Anda di halaman 1dari 6

1. Saya setuju.

- Karena Indonesia sebagai jajahan Belanda yang sangat kejam


- Kelemahan pemimpin Indonesia, dalam mengolah Sumber Daya Alam
(SDA)
- Mental Indonesia yang sebagian orang masih acuh tak acuh terhadap
perkembangan zaman teknologi

Point 1 : Karena Indonesia sebagai jajahan belanda yang sangat kejam.

Lebih kurang 3,5 abad, rakyat Indonesia dijajah oleh belanda. Walaupun penjajahan
tersebut telah lama musnah dari tanah air, tetapi penjajahan tersebut seperti masih
berjalan didalam roda pemerintahan Indonesia. Indonesia seakan-akan masih
dibayang-bayangi oleh bagaimana pemerintah mengelola hasil negara untuk kekayaan
pribadi, mengingatkan pada sistem dari prinsip kerja VOC yang mementingkan
perusahaannya, tetapi membodohi dan menyiksa rakyat Indonesia. Persis apa yang
terjadi sekarang ini, yang miskin semakin miskin, dan yang kaya semakin diperkaya.

Point 2 : Kelemahan pemimpin Indonesia, dalam mengolah Sumber Daya Alam
(SDA)

Pemimpin Indonesia, pada masa sekarang ini dinilai gagal dalam mengolah kekayaan
Sumber Daya Alam Indonesia. Sebagai contoh, Indonesia khususnya Riau adalah
penghasil minyak terbesar di Indonesia. Tetapi, karena tidak adanya pengawasan oleh
pemerintah yang Memadai atau bisa dikatakan tidak begitu intensif, kekayaan dari
Sumber Daya Alam Indonesia terus dikeruk hingga habis, jika ini terus dibiarkan,
Sumber Daya Alam tersebut akan habis tak bersisa, dan semua itu akan berimbas
kepada perekonomian Indonesia, yang semakin lama semakin menurun.

Point 3 : Mental Indonesia yang sebagian orang masih acuh tak acuh terhadap
perkembangan zaman teknologi

Perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja dan memungkinkan
berbagai kegiatan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga
akhirnya akan meningkatkan produktivitas. Perkem-bangan teknologi informasi
memper-lihatkan bermunculannya berbagai jenis kegiatan yang berbasis pada
teknologi ini, seperti e-government, e- commerce, e-education, e-medicine, e-e-
laboratory, dan lainnya, yang kesemuanya itu berbasiskan elektronika.

Sampai dua ratus tahun yang lalu ekonomi dunia bersifat agraris dimana salah satu
ciri utamanya adalah tanah merupakan faktor produksi yang paling dominan. Sesudah
terjadi revolusi industri, dengan ditemukannya mesin uap, ekonomi global ber-evolusi
ke arah ekonomi industri dengan ciri utamanya adalah modal sebagai faktor produksi
yang paling penting. Menjelang peralihan abad sekarang inl, cenderung manusia
menduduki tempat sentral dalam proses produksi, karena tahap ekonomi yang sedang
kita masuki ini berdasar pada pengetahuan (knowledge based) dan berfokus pada
informasi (information focused). Dalam hal ini telekomunikasi dan informatika
memegang peranan sebagai teknologi kunci (enabler technology). Kemajuan
teknologi informasi dan telekomunikasi begitu pesat, sehingga memungkinkan
diterapkannya cara-cara baru yang lebih efisien untuk produksi, distribusi dan
konsumsi barang dan jasa. Proses inilah yang membawa manusia ke dalam
Masyarakat atau Ekonomi Informasi. Masyarakat baru ini juga sering disebut sebagai
masyarakat pasca industri. Apapun namanya, dalam era informasi, jarak fisik atau
jarak geografis tidak lagi menjadi faktor dalam hubungan antar manusia atau antar
lembaga usaha, sehingga jagad ini menjadi suatu dusun semesta atau Global
village?. Sehingga sering kita dengar istilah jarak sudah mati atau distance is
dead makin lama makin nyata kebenarannya.

Dari sedikit penjelasan diatas, rakyat Indonesia masih tidak terlalu ingin tahu tentang
bagaimana caranya memanfaatkan teknologi untuk membangun ekonomi yang kuat,
karena rakyat Indonesia, bagi saya pribadi, dapat dikatakan hanya ingin hasil jadinya
saja, tetapi tidak mau belajar untuk mengontrol, dan mengolah teknologi tersebut
menjadi sebuah sarana untuk meningkatkan perekonomian yang ada di Indonesia.

