Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN


Diare secara epidemiologik biasanya didefinisiskan sebagai keluarnya tinja yang lunak
atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari. Namun para orangtua mungkin menggunakan
istilah yang berbeda-beda untuk menggambarkannya, tergantung pada apakah konsistensi
tinjanya lebih lunak, cair, berdarah, atau berlendir, atau adanya muntah. Sangat penting untuk
mengetahui istilah ini apabila menanyakan apakah anak menderita diare. Bayi yang
mendapatkan ASI penuh biasanya mengeluarkan tinja beberapa kali tinja yang lunak atau
agak cair setiap hari. Untuk hal tersebut, lebih praktis mendefinisikan diare sebagai
meningkatnya frekuensi tinja atau konsistensinya menjadi lebih lunak sehingga dianggap
abnormal oleh ibunya (biasanya lunak, ini jadi lebih lunak lagi).
1

Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair
dan berlangsung kurang dari 1 minggu. Penyebab terbanyak diare pada usia 0-2 tahun adalah
infeksi rotavirus.
2

Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak di negara
berkembang, dengan perkiraan 3,2 juta kematian tiap tahun pada balita. Secara keseluruhan
anak-anak ini mengalami rata-rata 3,3 episode diare per tahun, tetapi di beberapa tempat
dapat lebih dari 9 episode per tahun. Sekitar 80% kematian yang berhubungan dengan diare
terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. Penyebab utama kematian karena diare adalah
dehidrasi sebagai akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinjanya.
1,3

Diare adalah penyebab penting kekurangan gizi. Ini disebabkan karena adanya
kehilangan selera makan pada penderita diare sehingga dia makan lebih sedikit daripada
biasanya dan kemampuan menyerap sari makanan juga berkurang. Padahal kebutuhan sari
makanannya meningkat akibat dari infeksi.
2

Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah/menanggulangi
dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya
intolerasi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi
serta mengobati penyakit penyerta. Untuk melaksanakan terapi diare secara komprehensif,
efisien dan efekstif harus dilakukan secara rasional. Pemakaian cairan rehidrasi oral secara
umum efektif dalam mengkoreksi dehidrasi. Pemberian cairan intravena diperlukan jika
terdapat kegagalan oleh karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tak terkontrol dan
terganggunya masukan oral karena infeksi.
4,5

2

BAB II
LAPORAN KASUS

STATUS MEDIK PASIEN
I. IDENTITAS
1. Identitas Pasien
Nama : An. F
Umur : 20 bulan
TTL : Jakarta, 5 Juni 2011
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kalibaru Timur IV RT 011/013
No. RM : 00-15-17-89
Tanggal masuk RS : 27 Januari 2013
Pendidikan : Belum sekolah

2. Identitas Orangtua
Ayah
Nama : Tn. S
Umur : 33 tahun
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kalibaru Timur IV RT 011/013
Pekerjaan : Supir
Penghasilan : Rp. 2.000.000 per bulan

Ibu
Nama : Ny. E
Umur : 29 tahun
Agama : Islam
Alamat : Jl. Kalibaru Timur IV RT 011/013
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Penghasilan : Rp. 0 .-

Hubungan dengan orang tua : Anak kandung, anak pertama
3

II. ANAMNESIS
Dilakukan alloanamnesa bersama ibu pasien pada tanggal 29 Januari 2013 pukul
10.00 WIB di Bangsal anak kamar 404 RSUD Koja.

Keluhan Utama :
Diare sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit.

Keluhan Tambahan :
Muntah, bintik kemerahan di seluruh tubuh disertai gatal

Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD RSUD Koja diantar kedua orangtua nya, dengan keluhan utama
diare sejak 1 hari SMRS. Pasien diare lebih dari 10 kali/hari, tinja cair lebih banyak
daripada ampas (+), sekali BAB kurang lebih gelas aqua, warna tinja kekuningan,
berbau. BAB tidak disertai lendir dan darah. Diare disertai dengan muntah lebih dari
10x/hari, pasien muntah setiap kali diberikan makanan/ minuman, muntah sebanyak
gelas aqua berisi makanan dan minuman yang dimakan. Keluhan demam, sesak nafas,
batuk, pilek, tidak dialami oleh pasien. Tidak didapatkan adanya riwayat kejang.
Pasien mulai mengalami diare sejak kurang lebih 2 hari saat kondisi rumahnya
kebanjiran. Ibu pasien mengatakan sebelum diare, pasien tidak mengkonsumsi makanan
khusus, hanya makan-makanan yang biasa dia makan (nasi, lauk, sayur diselingi dengan
biskuit). Sumber air untuk makan, minum, dan memasak memakai air kemasan (air
galon), botol susu yang diberikan direbus terlebih dahulu dengan air hangat.
Saat hari pertama diare dan muntah (> 10 kali per hari), pasien tampak lemas, kelopak
mata sangat cekung, rewel dan terus menangis. Nafsu makan pasien berkurang, pasien
tidak mau minum susu, yang biasanya (saat tidak sakit) pasien minum susu formula
sebanyak > 5 gelas per harinya. Pasien tampak kehausan, dan ingin minum terus, tetapi
setiap kali makan atau minum pasien muntah. Sebelum diare pasien minum susu
formula dan makan-makanan seperti biasa. Buang air kecil pasien selama ini lancar,
berwarna kuning jernih, sehari 4-5 kali/hari, masing masing kurang lebih setengah gelas
4

aqua, saat diare BAK dalam sehari 2 kali/ hari. BAK terakhir tidak diketahui karena saat
itu pasien memakai pampers.
Ibu pasien belum pernah membawa pasien ke dokter sebelumnya, tidak pernah diobati
sendiri, di rumah ibu hanya memberikan minum susu formula dan asupan air putih untuk
pasien, namun selalu dimuntahkan setiap kali pasien minum.
Karena keluhan diare dan muntah-muntahnya tersebut, kemudian oleh ibu pasien
dibawa berobat ke IGD RSUD Koja Jakarta. Oleh dokter IGD pasien di anjurkan untuk
di rawat inap di ruangan. Saat ini pasien sudah di rawat inap di ruangan 404 selama 2
hari, pasien mendapatkan terapi: infus, obat suntik dan beberapa obat sirup, dengan obat-
obatan tersebut keluhan diare dan muntah pasien sudah menjadi lebih baik. Saat ini,
pasien hanya 3x diare sejak semalam, ampas (+) dan pasien muntah hanya sebanyak 1x.
Pada hari kedua pasien dirawat, bersamaan dengan diare dan muntahnya, terdapat bintik-
bintik kemerahan yang disertai gatal, hampir di seluruh badan pasien, kecuali pada
wajah, pasien mulai menggaruk dan mengeluh gatal terutama bila malam hari.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi - Difteria - Jantung -
Cacingan - Diare + Ginjal -
Demam Berdarah - Kejang - Darah -
Demam Thypoid - Kecelakaan - Radang paru -
Otitis - Varicela - Tuberkulosis -
Parotitis - Operasi - Morbili -

- 2 bulan SMRS pasien juga pernah mengalami diare yang disertai dengan demam dan
juga muntah, pasien hanya dibawa ke klinik setempat, diberi obat dan saat itu pasien
tidak sampai harus di rawat di RS karena diare nya. Setelah 3 hari meminum obat dari
dokter, pasien sudah tidak diare dan tidak demam.
- 1 minggu SMRS, pasien sudah mengalami keluhan bintik kemerahan yang disertai
gatal hampir di seluruh tubuh pasien, berobat ke puskesmas dan pasien diberi obat
salep dan obat minum, setelah beberapa hari kemerahan dan gatalnya menghilang,
5

namun setelah 1 hari dirawat di RSUD Koja, bersamaan dengan diarenya pasien
kembali mengalami bintik kemerahan disertai gatal pada hampir seluruh tubuh.



