Anda di halaman 1dari 8

PENGUJIAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI

UNTUK PENGENDALIAN Thrips palmi PADA TANAMAN KENTANG




155
PENGUJIAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI
UNTUK PENGENDALIAN Thrips palmi PADA TANAMAN KENTANG

Warsi Rahmat Atmadja dan Molide Rizal
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik
Jl. Tentara Pelajar No 3, Bogor 16111

ABSTRAK
Penelitian Pengujian lima jenis insektisida nabati untuk mengendalikan
Thrips palmi pada tanaman kentang, dilakukan di kebun petani di daerah
Pacet Jawa Barat, sejak bulan Mei sampai Desember 2010. Penelitian
bertujuan untuk memperoleh 1 jenis insektisida nabati yang efektif
mengendalikan Thrips pada tanaman kentang. Insektisida nabati yang
digunakan adalah cengkeh, serai wangi, kayumanis, formula cengkeh dan
serai wangi (Cees), formula cengkeh dan kayumanis (Cekam) serta
pembanding menggunakan insektisida sintetis berbahan aktif karbofuran 50
EC. Insektisida nabati masing-masing konsentrasi 2 ml/l air. Penelitian
menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan dan 4
ulangan. Ukuran petak 5 x 8 m2, jarak tanam 40 x 50 cm, populasi tanaman
per petak 200 tanaman. Metode pengambilan tanaman contoh secara
sistematis berbentuk huruf U atau diagonal. Pengamatan populasi T. palmi
dilakukan sebelum dan sesudah aplikasi pada setiap petak perlakuan.
Aplikasi pertama dilakukan satu hari setelah pengamatan pendahuluan,
apabila telah ditemukan hama sasaran pada setiap petak. Interval aplikasi
satu minggu, aplikasi terakhir 2 minggu sebelum panen. Volume semprot
adalah 500 l/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insektisida nabati Cees
(cespleng), Cekam, cengkeh, serai wangi dan kayumanis masingmasing
konsentrasi 2 ml/l air efektif mengendalikan Thrips palmi sebesar 82%.
Kata kunci : Pengujian, insektisida nabati, Thrips palmi, kentang.

PENDAHULUAN
Thrips (Thrips palmi ) merupakan hama penting pada tanaman
sayuran khususnya tanaman kentang, dalam keadaan serangan yang
eksplosif hama ini dapat menyebabkan gagal panen (Stallen et al. 1990).
Untuk mengendalikan hama tersebut masih banyak petani yang
menggunakan insektisida sintetis, karena cara ini lebih cepat diketahui
hasilnya. Penggunaan insektisida dalam mengendalikan hama kentang telah
banyak membantu menyelamatkan produksi. Meskipun untuk mencapai
W.R. Atmadja dan M. Rizal, Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

156
tingkat pengendalian yang efektif dan efisien, masih perlu penyempurnaan.
Salah satu alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan yaitu
dengan menggunakan insektisida nabati.
Pestisida nabati merupakan salah satu jenis pestisida yang potensial
untuk digunakan dalam mengendalikan hama utama tanaman pertanian.
Pestisida nabati diperoleh dari ekstrak/penyulingan tanaman yang berfungsi
sebagai senyawa pembunuh, penolak, pengikat dan penghambat
pertumbuhan. Peluang pengembangan pestisida nabati di Indonesia dinilai
sangat strategis mengingat tanaman sumber bahan insektisida banyak
tersedia dengan berbagai macam kandungan kimia yang bersifat racun
(Soehardjan 1994).
Menurut Grainge dan Ahmed (1988), lebih dari seribu tanaman
berpotensi sebagai pengendali hama tanaman. Tanaman biofarmaka dan
atsiri merupakan tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati,
umumnya termasuk pada family Meliaceae, Annonaceae, Asteraceae,
Piperaceae dan Rutaceae (Prakash dan Rao 1997; Priyono et al. 2006).
Minyak atsiri dari tanaman aromatik diketahui mengandung senyawa
aktif yang dapat digunakan sebagai bahan baku insektisida. Hal ini
berkaitan dengan sifatnya yang mampu membunuh, mengusir dan
menghambat makan hama. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dikaji
potensi beberapa tanaman aromatik untuk dikembangkan sebagai pestisida
nabati. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian keefektifan bio
pestisida tersebut terhadap Thrips pada tanaman kentang.
Penelitian bertujuan untuk memperoleh satu jenis insektisida nabati
yang efektif mengendalikan Thrips pada tanaman kentang.

