Anda di halaman 1dari 17

KONSEP KEGAWATDARURATAN PADA PASIEN DENGAN TRAUMA THORAX

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rongga toraks merupakan suatu rongga yang diisi oleh berbagai organ
tubuh yang sangat vital, diantarannya : jantung, paru, pembuluh darah
besar.
Rongga toraks dibentuk oleh suatu kerangka dada berbentuk cungkup
yang tersusun dari tulang otot yang kokoh dan kuat, namun dengan
konstruksi yang lentur dan dengan dasar suatu lembar jaringan ikat
yang sangat kuat yang disebut Diaphragma. Konstruksi kerangka dada
tersebut diatas sangat menunjang fleksibelitas fungsinya, diantaranya :
fungsi perlindungan terhadap trauma dan fungsi pernafasan.
Hanya trauma tajam dan trauma tumpul dengan kekuatan yang cukup
besar saja yang mampu menimbulkan cedera pada alat / organ dalam
yang vital tersebut diatas.
Secara keseluruhan angka mortalitas trauma thorax adalah 10 %,
dimana trauma thorax menyebabkan satu dari empat kematian karena
trauma yang terjadi di Amerika Utara. Banyak penderita meninggal
setelah sampai di rumah sakit dan banyak kematian ini seharusnya
dapat dicegah dengan meningkatkan kemampuan diagnostik dan
terapi. Kurang dari 10 % dari trauma tumpul thorax dan hanya 15 30 %
dari trauma tembus thorax yang membutuhkan tindakan torakotomi.
Mayoritas kasus trauma thorax dapat diatasi dengan tindakan teknik
prosedur yang akan diperoleh oleh dokter yang mengikuti suatu kursus
penyelamatan kasus trauma thorax.
Dengan semakin meningkatnya teknologi dan industri di negara kita
terutama kendaraan bermotor, maka akan meningkat pula angka
kejadian dari trauma toraks. Di Amerika Serikat, penderita trauma
secara keseluruhan mendekati 70 juta jiwa setiap tahunnya dengan
menghabiskan dana kira-kira 100 milyar dolar setahun, dan 1 dari 100
kematian oleh trauma disebabkan oleh truma toraks.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian trauma thorak?
2. Apa saja jenis-jenis trauma thorak?
3. Bagaimana pemeriksaan primary survey?
4. Bagaimana pemeriksaan secondary survey?
5. Bagaimana penatalaksanaan trauma thorak?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas adapun tujuan penulisan makalah
ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian trauma thorak
2. Untuk mengetahui jenis-jenis trauma thorak
3. Untuk mengetahui pemeriksaan primary survey
4. Untuk mengetahui pemeriksaan secondary survey
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan trauma thorak

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Trauma Thorak
Trauma thorax adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax
yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi
dari cavum thorax yang disebabkan oleh benda tajam atau bennda
tumpul dan dapat menyebabkan keadaan gawat thorax akut.
Trauma thorax adalah luka atau cedera yang mengenai rongga
thoraxyang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thorax
ataupun isi dari cavum thorax yang disebabkan oleh benda tajam atau
bennda tumpul dandapat menyebabkan keadaan gawat thorax akut.
Trauma thorax kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang
umumnya berupa trauma tumpul dinding thorax. Dapat juga
disebabkanoleh karena trauma tajam melalui dinding thorax.
Kerangka rongga thorax,meruncing pada bagian atas dan berbentuk
kerucut terdiri dari sternum, 12vertebra thoracalis, 10 pasang iga yang
berakhir di anterior dalam segmen tulang rawan dan 2 pasang yang
melayang. Kartilago dari 6 iga memisahkan articulasio dari sternum,
kartilago ketujuh sampai sepuluh berfungsi membentuk tepi kostal
sebelum menyambung pada tepi bawah sternum.Hipoksia, hiperkarbia,
dan asidosis sering disebabkan oleh trauma thorax. Hipokasia jaringan
merupakan akibat dari tidak adekuatnya pengangkutan oksigen ke
jaringan oleh karena hipovolemia (kehilangan darah),
pulmonaryventilation/perfusion mismatch dan perubahan dalam
tekanan intratthorax. Hiperkarbia lebih sering disebabkan oleh tidak
adekuatnya ventilasi akibat perubahan tekanan intrathorax atau
penurunan tingkat kesadaran. Asidosismetabolik disebabkan oleh
hipoperfusi dari jaringan (syok)

B. Jenis-Jenis Trauma Thorak
Trauma toraks dapat dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu trauma
tembus atau tumpul.
