Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS KREDIT

BAGIAN 1 : LIKUIDITAS
LIKUIDITAS DAN MODAL KERJA
Likuiditas (liquidity) mengacu pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka
pendeknya.
Modal kerja merupakan ukuran likuiditas yang banyak digunakan. Modal kerja (working capital)
adalah selisih aset lancar setelah dikurangi kewajiban lancar.
Aset Lancar dan Kewajiban Lancar
Analisis harus menilai apakah seluruh kewajiban lancar yang kemungkinan besar akhirnya
mengakibatkan pembayaran telah disajikan sebagai kewajiban lancar. Jika tidak dimasukkan, maka
akan mengurangi manfaat analisis modal kerja. Berikut 3 masalah umum yang perlu diperhatikan.
1. Kewajiban kontijen yang terkait dengan jaminan atas hutang. Kita perlu menilai
kemungkinan bahwa kontijensi ini menjadi nyata saat menghitung modal kerja
2. Pembayaran minimun sewa di masa depan yang terkait dengan perjanjian sewa guna usaha
operasi yang tidak dapat dibatalkan
3. Kontrak atas konstruksi atau akusisi aset jangka panjang seringkali mewajibkan pembayaran
berkelanjutan dalam jumlah besar. Kewajiban membayar ini disajikan pada catatan kaki
sebagai komitmen dan bukan sebagai kewajiban dalam neraca. Saat menghitung modal
kerja, analisis seharusnya memperhitungkan komitmen ini.

Ukuran Likuiditas dengan Rasio Lancar

Relevansi Rasio Lancar
Alasan digunakan rasio lancar sebagai ukuran likuiditas mencakup kemampuannya untuk mengukur :
Kemampuan memenuhi kewajiban lancar. Makin tinggi jumlah (kelipatan) aset lancar
terhadap kewajiban lancar, makin besar keyakinan bahwa kewajiban lancar tersebut akan
dibayar.
Penyangga kerugian. Makin besar penyangga, makin kecil risikonya.Rasio lancar
menunjukkan tingkat keamanan yang tersedia untuk menutup penurunan nilai aset lancar
non-kas pada saat aset tersebut dilepas atau dilikuidasi.
Cadangan dana lancar. Rasio lancar merupakan ukuran tingkat keamanan terhadap
ketidakpastian dan kejutan atas arus kas perusahaan.

Keterbatasan Rasio Lancar
Rasio lancar tidak mengukur dan memprediksikan pola arus kas masuk dan arus kas keluar
masa depan
Rasio lancar tidak mengukur kecukupan arus kas masu terhadap arus kas keluar masa depan
Menggunakan Rasio Lancar dalam Analisis
Dari pembahasan rasio lancar setidaknya dapat diambil 3 kesimpulan :
1. Sebagian besar likuiditas bergantung pada arus kas prospektif dan sebagian kecil bergantung
pada tingkat kas dan setara kas
2. Tidak ada hubungan langsung antara saldo akun modal kerja dan pola arus kas masa depan
3. Kebijakan manajer mengenai piutang dan persediaan utamanya ditujukan bagi penggunaan
aset secara efisien dan menguntungkan, kemudian tujuan kedua adalah likuiditas.
Ukuran likuiditas dengan Rasio Berbasis kas
Rasio Kas terhadap Aset Lancar
Kas + Setara Kas + Efek yang dapat diperjualbelikan
Aktiva Lancar
Rasio Kas terhadap Kewajiban Lancar
Kas + Setara Kas + Efek yang dapat diperjualbelikan
Kewajiban Lancar

ANALISIS LIKUIDITAS BERDASARKAN AKTIVITAS OPERASI
Ukuran likuiditas Piutang Usaha
Account receivable turnover = Penjualan kredit bersih
Rata-rata piutang usaha
Jumlah hari penagihan piutang = piutang : ( penjualan/360 )
Ukuran Perputaran Persediaan
Inventory turnover ratio = Harga pokok penjualan
Rata-rata persediaan
Jumlah hari penjualan dalam persediaann = Persediaan : ( Harga pokok penjualan/360 )


