Anda di halaman 1dari 6

Rangkuman Perkembangan Sel Surya Berbasis Silikon

Nama : Melany Febrina


NIM : 20213036

1. Pendahuluan

Untuk memenuhi kebutuhan manusia akan energi terdapat dua sumber energi yang saat ini
dijadikan sumber energi utama. Jenis yang pertama yaitu sumber energi yang akan habis jika
dimanfaatkan secara terus-menerus atau ketersediannya terbatas di muka bumi, dikenal sebagai
sumber energi tak terbarukan (depleting energy). Jenis yang kedua terdiri dari sumber energi yang
yang tidak akan habis jika dimanfaatkan secara terus-menerus atau ketersediannya tak terbatas di
muka bumi, dikenal sebagai sumber energi terbarukan (reneweble energy).
Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi listrik dikenal juga dengan istilah sel
fotovoltaik atau lebih populer dengan sebutan sel surya. Sel surya konvensional bekerja
menggunakan prinsip p-n junction, yaitu junction atau sambungan antara semikonduktor tipe-p dan
tipe-n. Peran dari p-n junction ini adalah untuk membentuk medan listrik sehingga elektron dan
hole bisa diekstrak oleh material kontak untuk menghasilkan listrik.
Berdasarkan jenis bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan selnya, maka sel surya bisa
dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu sel surya berbahan dasar silikon dan sel surya berbahan dasar
selain silikon (Cadmium Telluride (CdTe), Copper Indium Gallium Selenide (CIGS), Galluim
Arsenid (GaAs) dan Dye Sensitized, Polimer (sel surya organik)). Silikon tergolong pada jenis
semikonduktor dengan energi gap ~ 1,12 eV. Silikon banyak terdapat di alam berupa pasir silika
(SiO
2
). Silikon yang dimanfaatkan sebagai sel surya terdiri dari 3 jenis yaitu monokristalin,
polikristalin dan amorphous.
Monokristalin silikon merupakan jenis silikon yang terdiri dari kristal tunggal. Sel surya yang
terbuat dari monokristalin silikon memiliki beberapa kelebihan diantaranya memiliki efisiensi yang
lebih tinggi dibanding tipe sel surya lainnya, dapat bekerja dengan stabil pada suhu tinggi, dan lebih
efisien dalam hal ukuran. Namun mahalnya biaya untuk membuat sel monokristalin silikon ini
menyebabkan sel surya jenis ini sulit di komersialkan, sehingga para peneliti terus mencoba
mencari alternatif jenis sel surya lain yang lebih murah sehingga mudah untuk di pasarkan.
Kelemahan yang lain dari sel surya monikristalin yaitu tidak mampu bekerja saat cuaca berawan.
Polikristalin/ multikristalin merupakan jenis silikon yang terdiri dari beberapa beberapa kristal
tunggal dengan orisentasi kisi yang berbeda. Polikristalin silikon dapat bekerja walaupun cuaca
berawan namun dia rentan terhadap suhu tinggi, dibandingkan dengan monoristalin silikon. Karena
struktur kristalnya yang acak maka tampilan selnya pun jadi tidak seragam dan untuk efisiensinya
sendiri lebih rendah monokristalin. Dalam pemasaran sendiri polikristalin lebih banyak diminati
karena harganya yang lebih murah.
Amorphous silikon merupakan silikon yang tidak memiliki keteraturan struktur. Biasanya untuk
silikon jenis ini difabrikasikan dalam bentuk lapisan tipis (thin film). Dari segi harga amorphous
tergolong lebih murah dibanding dengan dua tipe sel surya silikon lainnya, namun efisiensinya
cukup rendah. Akan tetapi amorphous silikon ini diperkirakan dapat memiliki efisiensi yang sama
dengan monokristlin silikon dengan memodifikasi struktur lapisan penyusun sel surya yang akhir-
akhir ini banyak diteliti oleh para ilmuan.
