Anda di halaman 1dari 30

I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertanian merupakan suatu bidang kegiatan usaha yang tidak akan lepas dari kehidupan manusia dan alam, sebab secara hirarkhi di
ekosistem beberapa komponen kehidupan membentuk mata rantai yang saling mempengaruhi, terputusnya salah satu mata rantai
tersebut akan mengakibatkan atau berpengaruh terhadap kelangsungan makhluk hidup yang lain sehingga harus dilestarikan.
Dengan melihat gejala perilaku manusia sebagai komponen yang paling aktif mengadakan eksplorasi, pembudidayaan, perubahan,
pengguna (konsumsi) dan lain-lain untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup yang semakin meningkat telah menimbulkan gejala
yang mengarah pada kerusakan pencemaran lingkungan dan produk pertanian. Ironisnya pengguna bahan kimia dan bahan an-organik
lainya yang sulit dirombak dan sekaligus merupakan bahan pencemar itu merupakan hasil karya para ahli yang mengharapkan dapat
menjawab tantangan kebutuhan hidup masyarakat, misalnya untuk meningkatkan hasil suatu produk pertanian dalam proses budidaya
tanaman menggunakan pestisida untuk pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), zat pengatur tumbuh untuk merangsang
pembelahan sel atau meningkatkan aktifitas auxin sehingga pertumhuhan dapat optimal, penggunaan pupuk anorganik yang mudah
didapat dan mudah aplikasinya sebagai penyedia unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Hasil yang diperoleh dari usahatani demikian apabila diperhatikan sekilas memang bagus, baik kualitas maupun kuantitasnya, tetapi
jika kita teliti lebih detail, ternyata dibalik keherhasilan tersebut terdapat suatu kerugian yang tidak kalah besarnya, yaitu adanya
pencemaran lingkungan dan produk pertanian, pemutusan mata rantai kehidupan dan efek-efek negatif lainnya yang akan sangat terasa
bila sudah berjalan beberapa waktu lamanya. Efek residu dari penggunaan pestisida antara lain dapat mencemari tanah disertai
matinya beberapa organisme perombak tanah, mematikan serangga dan binatang lain yang mungkin sebenarnya binatang tersebut
dapat bermanfaat bagi kita sehingga terputusnya rantai makanan bagi hewan pemakan serangga hama. Dari hal ter sebut yang tidak kalah
menariknya untuk kita renungkan adalah bahan aktif pestisida yang tertinggal pada tanaman yang akan dikonsurnsi dapat meracuni kita dan
akan terakumulasi di dalam tubuh, maka tidak heran banyak gejala penyakit yang salah satu penyebabnya adalah bahan kimia tersebut,
misainya kanker, radang, penyakit kulit dan lain-lain bahkan ada yang teracuni langsung, yaitu orang mengkonsumsi komponen tanaman (buah,

1
daun, bunga, umbi dan lain-lain) yang jelas-jelas masih mengandung pestisida. Efek negatif yang berkepanjangan pada suatu areai pertanian akan
menurunkan produktifitas lahan itu sendiri. Dengan demikian tujuan yang semula untuk memaksimalisasi produktivtas lahan pertanian
justru terbalik, bahkan akan menjadikan bumerang bagi kita.
Saat ini untuk pemenuhan kebutuhan pangan dari sektor pertanian mestinya sudah mengarah pada pertanian yang
mempertahankan keseimbangan lingkungan. Salah satu teknologi pertanian yang berwawasan lingkungan yang sudah kita dengar adalah
Pertanian Organik. Pertanian Organik merupakan suatu tekhnologi budidaya tanaman yang pada penerapannya disesuaikan dengan
keadaan lingkungan, agar tidak terjadi perubahan ekosistem secara drastis sehingga tidak menggangu dan memutuskan mata rantai
makhluk hidup.

1.2 Tujuan
Tujuan utama pertanian organik, antara lain :
• Menghasilkan pangan berkualitas tinggi yang bebas residu pestisida, residu pupuk kimia organik sistetik, dan bahan kimia lainnya untuk
membantu meningkatkan kesehatan masyarakat
• Melindungi dan melestarikan keragaman hayati agar dapat berfungsi secara alami dalam mempertahankan interaksi di ekosistem
pertanian sesuai sistem alami
• Memasyarakatkan kembali budidaya organik untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan guna menunjang sistem
usahatani yang berkelanjutan
• Mengurangi ketergantungan petani terhadap masukan sarana produksi dari luar yang harganya mahal dan berpotensi menyebabkan
pencemaran lingkungan sehingga petani dapat memperhitungkan dampak sosial, ekonomi dan lingkungan pertanian organik dan
pengolahannya
• Mendorong meningkatnya siklus biologi dalam sistem usahatani dengan melibatkan tanah, tanaman, ternak, flora dan fauna dalam
ekosistem
2
• Mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah dalam jangka panjang secara berkelanjutan
• Efisiensi penggunaan air
• Memanfaatkan dan mengoptimalkan sumber daya alam secara lokalita untuk mendukung sistem pertanian organik
• Mengembangkan keseimbangan yang harmonis antara produksi pertanian dan peternakan

II. PENGERTIAN, BATASAN, DAN PRINSIP DASAR PERTANIAN ORGANIK

2.1 Pengertian Pertanian Organik


Kegiatan usahatani secara menyeluruh dari proses produksi sampai proses pengolahan hasil yang dikelola secara alami dan ramah
lingkungan tanpa penggunaan bahan kimia sintetis dan rekayasa genetic sehingga menghasilkan produk yang sehat dan bergizi.

2.2 Batasan Pertanian Organik


Sistem usahatani bisa dikatagorikan pertanian organik apabila :
a. Lokasi, lahan dan tempat penyimpanan harus terpisah secara fisik dengan batas alami dari pertanian non organik.
b. Masa konversi lahan dari pertanian non organik menjadi pertanian organik diperlukan waktu 12 bulan untuk tanaman musiman dan 18
bulan untuk tanaman tahunan.
c. Bahan tanaman ( Benih/bibit) bukan berasal dari hasil rekayasa genetika dan tidak diperlakukan dengan bahan kimia sintetik ataupun
zat pengatur tumbuh.
d. Media tumbuh tidak menggunakan bahan kimia sintetik
e. Perlindungan tanaman tidak menggunakan bahan kimia sintetik, tapi berupa pengaturan sistem tanam/pola tanam , pestisida nabati,
agens hayati dan bahan alami lainnya.
f. Pengelolaan produk harus terpisah dari produk non organik dan tidak menggunakan bahan yang mengandung additive.