Riwayat Penyakit Keluarga :
Ibu pasien mengatakan dirumah tidak ada anggota keluarga yang mengalami diare
seperti anaknya, namun keluhan bintik kemerahan yang disertai gatal juga dirasakan oleh
ibu dan ayah pasien.
Riwayat penyakit jantung, paru, asma, dan alergi debu, obat obatan serta makanan di
dalam keluarga disangkal.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :
KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Tidak ditemukan kelainan
Perawatan antenatal Setiap bulan periksa ke bidan
KELAHIRAN Tempat kelahiran Rumah bidan
Penolong persalinan Bidan
Cara persalinan Spontan
Masa gestasi 9 bulan
Keadaan bayi
Berat lahir 3000 gram
Panjang badan 48 cm
Langsung menangis
Nilai Apgar tidak diketahui
Tidak ada kelainan bawaan

Kesan :
Riwayat kehamilan dan persalinan pasien baik (normal)

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :
Pertumbuhan gigi I : 9 bulan (Normal: 5-9 bulan)
Psikomotor
Tengkurap : Umur 3 bulan (Normal: 3-4 bulan)
Duduk : Umur 6 bulan (Normal: 6 bulan)
Berdiri : Umur 9 bulan (Normal: 9-12 bulan)
Berjalan : Umur 11 bulan (Normal: 13 bulan)
6

Bicara : Umur 13 bulan (Normal: 9-12 bulan)
Baca dan Tulis : Belum bisa

Kesan :
Riwayat pertumbuhan dan perkembangan pasien tidak ditemukan kelainan (normal)

Riwayat Makanan
Umur (bulan) ASI/PASI Buah / Biskuit Bubur Susu Nasi Tim
0 2 ASI + Susu Formula (SGM) - - -
2 4 Susu Formula (SGM) - - -
4 6 Susu Formula (SGM) - - -
6 8 Susu Formula (SGM)
10- 12 Susu Formula (SGM)
12 15 Susu Formula (SGM)
15 20 Susu Formula (SGM)

Umur diatas 1 tahun
Jenis Makanan Frekuensi dan Jumlah
Nasi/ pengganti Nasi putih/ bubur 3 x per hari, 4 sendok makan (tiap kali makan)
Sayur Sayur sop/ bayam 2-3 x per hari, 1 mangkuk kecil (tiap kali makan)
Daging Ayam 1 x per hari, potong (tiap kali makan)
Telur Telur rebus 1 x per hari butir (tiap kali makan)
Ikan Jarang, 2 minggu sekali, potong (tiap kali makan)
Tahu 3 x per hari, 1 potong (tiap kali makan)
Tempe 3 x per hari, 1 potong (tiap kali makan)
Susu (merk/ takaran) Susu SGM 5 botol per hari (1 botol: 120 ml)
Lain-lain Biskuit Regal, 2 x per hari, 1-2 keping (tiap kali makan)
Kesan : tidak ada kesulitan makan
Kebutuhan gizi pasien (sebelum sakit) sudah terpenuhi dengan cukup baik.

Riwayat Imunisasi :
vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur)
BCG Lahir
DPT / DT 2 bln 4 bln 6 bln
POLIO Lahir 2 bln 4 bln 6 bln 18 bln
CAMPAK 9 bln
HEPATITIS B Lahir 1 bln 6 bln 18 bln
MMR 18 bln
TIPA -
Kesan : Riwayat imunisasi dasar sudah lengkap
7

Riwayat Keluarga :
Ayah Ibu
Nama Tn. S Ny.E
Perkawinan Kedua Pertama
Umur 33 29
Pendidikan Terakhir SMA SMA
Agama Islam Islam
Suku Bangsa Betawi Betawi
Keadaan Kesehatan Baik Baik

Kesan : keadaan kesehatan kedua orang tua pasien saat ini dalam keadaan baik.

Riwayat Perumahan dan Sanitasi :
Kedua orang tua pasien dan pasien tinggal di sebuah rumah pribadi. Lingkungan padat,
agak jauh dari jalan raya. Ventilasi baik, cahaya matahari cukup, air mandi berasal
memakai air PAM sedangkan untuk makan, minum, dan memasak memakai air kemasan
( air galon).
Kesan : kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien cukup baik.


III. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 29 Januari 2013.

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis

Data Antropometri
Berat Badan : 9 kg
Tinggi Badan : 79 cm
Lingkar Kepala : tidak diukur
Lingkar Lengan Atas : tidak diukur

Status Gizi
BB/U : 9/11,6 x 100% = 77,58 % gizi kurang
TB/U : 79/84 x 100% = 94,04 % tinggi normal
BB/TB : 9/10,6 x 100% = 84,90 % gizi kurang
8

Berdasarkan data di atas, perhitungan status gizi dengan menggunakan kurva CDC 2000,
dapat disimpulkan bahwa status gizi pasien: gizi kurang.

Tanda Vital
Tekanan Darah : Tidak diperiksa
Nadi : 128 x/menit, reguler, isi cukup, simetris kanan kiri
Suhu : 36,9C
Pernapasan : 34 x/menit
Kulit : sawo matang, ikterik (-), sianosis (-), turgor baik, eritema (+)
hampir diseluruh tubuh, kecuali wajah
Kepala : Normosefali, rambut warna hitam distribusi merata
tidak mudah dicabut, ubun ubun besar datar (sudah menutup).
Mata : Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya
tidak langsung +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
kelopak mata cekung.
Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping
hidung -/-, sekret -/-
Telinga : Normotia, simetris kanan-kiri, serumen -/-, nyeri tekan -/-
Mulut : Bibir kering, sianosis (-), mukosa merah muda, trismus (-),
oral kandidiasis (-)
Tenggorokan : Tonsil T1-T1, tonsil dan faring tidak hiperemis
Leher : KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak
teraba membesar, trakea letak normal
Thorax
Paru
Inspeksi : Bentuk dada normal, pernafasan simetris, retraksi epigastrium -,
retrasi sela iga -/-.
Palpasi : Gerak dinding dada simetris
Perkusi : Sonor di semua lapang paru
Auskultasi : Suara napas vesikuler, ronkhi basah halus -/-, wheezing -/-
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di sela iga ke 5 garis mid klavuikula
Perkusi : Tidak dilakukan
9

Auskultasi : S1 nornal,S2 normal,

reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar
Palpasi : Supel, turgor baik, hepatospleenomegali (-)
Perkusi : Timpani di semua kuadran abdomen
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Ekstremitas : Atas : akral hangat, sianosis (-), edema (-), deformitas (-)
Bawah : akral hangat, sianosis (-), edema (-), deformitas (-),
capilary refill time < 2

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Jenis pemeriksaan 27/01/2013
(IGD)
28/1/2013 29/01/13 Nilai normal
Hematologi Lengkap
Hemoglobin 11,4 g/dl 11,3 g/dl 11,5 g/dl 12-16 g/dl
Leukosit 6.100/UL 8.200/UL 8.200/UL 4100-10.900/UL
Hematokrit 33% 34% 34% 36-46%
Trombosit 357.000/UL 334.000/UL 334.000/UL 140.000 440.000/UL
Eritrosit - 4,64 juta/UL 4,64 juta/UL 4,5 5,5 juta/UL
MCV - 74 fl 74 fl 80 100 fl
MCH - 26 fl 25 pg 26-34 pg
MCHC - 33 g/dl 33 g/dl 31 36 g/dl
Basofil - 1 % 1 % 0-2 %
Eosinofil - 0 % 0 % 0-5 %
Batang - 0 % 0 % 2-6 %
Segmen - 52 % 52 % 47-80 %
Limfosit - 11 % 31 % 13-40 %
Monosit - 15 % 15 % 2-11 %
LED - 11 mm/jam 11 mm/jam < 10 mm/jam
RDW - 14,1 34,1 11,6-14,8
Glukosa sewaktu 54 - - 68 100 mg/dL
Elektrolit
Na 135 134 134 135 147
K 3,38 3,1 3,1 3,4 5,0
Cl 20,4 109 107 96-108
Analisa gas darah (ASTRUP)
PH 7,04 - - 7,35 7,45
PCO
2
25,0 - - 32,0 45,0
PO
2
105,4 - - 95,0 -100,0
HCO
3
25,4 - - 21,0 28,0
BE - 8,3 - - -2,5 2,5
O2 Saturasi 98,9 - - 94,0 100,0

