Anda di halaman 1dari 23

Material Asbes Untuk Bangunan

Disusun Oleh:
ADITYA NUGRAHA
JATNIKA ADIKUSUMAH
RIDA
RICKY
NURHADY
PUTERA SITUMORANG

JURUSAN TEKNIK SIPIL
PROGRAM STUDI TEKNIK PERANCANGAN JALAN DAN JEMBATAN
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
Jl. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga Bandung Jawa Barat
BANDUNG
2009
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tentang asbes (untuk bahan bangunan) tepat pada
waktunya sesuai dengan kurikulum yang berlaku di Politeknik Negeri Bandung Fakultas Teknik Sipil
Program Studi Teknik Perancangan Jalan dan Jembatan.
Laporan ini digunakan sebagai syarat untuk menyelesaikan studi diploma IV dan menempuh
ujian akhir semester mata kuiah bahan bangunan. Kami juga mengucapkan terima kasih dosen yang
bersangkutan yang telah membimbing kami dalam praktikum maupun dalam penyelesaian masalah
di makalah ini. Dan juga untuk semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini.
Kami menyadari masih adanya kekurangan kekurangan di dalam makalah ini. Oleh karena
itu, kami mengharapkan adanya kritik maupun saran unutk membangun yang dapat
menyempurnakan kekurangan ini.
Akhir kata, Kami mengharapkan semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua,
khususnya bagi para mahasiswa/I Jurusan Teknik Sipil.








Bandung, November 2009


Tim Penyusun


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
i
BAB I PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG MASALAH
- TUJUAN
- DASAR PEMIKIRAN
- RUMUSAN MASALAH
- METODE
1
1
1
1
1
1
BAB II LANDASAN TEORI
- KOMPONEN PEMBENTUK ASBES
- JENIS - JENIS ASBES
- SPESIFIKASI PRODUK
- ASBES PADA APLIKASI BANGUNAN
- DAMPAK ASBES PADA KESEHATAN
2
2
3
5
7
8
BAB III SERTIFIKASI SYARAT MUTU DAN PELAKSANAAN
- STANDARISASI MUTU ASBES
RINCIAN SNI
- STANDARISASI PELAKSANAAN PEMASANGAN ASBES
- PELAKSANAAN PEMASANGAN ASBES
PELAKSANAAN PEMASANGAN DINDING ASBES
PELAKSANAAN PEMASANGAN ATAP ASBES
PELAKSANAAN PEMASANGAN LANTAI ASBES
11
11
11
15
15
15
16
17
BAB IV KESIMPULAN
18
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Asbes merupakan material bangunan yang paling banyak digunakan di dunia. Nama
asingnya, asbestos ebuah grup mineral metamorfis berfiber. Nama ini berasal dari dari
penggunaannya di lampu wick; karena tahan api dia telah digunakan dalam banyak aplikasi. Dewasa
ini, asbes dinyatakan sebagai material yang berbahaya karena bias mengakibatkan berbagai penyakit
apabila seseorang menghirup udara dari bahan material asbes tesebut.
1.2 Tujuan
Dibuatnya makalah ini bertujuan untuk :
1. Menambah pengetahuan para mahasiswa tentang material asbes khususnya tentang asbes
dalam lingkup teknik sipil.
2. Memberikan suatu gambaran kepada pembaca tentang aplikasi dan cara pemasangan asbes
sebagai bahan bangunan.

1.3 Dasar Pemikiran
Banyak orang yang mengenal asbes tetapi tidak mengetahui bahan bahan penyusunnya dan
cara pemasanganya serta aplikasi dalam bangunan.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah yang perlu diketahui
yaitu :
1. Bahan penyusun asbes
2. Standardisasi (Syarat mutu dan kelayakan) asbes
3. Aplikasi dan pemasangan asbes.

1.5 Metode
Dalam pembuatan makalah ini menggunakan metode pembacaan buku dari berbagai
sumber. Selain itu metode yang dipakai adalah pengambilan berbagai artikel dari internet.
BAB II
LANDASAN TEORI

