Anda di halaman 1dari 1

BAB 3

KESIMPULAN
Metode identifikasi terus berkembang,berbagai ilmu pengetahuan baik
yang bersifat ilmiah, komputerized atau yang sederhana lebih meningkatkan
akurasi indentifikasi korban mati atau hidup. Tantangan yang dihadapi para
pelaksana identifikasi di kemudian hari adalah apabila ada bencana massal, karena
kuantitas korban makin meningkat. Penanganan identifikasi korban bencana
massal berdasarkan standar yang berlaku merupakan suatu proses yang dapat
dipertanggung-jawabkan, baik secara ilmiah dan secara hukum. Diperlukan
kerjasama dan pengertian yang baik di antara semua pihak yang terlibat dalam
penerapannya, sehingga proses identifikasi mencapai ketepatan dalam identifikasi
dan bukan hanya kecepatan dalam prosesnya. Proses identifikasi korban bencana
besar seperti serangan teroris atau gempa bumi jarang mungkin dengan pengakuan
isual. Perbandingan sidik jari, catatan gigi atau sampel D!" dengan yang
disimpan dalam database atau diambil dari barang pribadi korban sering
diharuskan untuk mendapatkan identifikasi yang meyakinkan.
D#$ diperlukan untuk menegakkan %ak "sasi Manusia, sebagai bagian
dari proses penyidikan, jika identifikasi isual diragukan, sebagai penunjang
kepentingan hukum &asuransi, warisan, status perkawinan' dan dapat
dipertanggungjawabkan. Prosedur D#$ diterapkan jika terjadi bencana yang
menyebabkan korban massal, seperti kecelakaan bus dan pesawat, gedung yang
runtuh atau terbakar, kecelakaan kapal laut dan aksi terorisme. Dapat diterapkan
terhadap bencana dan insiden lainnya dalam pencarian korban. Prinsip dari proses
identifikasi ini adalah dengan membandingkan data ante-mortem dan post-
mortem, semakin banyak yang cocok maka akan semakin baik.