BAHAN DAN METODE
Penelitian dilakukan pada bulan April sampai Desember 2010, di
kebun petani di daerah Pacet, Jawa Barat. Insektisida nabati yang diuji
adalah Cees, Cekam, cengkeh, serai wangi dan kayumanis, masing-masing
konsentrasi 2 ml/l air, sebagai pembanding digunakan insektisida sintetis
berbahan aktif karbofuran 50 EC dengan konsentrasi 1 ml/l air serta dan
kontrol. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 7
perlakuan dan empat ulangan. Ukuran petak 5 x 8 m, jarak tanam 40 x 50
PENGUJIAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI
UNTUK PENGENDALIAN Thrips palmi PADA TANAMAN KENTANG


157
cm, populasi tanaman per petak 200 tanaman dan jumlah tanaman
contoh per petak 20 tanaman. Metode pengambilan contoh dilakukan
secara sistematis berbentuk huruf U diagonal.
Pengamatan populasi T. palmi dilakukan sebelum dan sesudah
aplikasi pada setiap petak perlakuan. Aplikasi pertama dilakukan satu hari
setelah pengamatan pendahuluan apabila telah ditemukan hama sasaran
pada setiap petak perlakuan. Interval aplikasi satu minggu, aplikasi terakhir
dua minggu sebelum panen. Volume semprot adalah 500 l/ha.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Populasi Thrips palmi sebelum aplikasi
Pengamatan populasi T. palmi di lapang mulai umur tanaman
kentang 45 hari setelah tanam, karena hadirnya hama T. palmi di lapang
mulai saat tanaman umur tersebut.
Pengamatan minggu pertama sebelum aplikasi populasi T. palmi di
lapang bervariasi antara 17 28,75 ekor. Perlakuan insektisida nabati Cees
populasi T. palmi mencapai 21,75 ekor, perlakuan tersebut menunjukkan
perbedaan yang nyata dengan perlakuan insektisida nabati seraiwangi,
kayumanis dan kontrol, tetapi tidak menunjukan perbedaan yang nyata
dengan perlakuan nabati Cekam, cengkeh dan karbofuran 50 EC.
Pengamatan minggu kedua sebelum aplikasi populasi T. palmi pada
kontrol mengalami kenaikan hingga mencapai 34,75 ekor, perlakuan
tersebut menunjukkan perbedaan yang nyata dengan insektisida nabati
Cees, Cekam, cengkeh, serai wangi, kayumanis dan karbofuran 50 EC.
Perlakuan insektisida nabati Cees, Cekam, serai wangi dan karbofuran 50 EC
tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, namun berbeda nyata dengan
perlakuan insektisida nabati cengkeh dan kayumanis.
Pengamatan minggu ketiga sebelum aplikasi populasi T. palmi pada
semua perlakuan insektisida nabati yang diuji memgalami penurunan juga
kontrol. Namun demikian semua perlakuan insektisida nabati yang diuji
populasinya menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol. Pada saat
itu tanaman kentang sudah terserang Phytopthora sp., sehingga sebagian
tanaman layu dan kering.
W.R. Atmadja dan M. Rizal, Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

158
Pengamatan minggu keempat sebelum aplikasi populasi T. palmi
pada semua perlakuan insaektisida nabati yang diuji dan kontrol mengalami
kenaikan. Populasi T. palmi berkisar antara 17 34,50 ekor. Semua
perlakuan insektisida nabati yang diuji populasi T. palmi menunjukkan
perbedaan yang nyata dengan kontrol.
Pengamatan minggu kelima sebelum aplikasi populasi T. palmi pada
perlakuan insektisida nabati yang diuji berkisar antara 12 16,75 ekor dan
pada kontrol populasinya mencapai 28 ekor. Pada semua insektisida nabati
yang diuji populasinya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi
berbeda nyata dengan kontrol (Tabel 1).