Sesuai dengan judul makalah, maka untuk mendapatkan gambaran tentang ruang lingkup
asal usul asbes , tim penyusun akan menggunakan secara teoritis dan dalam arti yang pokok-pokok
saja.
2.1 Komponen Pembentuk Asbes
Asbes adalah istilah pasar untuk bermacam-macam mineral yang dapat dipisah-pisahkan
hingga menjadi serabut yang fleksibel. Berdasarkan komposisi mineralnya, asbes dapat digolongkan
menjadi dua bagian. Golongan serpentin; yaitu mineral krisotil yang merupakan hidroksida
magnesium silikat dengan komposisi Mg
6
(OH)
6
(Si
4
O
11
)H
2O
, Golongan amfibol; yaitu mineral
krosidolit, antofilit, amosit, aktinolit dan tremolit.
Walaupun sudah jelas mineral asbes terdiri dari silikat-
silikat kompleks, tetapi dalam menulis komposisi mineral asbes
terdapat perbedaan. Semula dianggap bahwa silikatnya terdiri
dari molekul Si
11
O
12
. Akan tetapi berdasarkan hasil
penyelidikan sinar-X, sebenarnya silikat-silikat itu terdiri dari
molekul-molekul Si
4
O
11
.
Yang banyak digunakan dalam industri adalah asbes jenis krisotil. Perbedaan dalam serat
asbes selain karena panjang seratnya berlainan, juga karena sifatnya yang berbeda. Satu jenis serat
asbes pada umumnya dapat dimanfaatkan untuk beberapa penggunaan yaitu dari serat yang
berukuran panjang hingga yang halus.
Pembagian atas dasar dapat atau tidaknya serat asbes dipintal ialah :
1) Serat asbes yang dipintal, digunakan untuk :
- Kopling, tirai dan layar, gasket, sarung tangan, kantong-kantong asbes, pelapis ketel uap,
pelapis dinding, pakaian pemadam kebakaran, pelapis rem, ban mobil, bahan tekstil asbes, dan lain-
lain.
-Alat pemadam api, benang asbes, pita, tali, alat penyam-bung pipa uap, alat listrik, alat
kimia, gasket keperluan laboratorium, dan pelilit kawat listrik.

2) Serabut yang tidak dapat dipintal terdiri atas:
- Semen asbes untuk pelapis tanur dan ketel serta pipanya, dinding, lantai, alat-alat kimia
dan listrik
- Asbes untuk atap;
- Kertas asbes untuk lantai dan atap, penutup pipa isolator-isolator panas dan listrik;
- Dinding-dinding asbes untuk rumah dan pabrik, macam-macam isolasi, gasket, ketel, dan
tanur;
- Macam-macam bahan campuran lain yang menggunakan asbes sangat halus dan
kebanyakan asbes sebagai bubur.
Asbes amfibol yang biasa digunakan sebagai bahan serat tekstil adalah dari jenis varitas
krosidolit. Hal ini berhubungan dengan daya pintalnya yang sesuai dengan kebutuhan industri tekstil.
Krisotil dan antagonit termasuk ke dalam golongan asbes serpentin. Krisotil juga merupakan jenis
asbes yang sangat penting dalam industri pertekstilan.
2.2 Jenis - Jenis Asbes
Enam mineral didefinisikan sebagai "asbes" termasuk: chrysotil, Amosit, crocidolite,
tremolite, anthophyllite dan actinolite.
Putih (White)
Chrysotil, CAS No 12001-29-5, diperoleh dari batu yang berkelok kelok (serpentine rock)
yang tersebar luas di seluruh dunia. Serpentine Rock juga terdapat di negara bagian California.
Rumus kimia yang ideal adalah Mg
3
(Si
2
O
5
)(OH)
4
. Chrysotil
memiliki serat keriting yang berlawanan dari serat dari
Amosit, crocidolite, tremolite, actinolite, dan anthophyllite
yang kesemuanya berbentuk jarum. Chrysotil, bersama
dengan berbagai jenis asbes lainnya, telah dilarang di
berbagai negara dan hanya diperbolehkan di Amerika Serikat
dan Eropa dalam keadaan yang sangat terbatas. Chrysotil
telah digunakan lebih dari jenis asbes lain dan sudah menyumbang sekitar 95% dari asbes ditemukan
di gedung- gedung di Amerika. Aplikasi di mana chrysotil mungkin digunakan termasuk penggunaan
sambungan konstruksi . Hal ini dikarenakan chrysotil lebih fleksibel dari amphibole jenis asbes
lainnnya; chrysotilpun dapat dipintal dan ditenun menjadi kain. Yang paling umum digunakan adalah
semen asbes, atap asabes yang bergelombang dan biasanya digunakan untuk bangunan luar, gudang
dan garasi. Hal ini juga ditemukan sebagai lembaran asbes yang rata untuk digunakan sebagai langit-
langit dan kadang-kadang untuk dinding dan lantai. Banyak barang-barang lainnya yang telah dibuat
dengan menggunakan bahan bakau chrysotil termasuk rem, kain di belakang sekering (untuk
perlindungan kebakaran), pipa isolasi, lantai keramik, dan tali segel untuk boiler.
Cokelat (Brown)
Amosite, CAS No 12172-73-5, adalah nama dagang
untuk amphiboles milik perusahaan Cummingtonite -
Grunerite solid solution series (seri larutan padat), umumnya
dari Afrika, bernama sebagai suatu singkatan dari Tambang
asbes Afrika Selatan (Asbestos Mines of South Africa). Salah
satu formula yang diberikan untuk Amosit adalah
Fe
7
Si
8
O
22
(OH)
2
. Hal ini ditemukan paling sering sebagai
penghambat api dalam produk isolasi termal dan ubin pada
langit - langit.
Biru (Blue)
Crocidolite, CAS No 12001-28-4 adalah amphibole
ditemukan terutama di Afrika Selatan, tetapi juga ditemukan di
daerah Australia. Ini merupakan bentuk fibrosa amphibole
riebeckite. Salah satu formula yang diberikan untuk rumus kimia
crocidolite adalah Na
2
Fe
2
3Fe
3
2Si
8
O
22
(OH)
2
. Catatan: chrysotil
biasanya ditemukan sebagai serat gembur lembut. Bentuk -
bentuk asbes amphibolenya juga dapat menjadi sebagai serat
gembur lembut namun beberapa varietas seperti Amosit biasanya lebih rata. Semua bentuk asbes
ini memiliki lebar yang kurang dari 1 mikrometer yang terjadi di bundelnya dan memiliki bentuk yang
sangat panjang. Asbes dengan serat yang sangat bagus sering disebut sebagai "amianthus".
Amphiboles seperti tremolite memiliki struktur kristal berisi yang sangat terikat seperti pita polimer
anion silikat yang memperpanjang panjang kristal. Serpentine (chrysotil) memiliki bentuk permukaan
anion silikat yang melengkung dan yang bias digulung seperti karpet untuk membentuk serat

