Anda di halaman 1dari 107

ASSESSMENT GAVI - HSS

DIREKTORAT JENDERAL BINA


GIZI DAN KIA
PROVINSI SULAWESI SELATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
2011
Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI
Indonesia.Kementerian Kesehatan RI. Direktorat
Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak
Assessment GAVI - HSS 2010-2011 Direktorat
Jenderal Bina Gizi dan KIA : Laporan akhir Provinsi Sulawesi Selatan,--
Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.2011
1. Judul I. VACCINES II. IMUNIZATION
III. SOCIAL CONDITION IV. PROGRAM DEVELOPMENT
614.47
Ind
a
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
i
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
DIREKTUR JENDERAL BINA GIZI DAN KIA
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
SAMBUTAN
Kegiatan imunisasi merupakan upaya yang paling cost efectve dalam menu-
runkan angka kesakitan dan kematan akibat penyakit yang dapat dicegah den-
gan imunisasi (PD3I) yang diharapkan akan berdampak pada penurunan angka
kematan bayi dan balita. Universal Child Immunizaton (UCI) Desa/Kelurahan
secara nasional setap tahunnya selalu tdak mencapai target.
Dalam upaya mengatasi permasalahan mengenai terjadinya kemerosotan cakupan
pelayanan kesehatan dalam berbagai program termasuk program imunisasi, Pemerintah Indo-
nesia dalam hal ini Kementerian Kesehatan melakukan berbagai langkah untuk menganalisa
kondisi yang terjadi di masyarakat. Beberapa permasalahan telah diidentfkasi dan diantaran-
ya perlu mendapat perhatan dan penanganan secepatnya, yaitu: dukungan masyarakat yang
lemah dalam program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), termasuk imunisasi, kapasitas petugas
kesehatan yang menurun, khususnya petugas di bidang KIA dan imunisasi, kemitraan yang
belum dikembangkan dengan insttusi swasta dan non pemerintah/masyarakat, dan keterba-
tasan jumlah tenaga dan motvasi petugas kesehatan menurun di beberapa lokasi tertentu.
GAVI (Global Alliance for Vaccines and Immunizaton), suatu organisasi kesehatan inter-
nasional yang berkedudukan di Geneva, telah memberikan bantuan hibah kepada Pemerintah
Republik Indonesia melalui 3 (tga) komponen yaitu ISS (Immunizaton Service Support), HSS
(Health System Strengthening), dan CSO (Civil Society Organizaton) dalam rangka pelaksanaan
program pembangunan kesehatan terkait dengan upaya mengatasi masalah tersebut.
Beberapa alasan yang melatarbelakangi pemberian batuan GAVI pada 3 (tga) kompo-
nen tersebut antara lain bahwa penguatan program imunisasi sendiri saja tdak cukup untuk
meningkatkan dan mempertahankan cakupan imunisasi. Kelemahan dalam sistem kesehatan
dapat menghambat pencapaian cakupan imunisasi, dan penguatan sistem kesehatan tdak
hanya dapat meningkat cakupan imunisasi, cakupan pelayanan, kesehatan ibu dan anak, tetapi
juga berdampak pada kesehatan lain.
Sejalan dengan maksud diatas, kegiatan Healths System Strengthening (HSS) difokus-
kan pada pencapaian 4 (empat) tujuan, yaitu Mobilisasi masyarakat untuk mendukung Pro-
gram KIA dan Imunisasi, Peningkatan kemampuan manajemen petugas kesehatan, Kemitraan
dengan Organisasi Non Pemerintah/ CSO (LSM), Pilot Project tentang mekanisme insentf dan
kontraktual tenaga KIA.
Untuk mendukung tujuan tersebut telah dilakukan penilaian dan pemetaan kegiatan
pemberdayaan masyarakat di tngkat desa (Village Mapping) dan ketersediaan pelayanan
kesehatan Puskesmas dan Rumah Sakit (Service Availlability Mapping) di 5 Provinsi GAVI,
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan ii
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
yaitu Provinsi Banten, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Papua dan Papua Barat, yang mencakup
62 Kabupaten/Kota, 1.715 Puskesmas, 11.060 Desa. Kegiatan ini melibatkan Universitas ter-
dekat dengan daerah GAVI HSS, yang terdiri dari : Universitas Indonesia untuk daerah Banten,
Universitas Pajajaran untuk daerah Jawa Barat, Universitas Hasanudin untuk daerah Sulawesi
Selatan, dan Universitas Cendrawasih untuk daerah Papua dan Papua Barat, dengan koordinasi
oleh Universitas Gajah Mada.
Hasil penilaian dan pemetaan kegiatan pemberdayaan masyarakat di tngkat desa (Vil-
lage Mapping) dan ketersediaan pelayanan kesehatan Puskesmas dan Rumah Sakit (Service
Availlability Mapping) di 5 Provinsi GAVI yang telah dilakukan, disusun dan disajikan pada buku
laporan hasil akhir VM dan SAM GAVI-HSS untuk masing-masing daerah provinsi GAVI.
Saya mengucapkan terima kasih dan menyampaikan penghargaan atas kerjasama dan
segala dukungan yang telah diberikan oleh seluruh mitra dari Universitas dan semua pihak
yang telah berkonstribusi dalam penyusunan buku Laporan Assesment GAVI-HSS ini.
Semoga data dan informasi yang tersedia pada buku laporan ini bermanfaat untuk
menjadi bahan masukan dalam menelaah keadaan yang ada di Provinsi maupun Kabupaten/
Kota yang bersangkutan dan juga sebagai dasar untuk menyusun kebijakan, perencanaan, im-
plementasi dan evaluasi program sehingga pencapaian pelayanan kesehatan yang maksimal
menuju Indonesia Sehat dapat terwujud.
Disadari bahwa data dan informasi yang tersaji dalam buku ini belum dapat memenuhi
keseluruhan kebutuhan data dan informasi, sehingga masukan berupa saran dan kritk yang
membangun untuk perbaikan kedepan sangat kami harapkan.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta
memberi petunjuk kepada kita sekalian dalam melaksanakan pembangunan kesehatan hingga
terwujudnya masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan.
Jakarta, November 2011
Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA
Dr. dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H,MARS.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
iii
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Taala atas segala
Rahmat dan Petunjuk-Nya sehingga pelaksanaan penelitan hingga penulisan laporan dapat
dilakukan dengan baik.
Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitan Global Alliance for Vaccines and Immunizaton
Health System Strengthening (GAVI-HSS). Laporan ini menyajikan data Hasil Survei GAVI-HSS
berupa Village Mapping (VM) dan Service Availability Mapping (SAM) di Provinsi Sulawesi
Selatan. Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan dukungan dari GAVI HSS, Kementerian
Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota serta Pemerintah Daerah Provinsi
dan Kabupaten/Kota.
Kami mengucapkan terima kasih kepada para responden dan informan yang mau
menyisihkan waktunya di sela-sela kesibukannya dan kepada semua pihak yang turut terlibat
dalam penelitan ini.
Kami menyadari bahwa laporan penelitan ini masih jauh dari kesempurnaan. Saran dan
kritk membangun senantasa kami harapkan dari semua pembaca. Semoga Allah Subhanahu
wa Taala memberi Ridho atas semua niat dan amal baik kita.
Makassar, 05 Oktober 2011
Tim Penyusun
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan iv
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
RINGKASAN EKSEKUTIF
Tujuan studi GAVI adalah mendapatkan gambaran dasar dan menilai kegiatan mobilisasi
masyarakat, pengelolaan program dan ketersediaan sarana yang berkaitan dengan KIA dan
imunisasi di Provinsi Sulawesi Selatan.
Studi ini bersifat deskriptf analitk dimana data yang digunakan adalah data kuanttatf
yang diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber aparat desa, bidan desa, dan
kader posyandu. Selain itu dilakukan pula indepth interview dengan narasumber pihak Dinas
Kesehatan Kabupaten, aparat desa, dan bidan desa.
Hasil studi Village Mapping (VM) menunjukkan bahwa masih banyaknya bidan desa yang
tdak tnggal menetap di desa (28.9%), berbagai parameter desa siaga yang masih rendah,
pelathan bidan desa terkait KIA masih rendah, misalnya MTBS 26.0% dan pelathan imunisasi
hanya 50%, tngginya biaya pelayanan kesehatan bayi dan balita di polindes serta biaya
transport rujukan yang tnggi di beberapa daerah dan minimnya sumber pembiayaan, masih
adanya 17.2% desa yang belum memiliki kemitraan bidan dengan dukun bayi dan adanya
dukun yang tdak mendapat insentf, masih ada desa yang tdak memiliki posyandu dan rerata
posyandu aktf hanya 2 per desa serta tngginya biaya transport dari posyandu ke puskesmas
di beberapa daerah.
Hasil studi SAM Puskesmas menunjukkan; 19.4% puskesmas daerah terpencil dan sangat
terpencil, gedung puskesmas rusak ringan-berat mencapai 32.7%, masih rendahnya proporsi
tenaga kesehatan yang telah dilath terkait dengan imunisasi, dan cakupan berbagai kegiatan
imunisasi belum memenuhi standar pelayanan minimal.
Berdasarkan hasil studi tersebut dapat disimpulkan bahwa besarnya dan luasnya kantong-
kantong masalah terkait SDM yang rendah dan kurang atau tdak ada, geografs yang sulit
dengan biaya aksebilitas yang tnggi, mutu pelayanan yang rendah terkait sarana, SDM dan
pembiayaan.
Atas dasar tersebut direkomendasikan keharusan lahirnya kebijakan dalam hal pembiayaan,
tenaga kontrak, pengorganisasian, regulasi pusat dan lokal serta pemberdayaan masyarakat
untuk perubahan perilaku.

Kata kunci : GAVI, bidan desa, imunisasi, kesehatan ibu dan anak, kemitraan
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
v
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
DAFTAR ISI

SAMBUTAN ........................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ iii
RINGKASAN EKSEKUTIF ........................................................................................................ iv
DAFTAR ISI ........................................................................................................ v
DAFTAR TABEL ........................................................................................................ vii
DAFTAR DIAGRAM ........................................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................ xi
DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH .......................................................................................... xii
I. PENGANTAR ..................................................................................................................... 1
II. PENDAHULUAN ................................................................................................................ 3
III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................................................. 4

A. KEGIATAN MOBILISASI MASYARAKAT ........................................................................... 4
1. Pelayanan Kesehatan di Desa/Kelurahan ................................................................. 4
a. Bidan Desa ................................................................................................................ 4
b. Pelayanan KIA oleh Tenaga Kesehatan Lainnya ......................................................... 7
c. Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi .............................................................................. 8
d. Bentuk dan Aturan Kemitraan ................................................................................... 10
e. Insentf Dukun ........................................................................................................... 13

2. Desa Siaga ................................................................................................................ 14
a. Poskesdes dan Polindes ............................................................................................. 16
b. Kelompok Donor Darah ............................................................................................. 17
c. Musrenbang Desa ..................................................................................................... 18

3. Karakteristk Kader Posyandu ................................................................................... 20

4. Dukungan Materiil dan Non-Materil Pelayanan Kesehatan ....................................... 21
a. Dukungan Pelayanan KIA ......................................................................................... 21
b. Dukungan Desa Siaga .............................................................................................. 22
c. Pelayanan Kesehatan di Polindes ............................................................................ 24
d. Sistem Rujukan ........................................................................................................ 25
e. Tabulin Ibu Hamil ..................................................................................................... 27
f. Dasolin Ibu Hamil ..................................................................................................... 27
g. Ambulans Desa ........................................................................................................ 28
h. Dukungan Pelayanan Kesehatan di Posyandu .......................................................... 28
i. Kader Posyandu ....................................................................................................... 31
j. Surveilans KIA .......................................................................................................... 33
k. Kemampuan Kader .................................................................................................. 34
l. Pendataan Ibu Hamil, Bayi dan Balita ...................................................................... 35
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan vi
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
B. ISSUE MANAJEMEN PUSKESMAS ................................................................................ 37
1. Sumber Daya Manusia (SDM) ........................................................................................ 37
a. Pelathan Bidan Desa ............................................................................................... 37
b. Pelathan MTBS Bidan Desa ..................................................................................... 37
c. Pelathan Imunisasi Bidan Desa ............................................................................... 38
d. Tenaga Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak ............................................................. 39
e. Pelathan Petugas Puskesmas .................................................................................. 42
2. Sumber Pembiayaan Pelayanan ..................................................................................... 47
3. Kondisi Fisik Puskesmas ................................................................................................. 50
4. Logistk Puskesmas ........................................................................................................ 55
5. Mutu Pelayanan Puskesmas .......................................................................................... 59
6. Pelayanan KIA dan Imunisasi ......................................................................................... 61
7. Lingkungan Akses ........................................................................................................... 80
C. ISSUE MANAJEMEN RUMAH SAKIT .............................................................................. 81
1. Karakteristk Rumah Sakit ............................................................................................... 83
2. Sumber Daya Manusia (SDM) Rumah Sakit .................................................................... 83
3. Fasilitas Fisik ................................................................................................................... 84
4. Logistk ........................................................................................................................... 85
D. ISSUE DINAS KESEHATAN ............................................................................................. 86
E. ISSUE LEMBAGA MASYARAKAT (CSO) ........................................................................... 88
IV. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................................. 91
A. Kegiatan Mobilisasi Masyarakat .......................................................................................... 91
B. Issue Managemen Puskesmas ............................................................................................. 91
C. Issue Managemen Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan ........................................................ 91
KEPUSTAKAAN ....................................................................................................................... 93
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
vii
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Keberadaan Bidan Desa di Sulawesi Selatan, 2010 8
2. Keberadaan Bidan Desa Berdasarkan Tipe Daerah di Sulawesi Selatan,
2010
9
3. Pemberi Pelayanan KIA di Desa di Sulawesi Selatan, 2010 10
4. Ada Tidaknya Tenaga Kesehatan Lain dalam Pelayanan KIA Berdasarkan
Keberadaan Bidan Desa di Sulawesi Selatan, 2010
12
5. Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi di Sulawesi Selatan, 2010 13
6. Distribusi Dukun Bayi Berdasarkan Keberadaan Bidan Desa di Sulawesi
Selatan, 2010
13
7. Aturan Kemitraan Bidan Dukun berdasarkan Tipe Daerah di Sulawesi
Selatan, 2010
17
8. Desa Siaga di Sulawesi Selatan, 2010 19
9. Karakteristik Kader Posyandu di Sulawesi Selatan, 2010 25
10. Pelayanan Kesehatan di Polindes di Sulawesi Selatan, 2010 29
11. Aktivitas Desa Siaga di Sulawesi Selatan, 2010 33
12. Posyandu di Sulawesi Selatan, 2010 35
13. Distribusi Bayi/Balita Membayar di Posyandu berdasarkan Ada Tidaknya
Dana Operasional Posyandu di Sulawesi Selatan, 2010
37
14. Distribusi Kader merujuk ke Puskesmas berdasarkan Ada Tidaknya Bidan
Desa di Sulawesi Selatan, 2010
39
15. Pelatihan Bidan Desa di Sulawesi Selatan, 2010 40
16. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Sulawesi Selatan, 2010 42
17. Pelatihan Petugas Puskesmas di Sulawesi Selatan, 2010 49
18. Distribusi Puskesmas Berdasarkan Kabupaten di Sulawesi Selatan, 2010 51
19. Karakteristik Puskesmas di Sulawesi Selatan tahun 2010 57
20. Fasilitas yang Dimiliki Puskesmas di Sulawesi Selatan tahun 2010 58
21. Sarana dan Prasarana Puskesmas di Sulawesi Selatan tahun 2010 58
22. Sarana Imunisasi Puskesmas di Sulawesi Selatan tahun 2010 59
23. Jenis Pelayanan Terkait Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Puskesmas
Sulawesi Selatan, 2010
59
24. Cakupan Program KIA dan Imunisasi Puskesmas di Sulawesi Selatan, 2010 60
25. Aksesibilitas Puskesmas di Sulawesi Selatan, 2010 60
26. Kejadian Luar Biasa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (KLB
PD3I) di Puskesmas dalam 1 tahun Terakhir di Sulawesi Selatan, 2010
61
27. Karakteristik Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010 61
28. Ketenagaan RS Terkait Pelayanan KIA di Rumah Sakit di Sulawesi Selatan,
2010
62
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan viii
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
DAFTAR DIAGRAM
Diagram Halaman