2. Dilihat dari segi sistem Pembangunan Lima Tahun (PELITA), Indonesia
mengalami keuntungan yang memuaskan. Bisa dikatakan, dengan 7 kali penggunaan
sistem Pembangunan Lima Tahun (PELITA), diantaranya :

Pelita I (1 April 69 31 Maret 74) : Menekankan pada pembangunan bidang
pertanian.
Pelita II (1 April 74 31 Maret 79) : Tersedianya pangan, sandang, perumahan,
sarana dan prasarana, menyejahterakan rakyat, dan memperluas kesempatan kerja.
Pelita III (1 April 79 31 Maret 84) : Menekankan pada Trilogi Pembangunan.
Pelita IV (1 April 84 31 Maret 89) : Menitik beratkan sektor pertanian menuju
swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin
industri sendiri.
Pelita V ( 1 April 89 31 Maret 94) : Menitikberatkan pada sektor pertanian dan
industri.
Pelita VI (1 April 94 31 Maret 1999) : Masih menitikberatkan pembangunan pada
sektor bidang ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian serta
pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya

Membuat Indonesia menghasilkan beberapa sektor perekonomian yang
menguntungkan, tetapi dibalik itu semua, jika di lirik dari PELITA, walaupun
Indonesia mendapatkan keuntungan yang memuaskan, masalah kemiskinan yang
benar-benar terjadi di Masyarakat menjadi semakin buruk, dan perekonomian negara
makin rapuh, menjadikan negara Indonesia mengalami krisis moneter, berhujung
kepada pergantian presiden. Dan saya dapat simpulkan, teori yang dikemukakan oleh
Rostow ini tidaklah sepenuhnya menjamin peningkatan perekonomian. Justru, jika
terlalu dipaksakan akan mengakibatkan jatuhnya suatu perekonomian negara.

3. Teori ketergantungan, dapat dikatakan merupakan teori dimana negara maju
mengeksploitasi negara miskin, sehingga sulit untuk menggerakkan perekonomian
secara mandiri untuk maju, sehingga menghambat pembangunan ekonomi dinegara
tersebut. Teori ketergantungan ini, masih relevan dengan permasalahan yang ada di
negara dunia ketiga.

Relevansinya yaitu, negara ini masih menggantungkan perekonomian mereka kepada
negara maju. Atau, bisa diumpamakan, bahwa negara dunia ketiga ini, memberikan
bahan-bahan baku mereka, kemudian negara maju mengolahnya, dan menjual
kembali kepada negara dunia ketiga dengan harga yang lebih mahal.
Permasalahannya terletak pada, bahwa negara dunia ketiga ini tidak mampu
menggerakkan perekonomian mereka secara mandiri, karena terus menerus
menggantungkan perekonomian negaranya terhadap negara-negara maju. Sehingga
negara ini terhambat perkembangan ekonominya. Jika ketergantungan ini telah terjadi
dalam waktu yang lama, maka hampir mustahil negara berkembang bisa mandiri.
Kenyataan itulah yang kiranya terjadi di dunia saat ini, dimana negara-negara
berkembang telah mengalami "penyakit ketergantungan akut", sehingga sulit untuk
bisa maju.

4. Kebijakan pembangunan ketenagakerjaan dan transmigrasi dalam rangka
menciptakan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran harus diarahkan pada
perluasan lapangan kerja baik lokal, regional maupun luar negeri. Inilah salah satu
janji pasangan presiden dan wakilnya dalam kampanye pemilu 2004 lalu. Pemerintah
menargetkan angka pengangguran terbuka bisa ditekan dari sekitar 10 juta orang pada
tahun 2004 menjadi 9,5 persen dari angkatan kerja tahun 2005 (9,9 juta orang); 8,9
persen (9,4 juta orang) tahun 2006; 7,9 persen (8,5 juta orang) tahun 2007; 6,6 persen
(7,3 juta orang) tahun 2008; dan 5,1 persen (5,7 juta orang) tahun 2009. Artinya,
dalam lima tahun, angka pengangguran ditargetkan turun hingga sekitar separuhnya.

Sebagai contoh kebijakan ini, pemerintah membuka lapangan kerja di sektor
pertanian, ditargetkan meningkat 2 persen per tahun. Sementara, lapangan kerja di
sektor manufaktur ditargetkan tumbuh 3,9 persen per tahun dan sektor lainnya 3,7
persen. Bisa dicapai atau tidaknya target-target itu akan sangat ditentukan oleh
kebijakan pemerintah di masing-masing sektor tersebut.

Gagasan diatas dikutip dari kompas.com. Kenyataannya, Berdasarkan data BPS pada
tahun 2006 dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 225.465.000 jiwa, jumlah
angkatan kerja sekitar 106.390.000 jiwa, sedangkan daya serap lapangan kerja sekitar
95.460.000 jiwa. Melihat data tersebut maka nampak angka pengangguran di
Indonesia pada tahun 2006 cukup tinggi hampir mendekati angka 11.000.000 jiwa.

Secara normatif, diberlakukannya penyerapan ini, seharusnya lebih digiatkan.
Penyerapan yang harus dibuat berdasarkan pemerataan, yaitu dibangunnya lapangan
pekerjaan bagi orang-orang yang berada di pedasaan maupun perkotaan. Dari
beberapa sektor, juga seharusnya dibangun secara merata. Dari setiap sektor,
diberikan daya tampung yang mumpuni untuk mencakup semua tenaga kerja.
Pemerintah juga harus lebih fokus untuk mengontrol pergerakkan lapangan pekerjaan,
dengan lajunya pertumbuhan yang ada di Indonesia.