Likuiditas Kewajiban Lancar
Kewajiban lancar penting dalam perhitungan modal kerja dan rasio lancar untuk dua alasan yang
saling terkait berikut ini :
1. Kewajiban lancar digunakan untuk menentukan pakah selisih aset lancar dengan kewajiban
lancar dapat mencukupi margin keamanan (margin of safety)
2. Kewajiban lancar dikurangi dari aset lancar untuk menghitung modal kerja
Account payable turnover ratio = Harga pokok penjualan : Rata-rata utang usaha
Jumlah hari rata-rata utang belum dibayar = Utang usaha : (Harga pokok penjualan/360 )
Ukuran likuiditas Lainnya
Acid test/ quick ratio = Kas + Setara kas + Efek yang dapat diperjualbelikan + Piutang usaha
Kewajiban Lancar
Rasio arus kas = Arus kas operasi : kewajiban lancar
Fleksibilitas keuangan (finacial flexibility) merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk
mengambil langkah guna mengatasi interupsi yang tidak diharapkan pada arus dana.

BAGIAN 2 : STRUKTUR MODAL DAN SOLVABILITAS
Dasar-dasar solvabilitas
Persyaratan utang biasanya dirancang untuk :
1. Menekankan ukuran kekuatan keuangan utama seperti rasio lancar dan rasio utang
terhadap ekuitas
2. Menghindari penerbitan utang tambahan
3. Memastikan tidak adanya pengeluaran sumber daya perusahaan melalui dividen yang
berlebihan atau akuisisi
Karakteristik Utang dan Ekuitas
Ekuitas mengacu pada risiko modal suatu perusahaan. Karakteristik modal ekuitas mencakup
prngembaliannya yang tidak pasti dan tidak tentu serta tidak adanya pola pembayaran kembali.
Modal ekuitas memberi kontribusi pada stabilitas dan solvabilitas perusahaan.
Berbeda dengan ekuitas, baik modal utang jangka pendek maupun jangka panjang harus dibayar
kembali. Makin panjang periode pembayaran kembali utang dan makin longgarnya ketentuan
pembayaran kembali maka makin mudah bagi suatu perusahaan untuk melunasi modal utang.
Motivasi Memperoleh Modal Utang
Dari sudut pandang pemegang saham, utang adalah sumber pendanaan eksternal yang lebih disukai
karena dua alasan:
1. Bunga atas sebagian besar utang jumlahnya tetap, dan jika bunga lebih ekcil daripada
pengembalian atas aset operasi bersih, selisih pengembalian tersebut akan menjadi
keuntungan bagi investor ekuitas
2. Bunga merupakan beban yang dapat mengurangi pajak, sedangkan dividen tidak
KOMPOSISI STRUKTUR MODAL DAN SOLVABILITAS
Risiko fundamental struktur modal dengan utang adalah risiko tidak cukupnya kas pada saat-saat
sulit. Utang melibatkan komitmen untuk membayar beban tetap dalam bentuk bunga dan
pembayaran kembali pokok pinjaman.
Ukuran Struktur Modal untuk Analisis Solvabilitas
Total debt ratio = Total utang
Total modal
Total debt to equity capital ratio = Total utang
Ekuitas pemegang saham
Long term debt to equity capital ratio = Utang jangka panjang
Ekuitas pemegan saham

