Anda di halaman 1dari 14

Bella Amelia Sefilla A.

(1102012043) Mandiri SK2-GIT




LI 1. Memahami dan menjelaskan Anatomi makroskopik dan mikroskopik hepar
1.1 ANATOMI MAKROSKOPIK HEPAR
Hepar merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh dan mempunyai banyak fungsi. Tiga
fungsi dasar hepar:
a. membentuk dan mensekresikan empedu ke dalam traktus intestinalis;
b. berperan pada banyak metabolisme yang berhubungan dengan karbohidrat, lemak,
dan protein;
c. menyaring darah untuk membuang bakteri dan benda asing yang masuk ke dalam
darah dari lumen intestinum.

Hepar bertekstur lunak, lentur, dan terletak di bagian atas cavitas abdominalis tepat di
bawah diafragma. Seluruh hepar dikelilingi oleh kapsula fibrosa, tetapi hanya sebagian
ditutupi oleh peritoneum.
Sebagian besar hepar terletak di profunda arcus costalis dekstra, dan hemidiafragma
dekstra memisahkan hepar dari pleura, pulmo, perikardium, dan cor. Hepar terbentang
ke sebelah kiri untuk mencapai hemidiafragma sinistra. Permukaan atas hepar yang
cembung melengkung di bawah kubah diafragma. Facies visceralis, atau
posteroinferior, membentuk cetakan visera yang letaknya berdekatan sehingga
bentuknya menjadi tidak beraturan. Permukaan ini berhubungan dengan pars
abdominalis esofagus, gaster, duodenum, fleksura coli dekstra, ren dekstra dan glandula
suprarenalis dekstra, serta vesica biliaris.

Vaskularisasi appendix vermiformis
Arteria hepatica propria, cabang truncus coeliacus, berakhir dengan bercabang
menjadi ramus dekster dan sinister yang masuk ke dalam porta hepatis.
Vena porta hepatis bercabang dua menjadi cabang terminal, yaitu ramus dekster
dan sinister yang masuk porta hepatis di belakang arteri.

Persarafan appendix vermiformis
Saraf simpatis dan parasimpatis membentuk pleksus coeliacus. Truncus vagalis anterior
mempercabangkan banyak rami hepatici yang berjalan langsung ke hepar.

1.1 ANATOMI MIKROSKOPIK HEPAR
Merupakan kelenjar terbesar yang beratnya + 1500 g. Dibungkus oleh jaringan
penyambung padat fibrosa (capsula Glissoni). Capsula ini bercabang-cabang ke dalam
hati membentuk sekat-sekat interlobularis, ketebalan sekat berbeda pada spesies yang
berbeda, misalnya pada babi lebih tebal daripada pada manusia.
Terdiri dari lobulus-lobulus yang bentuknya hexagonal/polygonal, dibatasi jaringan
interlobular. Jika dilihat dari tiga dimensi, lobulus seperti prisma hexagonal/polygonal
disebut lobulus klasik, panjangnya 1-2 mm. Sel-sel hati/ hepatocyte berbentuk
polygonal tersusun berderet radier, membentuk lempengan yang saling berhubungan,
dipisahkan oleh sinusoid yang juga saling berhubungan.



Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT




Lobulus hati
Lobulus Klasik
Bagian jaringan hati dengan pembuluh-pembuluh darah yang mendarahinya yang
bermuara pada pusatnya vena centralis. Batas-batasnya adalah jaringan penyambung
interlobular.

Lobulus Portal
Bagian jaringan hati dengan aliran empedu yang menuju ductus biliris didalam
segitiga Kiernan.

Unit fungsional hati (acinus hati)
Bagian jaringan hati yang mengalirkan empedu ke dalam satu ductus biliaris terkecil di
dalam jaringan interlobular dan juga daerah ini mendapat perdarahan dari cabang
terakhir vena porta dan arteri hepatica.

Sinusoid hati
Lebih lebar dari kapiler dengan bentuk tidak teratur. Dindingnya dibentuk oleh sel
endotel yang mempunyai fenestra. Pada dinding menempel:
Pada dinding sebelah luar menempel fat storing cell (pericyte)
Pada dinding sebelah dalam menempel sel Kupffer yang bersifat fagositik.



LI 2. Memahami dan menjelaskan Fisiologis Hepar

FI SI OLOGI FUNGSI HEPAR

Fungsi dasar hati dapat dibagi menjadi:
a. fungsi vaskular untuk menyimpan dan menyaring darah,
b. fungsi metabolisme yang berhubungan dengan sebagian besar sistem metabolisme tubuh,
c. fungsi sekresi yang berperan membentuk empedu yang mengalir melalui saluran empedu
ke saluran pencernaan.
Metabolisme Glukosa
Setelah dicerna dan diserap ke dalam aliran darah, glukosa disalurkan ke seluruh tubuh
sebagai sumber energi. Ketika glukosa masuk ke organ pencernaan (usus) lalu masuk ke
pembuluh darah diperlukan insulin agar mudah diserap di sel tubuh, apabila masih belum
dipakai, glukosa diubah sel hati menjadi glikogen dan disimpan didalam hati (glikogenesis).
Sehingga hati berperan sebagai penyangga kadar glukosa untuk darah. Apabila kadar gula
darah turun, glikogen diubah menjadi glukosa (glikogenolisis). Selain itu terdapat
glukoneogenesis, terjadi saat penurunan glukosa diantara waktu makan dengan mengubah
Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

