Anda di halaman 1dari 18

49

BAB IV
SPEKTROSKOPI SINAR-X

4.1 Pendahuluan
4.1.1 Deskripsi Singkat
Pada bagian ini hendak dibahas spektroskopi dan proses terjadinya sinar-X,
fotoelektron, dan elektron Auger beserta beberapa aplikasinya.
4.1.2 Relevansi
Mahasiswa dapat mereview lagi proses terjadinya sinar-X termasuk efek
fotolistrik inner elektron, di mata kuliah Fisika Modern. Aplikasi spektroskopi sinar-X
ini sangat berguna untuk identifikasi bahan atau unsur material padat. Di dunia
industri spektroskopi sinar-X juga berkembang pesat, terutama untuk identifikasi dan
uji kualitas suatu bahan. Di dunia medis, aplikasi sinar-X berguna untuk pencitraan
dan diagnostik.
4.1.3 Kompetensi
4.1.3.1 Standar Kompetensi
Setelah mempelajari bagian ini, mahasiswa dapat menjelaskan konsep dasar
sinar-X karakteristik, Bremsstrahlung, elektron auger, sinar-X fluoresensi,
spektroskopi sinar-X, beserta aplikasinya.
4.1.3.2 Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari pokok bahasan ini mahasiswa dapat:
- Menjelaskan perbedaan proses terjadinya sinar-X Bremsstrahlung dan sinar-X
karakterisitik.
- Menentukan jenis unsur dari deret sinar-X K, L, M
- Menggunakan hukum Moseley untuk menentukan dan mengidentifikasi unsur
- Menjelaskan proses terjadinya sinar-X fluoresensi,
- Menjelaskan proses terjadinya absorpsi sinar-X oleh bahan,
- Menentukan batas-batas tepi absorpsi sinar-X pada suatu bahan,
- Menjelaskan proses terjadinya fotoelektron,
- Menjelaskan proses terjadinya elektron Auger,
- Menentukan energi ikat suatu unsur dari proses elektron Auger,
- Menyebutkan dan menjelaskan beberapa contoh aplikasinya
4.2 Spektrokopi Sinar-X
50

4.2.1 Emisi Sinar-X
Sinar-X dapat dihasilkan bila suatu material padat ditembaki dengan elektron
energi tinggi (orde 1 keV sampai 100 keV). Gambar 4.1 menunjukkan skema prinsip
kerja peralatan penghasil sinar-X. Pancaran radiasi sinar-X dari pesawat sinar-X ini
mempunyai daya tembus yang cukup tinggi, dan dapat dideteksi misal, dengan
mengenakan pancaran foton itu pada plat film.







Gambar 4.1 prinsip kerja peralatan penghasil sinar-X. Dalam tabung hampa, katoda yang
dipanasi menghasilkan elektron bebas. Beda potensial yang tinggi antara katoda dan anoda
memaksa elektron bebas dari katoda dipercepat sehingga menumbuk anoda. Akibat
tumbukan dengan elektron dengan atom-atom pada anoda, maka dihasilkan sinar-X.
4.2.1.1 Bremsstrahlung
Radiasi sinar-X yang dipancarkan dari pesawat sinar-X biasanya terdiri dari
radiasi yang kontinyu (Bremsstrahlung) dan radiasi yang diskrit (karakteristik).
Bremsstrahlung terjadi akibat elektron berenergi tinggi berinteraksi dengan atom,
terutama medan inti. Akibatnya, kecepatan elektron mengalami perubahan arah dan
pengurangan, atau dengan kata lain terjadi perlambatan. Menurut teori
elektrodinamika, elektron yang mengalami percepatan atau perlambatan
menghasilkan radiasi elektromagnetik yang nilainya kontinyu dari nol sampai suatu
nilai maksimum. Skema proses pembentukan Bremsstrahlung dapat dilihat pada
gambar 4.2.
Gambar 4.2 Skema terjadinya Bremsstrahlung.
Elektron dengan energi awal E
0
memasuki inti
atom (menumbuk material) sehingga mengalami
pembelokkan dan perlambatan. Akibatnya
diemisikan foton dalam bentuk sinar-X kontinyu
atau yang dikenal dengan Bremsstrahlung.
Elektron dengan energi mula-mula E
0

dipercepat menumbuk suatu material. Akibat pengaruh medan inti atom (nomor
atom Ze) penyusun material itu, maka elektron mengalami pembelokan dan
perlambatan. Akibatnya dihasilkan foton berenergi hf yang tidak lain adalah sinar-X
Anoda
Katoda
pemanas
Elektron
Sinar-X
Sinar-X