10

Pem. Faeces
Warna - Kuning - Kuning
Konsistensi - Lunak - Padat
Pus - Negatif - Negatif
Lekosit - 0 2 - < 10
Eritrosit - 0 2 - 0-1
Epitel - 2 + - 0-1
Amilum - Negatif - Negatif
Serat tumbuhan - Negatif - Negatif
Amoeba - Negatif - Negatif
Telor cacing - Negatif - Negatif
Lain-lain - Bakteri 1 + - Negatif
V. FOLLOW UP
Tgl S O A P
27/1/13
(IGD)
Diare (+), 1
hari SMRS,
frekuensi
10x/hari,
kuning, cair
(+), ampas (-),
lendir (-),darah
(-),
Muntah (+)
10x/ hari, isi
mkanan/
minunan

S: 37,2
0
C
RR: dyspneu (-)
N: dbn
Kepala: UUB menutup
Mata: sangat cekung
Thorax:
S1-2 reg, m(-), g (-); SN
ves Rh-/-, Wh -/-
Laboratorium:
GDS: 54 mg/ dL
Elektrolit: K
+
: 3,38 mEq
Astrup:
PH: 7,04; PCO
2
: 25,0;
PO
2
: 105,4; HCO
3
: 25,4;
BE: -8,3; O
2
sat: 98,9
Diare akut
dengan
dehidrasi
berat
Hipoglikemi
1. Bolus D40% 15 cc cek GDS
ulang
2. IVFD Kaen 3B 12 tpm
3. Inj Cefotaxim 2 x 300 mg iv
4. Inj Ondancentron 2 x 1,5 mg iv
5. Inj Ranitidin 2 x 15 mg iv
6. Syr interzinc 2 x 1 cth
7. Syr neo kalana 2 x 1 cth
8. Besok cek GDS ulang
28/1/13
(masuk
bangsal
anak
404)
Diare (+),
frekuensi
berkurang,
5x/hari,
kuning, lendir
(-), ampas (+),
darah (-),
Muntah (+) 5x,
isi mkanan/
minunan

S: 36,6
0
C
RR: 28x/menit
N: 126x/ menit
Kepala: UUB menutup
Mata: cekung
Thorax:
S1-2 reg, m(-), g (-); SN
ves Rh-/-, Wh -/-
Abdomen: tugor kulit baik
Ekstremitas: akral hangat,
CRT < 2
Laboratorium:
Elektrolit: K
+
: 3,1
Pem faeces: Bakteri +1
Diare akut
dengan
dehidrasi
ringan-sedang
1. IVFD Kaen 3B 900 cc/24 jam
2. Inj Cefotaxim 2 x 300 mg iv
3. Inj Ondancentron 3 x 1mg iv
4. Inj Ranitidin 2 x 15 mg iv
5. Syr Zinc pro 1x1 Cth
29/1/13 Diare (+),
frekuensi
berkurang,
3x/hari,
kuning, lendir
(-), ampas (+),
S: 36,6
0
C
RR: 28x/menit
N: 126x/ menit
Kepala: UUB menutup
Mata: cekung
Thorax:
Diare akut
dengan
dehidrasi
ringan-sedang
1. IVFD Kaen 3B 900 cc/ 24 jam
2. Inj Cefotaxim 2 x 300 mg iv
3. Inj Ondancentron 3 x 1mg iv
4. Inj Ranitidin 2 x 15 mg iv
5. Syr Zinc pro 1x1 Cth
6. Konsul ke dr. Sp, KK
11


VI. RESUME
Anamnesis:
Anak laki-laki, usia 20 bulan, berat badan: 9 kg, datang dengan keluhan diare sejak 1 hari
SMRS. Diare lebih > 10 kali/hari, cair(+), ampas (+), sekali BAB kurang lebih gelas aqua,
warna tinja kekuningan, berbau. Disertai muntah > 10x/hari, muntah sebanyak gelas aqua
tiap kali diberikan makanan/ minuman, berisi makanan dan minuman yang dimakan. Hari
pertama diare (>10 x/hari) pasien tampak lemas, kelopak mata sangat cekung, rewel dan terus
menangis. Nafsu makan pasien berkurang, pasien tidak mau minum susu. Saat diare BAK
dalam sehari hanya 2 kali/ hari. Karena keluhan diare dan muntah-muntahnya tersebut pasien
di rawat inap di bangsal anak, dan saat ini pasien sudah di rawat inap di ruang 404 selama 2
hari, pasien mendapatkan terapi: infus, obat suntik dan beberapa obat sirup, dengan obat-
obatan tersebut keluhan diare dan muntah pasien sudah menjadi lebih baik. Saat ini, pasien
hanya 3x diare sejak semalam, ampas (+) dan pasien muntah hanya sebanyak 1x, pasien
juga mengalami bintik-bintik kemerahan disertai gatal, hampir di seluruh badan, gatal
terutama pada malam hari.
Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Laboratorium
Keadaan umum: tampak sakit sedang Hb: 11,5 gr/dL
Kesadaran: compos mentis K: 3,1
darah (-),
Muntah (+) 1x,
isi mkanan/
minunan
Kemerahan
dan gatal di
seluruh tubuh
S1-2 reg, m(-), g (-); SN
ves Rh-/-, Wh -/-
Abdomen: tugor kulit baik
Ekstremitas: akral hangat,
CRT < 2
Laboratorium:
Elektrolit: K
+
: 3,1

30/1/13 Diare (+),
frekuensi
berkurang,
1x/hari,
kuning, lendir
(-), ampas (+),
darah (-)
Muntah (-)
Kemerahan
dan gatal di
seluruh tubuh
berkurang
S: 36,6
0
C
RR: 28x/menit
N: 126x/ menit
Kepala: UUB menutup
Mata: cekung
Thorax:
S1-2 reg, m(-), g (-); SN
ves Rh-/-, Wh -/-
Abdomen: tugor kulit baik
Ekstremitas: akral hangat,
CRT < 2

Diare akut
dengan
dehidrasi
ringan-sedang
Suspect
skabies
(jawaban
konsul Sp,
KK)
1. IVFD Kaen 3B 900 cc/ 24 jam
2. Inj Cefotaxim 2 x 300 mg iv
3. Inj Ondancentron 3 x 1mg iv
4. Inj Ranitidin 2 x 15 mg iv
5. Syr Zinc pro 1x1 Cth
6. Pasien boleh pulang
Terapi peroral untuk di rumah:
- Syr zinc kid 1x1 cth
- Asam salicyl
- Ceterizine 2x1/2 tab
Pasien diminta kontrol kembali
ke poli anak dan poli kulit
12

Status Gizi: Gizi kurang (BB/TB: 9kg/ 79 cm) Pem Faeces: bakteri +1 (28/01/13)
TTV: S: 36,9
0
C; N: 128 x/menit; RR: 34x / menit GDS: 54 mg/dL (27/01/13)
Kepala: normocephal, UUB menutup Astrup: (27/01/13)
Mata: CA -/-, SI-/-, kelopak: cekung +/+ PH: 7,04
Thorax: SI-2 reg m(-), g (-); SN vesk Rh -/-, Wh -/-; PCO
2:
25,0
Abdomen: supel, datar, BU (+) PO
2:
105,4
Ekstremitas: akral hangat, edema -/-, CRT: <2 HCO
3:
25,4
BE: - 8,3
O2 saturasi: 98,9


