Anda di halaman 1dari 11

Mini Sieve Shaker

( Sanchia Janita Khodijah, Hj. Her Gumiwang Ariswati,ST,MT, Tribowo Indrato, ST,MT )
Jurusan Teknik Elektromedik Politeknik Kesehatan Surabaya
Jl. Pucang Jajar Timur No. 10 Surabaya


ABSTRAK
Mini Sieve shaker adalah sebuah Ayakan terbuat dari kawat, silk, atau plastic, benang, logam,
pelat logam berlubang. Logam yang biasa digunakan adalah baja dan baja tahan karat.ukuran ayakan
dinyatakan dengan mesh yaitu banyaknya lubang bukan ayakan dalam setiap in persegi . Pada
kesempatan ini penulis merancang sebuah alat yaitu Mini Sieve Shaker yang akan membantu para
peracik obat (farmasi) lebih mudah dalam melakukan produksi obat. Penelitian dan pembuatan modul ini
dengan menggunakan jenis penelitan pre-eksperimental dengan design penelitian one group post tes
design penelitian ini dilakukan karena tidak terdapat kelompok kontrol maupun kelompok
pembandingnya.
Pada kali ini penulis membuat settingan rpm dan waktu. Dimana settingan rpm 60 dan 80 rpm,
sedangkan untuk settingan waktu yaitu 0 30 menit. Pada modul mini sieve shaker ini penulis memakai
3 tingkatan mesh filterisasi sieving dengan ukuran no ayakan 8 <2,36 mm> , no 40 <425 m >, dan no 80
<180 m>. sedangkan prinsip kerja dari alat ini yaitu saat alat dalam keadaan On maka user perlu
menyetting waktu dan rpm lalu tekan enter. Maka motor akan aktif menggerakan filterisasi sieveng
secara perlahan. Tunggu hingga counter down dan buzzer berbunyi dimana menandakan alat telah
selesai mengayak obat.
===============================================================================
Kata kunci : Atmega8535, I RF530N, LM324 Kecepatan Rpm, Multiplexer 4051 dan Timer


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pengayakan sediaan farmasi dilakukan
untuk menentukan ukuran butiran tertentu sesuai
dengan yang diinginkan. Proses pengayakan
merupakan proses penting dalam menentukan
ukuran partikel yang akan digunakan dalam
membuat suatu sediaan farmasi sebab ukuran
partikel mempunyai peranan besar dalam
pembuatan sediaan obat dan juga terhadap efek
fisiologisnya. Banyak metode yang tersedia untuk
menentukan ukuran partikel. Yang diutarakan
disini hanyalah metode yang digunakan secara luas
dalam praktek di bidang farmasi serta metode yang
merupakan ciri dari suatu prinsip khusus. Pada
bagian ini akan dibicarakan metode
pengukuran pengayakan. pengayakan dilakukan
sebelum menjadi obat, karena tujuan pengayakan
itu sendiri antara lain untuk mendapatkan ukuran
partikel yang seragam. Teknik pengayakan dibagi
menjadi dua yaitu pengayakan secara manual dan
mekanik.
Teknik pengayakan manual dilakukan
tanpa menggunakan mesin sedangkan teknik
pengayakan mekanik dilakukan dengan bantuan
mesin. Sebuah ayakan terdiri dari suatu panci
dengan dasar kawat kasar dengan lubang lubang
segi empat. Pada pembuatan modul ini dengan
mengangkat judul mengenai sieve shaker namun di
sini merancang sieve shaker dalam ukuran mini, di
karenakan beban pengayakan sieve shaker kg.
Pada alat sieve shaker memakai pergerakan
mekanik secara vertikal , dimana sistem pergerakan
motor lebih tampak getaran. Sehingga kali ini
penulis ingin merancang alat yang berjudul Mini
Sieve Shaker
Batasan Masalah
Dalam pembuatan modul Mini Sieve Shaker,
penulis membatasi masalah yang akan dibahas,
meliputi :
1.3.1 Pengunaan sistem vibrate ( getaran) pada
sieve shaker.
1.3.2 Pada perancangan modul ini disertai LCD
yang menampilkan settingan waktu dan kecepatan.
1.3.3 Terdapat settingan kecepatan 60 dan 80 rpm
1.3.4 Terdapat settingan waktu antara 0
30 menit.
1.3.5 Terdapat susunan sieve stack/ ayakan
seri 4 susunan, dimana 3 susunan
tempat filter ayakan dan 1 wadah
penampung
1.3.6 Berat pengayakan kg yang akan
di ayak.




Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka
penulis membuat rumusan masalah yaitu:
Dapatkah dirancang alat mini sieve shaker?

Tujuan
a. Tujuan Umum
Dibuatnya alat mini sieve shaker dalam bentuk
bubuk dengan ukuran mini
b. Tujuan Khusus
1. Membuat rangkaian power supply.
2.Merancang rangkaian IC mikrokontroller
ATMega8535.
3. Merancang rangkaian driver motor.
4. Membuat rangkaian LCD karakter.
5. Membuat dan merancang filterisasi sieving
dengan ukuran no ayakan 8 <2,36 mm> , no 40
< 425 m >, dan no 80 <180 m>
6. Menguji hasil perancangan alat.

MANFAAT
1. Manfaat Teoritis
Meningkatkan ilmu pengetahuan bagi
mahasiswa teknik elektromedik di bidang
alat laboratorium khususnya mini sieve
shaker

2. Manfaat Praktis
Dengan adanya alat ini diharapkan
dapat mempermudah tenaga farmasi dalam
pembuatan obat pada bidang farmasi.

TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Sieve shaker
Sieve shaker adalah sebuah Ayakan terbuat
dari kawat, silk, atau plastic, benang, logam, pelat
logam berlubang. Logam yang biasa digunakan
adalah baja dan baja tahan karat.ukuran ayakan
dinyatakan dengan mesh yaitu banyaknya lubang
bukan ayakan dalam setiap in persegi, misalnya
disebut ayakan 40 mesh, berarti terdapat 40 lubang
1 in persegi. Kisaran ukuran mesh standart adalah
mulai dari 4mesh-400mesh. Pemisahan ukuran
dalam kisaran 4mesh dan 48mesh disebut ayakan
halus (fine screening) sedang yang lebih kecil lagi
disebut ultrafine. Lubang bukan ayakan adalah
persegi panjang dan lebih kecil dari bilangan
meshnya karena ketebalan dari kawat. Ayakan
umum digunakan adalah standart tyler. Set ayakan
ini di dasarkan pada bukan 200mesh yang
ditetapkan pada 0,074mm. daerah bukan suatu
ayakan dalam susunannya tepatnya adalah dua kali
daerah bukaan ayakan yang lebih kecil berikutnya.
Dalam bidang farmasi, zat-zat yang digunakan
sebagai bahan obat kebanyakan berukuran kecil dan
jarang yang berada dalam keadaan optimum.
Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai
peranan penting dalam bidang farmasi sebab
merupakan penentu bagi sifat-sifat, baik sifat fisika,
kimia dan farmakologik dari bahan obat tersebut,
serta mempunyai peranan besar dalam pembuatan
sediaan obat. Pengetahuan dan pengendalian
ukuran, serta kisaran ukuran partikel sangat penting
dalam bidang farmasi.
Secara klinik, ukuran partikel suatu obat dapat
mempengaruhi penglepasannya dari bentuk-bentuk
sediaan yang diberikan secara oral, parenteral,
rektal, dan tropikal. Formulasi yang berhasil dari
suspensi, emulsi dan tablet, dari segi kestabilan
fisik, dan respon farmakologis, juga bergantung
pada ukuran partikel yang dicapai dari produk itu.
Dalam bidang pembuatan tablet dan kapsul,
pengendalian ukuran partikel sangat penting sekali
dalam mencapai sifat aliran yang diperlukan dan
pencampuran yang benar dari granul dan serbuk.
Salah satu metode paling sederhana yang
digunakan untuk menentukan ukuran partikel bahan
obat tersebut, adalah menggunakan metode
pengayakan.
Pengayak terbuat dari kawat dengan ukuran
lubang tertentu. Istilah ini (mesh) digunakan untuk
menyatakan jumlah lubang tiap inchi linear. Sieve
shaker adalah alat pemisahan mekanis dengan pola
pengayakan dan penyaringan yang ukuran bahan
disesuaikan dengan kain (screen) yang digunakan.
kain (screen) berlaku sebagai saringan, saringan
yang digunakan pada alat ini dapat dibuat tersusun
bertingkat atau hanya terdiri atas satu saringan.
Saringan yang digunakan memiliki nilai mess yang
menyatakan jumlah lubang per 1 mm2.
Saringan yang digunakan pada alat Sieve
shaker umumnya memiliki nilai mesh 100 sampai
200. Saringan bertingkat dengan nilai mess sama
akan memperbaiki kualitas dan keseragaman hasil,
sedangkan saringan bertingkat dengan nilai mesh
berbeda akan menghasilkan beberapa produk
dengan keseragaman berbeda. Sieve shaker
biasanya digunakan pada bidang farmasi yang
dimana sebagai pengayak obat dalam bentuk
bubuk.

1.2 Teknik Pengayakan
Pengayakan adalah sebuah cara
pengelompokan butiran, yang akan dipisahkan
menjadi satu atau beberapa kelompok. Dengan
demikian dapat dipisahkan anatara partikel lolos
ayakan (butiran halus) dan yang tertinggal di
ayakan ( butiran kasar). Ukuran butiran tertentu
yang masih dapat melintasi ayakan dinyatakan
sebagai butiran batas.
Pengayakan merupakan pemisahan berbagai
campuran partikel padatan yang mempunyaI
berbagai ukuran bahan dengan menggunakan
ayakan. Proses pengayakan juga digunakan sebagai
alat pembersih, pemisah kontaminan yang
ukurannya berbeda dengan bahan baku.
Pengayakan memudahkan kita untuk mendapatkan
serbuk dengan ukuran yang seragam. Dengan
demikian pengayakan dapat didefinisikan sebagai
suatu metoda pemisahan berbagai campuran
partikel padat sehingga didapat ukuran partikel
yang seragam serta terbebas dari kontaminan yang
memiliki ukuran yang berbeda dengan
menggunakan alat pengayakan.

Pada pengayakan manual, bahan dipaksa melewati
lubang ayakan, umumnya dengan bantuan bilah
kayu atau bilah bahan sintetis atau dengan sikat.
Beberapa farmakope memuat spesifikasi ayakan
dengan lebar lubang tertentu. Sekelompok partikel
dinyatakan memiliki tingkat kehalusan tertentu jika
seluruh partikel dapat melintasi lebar lubang yang
sesuai (artinya tanpa sisa diayakan). Dengan
demikian ada batasan maksimal dari ukuran
partikel (Voigt, 1994).






