Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Stabilitas merupakan prasyarat bagi pertumbuhan dan pemerataan sehingga
laju inflasi yang terlalu tinggi harus diturunkan karena menggangu pertumbuhan
dan memelaratkan rakyat kecil yang berpenghasilan rendah dan tetap. Itulah
sebabnya mengapa setelah krisis 1965/1966 dan juga setelah krisis 1997, program
untuk mencapai stabilitas yang memadai, terutama dalam bentuk menurunkan
tingkat inflasi, menjadi prioritas utana di mana pemerintah dan Bank Indonesia tela
Dalam tiga tahun, inflasi dapat diturunkan dari 650 persen (1996) menjadi 9
persen (1969), kemudian setelah 1997 inflasi juga dapat dirutunkan dalam 5
tahun dari 70 persen (1998) menjadi hanya 5 persen (2003). Namun stabilitas
bukan hanya demi untuk stabilitas, tetapi untuk sesuatu yang lebih besar, yaitu
pemerataan dan pertumbuhan.h berhasil dengan gemilang.
Inflasi yang dapat dikendalikan ini ternyata tidak diimbangi dengan konsumsi
masyarakat. Setelah kenaikan harga BBM, harga-harga menjadi tnggi sehingga daya
beli masyarakat masih rendah. Pertumbuhan ekonomi yang sebesar 4,6 persen
pada triwulan 1 tahun 2006 atau lebih kecil 0,3 presen pada triwulan akhir 2005,
masih menunjukkan bahwa pemerintah belum bisa membuka untuk memberikan
kesempatan kerja kepada rakyatnya. Hal ini terlihat dari jumlah pengangguran yang
setiap tahun semakin bertambah. Pada tahun 2004 angka pengangguran sebesar
10.251.351 jiwa, sedangkan pada tahun 2004 sebesar 10.854.254 jiwa.
Sementara itu, dunia usaha juga mengalami kelesuan. Mereka harus berpacu
dengan tuntutan kenaikan upah minimum yang harus dipenuhi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat ditaruk rumusan masalah
sebagai beikut:
1. Bagaimana konsep inflasi
2. Bagaimana hubungan antara inflasi dan pengangguran serta kesempatan
kerja?
3. Bagaimana kondisi inflasi, pengangguran dan kesempatan kerja di
Indonesia?
4. Kebijakan apa yang diambil pemerintah untuk menstabilkan perekonomian
Indonesia kaitannya dengan inflasi, pengangguran dan kesempatan kerja?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dari makalah ini adalah:
1. Mengetahui konsep inflasi.
2. Mengetahui hubungan antara inflasi.
3. Mengetahui kondisi inflasi.
4. Mengetahui kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengendalikn
inflasi.






BAB II
PEMBAHASAN
Inflasi adalah suatu gejala-gejala kenaikan harga barang-barang yang sifatnya itu
umum dan terus-menerus. Dapat disebut inflasi jika ada tiga faktor yaitu :
- Kenaikan harga
- Bersifat umum
- Berlansung terus-menerus

1. Kenaikan harga
Harga barang dapat di katakana naik jika harganya menjadi tinggi dari harga
sebelumnya. Contohnya harga BBM yaitu Rp35,00/ltr pada mingu lalu,
sedangkan pada minggu ini harga BBM menjadi Rp45,00/ltr lebih mahal dari
minggu kemarin.

2. Sifatnya umum
Kenaik harga suatu barang tidak dapat di katakana inflasi jika naiknya
barang tersebut tidak menyebabkan harga-harga secara umum . Contohnya :
jika harga BBM naik maka ongkos angkutan umum,bahan-bahan pokok menjadi
naik ini baru bias disebut inflasi.