VII. DIAGNOSIS BANDING
a. Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang ec infeksi bakteri
b. Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang ec Malabsorbsi Karbohidrat
c. Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang ec Malabsorbsi Protein
d. Suspect skabies


VIII. DIAGNOSIS KERJA
a. Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang ec infeksi bakteri
b. Suspect skabies

IX. PENATALAKSANAAN (29 Januari 2013)
Medikamentosa
1. IVFD KaEn 3B 900cc/jam
2. Inj Ceftizoxim 2 x 300 mg i.v
3. Inj Ondancentron 2 x 1,5 mg iv
4. Inj Ranitidine 2 x 15 mg i.v
5. Syr Zinc pro 1x cth I p.o

Non medikamentosa
1. Tirah baring
2. Edukasi kepada ibu, diantarannya adalah:
- Usahakan pasien mengkonsumsi makanan rendah serat & tidak merangsang usus
sementara waktu, dapat diberikan buah-buahan terutama pisang
- Berikan pasien susu formula rendah Laktosa sampai kondisi stabil
13

- Memperhatikan kebersihan alat makan/minum juga kebersihan makanan/ minuman
yang di konsumsi pasien, serta memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar.
- Ibu diminta kembali membawa anaknya ke Puskesmas/ RS, bila didapatkan
demam, tinja berdarah, makan/ minum sedikit, sangat haus, diare makin sering atau
belum membaik dalam 3 hari
3. Untuk keluhan kulitnya, edukasikan kepada ibu pasien untuk membawa anaknya
berobat ke poli kulit setelah pasien pulang dari RS.


X. PROGNOSIS
Quo Ad Vitam : ad bonam
Quo Ad Functionam : ad bonam
Quo Ad Sanationam : dubia ad bonam

14

BAB III
ANALISA KASUS


Pada kasus diatas, pasien mengalami diare akut. Berdasarkan anamnesis pasien
dikeluhkan mencret 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Frekuensi mencret 10 kali selama 24
jam, warna kuning, cair (+), ampas (-), lendir (-), darah (-), volume gelas tiap mencret.
Mencret disertai dengan muntah 10 kali selama 24 jam, isi muntah makanan/ minuman yang
dimakan. Saat dilakukan pemeriksaan, keluhan mencret pasien sudah berkurang, 3x/hari, cair
(+), ampas (+), dan muntah hanya 1x/hari. Gejala-gejala diatas sesuai dengan definisi diare
akut, dimana diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali per hari disertai perubahan
konsisitensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir darah dan dengan atau tanpa muntah,
yang berlangsung kurang dari satu minggu.
Pada saat diare berlangsung terutama di hari pertama pasien sakit, BAK pasien menjadi
lebih sedikit, pasien rewel dan susah makan ataupun minum. Pasien dikatakan susah minum,
hal ini dapat dikarenakan adanya gangguan pada mekanisme transport air dan elektrolit di
usus halus.
Diare akut pada kasus ini kemungkinan disebabkan akibat adanya invasi bakteri yang
masuk dan menyerang mukosa usus halus, dimana akibat invasi bakteri dapat menyebabkan
terganggunya fungsi absorbsi usus halus (vilus mengalami atrofi dan tidak dapat
mengabsorbsi cairan dan makanan), cairan dan makanan yang tidak terserap akan
meningkatkan koloid osmotik usus dan menyebabkan isi rongga usus berlebihan sehingga
dapat merangsang peristaltik usus yang menyebabkan terjadinya diare.
Kemungkinan penyebab diare pada pasien ini adalah karena infeksi bakteri, hal tersebut
dengan ditemukannya lekosit 0-2, dan juga adanya bakteri +1 pada pemeriksaan faeces.
Sedangkan kemungkinan penyebab diare lain/ non infeksi (malabsorbsi karbohidrat atau
protein) dapat disingkirkan karena dari anamnesis, didapatkan pasien sudah mendapatkan
susu formula sejak usia 2 bulan dan tidak terjadi diare, juga dikatakan pasien tidak
mengkonsumsi makanan jenis tertentu sebelum pasien diare, hanya makan makanan seperti
yang biasa dimakan pasien.
Muntah pada pasien dikarenakan terjadi akibat iritasi pada lambung yang menyebabkan
gastritis akut. Pada gastritis terjadi peningkatan sekresi asam lambung sehingga
mengakibakan pasien muntah.
15

Pada diare, terjadi sekresi air dan elektrolit kedalam usus halus. Hal ini terjadi bila
absorbsi natrium oleh vili gagal sedangkan sekresi klorida di sel epitel berlangsung terus atau
meningkat. Akhirnya terjadi sekresi cairan yang menyebabkan kehilangan air dan elektrolit
dari tubuh sebagai tinja cair dan dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi. Pada diare infeksi,
perubahan ini terjadi karena adanya rangsangan pada mukosa usus oleh toksin bakteri seperti
Escerichia coli dan Vibrio cholera atau virus.
Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan,
sedang dan berat, sedangkan berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi dehidrasi
hipotonik (Kadar Na
+
< 130mEq), isotonik (Kadar Na
+
: 130 150 mEq) dan hipertonik
(Kadar Na
+
> 130mEq). Penilaian derajat dehidrasi ringan, sedang atau berat berdasarkan
pada kriteria WHO ataupun score Maurice King. Pada dehidrasi berat, volume darah
berkurang sehingga terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala-gejalanya yaitu denyut
jantung menjadi cepat, denyut nadi cepat, kecil dan tekanan darah menurun, penderita
menjadi lemah, kesadaran menurun (apatis, somnolen, dan kadang-kadang sampai
soporokomateus). Akibat dehidrasi, diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). Bila sudah
ada asidosis metabolik, penderita akan tampak pucat dengan pernapasan yang cepat dan
dalam (pernapasan kussmaul).
Pasien ini termasuk kedalam dehidrasi ringan-sedang, hal tersebut dapat ditegakan
berdasarkan kriteria WHO ataupun score Maurice King, gejala-gejala yang ditemukan pada
pasien, diantaranya: pada pasien ini, pasien menjadi rewel/ gelisah, tampak haus, dan pada
pemeriksaan fisik didapatkan adanya kelopak mata cekung, mukosa bibir dan lidah sedikit
kering. Gejala-gejala tadi sesuai dengan derajat dehidrasi ringan-sedang menurut WHO.
Tanpa dehidrasi/
minimal
Ringan - Sedang Berat
1. (-) tanda utama
dan tanda
tambahan
2. KU baik, CM
3. TTV: dbn
4. UUB Normal,
mata tidak cekung,
air mata (+),
mukosa mulut dan
bibir tidak kering
5. Turgor kulit baik,
BU normal
6. Akral hangat
1. 2 tanda utama + 2
tanda tambahan
2. KU gelisah/ rewel
3. UUB sedikit cekung,
mata sedikit cekung,
air mata <<, mukosa
mulut dan bibir
sedikit kering
4. Turgor kulit <<
5. Akral hangat
1. 2 tanda utama + 2
tanda tambahan
2. KU: lemah, letargi/
koma
3. UUB sangat cekung,
mata sangat cekung,
air mata (-), mukosa
mulut dan bibir
sangat kering
4. Anak malas minum /
tidak bisa minum
5. Turgor kulit buruk
6. Akral dingin
16

