Anda di halaman 1dari 11

Nama : Jhon Freddy Manurung

NIM : 1307165667
Mata Kuliah : Pembangkit Non Konventional


1. Energi Ombak (Wave Energy)



Pada kenyataanya, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua setelah
Norwegia. Namun, potensi energi pantai yang ada belum banyak dimanfaatkan karena
banyaknya keterbatasan dalam pemanfaatkannya. Sumber daya hayati yang ada di bumi ini
salah satunya adalah lautan. Wilayah bumi didominasi oleh laut, dan laut juga mempunyai
banyak potensi pangan dan potensi sebagai sumber energi. Potensi pangan yang ada di laut
adalah beranekaragamnya spesies ikan dan tanaman laut. Dan potensi sumber energi yang ada
di laut ada 3 macam, yaitu: energi ombak, energi pasang surut dan energi panas laut.

Salah satu energi di laut adalah energi ombak. Sebenarnya ombak merupakan sumber
energi yang cukup besar. Ombak merupakan gerakan air laut yang turun-naik atau bergulung-
gulung. Energi ombak adalah energi alternatif yang dibangkitkan melalui efek gerakan
tekanan udara akibat fluktuasi pergerakan gelombang.

Untuk itu kita akan mencoba menggali informasi tentang tenaga ombak yang sudah
dimanfaatkan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemerintah Norwegia sejak
tahun 1987, terlihat bahwa banyak daerah-daerah pantai yang berpotensi sebagai pembangkit
listrik bertenaga ombak. Ombak di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa, di atas Kepala
Burung Irian Jaya, dan sebelah barat Pulau Sumatera sangat sesuai untuk menyuplai energi
listrik. Kondisi ombak seperti itu tentu sangat menguntungkan, sebab tinggi ombak yang bisa
dianggap potensial untuk membangkitkan energi listrik adalah sekitar 1,5 hingga 2 meter, dan
gelombang ini tidak pecah hingga sampai di pantai.

Potensi tingkat teknologi saat ini diperkirakan bisa mengkonversi per meter panjang
pantai menjadi daya listrik sebesar 20-35 kW (panjang pantai Indonesia sekitar 80.000 km,
yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau, dan sekitar 9.000 pulau-pulau kecil yang tidak
terjangkau arus listrik nasional, dan penduduknya hidup dari hasil laut). Dengan perkiraan
potensi semacam itu, seluruh pantai di Indonesia dapat menghasilkan lebih dari 2~3 Terra
Watt Ekuivalensi listrik, bahkan tidak lebih dari 1% panjang pantai Indonesia (~800 km)
dapat memasok minimal ~16 GW atau sama dengan pasokan seluruh listrik di Indonesia
tahun ini

Saat ini telah didirikan sebuah Pembangkit Listrik Bertenaga Ombak (PLTO) di
Yogyakarta, yaitu model Oscillating Water Column. Tujuan didirikannya PLTO ini adalah
untuk memberikan model sumber energi alternatif yang ketersediaan sumbernya cukup
melimpah di wilayah perairan pantai Indonesia. Model ini menunjukan tingkat efisiensi energi
yang dihasilkan dan parameter-parameter minimal hiroosenografi yang layak, baik itu secara
teknis maupun ekonomis untuk melakukan konversi energi.

Proyek yang mendapat bantuan (hibah) dari pemerintah Norwegia sebanyak
70 persen (sekitar 5,1 juta dolar AS) dari total investasi itu direncanakan, dalam periode tiga
tahun, PLTO Baron selesai dikerjakan dan sebesar 1.100 kilo watt jam listriknya bisa
dinikmati oleh sekitar dua ribu rumah warga sekitarnya. Sebagai proyek percontohan,
memang PLTO di Baron ini masih dalam tahap uji coba, belum dalam skala komersial.
Namun demikian tidak tertutup kemungkinan, jika proyek percontohan Baron sukses, maka
instalasi-instalasi listrik yang bersumber pada tenaga ombak akan banyak bermunculan. Yang
digunakan PLTO Baron, pada prinsipnya serupa dengan yang dikembangkan di daerah
Toftestailen, Norwegia. Namun para peneliti di Indonesia kini sedang mempersiapkan
software (piranti lunak) yang unik, lain dari pada yang lain.

