Anda di halaman 1dari 12

MONEY POLITIK DALAM PEMILIHAN UMUM

Makalah Ini Dibuat Untuk Memenuhi Nilai Tugas Mata Kuliah Hukum Dan Masyarakat



Disusun Oleh :
IAN MANUEL PURBA
11010111130439

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2013/2014



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang.
Seperti yang kita tahu, bahwa negara kita merupakan negara demokrasi. Demokrasi
merupakan suatu wujud dari kedaulatan rakyat, karena disinilah rakyat memiliki peranan yang
sangat penting. Demokrasi yang dianut di Indonesia, yaitu demokrasi berdasarkan pancasila,
masih dalam taraf perkembangan dan mengenal sifat sifat dan cirri cirinya terdapat berbagai
tafsiran serta pandangan. Tetapi yang tidak dapat disangkal ialah bahwa beberapa nilai pokok
dari demokrasi konstitusional cukup jelas terserat didalam Undang Undang Dasar Negara
Republik Indonesia tahun 1945 yang belum diamandemen.
Demokrasi adalah kata kunci dalam mewujudkan sistem kedaulatan rakyat. Demokrasi
dan kesejahteraan rakyat tidak perlu dipertentangkan, karena demokrasi dan kesejahteraan rakyat
dapat berjalan bersamaan dalam mencapai cita-cita kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Membangun sistem demokrasi yang ideal adalah dengan membangun kesadaran politik
masyarakat, mewujudkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan dan penegakan HAM dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekuasaan politik yang diraih melalui proses demokrasi
yang baik dapat menciptakan harmoni dalam mencapai kesejahteraan rakyat sebagai tujuan dari
negara.
Wujud dari demokrasi di Indonesia salah satunya ialah ditandai dengan maraknya partai
politik yang bermunculnya dengan berlandaskan sebgai wadah aspirasi rakyat. Dari waktu ke
waktu sudah bukan hitungan jari lagi banyaknya partai politik, dari segala kalangan dari segala
bidang, dan mungkin sudah tidak ada lagi warna yang tersisa karena di jandikan sebagai salah
satu identitas partai politik yang mewarnai demokrasi di era reformasi.
Partai politik berangkat dari anggapan bahwa dengan membentuk wadah organisasi
mereka bisa menyatukan orang-orang yang mempunyai pikiran serupa sehingga pikiran dan
orientasi mereka bisa dikonsolidasikan. Secara umum dapat dikatakan bahwa partai politik
adalah suatu kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai,
dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan
merebut kedudukan politik dengan cara konstitusional untuk melaksanakan programnya.
Pada hakekatnya memang partai politik ini melandasi bahwa mereka merupakan wakil
dari rakyat, namun bisa kita lihat di Indonesia saat ini semakin banyak partai politik berbuntut
kebingungan pada masyarakat, karena masyarakat akan bingung dalam menuntukan wakil
mereka dan tidak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan para wakil tersebut pada kenyataannya
tidak mementingkan kepentingan rakyat, tetapi mementingkan kepentingan politik.
Pemilihan Umum (PEMILU) ataupun PILKADA merupakan wujud dari pesta
Demokrasi, dimana pada saat itu rakyat terlibat langsung dalam kehidupan demokrasi di
Indonesia. Pemilihan Umum diselenggarakan untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Dari penjelasan di atas kita bisa tafsirkan bahwa dalam Pemilhan Umum kita pada saat itu akan
memilih wakil wakil rakyat yang akan menyelenggarakan pemerintahan.
Para calon Legislatif dalam hal ini berasal dari beberapa kalangan, ada yang berasal dari
kalangan pengusaha, dan bahkan dari kalangan artis pun ada yang kita tidak tahu seberapa
kapasitas mereka dalam mengetahui politik, sehingga hal tersebut patut dipertanyakan, apakah
mereka yang menyalonkan diri sebagai wakil rakyat itu memang benar untuk rakyat atau
memang hanya ingin sebuah kursi jabatan atau bahkan hanya ingin mendapatkan pendapatan,
karena gaji seorang anggota legislatif itu tidaklah kecil.
Untuk dapat sebuah kursi jabatan tentu saja para calon legislatif haruslah memiliki
dukungan dan suara pada saat Pemilu agar mereka bisa menduduki kursi legislatif yang katanya
bahwa mereka itu mengataskas namakan kepentingan rakyat. Namun dalam hal ini banyak cara
yang di lakukan oleh para calon legislatif tersebut, mulai dari kampanye ke jalan-jalan,
memasang poster-poster foto mereka yang tujuannya agar masyarakat mengenal mereka. Selain
itu tidak sedikit dari mereka berkampanye dengan cara memberi janji kepada rakyat seperti akan
di bangun rumah ibadah, akan membenarkan jalanan yang rusak yang pada intinya mereka
mengumbar janji untuk mengambil hati rakyat agar rakyat memilih mereka.

