Anda di halaman 1dari 18

1

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR TERRHADAP KONSEP TUMBUHAN


HIJAU DENGAN MENGGUNAKAN MODEL MAKE-A MATCH SISWA
KELAS V SDN KECAMATAN .. KABUPATEN
TAHUN AJARAN .

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Peraturan Menteri No 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk satuan
Pendidikan Dasar da Menengah, No 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dan No 24 Tahun 2006
tentang Pelaksanaan Peraturan Mendiknas No 22 Tahun 2006 dan No 23 Tahun
2006, bahwa Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah mengembangkan dan
menetapkan Kurikulum tingkat Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah sesuai
dengan Kebutuhan Satuan pendidikan
Salah satu mata pelajaran yang ada pada standar isi adalah mata pelajaran
IPA, yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis
sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa
fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu
proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta
didik untuk mmpelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek
pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-
hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung
untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar
secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk membantu peserta didik untuk
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Standar Isi
mata pelajaran IPA untuk SD;2006;19).
Kondisi pembelajaran IPA saat ini di SDN .............kurang memuaskan
hal ini antara lain di mungkinkan karena penyajian materi menggunakan strategi
pembelajaran yang kurang menarik proses pembelajarannya masih konvensional
2

transper pengetahuan dari guru kepda siswa sehingga tidak membangkitkan
motivasi, kreativitas siswa sangat pasif dan hanya tergantung pada guru siswa
merasa bosan banyak siswa mengantuk dan tidak ada moivasi untuk belajar.
Kurangnya inovasi dari guru saat terjadinya pembelajaran di sekolah sesuai
dengan pendapat sekitar 80% siswa menyatakan bahwa pembelajaran kurang
menarik). Faktor-faktor tersebut di atas dapat menjadikan hambatan kemajuan
belajar siswa dan nilai kognitifnya masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM).
Tidak semua strategi cocok untuk semua bahan kajian. Salah satu strategi
yang penulis pilih untuk mengatasi permasalahan yang ada untuk menggunakan
Model Make-A Match. Make-A Match adalah bentuk modeli pembelajaran
dengan teknik belajar mengajar mencari pasangan yang dikembangkan oleh
Lorna Curran. Anita Lie dalam Herminanto Sofyan mengatakan bahwa Model
Make-A Match adalah permainan mencari pasangan sambil belajar mengenai
suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Yang mana pada
strategi ini menciptakan suasana bermain sehingga diharapkan dapat mengatasi
rasa ngantuk, rasa bosan, timbul suasana yang menyenangkan hingga dapat
menumbuhkan gairah belajar. Khususnya untuk meningkatkan hasil belajar siswa
di kelas V dalam memahami konsep Tumbuhan Hijau, peneliti mencoba
menggunakan permainan Make-A Match melalui tulisan yang berjudul;
Meningkatkan hasil belajar terhadap konsep Tumbuhan Hijau dengan
Menggunakan Model Make-A Match Siswa Kelas V SDN .............Kecamatan
............. kabupaten Hulu Sungai Tengah.

B. Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Siswa
Bagaimana penerapan Model Make-A Match dapat meningkatkan
aktifitas siswa pada pembelajaran konsep Tumbuhan Hijau dikelas V
3

SDN .............Kecamatan ............. Kabupaten Hulu Sungai Tengah
Provinsi Kalimantan Selatan.
b. Bagi Guru
Bagaimana penerapan Model Make-A Match dapat meningkatkan
aktifitas guru pada pembelajaran konsep Tumbuhan Hijau dikelas V SDN
.............Kecamatan ............. Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi
Kalimantan Selatan.
c. Bagi Sekolah
Apakah Model Make-A Match dapat meningkatkan hasil belajar
konsep Tumbuhan Hijau siswa kelas V SDN .............Kecamatan .............
Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan.