Untuk sistem mekaniknya, PLTO dikenal memakai teknologi OWC (Oscillating Wave
Column). Untuk OWC ini ada dua macam, yaitu OWC tidak terapung dan OWC terapung.
Untuk OWC tidak terapung prinsip kerjanya sebagai berikut. Instalasi OWC tidak terapung
terdiri dari tiga bangunan utama, yakni saluran masukan air, reservoir (penampungan), dan
pembangkit. Dari ketiga bangunan tersebut, unsur yang terpenting adalah pada tahap
pemodifikasian bangunan saluran masukan air yang tampak berbentuk U, sebab ia bertujuan
untuk menaikkan air laut ke reservoir.

Bangunan untuk memasukkan air laut ini terdiri dari dua unit, kolektor dan konverter.
Kolektor berfungsi menangkap ombak, menahan energinya semaksimum mungkin, lalu
memusatkan gelombang tersebut ke konverter. Konverter yang didesain berbentuk saluran
yang runcing di salah satu ujungnya ini selanjutnya akan meneruskan air laut tersebut naik
menuju reservoir. Karena bentuknya yang spesifik ini, saluran tersebut dinamakan tapchan
(tapered channel).

Setelah air tertampung pada reservoir, proses pembangkitan listrik tidak berbeda
dengan mekanisme kerja yang ada pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Air yang sudah
terkumpul itu diterjunkan ke sisi bangunan yang lain. Energi potensial inilah yang berfungsi
menggerakkan atau memutar turbin pembangkit listrik. OWC ini dapat diletakkan di sekitar
~50 m dari garis pantai pada kedalaman sekitar ~15 m.

Selain OWC tidak terapung, kita juga mengenal OWC tidak terapung lain seperti
OWC tidak terapung saat air pasang. OWC ini bekerja pada saat air pasang saja, tapi OWC ini
lebih kecil. Hasil survei hidrooseanografi di wilayah perairan Parang Racuk menunjukkan
bahwa sistem akan dapat membangkitkan daya listrik optimal jika ditempatkan sebelum
gelombang pecah atau pada kedalam 4-11 meter. Pada kondisi ini akan dapat dicapai putaran
turbin antara 3000-700 rpm. Posisi prototip II OWC (Oscillating Wave Column) masih belum
mencapai lokasi minimal yang disyaratkan, karena kesulitan pelaksanaan operasional alat
mekanis. Posisi ideal akan dicapai melalui pembangunan prototip III yang berupa sistem
OWC apung. Untuk OWC terapung, prinsip kerjanya sama seperti OWC tidak terapung,
hanya saja peletakannya yang berbeda.
Selain model Oscillating Water Column, ada beberapa perusahaan & lembaga lainnya
yang mengembangkan model yang berbeda untuk memanfaatkan ombak sebagai penghasil
energi listrik, antara lain:
1. Ocean Power Delivery; perusahaan ini mendesain tabung-tabung yang sekilas terlihat
seperti ular mengambang di permukaan laut (dengan sebutan Pelamis) sebagai
penghasil listrik. Setiap tabung memiliki panjang sekitar 122 meter dan terbagi
menjadi empat segmen. Setiap ombak yang melalui alat ini akan menyebabkan tabung
silinder tersebut bergerak secara vertikal maupun lateral. Gerakan yang ditimbulkan
akan mendorong piston diantara tiap sambungan segmen yang selanjutnya memompa
cairan hidrolik bertekanan melalui sebuah motor untuk menggerakkan generator
listrik. Supaya tidak ikut terbawa arus, setiap tabung ditahan di dasar laut
menggunakan jangkar khusus.
2. Renewable Energy Holdings; ide mereka untuk menghasilkan listrik dari tenaga
ombak menggunakan peralatan yang dipasang di dasar laut dekat tepi pantai sedikit
mirip dengan Pelamis. Prinsipnya menggunakan gerakan naik turun dari ombak untuk
menggerakkan piston yang bergerak naik turun pula di dalam sebuah silinder. Gerakan
dari piston tersebut selanjutnya digunakan untuk mendorong air laut guna memutar
turbin.
3. SRI International; konsepnya menggunakan sejenis plastik khusus bernama elastomer
dielektrik yang bereaksi terhadap listrik. Ketika listrik dialirkan melalui elastomer
tersebut, elastomer akan meregang dan terkompresi bergantian. Sebaliknya jika
elastomer tersebut dikompresi atau diregangkan, maka energi listrik pun timbul.
Berdasarkan konsep tersebut idenya ialah menghubungkan sebuah pelampung dengan
elastomer yang terikat di dasar laut. Ketika pelampung diombang-ambingkan oleh
ombak, maka regangan maupun tahanan yang dialami elastomer akan menghasilkan
listrik.
4. BioPower Systems; perusahaan inovatif ini mengembangkan sirip-ekor-ikan-hiu
buatan dan rumput laut mekanik untuk menangkap energi dari ombak. Idenya bermula
dari pemikiran sederhana bahwa sistem yang berfungsi paling baik di laut tentunya
adalah sistem yang telah ada disana selama beribu-ribu tahun lamanya. Ketika arus
ombak menggoyang sirip ekor mekanik dari samping ke samping sebuah kotak gir
akan mengubah gerakan osilasi tersebut menjadi gerakan searah yang menggerakkan
sebuah generator magnetik. Rumput laut mekaniknya pun bekerja dengan cara yang
sama, yaitu dengan menangkap arus ombak di permukaan laut dan menggunakan
generator yang serupa untuk merubah pergerakan laut menjadi listrik.