1. Trauma tembus (tajam)
Terjadi diskontinuitas dinding toraks (laserasi) langsung akibat
penyebab trauma
Terutama akibat tusukan benda tajam (pisau, kaca, dsb) atau peluru
Sekitar 10-30% memerlukan operasi torakotomi
2. Trauma tumpul
Tidak terjadi diskontinuitas dinding toraks.
Terutama akibat kecelakaan lalu-lintas, terjatuh, olahraga, crush
atau blast injuries.
Kelainan tersering akibat trauma tumpul toraks adalah kontusio paru.
Sekitar <10% yang memerlukan operasi torakotomi
Berdasarkan mekanismenya terdiri dari :
1. Akselerasi
Kerusakan yang terjadi merupakan akibat langsung dari penyebab
trauma. Gaya perusak berbanding lurus dengan massa dan percepatan
(akselerasi); sesuai dengan hukum Newton II (Kerusakan yang terjadi
juga bergantung pada luas jaringan tubuh yang menerima gaya perusak
dari trauma tersebut.
Pada luka tembak perlu diperhatikan jenis senjata dan jarak tembak;
penggunaan senjata dengan kecepatan tinggi seperti senjata militer
high velocity (>3000 ft/sec) pada jarak dekat akan mengakibatkan
kerusakan dan peronggaan yang jauh lebih luas dibandingkan besar
lubang masuk peluru.
2. Deselerasi
Kerusakan yang terjadi akibat mekanisme deselerasi dari jaringan.
Biasanya terjadi pada tubuh yang bergerak dan tiba-tiba terhenti
akibat trauma. Kerusakan terjadi oleh karena pada saat trauma, organ-
organ dalam yang mobile (seperti bronkhus, sebagian aorta, organ
visera, dsb) masih bergerak dan gaya yang merusak terjadi akibat
tumbukan pada dinding toraks/rongga tubuh lain atau oleh karena
tarikan dari jaringan pengikat organ tersebut.
3. Torsio dan rotasi
Gaya torsio dan rotasio yang terjadi umumnya diakibatkan oleh adanya
deselerasi organ-organ dalam yang sebagian strukturnya memiliki
jaringan pengikat/fiksasi, seperti Isthmus aorta, bronkus utama,
diafragma atau atrium. Akibat adanya deselerasi yang tiba-tiba, organ-
organ tersebut dapat terpilin atau terputar dengan jaringan fiksasi
sebagai titik tumpu atau porosnya.
4. Blast injury
Kerusakan jaringan pada blast injury terjadi tanpa adanya kontak
langsung dengan penyebab trauma. Seperti pada ledakan bom. Gaya
merusak diterima oleh tubuh melalui penghantaran gelombang energi.

C. Pemeriksaan Primary Survey
Yaitu dilakukan pada trauma yang mengancam jiwa, pertolongan ini
dimulai dengan airway, breathing, dan circulation.
1. Open Pneumothorax
Dapat timbul karena trauma tajam, sedemikian rupa, sehingga ada
hubungan udara luar dengan rongga pleura, sehingga paru menjadi
kuncup. Seringkali hal ini terlihat sebagai luka pada dinding dada yang
mengisap pada setiap inspirasi (sucking chest wound). Apabila lubang
ini lebih besar daripada 1/3 diameter trachea, maka pada inspirasi,
udara lebih mudah melewati lubang pada dinding dada dibandingkan
melewati mulut, sehingga terjadi sesak yang hebat. Dengan demikian
maka pada oper pneumothorax, usaha pertama adalah menutup lubang
pada dinding dada ini, sehingga open pneumothorax menjadi close
pneumothorax (tertutup). Harus segera ditambahkan bahwa Apabila
selain lubang pada dinding dada, juga ada lubang pada paru, maka
usaha menutup lubang ini dapat mengakibatkan terjadinya tension
pneumothorax. Dengan demikian maka yang harus dilakukan adalah:
Menutup dengan kasa 3 sisi. Kasa ditutup dengan plester pada 3
sisinya, sedangkan pada sisi yang atas dibiarkan terbuka (kasa harus
dilapisi zalf/sofratulle pada sisi dalamnya supaya kedap udara)
Menutup dengan kasa kedap udara. Apabila dilakukan cara ini maka
harus sering dilakukan evaluasi paru. Apabila ternyata timbul tanda
tension pneumothorax, maka kasa harus dibuka pada luka yang sangat
besar, maka dapat dipakai palastik infuse yang digunting sesuai
ukuran.