Bahan lainnya
Material mineral abes lainnya, seperti tremolite
asbestos, CAS No 77536-68-6, Ca
2
Mg
5
Si
8
O
22
(OH)
2
; actinolite
asbestos (atau smaragdite), CAS No 77536-66-4, Ca
2
(Mg, Fe)
5(Si
8
O
22
)(OH)
2
; dan anthophyllite asbestos, CAS No 77536-67-5,
(Mg, Fe)7Si
8
O
22
(OH)
2
; kurang umum digunakan pada bidang
industri tetapi masih dapat ditemukan dalam berbagai bahan
bangunan dan bahan isolasi dan telah dilaporkan di masa lalu
terdapat beberapa konsumen yang menggunakan material ini.
Mineral alam lain yang saat ini tidak digolongkan pada asbestiform mineral, seperti
richterite, Na(Kana)(Mg, Fe + +)5(Si
8
O
22
)(OH)
2
, dan winchite, (Kana)Mg
4
(Al, Fe
3
+)(Si
8
O
22
)(OH)
2
,
dapat ditemukan sebagai kontaminan dalam produk seperti pada vermikulit terdapat isolasi zonolite
yang diproduksi oleh WR Grace and Company. Mineral - mineral ini diperkirakan tidak kurang
berbahaya daripada tremolite, Amosit, atau crocidolite, tapi karena mereka tidak digolongkan,
mereka disebut sebagai "asbestiform" ketimbang asbes, walaupun mungkin berbahaya dan dapat
menimbulkan penyakit.
2.3 Spesifikasi produk
Kelompok Serpentine
Serpentine mineral memiliki lembaran
atau struktur yang berlapis. Chrysotil adalah
satu-satunya asbes mineral dalam kelompok
berkelok-kelok (serpentine group). Di Amerika
Serikat, chrysotil menjadi asbes yang paling
umum digunakan. Menurut U.S. EPA standar
pemeriksaaan Gedung asbes (Asbestos Building
Inspectors Manual), chrysotil menyumbang
sekitar 95% dari asbes yang ditemukan di
gedung-gedung Amerika Serikat. Chrysotil sering digunakan dalam berbagai bahan, termasuk:
* Dinding kering (drywall) dan untuk sambungan.
* Plester.
* Lumpur dan pelapis tekstur.
* Lantai vinyl genteng, lembaran, perekat.
* Atap ter yang dibentuk, felts, dinding, dan herpes zoster.
* "Transite" panel, dinding, rak, dan pipa.
* Bahan anti-api (fireproofing).
* Mendempul.
* Gasket.
* Rem bantalan dan sepatu.
* Piringan pada kopling.
* Pelapis bahan.
* Selimut api.
* Interior pintu kebakaran.
* Pakaian tahan api untuk pemadam kebakaran.
* Isolasi pipa thermal.
Di daerah Uni Eropa dan Australia, baru-baru ini material serpentine group dilarang karena
berpotensi akan bahaya kesehatan dan pada akhirnya tidak digunakan sama sekali. Jepang juga
bertindak serupa, tetapi lebih lambat. Laporan bahwa ratusan pekerja meninggal di Jepang selama
beberapa dekade sebelumnya, dan hal yang menyebabkan pekerja itu karena penyakit yang
berkaitan dengan asbes dan memicu skandal pada pertengahan-2005. Tokyo pada tahun 1971,
memerintahkan kepada para perusahaan untuk menangani asbes untuk memasang ventilator dan
memeriksa kesehatan secara teratur. Namun, pemerintah Jepang tidak melarang crocidolite dan
Amosit hingga 1995, dan larangan penuh terhadap penggunaan asbes sudah dilaksanakan pada
bulan Oktober 2004.
Kelompok Amphibole
Lima jenis asbes digolongkan dalam kelompok amphibole: Amosit, crocidolite, anthophyllite,
tremolite, dan actinolite. Amosit, tipe amphibole yang sering kali (berkemungkinan kedua terbesar
setelah serpentine group) ditemukan pada bangunan, menurut U.S. Panduan pemerikasaan gedung
asbes, adalah "cokelat" asbes.
Amosit dan crocidolite dulunya digunakan dalam berbagai
produk sampai awal 1980-an. Penggunaan semua jenis asbes dalam
kelompok amphibole dilarang di sebagian besar dunia Barat pada
pertengahan 1980-an, dan oleh Jepang pada tahun 1995. Produk ini
terutama:
* Papan insulasi kepadatan rendah dan langit-langit ubin.
* Lembaran semen-asbes dan pipa untuk konstruksi, pembungkus untuk air dan listrik /
jasa telekomunikasi.
* Thermal dan isolasi kimia (misalnya, kebakaran pada pintu, lintah semprot, lagging dan
gasket)
2.4 Asbes pada aplikasi bangunan
Asbes yang mempunyai serat alami yang tinggi
dalam kekuatan dan mudah sekali untuk dijadikan
berbagai bahan baku keperluan bangunan. Pada
umumnya asbes memiliki kemampuan :
- Untuk mengurangi suara untuk sebuah ruangan
(kedap suara)
- Mempunyai sifat tidak bisa dibakar.
- Tidak membusuk.
- Mempunyai kemampuan mekanis.
- Asbes juga tahan terhadap berbagai bahan kimia yang membuatnya cocok untuk digunakan
di beberapa laboratorium.