Dengan demikian, keuntungan yang didapat dari teknologi PLTO ini antara lain, selain
hemat biaya dari segi investasi maupun operasional, juga bermanfaat bagi lingkungan hidup.
PLTO tidak mengeluarkan limbah berupa padat, cair, maupun gas seperti halnya pada PLTA,
PLTO pun bisa dimanfaatkan untuk membudidayakan ikan air laut. Sebab, pada bangunan
reservoirnya banyak sekali mengandung oksigen akibat gerakan air laut naik menuju reservoir
tersebut.

Namun kekurangan dalam pemanfaatan energi ombak sebagai pembangkit listrik ini adalah:
Bergantung pada ombak; kadang ombak tersebut dapat menjadi sumber energi, kadang tidak,
1. Perlu menemukan lokasi yang sesuai dimana ombaknya kuat dan muncul secara
konsisten. Akan tetapi jika kita memanfaatkan energi ini maka kelebihan yang kita
dapatkan adalah energi bisa diperoleh secara gratis, tidak butuh bahan bakar, tidak
menghasilkan limbah, mudah dioperasikan dan biaya perawatan rendah, serta dapat
menghasilkan energi dalam jumlah yang memadai.

Berbagai konsep dan prototipe banyak yang dicoba dalam memaksimalkan energi tersebut
berdasarkan konsep sederhana dan canggih. Para ahli punya beragam konsep yang diterapkan
dan bisa diaplikasi berdasarkan lokasi, kultur pantai dan berbagai pertimbangan lainnya
sehingga jadi konsep yang bermanfaat ke depan, yaitu:

1. Heaving and Pitching Bodies ialah konsep yang berasaskan cara kerja dari pesawat konversi
dari energi gelombang laut yang dihasilkan setiap saat dengan cara memanfaatkan pola naik
dan turunnya gelombang laut (heaving) dan juga dari goyangan dan guncangan (pitching)
yang dihasilkan dari gelombang laut terhadap benda yang mengapung . Cara ini Heaving and
pitching bodies memanfaatkan gelombang laut yang gerakannya naik-turun secara vertikal
sehingga itu sesuai dengan periode goyangan dari alunan ombak yang konstan. Energi yang
dihasilkan dari mekanisme tersebut berpengaruh pada alat yang terus-menerus terdorong
sehingga mampu mengubah energi ombak (kinetik) menjadi energi listrik potensial.



2. Cavity Resonator ialah cara pemanfaatan dari resonansi gelombang laut sebagai konversi
energi ombak yang beresonansi terus-menerus yang berfungsi terhdaap pesawat energi
pembangkit tenaga listrik terutama dalam pemanfaatan navigasi. Cara yang digunakan dari
cavity resonator terdiri atas sistem stationary pneumatic dan floating pneumatic yang
mengalunkan ombak dengan resonansi tertentu pada kolom air yang terisolasi dan mampu
menghasilkan energi yang maksimal.

3. Pressure Devices ialah merupakan salah satu pemanfaatan energi gelombang yang
memanfaatkan tekanan alat. Tekanan yang berbeda dari gelombang laut yang disebabkan oleh
perubahan permukaan dan gerak dari massa partikel air (pengaruh tekanan hidrostatis dan
sifat tekanan dinamis). pengaruh tekanan yang berbeda ini didasarkan oleh azas bernoulli
dimana = kecepatan potensial yang besarnya untuk gelombang linear. Konsepnya
berdasarkan pengaruh konversi energi gelombang laut sistem tekanan menggunakan membran
dan juga sistem tekan menggunakan toraks apung bebas.

4. Surging-Wave Energy convertors ialah merupakan skema dari pesawat konversi energi yang
menggunakan Surging-Wave (gelombang yang bergerak ke arah pantai). Prisnsip yang
menggunakan energi ombak yang mengalun pada posisi transisi (Surf-Zone) yang kemudian
energi tersebut di tangkap oleh deflektor sehingga mampu menggerakkan piston hidrolik
sebelum energinya berubah menjadi energi listrik oleh generator.