Tabel 1. Pengamatan Populasi Thrips palmi pada kentang sebelum aplikasi,
Pacet Jawa Barat
Perlakuan/konsentrasi Rata rata populasi Thrips palmi (ekor)... minggu ke....
1 2 3 4 5
Cees (2 cc/l)
Cekam (2 cc/l)
Cengkeh (2 cc/l)
Seraiwangi (2 cc/l)
Kayumanis (2 cc/l)
Karbofuran 50 EC (1 cc/l)
Kontrol
21,75 cd
20,00 d
23,25 c
28,75 a
17,00 e
21,75 cd
25,75 b
17,25 c
18,50 c
25,50 b
15,75 c
23,75 b
18,00 c
34,75 a
13,50 b
17,50 b
13,75 b
13,75 b
14,50 b
13,75 b
30,00 a
17,00 b
23,25 b
24,00 b
19,75 b
18,75 b
24,50 b
39,50 a
16,75 b
13,25 b
12,50 b
15,75 b
12,00 b
19,50 b
28,00 a
Keterangan : Angka angka pada kolom yang diikuti dengan huruf yang sama tidak
berbeda nyata berdasarkan uji Duncan taraf 5%

Populasi Thrips palmi setelah aplikasi
Hasil penelitian Thrips palmi minggu pertama setelah apliksi (1 msa)
populasinya bervariasi pada perlakuan insektisida nabati yang diuji berkisar
antara 6,75 10,50 ekor, sedangkan pada kontrol populasinya 23,75 ekor.
Perlakuan insektisida nabati Cees populasinya mencapai 7,75 ekor,
perlakuan tersebut berbeda nyata dengan perlakuan insektisida nabati serai
wangi, kayumanis dan kontrol, namun tidak menunjukkan perbedaan yang
nyata dengan perlakuan insektisida nabati Cekam, cengkeh, dan karbofuran
50 EC.
Pengamatan 2 msa populasi T. palmi pada perlakuan insektisida
nabati menurun, populasi berkisar antara 6,50 9,0 ekor sedangkan pada
PENGUJIAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI
UNTUK PENGENDALIAN Thrips palmi PADA TANAMAN KENTANG


159
kontrol 22,50 ekor. Perlakuan insektisida yang diuji semuanya menunjukkan
perbedaan yang nyata dengan kontrol.
Pengamatan 3 msa populasi T. palmi pada perlakuan insektisida
nabati yang diuji semakin menurun berkisar antara 5,25 9,50 ekor, pada
kontrol 22,50 ekor. Namun demikian perlakuan insektisida nabati yang diuji
menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol.
Pengamatan 4 msa dan 5 msa populasi T. palmi pada perlakuan
insektisida nabati yang diuji populasinya rendah masingmasing berkisar
antara 3,25 5,0 ekor dan 1,50 3,0 ekor, pada perlakuan karbofuran 50
EC kedua pengamatan tersebut masingmasing 2,5 ekor dan 1,0 ekor. Pada
kontrol sebesar 26,50 ekor dan 23 ekor. Pada kedua pengamatan tersebut
populasi T. palmi menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol
(Tabel 2).
Berdasarkan hasil pengamatan populasi T. palmi selama 3 kali
pengamatan terakhir, nilai efikasi insektisida nabati yang diuji ratarata lebih
besar dari 50%, maka insektisida nabati yang diuji Cees, Cekam, cengkeh,
serai wangi dan kayumanis masingmasing konsentrasi 2 ml/l dan
karbofuran konsentrasi 1 ml/l efektif untuk mengendalikan T. palmi di
lapang.

