengan ahli hipertensi
HIPERTENSI
Gagal
Jantung
Hipertrofi
Ventrikel
Kiri
Disfungsi
Sistolik
Disfungsi
Diastolik
Disfungsi sistolik
Kelainan primernya berupa gangguan
kontraktilitas jantung
Disfungsi diastolik
Terjadi keterbatasan pengisian ventrikel
akibat gangguan relaksasi dan menurunnya
compliance ventrikel kiri.

Patofisiologi gagal jantung
akibat hipertensi
1. HT faktor risiko terjadinya IMA
gangguan fx sistolik ventrikel kiri dan
gagal jantung
2. HT hipertrofi ventrikel kiri disfungsi
diastolik & risiko gagal jantung
Patofisiologi hipertrofi ventrikel kiri
pada hipertensi
Hipertrofi ventrikel kiri: massa ventrikel akibat
diameter sirkumferensial (hipertrofi konsentrik) atau
pemanjangan (hipertrofi eksentrik) atau keduanya
pada masing2 miofibril.




Haemodinamic
Load
Age gender
Risk factor
Salt Intake
Neurohumoral
Left Ventricular
Hypertrophy
Ventricular
Disrhytmia
Impaired Left
Ventricular Filling
Impaired
Contractility
Myocardial
Ischemia
Acute Myocardial
Infark
Congestive Heart
Failure
Sudden Death
Pressure
Overload
Hypertension
Volume Overload
Valvular Disease
Myocardial
Dysfunction
Myocardial
Infarction
Increased Wall Stress
Increased Cardiac Work
Cell Stretch
Cardiac Hypertrophy
and or Dilatation
Cardiac Dysfunction and
Failure
Gagal jantung
Merupakan komplikasi yang biasa terjadi pada peningkatan tekanan darah
kronik.
Pasien dengan hipertensi ada yang asimptomatik tetapi memiliki risiko
untuk menjadi gagal jantung (stage A atau B menurut klasifikasi ACC/AHA
tergantung apakah pasien memiliki penyakit jantung struktural sebagai
konsekuensi hipertensi)

Ada juga yang gagal jantung simptomatik (stage C atau D menurut
klasifikasi ACC/AHA).
Klasifikasi gagal jantung menurut ACC/AHA
Tingkatan gagal jantung berdasarkan struktur
dan kerusakan otot jantung
Klasifikasi fungsional NYHA Tingkatan
berdasarkan gejala dan aktifitas fisik
Stadium A
Memiliki resiko tinggi untuk berkembang
menjadi gagal jantung. Tidak terdapat gangguan
structural atau fungsional jantung, tidak
terdapat tanda atau gejala
Kelas I
Tidak terdapat batasan dalam melakukan
aktifitas fisik. Aktifitas fisik sehari-hari tidak
menimbulkan kelelahan, palpitasi atau
sesak napas.
Stadium B
Telah terbentuk penyakit struktur jantung yang
berhubungan dengan perkembangan gagal
jantung, tidak terdapat tanda atau gejala.
Kelas II
Terdapat batasan aktifitas ringan. Tidak
terdapat keluhan saat istirahat, namun
aktifitas fisik sehari-hari menimbulkan
kelelahan, palpitasi atau sesak nafas.
Stadium C
Gagal jantung yang simptomatik berhubungan
dengan penyakit structural jantung yang
mendasari
Kelas III
Terdapat batasan aktifitas bermakna. Tidak
terdapat keluhan saat istirahat, tetapi
aktifitas fisik ringan menyebabkan
kelelahan, palpitasi atau sesak
Stadium D
Penyakit jantung structural lanjut serta gejala
gagal jantung yang sangat bermakna saat
istirahat walaupun sudah mendapat terapi
medis maksimal (refrakter)
Kelas IV
Tidak dapat melakukan aktifitas fisik tanpa
keluhan. Terdapat gejala saat istirahat.
Keluhan meningkat saat melakukan
aktifitas
ACC = American College of CardiologyAHA =
American Heart Association
Hunt SA et al. Circulation. 2005;112:1825-1852
Nyha =New York Hearth AssociationThe
Criteria Committee On The New York Heart
Association Nomenclature And Criteria For
Diagnosis of Disease of the Heart and Great
Vessel.9ed. Boston, Mass:Little, Brown &
Co;1994:253-256
Manifestasi klinik
Kelainan jantung seperti
Mudah lelah
Sesak napas
Nyeri dada (iskemia miokard atau diseksi aorta)
Edema (gejala umum)
Hospitalisasi dapat dicetuskan oleh edema paru
Pemeriksaan fisik
JVP
Kardiomegali
Kongesti paru
Irama gallop
Hepatomegali
Edema tungkai
Pemeriksaan penunjang
1. Foto rontgen
2. EKG
3. Echocardiografi
4. Serum biomarker
EKG Hipertrofi Ventrikel Kiri
EKG
Hipertrofi ventrikel kiri dapat dinilai dari
pemeriksaan EKG dengan berbagai metode.
Hal lain yang perlu dinilai pada EKG adalah
1. iskemia miokard
2. infark miokard atau
3. aritmia
EKG Normal
echocardiografi
Transthoracic echocardiography (TTE) lebih
sensitif dan spesifik daripada EKG untuk
mendiagnosis adanya hipertrofi ventrikel kiri