5. Particle Motion convertors ialah cara yang memanfaatkan gerak partikel yang terdapat pada
gelombang pada laut dalam yang membentuk lintasan melingkar dengan jari-jari yang makin
lama makin mengecil saat mencapai bagian dasar laut, namun bila lautan yang makin
berkurang kedalamannya maka lintasan dari gerak partikelnya akan mengubah lingkarannya
menjadi semakin elips. Sistem yang menggunakan cara ini sebenarnya cuma sangat optimal
bila digunakan di laut dalam supaya porosnya bekerja secara maksimal.

6. Float-Wave-Power Machine ialah merupakan sistem yang menggunakan pelampung yang
bersifat naik-turun bersama gelombang laut yang kemudian distabilkan menggunakan empat
tangki pelampung yang menghasilkan gaya apung sehingga menimbulkan gaya vertikal dan
horisontal yang signifikan oleh gelombang. Selain itu juga pada pelampung di pasang piston
yang bekerja bolak-balik sebagai kompresor dan saringan udara ganda yang membantu
pengarahan dari gerakan pelampung. Bagian lainnya yang berfungsi ialah tangki pelampung
yang bertekanan yang berfungsi untuk turbin udara yang menggerakkan generator listik dan
langsung di transmisikan ke daratan hasil dari energi di lautan.

7. Salter Nodding Duck ialah konsep pengalihan energi gelombang laut yang menggunakan
gelombang sinusoida dua dimensi yang berbentuk pesawat sumbu rotasi kepala itik yang
mengalami perputaran saat pengaruh gelombang laut. Sistem inilah yang lumayan efisien dan
cepat dalam koneversi energi dengan menggunakan sumbu putar dari sub-sistem hidrolik.
Sebagai catatan pula, besar daya pula juga terpengaruh oleh gelombang linier pada laut dalam
suatu perairan.

8. Cockerell Rafts ialah konsep yang menggunakan konversi hovercraft atau sistem rakit
(countouring raft). dengan cara menggabungkan rakit-rakit tersebut dan menyambungkan
dengan engsel sehingga mampu bergerak bebas satu sama lain bila terkena alunan gelombang
laut. Saat rakit itu bergerak yang menghasilkan energi kinetik potensial yang kemudian
diubah oleh generator menjadi energi listrik.