asam amino menjadi glukosa setelah deaminasi (pengeluaran gugus amino) dan mengubah
gliserol dari penguraian asam lemak menjadi glukosa
Metabolisme Asam amino
Hati sebagai tempat penyimpanan protein. Setelah pencernaan asam amino memasuki
semua sel dan diubah menjadi protein untuk digunakan membentuk:
1. Enzim dan komponen struktural sel (DNA/RNA inti, basa purin dan pirimidin,
ribosom, kolagen, protein kontraktil otot).
2. Selain itu, sintesis protein digunakan dalam pembentukan protein serum (albumin,
globulin, globulin kecuali globulin)
3. Factor pembekuan darah I, II, V, VII, VIII, IX, dan X; vitamin K digunakan sebagai
kofaktor pada sintesi ini kecuali factor V)
4. Hormon (tiroksin, epinefrin, insulin)
5. Neurotransmiter, kreatin fosfat, heme pada hemoglobin dan sitokrom, pigmen kulit
melanin.
Penguraian protein terjadi ketika asam amino plasma turun dibawah ambang batas. Ketika
tidak ada lagi asam amino yang disimpan sebagai protein, maka hati melakukan deaminasi
asam amino dan menggunakannya sebagai sumber energi atau mengubahnya menjadi
glukosa, glikogen atau asam lemak. Selama deaminasi asam amino, terjadi pelepasan
amonia yang hampir seluruhnya diubah di hati menjadi urea yang kemudian diekskresikan
lewat ginjal. Selain hati, ginjal dan mukosa usus ikut berperan sebagai tempat penyimpanan
protein.


Biotransformasi Amonia
Amonia adalah suatu produk sampingan penguraian protein. Sebelum rangka karbon pada
asam amino dioksidasi, nitrogen terlebih dahulu harus dikeluarkan. Nitrogen asam amino
membentuk ammonia. Amonia ditransformasikan menjadi urea (sifatnya yang larut dalam
urin) di hati dan diekskresikan dalam urin. Tanpa fungsi hati ini, terjadi penimbunan amonia
(bersifat toksik) yang bisa menyebabkan disfungi saraf, koma, dan kematian. Walaupun urea
adalah produk ekskresi nitrogen yang utama, nitrogen juga dibentuk menjadi senyawa lain,
asam urat (produk penguraian basa purin), keratin (dari kreatin fosfat), ammonia (dari
glutamine). Semua senyawa ini, selain lewat urin, juga dikeluarkan melalui feses dan kulit.
Metabolisme asam lemak
Hampir semua pencernaan lemak melewati saluran limfe sebagai kilomikron (gabungan dari
trigliserida (TG), kolesterol, fosfolipid (FL) dan lipoprotein (LP)). Kilomikron masuk ke
pembuluh darah melalui duktus torasikus. TG kemudian diubah menjadi asam lemak dan
Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

gliserol oleh enzim-enzim di dinding kapiler, terutama kapiler hati dan jaringan adiposa.
Dari kapiler, asam lemak dan gliserol dapat masuk ke sebagian besar sel. Setelah itu
memasuki hati dan sel lain menjadi TG kembali. TG disimpan sampai stadium pasca-
absortif. Pada saat ini, TG diubah menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Hormon
glukagon, kortisol, hormon pertumbuhan dan katekolamin berfungsi sebagai sinyal untuk
menguraikan TG. Gliserol dan asam lemak bebas masuk ke siklus kreb untuk menghasilkan
ATP. Sebagian tidak masuk siklus kreb tapi digunakan hati membentuk glukosa. Hal inilah
yang dapat menyebabkan timbunan keton apabila penguraian TG secara berlebih. Otak tidak
dapat memanfaatkan TG sebagai sumber energi secara langsung kecuali melalui
glukoneogenesis.
Metabolisme Kolesterol
Hati memetabolisme sebagian kolesterol yang terdapat didalam misel menjadi garam-garam
empedu. Sisa kolesterol lainnya disalurkan ke darah, berikatan dengan FL sebagai LP. LP
mengangkut kolesterol ke semua sel untuk membentuk membran sel, struktur intrasel, dan
hormon steroid. Tingginya kadar LDL (Low Density Lipoprotein) dan VLDL (Very Low
Density Lipoprotein) menandakan hati menangani kolesterol dalam jumlah besar. LDL dan
VLDL bisa merusak sel, terutama pada epitel pembuluh darah dengan membebaskan radikal
bebas dan elektron berenergi tinggi selama metabolismenya. HDL (High Density
Lipoprotein) mengangkut kolesterol dari sel ke hati dan bersifat protektif terhadap penyakit
arteri. Peranan utama pada sintesis kolesterol oleh hati, sebagian besar diekskresi dalam
empedu sebagai kolesterol dan asam kolat.