Selain itu hal yang paling parah ialah mereka melakukan money politik atau politik uang.
Caranya ialah mereka memberikan sejumlah uang kepada rakyat agar rakyat memilh mereka, hal
ini merupakan penyimpangan dari demokrasi. Tetapi tidak sedikit rakyat yang lebih pintar,
memanfaatkan mereka yaitu dengan cara mereka tetap mengambil uang yang para calon
legislatif berikan tetapi masyarakat tidak memilih mereka. Sungguh inilah yang merusak esensi
dari demokrasi.

B. Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan money politik?
Mengapa money politik bisa terjadi di Indonesia?
Apa dampak dari money politik dalam Pemilihan Umum?













BAB II
PEMBAHASAN
A. Defenisi Dari Money Politik
Politik uang adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya
orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya
dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Pembelian bisa dilakukan menggunakan uang
atau barang. Politik uang adalah sebuah bentuk pelanggaran kampanye. Politik uang umumnya
dilakukan simpatisan, kader atau bahkan pengurus partai politik menjelang hari H pemilihan
umum. Praktik politik uang dilakukan dengan cara pemberian berbentuk uang, sembako antara
lain beras, minyak dan gula kepada masyarakat dengan tujuan untuk menarik simpati masyarakat
agar mereka memberikan suaranya untuk partai yang bersangkutan.
Kehidupan politik sejatinya adalah untuk mewujudkan idealisme bagi masyarakat dan
negara. Namun dalam prakteknya politik adalah untuk mempengaruhi dan menggiring pilihan
dan opini masyarakat dengan segala cara. Sehingga, seseorang dan sekelompok orang bisa
meraih kekuasaan dengan pilihan dan opini masyarakat yang berhasil di bangunnya atau
dipengaruhinya.
Pengertian money politik, ada beberapa alternatif pengertian. Diantaranya, suatu upaya
mempengaruhi orang lain dengan menggunakan imbalan materi atau dapat juga diartikan jual
beli suara pada proses politik dan kekuasaan dan tindakan membagi-bagikan uang baik milik
pribadi atau partai unatuk mempengaruhi suara pemilih (vooters). Pengertian ini secara umum
ada kesamaan dengan pemberian uang atau barang kepada seseorang karena memiliki maksud
politik yang tersembunyi dibalik pemberian itu. Jika maksud tersebut tidak ada, maka pemberian
tidak akan dilakukan juga. Praktik semacam itu jelas bersifat ilegal dan merupakan kejahatan.
Konsekwensinya para pelaku apabila ditemukan bukti-bukti terjadinya praktek politik uang akan
terjerat undang-undang anti suap.
Dari penjelasan di atas kita bisa ambil benang merahnya bahwa money politik atau
politik uang itu merupakan tindakan penyimpangan dari kampanye yang bentuknya dengan cara
memberikan uang kepada simpatisan ataupun masyarakat lainnya agar mereka yang telah
mendapatkan uang itu agar mengikuti keinginan orang yang memliki kepentingan tersebut.
Selain itu juga money politik bukan hanya uang, namun juga bisa berbentuk barang, biasanya
bisa berupa beras, mie, ataupun bahan-bahan sembako. Money politik biasanya dilakukan kepada
masyarakat yang ekonominya rendah, karena itu lah sasaran mereka.
B. Penyebab Terjadinya Money Politik di Indonesia
Seperti teori kausalitas dikatakan bahwa ada akibat karena ada sebab, begitu juga
permasalah yang satu ini, pasti ada penyebab atau latar belakang dari terjadinya money politik di
negeri Indonesia yang telah mencoreng esensi dari demokrasi.
Dalam masalah ini bisa kita analogikan, apabila kita ingin mengendari mobil, tentu saja
kita harus memiliki mobil, setelah memiliki mobil tentu saja agar mobilnya berjalan tentu saja
harus ada bahan bakarnya, begitu juga yang di lakukan oleh para calon legislatif. Partai politik
merupakan kendaraan mereka, dan agar mereka bisa lolos menjadi anggota legislatif maka perlu
lah modal berupa materi yaitu uang, disinilah mereka memulai caranya dengan mengiiming-