Pada pemeriksaan 2-dimensi (2-D) dan
pemeriksaan M-mode, ditemukan adanya
penebalan pada septum interventricular, seperti
pada dinding posterior (> 1.1 cm). Hipertrofi
ventrikel kiri kuantitatif didefinisikan sebagai
peningkatan massa ventrikel kiri.
Serum biomarker
Respon ventrikel thd stres salah satunya melalui
aktivasi transkripsi dan sekresi B-type Natriuretic
Peptide (BNP)
Pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi
normal, kadar BNP plasma >57 pg/ml memiliki nilai
prediktif positif 100% untuk abnormalitas diastolik
seperti yg ditentukan oleh echocardiografi.
DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Coronary artery atherosclerosis
Hypertrophic cardiomyopathy
Jantung atlet (dengan hipertrofi ventrikel kiri)
Fibrilasi atrium karena etiologi lain
Disfungsi diastolik karena etiologi lain
Sleep apnea
terapi
ACE Inhibitor Dosis Awal Target Dosis
Captopril
Enalapril
Lisinopril
Ramipril
Trandolapril
6,25 mg 3x/hari
2,5 mg 2x/hari
2,5-5,0 mg 1x/hari
2,5 mg 1x/hari
0,5 mg 1x/hari
50 mg 3x/hari
10-20 mg 2x/hari
20-35 mg 1x/hari
5 mg 2x/hari
4 mg 1x/hari
terapi
Blocker Dosis Awal Target Dosis
Bisoprolol
Carvedilol
Metoprolol
Succinate (CR/XL)
Nebivolol
1,25 mg 1x/hari
3,125 mg 2x/hari

12,5/25 mg 1x/hari
1,25 mg 1x/hari
10 mg 1x/hari
25-50 mg 2x/hari

200 mg 1x/hari
10 mg 1x/hari
terapi
ARB Dosis Awal Target Dosis
Candesartan
Valsartan
Losartan
4 atau 8 mg 1x/hari
40 mg 2x/hari
50 mg 1x/hari
32 mg 1x/hari
160 mg 2x/hari
150 mg 1x/hari
MRA Dosis Awal Target Dosis
Eplerenone
Spironolakton
25 mg 1x/hari
25 mg 1x/hari
50 mg 1x/hari
25-50 mg 1x/hari
TERAPI KOMBINASI
Ada 6 alasan kenapa pengobatan kombinasi
dianjurkan :
1. Mempunyai efek aditif
2. Mempunyai efek sinergis
3. Mempunyai sifat saling mengisi
4. Penurunan efek samping masing-masing obat
5. Mempunyai daya kerja yang saling mengisi pada
organ target tertentu.
6. Peningkatan kepatuhan pasien