3
III. PROSPEK PERTANIAN ORGANIK

Prospek pertanian organik di masa mendatang mempunyai peluang usaha yang sangat baik dan cerah, karena kesadaran konsumen untuk
menkonsumsi sumber makanan yang sehat dan bergizi semakin meningkat. Konsumen yang baik bukan hanya memperhatikan porsi yang
ideal dan makanan yang baik dan sehat saja akan tetapi turut memperhatikan dan peduli tentang suatu proses produksi dan dampak-dampaknya.
Hasil produksi dari pertanian organik ternyata lebih bermutu dibanding dengan budidaya pertanian biasa. Beberapa kriteria yang
mempunyai nilai lebih antara lain rasa lebih enak, lebih awet disimpan, warnanya lebih menarik dan pasti lebih sehat karena tidak mengandung
residu bahan-bahan kimia.
Produk pertanian yang tidak mengandung residu bahan kimia berbahaya disukai konsumen saat ini dan masa mendatang, karena
masyarakat yang telah memahami tentang kesehatan akan memilih dan mengkonsumsi makanan yang tidak merugikan kesehatan
tubuh.
Dalam proses penerapan budidaya pertanian organik memang agak sulit dibandingkan dengan budidaya biasa yang menggunakan
bahan kimia (anorganik). Untuk itu orang yang akan mengembangkan pertanian organik harus mempunyai jiwa juang dan cinta
terhadap lingkungan dan semua isi alam. Harus mau mengenal alam dimana dia berada, mengembangkan cara-cara bertani yang
sesuai dengan keadaan alam setempat, mengenali dan mengembangkan sumber-sumber daya yang ada ditempat itu.
Hal yang tidak kalah pentingnya dalan penerapan pertanian organik adalah pemahaman tentang makhluk hidup dalam hubungannya
dengan lingkungan, sehingga mutlak dituntut kejelian dan ketelitian dalam setiap pengambilan keputusan serta tindakan di lahan usahataninya.
Sistem usahatani yang cocok untuk daerah tertentu belum tentu cocok untuk daerah lainnya, karena berkaitan dengan varietas yang
ditanam akan sangat dipengaruhi oleh jenis dan kesuburan tanah, suhu, kelembaban, serta intensitas cahaya matahari. Selain itu jenis
hama dan penyakit yang berkembang akan ditentukan oleh varietas yang ditanam, perlakuan budidaya dan pengaruh lingkungan
setempat, sehingga kita harus menyesuaikan keadaan setempat untuk menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan
tumbuhan, binatang, mikroorganisme, tanah, udara dan unsur-unsur yang lainnya.

4
IV. TEKNOLOGI PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK

Proses belajar dalam pelaksanaan kegiatan Penerapan Pertanian Organik diwujudkan dalam bentuk fasilitasi kegiatan Demonstrasi
Penerapan Pertanian Organik. Penerapan pertanian organik pada tahap awal dapat mengacu ke sistem Pengelolaan Tanaman Terpadu
(PTT) atau ke Sistem Rice Intensification (SRI). Dari sistem tersebut dapat dipilih dan diaplikasikan di tingkat lapangan sesuai dengan
keadaan/ kebutuhan di masing-masing lokasi, dengan gambaran sebagai berikut :
a) Dasar Pemikiran Sistem PTT
Sistem Padi Sawah Masa Lalu Sistem Padi Sawah Masa Kini

Lingkungan Radiasi Suhu Lingkungan Radiasi Suhu

Pengelolaan Pengelolaan

12 ton 11 ton
Biomas Biomas
tanaman tanaman
Bhn Org Pertumb.
Pertumb. Bhn Org tanaman
tanaman
Pupuk

>6 bln <4 bln

<1 bln Hara


1- 6 bln Hara Hara tdk CEPAT 0,8 kg tanaman
LAMBAT 0,4 kg Hara
Hara tdk tanaman tersedia N/hari
Hara N/hari tersedia
tersedia Serapan
tersedia
Serapan tanaman

Sistem Tanah Sistem Tanaman


Sistem Tanah Sistem Tanaman

Tahapan menuju padi organik Nasional


Waktu/Tahun

Perubahan Proporsi Luas Area Adopsi


Model
Supra
Insus
Model Model
Supra PTT
Insus
Model Model PTT-Organik/
Supra PTT Semi organik
Insus
Model PTT-Organik/ Padi-
PTT Semi organik Organik

5
b) Dasar Pemikiran SRI

PENGELOLAAN AGRO-EKOSISTEM
(PHT SECARA UTUH)
Teman
Lahan Demonstrasi Penerapan Pertanian Organik merupakan salah satu
petani
fasilitas dalam proses belajar yang sangat menentukan. Lahan yang
O2 digunakan adalah lahan milik petani/ kelompok tani peserta yang lokasi dan
tata letaknya sesuai persyaratan suatu petak demontrasi. Luas lahan
COLEOMBOLA Pemakan
tanaman demonstrasi ditentukan seluas ± 15 Ha yang dikelola bersama dengan
BO
nutrisi
perlakuan yang sama, yaitu sesuai ketentuan/syarat-syarat penerapan
chyromidae
N,P,K
pertanian organik. Pola pertanian organik/pertanian ramah lingkungan yang
BAHAN MICRO plankton
- cacing
ORGANIK ORGANISME
akan diterapkan disesuaikan dengan keadaan dan kesesuaian di masing-
- belut

silikat memperkuat masing lokasi, antara lain :


ketahanan tanaman
terhadap pemakan
tanaman

1. Pola SRI
a. Pengolahan Lahan dan Pemupukan
• Pengolahan tanah dilakukan sebayak 3 kali, yaitu pembajakan, penggaruan, dan perataan tanah (ngangler). Setelah pembajakan
selesai, pupuk organik ditaburkan secara merata dengan dosis rata-rata 7.000 kg/ha atau sesuai kebutuhan setempat berdasarkan
analisis tanah dan analisis pupuk. Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik yang bukan berasal dari kotoran ayam ras, tapi
merupakan pupuk organik yang dihasilkan dari fermentasi bahan organik (bokasi).
• Pada saat dilakukan penggaruan dan pertaan tanah (ngangler) keadaan air macak-macak harus dipertahankan (pintu pemasukan dan
pengeluaran air ditutup) agar tanah dan unsur hara tidak terbawa hanyut.
• Setelah selesai perataan tanah dibuat saluran air tengah dan saluran air pinggir di sekeliling pematang.
6
b. Pesemaian
Pesemaian dibuat sesuai dengan kebutuhan dan pola/sistem tanam yang akan digunakan yaitu :
- Pesemaian dilakukan pada baki/pipiti/bak kecil terbuat dari kayu
- Benih : 10 – 15 Kg/ha, benih bukan berasal dari hasil rekayasa genetika dan tidak diperlakukan dengan bahan kimia sintetik
ataupun zat pengatur tumbuh dan bahan lain yang mengandung additive.
- Media : campuran tanah dengan pupuk organik dengan perbandingan 1 : 1
- Umur pesemaian 8 – 10 HSS

c. Penanaman
Penanaman disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing lokasi, seperti :
- Umur benih : 8 – 10 HSS
- Jumlah tanam/lubang : 1 batang/tunas
- Jarak tanam disesuaikan dengan kebutuhan setempat (20 cm x 20 cm, 22,5 cm
x 22,5 cm, 25 cm x 25 cm)