imingkan masyarakat dengan bentuk materil agar mereka dapat dipih oleh masyarakat.
Tentu saja pasti ada alasan mengapa masyarakat menerima uang atau suapan lainnya
yang di berikan para calon legislatif. Seperti kita tahu bahwa kodrat manusia itu tidak pernah
cukup, tidak kita sangkai bahwa memang manusia sangat menyukai uang karena memang itulah
kebutuhan pokok manusia. Selain itu masa kampanye pun bisa dijadikan ajang penambah
pendapatan mereka. Ada alasan lain juga, mungkin itu sebuah kekesalan masyarakat akan kinerja
wakil rakyat selama ini, masyarakat berpikir bilamana mereka telah duduk di tahtanya otomatis
mereka akan lupa terhadap janji-janji dan harapan-harapan yang telah mereka orasikan,
kedekatan semasa kampanye akan berakhir secara spontan, jadi masyarakat seolah berpikir ada
baiknya para caleg di manfaatkan sewaktu masa kampanyenya.
Dijelaskan Sudjito (2009), filosofi manusia modern mempunyai beberapa ciri. Di
antaranya, pertama, manusia modern hidup berdasarkan rasionalitas yang tinggi. Kedua,
kebutuhan manusia terfokus pada materi kebendaan. Di antara materi kebendaan yang dipandang
memiliki nilai tertinggi adalah uang.
Edy Suandi Hamid (2009) yang melihat dari kacamata ekonomi, menilai money politik
muncul karena adanya hubungan mutualisme antara pelaku (partai, politisi, atau perantara) dan
korban (rakyat). Keduanya saling mendapatkan keuntungan dengan mekanisme money politik.
Bagi politisi, money politik merupakan media instan yang dengan cara itu suara konstituen dapat
dibeli. Sebaliknya, bagi rakyat, money politik ibarat bonus rutin di masa Pemilu yang lebih riil
dibandingan dengan program-program yang dijanjikan.
Dalam pendekatan konflik, kita bisa lihat bahwa bentuk konflik yang terjadi dalam
fenomena money politik ini adalah konflik laten, karena konflik yang terjadi tidak dapat dilihat
dengan kasat mata, namun dapat dirasakan dari fenomena yang terjadi, yaitu persaingan para
caleg yang berusaha memperoleh suara konstituen dengan membagi-bagikan uang. Namun ada
kalanya bentuk konflik tersebut berubah menjadi konflik over (manifest) ketika money politik ini
muncul ke permukaan dan menimbulkan konflik secara nyata, seperti saling menjatuhkan antara
caleg, dan bentuk persaingan lain yang tidak sehat. Belum lagi konflik antara pendukung salah
satu caleg yang agak fanatis untuk memenangkan calegnya, tentu akan menghalalkan segala
cara, termasuk dengan politik uang yang dianggap paling efektif dalam mengumpulkan suara
untuk para caleg yang sedang bersaing.
Teori konflik yang lain yang dapat digunakan untuk mengkaji fenomena di atas adalah
teori hubungan masyarakat. Teori hubungan masyarakat menganggap bahwa konflik disebabkan
oleh polarisasi yang terus terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan/persaingan di antara
kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Fakta dari teori di atas dapat dilihat dari
fenomena money politik, seperti yang terjadi di Desa Perancak, dari tidak adanya hubungan yang
baik secara berkelanjutan antara caleg dan konstituennya. Dalam artian sebelum kampanye
dimulai, antara caleg dan masyarakat yang diharapkan bisa memilih dirinya tidak pernah saling
ada hubungan, atau bahkan tidak saling mengenal.
Hubungan seperti ini tentu saja mengancam posisi seorang caleg, yang kemungkinan
akan gagal karena tidak mendapat suara dalam Pemilu yang digelar karena para konstituen tidak
mengenal dirinya. Sosialisasi baik melalui media massa, spanduk, baliho, SMS, ataupun di
internet, juga tidak begitu efektif untuk mengumpulkan suara karena masyarakat merasa tidak
memiliki ikatan emosional dengan caleg yang bersangkutan. Oleh karena itu, satu-satunya cara
untuk mendapat dukungan suara dari masyarakat yang realistis dan (mungkin saja) materialistis
adalah dengan politik uang, yaitu membagikan uang kepada konstituen dengan timbal balik