Sedangkan, pada pengayakan secara
mekanik (pengayak getaran, guncangan atau
kocokan) dilakukan dengan bantuan mesin, yang
umumnya mempunyai satu set ayakan dengan
ukuran lebar lubang standar yang berlainan. Bahan
yang dipak, bergerak-gerak diatas ayakan,
berdesakan melalui lubang kemudian terbagi
menjadi fraksi-fraksi yang berbeda. Beberapa
mesin pengayak bekerja dengan gerakan melingkar
atau ellipsoid terhadap permukaan ayakan. Pada
jenis ayakan yang statis, bahan yang diayak dipaksa
melalui lubang dengan menggunakan bantuan udara
kencang atau juga air deras (Voigt, 1994).

Beberapa cara atau metode yang dapat
digunakan dalam pengayakan tergantung dari
material yang akan dianalisa, antara lain:

1. Ayakan dengan gerakan melempar
Cara pengayakan dalam
metode ini, sampel
terlempar ke atas secara
vertikal dengan sedikit
gerakan melingkar sehingga
menyebabkan penyebaran
pada sampel dan terjadi pemisahan secara
menyeluruh, pada saat yang bersamaan
sampel yang terlempar keatas akan
berputar (rotasi) dan jatuh di atas
permukaan ayakan, sampel dengan ukuran
yang lebih kecil dari lubang ayakan akan
melewati saringan dan yang ukuran lebih
besar akan dilemparkan ke atas lagi dan
begitu seterusnya. Sieve shaker modern
digerakkan dengan electro magnetik yang
bergerak dengan menggunakan sistem
pegas yang mana getaran yang dihasilkan
dialirkan ke ayakan dan dilengkapi dengan
kontrol waktu (Zulfikar, 2010).

2. Ayakan dengan gerakan horizontal
Cara Pengayakan
dalam metode ini,
sampel bergerak secara
horisontal (mendatar)
pada bidang
permukaan sieve (ayakan), metode ini baik
digunakan untuk sampel yang berbentuk
jarum, datar, panjang atau berbentuk serat.
Metode ini cocok untuk melakukan analisa
ukuran partikel aggregat (Zulfikar, 2010).

Kegunaan metode pengayakan dalam kefarmasian :

Biovailabilitas. Makin kecil partikel
bioavailabilitas obatnya semakin baik.
Sifat alir. Makin besar partikel memiliki
sifat alir yang baik daripada partikel
berukuran kecil.
Absorbsi. Makin kecil ukuran partikel makin
mudah partikel diabsorbsi dan memberikan
efek yang cepat.
Pencampuran lebih mudah. Pencampuran
lebih mudah pada pertikel yang lebih kecil
karena adanya pendekatan yang mudah satu
sama lain.

Jenis jenis ukuran kehalusan sieve stack
Very Coarse powder ( serbuk sangat kasar
atau nomor 8 ) semua partikel serbuk dapat
melewati lubang ayakan nomor 8 dan tidak
lebih dari 20% melewati lubang ayakan No.
60.
Coarse powder (serbuk kasar atau nomor 20
) semua partikel serbuk dapat melewati
lubang ayakan nomor 20 dan tidak lebih dari
40% yang melewati lubang ayakan nomor
60.
Moderately Coarse ( serbuk cukup kasar
atau nomor 40 ) semua partikel serbuk dapat
melewati lubang ayakan nomor 40 dan tidak
lebih dari 40% melewati lubang ayakan
nomor 80.
Fine Powder (serbuk halus atau nomor 60 )
semua partikel serbuk dapat melewati
lubang ayakan nomor 60 dan tidak lebih dari
40% melewati ayakan nomor 100
Very Fine powder ( serbuk sangat halus atau
nomor 80) semua partikel serbuk dapat
melewati lubang ayakan nomor 80 dan tidak
ada limitasi bagi yang lebih halus.

Daftar Komponen

IC Mikrokontroler ATmega8535




Gambar 1 : Konfigurasi pin ATmega8535
PA5
PA2
PC2
PA6
PC0
PA4
PC3
PA1
C?
10MF
J?
REF
1
2
3
VCC
C?
33PF
Y?
CRYSTAL
PD5
PB8
PB5
R?
1K
VCC
PD3
PA0
PC5
PD6
VCC
PB0
PD1
PA7
PC1
PA3
VCC
U?
atmega8535
4
14
15
16
26
27
29
38
40
28
39
6
1
2
3
18
19
20 21
22
23
24
25
5
7
8
9
10
11
12
13
37
36
35
34
33
32
31
30
17
PB3(OC0/AIN1)
PD0(RXD)
PD1(TXD)
PD2(INT0)
PC4
PC5
PC7(TOSC2)
PA2(ADC2)
PA0(ADC0)
PC6(TOSC1)
PA1(ADC1)
PB5(MOSI)
PB0(XCK/T0)
PB1(T1)
PB2(INT2/AIN0)
PD4(OC1B)
PD5(OC1A)
PD6(ICP) PD7(OC2)
PC0(SCL)
PC1(SDA)
PC2
PC3
PB4(SS)
PB6(MISO)
PB7(SCK)
RESET
VCC
GND
X-TALL2
X-TALL1
PA3(ADC3)
PA4(ADC4)
PA5(ADC5)
PA6(ADC6)
PA7(ADC7)
AREF
AGND
AVCC
PD3(INT1)
PB7
PD0
PD7
PD2
PB4
VCC
PD4
RESET?
R?
103
1
3
2
PB1
PB6
PC6
PB3
C?
33PF
PC7
C?
10MF PC4
PB2
Atmega 8535 mempunyai empat buah port
yang bernama PortA, PortB, PortC, dan PortD.
Keempat port tersebut merupakan jalur bi-
directional dengan pilihan internal pull-up. Tiap
port mempunyai tiga buah register bit, yaitu DDxn,
PORTxn, dan PINxn. Huruf x mewakili nama
huruf dari port sedangkan huruf n mewakili
nomor bit. Bit DDxn terdapat pada I/O address
DDRx, bit PORTxn terdapat pada I/O address
PORTx, dan bit PINxn terdapat pada I/O address
PINx. Bit DDxn dalam register DDRx (Data
Direction Register) menentukan arah pin. Bila
DDxn diset 1, maka Px berfungsi sebagai pin
output. Bila DDxn diset 0 maka Px berfungsi
sebagai pin input. Bila PORTxn diset 1

pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin
input, maka resistor pull-up akan diaktifkan. Untuk
mematikan resistor pull-up, PORTxn harus diset 0
atau pin dikonfigurasi sebagai pin output. Pin port
adalah tri-state setelah kondisi reset. Bila PORTxn
diset 1 pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin
output maka pin port akan berlogika 1. Dan bila
PORTxn diset 0 pada saat pin terkonfigurasi
sebagai pin output maka pin port akan berlogika 0.
Saat mengubah kondisi port dari kondisi tri-state
(DDxn=0, PORTxn=0) ke kondisi output high
(DDxn=1, PORTxn=1) maka harus ada kondisi
peralihan apakah itu kondisi pull-up enabled
(DDxn=0, PORTxn=1) atau kondisi output low
(DDxn=1, PORTxn=0). Biasanya, kondisi pull-up
enabled dapat diterima sepenuhnya, selama
lingkungan impedansi tinggi tidak memperhatikan
perbedaan antara sebuah strong high driver dengan
sebuah pull-up.

Jika ini bukan suatu masalah, maka bit
PUD pada register SFIOR dapat diset 1 untuk
mematikan semua pull-up dalam semua port.
Peralihan dari kondisi input dengan pull-up ke
kondisi output low juga menimbulkan masalah
yang sama. Maka harus menggunakan kondisi tri-
state (DDxn=0, PORTxn=0) atau kondisi output
high (DDxn=1, PORTxn=0) sebagai kondisi
transisi.


Tabel Konfigurasi Pin Port


Tabel diatas menunjukkan konfigurasi pin pada
port port mikrokontroler. Bit 2 PUD = Pull-up
Disable, bila bit diset bernilai 1 maka pull-up pada
port I/O akan dimatikan walaupun register DDxn
dan PORTxn dikonfigurasikan untuk menyalakan
pull-up (DDxn=0, PORTxn=1).

LCD karakter 2x16
LCD merupakan komponen display yang
dapat menampilkan berbagai macam karakter. Jenis
LCD ada berbagai macam, dan yang paling sering
digunakan adalah LCD Karakter 2 x 16. Pada
percobaan ini akan menggunakan LCD karakter 2
x16, dengan interface pada PORTC, Codevision
menyediakan fungsi-fungsi untuk keperluan
pengelolaan LCD.
Modul LCD Character dapat dengan
mudah dihubungkan dengan mikrokontroller seperti
AT89S51. LCD yang akan kita praktikumkan ini
mempunyai lebar display 2 baris 16 kolom atau
biasa disebut sebagai LCD Character 2x16, dengan
16 pin konektor, yang didifinisikan sebagai berikut:






Gambar 4.2. Modul LCD Karakter 2x16
Tabel 4.1 Pin dan Fungsi




















KONFIGURASI SISTEM

3.1 Diagram Mekanis

Sistim Mekanik












Tampak depan


Tampak belakang


Blok Diagram



Cara kerja :
Rangkaian ini menyupply tegangan + 12 v dan + 5
v . Tekan tombol start (sebagai inisialisasi LCD
dan preparation). Atur settingan rpm dan waktu
yang di perlukan dengan menekan tombol up /
down dan enter. Maka mikro akan memberikan
signal pada driver motor dan motor akan aktif. Pada
saat mekanik ayakan bergerak maka waktu mulai
counting down hingga buzzer off dan motor akan
off.








Diagram Alir















Cara Kerja :
start untuk memulai suatu program. Mikro
memulai menginisialisasi lcd dimana program akan
di mulai. Saat setting waktu dan kecepatan mikro
akan memulai menyetting putaran motor dan waktu
. tombol enter di tekan mikro aktif motor on sampai
waktu tercapai waktu tercapai motor akan off dan
buzzer bunyi. Itu menandakan proses telah selesai.

Metodologi Penelitian
Penelitian dan pembuatan modul ini
dengan menggunakan jenis penelitan pre-
eksperimental dengan design penelitian one group
post tes design penelitian ini dilakukan karena
tidak terdapat kelompok kontrol maupun kelompok
pembandingnya.

Paradigma dalam penelitian eksperimen model ini
dapat digambarkan sebagai berikut :
Perlakuan diukur
X -------------------------------- 0
X= treatmen/perlakuan yg diberikan
(variabel Independen)
0 = Observasi (variabel dependen)
Paradigma itu dapat dibaca sebagai berikut :
terdapat suatu kelompok diberi treatmen yakni
wadah ayakan (sieve stack) dan getaran pada sieve
stack . Hasil dari ayakan tersebut dapat di ukur
dengan metode analisis sieving (mesh).

