Anda di halaman 1dari 34

1

LAPORAN KASUS
BBLR DAN ASFIKSIA NEONATORUM






OLEH
Arenta Mantasari
H1A008009


Pembimbing: dr. H. Tatang A. Hidayat , SpA




DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2013
2

BAB 1
LAPORAN KASUS

1.1 Identitas Pasien
Nama : By. Ny. S
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 0 hari
Tempat, tanggal lahir : Mataram, 07 Oktober 2013
Alamat : Tanjung Kabupaten Lombok Utara
Tanggal MRS : 07 Oktober 2013
Tanggal pemeriksaan : 07 Oktober 2013
Diagnosis masuk : BBLR + Asfiksia sedang + Hipotermi
No. RM : 523971

1.2 Identitas Keluarga
Identitas Ibu Ayah
Nama Ny. Sunaah Tn. Mashur
Umur 35 tahun 35 tahun
Pendidikan SD SD
Pekerjaan Petani Petani
Alamat Tanjung - KLU Tanjung - KLU

1.3 Anamnesis (Heteroanamnesis)
Keluhan utama:
Tidak langsung menangis saat lahir

Riwayat penyakit sekarang:
Pasien kiriman ruang bersalin RSUP NTB, dikeluhkan tidak langsung menangis saat
lahir. Pasien baru menangis setelah dirangsang, namun kemudian tangisan tertahan
(merintih). Kulit pasien nampak kemerahan, namun ujung-ujung tangan dan kaki
terlihat kebiruan. Warna kebiruan baru menghilang setelah pasien diberi O2 di ruang
NICU. Dari pemeriksaan awal di ruang bersalin didapatkan denyut jantung lebih dari
100 kali, suara napas simetris kiri dan kanan, dangkal, tidak teratur, serta nampak
3

tarikan minimal pada dinding dada pasien saat menarik napas. Bayi nampak lemah
saat lahir dan tidak bergerak aktif. Suhu tubuh dibawah normal.
Pasien belum mendapat ASI segera setelah lahir. BAB (+), 1x, warna hitam
kehijauan, konsistensi lunak. BAK (+), 1x di ruang NICU, warna kuning jernih.

Riwayat kehamilan ini
Ibu pasien berusia 35 tahun saat mengandung pasien dan ini merupakan kehamilan
keempat ibu (kehamilan pertama dari suami kedua). Selama hamil, ibu pasien
memeriksakan kehamilannya di Polindes sebanyak + 5 kali, dan 2 kali di RSUD
Tanjung. Ibu pernah disarankan untuk melakukan pemeriksaan USG di Mataram
karena ada kemungkinan bayi besar, namun pemeriksaan tidak dilakukan dengan
alasan saat itu ibu menderita anemia dan tidak boleh bepergian jauh. Selama hamil
ibu tidak pernah muntah berlebihan ataupun sakit berat, riwayat konsumsi obat-
obatan selama hamil disangkal. Riwayat hipertensi selama kehamilan disangkal.
Konsumsi pil penambah darah (+) hingga menjelang persalinan. HPHT ibu tanggal 5
Februari 2013, dan usia kehamilannya saat melahirkan pasien adalah 36-37 minggu.

Riwayat persalinan saat ini
Ibu pasien mengatakan ia mulai terasa mulas-mulas sekitar tanggal 05 Oktober 2013,
dan setelah memeriksakan diri ia disarankan oleh petugas dari RSUD Tanjung untuk
melahirkan di Mataram karena kemungkinan bayi besar. Ibu berangkat sendiri
menggunakan motor (ojek) sehari setelah ke RSUD Tanjung, dan ibu langsung rawat
inap di RSUP NTB. Dari hasil pemeriksaan di RSUP dikatakan ibu kemungkinan
hamil bayi kembar.
Ibu merasa kehamilannya sudah cukup bulan. Bayi lahir di ruang bersalin RSUP
NTB, ditolong bidan pada tanggal 07 Oktober 2013 sekitar pukul 09.24 WITA.
Bayi lahir kembar (lahir kedua). Berat lahir saudara kembar 2100 gram, sedangkan
berat lahir pasien 2250 gram dan panjang badan 49 cm. Pasien lahir letak kepala,
tidak langsung menangis, tampak lemah dan keluarga pasien mengeluh warna kulit
kebiruan pada pasien. Riwayat air ketuban kehijauan atau keruh (-).

Riwayat imunisasi
Pasien belum mendapatkan imunisasi.
4

1.4 Pemeriksaan Fisik
Status generalis
Keadaan umum : lemah
Kesadaran : sopor
Aktivitas : menurun
Warna kulit : tubuh merah muda, sianosis perifer menghilang dengan
pemasangan O2 nasal kanul 1 lpm
CRT : < 3 detik
SpO2 : 92% (terpasang O2 1 lpm)
GDS : 102 mg/dL
Skor Down : 3 tidak ada distress pernapasan
Ballad Score : 30 (setara dengan usia kehamilan 36 minggu)

Tanda vital
HR : 150 x/menit, teratur
RR : 52 x/menit, teratur, tipe abdominotorakal
Suhu : 36,3
o
C

Penilaian pertumbuhan
Berat badan sekarang : 2250 gr
Panjang badan : 49 cm
Lingkar kepala : 31 cm
Lingkar lengan atas : 10 cm

Pemeriksaan fisik umum
1. Kepala
Normocephali, simetris, ubun-ubun besar terbuka, teraba datar, massa (-).
2. Wajah
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), refleks pupil (+/+)
isokor.
Telinga : Bentuk dalam batas normal, elastisitas baik (kembali baik).
Hidung : Bentuk dalam batas normal, deformitas (-), napas cuping hidung (-/-),
rhinorrhea (-/-).
5

Mulut : Sianosis sentral (-), mukosa bibir basah (+), refleks menghisap (+)
lemah, kelainan kongenital (-).
3. Leher
Kaku kuduk (-).
Pembesaran KGB (-).
4. Thoraks
Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris, retraksi dinding dada (+) minimal
pada subkosta, pergerakan napas teratur (+)
Palpasi : Gerakan dinding dada simetris, krepitasi (-), ictus cordis teraba di
ICS IV linea midklavikula sinistra.
Perkusi : sde
Auskultasi
- Cor : S
1
S
2
tunggal, regular, murmur (-), gallop (-).
- Pulmo : bronkovesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-), stridor (-)
5. Abdomen
Inspeksi : Distensi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) dbn
Perkusi : Timpani (+) di seluruh lapang abdomen
Palpasi : Turgor kulit normal, massa (-), hepar-lien-renal tidak teraba
6. Umbilicus: tampak basah, warna putih, hematom (-), edema (-), perdarahan (-),
hernia umbilicalis (-)
7. Genitalia : testis belum turun ke skrotum dextra et sinistra.
8. Anus : (+)
9. Ekstremitas:
Atas : akral hangat (+/+), pucat (+/+), sianosis (-/-).
Bawah : akral hangat (+/+), pucat (+/+), sianosis (-/-).
10. Tulang belakang: dalam batas normal