1. Desa/Kelurahan yang Memiliki Bidan Desa per Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Selatan, 2010
9
2. Tenaga Kesehatan Lain yang Melayani KIA per Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Selatan, 2010
11
3. Desa/Kelurahan yang Memiliki Kemitraan antara Bidan Desa dengan Dukun
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
14
4. Bentuk Kemitraan Bidan Desa dengan Dukun per Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Selatan, 2011
15
5. Desa/Kelurahan yang Memiliki Aturan Kemitraan Bidan Desa dengan Dukun
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
16
6. Persentase Bidan Desa yang Memberikan Insentif kepada Dukun per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
18
7. Desa/Kelurahan Siaga per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan,
2010
20
8. Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Donor Darah dan telah Berfungsi
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
23
9. Pemantauan KIA yang di Musyawarahkan di Musrenbang per Kabupaten/
Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
24
10 Tingkat Pendidikan Kader di Desa/Kelurahan per Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Selatan, 2010
26
11. Desa/Kelurahan yang Membahas Anggaran KIA di Musrenbang per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
27
12. Keberadaan Alokasi Anggaran KIA Desa/Kelurahan per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2011
28
13. Persentase Bidan Desa yang Merujuk ke Puskesmas per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
29
14. Persentase Ibu Hamil di Desa/Kelurahan yang Memiliki Tabulin per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
32
15. Keberadaan Dana Sosial Bersalin di Desa per Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Selatan, 2010
32
16. Ketersediaan Dana Operasional Posyandu per Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Selatan, 2010
34
17. Persentase Kader Posyandu yang Merujuk ke Puskesmas per Kabupaten/
Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
35
18. Pelaksanaan Surveilans KIA oleh Kader Posyandu per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
38
19. Persentase Hasil Kegiatan Surveilans KIA Desa/Kelurahan yang Dilaporkan
ke Puskesmas per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
40
20. Pelaksanaan Pendataan Ibu Hamil di Desa/Kelurahan per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
41
21. Pelaksanaan Pendataan Bayi di Desa/Kelurahan per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
42
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
ix
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
22. Pelaksanaan Pendataan Anak Balita di Desa/Kelurahan per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
43
23. Bidan Desa yang Sudah Memperoleh Pelatihan MTBS per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
43
24. Bidan Desa yang Sudah Memperoleh Pelatihan Imunisasi per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
45
25. Bidan Desa yang Sudah Memperoleh Pelatihan P4K per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
46
26. Pelayanan KIA oleh Dokter, Bidan dan Perawat di Puskesmas
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
46
27. Pelayanan Imunisasi oleh Dokter, Bidan dan Perawat di Puskesmas per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
47
28. Pelayanan KB oleh Dokter, Bidan dan Perawat di Puskesmas
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
47
29. Pelatihan PONED oleh Dokter, Bidan dan Perawat di Puskesmas per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
49
30. Pelatihan Manajemen Puskesmas oleh Dokter, Bidan dan Perawat di
Puskesmas per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
50
31. Sumber Anggaran KIA di Tingkat Desa/Kelurahan per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
50
32. Pelayanan Kesehatan Bayi yang Membayar di Polindes/Poskesdes/Pustu per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
53
33. Sumber Biaya pelayanan di Polindes/Puskesdes/Pustu per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
53
34. Pelayanan Kesehatan Bayi dan Balita yang Membayar di Posyandu per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
54
35. Sumber Biaya Pelayanan di Posyandu Desa/Kelurahan per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
54
36. Persentase Kepemilikan Puskesmas Keliling per Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi selatan, 2010
55
37. Ketersediaan Fasilitas Poned Kit di Puskesmas per Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Selatan, 2010
55
38. Ketersediaan Wastafel Poli Imunisasi di Puskesmas per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
56
39. Ketersediaan Genset di Puskesmas per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi
Selatan, 2010
56
40. Cakupan K1 per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 57
41. Cakupan K4 per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 68
42. Cakupan Persalinan Nakes per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan,
2010
71
43. Cakupan Kunjungan Nifas per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan,
2010
73
44. Cakupan Deteksi Faktor risiko per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi
Selatan, 2010
73
45. Cakupan Penangan Komplikasi per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi
Selatan, 2010
76
46. Cakupan Kunjungan Neonatal 1 per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi
Selatan, 2010
77
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan x
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
47. Cakupan Kunjungan Neonatal Lengkap per Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Selatan, 2010
78
48. Cakupan Neonatatus Komplikasi per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi
Selatan, 2010
79
49. Cakupan Kunjungan Bayi per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan,
2010
80
50. Cakupan Kunjungan Balita per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan,
2010
81
51. Cakupan Pelayanan Balita Sakit per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi
Selatan, 2010
82
52. Cakupan KB PUS per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 82
53. Cakupan TT WUS per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 83
54. Cakupan TT Bumil per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 84
55. Cakupan HB0 per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 85
56. Cakupan BCG per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 86
57. Cakupan DPT 3 per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 87
58. Cakupan Polio 4 per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 87
59. Cakupan Campak per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 88
60. Cakupan BIAS 1 SD per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 88
61. Cakupan BIAS 2 SD per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 89
62. Cakupan Bias 3 SD per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010 89
63. Cakupan Bias Campak per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan,
2010
90
64. Alat Transportasi untuk Menjangkau Wilayah Terjauh Puskesmas Di Sulawesi
Selatan, 2011
90
65. Tipe Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010 91
66. Kodisi Fisik Gedung Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010 92
67. Kepemilikan Refrigerator Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010 92
68. Kepemilikan Freezer Rumah Sakit di Sulaawesi Selatan, 2010 93
69. Alat Transportasi untuk Menjangkau Wilayah Terjauh Puskesmas Di Sulawesi
Selatan, 2011 95
70. Tipe Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010 100
71. Kodisi Fisik Gedung Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010 100
72. Kepemilikan Refrigerator Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010 101
73. Kepemilikan Freezer Rumah Sakit di Sulaawesi Selatan, 2010 101
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
xi
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Peta Wilayah Indonesia 1
2. Peta Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan 2
3. Mapping Wilayah Kerja Puskesmas di Sulawesi Selatan, 2010 66
4. Mapping Wilayah Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010 97
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan xii
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH
ADD : Anggaran Dana Daerah
AFP non Polio : Accute Flaccid Paralysis non Polio
AMP : Audit Maternal Perinatal
APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
BCG : Bacillus Calmete Guerin
CSO : Civil Society Organizaton
D1 : Diploma satu
D2 : Diploma Dua
D3 : Diploma Tiga
D4 : Diploma Empat
Dinkes : Dinas Kesehatan
Dll : Dan Lain lain
DPT : Diferi Pertusis Tetanus
GAVI : Global Alliance for Vaccines and Immunizaton
HB 0 : Hepatts B 0 (nol)
HSS : Health System Strengthening
Kab. : Kabupaten
Kepmenkes : Keputusan Menteri Kesehatan
KIA : Kesehatan Ibu dan Anak
KLB : Kejadian Luar Biasa
Kt. : Kota
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
MMD : Musyawarah Masyarakat Desa
Monev : Monitoring dan Evaluasi
MTBS : Manajemen Terpadu Balita Sakit
Musrenbang : Musyawarah Perencanaan Pembangunan
Otsus : Otonomi Khusus
P4K : Program Perencanaan dan Pencegahan Komplikasi
PD3I : Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Pemkab : Pemerintah Kabupaten
Pemkot : Pemerintah Kota
Perda : Peraturan Daerah
PNPM : Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Polindes : Pondok Bersalin Desa
PONED : Pelayanan Obstetri, Neonatologi, dan Emergensi Dasar
Poskesdes : Pos Kesehatan Desa
Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat
Pustu : Puskesmas Pembantu
RR : Reportng and Recording
RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah
S1 : Strata Satu
S2 : Strata Dua
SAM : Service Availabillity Mapping
TT : Tetanus Toxoid
UKBM : Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
VM : Village Mapping
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
1
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
I. PENGANTAR
Propinsi Sulawesi Selatan yang beribukota di Makassar terletak antara 012 - 8 Lintang
Selatan dan 11648 - 12236 Bujur Timur, yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat
di sebelah utara, Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara di sebelah timur, Batas sebelah barat dan
timur masing-masing adalah Selat Makassar dan Laut Flores.
Gambar 1. Peta wilayah indonesia
Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan tercatat 45.519,24 Km
2
yang secara administrasi
pemerintahan terbagi menjadi 21 kabupaten dan 3 kota, termasuk Kabupaten Toraja Utara
yang defnitif sejak tahun 2008, dengan 303 kecamatan dan 2.946 desa/kelurahan. Kabupaten
Luwu Utara merupakan kabupaten terluas dengan luas 7.502,68 km
2
atau luas kabupaten
tersebut merupakan 16,48% dari seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
Sulawesi Selatan memiliki Suku Bangsa yang beragam, mulai dari Bugis, Makassar,
Mandar, Toraja, Duri, Pattinjo, Bone, Maroangin, Endekan, Pattae dan Kajang/Konjo dengan
empat suku besar yaitu Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Sedangkan dari segi bahasa,
di Sulawesi Selatan bahasa yang umum digunakan adalah Makassar, Bugis, Luwu, Toraja,
Mandar, Duri, Konjo dan Pattae. Mayoritas penduduknya beragama Islam, kecuali di Kabupaten
Tana Toraja, Toraja Utara, dan sebagian wilayah lainnya beragama Kristen. Jumlah penduduk
sampai dengan Mei 2010, di Sulawesi Selatan terdaftar sebanyak 8.032.551 jiwa dengan
pembagian 3.921.543 orang laki-laki dan 4.111.008 orang perempuan.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 2
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Gambar 2. Peta wilayah Provinsi Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan merupakan provinsi dengan posisi yang sangat strategis di Kawasan
Timur Indonesia (KTI) sehingga memungkinkan berfungsi sebagai pusat pelayanan di berbagai
bidang baik bagi Kawasan Timur Indonesia maupun untuk skala internasional. Sulawesi Selatan
dengan ibukota Makassar merupakan jalur distribusi utama bahan-bahan kebutuhan pokok
dan perdagangan ke propinsi-propinsi lainnya di Bagian Timur Indonesia, dengan pelabuhan
laut Soekarno - Hatta, dan pelabuhan udara Internasional Bandar Udara Hasanuddin yang
masing-masing terbesar di wilayah Kawasan Timur Indonesia. Sulawesi Selatan dari tahun ke
tahun berkembang menjadi sentra perekonomian, pendidikan maupun pelayanan kesehatan.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
3
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
II. PENDAHULUAN
Pemerintah Indonesia telah berkomitmen menyelenggarakan pelayanan kesehatan
yang berkualitas bagi masyarakatnya, komitmen tersebut tidak hanya bertujuan untuk
mencapai target nasional sebagaimana tercantum dalam GBHN ataupun UUD tetapi juga
berbagai komitmen global yang membutuhkan perbaikan kondisi kesehatan masyarakat telah
menuntut para penyelenggaran kesehatan di negara ini bekerja keras untuk mencapai target-
target tesebut. Terutama dalam hal cakupan pelayanan kesehatan dasar, seperti cakupan KIA
maupun Vaksin dan Imunisasi, seluruh wilayah Indonesia harus memenuhi Standar Pelayanan
Minimal yang telah ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan RI sebagaimana yang tertuang
dalam Kepmenkes nomor 828/Menkes/SK/IX/2008. Namun krisis multidimensi yang menimpa
Indonesia menjelang abad ke-20 telah menyebabkan terjadinya kemerosotan cakupan
pelayanan kesehatan dalam berbagai program kesehatan yang dicanangkan pemerintah, tak
terkecuali program KIA dan Imunisasi.
Berdaasrkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 oleh Departemen Kesehatan
dan Badan Pusat Statistik, cakupan imunisasi lengkap di Indonesia anak usia 12 23 bulan
sebesar hanya mencapai 46,2 persen. Propinsi dengan cakupan imunisasi lengkap paling
buruk adalah Sulawesi Barat (17,3 persen). Bila seorang anak tidak mendapat vaksinasi
lengkap, kemungkinan terhindar dari penyakit kurang dari 80 persen.
Pada tahun 1990, Indonesia sudah mencapai Universal Child Immunization (UCI) yaitu
tercapainya cakupan minimal 80 persen imunisasi lengkap bayi sebelum usia 1 tahun. Namun
dari tahun ketahun terus pencapaian cakupan imunisasi terus menurun.
Berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan Provinsi Sulawesi
Selatan hingga tahun 2007 (Riskesdas 2007) menunjukkan cakupan imunisasi menunjukkan
bahwa angka Sulsel lebih rendah dari cakupan nasional bila dilihat dari ke 5 jenis imunisasi
yakni BCG (86,4%), Campak (72,1%, Polio 3 kali (61,1%), DPT 3kali (58,3%) dan Hepatitis
B (53,5%). Bila cakupan imunisasi Campak digunakan sebagai indikator imunisasi lengkap
maka Sulawesi Selatan dapat dikatakan belum mencapai UCI, namun bila dilihat variasi antar
kabupaten terdapat 7 kab./kota yang sudah mencapai UCI yakni Kab. Soppeng (82,1%), Sidrap
(90,9%), Enrekang (82,5%), Luwu Timur (83,2%), Makassar (93,4%), Parepare (81,7%), dan
Palopo (87,5%).
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 4
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Kegiatan Mobilisasi Masyarakat
Data atau informasi mengenai kegiatan mobilisasi pelayanan kesehatan masyarakat
di sini mencakup penjelasan tentang Pelaku Pelayanan Kesehatan meliputi Bidan Desa,
Desa Siaga, Pemberi Layanan KIA, Kemitraan Bidan dan Dukun, dan Karakteristik kader,
Dukungan Materil dan Non-materil Pelayanan Kesehatan meliputi Dukungan Pelayanan
KIA, Dukungan Pelayanan Kesehatan di Polindes, Dukungan Transportasi Rujukan,
Dukungan Pelayanan Kesehatan di Posyandu, dan Dukungan Aktivitas Desa Siaga.
1. Pelayanan Kesehatan di Desa/Kelurahan
Dalam meningkatkan kualitas pembangunan kesehatan sangat dibutuhkan
Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal baik dari segi skill maupun kompetensinya
sebagai tenaga kesehatan yang bertugas melaksanakan upaya kesehatan melalui
paradigma sehat yang mengutamakan upaya peningkatan, pemeliharaan kesehatan
dan pencegahan penyakit. Untuk memenuhi pengadaan tenaga kesehatan dapat
dilaksanakan melalui program pendidikan, sedangkan pengembangan keterampilan
dan keahlian tenaga kesehatan dilaksanakan melalui program pelatihan oleh pemerintah
maupun lembaga institusi yang bersangkutan.
a. Bidan Desa
Salah satu pelaku pelayanan kesehatan yang utama di desa adalah bidan desa.
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1997), bidan di desa adalah bidan
yang ditempatkan, diwajibkan tinggal serta bertugas melayani masyarakat di wilayah
kerjanya, yang meliputi 1 sampai 2 desa. Dalam pelaksanaan tugasnya, bidan desa
bertanggung jawab langsung ke kepala Puskesmas setempat dan bekerja sama dengan
perangkat desa.
Fungsi Bidan di desa adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan khususnya
pelayanan KIA termasuk KB, di wilayah Desa tempat tugasnya. Dalam menjalankan
fungsinya, bidan desa diwajibkan tinggal di Desa tempat tugasnya dan melakukan
pelayanan secara aktif sehingga tidak selalu menetap atau menunggu di suatu tempat
pelayanan namun juga melakukan kegiatan atau pelayanan keliling dan kunjungan
rumah sesuai dengan kebutuhan.
Tabel 1
Keberadaan Bidan Desa di Sulawesi Selatan, 2010
No Variabel Jumlah Persentase
1 Jumlah Desa 2944 100
2 Desa yang mempunyai bidan desa 2711 92.1
3 Desa yang memiliki bidan desa yang menetap di desa tersebut 1943 71.1
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
5
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 1 menunjukkan sebanyak 92,1% desa (n=2944) mempunyai bidan
desa dan 71,1% diantaranya menetap di desa tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa
hampir sepertiga bidan desa tidak tinggal di wilayah kerjanya, kondisi ini dapat
mempengaruhi optimalisasi pelayanan KIA di desa.
Berikut penuturan seorang bidan desa mengenai alasan yang melatar
belakangi sehingga tidak tinggal dan menetap di wilayah kerjanya.
Tidak, karena kondisi fasilitas yang ada di sini. Kan anak saya tiga, berarti
satu kamar lima orang. Kebetulan di sini yang disiapkan hanya satu kamar.
Mungkin karena lebih sepuluh tahun saya di sini, memang tidak mampu saya
untuk tinggal seterusnya karena menyangkut kondisi saya juga sebagai bidan,
punya juga tanggung jawab terhadap suami sehingga memang juga pemerintah
harus memikirkan pemondokan untuk kami. Saya merasa bahwa kendala dari
bidan itu, pertama pemerintah tidak pernah memperhatikan pemondokan dari
bidan karena kami bidan ini kan juga manusia biasa yang butuh juga menikmati
fasilitas, bukan juga kami membutuhkan fasilitas yang elit, tidak, tapi fasilitas
yang memadai untuk kesehatan. Coba bisa dibayangkan, kita setiap hari
memberikan penyuluhan bagaimana itu rumah yang sehat sedangkan kami
sebagai petugas saja tidak memenuhi syarat. Ini kebetulan, ini yang saya
perjuangkan selama 2 tahun, bagaimana supaya dapur ada.. (Mg, 36, Bidan).
Dari penuturan seorang bidan desa di atas menjelaskan bahwa tidak
menetapnya bidan desa diwilayah kerjanya tidak bisa langsung disalahkan sepihak
karena ternyata banyak faktor yang mempengaruhi mereka untuk memilih tidak
menetap di wilayah kerjanya masing-masing. Hal ini bisa menjadi masukan bagi
pemerintah untuk lebih memperhatikan kesejahteraan bidan-bidan desa agar
mereka bisa lebih fokus menjalankan tugas sebagai bidan desa.
Tabel 2
Keberadaan Bidan Desa Berdasarkan Tipe Daerah
di Sulawesi Selatan, 2010
Variabel
Tipe daerah
Jumlah
Perkotaan Pedesaan
n % n % n %
Keberadaan bidan
desa
Ada 713 92,1 1998 92,1 2711 92,1
Tidak ada 61 7,9 172 7,9 233 7,9
Bidan desa
menetap
Ya 431 60,4 1512 75,7 1943 71,7
Tidak 282 39,6 486 24,3 768 28,3
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa baik di daerah perkotaan maupun di
daerah pedesaan masih ada sekitar 7,9% yang tidak memiliki bidan desa. Di daerah
perkotaan terdapat 39,6% bidan desa yang tidak menetap di wilayah kerja. Hal ini
dikarenakan di wilayah perkotaan akses dan transportasi cukup lancar sehingga
memudahkan bagi bidan desa untuk mobile mendatangi wilayah kerjanya jika ada
pasien atau kasus tertentu. Pada wilayah pedesaan terdapat 24,3% bidan desa
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 6
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
yang tidak menetap di wilayah kerja, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor salah
satunya karena fasilitas yang disediakan untuk bidan desa tidak sesuai yang mereka
harapkan sehingga kebanyakan bidan desa lebih memilih untuk tinggal dirumah
pribadi mereka.
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Diagram 1. Desa/Kelurahan yang Memiliki Bidan Desa per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Diagram 1 menunjukkan bahwa diantara 24 Kabupaten/Kota di Sulawesi
Selatan, Kabupaten Selayar dengan persentase terendah karena hampir seperdua
desa dari jumlah keseluruhan desa belum memiliki bidan desa (48%) dan hanya
52,0% yang memiliki bidan desa. Khusus untuk persentase kepemilikan bidan desa
di Kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara dan Enrekang semuanya berada antara
60%-80%, sedangkan selebihnya sudah mencapai 90%-100%. Hasil survei GAVI
2010 menunjukkan bahwa secara keseluruhan di Sulawesi Selatan sudah mencapai
92,1% desa yang sudah memiliki bidan desa, berarti masih terdapat 7,9% desa yang
belum memiliki bidan desa, sedangkan menurut Standar Pelayanan Minimal (SPM)
Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota (Kepmenkes, 2008) seharusnya setiap desa
memiliki minimal satu bidan desa.
Oleh karena itu disarankan kepada pemerintah propinsi maupun kabupaten/
kota agar menempatkan bidan desa di setiap desa yang belum memiliki bidan
desa sehingga tujuan pelayanan kesehatan yang merata dapat terwujud. Selain
itu bagi bidan desa diharapkan dapat tinggal menetap di wilayah kerjanya agar
dapat mendeteksi secara dini apabila ada masalah kesehatan di wilayah kerjanya.
Tentunya hal ini harus didukung oleh ketersediaan fasilitas yang memadai sehingga
bidan desa maupun tenaga kesehatan lainnya lebih termotivasi menjalan tugasnya
dan dapat tinggal di wilayah kerjanya.
Ujung tombak pelayanan KIA di desa adalah keberadaan dan komitmen
bidan desa, dokter dan perawat baik di Puskesmas maupun yang tinggal menetap
di desa.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
7
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 3
Pemberi Pelayanan KIA di Desa di Sulawesi Selatan, 2010
No Pemberi Pelayanan KIA Minimum Maksimum Mean Median
1 Bidan yang praktek di desa 0 22 1 1
2 Dokter yang praktek di desa 0 10 0 0
3 Perawat yang prektek di desa 0 18 1 1
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Data yang disajikan pada tabel 3 di atas menunjukkan bahwa di Sulawesi
Selatan jumlah maksimum bidan yang berpraktek di satu desa/ kelurahan sebanyak
22 orang, dan rata-rata 1 orang bidan di setiap desa, tetapi masih banyak desa
yang sama sekali tidak memiliki bidan desa. Keberadaan dokter praktek, jumlah
maksimum di satu desa hanya mencapai 10 orang dan sebagian besar desa/
kelurahan di Sulawesi Selatan tidak memiliki dokter sama sekali. Perawat di satu
desa maksimum 18 orang dengan rata-rata 1 orang per desa, dan banyak desa
yang tidak memiliki perawat. Pada beberapa desa ataupun kelurahan pelayanan
KIA dipegang oleh pihak Puskesmas atau koordinator bidan Puskesmas ataupun
tenaga kesehatan yang lainnya selain bidan desa. Hal ini terjadi karena desa
tersebut berada dekat dengan Puskesmas sehingga aktivitas pelayan KIA akhirnya
berpusat di Puskesmas.
b. Pelayanan KIA oleh Tenaga Kesehatan Lainnya
Pelayanan KIA oleh tenaga kesehatan lainnya adalah pelayanan yang dilakukan
oleh tenaga kesehatan lain selain bidan, misalnya oleh dokter atau perawat. Diagram
berikut ini menunjukkan pelayanan KIA juga dilakukan oleh petugas kesehatan selain
bidan desa.
Diagram 2. Tenaga Kesehatan Lain yang Melayani KIA
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 8
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 2 di atas menunjukkan bahwa Kabupaten Enrekang dengan persentase
tertinggi (42,6%) pelayanan KIA dilakukan oleh tenaga kesehatan selain bidan. Secara
umum di Sulawesi Selatan, pelayanan KIA oleh tenaga kesehatan selain bidan adalah
sekitar 22,7%.
Tabel 4
Ada Tidaknya Tenaga Kesehatan Lain dalam Pelayanan KIA
Berdasarkan Keberadaan Bidan Desa di Sulawesi Selatan, 2010
Ada Bidan
Desa
Ada Tenaga Kesehatan lain yang Melayani KIA
Total
Ya Tidak
Ya
n 607 2104 2711
% 22.4% 77.6% 100.0%
Tidak
n 60 173 233
% 25.8% 74.2% 100.0%
Total
n 667 2277 2944
% 22.7% 77.3% 100.0%
Sumber :Data Primer survei GAVI 2010
Tabel 4 di atas menunjukkan bahwa desa yang memiliki bidan desa tapi tidak
memiliki tenaga kesehatan lain dalam pelayanan KIA adalah 77,6%, sedangkan desa
yang tidak memiliki bidan desa dan juga tidak memiliki tenaga kesehatan lain dalam
pelayanan KIA adalah (74,2%). Data diatas menunjukkan bahwa meskipun di suatu
desa banyak terdapat bidan desa tetapi tetap ada tenaga lain yang memberi pelayanan
KIA. Tenaga kesehatan lain yang dimaksud adalah perawat, dokter, maupun mantri
kesehatan.
c. Kemitraan Bidan dan Dukun
Program Kemitraan Bidan Dukun merupakan salah satu program untuk
meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan. Kemitraan
Bidan dan Dukun adalah suatu bentuk kerjasama antara bidan dan dukun yang saling