Variabel Penelitian
a. Variabel Bebas
wadah ayakan (sieve stack) dan sampel
ayakan.
b. Variabel Tergantung
Sebagai variabel tergantung yaitu setting
waktu dan setting kecepatan putaran.
c. Variabel Terkendali
Sebagai variable terkendali adalah AVR
Mikrokontroler Atmega 8535

Definisi Operasional Variabel

Urutan Kegiatan

Dalam penelitian dan pembuatan modul ini penulis
membuat beberapa urutan kegiatan diantaranya :
1. Mencari dan mempelajari dasar teori atau
referensi yang berkaitan dengan
permasalahan yang akan dibahas.
2. Mempelajari dan merancang konfigurasi
sistem ( dimensi modul, blok diagram, dan
diagram alir ).
3. Menyusun proposal
4. Menyiapkan komponen dan peralatan yang
digunakan dalam pembuatan modul.
5. Membuat jadwal kegiatan untuk mengatur
waktu pembuatan modul.
6. Menyiapkan komponen dan peralatan yang
dibutuhkan
7. Melakukan percobaan percobaan
sementara pada project board
8. Me layout wiring diagram ke papan PCB
dan pemasangan modul
9. Melakukan pengukuran dan pengujian
modul
10. Mengikuti Uji Kelayakan modul
11. Menyusun laporan KTI

Tempat dan Waktu Pembuatan Modul

Tempat Pembuatan Modul
Pembuatan modul ini dilakukan di kampus Teknik
Elektromedik POLTEKKES Surabaya.

Waktu Pembuatan Modul
Waktu pembuatan modul disesuaikan dengan
jadwal akademik Teknik Elektromedik
POLTEKKES Surabaya.

Tabel 4.1 Jadwal kegiatan
Keterangan
I. Penentuan Judul.
II. Studi Literatur dan
III. Pembuatan Proposal.
IV. Pembuatan modul.
V. Seminar.
VI. Ujian Sidang dan
pengumpulan Karya Tulis
Ilmiah (KTI).













Jenis Variabel Definisi
Operasiona
l
Alat
Ukur
Hasil Ukur Skala
ukur
Variabe
l Bebas
Sample yang
di gunakan
yaitu serbuk
obat atau
tepung
terigu
Sample
pada
pengambila
n pengujian
menggunaka
n serbuk
obat atau
tepung
terigu
dengan
massa kg.
Timbanga
n/ Neraca
Analitik
Massa
sample
yang di
hasilkan
pada saat
pengayakan
(gram).
Rasion
al
wadah
ayakan
(sieve stack)
wadah
ayakan
(sieve stack)
terdiri dari
no ayakan 8
, 40 dan 80.
Dimana
untuk
menghasil
tingkat
kehalusan
granul /
serbuk.
Jangka
sorong
Wadah
ayakan
(sieve
stack)
dalam
satuan mesh
Interva
l
Variabe
l
Terikat

Waktu Waktu yang
di butuhkan
selama
pengayakan
sample
yakni 0 30
menit
Timer
digital/
stopwatch
0. Sesuai =
0 30
menit
1.Tidak
sesuai
jika > 30
menit

Interva
l
Kecepatan Kecepatan
getaran
motor
mempengar
uhi
pengayakan
obat yakni
60 dan 80
rpm
Tachomet
er
0. Sesuai =
60 rpm dan
80 rpm
1.Tidak
sesuai
jika
<60rpm
dan
>80rpm
Interva
l
Variabe
l
terkend
ali
Mikrokontro
ler
ATMEGA 8
Atmega 8 di
gunakan
untuk
pengendalia
n sistem
setting
kecepatan
dan waktu
0. Beke
rja
1. Tida
k
beke
rja
Nomin
al
Ke
giat
an
S
e
pt
o
k
t
N
o
v
d
e
s
j
a
n
f
e
b
m
a
r
A
p
r
I
l
m
e
i
j
u
n
i
j
u
li
I


II


III


IV


V









HASIL PENGUKURAN DAN ANALISA

Setelah pembuatan modul, perlu diadakan
pengukuran dan pengujian. Maka dari itu penulis
melakukan pendataan melalui proses perbandingan
menggunakan alat ukur suhu (termometer digital)

Tabel Pengukuran dan Perhitungan dengan
pasien
Pasien
ke
Pengukura
n ke
Termo
Suara
Termo
Digital
1.
1 34.5 35.8
2 34.5 34.8
3 34.5 34.9
4 34.5 35.3
5 34.5 35.4
2.
1 34.5 35.5
2 35.5 35.8
3 35.5 35.9
4 35.5 35.4
5 35.5 36.2
3.
1 34.5 34.6
2 34.5 35.1
3 35.5 35.7
4 35.5 35.1
5 34.5 35.5
4.
1 34.5 34.9
2 34.5 34.8
3 34.5 35
4 34.5 35.3
5 34.5 35.5
5.
1 36.5 36.1
2 35.5 36
3 35.5 36.1
4 36.5 36.3
5 36.5 36.4

Tabel 7. Pengukuran suhu pasien

Pengukuran
ke
Rerata
Termo
Suara
( C )
Rerata
Termo
Digital
( C )
Error
%
error
1. 34.5 35.24 0.74 2.0999
2. 35.3 35.76 0.46 1.2864
3. 34.9 35.2 0.3 0.8523
4. 35.4 35.1 0.6 1.7094
5. 36.1 36.18 0.08 0.2211
Tabel 8. Perhitungan error
Analisa table hasil perhitungan :
Dari tabel perhitungan yang diambil dari
hasil pengukuran perbandingan antara alat
Termometer Suara dengan Termometer Digital di
atas dapat dilihat bahwa rata-rata % error sebesar
1,23 %.