2. Tension Pneumothorax
Berkembang ketika terjadi one-way-valve (fenomena ventil),
kebocoran udara yang berasal dari paru-paru atau melalui dinding dada
masuk ke dalam rongga pleura dan tidak dapat keluar lagi (one-way-
valve). Akibat udara yang masuk ke dalam rongga pleura yang tidak
dapat keluar lagi, maka tekanan di intrapleural akan meninggi, paru-
paru menjadi kolaps, mediastinum terdorong ke sisi berlawanan dan
menghambat pengembalian darah vena ke jantung (venous return),
serta akan menekan paru kontralateral.
Penyebab tersering dari tension pneumothorax adalah komplikasi
penggunaan ventilasi mekanik (ventilator) dengan ventilasi tekanan
positif pada penderita dengan kerusakan pada pleura viseral. Tension
pneumothorax dapat timbul sebagai komplikasi dari penumotoraks
sederhana akibat trauma toraks tembus atau tajam dengan perlukaan
parenkim paru tanpa robekan atau setelah salah arah pada
pemasangan kateter subklavia atau vnea jugularis interna.
Tension pneumothorax juga dapat terjadi pada fraktur tulang belakang
toraks yang mengalami pergeseran (displaced thoracic spine fractures).
Diagnosis tension pneumotorax ditegakkan berdasarkan gejala klinis,
dan tetapi tidak boleh terlambat oleh karena menunggu konfirmasi
radkologi. Tension pneumothorax ditandai dengan gejala nyeri dada,
sesak, distres pernafasan, takikardi, hipotensi, deviasi trakes,
hilangnya suara nafas pada satu sisi dan distensi vena leher. Tension
pneumothorax membutuhkan dekompresi segera dan penanggulangan
awal dengan cepat berupa insersi jarum yang berukuran besar pada
sela iga dua garis midclavicular pada hemitoraks yang mengalami
kelainan. Tindakan ini akan mengubah tension pneumothorax menjadi
pneumothoraks sederhana (catatan : kemungkinan terjadi
pneumotoraks yang bertambah akibat tertusuk jarum). Evaluasi ulang
selalu diperlukan. Tetapi definitif selalu dibutuhkan dengan pemsangan
selang dada (chest tube) pada sela iga ke 5 (garis putting susu)
diantara garis anterior dan midaxilaris.
3. Hematothorax massif
Hematothorax massif yaitu terkumpulnya darah dengan cepat lebih
dari 1.500 cc di dalam rongga pleura. Hal ini sering disebabkan oleh
luka tembus yang merusak pembuluh darah sistemik atau pembuluh
darah pada hilus paru. Hal ini juga dapat disebabkan trauma tumpul.
Diagnosis hemotoraks ditegakkan dengan adanya syok yang disertai
suara nafas menghilang dan perkusi pekak pada sisi dada yang
mengalami trauma. Terapi awal hemotoraks masif adalah dengan
penggantian volume darah yang dilakukan bersamaan dengan
dekompresi rongga pleura. Dimulai dengan infus cairan kristaloid
secara cepat dengan jarum besar dan kemudian pemberian darah
dengan golongan spesifik secepatnya. Darah dari rongga pleura dapat
dikumpulkan dalam penampungan yang cocok untuk autotransfusi. Jika
pada awalnya sudah keluar 1.500 ml, kemungkinan besar penderita
tersebut membutuhkan torakotomi segera.