menguntungkan dengan prinsip keterbukaan, kesetaraan dan kepercayaan dalam
upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayi, dengan menempatkan bidan sebagai
penolong persalinan dan mengalihfungsikan dukun dari penolong persalinan menjadi
mitra dalam merawat ibu dan bayi pada masa nifas, dengan berdasarkan kesepakatan
yang telah dibuat antara bidan dan dukun serta melibatkan seluruh elemen masyarakat
yang ada.
Mengingat peran dukun di masyarakat sangat penting dan cukup dipercaya
oleh masyarakat, maka perlu dijalin kerjasama yang baik antara dukun dengan tenaga
kesehatan, khususnya bidan desa sehingga dapat membantu kelancaran tugas sehari-
hari dari bidan dan sekaligus membantu untuk merencanakan tugas-tugas lainnya
yang menjadi tanggung jawab bidan.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
9
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 5
Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi di Sulawesi Selatan, 2010
No Kemitraan Jumlah Persentase
1 Jumlah desa yang memiliki kemitraan bidan dan
dukun bayi
2437 82.8
2 Bentuk kemitraan bidan dan dukun bayi : 2437 100
a. Formal 1217 49.9
b. Tidak formal 1220 50.1
3 Bentuk kemitraan formal yang sudah didukung
dengan peraturan
889 73.0
4 Jumlah dukun bayi yang mendapat insentif dari bidan
yang telah bermitra
1739 59.1
Besaran insentif dukun bayi
No Dukun Bayi Minimum Maksimum Mean Median
1 Jumlah dukun bayi per
desa/kelurahan
0 18 1 2
2 Besaran insentif yang
diterima dukun bayi
0 250000 60300 50000
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Tabel 5 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan kemitraan bidan desa dengan
dukun sudah mencapai 82.8%, berarti masih terdapat 17,2% desa/kelurahan yang
belum memiliki kemitraan bidan dan dukun. Hal ini disebabkan karena ada beberapa
desa yang tidak memiliki bidan desa dan ada pula desa yang tidak ada dukun dalam
wilayahnya. Selain itu masih tingginya tingkat kepercayaan masyarakat kepada
diabanding kepercayaan terhadap bidan sebagaimana penuturan tokoh masyarakat
berikut.
Tidak bermitra, sebenarnya ada pembinaan secara tidak formal tapi tetap kita
arahkan karena sebagian masyarakat masih lebih percaya ke dukun daripada
ke bidan. Cuma belum ada kerjasama seperti pelatihan. (AF, 32, Lurah).
Tabel 6
Distribusi Dukun Bayi Berdasarkan Keberadaan Bidan Desa
di Sulawesi Selatan, 2010
Keberadaan
Bidan Desa
Keberadaan Dukun Bayi
Jumlah
Ada Tidak Ada
n % n % n %
Ada 2242 82,7 469 17,3 2711 100
Tidak Ada 177 76,0 56 24,0 233 100
Total 2419 82,2 525 17,8 2944 100
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 10
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 6 di atas menunjukkan bahwa terdapat 82,7% desa yang memiliki bidan
desa sekaligus memiliki dukun bayi. Terdapat 24,0% desa yang tidak memiliki bidan
desa maupun dukun bayi, sehingga di desa tersebut tidak ada kemitraan antara bidan
dan dukun.
Diagram 3. Desa/Kelurahan yang Memiliki Kemitraan antara Bidan Desa dengan
Dukun per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Diagram 3 menunjukkan bahwa kemitraan bidan dengan dukun di Kabupaten
Takalar telah mencapai 100%. Hal ini dapat terwujud karena pemerintah Kabupaten
Takalar memberikan pemahaman akan peran sosial yang setara dibangun dari
serangkaian pertemuan formal dan informal di antara para bidan dan dukun. Namun
bukan hanya kesetaraan peran sosial yang membuat kemitraan bidan dan dukun
di Takalar sukses. Manfaat ekonomi yang merata juga berperan penting dalam
langgengnya kemitraan bidan dan dukun di daerah ini. Para dukun dan bidan bersepakat
bahwa dari setiap kelahiran, jasa dukun diberi insentif sebesar Rp.50.000,- hingga
Rp.100.000,- per kelahiran dari pihak Puskesmas. Merasakan kesetaraan peran dan
manfaat ekonomi yang layak, para dukun mulai bersemangat mengidentifkasi ibu
hamil, membawa mereka ke bidan, dan mengajak ibu hamil menjalani pemantauan
kesehatan berkala di Puskesmas. Sementara para bidan yang mulai mendapat
kepercayaan dari masyarakat semakin percaya diri dalam melaksanakan pemeriksaan
medis dan membantu kelahiran.
Persentase terendah untuk kemitraan bidan dan dukun adalah Kabupaten
Toraja Utara hanya 63,6% memiliki kemitraan antara bidan dan dukun, jadi masih ada
sekitar 36,4% desa/kelurahan di Toraja Utara yang belum memiliki kemitraan bidan
dan dukun.
d. Bentuk dan Aturan Kemitraan
Bentuk kemitraan bidan dan dukun ada yang secara formal dan tidak formal.
Kemitraan yang terjalin secara formal diikat oleh aturan yang ditetapkan oleh pemerintah
setempat sedangkan yang tidak formal biasanya hanya sebatas kesepakatan saja,
seperti penuturan berikut ini.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
11
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Kemitraan bidan dan dukun itu dimulai sejak ibu hamil. kami Cuma suruh
mendata dan memberikan informasi kepada pasien. Kalau untuk masalah
persalinan kami tidak biarkan menangani. (Ks, 30, Bidan).
tidak ada peraturannya cuma itu ada dari Puskesmas ada pembinaan dukun
itu diusahakan agar dukun memberikan informasi kepada bidan apabila ada
persalinan ada kelahiran dukun harus segera menghubungi bidan dan sama-
sama melakukan pekerjaan. (RP, 34, Bidan).
Bentuk kemitraan non-formal pada umumnya bidan dan dukun menyepakati
bahwa bidan yang bertanggung jawab atas semua tindakan medis terhadap ibu hamil
atau ibu melahirkan, sedangkan dukun bertugas untuk menjalankan ritual-ritual adat
ataupun memberikan sugesti atau penyemangat bagi ibu melahirkan.
Diagram 4. Bentuk Kemitraan Bidan Desa dengan Dukun
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2011
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Di Sulawesi Selatan bentuk kemitraan bidan dan dukun yang terjalin secara
formal adalah 49,9% hampir sama dengankemitraan yang tidak formal 50,1% (diagram
4). Kabupaten yang telah mencapai 100% kemitraan bidan dan dukun yang sudah
formal adalah Kabupaten Takalar, sedangkan kemitraan 100% tidak formal adalah
Kabupaten Selayar.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 12
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 5. Desa/Kelurahan yang Memiliki Aturan Kemitraan Bidan Desa dengan
Dukun per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Diagram 5 menunjukkan bahwa bentuk kemitraan formal di Sulawesi Selatan
yang didukung dengan adanya peraturan sebanyak 73,0%. Khusus di Kabupaten
Maros meskipun sudah memiliki kemitraan bidan dan dukun (78,6%) dan secara formal
(1,2%) tetapi tidak satupun desa yang memiliki aturan kemitraan. Meskipun telah
ada kemitraan antara bidan dan dukun, tetapi karena tidak didukung oleh peraturan
yang mengatur kemitraan bidan dan desa maka masih ditemui kasus persalinan yang
ditolong oleh dukun seperti yang disampaikan beberapa narasumber berikut :
Masih ada tapi jarang. Pernah di koordinasi ibu dukun dengan bidan dengan
kesehatan waktu pertemuannya bulan ini di kantor kelurahan. (CS, 43, lurah)
Masih ada. Tapi kalau kebetulan tidak ada bidan. Selama ada bidan desa
sudah jarang dukun menolong persalinan. Hanya mengurut-urut saja. Tapi
untuk menolong persalinan sudah bidan yang urus. (MR, 47, Kader)
Banyak-banyak ibu bidan yang dipanggil kalau ada yang melahirkan, bukan
tidak tercapai, tapi karena sudah dekat otomatis lari ke dukun. (Kd, 60, kades)
Dia masih menolong persalinan kalau saya tidak ada, jadi kalau saya ada dia
panggil saya baru sama-sama menolong. (Nl, 32, Bidan)
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
13
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 7
Aturan Kemitraan Bidan Dukun berdasarkan Tipe Daerah
di Sulawesi Selatan, 2010
Variabel
Tipe daerah
Jumlah
Kota Desa
n % n % n %
Kemitraan bidan dukun
Sudah 654 84,5 1783 82,2 2437 82,8
Belum 120 15,5 387 17,8 507 17,2
Aturan kemitraan bidan
dukun
Sudah 196 70,5 693 73,8 889 73,0
Belum 82 29,5 246 26,2 328 27,0
bentuk kemitraan bidan
dukun
Formal 278 42,5 939 52,7 1217 49,9
Non formal 376 57,5 844 47,3 1220 50,1
Insentif dukun dari
bidan mitra
Ada 447 57,8 1292 59,5 1739 59,1
Tidak ada 327 42,2 878 40,5 1205 40,9
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Tabel di atas menunjukkan bahwa pada umumnya bidan desa dan dukun telah
bermitra, baik di daerah perkotaan (84,5%) maupun di daerah pedesaan (82,2%).
Bentuk kemitraan, kemitraan secara formal secara persentase lebih tinggi di pedesaan
(52,7%), sedangkan di perkotaan hanya 42,5% . Berdasarkan aturan yang mengikat
baik pedesaan maupun perkotaan memiliki persentase yang hampir sama yaitu 70,5%
(kota) dan 73,8% (desa).
e. Insentif Dukun
Salah satu faktor pendorong sehingga dukun mau bermitra dengan bidan
adalah adanya insentif. Semua dukun yang telah menjalin kemitraan dengan bidan
desa akan mendapatkan insentif dari bidan bila sama-sama melakukan persalinan.
Mengenai biaya-biaya untuk melahirkan saja, kita tidak tahu bahwasanya
yang keluarga yang mau melahirkan ini berapa yang dibayarkan dukun atau
bidan.kita tidak tahu karena tidak ada ketentuan, tidak ada pembagian tugas
bahwasanya kalau sama-sama dukun dengan bidan dilokasi melahirkan. Bidan
yang menangani langsung. Tidak ada kesenjangan antara bidan dengan dukun
sampai saat ini. Dukun bayi biasa diberi uang Rp 100.000, karena biasanya
dukun bayi itu melakukan kebiasaan di masyarakat waktu mengandung
biasanya disuruh urut, sampai dukun sendiri yang membantu persalinan. (MS,
46, kades).
Waktu itu, memang ada diatur mengenai hak dan kewajiban. Kalau dalam
upah, kita kan sekarang sudah diatur pelayanan gratis jadi masalah penuntutan
hak sudah tidak ada masalah lagi. Cuma kita dituntut kewajiban lagi. Kalau hak
bidan mendapat pembayaran jasa, jumlahnya bervariasi tergantung kondisi
keluarga pasien. Biasanya bidan dapat tigaratus ribu lalu dukunnya kita kasih
limapuluh ribu. Jadi lima puluh ribu itu haknya dukun. Kalau dukun berobat kita
gratiskan. Kalau ada perlu ke sarana kesehatan kita fasilitasi. Kewajibannya
dukun, kalau misalnya pasien belum sempat kontak pertama dengan bidan
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 14
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
terus yang dikontak dukun jadi dukun yang beritahukan kita. Pokoknya tiap
bulan dia laporkan kalau ada ibu hamil. Terus kita klopkan jumlah ibu hamil
menurut dukun dan menurut bidan. Jadi kewajibannya dukun itu melapor. (Ss,
39, bidan).
Diagram 6. Persentase Bidan Desa yang Memberikan Insentif kepada Dukun per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Diagram 6 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan sekitar 59,1% dukun yang
memperoleh insentif dari bidan. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada sekitar 40,9%
dukun yang bermitra tidak mendapatkan intensif dari bidan. Kondisi ini terjadi karena
setelah persalinan, pasien/ ibu bersalin langsung memberikan uang/insentif kepada
dukun, sehingga bidan merasa tidak perlu lagi memberikan insentif.
Kabupaten Takalar sudah 100% bidan desa memberikan intensif kepada dukun,
namun di Kabupaten Barru persentasenya masih kecil yaitu 13,0%. Dibeberapa desa
insentif kemitraan bidan dan dukun desanya tidak hanya dalam bentuk uang saja tapi
juga dalam bentuk jasa pelayanan kesehatan dengan cara memberikan pelayanan
khusus kepada dukun jika ada keperluan di sarana kesehatan, seperti berobat gratis,
mendapatkan prioritas dan fasilitas khusus, bahkan pada sebagian puskesmas
disediakan ruangan khusus untuk dukun berkantor.
2. Desa Siaga
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya
dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah
kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah Desa
dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya
sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) (Depkes, 2007).
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
15
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Kriteria desa siaga meliputi adanya forum masyarakat desa, adanya pelayanan
kesehatan dasar, adanya UKBM Mandiri yang dibutuhkan masyarakat, dibina Puskesmas
PONED, memiliki sistem surveilans (pemantauan faktor risiko dan penyakit) berbasis
masyarakat, memiliki sistem kewaspadaan dan kegawatdaruratan bencana berbasis
masyarakat, memiliki sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat, memiliki
lingkungan yang sehat, dan masyarakatnya berperilaku hidup bersih dan sehat.
Tabel 8
Desa Siaga di Sulawesi Selatan, 2010
No Variabel Jumlah Persentase
1 Jumlah Desa Siaga 2319 78.8
2 Jumlah desa yang telah memiliki poskesdes 1789 77.1
3 Jumlah desa yang masih mempunyai polindes 651 22.1
4 Jumlah poskesdes yang berfungsi sebagai polindes 413 100
5 Jumlah desa yang memiliki kelompok donor darah 593 20.1
6 Jumlah desa yang memilki kelompok donor darah
yang sudah berfungsi
313 52.8
7 Jumlah desa yang melakukan koordinasi dan
musyawarah tentang hasil kegiatan pemantauan KIA
2128 72.3
8 Jumlah desa yang menggunakan hasil kegiatan
pemantauan KIA untuk pengambilan keputusan di
tingkat desa
1918 65.1
9 Jumlah desa yang melakukan pembahasan anggaran
untuk kegiatan KIA di dalam Musrenbang Desa
1108 37.6
10 Jumlah desa yang memiliki alokasi anggaran untuk
kegiatan KIA di tingkat desa
678 23.0
11 Sumber anggaran kegiatan KIA di tingkat Desa 678 100
a. ADD 403 59.4
b. APBD 157 23.2
c. PNPM 41 6.0
d. Otsus 0 0
e. Lain-lain 77 11.4
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Tabel 8 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan sebanyak 78,8% desa (n=2944)
sudah merupakan desa siaga namun belum semuanya aktif dan berfungsi sebagaimana
mestinya.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 16
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 7. Desa/Kelurahan Siaga per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi
Selatan, 2010
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Diagram 7 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan, Kabupaten Tana Toraja
dengan persentase terendah yaitu 30,2% desa yang merupakan desa siaga, hal ini
berarti di Tana Toraja masih terdapat 69,8% desa yang belum terbentuk sebagai desa
siaga. Persentase desa siaga di Sulawesi Selatan masih minim, masih ada sekitar
21,2% desa di Sulawesi Selatan yang belum merupakan Desa Siaga, sedangkan target
pembangunan kesehatan di tahun 2015 adalah semua desa di wilayah kerja Puskesmas
merupakan desa siaga, dan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan tahun
2008 menargetkan pada tahun 2015 jumlah desa siaga aktif mencapai 80%. Hal ini
menjadi tanggung jawab bersama untuk segera mewujudkan terbentuknya desa siaga
di seluruh desa/kelurahan di Sulawesi Selatan.
a. Poskesdes dan Polindes
Poskesdes adalah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang
dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan/menyediakan pelayanan kesehatan dasar
bagi masyarakat desa (Depkes, 2007) dan merupakan salah satu kriteria desa siaga.
Polindes adalah bangunan yang dibangun dengan bantuan dana pemerintah
dan partisipasi masyarakat desa untuk tempat pertolongan persalinan dan pemondokan
ibu bersalin, sekaligus tempat tinggal Bidan di desa. Di samping pertolongan persalinan
juga dilakukan pelayanan antenatal dan pelayanan kesehatan lain sesuai kebutuhan
masyarakat dan kompetensi teknis bidan tersebut.
Keberadaan poskesdes/pustu di setiap desa sudah mencapai 77,1% (tabel 8)
namun tidak semuanya berjalan sebagaimana fungsinya, sebagaimana dengan polindes,
diantara 22,1% desa yang masih memiliki polindes disamping memiliki poskesdes tidak
bisa bisa menjalankan fungsinya karena kebanyakan polindes setelah terbentuknya
poskesdes beralih fungsi menjadi Posyandu atau tempat pemondokan bagi bidan desa
dan tidak lagi melaksanan pelayanan persalinan. Hal ini terjadi karena fasilitas persalinan
di polindes tidak memadai sebagaimana penuturan beberapa tokoh masyarakat berikut.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
17
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Polindes ada, karena sebelum ada poskesdes ada polindes, sekarang
polindes ini tidak berjalan secara maksimal karena berdekatan, satu tenaga,
satu petugas, karena mungkin karena minimnya dari kesehatan. Bahkan kita
mengcover semuanya. Selama ada poskesdes, itu polindes tidak dibangun
lagi. Itu polindes dulu seperti rumah pondok, tapi setelah ada poskesdes yang
lebih permanen lagi. Sudah saya usulkan itu mau diperluas sedikit kebelakang
karena supaya ada ruang bersalin, ada rawat inap. Supaya saya bisa ajak
itu pasien yang dari jauh itu, dari Paria. Soalnya kita mau panggil juga orang
melahirkan disini juga tidak bisa karena tidak lengkap fasilitasnya jadi saya
mohon itu kepada kepala dinas dan dia mengiyakan untuk 2011. Memang
kita dijanji tapi belum fnal. Siapa tau dilupa. Waktu datang dinas kesini saya
perlihatkan dan saya beritahu bahwa tidak bisa orang melahirkan disini karena
tidak ada kamarnya. (Am, 46, Kades).
Polindes berfungsi untuk kegiatan Posyandu. Kalau mau didirikan sekaligus
dengan poskesdes saja karena masih cukup lahan disitu. (CS, 43, Lurah).
Polindes dulu ada tapi sudah dijadikan Posyandu. Selama ada poskesdes,
polindes sudah tidak, karena polindes cuma satu kamar dan poskesdes empat
kamar. Karena Posyandu di Bontocinda tidak ada tempatnya, jadi polindes
dijadikan Posyandu. (SI, 25, Kader).
Semua poskesdes di desa yang masih memiliki polindes juga berfungsi sebagai
polindes (tabel 8), dimana jenis pelayanan yang diberikan di polindes juga diberikan di
poskesdes seperti dalam penuturan bidan berikut ini.
Mulai pelayanan dasar. Pemeriksaan ibu hamil, Posyandu, pelayanan KB,
penyuluhan, dan pengobatan dasar. Ada pelimpahan wewenang dari dokter ke
saya dan memang ada SK nya. (HH, 37, Bidan).
Konseling kepada masyarakat, pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh
bidan termasuk pelayanan KIA dan Imunisasi. (SI, 25, Kader).
Kita di sini pelayanan KIA masih senin sampai sabtu, belum dibatasi hari-
harinya. Jadi di sini itu, minimal 10 pasien per harinya. Di sini sekarang ibu
hamilnya 52 orang. Selain pelayanan KIA dan imunisasi, kita terima pelayanan
konsultasi misalnya konsultasi KB, KIA dan penyakit. Selain itu, ada pelayanan
dasar, pelayanan KIA/KB dan pelayanan rawat inap satu hari satu malam.
(Mg, 36, Bidan).
b. Kelompok Donor Darah
Desa Siaga harus memiliki kelompok pendonor darah sebagai penyedia darah
bagi PMI yang dapat digunakan oleh ibu bersalin yang membutuhkan. Bentuk kelompok
donor darah ini berupa donor darah tetap yaitu pendonor secara rutin mendonorkan
darahnya setap 3 bulan sekali ke PMI, dan donor darah tidak tetap yaitu relawan yang
bersedia mendonorkan darahnya sewaktu-waktu bila dibutuhkan.
Pelaksanaan kegiatan donor darah ini dapat bekerjasama dengan Puskesmas
setempat khususnya untuk pemeriksaan golongan darah dan pemeriksaan kesehatan
pendonor secara umum. Hal ini dilakukan sebagai upaya antisipasi biaya pemeriksaan
laboratorium bagi warga miskin.
Beberapa daerah meskipun sudah memiliki kelompok donor darah namun tidak
berjalan sebagaimana mestinya. Seperti di Kabupaten Toraja Utara, meskipun sudah
6,0% desa yang memiliki kelompok donor darah namun tidak satu pun yang berfungsi.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 18
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Kelompok donor darah di Provinsi Sulawesi Selatan baru mencapai 20,1% dan
tidak semuanya berfungsi(52,8% dari 20,1%) sebagaimana digambarkan dalam diagram
8 berikut ini.
Diagram 8. Desa/Kelurahan yang Memiliki Kelompok Donor Darah dan telah
Berfungsi per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Musrenbang Desa
Tujuan pembentukan desa siaga salah satunya adalah membentuk desa yang
masyarakatnya memiliki kemampuan dalam menemukan permasalahan yang ada,
kemudian merencanakan dan melakukan pemecahannya sesuai dengan potensi yang
dimiliki. Wadah untuk kegiatan tersebut salah satunya adalah melalui Musrenbang.
Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang sebagaimana
dinyatakan dalam UU No. 25 Tahun 2004 adalah forum antar pelaku dalam menyusun
dan merumuskan rencana pembangunan nasional dan daerah (termasuk desa).
Ruang lingkup pembangunan dalam hal ini tidak hanya terbatas pada pembangunan
fsik saja, pembangunan sosial, ekonomi maupun kesehatan juga seharusnya dibahas
dalam Musrenbang. Salah satu elemen dasar pembangunan kesehatan yang patut
dimusyawarahkan adalah pemantauan KIA, namun pada kenyataannya di beberapa
desa pembangunan kesehatan, khususnya KIA di desa/kelurahan sering diabaikan
seperti penuturan bidan desa dan lurah berikut ini.
Pernah ada Musrenbang, misalnya dibahas menyangkut banjir, kebakaran dan
penanganan darurat masuk semua. Kalau KIA belum masuk, cuma masalah
kedaruratan saja yang masuk. (HH, 37, Bidan).
Jalannya Musrenbang mulai dari Dusun-lingkungan-kelurahan-kecamatan.
Kegiatan yang paling sering dibicarakan adalah masalah kesehatan lingkungan,
masih jarang dibicarakan mengenai KIA dan Imunisasi, kan yang mengikuti
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
19
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Musrenbang kurang dari perempuan, jadi semua mengarah ke pembangunan
fsik ,jarang yang membahas masalah mental/kesehatan(JH, 32, Lurah).
Meskipun demikian, untuk wilayah Sulawesi Selatan, pemantauan KIA yang
dibahas di Musrenbang sudah mencapai 72,3%, sebagaimana digambarkan dalam
diagram berikut.
Diagram 9. Pemantauan KIA yang di Musyawarahkan di Musrenbang
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Diagram 9 menunjukkan bahwa Kabupaten Selayar dengan persentase
tertinggi (93,3%) dibanding kabupaten/kota lainnya dalam hal pembahasan KIA dalam
Musrenbang desa, sedangkan persentase terendah adalah Kabupaten Maros ( 24,3%).
Hasil pemantauan KIA di Sulawesi Selatan masih belum dimanfaatkan
sepenuhnya oleh seluruh desa dalam pengambilan keputusan ataupun kebijakan
di tingkat desa. Hanya 65,1% dari 72,3% yang menggunakan hasil pemantauan KIA
untuk pengambilan keputusan di tingkat desa, dan dari 37,6% desa yang memasukkan
pembahasan anggaran untuk kegiatan KIA dalam Musrenbang, hanya 23.0% desa
yang mengalokasikan anggaran untuk KIA dalam ADD (Alokasi Dana Desa). Fakta ini
terjadi karena pada umumnya masyarakat memahami bahwa ADD hanya digunakan
untuk pembangunan fsik di desa, misalnya untuk pembangunan jalan, jembatan, dan
infrastuktur lainnya. Walaupun demikian sumber anggaran KIA di desa/kelurahan paling
banyak bersumber dari ADD yaitu sekitar 59,4% desa/kelurahan di Sulawesi Selatan
mengalokasikan anggaran KIA dari ADD masing-masing (Tabel 8).
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 20
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
3. Karakteristik Kader Posyandu
Salah satu pelaku pelayanan kesehatan di tingkat desa adalah kader Posyandu.
Direktorat Bina Peran Serta Masyarakat Depkes RI memberikan batasan tentang kader
yaitu warga masyarakat setempat yang dipilih dan ditunjuk oleh masyarakat dan dapat
bekerja secara sukarela yang bertugas mengembangkan masyarakat dan membantu
kelancaran pelayanan kesehatan. Berikut tabel mengenai karakteristik responden kader
Posyandu.
Tabel 9
Karakteristik Kader Posyandu di Sulawesi Selatan, 2010
No Karakteristik Kader Jumlah Persentase
1. Jumlah kader yang menjadi responden 2944 100
2. Pekerjaan Kader 2944 100
2.1. PNS 138 4.7
2.2. TNI/Polri 1 0.0
2.3 Swasta 200 6.8
2.4 Petani/nelayan/pedagang 228 7.7
2.5 Buruh 5 0.2
2.6 Lain-lain (IRT) 2372 80.6
3. Pendidikan Kader 2944 100
3.1 Tidak tamat SD 15 0.5
3.2. Tamat SD 199 6.8
3.3. SLTP 672 22.8
3.4 SLTA 1749 59.4
3.5. Akademi/PT 309 10.5
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Tabel 9 menunjukkan bahwa kader Posyandu umumnya adalah ibu rumah tangga
(80,6%) dan rata-rata berpendidikan tinggi yaitu tamat SLTA (59,4%) dan Akademi/
Perguruan Tinggi (10,5%), dan hanya sebagian kecil kader yang berpendidikan rendah
yaitu tidak tamat SD (0,5%), tamat SD (6,8%) dan tamat SLTP (22,8%).
Persentase pendidikan kader Posyandu per kabupaten/kota dapat dilihat pada
diagram berikut:
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
21
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 10. Tingkat Pendidikan Kader di Desa/Kelurahan per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Grafk di atas menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan kader Posyandu umumnya
memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi yaitu telah tamat SLTA/ Akademi maupun
Perguruan Tinggi (69,9%). Hal ini menunjukkan bahwa peran kader dalam pelaksanaan
pelayanan KIA bisa lebih berkualitas dan melaksanakan tugasnya sebagai kader di desa.
4. Dukungan Materil dan Non-Materil Pelayanan Kesehatan
a. Dukungan Pelayanan KIA
Program kesehatan ibu dan anak (KIA) merupakan salah satu prioritas utama
pembangunan kesehatan di Indonesia. Program ini bertanggung jawab terhadap
pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi neonatal. Salah satu
tujuan program ini adalah menurunkan kematian dan kejadian sakit di kalangan ibu.
Dukungan terhadap pelayanan KIA tidak hanya berupa ketersediaan tenaga kesehatan
dan fasilitas yang memadai tapi juga membutuhkan dana operasional agar pelayanan
KIA bisa berjalan secara berkesinambungan.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 22
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
b. Dukungan Desa Siaga

