Anda di halaman 1dari 11

Manajemen asma dan pencegahan

Manajemen asma terdiri atas beberapa komponen, diantaranya :


A. Membangun kerjasama dokter/tenaga kesehatan-pasien
1

Salah satu cara dapat dilakukan dengan Komunikasi, Informasi dan Edukasi yang
meliputi:
1. Penyuluhan bagi pasien dan keluarga tentang pencegahan dan penanggulangan asma.
2. Meningkatkan pengetahuan, motivasi dan partisipasi pasien dalam pengendalian asma.
3. Untuk merubah sikap dan perilaku pasien dalam pengendalian asma.
4. Meningkatkan kemandirian pasien dalam ketrampilan penggunaan obat/alat inhalasi

Contoh bentuk edukasi yang dapat diberikan oleh dokter keluarga :
Meningkatkan kebugaran fisis
Olahraga menghasilkan kebugaran fisis secara umum, menambah rasa percaya diri dan
meningkatkan ketahanan tubuh. Walaupun terdapat salah satu bentuk asma yang timbul
serangan sesudah exercise (exercise-induced asthma/ EIA), akan tetapi tidak berarti
penderita EIA dilarang melakukan olahraga. Bila dikhawatirkan terjadi serangan asma
akibat olahraga, maka dianjurkan menggunakan beta2-agonis sebelum melakukan
olahraga.
Senam Asma Indonesia (SAI) adalah salah satu bentuk olahraga yang dianjurkan karena
melatih dan menguatkan otot-otot pernapasan khususnya, selain manfaat lain pada
olahraga umumnya. Senam asma Indonesia dikenalkan oleh Yayasan Asma Indonesia
dan dilakukan di setiap klub asma di wilayah yayasan asma di seluruh Indonesia. Manfaat
senam asma telah diteliti baik manfaat subjektif (kuesioner) maupun objektif (faal paru);
didapatkan manfaat yang bermakna setelah melakukan senam asma secara teratur dalam
waktu 3 6 bulan, terutama manfaat subjektif dan peningkatan VO
2
max.
Berhenti atau tidak pernah merokok
Asap rokok merupakan oksidan, menimbulkan inflamasi dan menyebabkan ketidak
seimbangan protease antiprotease. Penderita asma yang merokok akan mempercepat
perburukan fungsi paru dan mempunyai risiko mendapatkan bronkitis kronik dan atau
emfisema sebagaimana perokok lainnya dengan gambaran perburukan gejala klinis,
berisiko mendapatkan kecacatan, semakin tidak produktif dan menurunkan kualiti hidup.
Oleh karena itu penderita asma dianjurkan untuk tidak merokok. Penderita asma yang
sudah merokok diperingatkan agar menghentikan kebiasaan tersebut karena dapat
memperberat penyakitnya.
Lingkungan Kerja
Bahan-bahan di tempat kerja dapat merupakan faktor pencetus serangan asma, terutama
pada penderita asma kerja. Penderita asma dianjurkan untuk bekerja pada lingkungan
yang tidak mengandung bahan-bahan yang dapat mencetuskan serangan asma. Apabila
serangan asma sering terjadi di tempat kerja perlu dipertimbangkan untuk pindah
pekerjaan. Lingkungan kerja diusahakan bebas dari polusi udara dan asap rokok serta
bahan-bahan iritan lainnya.


Pelaksanaan KIE tentang asma dan faktor risikonya dapat dilakukan melalui berbagai
media penyuluhan, seperti penyuluhan tatap muka, radio, televisi dan media elektronik
lainnya, poster, leaflet, pamflet, surat kabar, majalah dan media cetak lainnya.
B. Identifikasi dan mengurangi factor risiko
Dilakukan identifikasi terhadap :
Faktor Pencetus :
Faktor pada pasien
o Aspek genetik
o Kemungkinan alergi
o Saluran napas yang memang mudah terangsang
o Jenis kelamin
o Ras/etnik

Faktor lingkungan
o Bahan-bahan di dalam ruangan :
Tungau debu rumah
Binatang, kecoa
o Bahan-bahan di luar ruangan :
Tepung sari bunga
Jamur
o Makanan-makanan tertentu, bahan pengawet, penyedap, pewarna makanan
o Obat-obatan tertentu
o Iritan (parfum, bau-bauan merangsang, household spray )
o Ekspresi emosi yang berlebihan
o Asap rokok dari perokok aktif dan pasif
o Polusi udara dari luar dan dalam ruangan
o Infeksi saluran napas
o Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktivitas fisik
tertentu
o Perubahan cuaca