-e, E0
-e, E<E0
hf
-
Ze
51

kontinyu atau yang dikenal dengan Bremsstrahlung. Elektron yang telah mengalami
pembelokan energinya berkurang menjadi E. Energi foton atau sinar-X bernilai dari 0
hf
maks
, dengan f
maks
berkaitan dengan energi maksimum sinar-X tergantung dari
besarnya beda potensial yang dikenakan, melalui persamaan
hf s hf
maks
= hc/
min
(4.1)
4.2.1.1 Sinar-X Karakteristik
Radiasi sinar-X diskrit atau karakteristik dihasilkan dari transisi elektron
yang mengisi kekosongan ruang elektron bagian dalam (terutama tingkat energi
bagian dasar). Elektron bagian dalam yang ditembaki menggunakan elektron energi
tinggi terlempar ke luar (atom tidak hanya tereksitasi, biasanya juga terionisasi).
Kekosongan ruang pada bagian dalam ini segera terisi oleh elektron bagian atas
disertai pelepasan energi tinggi dalam bentuk sinar-X. Karena energi ini bersesuaian
dengan jarak antar level antara elektron yang jatuh ke orbit yang kosong, maka
energi sinar-X bersifat diskrit atau karakteristik. Tingkat atom yang berbeda-beda,
menghasilkan sinar-X diskrit ini juga berbeda-beda, sehingga memberikan nilai khas
untuk unsur atau elemen dari bahan yang diselidiki. Gambar 4.3 menunjukkan
skema transisi terjadinya sinar-X karakteristik.












Gambar 4.3 skema emisi sinar-X karakteristik.
Elektron berenergi tinggi menumbuk elektron dalam, pada kulit K, sehingga elektron
kulit K terlempar ke luar mengakibatkan kekosongan pada kulit ini. Dalam keadaan
tereksitasi atau terionisasi, elektron kulit L mengisi kekosongan tersebut disertai
K
L
M
N
O
Ko K| K Ko
Lo L| L
M| Mo
52

pancaran radiasi gelombang elektromagnetik dalam bentuk sinar-X. Kulit L yang
sekarang kosong, bergantian, diisi oleh elektron kulit M disertai pancaran sinar-X
yang lain, demikian seterusnya sehingga terdapat deret atau spektrum garis sinar-X
yang diemisikan. Deret sinar-X yang dihasilkan akibat transisi ke kulit K disebut
sinar-X K
o
, K
|
, K

, K
o
, dan seterusnya. Demikian pula deret sinar-X yang terjadi
akibat transisi ke kulit L disebut L
o
, L
|
, L

, L
o
, dan seterusnya, sesuai dengan label
kulit transisi level terakhir. Intensitas spektrum sinar-X K
o
, dan K
|
, biasanya mudah
diamati. Gambar 4.4 adalah contoh spektrum sinar-X kontinyu dan karakteristik.

Gambar 4.4 contoh spektrum sinar-X kontinyu dan karakteristik menggunakan sebuah target
dari bahan Mo yang dibombardir oleh elektron berenergi 35 keV (gambar disadur langsung
dari referensi 1).
Tingkat-tingkat energi elektron bagian dalam tidak dipengaruhi oleh sifat lingkungan
kimia dari atom-atom, sehingga emisi sinar-X karakteristik ini cocok untuk analisis
unsur. Hubungan panjang gelombang sinar-X yang diemisikan merupakan fungsi
nomor atom dari unsur target yang mengemisikan sinar-X, melalui hukum Moseley

-
= C(Z - o) (4.1),
dengan C dan o adalah konstanta-konstanta karakteristik dari spektrumnya. Karena
= c/v, maka hukum Moseley pada persamaan 4.1 dapat ditulis lagi menggunakan
besaran frekuensi
v

= A(Z Z
0
) (4.2),
dengan A dan Z
0
konstanta. Nilai Z
0
= 1 untuk sinar-X dari deret K, dan Z
0
= 7,4
untuk sinar-X dari deret L.
53

Contoh Soal:
1. Sebuah tabung televisi menggunakan tegangan pemercepat elektron sebesar 20
kV. Tentukan: (a) energi maksimum, dan (b) panjang gelombang minimum sinar-
X yang dihasilkan.
Jawab:
Elektron dalam tabung televisi mempunyai energi kinetik 20 keV, dan bila
ditumbukkan pada suatu target akan menghasilkan foton berupa sinar-X dengan (a)
energi maksimum sebesar E = 20 keV, dan (b) panjang gelombang minimum foton
sinar-X adalah = c/v = hc/hv = 12,4 keV /20 keV = 0,62 .
2. Pada persamaan Moseley v

= A(Z 1), Manakah yang lebih besar, nilai A


untuk K
o
atau K
|
?
Jawab:
Mengingat transisi K
|
lebih besar dari K
o
maka nilai A untuk K
|
yang lebih besar.
3. Tentukan panjang gelombang sinar-X Ko untuk unsur Mo (Z = 42).
Jawab:
Dari persamaan Moseley, v