6

1.5 Pemeriksaan penunjang (tanggal 09/10/2013)
Darah lengkap
Hb : 18.3 g/dL
RBC : 5.03 x 10
6
/uL
Hct : 53%
MCV : 105.4 fL
MCH : 36.4 Pg
WBC : 14.16 x 10
3
/uL
Plt : 241 x 10
3
/uL
Golongan darah B/Rh (+)

1.6 Resume
Pasien laki-laki, usia 0 hari, lahir cukup bulan (36-37 minggu), ditolong bidan di ruang
bersalin RSUP NTB dengan kehamilan gemeli, berat lahir 2250 gram (berat lahir saudara
kembar 2100 gram), Apgar Score 6-8. Ini merupakan kehamilan keempat ibu pasien, di
usia 35 tahun, dan selama kehamilan ibu mengalami anemia, hipertensi disangkal. Saat
tiba di NICU bayi nampak sianosis perifer, gerak lemah, merintih (+), HR 150 kali/menit,
RR 52 kali/menit ireguler, suhu 36,3
o
C. Normocephali (LK = 31 cm), anemis (-), ikterik
(-), retraksi (+) minimal di subkosta. Cor, pulmo dan abdomen dalam batas normal. Akral
hangat, CRT < 3 detik. GDS stik 102 mg/dL.

1.7 Diagnosis
Bayi Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilan + BBLR + Asfiksia Sedang + Hipotermia

1.8 Rencana terapi
Jaga kehangatan, Rawat di inkubator
Observasi kondisi umum dan vital sign
Pengawasan jalan napas bersih dan terbuka
Pemberian O2 nasal kanul 1 lpm
Kebutuhan cairan hari pertama 80cc/kgBB/24 jam = 180 cc
- Enteral pasien dipuasakan
- Parenteral D10% = 7,5 tpm mikro (GIR = 5,5mg/kg/menit)
Inj. Ampicillin 2 x 100 mg
7

Inj. Gentamicin 1 x 4 mg
Inj. Aminophilin 2 x 5 mg
Pasang OGT puasa 12 jam

1.9 Pemeriksaan
Saturasi oksigen
Darah rutin dan gula darah sewaktu
8

1.10 Follow-up
Hari/ tgl S O A P

Selasa,
8/10/2013






Sesak (+)
Kejang (-)
Demam (-)
Menangis (+)
lemah
Gerak (+)
kurang aktif

KU : lemah
Kesadaran : sopor
RR: 47 x/mnt
HR: 144 x/mnt
T : 36,7
o
C
SpO2: 94%
GDS : 154 mg%
BB: 2230 gr
Bibir: sianosis (-)
Retraksi subcostal &
intercostal (+)
minimal
Akral hangat (+)
BKB-SMK
BBLR
Riwayat
asfiksia
sedang
O2 1 lpm
Puasa
Infus D10% 9 tpm
(GIR = 6.72)
Inj. Ampicillin
2x100 mg
Inj. Gentamicin
1x4 mg
Inj. Aminophilin
2x5 mg

Rabu,
9/10/2013

Sesak (+)
Kejang (-)
Demam (-)
Menangis (+)
lemah
Gerak (+)
aktif



KU : sedang
Kesadaran : waspada
RR: 64 x/mnt
HR: 144 x/mnt
T : 37.7
o
C
SpO2: 96%
GDS : 129 mg%
BB : 2150 gram
Bibir: sianosis (-)
Retraksi subcostal
(+) minimal
Akral hangat (+)
Reflex hisap (+)
lemah
BKB-SMK
BBLR
Riwayat
asfiksia
sedang
Hipertermia









Matikan inkubator
+ pantau suhu
(jaga kehangatan
36.5 37.5
o
C)
O2 1 lpm
Puasa
Infus D10% 236
cc/24jam 10
tpm (GIR = 7.75)
Inj. Ampicillin
2x100 mg
Inj. Gentamicin
1x4 mg
Inj. Aminophilin
2x5 mg
Kamis,
10/10/201
3
Sesak (+)
Kejang (-)
Demam (-)
Menangis (+)
kuat
Gerak (+)
aktif



KU : sedang
Kesadaran : waspada
RR: 52 x/mnt
HR: 120 x/mnt
T : 37.5
o
C
SpO2: 94%
GDS : 173 mg%
BB : 2090 gram
Bibir: sianosis (-)
Ikterik (+) Kramer I
Retraksi subcostal
(+) minimal
Akral hangat (+)
Refleks hisap kuat
BKB-SMK
BBLR
Riwayat
asfiksia
sedang
Ikterus
neonatorum
(breastfeeding
jaundice)



O2 stop
Keb. Cairan 271.7
cc/24 jam
ASI/PASI 12x10
cc
Infus D10% 151.7
cc/24jam 6.32
tpm (GIR = 5.05)
Inj. Ampicillin
2x100 mg
Inj. Gentamicin
1x4 mg
Inj. Aminophilin
2x5 mg

9

Jumat,
11/10/201
3
Sesak (+)
berkurang
Kejang (-)
Demam (-)
Menangis (+)
kuat
Gerak (+)
aktif
Menyusu
baik,
langsung dari
ibu



KU : sedang
Kesadaran : waspada
RR: 52 x/mnt
HR: 160 x/mnt
T : 38.2
o
C
SpO2: 92%
Bibir: sianosis (-)
Ikterik (-)
Retraksi subcostal
(+) minimal
Akral hangat (+)
BKB-SMK
BBLR
Riwayat
asfiksia
sedang



Boleh pulang dengan
KIE tentang :
Perawatan metode
kanguru & jaga
kehangatan bayi
Cara pemberian
ASI yang benar,
serta berikan
bergiliran pada
masing-masing
payudara. Bila
dirasa kurang atau
kesulitan, bisa
dengan ASI peras.
Pemberian ASI
sesuai dengan
keinginan bayi, 8
10 kali atau lebih
dalam sehari.
Biarkan tali pusar
mengering, jangan
diberi obat atau
ramuan, jaga agar
tidak basah

10

BAB 2
DAFTAR MASALAH

Berdasarkan data medis pasien diatas, ditemukan beberapa permasalahan. Adapun
permasalahan medis yang terdapat pada pasien adalah:
1. BBLR
2. Asfiksia neonatorum
3. Hipotermi