CAKUPAN LABA
Hubungan Laba dengan Beban Tetap
Ukuran rasio laba terhadap beban tetap = Laba yang tersedia untuk memenuhi beban tetap
Beban tetap
Menghitung Laba terhadap Beban Tetap
Rumus untuk menghitung rasio laba terhadap beban tetap yang konvensional dan telah diadopsi
oleh SEC adalah :
(a.)Laba sebelum pajak dari operasi rutin + (b) Beban bunga + (c) Amortisasi beban utang dan
diskonto atau premium + (d) Bagian bunga dari beban sewa oeprasi + (e) Persyaratan dividen saham
preferen anak perusahaan dengan kepemilikan mayoritas setelah disesuaikan dengan pajak + (f)
Jumlah amortisasi bunga yang sebelumnya dikapitalisasi (g) Laba yang belum dibagikan untuk anak
perusahaan atau perusahaan afiliasi dengan kepemilikan kurang dari 50%
(h) Beban bunga total + (c) Amortisasi beban utang dan diskonto atau premium + (d) Bagian bunga
dari beban sewa operasi + (e) Persyaratan dividen saham preferen anak perusahaan dengan
kepemilikan mayoritas setelah disesuaikan dengan pajak
Analisis Periode Penagihan Bunga
Time interest earned ratio = Laba+ Beban Pajak + Beban bunga
Beban bunga



Hubungan Arus Kas dengan Beban tetap
Rasio arus kas terhadap beban tetap = Arus kas operasi sebelum pajak + penyesuaian (b) hingga (g)
Beban Tetap
Cakupan Laba atas Dividen Saham preferen
Rasio cakupan laba atas dividen saham preferen :
Laba sebelum pajak + penyesuaian (b) hingga (g)
Beban tetap + {Dividen saham preferen: (1- tarif pajak)}
Intrepretasi Ukuran Cakupan Laba
Ukuran cakupan laba memberikan pemahaman mengenai kemampuan perusahaan untuk
memenuhi beban tetapnya dari laba berjalan. Teradapat korelasi yang tinggi antara ukuran cakupan
laba dengan tingkat gagal bayar utang yaitu makin tinggi cakupan, makin rendah tingkat gagal bayar.
PERINGKAT KREDIT OBLIGASI
Peringkat kredit obligasi merupakan cerminan kombinasi penilaian atas kelayakan kredit penerbit
obligasi dan kualitas efek yang dinilai. Penilaian kelayakan kredit ini dinyatakan dalam simbol yang
mencerminkan tingkat risiko kredit. Berikut empat peringkat terbaik dari Standard & Poors
AAA Obligasi dengan peringkat AAA merupakan obligasi tingkat tertinggi. Obligasi ini memiliki
perlindungan tertinggi untuk pokok pinjaman dan bunga.
AA Obligasi dengan peringkat AA juga memiliki kualifikasi obligasi tingkat tinggi dan secara
umum hanya sedikit berbeda dengan obligasi AAA.
A Obligasi dengan peringkat A dianggap obligasi menegah ke atas. Obligasi ini memiliki
kekeuatan investasi yang layak, tetapi tidak bebas dari dampak buruk peruabahan ekonomi
dan kondisi perdagangan. Bunga dan pembayaran pokok dianggap aman.
BBB Obligasi dengan peringkat BBB, atau kategori menengah, merupakan batas antara obligasi
yang aman dengan obligasi yang didominasi unsur spekulasi.
MEMPREDIKSI KESULITAN KEUANGAN
ALTMAN Z-SCORE
Salah satu model kesulitan keuang yang paling terkenal adalah altman z-score. Alat prediksi ini
menggolongkan atau memprediksi kemungkinan bangkrut atau tidak bangkrutnya perusahaan. Lima
razio yang digunakan pada z-score adalah X
1
= Modal kerja/ Total aset, X
2
= Laba ditahan/ Total aset,
X
3
= Laba sebelum bunga dan pajak/ Total aset, X
4
= Ekuitas pemegang saham/ Total kewajiban, X
5
=
Penjualan/ Total aset
Altman Z-score dihitung sebagai berikut :
Z = 0,717 X
1
+ 0,847 X
2
+ 3,107 X
3
+ 0,420 X
4
+ 0,998 X
5

Z-score kurang dari 1,2 mencerminkan probabilitas kebangkrutan yang tinggi, sementara Z-score
diatas 2,9 menunjukkan probabilitas kebangkrutan yang rendah. Angka di antara 1,2 dan 2,9 berada
pada wilayah abu-abu atau meragukan.