2. Rencana Pemecahan Masalah
Penelitin ini dilaksanakan menggunakan pendekatan Penelitian
Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Rencana yang akan digunakan
untuk meningkatkan belajar dalam proses pembelajaran yaitu dengan
menerapkan Model Make-A Match. Dengan menggunakan model ini anak
akan lebih bisa mengingat pelajaran dengan mudah dan mereka bisa belajar
sambil bermain.
Garis besar kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan
menggunakan Model Make-A Match adalah sebagai berikut :
a. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topic
yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya
kartu jawaban.
b. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertulisan soal / jawaban.
c. Setiap siswa memikirkan jawaban / soal dari kartu yang dipegang.
d. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya.
e. Setiap siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu di
beri poin.
f. Jika siswa tidak dapat mencocokan kartunya dengan kartu temannya akan
mendapatkan hukuman tang sudah di sepakati.
4

g. Setelah satu babak, kartu di kocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu
yang berbeda dari sebelmnya.
h. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang
kartu yang cocok.
i. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi
pelajaran.

C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah untuk :
a. Bagi Siswa
Untuk meningkatkan aktifitas siswa pada pembelajaran konsep
Tiumbuhan Hijau melalui Model Make-A Match dikelas V SDN
.............Kecamatan ............. kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi
Kalimantan Selatan.
b. Bagi Guru
Untuk meningkatkan aktifitas guru pada pembelajaran konsep
Tumbuhan Hijau melalui Model Make-A Match dikelas V SDN
.............Kecamatan ............. Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi
Kalimantan Selatan.
c. Bagi Sekolah
Untuk meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran konsep
tumbuhan hijau melalui Model Make-A Match dikelas V SDN
.............Kecamatan ............. Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi
Kalimantan Selatan.

2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberi manfaat
bagi Guru, Siswa dan Sekolah, manfaat itu antara lain:
a. Bagi Guru
Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, menambah variasi
model pembelajaran, meningkatkan kemampuan guru dalam melakukan
5

inovasi pembelajaran di kelas dan meningkatkan kemampuan guru dalam
mengelola kelas serta dapat meningkatkan professional guru dalam
melaksanakan pembelajaran
b. Bagi Siswa
Dapat meningkatkan efektivitas belajar, karena model tersebut
lebih terarah dan intensif, sehingga lebih menarik dan memotivasi anak-
anak dalam belajar.
c. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan konstribusi terhadap
perbaikan dalam pembelajaran IPA khususnya dan kualitas sekolah pada
umumnya jaga sebagai bahan masukan bagi sekolah untuk tetap
mendorong dan memberikan kesempatan kepada guru lainnya untuk
melakukan inovasi di sekolah.

.
















6

BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A. Kerangka Teori
I. Hakikat Belajar IPA
1.1 Pengertian Belajar
Menurut T. Raka Joni (1981) bahwa belajar adalah perubahan
tingkah laku yang disebabkan oleh matangnya seseorang atau
perubahan yang bersifat temporer. Dari uraian di atas dapat dipahami
bahwa belajar adalah usaha sadar yang dilakukan individu dan
menyebabkan adanya perubahan tingkah laku sebagai responden
terhadap lingkungan, baik langsung ataupun tidak langsung.
(http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/05/pengertian-belajar.html)
Menurut Winkel, Belajar adalah semua aktivitas mental atau
psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang
menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengelolaan pemahaman.
Menurut Ernest R. Hilgard dalam (Sumardi Suryabrata,
1984:252) Belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan
sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya
berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.
Sedangkan Pengertian Belajar menurut Gagne dalam bukunya
The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan
yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya
berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah
melakukan tindakan yang serupa itu.
Moh. Surya (1981:32), Definisi Belajar adalah suatu proses
usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu
itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan. Kesimpulan yang
7

bisa diambil dari kedua pengertian di atas, bahwa pada prinsipnya,
belajar adalah perubahan dari diri seseorang.
Dari beberapa Pengertian Belajar di atas maka dapat
disimpulkan bahwa belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis
yang dilakukan oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan
tingkah laku yang berbeda antara sesudah belajar dan sebelum belajar.
(http://belajarpsikologi.com/pengertian-belajar-menurut-ahli/)