Pada dasarnya asbes memang cocok untuk dipergunakan pada area atap yang landai, karena
memiliki gelobang-gelombang yang mudah menyalurkan air. Selain itu, antarsambungannya juga
berlapis sehingga dapat mencegah air masuk ke dalam ruang atap.
Agak sulit mencegah atap asbes pecah atau berlubang akibat terinjak atau kejatuhan benda
berat. Meski begitu kerusakan akibat terinjak orang dapat diminimalkan dengan membuat rangka
dudukan asbes lebih rapat. Maksimal jarak antarrangka sekitar 50cm. Itu pun dengan catatan, si
penginjak asbes berdiri tepat di atas kayu yang menjadi rangka atap, bukan pada area tengah atau
pinggiran kayu.
Hal lain yang dapat dipergunakan untuk meminimalkan kerusakan adalah dengan memilih
jenis asbes yang tebal dan kuat.
ATAP ASBES GELOMBANG
Material ini ringan sehingga tidak memberi beban lebih pada atap. Asbes dipasang langsung
ke usuk (kaso) pakai paku payung berkaret. Titik-titik paku harus pada bagian puncak gelombang,
tepat di atas usuk. Ini dilakukan agar asbes menempel kuat dan atap tidak bocor. Asbes gelombang
tersedia dalam berbagai ukuran: (100, 125, 150, 180, 210, 240, 270, 300)cm x 108cm.
Beberapa ukuran yang muncul dipasaran :
- Jabesmen 1,5m x 1,5m/ lembar
- Jabesmen 1,8m x 1,5m/ lembar
- Jabesmen 2,1m x 1,5m/ lembar
- Jabesmen 2,4m x 1,5m/ lembar
- Jabesmen 2,7m x 1,5m/ lembar
- Jabesmen 3m x 1,5m/ lembar