11

BAB 3
ANALISIS KASUS

3.1 Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Berat badan merupakan salah satu indikator kesehatan bayi baru lahir. Rerata
berat bayi normal (usia gestasi 37 s.d 41 minggu) adalah 3200 gram. Penenutuan umur
kehamilan bisa dilakukan mulai dari antenatal sampai setelah persalinan. Pada masa
antenatal ditentukan dengan cara sederhana yaitu dengan menghitung HPHT dan
kejadian-kejadian selama hamil yang penting. Grafik pertumbuhan terhadap usia
kehamilan digunakan untuk menentukan apakah berat badan lahir bayi sesuai untuk usia
kehamilan atau tidak.
1
Menurut hubungan berat lahir/umur kehamilan, berat bayi baru lahir dapat
dikelompokkan menjadi: sesuai masa kehamilan (SMK), kecil masa kehamilan (KMK)
dan besar masa kehamilan (BMK). Dengan cara yang sama berdasarkan umur kehamilan
saja bayi-bayi dapat digolongkan menjadi bayi kurang bulan, cukup bulan atau lebih
bulan.
1

Klasifikasi
Klasifikasi menurut berat lahir yaitu:
1
1. Berat badan lahir rendah
Bayi yang lahir dengan berat lahir < 2500 gram tanpa memandang masa gestasi.
2. Berat badan lahir cukup/ normal
Bayi yang dilahirkan dengan berat lahir > 2500 4000 gram
3. Berat badan lahir lebih
Bayi yang dilahirkan dengan berat lahir > 4000 gram

Klasifikasi menurut masa gestasi atau kehamilan yaitu:
1
1. Bayi Kurang Bulan
Bayi dilahirkan dengan masa gestasi < 37 minggu (<259 hari)
2. Bayi Cukup Bulan
Bayi dilahirkan dengan masa gestasi antara 37 42 minggu (259 293 hari)
3. Bayi Lebih Bulan
Bayi dilahirkan dengan masa gestasi > 42 minggu (294 hari)

12

Bayi kecil untuk masa kehamilan disebut jauga small for gestational age/SGA
Merupakan bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir (<10 persentil) menurut
grafik Lubchenco
Bayi besar untuk masa kehamilan disebut juga Large for gestational age/LGA
Merupakan bayi yang dilahirkan dengan berat badan lahir > 10 persentil menurut
grafik Lubchenco.

KLASIFIKASI BBLR
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500
gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang
dalam 1 (satu) jam setelah lahir. BBLR dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Prematuritas murni
Adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan
berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai
untuk masa kehamilan.
Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit dan komplikasi akibat kurang
matangnya organ karena masa gestasi yang kurang.
b. Dismaturitas
Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa
gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin dan merupakan
bayi yang kecil untuk masa kehamilannya.
Hal ini disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta, kurang baiknya
keadaan umum ibu atau gizi ibu, atau hambatan pertumbuhan dari bayinya sendiri.

EPIDEMIOLOGI
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh
kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian
BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi
dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. BBLR termasuk faktor
utama dalam peningkatan mortalitas, morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan anak
serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan. Angka
kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain, yaitu
berkisar antara 9%-30%, hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR
13

dengan rentang 2.1%-17,2 %. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI, angka
BBLR sekitar 7,5 %. Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada
sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7%.

ETIOLOGI
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang
lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler,
kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR

(1) Faktor ibu
a. Penyakit : Seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain
b. Komplikasi pada kehamilan : Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti
perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan kelahiran preterm.
c. Usia Ibu dan paritas : Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang
dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia < atau >
d. Faktor kebiasaan ibu : Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok,
ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika.
(2) Faktor Janin
Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom.
(3) Faktor Lingkungan
Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosio-
ekonomi dan paparan zat-zat racun.

MASALAH
Masalah lebih sering dijumpai pada Bayi Kurang Bulan dan BBLR dibandingkan dengan
bayi cukup bulan dan bayi berat badan lahir normal. Masalahnya diantaranya sebagai
berikut:
1. Ketidakstabilan suhu
BKB memiliki kesulitan untuk mempertahankan suhu tubuh akibat:
- Peningkatan hilangnya panas
- Kurangnya lemak subkutan
- Rasio luas permukaan tubuh terhadap berat badan yang besar
- Produksi panas berkurang akibat lemak coklat yang tidak memadai dan
ketidakmampuan untuk menggigil
Mekanisme kehilangan panas pada bayi antara lain dengan :
14

- Evaporasi, kehilangan panas akibat penguapan cairan ketuban pada permukaan
tubuh oleh panas tubuh bayi sendiri.
- Konveksi, kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar
yang lebih dingin.
- Radiasi, kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat
benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi.
- Konduksi, kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi
dengan permukaan yang dingin.


2. Kesulitan pernapasan
- Defisiensi sulfaktan paru yang mengarah ke PMH (penyakit membran hialin)
- Risiko aspirasi akibat belum terkordinirnya refleks batuk, refleks hisap dan
refleks menelan
- Thoraks yang dapat menekuk dan otot pembantu respirasi yang lemah
- Pernapasan yang periodik dan apnea
3. Kelainan gastrointestinal dan nutrisi
- Refleks isap dan telan yang buruk terutama sebelum 34 minggu
- Motalitas usus yang menurun
- Pengosongan lambung tertunda
- Pencernaan dan absorbsi vitamin yang larut dalam lemak kurang
- Defisiensi enzim laktase pada brush burder usus
- Menurunnya cadangan kalsium, fosfor, protein dan zat besi dalam tubuh
- Meningkatnya risiko EKN (Enterokolitis nekritikans)
15

4. Imaturitas hati
- Konjugasi dan ekskresi bilirubin terganggu
- Defisiensi faktor pembekuan yang bergantung pada vitamin K
5. Imaturitas ginjal
- Ketidakmampuan untuk mengekskresi solute load besar
- Akumulasi asam anorganik dengan asidosis metabolik
- Ketidakstabilan elektrolit, misalnya hiponatremia atau hipernatremia,
hiperkalemia atau glikosuria ginjal
6. Imaturitas imunologis
Risiko infeksi tinggi akibat:
- Tidak banyak transfer IgG maternal melalui plasenta selama trimester ke-3
- Fagositosis terganggu
- Penurunan faktor komplemen
7. Kelainan kardiovaskular
- Patent ductus arteriosus (PDA) merupakan hal yang umum ditemui pada bayi
BKB
- Hipotensi atau hipertensi
8. Kelainan hematologis
- Anemia (onset dini atau lanjut)
- Hiperbilirubinemia disseminated intravaskular coagulation (DIC)
- Hemorrhagic disease of the newborn (HDN)
9. Metabolisme
- Hipokalsemia
- Hipoglikemia atau hiperglikemia