LI 3. Memahami dan menjelaskan Metabolisme Bilirubin

Bilirubin adalah pigmen kristal berbentuk jingga ikterus yang merupakan bentuk akhir
dari pemecahan katabolisme heme melalui proses reaksi oksidasi-reduksi. Bilirubin
berasal dari katabolisme protein heme, dimana 75% berasal dari penghancuran eritrosit
dan 25% berasal dari penghancuran eritrosit yang imatur dan protein heme lainnya
seperti mioglobin, sitokrom, katalase dan peroksidase. Metabolisme bilirubin meliputi
pembentukan bilirubin, transportasi bilirubin, asupan bilirubin, konjugasi bilirubin, dan
ekskresi bilirubin.
Langkah oksidase pertama adalah biliverdin yang dibentuk dari heme dengan bantuan
enzim heme oksigenase yaitu enzim yang sebagian besar terdapat dalam sel hati, dan
organ lain. Biliverdin yang larut dalam air kemudian akan direduksi menjadi bilirubin
oleh enzim biliverdin reduktase.
Bilirubin bersifat lipofilik dan terikat dengan hidrogen serta pada pH normal bersifat
tidak larut. Pembentukan bilirubin yang terjadi di sistem retikuloendotelial, selanjutnya
dilepaskan ke sirkulasi yang akan berikatan dengan albumin.
Bilirubin yang terikat dengan albumin serum ini tidak larut dalam air dan kemudian
akan ditransportasikan ke sel hepar. Bilirubin yang terikat pada albumin bersifat nontoksik.
Pada saat kompleks bilirubin-albumin mencapai membran plasma hepatosit, albumin
akan terikat ke reseptor permukaan sel. Kemudian bilirubin, ditransfer melalui sel
membran yang berikatan dengan ligandin (protein Y), mungkin juga dengan protein
Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

ikatan sitotoksik lainnya. Berkurangnya kapasitas pengambilan hepatik bilirubin yang tak
terkonjugasi akan berpengaruh terhadap pembentukan ikterus fisiologis.
Bilirubin yang tak terkonjugasi dikonversikan ke bentuk bilirubin konjugasi yang larut
dalam air di retikulum endoplasma dengan bantuan enzim uridine diphosphate
glucoronosyl transferase (UDPG-T). Bilirubin ini kemudian diekskresikan ke dalam
kanalikulus empedu. Sedangkan satu molekul bilirubin yang tak terkonjugasi akan
kembali ke retikulum endoplasmik untuk rekonjugasi berikutnya.
Setelah mengalami proses konjugasi, bilirubin akan diekskresikan ke dalam kandung
empedu, kemudian memasuki saluran cerna dan diekskresikan melalui feces. Setelah
berada dalam usus halus, bilirubin yang terkonjugasi tidak langsung dapat diresorbsi,
kecuali dikonversikan kembali menjadi bentuk tidak terkonjugasi oleh enzim beta-
glukoronidase yang terdapat dalam usus. Resorbsi kembali bilirubin dari saluran cerna dan
kembali ke hati untuk dikonjugasi disebut sirkulasi enterohepatik.

Gambar 1-3. Metabolisme Bilirubin


Pembagian terdahulu mengenai tahapan metabolisme bilirubin yang berlangsung dalam 3
fase; prehepatik, intrahepatik, pascahepatik masih relevan. Pentahapan yang baru
menambahkan 2 fase lagi sehingga pentahapan metabolisme bilirubin menjadi 5 fase, yaitu
fase pembentukan bilirubin, transpor plasma, liver uptake, konjugasi, dan ekskresi bilier.
Jaundice disebabkan oleh gangguan pada salah satu dari 5 fase metabolisme bilirubin
tersebut.

1. Fase Prahepatik
a. Pembentukan Bilirubin. Sekitar 250 sampai 350 mg bilirubin atau sekitar 4 mg per kg
berat badan terbentuk setiap harinya; 70-80% berasal dari pemecahan sel darah merah
yang matang, sedangkan sisanya 20-30% datang dari protein heme lainnya yang
berada terutama dalam sumsum tulang dan hati. Peningkatan hemolisis sel darah
merah merupakan penyebab utama peningkatan pembentukan bilirubin.
b. Transport plasma. Bilirubin tidak larut dalam air, karenanya bilirubin tak terkojugasi
ini transportnya dalam plasma terikat dengan albumin dan tidak dapat melalui
membran gromerolus, karenanya tidak muncul dalam air seni.
Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT


2. Fase Intrahepatik
a. Liver uptake. Proses pengambilan bilirubin tak terkojugasi oleh hati secara rinci dan
pentingnya protein meningkat seperti ligandin atau protein Y, belum jelas.
Pengambilan bilirubin melalui transport yang aktif dan berjalan cepat, namun tidak
termasuk pengambilan albumin.
b. Konjugasi. Bilirubin bebas yang terkonsentrasi dalam sel hati mengalami konjugasi
dengan asam glukoronik membentuk bilirubin diglukuronida / bilirubin konjugasi /
bilirubin direk. Bilirubin tidak terkonjugasi merupakan bilirubin yang tidak laurut
dalam air kecuali bila jenis bilirubin terikat sebagai kompleks dengan molekul
amfipatik seperti albumin. Karena albumin tidak terdapat dalam empedu, bilirubin
harus dikonversikan menjadi derivat yang larut dalam air sebelum diekskresikan oleh
sistem bilier. Proses ini terutama dilaksanakan oleh konjugasi bilirubin pada asam
glukuronat hingga terbentuk bilirubin glukuronid. Reaksi konjugasi terjadi dalam
retikulum endoplasmik hepatosit dan dikatalisis oleh enzim bilirubin glukuronosil
transferase dalam reaksi dua-tahap.

3. Fase Pascahepatik
Ekskresi bilirubin. Bilirubin konjugasi dikeluarkan ke dalam kanalikulus bersama bahan
lainnya. Anion organik lainnya atau obat dapat mempengaruhi proses yang kompleks ini.
Di dalam usus flora bakteri mendekonjugasi dan mereduksi bilirubin menjadi
sterkobilinogen dan mengeluarkannya sebagian besar ke dalam tinja yang memberi warna
coklat. Bilirubin tak terkonjugasi bersifat tidak larut dalam air namun larut dalam lemak.
Karenanya bilirubin tak terkojugasi dapat melewati barier darah-otak atau masuk ke
dalam plasenta. Dalam sel hati, bilirubin tak terkonjugasi mengalami proses konjugasi
dengan gula melalui enzim glukuroniltransferase dan larut dalam empedu cair.


LI 4. Memahami dan menjelaskan hepatitis A
4.1 Definisi
Hepatitis A adalah penyakit jinak yang dapat sembuh sendiri dengan masa inkubasi 2-6
minggu.
Hepatitis A adalah penyakit infeksi akut pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A
(HAV), yang paling sering ditularkan melalui jalur fecal-oral melalui makanan yang
terkontaminasi atau air minum.

4.2 Etiologi
Virus hepatitis A merupakan pikornavirus RNA rantai tunggal (single stranded,
ssRNA) yang kecil dan tidak berselubung. Virus ini berukuran 27-nm (merupakan virus
positive strain RNA). Virus tersebut dikelompokan kedalam Hepatovirus, anggota famili
Picornaviridae. Virion ini memiliki kapsul polipeptida, didesain dari VP1 sampai VP4,
dimana setelah translasi pembelahan dari poli protein memproduksi 7500
genomnukleotida.

Virus akan inaktif bila dilakukan perebusan selama 1 menit, kontak dengan
formaldehid dan klorida atau dengan radiasi ultraviolet. Sewaktu timbul ikterik, antibodi
Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

terhadap HAV (anti-HAV) telah dapat diukur di dalam serum. Awalnya antibodi IgM
anti-HAV meningkat tajam, sehingga memudahkan mendiagnosis secara cepat suatu
infeksi HAV. Setelah masa akut antibodi IgG anti-HAV menjadi dominan dan bertahan
seterusnya sehingga keadaan ini menunjukkan bahwa pasien pernah mengalami infeksi
HAV di masa lampau dan memiliki imunitas. Keadaan karier tidak pernah ditemukan.
HAV menyebar melalui ingesti makanan dan minuman yang tercemar dan
dikeluarkan melalui tinja selama 2-3 minggu sebelum dan 1 minggu setelah onset ikterus.
HAV tidak dikeluarkan dalam jumlah signifikan dalam air liur, urine, atau semen.
Cara penularan, dapat terjadi dari orang ke orang melalui rute fekal-oral,
makanan. Penularan melalui air dan parenteral jarang ditemukan. Virus ditemukan pada
tinja, mencapai puncak 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala dan berkurang secara cepat
setelah gejala disfungsi hati muncul bersamaan dengan munculnya sirkulasi antibodi
HAV dalam darah.
Menurut Sumber Chin J (2006), KLB dengan pola Common sourceumumnya
dikaitkan dengan air yang tercemar, makanan yang tercemar oleh penjamah makanan,
termasuk makanan yang tidak dimasak atau makanan matang yang tidak dikelola dengan
baik sebelum dihidangkan; karena mengkonsumsi kerang (cumi) mentah atau tidak
matang dari air yang tercemar dan karena mengkonsumsi produk yang tercemar seperti
sla (lettuce) dan strawberi. Beberapa KLB di Amerika Serikat dan Eropa dikaitkan
dengan penggunaan obat terlarang dengan jarum suntik mauoun tanpa jarum suntik
dikalangan para pecandu. Meskipun jarang, pernah dilaporkan terjadi penularan melalui
transfunsi darah dan faktor pembekuan darah yang berasal dari donor viremik dalam
masa inkubasi.
4.3 Epidemiologi
Di sebagain besar negara bekembang, infeksi virus hepatitsi A terjadi pada masa
kanak-kanak umumnya asimtomatis atau dengan gejala sakit ringan. Insiden terbesar
ditemukan pada usia < 15 tahun. Lali-laki mempunyai resiko yang lebih tinggi
dibandingkan wanita. Lebih sering menyerang manusia dengan daya tahan tubuh yang
rendah, meskipun demikian penyakit ini lebih sering didapatkan pada orang dewasa
dibandingkan anak-anak.Infeksi yang terjadi pada usia selanjutnya hanya dapat diketahui
dengan pemeriksaan laboratorium terhadap fungsi hati. Penyakit ini mempunyai gejala
klinis dengan spektrum yang bervariasi mulai dari ringan yang sembuh dalam 1-2 minggu
sampai dengan penyakit dengan gejala yang berat yang berlangsung sampai beberapa
bulan.
Perjalanan penyakit yang berkepanjangan dan kambuh kembali dapat terjadi dan
penyakit berlangsung lebih dari 1 tahun ditemukan pada 15% kasus, tidak ada infeksi
kronis pada hepatitis A. Konvalesens sering berlangsung lebih lama. Pada umumnya,
penyakit semakin berat dengan bertambahnya umur, namun penyembuhan secara
sempurna tanpa gejala sisa dapat terjadi.
Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