Keputusan torakotomi diambil bila didapatkan kehilangan darah terus
menerus sebanyak 200 cc/jam dalam waktu 2 sampai 4 jam, tetapi
status fisiologi penderita tetap lebih diutamakan. Transfusi darah
diperlukan selama ada indikasi untuk toraktomi. Selama penderita
dilakukan resusitasi, volume darah awal yang dikeluarkan dengan
selang dada (chest tube) dan kehilangan darah selanjutnya harus
ditambahkan ke dalam cairan pengganti yang akan diberikan. Warna
darah (arteri atau vena) bukan merupakan indikator yang baik untuk
dipakai sebagai dasar dilakukannya torakotomi. Luka tembus toraks di
daerah anterior medial dari garis puting susu dan luka di daerah
posterior, medial dari skapula harus di sadari oleh dokter bahwa
kemungkinan dibutuhkan torakotomi, oleh karena kemungkinan
melukai pembuluh darah besar, struktur hilus dan jantung yang
potensial menjadi tamponade jantung.
4. Flail Chest
Terjadi ketika segmen dinding dada tidak lagi mempunyai kontinuitas
dengan keseluruhan dinding dada. Keadaan tersebut terjadi karena
fraktur iga multipel pada dua atau lebih tulang iga dengan dua atau
lebih garis fraktur. Adanya semen flail chest (segmen mengambang)
menyebabkan gangguan pada pergerakan dinding dada. Jika kerusakan
parenkim paru di bawahnya terjadi sesuai dengan kerusakan pada
tulang maka akan menyebabkan hipoksia yang serius.
Kesulitan utama pada kelainan Flail Chest yaitu trauma pada parenkim
paru yang mungkin terjadi (kontusio paru). Walaupun ketidak-stabilan
dinding dada menimbulkan gerakan paradoksal dari dinding dada pada
inspirasi dan ekspirasi, defek ini sendiri saja tidak akan menyebabkan
hipoksia.
Penyebab timbulnya hipoksia pada penderita ini terutama disebabkan
nyeri yang mengakibatkan gerakan dinding dada yang tertahan dan
trauma jaringan parunya. Flail Chest mungkin tidak terlihat pada
awalnya, karena splinting (terbelat) dengan dinding dada. Gerakan
pernafasan menjadi buruk dan toraks bergerak secara asimetris dan
tidak terkoordinasi. Palpasi gerakan pernafasan yang abnormal dan
krepitasi iga atau fraktur tulang rawan membantu diagnosisi.
Dengan foto toraks akan lebih jelas karena akan terlihat fraktur iga
yang multipel, akan tetapi terpisahnya sendi costochondral tidak akan
terlihat. Pemeriksaan analisis gas darah yaitu adanya hipoksia akibat
kegagalan pernafasan, juga membantu dalam diagnosis Flail Chest.
Terapi awal yang diberikan termasuk pemberian ventilasi adekuat,
oksigen yang dilembabkan dan resusitasi cairan. Bila tidak ditemukan
syok maka pemberian cairan kristoloid intravena harus lebih berhati-
hati untuk mencegah kelebihan pemberian cairan. Bila ada kerusakan
parenkim paru pada Flail Chest, maka akan sangat sensitif terhadap
kekurangan ataupun kelebihan resusitasi cairan. Pengukuran yang lebih
spesifik harus dilakukan agar pemberian cairan benar-benar optimal.
Terapi definitif ditujukan untuk mengembangkan paru-paru dan berupa
oksigenasi yang cukup serta pemberian cairan dan analgesia untuk
memperbaiki ventilasi. Tidak semua penderita membutuhkan
penggunaan ventilator. Pencegahan hipoksia merupakan hal penting
pada penderita trauma, dan intubasi serta ventilasi perlu diberikan
untuk waktu singkat sampai diagnosis dan pola trauma yang terjadi
pada penderita tersebut ditemukan secara lengkap. Penilaian hati-hati
dari frekuensi pernafasan, tekanan oksigen arterial dan penilaian
kinerja pernafasan akan memberikan suatu indikasi timing / waktu
untuk melakukan intubasi dan ventilasi.
5. Temponade Jantung
Tamponade jantung adalah kompresi jantung disebabkan oleh darah
atau cairan yang terakumulasi di ruang antara miokardium (otot
jantung) dan pericardium (lapisan luar jantung). Ini merupakan
keadaan darurat medis,dengan meningkatnya produksi cairan sehingga
akan menekan jantung lebihkuat dan proses pengisian tidak normal.
Jika tidak diobati, ventrikel akan terganggu, mengakibatkan shock dan
kematian.