2.5 Dampak Asbes Terhadap Kesehatan
Asbes, karena menurut hasil tinjauan Walhi Aceh
terhadap kasus-kasus kematian
akibat menghirup udara yang tercemar asbes menyimpulkan
bahwa, 94 persen
penggunaan Asbes di dunia mengandung bahan Chrysotile atau
hidroksida magnesium
silikat dengan komposisi Mg6(OH)6(Si4O11)H2O, Chrysotile
merupakan bahan
mineral yang bersifat Karsinogen pemicu penyakit kanker yang
akan menyerang
rongga dada, paru-paru, dan perut. Proses terinfeksinya melalui udara yang
telah tercemar oleh debu Asbes kemudian dihirup ole h Manusia. Penggunaan Asbes
telah banyak menimbulkan kematian pada korban, contoh kasus di Negara Jepang,
akibat menghirup udara yang tercemar Asbes, 500 orang meninggal dunia pada
tahun 1995, dan meningkat menjadi 878 orang pada tahun 2003, sehingga
pemerintah Jepang melarang penggunaan Asbes.
Proses keracunan Asbes tidak terjadi secara seketika, racun Chrysotile akan
menyerang manusia secara akumulatif, proses terinfeksi Chrysotile akan memicu
terjadi kanker pada manusia dalam waktu puluhan tahun kemudian, ketika korban
secara terus-menerus menghirup debu asbes yang mengandung Chrysotile maka
korban akan terkena penyakit kanker, yang bisa menyebabkan kematian.
Di Jepang penggunaan asbes sudah dilarang karena dapat
menyebabkan penyakit yang bisa menyebabkan kematian. Ddalam setahun belakangan
ini pemerintah Jepang sangat gencar melakukan penggantian material berbahan
asbes.
Kasus-kasus kematian akibat menghirup udara yang tercemar asbes menyimpulkan bahwa,
94 persen penggunaan Asbes di dunia mengandung bahan
Chrysotile atau hidroksida magnesium silikat dengan komposisi
Mg6(OH)6(Si4O11)H2O, Chrysotile merupakan bahan mineral yang bersifat
Karsinogen pemicu penyakit kanker yang akan menyerang rongga dada, paru-paru,
dan perut. Proses terinfeksinya melalui udara yang telah tercemar oleh debu
Asbes kemudian dihirup oleh Manusia. Penggunaan Asbes telah banyak menimbulkan
kematian pada korban, contoh kasus di Negara Jepang, akibat menghirup udara
yang tercemar Asbes, 500 orang meninggal dunia pada tahun 1995, dan meningkat
menjadi 878 orang pada tahun 2003, sehingga pemerintah Jepang melarang
penggunaan Asbes.
Proses keracunan Asbes tidak terjadi secara seketika, racun Chrysotile akan
menyerang manusia secara akumulatif, proses terinfeksi Chrysotile akan memicu
terjadi kanker pada manusia dalam waktu puluhan tahun kemudian, ketika korban
secara terus-menerus menghirup debu asbes yang mengandung Chrysotile maka
korban akan terkena penyakit kanker, yang bisa menyebabkan kematian.
Asbes juga tampil dalam berbagai bentuk bahan bangunan dan produk jadi
berupa rumah rakit (pre-fab). Sebagai bahan bangunan, asbes dibuat
dengan cara mencampurkan asbestos dengan komposisi 15% dan semen dengan
komposisi 85%. Bahan ini dapat pula disemprotkan atau sebagai bahan plester
pada permukaan dinding maupun langit-langit (acoustical plaster). Asbes
berperan sebagai bahan bangunan yang sangat berguna dan diminati banyak orang
sehingga bahan itu hadir di berbagai tempat seperti rumah tinggal, sekolahan,
bangunan perkantoran, serta bangunan-bangunan lainnya.
Dilihat dari sudut pandang ilmu kimia, asbes adalah suatu
zat yang terdiri
dari Magnesium-Calsium-Silikat berbangun serat dengan sifat fisik
yang sangat
kuat. Bahan galian penghasilnya adalah mineral jenis aktinolit dan
krisatil
yang berserabut. Krisatil menempati sekitar 95% persediaan asbes
dunia. Tiga
perempatnya ditambang di Provinsi Quebec, Kanada. Deposit besar
lainnya berada
di Afrika Selatan dan negara-negara bekas Uni Sovyet. Asbes dapat
diperoleh
dengan berbagai metode penambangan bawah tanah, namun yang paling umum adalah
melalui penambangan terbuka (open-pit mining).
Bidang kegiatan adalah bahwa asbes termasuk bahan berbahaya. Namun, kurang
disadari oleh masyarakat pemakainya karena dampak negatif yang ditimbulkannya
tidak segera tampak. Memang, tidak semua bahan yang mengandung asbes berbahaya
bagi manusia apabila bahan itu dalam keadaan baik sehingga serat asbes terikat
kuat dalam matrik bahan. Namun, substansi asbes dengan ukuran tertentu dalam
keadaan terlepas/bebas akan sangat berbahaya karena dapat memicu timbulnya
gangguan kesehatan apabila terhirup masuk ke dalam paru-paru.
Asbes dapat mengakibatkan penyakit asbestosis dan berbagai jenis kanker.
Sifat asbes yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan berupa timbulnya
penyakit asbestosis sudah cukup dikenal di kalangan praktisi kesehatan
kerja maupun kesehatan lingkungan. Asbestosis adalah penyakit kronis pada
paru-paru yang mengakibatkan penderita sulit bernafas dan bisa mengakibatkan
kematian. Asbes dapat juga mengakibatkan kanker jenis mesothelioma,
yaitu jenis kanker yang menyerang selaput perut. Dr. Irving Selikoff,
Direktur Environmental Science Laboratories pada Mount Sinai School
of Medicine di New York yang menangani suatu penelitian penyakit kanker
para pekerja di pabrik asbes, menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa
kanker paru-paru lebih banyak disebabkan oleh asbes dibanding rokok. Dari 869
orang yang 17 tahun sebelumnya pernah bekerja di pabrik asbes di Texas, AS, 300
orang di antaranya diperkirakan menderita asbestosis, kanker paru-paru, kanker
usus, dan kanker perut lainnya.
CARA PENGURANGI EFEK NEGATIP DARI ASBES
1. Jika atap menggunakan asbes, gunakanlah plafon untuk mecegah debu dan serat asbes
jatuh kedalam rumah.
2. Ganti asbes setiap 5 tahun sekali, walaupun tidak ada tanda-tanda rusak.
3. Saat mengerjakan asbes, gunakan alat penutup hidung.
4. Buatlah ventilasi yang baik, ventilasi yang baik akan mengurangi efek gas radon yang
terkandung didalam asbes.
5. Mengecat asbes bukan solusi untuk mencegahnya asbes terhirup oleh kita, asbes yang
rusak walaupun dicat tetapakan menimbulkan dampak yang sama.