Kematian kasus dilaporkan terjadi berkisar antara 0.1% 0.3%, meskipun
kematian meningkat menjadi 1.8% pada orang dewasa dengan usia lebih dari 50 tahun,
seseorang dengan penyakit hati kronis apabila terserang hepatitis A akan meningkat
risikonya untuk menjadi hepatitis A fulminan yang fatal. Pada umumnya, hepatitis A
dianggap sebagai penyakit dengan case fatality rate yang relatif rendah.
Menurut US. Food Drug Administration (2005), penyebaran HAV dari orang ke
orang dapat meningkat karena masalah personal hygiene yang buruk, kepadatan
penduduk, serta pada kasus serangan sporadik pada makanan yang terkontaminasi secara
besar, air minum, susu dan ikan laut. Penyebaran pada keluarga dan teman dekat juga
sering terjadi. Observasi epidemiologi diperkirakan bahwa predileksi hepatitis A terjadi
pada akhir musim gugur dan awal musim dingin sedangkan pada daerah yang beriklim
sedang, gelombang epidemik hepatitis A terjadi setiap 5 sampai 20 tahun pada populasi
baru yang tidak di imunisasi.
Menurut Chin J (2006), pada negara sedang berkembang, orang dewasa biasanya
sudah kebal dan wabah hepatitis A (HA) jarang terjadi. Namun adanya perbaikan sanitasi
lingkungan di sebagian besar negara di dunia ternyata membuat penduduk golongan
dewasa muda menjadi lebih rentan sehingga frekuensi terjadi KLB cenderung meningkat.
Di negara-negara maju, penularan penyakit sering terjadi karena kontak dalam
lingkungan keluarga dan kontak seksual dengan penderita akut, dan juga muncul secara
sporadis di tempat-tempat penitipan anak usia sebaya, menyerang wisatawan yang
bepergian ke negara dimana penyakit tersebut endemis, menyerang pengguna suntikan
pecandu obat terlarang dan pria homoseksual. Didaerah dengan sanitasi lingkungan yang
rendah, infeksi umumnya terjadi pada usia sangat muda. Di Amerika Serikat, 33% dari
masyarakat umum terbukti secara serologis sudah pernah terinfeksi HAV.
Menurut Depkes RI (2000), hepatitis A sangat umum menyerang anak-anak
sekolah dan dewasa muda. Pada tahun-tahun belakangan ini, KLB yang sangat luas
penularannya umumnya terjadi di masyarakat, namum KLB karena pola penularan
Common source berkaitan dengan makanan yang terkontaminasi oleh penjamah
makanan dan produk makanan yang terkontaminasi tetap saja terjadi. KLB pernah
dilaporkan terjadi diantara orang-orang yang bekerja dengan primata yang hidup liar.
4.4 Patogenesis dan patofisiologi
Diawali dengan masuk nya virus kedalam saluran pencernaan, kemudian masuk
ke aliran darah menuju hati (vena porta), lalu menginvasi ke sel parenkim hati. Di
sel parenkim hati virus mengalami replikasi yang menyebabkan sel parenkim hati
menjadi rusak. Setelah itu virus akan keluar dan menginvasi sel parenkim yang
lain atau masuk kedalam ductus biliaris yang akan dieksresikan bersama feses. Sel
parenkim yang telah rusak akan merangsang reaksi inflamasi yang ditandai
dengan adanya agregasi makrofag, pembesaran sel kupfer yang akan menekan
ductus biliaris sehinnga aliran bilirubin direk terhambat, kemudian terjadi
penurunan eksresi bilirubin ke usus. Keadaan ini menimbulkan
ketidakseimbangan antara uptake dan ekskresi bilirubin dari sel hati sehingga
Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

