Anda di halaman 1dari 21

Cara Mengisi Aki Baru dengan Accu Zuur

Pada saat membeli aki yang baru, sebaiknya pilih aki yang belum terisi dengan larutan accu zuur
(H2SO4).Jadi kita lebih yakin dengan kualitas accu zuur yang kita beli dan tuang sendiri. Di
mana accu zuur yang diharapkan adalah yang mempunyai berat jenis 1,26 dan kadar impurity
yang rendah.
Mengisi aki baru

1.Siapkan accu zuur ( H2SO4 ) dengan berat jenis 1.260 pada temperatur 20C
2.Tuang accu zuur ke dalam 6 sel aki hingga standar level yang tertera atau 5 mm
diatas separator.
3.Setelah itu aki jangan langsung dipakai, sebaiknya diamkan dulu minimal 3
jam.Tujuannya adalah agar accu zuur telah cukup meresap (penetrasi) ke dalam plataki.
4.Jika ada peningkatan suhu pada aki (badan aki tersa hangat), berarti terjadi oksidasi
pada plat. Untuk itu perlu menyetruman (charging), sampai mencapaivoltase yang diharapkan.
5.Pastikan lubang pada dop (tutup aki) t idak tertutup, agar penguapan tak
tertahan.Catatan :
Jangan sekali kali menambah elektrolit (accu zuur), karena akan mengakibatkan berat jenis
elektrolit terlalu tinggi dan akan mengurangi umur accu.
Accu yang telah diisi elektrolit (accu zuur) harus selalu di jaga dalam keadaan bermuatan listrik.
Karena berbagai gangguan seperti sulfatasi, akan terjadi jukaaccu di diamkan lama dalam
keadaaan tidak bermuatan listrik. (discharge).

Kalau punya adaptor tegangan variabel, dan aki belum rusak, aki bisa diisi sendiri.Kecepatan
pengisian tergantung adi arus maksimal yang mampu disediakan adaptor.Misalnya jika pada aki
tertulis 12v 60 AH (ampere-hour), dengan adaptor 5 ampere membutuhkan waktu sekitar 5 jam.
Dalam keadaan setengah isi berarti kira-kira setengahnya. Tapi karena efisiensi pengisian tidak
100% biasanya membutuhkan waktu lebih lama.Caranya:1. Pastikan air aki cukup.2. Buka tutup
aki selama pengisian, agar gelembung gas yang terbentuk bisa keluar.3. Set tegangan adaptor
pada 14.5 volt (untuk aki 12v).4. Tunggu sekian jam sesuai perkiraan di atas.Jika aki sudah
lemah, selama belum parah, sebenarnya bisa direkondisi lagi. Caranyadicas dengan pulsating
voltage. Tapi ini perlu peralatan dan keahlian khusus.