Untuk memudahkan dalam pemeliharaan, menekan persaingan unsur hara dan


cahaya, dianjurkan menggunakan tanam sistem legowo 2 : 1, 3 : 1 atau 4 : 1.

d. Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila terdapat tanaman yang mati atau terkserang
OPT yang bersifat sistemik (virus) dengan menggunakan varietas dan umur yang
sama (tanaman cadangan).

e. Pemeliharaan
7
Pemeliharaan tanaman yang sangat penting diperhatikan adalah pengaturan air, penyiangan, dan pengendalian OPT , yaitu :
- Pemberian air harus diatur dengan menggunakan saluran pengairan keliling pematang dan saluaran bedengan sehingga keadaan
tanah tidak tergenang, tapi hanya lembab dengan tujuan menghemat air, memberikan kesempatan pada akar untuk mendapatkan
udara (O2) sehingga dapat berkembang lebih dalam, mencegah terjadinya keracunan besi (Fe), dan mencegah penimbunan asam
organik dan H2S yang dapat menghambat perkembangan akar.
- Penyiangan dilakukan sesuai kebutuhan agar tidak terjadi kompetisi anatara gulma dengan tanaman.
- Pengendalian OPT tidak menggunakan bahan kimia sintetik, tapi berupa pengaturan sistem budidaya, pestisida nabati, agens
hayati dan bahan alami lainnya.

f. Panen
Pengelolaan produk harus dipisah dari produk non organik dan tidak menggunakan bahan yang mengandung additive.

2. Pola PTT
a. Pengolahan Lahan dan Pemupukan
• Pengolahan tanah dilakukan sebayak 3 kali, yaitu pembajakan, penggaruan, dan perataan tanah (ngangler). Setelah pembajakan
selesai, pupuk organik ditaburkan secara merata dengan dosis rata-rata 2.500 – 3.000 kg/ha, serta pengembalian jerami setelah
melalui proses pengomposan atau ditambah pupuk NPK sesuai kebutuhan tanaman yang jumlahnya berdasarkan analisis tanah dan
analisis pupuk organik. Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik yang bukan berasal dari kotoran ayam ras, tapi merupakan
pupuk organik yang dihasilkan dari fermentasi bahan organik (bokasi).
• Pada saat dilakukan penggaruan dan pertaan tanah (ngangler) keadaan air macak-macak harus dipertahankan (pintu pemasukan dan
pengeluaran air ditutup) agar tanah dan unsur hara tidak terbawa hanyut.
• Setelah selesai perataan tanah dibuat saluran air tengah dan saluran air pinggir di sekeliling pematang.
b. Pesemaian
8
Pesemaian dibuat sesuai dengan kebutuhan, antara lain :
- Luas pesemaian : 4 % dari luas lahan pertanaman dengan cara membuat bedengan-bedengan dengan ukuran lebar 1,0-1,2 m,
panjang disesuaikan keadaan petakan, tinggi permukaan tanah 10-15 cm
- Lahan pesemaian dipupuk dengan pupuk organik 2 kg/m2
- Benih : 15 – 18 Kg/ha, benih bukan berasal dari hasil rekayasa genetika (transgenik) dan tidak diperlakukan dengan bahan kimia
sintetik ataupun zat pengatur tumbuh dan bahan lain yang mengandung additive.
- Umur pesemaian 15 – 20 HSS

c. Penanaman
Penanaman disesuaikan dengan kebutuhan dan pola/sistem tanam yang akan digunakan, yaitu :
- Umur benih : 15 – 20 HSS
- Jumlah tanam/lubang : 3 batang/tunas
- Jarak tanam disesuaikan dengan kebutuhan setempat (20 cm x 20 cm, 22,5 cm x 22,5 cm, 25 cm x 25 cm)

Untuk memudahkan dalam pemeliharaan, menekan persaingan unsur hara dan cahaya, dianjurkan menggunakan tanam sistem legowo 2
: 1, 3 : 1 atau 4 : 1.

d. Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila terdapat tanaman yang mati atau terkserang OPT yang bersifat sistemik (virus) dengan menggunakan
varietas dan umur yang sama (tanaman cadangan).

e. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman yang sangat penting diperhatikan adalah pengaturan air, penyiangan, dan pengendalian OPT :

9
- Pemberian air harus diatur dengan menggunakan pengairan berselang (intermitten) dengan tujuan menghemat air, memberikan
kesempatan pada akar untuk mendapatkan udara (O2) sehingga dapat berkembang lebih dalam, mencegah terjadinya keracunan besi
(Fe), dan mencegah penimbunan asam organik dan H2S yang dapat menghambat perkembangan akar.
- Penyiangan dilakukan sesuai kebutuhan agar tidak terjadi kompetisi anatara gulma dengan tanaman.
- Pengendalian OPT mengacu pada konsep PHT.

f. Panen
Pengelolaan produk harus dipisah dari produk non organik dan tidak menggunakan bahan yang mengandung additive.

V. SARANA UTAMA PENERAPAN PERTANIAN ORGANIK

5. 1 Pupuk Organik

5.1.1 Jenis Pupuk Organik dan Teknologi Pembuatan Pupuk Organik

Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat dari bahan-bahan alami yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dan dirombak dengan
bantuan microorganisme dekomposer seperti bakteri dan cendawan menjadi unsur-unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Proses
perombakan bahan organik menjadi pupuk organik itu dapat berlangsung secara alami atau buatan.
Penggunaan pupuk organik dalam proses budidaya tanaman sudah dilakukan sejak dulu oleh nenek moyang kita, baik secara sengaja
seperti pemanfaatan kotoran ternak/pupuk kandang atau secara tidak sengaja, yaitu adanya seresah yang tertimbun dan akhirnya menjadi
humus. Proses alami yang terjadi sebagai anugrah, terus dipelajari dan dilaksanakan pengembangan teknologi sehingga prosesnya menjadi
lebih cepat bila dibandingkan berjalan murni secara alami.
Bukan suatu teknologi yang tertinggal apabila kita meninjau kembali adanya komponen-komponen organik sehagai bahan bahan
10
yang dapat membantu memperbaiki ekosistem pertanian, justru merupakan suatu tantangan dan kewajiban bagi kita untuk
memperbaiki kerusakan-kerusakan yang telah terjadi. Adanya pengolahan dan pengembalian sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik
lainnya menjadi substrat penyusun tanah dengan cara pembuatan pupuk-pupuk organik, adalah langkah yang mulia dalam proses
kehidupan manusia.
Penambahan pupuk organik pada sistem pertanian organik adalah sangat penting karena dapat memperbaiki sifat fisik tanah (stuktur
dan tekstur tanah), sifat kimia tanah (sumber paling utama tersedianya hara tanah, karena unsur hara yang terkandung jenisnya lengkap),
juga dapat dapat memperbaiki sifat biologi tanah (media hidup mikroorganisme tanah yang bermanfaat).
Secara umum Peranan/Fungsi Pupuk Organik, adalah sebagai berikut :
• Meningkatkan kemampuan tanah menjerap air
• Meningkatkan kemampuan tanah menjerap nutrisi
• Memperbaiki aerasi tanah
• Sumber unsur hara tanaman yang lengkap
• Sumber energi dan media hidup mokroorganisme tanah
• Memperbaiki warna tanah