= A(Z 1) = 4,9710
7
(42 1) = 2,0410
9
.
= c/v = 310
8
/(2,0410
9
)
2
= 0,721
4. Sebuah eksperimen mengukur panjang gelombang beberapa unsur dengan
hasil sebagai berikut: Fe 1,94 ; Co 1,79 ; Ni 1,66 ; Cu 1,54 . Tentukanlah
nomor atom dari unsur-unsur tersebut. Asumsikan panjang gelombang foton
yang dihasilkan termasuk dalam deret K.
Jawab:
Dari persamaan Moseley,
-
= C(Z o) , didapat Z = (c/)

C
-1
+ o. Untuk deret K,
o = 1, dan C = A/c

. Untuk A = 4,9710
7
Hz

dan c

= (310
8
)

, maka Z dapat
dihitung dengan hasil pada tabel berikut:
Unsur Fe Co Ni Cu
() 1,94 1,79 1,66 1,54
Z 26 27 28 29
Metode lain untuk menghasilkan sinar-X adalah sinar-X fluoresensi. Sebuah
target ditembak dengan sumber radiasi sinar-X, sehingga dihasilkan sinar-X yang
baru namun energinya lebih rendah dari energi sinar-X sumber. Dengan kata lain,
target menyerap sinar-X primer dan mengemisikan sinar-X sekunder. Salah satu
cara untuk menentukan energi sinar-X yang dihasilkan adalah dengan
54

menggunakan spektrometer Fluoresensi sinar-X (gambar 4.5). Alat ini menggunakan
prinsip difraksi Bragg, dimana sampel target yang ditembaki dengan sumber sinar-X
menghasilkan sinar-X sekunder yang kemudian terkolimasi menuju kristal. Radiasi
ini dapat ditangkap oleh detektor bila memenuhi hukum Bragg
2dsinu = n (4.3).




Gambar 4.5 skema spektrometer sinar-X fluoresensi. Difraksi Brrag digunakan untuk
menentukan sinar-X fluoresensi (sekunder).
Pada persamaan 4.2, n adalah orde difraksi, panjang gelombang sinar-X, d jarak
bidang Bragg, dan u sudut difraksi. Kristal yang digunakan dalam difraksi Bragg
biasanya sudah diketahui jarak antar bidang Braggnya. Misalnya NaCl (d = 0,56 nm)
atau LiF (d = 0,4 nm). Sistem untuk mensejajarkan sinar-X disebut sebagai kolimator
yang terdiri dari plat logam tipis (50 m) yang disusun sejajar dengan jarak 0,5 mm.
Sinar-X fluoresensi sangat cocok sebagai alat untuk mendeteksi elemen-elemen
yang ada pada sampel berbentuk padat atau serbuk, berdasarkan energi dan
intensitas yang terekam oleh detektor.
Sinar-X karakteristik dapat pula dihasilkan melalui partikel berat yang
dipercepat semacam proton, kemudian dihantamkan pada sampel target, sehingga
atom-atom target tereksitasi atau terionisasi, dan akhirnya dihasilkan sinar-X diskrit
seperti yang sudah-sudah. Teknik semacam ini biasanya dinamakan PIXE (Particle-
induced X-ray Emission). Kebolehjadian terjadinya kekosongan kulit pada elektron
bagian dalam sangat tinggi bila digunakan proton berenergi beberapa MeV,
sehingga sensitivitasnya lebih baik daripada teknik sinar-X fluoresensi. Hampir
sebagian unsur (kecuali unsur ringan) dapat dideteksi dengan metode ini sampai
batas konsentrasi 1 ppb. Detektor yang digunakan biasanya menggunakan material
Si(Li), dimana tegangan yang terukur sebanding dengan energi sinar-X yang
terdeteksi. Gambar 4.6 contoh spektrum sinar-X dengan teknik PIXE.
2u
Kristal
Detektor
Sampel target
Sumber sinar-X primer
emisi sinar-X
sekunder
Kolimator
55