Cara Mengisi Ulang (Recharge) Aki (Accumulator) Kendaraan
*image: http://enokusuma.wordpress.com Sumber Artikel:
http://maruzar.blogspot.com/2012/03/cara-mengisi-ulang-recharge-aki.html SATURDAY,
MARCH 17, 2012 Mengisi-ulang (recharge) atau secara awam dikenal dengan sebutan cas aki
(charge), adalah usaha atau upaya untuk membalik reaksi kimia pada aki (accu, accumulator).
Saat mengeluarkan daya listrik, cairan asam di dalam aki bereaksi dengan sel-sel aki. Produk dari
reaksi tersebut adalah arus listrik. Produk sampinganya adalah terbentunya endapan pada sel-sel
aki. Lama kelamaan produk endapan semakin menumpuk, air aki berkurang keasamannya atau
menjadi tawar, sel-sel tidak lagi bersentuhan dengan air aki, maka tegangan dan arus aki jadi
menurun. Mengisi-ulang aki adalah usaha atau upaya melepas endapan pada sel-sel aki sehingga
endapan tersebut kembali larut dalam air aki dan meningkatkan keasaman air aki. Jika endapan
pada sel-sel aki sudah terlalu banyak menumpuk dalam waktu yang lama maka aki tidak dapat
diisi-ulang lagi dan harus diganti baru. Ada pendapat menyatakan bahwa sel-sel aki bisa
dibersihkan endapannya dengan mengisi aki dengan air panas untuk mencuci dan menguras sel-
sel aki. Tapi cara ini beresiko merusak sel-sel aki. Ada juga cara kimia untuk mengurangi
endapan pada sel-sel aki, yaitu dengan cara menambahkan produk zat kimia setiap satu bulan
sekali. Menurut saya, sebenarnya aki tidak didesain untuk diperbaharui dengan cara kimia ini,
tapi saya serahkan kepada para pembaca untuk menganalisa, mencoba, dan menyimpulkannya.
Pada saat normal, reaksi kimia aki adalah sebagai berikut: Reaksi kimia aki saat mengeluarkan
arus listrik (discharge) Negative plate reaction: Pb(s) + HSO4(aq) PbSO4(s) + H+(aq) +
2-e Positive plate reaction: PbO2(s) + HSO4(aq) + 3H+(aq) + 2-e PbSO4(s) + 2H2O(l)
Reaksi kimia aki saat diisi-ulang (recharge) Negative plate reaction: PbSO4(s) + H+(aq) + 2-e
Pb(s) + HSO4(aq) Positive plate reaction: PbSO4(s) + 2H2O(l) PbO2(s) + HSO4(aq)
+ 3H+(aq) + 2-e Jelas terlihat bahwa reaksi kimia saat discharge adalah kebalikan dari reaksi
kimia saat recharge. Selama sel-sel aki tidak rusak, dan tidak ada zat lain yang dapat
mengganggu, maka kedua reaksi tersebut akan selalu dapat dilakukan. Jika discharge dan
recharge selalu dilakukan pada saat yang tepat dan dengan prosedur yang tepat, maka umur aki
dapat diperpanjang. Untuk mengisi-ulang aki dibutuhkan tegangan yang sedikit lebih tinggi dari
tegangan aki. Untuk aki 12 volt, maka tegangan pengisian adalah 14 volt. Menurut spesifikasi,
aki 12 volt akan terisi penuh jika tegangannya mencapai 14.4 volt, beberapa dapat diisi-ulang
sampai 15 volt tanpa merusak aki tersebut. Jadi sebagai patokan umum, 14 volt adalah tegangan
pengisian aki, dan jika aki sudah penuh maka tegangannya akan sama dengan tegangan pengisian
yaitu 14 volt tersebut. Pada saat diisi-ulang, aki dapat mengeluarkan gas dan uap air. Maka
sebelum diisi-ulang, bersihkan dulu bagian atas aki dengan lap basah agar kotoran tidak masuk
ke cairan aki, lalu kendurkan tutup-tutup sel aki. Tujuannya adalah agar gas mudah keluar dan
mencegah aki meledak. Sebenarnya tutup sel aki mempunyai ventilasi, tapi ada kemungkinan
ventilasi itu tersumbat atau kurang mampu mengeluarkan gas. Tambahkan air destilasi (air
murni) jika air aki kurang dari level maximal. Battery charger dapat berupa adaptor yang
merubah arus listrik bolak-balik (AC) dari jaringan kota atau rumah menjadi arus searah (DC).
Adaptor jenis ini banyak tersedia dipasaran, pilih yang bertegangan 13.8 Volt, yang biasanya
digunakan oleh radio amatir dan biasanya disebut sebagai power supply untuk radio komunikasi.
Menurut istilah yang biasa digunakan sehari-hari di pasaran di Jakarta, adaptor adalah suatu alat
untuk merubah arus bolak-balik jaringan listrik kota atau rumah, menjadi arus searah. Sedangkan
power supply, adalah suatu adaptor yang mempunyai stabilisator tegangan. Dari sisi harga,
adaptor lebih murah dari power supply. Sedangkan Battery charger dengan kapasitas arus besar,
diatas 40 ampere, yang dapat digunakan untuk jump start, harganya sangat mahal. Arus
pengisian battery adalah sekitar 10% dari arus maximal yang dapat keluarkan aki. Misal, suatu
aki berkapasitas arus 40AH (ampere hour) maka aki tersebut mampu mengeluarkan arus 40
ampere selama satu jam, jadi arus pengisiannya adalah 10% dari 40A yaitu 4 ampere. Untuk
mengisi-ulang aki 40AH dibutuhkan battery charger atau power supply berkapasitas 8 ampere,
atau 2 kali arus pengisian. Jika kurang dari 8 ampere maka ada kemungkinan battery charger atau
power supply tersebut menjadi terlalu panas dan dapat terbakar. Arus pengisian ditentukan oleh
selisih tegangan. Arus pengisian aki akan membesar jika selisih tegangan aki dengan tegangan
charger besar. Misal: aki diisi-ulang saat tegangannya sudah serendah 11 volt, dengan battery
charger bertegangan 14 volt, maka arus pengisiannya akan lebih besar dibanding jika aki yang
sama diisi-ulang saat tegangannya 13 volt. Arus pengisian yang besar akan menyebabkan panas
yang tinggi dan gas lebih banyak terbentuk. Pada sistem Pengisi Aki Pintar (Smart Battery
Charger), tegangannya dapat diatur secara automatis guna mencegah terbentuknya gas dalam
jumlah besar. Prinsip pada pengisian aki adalah mirip dengan 2 bejana berhubungan
sebagaimana gambar dibawah. Bejana A berisi air lebih tinggi dan berhubungan dengan bejana B
dengan selisih tinggi air S. Air akan mengalir dari A ke B, air akan berhenti mengalir jika tidak
ada selisih ketinggian A-B atau S=0. Aliran akan semakin besar jika selisih ketinggian air
semakin besar. Jika tegangan aki sudah kurang dari 12 volt, maka dibutuhkan sekitar 8 -10 jam
untuk mengisi aki tersebut agar tegangannya naik menjadi 14 volt. Jika adaptor atau power
supply anda dapat disetel tegangannya menjadi 12 volt, maka untuk mencegah terbentuknya
banyak gas saat mengisi aki yang sudah sangat rendah tegangannya, sebaiknya aki diisi-ulang
dengan tegangan 12 volt dulu, baru kemudian diisi-ulang dengan tegangan 14 volt. Ada juga
battery charger yang dapat disetel arusnya, bukan tegangannya, maka gunakan arus yang rendah
terlebih dulu untuk aki yang sudah sangat rendah tegangannya, agar mengurangi pembentukan
gas. Aki tidak perlu dilepas koneksinya dari kendaraan, juga tidak perlu dilepas dari dudukannya
di kendaraan, sehingga dapat dilakukan di garasi rumah anda. Lihat foto dibawah, tampak aki
masih terpasang dan terhubung dengan dengan sistem elektrik mobil, saat aki diisi-ulang.
Terlihat juga bagian atas aki yang bersih, dengan semua tutup aki sudah dikendurkan agar gas
dapat keluar, tapi tutup-tutup tetap berada pada lubangnya guna mencegah kotoran masuk.
Penyambungan kabel charger adalah positif charger ke positif aki, dan negatif charger ke negatif
aki. Sambung kabel positif terlebih dahulu. Kabel negatif dapat disambungkan ke bodi
kendaraan.


