Anda di halaman 1dari 4

MEMPERKENALKAN DIRI MELALUI BUKU

Pendahuluan

Membaca dan menulis buku bisa jadi merupakan suatu aktivitas yang sangat
menyenangkan. Apalagi mampu menunjukkan bahwa buku mempunyai "rasa" dan
"aroma" yang bisa membangkitkan selera. Lebih dari itu membaca dan menulis
buku dapat mengantarkan seseorang untuk memiliki ketajaman yang luar biasa
dalam mengenali dan memperbaiki diri lewat suatu kemampuan, yang dalam
istilah Hernowo sebagai "mata baru".Hanya saja, selama ini membaca dan menulis
buku selalu identik dengan rasa menjemukan dan melelahkan. Buku yang menjadi
sarana utama kegiatan tersebut sama sekali tidak memiliki daya tarik yang
memikat. Secara keilmuan, buku boleh saja berisi segudang ilmu. Namun
penampilan buku yang kaku menjadi penghambat utama bagi seseorang untuk
membaca dan menyusunnya.

Buku tidak lebih dari kumpulan teks, buku juga sebenarnya tidak mampu
memberikan apa-apa. Ribuan atau bahkan miliaran kata yang ada di dalamnya
tidak ada yang bisa memberikan pencerahan secara mempesona. Buku hanya
berputar-putar berpanjang-panjang dan sekadar mempermainkan teks. Buku sama
sekali tidak mampu melampaui teks. Sekalipun terkadang mampu melukiskan
problem-problem manusia yang kompleks, buku tetap saja beku. Tidak ada yang
menarik di dalam buku. Fenomena ini sangatlah ironis. Sebab sebagaimana kata
pepatah, buku adalah gudang ilmu. Di era internet sekarang ini buku masih
menduduki peringkat terbaik sebagai media tranformasi ilmu dan informasi yang
lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.Bahkan dalam proses belajar belajar
kehadiran buku tetap menjadi prioritas utama dibandingkan dengan sumber
belajar lain seperti internet.

Bagaimana Membangkitkan Minat Membaca ?

Kebosanan dan mengantuk merupakan kultur yang terbangun dalam


membaca buku. Karenanya tak heran jika banyak orang yang memilih nonton
sinetron daripada membaca buku. Sebab menonton sinetron terasa lebih santai
dan menyenangkan. Berbeda dengan membaca buku yang membutuhkan banyak
energi dan keseriusan yang tidak jarang justru membuat pusing para
pembacanya.Untuk memasuki dunia buku, ada baiknya menyamakan buku itu
sebagai "makanan" yang dibutuhkan oleh jasmani manusia agar tubuh menjadi
sehat, manusia pun membutuhkan energi khusus yang dapat mengasah ketajaman

1
ruhaninya. Dalam konteks inilah buku dapat menjadi santapan ruhani manusia
yang penuh gizi bagi kebutuhan akal dan ruhaninya tersebut.

Dr. C. Edward Coffey, seorang peneliti dari Henry Ford Health System
terkait dengan gizi buku untuk kebutuhan ruhani manusia ini, mengungkapkan
sebuah fakta menarik tentang hubungan buku dengan kesehatan mental. Dalam
penelitiannya, ia telah mampu membuktikan bahwa hanya dengan membaca buku,
seseorang akan terhindar dari penyakit demensia yang menyebabkan kepikunan
apabila kita dapat menciptakan satu pandangan bahwa buku dapat diperlakukan
sebagai makanan, sama persis sebagaimana kita memakan makanan jasmani.
Terdapat tiga cara agar kita dapat mengonsumsi buku sebagai makanan ruhani, di
antaranya adalah: Pertama, agar membaca buku tidak menyebabkan kantuk,
buku yang dibaca haruslah buku yang sesuai kegemaran dengan tema-tema yang
sangat disukai sebagaimana makanan kesukaan. Kedua, sebelum membaca semua
halaman buku, ada baiknya kalau buku-buku tersebut "dicicipi" terlebih dahulu.
Bisa dengan jalan mengenali siapa pengarang buku itu atau dengan mencari
informasi tentang sesuatu yang menarik. Ketiga, untuk menyelesaikannya,
membaca buku dapat dilakukan dengan cara ngemil (sedikit demi sedikit seperti
orang yang makan kacang goreng). Dengan jalan ini buku setebal 300 halaman
pun dapat diselesaikan dengan santai, yaitu dengan jalan mencari halaman-
halaman yang menarik dan bermanfaat dalam buku tersebut. Halaman-halaman ini
sajalah yang dibaca dan didalami tidak perlu membaca semua halaman yang ada
di dalam sebuah buku.