Secara umum sel surya silikon terdiri dari substrat (metal backing) yang menopang seluruh
komponen sel surya sekaligus sebagai kontak terminal positif, umumnya digunakan logam seperti
aluminium atau molybdenum. Kemudian silikon yang biasanya mempunyai ketebalan sampai
beberapa ratus mikrometer untuk menyerap cahaya dari sinar matahari. Silikon terdiri dari junction
atau gabungan dari dua tipe yaitu tipe-p (pengahasil hole) dan tipe-n (penghasil elektron) yang
membentuk p-n junction. P-n junction ini menjadi kunci dari prinsip kerja sel surya. Setelah itu ada
metal kontak atau contact grid biasanya berupa material konduktif transparan sebagai kontak
negatif (ITO). Selanjutnya ada lapisan antireflektif yang akan meminimalisir cahaya yang
dipantulkan agar cahaya yang diserap oleh silikon optimal. Material anti-refleksi ini adalah lapisan
tipis material dengan besar indeks refraktif optik antara semikonduktor silikon dan udara yang
menyebabkan cahaya dibelokkan ke arah semikonduktor sehingga meminimumkan cahaya yang
dipantulkan kembali. Untuk melindungi modul surya dari hujan atau kotoran maka semua lapisan
ini di enkapsulasi dengan cover glass.

2. Fabrikasi Silicon Solar Cells
a. Crystalline Silicon Solar Cells
Teknik Czochralski
Teknik ini menggunakan seed crystal dari kristal silikon tunggal. Awal dari teknik ini adalah
polysilikon dilelehkan pada suhu > 1400
0
C (Microchemical,2014). Seed dimasukan kedalam
lelehan polysilikon, sehingga posisi dari seed berada diatas lelehan polysilikon. Setelah itu, seed
crystal diangkat secara perlahan ( kurang lebih 10 cm per jam ) dan diputar. Lelehan dari silikon
tadi akan membeku di permukaan setelah diangkat, dan struktur dari silikon itu mengikuti struktur
dari seed crystal. Hasil akhir dari teknik ini adalah sebuah ingot silinder dengan diameter 7.5 cm(
Basic photovoltaic, 1981). Keuntungan dari teknik czochralski adalah teknik bisa menghasilkan
kristal dengan diameter yang besar dan biaya untuk produksi wafer nya lebih murah daripada teknik
float-zone. Sedangkan kelemahan dari teknik ini adalah masih terdapatnya pengotor berupa oksigen
dan karbon (Mikrochemical,2014).
Teknik Float-Zone
Teknik ini juga menggunakan seed crystal monocrystalline, tapi mempunyai perbedaan dengan
teknik czochralski. Pada teknik czocharalski menggunakan lelehan dari polysilikon, sedangkan pada
teknik float-zone ini menggunakan ingot polysilikon. Seed crystal diletakkan dibagian bawah dari
ingot polysilikon. Pada teknik ini menggunakan induksi koil yang berfungsi untuk melelehkan ingot
polysilikon. Koil ini akan bergerak dari bawah keatas dan melelehkan ingot secara perlahan.
Lelehan dari ingot tadi akan mengeras dengan sendirinya dan membentuk monokristalin silikon
dengan orientasi kristal mengikuti dari orientasi dari seed crystal. Keuntungan dari teknik float-
zone ini adalah ingot monokristalin yang dihasilkan mempunyai konsentrasi pengotor yang lebih
rendah daripada teknik czochralski. Tapi kelemahan dari teknik ini adalah biaya produksinya lebih
mahal daripada teknik czochralski, dan ukuran ingot yang dihasilkan lebih kecil dari teknik
czochralski (Mikrochemical,2014).
Setelah ingot dari monokristal silikon telah dibuat, ingot tersebut harus dipotong menjadi bentuk
wafer. Proses pembuatan wafer ini terdiri dari beberapa proses yaitu:
1. Grinding
2. Dicing
3. Lapping
4. Etching
5. Polishing
6. Cleaning
Pembentukan PN J unction
Secara konseptual, pn junction ini terbentuk ketika lapisan dopping silikon dikontak langsung
dengan lapisan dasar silikon. Secara praktek, prosedurnya agak berbeda. Lapisan n-doped dibentuk
pada lapisan atas dari lapisan dasar dari silikon. Lapisan atas ini dilapisi dengan fosfor dan
dipanaskan tapi tidak sampai melebur pada suhu 950
0
C yang memungkinkan fosfor berdifusi
kedalam silikon. Suhu kemudian diturunkan, sampai laju difusi menurun sampai nol ( Basic
Photovoltaic, 1981).