3. Berlanasung terus-menerus
Naiknya harga suatu barang tidak dapat di katakana inflasi jika naiknya
barang tersebut terjadinya hanya sesaat, inflasi itu dilakukan dalam rentang
minimal bulanan.
Ada beberapa faktor maslah sosial yang muncul dari inflasi yaitu :
1. Menurunya tingkat kesejahtraan rakyat
2. Memburuknya distribusi pendapatan
3. Terganggunya stabilitas ekonomi.

A. JENIS JENIS INFLASI

Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang,
berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah
angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%30% setahun; berat antara 30%
100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan
harga berada di atas 100%.
Menurut tingkat keparahan atau laju inflasi, meliputi :
1. Inflasi Ringan (Creeping Inflation)
Inflasi yang tingkatannya masih di bawah 10% setahun
2. Inflasi Sedang
Inflasi yang tingkatannya berada diantara 10% - 30% setahun
3. Inflasi Berat
Inflasi yang tingkatannya berada diantara 30% - 100% setahun
4. Hiper Inflasi
Inflasi yang tingkat keparahannya berada di atas 100% setahun. Hal ini
pernah dialami Indonesia pada masa orde lama.

Ada pun Jenis-jenis inflasi, berdasarkan kepada sumber atau penyebab
kenaikan harga-harga yang berlaku, inflasi biasanya dibedakan kepada tiga bentuk
berikut :
1. Inflasi tarikan Permintaan, inflasi ini biasanya terjadi pada masa
perekonomian berkembang dengan pesat. Kesempatan kerja yang tinggi
menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya menimbulkan
pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang
dan jasa.
2. Inflasi Desakan Biaya, inflasi ini berlaku dalam masa perekonomian
berkembang dengan pesat ketika tingkat pengangguran sangat rendah.
Apabila perusahaan menghadapi permintaan yang bertambah, mereka
akan berusaha menaikan produksi dengan cara memberikan gaji dan upah
yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan mencari pekerja baru dengan
tawaran yang lebih tinggi ini. Langkah ini mengakibatkan biaya produksi
yang meningkat, yang akhirnya akan menyebabkan kenaikan harga-harga
berbagai barang (inflasi).
3. Inflasi Diimpor, inflasi dapat juga bersumber dari kenaikan harga barang-
barang yang diimpor. Inflasi ini akan wujud apabila barang-barang impor
mengalami kenaikan harga yang mempunyai peranan penting dalam
kegiatan pengeluran perusahaan-peruasahaan.
Jenis-jenis inflasi berdasarkan persentasi atau nominal digit inflasinya, dapat
dibedakan kedalam :
- Moderate Low Inflation (inflasi 1 digit) misalnya 1% s.d 9%, biasanya orang
masih percaya dan memiliki daya beli dan juga nilai mata uang masih berharga.
- Galloping Inflation (inflasi dua digit) misalnya 10% s.d 99%, dimana orang mulai
ragu, daya beli menurun, nilai mata uang menjadi semakin menurun.
- Hyper Inflation (inflasi tinggi diatas 100%) adalah proses kenaikan harga-harga
yang sangat cepat, yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua atau
beberapa kali lipat dalam jangka waktu yang singkat, keadaan seperti ini orang-
orang sudah tidak percaya pada mata uang. Dimana nilai nominal uang jadi
tidak berharga jika situasi ini terjadi maka pemerintah melakukan Senering
yaitu pemotongan nilai uang.
-
B. Faktor - faktor yang mempengaruhi Inflasi

Menurut Samuelson dan Nordhaus (1998:587), ada beberapa faktor yang
menyebabkan timbulnya inflasi:
1. DemandPull Inflation
Timbul apabila permintaan agregat meningkat lebih cepat dibandingkan
dengan potensi produktif perekonomian, menarik harga ke atas untuk
menyeimbangkan penawaran dan pennintaan agregat.
2. Cost Push Inflation or Supply Shock Inflation
Inflasi yang diakibatkan oleh peningkatan biaya selama periode
pengangguran tinggi dan penggunaan sumber daya yang kurang efektif.