Pupuk organik dapat berupa pupuk cair dan pupuk padat. Pupuk cair biasanya berupa air saringan dari pupuk padat,
dimaksudkan agar penggunaannya lehih mudah tidak mengandung kotoran dan sekaligus untuk menjaga kelembaban tanah. Pupuk
padat dapat berupa pupuk hijau, pupuk seresah, kompos, maupun pupuk kandang. Kesemuanya adalah berpengaruh positif terhadap
tanah, jika pemberiannya setelah pupuk itu matang.

11
A. PUPUK ORGANIK PADAT (KERING)

1. Pupuk Hijau
Pupuk hijau merupakan pupuk yang bahannya berasal dari tanaman atau komponen tanaman yang dibenamkan ke dalam tanah.
Jenis tanaman yang banyak digunakan dan memang lebih baik kualitasnya dibanding tanaman lain adalah jenis/familia Leguminoceae.
Jenis tanaman tersebut mengandung unsur hara yang lehih baik, terutama unsur Nitrogen dibanding tanaman lain. Jenis tanaman
leguminosa mempunyai daya serap hara yang lebih besar dan mempunyai bintil akar. Di dalam metabolismenya bersimbiosis dengan bakteri
Rhizobium yang dapat mengikat unsur nitrogen dari udara.
Keuntungan yang didapat jika menggunakan pupuk hijau :
a. Mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah serta infiltrasi air.
b. Mencegah adanya erosi
c. Sangat bermanfaat pada daerah-daerah yang sulit dijangkau untuk suplai pupuk anorganik.
d. Manfaat lain spesies pupuk hijau dapat dijadikan sebagai pakan ternak, kayu bakar bahkan sebagai makanan manusia.

Syarat-syarat tanaman pupuk hijau yang akan di pilih adalah sebagai berikut :
• Menghasilkan banyak biomas.
• Dapat menekan dan mengendalikan gulma.
• Prosentase produksi daun lebih besar dari pada bagian yang berkayu.
• Mempunyai kemampuan kemampuan mengikat nitrogennya tinggi dan melepaskan nutrisi pada tanah.
• Berumur pendek, cepat tumbuh, mempunyai kemampuan megakumulasi hara.
Tanaman yang berfungsi sebagai pupuk hijau, selain tanaman kacang-kacangan/polong-polongan, jenis rumput-rumputan (
rumput gajah ), dan Azolla juga baik sebagai bahan pupuk hijau. Tanaman pupuk hijau yang cocok ditanam pada lahan pematang tanaman
padi maupun lahan-lahan yang kosong, sedangkan Azolla adalah merupakan jenis tanaman pakuan air yang hidup di perairan. Seperti
12
halnya tanaman leguminosae, Azolla mampu menambat N2 udara karena berasosiasi dengan sianobakteri (Anabaena azollae) yang hidup di
dalam rongga daun Azolla. Menurut Khan (1983), kemampuan Azolla mengikat N2 dari udara berkisar antara 400 – 500 kg N/ha/tahun.
Azolla berkembang Sangat cepat dan dapat menghasilkan biomassa sebanyak 10-15 ton/ha dengan C/N ratio 12 – 18, sehingga dalam
waktu satu minggu Azolla telah terdekomposisi dengan sempurna.
Pupuk hijau (leguminosa) sumber N Cara membuat pupuk hijau :
Umur Biomas yang N yang
dipanen dihasilkan dihasilkan
Spesies tanaman (hari) (t/ha) (kg/ha) Gali tanah sebagai tempat bakal pupuk yang ukurannya disesuaikan dengan
Sesbania aculeata
S. Cannabina
56
55
2,84
5,30
76
147
volume bahan yang akan dipendam. Pupuk hijau dibiarkan di dalam tanah kurang lebih
S. rostrata 45 3,00 88
S. aureus 70 4,60 100 empat minggu atau menunggu pupuk benar-benar sudah siap dipakai. Untuk
Crotalaria juncea 56 3,88 120
Vigna sinensis 56 1,37 39
Phaseolus aureus 56 1,34 39 mempercepat proses pembusukan sebaiknya bahan dicincang kecil-kecil.
Indigofera tinctoria 56 1,71 54
S. cannabina 65 7,30 165
Indigofera tinctonia 165 6,42 182

Sumber : BPTP Lembang, 2007

2. Pupuk Kompos.
Pupuk kompos merupakan pupuk yang bahannya berasal dari pemanfaatan limbah atau komponen tanaman yang sudah tidak
terpakai, misalnya jerami kering, bonggot jerami, rumput tebasan, tongkol jagung, dan lainlain
Pada teknis pembuatan pupuk dari serasah memerlukan bio activator untuk mengoptimalkan peran mikroorganisme
decomposer agar proses perombakan berjalan cepat, kotoran ternak dan hijauan sebagai bahan tambahan. Selain itu kotoran ternak
setelah terinkubasi merupakan bahan yang mengandung banyak unsur hara.
Sumber pupuk organik yang berasal dari jerami padi sangat baik untuk dikelola dan dimanfaatkan di lahan sawah, sehingga tidak
berlebihan apabila ada petani yang membakar jerami di sawahnya merupakan tindakan yang sangat keliru karena akan terjadi proses
pentandusan tanah secara perlahan. Kandungan hara yang terdapat pada jerami, antara lain seperti pada tabel di bawah ini.