Tabel 2. Pengamatan Populasi Thrips palmi pada Kentang setelah aplikasi,
Pacet Jawa Barat
Perlakuan/
konsentrasi
Rata rata populasi Thrips palmi (ekor)... minggu ke....
1
Ei
(%)
2
Ei
(%)
3
Ei
(%)
4
Ei
(%)
5
Ei
(%)
Rata
rata
Ei
(%)
Cees 2 cc/l
Cekam 2 cc/l
Cengkeh 2 cc/l
Serai wangi 2 cc/l
Kayumanis 2 cc/l
Karbofuran 1 cc/l
7. Kontrol
7,75 d
6,75 d
8,75 bcd
10,50 b
9,25 bc
8,50 bcd
23,75 a
67,4
71,6
63,2
55,8
61,1
66,2
0,0
6,5 b
8,5 b
7,3 b
8,5 b
9,0 b
8,5 b
22,5 a
71,1
59,6
67,8
59,6
60,0
59,6
0,0
6,8 c
5,3 c
5,5 c
6,3 c
9,5 b
5,8 c
22,5 a
70,0
76,7
75,6
72,2
57,8
74,4
0,0
4,3 b
4,0 b
4,5 b
3,3 b
5,0 b
2,5 b
26,5 a
83,9
84,9
83,0
87,7
81,1
90,6
0,0
1,5 b
1,5 b
2,5 b
1,5 b
3,0 b
1,0 b
23,0 a
93,4
93,4
89,1
93,4
86,9
95,7
0.0
82,4
84,9
82,6
84,4
75,3
86,9
0,0
Keterangan : Angka angka pada kolom yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda
nyata berdasarkan uji Duncan taraf 5%.
Rata rata Ei = n + 1 dari pengamatan terakhir
Nilai Ei yang efektif = 50%
Karbofuran (50 EC)

W.R. Atmadja dan M. Rizal, Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

160
Hasil penelitian Atmadja et al. (2006), bahwa minyak cengkeh
konsentrasi 4% efektif terhadap Helopeltis antonii dengan tingkat kematian
95%, sedangkan pada H. theivora dengan konsentrasi yang sama
kematiannya mencapai 100%. Menurut Kenese (2009), insekstisida serai
wangi konsentrasi 3,2% efektif terhadap H. theivora dengan tingkat
kematian 100%. Hasil penelitian di laboratorium Kelompok Peneliti Hama
dan Penyakit Balittro, insektisida nabati cengkeh dan serai wangi
konsentrasi 5% efektif terhadap Spodoptera litura instar 3 dengan tingkat
kematian 83,33% dan 80% (Suriati dan Atmadja 2010).
Minyak cengkeh yang diapliksikan pada hama pengetam janur
kelapa (Brontispa longissima) konsentrasi 4% tingkat kematiannya
antara 67,5 74,14%, minyak cengkeh konsentrasi 2% tingkat kematian
antara 17,5 41,5% dan minyak cengkeh konsentrasi 1% tingkat kematian
antara 9,2 34,7% (Rumini et al., 2006). Formula minyak serai wangi dan
cengkeh (Cees) konsentrasi 5% efektif untuk mengendalikan rayap kayu
kering (Cryptotermes cynocephalus) dengan tingkat kematian 92% dan
derajat proteksi 9,8 (Atmadja et al. 2009).
Hasil penelitian yang dilakukan di lapang terhadap Spodoptera litura,
insektisida nabati cengkeh dan serai wangi efektif mengendalikan S. litura
dengan konsentrasi masingmasing 10 ml/l air serta mengurangi kerusakan
akibat S. litura sebesar 40% (Atmadja 2010).
Menurut Willis et al. (2009), insektisida nabati Cees konsentrasi 2
ml/l air dengan metode semprot pada serangga langsung tingkat kematian
Helopeltis sp. mencapai 46,7% terhadap nimfa, 53,3% terhadap imago,
sedangkan insektisida nabati Cees yang disemprotkan pada pakan dengan
konsentrasi yang sama tingkat kematian nimfa Helopeltis sp. mencapai 40%
dan imago mencapai 53,3%. Insektisida nabati Cekam konsentrasi 2 ml/l air
yang disemprot langsung pada serangga nimfa Helopeltis sp. tingkat
kematiannya mencapai 13,3%, sedangkan pada imago Helopeltis sp. tingkat
kematiannya mencapai 46,7%. Insektisida Cekam dengan cara semprot
pakan konsentasi 2 ml/l air tingkat kematian nimfa Helopeltis sp. mencapai
36,7%, sedangkan pada imago Helopeltis sp. mencapai 26,7%.

PENGUJIAN LIMA JENIS INSEKTISIDA NABATI
UNTUK PENGENDALIAN Thrips palmi PADA TANAMAN KENTANG


161
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa insektisida nabati
Cees, Cekam, cengkeh, serai wangi dan kayumanis masingmasing
konsentrasi 2 ml/l air efektif mengendalikan Thrips palmi sebesar 82%.