Etiologinya bermacam-macam yang paling sering adalah maligna,
perikarditis, uremia dan trauma, perdarahan ke dalam ruang
pericardial akibattrauma, operasi, atau infeksi, pemasangan pacu
jantung, tuberculosis, dan penggunaan antikoagulan.
Patofisiologi Tamponade jantung terjadi bila jumlah efusi pericardium
menyebabkan hambatan serius aliran darah ke jantung (
gangguandiastolik ventrikel ). Penyebab tersering adalah neoplasma,
dan uremi. Neoplasma menyebabkan terjadinya pertumbuhan sel
secara abnormal pada otot jantung. Sehingga terjadi hiperplasia sel
yang tidak terkontrol, yang menyebabakan pembentukan massa
(tumor). Hal ini yang dapatmengakibatnya ruang pada kantong jantung
(perikardium) terdesak sehingga terjadi pergesekan antara kantong
jantung (perikardium) dengan lapisan paling luar jantung (epikardium).
Pergesekan ini dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada
perikarditis sehingga terjadi penumpukan cairan pada pericardium
yang dapat menyebakan tamponade jantung. Uremia juga dapat
menyebabkan tamponade jantung. Dimana orang yang mengalami
uremia, didalam darahnya terdapat toksik metabolik yang dapat
menyebabkan inflamasi (dalam hal ini inflamasi terjadi pada
perikardium). Manifestasi klinis dari tamponade jantung adalah
takikardi, peningkatan volume intravascular, peningkatan tekanan vena
jugularis.

D. Pemeriksaan Secondary Survey
Pemeriksaan secondary survey merupakan suatau kegiatan mencari
perubahan-perubahan yang dapat berkembang menjadi lebih gawat
dan mengancam jiwa apabila tidak segera diatasi dengan pemeriksaan
dari kepala sampai kaki (head to toe) biasanya dilakukan setelah
pemeriksaan primer (primary survey) dan setelah memulai resusitasi.
Pemeriksaan sekunder dilakukan untuk mengidentifikasi masalah-
masalah yang mungkin tidak diidentifikasi sebagai masalah yang
mengancam jiwa (masalah-masalah yang tidak mengharuskan untuk
dilakukan perawatan atau penanganan segera agar korban selamat,
tetapi mungkin mengancam jiwa jika tidak ditangani) dan juga untuk
mendeteksi penyakit atau trauma yang diderita pasien sehingga dapat
ditangani lebih lanjut.
1. Fraktur Iga
Costa merupakan salah satu komponen pembentuk rongga dada yang
memiliki fungsi untuk memberikan perlindungan terhadap organ
didalamnya dan yang lebih penting adalah mempertahankan fungsi
ventilasi paru.
Fraktur Costa adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang /
tulangrawan yang disebabkan oleh rudapaksa pada spesifikasi lokasi
pada tulangcosta. Fraktur costa akan menimbulkan rasa nyeri, yang
mengganggu prosesrespirasi, disamping itu adanya komplikasi dan
gangguan lain yang menyertai. Diperlukan perhatian khusus dalam
penanganan terhadap fraktur ini.
Pada anak fraktur costa sangat jarang dijumpai oleh karena costa pada
anak masih sangat lentur. Fraktur costa dapat terjadi dimana saja
disepanjang costa tersebut..Dari keduabelas pasang costa yang ada,
tiga costa pertama paling jarang mengalami fraktur hal ini disebabkan
karena costa tersebut sangat terlindung. Costa ke 4-9 paling banyak
mengalami fraktur, karena posisinya sangat terbuka dan memiliki
pelindung yang sangat sedikit, sedangkan tiga costa terbawah yakni
costa ke 10-12 juga jarang mengalami fraktur oleh karena sangat labil.
Secara garis besar penyebab fraktur costa dapat dibagi dalam 2
kelompok :
a. Disebabkan trauma
1) Trauma tumpul
Penyebab trauma tumpul yang sering mengakibatkan adanya fraktur
costa antara lain : Kecelakaan lalulintas,kecelakaan pada pejalan kaki
,jatuh dari ketinggian, atau jatuh pada dasar yang keras atau akibat
perkelahian.