13
SUMBER DAN SUSUNAN UNSUR HARA BAHAN ORGANIK DARI JERAMI

Unsur Hara Jerami (%) Gabah (%)

N
O,64 1,43
P
0,05 0,18
K
2,03 0,21

Mg 0,14 0,09

Ca 0,29 0,05

Zn 0,002 0,001

Si 8,8 1,1

Langkah-langkah dalam proses pembuatan pupuk organik yang bahan baku utamanya dari serasah dimaulai dari perbanyakan bio
activator, selanjutnya beru pelaksanaan pembuatan pupuk organic kompos dari bahan serasah tersebut dengan langkah-langkah
sebagai berikut :
1) Proses perbanyakan mikroorganisme pengurai/ perombak bahan organik

a. Bahan yang diperlukan :


• 1 kg dedak halus
• 2 ons terasi
• 2,5 ons gula
• 2 liter nira atau 2 liter air kelapa
• liter air bersih

14
b. Alat yang diperlukan
• Ember plastik ukuran 10 liter
• Kain kassa/saringan
• ½ m Plastik
c. Cara Perbanyakan
• Nira/air kelapa diangin-anginkan ditempat teduh selama 3 hari
• Terasi dilarutkan dengan air panas sebanyak 1 liter
• Gula dan dedak dicampur , masukkan 2 liter air panas kemudian diaduk
• Campurkan no1 dan no 2, biarkan sampai dingin
• Masukkan air nira/air kelapa pada campuran no 1 dan no 2 yang telah dingin kemudian diaduk sampai rata
• Tutup rapat dengan plastik dan simpan di tempat teduh, setiap 2 hari diaduk kemudian tutup yang rapat
• Setelah 5-7 hari proses sudah selesai , dengan tanda campuran berbusa dan bau asam
• Saring dan simpan pada zerigen yang bersih
2) Proses pembuatan pupuk organik
a. Bahan yang diperlukan :
• 60 % Jerami
• 20 % kotoran khewan
• 10 % serbuk gergaji/sekam
• 10 % bahan lain yang tersedia di tempat ( Daun Kipait, Kirinyuh, dll
• 1 kg dedak halus untuk setiap M kubik bahan
• Air

15
• Tanah
b. Alat yang diperlukan
• Ember plastik
• Golok
• Cangkul garpu
c. Cara Pembuatan :
• Buatlah pembatas dari kayu atau batang pisang denga ukuran : tinggi 1 m, panjang dan lebar disesuaikan dengan kebutuhan
• Buatlah larutan mikroorganisme hasil perbanyakan dengan perbandingan 250 cc (1 Gelas ) untuk 20 liter air
• Potong- potong jerami dengan ukuran panjang 10-20 cm
• Campurkan semua bahan menjadi satu sambil disiram sehingga basahnya merata
• Tumpuklah bahan tadi pada tempat yang disediakan secara bertahap dan setiap tahap tingginya 25 cm
• Setiap tahapan ditaburi dedak halus sebanyak ¼ kg, kemudian disemprot/disirami larutan mikroorganisme sebanyak 5 liter.
• Lakukan tahapan tadi sampai mencapai 4 tahap ( tinggi 1 m )
• Tahapan terakhir ditutup dengan tanah setebal 3–5 cm.
• Akan lebih baik apabila diberi naungan.
• Hal yang perlu diperhatikan agar proses kompos berjalan baik adalah kelembaban diupayakan tetap 60 % dan suhu 30 derajat
Celcius, apabila kering dan panas segera disiram.

3. Pupuk Kandang
Pada penerapan pertanian organik, penggunaan pupuk kandang merupakan manifestasi dari penggabungan peternakan dan
pertanian yang sekaligus merupakan persyaratan mutlak atau dasar untuk konsep pertanian organik. Tingkat besarnya peternakan atau

16
prosentase antara peternakan dan pertanian tidakah terikat. Hanya saja pada areal pertanian organik yang jauh dari keberadaan pupuk
kandang, mestinya harus diperhitungkan yang lebih matang lagi harus seberapa banyak dan jenis ternak apa yang harus dipelihara. Selain
hal tersebut ada juga alternatif lain yaitu menggunakan jenis pupuk-pupuk organik yang lain.
Pupuk kandang dapat diperoleh dari ternak sapi, kerbau, kambing, babi, ayam dan binatang lainnya. Pupuk kandang mempunyai
beberapa sifat-sifat yang lebih baik dibanding pupuk organik lainnya, antara lain :
a. Pupuk kandang merupakan humus hasil proses pemencahan sisa-sisa tanaman dan hewan, terdiri dari zat organik yang sedang
mengalami pelapukan. Humus yang terbentuk dapat memperbaiki struktur tanah sehingga tanah mudah diolah dan mengandung
oksigen. Hasil percobaan menunjukan bahwa penambahan pupuk kandang yang meningkat akan meningkatkan kesuburan dan
produksi pertanian. selain itu tanah akan lebih banyak menahan air dan pada fungsinya unsur hara yang berada disitu akan terlarut
dan mudah diserap oleh bulu-bulu akar.
b. Pupuk kandang sebagai sumber dari unsur hara makro maupun mikro yang dalam keadaan seimbang Unsur Makro seperti N, P, K
Ca dan lain-lain sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur mikro yang tidak terdapat pada pupuk lain,
tersedia dalam pupuk kandang misalnya Mg, S, Mn, Co, Br dan lain-lain.
c. Pupuk kandang banyak mengandung mikroorganisme yang berfungsi sebagai penghancur sampah-sampah sehinga menjadi humus
dalam tanah. Mikroorganisme juga dapat mensintesa senyawa-senyawa tertentu yang sangat berguna bagi tanaman, sehingga pupuk
kandang merupakan suatu pupuk yang sangat diperlukan bagi tanah dan tanaman.

Prosentase kandungan unsur yang berada dalam pupuk kandang bermacam-macam, karena dipengaruhi oleh jenis ternak, jenis
makanan ternak, dan fungsi ternak sendiri (sebagai pekerja, pedaging, perah dan lain-lain), sehingga hasil penelitian para
ahlipun kadang-kadang berbeda-beda. Kandungan hara pupuk kandang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

17
Tanaman NH - N Org. N Tot .N P K

Gamal 169,0 12,0 181,0 1,8 218,5

Lamtorogung 97,5 35,5 131,0 11,1 234,0


Ppk kandang 26,7 4,9 31,6 2,6 158,5

Sumber : Saifudin Sarief.