Sedangkan faktor- faktor yang menyebabkan timbulnya inflasi tidak hanya
dipengaruhi oleh Demand Pull Inflation dan Cost Push Inflation tetapi juga
dipengaruhi oleh :
1. Domestic Inflation
Tingkat inflasi yang terjadi karena disebabkan oleh kenaikan harga barang
secara umum di dalam negeri.
2. ImportedInflation
Tingkat inflasi yang terjadi karena disebabkan oleh kenaikan harga-harga
barang.

pada umumnya inflasi bersumber dari salah satu atu gabungan dari dua
masalah berikut :
a. Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan-
perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa.
b. Pekerja-pekerja diberbagai kegiatan ekonomi menuntut kenaikan upah.
Disamping itu inflasi dapat pula berlaku sebagai akibat dari : Pertama, kenaikan
harga-harga barang yang diimpor. Kedua, penambahan penawaran uang yang
berlebihan tanpa diikuti pertambahan produksi dan penawaran barang. Ketiga,
kekacauan politik dan ekonomi sebagai akibat pemerintah yang kurang
bertanggung jawab.
Akibat-akibat buruk dari inflasi beragam seperti pengangguran yang kian
bertambah, menurunkan taraf kemakmuran masyarakat dimana upah riil para
pekerja akan merosot sehingga taraf hidupnya pun akan menurun. Prospek
pembangunan ekonomi jangka panjang akan menjadi semakin memburuk jika
inflasi tidak dapat dikendalikan atau diatasi. Inflasi yang bertambah serius tersebut
cenderung akan mengurangi investasi yang produktif, mengurangi ekspor dan
menaikan impor. Kecenderungan ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Tujuan jangka panjang pemerintah adalah menjaga agar tingkat inflasi yang berlaku
berada pada tingkat yang sangat rendah. Adakalanya tingkat inflasi meningkat
dengan tiba-tiba sebagai akibat suatu peristiwa tertentu ysng berlaku diluar
ekspektasi pemerintah misalnya depresiasi nilai uang yang sangat besar atau
keadaan politik yang tidak stabil.
C. PENYEBAB INFLASI

Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan atau desakan
biaya produksi.
Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya
permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga.
Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan
bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya
permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor
produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan
total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment.
Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat meningkatnya
biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang
dihasilkan ikut naik.

1. Penanggulangan BANK SENTRAL
peran bank sentral sangat berpengaruh. Bank sentral memainkan peranan
penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada
umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar.
Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam
artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank
sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi
menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen -- salah satunya
disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan
moneter untuk mendorong perekonomian -- akan mendorong tingkat inflasi
yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau
tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu,
bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang
domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat
internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini
pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia,
termasuk oleh Bank Indonesia.

D. CARA MENGATASI INFLASI
Usaha untuk mengatasi terjadinya inflasi harus dimulai dari penyebab
terjadinya inflasi supaya dapat dicari jalan keluarnya. Secara teoritis untuk
mengatasi inflasi relatif mudah, yaitu dengan cara mengatasi pokok pangkalnya,
mengurangi jumlah uang yang beredar. Berikut ini kebijakan yang diharapkan dapat
mengatasi inflasi:
1. Kebijakan Moneter
segala kebijakan pemerintah di bidang moneter dengan tujuan menjaga
kestabilan moneter untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Kebijakan ini
meliputi:
a. Politik diskonto, dengan mengurangi jumlah uang yang beredar dengan
cara menaikan suku bunga bank, hal ini diharapkan permintaan kredit
akan berkurang.
b. Operasi pasar terbuka, mengurangi jumlah uang yang beredar dengan
cara menjual SBI
c. Menaikan cadangan kas, sehingga uang yang diedarkan oleh bank
umum menjadi berkurang
d. Kredit selektif, politik bank sentral untuk mengurangi jumlah uang yang
beredar dengan cara memperketat pemberian kredit
e. Politik sanering, ini dilakukan bila sudah terjadi hiper inflasi, ini pernah
dilakukan BI pada tanggal 13 Desember 1965 yang melakukan
pemotongan uang dari Rp.1.000 menjadi Rp.1