Analisa keseluruhan :
Dari hasil akhir yang didapatkan, dapat
disimbulkan bahwa banyak faktor yang
mempengaruhi segala hasil akhir yang didapatkan.
Dan faktor-faktor tersebut diantaranya, pada modul
ini memiliki hardware yang berbeda dengan alat
pembanding yang digunakan, rumus yang
digunakan dalam software bahasa C belum tentu
sama dengan yang ada pada alat pembanding, dan
juga tenggang waktu selama proses pengambilan
data suhu menunjukkan hasil yang berbeda pula
antara modul dengan alat pembandingnya. Tetapi
dari haasil yang didapatkan, penyimpangan atau
perbedaan suhu yang didapat masih dalam batas
toleransi. Dengan mengacu pada hasil % error
yaitu 1,23 %, maka modul ini dapat digunakan
sebagaimana fungsinya.

PEMBAHASAN
Gambar rangkaian keseluruhan














Gambar 3. Rangkaian keseluruhan

Berikut adalah alamat hasil perekaman suara










J5
lcd
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
pb1
pd7
J3
OutLM35
1
pb6
J2
SUPPLY
1
2
pb7
1
C6
22uF
VCC
pd2
i
R3
220
pd3
C2
0.1uF
pb0
D3
DIODE
J
R6
1K
J
VCC
pb1
J4
LM35
1
2
3
VCC
k
+ C7
10 uF
L R5
470kohm
pc5 VCC
AVCC
R9
POT 1
3
2
k
L
D1
LED
pc0
SW4
START
1 2
pb5
+ C1
10 uF i
pc1
R12
100 kohm
pd5
D2
LED
VCC
SW3
CE
1 2
pb3
VCC
U1
ISD2590
1
2
3
4
5
6
7
8
1
2
1
3
21
14
15
9
10
19
22
23
25
11
17
18
20
24
26
16
28
27
A0/M0
A1/M1
A2/M2
A3/M3
A4/M4
A5/M5
A6/M6
A7
G
N
D
A
G
N
D
ANAOUT
SP+
SP-
A8
A9
AGC
OVF
CE
EOM
AUXIN
MIC
MICREF
ANAIN
PD
XCLK
VCC
+VCC
P/R
1
pc0
AREF
C3
4.7uF
VCC R1
10 K
pb4
pd6
R7
150
VCC
J1
ke Prog
1
2
3
4
5
6
pb7
SW2
SW DIP-8
1
2
3
4
5
6
7
8
16
15
14
13
12
11
10
9
VCC
R11
100 kohm
VCC
pd4
AREF
LS1
SPEAKER
pd0
pc3
R10
10K
1
3
2
VCC
VCC
pd2
pb2
C4
0.1uF
pd1
pd3
U2
ATmega8-DIL28
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14 15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
pc6 (rst)
pd0 (RxD)
pd1 (TxD)
pd2 (INT0)
pd3 (INT1)
pd4 (XCK/T0)
VCC
GND
pb6 (XT1)
pb7 (XT2)
pd5 (T1)
pd6 (AIN0)
pd7 (AIN1)
pb0 (ICP) pb1 (OC1A)
pb2 (SS/OC1B)
pb3 (OC2/MOSI)
pb4 (MISO)
pb5 (SCK)
AVCC
AREFF
AGND
pc0 (ADC0)
pc1 (ADC1)
pc2 (ADC2)
pc3 (ADC3)
pc4 (ADC4/SDA)
pc5 (ADC5/SCL)
pd1
pb0
R4
1k
pd4
pd6
SW1
PB RESET
1
2
pd5
pb4
pc4
J6
BUZZER
1
2
pc1
R2
5.1kohm
pc3
pb5
C5
0.1uF
VCC
pb2
VCC
pd7
R8
150
pb6
pd0
C8
103
VCC
pc2


Tabel 9. Alamat suara pada IC ISD2560







Gambar rangkaian pembacaan suhu tubuh






Gambar 4. Rangkaian pembacaan suhu tubuh

Hasil pembacaan dari sensor LM35 yang
menghasilkan 10 mV tegangan setiap kenaikan 1
O

C masuk pin ADC0 sebagai inputan ADC internal
pada Atmega8. Data yang diterima dari ADC akan
diolah oleh mikro dengan menggunakan rumus
pengkonversian data analog ke digital.

Program pembacaan suhu tubuh
adc0=read_adc(0);
suhu1=(adc0*5200)/1023;
data1=suhu1;
Penjelasan program :
Adc0 adalah variabel untuk menampung
data dari pin adc(0). Pin adc(0) mendapat inputan
dari sensor suhu LM35 yang menghasilkan
tegangan 10 mV setiap kenaikan suhu 1
o
C.
Mikrokontroler mengkonversi besaran tegangan
menjadi data digital dan hasilnya dikonversi lagi
dengan membagi nya dengan 2 ^ jumlah bit-nya.
Karena memakai adc 10 bit maka data adc hasil
pengkonversinya dibagi dengan 1023 dan dikalikan
dengan 5200 (avcc dalam satuan milivolt). Hasilnya
akan di olah kembali untuk dibandingkan sampai
suhu stabil.