Sedangkan kandungan unsur hara dari urine ternak yang adalah sebagai berikut :

Jenis ternak % air BO N% PZ05 K2 0 CaO %


Sapi 92 4,8 1,21 0,01 1,35 1,35
Kerbau 81 - 0,6 sedikit 61 sedikit
Kambing 86,3 9,3 1,47 0,05 1,96 0,16
Babi 96,6 1,5 0,38 0,10 0,99 0,20
Kuda 89,6, 8,0 1,29 0,01 1,39 0,45
Sumber : BSB

B. PUPUK ORGANIK CAIR


Pupuk organik bukan hanya berbentuk padat akan tetapi dapat dibuat juga dalam bentuk pupuk cair seperti pupuk anorganik.
Pupuk cair sepertinya lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman karena unsure-unsur yang terkandung di dalamnya sudah terurai dan tidak
dalam jumtah yang terlalu banyak. sehingga manfaatnya lebih cepat terasa.
Bahan baku pupuk organik cair dapat berasal dari pupuk hijau, kompos, maupun pupuk kandang, yaitu dengan perlakuan
18
perendaman. Setelah beberapa minggu melalui beberapa perlakukan, air rendaman sudah dapat digunakan sebagai pupuk cair.
Penggunaan pupuk cair dapat memudahkan dan menghemat tenaga, karena :
- Pengerjaan pemupukan dengan pupuk cair akan lebih cepat dibanding dengan pupuk padat.
- Aplikasi pupuk cair dapat dicampur dengan pestisida organik (pestisida nabati).
Jenis tanaman pupuk hijau yang sering digunakan untuk pembuatan pupuk cair misalnya :
- Daun johar (Cassia sianeu)
- Gamal (Gliricidia septum)
- Lamtorogung (Leucaena leucocsphala)

Lebih spesifik lagi, tanaman yang biasa digunakan adalah jenis tanaman Leguminoceae. Bahkan dari beberapa percobaan hasil yang
didapat bahwa pupuk cair yang terbuat dari pupuk hijau lebih baik dari pupuk cair yang terbuat dart pupuk kandang, sebagaimana
ditunjukkan pada tabel berikut
Jenis ternak % air BO N% P205 K20 CaO C/N ratio

Kambing 64 31 0,7 0,4 0,25 0,4 20 - 25

Ayam 57 29 1,5 1,3 0,8 4,0 9- 11

Babi 78 17 0,5 0,4 0,4 0,07 19-20

Kuda 73 22 0,5 0,25 0,3 0,2 24

19
C. PERLAKUAN DAN PENYIMPANAN PUPUK ORGANIK

Ada beberapa hal yang perlu diingat apabila pupuk organik sudah jadi dan belum sempat digunakan, yaitu adanya defisiensi unsur
hara jika dibiarkan tanpa perawatan. Hilangnya unsur hara dapat terjadi karena tercuci air hujan atau menguap, sehingga perlu adanya
tempat penyimpanan. Penyimpanan pupuk juga mempunyai manfaat antara lain:
• untuk memudahkan perawatan dan penyebaran
• untuk meningkatkan pengaruh yang positif dari pupuk
• untuk menguraikan unsur-unsur yang terkandung di dalammnya.
Pada perawatan dan penyimanan yang perlu sekali diperhatikan adalah pupuk harus tetap kering angin, tidak terkena sinar matahari
langsung, dan air hujan.

D. PENGGUNAAN DAN APLIKASI


Takaran penggunaan pupuk organik dari masing-masing jenis pupuk sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan unsur hara
tanaman yang akan dibudidayakan. Meskipun banyak anggapan bahwa pemberian pupuk organik yang berlebihan akan dapat meningkatkan
hasil, akan tetapi jika penambahan yang terus menerus dan pada dosis yang terlalu tinggi dikhawatirkan akan terjadi penimbunan bahan
organik dan dapat menurunkan tingkat keasaman tanah. Penambahan pupuk organik dan pengapuran pada lahan tanah alkalis adalah
sangat dianjurkan.

5. 2 Agens Hayati dan Pestisida Nabati

Dalam suatu proses produksi pertanian, seringkali mendapat tantangan yang harus dihadapi, yaitu gangguan hama dan penyakit
(OPT). Gangguan tersebut jika tidak dilaksanakan pengendalian akan menimbulkan kerugian, bahkan dapat menggagalkan panen sama

20
sekali sehingga diperlukan langkah-langkah atau upaya-upaya pengendaliannya. Pengendalian hama dan penyakit yang tidak
bijaksana, dapat menimbulkan masalah baru, diantaranya terjadinya resistensi/ kekebalan terhadap insecticida, musnahmya musuh
alami, dan tercemarnya lingkungan dan produk pertanian. Agar terhindar dari masalah tersebut, maka pengendalian hama dan
penyakit mengacu ke prinsip/sitem pengendalian hama terpadu (PHT).
Untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit agar tidak terjadi eksplosi, maka perlu didukung dengan tambahan pengetahuan
dan informasi tentang berbagai jenis hama yang menyerang tanaman pangan (ekobiologi, siklus hidup, gejala serangan dan ambang
ekonomi) serta teknik pengendaliannya secara lengkap.
Kebijakan Perlindungan Tanaman Perlindungan tanaman Bertujuan mengupayakan terjaminnya produk pertanian secara kontinyu
dengan kuantitas sesuai dengan harapan dan kualitas yang baik dan berdayasaing tinggi dalam rangka mendukung sistem dan usaha
agribisnis yang lestari. Landasan kebijakan untuk menyelenggarakan perlindungan tanaman adalah Undang-Undang No. 12 Tahun 1992
tentang Sistem Budidaya Tanaman, Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman dan Keputusan Menteri
Pertanian No.887/Kpts/OT210/97 tentang Pedoman Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan. Dalam pelaksanaannya
perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu pengendalian populasi hama dengan
memanfaatkan semua teknik yang kompatibel dalam suatu sistem yang harmonis untuk menurunkan dan mempertahankan populasi di
bawah tingkat yang tidak menyebabkan kerusakan secara ekonomi. Berdasarkan Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah
Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom,
Kewenangan Daerah Otonom adalah mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat setempat. Kewenangan Pemerintah Pusat dibidang perlindungan tanaman adalah penetapan norma dan standar teknis
pengendalian, serta menetapkan kebijakan untuk mendukung pembangunan secara makro. Sedangkan pemerintah propinsi mempunyai
kewenangan menangani serangan OPT lintas kabupatan/kota, pemantauan, peramalan dan pengendalian serta penanggulangan eksplosi.
Secara tegas dalam PP No. 25 tahun 2000 disebutkan bahwa wewenang pemerintah kabupaten/kota dalam pengendalian OPT meliputi
pengamatan OPT dan faktor yang mempengaruhinya, pengendalian dan eradikasi, pengawasan pestisida serta melaksanakan bimbingan

21
terhadap petani/masyarakat tani.
Sesuai dengan kebijakan perlindungan tanaman dari serangan hama dan penyakit, salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan
pengedalian hama penyakit dan sesuai dengan kriteria pertanian organik alternatifnya adalah penggunaan agens hayati dan pestisida
nabati.