Pada pasein ini terjadi dehidrasi ringan-sedang karena didapatkan dua tanda utama
ditambah dua atau lebih tanda tambahan, yaitu keadaan umum gelisah atau cengeng, mata
sedikit cekung, mukosa mulut dan bibir sedikit kering dan akral hangat. Pada pasien ini juga
memenuhi kriteria dehidrasi sedang menurut score Maurice King, (Nilai 0 2: ringan; 3 6:
sedang; 7 12: berat), pada pasein ini didapatkan score nya adalah 4 (dehidrasi sedang)
Bagian yang
diperiksa
Nilai untuk gejala yang ditemukan
0 1 2
KU Sehat gelisah/apatis Mengigau, koma, syok
Turgor Normal Turun Sangat turun
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Nafas 20 30 30 40 40 60
Mulut Normal Kering kering biru
Nadi Kuat > 120 Sedang 120 140 Lemah >140

Pada pemeriksaan fisik pasien ini didapatkan status gizi: gizi kurang, hal tersebut
disebabkan karena pada keadaan diare, makanan tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan
baik akibat adanya hiperperistaltik usus dimana terjadi gangguan absorbsi makanan, cairan
dan elektrolit yang mengakibatkan kehilangan cairan dan elektrolit melalui tinja sehingga
mengakibatkan terjadinya dehidrasi, ditambah lagi pada pasien terdapat muntah, dan adanya
kesulitan makan ataupun minum yang menyebabkan kurangnya asupan makanan pada pasien.
Sebelum pasien sakit, pasien tidak mengalami adanya kesulitan makan ataupun minum.
Pada pemeriksaan Laboratorium saat pasien di IGD (27/01/13), didapatkan adanya
hipoglikemi (GDS: 54 mg/dL), hal tersebut kemungkinan terjadi karena asupan
makanan/minuman yang tidak adekuat selama pasien sakit. Kondisi hipoglikemi tersebut
dikoreksi dengan terapi Dextrose 40% 15 cc diberikan secara bolus intravena, namun tidak
dilakukan pemeriksaan ulang GDS post terapi dextrose.
Pada pemeriksaan analisa gas darah, PH:7,04; PCO2: 25,0, PO2: 105,4 dan BE: -8,3,
menandakan terdapatnya asidosis metabolik pada pasien ini, namun pada tatalaksana di IGD
pasien ini tidak mendapatkan koreksi terhadap asidosis metaboliknya, pada keadaan asidosis
metabolik seperti keadaan pasien tersebut, sebaiknya dilakukan koreksi dengan pemberian
natrium bikarbonat secara bolus intravena, dimana pemberiannya adalah sebanyak:
HCO3: 0,3 x BB x BE = 0,3 x 9 x 8,3 = 22,4 / 2 = 11,2
2
17

Pemeriksaan elektrolit Kalium pada pasien ini kurang dari normal: 3,1 mEq/L, namun
tidak perlu dilakukan koreksi dengan memberikan KCL drip intravena, karena keadaan
kekurangan kalium pada pasien sudah dapat terkoreksi dengan pemberian cairan KaEN 3B,
dimana tiap 500 cc KaEN 3B mengandung 10 mEq K, pasien mendapatkan IVFD KaEN 3B
900 cc = 18 mEq K
+
, dimana kebutuhan K
+
perhari pasien adalah: 19,4 mEq, didapatkan dari:
0,4 x BB x K = 0,4 x 9 x 0,4 = 1,44 ditambah dengan 2mEq/kgBB= 18 mEq. Diberikan KCl
drip intravena hanya apabila kadar kalium < 2,5 mEq/L.
Pasien perlu dirawat inap di rumah sakit agar mendapat penangan, tindakan dan
perawatan secara komprehensif. Pada diare dengan dehidrasi ringan-sedang memerlukan
rehidrasi yang sesuai, dan juga untuk mencegah terjadinya dehdrasi berat. Pasien mengalami
susah minum kurang mampu mendapat intake cairan dari oral sehinggal dibutuhkan masukan
cairan intravena.
Pengobatan yang diberikan pada pasien ini diantaranya adalah:
- IVFD KaEn 3B 900cc/jam
KaEN 3B dapat diberikan untuk terapi rehidrasi pada pasien dengan dehidrasi ringan-
sedang. Pemberian KaEn 3B pada pasien ini dipertimbangkan karena KaEn 3B lebih
banyak mengandung Kalium dibandingan dengan jenis cairan yang lain, yang mana
diketahui pada pemeriksaan elektrolit, terjadi penurunan kalium pada pasien. Kandungan
KaEn 3B diantaranya: Na: 50 mEq, K: 10 mEq, Cl: 50 mEq, laktat: 20 mEq, glukosa: 27
gr. Dosis yang diberikan pada pasien ini berdasarkan rumus terapi cairan Holiday-
segar, dimana untuk berat badan 10 kg pertama, cairan yang diberikan adalah sebanyak:
100 cc/kgBB/hari, jadi pada pasien dgn berat badan 9 kg, diberikan IVFD KaEn 3B
900cc/ 24 jam= 12 tpm.
- Inj Ceftizoxim 2 x 300 mg i.v
Pemberian antibiotik dipertimbangkan karena diperkirakan penyebab diare adalah karena
bakteri. Cefotaxime adalah antibiotik sefalosporin generasi ketiga yang memiliki
aktivitas anti bakteri. Aktivitas bakterisidal didapat dengan cara menghambat sisntesis
dinding sel. In vitro cefotaxime memiliki aktivitas luas terhadap bakteri gram positif dan
gram negatif. Cefotaxime memiliki stabilitas yang sangat tinggi terhadap -laktamase,
baik itu penisilinase dan sefalosporinase yang dihasilkan bakteri gram-positif dan gram-
negatif. Selain itu Cefotaxime merupakan penghambat poten terhadap bakteri gram
negatif tertentu yang menghasilkan -laktamase. Dosis pemberian ceftizoxim iv: 50-100
mg/kgBB dibagi dalam 2 dosis.
18

- Inj Ondancentron 2 x 1,5 mg iv
Ondansetron adalah antagonis reseptor 5HT3 yang poten dan selektif yang dapat
menghambat kejadian mual dan/atau muntah yang disebabkan karena pemberian obat
atau tindakan yang bersifat emetogenik serta mual dan. Efek anti-muntahnya dapat
terjadi akibat penghambatan reseptor serotonin baik pada perifer maupun sentral. Pada
pasien ini diberikan terapi ondancentron iv untuk mengatasi mual muntah pada pasien
yang dapat memperberat terjadinya dehidrasi. Dosis ondancentron iv: 0,1 mg/kgBB,
dibagi dalam 2 dosis.
- Inj Ranitidine 2 x 15 mg i.v
Ranitidine adalah suatu histamin antagonis reseptor H2 yang menghambat kerja histamin
secara kompetitif pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung.
Pada pemberian i.m./i.v. kadar dalam serum yang diperlukan untuk menghambat 50%
perangsangan sekresi asam lambung adalah 3694 mg/mL. Kadar tersebut bertahan
selama 68 jam. Pada pasien ini diberikan ranitidin iv karena dengan mengurangi sekresi
asam lambung, dapat juga mengurangi mual-muntah pada pasien yang kemungkinan
disebabkan akibat iritasi usus oleh asam lambung. Dosis ranitidine iv: 2 mg/kgBB dibagi
dalam 2 - 3 dosis.
- Syr Zinc pro 1x cth I p.o
Zinc termasuk mikronutrient yang mutlak dibutuhkan untuk memelihara kehidupan yang
optimal. Meski dalam jumlah yang sangat kecil, dari segi fisiologis, zinc berperan untuk
pertumbuhan dan pembelahan sel, anti oksidan, perkembangan seksual, kekebalan
seluler, adaptasi gelap, pengecapan, serta nafsu makan. Zinc juga berperan dalam sistem
kekebalan tubuh dan merupakan mediatot potensial pertahanan tubuh terhadap infeksi.
Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut didasarkan paa efeknya
terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses
perbaikan epitel saluran cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat
meningkatkan absorbsi air dan elektrolit oleh usus halus, meningkatkan kecepatan
regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah brush bordrer apical, dan meningkatkan
kecepatan regenerasi respon imun yang mempercepat pembersihan patogen dari usus.
Dikatakan juga, dengan pemberian zinc dapat menurunkan frekuensi dan volume BAB
sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi. Zinc diberikan selama 10-14 hari
berturut-turut meskipun anak telah sembuh dari diare.
Perlu juga di edukasikan pada ibu agar pasien diberikan makanan rendah serat & tidak
merangsang usus sementara waktu, dapat diberikan buah-buahan terutama pisang, berikan
19