bilirubin yang telah mengalami proses konjugasi (direk) akan terus menumpuk
dalam sel hati yang akan menyebabkan reflux (aliran kembali keatas) ke
pembuluh darah sehingga akan bermanifestasi kuning pada jaringan kulit
terutama pada sklera kadang disertai rasa gatal dan air kencing seperti teh pekat
akibat partikel bilirubin direk berukuran kecil sehingga dapat masuk ke ginjal dan
di eksresikan melalui urin. Akibat bilirubin direk yang kurang dalam usus
mengakibatkan gangguan dalam produksi asam empedu (produksi sedikit)
sehingga proses pencernaan lemak terganggu (lemak bertahan dalam lambung
dengan waktu yang cukup lama) yang menyebabkan regangan pada lambung
sehingga merangsang saraf simpatis dan saraf parasimpatis mengakibatkan
teraktifasi nya pusat muntah yang berada di medula oblongata yang menyebabkan
timbulnya gejala mual, muntah dan menurun nya nafsu makan.
(Kumar, Cotran, Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi. Edisi 7. Jakarta:EGC)
















ginjal
jaringan
Bilirubin urin
meningkat
ikterik
Ke usus
Peningkatan urobilinogen (tidak
terjadi siklus enterohepatik)

Peningkatan sterkobilin
Feses (sterkobilin meningkat)
ginjal
Urobilin
meningkat
Faktor Inflamasi Gejala
fatigue dll
Hepatosit rusak Fungsi
terganggu
1. Cedera hepar
- Akumulasi dan degenerasi intrasel
- Balloning degeneration

Menekan cholengioles

Ruptur
2. Nekrosis sehingga hilang kontinuitas kanal
biliaris
3. Inflamasi sel-sel radang di parenkim portal
Bilirubin direk
Bilirubin indirek
darah
Proses imun
antibodi
Inkubasi (replikasi) Inflamasi
Virus penginfeksi
Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

4.5 MANIFESTASI KLINIS
Dibedakan menjadi 4 stadium, yaitu masa inkubasi, praikterik (prodromal), ikterik dan
fase penyembuhan. Masa inkubasi berlangsug selama 14-50 hari, dengan rata-rata
kurang lebih 28 hari. Masa prodromal terjadi selama 4 hari sampai 1 minggu atau lebih.
Pada masa prodromal, gejalanya adalah fatigue, nafsu makan berkurang, mual,
muntah, rasa tidak nyaman di daerah perut kanan atas, demam (biasanya< 39
o
C),
merasa dingin, nyeri kepala, gejala mirip flu, nasal discharge, sakit tenggorok, dan
batuk. Gejala yang jarang adalah penurunan berat badan ringan, atralgia atau
mononeuritis kranial atau perifer. Tanda yang ditemukan biasanya hepatomegali ringan
yang nyeri tekan (70%), manifestasi ekstrahepatik lain pada kulit, sendi atau
splenomegali (5-20%).
Fase ikterik dimulai dengan urin berwarna kuning tua, seperti teh, atau gelap,
diikuti feses yang berwarna seperti dempul (clay-coloured faeces), kemudian warna
sklera dan kulit perlahan lahan menjadi kuning. Gejala anoreksia, lesu, lelah, mual,
dan muntah bertambah berat untuk sementara waktu. Dengan bertambah berat ikterus
gejala tersebut berkurang dan timbul pruritus bersamaan dengan timbulnya ikterus atau
hanya beberapa hari sesudahnya.

4.6 DIAGNOSIS
A. Penegakan diagnosis
1. Anamnesis
Anamnesis pada pasien hepatitis A bisa didapatkan demam yang tidak terlalu
tinggi antara 38,0 C 39,0 C, selain itu terdapat pula gangguan pencernaan
seperti mual,muntah, lemah badan, pusing, nyeri sendi dan otot, sakit kepala,
mudah silau, nyeri tenggorok, batuk dan pilek dapat timbul sebelum badan menjadi
kuning selama 1 2 minggu. Keluhan lain yang mungkin timbul yaitu dapat
berupa air seni menjadi berwarna seperti air teh (pekat gelap) dan warna feses
menjadi pucat terjadi 1 5 hari sebelum badan menjadi kuning. Pada saat timbul
gejala utama yaitu badan dan mata menjadi kuning (kuning kenari), gejala-gejala
awal tersebut biasanya menghilang, tetapi pada beberapa pasien dapat disertai
kehilangan berat badan (2,5 5 kg), hal ini biasa dan dapat terus terjadi selama
proses infeksi. Hati menjadi membesar dan nyeri sehingga keluhan dapat berupa
nyeri perut kanan atas, atau atas, terasa penuh di ulu hati. Terkadang keluhan
berlanjut menjadi tubuh bertambah kuning (kuning gelap) yang merupakan tanda
adanya sumbatan pada saluran kandung empedu (Sanityoso, 2009).