Wilayah dimana fosfor berdifusi menjadi lapisan tipe-n berada dibagian bawah dari lapisan tipe-
n ini adalah zona deplesi. Dibawah ini, bahan dasar p-doped tidak berubah, tetap mempertahankan
tipenya yang telah didoping oleh boron. Tipe-n dari silikon ini meluas sampai 1,2 m ( Basic
Photovoltaic, 1981)
Antireflecting Coating Dan Electrical Contacts
Silikon bersifat seperti cermin, memantulkan 30% dari cahaya yang diterimanya ( Gary Cook,
Photvoltaic Fundamental ). Lapisan antireflecting ini digunakan untuk mengurangi pemantulan
cahaya. Lapisan yang digunakan biasanya SiO, yang bisa mengurangi pemantulan cahaya sekitar
10% ( Basic Photovoltaic, 1981). Cara lain yang digunakan untuk mengurangi pemantulan cahaya
dengan cara mengubah permukaan atas dari sel. Pada permukaan datar, sel akan menyerap 80% dari
sinar yang dikenai kepadanya, tapi apabila permukaan sel itu mempunyai tekstur, dia akan
menyerap 96% dari sinar yang dikenai kepadanya ( Basic Photovoltaic, 1981).
Electrical contact harus ada pada sel surya supaya bisa dihubungkan pada rangkaian listrik.
Back contact dari sel relative lebih sederhana dan biasanya terdiri dari lapisan alumunium. Front
contact lebih komplek, kontaknya dibuat sepanjang permukaan untuk bisa mengumpulkan banyak
arus ( Gary Cook, Photovoltaic Fundamental ).
b. Amorphous Silicon Solar Cells
Doping dari a-Si : H
Pendopingan a-Si:H bertujuan untuk memanipulasi jenis konduktivitas listrik dengan
menambahkan sejumlah atom pengotor khusus. Elemen utama yang digunakan dalam a- Si : H
adalah boron untuk tipe-p dan fosfor untuk tipe-n. Lapisan ini memiliki dua fungsi, yang pertama
adalah menciptakan medan listrik internal di lapisan aktif intrinsik a-Si:H, dimana kekuatan medan
listrik tergantung pada tingkat doping dan ketebalan lapisan intrinsic, dan fungsi kedua adalah
membangun kontak low- loss ohmik listrik antara a-Si:H dengan elektroda eksternal . .
Deposition of amorphous silicon
Metode yang digunakan untuk mendeposisikan film tipis a-Si:H dapat dibagi dalam dua
kelompok, diantaranya :
Kelompok pertama yaitu metode yang membentuk a-Si:H dari fase gas oleh dekomposisi gas
silikon-bearing, biasanya SiH
4
. Metode ini dikenal sebagai metode deposisi uap kimia (CVD).
Kelompok kedua merupakan metode deposisi fisik di mana penumbuhan atom silikon untuk a-
Si: H diperoleh dengan penembakan silikon target.
3. Hasil dan Pembahasan
a. Mekanisme Kehilangan Energi pada Sel Surya berbasis Silikon
Sel surya merupakan divais yang dapat mengkonversi energi cahaya menjadi energi listrik.
Sehingga pertimbangan penting dalam pembuatan sel surya adalah memproduksi divais yang dapat
mengkoversi energi sebanyak-banyaknya, dengan kata lain divais yang dihasilkan harus memiliki
efisiensi yang tinggi. Untuk itu para peneliti selalu berupaya mencari faktor-faktor yang
berkemungkinan dapat mejadi penyebab kehilangan energi dan berupaya untuk mengatasinya.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan mekanisme kehilangan energi pada sel surya dapat
diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu kehilangan dari segi optik (optical loss) dan kehilangan
dari segi kelistrikannya (electrical loss)
Optical Loss
Kehilangan energi dari segi optik pada sel surya dapat disebabkan oleh tiga faktor yaitu:
Permukaan silikon merefleksikan 35% - 50% cahaya, nilai ini bergantung pada panjang
gelombang datang
Struktur dari grid pada kontak menyebabkan terhalangnya cahaya terserap oleh divais sel
surya (shadow), penelitian menunjukkan shadow yang disebabkan grid kontak sekitar 3%-
12%, nilai ini bergantung pada desain grid tersebut.
Keterbatasan permukaan silikon dalam menyerap cahaya, karena silikon dikenal sebagai
indirect semiconductor yang lemah dalam menyerap cahaya dalam rentang panjang
gelombang yang nilainya besar.
Berbagai teknologi digunakan untuk mengatasi atau mengurangi kehilangan energi yang
disebabkan oleh berbagai faktor diatas.
Antireflection Processes using Thin Coating : menambahkan lapisan antirefleksi pada
divais sel surya.