1.2 Pengertian Mengajar
Ada beberaapa pengertian yang digunakan untuk mendefinisikan
kegiatan mengajar, antara lain :
a. Definisi Klasik menyatakan bahwa mengajar diartikan sebagai
penyampaian sejumlah pengetahuan karena pandangan yang seperti
ini, maka guru dipandang sebagai sumber pengetahuan dan siswa
dianggap tidak mengerti apa apa. Pengertian ini sejalan dengan
pandangan Jerome S. Brunner yang berpendapat bahwa mengajar
adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk
yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh siswa.
b. Definisi Modern Menolak Pandangan Klasik seperti diatas, oleh
sebab itu pandangan tersebut kini mulai ditinggalkan. Orang mulai
beralih ke pandangan bahwa mengajar tidaklah sekedar
menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan berusaha membuat
suatu situasi lingkungan yang memungkinkan siswa untuk belajar.
Para ahli pendidikan yang sejalan dengan pendapat tersebut antara
lain : Nasution, yang merumuskan bahwa mengajar adalah suatu
aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaikbaiknya
dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadilah proses belajar
mengajar.
c. Menurut Tyson dan Caroll menyatakan bahwa mengajar adalah
sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara guru
dengan siswa yang samasama aktif melakukan kegiatan.
8

Sedangkan Tordif berpendapat bahwa mengajar adalah perbuatan
yang dilakukan oleh seseorang (guru) dengan tujuan membantu dan
memudahkan orang lain (siswa) untuk melakukan kegiatan belajar.
Adapun konsep baru tentang mengajar menyatakan bahwa mengajar
adalah membina siswa bagaimana belajar, bagaimana berfikir dan
bagaimana menyelidiki.
Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa aktivitas yang
sangat menonjol dalam pengajaran ada pada siswa. Namun, bukan
berarti peran guru tersisihkan, tetapi diubah, kalau guru dianggap
sebagai sumber pengetahuan, sehingga guru selalu aktif dan siswa
selalu pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru adalah seorang
pemandu dan pendorong agar siswa belajar secara aktif dan kreatif.
(http://mitanggel.blogspot.com/2009/09/pengertian-mengajar.html)

I.3 Pentingya Pembelajaran IPA Begi Anak Sekolah Dasar (SD)
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) didefinisikan sebagai kumpulan
pengetahuan yang tersusun secara terbimbing. Hal ini sejalan dengan
kurikulum KTSP (Depdiknas, 2006) bahwa IPA berhubungan dengan
cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga bukan hanya
penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta, konsep, atau
prinsipsaja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Selain itu
IPA juga merupakan ilmu yang bersifat empirik dan membahas tentang
fakta serta gejala alam. Fakta dan gejala alam tersebut menjadikan
pembelajaran IPA tidak hanya verbal tetapi juga faktual. Hal ini
menunjukkan bahwa, hakikat IPA sebagai proses diperlukan untuk
menciptakan pembelajaran IPA yang empirik dan faktual. Hakikat IPA
sebagai proses diwujudkan dengan melaksanakan pembelajaran yang
melatih ketrampilan proses bagaimana cara produk sains ditemukan.
Asyari, Muslichah (2006:22) menyatakan bahwa ketrampilan
proses yang perlu dilatih dalam pembelajaran IPA meliputi ketrampilan
proses dasar misalnya mengamati, mengukur, mengklasifikasikan,
9