DAFTAR PUSTAKA
Atmadja, W.R., S. Suriati dan Sri Yuliani. 2006. Keefektifan minyak cengkeh
terhadap H. antonii Sign. dan H. theivora Waterh. (Hemiptera:
Miridae). Prosiding Seminar Nasional Entomologi dalam Perubahan
Lingkungan dan Sosial. Bogor, Oktober 2006. 279 284 Hal.
Atmadja, W.R., Agus Ismanto dan Supriadi. 2009. Efikasi formulasi minyak
serai wangi dan cengkeh terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes
cynocephalus). Prosiding Simposium Penelitian dan Pengembangan
Perkebunan. Bogor 14 Agustus 2009. 228 232 Hal.
Atmadja, W.R. 2010. Pemanfaatan insektisida nabati nilam, cengkeh dan
serai wangi untuk mengendalikan ulat grayak (Spodoptera litura).
Seminar Nasional VI Perhimpunan Entomologi Indonesia Cabang
Bogor. Peranan Entomologi dalam mendukung Pengembangan
Pertanian Ramah Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat. Bogor, 24
Juni 2010. 8 Hal.
Grainge, M. and Ahmed. 1988. Hand Book of Plants With Pest Control
Properties. John Wiley and Sons. 470 pp.
Kenese, K. 2009. Uji Pestisida Nabati trehadap H. theivora Waterh. Pada
Inang Alternatif. Laporan Praktikum Lapang. Universitas Lampung. 12
Hal.
Prakash, A.Rao. J. 1997. Botanical Pesticides in Agricultural. New York.
Lewis Publisher.
Priyono, D., J.L. Sudir dan Irmayetri. 2006. Insecticidal activity of Indonesia.
Pland extracts against the cabbage heal caterpillar: Crocidolomia
pavonana (F) ( Lepidoptera: Pyralidae). J. ISSAAS 12 (1) : 25 26.
Rumini,W., Atmadja, W.R. dan S. Suhirman. 2006. Keefektifan minyak
bunga cengkeh terhadap hama pengetam janur kelapa (Brontispa
longissima). Prosiding Seminar Nasional Entomologi dalam Perubahan
Lingkungan dan Sosial. Bogor, Oktober 2006.
Soehardjan, M. 1994. Konsepsi dan Strategi Penelitian dan Pengembangan
Pestisida Nabati. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor.
11 18 Hal.
W.R. Atmadja dan M. Rizal, Semnas Pesnab IV, Jakarta 15 Oktober 2011

162
Stallen, M. P., K.T.K. Moekasan and T. Arifin. 1990. Evaluation of
performance at knapsack sprayer technique for low land vegetables, a
compilation of Research Paper. Internal Coum. LEHRI/ATA 395, 22 : 9
13.
Suriati, S. dan Atmadja, W. R. 2010. Efikasi Sepuluh Jenis Insektisida Nabati
terhadap Ulat Grayak (Spodoptera litura). Seminar Nasional VI
Perhimpunan Entomologi Cabang Bagor. Peranan Entomologi dalam
mendukung Pengembangan Pertanian Ramah Lingkungan dan
Kesehatan Masyarakat. Bogor, 24 Juni 2010. 6 Hal.
Willis, M., Darwis, M., dan Asaad, M. 2009. Laporan Akhir Pestisida Nabati
Berbasis Tanaman Atsiri yang Efektif Menekan Cnapomorpha
cramerella dan Helopeltis sp. pada Kakao (40 50%) dan Aman
terhadap Musuh Alami. Balittro. Puslitbangbun. Badan Litbang
Pertanian. 31 Hal.


Pertanyaan/komentar:
E. Karmawati (Puslitbangbun)
T: Apakah aplikasi dilakukan setelah populasi mencapai ambang kendali ?
J: Sampai sekarang ambang kendali populasi belum diketahui, dan aplikasi
atau pengendalian dilakukan saat ditemukan 10 ekor serangga per
tanaman.

I Wayan Laba (Balittro)
T: Apakah serangga yang digunakan berasal dari perbanyakan ?
J: Tidak, serangga yang digunakan berasal populasi yang ada di lapang.