Diagnosis
Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka
waktu kurang lebih dapat diketahui dengan dilakukan anamesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
1) Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk menegakkan mencari
etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya BBLR

:
- Umur ibu
- Riwayat hari pertama haid terakir
16

- Riwayat persalinan sebelumnya
- Paritas, jarak kelahiran sebelumnya
- Kenaikan berat badan selama hamil
- Aktivitas
- Penyakit yang diderita selama hamil
- Obat-obatan yang diminum selama hamil
2) Pemeriksaan Fisik
Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR antara lain :
- Berat badan <2500 gr
- Tanda-tanda prematuritas (pada bayi kurang bulan)
Tulang rawan telinga belum terbentuk.
Masih terdapat lanugo.
Refleks masih lemah.
Alat kelamin luar; perempuan: labium mayus belum menutup labium minus;
laki-laki: belum terjadi penurunan testis & kulit testis rata.
- Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil untuk masa kehamilan).
Tidak dijumpai tanda prematuritas.
Kulit keriput.
Kuku lebih panjang
3) Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain
- Pemeriksaan skor ballard
- Tes kocok (shake test), dianjur untuk bayi kurang bulan
- Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar
elektrolit dan analisa gas darah.
- Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru lahir dengan umur
kehamilan kurang bulan dimulai pada umur 8 jam atau didapat/diperkirakan akan
terjadi sindrom gawat nafas.
- USG kepala terutama pada bayi dengan umur kehamilan kurang lebih

Penatalaksanaan/ terapi
Medikamentosa
Pemberian vitamin K
1 :

- Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau
17

- Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10
hari, dan umur 4-6 minggu)
Diatetik
Bagi bayi kurang bulan, ASI adalah makanan terbaik. Komposisi ASI yang
dihasilkan oleh ibu yang melahirkan bayi prematur (ASI prematur) berbeda dengan
kompisisi ASI ibu yang melahirkan cukup bulan(ASI matur). Sayangnya komposisi
ASI prematur ini hanya berlangsung beberapa minggu (3 4 minggu), dan akan
berubah menjadi seperti ASI matur (tetap sesuai dengan kebutuhan bayi karena sudah
menjadi cukup bulan). Untuk bayi dengan masa gestasi >34 minggu dapat disusukan
langsung kepada ibunya karena refleks menghisap dan menelannya sudah cukup
baik.
1
Bayi prematur atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks
menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI dikeluarkan dengan
pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan pipa lambung atau pipet. Dengan
memegang kepala dan menahan bawah dagu, bayi dapat dilatih untuk menghisap
sementara ASI yang telah dikeluarkan yang diberikan dengan pipet atau selang kecil
yang menempel pada puting. ASI merupakan pilihan utama :
- Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan
cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan bayi
menghisap paling kurang sehari sekali.
- Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/hari
selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.
Pemberian minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat badan lahir dan
keadaan bayi adalah sebagai berikut :
a. Berat lahir 1750 2499 gram
Bayi dengan berat lahir > 2250 gram umumnya cukup kuat untuk mulai
minum sesudah dilahirkan. Jaga bayi tetap hangat dan kontrol infeksi, tidak ada
perwatan khusus.
2

Sebagian bayi dengan berat badan lahir 1750-2250 gram mungkin perlu
perawatan ekstra, tetapi dapat secara normal bersama ibunya untuk diberi minum
dan kehangatan, terutama jika kontakkulit ke kulit dapat dijaga.
2

Mulailah pemberian ASI dalam 1 jam sesudah kelahiran. Kebanyakan bayi
mampu menghisap. Bayi yang dapat menghisap harus diberi ASI. Bayi yang tidak
bisa menyusu harus diberi ASI perah dengan cangkir atau sendok. Ketika bayi
18

menghisap dari puting dengan baik dan berat badan bertambah, kurangi
pemberian ASI melalui sendok.
2
Periksa bayi serkurangnya dua kali sehari untuk menilai kemampuan minum,
asupan cairan, adanya suatu tanda bahaya, atau tanda-tanda adanya infeksi bakteri
berat. Jika terdapat salah satu tanda ini, lakukan pemantauan ketat di tempat
perawatan bayi baru lahir seperti dilakukan pada berat bayi sangat rendah
(BBLSR).
2

Risiko merawat anak di rumah sakit (misalnya mendapat infeksi
nosokomial), harus seimbang dengan manfaat yang diperoleh dari perawatan
yang lebih baik.
b. Berat lahir kurang dari 1750 gram
Bayi-bayi ini berisiko untuk hipotermia, apnu, hipoksemia, sepsis, intoleransi
minum dan enterokolitis nekrotikan. Semakin kecil bayi semakin tinggi risiko.
Semua Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) harus dikirim ke Perawatan
Khusus atau Unit Neonatal.
2
Tanda kecukupan pemberian ASI:
- BAK minimal 6 kali/ 24 jam.
- Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI.
- BB naik pd 7 hari pertama sbyk 20 gram/ hari.
- Cek saat menyusui, apabila satu payudara dihisap ASI akan menetes dari payudara
yg lain.

Oksigen
Beri oksigen melalui pipa nasal atau nasal prongs jika terdapat salah satu tanda hipoksemia.
2
Suhu
Lakukanlah perawatan kulit-ke-kulit di antara kedua payudara ibu atau beri pakaian di
ruangan yang hangat atau dalam humidicrib jika staf telah berpengalaman dalam
menggunakannya. Jika tidak ada penghangat bertenaga listrik, botol air panas yang
dibungkus dengan handuk bermanfaat untuk menjaga bayi tetap hangat. Pertahankan suhu
inti tubuh sekitar 36.5 37.50 C dengan kaki tetap hangat dan berwarna kemerahan.
2

Cairan dan pemberian minum
- Jika mungkin berikan cairan IV 60 mL/kg/hari selama hari pertama kehidupan.
Sebaiknya gunakan paediatric (100 mL) intravenous burette: dengan 60 tetes = 1 mL
19

sehingga, 1 tetes per menit = 1 mL per jam. Jika bayi sehat dan aktif, beri 2-4 mL ASI
perah setiap 2 jam melalui pipa lambung, tergantung berat badan bayi.
2

- Bayi sangat kecil yang ditempatkan di bawah pemancar panas atau terapi sinar
memerlukan lebih banyak cairan dibandingkan dengan volume biasa. Lakukan
perawatan hati-hati agar pemberian cairan IV dapat akurat karena kelebihan cairan
dapat berakibat fatal.
2