Program pengambilan data suhu
baca :
delay_ms(50);
lcd_clear();
for(i=0;i<=1;i++) // counter 1 detik
{
data1=0;
j++;
sprintf(save,"proses...:%-i",i);
lcd_gotoxy(0,0);
lcd_puts(save);

lcd_gotoxy(j,1);
lcd_putsf(">>>>");
delay_ms(1000);
if(j==15)j=0;
buzzer=0;
delay_ms(100);
buzzer=1;
adc0=read_adc(0);
suhu1=(adc0*5200)/1023;
data1=suhu1;
}
delay_ms(50);
for(i=0;i<=5;i++)
{
lcd_clear();
data2=0;
j++;
sprintf(save,"proses...:%-i",i);
lcd_gotoxy(0,0);
lcd_puts(save);

lcd_gotoxy(j,1);
lcd_putsf(">>>>");
delay_ms(1000);
if(j==15)j=0;
lcd_clear();
buzzer=0;
delay_ms(100);
buzzer=1;
adc1=read_adc(0);
suhu2=(adc1*5200)/1023;
data2=suhu2;
}
if(data1>=data2)
{
suhu=data2;
Penjelasan program :
Pada proses pembacaan suhu ini
menggunakan sistem perbandingan dua kondisi
suhu tubuh dengan selang waktu yang berbeda.
Ketika tombol start ditekan, maka mikrokontroler
akan melakukan counter atau perhitungan selama 1
detik, dan kemudian dilakukan pembacaan suhu
dari sensor dengan memanfaatkan konversi dari
data ADC. Hasil konversi ADC pada register adc0
dikalikan dengan 5200 ( vref menggunakan AVCC
) agar didapat data konversi berupa bilangan
ratusan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah
dalam proses perbandingannya dan juga sebagai
pengaturan apabila terjadi penyimpangan dengan
pengukuran yang sebenarnya, caranya dengan
mengubah bilangan ratusannya sampai data suhu
sesuai. Hasil disimpan pada register suhu1.
Kemudian dilakukan counter berikutnya selama 5
detik. Proses yang sama berulang, kemudian hasil
konversi ADC berikutnya, disimpan di register
suhu2. Yang nantinya kedua register ini akan
dibandingkan terus menerus sampai suhu stabil.
Selama proses pengambilan data suhu maka buzzer
akan berbunyi sesuai dengan counter yang berjalan
VCC
J3
OutLM35
1
VCC
+ C7
10 uF
J4
LM35
1
2
3
R7
150
pc0
pb3
R8
150
J6
BUZZER
1
2
dan sebagai penanda bahwa proses pengambilan
data suhu sedang berlangsung.









Pembahasan IC Pengolah suara












Gambar 5. Driver ISD 2560

ISD2560 merupakan IC yang mampu
melakukan perekaman dan memainkan ulang suara
yang telah direkam. Suara yang telah direkam akan
tersimpan dalam memori di dalamnya sesuai alamat
yang telah ditentukan sebelumnya. Rangkaian
tersebut di atas merupakan driver yang hanya
digunakan untuk memainkan ulang suara yang telah
direkam sebelumnya dengan memanfaatkan
mikrokontroler sebagai pengendalinya.
Mikrokontroler akan memberikan logika ke pin A0-
A7 sesuai alamat yang telah di atur dalam
programnya.

Program mengaktifkan IC pengolah suara
(ISD2560)
void isd_aktif(void)
{
pd=0;
ce=0;
delay_ms(250);
ce=1;
delay_ms(2000);
}
Penjelasan program :
IC pengolah suara ISD2560 akan aktif jika
pin CE dan PD berlogika 0 (low) serta P/R
berlogika 1 (high) atau pada mode play . Saat pin
CE dan PD berlogika 0 ( low ), maka IC akan
memainkan suara sesuai dengan alamat yang telah
dikirim dari mikro ke pin A0-A7. Pemberian waktu
tenggang atau delay itu dimaksudkan untuk
mengkondisikan pin CE dalam kondisi low sesaat
dan dikembalikan ke kondisi awal yaitu kondisi
high. Sehingga suara yang telah direkam
sebelumnya akan keluar melalui speaker sesuai
alamat yang telah ditentukan.

Program memanggil alamat suara ISD2560
{
suhu=data2;
if(suhu<305&&suhu>=300)
{
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_putsf("suhu : 30");
lcd_gotoxy(13,1) ;
lcd_putchar(0xdf);
lcd_putsf("C");
alamat=0x2f;
isd_aktif();
alamat=0x8f;
isd_aktif();
}
Penjelasan program :
Saat suhu sudah stabil, maka data terakhir
hasil pembacaan suhu akan disimpan pada variable
suhu. Selanjutnya data dalam variable suhu tersebut
akan dibandingkan dengan program dibawahnya
sesuai suhu yang terbaca. Sebagai contohnya
seperti program di atas. Saat suhu diantara 30 - 30.5
maka akan langsung mengeksekusi program di
bawahnya yaitu mengaktifkan IC ISD2560 pada
mode play ( pin CE berlogika high ) dan
mikrokontroler memberikan alamat suara tiga
puluh. setelah suara keluar maka IC ISD2560
dalam mode standby. Kemudian mikro kembali
memberikan alamat untuk memanggil suara derajat
dan ISD mulai aktif unntuk memainkan suara dan
kembali ke mode standby kembali untuk menerima
perinyah selanjutnya. Begitu seterusnya sampai
pembacaan suhu sesuai sampai akhir suara derajat.