BAB III
SERTIFIKASI SYARAT MUTU DAN PELAKSANAAN
3.1 Standarisasi Mutu Asbes

No Nomor Judul (INA) Judul (ENG)
1 SNI 03-4358-1996 Lembaran genteng asbes semen
Asbestos cement roof
tile sheets
2 SNI 03-4423-1997 Serat asbes untuk bahan bangunan
Asbestos fibre for
building materials
3 SNI 03-2050-2006
Lembaran serat krisotil semen bergelombang
simetris
Chrysotile fibre sheets
of symmetrical
corrugated cement
4 SNI 03-1027-2006 Lembaran serat krisotil semen rata
Chrysotile fibre cement
flat sheets
5 SNI 03-2114-1991
Lembaran asbes semen bergelombang tidak
simetris
Asymmetrical
corrugated asbestos
cement sheets
6 SNI 03-2126-1991
Panel rata asbes semen berisi asbes semen
bergelombang
Asbestos cement flat
panel containing
corrugated asbestos
cement
7 SNI 03-0233-1989 Lembaran serat semen , Mutu dan cara uji
Cement fibre sheet,
Specification and test
method

3.1.1 Rincian SNI
Nomor SNI : SNI 03-4358-1996
Judul :
Lembaran genteng asbes semen
Abstraksi :
Persyaratan mutu meliputi tampak akhir, ukuran dan toleransi, kesikuan, kekuatan lentur,
ketahanan terhadap perembesan air dan kepadatan. Pengambilan contoh secara acak pada
kelompok yang berjumlah 1000 lembar.
ICS :
1. 91.100.40 Produk semen bertulang serat
SK Penetapan : 1181/IV.2.06/HK/09/1996 Tanggal Penetapan : 26-09-1996
SNI HS :
1. 6810 Barang dari semen, beton atau batu tiruan, diperkuat maupun tidak.


Nomor SNI : SNI 03-4423-1997
Judul :
Serat asbes untuk bahan bangunan
Abstraksi :
Serat yang digunakan adalah chrysotile (3 MgO 2 SiO2 2H2O) Grade D. Persyaratan mutunya
meliputi : ukuran serat, luas sebaran, uji kekasaran, kandungan serat, dll.
ICS :
1. 91.100.40 Produk semen bertulang serat
SK Penetapan : 720/IV.2.06/HK/05/1997 Tanggal Penetapan : 19-05-1997

Nomor SNI : SNI 03-2050-2006
Judul :
Lembaran serat krisotil semen bergelombang simetris
Abstraksi :
Klasifikasi berdasarkan tinggi gelombang. Syarat mutu meliputi tampak akhir, ukuran dengan
toleransi tertentu, kesikuan, kekuatan, kedap air, kepadatan tidak boleh kurang dari 1.20 g /cm3.
Contoh mewakili tiap kelompok yang diuji. Pengujian meliputi pengukuran panjang dan lebar, tinggi
dan jarak gelombang, tebal, kesikuan dihitung dengan cara tertentu.
ICS :
1. 91.100.40 Produk semen bertulang serat
SK Penetapan : 171/KEP/BSN/12/2006 Tanggal Penetapan : 22-12-2006
SNI INI MEREVISI :
1. SNI 03-2050-1990 Lembaran asbes semen bergelombang simetris
SNI HS :
1. 2524.90.00.10 --Chrysotile
Lembaga Sertifikasi :
1. LSPr-004-IDN - Pustan Deperin

Nomor SNI : SNI 03-1027-2006
Judul :
Lembaran serat krisotil semen rata
Abstraksi :
Standar ini menyajikan syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji dan penandaan
lembaran serat krisotil semen rata. Lembaran asbes semen rata merupakan bahan bangun yang
digunakan untuk di dalam maupun di luar bangunan.
ICS :
1. 91.100.40 Produk semen bertulang serat
SK Penetapan : 171/KEP/BSN/12/2006 Tanggal Penetapan : 22-12-2006
SNI INI MEREVISI :
1. SNI 03-1027-1995 Lembaran asbes semen rata
SNI HS :
1. 2524.90.00.10 --Chrysotile
Lembaga Sertifikasi :
1. LSPr-004-IDN - Pustan Deperin

Nomor SNI : SNI 03-2114-1991
Judul :
Lembaran asbes semen bergelombang tidak simetris
Abstraksi :
Lembaran asbes semen bergelombang tidak simetris adalah bahan yang dibuat dari semen
portland, air dan serat asbes, dibentuk menjadi lembaran yang dalam arah lebarnya mempunyai
beberapa gelombang yang tidak simetris dan pada umumnya dipergunakan penutup atap dan
dinding. Syarat mutu meliputi tampak akhir, ukuran dan toleransi, kekuatan, kedap air, kesikuan dan
kepadatan. Komposisi terdiri atas semen portland, air dan serat asbes. Semen portland dapat diganti
dengan silikat halus.
ICS :
1. 91.100.40 Produk semen bertulang serat
SK Penetapan : 502/IV.2.06/HK.01.04/10/1991 Tanggal Penetapan : 14-10-1991
SNI HS :
1. 6811.40.00.00 -Mengandung asbes