- Jika mungkin, periksa glukosa darah setiap 6 jam hingga pemberian minum enteral
dimulai, terutama jika bayi mengalami apnu, letargi atau kejang. Bayi mungkin
memerlukan larutan glukosa 10%.
2

- Mulai berikan minum jika kondisi bayi stabil (biasanya pada hari ke-2, pada bayi yang
lebih matur mungkin pada hari ke-1). Pemberian minum dimulai jika perut tidak
distensi dan lembut, terdapat bising usus, telah keluar mekonium dan tidak terdapat
apnu.
2

- Gunakan tabel minum.
2

- Hitung jumlah minum dan waktu pemberiannya.
2

- Jika toleransi minum baik, tingkatkan kebutuhan perhari.
2

- Pemberian susu dimulai dengan 2-4 mL setiap 1-2 jam melalui pipa lambung.
Beberapa BBLSR yang aktif dapat minum dengan cangkir dan sendok atau pipet steril.
Gunakan hanya ASI jika mungkin. Jika volume 2-4 mL dapat diterima tanpa muntah,
distensi perut atau retensi lambung lebih dari setengah yang diminum, volume dapat
ditingkatkan sebanyak 1-2 mL per minum setiap hari. Kurangi atau hentikan minum
jika terdapat tanda-tanda toleransi yang buruk. Jika target pemberian minum dapat
dicapai dalam 5-7 hari pertama, tetesan IV dapat ilepas untuk menghindari infeksi.
2

- Minum dapat ditingkatkan selama 2 minggu pertama kehidupan hingga 150-180
mL/kg/hari (minum 19-23 mL setiap 3 jam untuk bayi 1 kg dan 28-34 mL untuk bayi
1.5 kg). Setelah bayi tumbuh, hitung kembali volume minum berdasarkan berat badan
terakhir.
2


Antibiotika dan Sepsis
- Faktor-faktor risiko sepsis adalah: bayi yang dilahirkan di luar rumah sakit atau
dilahirkan dari ibu yang tidak sehat, pecah ketuban >18 jam, bayi kecil (mendekati 1
kg) .
2

- Jika terdapat salah satu TANDA BAHAYA atau tanda lain infeksi bakteri berat
mulailah pemberian antibioti.
2

20

Apnu.
2

- Amati bayi secara ketat terhadap periode apnu dan bila perlu rangsang pernapasan bayi
dengan mengusap dada atau punggung. Jika gagal, lakukan resusitasi dengan balon dan
sungkup.
- Jika bayi mengalami episode apnu lebih dari sekali dan atau sampai membutuhkan
resusitasi berikan sitrat kafein atau aminofilin.
- Kafein lebih dipilih jika tersedia. Dosis awal sitrat kafein adalah 20 mg/ kg oral atau
IV (berikan secara lambat selama 30 menit). Dosis rumatan sesuai anjuran (lihat
halaman 79).
- Jika kafein tidak tersedia, berikan dosis awal aminofilin 10 mg/kg secara oral atau IV
selama 15-30 menit (halaman 76). Dosis rumatan sesuai anjuran.
- Jika monitor apnu tersedia, maka alat ini harus digunakan.

Pemulangan dan pemantauan BBLR
BBLR dapat dipulangkan apabila :
2

- Tidak terdapat TANDA BAHAYA atau tanda infeksi berat.
- Berat badan bertambah hanya dengan ASI.
- Suhu tubuh bertahan pada kisaran normal (36-370C) dengan pakaian terbuka.
- Ibu yakin dan mampu merawatnya. BBLR harus diberi semua vaksin yang
dijadwalkan pada saat lahir dan jika ada dosis kedua pada saat akan dipulangkan.

Konseling pada saat BBLR pulang
Lakukan konseling pada orang tua sebelum bayi pulang mengenai :
2

- Pemberian ASI eksklusif
- Menjaga bayi tetap hangat
- Tanda bahaya untuk mencari pertolongan Timbang berat badan, nilai minum dan
kesehatan secara umum setiap minggu hingga berat badan bayi mencapai 2.5 kg.

Pemantauan (Monitoring)
1) Pemantauan saat dirawat
a. Terapi
Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan
Preparat besi sebagai suplemen mulai diberikan pada usia 2 minggu

21

b. Tumbuh kembang
Pantau berat badan bayi secara periodik
Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai 10%
untuk bayi dengan berat lahir 1500 gram dan 15% untuk bayi dengan berat
lahir <1500
Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori berat
lahir) dan telah berusia lebih dari 7 hari :
Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 ml/kg/hari sampai tercapai jumlah 180
ml/kg/hari
Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan bayi agar
jumlah pemberian ASI tetap 180 ml/kg/hari
Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian
ASI hingga 200 ml/kg/hari
Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap
minggu.
2) Pemantauan setelah pulang
Diperlukan pemantauan setelah pulang untuk mengetahui perkembangan bayi dan
mencegah/ mengurangi kemungkinan untuk terjadinya komplikasi setelah pulang sebagai
berikut :
Sesudah pulang hari ke-2, ke-10, ke-20, ke-30, dilanjutkan setiap bulan.
Hitung umur koreksi.
Pertumbuhan; berat badan, panjang badan dan lingkar kepala.
Tes perkembangan, Denver development screening test (DDST).
Awasi adanya kelainan bawaan.

Prognosis BBLR
Kematian perinatal pada bayi BBLR 8 kali lebih besar dari bayi normal. Prognosis akan lebih
buruk bila BB makin rendah, angka kematian sering disebabkan karena komplikasi neonatal
seperti asfiksia, aspirasi, pneumonia, perdarahan intrakranial, hipoglikemia. Bila hidup akan
dijumpai kerusakan saraf, gangguan bicara, IQ rendah.

Pencegahan
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah langkah yang
penting. Hal-hal yang dapat dilakukan :
22

- Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun
kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga berisiko,
terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan,
dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu
- Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim,
tanda tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar
mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik
- Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat
(20-34 tahun)
- Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan
pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses
terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.

Tanda Bahaya pada bayi baru lahir dan bayi muda
Tanda dan gejala sakit berat pada bayi baru lahir dan bayi muda sering tidak spesifik. Tanda
ini dapat terlihat pada saat atau sesudah bayi lahir, saat bayi baru lahir datang atau saat
perawatan di rumah sakit. Pengelolaan awal bayi baru lahir dengan tanda ini adalah stabilisasi
dan mencegah keadaan yang lebih buruk. Tanda ini mencakup:
- Tidak bisa menyusu
- Kejang
- Mengantuk atau tidak sadar
- Frekuensi napas < 20 kali/menit atau apnu (pernapasan berhenti selama
- >15 detik)
- Frekuensi napas > 60 kali/menit
- Merintih
- Tarikan dada bawah ke dalam yang kuat
- Sianosis sentral.