masyarakat mau memilih caleg yang memberikan uang.
Adapun penyebab dari terjadinya money politik karena kurang dijungjungnya Hak Asasi
Manusia. Para calon legislatif memberikan uang ataupun suapan dalam bentuk lainnya dan
meminta agar masyarakat yang menrimanya memilih mereka ketika Pemilu, itu merupakan suatu
pelanggaran Hak Asasi Manusia. Kita bisa lihat bahwa di dalam UUD 1945 pasal 28E ayat (2)
berbunyi : Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan
sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Tentu saja money politik merupakan pelanggaran Hak
Asasi seseorang dalam menentukan pilihan. Atas dasar karena mereka telah mendapatkan uang
suapan dari para caleg, akhirnya mereka bisa saja memilih tidak sesuai dengan hati nuraninya,
namun karena atas dasar balas budi kepada calon legislatif yang telah membantu mereka dalam
memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Selain itu penyebab terjadinya money politik bisa disebabkan kurang tegasnya hukum di
Indonesia. Pasal 73 ayat 3 Undang Undang No. 3 tahun 1999 berbunyi: "Barang siapa pada
waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau
janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih
maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan pidana hukuman
penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap
berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu. Adapula peraturan lainya yaitu dalam Undang-
Undang Pemilu No. 10 tahun 2008 pasal 84 telah di peringatkan bahwa Dalam hal terbukti
pelaksana kampanye menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya sebagai imbalan
kepada peserta kampanye secara langsung ataupun tidak langsung agar: memilih calon anggota
DPR, DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota tertentu; atau memilih calon anggota DPD tertentu
(huruf d dan e), dikenai sanksi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Kita bisa lihat di atas, bahwa money politik atau tindak penyuapan merupakan
pelanggaran dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum. Walaupun aturan ini sudah tertlulis tegas
tetapi masih banyak pelanggaran pelanggaran yang terjadi, hal ini bisa membuktikan bahwa
memang hukum di Indonesia masih kurang di tegakkan. Hal yang dilakukan oleh para penjual
suara dan para pembeli suara di pasar Politik, sangat bertentangan dengan peraturan yang ada.
Namun sampai saat ini belum ada tindakan yang signifikan terhadap pelanggaran-pelanggaran
tersebut, bahkan seakan-akan legal-legal saja.
C. Dampak Money Politik Dalam Pemilihan Umum
Banyak sekali dampak yang dihadirkan akibat dari money politik, baik itu dampak bagi
masyarakatnya maupun dampak bagi para calon legislatif itu sendiri. Dampak bagi para calon
legislatif sendiri ada dua sisi, yang pertama apabila mereka berhasil terpelih karena suksesnya
money poltic yang mereka lakukan, maupun dampak dari kekalahan para calon legislatif yang
gagal dalam money politik yang mereka lakukan.
Bagi para calon legislatif yang gagal dampaknya ialah bila mereka imannya kurang ,
mereka bisa saja menjadi gila, atau psikologi nya terganggu, karena kita bisa banyak temukan
para calon legislatif yang gila karena mereka gagal menduduki kursi legislatif. Selain karena
kurang suara, tidak sedikit para calon legislatif yang gagal karena terbukti melakukan
pelanggaran, ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula, sudah keluar uang banyak taidak
terpilih dan akhirnya tertangkap pula, akibatnya rumah sakit lah yang menjadi ujung perjuangan
mereka.
Dampak lainnya kita perhatikan dari sisi apabila para calon legislatif itu berhasil
melenggang mendapatkan kursi legislatif akibat dari money politik. Dalam hal ini dampak yang
sangat harus kita waspadai ialah penyalahgunaan jabatan, karena bisa kita lihat banyak kasus-
kasus korupsi di ranah legislatif. Mereka berfikir karena mereka sebelum menduduki kursi