mengkomunikasikan, mengenal hubungan ruang dan waktu, serta
ketrampilan proses terintegrasi misalnya merancang dan melakukan
eksperimen yang meliputi menyusun hipotesis, menentukan variable,
menyusun definisi operasional, menafsirkan data, menganalisis dan
mensintesis data. Poedjiati (2005:78) menyebutkan bahwa ketrampilan
dasar dalam pendekatan proses adalah observasi, menghitung,
mengukur, mengklasifikasi, dan membuat hipotesis. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa ketrampilan proses dalam pembelajaran IPA
di SD meliputi ketrampilan dasar dan ketrampilan terintegrasi. Kedua
ketrampilan ini dapat melatih siswa untuk menemukan dan
menyelesaikan masalah secara ilmiah untuk menghasilkan produk-
produk IPA yaitu fakta, konsep, generalisasi, hukum dan teori-teori
baru.
Sehingga perlu diciptakan kondisi pembelajaran IPA di SD yang
dapat mendorong siswa untuk aktif dan ingin tahu. Dengan demikian,
pembelajaran merupakan kegiatan investigasi terhadap permasalahan
alam di sekitarnya. Setelah melakukan investigasi akan terungkap fakta
atau diperoleh data. Data yang diperoleh dari kegiatan investigasi
tersebut perlu digeneralisir agar siswa memiliki pemahaman konsep
yang baik. Untuk itu siswa perlu di bimbing berpikir secara induktif.
Selain itu, pada beberapa konsep IPA yang dilakukan, siswa perlu
memverifikasi dan menerapkan suatu hukum atau prinsip. Sehingga
siswa juga perlu dibimbing berpikir secara deduktif. Kegiatan belajar
IPA seperti ini, dapat menumbuhkan sikap ilmiah dalam diri siswa.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hakikat IPA meliputi
beberapa aspek yaitu faktual, keseimbangan antara proses dan produk,
keaktifan dalam proses penemuan, berfikir induktif dan deduktif, serta
pengembangan sikap ilmiah.
(http://www.sekolahdasar.net/2011/05/hakekat-pembelajaran-ipa-di-
sekolah.html)

10

I.4 Peran Guru dalam Pembelajaran IPA
Guru memiliki berbagai peran dan fungsi dalam proses
pembelajaran. Guru sebagai fasilitator memberikan kemudahan kepada
siswa dalam menanamkan konsep yang menjadi tuntutan kurikulum.
Sebagai dinamisator guru perlu menciptakan situasi dan kondisi
hidup dan tidak monoton supaya semangat belajar siswa dapat
meningkat. Sebagai mediator guru perlu bertindak sebagai media
terhadap siswa dalam mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya.
Sebagai evaluator, guru perlu menilai kemajuan siswa supaya mereka
dapat melakukan perbaikanperbaikan supaya hasil belajarnya dapat
meningkat. Sebagai instuktur, guru perlu memberikan perintah yang
baik dan tepat dalam bentuk tugastugas kepada siswa supaya mereka
lebih aktif belajar. Sebagai manajer, guru perlu memiliki jiwa
kepemimpinan yang tinggi sehingga nampak berwibawa di mata siswa
(Sanjaya, 2008).
Guru sebagai seorang pendidik dan sebagai orang yang
memberi ilmu pengetahuan kepada anak didik harus betul-betul
memahami kebijakan-kebijakan pendidikan. Dengan pemahaman itu
guru memiliki landasan-landasan berpijak dalam melaksanakan tugas
di bidang pendidikan. Namun, perlu dipahami bahwa guru memang
bukanlah satu-satunya sumber belajar, walaupun tugas, peranan,
dan fungsinya dalam proses belajar mengajar sangat penting. Prestasi
yang dicapai anak didik tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat
pengetahuan guru terhadap materi pelajaran yang akan diajarkan,
tetapi yang juga ikut menentukan adalah model mengajar dan media
pembelajaran yang digunakan.
(http://www.slideshare.net/Edhybioners/penggunaan-media-animasi-
dalam-model-pembelajaran-langsung-untuk-meningkatkan-hasil-
belajar-biologi-siswa-kelas-viii3-smp-negeri-13-makassar)