TATALAKSANA KEDARURATAN tanda bahaya:
- Beri oksigen melalui nasal prongs atau kateter nasal jika bayi muda mengalami
sianosis atau distres pernapasan berat.
- Beri VTP dengan balon dan sungkup, dengan oksigen 100% (atau udara ruangan jika
oksigen tidak tersedia) jika frekuensi napas terlalu lambat (< 20 kali/menit).
- Jika terus mengantuk, tidak sadar atau kejang, periksa glukosa darah.
23

- Jika glukosa < 45 mg/dL koreksi segera dengan bolus 200 mg/kg BB dekstrosa 10%
(2 ml/kg BB) IV selama 5 menit, diulangi sesuai keperluan dan infus tidak terputus
(continual) dekstrosa 10% dengan kecepatan 6-8 mg/kg BB/menit harus dimulai. Jika
tidak mendapat akses IV, berikan ASI atau glukosa melalui pipa lambung.
- Beri fenobarbital jika terjadi kejang
Atasi kejang dengan fenobarbital 20 mg/kgBB IV dalam waktu 5 menit.
Jika kejang tidak berhenti tambahkan fenobarbital 10 mg/kgBB sampai maksimal
40 mg/kgBB.
Bila kejang berlanjut, berikan fenitoin 20 mg/kgBB IV dalam larutan garam
fisiologis dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit.
Pengobatan rumatan:
Fenobarbital 5 mg/kgBB/hari, dosis tunggal atau terbagi tiap 12 jam secara IV
atau per oral.
Fenitoin 4-8 mg/kgBB/hari, dosis terbagi dua atau tiga secara IV atau per oral.

Cara menghangatkan bayi
Cara Petunjuk penggunaan
Kontak kulit Untuk semua bayi
Untuk menghangatkan bayi dalam waktu singkat atau
menghangatkan bayi hipotermi (32-36,4
o
C) apabila cara lain
tidak mungkin dilakukan.
KMC Untuk menstabilkan bayi dgn berat badan <2.500 g, terutama
direkomendasikan untuk perawatan berkelanjutan bayi dengan
berat badan <1.800 g.
Tidak untuk bayi sakit berat (sepsis, gangguan napas berat)
Tidak untuk ibu yang menderita penyakit berat yang tidak dapat
merawat bayinya.
Pemancar
panas
Untuk bayi sakit atau bayi dengan berat 1.500 g atau lebih.
Untuk pemeriksaan awal bayi, selama dilakukan tindakan, atau
menghangatkan kembali bayi hipotermi.
Inkubator Penghangatan berkelanjutan bayi dengan berat <1.500 g yang
tidak dapat dilakukan KMC.
Ruangan
hangat
Untuk merawat bayi dengan berat <2.500 g yang tidak
memerlukan tindakan diagnostik atau prosedur pengobatan.
Tidak untuk bayi sakit berat.




24

Jumlah cairan yang dibutuhkan bayi (ml/Kg)
Berat
(g)
Umur (hari)
1 2 3 4 5+
>1500 60 80 100 120 150
<1500 80 100 120 140 150

Jumlah ASI untuk bayi sehat berat 1250-1499
Pemberian
Umur (hari)
1 2 3 4 5 6 7
Jumlah ASI tiap 3
jam (ml/kali)
10 15 18 22 26 28 30

Kebutuhan cairan elektrolit bayi (ml/kg)
Berat badan
(gram)
<1000 1000 - <1500 1500 2500 >2500
Hari I 120 cc D5% 100 cc D7,5% 80 cc D10% 80 cc D10%
Hari II 140 cc D5% 120 cc D7,5% 100 cc D10% 90 cc D10%
Hari III 170 cc D5% 130 cc D7,5% 110 cc D10% 100 cc D10%
Hari >IV 200 cc 140-150 cc 130-150 cc 120-150 cc
Pembuatan cairan D7,5% = 93 cc (D5%) + 7 cc (D40%) = 100 cc D7,5%.


3.2 Asfiksia Neonatorum
Asfiksia neonatorum ialah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas
secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disertai dengan hipoksia,
hiperkapnia dan berakhir dengan asidosis. Manurut AAP dan ACOG (2004), asfiksia
perinatal pada seorang bayi menunjukan karakteristik berikut:
3
1. Asidemia metabolic atau campuran (metabolic dan respiratorik) yang jelas, yaitu
pH<7, pada sampel darah yang diambil dari arteri umbilical
2. Nilai Apgar 0-3 pada menit ke-5
3. Manifestasi neurologi pada periode BBL segera, termasuk kejang, hipotonia,
koma, atau ensefalopai hipoksik iskemik
4. Terjadi disfungsi sistem multiorgan segera pada periode BBL



25

FAKTOR RESIKO ASFIKSIA NEONATORUM
Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama
kelahiran dan kemudian disusul dengan pernafasan teratur. Bila terdapat gangguan
pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke janin, akan terjadi asfiksia janin
atau neonatus. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau
segera setelah lahir. Hampir sebagian besar asfiksia bayi baru lahir ini merupakan
kelanjutan asfiksia janin, karena itu penilaian janin selama masa kehamilan dan
persalinan memegang peranan yang sangat penting untuk keselamatan bayi.
Gangguan yang timbul pada akhir kehamilan atau persalinan hampir selalu disertai
anoksia/ hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia neonatus.
3

Faktor resiko antepartum
- Diabetes pada ibu
- Hipertensi dalam kehamilan
- Hipertensi kronik
- Anemia janin atau isoimunisasi
- Riwayat kematian janin atau neonates
- Perdarahan pada trimester dua atau tiga
- Infeksi ibu
- Ibu dengan penyakit jantung, ginjal, paru, tiroid, atau kelainan neurologi
- Polihidramnion
- Ketuban pecah dini
- Hidrops fetalis
- Kehamilan lewat waktu
- Kehamilan ganda
- Berat janin tidak sesuai masa kehamilan
- Terapi obat seperti magnesium karbonat dan beta bloker
- Ibu pengguna obat bius
- Malformasi atau anomaly janin
- Berkurangnya gerakan janin
- Tanpa pemeriksaan antenatal
- Usia <16 tahun atau >35 tahun