Faktor Resiko
Risiko berkembangnya asma merupakan interaksi antara faktor pejamu (host factor) dan
faktor lingkungan. Faktor pejamu disini termasuk predisposisi genetik yang mempengaruhi
untuk berkembangnya asma, yaitu genetik asma, alergik (atopi) , hipereaktiviti bronkus, jenis
kelamin dan ras. Faktor lingkungan mempengaruhi individu dengan kecenderungan/
predisposisi asma untuk berkembang menjadi asma, menyebabkan terjadinya eksaserbasi
dan atau menyebabkan gejala-gejala asma menetap. Termasuk dalam faktor lingkungan
yaitu alergen, sensitisasi lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara, infeksi pernapasan
(virus), diet, status sosioekonomi dan besarnya keluarga. Interaksi faktor genetik/ pejamu
dengan lingkungan dipikirkan melalui kemungkinan :
pajanan lingkungan hanya meningkatkan risiko asma pada individu dengan genetik asma,
baik lingkungan maupun genetik masing-masing meningkatkan risiko penyakit asma.

Deteksi dini
Sebagai dokter keluarga penting untuk melakukan deteksi dini pada pasien asma
Deteksi dini asma bronkiale :
Riwayat penyakit / gejala:
bersifat episodik, sering kali reversible dengan atau tanpa pengobatan
gejala berupa batuk, sesak napas, rasa berat di dada, dan berdahak
gejala timbul atau memburuk terutama malam hari/dini hari
diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu
respon terhadap pemberian bronkodilator
Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit:
riwayat keluarga (atopi) - penyakit lain yang memberatkan
riwayat alergi (atopi) - perkembangan penyakit dan pengobatan
Pemeriksaan jasmani
tidak dalam serangan: normal
dalam serangan: sesak, mengi, dan hiperinflasi
serangan ringan: mengi pada ekspirasi paksa
serangan berat: silent chest
spirometri: gambaran obstruksi

C. Penilaian, tatalaksana dan monitor asma
Penatalaksanaan Asma Bertujuan:
1. Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma, agar kualitas hidup meningkat
2. Mencegah eksaserbasi akut
3. Meningkatkan dan mempertahankan faal paru seoptimal mungkin
4. Mempertahankan aktivitas normal termasuk latihan jasmani dan aktivitas lainnya
5. Menghindari efek samping obat
6. Mencegah terjadinya keterbatasan aliran udara ireversibel
7. Meminimalkan kunjngan ke gawat darurat

Komunikasi yang baik dan terbuka antara dokter dan pasien adalah hal yang penting
sebagai dasar penatalaksanaan. Diharapkan agar dokter selalu bersedia mendengarkan keluhan
pasien, itu merupakan kunci keberhasilan pengobatan. Komponen yang dapat diterapkan dalam
penatalaksanaan asma, yaitu mengembangkan hubungan dokter pasien, identifikasi dan
menurunkan pajanan terhadap faktor risiko, penilaian, pengobatan dan monitor asma serta
penatalaksanaan asma eksaserbasi akut. Pada prinsipnya penatalaksanaan asma diklasifikasikan
menjadi 2 golongan yaitu:
1. Penatalaksanaan Asma Akut
Serangan akut adalah keadaan darurat dan membutuhkan bantuan medis segera, Penanganan
harus cepat dan sebaiknya dilakukan di rumah sakit/gawat darurat. Kemampuan pasien untuk
mendeteksi dini perburukan asmanya adalah penting, agar pasien dapat mengobati dirinya sendiri
saat serangan di rumah sebelum ke dokter. Dilakukan penilaian berat serangan berdasarkan
riwayat serangan, gejala, pemeriksaan fisis dan bila memungkinkan pemeriksaan faal paru, agar
dapat diberikan pengobatan yang tepat. Pada prinsipnya tidak diperkenankan pemeriksaan faal
paru dan laboratorium yang dapat menyebabkan keter-lambatan dalam pengobatan/tindakan.

2. Penatalaksanaan Asma Kronik
Pasien asma kronik diupayakan untuk dapat memahami sistem penanganan asma secara mandiri,
sehingga dapat mengetahui kondisi kronik dan variasi keadaan asma. Anti inflamasi merupakan
pengobatan rutin yang yang bertujuan mengontrol penyakit serta mencegah serangan dikenal
sebagai pengontrol. Bronkodilator merupakan pengobatan saat serangan untuk mengatasi
eksaserbasi/serangan, dikenal dikenal dengan pelega

Ciri-ciri asma terkontrol:
1. Tanpa gejala harian atau d 2x/minggu
2. Tanpa keterbatasan aktivitas harian
3. Tanpa gejala asma malam
4. Tanpa pengobatan pelega atau d 2x/minggu
5. Fungsi paru normal atau hampir normal
6. Tanpa eksaserbasi

Ciri-ciri asma tidak terkontrol
1. Asma malam (terbangun malam hari karena gejala asma)
2. Kunjungan ke gawat darurat, karena serangan akut
3. Kebutuhan obat pelega meningkat.