5.2.1 Agens Hayati


Dengan ditemukannya dampak negatif dari penggunaan pestisida tersebut, telah mendorong meningkatkan pentingnya penelitian
kearah pengendalian non-kimiawi. Salah satu pengendalian non-kimiawi yang dampak negatifnya kecil terhadap lingkungan adalah dengan
pengendalian hayati

Potensi musuh alami akhir- akhir ini sudah banyak dikembangkan, artinya pengendalian OPT sudah banyak memanfaatkan peran
musuh alami, seperti predator, parasitoid, patogen serangga dan agens antagonis.
Keberhasilan pengembangan musuh alami, khususnya parasitoid, agens antagonis dan patogen serangga, sangat tergantung pada
keterampilan dan kesungguhan sumber daya petani dengan dukungan peralatan yang memadai.

A. Pengertian Pengendalian Hayati dan Agens Hayati

1. Pengertian Pengendalian Hayati

Pengendalian hayati adalah teknik pengendalian OPT dengan melibatkan peranan musuh alami dari OPT tersebut.

2. Pengertian Agens Hayati

Agens Hayati adalah suatu organisme yang dalam kelangsungan hidupnya memangsa/menumpang pada tubuh organisme pengganggu
tumbuhan (OPT).
22
Secara umum musuh alami dapat digolongkan sebagai berikut :
 Serangga parasitoid
 Serangga predator
 Patogen serangga hama
 Hewan vertebrata pemangsa hama
 Agens antagonis patogen penyebab penyakit

1) Serangga Parasitoid
Parasitoid Adalah serangga yang memarasit atau hidup dan berkembang dengan menumpang pada serangga lain (disebut inang).
Dalam satu siklus hidupnya, biasanya yang berfungsi sebagai parasitoid adalah pada fase pradewasa (larva) sedangkan fase dewasanya
hidup bebas. Contoh Trichogramma japonicum memarasit telur hama penggerek polong kedelai dan Penggerek Batang Padi.

2) Serangga Predator
Predator Adalah organisme yang memakan hama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Contoh laba-laba memangsa wereng
batang coklat.

3) Patogen Serangga Hama


Patogen Merupakan mikroorganisme yang menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit pada OPT. Contoh Cendawan
Beauveria bassiana yang menyerang Walangsangit, WBC, dan Belalang, sedangkan Metarhizium anisopliae dapat menyerang kepinding
tanah dan kepik hijau

4) Hewan Vertebrata Pemangsa Hama

23
Vertebrata pemangsa hama adalah organisme yang tubuhnya memiliki rangka sempurna (bertulang belakang) yang hidupnya
memangsa atau memakan hama, contoh : burung hantu pemangsa tikus.
5) Agens Antagonis Penyebab Penyakit Tanaman
Agens Antagonis merupakan mikroorganisme yang menyebabkan kematian/ kerusakan/ terhambatnya pertumbuhan
mikroorganisme penyebab penyakit pada tumbuhan. Contoh Cendawan Trichoderma sp. agens antagonis patogen penyebab penyakit
Phytophthora infestans pada kentang/tomat dan layu Fusarium pada cabe/tomat/kentang.
B. Kelebihan dan Kekurangan Agens Hayati

1) Kelebihan/kebaikan Agens Hayati, antara lain :

• Selektifitasnya tinggi dan tidak dapat menimbulkan ledakan hama baru dan resurgensi hama.
• Faktor pengendali (agens) yang digunakan tersedia di lapang.
• Agens hayati (parasitoid dan predator) dapat mencari sendiri inang atau mangsanya.
• Agens hayati (parasitoid dan predator, patogen) dapat berkembang biak dan menyebar.
• Tidak menimbulkan resistensi terhadap serangga inang/mangsa ataupun kalau terjadi, sangat lambat.
• Pengendalian ini dapat berjalan dengan sendirinya karena sifat agens hayati tersebut.
• Tidak ada pengaruh samping yang buruk seperti pada penggunaan pestisida
• Pengendalian hayati relatif murah.

2) Kekurangan/kelemahan Agens Hayati, antara lain :


• Pengendalian terhadap OPT berjalan lambat.
• Hasilnya tidak dapat diramalkan
• Sukar untuk pengembangan dan penggunaannya.

24
• Dalam pelaksanaannya pengendalian hayati memerlukan pengawasan pakar dalam bidangnya.
• Dalam mengembangkan pengendalian hayati harus selalu dikawal/dimonitor.
C. Teknik Perbanyakan Agens Hayati

1) Perbanyakan Agens Hayati Parasitoid Telur (Trichogramma sp.)

Langkah-langkah perbanyakan :

1. Eksplorasi
Eksplorasi adalah kegiatan pengambilan populasi awal di alam, baik bagi inang asli yaitu parasitoid telur Trichogrammatidae
maupun inang pengganti yaitu Corcyra cephalonica. Adapun teknik eksplorasi adalah sebagai berikut :

a) Eksplorasi Corcyra cephalonica


Alat: tabung reaksi kecil, tabung silinder, nampan, dan kuas.
Teknik eksplorasi:
• Apabila kita menyimpan bahan makanan seperti beras, jagung, dan kacang-kacangan dalam waktu yang lama, maka kita akan
menemukan gumpalan-gumpalan kecil yang diduga berisi larva Corcyra sp.
• Kumpulkan gumpalan tersebut pada stoples plastik berventilasi kasa.
• Setelah ± 20-30 hari akan muncul imago, kita identifikasi. Apabila dari hasil identifikasi adalah Corcyra sp. maka imago tersebut
kita ambil dengan alat kemudian dimasukkan ke dalam tabung silinder. Satu hari kemudian imago telah menghasilkan telur yang
diletakkan diatas permukaan kasa silinder.
• Telur dibersihkan dengan kuas dan siap digunakan untuk perbanyakan

b) Eksplorasi Trichogrammatidae.
Alat: Tabung reaksi, kain penutup, dan karet gelang.

25
Teknik eksplorasi:
• Kumpulkan telur penggerek batang padi yang biasanya diletakkan pada ujung daun bagian bawah, kemudian masukkan ke dalam
tabung reaksi dan tutup dengan kain penutup.
• Amati dan apabila ditemukan serangga parasitoid trichogrammatidae, masukkan ke dalamnya, pias yang telah berisi telur Corcyra
sp.
• Setelah 3-5 hari kemudian, apabila pias yang berisi telur Corcyra sp berubah warna menjadi hitam, pindahkan pias tersebut ke
dalam tabung reaksi yang baru, dan dalam hal ini kita telah berhasil mendapatkan starter Trichogrammatidae yang akan kita
gunakan untuk perbanyakan

2. Identifikasi
Identifikasi merupakan salah satu tahapan yang penting dalam pemanfaatan agens hayati. Identifikasi parasitoid dilakukan dengan
menggunakan beberapa karakter morfologis (antena, sayap depan, dan lain-lain).
Corcyra cephalonica (Lepidoptera, Pyralidae)
Ciri: disebut juga ngengat beras (rice moth), banyak ditemukan pada bahan makanan seperti padi, beras, jagung, kacang tanah.berkembang
pada kelembaban rendah (< 20 % RH). Serangga dewasa berwarna coklat dengan panjang 12-15 mm.Imago betina dicirikan dari labial yang
panjang dan menjorok ke depan, imago jantan labialnya pendek.