26

Faktor resiko intrapartum
- Seksio sesaria darurat
- Kelahiran dengan ekstraksi forsep atau vakum
- Letak sungsang atau presentasi abnormal
- Kelahiran kurang bulan
- Partus presipitatus
- Korioamnionitis
- Ketuban pecah lama (>18 jam sebelum persalinan)
- Partus lama (>24 jam)
- Kala dua lama (>2 jam)
- Makrosomia
- Bradikardia janin persisten
- Frekuensi janin yang tidak beraturan
- Penggunaan anastesi umum
- Hiperstimulus uterus
- Penggunaan obat narkotika pada ibu dalam 4 jam sebelum persalinan
- Air ketuban bercampur mekonium
- Prolaps tali pusat
- Solusio plasenta
- Lasenta previa
- Perdarahan intrapartum
PATOFISIOLOGI
BBL mempunyai karakteristik yang unik. Transisi kehidupan janin
intrauterine ke kehidupan bayi ektrauterin, menunjukkan perubahan sebagai berikut:
alveoli paru janin dalam uterus berisi cairan paru. Pada saat lahir dan bayi engambil
napas pertama, udara memasuki alveoli paru dan cairan paru diabsorpsi oleh jaringan
paru. Pada napas kedua dan berikutnya, udara yang masuk alveoli bertambah banyak
dan cairan paru diabsorpsi sehingga kemudian seluruh alveoli berisi udara yang
mengandung oksigen. Aliran darah paru meningkat secara dramatis. Hal ini
disebabkan ekspansi paru yang membutuhkan tekanan puncak inspirasi dan tekanan
akhir ekspirasi yang lebih tinggi. Ekspansi paru dan peningkatan tekanan oksegen
alveoli keduanya, menyebabkan penurunan resistensi vascular paru dan peningkatan
27

aliran darah paru setelah lahir. Aliran intrakardial dan ekstrakardial mulai beralih arah
yang kemudian diikuti penutupan duktus arteriosus. Kegagalan penurunan resistensi
vascular paru menyebabkan hioertensi pulmonal persisten pada bayi baru lahir
(Persisten Pulmonary Hypertension of the Neonate), dengan aliran darah paru yang
inadekuat dan hipoksemia relative. Ekspansi paru yang inadekuat menyebabkan gagal
napas.
3
PRINSIP DASAR
Bayi dapat mengalami apnea dan menunjukan upaya pernafasan yang tidak
cukup untuk kebutuhan ventilasi paru-paru. Kondisi ini menyebabkan kurangnya
pengambilan oksigen dan pengeluaran CO
2
. Penyebab depresi bayi pada saat lahir ini
mencakup:
4
1. Asfiksia intra uterin.
2. Bayi kurang bulan.
3. Obat-obat yang diberikan/ diminum oleh ibu.
4. Penyakit neuromuskular bawaan.
5. Cacat bawaan.
6. Hipoksia intra partum.
Asfiksia berarti hopoksia yang progresif, penimbunan CO
2
dan asidosis. Bila
proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak/ kematian.
Asfiksia juga mempengaruhi organ vital lainnya. Pada bayi yang mengalami
kekurangan oksigen akan terjadi pernafasan yang cepat dalam periode yang singkat.
Apabila asfiksia berlanjut gerakan pernafasan akan berhenti, denyut jantung juga
mulai menurun, sedangkan tonus neuromuskular berkurang secara berangsur-angsur
dan bayi memasuki periode apnea yang dikenal dengan nama apnea primer. Perlu
diketahui bahwa pernafasan yang megap-megap dan tonus otot yang juga turun terjadi
akibat obat-obat yang diberikan pada ibunya. Biasanya pemberian rangsangan dan
oksigen selama periode apnea primer dapat merangsang terjadinya pernafasan
spontan.
Apabila asfiksia berlanjut bayi akan menunjukan megap-megap yang dalam,
denyut jantung terus menurun, dan bayi akan terlihat lemas (flaccid). Pernafasan
makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apnea yang disebut apnea
sekunder, selama apnea sekunder ini denyut jantung, tekanan darah, dan kadar
oksigen dalam darah (PaO
2
) terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap
28

rangsangan dan tidak akan menunjukan upaya pernapasan secara spontan. Kematian
akan terjadi kecuali apabila resusitasi dengan pernafasan buatan dan pemberian
oksigen dimulai dengan segera.
4
Evaluasi gawat napas dengan skor Downes
Pemeriksaan
skor
0 1 2
Frekuensi
napas
< 60x/menit 60-80/menit >80/menit
Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat
Sianosis Tidak ada sianosis Sianosis hilang
dengan O
2
Sianosis menetap
walaupun diberi O
2
Air entery Udara masuk Penurunan ringan
udara masuk
Tidak ada udara
masuk
Merintih Tidak merintih Dapat didengar
dengan stetoskop
Dapat didengar tanpa
alat bantu
Total
1-3 : sesak napas ringan
4-5 : sesak napas sedang
6 : sesak napas berat

TANDA DAN GEJALA KLINIS
Pada asfiksia tingkat lanjut akan terjadi perubahan yang disebabkan oleh
beberapa keadaan diantaranya:
1. Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan mempengaruhi fungsi jantung.
2. Terjadinya asidosis metabolik akan mengakibatkan menurunnya sel jaringan
termasuk otot jantung sehingga menimbulkan kelemahan jantung.
3. Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan menyebabkan tetap tingginya
resistensi pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah mengalami gangguan.
Bayi yang mengalami kekurangan O
2
akan terjadi pernafasan yang cepat
dalam periode yang singkat apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan
29

berhenti, denyut jantung juga menurun, sedangkan tonus neuromuskular berkurang
secara barangsur-angsur dan memasuki periode apnea primer.
4
Gejala dan tanda asfiksia neonatorum yang khas antara lain meliputi
pernafasan cepat, pernafasan cuping hidung, sianosis, nadi cepat.
5
Gejala lanjut pada asfiksia:
1. Pernafasan megap-magap dalam.
2. Denyut jantung terus menurun.
3. Tekanan darah mulai menurun.
4. Bayi terlihat lemas (flaccid).
5. Menurunnya tekanan O
2
darah (PaO
2
).
6. Meningginya tekanan CO
2
darah (PaO
2
).
7. Menurunnya PH (akibat asidosis respiratorik dan metabolik).
8. Dipakainya sumber glikogen tubuh anak untuk metabolisme anaerob.
9. Terjadinya perubahan sistem kardiovaskular.
KLASIFIKASI ASFIKSIA NEONATORUM
Tanda 0 1 2
Laju jantung Tidak ada < 100 100
Usaha bernapas Tidak ada Lambat Menangis kuat
Tonus otot Lumpuh Ekstremitas fleksi
sedikit
Gerakan aktif
Refleks Tidak bereaksi Gerakan sedikit Refleks melawan
Warna kulit Seluruh tubuh
biru/pucat
Tubuh kemerahan,
ekstremitas biru
Seluruh tubuh
kemerahan

Kondisi bayi baru lahir dapat dibagi menjadi:
5
1. Vigorus baby. Skor Apgar 7-10. Dalam hal ini bayi dianggap sehat tidak
memerlukan tindakan istimewa.
2. Mild-moderate asphyxia (asfiksia sedang). Skor APGAR 4-6 pada pemeriksaan
fisik akan terlihat frekuensi jantung > 100x/ menit, tonus otot kurang baik,
sianosis, refleks iritabilitas tidak ada.
30

3. Severe asphyxia (asfiksia berat) berat skor APGAR 0-3. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 x/ menit, tonus otot buruk, sianosis
berat, dan kadang-kadang pucat, refleks iritabilitas tidak ada.
Asfiksia berat dengan henti jantung, dimaksudkan dengan henti jantung adalah
keadaan :
Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir
lengkap.
Bunyi jantung bayi menghilang post partum.