Gambar 4.6 contoh spektrum sinar-X dari material air laut dengan teknik PIXE.
Gambar disadur langsung dari referensi 1.
Banyak aplikasi dari penggunaan sinar-X kharakteristik ini, misal di bidang
medis, lingkungan, pabrik semikonduktor dan monitoring sains forensik. Misal
dengan memilih salah satu panjang gelombang, distribusi intensitasnya digunakan
untuk pencitraan unsur-unsur yang berbeda-beda pada rambut manusia. Selain itu,
dengan berbagai energi eksitasi, dapat dimanfaatkan untuk pengukuran kandungan
logam-logam berat dalam kasus cemaran udara.
Contoh soal:
Pada kristal NaCl, diketahui jarak bidang Bragg sama dengan 2,82. Bila difraksi
Bragg orde pertama terjadi untuk sinar-X K
o
pada sudut 16, tentukan panjang
gelombang sinar-X tersebut.
Jawab:
Dari persamaan 4.3, 2d sinu = n maka = 2 d sinu untuk n = 1 sebagai difraksi
orde kesatu. Dengan memasukkan nilai d = 2,82 dan u = 16, didapat = 1,54 .
4.2.2 Absorpsi Sinar-X
Salah satu aspek penting selain emisi sinar-X adalah absorpsi sinar-X.
Dengan menggunakan sinar-X kontinyu, sampel menyerap energi sebagai fungsi
panjang gelombang. Proses yang paling dominan terhadap serapan sinar-X adalah
efek fotolistrik, efek Compton, dan produksi pasangan. Hanya saja untuk produksi
pasangan, energi sinar-X harus lebih dari 1 MeV. Bila energi kurang dari 1 MeV,
56

intensitas sinar-X direduksi oleh dua proses saja, yakni efek fotolistrik (paling
dominan) dan efek Compton. Intensitas sinar-X I setelah melewati suatu bahan
sejauh x diberikan oleh persamaan
I = I
0
e
-kx
(4.4)
dengan I
0
intensitas sebelum melalui bahan, dan k koefisien serapan bahan yang
tergantung dari atom-atom penyusun bahan dan energi sinar-X. Elektron-elektron
pada atom target mengalami eksitasi atau ionisasi sehingga menciptakan banyak
level-level yang kosong. Semakin besar energi sinar-X, semakin besar elektron
terionisasi sehingga menciptakan emisi elektron sampai batas ionisasinya. Dengan
kata lain, absorpsi sinar-X terus berkurang dengan bertambahnya energi sampai
menyamai energi ikat elektron dalam. Sampai batas ini elektron tiba-tiba mengalami
efek fotolistrik yang berakibat meningkatnya koefisien absorpsi secara tajam. Pada
level ini tercipta sebuah tepi absorpsi yang bersesuaian dengan energi ikat atom-
atom target. Semakin besar energi sinar-X, maka nilai ambang emisi elektron akan
terlampaui dan mengakibatkan terjadinya tepi absorpsi yang lain sesuai dengan
level-level elektron dalam atom. Gambar 4.7 menunjukkan contoh tepi absorpsi
sinar-X.





Gambar 4.7 contoh tepi absorpsi sinar-X. L
I
, L
II
, dan L
III
adalah efek struktur halus pada level L.
Intensitas absorpsi berkurang secara drastis dengan bertambahnya energi sinar-X.
Hal ini tercermin pada nilai koefisen absorpsi k. Pada gambar 4.5 terlihat bahwa
koefisien absorpsi k sebanding dengan v
-3
. Kenaikan nilai k yang sangat tajam
terjadi pada energi ikat masing-masing elektron dalam dan karenanya menciptakan
tepi-tepi absorpsi. Dengan mengukur energi-energi dari tepi absorpsi K, L, M dan
seterusnya, dapat diperoleh energi ikat elektron bagian dalam. Karena tiap-tiap atom
mempunyai nilai energi ikat yang berbeda-beda maka absorpsi sinar-X dapat
dimanfaatkan untuk identifikasi unsur-unsur pada sampel padatan.
k
v
K
L
I
L
II
L
III
M

k ~ v
-3

57

Aplikasi lain dari sinar-X adalah pencitraan medis, mikroskop sinar-X dan juga
lithografi. Pada pencitraan medis berfungsi sebagai diagnostik organ-organ dalam
tubuh makhluk hidup. Pada mikroskop sinar-X, diperoleh pencitraan untuk obyek-
obyek nano yang lebih menguntungkan dari pada mikroskop optik konvensional.
Sedangkan sinar-X untuk lithografi, berfungsi pada pembuatan alat-alat mikro
elektronik di industri elektronik yang lebih menguntungkan dari pada menggunakan
sinar UV, yakni resolusi yang diperoleh lebih tinggi.
4.2.3 Spektroskopi Fotoelektron
Spektroskopi fotoelektron sangat bermanfaat untuk identifikasi tingkat-tingkat
energi atom atau molekul. Teknik ini sering disebut sebagai XPS atau XPES (X-ray
photoelectron spectroscopy), dan berguna untuk mendeteksi atom-atom ringan
maupun berat dalam suatu material, atau molekul-molekul organik. Sumber sinar-X
dengan energi tertentu membombardir sampel target yang hendak diuji. Elektron
yang dilepaskan dari atom target mempunyai kecepatan atau energi yang berbeda-
beda. Dengan spektroskopi fotoelektron ini yang diamati adalah jumlah elektron
sebagai fungsi kecepatan atau energinya. Prinsip dasar spektroskopi fotoelektron
dapat dilihat pada gambar 4.8. Elektron dalam atom terikat di tempat oleh inti yang
disebut sebagai energi ikat (yang sering juga identik dengan energi ionisasi, energi
yang dibutuhkan untuk melepaskan elektron dari atom sehingga terionisasi).