pasien susu formula rendah laktosa sampai kondisi stabil. Edukasikan pada Ibu bahwa diare
dapat dicegah dengan memperhatikan kebersihan alat makan/minum juga kebersihan
makanan/ minuman yang di konsumsi pasien, ibu mencuci tangan sebelum memberikan
makanan kepada pasien, serta memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar. Ibu diminta
kembali membawa anaknya ke Puskesmas/ RS, bila didapatkan demam, tinja berdarah,
makan/ minum sedikit, sangat haus, diare makin sering atau belum membaik dalam 3 hari.
Untuk keluhan kulitnya, edukasikan kepada ibu pasien untuk membawa anaknya berobat ke
poli kulit setelah pasien pulang dari RS.
Prognosis pada pasien ini, ad vitam: ad bonam, karena keadaan diare pada pasien ini
hanya mengakibatkan dehidrasi ringan-sedang dan langsung mendapatkan penanganan yang
cepat dan adekuat, sehingga tidak membahayakan nyawa pasien; ad sanationam: dubia ad
bonam, kemungkinan diare pada pasien ini dapat kambuh / terjadi kembali, karena pasien ini
tidak mengkonsumsi asi ekslusif, kebiasaan ibu nya yang kurang baik (susu botol tidak
menggunakan tutup); ad fungsionam: ad bonam, karena pada pasien ini hanya terjadi diare
akut yang dengan terapi yang tepat dapat mengembalikan keadaan mukosa usus berfungsi
seperti normal.












20

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
DIARE AKUT

A. Definisi
Diare akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali perhari disertai
perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang
berlangsung kurang dari satu minggu.
1
Diare akut menyebabkan dehidrasi, dan bila masukan
makanan kurang dapat mengakibatkan kurang gizi. Kematian yang terjadi disebabkan karena
adanya dehidrasi. Penyebab terpenting diare pada anak-anak adalah Shigella, Campylobacter
jejuni dan Cryptosporidium, Vibrio cholera, Salmonella, E. coli, rotavirus.
2


B. Epidemilogi
Kuman penyebab diare menyebar masuk melalui mulut antara lain melalui makanan dan
minuman yang tercemar tinja atau yang kontak langsung dengan tinja penderita. Terdapat
beberapa perilaku khusus meningkatkan resiko terjadinya diare yaitu tidak memberikan ASI
secara penuh 4-6 bulan pertama kehidupan, menggunakan botol susu yang tercemar,
menyimpan makanan masak pada suhu kamar dalam waktu cukup lama, menggunakan air
minuman yang tercemar oleh bakteri yang berasal dari tinja, tidak mencuci tangan setelah
buang air besar, sesudah membuang tinja atau sebelum memasak makanan, tidak membuang
tinja secara benar.
1
Faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap diare antara lain tidak
memberikan ASI sampai umur 2 tahun, kurang gizi, campak, imunodefisiensi /
imunosupressif. Umur Kebanyakan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan, insiden
paling banyak pada umur 6 10 bulan (pada masa pemberian makanan pendamping).
1

Variasi musiman pola musim diare dapat terjadi melalui letak geografi. Pada daerah sub
tropik, diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas sedangkan diare karena
virus (rotavirus) puncaknya pada musim dingin. Pada daerah tropik diare rotavirus terjadi
sepanjang tahun, frekuensi meningkat pada musim kemarau sedangkan puncak diare karena
bakteri adalah pada musim hujan. Kebanyakan infeksi usus bersifat asimtomatik / tanpa
gejala dan proporsi ini meningkat di atas umur 2 tahun karena pembentukan imunitas aktif.
8

Setiap tahun diperikirakan lebih dari satu milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta
kasus kematian sebagai akibatnya
1
. Diperkirakan angka kejadian di negara berkembang
berkisar 3,5 7 episode per anak pertahun dalam 2 tahun pertama kehidupan dan 2 5
episode per anak per tahun dalam 5 tahun pertama kehidupan
8
.
21

C. Etiologi
Terdapat beberapa macam penyebab diare antara lain sebagai berikut
1,2,3

1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama
diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter,
Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus,
Astrovirus, dll), infeksi parasit (E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C.
albicans).
b. Infeksi parenteral yaitu infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan
diare seperti otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan
sebagainya.
2

2. Faktor Malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat yaitu disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa),
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Intoleransi laktosa
merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi dan anak. Di samping itu dapat
pula terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
3. Faktor Makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan alergi terhadap
jenis makanan tertentu.
4. Faktor Psikologis
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).
22


Gambar 1. Bagan Penyebab penyakit diare
D. Patofisiologi
Terdapat beberapa mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare yaitu:
2,4

1. Gangguan osmotik
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik
dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam
lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk
mengeluarkannya sehingga timbul diare.
4
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan
sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan selanjutnya timbul diare karena
peningkatan isi lumen usus.
2

3. Gangguan motilitas usus
23

Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap
makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare.
4


E. Manifestasi Klinis
Pada Diare cair akut dapat ditemukan gejala dan tanda-tanda sebagai berikut
2

1. BAB lebih cair/encer dari biasanya, frekwensi lebih dari 3kali sehari
2. Apabila disertai darah disebut disentri (diare akut invasif)
3. Dapat disertai dengan muntah, nyeri perut dan panas
4. Pemeriksaan fisik :
Pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan tanda utama, yaitu kesadaran, rasa haus,
turgor kulit abdomen. Perhatikan juga tanda tambahan, yaitu ubun-ubun besar cekung
atau tidak, mata cekung atau tidak, ada atau tidak adanya air mata, kering atau tidaknya
mukosa mulut, bibir dan lidah. Jangan lupa menimbang berat badan.
Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai kriteria sebagai berikut:
3

a. Dehidrasi ringan (kehilangan cairan < 5% berat badan):
1) Tidak ditemukan tanda utama dan tanda tambahan
2) Keadaan umum baik, sadar
3) Tanda vital dalam batas normal
4) Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada, mucosa muluut
dan bibir basah
5) Turgor abdomen baik, bising usus normal
6) Akral hangat.
Pasien dapat dirawat di rumah, kecuali apabila terdapat komplikasi lain (tidak mau
minum, muntah terus-menerus, diare frekuen).
1

b. Dehidrasi sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)
1) Apabila didapatkan dua tanda utama ditambah dua atau lebih tanda tambahan
24

2) Keadaan umum gelisah atau cengang
3) Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata kurang, mucosa
mulut dan bibir sedikit kering
4) Turgor kurang
5) Akral hangat
Pasien harus rawat inap
1

c. Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)
1) Apabila didapatkan dua tanda utama ditambah dengan dua atau lebih tanda
tambahan
2) Keadaan umum lemah, letargi atau koma
3) Ubun-ubun sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak ada, mucosa mulut
dan bibir sangat kering
4) Anak malas minum atau tidak bisa minum
5) Turgor kulit buruk
6) Akral dingin
Pasien harus rawat inap
1

Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus,
hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling fatal dari diare yang
berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang
menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik
yang berlanjut. Seseorang yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang,
mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta
suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.
2

Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat
berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga
frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan
dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak
25

terukur. Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena
kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul
oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus
ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang diperlukan pada pasien dengan dehidrasi atau toksisitas berat
atau diare yang sudah berlangsung selama beberapa hari. pemeriksaan tersebut meliputi
pemeriksaan darah tepi lengkap (hemoglobin, hematokrit, leukosit, hitung jenis leukosit),
kadar elektrolit serum, ureum dan kreatinin, pemeriksaan feces, pemeriksaan Enzym-linked
Immunoabsorbent Assay (ELISA) untuk mendeteksi giardiasis, test serologi amebiasis, dan
foto rontgen abdomen.
9

Pasien dengan diare karena virus, biasanya memiliki jumlah dan hitung jenis leukosit
yang normal atau limfositosis, pasien dengan infeksi bakteri terutama bakteri yang invasive
ke mukosa, memiliki leukositosis dengan sel darah putih muda.
1

Ureum dan kreatinin diperiksa untuk memeriksa adanya kekurangan volume cairan dan
mineral tubuh. Pemeriksaan feces dilakukan untuk melihat adanya leukosit dalam feces yang
menunjukkan adanya infeksi bakteri, telur cacing, dan parasit dewasa.
1


Pemeriksaan Feces
1. Dapat disertai darah atau lendir
2. PH asam/basa
3. Leukosit > 5/LBP
4. Biakan dan test sensitivitas untuk etiologi bakteri/ terapi
5. ELISA (bila memungkinkan, untuk etiologi viruz)
4

Pemeriksaan Darah
1. Dapat terjadi gangguan elektrolit atau gangguan asam bassa
2. Analisa gas darah
4


26

G. Diagnosis
Diagnosis ditegakan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang

H. Diagnosis Banding
Diagnosis banding diare perlu dibuat agar dapat memberikan pengobatan yang lebih baik
dan tepat. Diagnosis banding untuk diare akut pada anak adalah:
9,10

1. Meningitis
2. Bacterial sepsis
3. Pneumonia
4. Otitis media akut
5. Infeksi saluran kemih

I. Tata Laksana
2,3,10,11

Menurut ketentuan World Health Organization (WHO) dalam revisi keempat tahun 2008
mengenai tatalaksana diare akut pada anak menyebutkan, tujuan pengobatan diare akut pada
anak adalah :
10
1. Pencegahan dehidrasi bila tidak dijumpai tanda tanda dehidrasi.
2. Pengobatan dehidrasi bila dijumpai tanda tanda dehidrasi.
3. Mencegah timbulnya kurang kalori protein dengan cara memberikan makanan selama
diare berlangsung dan setelah diare berhenti.
4. Mengurangi lama dan beratnya diare dan mengurangi kekambuhan diare pada hari hari
mendatang dengan memberikan zink dosis 10 mg sampai 20 mg selama 10 sampai 14
hari.
Prinsip Penatalaksanaan Diare Akut
Apabila derajat dehidrasi yang terjadi akibat diare sudah di tentukan, baru kemudian
menentukan tatalaksana yang akan diterapkan secara konsisten.
Terdapat lima lintas tatalaksana diare, yaitu:
1. Rehidrasi
2. Dukungan nutrisi
3. Supplement zinc
27

4. Antibiotik selektif
5. Edukasi orang tua
Penatalaksanaan diare cair akut tanpa dehidrasi
2

Penanganan lini pertama pada diare cair akut tanpa dehidrasi antara lain sebagai berikut:
a. Memberikan kepada anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah
dehidrasi. Dapat kita gunakan cairan rumah tangga yang dianjurkan, seperti oralit,
makanan cair (seperti sup dan air tajin) dan bila tidak ada air matang, kita dapat
menggunakan larutan oralit untuk anak. Pemberian larutan diberikan terus semau naak
hingga diare berhenti. Volume cairan untuk usia kurang dari 1th : 50-100cc, untuk usia 1-
5
th
mendapat 100-200cc, untuk usia lebih dari 5
th
dapat diberikan semaunya.
b. Memberikan tablet zinc. Pemberian tablet zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut
meskipun anak telah sembuh dari diare. Dosis zinc untuk anak bervariasi, untuk anak usia
dibawah 6 bulan sebesar 10mg (1/2 tablet) perhari, sedangkan untuk usia diatas 6 bulan
sebesar 20 mg perhari. Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anak
telah sembuh dari diare.
c. Memberikan anak makanan untuk mencegah kekurangan gizi.
d. Membawa anak kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau
menderita sebagai berikut buang air besar cair lebih sering, muntah terus menerus, rasa
haus yang nyata, makan atau minum sedikit, demam, dan tinja berdarah.
e. Anak harus diberi oralit dirumah
Formula oralit baru yangberasal dari WHO dengan komposisi sevagai berikut:
Natrium : 75 mmol/L
Klorida : 65 mmol/L
Glukosa, anhydrous: 75 mmol/L
Kalium :20 mmol/L
Sitrat :10 mmol/L
Total osmolaritas :245 mmol/L
28

Ketentuan pemberian oralit formula baru :
Beri ibu 2 bungkus oralit formula baru, larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 1 L air
matang, untuk persediaan 24 jam, berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar
dengan ketentuan untuk anak usia kurang dari 2tahun berikan 50-100 ml setiap kali buang air
besar, sedangkan untuk ubtuk anak berumur 2 tahun atau lebih berikan 100-200 ml tiap kali
buang air besar. Jika dalam waktu 24jam persediaan oralit masih tersisa, maka sisa larutan itu
harus dibuang.

Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang
Rehidrasi dapat menggunakan oralit 75cc/kgBB dalam 3 jam pertama dilanjutkan
pemberian kehilangan cairan yang sedang berlangsung sesuai umur seperti diatas setiap kali
buang air besar.

Diare cair akut dengan dehidrasi berat
Anak-anak dengan tanda-tanda dehidrasi berat dapat meninggal dengan cepat karena
syok hipovolemik, sehingga mereka harus mendapatkan penanganan dengan cepat.
Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi. Ada beberapa hal yang penting diperhatikan
agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan akurat, yaitu:
2,11

a. Menentukan cara pemberian cairan
Penggantian cairan melalui intravena merupakan pengobatan pilihan untuk dehidrasi
berat, karena cara tersebut merupakan jalan tercepat untuk memulihkan volume darah
yang turun. Rehidrasi IV penting terutama apabila ada tanda-tanda syok hipovolemik
(nadi sangat cepat dan lemah atau tidak teraba, kaki tangan dingin dan basah, keadaan
sangat lemas atau tidak sadar). Cara lain pemberian cairan pengganti hanya boleh bila
rehidrasi IV tidak memungkinkan atau tidak dapat ditemukan disekitarnya dalam waktu
30 menit.
29

b. Jenis cairan yang hendak digunakan.
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena tersedia cukup
banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila dibandingkan dengan kadar
kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya
ditambahkan dengan 1 ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik.
Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk mencegah
dehidrasi dengan segala akibatnya.
c. Jumlah cairan yang hendak diberikan.
Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus sesuai dengan
jumlah cairan yang keluar dari badan. Jika memungkinkan, penderita sebaiknya
ditimbang sehingga kebutuhan cairannya dapat diukur dengan tepat. Kehilangan cairan
pada dehidrasi berat setara dengan 10% berat badan (100 ml/kg).
Bayi harus diberi cairan 30 ml/kg BB pada 1 jam pertama, diikuti 70ml/kg BB 5 jam
berikutnya, jadi seluruhnya 100 ml/kgBB selama 6 jam. Anak yang lebih besar dan dewasa
harus diberi 30 ml/kgBB pada 30 menit pertama, diikuti 70 ml/kgBB dalam 2,5 jam
berikutnya sehingga seluruhnya 100 ml/kgBB selama 3 jam. Sangat berguna memberi tanda
pada botol, untuk menunjukan jumlah cairan yang harus diberikan setiap jam bagi setiap
penderita.
Sesudah 30 ml/kg cairan pertama diberikan , nadi radialis yang kuat dapat teraba. Bila
masih lemah dan cepat, infuse 30 ml/kg harus diberikan lagi dalam waktu yang sama.
Meskipun begitu hal ini jarang dibutuhkan. Larutan oralit dalam jumlah kecil harus juga
diberikan melalui mulut (sekitar 5ml/kg BB per jam) segera setelah penderita dapat minum,
untuk member tambahan kalium dan basa, Hal ini biasa dilakukan setelah 3-4 jam untuk bayi
dan 1-2 jam untuk penderita yang lebih besar.
Jalan masuk atau cara pemberian cairan:
Rute pemberian cairan meliputi oral dan intravena. Larutan oralit dengan komposisi
berkisar 29 g glukosa, 3,5 g NaCl, 2,5 g NaBik dan 1,5 g KCl stiap liternya diberikan per oral
pada diare ringan sebagai upaya pertama dan juga setelah rehidrasi inisial untuk
mempertahankan hidrasi.
30

Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi:
Untuk mengetahui penyebab infeksi biasanya dihubungkan dengan dengan keadaan klinis
diare tetapi penyebab pasti dapat diketahui melalui pemeriksaan biakan tinja disertai dengan
pemeriksaan urine lengkap dan tinja lengkap.
5

Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa diperjelas melalui pemeriksaan
darah lengkap, analisa gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin dan BJ plasma. Bila ada demam
tinggi dan dicurigai adanya infeksi sistemik pemeriksaan biakan empedu, Widal, preparat
malaria serta serologi Helicobacter jejuni sangat dianjurkan. Pemeriksaan khusus seperti
serologi amuba, jamur dan Rotavirus biasanya menyusul setelah melihat hasil pemeriksaan
penyaring.
5

Memberikan terapi simtomatik
Terapi simtomatik harus benar-benar dipertimbangkan kerugian dan keuntungannya.
Antimotilitas usus seperti Loperamid akan memperburuk diare yang diakibatkan oleh bakteri
entero-invasif karena memperpanjang waktu kontak bakteri dengan epitel usus yang
seyogyanya cepat dieliminasi.
3

Memberikan terapi definitif.
Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi:
a. Kolera-eltor: Tetrasiklin atau Kotrimoksasol atau Kloramfenikol.
b. V. parahaemolyticus,E. coli, tidak memerluka terapi spesifik
c. A. aureus : Kloramfenikol
d. Salmonellosis: Ampisilin atau Kotrimoksasol atau golongan Quinolon seperti
Siprofloksasin
e. Shigellosis: Ampisilin atau Kloramfenikol
f. Helicobacter: Eritromisin
g. Amebiasis: Metronidazol atau Trinidazol atau Secnidazol
h. Giardiasis: Quinacrine atau Chloroquineitiform atau Metronidazol
i. Balantidiasis: Tetrasiklin
j. Candidiasis: Mycostatin
k. Virus: simtomatik dan support
5

31

J. Pencegahan
2,3

Amatlah penting untuk tetap memberikan nutrisi yang cukup selama diare, terutama pada
anak dengan gizi yang kurang. Minuman dan makanan jangan dihentikan lebih dari 24 jam,
karena pulihnya mukosa usus tergantung dari nutrisi yang cukup.Bila tidak makalah ini akan
merupakan faktor yang memudahkan terjadinya diare kronik
.

Pemberian kembali makanan atau minuman (refeeding) secara cepat sangatlah penting
bagi anak dengan gizi kurang yang mengalami diare akut dan hal ini akan mencegah
berkurangnya berat badan lebih lanjut dan mempercepat kesembuhan. Air susu ibu dan susu
formula serta makanan pada umumnya harus dilanjutkan pemberiannya selama diare
penelitian yang dilakukan oleh Lama more RA dkk

menunjukkan bahwa suplemen
nukleotida pada susu formula secara signifikan mengurangi lama dan beratnya diare pada
anak oleh karena nucleotide adalah bahan yang sangat diperlukan untuk replikasi sel
termasuk sel epitel usus dan sel imunokompeten. Pada anak lebih besar makanan yang
direkomendasikan meliputi tajin ( beras, kentang, mi, dan pisang) dan gandum ( beras,
gandum, dan cereal).
Makanan yang harus dihindarkan adalah makanan dengan kandungan tinggi, gula
sederhana yang dapat memperburuk diare seperti minuman kaleng dan sari buah apel. Juga
makanan tinggi lemak yang sulit ditoleransi karena karena menyebabkan lambatnya
pengosongan lambung.

Pemberian susu rendah laktosa atau bebas laktosa diberikan pada penderita yang
menunjukkan gejala klinik dan laboratorium intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa
berspektrum dari yang ringan sampai yang berat dan kebanyakan adalah tipe yang ringan
sehingga cukup memberikan formula susu biasanya diminum dengan pengenceran oleh
karena intoleransi laktosa ringan bersifat sementara dan dalam waktu 2 3 hari akan sembuh
terutama pada anak gizi yang baik. Namun bila terdapat intoleransi laktosa yang berat dan
berkepanjangan tetap diperlukan susu formula bebas laktosa untuk waktu yang lebih lama.
Untuk intoleransi laktosa ringan dan sedang sebaiknya diberikan formula susu rendah laktosa.
Sabagaimana halnya intoleransi laktosa, maka intoleransi lemak pada diare akut sifatnya
sementara dan biasanya tidak terlalu berat sehingga tidak memerlukan formula khusus.Pada
situasi yang memerlukan banyak energi seperti pada fase penyembuhan diare, diet rendah
lemak justru dapat memperburuk keadaan malnutrisi dan dapat menimbulkan diare kronik



32


DAFTAR PUSTAKA

1. Ardhani P. Art of Theraphy: Ilmu Penyakit Anak. Jogjakarta: Pustaka Cendekia Press
2008.
2. Juffrie M. Soenarto SY. Oswari H. Arief S. Rosalina I. Mulyani NS. Diare Akut. Buku
Ajar Gastroenterologi-Hepatologi Jilid 1. 3
rd
ed. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
20012. pg: 87-118.
3. Pudjiaji AH. Hegar B. Handiyastuti S. Idris NS. Gandraputra EP. Harmoniati ED. Diare
Akut. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: Ikatan Dokter
Anak Indonesia. 20012. pg: 58-61
4. Behrman R. Nelson textbook of Pediatrics. Phyladelpia: Sanders. 2009.
5. Pusponegoro H. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak: 1
st
ed. Jakarta: Ikatan Dokter
Anak Indonesia. 2004
6. Poorwo sumarso et all. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi & Penyakit Tropis.
Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2003.
7. Hasan R. Ilmu Kesehatan Anak 1: cetakan ke 11. Infomedika: Jakarta. 2007
8. Kandun NI. Upaya pencegahan diare ditinjau dari aspek kesehatan masyarakat dalam
kumpulan makalah Kongres nasional II BKGAI Juli 2003; 29
9. Shann F. Drug Doses. 15
th
Ed. Australia: intensive care unit Royal Childrens Hospital.
10. WHO. UNICEF. Oral Rehydration Salt Production of the new ORS. Geneva. 2006
11. Han S. Reduced osmolarity oral rehydration solution for treating dehydration due to
diarrhea in children.BMJ. 2001; 325:81-5.


33

LAMPIRAN

34




35

Klasifikasi Status Gizi Balita (Kurva CDC 2000)
BB/TB BB/U
Gizi buruk < 70% < 60%;
60 80% dengan edema
Gizi Kurang 70 90% 60 80% tanpa edema
Gizi Baik 90 110% 80 120%
Gizi Lebih 110 120% > 120%
Gizi Obes > 120%

TB/U
Perawakan pendek <P3
Tinggi sangat kurang <70%
Tinggi Kurang 70 89%
Tinggi Normal 90 110%