PENATALAKSANAAN ASFIKSIA NEONATORUM
Pada kasus asfiksia ringan bayi dapat terkejut atau sangat waspada dengan
peningkatan tonus otot, makan dengan buruk, dan frekuensi pernafasan normal atau
cepat. Temuan ini biasanya berlangsung selama 24-48 jam sebelum sembuh secara
spontan. Pada kasus asfiksia sedang bayi dapat letargi dan mengalami kesulitan
pemberian makan. Bayi dapat mengalami episode apnia kadang-kadang dan atau
konvulsi selama beberapa hari. Masalah ini biasanya sembuh dalam satu minggu,
tetapi masalah perkembangan saraf mungkin ada. Pada kasus asfiksia berat bayi dapat
terkulai atau tidak sadar dan tidak makan. Konvulsi dapat terjadi selama beberapa hari
dan episode apnia yang berat dan sering umumnya terjadi. Bayi dapat membaik
selama beberapa minggu atau tidak dapat membaik sama sekali. Jika bayi ini dapat
bertahan hidup mereka biasanya menderita kerusakan otak permanen.
6

Jika asfiksia ringan
Jika bayi tidak mendapat oksigen maka bayi mulai menyusui. Jika bayi
mendapat oksigen atau sebaliknya, tidak dapat menyusui berikan perasan ASI
dengan metode pemberian makan alternatif.
6

Jika asfiksia sedang atau berat
Pasang selang IV dan berikan hanya cairan IV selama 12 jam pertama. Batasi
volume cairan sampai 60 ml/ Kg BB selama hari pertama dan pantau urin. Jika
bayi berkemih kurang dari 6 kali/ hari atau tidak menghasilkan urin jangan
meningkatkan volume cairan pada hari berikutnya, ketika jumlah urin mulai
meningkat tingkatkan volume cairan IV harian sesuai dengan kemajuan volume
cairan. Tanpa memperhatikan usia bayi yaitu untuk bayi yang berusia 4 hari,
31

lanjutkan dari 60 ml/ Kg sampai 80 ml/ Kg sampai 100 ml/ Kg jangan langsung
120 ml/ Kg pada hari pertama. Ketika konvulsi terkendali dan bayi menunjukan
tanda-tanda peningkatan respon. Ijinkan bayi mulai menyusui. Jika bayi tidak
dapat menyusui berikan perasan ASI dengan menggunakan metode pemberian
makan alternatif. Berikan perawatan berkelanjutan.
6

32




33

PENCEGAHAN
Pencegahan Secara Umum
Pencegahan terhadap asfiksia neonatorum adalah dengan menghilangkan atau
meminimalkan faktor risiko penyebab asfiksia. Derajat kesehatan wanita, khususnya
ibu hamil harus baik. Komplikasi saat kehamilan, persalinan dan melahirkan harus
dihindari. Upaya peningkatan derajat kesehatan ini tidak mungkin dilakukan dengan
satu intervensi saja karena penyebab rendahnya derajat kesehatan wanita adalah
akibat banyak faktor seperti kemiskinan, pendidikan yang rendah, kepercayaan, adat
istiadat dan lain sebagainya. Untuk itu dibutuhkan kerjasama banyak pihak dan lintas
sektoral yang saling terkait adanya kebutuhan dan tantangan untuk meningkatkan
kerjasama antar tenaga obstetri di kamar bersalin. Perlu diadakan pelatihan untuk
penanganan situasi yang tak diduga dan tidak biasa yang dapat terjadi pada
persalinan. Setiap anggota tim persalinan harus dapat mengidentifikasi situasi
persalinan yang dapat menyebabkan kesalahpahaman atau menyebabkan
keterlambatan pada situasi gawat. Pada bayi dengan prematuritas, perlu diberikan
kortikosteroid untuk meningkatkan maturitas paru janin.
Antisipasi Dini Perlunya Dilakukan Resusitasi pada Bayi yang Dicurigai
Mengalami Depresi Pernapasan untuk Mencegah Morbiditas dan Mortilitas
Lebih Lanjut
Pada setiap kelahiran, tenaga medis harus siap untuk melakukan resusitasi
pada bayi baru lahir karena kebutuhan akan resusitasi dapat timbul secara tiba-tiba.
Karena alasan inilah, setiap kelahiran harus dihadiri oleh paling tidak seorang tenaga
terlatih dalam resusitasi neonatus, sebagai penanggung jawab pada perawatan bayi
baru lahir. Tenaga tambahan akan diperlukan pada kasus-kasus yang memerlukan
resusitasi yang lebih kompleks.
Dengan pertimbangan yang baik terhadap faktor risiko, lebih dari separuh bayi
baru lahir yang memerlukan resusitasi dapat diidentifikasi sebelum lahir, tenaga
medis dapat mengantisipasi dengan memanggil tenaga terlatih tambahan, dan
menyiapkan peralatan resusitasi yang diperlukan.

34

DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Pediatrics dan American Heart Association. Buku panduan resusitasi
neonatus. Edisi ke-5. Jakarta: Perinasia; 2006.
IDAI. Asfiksia Neonatorum. Dalam: Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Jakarta:
Badan Penerbit IDAI; 2004.h. 272-276. (level of evidence IV).
IDAI. Asfiksia dan Resusitasi Bayi Bayi Lahir. Dalam: Buku Ajar Neonatologi.
Jakarta:Badan Penerbit IDAI; 2008.h.103-125.
IDAI. Klasifikasi Bayi Menurut Berat Lahir dan Masa Gestasi. Dalam: Buku Ajar
Neonatologi. Jakarta:Badan Penerbit IDAI; 2008.h.11-30
World Health Organization. Basic Newborn Resuscitation: A Practical Guide-Revision.
Geneva: World Health Organization; 1999. Diunduh dari: www.who.int/reproductive-
health/publications/newborn_resus_citation/index.html.WHO. Pelayanan Kesehatan
Anak Di Rumah Sakit. 2009. WHO: Jakarta