Nomor SNI : SNI 03-2126-1991
Judul :
Panel rata asbes semen berisi asbes semen bergelombang
Abstraksi :
Syarat mutu meliputi lembaran asbes semen (mengacu SII 0015-76), sifat tampak, ukuran
dan toleransi (panjang dan lebar ), ukuran tebal dan kesikuan. Cara uji meliputi persiapan contoh,
sifat tampak, ukuran, ketebalan, kuat tekan vertikal tegak lurus dengan gelombang lapisan inti, kuat
lentur searah dengan gelombang lapisan inti.
ICS :
1. 91.100.40 Produk semen bertulang serat
SK Penetapan : 502/IV.2.06/HK.01.04/10/1991 Tanggal Penetapan : 14-10-1991
SNI HS :
1. 6811.40.00.00 -Mengandung asbes

Nomor SNI : SNI 15-0233-1989
Judul :
Lembaran serat semen , Mutu dan cara uji
Abstraksi :
Syarat mutu dan cara uji lembaran serat semen (non-asbes) yang dihasilkan dari pencetakan
sederhana atau mesin
ICS :
1. 91.100.40 Produk semen bertulang serat
SK Penetapan : 798/IV.72/A.4/1989 Tanggal Penetapan : 18-04-2006
SNI HS : 1. 6811.81.00.00 -Tidak mengandung asbes : --Lembaran bergelombang
3.2 Standarisasi Pelaksanaan Pemasangan Asbes

1. Metode Memperbaiki Bahan Bangunan
Fiber Semen.
No : Pt M-01-2000-C, Kategori : Petunjuk Teknik
Fiber semen merupakan bahan alternatif
sebagai pengganti kayu yang potensinta semakin
berkurang penggunaan fiber semen lebih aman
dibandingkan dengan asbes semen yang ada karena
kadar asbesnya lebih kecil dari 5 %.
2. Tata Cara Pengerjaan Lembaran Asbes Semen Untuk Dinding Pada Bangunan Rumah dan
Gedung.
No : SNI 03-2841-1992, Kategori : SNI
Tata cara ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatip akibat debu yang
ditimbulkan pada waktu pengerjaan pemasangan dinding.
4. Tata Cara Pengerjaan Lembaran Asbes Semen Untuk Penutup Atap Pada Bangunan Rumah
dan Gedung.
No : SNI 03-2840-2002, Kategori : SNI
Tata cara ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari dampak negatip akibat debu yang
ditimbulkan pada waktu pengerjaan pemasangan penutup atap.

3.3 Pelaksanaan Pemasangan Asbes
Asbes dalam aplikasi teknik sipil digunakan sebagai atap (asbestos roof), dinding (asbestos
drywall, dan lantai. Ada berbagai macam teknik untuk memasangkan asbes tersebut, ada yang
mengacu ke SNI dan ada yang hanya memakai pendidikan yang turun - temurun diwariskan/
memakai perasaan (feeling). Biasanya para tukang bangunan memakai metoda feeling, karena selain
cepat tidak usah menghitung secara anilitis juga pendidikan yang merak dapat tidak cukup memadai
untuk dapat melakukan pertukangan sipil secara SNI.
3.3.1 Pelaksanaan Pemasangan Dinding Asbes
SNI 03-2840-2006
RUANG LINGKUP
Tata cara ini mencakup persyaratan, ketentuan, dan cara pengerjaan pemasangan lembaran
asbes semen untuk dinding pada bangunan rumah dan gedung.

RINGKASAN
Tata cara ini dimaksudkan sebagai acuan
bagi pelaksana dalam pelaksanaan pemasangan
dindind, dengan tujuan untuk melindungi
masyarakat. Asbes Semen adalah nama umum dari
bahan bangunan yang terbuat terutama dari semen
portland, air, serat asbes, serat sllulosa, dan serat -
serat lain dengan atau tanpa bahan pengisi.
Persyaratan pengerjaan lembaran asbes
semen untuk dinding :
Dipersiapkan tempat penerimaan yang terhindar dari kegiatan lain.
Tumpulkan lembaran ditempatkan jauh dari lalu lintas kendaraan atau skesibukan
kerja dan terlindung dari kemungkinan kerusakan lainnya.
Bahan bangunan hams sesuai dengan SII No.239/M3/1987 dan 254/M/3/1987.
Terhindar dari dampak negatif akibat debu yang ditimbulkan pada waktu pengerjaan
pemasangan dinding.
Sebelum memulai pekerjaan pemasangan lembaran asbes semen, debu yang ada
pada lembaran asbes semen akibat gesekan terlebih dahulu dibersihkan.
Hidarai adanya pemahatan/ pemotongan/ pelubangan lembaran asbes semen yang
telah terpasang.
Pada penyimpanan lembaran asbes semen, agar tumpukan menggunakan bantalan
yang rata, diantara lembaran dihindari adanya batu, puing, dan potongan kayu.


3.3.2 Pelaksanaan Pemasangan Atap Asbes

1. Ibarat pepatah sedia payung sebelum hujan, persiapkan
atap alias "payung" rumah kita sebelum musim hujan tiba. Sering-
seringlah menengok ke atas atap, apakah ada genteng yang sudah
perlu diganti atau merosot.

2. Untuk atap dari asbes, atau, cermati kemungkinan adanya
retak rambut. Jika ada, beri kawat kasa dan waterproof. Utuk retak
besar, harus dibobok dan diplester kembali.