Antireflection Processes usingTextured Surface : Pengurangan cahaya yang direfleksikan
dapat juga dilakukan dengan menggunakan permukaan berstruktur
Lambert surface structure : ditambahkan sebuah reflecting metal pada bagian bawah
lapisan silikon, sehingga terdapat penggandaan lintasan cahaya yang diserap atau bisa
dikatakan bahwa cahaya terkunci dalam lapisan tersebut.metode efektif yang sesuai disebut
random surface structure (Lamberts reflection)
Optimation in design contact finger : mendesains grid contactdengan bentuk yang seefisien
mungkin agar cahaya yang memasuki lapisan silikon lebih banyak dan resistansi dari grid
contact ini juga tidak terlalu besar sehingga efisiensi sel surya yang dihasilkan meningkat.
Electrical Loss
Selain dari segi optik, parameter lain penyebab utama kehilangan energi pada sel surya adalah
dari segi listrik (electric losses). Kehilangan energi dari segi listrik diantaranya terkait dengan
kehilangan karena adanya proses rekombinasi yang tak diinginkan dan terkait dengan kehilangan
karena resistansi dari komponen utama divais sel surya maupun komponen tambahan.
Recombination Losses : Rekombinasi merupakan proses dimana pasangan elektron dan hole
yang ditimbulkan oleh penyerapan cahaya bergabung kembali sehingga energi terbuang
dalam bentuk lain (seperti panas).
Ohmic Losses
Terdapat berbagai jenis ohmic losses, tetapi yang paling menonjol adalah yang disebabkan
resistansi kontak logam yang digunakan. Untuk mereduksinya dapat dilakukan upaya memperluas
permukaan grid contact yang digunakan.
4. Future Perspective Of Silicon Based Solar Cell
Perangkat fotovoltaik berbasis silicon adalah sel surya yang paling umum digunakan.
Perkembangan sel surya berbasis silicon telah menghasilkan efisiensi sebesar 25 % pada
skala laboratorium dan 22 % pada skala produksi, hasil ini sudah sangat dekat dengan
efisiensi secara teori yaitu sekitar 31 % untuk perangkat fotovoltaik single junction.
Penelitian-penelitian yang akan dikembangkan terkait sel surya berbasis silicon ini akan
terfokus kepada peningkatan rasio antara efisiensi terhadap biaya fabrikasi dari perangkat
fotovoltaik tersebut. Perkembangan dan penelitian yang akan dilakukan dalam upaya
peningkatan rasio antara efisiensi dengan biaya fabrikasi tersebut tidak terlepas dari usaha-
usaha berikut seperti: defect control, device optimization, surface modification dan
nanotechnology approaches.
a. Multicrystalline Silicon Solar Cells
Dimasa yang akan datang, crystalline silicon terutama multicrystalline silicon akan
menjadi tren para peneliti. Hal ini terkait dengan fakta bahwa multicrystalline silicon akan
lebih memungkinkan untuk meningkatkan rasio antara efisiensi dengan biaya fabrikasi
dibandingkan dengan monocrystalline silicon. Hal ini dikarenakan biaya fabrikasi
multicrystalline silicon lebih murah daripada monocrystalline, walaupun terdapat
perbedaan yang cukup signifikan antara efisiensi multcrystalline silicon dengan
monocrystalline silicon. Pemahaman yang baik dari defect dan pengaruhnya pada
multicryatalline silicon memungkinkan untuk memperkecil perbedaan efisiensi antara
multycristalline dan monocrystalline.
Dislocation adalah salah satu faktor penyebab defect yang akan berdampak buruk pada
efisiensi mc-Si. Untuk meningkatkan efisiensi dari mc-Si, pemahaman mengenai hubungan
antara impurities dengan dislocation. Dari penelitian dan pengamatan yang telah dilakukan
oleh para peneliti, terdapat kemungkinan adanya pengaruh antara konsentrasi impurities
dengan aktifitas listrik dari dislocation. Disamping pengontrolan konsentrasi maksimum
dari impurities, penelitian juga difokuskan pada konsentrasi maksimum dari doping yang
masih dapat diterima dan efeknya terhadap material dan sel.
b. Advance Photon management
Permasalahan berikutnya pada silicon solar cell adalah keterbatasan penyerapan
spektrum energi matahari oleh sel yang hanya efektif pada rentang visible light (cahaya
tampak). Agar tidak terjadi induksi termal pada saat sel dikenai energi radiasi yang tinggi,
maka energi tersebut harus diturunkan sehingga dapat diserap oleh sel tanpa menyebabkan
panas. Sebaliknya, radiasi dengan energi yang sangat rendah tidak akan bisa diserap oleh
sel sehingga energi tersebut harus dinaikkan adar dapat diserap oleh sel.