PENUTUP
Kesimpulan
Setelah melakukan proses pembuatan
proposal, study literature, perencanaan, proses
pembuatan modul, percobaan, pengujian modul dan
melakukan proses pendataan, penulis dapat
menyimpulkan sebagai berikut :
1. Modul Termometer Digital dengan Output
Suara Berbasis Mikrokontroler untuk Pasien
Tuna Netra merupakan suatu alat yang
digunakan untuk mengetahui suhu tubuh pasien,
yang dikeluarkan berupa suara melalui speaker,
khususnya bagi penderita tuna netra. Dengan
dikeluarkannya hasil pengukuran suhu tubuhnya
melalui speaker tersebut, maka akan lebih
memudahkan pasien tuna netra itu sendiri dalam
mengukur suhu tubuhnya.
2. Input suhu tubuh berasal dari pasien, untuk
dibandingkan dengan termometer digital dan
menunjukkan hasil dengan rata-rata % error
sebesar 1,23 %. Dengan mengacu pada hasil,
maka alat ini dapat digunakan sesuai dengan
fungsinya.
3. Pada hasil pengukuran terdapat perbedaan hasil,
dikarenakan modul mendeteksi perubahan suhu
C6
22uF
C2
0.1uF
pd0
D1
LED
R5
470kohm
pd7
1
pd6
pd3
U1
ISD2590
1
2
3
4
5
6
7
8
1
2
1
3
21
14
15
9
10
19
22
23
25
11
17
18
20
24
26
16
28
27
A0/M0
A1/M1
A2/M2
A3/M3
A4/M4
A5/M5
A6/M6
A7
G
N
D
A
G
N
D
ANAOUT
SP+
SP-
A8
A9
AGC
OVF
CE
EOM
AUXIN
MIC
MICREF
ANAIN
PD
XCLK
VCC
+VCC
P/R
pd4
C3
4.7uF
J
pd2
L
pd1
LS1
SPEAKER
k
VCC
C4
0.1uF
pd5
i
VCC
R4
1k
1
R2
5.1kohm
C5
0.1uF
SW2
SW DIP-8
1
2
3
4
5
6
7
8
16
15
14
13
12
11
10
9
i
J
k
VCC
setiap 0.5
O
C sedang pada alat pembanding
mendeteksi setiap perubahan suhu 0.1
O
C.
4. Pada proses pemutaran suara terdapat jeda
setiap kata yang keluar, dikarenakan proses
perekaman suara dibuat satu kata setiap
alamatnya sehingga membutuhkan sedikit
waktu untuk berpindah dari alamat satu ke yang
lainnya.



Saran
Untuk mengembangkan modul yang telah
dibuat ini, maka ada beberapa hal yang perlu
ditambahkan, diantaranya :
1. Menggunakan sensor suhu yang linear dan lebih
cepat dalam merespon perubahan suhu
disekitarnya, agar cepat mendeteksi suhu tubuh
pasien.
2. Perlu ditambahkan diagnose hasil pengukuran
seperti hyperthermia dan hypothermia.
3. Perlu ditambahkan rangkaian amplifier untuk
mengatur volume suara dari speaker
4. Perlu ditambahkan indicator lever baterai.
5. Perlu membuat dimensi yang lebih praktis dari
segi ukuran bentuk dan juga sensor yang
digunakan.
6. Perlu melakukan banyak eksperimen tentang
AVR bagaimana mendeteksi suhu tubuh yang
sudah stabil dengan akurat dan cepat.

DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H. C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi, diterjemahkan oleh .Ibrahim, F., Edisi
keempat, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
http://www.alibaba.com/200 standard analysis
efficiency laboratory vibration sifter , 2/12/13,
23:17
http://www.daviddarling.info/encyclopedia/E/electr
ic_motor.html<4/12/2013, 00:41>
http://electronics.howstuffworks.com/motor3.html.
<4/12/2013, 00:41>
http://en.wikipedia.org/wiki/Commutator_(electric)
.<4/12/2013, 00:41>
http://en.wikipedia.org/wiki/Rotor_(electric).
.<4/12/2013, 00:41>
Ign Suharto. 1998. Sanitasi , Keamanan , dan
Kesehatan Pangan dan Alat Industri. Bandung.
Kurniawan, Dhadhang W. dkk., 2012, Teknologi
Sediaaan Farmasi, Laboratorium Farmasetika
UNSOED, Purwokerto.
Lachman, Leon., 1989, Teori dan Praktek Farmasi
Industri, UI Press, Jakarta
McCabe, Warren L & Smith, J.C. 1999. Operasi
Teknik Kimia. Alih Bahasa Jasiji, E.Ir. Edisi ke-4.
Penerbit Erlangga : Jakarta.
Metode dan teknik pengayakan untuk menentukan
ukuran partikel dalam teknologi farmasi-
tsffaunsoed2009.htm < 23/09/2013, 14:30>
phaRmacy World.htm <28/09/13, 20:30>
Pentingnya mengetahui proses pengayakan dalam
sediaan farmasi- tsf farmasi unsoed 2012.htm
<26/09/13, 19:50>
Pemecahan dan Pengayakan _ Goelanzsaw.htm.
26/09/13, 19:30
Sop.pd.30701 Endecotts Octagon 200 Test Sieve
Shaker 01/10/13, 14:30
Service Manual Endecotts Octagon 200 Test Sieve
Shaker 01/10/13, 14:30
Swinkels JJM. 1985. Sources of Starch, its
Chemistry and Physics. Di dalam :Starch
Conversion Technology. Van Beynum GMA, Roels
A, editor. New York : Marcel Dekker.






BIODATA PENULIS
Nama : Sanchia Janita Khodijah
NIM : P27838011034
TTL : Sidoarjo, 25Mei1993
Alamat : Kebraon manis selatan 1
No 36, surabaya.
Pendidikan : SMA MUHAMMADIYAH
4 KEMLATEN
SURABAYA