2) Trauma Tembus
Penyebab trauma tembus yang sering menimbulkan fraktur costa luka
tusuk dan luka tembak


b. Disebabkan bukan trauma
Yang dapat mengakibatkan fraktur costa, terutama akibat gerakan
yang menimbulkan putaran rongga dada secara berlebihan atau oleh
karena adanya gerakan yang berlebihan dan stress fraktur, seperti
pada gerakan olahraga : Lempar martil, soft ball, tennis, golf. Fraktur
costa dapat terjadi akibat trauma yang datangnya dari arah depan,
samping ataupun dari arah belakang. Trauma yang mengenai dada
biasanya akan menimbulkan trauma costa, tetapi dengan adanya otot
yang melindungi costa pada dinding dada, maka tidak semua trauma
dada akan terjadi fraktur costa. Fraktur costa yang displace akan
dapat mencederai jaringan sekitarnya atau bahkan organ dibawahnya.
Fraktur pada costa ke 4-9 dapat mencederai intercostalis, pleura
visceralis, paru maupun jantung, sehingga dapat mengakibatkan
timbulnya hematotoraks, pneumotoraks ataupun laserasi jantung.
2. Kontusio Paru
Kontusio paru adalah kelainan yang paling sering ditemukan pada
golongan potentially lethal chest injury. Kegagalan bernafas dapat
timbul perlahan dan berkembang sesuai waktu, tidak langsung terjadi
setelah kejadian, sehingga rencana penanganan definitif dapat
berubah berdasarkan perubahan waktu. Monitoring harus ketat dan
berhati-hati, juga diperlukan evaluasi penderita yang berulang-ulang.
Penderita dengan hipoksia bermakna (PaO2 < 65 mmHg atau 8,6 kPa
dalam udara ruangan, SaO2 < 90 %) harus dilakukan intubasi dan
diberikan bantuan ventilasi pada jam-jam pertama setelah trauma.
Kondisi medik yang berhubungan dengan kontusio paru seperti penyakit
paru kronis dan gagal ginjal menambah indikasi untuk melakukan
intubasi lebih awal dan ventilasi mekanik. Beberapa penderita dengan
kondisi stabil dapat ditangani secara selektif tanpa intubasi
endotrakeal atau ventilasi mekanik. Monitoring dengan pulse oximeter,
pemeriksaan analisis gas darah, monitoring EKG dan perlengkapan alat
bantu pernafasan diperlukan untuk penanganan yang optimal. Jika
kondisi penderita memburuk dan perlu ditransfer maka harus dilakukan
intubasi dan ventilasi terlebih dahulu.
3. Ruptur Aorta
Ruptur aorta sering menyebabkan kematian penderitanya, dan lokasi
ruptura tersering adalah di bagian proksimal arteri subklavia kiri dekat
ligamentum arteriosum. Hanya kira-kira 15% dari penderita trauma
toraks dengan ruptura aorta ini dapat mencapai rumah sakit untuk
mendapatkan pertolongan. Kecurigaan adanya ruptur aorta dari foto
toraks bila didapatkan :
a. mediastinum yang melebar
b. fraktur iga 1 dan 2
c. trakea terdorong ke kanan
d. gambaran aorta kabur
e. penekanan bronkus utama kiri
f. gambaran pipa lambung (NGT) pada esofagus yang terdorong ke
kanan.
Ruptur aorta disebabkan kekuatan deselerasi yang besar ketika terjadi
benturan dan kemudian kekuatan tersebut didistribusikan secara tidak
merata di sepanjang aorta, mengingat pelekatan aorta pada struktur
interna. Trauma akselerasi-deselerasi vertikal seperti jatuh dapat
menyebabkan robeknya aorta asendens dengan tamponade perikardial
akut.
Mekanisme yang menyebabkan ruptur adalah:
a. shear forces dalam hubungannyadengan segmen mobile arkus aorta
dan aorta torakalis desendens (mis titik fiksasi padaligamentum
arteriosum);
b. kompresi aorta dan pembuluh darah besar lainnya padakolumna
vertebralis; dan
c. hiperekstensi intraluminal yang cukup besar selama
momentubrukan.
4. Ruptur Diagfragma
Ruptur diafragma jarang merupakan trauma tunggal biasanya disertai
trauma lain, trauma thorak dan abdomen, dibawah ini merupakan
organ-organ yang paling sering terkena bersamaan dengan ruptur
diafragma : (1) fraktur pelvis 40%, (2) ruptur lien 25%,, (3) ruptur
hepar 25%, (4) ruptur aorta pars thorakalis 5-10%.