Pembentukan desa siaga merupakan salah satu bentuk dukungan non-materil
pemerintah setempat terhadap pelayanan KIA karena melalui desa siaga semua elemen
masyarakat bisa diberdayakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan,
khususnya pelayanan KIA, seperti diungkapkan oleh beberapa narasumber berikut :
Iya ada, misalnya seperti forum desa siaga dilakukan setiap tiga bulan sekali
pertemuannya karena poskesdes didukung mulai dari lurah, sampai ke camat
dan sampai ke bupati. Bentuk dukungannya selain moral, misalnya lurahnya
tanya butuh apa, ini poskesdes mau diapakan, misalnya pengecatan, dia bantu.
Pendataan sasaran, monitoring ibu hamil dan MMD. (HH, 37, Bidan)
Alhamdulillah, kami membantu masyarakat misalnya ada 34 keluarga yang
belum memiliki jamban keluarga, kita memberi bantuan kloset jadi mereka buat.
Jadi kita sudah sampaikan arahan kepada masyarakat bahwa dengan adanya
desa siaga harus kebersihan dijaga, dan sebagainya lah yang menyangkut desa
siaga. Kami dukung dalam bentuk moril maupun materiil kalau dibutuhkan kami
membantu dalam rangka bagaimana untuk mensejahterakan masyarakat kami
di dalam rangka desa siaga ini. Makanya kalau jarak antara desa Kaliang ke luar
ini ke Lampa itu sekitar 10 Km. Jadi kita sudah mempersiapkan itu ambulans
desa jadi kita sudah mendukung memang masyarakat desa baik pemerintah
kabupaten dan tingkat desa itu memang itu kiita sudah sangat memperhatikan
bagaimana caranya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat kami. Makanya
kami selaku pemerintah desa itu mendorong bagaimana caranya peningkatan
sumber daya manusianya sehingga kami selalu memacu koordinasi rapat-rapat
di desa ini kita mengundang semua desa untuk memberikan motivasi kepada
masyarakat supaya bisa berkembang karena desa Kaliang ini termasuk desa
tertinggal. Tapi Alhamdulillah sekarang ini kita sudah tidak tergolong lagi desa
tertinggal karena itulah bantuan-bantuan pemerintah kepada masyarakat.
(Am, 46, Kades)
Itu kerjasama antara Puskesmas ada rumah sakit, ada pun namanya bantuan
untuk masyarakat itu sudah ada. Ada pembinaan, penyuluhan, itu semua yang
dilakukan oleh petugas dari bidan dan kemudian ada sistem pembentukan
ketuanya itu kan sudah ada organisasi tim kerjanya jadi dibantu juga pemerintah.
Mereka juga melapor pada kami selaku pemerintah. Dukungan pemerintah
daerah ini masih kurang karena anggaran ini bukan tidak mendukung tapi dana-
dana. Kegiatan pertemuan, Posyandu, adapun namanya masyarakat yang
membutuhkan pengobatan ada namanya poskesdes, poskesdes itu sementara
baru dibangun, karena dulu poskesdes waktu itu sementara ada di kelurahan
Lariang, sampingnya itu, yang dijadikan Posyandu, tempat pertemuan juga
disitu baruga, (CS, 43, Lurah)
Kalau dari dinas, peralatan dan obat ya dan kalau dari pemerintah setempat
sudah luar biasa karena mereka sudah memberikan pembuatan dapur, di ADD
sudah disisipkan di situ. Dan untuk transpor kader, walaupun tidak seberapa.
Tahun ini disisipkan Rp 1.000.000. kalau ini Rp 3.000.000 kemarin diberikan.
Saya tidak tahu sudah ada apa tidak Perda tentang Desa siaga dari bupati,
harusnya kan ini pemberdayaan masyarakat, harusnya yang membuat Perda
nya kan Pemerintah, tetapi tidak ada.kemarin saja ditunjuk sebagai desa yang
wakili Gowa, yang datang itu cuma kepala dinas. Mestinya kan yang datang
paling tidak Pak Sekda, kalau memang dia peduli. Harusnya, karena ini bukan
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
23
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
dinas kesehatan punya tapi ini kan bentuk kepedulian pemerintah membantu
Menkes, jadi yang harus pro aktif di sini ialah pemerintah setempat. Kalau di
Panakukang ini, sudah mulai seperti MMD nya, kita undang dari kecamatan,
dari dinas, tokoh masyarakat dan mereka sangat mendukung tinggal dari atas
saja sebenarnya. Ini saya mulai dari bawah, biasanya kalau program seperti ini
kan harusnya dari atas dulu kan. Di sini sudah desa siaga sejak 2008 tapi 2009
baru aktif, pembentukannya April 2008, saya sudah dilatih, bulan depannya
langsung dibentuk. Pak desa langsung membentuk pembantu Puskesmas.
Desa siaga itu saya rasa di sini sudah 8 kali MMD, intinya untuk desa siaga
itu kan MMD nya itu, di dalamnya kan pemerintah setempat dengan aparat
desa untuk melihat apa permasalahan kita dan merumuskan apa yang aka kita
lakukan melalui forum desa siaga. (Mg, 36, Bidan).
Sebagian besar desa siaga telah mengalokasikan anggaran khusus untuk
pelayanan KIA di daerahnya masing-masing, dan pembahasan mengenai anggaran ini
forumnya adalah Musrenbang desa. Pada Musrenbang ini dibahas mengenai rencana-
rencana pembangunan desa, termasuk pembangunan dari segi kesehatan.
Diagram 11. Desa/Kelurahan yang Membahas Anggaran KIA di Musrenbang per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Diagram 11 menunjukkan bahwa di kabupaten Maros hanya 2,9% desa
yang membahas anggaran KIA dalam Musrenbang desa. Sulawesi Selatan secara
keseluruhan hanya 37,6% yang membahas anggaran KIA di Musrenbang dan masih
terdapat 62,4% desa yang tidak membahas anggaran KIA dalam Musrenbang desa.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 24
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 12. Keberadaan Alokasi Anggaran KIA Desa/Kelurahan
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2011
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Diagram di atas menunjukkan bahwa di Kabupaten Maros hanya 1% desa
dari keseluruhan desa yang membahas anggaran KIA dalam Musrenbang desa dan
mengalokasikan anggaran desa untuk kegiatan KIA di desa tersebut.
Pada umumnya kabupaten/kota yang mengalokasikan anggaran untuk kegiatan
KIA dari dana ADD (Alokasi Dana Desa) sebagai anggaran untuk kegiatan KIA seperti
yang ditampilkan pada tabel 8.
c. Pelayanan Kesehatan di Polindes
Tabel 10
Pelayanan Kesehatan di Polindes di Sulawesi Selatan, 2010
No Variabel Jumlah Persentase
1 Jumlah desa yang bayi/balitanya mengeluarkan biaya
untuk pelayanan kesehatan di polindes/poskesdesnya
120 4.1
No Biaya Pelayanan di
polindes
Minimum Maksimum Mean Median
2 Biaya pelayanan kesehatan
bayi/balita
di polindes
0 100000 9700 10000
No Variabel Jumlah Persentase
3 Sumber pembiayaan pelayanan kesehatan bayi/balita di
polindes/poskesdes
120 100
a. Orang tua/keluarga yang sakit 115 95.9
b. Puskesmas 2 1,7
c. Desa/PKK 1 0.8
d. Lain-lain 2 1.7
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
25
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel di atas menunjukkan bahwa hampir semua desa tidak memungut biaya
untuk pelayanan kesehatan bayi dan balita di poskesdes/polindes. Hanya 4,1% yang
menyatakan mengeluarkan biaya untuk pelayanan tersebut.
Tidak ada, tidak memerlukan biaya. Karena sekarang semuanya gratis.
Untuk saat sekarang sudah tidak ada, dulu memang ada sebelum pelayanan
kesehatan gratis, sempat memang memberikan insentif ke kader-kader
Posyandu. Sekarang setelah kita negosiasi dengan kepala desa dan pak lurah,
sebagian besar sudah memberikan insentif untuk kadernya jadi ibu kader
sudah tidak membebani ke ibu-ibu yang datang ke Posyandu. (EA, 37, Kepala
Puskesmas).
Sama sekali tidak karena semua pelayanan kesehatan itu sudah dijamin oleh
pemerintah. Kalau yang kategori miskin dijamin oleh jamkesmas, pegawai
dijamin oleh askes, ada juga yang dijamin oleh jamsostek, selain itu ada juga
yang dijamin oleh jamkesda. Jamkesda itu kebijakan dari Bapak Gubernur
dan disambut baik oleh Bapak Bupati dan Alhamdulillah di masyarakat sudah
berjalan. (SA, 52, Kadinkes).
d. Sistem Rujukan
Sistem Rujukan merupakan suatu jaringan sistem pelayanan kesehatan yang
memungkinkan penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas timbulnya suatu
masalah kesehatan masyarakat baik secara vertikal maupun horizontal dengan tujuan
dihasilkannya upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan rehabilitatif,
dan dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif.
Berikut persentase bidan desa yang merujuk pasien bayi dan balita ke
Puskesmas dalam satu tahun terakhir.
Diagram 13. Persentase Bidan Desa yang Merujuk ke Puskesmas per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 26
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 13 menunjukkan 62,6% bidan pernah merujuk pasien bayi/ balita ke
Puskesmas/ rumah sakit. Biaya transportasi rujukan mayoritas dibebankan kepada
orang tua/ keluarga pasien (93,8%) yang sakit seperti yang ditampilkan pada tabel 10.
Salah satu tujuan dari desa siaga adalah agar desa tersebut selalu siap siaga
dalam menghadapi masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan. Oleh karena
itu di sebuah desa siaga disediakan Dana Sosial untuk ibu bersalin (Dasolin), tabungan
ibu bersalin (Tabulin), ambulans desa, dan kelompok donor darah. Berikut data-data
yang diperoleh dari survei GAVI sehubungan dengan desa siaga.
Tabel 11
Aktivitas Desa Siaga di Sulawesi Selatan, 2010
No Variabel Desa Siaga Jumlah Persentase
1 Desa yang telah memiliki tabulin (tabungan ibu bersalin)
untuk setiap ibu hamil.
338 11.5
No Minimum Maksimum Mean Median
2 Persen bumil yang mempunyai
tabulin per desa
0 100 53.16 50
No Variabel Desa Siaga Jumlah Persentase
3 Desa yang mempunyai dasolin 182 6.2
4 Desa yang mempunyai dasolin yang telah berfungsi 134 73.6
5 Desa yang mempunyai ambulans desa 1097 37.3
6 Desa yang mempunyai ambulans desa yang telah
berfungsi
957 87.2
7 Desa yang memiliki kegiatan surveilans (pemantauan) KIA
oleh kader
2193 74.5
8 Desa yang kadernya mampu melakukan deteksi kasus
sederhana
1902 86.7
9 Desa yang kadernya mampu melakukan analisis
sederhana
1475 67.3
10 Desa yang melaporkan hasil kegiatan surveilans KIA ke
Puskesmas
2030 92.6
11 Desa yang melakukan pendataan ibu hamil 2879 97.8
12 Desa yang melakukan pendataan bayi 2887 98.1
13 Desa yang melakukan pendataan anak balita 2872 97.6
14 Desa yang seluruh ibu hamilnya memindapatkan buku KIA
dengan stiker P4K
2398 81.5
15 Desa yang semua bayinya mendapatkan buku KIA 2514 85.4
16 Desa yang semua anak balitanya mendapatkan buku KIA 2379 80.8
17 Desa yang setiap bulan melakukan Musyawarah
Masyarakat Desa (MMD)
800 27.2
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
27
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
e. Tabulin Ibu Hamil
Tabulin berarti Tabungan yang dikumpulkan oleh si Ibu bersalin itu sendiri atau
keluarganya dari sejak awal kehamilan untuk memenuhi biaya persalinannya kelak di
fasilitas kesehatan. Tabulin merupakan penerapan konsep siaga yang paling dasar,
karena kalau seorang ibu hamil maupun seorang suami sudah mempersiapkan biaya
persalinan sejak awal kehamilan melalui Tabulin berarti paling tidak ibu hamil sudah
menerapkan konsep siaga untuk dirinya sendiri.
Tabel 11 menunjukkan bahwa jumlah desa yang semua ibu hamilnya memiliki
tabulin masih sangat minim (11,5%) bahkan masih ada desa yang tidak satupun dari
ibu hamil yang berdomisili di desa tersebut memiliki tabulin. Demikian pula halnya
dengan dasolin, hanya 6,2% desa yang menyatakan mempunyai dasolin dan hanya
73,6% yang berfungsi. Salah satu alasannya adalah diterapkannya pelayanan
kesehatan gratis sehingga masyarakat beranggapan tidak perlu mempersiapkan dana
untuk bersalin. Berikut diagram yang menunjukkan kepemilikan tabulin dan dasolin per
kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Diagram 14. Persentase Ibu Hamil di Desa/Kelurahan yang Memiliki Tabulin per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram di atas menunjukkan minimnya kepemilikan tabulin di seluruh
kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, yakni hanya 11,5%.
f. Dasolin Ibu Hamil
Dana sosial ibu bersalin (Dasolin) adalah dana yang dikumpulkan dari dan
oleh masyarakat yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap ibu yang
akan melahirkan, terutama bagi keluarga yang tidak mampu. Namun dana ini atas
kesepakatan warga desa juga dapat dipergunakan untuk membantu meringankan
biaya kesehatan yang lain bila memang diperlukan. Sumber-sumber dasolin dapat
berasal dari iuran rumah tangga / keluarga / ibu hamil, kas kampung (RT/RW), kas
desa, kas organisasi desa (PKK/kelompok penjual air desa/kelompok tukang becak
dan lain-lain).
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 28
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 15. Keberadaan Dana Sosial Bersalin di Desa
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram di atas menunjukkan bahwa kepemilikan tabulin dan dasolin di
Sulawesi Selatan masih sangat kurang (6,2%). Secara keseluruhan di Sulawesi
Selatan baik tabulin maupun dasolin tidak ada yang mencapai 50%, sangat rendah
(maksimal 25,3%).
g. Ambulans Desa
Sistem transportasi atau ambulan desa adalah alat atau sarana transportasi ibu
hamil dari rumah tempat tinggalnya ke tempat pelayanan persalinan atau kesehatan,
seperti tempat praktik bidan desa, Puskesmas, ataupun rumah sakit. Atau sebaliknya,
yaitu alat untuk mengantar bidan desa atau tenaga kesehatan lainnya kerumah ibu
hamil.
Tabel 11 menunjukkan persentase desa yang memiliki ambulans desa
hanya 37,3% dan hanya 87,2% dari ambulans desa tersebut yang berfungsi. Hal
ini bertentangan dengan tujuan desa siaga yaitu kesiapsiagaan dalam menghadapi
kegawatdaruratan.
h. Dukungan Pelayanan Kesehatan di Posyandu
Posyandu adalah salah satu wadah peran serta masyarakat yang dikelola
dan diselenggarakan dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat guna memperoleh
pelayanan kesehatan dasar dan memantau pertumbuhan balita dalam rangka
meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara dini.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
29
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 12
Posyandu di Sulawesi Selatan, 2010
No Variabel Posyandu Minimum Maksimum Mean Median
1 Jumlah Posyandu per desa 0 24 3 3
2 Jumlah Posyandu aktif per desa
0 24 2 3
No Variabel Posyandu Jumlah Persentase
3 Responden yang menyatakan bahwa semua Posyandu memiliki dana
operasional
1171 39.8
4 Responden yang menyatakan bahwa bayi/balita mengeluarkan biaya
untuk pelayanan kesehatan di Posyandu
75 2.5
No Biaya pelayanan kesehatan bayi/balita
di Posyandu
Minimum Maksimum Mean Median
5 Besaran biaya pelayanan kesehatan bayi/
balita di Posyandu
100 50000 4800 2000
No Variabel Jumlah Persentase
6 Sumber biaya pelayanan kesehatan bayi/anak di Posyandu 75 100
a. Orang tua/keluarga yang sakit 71 94.7
b. Puskesmas 2 2.7
c. Desa/PKK 1 1.3
d. Lain-lain 1 1.3
No Variabel Posyandu Jumlah Persentase
7 Responden yang menyatakan pernah merujuk bayi/balita ke Puskesmas 969 32.9
No Biaya transport ke Posyandu Minimum Maksimum Mean Median
8 Besaran biaya transport bayi/balita ke
Puskesmas
0 500000 21450 10000
No Variabel Jumlah Persentase
9 Sumber biaya transport bayi/balita ke Posyandu 969 100
a. Orang tua/keluarga yang sakit 833 86.0
b. Puskesmas 9 0.9
c. Desa/PKK 7 0.7
d. Lain-lain 120 12.4
No Minimum Maksimum Mean Median
10 Rata-rata jumlah kader per Posyandu 0 18 4 5
11 Rata-rata jumlah kader aktif per-Posyandu 0 100 85.26 100
12 Jumlah kader yang sudah dilatih KIA per
Posyandu
0 15 2 2
13 Jumlah Posyandu
a. Pratama 0 13 1 1
b. Madya 0 16 1 0
c. Purnama 0 16 0 0
d. Mandiri 0 10 0 0
14 Jumlah ibu hamil per desa 0 988 47 34
15 Jumlah bayi (< 1 tahun) yang ada di desa 0 1109 52 38
16 Jumlah anak balita (1 - < 5 tahun) yang
ada di Desa
0 3223 197 150
Sumber : Data primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 30
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Posyandu merupakan kegiatan swadaya dari masyarakat di bidang kesehatan
dengan penanggung jawab kepala desa. Pelayanan kesehatan terpadu (yandu)
adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di suatu
wilayah kerja Puskesmas. Tempat pelaksanaan pelayanan program terpadu di balai
dusun, balai kelurahan, RW, dan sebagainya disebut dengan Pos pelayanan terpadu
(Posyandu). Konsep Posyandu berkaitan erat dengan keterpaduan. Keterpaduan yang
dimaksud meliputi keterpaduan dalam aspek sasaran, aspek lokasi kegiatan, aspek
petugas penyelenggara, aspek dana dan lain sebagainya.
Sebuah Posyandu sebaiknya mencakup maksimal 100 bayi/balita per 700
Penduduk dalam wilayah kerjanya atau disesuaikan dengan kemampuan petugas dan
keadaan setempat, geografs, jarak antar rumah, jumlah keluarga dalam kelompok, dan
sebagainya. Tabel 10 menunjukkan rata-rata jumlah Posyandu di setiap desa adalah
3 buah dan rata-rata Posyandu aktif adalah 2 buah per desa. Rata-rata ibu hamil per
desa sebanyak 47 orang, bayi sebanyak 52 bayi dan jumlah balita 197 orang per desa.
Dengan melihat jumlah tersebut maka sebaiknya minimal jumlah Posyandu dalam satu
desa adalah 3 Posyandu per desa. Dari data tersebut dapat dilihat ada desa yang tidak
memiliki Posyandu dengan kategori purnama, sedangkan target tahun 2008 adalah
terbentuknya Posyandu purnama di atas 50%.
Berikut diagram yang menyajikan persentase desa/kelurahan yang memiliki
dana operasional Posyandu per kabupaten.
Diagram 17. Ketersediaan Dana Operasional Posyandu per Kabupaten/Kota di
Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram 17 menunjukkan bahwa Posyandu yang memiliki dana operasional
masih kurang (39,8%). Selain itu masih terdapat beberapa Posyandu yang menetapkan
biaya untuk pelayanan di Posyandu tersebut (2,5%) seperti yang ditampilkan pada
tabel 4.10. Berikut tabel yang menunjukkan ada tidaknya biaya yang dikeluarkan untuk
pelayanan pusyandu berdasarkan ada tidaknya dana operasional Posyandu.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
31
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 13
Distribusi Bayi/Balita Membayar di Posyandu berdasarkan Ada Tidaknya
Dana Operasional Posyandu di Sulawesi Selatan, 2010
Dana Operasional
Posyandu
Bayi/Balita Membayar di Posyandu Total
Ya Tidak
Ya n 33 1138 1171
% 2.8% 97.2% 100.0%
Tidak n 42 1731 1773
% 2.4% 97.6% 100.0%
Total n 75 2869 2944
% 2.5% 97.5% 100.0%
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel di atas menunjukkan bahwa persentase bayi/ balita membayar di posyandu
yang memiliki dana operasional adalah 2,8%, hampir sama dengan persentase bayi/
balita membayar di posyandu yang tidak memiliki dana operasional (2,4%).
i. Kader Posyandu
Salah satu keistimewaan yang diberikan kepada kader adalah hak merujuk.
Apabila di lapangan kader menemui masalah atau gangguan kesehatan pada bayi
ataupun balita kader bisa langsung merujuk pasien tersebut ke sarana pelayanan
kesehatan seperti Puskesmas.
Diagram 18. Persentase Kader Posyandu yang Merujuk ke Puskesmas
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 32
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 18 menunjukkan bahwa di Sulawesi Selatan terdapat 32,9% responden
kader yang menyatakan pernah merujuk bayi/ balita ke Puskesmas. Kabupaten Takalar
memiliki persentase tertinggi dalam hal pernah merujuk dan yang terendah adalah
kabupaten Toraja Utara.
Berikut tabel yang menunjukkan aktivitas merujuk kader ke Puskesmas
berdasarkan keberadaan bidan desa.
Tabel 14
Distribusi Kader merujuk ke Puskesmas berdasarkan Ada Tidaknya Bidan Desa
di Sulawesi Selatan, 2010
Ada Bidan Desa
Kader Merujuk ke PKM
Total
Ya Tidak
Ya
n 914 1797 2711
% 33.7% 66.3% 100.0%
Tidak
n 55 178 233
% 23.6% 76.4% 100.0%
Total
n 969 1975 2944
% 32.9% 67.1% 100.0%
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel 14 menunjukkan pada desa yang tidak memiliki bidan desa, 33,7%
kadernya merujuk ke Puskesmas. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun di desa
terdapat bidan desa, kader tetap memiliki hak merujuk pasien bayi/ balita ke Puskesmas.
Pernah, kita tidak antar kesana kita cuma memberikan rujukan saja ke
Puskesmas. Nanti disana keluarganya bayar sendiri di Puskesmas. Tapi kan
sekarang sudah gratis.(MR, 47, kader)
Kader memiliki hak merujuk ke tenaga kesehatan. Misalnya kader mendapatkan
masyarakat yang diare, masing-masing kader sudah punya menyiapkan oralit
untuk pertolongan pertama. Setelah itu dirujuk ke pustu. Kalau sudah sampai
di Pustu, bidannya yang memeriksa apakah dirujuk ke Puskesmas atau cukup
ditangani di pustu saja. Bidan didampingi kader merujuk pasien ke Puskesmas
bila merasa perlu ditangani disana. Biaya rujukan dari pustu ke Puskesmas
tidak ada. (LM, 52, kepala Puskesmas)
Ada kader. Kadernya aktif. Jadi kalau ada bayi yang belum diimunisasi atau
bayi BGM, biasanya kader datang ke Puskesmas untuk memberitahukan
penanggung jawab program. Karena daerah ini, mobilitas tinggi jadi biasanya
banyak pendatang yang belum diimunisasi. Untuk kader di Pare-pare, mereka
diberikan insentif dari anggaran APBD yaitu limapuluh ribu per kader. Kalau
menurut saya, itu sudah mencukupi karena mereka hanya kerja di Posyandu.
Setiap menggunakan jasa kader biasanya ada ongkos transportnya diluar dari
lima puluh ribu itu. (LI, 39, kepala Puskesmas)
Ada kader. Kadernya aktif. Jadi kalau ada bayi yang belum diimunisasi atau
bayi BGM, biasanya kader datang ke Puskesmas untuk memberitahukan
penanggung jawab program. Karena daerah ini, mobilitas tinggi jadi biasanya
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
33
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
banyak pendatang yang belum diimunisasi. Untuk kader di Pare-pare, mereka
diberikan insentif dari anggaran APBD yaitu limapuluh ribu per kader. Kalau
menurut saya, itu sudah mencukupi karena mereka hanya kerja di Posyandu.
Setiap menggunakan jasa kader biasanya ada ongkos transportnya diluar dari
lima puluh ribu itu. (LI, 39, kepala Puskesmas)
Untuk mendukung optimalisasi pelayanan kesehatan, sebuah desa sebaiknya
memiliki minimal 1 orang bidan dengan 2 orang kader terlatih. Tabel 11 di atas
menunjukkan masih ada beberapa Posyandu yang tidak memiliki kader yang aktif dan
masih ada kader yang belum mendapatkan pelatihan KIA.
j. Surveilans KIA
Surveilans KIA merupakan usaha pengumpulan informasi tentang KIA di
masyarakat sebagai upaya strategis deteksi dini terjadinya masalah KIA di suatu
daerah. Unit yang sangat berperan terhadap surveilans KIA adalah Puskesmas yang
kemudian menugaskan para kader dalam pelaksanaannya dilapangan.
Berikut diagram yang menunjukkan pelaksanaan surveilans KIA oleh kader
Posyandu per kabupaten se-Sulawesi Selatan.
Diagram 19. Pelaksanaan Surveilans KIA oleh Kader Posyandu
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram 19 menunjukkan bahwa di Toraja Utara masih terdapat lebih dari
seperdua dari keseluruhan responden kader (57,6%) yang tidak melakukan surveilans
KIA. Sementara 100% kader melakukan surveilans KIA adalah Kabupaten Takalar. Ini
merupakan pencapaian yang luar biasa dan seharusnya menjadi teladan bagi daerah
lain. Secara keseluruhan di Sulawesi Selatan pelaksanaan surevilans oleh kader
mencapai 74,5%.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 34
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 20. Persentase Hasil Kegiatan Surveilans KIA Desa/Kelurahan yang
Dilaporkan ke Puskesmas per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram di atas menunjukkan bahwa di Kabupaten Maros, kader yang
melakukan surveilans KIA, hanya 41,0% yang melaporkan hasil surveilans KIA ke
Puskesmas. Selebihnya menyerahkan hasil pemantauan KIA kepada bidan desa dan
bidan desa yang melaporkan hasil pemantauan KIA ke Puskesmas. Berikut diagram
mengenai pelaksanaan pendataan bumil, bayi dan balita oleh kader Posyandu per
kabupaten se-Sulawesi Selatan.
k. Kemampuan Kader
Posyandu sangat tergantung pada peran kader, mereka inilah yang memiliki
andil besar dalam memperlancar proses pelayanan kesehatan primer. Maka apabila
kader Posyandu sudah memiliki kemampuan, pengetahuan dan pemahaman yang
baik mengenai kegiatan Posyandu serta apabila kader Posyandu sudah melaksanakan
perannya sebagai kader maka kualitas pelayanan Posyandu juga akan semakin baik.
Pelayanan kesehatan yang selama ini dikerjakan oleh petugas kesehatan saja dapat
dibantu oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat bukan hanya merupakan objek
pembangunan, tetapi juga merupakan mitra pembangunan itu sendiri. Adanya kader,
pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima dengan sempurna, jelaslah bahwa
pembentukan kader adalah perwujudan pembangunan dalam bidang kesehatan.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
35
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 15
Kemampuan Kader berdasarkan Tingkat Pendidikan Kader di Sulawesi Selatan,
2010
Tingkat pendidikan
Kemampuan kader
Deteksi kasus Analisis sederhana
Ya Tidak Ya Tidak
n % n % n % n %
Tidak Tamat SD 6 85,7 1 14,3 5 71,4 2 28,6
Tamat SD 118 85,5 20 14,5 105 76,1 33 23,9
SLTP 430 86,9 173 3,1 330 66,7 165 33,3
SLTA 1151 86,9 173 3,1 887 67,0 437 33,0
Akademi/PT 197 86,0 32 14,0 148 64,6 81 35,4
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel 15 menunjukkan bahwa kader dengan tingkat pendidikan tinggi (SLTA
dan Akademi/PT) maupun yang rendah (SD dan SLTP) sudah mencapai sekiatr 80%
kemampuannya mendeteksi kasus, sekitar 60% dalam analisis sederhana.
l. Pendataan Ibu Hamil, Bayi dan Balita
Pendataan ibu hamil, bayi maupun balita dimaksudkan untuk mempermudah
mengontrol faktor-faktor risiko yang mungkin bisa terjadi, sehingga bila terjadi kasus
petugas kesehatan cepat bergerak.
Diagram 21. Pelaksanaan Pendataan Ibu Hamil di Desa/Kelurahan per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 36
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 22. Pelaksanaan Pendataan Bayi di Desa/Kelurahan
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram 23. Pelaksanaan Pendataan Anak Balita di Desa/Kelurahan
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram 22 dan 23 menunjukkan bahwa pendataan bumil, bayi, dan balita oleh
kader di kabupaten/kota di Sulawesi Selatan ada yang mencapai 100%. Di Sulawesi
Selatan pendataan bumil mencapai 97,8%, bayi 98,1%, dan balita 97,6%. Diharapkan
ke depan pendataan bumil, bayi, dan balita telah dapat dilakukan oleh seluruh kader
sehingga pendataan bumil, bayi, dan balita oleh di Sulawesi Selatan mencapai 100%.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
37
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
B. Issue Managemen Puskesmas
Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
yang berada di wilayah kecamatan yang melaksanakan tugas-tugas operasional pembangunan
kesehatan. Pembangunan Puskesmas di tiap kecamatan memiliki peran yang sangat penting
dalam memelihara kesehatan masyarakat.
Organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pembangunan kesehatan
masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan
kesehatan secara menyeluruh dan terpadu pada masyarakat di suatu wilayah kerja tertentu
dalam bentuk usaha kesehatan pokok.
1. Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber daya kesehatan merupakan unsur terpenting didalam peningkatan
pembangunan kesehatan secara menyeluruh, sumber daya kesehatan terdiri dari tenaga,
sarana dan dana yang tersedia untuk pembangunan kesehatan. Pengembangan dan
Pemberdayaan SDM Kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam menentukan
keberhasilan pembangunan kesehatan. Oleh karena itu ketersediaan tenaga kesehatan
pada semua unit kesehatan mutlak diperlukan, didasari kepada kecukupan jumlah dan
mutu tenaga kesehatan tersebut, serta memperhatikan efsiensi dan efektivitas pelayanan.
a. Pelatihan Bidan Desa
Tujuan utama pelatihan bidan desa adalah untuk memberikan wawasan dan
keterampilan dalam pengembangan desa siaga. Melalui pelatihan tersebut bidan
diharapakan mempunyai kompetensi membimbing dan melaksanakan gerakan
pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan, membimbing dan melaksanakan
pelayanan kegawat daruratan kesehatan sehari-hari dan berencana, membimbing dan
melaksanakan tanggap darurat bencana (safe community), melaksanakan pelayanan
medis dasar sesuai dengan kompetensi dan kewenangan.
Tabel 16
Pelatihan Bidan Desa di Sulawesi Selatan, 2010
No Variabel Jumlah Persentase
1 Jumlah bidan desa yang sudah mendapatkan pelatihan MTBS 704 26.0
2
Jumlah bidan desa yang sudah mendapatkan pelatihan
imunisasi
1356 50.0
3 Jumlah bidan desa yang sudah mendapatkan pelatihan P4K 1500 55.3
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel 16 menunjukkan bahwa belum semua bidan desa mengikuti pelatihan terkait
KIA, terutama untuk pelatihan MTBS, hanya 26,0% bidan desa yang pernah mendapatkan
pelatihan tersebut.
b. Pelatihan MTBS Bidan Desa
Sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bidan desa tentang
cara penanggulangan serta teknik dan metode dalam penanganan balita sakit, bidan
desa diberikan pelatihan MTBS. Diagram berikut menunjukkan persentase bidan desa
yang telah mengikuti pelatihan MTBS berdasarkan kabupaten.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 38
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 24. Bidan Desa yang Sudah Memperoleh Pelatihan MTBS
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram di atas dapat dilihat bahwa di Sulawesi Selatan baru 26,0% desa yang
bidan desanya sudah memperoleh pelatihan MTBS, dann Kabupaten Pangkep dengan
persentasi terendah baru sekitar 10,3% bidan desanya sudah mendapatkan pelatihan
MTBS, sisanya terdapat 86,7% desa yang bidan desanya belum mendapatkan
pelatihan MTBS.