Energy Pasang surut (Tidal Energy)
Pada dasarnya pergerakan laut yang menghasilkan gelombang laut terjadi akibat
dorongan pergerakan angin. Angin timbul akibat perbedaan tekanan pada 2 titik yang
diakibatkan oleh respons pemanasan udara oleh matahari yang berbeda di kedua titik
tersebut. Mengingat sifat tersebut maka energi gelombang laut dapat dikategorikan sebagai
energi terbarukan.
Gelombang laut secara ideal dapat dipandang berbentuk gelombang secara ideal dapat
dipandang berbentuk gelombang yang memiliki ketinggian puncak maksimum dan lembah
minimum. Pada selang waktu tertentu, ketinggian puncak yang dicapai serangkaian
gelombang laut berbeda-beda, bahkan ketinggian puncak ini berbeda-beda untuk lokasi yang
sama jika diukur pada hari yang berbeda. Meskipun demikian secara statistik dapat ditentukan
ketinggian signifikan gelombang laut pada satu titik lokasi tertentu.
Bila waktu yang diperlukan untuk terjadi sebuah gelombang laut dihitung dari data
jumlah gelombang laut yang teramati pada sebuah selang tertentu, maka dapat diketahui
potensi energi gelombang laut di titik lokasi tersebut. Potensi energi gelombang laut pada satu
titik pengamatan dalam satuan kw per meter berbanding lurus dengan setengah dari kuadrat
ketinggian signifikan dikali waktu yang diperlukan untuk terjadi sebuah gelombang laut.
Pada dasarnya prinsip keria teknologi yang mengkonversi energi gelombang laut
menjadi energi listrik adalah mengakumulasi energi gelombang laut untuk memutar turbin
generator. Karena itu sangat penting memilih lokasi yang secara topografi memungkinkan
akumulasi energi. Meskipun penelitian untuk mendapatkan teknologi yang optimal dalam
mengkonversi energi gelombang laut masih terus dilakukan, saat ini, ada beberapa alternatif
teknologi yang dapat dipilih.
Alternatif teknologi yang diperidiksikan tepat dikembangkan di pesisir pantai selatan
Pulau Jawa adalah teknologi Tapered Channel (Tapchan).
Prinsip teknologi ini cukup sederhana, gelombang laut yang datang disalurkan
memasuki sebuah salurah runcing yang berujung pada sebuah bak penampung yang
diletakkan pada sebuah ketinggian tertentu. Air laut yang berada dalam bak penampung
dikembalikan ke laut melalui saluran yang terhubung dengan turbin generator penghasil
energi listrik. Adanya bak penampung memungkinkan aliran air penggerak turbin dapat
beroperasi terus menerus dengan kondisi gelombang laut yang berubah-ubah. Teknologi ini
tetap memerlukan bantuan mekanisme pasang surut dan pilihan topografi garis pantai yang
tepat. Teknologi ini telah dikembangkan sejak tahun l985.
Alternatif teknologi pembangkit tenaga gelombang laut yang lebih banyak
dikembangkan adalah teknik osilasi kolom air (the oscillating water column). Proses
pembangkitan tenaga listrik dengan teknologi ini melalui 2 tahapan proses. Gelombang laut
yang datang menekan udara pada kolom air yang diteruskan ke kolom atau ruang tertutup
yang terhubung dengan turbin generator. Tekanan tersebut menggerakkan turbin generator
pembangkit listrik. Sebaliknya, gelombang laut yang meninggalkan kolom air diikuti oleh
gerakan udara dalam ruang tertutup yang menggerakkan turbin generator pembangkit listrik.
Variasi prinsip teknologi ini dikembangkan di Jepang dengan nama might whale
technology. Di Skotiandia, Inggris Raya, telah dibangun pembangkit tenaga gelombang laut
yang digunakan yang menggunakan teknologi ini. Pembangkit yang selesai dibangun pada
tahun 2000 ini dilengkapai listrik sampai 500 kW.
Selain itu, di Denmark dikembangkan pula teknologi pembangkit tenaga gelombang
laut yang disebut wave dragon, prinsip kerjanya mirip dengan tapered channel. Perbedaannya
pada wave dragon, saluran air dan turbin generator diletakkan di tengah bak penampung
sehingga memungkinkan pembangkit dipasang tidak di pantai.
Pembangkit-pembankit tersebut kemudian dihubungkan dengan jaringan transmisi
bawah laut ke konsumen. Hal ini menyebabkan biaya instansi dan perawatan pembangkit ini
mahal. Meskipun demikian pembangkit ini tidak menyebabkan polusi dan tidak memerlukan
biaya bahan bakar karena sumber penggeraknya energi alam yang bersifat terbarukan.
Energi pasang surut (tidal energy) merupakan energi yang terbarukan. Prinsip kerja
nya sama dengan pembangkit listrik tenaga air, dimana air dimanfaatkan untuk memutar
turbin dan mengahasilkan energi listrik.
Keuntungan dari energi pasang surut ini adalah. Setelah dibangun energi
listrik yang dihasilkan bisa dimanfaatkan secara gratis, tidak membutuhkan bahan bakar, tidak
menimbulkan efek rumah kaca, produksi listrik stabil karena pasang surut air laut bisa
diprediksi.Tetapi energi pasang surut bukanlah energi masa depan karena memiliki berbagai
kelemahan. Biaya pembuatan dam mahal dan merusak ekosistem dipesisr pantai.

Prinsip kerja nya sama dengan pembangkit listrik tenaga air,dimana air dimanfaatkan untuk
memutar turbin dan mengahasilkan energi listrik.Energi diperoleh dari pemanfaatan variasi
permukaan laut terutama disebabkan oleh efek gravitasi bulan, dikombinasikan dengan rotasi
bumi dengan menangkap energi yang terkandung dalam perpindahan massa air akibat pasang
surut.

Jika dibandingkan dengan energi angin dan surya, energi tidal memiliki sejumlah keunggulan
antara lain: energi listrik yang dihasilkan bisa dimanfaatkan secara gratis, tidak membutuhkan
bahan bakar, tidak menimbulkan efek rumah kaca, produksi listrik stabil karena pasang surut
air laut bisa diprediksi, lebih hemat ruang dan tidak membutuhkan teknologi konversi yang
rumit. Kelemahan energi ini diantaranya adalah membutuhkan alat konversi yang handal yang
mampu bertahan dengan kondisi lingkungan laut yang keras yang disebabkan antara lain oleh
tingginya tingkat korosi dan kuatnya arus laut.