Pengendalian asma bertujuan:
1. Meningkatkan kemandirian pasien dalam upaya pencegahan asma
2. Menurunkan jumlah kelompok masyarakat yang terpajan faktor risiko asma
3. Terlaksananya deteksi dini pada kelompok masyarakat berisiko asma
4. Terlaksananya penegakan diagnosis dan tatalaksana pasien asma sesuai standar/kriteria
5. Menurunnya angka kesakitan akibat asma
6. Menurunnya angka kematian akibat asma

Banyak penderita asma tidak diobati menurut pedoman mutakhir, menimbulkan asma
tidak terkontrol dan merupakan beban bagi penderita, keluarga serta seluruh sistem perawatan
kesehatan. Pemantauan dan penilaian secara terus menerus penting untuk keberhasilan
penanganan klinis. Menurut konsep baru, penanganan asma dibuat dalam 3 golongan umur yaitu
0-4 tahun, 4-12 tahun dan diatas 12 tahun, serta menggunakan 2 domain dalam evaluasi derajat
berat dan kontrol asma, yaitu gangguan dan risiko. Bila diagnosis asma sudah ditegakkan, setiap
penderita dilakukan penilaian derajat berat asma, Derajat berat adalah intensitas intrinsik proses
penyakit yang diukur praterapi, dan dapat memberikan informasi kepada dokter untuk
mengembangkan rencana pengobatan awal. Pengobatan awal diberikan sesuai dengan regimen
(tahap) pengobatan.

Penilaian Kontrol Asma: Memantau dan Mempertahankan
dengan Pendekatan Bertahap
Evaluasi kontrol dalam 2-6 minggu (tergantung derajat berat awal atau kontrol). PFM
(Peak Flow Meter) digunakan pada penderita 6 tahun. Bila hasil spirometri menunjukkan kontrol
buruk dibanding tanda kontrol lainnya, pertimbangkan obstruksi yang menetap dan nilai ukuran
lainnya. Bila obstruksi yang menetap tidak menerangkan kontrol yang kurang, lakukan step up,
karena FEV1 yang buruk merupakan predictor eksaserbasi. Bila riwayat eksaserbasi
menunjukkan control buruk, nilai derajat gangguan paru dan pertimbangkan stepup, penanganan
eksaserbasi dan menggunakan kortikosteroid/ KS oral terutama untuk penderita dengan riwayat
eksaserbasi berat. Bila kontrol asma tidak didapat dengan cara tersebut, evaluasi kepatuhan
pasien terhadap penggunaan obat, teknik inhalasi, kontrol lingkungan (pajanan baru) dan
penanganan komorbid. Bila asma sudah terkontrol, pemantauan seterusnya adalah penting agar
kontrol asma dapat dipertahankan serta menentukan tahap dan dosis obat terendah. Pendekatan
bertahap (stepping up dan stepping down) dianjurkan untuk memperoleh dan mempertahankan
kontrol asma. Pendekatan pengobatan bertahap menggabungkan kelima komponen yang
diperlukan dalam penanganan asma. Jenis, jumlah dan jadwal obat ditentukan oleh ambang berat
asma atau kontrol asma. Pengobatan ditingkatkan (stepping up) bila diperlukan, dan diturunkan
(stepping down) bila mungkin. Oleh karena asma adalah penyakit kronis, asma persisten dapat
dikontrol terbaik dengan pemberian obat pengontrol jangka lama untuk menekan inflamasi setiap
hari. Kortikosteroid inhalasi merupakan obat anti-inflamasi yang efektif untuk semua usia pada
semua tahap perawatan asma persisten. Seleksi terapi alternative berdasarkan atas pertimbangan
pengobatan yang efektif untuk penderita (gangguan, risiko atau keduanya) dan riwayat penderita
mengenai respons sebelumnya (sensitivitas dan respons terhadap berbagai obat asma dapat
berbeda di antara penderita) serta kesediaan dan kemampuan penderita ataupun keluarga untuk
menggunakan obat-obatan. Bila asma sudah terkontrol, pemantauan adalah esensial, oleh karena
asma dapat berbeda dengan waktu. Stepping up mungkin diperlukan, atau bila mungkin stepping
down, identifikasi obat minimal diperlukan dalam mempertahankan kontrol asma.