Proses pengisian accumulator
Judul : Laporan Proses Pengisian accumulator.
Tujuan : Mengetahui dan mempelajari proses pengisian accumulator (aki)
Alat Dan Bahan :
Buku tulis
Alat tulis
Informasi dari tempat pengisian aki.
Cara Kerja :
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Kunjungi bengkel atau tempat pengisian accumulator terdekat.
3. Lakukan wawancara dengan salah satu teknisi di bengkel tersebut mengenai proses pengisian
(penyetruman accumulator).
4. Catatanlah hasil wawancaramu dalam sebuah laporan tertulis.
5. Revisilah hasil wawancaramu.
6. Ketiklah hasil wawancaramu dan buatlah kesimpulan atas laporan tersebut.
Analisis Data Hasil Pengamatan
AKI (ACCUMULATOR)
Aki adalah jenis battery yang banyak digunakan untuk kendaraan bermotor. Aki menjadi pilihan
praktis karena dapat menghasilkan listrik yang cukup besar dan dapat diisi kembali. Aki berasal
dari kata accumulator atau biasa disingkat accu.Aki dapat memberikan aliran listrik bila
dihubungkan dengan suatu rangkaian luar. Sel aki terdiri dari anoda atau lempeng negatif Pb
(timbal = timah hitam) dan katode atau lempeng positif PbO2 (timbal oksida), keduanya
merupakan zat padat, yang dicelupkan dalam larutan asam sulfat. Kedua elektroda tersebut, juga
hasil reaksinya, tidak larut dalam larutan asam sulfat, sehingga tidak perlu memisahkan anoda
dan katoda dan dengan demikian tidak perlu jembatan garam, yang perlu dijaga adalah jangan
sampai kedua elektroda tersebut saling bersentuhan.
Aliran listrik pada aki terjadi karena reaksi kimia dari asam sulfat dengan Pb dari anoda dan
PbO2 dari katoda yang merupakan bahan aktifnya. Reaksi redoks spontan ini bersifat dapat balik
(reversible) antara proses pengisian muatan (charging) dan pelepasan muatan (discharging). Pada
pelepasan muatan listrik, oksigen dari PbO2 bereaksi dengan hidrogen dari H2SO4 sehingga
terbentuk air. Pada saat yang sama Pb dari PbO2 bereaksi dengan ion sulfat membentuk PbSO4,
demikian pula Pb dari anoda akan menjadi PbSO4.

Proses Pengisian Accumulator (aki)
Alat dan Bahan :
Accumulator
Jepitan (-)dan (+)
Amperemeter
Terapo

Cara Kerja:
1.Siapkan alat bahan.
2.Nyalakan terapo ke listrik.
3.Jepitkan jepitan hitam ke aki muatan positif (+) dan jepitan merah ke aki bermuatan negative (-
).
4.Perbesar dan perkecil volume aki tersebut dengan terapo dan amperemeter.
5.Apabila proses selesai accumulator tersebut pun akan siap dipakai untuk kendaraan bermotor.