Gambar 4.8 prinsip fotoelektron. Beberapa elektron digambarkan sebagai bulatan pada
tingkat-tingkat energi tertentu.
Pada gambar, foton sinar-X dengan energi tertentu hv menumbuk elektron pada
bagian dasar. Elektron tersebut terpental sehingga atom terionisasi. Energi foton
yang ditembakkan berkaitan dengan energi ikat elektron E
B
dan energi kinetik E
K

saat elektron terlepas, oleh persamaan
E
B

E
K

Batas ionisasi
E
hv
58

E
K
= hv - E
B
(4.5).
Pada kasus ini dianggap sebagian energi pental atom diabaikan. Sedangkan energi
ikat E
B
tidak lain adalah selisih energi akhir E
f
, dikurangi energi awal, E
i
,
E
B
= E
f
E
i
(4.6).
Contoh prinsip kerja peralatan yang menggunakan XPES dapat dilihat pada gambar
4.9 berikut.






Gambar 4.9 prinsip kerja spektrometer fotoelektron. Sampel ditembaki dengan foton
berenergi tertentu. Elektron yang ke luar dilewatkan lensa elektrostatis memasuki plat
elektrostatis semi-sferis. Energi elektron yang berbeda-beda tertangkap dengan detektor
dan ditampilkan pada spektrum.
Contoh Soal:
1. Uranium mempunyai tepi absorpsi K sebesar 0,107 dan panjang gelombang
K
o
sama dengan 0,126 . Tentukan panjang gelombang untuk tepi absorpsi L.
Jawab:
Tepi absorpsi K tidak lain adalah energi ikat untuk kulit K, sebesar E
BK
= hc/
BK
=
12,4/0,107 = 115,9 keV. Sedangkan tepi absorpsi L diberikan oleh E
BL
= hc/
BL

atau
BL
= hc/E
BL
. Skema transisinya dapat dilihat pada gambar berikut.





Dari transisi terlihat bahwa E
BK
E
BL
= E
L
E
K
dengan E
L
E
K
tidak lain adalah
energi sinar-X K
o
yang besarnya sama dengan hc/
Ko
= 12,4/0,126 = 98,4 keV.
n =
n = 1
n = 2

K
= 0,126
E
BK
= 0,107
E
BL
= ?
E
K

E
L

hv
sampel
Lensa elektrostatik
Plat semi-sferis
detektor
Penampil spektrum
+
-
59

Maka diperoleh tepi absorpsi L: E
BL
= 115,9 98,4 = 17,5 keV. Dengan demikian
panjang gelombang tepi absorpsi L adalah
BL
= hc/E
BL
= 0,709 .
2. Sebuah bahan dengan tepi absorpsi K sebesar 0,15 disinari dengan foton
yang panjang gelombangnya 0,1 . Hitunglah energi kinetik elektron dari efek
fotolistrik yang dihasilkan oleh kulit K.
Jawab:
Energi ikat elektrok kulit K adalah E
BK
= hc/
BK
= 12,4/0,15 = 82,7 keV. Energi
foton sebesar E = hc/ = 12,4/0,1 = 124 keV ini diserap oleh elektron kulit K, sisa
energi diubah menjadi energi kinetik elektron maksimum sebesar E
kin
= E E
BK

= 124 82,7 = 41,3 keV.
3. Sebuah foton dengan panjang gelombang 0,5 menumbuk material, sehingga
dihasilkan fotoelektron dari kulit K dan teramati bergerak dalam lintasan
lingkaran berjari-jari 23 mm dalam medan magnet 210
-2
T. Tentukan energi ikat
elektron kulit K tersebut.
Jawab:
Kecepatan elektron ditentukan dari gaya sentripetal elektron yang bergerak
melingkar melalui persamaan mv
2
/r = qvB atau v = (q/m)Br. Dengan
memasukkan nilai r, B dan q untuk muatan elektron diperoleh energi kinetik
elektron E
kin
= mv
2
= 2,9710-15 J = 18,6 keV.
Energi foton adalah E = hc/ = 12,4/0,5 = 24,8 keV.
Energi ikat elektron kulit K adalah E
BK
= E E
kin
= 24,8 18,6 = 6,2 keV.
4.2.4 Spektroskopi Elektron Auger
Elektron Auger terjadi berkaitan dengan elektron bagian dalam dari suatu
atom. Proses terjadinya elektron Auger dapat dijelaskan seperti pada gambar 4.10
berikut. Gambar 4.10 (A), elektron pada keadaan dasar dengan energi E
x
menerima
berkas foton sebesar hv, sehingga elektron terpental yang berakibat atom dalam
keadaan tereksitasi atau terionisasi seperti terlihat pada gambar 4.10 (B). Setelah itu
terjadi proses elektron Auger, gambar 4.10 (C), elektron pada energi E
y
mengisi
kekosongan tingkat energi E
x
, sambil melepaskan energi dalam bentuk foton. Energi
foton ini segera diserap atau diterima oleh elektron bagian atas, E
z
, sehingga
elektron terpental ke luar, yang akhirnya dinamakan elektron Auger dengan energi
kinetik sebesar E
Auger
dipenuhi oleh persamaan
E
Auger
= - E
z
+(E
y
- E
x
) (4.7).
60