11

2. Pengertian Model Make-A Match
Model Make-A Match adalah suatu teknik untuk meningkatkan
partisipasi dan keaktifan siswa oleh guru di dalam kelas dengan siswa, di
suruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban / soal sebelum batas
waktunya, yang dapat mencocokan kartunya diberi poin.
Model Make-A Match / Mencari Pasangan dikembangkan oleh Lorna
Curran (1994), salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari
pasangan sambil belajar mengenai konsep atau topic dalam suasana yang
menyenangkan. (http://Tarmizi.Wordpress.com/2008/12/03/pembelajaran-
kooperatif-make-a-match/).
Tujuan pada penerapan Model Make-A Match, diperoleh beberapa
temuan bahwa Model Make-A Match dapat memupuk kerjasama siswa dalam
menjawab pertanyaan dengan mencocokan kartu yang ada di tangan mereka,
proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar siswa lebih
antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak sekali
pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-masing. Hal ini
merupakan suatu ciri dari pembelajaran kooferatif seperti yang dikemukakan
oleh Lie (2003:30) bahwa, Pembelajaran Kooferatif adalah pembelajaran
yang menitik beratkan pada gotong royong dan kerja sama dan kelompok.

3. Fungsi dan Prinsip Model Make-A Match
Kegiatan yang dilakukan guru merupakan upaya guru untuk menarik
perhatian sehingga pada akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan motivasi
siswa dalam diskusi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik (1994:116),
Motivasi yang kuat erat hubungannya dengan meningkatkan keaktifan siswa
yang dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran tertentu dan mengenai
teknik mengisi LKS, dan dilanjutkan dengan melakukan pengamatan
terhadap pokok-pokok pikiran dalam wacana. Pada bagian ini penulis
menjelaskan kembali materi pelajaran dengan pengalaman siswa sehari-hari.
Kegiatan yang dilakukan ini telah membuat suasana belajar yang
menyenangkan dan lebih menarik. Sebagian siswa tampak lebih aktif
12

mengikuti berbagai kegiatan yang harus dikerjakanoleh siswa. Meskipun
diantara siswa masih ada yang belum menjawab pertanyaan secara benar,
bagi siswa tersebut guru menganjurkan untuk mendiskusikan jawabannya
kedalam kelompoknya. Setelah para siswa berdiskusi akhirnya siswa tersebut
dapat menjawab pertanyaan dengan baik siswa mampu bersaing antar
kelompok.
Guna meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa dalam kelas, guru
menerapkan Model Make-A Match.
(http://Tarmizi.Wordpress.Com/2008/12/03/pembelajaran-kooperatif-make-
a-match)
Model pembelajaran merupakan rencana atau pola pembelajaran yang
dapat digunakan untuk membentuk dan mengembangkan kurikulum, untuk
mendesain pembelajaran (instructional) dalam mata pelajaran tertentu
(Rianto,2007:11).
Dalam hal ini strategi pembelajaran mrupakan kerangka konseptual
yang mendiskripsikan prosedur yang sistematis untuk mengorganisasikan
pengalaman belajar dalam bentuk rancangan proses pembelajaran untuk
mencapai kompetensi tertentu sesuai dengan standar kompetensi dalam
kurikulum / standar isi permainan Model Make-A Match (mencari pasangan)
menurut Anita Lie dalam Herdian, S.Pd.
(http://herdy07.wordpress.com/2009/04/29)
Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan
sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang
menyenangkan. Pembelajaran dengan menggunakan permainan mencari
pasangan yaitu beberapa kartu yang berisi konsep atau topic yang cocok,
salah satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Kartu dibagi
kepada setiap siswa setiap siswa memikirkn jawaban dari soal pada kartu
yang dipegang, kemudian jawaban dapat dicari pada kartu yang tersedia.
Setiap satu babak kartu dikocok lagi agar siswa mendapat kartu berbeda dari
sebelumnya.