Jenis-jenis accumulator
Accumulator atau aki terdiri atas 2 jenis, yaitu :
A. Aki basah (lead acid battery)
Penggunaannya memakai air.
Keunggulan :
1. Harganya lebih murah daripada aki kering.
B. Aki kering (dry battery)
Penggunaannya menggunakan gel. Timbal dari aki kering di desain sempurna.
Keunggulan :
1. bebas perwatan dibandingkan aki basah .
2. Lebih tahan lama.
Keadaan aki
1. Keadaan accu normal
Voltasenya saat tidak dipasang pada kendaraan 12.63 Ah.
Saat start voltasenya 11.36 Ah.
Saat tanpa beban voltasenya 14.27 Ah.
Saat beban penuh voltasenya 13.69 Ah.
2. Keadaan accu kurang bagus
Voltasenya saat tidak dipasang pada kendaraan di bawah 0.9 Ah.
Saat start voltasenya09.26 Ah.
Saat tanpa beban voltasenya 12.01 Ah.
Saat beban penuh voltasenya 11.26 Ah.
Setiap kendaraan memerlukan accumulator untuk menghidupkan dinamostater pada kendaraan
tersebut. Setiap kendaraan pada umumnya melakukan pengisian aki dalam jangka waktu satu
setengah tahun.

Kesimpulan
Accumulator (aki) merupakan jenis battery yang digunakan pada kendaraan bermotor.
Accumulator dapat di isi ulang dengan cara menyetrum accumulator tersebut.


Charger Accu 6-24V untuk Aki Basah dan Kering
Produk Jonas di Kategori Aksesoris Mobil & Motor, Charger dan Power Supply

Charger aki ini bisa digunakan untuk mengisi aki basah dan kering. Dan dapat digunakan untuk
mengisi baterai aki 6volt, 12volt, 18volt dan 24 volt.

Cara pemakaian charger accu:
1. Pastikan alat ini berada pada posisi off, ketika akan digunakan.
2. Putar knop volt pada posisi sesuai dengan volt aki yang akan diisi.
3. Hubungan kabel merah kutub (+) dengan kutub (+). Kabel hitam pada kutub (-) hubungkan
dengan kutub (-) dari aki Anda. Jangan sampai terbalik.
4. Posisikan saklar dari hi-low ke arah low
5. Pasangkan sumber listrik dan baru nyalakan power ON.
6. Setelah proses pengisian dimulai, apabila Anda ingin mempercepat proses pengisian Anda
dapat memindahkan ke posisi HI. Namun cara pengisian accu ke posisi HI secara terus menerus,
dapat mengurangi usia accu Anda.
Percobaan Korosi Pada Logam ( Paku )

A. Judul : Percobaan Korosi Pada Logam ( Paku )
Tujuan : Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya korosi dan faktor-faktor apa saja yang
dapat mempercepat korosi
Landasan Teori:

Menurut Roberge, Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya,
sedangkan menurut Gunaltun, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya menyerang
logam, Korosi adalah teroksidasinya suatu logam. Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam
akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang
merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan.
.Dalam kehidupan sehari - hari, besi yang teroksidasi disebut dengan karat dengan rumus
Fe
2
O
3
xH
2
O. Proses perkaratan termasuk proses elektrokimia, di mana logam Fe yang
teroksidasi bertindak sebagai anode dan oksigen yang terlarut dalam air yang ada pada
permukaan besi bertindak sebagai katode.
Reaksi perkaratan:
Anode : Fe Fe
2+
+ 2 e


Katode : O
2
+ 2H
2
O 4e

+ 4 OH


Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu
berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.

Fe(s) Fe2+(aq) + 2e E = +0.44 V

Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain besi itu yang bertindak
sebagai katode, di mana oksigen tereduksi.

O2(g) + 2H2O(l) + 4e 4OH-(aq) E = +0.40 V
atau
O2(g) + 4H+(aq) + 4e 2H2O(l) E = +1.23 V
Ion besi (II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion
besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, Fe
2
O
3
. xH
2
O, yaitu karat besi.
Korosi Besi memerlukan oksigen dan air.
a. Kerugian
Besi ( Paku ) yang terkena korosi akan bersifat rapuh dan tidak ada kekuatan. Ini sangat
membahayakan kalau besi tersebut digunakan sebagai pondasi bangunan atau jembatan.
Senyawa karat juga membahayakan kesehatan, sehingga besi tidak bisa digunakan sebagai alat-
alat masak, alat-alat industri makanan/farmasi/kimia.
b. Pencegahan
Pencegahan besi dari perkaratan bisa dilakukan dengan cara berikut.
1) Proses pelapisan
Besi dilapisi dengan suatu zat yang sukar ditembus oksigen. Hal ini dilakukan dengan cara
dicat atau dilapisi dengan logam yang sukar teroksidasi. Logam yang digunakan adalah logam
yang terletak di sebelah kanan besi dalam deret volta (potensial reduksi lebih negatif dari besi).
Contohnya: logam perak, emas, platina, timah, dan nikel.