Gambar 4.10 Proses terjadinya elektron Auger
Gambar 4.10 (D) adalah keadaan akhir sesaat setelah terjadi proses elektron Auger,
atom dalam keadaan terionisasi. Terlihat bahwa energi elektron Auger tak berkaitan
langsung dengan energi foton datang yang ditembakkan ke sampel. Merujuk pada
gambar 4.3 sebelumnya dan persamaan 4.5 dapat dikatakan bahwa elektron Auger
sangat erat kaitannya dengan energi ikat elektron. Dengan E
y
E
x
= E
Ko
, serta E
B

energi ikat elektron pada level E
z
, maka energi kinetik elektron Auger dapat ditulis
lagi menjadi
E
Auger
= E
Ko
- E
B
(4.8).
Kebolehjadian elektron Auger ternyata semakin besar untuk atom-atom ringan,
sedangkan untuk atom-atom berat semakin kecil. Bila proses yang terjadi melibatkan
kulit K untuk E
x
, dan kulit L untuk E
y
dan E
z
, maka proses disebut elektron Auger
KLL. Lihat gambar 4.9.




Gambar 4.9 skema proses elektron Auger KLL

Contoh soal:
Pada atom Zn (Z = 30), energi ionisasi (energi ikat) dari elektron kulit K dan L
masing-masing adalah 9,659 keV dan 1,021 keV. Tentukan energi kinetik elektron
Auger yang diemisikan dari kulit L oleh foton sinar-X K
o
.
L
K
Auger
hv
(A) Keadaan dasar
E
Auger

Batas ionisasi
E
hf
E
z

E
y

E
x

(B) Keadaan tereksitasi (C) Proses Auger (D) Keadaan Akhir
hf '
61

Jawab:
Energi elektron Auger diberikan oleh persamaan 4.8 E
Auger
= E
BL
- E
Ko
dengan E
BL
=
1,021 keV, E
BK
= 9,659 keV, dan E
Ko
= E
BK
E
BL
= 8,638 keV. Diperoleh E
Auger
= E
Ko

- E
BL
= 8,638 1,021 = 7,617 keV.
4.3 Latihan
1. Sebuah atom target dibombardir menggunakan elektron yang dipercepat melalui
beda potensial 100 kV. Tentukan, berapa panjang gelombang minimal foton
sinar-X yang dapat dipancarkan?
2. Seberkas sinar-X karakteristik K
o
dipancarkan dengan panjang gelombang 0,786
. Tentukan usur sampelnya.
3. Dengan menggunakan model atom Bohr, buktikan bahwa nilai A pada hukum
Moseley untuk sinar-X K
o
diberikan oleh A
Ko
= 4,9710
7
Hz

, dan untuk sinar-X


L
o
diberikan oleh A
Lo
= 2,1410
7
Hz

.
4. Tepi absorpsi untuk unsur Y (Z = 39) adalah 0,7277 . Untuk memperoleh emisi
sinar-X deret K, diperlukan sedikitnya potensial pemercepat elektron sebesar
17,039 kV. Tentukan nilai h/e dari data tersebut.
5. Tingkat-tingkat energi K, L, dan M untuk unsur Cu, Ni, dan Co diberikan pada
tabel berikut. Radiasi K
|
dari unsur Cu hendak difilter menggunakan bahan Ni
dan Co. Manakah bahan yang lebih efektif sebagai filter?
Unsur Z E
K
(keV) E
L
(keV) E
M
(keV)
Cu 29 - 8,979 - 0,931 - 0,074
Ni 28 - 8,333 - 0,855 - 0,068
Co 27 - 7,709 - 0,779 - 0,060