Tiga Hal Membuat Kita Cinta Membaca

Subyek potensial yang bisa dikembangkan untuk mengenalkan buku adalah


anak-anak. Ada tiga hal yang dapat dijadikan agar subjek potensial yaitu anak-
anak tersebut menjadi cinta dalam membaca. Pertama, memberikan kesempatan
seluas-luasnya kepada anak agar mereka benar-benar dapat melihat orangtuanya
sedang membaca buku. Kedua, orangtua harus membagikan informasi-informasi
yang bermanfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca kepada anak. Ketiga,
pada saat membaca buku di rumah sesekali orangtua harus membacanya dengan
suara keras supaya anak dapat mendengar suara bacaan yang sedang dibaca. Di
samping ketiga cara tersebut, bagi orangtua juga harus membangun suasana yang
menyenangkan dalam memperkenalkan buku kepada anak. Ini dapat dilakukan
dengan mengajak anak jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan
dengan buku. Misalnya, dua minggu sekali anak diajak untuk "mencicipi" dan
melihat jajaran buku yang ada di toko buku atau perpustakaan. Bisa juga dengan

2
membiasakan anak untuk memilih buku bacaan secara bebas sesuai dengan
keinginannya. Anak juga harus diberi kebebasan untuk membolak-balik dan
bermain-main dengan bukunya sendiri. Mengenalkan buku sejak dini kepada anak
ini memiliki peranan yang sangat penting dalam membangun kebutuhan anak
terhadap buku. Pada tahapan ini anak tidak perlu dipaksauntuk segera dapat
membaca dalam arti memahami isi buku. Perkenalan ini hanya berfungsi untuk
membiasakan anak agar sering bertemu dengan wujud huruf. Dengan cara ini
akan lebih mudah untuk mengenali kembali dan menyebutkan bunyi huruf. Lebih
dari itu, tahap perkenalan ini dapat membangkitkan potensi dalam bentuk
stimulus visual (melihat) huruf dan kesan auditif (mengucapkan) huruf tertentu.

Institusi sekolah merupakan suatu lembaga yang dipercaya sebagai tempat


belajar membaca. Di sekolah anak mulai dikenalkan dengan huruf. Di sekolah
pulalah mereka diajar mengeja dan membaca hingga memahami buku. Namun
sayang sekolah tidak mengajarkan agar siswanya memiliki kebutuhan terhadap
buku. Sebaliknya membaca justru menjadi kegiatan yang memberatkan. Meskipun
perangkat membaca seperti buku bacaan, buku tulis dan juga pena senantiasa
berada di dalam tas siswa, namun tidak ditemukan kultur baca siswa sekolah yang
mengasyikkan.Fenomena ini merupakan persoalan klasik yang dialami oleh
sekolah. Sekolah yang semestinya dibangun untuk mengawal proses
perkembangan kepribadian anak justru berkembang menjadi lembaga yang
memfrustrasikan. Di sekolah anak dipaksa untuk mengikuti sistem yang
dikembangkan sekolah. Padahal belum tentu sistem tersebut sesuai dengan
kecenderungan dan cara belajar anak yang bersangkutan. Tak heran jika sekolah
justru dirasakan sebagai sesuatu yang membelenggu dan memberatkan.

Membaca dengan menghadirkan rasa fun

Membaca juga perlu menghadirkan rasa fun (kegembiraan). Kegembiraan di


sini berarti bangkitnya minat, adanya keterlibatan penuh serta terciptanya makna,
pemahaman (penguasaan atas materi yang dipelajarinya), dan nilai yang
membahagiakan, kegembiraan dalam melahirkan sesuatu yang baru. Penciptaan
ini jauh lebih penting daripada segala teknik, metode atau media belajar yang
mungkin dipilih untuk digunakan dalam proses pembelajaran.

Dengan menghadirkan rasa fun dalam membaca bagi seorang siswa, akan
tercipta suatu kebutuhan mereka terhadap sekolah. Sejalan dengan ini akan
terbangun pula suatu kebutuhan terhadap buku sebagai sarana yang tidak bisa
dipisahkan dari sekolah. Dengan demikian akan tercapai suatu kultur membaca
yang mengasyikkan yang dilahirkan dari sistem sekolah yang menyenangkan.

3
Merujuk peta kecerdasan Howard Gardner (yang dikenal dengan kecerdasan
majemuk), aktivitas membaca dapat memacu kategori kecerdasan linguistik.
Kecerdasan ini merupakan suatu kemampuan menggunakan kata secara efektif,
baik secara lisan maupun tulisan. Beberapa tokoh yang mampu memperkenalkan
diri mereka berkat kemampuan mengelola kecerdasan linguistik , diantaranya
Hilman "Lupus" Hariwijaya, Emha Ainun Najib, Nurcholish Madjid, K.H. Abdullah
Gymnastiar, Butet Kertarajasa dan juga Helmi Yahya, Hernowo. Mereka adalah
tokoh-tokoh yang mampu menemukan dan kemudian mengembangkan potensi
sesuai dengan kecenderungan kecerdasan yang dimilikinya. Mereka mampu
menjadi terkenal dengan kerya-karya yang mereka hasilkan , bagaimana dengan
diri kita?