Beberapa ahli membagi ruptur diafragma berdasarkan waktu
mendiagnosisnya menjadi :
a. Early diagnosis
Diagnosis biasanya tidak tampak jelas dan hanpir 50% pasien ruptur
diafragma tidak terdiagnosis dalam 24 jam pertama
Gejala yang mencul biasanya adanya tanda gangguan pernapasan
Pemeriksaan fisik yang menudukung : adanya suara bising usus di
dinding thorak dan perkusi yang redup di dinding thorak yang terkena


b. Delayed diagnosis
Bila tidak terdiagnosa dalam 4 jam pertama, biasanya diagnosa akan
muncul beberapa bulan bahkan tahun kemudian
Sekitar 80-90% ruptur diafragma terjadi akibat kecelakaan sepeda
motor. Mekanisme terjadinya ruptur berhubungan dengan perbedaan
tekanan yang timbul antara rongga pleura dan rongga peritoneum.
Trauma dari sisi lateral menyebabkan ruptur diafragma 3 kali lebih
sering dibandingkan trauma dari sisi lainnya oleh karena langsung
dapat menyebabkan robekan diafragma pada sisi ipsilateral. Trauma
dari arah depan menyebabkan peningkatan tekan intra abdomen yang
mendadak sehingga menyebabkan robekan radier yang panjang pada
sisi posterolateral diafragma yang secara embriologis merupakan
bagian terlemah.
75 % ruptur diafragma terjadi disisi kiri, dan pada beberapa kasus
terjadi pada sisi kanan yang biasanya disebabkan oleh trauma yang
hebat dan biasanya menyebabkan gangguan hemodinamik, hal ini
disebabkan oleh karena letak hepar disebelah kanan yang sekaligus
menjadi suatu proteksi. Pada trauma kendaraan bermotor arah trauma
menentukan lokasi injuri di kanada dan Amerika Serikat biasanya yang
terkena adalah sisi kiri khususnya pada pasien yang menyetir mobil,
sedangkan pada penumpang biasanya yang terkena sisi kanan.
Pada trauma tumpul biasanya menyebabkan robekan radier pada
mediastinum dengan ukuran 5 15 cm, paling sering pada sisi
posterolateral, sebaliknya trauma tembus menyebabkan robekan linear
yang kecil dengan ukuran kurang dari 2 cm dan bertahun-tahun
kemudian menimbulkan pelebaran robekan dan terjadi herniasi.
Berikut ini mekanisme terjadinya ruptur diafragma : (1) robekan dari
membran yang mengalami tarikan (stretching ), (2) avulsi diafragma
dari titik insersinya, (3) tekanan mendadak pada organ viscera yang
diteruskan ke diafragma.
5. Perforasi Eosofagus
Ruptur esofagus (Boerhaave syndrome) atau perforasi esofagus adalah
pecahnya dinding esofagus karena muntah-muntah. 90 % penyebab
ruptur esofagus adalah iatrogenik, yang biasanya diakibatkan oleh
instrumentasi medis seperti paraesophageal endoskopi atau
pembedahan. Dan 10%nya disebabkan oleh muntah-muntah.
Ruptur esofagus umumnya disebabkan oleh peningkatan mendadak
tekanan intraesophageal dan tekanan negatif intrathoracic. Penyebab
lain dari ruptur esofagus meliputi trauma tajam, pil esofagitis,
Barretts ulkus, infeksi ulkus pada pasien dengan AIDS, dan pelebaran
striktur esofagus.
Sebagian besar kasus ruptur esofagus, terjadi pada bagian
posterolateral kiri dan meluas sampai beberapa sentimeter ke arah
distal esofagus. Keadaan ini dikaitkan dengan morbiditas dan
mortalitas yang tinggi dan berakibat fatal pada ketiadaan terapi.
Kadang-kadang gejala non spesifik dapat menyebabkan keterlambatan
dalam diagnosis dan dapat memberikan hasil yang buruk. Penyakit
esofagus yang sudah ada sebelumnya bukan merupakan prasyarat untuk
ruptur esofagus, tapi memberikan kontribusi pada peningkatan angka
kematian ruptur esofagus tersebut.