4.4 Tes formatif (Pilihlah satu jawaban yang paling tepat).
1. Manakah dari unsur-unsur berikut yang paling mungkin menghasilkan radiasi
sinar-X?
a. He b. Li c. C d. O e. Na
2. Diperlukan sebuah sampel padat sebagai target agar diemisikan sinar-X. Maka
diperlukan sumber eksitasi berupa ...
a. Sumber sinar UV
b. Sumber netron termal
62

c. Sumber elektron berenergi 1 100 eV
d. Sumber proton berenergi 1 10 keV
e. Sumber sinar gamma
3. Manakah dari pernyataan berikut yang paling tepat sehingga sinar-X dapat
diemisikan?
a. Elektron yang tereksitasi atau terionisasi adalah elektron terluar
b. Elektron yang tereksitasi atau terionisasi elektron bagian dalam
c. Elektron tidak harus tereksitasi ataupun terionisasi
d. Netron yang ditembaki sehingga ke luar dari atom
e. Proton yang ditembaki sehingga proton terpental
ke luar
4. Perhatikan transisi pada gambar berikut. Jenis sinar-X
yang dihasilkan pada proses ini adalah ...
a. K
o
b. K
|
c. L
o
d. L
|
e. M
|

5. Pada gambar berikut menampilkan puncak-puncak sinar-X karakteristik. Urutan
yang paling tepat untuk puncak A, B, C, dan D berturut-turut adalah ...
a. K
o
, K
|
, K

, L
o

b. L
o
, K
o
, K
|
, K

,
c. L
o
, K

, K
|
, K
o
,
d. K
|
, K

, K
o
, L
o
,
e. K

, K
|
, K
o
, L
o
,
6. Bila terjadi struktur halus, maka jumlah garis
spektrum untuk sinar-X Ko adalah ...
a. 1 b. 2 c. 3 d. 4 e. 5
7. Transisi sinar-X untuk jenis L
o
pada unsur Ca (Z = 20) adalah 30,1 . Nilai
konstanta A (dalam satuan SI) pada hukum Moseley adalah ...
a. 2,2910
6
b. 2,5110
6
c. 2,2910
7
d. 2,5110
7
e. 2,5110
8

8. Seberkas sinar-X yang diemisikan dari bahan tembaga mempunyai
Ko
= 1,54 ,

K|
= 1,39 , dan tepi absorpsi
BK
= 1,38 . Foton tersebut melewati selembar
nikel yang mempunyai
Ko
= 1,66 ,
K|
= 1,50 , dan tepi absorpsi
BK
= 1,49 .
L
K
M
N
I

A
B
C
D
63

Berapa panjang gelombang sinar-X yang dipancarkan dengan intensitas
terbesar?
a. 4,03 b. 8,05 c. 4,03 nm d. 8,05 nm e.805
9. Pada persamaan Moseley, bagaimana kaitan antara konstanta C dan A?
Diketahui c adalah laju cahaya dalam ruang hampa.
a. C = A c

,
b. C = A/c

,
c. C = Ac,
d. C = A/c,
e. C = A c

.
10. Pada suatu unsur, manakah yang lebih besar, energi ikat E
BK
atau energi sinar-
X E
Ko
?
a. E
BK
> E
Ko

b. E
Ko
> E
BK

c. E
Ko
> E
BK

d. Keduanya selalu sama
e. Bisa sama, bisa tidak (lebih kecil atau lebih besar)
11. Akibat radiasi sinar-X pada sampel, elektron diemisikan oleh sampel kemudian
diteruskan melalui plat elektrostatis berbentuk semi sferis. Bila teramati tiga
spektrum A, B, dan C, manakah
urutan energi dari kecil ke besar
yang paling tepat?
a. A, B, C
b. C, B, A
c. B, A, C
d. B, C, A
e. Ketiga elektron
energinya sama besar
12. Pada unsur Os dengan Z = 76, tepi absorpsi K dan L masing-masing 0,168
dan 1,17 . Berapa panjang gelombang sinar-X jenis K
o
yang diemisikan?
a. 0,0196 b. 0,396 c. 0,196 d. 1,96 e. 19,6
hv
sampel
Plat semi-sferis
A
+
-
B C
64

13. Pada unsur Ta (Z = 73) diketahui emisi sinar-X jenis K
o
pada panjang
gelombang 0,216 dan tepi absorpsi L adalah 1,25 . Energi tepi absorpsi K
sama dengan ...
a. 0,674 keV
b. 6,74 keV
c. 67,4 keV
d. 674 keV
e. 6740 keV
14. Energi kinetik elektron Auger yang diemisikan oleh sinar-X Ko dari kulit L dari
tepi absorpsi K 0,827 terukur sebesar 10,2 keV. Energi sinar-X Ko sama
dengan ...
a. 0,126 keV
b. 0,63 keV
c. 1,26 keV
d. 6,3 keV
e. 12,6 keV
15. Salah satu manfaat spektroskopi sinar-X adalah...
a. Menentukan jarak antar molekul
b. Identifikasi unsur-unsur ringan pada molekul gas di suatu ruang
c. Diagnostik organ tubuh bagian dalam
d. Komunikasi radio
e. Radar berfrekuensi tinggi
4.5 Umpan Balik
Apabila mampu menjawab minimal 8 (delapan) soal dengan benar, anda
dianggap sudah menguasai pokok bahasan ini.
Tindak Lanjut
Mahasiswa diharapkan mereview struktur Molekul pada Bab III untuk
mempelajari Bab V tentang spektroskopi Infra Merah.
4.6 Rangkuman
Emisi sinar-X dapat dihasilkan oleh tembakan-tembakan radiasi foton berupa
sinar gamma atau sinar-X dan dapat juga tembakan-tembakan pada sampel
menggunakan partikel berupa elektron atau proton energi tinggi. Radiasi sinar-X
65