Pengobatan Bertahap pada Berbagai Usia
Penilaian derajat berat dan kontrol dilakukan menurut 2 domain yang sama yaitu
gangguan (gejala, tidur, dan aktivitas) dan risiko eksaserbasi yang memerlukan steroid oral.
Derajat berat asma ditentukan oleh domain gangguan dan risiko terberat. Pendekatan stepwise
adalah untuk menolong, bukan untuk menggantikan. Ambang derajat berat ditentukan oleh
domain gangguan terberat (nilai dari 2-4 minggu yang akhir, dapat menggunakan PFM) dan
risiko
Keputusan berdasarkan data klinis untuk memenuhi kebutuhan penderita. Dewasa ini
tidak cukup bukti hubungan antara frekuensi eksaserbasi dengan berbagai ambang derajat berat
asma. Bila perbaikan tidak dicapai dalam 4-6 minggu walaupun teknik pengobatan dan ketaatan
cukup baik, pertimbangkan terapi penyesuaian atau alternatif. Penderita dengan dua atau lebih
eksaserbasi, memerlukan steroid oral dalam 6 bulan akhir atau empat episode mengi dalam satu
tahun terakhir, dianggap sebagai penderita asma persisten, meskipun tidak disertai ambang
gangguan yang konsisten dengan asma persisten. Sebelum step up, perlu dievaluasi kepatuhan
penderita minum obat, teknik penggunaan inhaler, control lingkungan dan komorbiditas. Bila
diberikan pengobatan alternatif, hentikan penggunaannya sebelum step up.

Gejala klinis sebelum terapi atau
terapi adekuat
Terapi yang dibutuhkan untuk
jangka panjang
symptom/hari
Symptom/malam
PEF or FEV
1

PEF
Variability
Terapi harian
persisten berat terus menerus
sering
<60%
>30%
kortikosteroid inhalasi dosis
tinggi
dan
agonis 2 inhalasi kerja panjang
dan, jika dibutuhkan
kortikosteroid tablet/sirup
(2mg/kg/dose, tidak melebihi
60mg/dose)
persisten sedang setiap hari
>1 mlm/mgg
>60%-<80%
>30%

kortikosteroid inhalasi dosis
sedang/rendah dan agonis 2
inhalasi kerja panjang
terapi alternatif :
meningkatkan dosis kortikosteroid
inhalasi dengan dosis sedang
atau
kortikosteroid inhalasi dosis
sedang/rendah dan antagonis
reseptor leukotrien/teofilin
persisten ringan >2/mgg tp <1/hr
>2mgg/bln
>80%
20-30%
kortikosteroid inhalasi dosis
rendah
terapi alternatif :
kromolin, antagonis reseptor
leukotrien,teofilin
intermiten ringan <2 hr/mgg
<2 mlm/bln
>80%
<20%
tidak membutuhkan terapi harian

Semua pasien Bronkodilator kerja lambat : 2-4 puff agonis 2 inhalasi kerja lambat
pada saat timbul gejala. Ulangi 3 x dengan interval 20 menit. Jika tidak
ada pengaruh gunakan kortikosteroid oral
Step down Jika pasien sudah membaik maka kurangi dosis
Step up Jika obat yang diberikan masi kurang adekuat maka ada penambahan
dosis atau obat.

D. Manejemen terhadap eksaserbasi
Eksaserbasi Asma
Eksaserbasi asma adalah episode akut atau subakut dengan sesak yang memburuk
secara progresif disertasi batuk, mengi, dan dada sakit, atau beberapa kombinasi
gejalagejala tersebut. Eksaserbasi ditandai dengan menurunnya arus napas yang dapat
diukur secara obyektif (spirometri atau PFM) dan merupakan indikator yang lebih dapat
dipercaya dibanding gejala. Penderita asma terkontrol dengan steroid inhaler, memiliki
risiko yang lebih kecil untuk eksaserbasi. Namun, penderita tersebut masih dapat
mengalami eksaserbasi, misalnya bila menderita infeksi virus saluran napas. Penanganan
eksaserbasi yang efektif juga melibatkan keempat komponen penanganan asma jangka
panjang, yaitu pemantaan, penyuluhan, kontrol lingkungan dan pemberian obat. Tidak
ada keuntungan dari dosis steroid lebih tinggi pada eksaserbasi asma, atau juga
keuntungan pemberian intravena dibanding oral. Jumlah pemberian steroid sistemik
untuk eksaserbasi asma yang memerlukan kunjungan gawat darurat dapat berlangsung 3-
10 hari. Untuk kortikosteroid, tidak perlu tapering off, bila diberikan dalam waktu kurang
dari satu minggu. Untuk waktu sedikit lebih lama (10 hari) juga mungkin tidak perlu
tapering off bila penderita juga mendapat kortikosteroid inhaler.