Cara kerja turbin tersebut sangat sederhana, ia bekerja seperti turbin angin, tetapi bilah-bilah
turbin tersebut digerakkan oleh arus air, bukannya oleh angin.
Diagram berikut menunjukkan bagaimana gaya tarik gravitasi bulan dan matahari
mempengaruhi pasang surut di Bumi. Besarnya tarik ini tergantung pada massa benda dan
jarak yang jauh. Bulan memiliki efek yang lebih besar di bumi walaupun memiliki massa
kurang dari matahari karena bulan jauh lebih dekat ke bumi. Gaya gravitasi bulan
menyebabkan lautan untuk tonjolan sepanjang sumbu yang mengarah langsung ke bulan.
Rotasi bumi menyebabkan naik turunnya gelombang.

Ketika matahari dan bulan berada di garis tarik gravitasi mereka di bumi menggabungkan dan
menyebabkan musim semi pasang. Ketika diposisikan dalam diagram pertama di atas, 90
satu sama lain, tarik gravitasi mereka masing-masing menarik air ke arah yang berbeda,
menyebabkan perbani pasang.
Periode rotasi bulan adalah sekitar 4 minggu, sementara satu rotasi bumi membutuhkan waktu
24 jam, ini menghasilkan siklus pasang surut sekitar 12,5 jam. Perilaku pasang surut mudah
ditebak dan ini berarti bahwa jika dimanfaatkan, energi pasang surut bisa menghasilkan
tenaga untuk periode waktu tertentu. Ini periode pembangkit listrik yang dapat digunakan
untuk mengimbangi pembangkit dari bentuk-bentuk lain seperti fosil atau nuklir yang
memiliki konsekuensi lingkungan. Meskipun hal ini berarti bahwa pasokan tidak akan
memenuhi permintaan, mengimbangi bentuk berbahaya dari generasi merupakan titik awal
yang penting untuk energi terbarukan.
Jenis-Jenis Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut
Tidal Fences: biasanya dibangun antara pulau-pulau kecil atau antara daratan dan
pulau-pulau. Putaran terjadi karena arus pasang surut untuk menghasilkan energi.

Teknologi Tidal Fence skala besar digunakan juga sebagai jem-batan penghubung antarpulau
di antara selat. Menggunakan instalasi yang hampir sama dengan Tidal Power namun terpisah
dengan turbin arus antara 5 sampai 8 knot (5.6 sampai 9 mil/jam) dapat dimanfaatkan energi
lebih besar dari pembangkit listrik tenaga angin karena densitas air 832 kali lebih besar dari
udara (5 knot arus = velositas angin 270 km/jam).
Skala besar pembangkit tenaga arus ini sepanjang 4 km telah dimulai dikerjakan di kepulauan
Dalupiri dan Samar, Filipina sekaligus membuat jembatan penghubung pada empat pulaunya.
Proyek ini disponsori oleh Blue Energy Power System-Canada yang telah mengomersialkan
diri dengan berbagai modul turbin dalam berbagai skala. Diestimasi energi yang nantinya
dihasilkan di Filipina ini maksimum sebesar 2200 MW dengan minimum rata-rata sebesar
1100 MW setiap hari. Hal ini didasarkan dengan kecepatan arus rata-rata sebesar 8 knots pada
kedalaman sekitar 40 meter. Modul turbin Davis yang dipakai dapat mengonversi listrik pada
lokasi tertentu seperti di sungai sebesar 5 kW sampai 500 kW sedangkan instalasi di laut bisa
menghasilkan 200 MW sampai 8000 MW.
Barrage Tidal Plants: adalah jenis yang paling umum dari pembangkit pasang surut.
Menggunakan bendungan untuk menjebak air, dan ketika mencapai ketinggian yang sesuai
karena air pasang, air dilepaskan agar mengalir melalui turbin yang akan menggrakkan
generator listrik.

Teluk yang ujungnya sempit sangat cocok diterapkan. Ketika air pasang menghasilkan tingkat
air yang berbeda di dalam dan di luar dam, pintu-pintu air akan terbuka, air yang mengalir
melewati turbin akan menjalankan generator untuk menghasilkan listrik. Pemanfaatan energi
ini memerlukan daerah yang cukup luas untuk menampung air laut (reservoir area) dan
bangunan dam bisa dijadikan jembatan transportasi. Tidal Power dibedakan menjadi dua yaitu
kolam tunggal dan kolam ganda. Pada sistem pertama energi dimanfaatkan hanya di saat
periode air surut atau air naik. Sedangkan sistem kolam ganda memanfaat-kan aliran dalam
dua arah. Perbedaan tinggi antara permukaan air di kolam dan permukaan air laut pada
instalasi ini semakin tinggi semakin baik. Di Jepang, sistem ini telah mulai dikembangkan di
Laut Ariake, Kyushu yang memiliki variasi pasut tertinggi. Di muara sungai Severn, Inggris
juga telah mulai direncanakan instalasi berskala besar untuk 12 GW listrik.

