Anda di halaman 1dari 2

1.

AAS
a. Prinsip Dasar
Prinsip dari spektrofotometri adalah terjadinya interaksi antara energi dan materi. Pada
spektroskopi serapan atom terjadi penyerapan energi oleh atom sehingga atom mengalami transisi
elektronik dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi. Dalam metode ini, analisa didasarkan pada
pengukuran intesitas sinar yang diserap oleh atom sehingga terjadi eksitasi. Untuk dapat terjadinya
proses absorbsi atom diperlukan sumber radiasi monokromatik dan alat untuk menguapkan sampel
sehingga diperoleh atom dalam keadaan dasar dari unsur yang diinginkan.
b. Instrumentasi

Sumber Cahaya
Cara analisis yang berdasarkan absorpsi atom sangat selektif karena garis spektrum absorpsi
atom sangat sempit sekali (0,002 0,005 nm) dan energi transisi atom suatu unsur sangat
khas. Hal ini disebabkan tidak adanya konfigurasi elektron suatu atom sama dengan atom
unsur lain. Cahaya dihasilkan dari cahaya emisi suatu unsur yang sedang dianalisis. Sumber
cahaya yang dapat dipakai adalah:
- Lampu katoda berongga (Hollow Cathode Lamp HCL)
- Electrodeless Discharge Lamp (EDL)
- Continuum Source, High Pressure Xenon Arc.
Sistem Atomisasi
- Atomisasi menggunakan pembakar
Seperti halnya pada flamefotometer, pada SSA pun contoh sebelum masuk ke pembakar
perlu dikabutkan terlebih dahulu. Udara bertekanan dari kompresor sebagai oksidan
ditiupkan ke dalam ruang pengkabut (nebulizer) sehingga akan mengisap larutan contoh
dan membentuk aerosol yang kemudian dicampur dengan bahan bakar. Kabut halus dari
aerosol diteruskan ke pembakar, sedangkan butir-butir yang besar akan mengalir ke luar
melalui pembuangan.
Bentuk pembakar sangat spesifik, yaitu berupa celah sempit dengan panjang 10 12 cm,
sehingga dihasilkan nyala yang panjang. Pembakar dapat digerakkan secara vertikal
maupun horizontal. Gerakan naik turun untuk mendapatkan bagian nyala yang paling
banyak mengandung contoh dalam bentuk atom bebas yang dilalui oleh sinar dari lampu
katoda, sehingga didapatkan absorpsi maksimum. Gerakan horizontal untuk mengatur
ketebalan media (gerak putar dapat 90) sehingga bila contoh terlalu pekat (A terlalu
besar) kita tidak perlu mengencerkan, cukup kita putar agar t diperkecil.
- Atomisasi Tanpa Nyala (Memakai tungku grafit)
Terjadi beberapa tahapan pada proses atomisasi secara graphite furnace:
1. Pengeringan (Drying)
Dilakukan pemanasan pada suhu rendah ( 100C) untuk menghilangan pelarut.
2. Pirolisis Suhu dinaikkan pada 300 800C, sehingga molekul-molekul senyawa organik
dan senyawa anorganik mengalami pirolisis (pemecahan tanpa oksigen). Uap/gas hasil
pirolisis keluar dari alat atomisasi dan yang tinggal adalah senyawa anorganik yang stabil
dan atom logam bebas.
3. Atomisasi Pada tahap ini, tungku grafit dipanaskan sampai 2500C (tergantung unsur
yang sedang dianalisis) untuk menguraikan senyawa yang tersisa menjadi atom bebas
sehingga dapat mengabsorpsi berkas sinar katoda yang dilewatkan. Waktu tahapan
atomisasi tidak boleh terlalu lama, karena akan mempengaruhi waktu hidup tungku
grafit.
4. Pembersihan Suhu dinaikkan hingga 2700C, sehingga contoh maupun kotoran
menjadi bentuk gas yang bisa dibawa oleh aliran gas argon. Dengan demikian pada
permukaan tungku grafit tidak lagi tersisa pengotor.
Sistem Optik
- Lensa
Lensadan cermin yang memfokuskan cahaya radiasi dari HCL, mula-mula pada daerah
atomisasi (nyala, grafit, tabung kuarsa) kemudian slit masuk monokromator dan
detektor. Pada SSA slit yang dipakai mempunyai bandwidth 0,2 -2 nm.
- Monokromator
Monokromator pada SSA berfungsi sebagai pemilih panjang gelombang cahaya () yang
akan digunakan dalam penetapan. Cahaya polikromatis yang keluar/ditransmisikan dari
nyala akan dijadikan monokromatis, kemudian dijatuhkan ke detektor. Monokromator
yang biasa digunakan adalah grating yang sering dikombinasikan dengan prisma. Cahaya
polikromatis akan didispersikan oleh alat ini, kemudian yang diinginkan dilewatkan
melalui sebuah slit.
Detektor dan Set Pembaca Sinyal
Detektor spektometer AAS umumnya adalah tabung pengganda foton yang bekerja pada
daerah UV/Vis dari spektrum tersebut. Set pembaca sinyal dapat berupa galvanometer
sederhana, voltmeter digital, atau dapat didigitalkan dan diproses sdengan komputer.
c. Zat yang Dapat Terdeteksi
Pada prinsipnya secara teoritis, semua unsur dapat dianalisis dengan cara spektrofotometri
serapan atom. Hal ini bergantung pada :
Ada/tidaknya lampu HCl (Hollow Cathode Lamp) yang dapat menghasilkan cahaya dengan
gelombang sesuai dengan garis spectrum dari unsur yang dianalisis.
Unsur yang dianalisis yang terikat pada molekul dapat/tidak diubah menjadi atom-atom bebas
dengan nyala (flame) yang digunakan. Dengan metode analisis ini, sampai saat sekarang terdapat 60
~ 70 jenis atom unsur yang dapat dianalisis. Untuk unsur yang mempunyai garis spektrum diluar
range 190 900 nm belum dapat dianalisis dengan metode AAS. Termasuk unsur-unsur gas mulia,
halogen serta C, H, O, N, S unsur-unsur tanah jarang (kecuali Ce & Th). Dari unsur-unsur ini yang
paling pendek panjang gelombangnya yaitu As 193,7 nm sedang cs adalah unsur yang paling tinggi
panjang gelombangnya yaitu 852,1 nm.