Untuk permasalahan terjadi nya induksi termal pada sel saat menyerap foton dengan
energi yang sangat tinggi dilakukan prosedur downshifting.
c. Antireflective Coating
Salah satu kunci untuk mendapatkan efisiensi yang tinggi pada sel surya adalah dengan
membuat permukaan sel memiliki reflektansi yang rendah. Penggunaan anti-reflection
coating bertujuan untuk memperkecil reflektansi dari permukaan sel sehingga radiasi yang
mengenai permukaan sel dapat diserap dengan efektif. AR coating yang sering digunakan
pada silicon solar cells adalah lapisan tipis silicon nitride (SiNx) dengan pendeposisian
menggunakan chemical vapour deposition (CVD). Hasilnya, sel memiliki reflektansi
sekitar 6% sangat efektif dibandingkan dengan reflektansi dari wafer silikon yaitu sebesar
40%. Meskipun demikian, AR coatings memiliki batasan pada penggunaannya karena
hanya mereduksi pantulan untuk rentang panjang gelombang cahaya yang sempit. Untuk
mengatasi permasalahan ini peneliti mengembangkan black silicon sebagai anti-reflection
coating.

Daftar Kepustakaan
Corporation Panasonic, Panasonic HIT Solar Cell Achieves Worlds Highest Conversion
Efficiency of 24,7% at Research Level, Jepang, 2013.
Chutinan, A.,dkk, Wave-optical studies of light trapping in submicrometre-textured ultra-
thin crystalline silicon solar cells, J. Phys. D: Appl. Phys. 44 No 26 (6 July
2011) 262001 (4pp).2011
D.A. Horazak and J.S. Brushwood, Renewables prospects in todays conventional power generation
market, Renewable Energy World, Vol. 2, No. 4, July 1999, p.36.
Diputera, W. B., Simulator Algoritma Pendeteksi Kerusakan Modul Surya Pada Rangkaian
Modul Surya, FT UI, 2008.
Goetzberger A., Knobloch J., Bernhard V., Crystalline Silicon Solar Cells. John Wiley&
Sons Ltd., Baffins Lane, Chichester, West Sussex PO19 IUD, England, 1998
Gray, L, J., The Pysics of The Solar Cell, Purdue University, John Wiley and Son, USA,
2011.
Green, Martin A., Silicon solar cells: evolution, high efficiency design and efficiency
enhancements,Semicond. Sci. Technol. 8 1, 1993
Kegel, dkk., Over 20% Conversion Efficiency in Silicon Heterojunction Solar Cell by IPA-
Free Substrate Texturization, Elsevier-Jurnal Applied Surface Science, 2014 (56-62).
Miro Zeman, Thin Film Solar Cells: Fabrication, Characterization and Applications, p. 173-
236, eds. J. Poortmans and V. Archipov, Wiley 2006, ISBN 0-470-09126-6.
Next-Generation High Efficiency Crystalline Si Solar Cell Technology and Market Forecast (2008-
2015), 2011, SNE Research
Panek, P., Drabczyk, K., Silicon Based Solar Cell-Caracteristics and Production Processes,
Institute of Metalurgical and Materials Science of Polish Academy of Science,
Krakow, 2012
Quantum Efficiency, http://en.wikipedia.org/wiki/Quantum_Effisiensi, diakses 04/16/2014.
Scanwafer, L. C., HIT Solar Cells, REC wafer, 2009.
Saga,T., Advances in crystalline silicon solar cell technology for industrial mass
production.NPG Asia Mater.2(3) 96102 (2010). 2010
Sark V. W. G. J. H. M., Meijerink A., and Schropp R. E. I., Solar Spectrum Conversion for
Photovoltaics Using Nanoparticles , Netherland, 2012.
Tsunomura, dkk., 22% Efficiency HIT Selar Cell, SANYO, Jepang, 2008.
Wehrspohn, B. Rafl, Upping, J,3D photonic crystals for photon management in solar
cells. J. Opt. 14 024003. doi:10.1088/2040-8978/14/2/024003, IOP Publishing
Ltd.2012
U.S. Energy Information Administration, International Energy Outlook, 2013.
http://teknologisurya.wordpress.com/dasar-teknologi-sel-surya/prinsip-kerja-sel-
surya/http://electrozone94.blogspot.com/2013/10/proses-pembuatan-sel-surya-silikon.html,
diakses 24/01/2014.
http://energisurya.wordpress.com/2008/10/10/membuat-sel-surya-sendiri-bagian-1-pengolahan-
silikon/, diakses 24/01/2014.
http://www.mhi-global.com/discover/earth/issue/history/future/renewable/solar.html, diakses
tanggal 19 Maret 2014.