Anda di halaman 1dari 2

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

DISASTER VICTIM IDENTIFICATION (DVI)
2.1. DEFINISI
DVI atau Disaster Victim Identification adalah suatu defenisi yang diberikan sebagai
prosedur untuk mengidentifikasi korban mati akibat bencana massal secara ilmiah yang dapat
dipertanggung-jawabkan dan mangacu pada standar baku Interpol. Dalam melakukan proses
identifikasi terdapat bermacam-macam metode dan teknik identifkasi yang dapat digunakan.
Namun demikian Interpol menentukan Primary Identifiers yang terdiri dari Fingerprints,
Dental Records dan DNA serta Secondary Indentifiers yang terdiri dari Medical, Property
dan Photography.

2.1.1. BENCANA (DISASTER)
Bencana adalah kejadian tak terduga yang menyebabkan kematian atau melukai
banyak orang. Berbagai jenis kegiatan dapat menyebabkan bencana. Jadi operasi DVI
mungkin diperlukan untuk berikut; kecelakaan lalu lintas, bencana alam, kecelakaan teknis
(kebakaran, ledakan), serangan teroris dan peristiwa yang terjadi dalam konteks perang.
Adalah penting untuk membedakan antara bencana yang berbentuk terbuka dan tertutup.
Bencana terbuka adalah peristiwa bencana besar (major) yang mengakibatkan kematian
sejumlah orang yang tidak dikenal untuk siapa tidak ada catatan sebelumnya atau data
deskriptif yang tersedia. Sulit untuk mendapatkan informasi tentang jumlah sebenarnya
korban berikut peristiwa tersebut. Sebuah bencana tertutup merupakan peristiwa bencana
besar yang mengakibatkan kematian sejumlah individu milik tetap, kelompok yang dapat
diidentifikasi (misalnya pesawat kecelakaan dengan daftar penumpang). Sebagai aturan,
perbandingan ante mortem data dapat diperoleh lebih cepat dalam kasus bencana tertutup.
Kombinasi dari dua bentuk ini juga dapat terjadi, misalnya pesawat kecelakaan di daerah
perumahan.

2.1.2. IDENTIFIKASI KORBAN
Pengetahuan mengenai identifikasi (pengenalan jati diri seseorang) pada awalnya
berkembang karena kebutuhan dalam proses penyidikan suatu tindak pidana khususnya untuk
menandai ciri pelaku tindak kriminal, dengan adanya perkembangan masalah-masalah sosial
dan perkembangan ilmu pengetahuan maka identifikasi dimanfaatkan juga untuk keperluan-
keperluan yang berhubungan dengan kesejahteraan umat manusia. Pengetahuan identifikasi
secara ilmiah diperkenalkan pertama kali oleh dokter Perancis pada awal abad ke 19 bernama
Alfonsus Bertillon tahun 1853-1914 dengan memanfaatkan ciri umum seseorang seperti
ukuran anthropometri, warna rambut, mata dan lain-lain. Kenyataan cara ini banyak kendala-
kendalanya oleh karena perubahanperubahan yang terjadi secara biologis pada seseorang
dengan bertambahnya usia selain kesulitan dalam menyimpan data secara sistematis.
Sistem yang berkembang kemudian adalah pendeteksian melalui sidik jari
(Daktiloskopi) yang awalnya diperkenalkan oleh Nehemiah Grew tahun 1614-1712,
kemudian oleh Mercello Malphigi tahun 1628-1694 dan dikembangkan secara ilmiah oleh
dokter Henry Fauld tahun 1880 dan Dalton tahun 1892 keduanya berasal dari Inggris.
Berdasarkan perhitungan matematis penggunaan sidik jari sebagai sarana identifikasi
mempunyai ketepatan yang cukup tinggi karena kemungkinan adanya 2 orang yang memiliki
sidik jari yang sama adalah 64 x 109: 1, kendala dari sistem ini adalah diperlukan data dasar
sidik jari dari seluruh penduduk untuk pembanding.
Adanya perkembangan ilmu pengetahun, saat ini berbagai disiplin ilmu pengetahuan
dapat dimanfaatkan untuk meng-identifikasi seseorang, namun yang paling berperan adalah
berbagai disiplin ilmu kedokteran mengingat yang dikenali adalah manusia. Identifikasi
melalui sarana ilmu kedokteran dikenal sebagai Identifikasi Medik. Manfaat identifikasi
semula hanya untuk kepentingan dalam bidang kriminal (mengenal korban atau pelaku
kejahatan), saat ini telah berkembang untuk kepentingan non-criminal seperti asuransi,
penentuan keturunan, ahli waris dan menelusuri sebab dan akibat kecelakaan, bahkan
identifikasi dapat dimanfaatkan untuk pencegahan cedera atau kematian akibat kecelakaan.