3. Idealnya, pemeriksaan dilakukan minimal 2 - 3 bulan sekali.
Sebab, retak rambut amat kecil dan tidak langsung menimbulkan
kebocoran. Baru setelah3-4 kali hujan besar, atap bocor dan air yang
merembes bisa membuat atap lapuk.

4. Daerah kerpusan (bubungan) atap juga butuh perhatian ekstra lantaran plester semen
pada bagian tersebut kerap bocor. Prinsipnya, semakin dini diperbaiki, semakin murah biayanya.
Plafon yang dibiarkan lembab gara-gara rembesan air, lama-lama bisa ambruk. Risikonya, biaya
perbaikan lebih mahal.

5. Sedapat mungkin gunakan alumunium foil (1- 2 mili) sebagai pelapis antara plafon dan
genteng. Selain mengurangi penyerapan panas, juga untuk menghindari tampias. Misalnya, jika ada
ketidaksempurnaan dalam pemasangan genteng, alumunium berfungsi sebagai tameng bagi atap
sehingga air akan turun ke plank dan tak masuk ke dalam rumah."

6. Cermati segi elevasi (sudut kemiringan) materi genteng guna membentuk ketahanan
terhadap hujan. Misalnya, genteng keramik membutuhkan elevasi lebih dari 30 derajat, sedangkan
asbes butuh lebih dari 15 derajat. Jika tak diindahkan, air hujan tetap bisa masuk lewat genteng.
mengatasinya, gunakan overstek (lidah atap) sepanjang 1,2 meter untuk melindungi lantai teras dan
dinding dari tampias hujan angin.

7. Pemasangan baut atau paku pada asbes harus diperhatikan. Asbes tidak bisa direkatkan
dengan paku biasa, karena jika dipalu mudah pecah. Asbes harus dibor dulu, dipasang paku yang
dilapisi karet, lalu dipelingkut di area pakunya.

8. Untuk daerah tropis, materi yang paling pas adalah genteng keramik yang lebih liat
menghadapi perubahan cuaca dan suhu.



3.3.3 Pelaksanaan Pemasangan Lantai Asbes

1. Tampias air hujan atau atap bocor, bisa
merusak lantai. Cara menanggulanginya, buat
overstek dan pilih lantai yang kuat. Jangan
gunakan lantai materi indoor untuk ruangan
outdoor.

2. Banjir juga merusak lantai. Air
merembes lewat sela-sela pintu dan jendela.
Untuk itu ban pada lantai, pintu, dan jendela,
sebaiknya dibuat dari materi alumunium berlapis
karet.

3. Lantai dalam rumah sebaiknya juga lebih tinggi daripada teras.

4. Jika pintu dan jendela terbuat dari kayu, sebaiknya diberi finishing duco ketimbang
melamik. Kusen jendela serta pintu pun harus dirawat dengan menyemprotkan clear gloss.

5. Bisa juga terjadi, tiba-tiba air menggenangi lantai meski tak ada hujan. Ini terjadi karena
desakan air yang keluar dari bawah lantai rumah. Biasanya, di rumah-rumah yang dibangun di atas
lahan yang kandungan airnya besar serta dibangun dengan ketinggian di ba- wah badan jalan.
Sedapat mungkin, rumah harus dibangun lebih tinggi dibanding level jalan. setidaknya, setengah
meter lebih tinggi. Informasi tentang level jalan dan level banjir bisa dilihat di Pemerintah Kota.












BAB IV
KESIMPULAN
Pentingnya penggunaan asbes dalam pembangunan akan meningkatkan derajat hidup
manusia khususnya di beberapa negara berkembang hingga penggunaan asbes hampir ada di setiap
rumah dan gedung, sejak diketahui hasil penelitian dampak asbes terhadap kesehatan manusia
maka mulai dikurangi pemakaian asbes bahkan di Jepang asbes sudah tidak digunakan lagi dalam
setiap pembangunan gedung-gedung.

Penggunaan asbes masih cukup tinggi, maka diharapkan pemakaian asbes perlu
memperhatikan prosedur yang aman sesuai standard dan batas-batas toleransi ambang batas
pencemaran, walaupun sulit bahwa pada suatu saat penggunaan asbes dapat diminimalisasi bahkan
tidak lagi gunakan dalam pembangunan rumah dan gedung terutama yang berkaitan dengan kontak
kangsung pada manusia.

Untuk memenuhi kebutuhan pembangunan perlu dikembangkan industri bahan alternatif
pengganti asbes yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia dan hewan.





























DAFTAR PUSTAKA
www.wikipedia.org
id.wikipedia.org
websisni.bsn.go.id
struktur-rumah.blogspot.com
www.ideaonline.co.id
www.kaskus.us
www.askthebuilder.com
www.tekmira.esdm.go.id
www.p2kp.org
pesonacilebut2.co.cc
strukturrumah.com
asbestos101.info
www.pu.go.id
books.google.co.id
arson88.blogspot.com
www.rumahjogja.com
www.isitasbestos.com
www.asbestosminerals.com
Images.google.co.id
Kenysurveys.com
Makalah bahan bangunan teknik sipil Polban tahun 2008