Tidal Turbines: Terlihat seperti turbin angin, sering tersusun dalam baris tapi berada di
dalam air. Arus pasang surut memutar turbin untuk menciptakan energi.

Teknologi ini berfungsi sangat baik pada arus pantai yang ber-gerak sekitar 3.6 dan 4.9 knots
(4 dan 5.5 mph). Pada kecepatan ini, Turbin arus berdiameter 15 meter dapat menghasilkan
energi sama dengan turbin angin yang berdiameter 60 meter. Lokasi ideal turbin arus pasut ini
tentunya dekat dengan pantai pada kedalaman antara 20-30 meter. Energi listrik yang
dihasilkan menurut Perusahaan Marine Current Turbine-Inggris adalah lebih besar dari 10
MW per 1 km2, dan 42 lokasi yang berpotensi di Inggris telah teridentifikasi perusahaan ini.
Lokasi ideal lainnya yang dapat dikembangkan terdapat di Filipina, Cina dan tentunya
Indonesia.
Penelitian pemanfaatan energi arus pasut sejak tahun 1920 te-lah dilakukan oleh beberapa ne-
gara seperti Perancis, Amerika Serikat, Rusia dan Kanada. Se-telah lebih dari 40 tahun,
stasiun Frances La Rance adalah satu-satunya industri Pembangkit Listrik Tenaga Arus
Pasang Surut dengan skala besar di dunia. Memproduksi 240 MW listrik lewat instalasi Tidal
Power melewati daerah estuari sungai Rance, dekat Saint Malo. Instalasi ini telah ada sejak
1966 dan menyuplai 90 persen kebutuhan listrik wilayah itu. Di Rusia, Murmansk
memanfaatkan 0,4 MW listrik dari jenis yang sama. Tidak jauh dari Indonesia, ada Australia
yang memanfaatkannya di Kimberly dan Cina sebesar 8 MW. Di Canada stasiun Annapolis
Royal, Nova Scotia telah memproduksi sekitar 20 MW listrik Tidal Turbine untuk keperluan
masyarakatnya. Di kota Hammerfest, Norwegia, listrik telah sukses dibangkitkan dengan
memanfaatkan arus pasang di pantai dan mencukupi sebagian kebutuhan listrik kota dengan
modul turbin Blades.

2. Energi Panas Laut (Ocean Thermal Energy)

Konversi energi panas laut adalah sistem konversi energi yang terjadi akibat perbedaan suhu
di permukaan dan di bawah laut menjadi energi listrik. Potensi terbesar konversi energi panas
laut untuk pembangkitan listrik terletak di khatulistiwa. Soalnya, sepanjang tahun di daerah
khatulistiwa suhu permukaan laut berkisar antara 25-30C, sedangkan suhu di bawah laut
turun 5-7C pada kedalaman lebih dari 500 meter.

Terdapat dua siklus konversi energi panas laut, yaitu siklus Rankine terbuka dan siklus
Rankine tertutup. Sebagai pembangkit tenaga listrik, konversi energi panas laut siklus
Rankine terbuka memerlukan diameter turbin sangat besar untuk menghasilkan daya lebih
besar dari 1MW, sedangkan komponen yang tersedia belum memungkinkan untuk
menghasilkan daya sebesar itu, alternatif lain yaitu siklus Rankine tertutup dengan fluida kerja
amonia atau freon.


Berdasarkan letak penempatan pompa kalor, konversi energi panas laut dapat diklasifikasikan
menjadi tiga tipe, konversi energi panas laut landasan darat, konversi energi panas laut
terapung landasan permanen, dan konversi energi panas laut terapung kapal.

Konversi energi panas laut landasan darat alat utamanya terletak di darat, hanya sebagian
kecil peralatan yang menjorok ke laut. Kelebihan sistem ini adalah dayanya lebih stabil dan
pemeliharaannya lebih mudah. Kekurangan sistem jenis ini membutuhkan keadaan pantai
yang curam, agar tidak memerlukan pipa air dingin yang panjang.