Prinsip Pencegahan
A. Mencegah Sensititasi
Cara-cara mencegah asma berupa pencegahan sensitisasi alergi (terjadinya atopi, diduga
paling relevan pada masa prenatal dan perinatal) atau pencegahan terjadinya asma pada individu
yang disensitisasi. Selain menghindari pajanan dengan asap rokok, baik in utero atau setelah
lahir, tidak ada bukti intervensi yang dapat mencegah perkembangan asma. Hipotesis higiene
untuk mengarahkan sistem imun bayi kearah Th1, respons nonalergi atau modulasi sel T
regulator masih merupakan hipotesis.

B. Mencegah Eksaserbasi
Eksaserbasi asma dapat ditimbulkan berbagai factor (trigger) seperti alergen (indoor
seperti tungau debu rumah, hewan berbulu, kecoa, dan jamur, alergen outdoor seperti polen,
jamur, infeksi virus, polutan dan obat. Mengurangi pajanan penderita dengan beberapa faktor
seperti menghentikan merokok, menghindari asap rokok, lingkungan kerja, makanan, aditif, obat
yang menimbulkan gejala dapat memperbaiki kontrol asma serta keperluan obat. Tetapi biasanya
penderita bereaksi terhadap banyak faktor lingkungan sehingga usaha menghindari alergen sulit
untuk dilakukan. Hal-hal lain yang harus pula dihindari adalah polutan indoor dan outdoor,
makanan dan aditif, obesitas, emosi-stres dan berbagai faktor lainnya.


Pencegahan primer
Cegah sensitisasi pada bayi dengan resiko asma (orang tua asma), dengan cara :
- faktor lingkungan: hindari asap rokok, polusi udara, hindari alergen di luar dan di dalam
rumah, serta hindari paparan oleh tungau debu rumah, binatang piaraan dan kecoak sejak
usia dini.
- Diet hipoalergenik ibu hamil, asalkan / dengan syarat diet tersebut tidak mengganggu
asupan janin.
- Beri ASI eksklusif sedikitnya 6 bulan jauhi makanan padat bagi bayi sampai usia 6 bulan
- Diet hipoalergenik ibu menyusui. bayi dengan risiko tinggi menjadi alergi: beri ASI
eksklusif sedikitnya 6 bulan, apabila tidak mungkin beri susu formula hipoalergenik
sampai usia 4 bulan selanjutnya diberi seperti bayi tanpa risiko alergi, tidak ada
pantangan makanan bagi ibu selama hamil dan menyusui serta hindari makanan padat
bagi bayi sampai usia 6 bulan
Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder mencegah yang sudah tersensitisasi untuk tidak berkembang
menjadi asma. Studi terbaru mengenai pemberian antihitamin H-1 dalam menurunkan onset
mengi pada penderita anak dermatitis atopik. Studi lain yang sedang berlangsung, mengenai
peran imunoterapi dengan alergen spesifik untuk menurunkan onset asma. Pengamatan pada
asma kerja menunjukkan bahwa menghentikan pajanan alergen sedini mungkin pada penderita
yang sudah terlanjur tersensitisasi dan sudah dengan gejala asma, adalah lebih menghasilkan
pengurangan /resolusi total dari gejala daripada jika pajanan terus berlangsung. Upaya
pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan menghindari asap rokok, hindari alergen yang
diketahui sebagai penyebab, membungkus bantal, guling dan kasur dengan bahan yang aman,
mencuci seprai, sarung bantal dan guling dengan air panas serta menjauhkan karpet dari kamar
tidur.
Pencegahan Tersier
Mencegah terjadinya serangan yang dapat ditimbulkan oleh berbagai jenis pencetus pada
penderita yang sudah asma . Sehingga menghindari pajanan pencetus akan memperbaiki kondisi
asma dan menurunkan kebutuhan medikasi/ obat.

dapus :
1. Pruit B. Assessing and managing asthma: A Global Initiative for Asthma. Available at :
http://journals.lww.com/nursing/Fulltext/2011/05000/Assessing_and_managing_asthma_
_A_Global_Initiative.14.aspx. Last updates May 2011