13

4. Langkah-Langkah Model Make-A Match
Menurut Muhammad Faiq Dzaki
(http://penelitian.tindakan.kelas.blogspot.com/2009) Langkah-langkah
Pembelajaran kooperatif Tipe Make-A Match adalah sebagai berikut :
a. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep / topic
yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi
sebaliknya berupa kartu jawaban).
b. Setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari
kartu yang dipegang.
c. Siswa mencari pasanagan yang mempunyai kartu yang cocok dengan
kartunya (kartu soal / kartu jawaban).
d. Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi
poin.
e. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu
yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
f. Kesimpulan.
Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan permasalahan dan kartu
yang bersi jawabannya, setiap siswa mencari dan mndapatkan sebuah kartu
soal dan berusaha menjawabnya, setiap siswa mencari kartu jawaban yang
cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward, kartu
dikumpul lagi dan dikocok, untuk babak berikutnya pembelajaran seperti
babak pertama, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
Pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru harus dapat membawa
suasana pembelajaran yang kondusif, siswa betul-betul dapat menikmati
proses pembelajaran tanpa ada beban. Suasana menyenangkan dapat
diciptakan oleh guru dengan bentuk-bentuk permainan. Sistem pencernaan
makanan pada manusia dapat diajarkan dengan menggunakan permainan
kartu untuk mencari pasangan (Model Make-A Match).



14

5. Peran Guru dan Siswa dalam Model Make-A Match
a. Peran Guru dan Siswa
Peran guru dalam mengunakan model ini yaitu memberikan
petunjuk dan pengarahan mengenai Model Make-A Match kepada siswa
sampai mereka paham betul cara-cara yang dianjurkan oleh guru sehingga
siswa bisa melaksanakan dengan benar. Sedangkan peran siswa yaitu
keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya
masing-masing. Hal ini merupakan suatu ciri dari Model Make-A Match
seperti yang dikemukakan oleh Lie (2003:30) bahwa, pembelajaran
kooferatif terutama dengan menggunakan Model Make-A Match yaitu
pembelajaran yang menitik beratkan gotong royong dan kerja sama
kelompok.
b. Peranan Metode Make-A Match dalam Pembelajaran IPA
Banyak motode yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA,
diantaranya yaitu ceramah, diskusi, tanya jawab, metode berlizt, games
dan metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) dari beberapa metode yang
disebutkan tadi, metode Make-A Match merupakan bagian yang termasuk
dalam metode games yaitu mencari pasangan
(http:/pbsindonesia.fkipuninus.org/media.php?module=detailmateri&id=
97)
Pada penerapan Model Make-A Match, diperoleh beberapa
temuan bahwa Model Make-A Match dapat memupuk kerjasama siswa
dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokan kartu yang ada di
tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian
besar siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan
siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-
masing.




15

6. Keunggulan dan Kelemahan Model Make-A Match
Kegiatan yang dilakukan guru ini merupakan upaya guru untuk
menarik perhatian sehingga pada akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan
motivasi siswa dalam diskusi. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik
(1994:116), Motivasi yang kuat erat hubungannya dengan meningkatkan
keaktifan siswa yang dapat dilakukan dengan model pembeajaran tertentu dan
motivasi belajar dapat ditujukan ke arah kegiatan-kegiatan kreatif.
Selanjutnya, penerapan Model Make-A Match dapat membangkitkan
keingintahuan dan kerja sama diantara siswa serta mampu menciptakan
kondisi yang menyenangkan. Hal ini sesuai dengan tuntutan dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahwa pelaksanaan proses
pembelajaran mengikuti standar kompetensi, yaitu berpusat pada siswa;
mengembangkan keingintahuan dan imajinasi; memiliki semangat mandiri,
bekerja sama dan kompetensi; menciptakan kondisi yang menyenangkan;
mengembangkan beragam kemampuan pengalaman belajar; karakteristik
mata pelajaran.
Keunggulan Model Make-A Match adalah sebagai berikut :
a. Mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan.
b. Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik siswa.
c. Mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai ketuntasan belajar
secara klasikal 87,50%.
Kelemahan Model Make-A Match adalah sebagai berikut :
a. Diperlukan binmbingan dari guru untuk melakukan kegiatan.
b. Waktu yang tersedia perlu dibatasi jangan sampai siswa terlalu banyak
bermain dalam proses pembelajaran.
c. Guru perlu persiapan bahan dan alat yang memadai.