yang kontinyu disebut Bremsstrahlung dan yang diskrit dinamakan sinar-X
karakteristik. Emisi sinar-X diskrit oleh transisi ke kulit K disebut sinar-X K
o
, K
|
, dan
K, transisi ke kulit L disebut L
o
dan L
|
dan seterusnya. Emisi sinar-X oleh sampel
yang ditembaki dengan sumber sinar-X, disebut sinar-X fluoresensi, dengan energi
yang diemisikan lebih rendah dari energi primernya. Dua proses yang berperan pada
absorpsi sinar-X adalah efek fotolistrik dan Compton, dengan proses yang paling
dominan adalah efek fotolistrik. Koefisien absorpsinya berkurang drastis dengan
bertambahnya energi sinar-X pangkat tiga. Batas-batas dinsing absorpsi K, L, M dan
sebagainya berkaitan dengan energi ikat elektron dalam pada kulit K, L, M dan
seterusnya. Spektroskopi fotoelektron merupakan perkembangan dari efek radiasi
sinar-X pada bahan. Identik dengan itu pula dapat dihasilkan elektron Auger.
Transisi elektron ke kulit K, menghasilkan energi berupa foton namun diserap oleh
elektron di tingkat atas, misal L, M dst. Elektron kulit L atau M ini terpental ke luar
dan disebut sebagai elektron Auger. Aplikasi spektroskopi, selain dapat digunakan
untuk identifikasi unsur-unsur dalam suatu bahan, juga berkembang laus di dunia
industri logam, elektronika, forensik dan juga dunia medis, misal untuk diagnostik
organ tubuh bagian dalam.
4.7 Kunci Jawaban Latihan dan Tes Formatif
Jawaban Tes Formatif
1. e 2. e 3. b 4. b 5. e 6. b 7. d 8. b 9. a 10. a 11. a 12.
C 13. c 14. e 15. c
DAFTAR PUSTAKA
1. Sune Svanberg, Atomic and Molecular Spectroscopy, Springer Verlag,
1991
2. Colin N. Banwell & Elaine M. McCash, Fundamental of Molecular
Spectroscopy, McGraw-Hill, 1994.
3. Anne P. Thorne, Spectrophysics, ELBS, 1988.
4. Haken & Wolf, Moleklphysik und Quantenchemie, Springer, 1997.
SENARAI
Elektron bagian dalam (inner): elektron pada kulit K, L, M atau N dalam
sebuah atom
66

Bremsstrahlung: radiasi sinar-X yang dihasilkan akibat elektron cepat
diperlambat oleh medan di sekitar inti. Energi foton ini bersifat kontinyu
Sinar-X Kharakteristik: radiasi sinar-X diskrit yang dihasilkan oleh transisi
elektron pada tingkat-tingkat energi dalam suatu atom atau unsur berat.
Sinar-X K
o
, K
|
: Sinar-X kharakteristik hasil dari transisi elektron dari kulit L ke
K (K
o
), dan dari kulit M ke K (K
|
)
Sinar-X L
o
, L
|
: Sinar-X kharakteristik hasil dari transisi elektron dari kulit M ke
L (L
o
), dan dari kulit N ke L (L
|
)
Sinar-X Fluoresensi: Sinar-X yang dihasilkan dari suatu sampel akibat
dibombardir oleh sinar-X lain. Sinar-X yang diemisikan lebih rendah dari sinar-
X sumber.
Absorpsi sinar-X: serapan intensitas sinar-X oleh suatu bahan
Tepi Absorpsi: batas energi absorpsi oleh akumulasi serapan intensitas sinar-
X dalam suatu bahan yang naik secara drastis akibat efek fotolistrik. Tepi
absorpsi bersesuaian dengan energi ikat elektron dalam pada kulit K, L, M
dan seterusnya.
Spektroskopi Fotoelektron: emisi elektron bagian dalam akibat suatu material
disinari dengan foton atau partikel energi tinggi
Elektron Auger: transisi elektron ke kulit dasar, mengakibatkan emisi elektron
di kulit bagian atasnya.