c. Pelatihan Imunisasi Bidan Desa
Diagram 25 menunjukkan presentase bidan desa yang belum mendapatkan
pelatihan imunisasi. Diagram tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Luwu Utara
masih memiliki 75,1% desa yang bidan desanya belum mendapatkan pelatihan
imunisasi. Ini berarti hanya seperempat dari jumlah desa di kabupaten Luwu Utara
yang bidannya telah mendapatkan pelatihan imunisasi.
Diagram 25. Bidan Desa yang Sudah Memperoleh Pelatihan Imunisasi
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
39
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 26. Bidan Desa yang Sudah Memperoleh Pelatihan P4K
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram 26 menunjukkan bahwa di Kabupaten Luwu hanya 7,5% desa yang
bidan desanya telah mendapatkan pelatihan P4K, sedangkan di Kabupaten Takalar
97,6% desa yang bidan desanya telah mendapatkan pelatihan P4K. Rata-rata bidan
desa yang telah memperoleh pelatihan P4K di Sulawesi Selatan adalah 55,3%.
d. Tenaga Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Tabel 17
Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak di Sulawesi Selatan, 2010
No Jenis Pelayanan Jumlah Persentase
1 Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
1.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dalam pelayanan KIA 147 35.7
1.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dalam pelayanan KIA 69 16.7
1.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dalam pelayanan KIA 394 95.6
1.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga dokter, perawatan,
dan bidan dalam pelayanan KIA
11 2.7
2 Imunisasi
2.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dalam pelayanan
imunisasi
60 14.6
2.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dalam pelayanan
imunisasi
338 82.0
2.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dalam pelayanan
imunisasi
221 53.6
2.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga dokter, perawatn,
dan bidan dalam pelayanan imunisasi
17 4.1
3 Keluarga Berencana (KB)
3.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dalam pelayanan KB 56 13.6
3.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dalam pelayanan KB 60 14.6
3.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dalam pelayanan KB 361 87.6
3.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga dokter, perawat,
dan bidan dalam pelayanan KB
40 9.7
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 40
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 17 di atas menunjukkan bahwa masih terdapat Puskesmas yang tidak
memiliki tenaga dokter, perawat, dan bidan untuk pelayanan KIA (2,7%), imunisasi
(4,1%), dan KB (9,7%).
Permasalahan yang timbul dalam institusi pelayanan kesehatan adalah tidak
sesuainya antara kebutuhan tugas dengan tenaga kesehatan yang ada di setiap unit
pelayanan, atau tenaga yang ada menumpuk pada satu unit sementara yang lain tidak
terpenuhi atau adanya tenaga kesehatan yang harus merangkap pada kegiatan lain
meskipun bukan tugas pokoknya atau kurang sesuai dengan latar belakang pendidikan
dan keahlian yang dimiliki. Tenaga kesehatan berperan sebagai perencana, penggerak
dan sekaligus pelaksana pembangunan kesehatan sehingga tanpa tersedianya tenaga
dalam jumlah dan jenis yang sesuai, maka pembangunan kesehatan tidak akan
dapat berjalan secara optimal. Kebijakan tentang pengembangan dan pemberdayaan
tenaga kesehatan sangat dipengaruhi oleh kebijakan kebijakan sektor lain, seperti:
kebijakan sektor pendidikan, kebijakan sektor ketenagakerjaan, sektor keuangan dan
peraturan kepegawaian. Kebijakan sektor kesehatan yang berpengaruh terhadap
pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan antara lain: kebijakan tentang
arah dan strategi pembangunan kesehatan, kebijakan tentang pelayanan kesehatan,
kebijakan tentang pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan, dan kebijakan tentang
pembiayaan kesehatan. Selain dari pada itu, beberapa faktor makro yang berpengaruh
terhadap pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan, yaitu: desentralisasi,
globalisasi, menguatnya komersialisasi pelayanan kesehatan, teknologi kesehatan
dan informasi. Oleh karena itu, kebijakan pengembangan dan pemberdayaan tenaga
kesehatan harus memperhatikan semua faktor di atas.
Berikut diagram yang menunjukkan persentase Puskesmas yang memiliki
pelayanan khusus KIA.
Diagram 27. Pelayanan KIA oleh Dokter, Bidan dan Perawat di Puskesmas
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
41
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Kegiatan imunisasi rutin meliputi pemberian imunisasi untuk bayi umur 0 1
tahun (BCG, DPT, Polio, Campak, HB), imunisasi untuk Wanita Usia subur/Ibu Hamil
(TT) dan imunisasi tambahan dilakukan atas dasar ditemukannya masalah seperti
Desa non UCI, potensial/risti KLB, dan ditemukan/diduga adanya virus polio liar atau
kegiatan lainnya berdasarkan kebijakan teknis.
Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan
proyeksi terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara
lengkap. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu, berarti
dalam wilayah tersebut juga tergambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat
(herd immunity) terhadap penularan PD3I. Suatu desa/kelurahan telah mencapai
target UCI apabila >80% bayi didesa/kelurahan tersebut mendapat imunisasi lengkap.
Pelayanan imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT (3 kali), Polio (4 kali),
Hepatitis-B (3 kali) dan Imunisasi Campak (1 kali), yang dilakukan melalui pelayanan
rutin di Posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Imunisasi HB diberikan
untuk mencegah penyakit hepatitis B yang diberikan hanya satu kali pada umur 0-7
bulan dengan cara menyuntikkan pada paha tengah luar (intramuskular).
Diagram 28. Pelayanan Imunisasi oleh Dokter, Bidan dan Perawat di Puskesmas
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel 28 menunjukkan bahwa pelayanan imunisasi oleh dokter,bidan, dan
perawat di kabupaten/kota di Sulawesi selatan mencapai 86,4%. Rata-rata pelayanan
imunisasi oleh dokter, bidan, dan perawat di Sulawesi Selatan adalah 95,9%.
Masa subur seorang wanita memiliki peranan bagi terjadinya kehamilan
sehingga peluang wanita melahirkan menjadi cukup tinggi. Menurut hasil penelitian
usia subur seorang wanita rata-rata 15 49 tahun walaupun sebagian wanita
mengalami menarche (haid pertama) pada usia 9 10 tahun. Oleh karena itu untuk
mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran, pasangan usia subur ini
lebih diperioritaskan untuk menggunakan alat/cara KB. Berikut diagram persentase
pelayanan KB oleh dokter, bidan, dan perawat di Puskesmas per kabupaten/kota di
Sulawesi Selatan.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 42
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 29. Pelayanan KB oleh Dokter, Bidan dan Perawat di Puskesmas
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram 29 menunjukkan bahwa pelayanan KB oleh dokter, bidan, dan perawat
di puskesmas umumnya telah mencapai 80% (rerata Sulawesi Selatan 90,3%)
kecuali Pinrang (46,7%).
Pelatihan Petugas Puskesmas
Tabel 18
Pelatihan Petugas Puskesmas di Sulawesi Selatan, 2010
No Pelatihan Jumlah Persentase
1 Pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN)
1.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih APN 56 13.6
1.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
APN
6 1.5
1.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih APN 330 80.1
1.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawatan, dan bidan dilatih APN
77 18.7
2 Manajemen asfksia bayi baru lahir
2.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih
manajemen asfksia bayi baru lahir
51 12.4
2.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
manajemen asfksia bayi baru lahir
10 2.4
2.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih
manajemen asfksia bayi baru lahir
300 72.8
2.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih manajemen asfksia bayi
baru lahir
106 25.7
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
43
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
3 Manajemen Bayi Berat Lahir Rendah
3.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih
manajemen bayi berat lahir rendah
34 8.3
3.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
manajemen bayi berat lahir rendah
8 1.9
3.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih
manajemen bayi berat lahir rendah
227 55.1
3.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih manajemen bayi berat
lahir rendah
180 43.7
4 PONED
4.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih
PONED
79 19.2
4.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
PONED
10 2.4
4.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih
PONED
130 31.6
4.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih PONED
260 63.1
5 Fasilitator Desa Siaga
5.1. Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih
fasilitator Desa Siaga
155 37.7
5.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
fasilitator Desa Siaga
46 11.2
5.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih
fasilitator Desa Siaga
307 74.5
5.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih fasilitator Desa Siaga
65 15.8
6 Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS)
6.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih
MTBS
84 20.4
6.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
MTBS
114 27.7
6.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih
MTBS
209 50.7
6.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih MTBS
156 37.9
7 Pelatihan Audit Maternal Perinatal (AMP)
7.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih AMP 69 16.7
7.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
AMP
9 2.2
7.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih AMP 213 51.7
7.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawatan, dan bidan dilatih AMP
1890 43.7
8 Pelatihan Manajemen Puskesmas
8.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih
manajemen Puskesmas
111 26.9
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 44
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
8.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
manajemen Puskesmas
62 15.0
8.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih
manajemen Puskesmas
64 15.5
8.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih manajemen Puskesmas
248 60.2
9 Pelatihan Orientasi P4K (Program Perencanaan Persalinan
dan Pencegahan Komplikasi) / Pelatihan Penggunaan Buku
KIA
9.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih
Orientasi P4K (Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi) / Pelatihan Penggunaan Buku KIA
97 23.5
9.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
Orientasi P4K (Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi) / Pelatihan Penggunaan Buku KIA
83 20.1
9.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih
Orientasi P4K (Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi) / Pelatihan Penggunaan Buku KIA
288 69.9
9.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih Orientasi P4K (Program
Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikas) /
Pelatihan Penggunaan Buku KIA
116 28.2
10 Cold Chain
10.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih Cold
Chain
15 3.6
10.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
Cold Chain
206 50.0
10.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih Cold
Chain
81 19.7
10.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih Cold Chain
167 40.5
11 Safe Injection/Vaksinator
11.1. Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih safe
injection/vaksinator
17 4.1
11.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
safe injection/vaksinator
189 45.9
11.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih safe
injection/vaksinator
108 26.2
11.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih safe injection/vaksinator
172 41.7
12 Pelatihan Pengelola Imunisasi
12.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih
pengelola imunisasi
14 3.4
12.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
pengelola imunisasi
262 63.6
12.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih
pengelola imunisasi
98 23.8
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
45
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
12.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih pengelola imunisasi
99 24.0
13 Pelatihan Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh
Kembang Anak (SDITK)
13.1 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga dokter dilatih
SDITK
28 6.8
13.2 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga perawat dilatih
SDITK
32 7.8
13.3 Jumlah Puskesmas yang memiliki tenaga bidan dilatih
SDITK
202 49.0
13.4 Jumlah Puskesmas yang tidak memiliki satupun tenaga
dokter, perawat, dan bidan dilatih SDITK
185 44.9
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel 18 menunjukkan bahwa masih ada Puskesmas yang tidak memiliki
tenaga dokter, perawat, ataupun bidan yang pernah mengikuti pelatihan APN (18,7%),
manajemen asfksia bayi baru lahir (25,7%), manajemen BBLR (43,7%), PONED
(63,1%), fasilitator desa siaga (15,8%), MTBS (37,9%), AMP (43,7%), manajemen
Puskesmas (60,2%), P4K/ pelatihan penggunaan buku KIA (28,2%), cold chain
(40,5%), safe injection/ vaccinator (41,7%), pengelola imunisasi (24,0%), dan SDIDTK
(44,9%).
Diagram 30. Pelatihan PONED oleh Dokter, Bidan dan Perawat
di Puskesmas per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 46
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 30 menunjukkan masih banyak Puskesmas di setiap kabupaten/ kota
yang belum memiliki tenaga dokter, bidan, maupun perawat yang telah mendapatkan
Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Dasar (PONED). Di Kabupaten Enrekang
hanya 15,4% Puskesmas yang memiliki tenaga dokter, perawat, atau bidan yang telah
mendapatkan pelatihan tersebut.
Diagram 31. Pelatihan Manajemen Puskesmas oleh Dokter, Bidan dan Perawat
di Puskesmas per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram 31 menunjukkan bahwa pelatihan manajemen Puskesmas, persebaran
tenaga yang pernah mengikuti pelatihan belum merata. Di kabupaten Sidrap, hanya
7,1% Puskesmas yang memiliki tenaga yang telah mendapatkan pelatihan manajemen
Puskesmas, sedangkan di Kabupaten Wajo, 90,% Puskesmas telah memiliki tenaga
dilatih manajemen Puskesmas.
Selain memfasilitasi petugas kesehatan untuk mengikuti pelatihan, Dinas
Kesehatan juga melakukan pemantauan terhadap petugas Puskesmas yang telah
mengikuti pelatihan. Berikut pernyataan beberapa narasumber terkait dengan hal
tersebut :
Setelah mereka mengikuti pelatihan kemudian dilakukan monitoring dengan
mem-follow up kegiatan, pemantauan dilakukan dengan melihat POAnya
atau rencana kegiatan yang ada di PKM. pihak dinkes semua bidang turun
ke Puskesmas untuk memantau setiap bulan. Pemantauan dilakukan setiap
sebulan sekali. (AT, 38, Kabid Promkes)
Iya, kalau di dinkes itu melakukan pelatihan, kami juga biasa turun memantau
apakah hasil pelatihan tersebut ditindak lanjuti di area bawah. (HM, Kepala
seksi KIA)
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
47
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Kita pantau. Jadi setiap triwulan kami turun ke lapangan untuk melihat cara
penyimpanan vaksin dan cara penyuntikannya. Terutama soal penyimpanan,
untuk sekarang masalah penyimpanan sudah cukup bagus. Cuma karena
kemarin ada masalah di daerah terpencil, dak ada listrik. Jadi kami gunakan
tenaga surya untuk coldchainnya. kami pertriwulan melakukan pemantauan
pelatihan. Cara penyimpanan vaksin, pendistribusian sampai ke sasaran. (IK,
36, Kabid imunisasi KIA)
2. Sumber Pembiayaan Pelayanan Kesehatan
Pembiayaan kesehatan memegang peranan yang amat vital untuk
penyelenggaraan pelayanan kesehatan guna mencapai berbagai tujuan merencanakan
dan mengatur pembiayaan kesehatan yang memadai (health care fnancing) sehingga
menolong perusahaan untuk dapat memobilisasi sumber-sumber pembiayaan kesehatan,
mengalokasikannya secara rasional serta menggunakannya secara efsien dan efektif.
Pembiayaan pembangunan kesehatan diarahkan agar dapat mendukung
berbagai program antara lain penerapan paradigma sehat, pelaksanaan desentralisasi,
mengatasi berbagai kedaruratan, peningkatan profesionalisme tenaga kesehatan dan
pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Untuk mencapai
tujuan pembangunan kesehatan tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya
melalui upaya pelayanan kesehatan dasar yang menitikberatkan pada upaya pencegahan
dan penyuluhan kesehatan. Dalam melaksanakan upaya pelayanan kesehatan tersebut
diperlukan pembiayaan, baik yang bersumber dari pemerintah maupun masyarakat,
termasuk swasta.
Sejak lama sudah dikembangkan berbagai cara untuk memberikan jaminan
kesehatan bagi masyarakat. Pada saat ini berkembang berbagai cara pembiayaan
kesehatan praupaya, yaitu dana sehat, asuransi kesehatan, asuransi tenaga kerja (Astek)/
Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek), Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM) dan asuransi jiwa lain. Untuk penduduk miskin disediakan Kartu Sehat, sehingga
mereka tidak perlu membayar pelayanan kesehatan yang digunakannya (karena telah
dibayar oleh pemerintah).
Salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yaitu
pelayanan kesehatan (pengobatan) gratis kepada masyarakat. Program tersebut
berjalan sejak bulan Juli 2008. Kepesertaan pelayanan kesehatan (pengobatan) gratis
ini diperuntukkan bagi seluruh penduduk Sulawesi Selatan yang belum mempunyai
jaminan kesehatan yang berasal dari program lain dan memiliki kartu identitas. Pelayanan
Kesehatan (pengobatan) gratis pada masyarakat diberikan sesuai fungsi dan kemampuan
sarana, prasarana dan tenaga kesehatan (pengobatan) yang ada di setiap tingkat fasilitas
pelayanan kesehatan dan diberikan sesuai dengan indikasi medik. Jenis pelayanan
kesehatan (pengobatan) yang diberikan berupa pelayanan kesehatan tingkat dasar dan
pelayanan kesehatan (pengobatan) tingkat lanjut.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 48
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Sumber Dana Pelayanan KIA
Diagram 32. Sumber Anggaran KIA di Tingkat Desa/Kelurahan per Kabupaten/
Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram 32 menunjukkan bahwa mayoritas alokasi anggaran untuk kegiatan KIA
bersumber dari ADD dan APBD. Meskipun telah ada program kesehatan (pengobatan)
gratis, namun dari penelitian di lapangan masih ditemukan polindes/ poskesdes/pustu
yang menetapkan biaya pelayanan kesehatan tertentu untuk bayi dan balita.
Diagram 33. Pelayanan Kesehatan Bayi yang Membayar di Polindes/Poskesdes/
Pustu per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
49
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 33 menunjukkan bahwa umumnya pelayanan kesehatan untuk bayi
dan balita di poskesdes, polindes, maupun pustu sudah tidak menarik biaya dari pasien/
pengunjung, bahkan beberapa kabupaten (Selayar, Jeneponto, Pangkep, Soppeng,
Pinrang, dan Parepare) 100% tidak menetapkan biaya untuk pelayanan kesehatan bagi
bayi dan balita. Sumber biaya yang digunakan untuk pelayanan tersebut disajikan dalam
diagram berikut :
Diagram 34. Sumber Biaya pelayanan di Polindes/Puskesdes/Pustu per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram 34 menunjukkan bahwa biaya pelayanan kesehatan pada umumnya
dibebankan kepada keluarga atau orang tua pasien.
Diagram 35. Pelayanan Kesehatan Bayi dan Balita yang Membayar di Posyandu
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 50
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 35 menunjukkan mayoritas bayi/balita tidak membayar di posyandu,
hanya 2,5% desa di Sulawesi Selatan yang menyatakan bayi/ balita mengeluarkan biaya
untuk pelayanan kesehatan tertentu di posyandu.
Diagram 36. Sumber Biaya Pelayanan di Posyandu Desa/Kelurahan per
Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Diagram di atas menunjukkan umumnya biaya pelayanan kesehatan bayi/ balita
di posyandu dibebankan kepada orang tua atau keluarga bayi/balita (rata-rata Sulawesi
Selatan 94,7%).
3. Kondisi Fisik Puskesmas
Upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas, diantaranya meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. Di
sini peran Puskesmas sebagai institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan
di jenjang tingkat pertama yang terlibat langsung dengan masyarakat menjadi sangat
penting. Puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan
di wilayah kerjanya yaitu dengan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya agar terwujudnya
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Dengan demikian, akses terhadap pelayanan
kesehatan terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat ditingkatkan melalui
peningkatan kinerja dan kualitas fasilitas fsik yang ada di Puskesmas.
Oleh karena itu untuk meningkatkan kinerja Puskesmas diperlukan data dasar
Puskesmas mengenai sarana, prasarana, peralatan, dan tenaga yang digunakan untuk
mendukung pengambilan keputusan.
Survei GAVI yang dilaksanakan di Sulawesi Selatan tahun 2010 dilakukan
pendataan pada 412 Puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah Sulawesi Selatan
(Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan, 2009). Berikut tabel yang menunjukkan
distribusi Puskesmas berdasarkan kabupaten se Sulawesi Selatan.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
51
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 19
Distribusi Puskesmas Berdasarkan Kabupaten di Sulawesi Selatan, 2010
Kabupaten/Kota
Tipe PKM
Total
Perawatan Non Perawatan
Selayar 9 4 13
Bulukumba 10 6 16
Bantaeng 5 7 12
Jeneponto 9 8 17
Takalar 12 2 14
Gowa 11 12 23
Sinjai 12 3 15
Bone 11 25 36
Maros 6 8 14
Pangkep 17 2 19
Barru 8 2 10
Soppeng 6 11 17
Wajo 11 11 22
Sidrap 11 3 14
Pinrang 13 2 15
Enrekang 12 1 13
Luwu 10 11 21
Tana Toraja 6 14 20
Luwu Utara 7 5 12
Luwu Timur 12 2 14
Toraja Utara 8 14 22
Makassar 9 28 37
Parepare 6 0 6
Palopo 3 7 10
Total 224 188 412
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel 19 di atas menunjukkan bahwa diantara 24 Kabupaten/Kota di Sulawesi
Selatan, hanya Kota Pare-pare yang Puskesmasnya bertipe perawatan semua, tidak ada
yang non perawatan.
Berikut mapping wilayah Puskesmas di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi
Sulawesi Selatan.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 52
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Gambar 3. Mapping Wilayah Puskesmas di Sulawesi Selatan tahun 2010
Gambar diatas menunjukkan distribusi Puskesmas dengan akses 5 Km di
Sulawesi Selatan yang tidak terjangkau oleh wilayah kerja Puskesmas. Masyarakat
dapat mengakses puskesmas jika terletak 5 Km dari tempat tinggalnya. Gambar di atas
menunjukkan bahwa masih banyak wilayah di Sulawesi Selatan yang tidak tercover oleh
wilayah kerja puskesmas. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya kondisi
geografs yang sulit dijangkau. Kota yang seluruh wilayahnya tercover oleh wilayah kerja
puskesmas hanya Kota Makassar, Pare-pare, dan Palopo.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
53
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 20
Karakteristik Puskesmas di Sulawesi Selatan tahun 2010
No Karakteristik Puskesmas Jumlah Persentase
1 Jumlah Puskesmas 412 100
2 Tipe Puskesmas
2.1 Perawatan 224 54.4
2.2 Non Perawatan 188 45.6
3 Letak Puskesmas
3.1 Biasa 332 80.6
3.2 Daerah terpencil 58 14.1
3.3 Sangat terpencil 22 5.3
4 Kondisi fsik gedung Puskesmas
4.1 Baik 257 62.4
4.2 Rusak ringan 91 22.1
4.3 Rusak sedang 36 8.7
4.4 Rusak Berat 8 1.9
4.5 Sedang dalam perbaikan 20 4.9
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel 20 menunjukkan jumlah Puskesmas perawatan dan nonperawatan hampir
berimbang. Sebagian besar terletak di daerah dengan kategori biasa (80,6%) dan 5,3%
terletak di daerah sangat terpencil. Kondisi fsik gedung Puskesmas mayoritas dalam
keadaan baik (62,4%).
Puskesmas Perawatan adalah Puskesmas yang berdasarkan SK Bupati atau
Walikota menjalankan fungsi perawatan dan untuk menjalankan fungsinya diberikan
tambahan ruangan dan fasilitas rawat inap yang sekaligus merupakan pusat rujukan
antara.
Kondisi Bangunan Puskesmas adalah informasi mengenai kondisi fsik bangunan
Puskesmas pada tahun 2010 :
- Baik; apabila bangunan Puskesmas yang bersangkutan dalam kondisi baik atau tidak
mengalami kerusakan.
- Rusak Ringan; apabila bangunan Puskesmas yang bersangkutan terjadi kerusakan
pada komponen pintu, jendela, kaca, penggantung, pengunci, cat, dan sebagainya.
- Rusak Berat; apabila bangunan Puskesmas yang bersangkutan terjadi kerusakan
pada komponen pokok dari bangunan seperti pilar, pondasi, sloope, dan ring balk.
- Rusak Total; apabila bangunan Puskesmas yang bersangkutan tidak dapat
dipergunakan sama sekali.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 54
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 21
Fasilitas yang Dimiliki Puskesmas di Sulawesi Selatan tahun 2010
No Sarana Puskesmas Minimum Maksimum Mean Median
1 Jumlah Puskesmas keliling roda 4 0 4 1 1
2 Jumlah Puskesmas keliling air 0 2 0 0
3 Jumlah Puskesmas pembantu 0 13 3 3
4 Jumlah polindes di wilayah kerja 0 14 1 0
5 Jumlah poskesdes di wilayah kerja 0 16 2 2
6 Jumlah Posyandu 0 78 21 20
No Sarana Puskesmas Jumlah Persentase
1 Memiliki fasilitas listrik PLN 400 97.1
2 Memiliki fasilitas telepon 168 40.8
3 Memiliki fasilitas air bersih 378 91.7
4 Memiliki fasilitas komputer dengan kondisi bagus 355 86.2
5 Memiliki fasilitas internet 44 10.7
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel 21 menunjukkan rata-rata jumlah Puskesmas keliling roda empat per
Puskesmas adalah dua buah. Berikut diagram yang menunjukkan kepemilikan Puskesmas
keliling roda empat Puskesmas per kabupaten se-Sulawesi Selatan.
Diagram 37. Persentase Kepemilikan Puskesmas Keliling per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Sistem informasi manajemen yang dikembangkan di Dinas Kesehatan pada
umumnya sudah terpadu dengan Puskesmas, walaupun masih ada beberapa Puskesmas
yang belum memiliki fasilitas yang memadai. Jumlah Puskesmas yang memiliki fasilitas
komputer dengan kondisi bagus sebanyak 86,2%, artinya masih terdapat 13,8% yang
tidak memiliki komputer dengan kondisi bagus. Puskesmas yang memiliki fasilitas internet
hanya 10,7%.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
55
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Sangat terpadu karena sudah ada softwarenya sekarang. Seandainya sudah bisa online
juga lebih bagus lagi sekarang, tapi sepertinya 2011 diusahakan untuk online. Sangat
minimal sekali itu bahkan tidak ada kesalahan input atau manajemen-manajemen lain
yang mengenai masalah imunisasi yang bisa salah karena sudah ada softwarenya.
Tidak seperti dulu waktu saya masih di Puskesmas. Itu kertas-kertas grafk kita gambar
semua. Pakai kalkulator, kalau ini kan semua masukkan data perdesa saja/kelurahan,
langsung muncul disitu PWS-nya, (Ja, 32, Wasor imunisasi)
Terus terang kalau kami bisa katakan jujur bahwa ini belum. Semuanya masih bersifat
manual melalui SP2TP. Itu kendalanya salah satunya adalah belum semua Puskesmas
dilatih manajemen Puskesmas. Disamping itu belum ada instrumen baku yang kita
jadikan acuan tapi tahun ini kita hampir pasti mendapat bantuan SIMPUS. Inilah nanti
kita mulai sistem informasi yang terpadu tidak hanya dengan Puskesmas tapi semua
yang ada hubungannya dengan kesehatan. (SA, 52, Kadinkes)
Jadi bukan dikatakan tidak ada. Sistem informasi kesehatan dalam hal ini kita berbicara
perangkat lunak dengan software program itu sudah ada beberapa Puskesmas kita
yang punya yang seperti itu, cuma karena namanya sistem informasi kan bayangan
kita itu teknologi IT kan, seharusnya seperti itu. Kita sudah link depkes tapi untuk input
disini kan manual dulu karena ini yang internetnya belum bisa kita jangkau karena
kondisi kantor. Bagaimana kita membangun suatu sistem disini kondisi kantor mau
dibongkar misalnya. Itu kan tidak efsien dan efektif. Jadi bagus kita tunggu dulu suatu
kondisi tempat kita standby harus normal, daripada kita terburu-buru bangun tapi
kembali nol lagi. Saya kira sistem informasi sudah ada beberapa Puskesmas ada,
hardware yang belum. (MY, 48, Kadinkes)
Sistem informasi masih manual dikarenakan lokasi dari PKM belum memungkinkan
untuk menggunakan jaringan internet, lokasi kabupaten Barru ini masih banyak yang
terpencil dan berbatasan dengan pegunungan. (AT, 38, Kabid Promkes)
Kita sebenarnya menginginkan online, tapi kendala teknis lebih menonjol karena kita
tersebar di wilayah cukup luas dengan 14 kecamatan 22 Puskesmas dan sekian puluh
Pustu dan Poskesdes. Kita sekarang menggunakan media yang ada, misalnya untuk
laporan mingguan via SMS, pernah kita melakukan coding tidak perlu tulis lengkap
misalnya diare kita sepakat kodenya apa sekian, ada beberapa cara disamping dengan
laporan perbulan. Untuk laporan online belum ada Puskesmas yang menggunakan.
(AA, 53, Kadinkes).
4. Logistik Puskesmas
Untuk mendukung kelancaran pelayanan kesehatan di Puskesmas dibutuhkan
sarana dan prasarana yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuatitasnya.
Tabel 22
Sarana dan Prasarana Puskesmas di Sulawesi Selatan tahun 2010
No Sarana
Jumlah
Jumlah Puskesmas dengan
kondisi sarana baik dan tidak baik
Baik/ berfungsi
Tidak baik/tidak
berfungsi
n % n % n %
1 Jumlah Puskesmas yang memiliki bidan kit 355 86.2 319 90.4 34 9.6
2 Jumlah Puskesmas yang memiliki resusitasi kit 204 49.5 182 90.1 20 9.9
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 56
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
3 Jumlah Puskesmas yang memiliki alat
pengukur tekanan darah
391 94.9 330 85.5 56 14.5
4 Jumlah Puskesmas yang memiliki stetoskop 387 93.9 354 92.7 28 7.3
5 Jumlah Puskesmas yang memiliki stetoskop
laenec
344 83.5 327 96.7 11 3.3
6 Jumlah Puskesmas yang memiliki termometer 343 83.3 317 93.5 22 6.5
7 Jumlah Puskesmas yang memiliki ARI Timer/
Timer ISPA
181 44.0 162 91.0 16 9.0
8 Jumlah Puskesmas yang memiliki tensimeter
dengan manset anak
186 45.1 162 89.0 20 11.0
9 Jumlah Puskesmas yang memiliki meja alat 290 70.4 272 95.4 13 4.6
10 Jumlah Puskesmas yang memiliki tempat tidur
periksa
388 94.2 369 97.1 11 2.9
11 Jumlah Puskesmas yang memiliki timbangan
dewasa
400 97.1 363 92.4 30 7.6
12 Jumlah Puskesmas yang memiliki timbangan
bayi
378 91.7 343 92.2 29 7.8
13 Jumlah Puskesmas yang memiliki pengukur
tinggi badan
364 88.3 324 90.5 34 9.5
14 Jumlah Puskesmas yang memiliki stok buku
KIA
333 81.2 327 99.1 3 0.9
15 Jumlah Puskesmas yang memiliki stok Buku
KMS
250 60.7 245 99.2 2 0.8
16 Jumlah Puskesmas yang memiliki wastafel 219 53.3 171 79.5 44 20.5
17 Jumlah Puskesmas yang memiliki poster/iklan
layanan masyarakat
362 87.9 344 96.6 12 3.4
18 Jumlah Puskesmas yang memiliki PONED kit 104 25.2 94 91.3 9 8.7
19 Jumlah Puskesmas yang memiliki stok buku
bagan MTBS
171 41.5 157 94.6 9 5.4
20 Jumlah Puskesmas yang memiliki stok formulir
MTBS bayi < 2 bulan
164 39.8 154 95.7 7 4.3
21 Jumlah Puskesmas yang memiliki stok formulir
MTBS bayi 2 59 bulan
165 40.0 154 95.1 8 4.9
22 Jumlah Puskesmas yang memiliki stok register
kohort bayi
304 73.8 289 98.0 6 2.0
23 Jumlah Puskesmas yang memiliki stok register
kohort balita
263 63.8 252 98.4 4 1.6
24 Jumlah Puskesmas yang memiliki stok
pedoman teknis Vitamin K1
168 40.8 161 98.8 2 1.2
25 Jumlah Puskesmas yang memiliki stok obat
terkait KIA (oksitosin, Fe, Vit. A, Vit K1 ampul,
oralit, zinc, antibiotik oral, antibiotik injeksi,
cairan infus)
357 86.7 339 98.3 6 1.7
26 Jumlah Puskesmas yang memiliki ruang
persalinan
236 57.3 226 96.6 8 3.4
27 Jumlah Puskesmas yang memiliki tempat tidur
kebidanan
310 75.2 282 94.0 18 6.0
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
57
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 22 menunjukkan bahwa belum semua Puskesmas memiliki Sarana
dan Prasarana Penunjang Kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang lengkap.
Kepemilikan PONED kit hanya 25,2% dari jumlah keseluruhan Puskesmas. Berikut
diagram yang menunjukkan persentase Puskesmas yang memiliki PONED kit
berdasarkan kabupaten/Kota.
Diagram 38. Ketersediaan Fasilitas Poned Kit di Puskesmas
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel 23
Sarana Imunisasi Puskesmas di Sulawesi Selatan tahun 2010
No Sarana Imunisasi
Jumlah
Jumlah Puskesmas dengan kondisi
sarana imunisasi baik dan tidak baik
Baik/berfungsi
Tidak baik/
tidak berfungsi
n % n % n %
1 Jumlah Puskesmas yang
memiliki cool pack
390 94.7 375 97.4 10 2.6
3 Jumlah Puskesmas yang
memiliki alat suntik
405 98.3 396 99.5 2 0.5
4 Jumlah Puskesmas yang
memiliki refrigerator
305 74.0 286 94.7 16 5.3
5 Jumlah Puskesmas yang
memiliki vaccine carrier/termos
397 96.4 380 97.9 8 2.1
6 Jumlah Puskesmas yang
memiliki safety box
370 90.0 355 98.3 6 1.7
7 Jumlah Puskesmas yang
memiliki wastafel
117 28.4 100 90.9 10 9.1
8 Jumlah Puskesmas yang
memiliki genset
126 30.6 110 88.7 14 11.3
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 58
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
9 Jumlah Puskesmas yang
memiliki poster/iklan layanan
masyarakat
353 85.7 332 98.5 5 1.5
10 Jumlah Puskesmas yang
memiliki termostat
314 76.2 291 95.7 13 4.3
11 Jumlah Puskesmas yang
memiliki lembar pemantauan
suhu
349 85.1 330 97.9 7 2.1
12 Jumlah Puskesmas yang
memiliki stok vaksin HbO
398 96.6 382 99.2 3 0.8
13 Jumlah Puskesmas yang
memiliki stok vaksin DPT
398 96.6 381 99.0 4 1.0
14 Jumlah Puskesmas yang
memiliki stok vaksin polio
397 96.4 380 99.0 4 1.0
15 Jumlah Puskesmas yang
memiliki stok vaksin campak
401 97.3 384 99.0 4 1.0
16 Jumlah Puskesmas yang
memiliki stok vaksin BCG
396 96.1 377 98.4 6 1.6
17 Jumlah Puskesmas yang
memiliki stok format RR
302 74.2 290 99.0 3 1.0
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Tabel di atas menunjukkan masih ada Puskesmas dengan sarana imunisasi
belum lengkap. Kepemilikan wastafel hanya 28,4% dari jumlah keseluruhan Puskesmas
dan jumlah Puskesmas yang memiliki genset hanya 30.6%.
Diagram 39. Ketersediaan Wastafel Poli Imunisasi di Puskesmas
per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
59
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram di atas menunjukkan bahwa di Kabupaten Enrekang, 100% tidak
memiliki wastafel di poli imunisasi. Untuk ketersediaan genset, dapat dilihat pada
diagram 37. Kabupaten Bulukumba dan jeneponto tidak memiliki genset.
Diagram 40. Ketersediaan Genset di Puskesmas per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
5. Mutu Pelayanan Puskesmas
Puskesmas adalah penyelenggara upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh,
terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif
masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya
kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk
masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan
mutu pelayanan kepada perorangan.