3. Perbanyakan
Adapun teknik perbanyakan parasitoid telur Trichogrammatidae adalah sebagai berikut:
• Media tepung jagung dan dedak di oven hingga mencapai suhu 150°C, hal ini dimaksudkan untuk mengendalikan hama gudang lain.

26
• Media dicampur dengan perbandingan 2:1, selanjutnya media ditaburkan secara merata ke dalam kotak pembiakan (garis tengah 22
cm, tinggi 12 cm) dengan ketinggian 3 cm dan telur Corcyra sp. ±0,06 gr ditaburkan pada permukaan media.
• 40-50 hari kemudian imago Corcyra sp. akan muncul. Imago dipindahkan ke dalam tabung silinder berdiameter 15cm, tinggi 20 cm
dengan bagian atas dan bawah terbuat dari kawat kasa.
• Satu hari setelah pengambilan, imago Corcyra sp. akan meletakkan telurnya pada kawat kasa. Pengumpulan telur tersebut dilakukan
dengan menggunakan kuas dengan cara menyikat dan kemudian dibersihkan.
• Telur yang bersih disinar dengan lampu Ultra Violet selama 20 menit agar embrio tidak tumbuh dan berkembang
• Telur tersebut direkatkan dengan gum arab cair pada kertas 2x8 cm pada bagian 2x2 cm
• Telur tersebut dimasukkan ke dalam tabung reaksi ke dalam tabung reaksi yang telah berisi imago parasitoid Trichogrammatidae
• Telur yang terparasit pada hari keempat setelah investasi akan berwarna dan telur siap untuk diaplikasikan.

Parasitoid Trichogramma sp. Pias telur Corcyra yang terparasit Trichogramma sp


hasil perbanyakan

27
Pias Parasitoid Trichogramma sp siap diaplikasikan
2) Perbanyakan Agens Hayati (Patogen Serangga Hama dan Agens Antagonis)

Langkah-langkah perbanyakan :

Beras Jagung (1 kg) Masukkan kedalam


dicuci bersih kantong plastik sebanyak
250 gr

Dikukus didandang
selama 40 menit
Sterilisasi dengan autoclave suhu
121º C tekanan 1 ATM selama 20
Diangkat kemudian + air menit atau dengan dandang selama
mendidih + 70 gr gula + 3 hari, dengan lama pengukuran
7,5 cc cuka/kg jagung. masing-masing 1 jam/hari atau
Diaduk hingga rata. dikukus

Dikukus kembali selama Dinginkan dan siap dipergunakan


15 menit untuk perbanyakan jamur

Angkat dan dinginkan

Metode ini telah dikembangkan di Laboratorium PPOPT Subang

D. Teknik Aplikasi Agens Hayati

1) Parasitoid Telur Penggerek Batang Padi


Pelepasan parasitoid telur Trichogrammatidae pada umumnya dilakukan dengan sistem pelepasan satu sumber, yaitu melepas
parasitoid pada tempat-tempat tertentu dengan harapan parasitoid akan bergerak sendiri mencari inangnya. Adapun teknik aplikasi adalah
sebagai berikut :
28
• Pias yang sudah berisi telur Trichogramma sp. diselipkan pada ajir yang telah dibelah dan dilindungi dengan gelas plastik
• Tancapkan secara merata sedikit diatas permukaan tanaman, dan untuk menghindari gangguan binatang lain diolesi vaselin
• Jarak antar pias ± 25-30 meter (sesuai dengan kondisi lahan)
• Dosis pelepasan ± 100 pias/ha (untuk tanaman padi). Pelepasan dilaksanakan 8 kali. Pelepasan I : 18 pias, Pelepasan II s/d VIII masing-
masing 12 pias
• Waktu aplikasi, waktu aplikasi parasitoid harus memperhitungkan ketersediaan inang di pertanaman, yaitu jika di pertanaman telah
ditemukan telur serangga hama sasaran. Pada tanaman padi dan jagung pelepasan diawali pada awal tanam, sedangkan pada tanaman
kedelai pelepasan dilaksanakan pada saat pembungaan.

2) Patogen Serangga

Aplikasi dilakukan pada sore hari (jam 15.30 WIB-selesai). Adapun cara aplikasinya adalah:
• 200gr inokulum padat dilarutkan dalam 1 liter air bersih dan diremas-remas hingga tercampur rata dan saring dengan penyaring
• tambahkan 100gr gula pasir
• tambahkan air sebanyak 19 liter, aduk sampai rata dan masukkan ke dalam tangki semprot yang telah dicuci bersih.
• Kebutuhan untuk 1 ha adalah kurang lebih 6.000 gram (30 bungkus @ 200 gram)
• Aplikasi dilakukan pada sore hari (jam 15.30 WIB-selesai).
• Adapun cara aplikasinya adalah:
 200gr inokulum padat dilarutkan dalam 1 liter air bersih dan diremas-remas hingga tercampur rata dan saring dengan penyaring
 tambahkan 100gr gula pasir
 tambahkan air sebanyak 19 liter, aduk sampai rata dan masukkan ke dalam tangki semprot yang telah dicuci bersih.

29
5.2.2 Pestisida Nabati
Di bawah ini ada beberapa contoh tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati :

1. Jenu/tuba ( Deris eliptica )


Masyarakat kita banyak yang menggunakan tanaman jenu untuk meracuni ikan dikali (mancari ikan). Jika digunakan sebagai
pestisida, jenu dapat untuk menanggulangi berbagai jenis serangga.
Caranya yaitu akar dan kulit kayu ditumbuk tambahkan air dan disaring. Takaran aplikasi 6 sendok makan ekstrak untukdicampur
dengan 3 liter air. Perlakuan dengan disemprotkan.

2. Tembakau ( Nicotiana tabacum )


Jenis tanaan ini dapat digunakan untuk menanggulangi berbagai jenis serangga.
Cara pembuatan ekstranya yaitu dengan merendam batang dan tulang daunnya dalam air selama 3-4 hari atau dengan mendidihkan
sebentar, setelah dingin baru disaring.

3. Tembelekan ( Lamtana camara )


Abu hasil pembakaran semua komponen tanaman ini dapat digunakan untuk menanggulangi berbagai jenis kumbang dan
penggerek batang.

30