legislatif mereka sudah habis modal besar-besaran, sehingga saat itu lah yang menjadi cara agar
modal yang telah habis mereka gunakan money politik kembali lagi, istilah lainnya balik
modal. Tidak dapat dipungkiri banyak sekali proyek-proyek yang bisa menimbulkan korupsi
yang tidak sedikit.
Money politik bisa juga berdampak perpecahan antar masyarakat, karena masyarakat
telah berhutang budi kepada calon legislatif yang telah memberikan bentuk penyuapan, sehingga
sikap fanatik akan timbul dan mereka menganggap para calon legislatif lainnya buruk
dibandingkan yang mereka dukung, disinilah akan terjadi konflik antar pendukung masing-
masing para calon legislatif. Sangat disayangkan apabila terjadi perpecahan yang terjadi di
masyarakat akibat permainan para politisi dengan money politik.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Money politik atau politik uang itu merupakan tindakan penyimpangan dari kampanye
yang bentuknya dengan cara memberikan uang kepada simpatisan ataupun masyarakat lainnya
agar mereka yang telah mendapatkan uang itu agar mengikuti keinginan orang yang memliki
kepentingan tersebut. Selain itu juga money politik bukan hanya uang, namun juga bisa
berbentuk bahan-bahan sembako.
Banyak sekali penyebab terjadinya Money politik diantaranya disebabkan karena
masyarakat masih belum siap untuk hidup berdemokrasi secara utuh. Selain itu money politik
bisa terjadi karena masih kurang di tegakkannya hukum di Indonesia. Tugas banwaslu yang
masih kurang efektif dalam mengawasi pemilihan umum agar berjalan sesuai tujuan. Ada juga
penyebab lainnya yaitu kurang diperhatikannya menganai Hak Asasi Manusia, masyarakat
tentunya akan bimbang apabila telah mendapatkan money politik karena mereka berhutang budi
kepada mereka, padahal dalam lubuk hatinya mereka tidak mau memilih caleg tersebut. Tetapi
dari alasan penyebab terjadinya money politik yang terpenting yaitu karena masih kurang iman
dan taqwanya para politisi maupunn masyarakatnya itu sendiri. Apabila para politisi maupun
masyarakatnya sendiri dibentengi dengan iman yang kuat mungkin tidak akan ada bentuk-bentuk
penyimpangan yang terjadi.
Dampak dari adanya money politik tentunya banyak sekali. Dampak bagi para caleg yang
lolos maupun para caleg yang tidak berhasil lolos. Dampak bagi caleg yang berhasil lolos
tentunya akan berdampak juga terhadap pemerintahan karena yang berhasil menduduki kursi
legisatif tidak bisa dipungkiri masih banyak yang tidak kompeten sehingga sesuai hadist
Rasululloh Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat
kehancurannya. Itu lah yang tidak di inginkan oleh kita sebagai warga negara Indonesia, selain
itu dampak bagi masyarakatnya sendiri akan timbul perpecahan, karena saking fanatiknya dan
merasa harus balas budi karena mereka telah di beri bentuk penyuapan oleh para caleg, sehingga
menganggap caleg yang lainnyna rendah dibandingkan yang mereka dukung. Namun yang tidak
di inginkan apabila para pendukung melakukan cara apapun agar yang mereka dukung lolos.
Teori konflik maupun teori pendekatan fungsional bisa dijadikan alat untuk memecahkan
fenomena menganai money politik. Dari cara-cara yang telah di atas dipaparkan yang terpenting
untuk mencegah terjadinya money politik yaitu dengan meningkatkan kualitas iman dan taqwa
para politisi, karena dalam hal ini agama bisa membentengi kita agar tidak melakukan hal-hal
yang negatif.
















DAFTAR PUSTAKA
Kitab Undang-Undang Dasar 1945 Negara Republik Indonesia
Undang Undang No. 3 tahun 1999 tentang Pemilihan Umum
Budiardjo, M. 2009.Dasar-Dasar Ilmu Politik. JAKARTA : Gramedia Pustaka Utama.
Sumber dari internet
http://id.wikipedia.org/wiki/Politik_uang.html
http://www.yogyakartaonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=363:pemil
u&catid=1:latest-news.html
http://pkntradisimoneypolitik.blogspot.com.html