2. Kebijakan Fiskal
dapat dilakukan dengan cara:
a. menaikkan tarif pajak, diharapkan masyarakat akan menyetor uang
lebih banyak kepada pemerintah sebagai pembayaran pajak,
sehingga dapat mengurangi jumlah uang yang beredar.
b. Mengatur penerimaan dan pengeluaran pemerintah
c. Mengadakan pinjaman pemerintah, misalnya pemerintah memotong
gaji pegawai negeri 10% untuk ditabung, ini terjadi pada masa orde
lama.

3. Kebijakan Non Moneter
dapat dilakukan melalui:
a. Menaikan hasil produksi, Pemerintah memberikan subsidi kepada
industri untuk lebih produktif dan menghasilkan output yang lebih
banyak, sehingga harga akan menjadi turun.
b. Kebijakan upah, pemerintah menghimbau kepada serikat buruh untuk
tidak meminta kenaikan upah disaat sedang inflasi.
c. Pengawasan harga, kebijakan pemerintah dengan menentukan harga
maksimum bagi barang-barang tertentu.

E. DAMPAK INFLASI

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau
tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif
dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan
pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan
mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat
terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau
dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja,
menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat
dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau
karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan
mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk
dari waktu ke waktu.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh
lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan
terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha
besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada
akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan
produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu.
Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin
akan bangkrut (biasanya terjadi pada Pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu
negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang
bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi,
defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan
masyarakat.

F. CONTOH NEGARA YANG MENGALAMI INFLASI
Inflasi saat ini tak hanya melanda Indonesia belaka. Se-antero dunia pun saat
ini sedang menghadapi gelombang pasang inflasi. Fenomena yang demikian ini
diakibatkan ulah lonjakan harga minyak maupun komiditas lainnya dan tak lepas
juga komoditas pangan. Kondisi yang demikian ini ditambah lagi peranan hedge-
fund dan spekulan komoditas yang turut mendorong kenaikan harga.
Di dunia, sepertiga negara-negara berkembang rata-rata sudah pernah
mengalami tingkat inflasi yang berada pada posisi dua digit, bahkan dibeberapa
negara sudah mengalami hiperinflasi.
Vietnam, Venezuela dan Pakistan adalah contoh negara yang mengalami inflasi
yang cukup parah di mana tingkat inflasi mencapai 20% bahkan Zimbabwe sampai-
sampai tak sanggup mengendalikan inflasinya sehingga diambi kebijakan harus
memotong 10 angka nol di mata uangnya, seperti 10 Milyar menjadi 1, dalam
hitungan persen inflasinya didapat 2,2 juta%! Wouw suatu rekor dalam sejarah
dunia.
Menurut catatan Bank Dunia, lonjakan harga berjamaah ini pernah terjadi
pada tahun 1973. di tahun itu, hampir semua komoditas bak berikrar untuk naik
harga secara bersama-sama. Kenaikan harga-harga ini secara otomatis menjadi
pukulan telak bagi kelompok miskin, kelompok yang paling rentan terhadap
lonjakan harga. Besarnya permintaan dan kurangnya penawaran, terutama untuk
bahan pangan telah manjadikan masalah ini menjadi masalah global.
Dua negara yang paling berjubel penduduknya, India dan China mengeluarkan
kebijakan melarang ekspor beras demi mengamankan pasokan dalam negeri.
Sekedar menaikkan pajak ekspor tidak terlalu jitu untuk kondisi seperti sekarang ini.
Di sisi lain, negara pengimpor beras, seperti Filipina dan Indonesia, mengadakan
tender besar-besaran untuk impor beras. Hal ini mendorong harga komoditas lebih
suka bertengger di atas.
Kenapa kondisi seperti ini bisa terjadi? Diduga, kebijakan negara maju yang
merangsang produksi biofuel sebagai pengganti bahan bakar fosil, dalam rangka
mengantisipasi global warming, dengan cara pemberian subsidi, membatasi ekspor,
dan mewajibkan penggunaan biofuel di dalam negeri, telah memicu konversi secara
besar-besaran penggunaan komoditas pangan untuk bahan bakar nabati.
Komoditas yang tadinya di konsumsi sebagai makanan, sekarang digunakan untuk
menjalankan mesin. Di Amerika Serikat sendiri, 40% produksi jagung dialokasikan
untuk pembuatan etanol.