Ruptur esofagus yang disebabkan oleh trauma akibat benda tajam
masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di
Amerika Serikat dan dunia, meskipun berbagai pendidikan dan
peraturan telah diberikan sebagai upaya untuk mengurangi terjadinya
kasus ini.
Penyebab ruptur esofagus umumnya disebabkan oleh trauma
tajam/tembus, antara lain:
a. kerusakan iatrogenic dari struktur esofagus atau trauma dari luar
b. peningkatan tekanan intraesofagus disertai muntah hebat
c. penyakit esofagus seperti esofagitis korosif, esophageal ulcer dan
neoplasma.
Letak ruptur tergantung dari kasus ruptur esofagus. Ruptur esofagus
biasanya terjadi di pharing atau esefagus bagian bawah tepat di
dinding posterolateral di atas diafragma.
Gejala ruptur esofagus juga berupa nyeri dada yang hebat pada saat
menelan atau bernapas. Udara yang masuk ke mediastinum dapat
menuju ke leher dan dapat menyebabkan emfisema subkutaneus atau
ke dalam rongga pleura dan dapat menyebabkan pneumothorak.
Ruptur esofagus juga bisa disebabkan oleh varises esofagus. Varises
esofagus bisa menyebabkan hematemesis. Pada kasus ini hematemesis
dapat berakibat fatal untuk penderita.

E. Penatalaksanaan Trauma Thorak
1. Bullow Drainage / WSD
Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :
a. Diagnostik :
Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil,
sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak,
sebelum penderita jatuh dalam shock.
b. Terapi :
Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura.
Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga "mechanis of
breathing" dapat kembali seperti yang seharusnya.
c. Preventive :
Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga
"mechanis of breathing" tetap baik.
2. Perawatan WSD dan pedoman latihanya :
a. Mencegah infeksi di bagian masuknya slang.
Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2
hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup
bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka
tubuh pasien.
b. Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit
yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter.
c. Dalam perawatan yang harus diperhatikan :
Penetapan slang.
Slang diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang dimasukkan tidak
terganggu dengan bergeraknya pasien, sehingga rasa sakit di bagian
masuknya slang dapat dikurangi.
Pergantian posisi badan.
Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal
kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada slang, melakukan
pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan,
atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera.
d. Mendorong berkembangnya paru-paru.
Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang.
Latihan napas dalam.
Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk
waktu slang diklem.
Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.
e. Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.
Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 - 800 cc. Jika
perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan
torakotomi. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang, perhatikan
juga secara bersamaan keadaan pernapasan.
f. Suction harus berjalan efektif :
Perhatikan setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah operasi dan
setiap 1 - 2 jam selama 24 jam setelah operasi.
Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan pasien, warna
muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan darah.
Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk
jika suction kurang baik, coba merubah posisi pasien dari terlentang,
ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di
bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan
darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang tertutup oleh
karena perlekatanan di dinding paru-paru.
g. Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage.
Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa cairan
yang keluar kalau ada dicatat.
Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan
adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage.
Penggantian botol harus "tertutup" untuk mencegah udara masuk
yaitu meng"klem" slang pada dua tempat dengan kocher.
Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol
dan slang harus tetap steril.
Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-
sendiri, dengan memakai sarung tangan.
Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada,
misal : slang terlepas, botol terjatuh karena kesalahan dll.
h. Dinyatakan berhasil, bila :
Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan radiologi.
Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage.
Tidak ada pus dari selang WSD.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Trauma thorax dapat timbul karena trauma tajam, sedemikian rupa
sehingga ada hubungan udara luar dan dengan rongga pleura, sehingga
paru menjadi kuncup, Seringkali hal ini terlihat sebagai luka pada
dinding dada yang menghisap pada setiap inspirasi/sucking chost
woundl
Menghadapi pasien dengan trauma toraks, triase pertama adalah
evaluasi terhadap fungsi kardio-pulmoner secara sangat cermat dan
teliti. Bila telah dapat ditegakkan Assesment kardio pulmoner dan
telah dilaksanakan tindakan penanggulangan kegawat daruratan medis
utama, perlu dilakukan Assesment kerangka dan rongga toraks
secara seksama.
Penguasaan ilmu dan teknik pemeriksaan fisik dada akan sangat
menunjang kualitas hasil pertolongan yang diberikan.