16

7. Pengertian Media
Media sebagai sarana yang efektif dalam menyampaikan
pelajaran,walaupun itu hanya media yang sederhana,tetapi sangat membantu
komonikasi menjadi efektif. Menurut Gagne (Nurul Huda,2009:28)
menjelaskan bahwa media sebagai komponen lingkungan siswa yang dapat
merangsang mereka untuk belajar.
Sejalan dengan pendapat diatas,Basyiruddin Usnawir(2002:13) bahwa
media adalah sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat mendorong
terjadinya proses belajar pada dirinya.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa media adalah
sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan(wiessage) atau dari
pengirim kepada penerima pesan(receiver)sehingga dapat merangsang
pikiran,perasaan,perhatian dan minat sedemikian rupa sehingga proses belajar
terjadi.Selain itu,penggunaan media pengajaran akan menambah kualitas
pengajaran sehingga siswa akan merasa bermakna dalam mengikuti pelajaran.
a. Fungsi Media Dalam Penelitian
Fungsi Media dalam penelitian sebagai alat bantu dalam kegiatan
belajar mengajar yakni berupa sarana yang dapat mrmberikan
pengalaman visual kepada siswa dalam rangka mendorong, memotivasi
belajar memperjelas dan mepermudah konsep yang konpleks menjadi
lebih mudah dipahami.
Secara umum Wina sanjaya (2006:168) menyebutkan fungsi
media adalah sebagai berikut:
a) Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalitas.
b) Mengatasi keterbatasn ruang, waktu, tenaga dan daya indra.
c) Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid
dengan sumber belajar.
d) Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan
kemampuan visual.
e) Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan
menimbulkan persepsi yang sama.
17

Basyiruddin Usman Asnawir (2002:20) menjelaskan bahwa fungsi
media pembelajaran adalah:
a) Untuk menangkap suatu obyek atau peristiwa-peristiwa tertentu.
b) Untuk manipulasi keadaan, peristiwa atau obyek tertentu.
c) Untuk menambah gairah atau motivasi belajar siswa
Sejalan dengan Kemp dan Dayton (Yamin Ansari, 2008:151)
menemukan beberapa fungsi media dalam dunia pendidikan diantaranya
adalah:
a) Penyampaian materi dapat diseragamkan.
b) Proses belajar jadi lebih menarik.
c) Proses belajar siswa jadi lebih interaktif
d) Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi.
e) Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan.
f) Proses belajar mengajar dapat terjadi di mana saja dan kapan saja
g) Sikap positif siswa terhadap bahan pelajaran mampu terhadap proses
balajar itu sendiri dapat ditingkatkan.
h) Peran guru dapat bertambah kearah yang lebih proaktif dan pasif.
Berdasarkan beberapa teori diatas, dapat disimpulkan tentang
fungsi media yaitu pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar
mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat baru,
membangkitkan motivasi dan merangsang kegiatan belajar dan bahkan
membawa pengaruh psikologis terhadap siswa.
b. Jenis Media
Ada beberapa macam jenis media yang sering digunakan dalam
pelaksanaan pembelajaran. Menurut Hastuti (Juanda,2006 :103) media
belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a) Media Visual yang tidak dapat di proyeksikan diantaranya :
Gambar diam, misalnya lukisan foto, gambar dan majalah
Gambar seri
Flash Chard, berisi kata-kata dan gambar untuk mengembangkan
kosa bab.
18

b) Media Visual yang dapat diproyeksikan yaitu media yang digunakan
alat proyeksi.

B. Kerangka Berpikir dan Hipotesis Penelitian
1. Kerangka Berpikir
Dengan melalui pembelajaran induktif dan deduktif serta model yang
lain hasil pembelajaran IPA siswa kelas V SDN .............Kecamatan .............
belum mencapai nilai yang maksimal, karena sebagian siswa mengikuti
proses pembelajaran tidak begitu aktif, maka salah satu penulis lakukan
adalah untuk mencari pendekatan yang lain yaitu Model Make-A Macth agar
siswa mencapai kompetensi tertentu sesuai dengan standar kompetensi dalam
kurikulum / standar.

2. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut dapat dirumuskan hipotesis
penelitian sebagai berikut:
Dengan menggunakan Model MakeA Macth dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas V SDN .............Kecamatan ............. dalam memahami
konsep Tumbuhan Hijau.