G. Inflasi di Indonesia
Di Indonesia, bila dirunut ke belakang, lonjakan harga saat ini bukanlah yang
terparah. Coba tengok ke belakang di zaman orde lama bahkan lebih parah lagi,
besaran ratusan persen seolah telah menjadi hal yang biasa. Sepertinya inflasi tinggi
telah menjadi teman karib.
Tanggal 5 Agustus 2008, Bank Indonesia sudah berusaha mengekang inflasi
dengan cara menaikkan BI rate menjadi 9%, setelah berhasil dikerek turun 8%.
Tetapi sebandingkah kenaikan BI rate ini dengan inflasi, karena sejatinya yang
terjadi adalah inflasi dari luar (imported inflation), jika dibandingkan tahun 2005,
setelah kenaikan BBM, BI mengerek suku bunga dari 8.25 - 12.75 % hanya dalam
waktu 4 bulan saja. Tetapi sekarang, suku bunga naik dengan santai di kisaran 0.25
persen per bulan, kalah banter dengan inflasi.
Gubernur Bank Sentral, Budiono dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank
Indonesia pada tanggal 5 Agustus 2008 mengatakan :
Inflasi pada 2008 kemungkinan akan meningkat pada kisaran 11,5-12,5% (yoy).
Namun kami memperkirakan bahwa dengan berbagai kebijakan yang telah dan
akan dilakukan, baik oleh Bank Indonesia maupun Pemerintah, inflasi akan kembali
mengarah ke satu digit di tahun 2009 pada kisaran 6,5%1%. Bank Indonesia akan
memfokuskan pada upaya meredam dampak tidak langsung dari kenaikan harga
BBM dan pangan
Di depan mata tampak bulan puasa, Lebaran, dan Natal, penyumbang rutin
inflasi tahunan. Periode Juli - Desember biasanya lebih tinggi dari Januari - Juni.
Dengan hitungan yang sederhana saja, maka inflasi tahun 2008 sepertinya akan
melewati target pemerintah, diperkirakan akan berada pada kisaran 15%.
























BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Seiring dengan kenaikan tarif harga, diharapkan pelayanan yang dimiliki
ikut mengalami peningkatan, pemerintah juga harus memikirkan apabila
suatu komoditi dinaikkan apakah bisa di terima oleh masyrakatnya atau
malah malah menjadi beban yang kian lama-kian memberatkan.
2. Pemerintah diharapkan mencari jalan lain agar inflasi tetap stabil namun
harga barang atau komoditi juga tidak melonjak begitu tajam.

B. Saran

1. Pemerintah sebaiknya segera meningkatkan daya beli masyarakat melalui
peningkatan bantuan langsung tunai, sebagai dampak dari pengurangan
subsidi BBM.
2. Inflasi yang dapat dikendalikan merupakan sebuah kesuksesan dalam
perekonomian, tetapi harus diimbangin dengan kegiatan perekonomian
yang lain seperti penurunan suku bunga, sehingga nantinya akan
meningkatkan investasi, dan juga memacu untuk meningkatkan ekspor.
Peningkatan investasi juga bisa menambah kesempatan kerja yang ada
sehingga pengangguran dapat berkurang. Di dalam teori di katakan
bahwa