5. The Five Stage Scheme merupakan teori yang dikembangkan oleh Rostow, Pada
tahap pertama disebut dengan tahap tradisional, kemudian berubah ke tahap kedua
yakni pra-kondisi tinggal landas. Kemudian berkembang lagi pada tahap ketiga, yaitu
masyarakat tinggal landas, selanjutnya yang ke empat menjadi masyarakat
pematangan pertumbuhan, dan akhirnya mencapai masyarakat modern yang
dibayangkan dan menjadi cita-cita, yakni sebuah masyarakat industri yang disebutnya
dengan high mass consumption atau masyarakat konsumsi tinggi. Untuk mencapai
masyarakat yang dicita-citakan tersebut ada syarat utama yang harus ada, yaitu modal.
Modal dapat diperoleh melalui berbagai cara: 1) melalui penggalian investasi dengan
cara pemindahan sumber dana dan atau kebijakan pajak. 2) melalui lembaga-lembaga
keuangan atau obligasi pemerintah untuk tujuan produktif. 3) melalui devisa dari
perdagangan internasional. 4) melalui penarikan investasi modal asing.

Secara Rinci :

1. Masyarakat Tradisional
Pada fase ini dimasyarakat ilmu pengetahuan masih belum banyak dikuasai, karena
masyarakat semacam ini dikuasai oleh kepercayaan tentang kekuatan diluar
kekuasaan manusia, disini manusia sangat tunduk kepada alam. Masyarakat
cenderung bersifat statis, kemajuan pada fase masyarakat ini berjalan lambat.
Produksi hanya untuk konsumsi semata bukan sebagai investasi, pola kehidupan
generasi kedua sama seperti generasi sebelumnya.
2. Prakondisi Untuk Lepas Landas
Pada fase ini meskipun sangat lambat, masyarakat tradisional bergerak menuju
prakondisi untuk lepas landas. Biasanya ini terjadi karena adanya campur tangan dari
luar, yaitu dari masyarakat yang lebih maju. Adanya goncangan pada masyarakat
tradisional membuat berkembangnya ide pembaharuan ditengah masyarakat.
3. Lepas Landas
Periode ini di tandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi
proses pertumbuhan/pembangunan, karena dianggap sebagai kewajaran. Industri-
industri dan pemakaian teknologi mulai berkembang dengan pesat. Pertanian bukan
hanya sekedar gaya hidup tapi juga sebagai mata pencaharian. Peningkatan
produktivitas pertanian merupakan hal penting, karena modernisasi masyarakat
memerlukan hasil pertanian yang banyak, agar ongkos perubahan dapat
ditanggulangi.
4. Bergerak Ke Kedewasaan
Pada periode ini negara memantapkan posisinya dalam perekonomian global,
komoditi yang tadinya diimpor kini diproduksi di dalam negeri, impor baru menjadi
kebutuhan jika ekspor barang-barang dapat mengimbangi impor. Setelah 60 tahun (40
tahun setelah periode lepas landas berakhir), tingkat kedewasaan biasanya tercapai.
Perkembangan industry bukan saja teknik-teknik produksi, tapi juga barang yang
diproduksi, termasuk produksi barang modal.
5. Zaman Konsumsi Massal Yang Tinggi
Karena kenaikan pendapatan masyarakat, konsumsi tidak lagi terbatas pada
kebutuhan pokok untuk hidup, juga kebutuhan yang lebih tinggi. Industri berubah dari
produksi kebutuhan dasar menjadi kebutuhan barang konsumsi yang tahan lama. Pada
tahap pencapaian kedewasaan dicapai, surplus ekonomi akibat proses politik yang ada
dialokasikan untuk kesejahteraan sosial dari penambahan dana sosial. Pembangunan
sudah merupakan sebuah proses yang berkesinambungan, yang bisa menopang
kemajuan terus-menerus.

Daftar Pustaka

1. Fakih, Mansour, 2001, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi.
Yogyakarta: Penerbit Insist Press.
2. Budiman, Arief. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama
3. Soetrisno, Noer. 2003. Menuju Pembangunan Ekonomi Berkeadilan Soisal.
Jakarta: STEKPI.
4. Wie, Thee Kian. 2004. Pembangunan, Kebebasan, dan Mukjizat Orde Baru.
Jakarta: Penerbit Kompas.
5. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26095/4/Chapter%20II.pdf



























TUGAS SOSIOLOGI PEMBANGUNAN
















DISUSUN OLEH : Mohd. Redho Setiawan
DOSEN PEMBIMBING : Drs. Parjiyana, M.Si


JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA


KELAS : A


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK


UNIVERSITAS ISLAM RIAU