2) Proses katode pelindung (proteksi katodik)
Besi dilindungi dari korosi dengan menempatkan besi sebagai katode, bukan sebagai
anode. Dengan demikian besi dihubungkan dengan logam lain yang mudah teroksidasi, yaitu
logam di sebelah kiri besi dalam deret volta (logam dengan potensial reduksi lebih positif dari
besi).
Hanya saja logam Al dan Zn tidak bisa digunakan karena kedua logam tersebut mudah
teroksidasi, tetapi oksida yang terbentuk (A1
2
O
3
/ZnO) bertindak sebagai inhibitor dengan cara
menutup rapat logam yang di dalamnya, sehingga oksigen tidak mampu masuk dan tidak
teroksidasi. Logam-logam alkali, seperti Na, K juga tidak bisa digunakan karena akan bereaksi
dengan adanya air. Logam yang paling sesuai untuk proteksi katodik adalah logam magnesium
(Mg). Logam Mg di sini bertindak sebagai anode dan akan terserang karat sampai habis, sedang
besi bertindak sebagai katode tidak mengalami korosi.
. Pada proses korosi terjadi reaksi antara ion-ion dan juga antar elektron. Anode adalah
bagian dari permukaan logam dimana metal akan larut.
Reaksinya : Fe 2 Fe
2+
+ 4e
-

Dengan kata lain ion-ion besi Fe
++
akan melarut dan elektron-elektron e
-
tetap tinggal
pada logam. Katode adalah bagian permukaan logam dimana elektron-elektron
4e
-
yang tertinggal akan menuju kesana (oleh logam) dan bereaksi dengan O
2
dan H
2
O.
O
2
+ H
2
O + 4e
- >
4 OH
-

Ion-ion 4 OH
-
di anode bergabung dengan ion 2 Fe
2+
dan membentuk 2 Fe(OH)
2
. Oleh
kehadiran zat asam dan air maka terbentuk karat Fe
2
O
3
.

Reaksi perkaratan besi
a. Anoda: Fe(s) Fe
2+
+ 2e
Katoda: 2 H
+
+ 2 e
-
H2
2 H
2
O + O
2
+ 4e
-
4OH
-

b. 2H
+
+ 2H
2
O + O
2
+ 3Fe 3Fe
2+
+ 4OH
-
+ H
2

Fe(OH)
2
oleh O
2
di udara dioksidasi menjadi Fe
2
O
3
. nH
2
O

Penyebab Korosi
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang
berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian
bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik
pencampuran bahan dan sebagainya. Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran
udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya.
Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam,
baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik.

Faktor yang mempengaruhi Korosi
Korosi pada permukaan suatu logam dapat dipercepat oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Oksigen terlarut ( DO = Dissolved oxygen ) DO berperan dalam sebagian proses
korosi, bila konsentrasi DO naik, maka kecepatan korosi akan naik.
2. Zat padat terlarut jumlah ( TDS = total dissolved solid ) konsentrasi TDS sangatlah
penting, karena air yang mengandung TDS merupakan penghantar arus listrik yang baik
dibandingkan dengan air tanpa TDS. Aliran listrik diperlukan untuk terjadinya korosi pada
pipa logam, oleh karena itu jika TDS naik, maka kecepatan korosi akan naik.
3. pH dan Alkalinitas mempengaruhi kecepatan reaksi, pada umumnya pH dan alkalinitas
naik, kecepatan korosi akan naik. Peristiwa korosi pada kondisi asam, yakni pada kondisi pH
< 7 semakin besar, karena adanya reaksi reduksi tambahan yang berlangsung pada katode
yaitu: 2H
+
(aq)
+ 2e
-
H
2

4. Temperatur makin tinggi temperatur, reaksi kimia lebih cepat terjadi dan naiknya
temperatur air pada umumnya menambah kecepatan korosi.
5. Tipe logam yang digunakan untuk pipa dan perlengkapan pipa logam yang mudah
memberikan elektron atau yang mudah teroksidasi, akan mudah terkorosi.
6. Aliran listrik Aliran listrik yang diakibatkan oleh korosi sangat lemah dan isolasi dapat
menghalangi aliran listrik antara logam-logam yang berbeda, sehingga korosi galvanis dapat
dihindari. Bilamana aliran listrik yang kuat melewati logam yang mudah terkorosi, maka
akan menimbulkan aliran nyasar dari sistem pemasangan listrik di pelanggan yang tidak
menggunakan aarde, hal ini menyebabkan korosi cepat terjadi.
7. B a k t e r i tipe bakteri tertentu dapat mempercepat korosi, karena mereka akan
menghasilkan karbon dioksida (CO
2
) dan hidrogen sulfida (H
2
S), selama masa putaran
hidupnya. CO
2
akan menurunkan pH secara berarti sehingga menaikkan kecepatan korosi.
H
2
S dan besi sulfida, Fe
2
S
2
, hasil reduksi sulfat (SO
4
2
) oleh bakteri pereduksi sulfat pada
kondisi anaerob, dapat mempercepat korosi bila sulfat ada di dalam air. Zat-zat ini dapat
menaikkan kecepatan korosi. Jika terjadi korosi logam besi maka hal ini dapat mendorong
bakteri besi (iron bacteria) untuk berkembang, karena mereka senang dengan air yang
mengandung besi.





B. METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum dilaksanakan di Kelas XII IPA U2, pada tanggal 14 November 2012
Alat dan Bahan Praktikum
1) Percobaan korosi paku
a. Alat
5 buah gelas plastik
Plastik 3 biji
Paku ukuran besar yang masih mengkilap.
Karet

b. Bahan
Air suling
Larutan NaCl ( air garam)
Minyak Goreng
Air panas

Prosedur Kerja
1) Menyelidiki Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Korosi
1. Siapkan alat dan bahan sebagai berikut :
Alat : 5 buah gelas plastik, kapas, paku ukuran besar yang masih mengkilap.
Bahan : Air suling, larutan NaCl, air panas
2. Beri label setiap gelas dengan tulisan :
Gelas 1 (udara kosong)
Gelas 2 (air garam)
Gelas 3 (air suling)
Gelas 4 ( air panas)
Gelas 5 (minyak goring)
3. Menuangkan semua larutan ke dalam gelas dengan tinggi kira-kira 3 cm.
Gelas I : memasukan paku ke dalam gelas yang kosong dan ditutup oleh Plastik
Gelas II : memasukan paku ke dalam gelas yang berisi larutan NaCl dan ditutup oleh plastik ,
dengan posisi semua terkena larutan
Gelas III : memasukan paku ke dalam gelas yang berisi H
2
O ( air suling ) , dengan posisi
semua bagian terkena air dengan keadaan terbuka.
Gelas IV : memasukan paku ke dalam gelas yang berisi H
2
O( air) mendidih dengan posisi
semua bagian terkena air dan ditutup oleh plastik
Gelas V : memasukan paku ke dalam gelas yang berisi minyak goreng , dengan posisi semua
bagian terkena air dalam keadaan terbuka
4. Simpan tabung ( gelas aqua) tersebut selama 7 hari
5. Amati perubahan yang terjadi pada paku-paku tersebut
6. Buat Kesimpulan dari percobaan.

Hasil Pengamatan

Nama
Gelas
Perubahan pada gelas
Ket.
Sebelum Setelah 7 hari
1
Paku masih
mengkilat dan air
masih jernih
Tidak ada karat Udara kosong
( tertutup)
2
Paku menghitam dan ada
serbuk kuning yang melekat
di paku.
Air tidak berubah warna
tetapi menjadi agak keruh
Paku dalam air garam
(NaCl)
( tertutup)
3
Paku menghitam dan ada
serbuk kuning yang melekat
di paku.
Air menjadi berwarna kuning
Paku dalam aqua ( bening)
( terbuka)


Hasil Pengamatan :

1. Paku yang dimasukan ke dalam wadah kosong tertutup mengalami korosi sedikit karena
adanya suhu.

2. Paku yang dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air garan yang tertutup mengalami
korosi karena larutan air garam terdapat O
2
dan H
2
O

3. Paku yang dimasukkan kedalam wadah yang berisi air bening yang terbuka mengalami
korosi karena adanya O
2
dan H
2
O

4. Paku yang dimasukkan kedalam wadah yang berisi air panas dalam keadaan tertutup
mengalami korosi karena terdapat H
2
O

5. yang dimasukkan ke dalam wadah yang berisi minyak dalam keadaan terbuka tidak
mengalami korosi karena tidak ada O
2.


Korosi yang terjadi pada Paku
Pembahasan
1. Paku yang paling mudah mengalami korosi terdapat pada gelas( III ) yang berisi air dan
paku serta wadah yang terbuka
2. Selanjutnya paku yang mengalami korosi terdapat pada gelas ( II ) yang berisi air garam
dan paku serta wadah yang tertutup tetapi korosi pada gelas II lebih banyak.
3. Selanjutnya paku yang mengalami korosi terdapat pada gelas ( IV ) yang berisi air panas
dan paku dengan wadah yang tertutup
4. Paku yang mengalami sedikit korosi terdapat pada wadah kosong karena pengaruh suhu
4
Sedikit serbuk kuning Paku dalam air panas
( tertutup)
5
Paku masih
mengkilat

Tidak ada karat
Paku dalam minyak goring
( terbuka)