Status teknologi konversi energi panas laut jenis ini baru pada tahap percontohan dengan
kapasitas 100 W dan dengan fluida kerja freon yang dilakukan oleh TEPSCO-Jepang, dengan
lokasi percontohan di Kepulauan Nauru. Selain itu dibangun pusat penelitian dan
pengembangan konversi energi panas laut landasan darat (STF) yang terletak di Hawaii.

Untuk konversi energi panas laut terapung landasan permanen, diperlukan sistem penambat
dan sistem transmisi bawah laut, sehingga permasalahan utamanya pada sistem penambat dan
teknologi transmisi bawah laut yang mahal. Jenis ini masih dalam taraf penelitian dan
pengembangan.

Konversi energi panas laut terapung kapal beroperasi dengan bebas karena dibangun di atas
kapal. Biasanya energi listrik yang dihasilkan untuk memproduksi berbagai bahan yaitu
amonia, hidrogen, methanol, dan lain-lain.

Pembangkit listrik dapat memanfaatkan perbedaan temperatur tersebut untuk menghasilkan
energi. Pemanfaatan sumber energi jenis ini disebut dengan konversi energi panas laut (Ocean
Themal Energy Conversion atau OTEC). Perbedaan temperatur antara permukaan yang
hangat dengan air laut dalam yang dingin dibutuhkan minimal sebesar 77 derajat Fahrenheit
(25 C) agar dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik dengan baik. Adapun proyek-
proyek demonstrasi dari OTEC sudah terdapat di Jepang, India, dan Hawaii.
Berdasarkan siklus yang digunakan, OTEC dapat dibedakan menjadi tiga macam: siklus
tertutup, siklus terbuka, dan siklus gabungan (hybrid). Pada alat OTEC dengan siklus tertutup,
air laut permukaan yang hangat dimasukkan ke dalam alat penukar panas untuk menguapkan
fluida yang mudah menguap seperti misalnya amonia. Uap amonia akan memutar turbin yang
menggerakkan generator. Uap amonia keluaran turbin selanjutnya dikondensasi dengan air
laut yang lebih dingin dan dikembalikan untuk diuapkan kembali. Pada siklus terbuka, air laut
permukaan yang hangat langsung diuapkan pada ruang khusus bertekanan rendah. Kukus
yang dihasilkan digunakan sebagai fluida penggerak turbin bertekanan rendah. Kukus
keluaran turbin selanjutnya dikondensasi dengan air laut yang lebih dingin dan sebagai
hasilnya diperoleh air desalinasi. Pada siklus gabungan, air laut yang hangat masuk ke dalam
ruang vakum untuk diuapkan dalam sekejap (flash-evaporated) menjadi kukus (seperti siklus
terbuka). Kukus tersebut kemudian menguapkan fluida kerja yang memutar turbin (seperti
siklus tertutup). Selanjutnya kukus kembali dikondensasi menjadi air desalinasi.

Fluida kerja yang populer digunakan adalah amonia karena tersedia dalam jumlah besar,
murah, dan mudah ditransportasikan. Namun, amonia beracun dan mudah terbakar. Senyawa
seperti CFC dan HCFC juga merupakan pilihan yang baik, sayangnya menimbulkan efek
penipisan lapisan ozon. Hidrokarbon juga dapat digunakan, akan tetapi menjadi tidak
ekonomis karena menjadikan OTEC sulit bersaing dengan pemanfaatan hidrokarbon secara
langsung. Selain itu, yang juga perlu diperhatikan adalah ukuran pembangkit listrik OTEC
bergantung pada tekanan uap dari fluida kerja yang digunakan. Semakin tinggi tekanan
uapnya maka semakin kecil ukuran turbin dan alat penukar panas yang dibutuhkan, sementara
ukuran tebal pipa dan alat penukar panas bertambah untuk menahan tingginya tekanan
terutama pada bagian evaporator.

Secara ringkas, kekurangan dan kelebihan dari OTEC yaitu:
Kelebihan:
Tidak menghasilkan gas rumah kaca ataupun limbah lainnya.
Tidak membutuhkan bahan bakar.
Biaya operasi rendah.
Produksi listrik stabil.
Dapat dikombinasikan dengan fungsi lainnya: menghasilkan air pendingin, produksi air
minum, suplai air untuk aquaculture, ekstraksi mineral, dan produksi hidrogen secara
elektrolisis.

Kekurangan:
Belum ada analisa mengenai dampaknya terhadap lingkungan.
Jika menggunakan amonia sebagai bahan yang diuapkan menimbulkan potensi bahaya
kebocoran.
Efisiensi total masih rendah sekitar 1 persen-3 persen
Biaya pembangunan tidak murah.