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada penderita hepatitis A didapatkan ikterus, hepatomegali
ringan, nyeri tekan pada abdomen regio hipocondriaca dextra (70%) dan
splenomegali (5-20%).


Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

3. Pemeriksaan penunjang untuk hepatitis A diantaranya adalah :
a. Diagnosis hepatitis A ditegakkan dengan tes darah.
Tes darah ini mencari dua jenis antibodi terhadap virus, yang disebut sebagai IgM
dan IgG. Pertama, dicari antibodi IgM, yang dibuat ole hepatitis virus. sistem
kekebalan tubuh lima sampai sepuluh hari sebelum gejala muncul, dan biasanya
hilang dalam enam bulan. Tes juga mencari antibodi IgG, yang menggantikan
antibodi IgM dan untuk seterusnya melindungi terhadap infeksi HAV. (Putri,
2008)
1. Bila tes darah menunjukkan negatif untuk antibodi IgM dan IgG, kita
kemungkinan tidak pernah terinfeksi HAV, dan sebaiknya
mempertimbangkan untuk divaksinasi terhadap HAV.
2. Bila tes menunjukkan positif untuk antibodi IgM dan negative untuk IgG,
kita kemungkinan tertular HAV dalam enam bulan terakhir ini, dan sistem
kekebalan sedang mengeluarkan virus atau infeksi menjadi semakin parah.
3. Bila tes menunjukkan negatif untuk antibodi IgM dan positif untuk
antibodi IgG, kita mungkin terinfeksi HAV pada suatu waktu sebelumnya,
atau kita sudah divaksinasikan terhadap HAV. Kita sekarang kebal
terhadap HAV.
b. Pemeriksaan fungsi hati, dilakukan melalui contoh darah.

Tabel 1. Hal-hal yang meliputi pemeriksaan fungsi hati


Pemeriksaan Untuk mengukur Hasilnya menunjukkan
Alkalin fosfatase




Alanin
Transaminase
(ALT)/SGPT


Aspartat
Transaminase
(AST)/SGOT


Bilirubin


Gamma glutamil
transpeptidase
Enzim yang dihasilkan di
dalam hati, tulang, plasenta;
yang dilepaskan ke hati bila
terjadi cedera/aktivitas normal
tertentu, contohnya :
kehamilan, pertumbuhan
tulang

Enzim yang dihasilkan oleh
hati. Dilepaskan oleh hati bila
hati terluka (hepatosit).

Enzim yang dilepaskan ke
dalam darah bila hati, jantung,
otot, otak mengalami luka.

Komponen dari cairan empedu
yang dihasilkan oleh hati.

Enzim yang dihasilkan oleh
Penyumbatan saluran
empedu, cedera hepar,
beberapa kanker.



Luka pada hepatosit.
Contohnya : hepatitis


Luka di hati, jantung, otot,
otak.

Obstruksi aliran empedu,
kerusakan hati, pemecahan
sel darah merah yang
berlebihan.

Kerusakan organ,
keracunan obat,
Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

(GGT)


Laktat
Dehidrogenase
(LDH)


Nukleotidase



Albumin



Fetoprotein




Antibodi
mitokondria



Protombin Time
hati, pankreas, ginjal.
Dilepaskan ke darah, jika
jaringan-jaringan tesebut
mengalami luka.

Enzim yang dilepaskan ke
dalam darah jika organ
tersebut mengalami luka.


Enzim yang hanya tedapat di
hati. Dilepaskan bila hati
cedera.


Protein yang dihasilkan oleh
hati dan secara normal
dilepaskan ke darah.

Protein yang dihasilkan oleh
hati janin dan testis.



Antibodi untuk melawan
mitokondria. Antibodi ini
adalah komponen sel sebelah
dalam.


Waktu yang diperlukan untuk
pembekuan darah.
Membutuhkan vit K yang
dibuat oleh hati.
penyalahgunaan alkohol,
penyakit pankreas.


Kerusakan hati jantung,
paru-paru atau otak,
pemecahan sel darah
merah yang berlebihan.

Obstruksi saluran empedu,
gangguan aliran empedu.


Kerusakan hati.


Hepatitis berat, kanker hati
atau kanker testis.



Sirosis bilier primer,
penyakit autoimun. Contoh
: hepatitis menahun yang
aktif.

4.7 Diagnosis Banding
Diagnosis bandingnya adalah infeksi virus: mononukleus infeksiosa, sitomegalovirus,
herpes simpleks, coxackie virus, toxoplsmosis, drug-induced hepatitis; hepatitis aktif
kronis; hepatitis alkoholik; kolesistitis akut; kolestasis; gagal jantung kanan dengan
kongesti hepar; kanker metastasis; dan penyakit genetik/metabolik (penyakit Wilson,
defisiensi alfa-1-antitripsin).



Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

4.8 KOMPLIKASI
HAV tidak menyebabkan hepatitis kronis atau keadaan pembawa (carrier) dan hanya
sekali-sekali menyebabkan hepatitis fulminan. Angka kematian akibat HAV sangat
rendah, sekitar 0,1% dan tampaknya lebih sering terjadi pada pasien yang sudah
mengidap penyakit hati akibat penyakit lain, misalnya virus hepatitis B atau alkohol.


4.9 PENATALAKSANAAN
Pasien dirawat bila ada dehidrasi berat dengan kesulitan masukan peroral, kadar SGOT-
SGPT >10x normal, perubahan perilaku atau penurunan kesadaran akibat
ensefalopatihepatitis fulminan, dan prolong, atau relapsing hepatitis.
Tidak ada terapi medikamentosa khusus karena pasien dapat sembuh sendiri (self-
limiting disease). Pemeriksaan kadar SGOT-SGPT terkonjugasi diulang pada minggu
kedua untuk melihat proses penyembuhan dan minggu ketiga untuk kemungkinan
prolong atau relapsing hepatitis. Pembatasan aktivitas fisik terutama yang bersifat
kompetitif selama SGOT-SGPT tiga kali batas atas normal.
Diet disesuaikan dengan kebutuhan dan hindarkan makanan yang berjamur, yang
mengandung zat pengawet yang hepatotoksik ataupun zat hepatotoksik lainnya.
Biasanya antiemetik tidak diperlukan dan makan 5-6 kali dalam porsi kecil lebih baik
daripada makan tiga kali dalam porsi besar. Bila muntah berkepanjangan, pasein dapat
diberi antiemetik seperti metoklopramid, tetapi bila demikan perlu baehati-hati terhadap
efek efek samping yang timbuk karena dapat mengacaukan gejal klinis pernurukan.
Dalam keadaan klinis terdapat mual dan muntah pasien diberikan diet rendah lemak.
Viamin K diberikan bila terdapat perpanjangan masa protrombin. Kortikosterosid tidak
boleh digunakan. Pencegahan infeksi terhadap lingkungan harus diperhatikan.

4.10 PENCEGAHAN
Pencegahan dengan imunoprofilaksis
Imunoprofilaksis sebelum paparan
a. Vaksin HAV yang dilemahkan
Efektivitas tinggi (angka proteksi 93-100%)
Sangat imunogenik (hampir 100% pada subjek sehat)
Antibosi protektif terbentuk dalam 15 hari pada 85-90% subjek
Aman, toleransi baik
Efektivitas proteksi selama 20-50 tahun
Efek samping utama adalah nyeri di tempat suntikan
b. Dosis dan jadwal vaksin HAV
Usia >19 tahun, 2 dosis HAVRIX (1440 Unit Elisa) dengan interval 6-12 bulan
Anak > 2 tahun, 3 dosis HAVRIX (360 Unit Elisa), 0, 1, dan 6-12 bulan atau 2
dosis (720 Unit Elisa), 0, 6-12 bulan
c. Indikasi vaksinasi
Pengunjungan ke daerah resiko
Homoseksual dan biseksual
IDVU
Anak dewasa muda yang pernah mengalami kejadian luar biasa luas
Bella Amelia Sefilla A. (1102012043) Mandiri SK2-GIT

Anak pada daerah dimana angka kejadian HAV labih tinggi dari angka
nasional
Pasien yang rentan dengan penyakit hati kronik
Pekerja laboratorium yang menangani HAV
Pramusaji
Pekerja pada pembuangan limbah

Profilaksis pasca paparan
a. Keberhasilan vaksin HAV pada pasca paparan belum jelas
b. Keberhasilan imunoglobulin sudah nyata tetapi tidak sempurna
c. Dosis dan jadwal pemberian imunoglobulin:
Dosis 0,02 ml/kgBB, suntikan pada daerah deltoid sesegera mungkin setelah
paparan
Toleransi baik, nyeri pada daerah suntikan
Indikasi: kontak erat dan kontak rumah tangga dengan pasien HAV akut

4.11 PROGNOSIS
Prognosis hepatitis A sangat baik, lebih dari 99% dari pasien dengan hepatitis A infeksi
sembuh sendiri. Hanya 0,1% pasien berkembang menjadi nekrosishepatik akut fatal.



DAFTAR PUSTAKA
Dorland, W. A. Newman. 2006. Kamus Kedokteran Dorland, Edisi 29. Jakarta: EGC
Guyton, AC. & Hall, JE. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta: EGC
Idrus, Alwi dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Edisi IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan IPD FKUI
Kumar,Cotran,Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi.Edisi 7. Jakarta: EGC
Price, Sylvia A. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Volume 2 Edisi 6.
Jakarta: EGC
Putz, Reinhard & Reinhard Pabst. 2006. Atlas Anatomi Manusia Sobotta, Jilid 2 Edisi 22.
Jakarta: EGC
Robbins, Stanley L. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins, Volume 2 Edisi 7. Jakarta: EGC
http://panmedical.wordpress.com/2010/04/01/fungsi-hepar/ (diakses pada 22 mei 2013 : 20.00
WIB)