5. Paku dalam wadah minyak tidak mengalami korosi karena tidak ada air dan oksigen.

Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilaksanakan, dapat ditarik suatu kesimpulan jika KOROSI
terjadi karena adanya satu pengaruh lingkungan terhadap suatu benda, dan adanya beberapa
factor yang menyebabkan korosi terjadi , adapun factor itu adalah :
Udara O
2
: Korosi terjadi lebih mudah jika suatu logam berekasi dengan udara disekitarnya,
jadikorosi akan lebih cepat terjadi jika oksigen bereaksidengan mengoksidasi logam tertentu
yang cukup reaktif, seperti besi (Fe).
Air H
2
O : Korosi juga akan terjadi jika pereduksinyaadalah air (H
2
O) , sehingga jika lebih
mudah suatu logam cukup reaktif jika telah berinteraksi dengan air (O
2
)
Jenis Pereduksi : tidak semua pereduksi mampu menyebabkan korosi, contohnya HCl, dan
larutan lainya dari asam halida.
Jenis Logam : Logam yang sangat reaktif dapat mencegah logam lain untuk bereduksi
sehingga kejadian korosi dapat dicegah
Ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial
terhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bilamasih bersih dari oksida.I .






Beranda
About
gigirapih
This WordPress.com site is the cats pajamas
Image
PUISI
Laporan Praktikum Korosi Pada Paku
November 29, 2012 //
0
1. TUJUAN
Mengetahui terjadinya korosi pada besi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2. TEORI
Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya.
Definisi lainnya adalah korosi merupakan rusaknya logam karena adanya zat penyebab
korosi, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya menyerang logam.

3. ALAT DAN BAHAN
4 buah paku
4 buah gelas plastik
Air
Larutan garam
Larutan cuka

4. WAKTU PENGAMATAN
Sabtu 10 November 2012 sampai Kamis 15 November 2012

5. CARA KERJA
1. Sediakan 4 buah gelas plastik.
2. Lalu beri label A, B, C dan D.
3. Gelas A diisi paku.
4. Gelas B diisi paku dengan air.
5. Gelas C diisi paku dengan larutan garam.
6. Gelas D diisi paku dengan larutan cuka.
7. Letakan gelas-gelas tersebut di tempat yang aman
8. Amati perubahan-perubahan yang terjadi.

6. HASIL PENGAMATAN
Larutan Bahan Kesimpulan
- Paku Tidak berkarat
Air Paku Sedikit Berkarat
Air & Garam Paku Berkarat dan airnya berwarna kekuningan
Air & Cuka Paku Semuanya berkarat dan airnya berwarna kemerahan

7. PEMBAHASAN
1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Korosi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi suatu logam dapat terkorosi dan kecepatan laju
korosi suatu logam. Suatu logam yang sama belum tentu mengalami kasus korosi yang sama
pula pada lingkungan yang berbeda. Begitu juga dua logam pada kondisi lingkungan yang
sama tetapi jenis materialnya berbeda, belum tentu mengalami korosi yanga sama. Dari hal
tersebut, maka dapat dikatakan bahwa terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi korosi
suatu logam, yaitu faktor metalurgi dan faktor lingkungan.
1. Faktor Metalurgi
Faktor metalurgi adalah pada material itu sendiri. Apakah suatu logam dapat tahan terhadap
korosi, berapa kecepatan korosi yang dapat terjadi pada suatu kondisi, jenis korosi apa yang
paling mudah terjadi, dan lingkungan apa yang dapat menyebabkan terkorosi, ditentukan dari
faktor metalurgi tersebut.
Yang termasuk dalam faktor metalurgi antara lain :
a. Jenis logam dan paduannya
Pada lingkungan tertentu, suatu logam dapat tahan tehadap korosi. Sebagai contoh,
aluminium dapat membentuk lapisan pasif pada lingkungan tanah dan air biasa, sedangkan
Fe, Zn, dan beberapa logam lainnya dapat dengan mudah terkorosi.