Tabel 24 Jenis Pelayanan Terkait Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
di Puskesmas Sulawesi Selatan, 2010
No Jenis Pelayanan Jumlah Persentase
1 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
penyuluhan/promosi kesehatan
404 98.1
2 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan lingkungan
397 96.4
3 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
penyuluhan/promosi kesehatan
404 98.1
4 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
4.1 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
persalinan normal
362 87.9
4.2 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
imunisasi HbO bayi baru lahir ( < 7 hari)
396 96.1
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 60
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
4.3 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
MTBS pada bayi balita
312 75.7
4.4 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan Audit Maternal
Perinatal
341 82.8
4.5 Jumlah Puskesmas yang melakukan otopsi verbal pada
kematian maternal/neonatal
297 72.1
4.6 Jumlah Puskesmas yang melakukan kunjungan neonatus 403 97.8
4.7 Jumlah Puskesmas yang melakukan kunjungan bayi 401 97.3
4.8 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
tumbuh kembang bayi - balita
385 93.4
4.9 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan KIA
di luar gedung
403 97.8
5 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
Keluarga Berencana
411 99.8
6 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan gizi 403 97.8
7 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
perbaikan gizi
403 97.8
8 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan imunisasi
8.1 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
imunisasi dasar lengkap pada bayi
412 100
8.2 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
imunisasi anak sekolah
405 98.3
8.3 Jumlah Puskesmas yang menyelenggarakan pelayanan
imunisasi TT pada WUS/ibu hamil
405 98.3
9 Jml PKM yang menyelenggarakan pelayanan pengobatan 410 99.5
Sumber : Data Primer Survei GAVI 2010
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa dari semua jenis pelayanan terkait KIA,
hanya pelayanan imunisasi dasar lengkap pada bayi dan balita yang mencapai 100%.
Penerapan MTBS untuk bayi dan balita hanya 75,7% yang artinya masih ada seperempat
dari jumlah keseluruhan Puskesmas yang belum menerapkan Manajemen Terpadu Balita
Sakit di Puskesmas.
Kalau penerapan belum sampai 100% dari 12 itu paling cuma 50-60% karena MTBS
ini kendalanya dia membutuhkan waktu yang lama untuk 1 anak, untuk Puskesmas
yang punya pasien banyak, saya rasa tidak mungkin, kecuali kalau dikasih target
misalnya satu bulan 30 saja dulu. (EN, 34, Kabid Kesga).
Masih perlu kayaknya sosialisasi penerapannya karena belum ada poli khusus untuk
balita, jadi itu alur pelayanan kesehatan anaknya masih seperti yang dulu. Kalau ada
hasil pemeriksaan antara status imunisasi melalui MTBS dengan pelayanan imunisasi
di kesehatan semuanya itu saling mendukung karena jangan sampai ada perbedaan
yang mencolok. (Dl, 37, Bidan Koordinator)
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
61
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
6. Pelayanan KIA dan Imunisasi
Tabel 25
Cakupan Program KIA dan Imunisasi Puskesmas di Sulawesi Selatan, 2010
No Indikator
Cakupan
Minimum Maksimum Mean Median
1 Kunjungan antenatal ke-1 (K1 akses) 32 918 98.09 96.00
2 Kunjungan antenatal ke-4 (K-4) 15 162 81.78 83.00
3 Persalinan oleh tenaga kesehatan (Pn) 21 137 81.00 84.00
4 Kunjungan nifas lengkap (KF) 8 138 81.40 85.00
5 Deteksi faktor risiko/komplikasi oleh
masyarakat
0 205 32.42 16.50
6 Penanganan komplikasi obstetrik (PK) 0 126 44.65 27.00
7 Kunjungan neonatal Pertama (KN1) 7 159 85.55 88.00
8 Kunjungan Neonatal Lengkap (KNL) 0 142 82.43 86.00
9 Neonatus dengan komplikasi yang ditangani
(NK)
0 164 40.56 16.00
10 Kunjungan bayi (Kby) 15 302 85.47 88.00
11 Pelayanan anak balita (Kbal) 9 165 73.44 78.50
12 Pelayanan KB (PUS Aktif ber KB) 3 531 72.68 68.00
13 TT WUS 0 104 39.29 13.50
14 TT ibu hamil 0 185 86.83 92.00
15 HbO 0 331 73.93 79.00
16 BCG 7 973 96.93 96.00
17 DPT 3 7 333 89.93 93.00
18 Polio 4 6 333 90.57 94.00
19 Campak 6 245 89.38 92.00
20 DT Kelas 1 SD (BIAS) 8 452 97.77 99.00
21 TT Kelas 2 SD (BIAS) 1 174 96.31 99.00
22 TT Kelas 3 SD (BIAS) 1 1125 106.78 99.00
23 Campak 0 1998 221.25 100.00
Sumber : Data Primer Survei GAVI, 2010
Tabel 25 menunjukkan data cakupan program-program KIA. Kunjungan antenatal
adalah kunjungan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya. Kunjungan antenatal yang
sesuai standar adalah paling sedikit empat kali dengan distribusi pemberian pelayanan
yang di anjurkan adalah minimal satu kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan
kedua, dan dua kali pada triwulan ketiga. Tabel 21 menunjukkan bahwa rata-rata cakupan
antenatal K1 Sulawesi Selatan adalah 98,09%, dan cakupan K4 adalah 81,78%.
Cakupan K1 adalah cakupan ibu hamil yang pertama kali mendapat pelayanan
antenatal oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Indikator akses ini digunakan untuk mengetahui jangkauan pelayanan antenatal serta
kemampuan program dalam menggerakkan masyarakat.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 62
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 41. Cakupan K1 per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI, 2010
Diagram di atas menunjukkan cakupan K1 Sulawesi Selatan mencapai 98,1%.
Cakupan K1 terendah di Sulawesi Selatan adalah 83,4% (Kabupaten Tana Toraja).
Cakupan K4 adalah cakupan ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal
sesuai dengan standar, paling sedikit empat kali dengan distribusi waktu 1 kali pada trimester
ke-1, 1 kali pada trimester ke-2 dan 2 kali pada trimester ke-3 disuatu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu. Dengan indikator ini dapat diketahui cakupan pelayanan antenatal
secara lengkap (memenuhi standar pelayanan dan menepati waktu yang ditetapkan),
yang menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah, di samping
menggambarkan kemampuan manajemen ataupun kelangsungan program KIA.
Diagram 42. Cakupan K4 per Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI, 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
63
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Cakupan kunjungan ibu hamil K4 adalah cakupan ibu hamil yang telah memperoleh
pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit 4 kali di satu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu. Menurut Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan
tahun 2008 target cakupan pelayanan K4 tahun 2015 adalah 95%. Berdasarkan diagram
42 di atas dapat dilihat bahwa hanya Kabupaten Luwu Timur yang telah mencapai target
(99,08%). Cakupan pelayanan K4 Sulawesi Selatan adalah 81,78%.
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi
kebidanan adalah ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh oleh tenaga
kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu. melalui indikator ini dapat diperkirakan proporsi persalinan yang ditangani oleh
tenaga kesehatan dan ini menggambarkan kemampuan manajemen program KIA dalam
pertolongan persalinan sesuai standar.
Diagram 43. Cakupan Persalinan Nakes per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer Survei GAVI, 2010
Target Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan untuk cakupan
persalinan nakes adalah 90% untuk tahun 2015. Diagram 43 di atas menunjukkan bahwa
cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di Sulawesi selatan belum mencapai target
tersebut (81,0%). Hanya Kabupaten Luwu Timur yang mencapai target (100%).
Cakupan pelayanan nifas adalah pelayanan kepada ibu dan neonatal pada masa
6 jam sampai dengan 42 hari pasca persalinan sesuai standar. Pelayanan nifas sesuai
standar adalah pelayanan kepada ibu nifas sedikitnya 3 kali, pada 6 jam pasca persalinan
sampai dengan 3 hari, pada minggu ke dua, dan pada minggu ke empat termasuk pemberian
vitamin A dua kali serta persiapan dan/ atau pemasangan KB pasca persalinan. Melalui
indikator ini dapat diketahui cakupan pelayanan nifas secara lengkap (memenuhi standar
pelayanan dan menepati waktu yang ditetapkan), yang menggambarkan jangkauan
dan kualitas pelayanan kesehatan ibu nifas, di samping menggambarkan kemampuan
manajemen ataupun kelangsungan program KIA.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 64
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 44. Cakupan Kunjungan Nifas per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Target 2015 menurut Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan tahun
2008 untuk cakupan pelayanan nifas adalah 90%. Berdasarkan diagram di atas dapat
dilihat bahwa cakupan pelayanan nifas Sulawesi Selatan adalah 84,41%. Dengan
demikian cakupan Sulawesi selatan belum mencapai target. Hanya 5 kabupaten yang
telah mencapai target tersebut (Barru, Wajo, Soppeng, Luwu Timur, dan Enrekang).
Cakupan deteksi faktor risiko dan komplikasi oleh masyarakat adalah cakupan ibu
hamil dengan faktor risiko atau komplikasi yang ditemukan oleh kader atau dukun bayi
atau masyarakat serta dirujuk ke tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja pada kurun
waktu tertentu. Masyarakat meliputi keluarga ataupun ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas
itu sendiri. Indikator ini menggambarkan peran serta dan keterlibatan masyarakat dalam
mendukung upaya peningkatan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
65
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 45. Cakupan Deteksi Faktor risiko per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Cakupan deteksi faktor risiko/ komplikasi oleh masyarakat merupakan salah satu
program KIA yang diterapkan di Puskesmas. Diagram 45 di atas menunjukkan bahwa
cakupan deteksi risiko di Sulawesi Selatan hanya 30,75% dan di Kabupaten Pangkep
hanya 9,25%. Deteksi faktor risiko/komplikasi oleh masyarakat merupakan program
KIA yang baru. Pada saat survei GAVI 2010 dilaksanakan masih banyak Puskesmas
yang masih memakai program KIA dengan 8 indikator. Hal inilah yang menyebabkan
keterbatasan data yang diperoleh mengenai deteksi faktor risiko/ komplikasi.
Komplikasi kebidanan yang ditangani adalah ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu nifas
dengan komplikasi yang mendapatkan pelayanan sesuai standar pada tingkat pelayanan
dasar dan rujukan (Polindes, Puskesmas, Puskesmas PONED, Rumah Bersalin, RSIA/
RSB, RSU, dan RSU PONEK). Komplikasi kehamilan meliputi abortus, hiperemesis
gravidarum, perdarahan pervaginam, hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia,
eklampsia), kehamilan lewat waktu, dan ketuban pecah dini. Komplikasi dalam persalinan
meliputi kelainan letak/presentasi janin, partus macet/ distosia, hipertensi dalam kehamilan
(preeklampsia, eklampsia), perdarahan pascapersalinan, infeksi berat/sepsis, kontraksi
dini/persalinan prematur, dan kehamilan ganda. Komplikasi dalam nifas meliputi hipertensi
dalam kehamilan (preeklampsia, eklampsia), infeksi nifas, dan perdarahan nifas.
Indikator ini mengukur kemampuan manajemen program KIA dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara professional kepada ibu hamil bersalin
dan nifas dengan komplikasi.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 66
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 46. Cakupan Penangan Komplikasi per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani adalah ibu dengan komplikasi
kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang mendapat penanganan
defenitif sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih pada tingkat pelayanan
dasar dan rujukan. Target 2015 untuk cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani
menurut standar pelayanan minimal bidang kesehatan adalah 80%. Diagram 46 di atas
menunjukkan bahwa kabupaten/kota di Sulawesi Selatan belum ada yang mencapai
target tersebut.
Neonatus adalah bayi yang berumur 0 28 hari. Pengertian cakupan kunjungan
neonatal adalah pelayanan kepada neonatus pada masa 6 jam sampai dengan 28 hari
setelah kelahiran sesuai standar. Pelayanan Neonatus minimal 3 kali yaitu : satu kali pada
6-48 jam (KN 1), satu kali pada 3-7 hari (KN 2), Satu kali pada 8-28 hari (KN 3). Melalui
indikator ini dapat diketahui akses/jangkauan pelayanan kesehatan neonatal.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
67
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 47. Cakupan Kunjungan Neonatal 1 per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 47 menunjukkan bahwa cakupan kunjungan neonatus 1 (KN1) Sulawesi
Selatan adalah 85,55%.
Kunjungan neonatal lengkap adalah bila neonatus melakukan kunjungan ke
tenaga/fasilitas kesehatan atau dikunjungi oleh tenaga kesehatan minimal 3 kali sesuai
waktu yang telah ditentukan. Melalui indikator ini dapat diketahui efektiftas dan kualitas
pelayanan kesehatan neonatal.
Diagram 48. Cakupan Kunjungan Neonatal Lengkap per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 68
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 48 menunjukkan cakupan kunjungan neonatus lengkap (KNL) Sulawesi
Selatan adalah 82,43%. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan KNL lebih rendah
dibandingkan KN1 (85,55%). Target kunjungan neonatal pada tahun 2010 adalah 90%.
Dengan demikian baik KN1 maupun KNL tidak mencapai target.
Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani adalah cakupan neonatus
dengan komplikasi yang ditangani secara defnitif oleh tenaga kesehatan kompeten pada
tingkat pelayanan dasar dan rujukan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Penanganan defnitif adalah pemberian tindakan akhir pada setiap kasus komplikasi
neonatus yang pelaporannya dihitung 1 kali pada masa neonatal. Kasus komplikasi yang
ditangani adalah seluruh kasus yang ditangani tanpa melihat hasilnya hidup atau mati.
Indikator ini menunjukkan kemampuan sarana pelayanan kesehatan dalam
menangani kasus kasus kegawatdaruratan neonatal, yang kemudian ditindaklanjuti
sesuai dengan kewenangannya, atau dapat dirujuk ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi.
Diagram 49. Cakupan Neonatatus Komplikasi per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Target 2010 standar pelayanan minimal bidang kesehatan tahun 2008 untuk
cakupan neonatus komplikasi yang ditangani adalah 80%. Diagram 49 menunjukkan
cakupan neonatus komplikasi yang ditangani di Sulawesi Selatan hanya mencapai
39,12%, kabupaten Luwu bahkan hanya 2,11%. Hanya Kota Pare-pare yang mencapai
target tersebut.
Bayi adalah anak berumur 29 hari 11 bulan. Setiap bayi memperoleh pelayanan
kesehatan minimal 4 kali yaitu 1 kali pada umur 29 hari 3 bulan, 1 kali pada umur 3 6
bulan, 1 kali pada umur 6 9 bulan, dan 1 kali pada umur 9 11 bulan. Cakupan kunjungan
bayi adalah cakupan bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar
oleh dokter, bidan, dan perawat yang memiliki kompetensi klinis kesehatan, paling sedikit
4 kali di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Melalui indikator ini dapat diketahui
efektiftas, continuum of care dan kualitas pelayanan kesehatan bayi.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
69
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 50. Cakupan Kunjungan Bayi per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Target 2010 standar pelayanan minimal bidang kesehatan tahun 2008 untuk
kunjungan bayi adalah 90%. Berdasarkan diagram 50 di atas dapat dilihat bahwa hanya
enam kabupaten yang mencapai target tersebut (Tana Toraja, Luwu Timur, Bantaeng,
Barru, Gowa, dan Takalar).
Anak balita adalah anak berumur 12 59 bulan.setiap anak umur 12 59 bulan
memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan setiap bulan minimal 8 kali dalam
setahun yang tercatat pada kohort anak balita dan pra sekolah, buku KIA/KMS, atau
buku pencatatan dan pemantauan lainnya. Cakupan pelayanan anak balita adalah anak
balita (12 59 bulan) yang memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuahan dan
perkembangan.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 70
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 51. Cakupan Kunjungan Balita per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Target 2010 standar pelayanan minimal bidang kesehatan tahun 2008 untuk
kunjungan balita adalah 90%. Berdasarkan diagram 51 dapat dilihat bahwa hanya Kota
Parepare yang mencapai target tersebut.
Cakupan pelayanan Balita sakit adalah cakupan anak balita (umur 1259 bulan)
yang berobat ke Puskesmas dan mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar
di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Standar yang dimaksud disini adalah
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood
Illness (IMCI). MTBS merupakan suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tata
laksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 059 bulan (balita) secara
menyeluruh.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
71
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 52. Cakupan Pelayanan Balita Sakit per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 52 menunjukkan bahwa cakupan pelayanan balita sakit Sulawesi Selatan
adalah 53,42%. Pelayanan balita sakit merupakan salah satu program KIA Puskesmas
13 indikator. Pada saat survei GAVI 2010 dilaksanakan, masih banyak Puskesmas yang
masih menerapkan program KIA dengan 8 indikator dan MTBS belum diterapkan di seluruh
Puskesmas. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain terbatasnya jumlah
tenaga kesehatan yang dapat dilatih MTBS, perpindahan (mutasi) tenaga kesehatan
yang sudah dilatih, belum adanya tenaga kesehatan di Puskesmas yang sudah terlatih
MTBS, sudah ada tenaga kesehatan terlatih, tapi sarana dan prasarana belum siap,
belum adanya komitmen dari pimpinan Puskesmas, dan lain-lain.
Pasangan usia subur (PUS) adalah pasangan suami istri yang istrinya berusia
1549 tahun. Angka cakupan KB aktif menunjukkan tingkat pemanfaatan kontrasepsi
di antara para pasangan usia subur. Cakupan peserta KB aktif adalah jumlah peserta
KB aktif dibandingkan dengan jumlah pasangan usia subur di suatu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu. Indikator ini menunjukkan jumlah peserta KB baru dan lama yang
masih aktif memakai alat kontrasepsi terus-menerus hingga saat ini untuk menunda,
menjarangkan kehamilan atau yang mengakhiri kesuburan.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 72
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 53. Cakupan KB PUS per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Target 2010 standar pelayanan minimal bidang kesehatan tahun 2008 untuk
cakupan KB PUS adalah 70%. Cakupan rata-rata KB PUS Sulawesi Selatan telah
mencapai target (71,73%), namun masih ada beberapa kabupaten yang di bawah target
tersebut.
Universal Child Immunization (UCI) adalah tercapainya imunisasi dasar secara
lengkap pada bayi (0 11 bulan), ibu hamil, WUS, dan anak sekolah tingkat dasar.
Imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio,
4 dosis hepatitis B, dan 1 dosis campak. Ibu hamil dan WUS meliputi 2 dosis TT. Anak
sekolah tingkat dasar meliputi 1 dosis DT, 2 dosis TT dan 1 dosis campak.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
73
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 54. Cakupan TT WUS per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 54 menunjukkan bahwa hanya 5 kabupaten yang memenuhi standar
UCI untuk cakupan TT WUS (Bantaeng, Luwu timur, Makassar, Takalar, dan Bulukumba),
sedangkan cakupan TT WUS Sulawesi Selatan hanya 71,73%.
Diagram 55. Cakupan TT Bumil per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 55 menunjukkan cakupan TT bumil Sulawesi Selatan mencapai 88,56%.
Terdapat 6 kabupaten yang belum memenuhi standar UCI untuk imunisasi TT bumil yaitu
Selayar, tana Toraja, Toraja Utara, Parepare, Maros, dan Bulukumba.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 74
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 56. Cakupan HB0 per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 56 menunjukkan cakupan imunisasi HB0 dicapai hanya 5 kabupaten
(Bone, Sinjai, Jeneponto, Bantaeng, Pinrang, dan Luwu Timur. Cakupan imunisasi HB0
tingkat propinsi Sulawesi Selatan hanya 73,93%.
Diagram 57. Cakupan BCG per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 57 menunjukkan bahwa seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan telah
memenuhi standar UCI untuk imunisasi HB0. Cakupan imunisasi Propinsi Sulawesi
Selatan mencapai 95,88%.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
75
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 58. Cakupan DPT 3 per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 58 menunjukkan hanya kabupaten Selayar yang tidak memenuhi standar
UCI untuk cakupan umunisasi DPT3 (69,92%). Cakupan imunisasi DPT 3 di propinsi
Sulawesi Selatan adalah 92,82%.
Diagram 59. Cakupan Polio 4 per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 59 menunjukkan Cakupan imunisasi polio 4 hanya kabupaten Selayar
yang tidak memenuhi standar UCI. Cakupan imunisasi Polio 4 Sulawesi Selatan adalah
92,31%.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 76
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 60. Cakupan Campak per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 61 menunjukkan cakupan imunisasi campak Sulawesi Selatan adalah
91,16%. Hanya Kabupaten Selayar (73,77%) yang cakupannya belum memenuhi standar
UCI.
Bulan Imunisasi Anak Sekolah atau yang dikenal sebagai BIAS adalah bentuk
operasional dari imunisasi lanjutan pada anak sekolah yang dilaksanakan pada bulan
tertentu setiap tahunnya dengan sasaran semua anak kelas 1, 2, dan 3 Sekolah Dasar
di seluruh Indonesia. Imunisasinya meliputi imunisasi DT untuk kelas 1 SD, imunisasi TT
untuk kelas 2 SD, imunisasi TT untuk kelas 3 SD, dan imunisasi campak untuk kelas 1
SD.
Diagram 61. Cakupan BIAS 1 SD per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
77
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 61 menunjukkan imunisasi DT untuk kelas 1 SD (BIAS 1 SD), kabupaten
Jeneponto masih belum memenuhi standar UCI. Data cakupan BIAS 1 SD Kota Palopo
tidak diperoleh di lapangan. Namun secara umum cakupan BIAS 1 SD telah memenuhi
standar UCI.
Diagram 62. Cakupan BIAS 2 SD per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 62 menunjukkan secara umum cakupan BIAS 2 SD Sulawesi Selatan
telah memenuhi standar UCI (96,31%).Cakupan BIAS kelas 2 SD kota Palopo datanya
tidak diperoleh, sedangkan cakupan BIAS 2 SD Kabupaten Jeneponto hanya 76,0%.
Diagram 63. Cakupan Bias 3 SD per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 78
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 63 menunjukkan pada umumnya cakupan BIAS 3 SD telah memenuhi
standar UCI (96,24%), kecuali Kabupaten Jeneponto (77,0%). Data untuk cakupan
imunisasi TT BIAS kelas 3 SD Kota Palopo tidak diperoleh.
Diagram 64. Cakupan Bias Campak per Kabupaten/Kota
di Provinsi Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 54 menunjukkan Kabupaten Jeneponto belum memenuhi standar UCI
untuk cakupan BIAS campak. Rata-rata cakupan BIAS campak Sulawesi Selatan sudah
memenuhi standar UCI (95,88%). Data cakupan imunisasi BIAS campak untuk Kabupaten
Sinjai dan Luwu tidak diperoleh.
Berdasarkan data yang diperoleh masih banyak program KIA yang belum
mencapai target. Upaya yang dilakukan dinas kesehatan dalam memfasilitasi Puskesmas
yang cakupannya PWS-nya tidak tercapai adalah melalui sweeping, pendampingan,
melakukan atau menjalin kerjasama lintas program dan lintas sektor. Berikut informasi
dari beberapa narasumber mengenai upaya-upaya yang dilakukan oleh dinas kesehatan
dalam memfasilitasi Puskesmas dengan cakupan PWS tidak tercapai.
Dalam APBD itu ada memang disiapkan anggaran untuk sweeping. Jadi itu anggaran
untuk sweeping memang yang kita laksanakan itu setelah bulan Mei, bulan April,
Juli, September. Jadi kita memang persiapkan anggarannya. Jadi kita pantau dalam
triwulan pertama misalnya ada Puskesmas ini, ya kita drop dana kesana, laksanakanlah
sweeping untuk sekian desa misalnya. Karena kita terpantau disini, ini kan sudah ada
cakupannya semua, jadi kalau ini kan langsung terprogram ini nanti kalau misalnya
kuning, merah, jadi kalau yang merah-merah ini yang rawan yang perlu kita tindak
lanjuti. (Ja, 32, wasor imunisasi)
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
79
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Salah satu program utama yang diperkuat dalam KIA adalah PWS. Ini juga nanti ada
tim yang kami tugaskan turun langsung ke Puskesmas. Selanjutnya mengumpulkan
para bidan baik bidan Puskesmas maupun bidan desa untuk mengkaji dan mencari
solusi permasalahan-permasalahan KIA yang tertuang dalam PWS tersebut. Kalau
ada yang tidak tercapai itu dicari apa ada permasalahannya, kemudian dicari solusinya
secara bersama-sama bahkan kalau perlu melibatkan lintas sektor termasuk dengan
masyarakat. Salah satu strategi yang kita kembangkan adalah melalui desa siaga.
Disini semua potensi desa harus berperan penting untuk menyukseskan program
kesehatan terutama KIA. (SA, 52, kadinkes)
Saya dulu mengambil cara istilah pendampingan, jadi kala ada yang betul betul
kedodoran targetnya kita lakukan pendampingan. Kalau misalnya susah kesini, susah
ini kita coba dampingi mereka misalnya ada hambatan dengan kepala desa, tokoh
masyarakat kita coba fasilitasi mereka ke sana, petugas dinas kesehatan mendampingi
petugas PKM mengunjungi daerah yang cakupan PWS nya tidak tercapai. Yang kedua
kita melakukan sweeping. (AA,53, kepala dinas Kesehatan)
Pencapaian target PWS KIA bukan hanya menjadi tanggung jawab bagian KIA.
Dibutuhkan kerjasama antara lintas program dan lintas sektor untuk mengupayakan
tercapainya target PWS KIA. Berikut kutipan dari pernyataan narasumber mengenai
upaya lintas program dan lintas sektor dalam upaya meningkatkan cakupan PWS KIA.
Ya, ada kalau kalau kita sampaikan ke lintas sektor lintas program bahwa pencapaian
sekian ada inisiatif dari PKK bagaimana mendorong supaya ibu-ibu juga mau
berkunjung supaya bisa cakupan untuk kunjungan KIA, K1, K4, dan persalinan nakes
bisa tercapai. Kalau lintas program kami langsung meng-sweeping ibu hamil, sweeping
bayi, (AS, 53, bidan koordinator)
Data PWS KIA digunakan untuk memantau tingkat keberhasilan program KIA di
wilayah setempat. Selain itu data tersebut juga dapat digunakan dasar perencanaan untuk
program KIA selanjutnya dan sebagai dasar dalam penentuan kebijakan sehubungan
dengan program KIA. Berikut pernyataan beberapa narasumber tentang pemanfaatan
data PWS KIA oleh dinas Kesehatan :
kembali lagi bahwa untuk perencanaan yang benar, perencanaan yang baik, kita
harus berdasarkan data riil yang ada. Itu prinsip. Sebagian data dari PWS itu juga
adalah bagian dari suatu data dalam suatu perencanaan khusus kaitannya dengan
misalnya imunisasi, KIA, dan seperti apa PWS nya kita ambil dari situ sebagai salah
satu data sekundernya. Harus di manfaatkan. (MY, 48, Kadinkes)
Itu sudah pasti, berdasarkan data itulah PKM tertentu ada yang belum mencapai
sasaran kita lakukan Bimtek (Bimbingan teknis) kemudian kita usahakan bisa secara
simultan berbarengan dengan PKM lain untuk bisa mencapai target sehingga jangan
ada yang terlalu jauh ketinggalan, sementara ada yang melebihi dari targetnya. Oleh
karena itu kita lakukan sinergisasi. Supaya kalau ada Puskesmas yang berhasil
bisa sharing pengalaman bagaimana mereka bisa mencapai target yang diharapkan
maupun hal-hal teknis lainnya misalnya mungkin saja tenaga, mereka membantu
temannya yang belum bisa mencapai. (HD, 53, Kadinkes)
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 80
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
7. Lingkungan Akses
Tabel 26
Aksesibilitas Puskesmas di Sulawesi Selatan, 2010
No Aksesibilitas Puskesmas Minimum Maksimum Mean Median
1
Waktu tempuh dari Puskesmas ke
desa terjauh (dalam menit)
5 1440 82 60
2
Jarak tempuh dari Puskesmas ke desa
terjauh (dalam KM)
1 132 16 11
3
Biaya transport dari Puskesmas ke
desa terjauh (PP)
0 2000000 69000 20000
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Tabel 26 menunjukkan menunjukkan bahwa waktu tempuh ke desa/ kelurahan
terjauh dalam wilayah Puskesmas rata-rata selama 82 menit. Jarak tempuh ke desa
terjauh dalam wilayah kerja Puskesmas adalah 132 Km. Adapun biaya transportasi ke ke
desa/ kelurahan terjauh di wilayah Puskesmas sangat bervariasi, namun biaya tertinggi
adalah Rp. 2.000.000,-. Hal ini dipengaruhi oleh keadaan geografs wilayah Puskesmas
tersebut. Adapun persentase alat transportasi ke wilayah kerja Puskesmas terjauh adalah
sebagai berikut :
Diagram 65. Alat Transportasi untuk Menjangkau Wilayah Terjauh Puskesmas Di
Sulawesi Selatan, 2011
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 65 menunjukkan mayoritas desa terjauh dalam wilayah kerja Puskesmas
dapat ditempuh dengan menggunakan sepeda motor (56,3%).
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
81
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Tabel 27
Kejadian Luar Biasa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (KLB PD3I) di
Puskesmas dalam 1 tahun Terakhir di Sulawesi Selatan, 2010
No Penyakit Jumlah Persentase
1 Campak 8 1.9
2 Difteri 1 0.2
3 Pertusis 1 0.2
4 Tetanus 4 1.0
5 Hepatitis B 1 0.2
6 Polio 1 0.2
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Tabel 27 menunjukkan KLB PD3I dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Pada
kurun waktu satu tahun terakhir pernah terjadi KLB campak, difteri, pertusis, tetanus,
hepatitis B, dan polio/AFP (Acute Flaccid Paralysis). Adapun kasus yang terbanyak adalah
campak (1,9%). KLB tubercolosis tidak pernah terjadi dalam waktu 1 tahun terakhir.
C. Issue Managemen Rumah Sakit
Rumah sakit merupakan suatu unit usaha jasa yang memberikan jasa pelayanan
sosial di bidang medis klinis. Pengelolaan unit usaha rumah sakit memiliki keunikan
tersendiri karena selain sebagai unit bisnis , usaha rumah sakit juga nemiliki misi sosial,
disamping pengelolaan rumah sakit juga sangat tergantung pada status kepemilikan
rumah sakit.
Berdasarkan hasil survei GAVI tahun 2010, di Sulawesi Selatan terdapat 23 Rumah
Sakit yang ditunjukkan pada gambar 4.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 82
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Gambar 4. Mapping Wilayah Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010
Gambar di atas menunjukkan bahwa diantara 24 Kabupaten/Kota di Sulawesi
Selatan, hanya Kabupaten Toraja Utara yang tidak memiliki Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) karena merupakan pemekaran dari Kabupaten Tana Toraja.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
83
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
1. Karakteristik Rumah Sakit
Tabel 28
Karakteristik Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010
Jenis Pelayanan Jumlah Persentase
Jumlah RS yang memiliki fasilitas computer 23 100
Indikator
Cakupan
Minimum Maksimum Mean Median
Luas gedung rumah sakit 376 208000 29478 19750
Jumlah ambulans 2 8 3 4
Minimum Maksimum Rentang Median
Tahun perbaikan terakhir 2004 2010 6 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Tabel 28 menunjukkan semua rumah sakit telah memiliki fasilitas komputer.
Luas gedung rumah sakit rata-rata adalah 29.478 m
2
. Semua rumah sakit telah memiliki
ambulans minimal 2 buah.
2. Sumber Daya Manusia (SDM) Rumah Sakit
Tabel 29
Ketenagaan RS Terkait Pelayanan KIA di Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010
No Pelatihan Jumlah Persentase
1 Kebidanan Rawat Inap
1.1
Jumlah RS yang memiliki tenaga dokter spesialis di
pelayanan kebidanan rawat inap
18 78.3
1.2
Jumlah RS yang memiliki tenaga dokter umum di pelayanan
kebidanan rawat inap
10 47.6
1.3
Jumlah RS yang memiliki tenaga perawat di pelayanan
kebidanan rawat inap
7 36.8
1.4
Jumlah RS yang memiliki tenaga bidan di pelayanan
kebidanan rawat inap
16 84.2
2 Kebidanan Rawat Jalan
2.1
Jumlah RS yang memiliki tenaga dokter spesialis di
pelayanan kebidanan rawat jalan
17 89.5
2.2
Jumlah RS yang memiliki tenaga dokter umum di pelayanan
kebidanan rawat jalan
8 42.1
2.3
Jumlah RS yang memiliki tenaga perawat di pelayanan
kebidanan rawat jalan
3 15.8
2.4
Jumlah RS yang memiliki tenaga bidan di pelayanan
kebidanan rawat jalan
17 89.5
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 84
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
3 Anak Rawat Inap
3.1
Jumlah RS yang memiliki tenaga dokter spesialis di
pelayanan anak rawat inap
12 63.2
3.2
Jumlah RS yang memiliki tenaga dokter umum di pelayanan
anak rawat inap
11 57.9
3.3
Jumlah RS yang memiliki tenaga perawat di pelayanan
anak rawat inap
14 73.7
3.4
Jumlah RS yang memiliki tenaga bidan di pelayanan anak
rawat inap
2 10.5
4 Anak Rawat Jalan
4.1
Jumlah RS yang memiliki tenaga dokter spesialis di
pelayanan anak rawat jalan
11 57.9
4.2
Jumlah RS yang memiliki tenaga dokter umum di pelayanan
anak rawat jalan
10 52.6
4.3
Jumlah RS yang memiliki tenaga perawat di pelayanan
anak rawat jalan
14 73.7
4.4
Jumlah RS yang memiliki tenaga bidan di pelayanan anak
rawat inap
3 15.8
5 Keluarga Berencana (KB)
4.1
Jumlah RS yang memiliki tenaga dokter spesialis di
pelayanan KB
11 57.9
4.2
Jumlah RS yang memiliki tenaga dokter umum di pelayanan
KB
5 26.3
4.3 Jumlah RS yang memiliki tenaga perawat di pelayanan KB 2 11.1
4.4 Jumlah RS yang memiliki tenaga bidan di pelayanan KB 16 84.2
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
3. Fasilitas Fisik
Diagram 66. Tipe Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
85
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 66 menunjukkan rumah sakit umum daerah di Sulawesi Selatan terdapat
78,3% rumah sakit tipe C, 4,3% tipe D, dan 17,4% tipe B.
Diagram 67. Kodisi Fisik Gedung Rumah Sakit di Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 67 menunjukkan masih terdapat rumah sakit dalam kondisi kurang baik.
3,7% rumah sakit dalam kategori rusak ringan dan 8,7% rusak sedang. Terdapat 13,0%
rumah sakit yang sedang dalam perbaikan.
4. Logistik
Sarana rumah sakit dalam hal ini refrigerator dan freezer ditunjukkan dalam
diagram berikut.
Diagram 68. Kepemilikan Refrigerator Rumah Sakit
di Sulawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 86
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Diagram 69. Kepemilikan Freezer Rumah Sakit di Sulaawesi Selatan, 2010
Sumber : Data Primer survei GAVI 2010
Diagram 68 menunjukkan terdapat 52,17% rumah sakit yang tidak memiliki
fasilitas refrigerator. Untuk kepemilikan freezer, masih terdapat 65,22% rumah sakit yang
tidak memiliki fasilitas freezer (diagram 69). Sebagai sarana penyimpanan vaksin dan
obat-obatan yang membutuhkan refrigerator ataupun freezer, beberapa rumah sakit
menggunakan lemari es rumah tangga, adapula yang menitipkan obat-obataan dan
vaksin di freezer Dinas Kesehatan setempat.
D. Issue Dinas Kesehatan
Untuk meningkatkan kemampuan manajemen Puskesmas khususnya untuk
program KIA dan imunisasi maka Dinas Kesehatan melakukan upaya-upaya antara lain :
- Memberikan pelatihan kepada seluruh kepala Puskesmas. Diharapkan setelah
pelatihan tersebut semua kepala puksesmas bisa melakukan perencanaan di tingkat
Puskesmas, termasuk kegiatan apa, volumenya berapa, di mana dilaksanakan, kapan
dan siapa penanggung jawab serta anggarannya dari mana.
- Kepala bidang, misalnya Kesga yang membawahi KIA dilakukan pembinaan
manajemen pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas dan dilaksanakan secara rutin
di dinas kesehatan.
- Membuat suatu target cakupan tingkat desa agar tidak ada satupun desa yang tidak
memiliki bidan desa. Diharapkan tidak ada lagi bidan desa yang mempunyai wilayah
kerja mencakup dua desa atau lebih.
- Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap beberapa indikator penting dalam KIA,
misalnya cakupan kunjungan pertama ibu hamil, kedua cakupan kunjungan keempat
ibu hamil, berapa cakupan Risti ibu hamil, cakupan persalinan nakes dan cakupan
kunjungan neonatus.
- Melakukan Pelatihan terkait dengan manajemen KIA seperti pelatihan penerapan buku
KIA, dan pelatihan AMP.
- Desentralisasi produksi buku KIA ke tingkat Kabupaten/Kota untuk menekan ongkos
kirim
- Melakukan pemantauan terhadap petugas yang telah mendapatkan pelatihan, untuk
memantau penerapan hasil pelatihan di tempat kerja, alih pengetahuan, dan penerapan
hasil pelatihan tersebut secara berkesinambungan.
- Menyediakan anggaran untuk program pelatihan bagi petugas.

Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
87
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Berikut penuturan beberapa narasumber sekaitan dengan upaya dinas kesehatan
dalam rangka peningkatan kemampuan manajemen Puskesmas :
Pertama, untuk meningkatkan pengelolaannya dengan baik maka Puskesmas
kami itu mengharuskan untuk melaksanakan fungsifungsi Puskesmas, terutama 6
fungsi pokok dilaksanakan dengan baik kemudian alat-alat manajemen Puskesmas
itu seperti microplanning, lokakarya mini harus djalankan dengan baik dan tidak
boleh ditinggalkan. Rapat microplanning dan lokakarya mini itu memang sudah jalan
dengan baik di Puskesmas ini. Kemudian setiap tahun juga kita menjalankan atau
melaksanakan kegiatan evaluasi program. Semua program terutama 6 program pokok
Puskesmas itu yang di dalamnya ada kesehatan ibu dan anak dan imunisasi. (Tm, 48,
kabid Kesmas)
Kebijakan-kebijakan yang kita lakukan, kita mengacu kepada SPM (sistim pelayanan
minimal), kita ada pertemuan rutin juga, Puskesmas tiap bulan. Itu dilakukan untuk
pelatihan-pelatihan ada, kalau ada dana yang kita dapatkan. Untuk manajemen
Puskesmas sekarang ini, kita dapat dana dari GAVI, namun ada keterbatasan waktu
karena dananya turun di awal Oktober, jadi kami tidak sempat melaksanakan kegiatan
itu, namun kita tetap turun memantau termasuk pemegang program KIA. Kalau
imunisasi ada bidangnya sendiri, jadi kami cuma melihat dari KIA. Ada target memang,
indikator-indikator KIA, misalnya K1, K4, persalinan nakes, kunjungan neonatus, risti,
rujukan. Jadi Puskesmas diberikan target 12 bulan, misalnya targetnya 95%, bulan
ini sekian misalnya dia harus dapat, bulan depan harus dia tambahkan dari bulan
ini ditambah dengan bulan yang berjalan, sampai akhirnya harus dia capai. (KK, 53,
Kabid Kesga)
Salah satu upaya Dinas Kesehatan untuk meningkatkan kemampuan manajemen
Puskesmas adalah dengan memberikan pelatihan terkait manajemen Puskesmas kepada
petugas kesehatan. Tapi kenyataan di lapangan masih terdapat Puskesmas yang belum
memiliki tenaga yang terlatih. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
- Petugas Puskesmas yang telah mendapatkan pelatihan mendapatkan SK mutasi ke
tempat lain sebelum adanya proses alih pengetahuan dan penerapan hasil pelatihan
di tempat kerjanya.
- Petugas terlatih adalah petugas yang akan mencapai masa pensiun.
- Tidak ada proses alih pengetahuan dari petugas Puskesmas yang terlatih dengan
petugas lainnya
Menyikapi masalah tersebut maka seluruh Dinas Kesehatan sebaiknya dalam
menetapkan petugas kesehatan yang akan mengikuti pelatihan, bukan petugas yang
akan dimutasi ataupun pensiun sehingga tidak terjadi kekosongan petugas terlatih di
setiap Puskesmas. Dinas Kesehatan perlu melakukan pemantauan ke semua petugas
kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan terkait, alih pengetahuan setelah pelatihan,
dan penerapan hasil pelatihan tersebut berkesinambungan.
Selain itu dalam pelakasanaan tugas dan fungsi Dinas Kesehatan, ada penilaian
kinerja Puskesmas. Metode yang digunakan Dinas Kesehatan dalam penilaian kinerja
Puskesmas adalah sebagai berikut:
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 88
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
- Mengadakan supervisi supportif dengan menggunakan instrumen yang telah
disiapkan. Supervisi supportif rata-rata dilaksanakan satu kali setahun.
- Membentuk tim untuk melakukan visualisasi, verifkasi dan penilaian. Instrumen yang
digunakan adalah format baku yang mencakup semua unsur dan rincian program.
Format ini berasal dari Dinkes Provinsi Sulawesi Selatan.
- Melakukan monitoring dan evaluasi kinerja Puskesmas secara berkala dan insidental
- Laporan Rutin dievalusi pencapaian targetnya.
E. Issue Lembaga Masyarakat (CSO)
Pembangunan Kesehatan yang dilaksanakan telah berhasil meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat Indonesia, namun belum mencapai hasil yang optimal. Peran
serta aktif masyarakat termasuk CSO (Civil Society Organization) sangat diperlukan.
Masih banyak permasalahan kesehatan yang belum dapat diatasi. Angka kematian
ibu, penyakit menular masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat Indonesia,
sementara penyakit tidak menular meningkat ditambah adanya penyakit baru. Mengingat
besarnya masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi, maka CSO hendaknya dapat
memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang dihadapi
bangsa ini, sesuai potensi setiap CSO.
Civil Society Organization (CSO) dapat diartikan sebagai lembaga swadaya
masyarakat dan atau organisasi kemasyarakatan yang memiliki basis keanggotaan,
profesi, keagamaan, sasaran perempuan, kaum muda, tenaga kerja, dan lain-lain.
CSO/LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) merupakan lembaga sukarela yang
memberi bantuan sosial. Menurut Muhasin (2000) peran dan fungsi LSM mengalami
perubahan dan perkembangan. Pada generasi awal memang lebih banyak memberi
bantuan dan santuan sosial. Pada generasi kedua mulai memperkenalkan pengembangan
usaha swadaya, lewat kelompok-kelompok kecil dari masyarakat rentan. Generasi ketiga
mulai berinteraksi dengan pembuat kebijakan dan berperan sebagai konsultan untuk
berbagai program yang memerlukan dukungan swadaya masyarakat. Generasi keempat
adalah menggerakkan keprihatinan publik dengan melakukan kampanye tentang
lingkungan hidup, hak-hak konsumen dan hak-hak azasi manusia.
Bentuk CSO/LSM
Secara keseluruhan di Sulawesi Selatan, lembaga-lembaga atau elemen-elemen
dalam masyarakat yang berperan serta dalam upaya peningkatan kesehatan yang telah
teridentifkasi berdasarkan hasil penelitian GAVI Sulawesi Selatan tahun 2010 adalah:
1. Bentuk CSO/LSM yang Berbasis anggota seperti Pembinaan Kesejahteraan
Keluarga (PKK).
2. Organisasi pemuda seperti Pramuka, Saka Bakti Husada, Karang Taruna, KNPI,
PIN,Pemuda Pancasila, PKPR (kelompok-kelompok remaja).
3. Organisasi nirlaba yang bergerak dalan pengembangan masyarakat seperti
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), USAID.
4. Organisasi-organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah, Aisyiah, dll.
5. Bentuk CSO yang berbasis profesi kesehatan: IDI, IAKMI, IDAI, PDGI, IBI,
PERSAGI, POGI, dsb
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
89
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
6. CSO yang fokus pada kegiatan kesehatan seperti PMI, dan GAVI CSO Consorsium.
7. Lembaga Sosial seperti CSR Pertamina kerjasama dengan PKBI, Rumah Zakat,
dan`CSR Indosat
Bentuk CSO/LSM di atas hanya sebagian saja yang terindetifkasi, masih banyak
kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang belum melakukan identifkasi di daerah masing-
masing tentang keberadaan CSO/LSM yang kegiatannya mendukung program-program
KIA. Upaya membentuk kerjasama dengan CSO/LSM yang mendukung program KIA dan
imunisasi, hal tersebut masih kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat seperti
dipaparkan oleh narasumber sebagai berikut :
Belum pernah kita adakan identifkasi karena kalau LSM di sini sebetulnya belum
pernah saya dengar ada LSM yang membahas masalah seperti ini. Biasanya LSM
di sini mengenai masalah bangunan. Biasanya yang kerjasama mengenai masalah
KIA biasanya sponsor yaitu pabrik susu. Sebaiknya ada LSM, kita sebagai pelaksana
kegiatan di sini, tidak selamanya kita bekerja itu sudah betul, memang kita menganggap
bahwa apa yang sudah kita laksanakan dilapangan sudah betul, tapi barangkali penilaian
orang lain ada salah. Karena tidak ada LSM yang mengontrol, jadi kita menganggap
yang kita laksanakan selama ini wajar-wajar saja. Yang saya harapkan dari LSM
pertama kalau perlu membantu saya mengevaluasi bidan di desa termasuk petugas
lain. Kemudian yang kedua dari segi bentuk dukungan untuk pencapaian kegiatan,
artinya ada kegiatan-kegiatan tertentu yang dia bisa danai melalui LSM itu. Kecuali
yang ada sekarang ini, yang namanya PNPM (Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat), kalau itu ada membantu membangun Posyandu, dia membantu membina
kader-kader. (AFJ, 52, Kadinkes)
Belum, sebenarnya kita memang harus kerjasamakan dengan LSM-LSM terkait.
Baru-baru ini tapi bukan dana kabupaten, CSO dengan Muslimat dan Aisyah, sudah
kita galang. Kemarin mereka yang laksanakan kegiatan dan kita dipanggil, sudah ada
kerjasama tetapi mengenai identifkasi kita belum lakukan. (Iw, 35, staf Yankes)
melibatkan suatu organisasi massa atau lembaga sosial masyarakat tergantung seperti
apa juklak dari atas, artinya, mohon maaf, melibatkan orang berarti ada beban dibalik
itu pak. Walaupun namanya mereka tidak mengharapkan sesuatu dari pekerjaannya
itu tapi tidak bijak lah kalau mereka harus dipekerjakan secara swadaya atau sukarela
saja. Kembali lagi bahwa melibatkan langsung seorang sebuah organisasi massa atau
lembaga sosial masyarakat itu tergantung juklak dan juknis program itu. Walaupun
dari atas tidak mengatakan seperti itu tapi kalau kita di kabupaten mampu membuat
seperti itu kenapa tidak. Saya kira kegiatan-kegiatan kayak informasi-informasi tentang
HIV/AIDS kegiatannya promkes banyak, tapi KIA dengan imunisasi setau saya tidak
dilibatkan secara langsung. (My, 45, Kadis)
Peran Serta CSO/LSM
Dalam melakukan kegiatannya, pada umumnya CSO mempunyai fokus kegiatan
pada suatu peminatan seperti Primary Health Care (PHC atau PKMD), Kesehatan Ibu
dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB),Kesehatan wanita, Kesehatan anak-remaja,
Kesehatan kerja, Penyakit menular, HIV/AIDS, Kesehatan lingkungan, Pengobatan
tradisional, Klinik pengobatan, RS, pendidikan kesehatan, advokasi kesehatan, Imunisasi,
rehabilitasi medik, dll.
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 90
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
CSO dapat melakukan kegiatan yang sifatnya:
- Ikut memecahkan masalah kesehatan yang dihadapi.
- Berkontibusi sumberdaya sesuai potensi CSO dalam pemecahan masalah kesehatan
yang sedang dilakukan bangsa ini.
- Bila memiliki ide/gagasan diujicoba - sukses dan kemudian dapat diadopsi
Pemerintah untuk direplikasi di tempat lain.
- Forum komunikasi yang sering dilakukan ditingkatkan menjadi jejaring (networking)
hendaknya dapat menjadi modal sosial untuk menyelesaikan masalah kesehatan
masyarakat.
- Bekerjasama dalam menyelesaikan masalah kesehatan bangsa guna menuju
masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat.
Dukungan CSO/LSM mempunyai dampak yang cukup signifkan terhadap program
KIA dan imunisasi. Sebagai contoh PKK yang merupakan ujung tombak kader-kader
kesehatan di tingkat desa. PKK dapat berperan menggerakkan kader dan masyarakat
setempat untuk lebih aktif dalam kegiatan Posyandu. PNPM, lebih mendukung pada
aspek pembangunan fsik. Organisasi-organisasi pemuda, pada umumnya mendukung
pada bidang penyuluhan, dan lain sebagainya.
Berikut kutipan pernyataan narasumber mengenai dukungan CSO dalam bidang
kesehatan khususnya KIA dan imunisasi.
Saya pikir sangat signifkan sekali hubungannnya karena kita sekarang menyadari
bahwa tenyata permasalahan KIA dan imunisasi tidak cukup kita selesaikan dari sektor
kita sendiri, kita harus libatkan sektor lain misalnya CSO yang bergerak paling dekat
dengan masyarakat, karena kalau ustad yang bicara ke masyarakat beda kalau kita
yang bicara. Jadi himbauan-himbauan di masyarakat bukan dalam bentuk istilah-
istilah sehingga mudah dicerna masyarakat. Malah sekarang mereka juga akan
membuat kader-kader mereka sendiri. Kebetulan CSO ini yang bekerjasama dengan
GAVI, dananya bukan dari sini, dana dari pusat kalau tidak salah, jadi mereka yang
buat kegiatan, kita pantau kegiatannya dalam bentuk kesehatan. Malah saya telah
ikuti pelatihannya, pelatihan dalam rangka pendataan fsik atau data dasarnya. Saya
dengar yang 2011 ini dia akan bentuk fasilitator di tingkat desa. Jadi mereka nanti
ada kader-kadernya, itulah yang akan membantu kita nanti ketika turun.(Iw, 35, sttaf
Yankes)
Leadership organisation pernah membantu dalam upaya penurunan angka kematian
bayi. Kalau ada kasus yang didapat, dia akan melapor ke kader atau ke Puskesmas,
kalau Puskesmas tidak bisa tangani maka melapor ke dinas kesehatan. (Dw, 52,
Kabid Kesmas)
Dengan tenaga yang ada di lapangan, kita tidak bisa menjangkau yang ada di lapisan
masyarakat jadi dengan adanya LSM ini kita terbantu. (Dw, 52, Kabid Kesmas).
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
91
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
IV. Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
A. Kegiatan Mobilisasi Masyarakat :
1. Keberadaan bidan desa masih belum merata di setiap desa/ kelurahan (7,9%)
2. Terdapat 28,9% bidan desa yang tidak menetap di wilayah kerjanya
3. Terdapat desa/kelurahan yang tidak memiliki kemitraan antara bidan desa dan dukun
bayi (17,2%) dan persentase kemitraan dalam bentuk tidak formal lebih tinggi (50,1%)
dibandingkan kemitraan dalam bentuk formal.
4. Terdapat desa/kelurahan yang belum terbentuk sebagai desa/kelurahan siaga (21,2%)
5. Terdapat desa/kelurahan yang tidak membahas masalah KIA dalam Musrenbang desa/
kelurahan (27,7%)
6. Persentase posyandu yang memiliki dana operasional masih minim (39,8%)
B. Issue Manajemen Puskesmas :
1. Terdapat bidan desa yang belum mendapatkan pelatihan terkait KIA (MTBS 74%,
imunisasi 50%, P4K 44,7%)
2. Keberadaan tenaga terlatih (yang telah mendapatkan pelatihan) tidak merata di setiap
puskesmas
3. Terdapat puskesmas yang tidak memiliki fasilitas air bersih (8,3%), listrik (2,9%),
telepon (59,2%), dan komputer dengan kondisi baik(13,8%)
4. Terapat puskesmas dengan Sarana dan prasarana penunjang kegiatan KIA dan
imunisasi belum lengkap
5. Terdapat puskesmas yang belum menerapkan MTBS (24,3%)
6. Terdapat program KIA dan imuisasi yang cakupannya belum mencapai target
C. Issue Manajemen Rumah sakit dan Dinas Kesehatan :
1. Terdapat rumah sakit dengan sarana dan prasarana penunjang KIA dan imunisasi tidak
lengkap.
2. Terdapat kabupaten/Kota yang belum mengidentifkasi adanya CSO/LSM yang bergerak
di bidang kesehatan dan tidak menjalin kerjasama dengan CSO/LSM setempat.

Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan 92
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Sebagai upaya dalam memecahkan masalah tersebut, peran stakeholder sangat
dibutuhkan. Hal hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
Dinas Kesehatan propinsi :
- Mendorong peningkatan peran serta masyarakat.
- Revitalisasi UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat).
- Meningkatkan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu termasuk pelatihan tenaga terampil
dan meningkatkan dana operasional.
- Pemerataan tenaga terlatih di setiap Puskesmas/ rumah sakit, termasuk dalam pemilihan
tenaga yang akan dilatih, sebaiknya bukan tenaga yang akan dimutasi.
- Mobilisasi dukungan keuangan di daerah untuk KIA.
Dinas Kesehatan kabupaten/kota :
- Lebih mendorong peningkatan perilaku hidup sehat di masyarakat dengan meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam kesehatan ibu dan anak melalui pendampingan dari perguruan
tinggi setempat.
- Peningkatan anggaran KIA di daerah dengan pendekatan investasi (lebih promotif-
preventif) dan partisipasi masyarakat melalui iuran rekening listrik, sumbangan hasil usaha,
izin keramaian, dll.
- Peningkatan jangkauan & kualitas pelayanan kesehatan, termasuk pemerataan distribusi
tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas dan desa/kampung dengan tenaga kesehatan
sistem kontrak.
- Mobilisasi dukungan keuangan di daerah untuk KIA berkaitan dengan pemecahan masalah
berdasarkan inisiatif daerah sebagai respon dari keberagaman masalah.
- Peningkatan kemitraan, dukungan organisasi profesi dengan stakeholders (Lintas Program/
Lintas Sektor).
Laporan Survei GAVI-HSS, Provinsi Sulawesi Selatan
93
Survei GAVI HSS
Ditjen Bina Gizi KIA, Kementerian Kesehatan RI
Kepustakaan
Aminullah, Syahrul. Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Kompas,
08. 09. 2009. Available at http://hagemman.wordpress.com/2009/09/19/rendahnya-
imunisasi-lengkap. Accessed September 29th, 2011.
Desa siaga, available at http://www.slideshare.net/BJSGSDP/konsep-amp-pengertian-desa-
siaga. Accessed September 15th, 2011.
Informasi Data Dasar Puskesmas di Sulawesi Selatan Tahun 2009. Dinas Kesehatan Provinsi
Sulawesi Selatan, 2009.
Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 828/MENKES/SK/IX/2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.
Modul Pelatihan Korlap Global Alliance Vaccine & Imunisation (GAVI) HSS, 2010
Profl Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2008. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
Selatan. Makassar ; 2009.
Profl Provinsi Sulawesi Selatan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Makassar; 2010.
Setiawati, Elsa Pudji. Pelayanan kesehatan Bagi Keluarga Miskin dalam Perspektif Filsafat.
Bagian Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran Unpad. Bandung
Wikipedia Bahasa Indonesia. Pos Pelayanan Terpadu. Available at http://id.wikipedia.org/wiki/.
Accessed August 28th, 2011.
13 Indikator PWS KIA, available at http://ppwskia.wordpress.com/2009/08/25/buku-pws-ki-
bab.iii-indikator-pemantauan/. Accessed September, 23rd, 2011.