b. Morfologi dan homogenitas
Bila suatu paduan memiliki elemen paduan yang tidak homogen, maka paduan tersebut akan
memiliki karakteristik ketahanan korosi yang berbeda-beda pada tiap daerahnya.
c. Perlakuan panas
Logam yang di-heat treatment akan mengalami perubahan struktur kristal atau perubahan
fasa. Sebagai contoh perlakuan panas pada temperatur 500-800 0C terhadap baja tahan karat
akan menyebabkan terbentuknya endapan krom karbida pada batas butir. Hal ini dapat
menyebabkan terjadinya korosi intergranular pada baja tersebut. Selain itu, beberapa proses
heat treatment menghasilkan tegangan sisa. Bila tegangan sisa tesebut tidak dihilangkan,
maka dapat memicu terjadinya korosi retak tegang.
d. Sifat mampu fabrikasi dan pemesinan
Merupakan suatu kemampuan material untuk menghasilkan sifat yang baik setelah proses
fabrikasi dan pemesinan. Bila suatu logam setelah fabrikasi memiliki tegangan sisa atau
endapan inklusi maka memudahkan terjadinya retak.
2. Faktor Lingkungan
Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi korosi antara lain:
a. Komposisi kimia
Ion-ion tertentu yang terlarut di dalam lingkungan dapat mengakibakan jenis korosi yang
berbeda-beda. Misalkan antara air laut dan air tanah memiliki sifat korosif yang berbeda
dimana air laut mengandung ion klor yang sangat reaktif mengakibatkan korosi. Gambar
berikut menunjukkan pengaruh komposisi elemen paduan terhadap ketahan korosi terhadap
paduan tembaga.
b. Konsentrasi
Konsentrasi dari elektrolit atau kandungan oksigen akan mempengaruhi kecepatan korosi
yang terjadi. Pengaruh konsentrasi elektrolit terlihat pada laju korosi yang berbeda dari besi
yang tercelup dalam H2SO4 encer atau pekat, dimana pada larutan encer, Fe akan mudah
larut dibandingkan dalam H2SO4 pekat. Pengaruh konsentrasi terhadap laju korosi dapat
dilihat pada gambar berikut.
Suatu logam yang berada pada lingkungan dengan kandungan O2 yang berbeda akan terbagi
menjadi dua bagian yaitu katodik dan anodik. Daerah anodik terbentuk pada media dengan
konsentrasi O2 yang rendah dan katodik terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang
tinggi.
c. Temperatur
Pada lingkungan temperatur tinggi, laju korosi yang terjadi lebih tinggi dibandingkan dengan
temperatur rendah, karena pada temperatur tinggi kinetika reaksi kimia akan meningkat.
Gambar berikut menunjukkan pengaruh temperatur terhadap laju korosi pada Fe. Semakin
tinggi temperatur, maka laju korosi akan semakin meningkat, namun menurunkan kelarutan
oksigen. Sehingga pada suatu sistem terbuka, diatas suhu 800C, laju korosi akan mengalami
penurunan karena oksigen akan keluar sedangkan pada suatu sistem tertutup, laju korosi akan
terus menigkat karena adanya oksigen yang terlarut.
d. Gas, cair atau padat
Kandungan kimia di medium cair, gas atau padat berbeda-beda. Misalkan pada gas, bila
lingkungan mengandung gas asam, maka korosi akan mudah terjadi (contohnya pada pabrik
pupuk). Kecepatan dan penanganan korosi ketiga medium tersebut juga dapat berbeda-beda.
Untuk korosi di udara, proteksi katodik tidak dapat dilakukan, sedangkan pada medium cair
dan padat memungkinkan untuk dilakukan proteksi katodik.
e. Kondisi biologis
Mikroorganisme seperti bakteri dan jamur dapat menyebabkan terjadinya korosi mikrobial
terutama sekali pada material yang terletak di tanah. Keberadaan mikroorganisme sangat
mempengaruhi konsentrasi oksigen yang mempengaruhi kecepatan korosi pada suatu
material.
2. Teori Ion Svante August Arrhenius
Mengapa larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan nonelektrolit
tidak dapat menghantarkan arus listrik? Penjelasan tentang permasalahan di atas pertama kali
dikemukakan oleh Svante August Arrhenius (1859 1927) dari Swedia saat presentasi
disertasi PhD-nya di Universitas Uppsala tahun 1884.
Menurut Arrhenius, zat elektrolit dalam larutannya akan terurai menjadi partikel-partikel
yang berupa atom atau gugus atom yang bermuatan listrik yang dinamakan ion. Ion yang
bermuatan positif disebut kation, dan ion yang bermuatan negatif dinamakan anion.
Peristiwa terurainya suatu elektrolit menjadi ion-ionnya disebut proses ionisasi. Ion-ion zat
elektrolit tersebut selalu bergerak bebas dan ion-ion inilah yang sebenarnya menghantarkan
arus listrik melalui larutannya. Sedangkan zat nonelektrolit ketika dilarutkan dalam air tidak
terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang tidak bermuatan listrik.
Hal inilah yang menyebabkan larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan listrik. Dari
penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan:
1. Larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena zat elektrolit dalam larutannya
terurai menjadi ion-ion bermuatan listrik dan ion-ion tersebut selalu bergerak bebas.
2. Larutan nonelektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik karena zat nonelektrolit dalam
larutannya tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang tidak
bermuatan listrik. Zat elektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya dapat
menghantarkan arus listrik karena telah terionisasi menjadi ion-ion bermuatan listrik. Zat
nonelektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya tidak dapat menghantarkan arus listrik
karena tidak terionisasi menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul.
8. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan atau hasil pengamatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang
cepat terkena faktor korosi ialah paku yang diberi air dan larutan cuka.
Karena, jenis logam dan paduannya, perlakuan panas, morfologi dan homogenitas, sifat
mampu fabrikasi dan pemesinan, komposisi kimia, konsentrasi, temperature, kondisi biologis,
gas, cair atau padat. Serta keasaman atau kebasaan merupakan suatu faktor penyebab korosi.
Namun pada percobaan justru asam memperlambat korosi walaupun pada akhirnya paku
mengalami korosi.